Anda di halaman 1dari 53

17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. SEJARAH HUKUM KEPAILITAN DI INDONESIA

Pengaturan mengenai kepailitan di Indonesia sebenarnya telah ada lama sejak zaman Hindia Belanda, namun pengaturannya masih sangatlah terbatas. Dalam membagi periode perkembangan hukum kepailitan di Indonesia terbagi atas empat tahap yaitu:

1. Keberadaan Undang-undang Kepailitan sebelum tahun 1945 diatur dalam beberapa peraturan antara lain : a. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek Van Koophandel) hanya mengatur untuk kasus pedagang atau pengusaha Indonesia dalam Buku Ketiga pasal 749 910 yang berjudul Van de Voorzieniengen in geval van onvermogen van kooplieden (Peraturan tentang Ketidakmampuan Pedagang).1 Sementara itu kepailitan untuk bukan pedagang atau pengusaha diatur di Rv. Stb. 1847 52 jo Stb 1849 63 tentang Keadaan Nyata-nyata Tidak Mampu

Sutan Remy Sjahdeini. Hukum Kepailitan : Memahami UU No. 37 Tahun 2004 , Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 2009 hlm. 18

17

18

b. Verordening ter Invoering van de Faillissementsverordening Stb. 1906378 mencabut dua ketentuan diatas dan mulai berlaku pada tanggal 1 November 1906.2

2. Keberadaan Undang-undang Kepailitan pada tahun 1945-1998

Berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945 maka seluruh perangkat hukum yang berasal dari zaman Hindia Belanda diteruskan berlakunya setelah proklamasi kemerdekaan. Karena itu untuk peraturan kepailitan tetap berlaku ketentuan dalam Verordening ter Invoering van de Faillissementtsverordening Stb 1906 378.

3. Keberadaan Undang-Undang Kepailitan pada tahun 1998-2004

Pada tahun 1997 Indonesia mengalami krisis moneter dan terjadi ketidakstabilan kondisi politik dalam negeri sehingga menyebabkan banyak debitor Indonesia tidak mampu membayar hutang - hutangnya kepada kreditor asing. Dan ditambah lagi perangkat hukum kepailitan pada waktu itu yaitu Verordening ter Invoering van de Faillissementsverordening dianggap tidak dapat diandalkan serta tidak mampu untuk mengadakan restrukturisasi utang dikarenakan prosesnya yang lambat sehingga para kreditur asing

menghendaki agar peraturan kepailitan tersebut diganti melalui IMF yang

Ibid. hlm 19

19

mendesak Pemerintah Indonesia lewat Letter Of Intent agar segera mengganti atau mengubah peraturan tersebut agar krisis moneter di Indonesia dapat segera ditanggulangi.

Dan pada tanggal 22 April 1998 diterbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang - undang No. 1 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang - Undang tentang Kepailitan. Peraturan pemerintah ini hanya mengubah serta menambah peraturan yang diatur dalam peraturan sebelumnya. Dan 5 bulan kemudian Perpu tersebut ditetapkan dalam UU No. 4 Tahun 1998. Satu hal penting setelah penyempurnaan aturan kepailitan adalah pembentukan Pengadilan Niaga sebagai pengadilan khusus dalam lingkungan Peradilan Umum. 4. Keberadaan Undang-undang Kepailitan pada tahun 2004 sekarang

Pada tanggal 19 Oktober 2004 telah ditandatangani Undang - Undang No.37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang mencabut Verordening ter Invoering van de

Faillissementsverordening dan UU No. 4 Tahun 1998. Begitu besarnya harapan yang diletakkan pada Undang-Undang Kepailitan tersebut sehingga pemerintah tidak hanya melakukan perbaikan terhadap ketentuan-ketentuan dari Undang-Undang kepailitan tersebut sebagai upaya upaya mewujudkan mekanisme penyelesaian sengketa secara terbuka, adil, cepat dan efektif,

20

tetapi secara khusus juga menghadirkan Pengadilan Niaga sebagai suatu pengadilan yang khusus memeriksa dan memutuskan perkara kepailitan dan PKPU dengan tata pengaturan waktu (time frame) yang sangat ketat. Selain itu dalam Undang - Undang Kepailitan juga memperkenalkan Kurator dan Pengurus swasta sehubungan dengan tugas dan kewenangan untuk melakukan pengurusan dan pemberesan harta pailit maupun pengurusan debitur dalam PKPU.

UUK-PKPU inilah yang menjadi landasan yuridis utama tentang masalah yang berkaitan dengan kepailitan.

B. PENGERTIAN KEPAILITAN DAN SYARAT-SYARAT KEPAILITAN 1. Pengertian Kepailitan Secara etimologi, istilah kepailitan berasal dari kata "pailit". jika ditelusuri lebih mendasar, kata "pailit" dijumpai dalam perbendaharaan bahasa Perancis, Latin, Belanda, dan Inggris dengan istilah yang berbeda-beda. Dalam bahasa Belanda kata pailit berasal dari istilah "failliet" yang kata "faillite" yang berarti pemogokan atau kemacetan pembayaran. Sedangkan orang mempunyai arti ganda, yaitu sebagai kata benda serta kata sifat. Dalam bahasa Perancis, pailit berasal dari mogok atau berhenti membayar dalam bahasa Perancis adalah "lefaili". Kata kerja "failir" berarti gagal. Dalam

21

bahasa Inggris dari kata "to fail" dengan arti yang sama. Dalam bahasa Latin disebut "faillure".3 Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan menyatakan pailit atau bangkrut adalah seorang yang tidak sanggup lagi akan memenuhi kewajibankewajibannya; seorang debitur yang tidak sanggup lagi akan membayar penuh kepada kreditur-krediturnya; seorang yang tidak mampu membayar. Lebih tepatnya adalah seorang yang oleh suatu pengadilan dinyatakan bankrupt, dan aktiva atau warisannya telah diperuntukan untuk membayar hutanghutangnya.4 Menurut Black's Law Dictionary, pailit atau bangkrut adalah the state or condition of a person (individual, pertnership, corporation, municipality) who is unable to pay its debt as they are, or become due. The term includes a person against whom an involuntary petition has been filed, or who has filed a voluntary petition, or who has been adjudged a bankrupt. Pengertian pailit menurut Blacks Law Dictionary dalam Ahmad Yani dan gunawan Widjaja di atas dihubungkan dengan ketidakmampuan membayar seorang debitur atas utang-utangnya yang telah jatuh tempo. Karena ketidak-mampuan tersebut harus disertai dengan tindakan nyata yaitu dengan mengajukan pailit ke pengadilan baik dilakukan secara sukarela oleh

Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Kepailitan di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004, hlm., 4. 4 Abdurrachman, Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan, PT. Pradanya Paramitha, 1991, hlm,. 89

22

debitur sendiri, maupun atas permintaan pihak ketiga (diluar debitur). Dengan adanya permohonan tersebut maka pihak ketiga yang berkepentingan akan mengetahui keadaan tidak mampu membayar dari debitur.5 Peter J.M. declerq menekankan bahwa kepailitan lebih ditujukan kepada debitur yang tidak membayar utang-utangnya kepada para kreditur. Dalam hal tidak membayarnya debitur tersebut tidak perlu diklasifikasikan bahwa ia apakah benar-benar tidak mampu melakukan pembayaran utangnya tersebut ataukah karena tidak mau membayar kendatipun ia memiliki kemampuan untuk itu.6 Maka secara sederhana, kepailitan dapat diartikan sebagai suatu penyitaan semua aset debitur yang dimasukkan kedalam permohonan pailit. Dalam hal debitur pailit tidak serta merta kehilangan kemampuan untuk melakukan tindakan hukum, tetapi kehilangan hak untuk menguasai serta mengurus kekayaannya yang dimasukkan di dalam kepailitan terhitung sejak pernyataan kepailitan itu.7 Dilihat dari beberapa arti kata atau pengertian kepailitan tersebut di atas maka esensi kepailitan secara singkat dapat dikatakan sebagai sita umum atas harta kekayaan debitur baik yang pada waktu pernyataan pailit maupun yang diperoleh selama kepailitan berlangsung untuk kepentingan semua kreditur
5

Ahmad Yani, Gunawan Widjaja, Kepailitan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000, hlm.,

11-12 M. Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan:Prinsip Norma dan Praktik di Peradilan, (Jakarta:Kencana Prenada Media Group,2009), hlm.4 7 Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, (Malang: UMM Press, 2007), hlm.22
6

23

yang pada waktu kreditur dinyatakan pailit mempunyai utang yang dilakukan dengan pengawasan pihak yang berwajib.8 Dikatakan sita umum, karena sita tadi hanya untuk kepentingan seorang atau beberapa orang kreditur, tetapi untuk semua kreditur atau dengan kata lain untuk mencegah penyitaan dari eksekusi yang dimintakan oleh kreditur secara perorangan. Kepailitan adalah merupakan pelaksanaan lebih lanjut dari prinsip paritas creditorium dan prinsip pari passu prorate parte dalam rezim hukum harta kekayaan (vermogensrecht). Dalam prinsip paritas creditorium mengandung arti bahwa semua kekayaan debitur baik yang berupa barang yang bergerak maupun yang barang tidak bergerak maupun harta yang sekarang telah dipunyai debitur dan barang-barang di kemudian hari akan dimiliki debitur terikat kepada penyelesaian kewajiban debitur. Sedangkan dalam prinsip pari passu prorate parte berarti bahwa kekayaan tersebut merupakan jaminan bersama untuk para kreditur dan hasilnya harus dibagikan secara proposional antara para pihak, kecuali jika antara para kreditur itu ada yang menurut undang-undang harus didahulukan daam menerima pembayaran tagihannya.9 Prinsip paritas creditorium dianut di dalam sistem hukum perdata di Indonesia. Hal tersebut tercantum dalam pasal 1131 KUHPerdata yang

Ridwan Khairandy, Perlindungan Dalam Undang-Undang Kepailitan, (Jakarta: Jurnal Hukum Bisnis, 2002), hlm. 94 9 M. Hadi Shubhan, Hukum Kepailitan:Prisip Norma dan Praktik di Peradilan Peradilan, (Jakarta:Kencana Prenada Media Group,2009), hlm., 3

24

menyatakan bahwa segala kebendaan si berutang, baik dalam hak yang bergerak atau yang tidak bergerak, baik yang telah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari akan menjadi tanggungan dalam segala perikatannya perseorangan. Sedangkan dalam prinsip pari passu prorate parte termuat dalam pasal 1132 KUH Perdata yang menyatakan bahwa kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang memberikan hutang padanya, pendapatan penjualan benda dibagi berdasarkan

keseimbangannya, yaitu berdasarkan besar kecilnya dari piutang masing masing, kecuali jika antara para berpiutang itu terdapat alasan-alasan yang sah untuk didahulukan. Berdasarkan hal yang telah disebut diatas maka kepailitan merupakan pelaksanaan lebih lanjut dari ketentuan yang ada dalam pasal 1131 dan 1132 KUH Perdata.10

2. Syarat-syarat Kepailitan Dalam pasal 2 Undang - undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 menyatakan sebagai berikut: i. Debitor yang mempunyai dua atau lebih Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, hal ini dinyatakan pailit dengan adanya putusan dari Pengadilan. Baik terhadap permohonan sendiri ataupun terhadap pemohonan satu atau lebih kreditornya;
10

Ibid, hlm., 5

25

ii.

Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat juga diajukan oleh kejaksaan untuk kepentingan umum.

iii.

Dalam hal debitor adalah bank maka permohonan pernyataan pailit tersebut hanya dapat diajukan oleh Bank Indonesia.

iv.

Dalam hal Debitor adalah Bursa Efek, Perusahaan Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan serta Lembaga Penyimpanan dan

penyelesaian. Permohonan pernyataan dinyatakan pailit hanya dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal. v. Dalam hal debitor adalah Perusahaan Reasuransi, Perusahaan Asuransi, Dana Pensiun ataupun Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dibidang kepentingan publik. Dalam hal permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan. Sedangkan yang dapat dinyatakan pailit adalah sebagai berikut : i. Orang perorangan, baik perempuan maupun laki-laki, yang belum menikah ataupun yang telah menikah. Jika permohonan pernyataan pailit tersebut diajukan oleh debitur perorangan yang sudah menikah, maka permohonan tersebut hanya dapat diajukan atas persetujuan suami atau istri, kecuali diantara suami ataupun istri tersebut tidak ada percampuran harta; ii. Perserikatan - perserikatna dan perkumpulan - perkumpulan tidak berbadan hukum lainnya.

26

Permohonan pernyataan pailit terhadap suatu firma harus memuat nama dan tempat kediaman masing-masing persero secara tanggung renteng terikat untuk seluruh hutang firma.11 iii. Perseroan-perseroan, koperasi, perkumpulan-perkumpulan, maupun yayasan yang berbadan hukum. Dalam hal ini berlaku ketentuan mengenai kewenangan masingmasing badan hukum sebagaimana diatur dalam Anggaran dasarnya. iv. Harta peninggalan. Harta kekayaan seseorang yang telah meninggal harus dinyatakan dalam keadaan pailit apabila seorang kreditor atau lebih mengajukan permohonan untuk itu, dan secara singkat menunjukkan bahwa yang meninggal berada dalam keadaan berhenti membayar utangutangnya, ataupun bahwa pada saat orang tadi meninggal harta peninggalannya tidak cukup untuk membayar utang-utangnya.12

C. DASAR HUKUM KEPAILITAN Yang merupakan dasar hukum dalam hal kepailitan adalah sebagai berikut : 1. Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Kepailitan di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004, hlm., 30 12 Ibid, hlm., 30-31

11

27

2.

Kitab Undang-undang Hukum Perdata : pasal 1134, pasal 1139, pasal 1149, dan lain-lain. Pasal 1134 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyatakan bahwa : Hak istimewa merupakan suatu hak yang oleh undang - undang diberikan kepada seorang berpiutang, sehingga tingkatanya lebih tinggi daripada orang berpiutang lainnya, semata-mata berdasarkan sifat piutangnya. Gadai/pand dan hipotik adalah lebih tinggi daripada hak istimewa, kecuali dalam hal-hal dimana oleh Undang-Undang ditentukan sebaliknya. Pasal 1139 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa : Piutang-piutang yang istimewa terhadap benda-benda tertentu adalah : i. Biaya perkara yang semata-mata disebabkan suatu penghukuman untuk melelang suatu benda bergerak maupun tidak bergerak. Biaya ini dibayarkan dari pendapatan penjualan benda tersebut terlebih dahulu dari semua piutang-piutang lainnya yang diistimewakan, bahkan lebih dahulu pula dari gadai/pand dan hipotik; ii. Uang-uang sewa dari benda - benda tak bergerak, biaya - biaya perbaikan yang menjadi wajib si penyewa, beserta segala hal mengenai kewajiban memenuhi persetujuan sewa; iii. iv. v. Harga pembelian benda-benda bergerak yang belum dibayar; Biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan suatu barang; Biaya untuk melakukan suatu pekerjaan pada suatu barang yang masih harus dibayar kepada seorang tukang;

28

vi.

Apa yang telah diserahkan oleh seorang pengusaha rumah penginapan sebagai demikian kepada seorang tamu;

vii. viii.

Upah-upah pengangkutan dan biaya-biaya tambahan; Apa yang harus dibayar kepada tukang batu, tukang kayu, tukang untuk pembangunan dan lain-lain, dalam hal penambahan dan perbaikanperbaikan benda tak bergerak, asal saja piutangnya tidak lebih tua darii tiga tahun dan hak milik atas persil yang bersangkutan masih tetap pada si berutang;

ix.

Pergantian-pergantian serta pembayaran-pembayaran yang harus dipikul oleh pegawai-pegawai yang memangku suatu jabatan umumm, karena segala pelanggaran, kelalaian, kesalahan, dan kejahatan - kejahatan yang dilakukan dalam jabatannya.

Didalam Pasal 1149 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyatakan bahwa : Piutang-piutang yang diistimewakan atas semua benda bergerak dan benda tak bergerak pada umumnya ialah yang disebutkan dibawah ini, piutang - piutang dilunasi dari pendapatan penjualan benda - benda itu menurut urutan sebagai berikut : i. Biaya-biaya perkara, yang semata-mata disebabkan pelelangan dan penyelesaian suatu warisan; biaya-biaya ini didahulukan daripada gadai/pand dan hipotek;

29

ii.

Biaya-biaya penguburan, dengan tak mengurangi kekuasaan hakim untuk menguranginya, jika biaya-biaya tersebut terlampau tinggi;

iii. iv.

Semua biaya perawatan dan pengobatan dari sakit yang penghabisan; Upah para buruh selama setahun yang lalu dan upah yang sudah dibayar dalam tahun yang sedang berjalan, beserta jumlah uang kenaikan upah menurut pasal 1602q; jumlah uang pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh si buruh guna si majikan; jumlah uang yang oleh si majikan harus dibayar kepada si buruh, berdasarkan pasal 1602 v, ayat 4 Kitab Undang-undang ini atau berdasarkan pasal 7, ayat o dari Pengaturan Tambahan tentang Pengusaha Perkebunan, dalam hal jumlah uang yang harus dibayarkan oleh majikan kepada si buruh pada waktu akhir hubungan kerja, berdasarkan pasal 1603; jumlah uang yang oleh majikan harus dibayar kepada keluarga si buruh pada waktu meninggalnya si buruh, berdasarkan pasal 13 ayat (4) Peraturan Tambahan tentang Pengusaha Perkebunan; jumlah uang yang oleh majikan harus dibayar kepada si buruh atau anak buah kapal atau sanak keluarganya yang ditinggalkan, berdasarkan Peraturan Kecelakaan 1939 atau Peraturan Kecelakaan Anak Buah Kapal 1940, beserta piutang berdasarkan Peraturan mengembalikan buruh 1939;

v.

Piutang karena penyerahan bahan-bahan makanan yang dilakukan kepada si berutang serta keluarganya, dalam waktu enam bulan terakhir;

30

vi.

Piutang-piutang para pengusaha sekolah berasrama dalam hal untuk tahun yang penghabisan;

vii.

Piutang anak-anak yang belum dewasa dan orang-orang yang terampu terhadap sekalian wali dan pengampu mereka, mengenai pengurusan mereka, sekedar piutang-piutang itu tidak dapat diambilkan pelunasan dari hipotik atau lain jaminan, yang harus diadakan menurut bab ke lima belas buku ke-satu Kitab Undang-undang ini, begitu pula tunjangantunjangan yang menurut Buku ke-satu oleh orang tua harus dibayar untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak mereka yang sah yang belum dewasa.

3) Kitab Undang-undang Hukum Pidana : pasal 396, pasal 398, pasal 399, pasal 400, pasal 520, dan lain-lain. Pasal 396 Kitab Undang-undang Hukum Pidana menyatakan bahwa : Saudagar yang dinyatakan pailit atau yang diizinkan menyerahkan harta bendanya menurut hukum karena bersalah bangkrut biasa, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan : Ke-1 Ke-2 jika hidupnya terlampau boros; jika ia dengan maksud untuk mempertangguhkan pailitinya itu, telah meminjam uang dengan memakai perjanjian yang berat, sedang diketahuinya bahwa pinjaman itu tiada dapat mencegah pailitnya itu;

31

Ke-3

jika ia tak dapat memberikan dalam keadaan baik dan lengkap buku dan surat keterangan tempat ia mengadakan catatan menurut pasal 6 Kitab Undang-undang Hukum Dagang dan surat lain yang disimpannya menurut pasal itu.

Pasal 397 Kitab Undang-undang Hakim Pidana menyatakan bahwa : Saudagar yang dinyatakan pailit atau yang diizinkan menyerahkan harta bendanya menurut hukum, karena telah bersalah sehingga bangkrut dan dapat dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya tujuh tahun penjara, jika dalam melakukan pengurangan hak yang berpiutang padanya dengan jalan menipu : Ke-1 ia mengarang utang atau menyembunyikan keuntungan, atau mencabut barang dari harta bendanya; Ke-2 ia telah melepaskan barang, baik dengan percuma, maupun dengan nyata di bawah harganya; Ke-3 ia menguntungkan salah seorang yang berpiutang padanya dengan jalan apapun pada waktu ia pailit atau pada ketika ia tau bahwa pailitinya tidak dapat dicegah lagi; Ke-4 ia tidak mencukupi kewajibannya mengadakan catatan menurut pasal 6 ayat pertama Kitab Undang-undang Hukum Dagang tentang memegang dan tentang menyimpan dan mengadakan buku dan surat keterangan dan surat lain tersebut dalam ayat ketiga, pasal itu.

32

Pasal 398 Kitab Undang-undang Hukum Pidana menyatakan bahwa : Pengurus atau komisaris perseroan terbatas, maskapai, andil warga Negara Indonesia asli atau perhimpunan koperasi yang dinyatakan pailit ataupun yang penyelesaiannya oleh pengadilan telah diperintahkan, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan : Ke-1 jika ia membantu atau mengizinkan untuk melakukan perbuatan yang berlawanan dengan anggaran dasar

perseroan, maskapai atau perhimpunan itu dan yang menyebabkan semua atau sebagian besar dari kerugian yang tertanggung oleh perseroan maskapai atau perhimpunan itu; Ke-2 jika ia dengan maksud untuk mempertangguhkan pailitnya atau pemberesannya oleh pengadilan perseroan, maskapai, atau perhimpunan, sedang diketahuinya pailitnya atau penyelesaiannya oleh pengadilan itu tiada dapat dicegah lagi, membantu atau mengizinkan meminjam uang dengan perjanjian yang berat; Ke-3 jika karena salahnya tidak dicukupi kewajiban yang diterangkan dalam pasal 6 ayat pertama Kitab Undangundang Hukum Dagang, ataupun kewajiban yang

diterangkan dalam pasal 27 ayat pertama ordonasi tentang maskapai andil warga Negara Indonesia asli atau tidak dapat diadakan dengan baik dan lengkap buku dan surat keterangan

33

tempat mengadakan catatan menurut pasal-pasal itu dan surat lain yang disimpan menurut pasal-pasal itu.

Pasal 399 Kitab Undang-undang Hukum Pidana menyatakan bahwa : Pengurus atau komisaris perseroan terbatas, maskapai andil warga Negara Indonesia asli atau dari perhimpunan koperasi yang dinyatakan telah pailit, atau yang penyelesaiannya oleh pengadilan telah diperintahkan dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya tujuh tahun, jika untuk mengurangi dengan tipu hak orang yang berpiutang pada maskapai, perseroan, ataupun perhimpunan; Ke-1 ia mengarang hutang atau ia menyembunyikan keuntungan atau mencabut barang daripada harta bendanya itu; Ke-2 ia melepaskan barang, baik dengan percuma maupun dengan nyata dibawah harga; Ke-3 ia menguntungkan salah seorang yang berpiutang kepadanya dengan jalan apapun pada waktu pailitnya atau

penyelesaiannya oleh pengadilan perseroan atau perhimpunan itu atau pada ketika ia tau, bahwa pailitnya atau

penyelesaiannya oleh pengadilan itu tak dapat dicegah lagi; Ke-4 ia tidak mencukupi kewajibannya mengadakan catatan menurut pasal 6 ayat pertama Kitab Undang-undang Hukum Dagang, atau menurut pasal 27 ayat pertama Ordonansi

34

tentang maskapai andil warga Negara Indonesia asli, tentang memegang dan tentang menyimpan dan mengadakan buku dan surat keterangan dan surat lain yang tersebut dalam pasalpasal itu. Pasal 400 Kitab Undang-undang Hukum Pidana menyatakan bahwa : A. Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan barang siapa yang untuk mengurangi dengan tipu hak yang berpiutang : Ke-1 dalam perkara menyerahkan harta benda menurut hukum, dalam perkara pailit atau dalam perkara penyelesaian oleh pengadilan, atau jika dapat disangka lebih dahulu salah satu hal itu akan terjadi dan kemudian hari benar penyerahan harta benda itu, pailit atau pemberesannya oleh pengadilan itu terjadi, mencabut barang daripada harta benda itu atau menyimpan bayaran, baik dari piutang yang belum boleh ditagih, maupun dari piutang yang sudah boleh ditagih, dalam hal yang tersebut kemudian, jika ia tahu bahwa pailitnya atau penyelesaiannya oleh pengadilan orang yang berutang telah diminta, atau oleh sebab mufakat dengan orang yang berutang itu; Ke-2 pada pencocokan piutang dalam hal menyerahkan harta benda menurut hukum, pailit atau penyelesaian oleh

35

pengadilan mengaku dengan dusta, atau mengaku utang yang betul ada akan tetapi dengan jumlah yang lebih besar dari yang sebenar-benarnya. B. Dalam hal yang demikian itu dipidana itu dijatuhkan juga kepada orang yang berutang, atau jika yang berutang itu perseroan, maskapai, perhimpunan atau lembaga, pada pengurusannya atau komisarisnya, yang membuat semacam perjanjian itu. Pasal 502 Kitab Undang-undang Hukum Pidana menyatakan bahwa : Dipidana dengan pidana kurungan selama lama nya tiga bulan : Ke-1 barang siapa yang sesudah mendapat pertangguhan

pembayaran untungnya (surceance van betaling), dengan mengambil kuasa sendiri melakukan pembuatan, yang menurut undang-undang umum harus dengan bantuan pengurus harta bendanya; Ke-2 pengurus atau komisaris peseroan, maskapai, perhimpunan atau lembaga yang sudah mendapat pertangguhan

pembayaran utangnya, yang dengan mengambil kuasa sendiri melakukan perbuatan, yang menurut Undang-Undang umum harus dengan bantuan pengurus harta benda peseroan, maskapai, perhimpunan atau lembaga itu.

36

4) Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas : pasal 3 ayat (2) huruf b,c, dan d yang menyatakan bahwa : b. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung dengan itikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan pribadi; c. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh perseroan; atau d. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan Perseroan, yang telah mengakibatkan kekayaan Perseroan tersebut menjadi tidak cukup untuk melunasi utang Perseroan. Pasal 93 ayat (1) yang menyatakan bahwa : Yang dapat diangkat jadi anggota direksi merupakan orang perseorangan yang harus cakap melakukan perbuatan hukum, kecuali dalam waktu 5 (lima) tahun sebelum pengangkatannya pernah dinyatakan pailit, menjadi anggota Direksi atau anggota Dewan Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu Perseroan dinyatakan pailit serta dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan Negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan. Pasal 97 ayat (1), (2) dan (3) yang menyatakan bahwa : 1) Direksi bertanggung jawab terhadap semua pengurusan Perseroan sebagaimana dimaksud dalam pasal 92 ayat (1);

37

2) Pengurusan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1), wajib dilaksanakan setiap anggota Direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab; 3) Setiap anggota Direksi harus bertanggung jawab penuh baik secara pribadi atas kerugian Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah paupun lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2).

Pasal 104 ayat (2), (3) dan (4) yang menyatakan bahwa : 2) Dalam hal kepailitan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) terjadi karena kesalahan atau kelalaian Direksi dan harta pailit tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban Perseroan dalam hal pailitan tersebut, setiap anggota-anggota Direksi yang secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut; 3) Tanggung jawab seperti yang telah dimaksudkan pada ayat (2) berlaku juga bagi anggota direksi yang salah atau lalai yang pernah menjabat sebagai anggota Direksi dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan;

38

4) Anggota direksi tidak harus bertanggung jawab terhadap kepailitan Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila dapat membuktikan : a. b. Kepailitan tesebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya; Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik, penuh tanggung jawab, kehati-hatian, dan juga untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan; c. Tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan; dan d. Telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan.

Pasal 110 ayat (1) menyatakan bahwa : 1) Yang dapat diangkat mejadi anggota Dewan Komisaris adalah orang peseorangan yang cakap dalam melakukan perbuatan hukum, kecuali jika dalam waktu 5 (lima) tahun sebelum pengangkatan pernah: a. Dinyatakan pailit; b. Menjadi anggota direksi atau anggota Dewan Komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan suatu perseroan dinyatakan pailit; atau

39

c. Dihukum karena melakukan tindak pidana yang merugikan keuangan Negara dan/atau yang berkaitan dengan sektor keuangan.

Pasal 114 ayat (2) dan (3) menyatakan bahwa : 2) Setiap anggota Dewan Komisaris wajib bertanggung jawab ,dengan itikad baik, kehati-hatian, dan dalam menjalankan tugas

pengawasan dan pemberian nasihat kepada Direksi sebagaimana dimaksud dalam pasal 108 ayat (1) untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan; 3) Setiap anggota Dewan Komisaris harus ikut bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian Perseroan apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sebgaimana dimaksud pada ayat (2).

5) Undang - undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 4 tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah beserta Benda-Benda yang Berkaitan Dengan Tanah menyatakan bahwa apabila pemberi Hak Tanggungan dinyatakan pailit, pemegang hak Tanggungan tetap memiliki hak melakukan segala yang diperolehnya menurut ketentuan Undang-undang ini. Pada penjelasannya dikatakan bahwa ketentuan ini lebih memantapkan kedudukan diutamakan

40

pemegang Hak Tanggungan dengan mengecualikan berlakunya akibat kepailitan pemberi Hak Tanggungan terhadap objek Hak Tanggungan.

6) Undang - Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia

7) Perundang - undangan dibidang Pasar Modal, BUMN, perbankan, dan lainlain.13 Pasal 102 Undang - undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal menyatakan bahwa : A. Bapepam mengenakan sanksi administratif atas pelanggaran UndangUndang ini dan atau peraturan pelaksanaannya yang dilakukan oleh setiap pihak yang memperoleh izin persetujuan dari Bapepam; B. Saksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa : i. ii. Peringatan tertulis; Denda, yaitu kewajiban untuk membayar sejumlah uang tertentu; iii. iv. v. Pembatasan kegiatan usaha; Pembukuan kegiatan usaha; Pemcabutan izin usaha;

Munir Fuady, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, PT. Cipta Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm., 10

13

41

vi. vii.

Pembatalan persetujuan; Pembatalan pendaftaran.

C. Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administrative sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 37 ayat (3), (4), dan (5) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 juncto Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perbankan menyatakan : 3) Apabila menurut penilaian bank Indonesia : a. Keadaan suatu bank membahayakan system perbankan, atau ; b. Tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) belum cukup untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi bank; Bank Indonesia mengusulkan kepada Mentri untuk mencabut izin usaha bank tersebut. 4) Berdasarkan usul Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), Menteri mencabut izin usaha bank yang bersangkutan dan

memerintahkan direksi untuk melikuidasi bank tersebut; 5) Jika direksi tidak melikuidasi bank sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), menteri setelah mendengar pertimbangan Bank Indonesia meminta pengadilan untuk melikuidasi bank yang bersangkutan.

42

Dalam pasal 23 Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1996 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha Pembubaran dan Likuidasi Bank, ditentukan urutan-urutan kreditor untuk likuidasi bank yaitu sebgai berikut : 1) 2) 3) 4) Gaji pegawai yang terutang; Biaya perkara di pengadilan; Biaya lelang yang terutang; Pajak yang terutang, yang berupa pajak bank-bank dan pajak yang dipotong oleh bank; 5) Nasabah penyimpanan data, yang jumlah pembayaran ditetapkan oleh Tim Likuidasi; 6) Para kreditor lainnya (termasuk kreditur separatis).

D. PENGADILAN NIAGA

1. Tugas dan Wewenang Pengadilan Niaga

Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 merupakan lex specialis derogate lex generalis yang menempatkan sengketa niaga dalam proses penanganan yang bersifat khusus. Saat ini telah dibentuk 5 (lima) lembaga

43

Pengadilan Niaga, yaitu di Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar (Ujung Pandang), Medan.

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 yang merupakan pembaharuan dari Undang - Undang Nomor 4 Tahun 1998 didalamnya tidak mengatur tentang Pengadilan Niaga pada bab tersendiri, tetapi masuk di Bab V tentang Ketentuan lain-lain mulai dari Pasal 299 sampai dengan Pasal 303. Demikian dalam hal penyebutan dalam setiap pasal cukup dengan menyebutkan kata Pengadilan tanpa ada kata Niaga karena merujuk pada Bab I tentang Ketentuan Umum Pasal 1 angka 7 menyatakan bahwa Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam Lingkungan peradilan umum.

Mengenai tugas dan wewenang Pengadilan Niaga ini pada UndangUndang Nomor 4 Tahun 1998 diatur dalam Pasal 280, sedangkan didalam Undang - Undang Nomor 37 Tahun 2004 diatur dalam Pasal 300. Pengadilan Niaga merupakan suatu lembaga peradilan yang berada di bawah lingkungan Peradilan Umum, mempunyai kompetensi untuk memeriksa perkara-perkara sebagai berikut :14

1) Memeriksa dan Memutuskan permohonan pernyataa pailit;

14

Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, UMM Press, Malang, 2008, hlm., 258

44

2) Memeriksa serta Memutus dalam hal permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; 3) Memeriksa penetapannya perkara lain dalam dengan bidang perniagaan yang

ditetapkan

Undang-Undang,

misalnya

sengketa di bidang HaKI.

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 juga mengatur tentang kewenangan Pengadilan Niaga dalam hubungannya dengan perjanjian yang mengadung klausula arbitrase. Dalam Pasal 303 tercantum bahwa Pengadilan tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari pihak yang terikat perjanjian yang memuat klausula arbitrase sepanjang utang yang menjadi dasar permohonan pernyataan pailit telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) tentang syarat syarat kepailitan. Ketentuan pasal tersebut maksudnya adalah untuk memberikan penegasan bahwa Pengadilan tersebut tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari para pihak, sekalipun dalam perjanjian utang piutang yang telah mereka buat memuat klausula arbitrase.

Berdasarkan Pasal 300 UU No.37 Tahun 2004 jo Pasal 280 ayat (1) UU No.4/1998 dibentuk suatu pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan umum, yaitu Pengadilan Niaga yang dalam ketentuan pada Pasal 280 ayat (2)

45

mempunyai kewenangan untuk memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan penundaan pembayaran utang serta berwenang pula dalam memeriksa dan memutus perkara lain dalam bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan Peraturan Pemerintah. Di dalam praktek, Pengadilan niaga juga memiliki kewenangan terhadap perkara di bidang hak atas kekayaan intelektual (seperti merek, paten, hak cipta, desain industri, dan lain-lain). Yuridiksi kewenangan Pengadilan Niaga berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 adalah sebagai berikut : a. Memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit; b. Memeriksa dan memutus permohonan Penundaan Kewajiban dalam pembayaran Utang, serta berwenang pula memeriksa dan

memutuskan suatu perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan undang-undang;15 c. Usaha damai 16

Sementara itu bisa dikatakan bahwa dalam peraturan perundangan yang lama yakni dalam PERPU No1 Tahun 1998 atau Undang undang Kepailitan No. 4 Tahun 1998 tidak diatur secara eksplisit atau khusus tentang asas-asas yang berlaku dalam kepailitan, tapi pada Undang - Undang Kepailitan PKPU
Rahayu Hartini, Hukum Kepailitan, UMM Press, 2008, hlm,. 258 H.P. Pangabean, Perspektif Kewenangan Pengadilan Niaga di Indonesia (Dampak Perkembangan Hukum di Indonesia), dalam Jurnal Hukum Bisnis, volume 12, 2001, hlm., 57
16 15

46

No. 37 Tahun 2004 didalam penjelasannya menyebutkan bahwa keberadaan UU ini mendasarkan pada sejumlah asas-asas kepailitan, yakni : a. Asas Keseimbangan UU ini mengatur beberapa ketentuan yang merupakan perwujudan dari asas keseimbangan maksudnya adalah di salah satu pihak terdapat ketentuan-ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh debitor yang tidak jujur. Terdapat ketentuan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan lembaga kepailitan oleh kreditor yang tidak beritikad baik. b. Asas Kelangsungan Usaha Dalam UU ini, terdapat ketentuan yang memungkinkan perusahaan debitor yang prospektif tetap dilangsungkan. c. Asas Keadilan Dalam kepailitan ini, asas keadilan ini mengandung arti bahwa ketentuan mengenai kepailitan dapat memenuhi rasa keadilan bagi para pihak yang berkepantingan. d. Asas Integrasi Asas Integrasi dalam Undang - undang mengandung arti bahwa sistem hukum formil dan hukum materilnya merupakan satu kesatuan yang utuh dari sistem hukum perdata dan hukum acara perdata nasional.

47

2. Pembinaan, Bimbingan, dan pengawasan atas Pengadian Niaga Sesuai dengan penjelasan Undang - undang Kepailitan, maka dalam hal ini ketua Mahkamah Agung mempunyai kewajiban untuk membimbing dan mengawasi jalannya Peradilan Niaga ini agar terpenuhinya prinsip-prinsip hukum dari Pengadilan Niaga dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan, sehingga terjamin : 1) Penyelenggaraan persidangan Pengadilan Niaga secara berkesinambungan; 2) Prosedur persidangan yang cepat, efektif dan baik; 3) Tersedianya putusan tertulis dan memuat pertimbangan yang mendasari putusan tersebut; 4) Terselenggaranya persiapan putusan yang baik, dan agar putusan Pengadilan Niaga diterbitkan secara berkala. Dalam Memori penjelesan dinyatakan bahwa Ketua Mahkamah Agung memberikan bimbingan dan melakukan pengawasan terhadap jalannya peradilan di tingkat pertama dan apabila tidak ada, ditingkat banding agar pelaksanaan persidangan dalam Pengadilan Niaga berjalan sesuai dengan ketentuan tentang Undang-undang Kepailitan, sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang.17

Sudargo Gautama, Komentar atas Peranan Kepailitan Baru Untuk Indonesia (1998), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998, hlm., 172

17

48

3. Pemeriksaan Perkara Pada Pengadilan Niaga Robintan Sulaiman dan Joko Prabowo dalam H.P. Panggabean membuatkan 4 (empat) bagian kronologis pemeriksaan perkara kepailitan, sebagai berikut : a. Proses putusan atas permohonan persyaratan pailit pada Pengadilan Niaga dengan ketentuan tenggang waktu maksimum 30 (tiga puluh) hari, terhitung tanggal perubahan didaftarkan; b. Proses Putusan Kasasi, maksimum 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal permohonan kasasi didaftarkan; c. Proses Putusan Peninjauan Kembali, maksimum 30 (tiga puluh) hari terhitung tanggal permohonan diterima Panitera Mahkamah Agung; d. Proses Putusan Perubahan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, antar 45 (empat puluh lima) hari) hingga 280 (dua ratus delapan puluh) hari. 18

4. Upaya Hukum yang Dapat Dilakukan Para Pihak Terhadap Putusan Pailit Pengadilan Niaga Terhadap Putusan Pailit Pengadilan Niaga para pihak dapat melakukan upaya hukum sebagai berikut : 1) Kasasi

18

H.P. Pangabean Op.cit hlm., 58

49

Pasal 11 ayat (1) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 menyatakan upaya hukum yang dapat dilakukan terhadap terhadap putusan atas permohonan pernyataan pailit, adalah Kasasi ke Mahkamah Agung. Pasal 11 ayat (2) menyatakan bahwa permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan paling lambat 8 (delapan) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan kasasi diucapkan, dengan mendaftarkan kepada Panitera Pengadilan yang telah memutus

permohonan pernyataan pailit. Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang nomor 37 tahun 2004 menyatakan Mahkamah Agung wajib mempelajari permohonan kasasi dan menetapkan hari sidang paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. Pada ayat (2) tertulis bahwa sidang pemeriksaan atas permohonan kasasi dilakukan paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. Putusan atas Permohonan kasasi harus diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah tanggal permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung (pasal 13 ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004). Putusan atas permohonan kasasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum (pasal 13 ayat (4) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004).

50

2) Peninjauan Kembali (PK) Menurut Pasal 295 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, terhadap putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, dapat diajukan permohonan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini. Sedangkan syarat untuk dilakukannya peninjauan kembali menurut pasal 295 ayat (2) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 adalah : a. Setelah perkara diputus ditemukan bukti baru yang bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa di Pengadilan telah ada, tetapi belum ditemukan atau b. dalam putusan hakim yang bersangkutan terdapat kekeliruan yang nyata. Pengajuan Permohonan Peninjauan Kembali berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 295 ayat (2) huruf a, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 180 (seratus delapan puluh) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan peninjauan kembali memperoleh kekuatan hukum tetap (pasal 296 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004). Sedangkan menurut pasal 296 ayat (2) pengajuan permohonan peninjauan kembali berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 295 ayat (2) huruf b, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat

51

30 (tiga puluh) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan peninjauan kembali memperoleh kekuatan hukum tetap. Pengajuan permohonan peninjauan kembali harus disampaikan kepada Panitera. Panitera mendaftar permohonan peninjauan kembali pada tanggal permohonan diajukan, dan kepada permohonan diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh Panitera dengan tanggal yang sama dengan permohonan didaftarkan. Panitera menyampaikan permohonan peninjauan kembali kepada Panitera Mahkamah Agung dalam jangka waktu 1 x 24 jam terhitung sejak tanggal permohonan didaftarkan. Pasal 289 ayat(1) Undang - Undang No37 Tahun 2004 menentukan bahwa Mahkamah Agung segera memeriksa dan memberikan keputusan atas permohonan peninjauan kembali, dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal permohonan diterima Panitera Mahkamah Agung. Pada ayat (2) dijelaksan bahwa putusan atas permohonan peninjauan kembali harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum. Lalu, pada ayat (3) dinyatakan bahwa jangka waktu paling lambat 32 (tiga puluh dua) hari terhitung sejak tanggal permohonan diterima Panitera. Mahkamah Agung harus menyampaikan kepada para pihak salinan putusan peninjauan kembali yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut.

52

Untuk mengetahui tata cara dalam acara yang terdapat dikasasi atau peninjauan kembali beserta dasar hukum yang mengaturnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Tabel.1 Mata Acara yang dapat Dikasasi / Peninjauan Kembali
No 1 2 3 4 5 Mata Acara Putusan pernuataan pailit oleh Pengadilan Niaga Pengadilan Niaga menolak pengesahan perdamaian dalam rapat homologasi Putusan Pengadilan Niaga tentang perlawanan terhadap daftar pembagian Pengakhiran tundaan pembayaran hutang di tengah jalan Pengadilan Niaga menolak pengesahan rencana perdamaian dalam tundaan pembayaran hutang dalam rapat homologasi Pembatalan perdamaian yang telah disahkan oleh Pengadilan Niaga oleh kreditur Pembatalan perdamaian ditengah jalan atas permintaan para pihak dalam tundaan pembayaran hutang Putusan Pengadilan Niaga terhadap permohonan pencabutan / perubahan penangguhan / stay Putusan Pengadilan Niaga tentang pengurusan / pemberesan Putusan Pengadilan Niaga terhadap gijzeling Putusan Pengadilan Niaga terhadap rehabilitasi Putusan Pengadilan Niaga untuk mengabulkan / menolak tundaan pembayaran secara tetap Putusan Pengadilan Niaga menyatakan debitur pailit karena tidak diterima perdamaian dalam tundaan pembayaran Kasasi Bisa Bisa Bisa Bisa Bisa Peninjauan Kembali Bisa Tidak Tidak Bisa Tidak Pasal 8,9,10,11 150 182 241 269(4)

6 7 8 9 10 11 12 13

Bisa Bisa Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak tidak

Bisa Bisa Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak

161 276 56 A (3) 82 195(5) 210 218 (1) 274,275

Sumber : Munir Fuady, Hukum Pailit 1998 Dalam Teori dan Praktek, 1991

5. Susunan Organisasi Pengadilan Niaga Menurut pasal 300 ayat (2) UU No. 37 Tahun 2004, pembentukan pengadilan niaga selain pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akan dilakukan

53

secara bertahap dengan keputusan presiden, dengan memperhatikan kebutuhan dan kesiapan sumber dayanya. Karena Pengadilan Niaga hanya merupakan chamber dari pengadilan umum seperti pada pengadilan anak dan pengadilan lalu lintas, maka tidak terdapat jabatan ketua Pengadilan Niaga karena ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan juga membawahi Pengadilan Niaga. Pasal 302 ayat(2) Undang - Undang Nomor 37 Tahun 2004 menyatakan bahwa syarat-syarat untuk dapat diangkat sebgai hakim sebagaimana dimaksud pada yang dimaksud pada ayat (1) adalah : a. Telah berpengalaman sebagai hakim dalam lingkungan Peradilan Umum; b. Mempunyai dedikasi dan menguasai pengetahuan di bidang masalahmasalah yang menjadi lingkup kewenangan Pengadilan; c. Beribawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela; dan d. Telah berhasil menyelesaikan program pelatihan khusus sebagai hakim pada pengadilan.

E. PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT DALAM PROSES KEPAILITAN 1. Pihak Pemohon Pailit

54

Salah satu pihak yang terlibat dalam perkara kepailitan adalah pihak pemohon pailit, yaitu suatu pihak yang mengambil inisiatif untuk mengajukan permohonan pailit ke Pengadilan, yang dalam perkara biasa disebut sebagai pihak penggugat. Menurut Undang-Undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 (Pasal 2) maka yang dapat menjadi pemohon dalam suatu perkara pailit adalah salah satu dari pihak berikut ini : a. Pihak debitur itu sendiri; b. Salah satu atau lebih dari pihak kreditur; c. Pihak Kejaksaan jika menyangkut dengan kepentingan umum; d. Pihak Bank Indonesia jika debiturnya adalah suatu bank; e. Pihak Badan Pengawas Pasar Modal jika debiturnya adalah suatu perusahaan efek;
f.

Menteri Keuangan jika debiturnya yang bergerak di bidang kepentingan publik. Misal : Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Dana Pensiun atau Badan Usaha Milik Negara.

2.

Pihak Debitur Pailit. Pihak debitur pailit adalah pihak yang memohon atau dimohonkan pailit ke Pengadilan yang berwenang, yang dapat menjadi debitur pailit adalah debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat dilakukan penagihan.

55

3. Hakim Niaga Perkara kepailitan diperiksa oleh Hakim Majelis (tidak boleh Hakim tunggal) baik untuk tingkat pertama maupun untuk tingkat kasasi. Hanya untuk perkara perniagaan lainnya yakni yang bukan perkara kepailitan untuk tingkat Pengadilan pertama yang boleh diperiksa oleh Hakim tunggal dengan penetapan Mahkamah Agung (Pasal 302 Undang-undang Kepailitan). Hakim Majelis tersebut merupakan Hakim-hakim pada Pengadilan Niaga, yakni Hakim-hakim Pengadilan Negeri yang telah diangkat menjadi Hakim Pengadilan Niaga berdasarkan keputusan Mahkamah Agung. Disamping itu terdapat juga Hakim Ad Hoc yang diangkat dari kalangan para ahli dengan Keputusan Presiden atas usul Ketua Mahkamah Agung.

4. Hakim Pengawas. Dalam pengawasan pelaksanaan pemberesan harta pailit, maka dalam keputusan kepailitan, oleh Pengadilan harus diangkat seorang Hakim Pengawas di samping pengangkatan Kurator. Di antara tugas dan wewenang dari Hakim Pengawas menurut Undang-undang Kepailitan sebagai berikut:19

Munir Fuady, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, PT. Cipta Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm., 36-38

19

56

a. Menetapkan jangka waktu tentang pelaksanaan perjanjian yang masih berlangsung antara debitur dengan pihak krediturnya, jika antara pihak kreditur dengan pihak Kurator tidak tercapai kata sepakat tersebut (Pasal 36 Undang-Undang Kepailitan); b. Memberikan putusan atas permohonan kreditur atau pihak ketiga yang berkepentingan yang haknya ditangguhkan untuk mengangkat penangguhan apabila Kurator menolak permohonan pengangkatan penangguhan tersebut (Pasal 56 Undang-undang Kepailitan); c. Memberikan persetujuan kepada Kurator apabila pihak Kurator menjaminkan harta pailit kepada pihak ketiga atas pinjaman yang dilakukan Kurator dari pihak ketiga tersebut (Pasal 69 ayat (3) Undang-undang Kepailitan); d. Memberikan izin bagi pihak Kurator apabila ingin menghadap di muka Pengadilan, kecuali untuk hal-hal tertentu (Pasal 69 ayat (5) Undang-Undang Kepailitan); e. Menerima laporan dari pihak Kurator tiap tiga bulan sekali mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugasnya (Pasal 74 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan); f. Memperpanjang jangka waktu laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1) tersebut di atas (Pasal 74 ayat (3) Undang-Undang Kepailitan);

57

g. Menawarkan kepada kreditur untuk membentuk panitia kreditur setelah pencocokan utang selesai dilakukan (Pasal 80 UndangUndang Kepailitan); h. Apabila dalam putusan pernyataan pailit telah ditunjuk panitia kreditur sementara, mengganti panitia kreditur sementara tersebut atas permintaan kreditur konkuren berdasarkan putusan kreditur konkuren dengan suara Simple majority (Pasal 80 ayat (2) (a) Undang-Undang Kepailitan); i. Apabila dalam putusan pernyataan pailit belum diangkat panitia kreditur, membentuk panitia kreditur atas permintaan kreditur konkuren berdasarkan putusan kreditur konkuren dengan suara simple majority (Pasal 80 ayat (2) (b) Undang-Undang Kepailitan).

5. Kurator Kurator merupakan salah satu pihak yang cukup memegang peranan dalam suatu proses perkara pailit. Dan karena peranannya yang besar dan tugasnya yang berat, maka tidak sembarangan orang dapat menjadi pihak kurator. Dalam pasal 69 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 dikatakan bahwa tugas kurator adalah melakukan pengurusan dan / atau pemberesan harta pailit. Karena itu pula maka persyaratan dan prosedur untuk dapat menjadi kurator ini oleh Undang-Undang Kepailitian diatur secara relatif ketat.

58

Pada pasal 69 ayat (5) dikatakan bahwa untuk menghadap di sidang Pengadilan tersebut maka Kurator harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari Hakim Pengawas kecuali jika menyangkut sengketa pada pencocokan piutang atau dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, Pasal 38, Pasal 39, dan Pasal 59 ayat (3). Kurator yang dimaksud dalam Pasal 69 adalah Balai Harta Peninggalan atau kurator lainnya, menurut Pasal 70 ayat (2) yang dapat menjadi Kurator sebagaimana dimaksud tersebut adalah : a. Orang perseorangan yang berdomisili di Indonesia, yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus dan / atau membereskan harta pailit; dan b. Terdaftar pada kementrian yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang hukum dan peraturan perundang-undangan. Pada Pasal 71 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 menjelaskan bahwa Pengadilan setiap waktu dapat mengabulkan usul pengganti Kurator, setelah memanggil dan mendengar Kurator, dang mengangkat Kurator lain dan/atau mengangkat Kurator tambahan atas : a. Permohonan Kurator sendiri; b. Permohonan Kurator lainnya, jika ada; c. Usulan Hakim Pengawas; atau d. Permintaan Debitor Pailit.

59

6. Panitia Kreditur Salah satu pihak dalam proses kepailitan adalah apa yang disebut Panitiaa Kreditur. Menurut prinsipnya suatu panitia kreditur adalah pihak yang mewakili pihak kreditur tersebut sehingga panitia kreditur akan memperjuangkan segala kepentingan hukum dari pihak krediur. Ada 2 (dua) macam panitia kreditur yang diperkenalkan oleh Undang-undang Kepailitan, yaitu : A. Panitia kreditur sementara (yang ditunjuk dalam putusan pernyataan pailit); dan B. Panitia kreditur (tetap), yakni yang dibentuk oleh hakim pengawas apabila dalam putusan pailit tidak diangkat panitia kreditur sementara. 7. Pengurus Pengurus hanya dikenal dalam proses tundaan pembayaran, tetapi tidak dikenal dalam proses kepailitan. Yang dapat menjadi pengurus menurut pasal 234 ayat (3) adalah : A. Perorangan yang berdomisili di Indonesia, yang memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus harta debitur; dan B. Telah terdaftar pada departemen yang berwenang.

F. PROSEDUR PERMOHONAN PAILIT 1. Proses Perkara Kepailitan Di Pengadilan Niaga

60

A----------B-----------C----------D-----------E-----------F----------G-----------H---------1 2 3 13 20 25 60 63

X-----------------------tingkat Pengadilan Negeri------------------X I---------J-------------K-----------L-------M---------N--------------O------------P----------Q R 68 70 77 79 82 84 102 142 145 147

X-----------------------tingkat Kasasi-------------------------------S----------T------------U----------V---------W-------X------------Y 177 327 X 179 329 179 329 187 337 189 339 219 369 X 221 371

peninjauan kembali

Diagram Prosedur Sidang Permohonan Pailit20 Keterangan Diagram: A. Permohonan peryataan pailit dan pendaftarannya kepada pengadilan melalui panitera Pengadilan Negeri, vide Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2). B. Panitera menyampaikan permohonan persyaratan pailit kepada Ketua Pengadilan Negeri (2 (dua) hari setelah pendaftaran), vide Pasal 6 ayat (4). C. Pengadilan mempelajari permohonan dan menetapkan hari sidang (3 (tiga) hari setelah pendaftaran), vide Pasal 6 ayat (5). D. Pemanggilan sidang (7 (tujuh) hari sebelum sidang pertama), vide Pasal 8 ayat (2).

Munir Fuady, Hukum Pailit Dalam Teori dan Praktek, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hlm., 12-15

20

61

E. Sidang dilaksanakan (20 (dua puluh) hari setelah pendaftaran), vide Pasal 6 ayat (6). F. Sidang dapat ditunda jika memenuhi persyaratan (25 (dua puluh lima) hari setelah didaftarkan), vide pasal 6 ayat (7). G. Putusan permohonan pailit (60 (enam puluh) hari setelah didaftarkan), vide Pasal 8 ayat (5). H. Penyampaian salinan putusan kepada pihak yang berkepentingan (3 (tiga) hari setelah Putusan), vide Pasal 9. I. Pengajuan dan pendaftaran permohonan kasasi dan memori kasasi kepada Panitera Pengadilan Negeri, vide Pasal 11 ayat (2) juncto Pasal 12 ayat (1). J. Panitera Pengadilan Negeri mengirim permohonan kasasi dan memori kasasi kepada pihak terkasasi (2 (dua) hari setelah pendaftaran permohonan kasasi), vide Pasal 12 ayat (2). K. Pihak terkasasi menyampaikan kontra memori kasasi kepada pihak panitera Pengadilan Negeri (7 (tujuh) hari sejak pihak terkasasi menerima dokumen kasasi) L. Panitera Pengadilan Negeri menyampaikan kontra memori kasasi kepada pemohon kasasi (2 (dua) hari setelah kontra memori kasasi diterima), vide Pasal 12 ayat (3).

62

M. Panitera Pengadilan Negeri menyampaikan berkas kasasi kepada Mahkamah Agung (14 (empat belas) hari setelah pendaftaran permohonan kasasi), vide Pasal 13. N. Mahkamah Agung mempelajari dan menetapkan hari sidang untuk kasasi (2 (dua) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung), vide Pasal 13 ayat (1). O. Sidang pemeriksaan permohonan kasasi (20 (dua puluh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung), vide Pasal 13 ayat (2). P. Putusan kasasi (60 (enam puluh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung), vide Pasal 13 ayat (3). Q. Penyampaian putusan kasasi oleh panitera Mahkamah Agung kepada panitera Pengadilan Negeri (3 (tiga) hari setelah putusan kasasi diucapkan), vide Pasal 13 ayat (6). R. Juru sita Pengadilan Negeri menyampaikan salinan putusan kasasi kepada permohonan kasasi, termohon kasasi, kurator, dan hakim pengawas (2 (dua) hari setelah putusan kasasi diterima), vide Pasal 13 ayat (7). S. Pengajuan Peninjauan Kembali dan pendaftarannya beserta bukti pendukung ke Kepaniteraan Pengadilan Negeri dan pengajuan salinan permohonan Peninjauan Kembali dan salinan bukti pendukung kepada termohon Peninjauan Kembali (30 (tiga puluh) hari setelah putusan

63

berkekuatan tetap dengan alasan dalam Pasal 295 ayat (2b)), atau 180 (seratus delapan puluh) hari setelah tanggal berkekuatan tetap dengan alasan dalam Pasal 295 ayat (2a), vide Pasal 296 ayat (1) dan ayat (2) juncto Pasal 297 ayat (1). T. Penyampaian permohonan Peninjauan Kembali kepada Panitera

Mahkamah Agung (2 (dua) hari setelah pendaftaran permohonan Peninjauan Kembali, vide Pasal 296 ayat (5)). U. Penyampaian salinan permohonan Peninjauan Kembali berikut bukti pendukung oleh Pengadilan Negeri kepada pemohon Peninjauan Kembali, vide Pasal 297 ayat (2). V. Pengajuan jawaban terhadap permohonan Peninjauan Kembali oleh termohon Peninjauan Kembali (10 (sepuluh) hari setelah pendaftaran permohonan Peninjauan Kembali, vide Pasal 297 ayat (3)). W. Penyampaian jawaban termohon Peninjauan Kembali kepada Panitera Mahkamah Agung oleh Panitera Pengadilan Negeri (12 (dua belas) hari setelah pendaftaran jawanan), vide Pasal 297 ayat (4)). X. Pemeriksaan dan pemberian keputusan Mahkamah Agung terhadap Peninjauan Kembali (30 (tiga puluh) hari setelah permohonan Peninjauan Kembali diterima panitera Mahkamah Agung, vide Pasal 298 ayat (1). Berbeda dengan putusan kasasi yang memberikan waktu 60 (enam puluh) hari (Pasal 13 ayat (3)). Tidak ada alasan yang reasonable untuk membedakan lamanya putusan kasasi dengan putusan Peninjauan

64

Kembali, tetapi hanya kelupaan pembentuk undang-undang untuk mengubah pasal tentang Peninjauan Kembali dari undang-undang yang memang hanya member waktu 30 (tiga puluh) hari (bukan 60 (enam puluh) hari). Y. Penyampaian salinan putusan Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung kepada para pihak (32 (tiga puluh dua) hari setelah permohonan Peninjauan Kembali diterima Panitera Mahkamah Agung, vide Pasal 298 ayat (3). Hal ini berbeda dengan putusan kasasi yang oleh panitera Mahkamah Agung hanya disampaikan kepada panitera Pengadilan Negeri (bukan langsung kepada para pihak), vide Pasal 13 ayat (6). Menurut hemat penulis, ketidakkonsistenan ini tidak ada alasan yang masuk akal sama sekali, tetapi hanya kecerobohan pembentuk undangundang semata.

2. Kelengkapan Dokumen Pengajuan Permohonan Pailit Kelengkapan dokumen untuk mengajukan permohonan kepailitan atau penundaan kewajiban pembayaran utang adalah :21 a. Jika Permohonan dari Debitur (perorangan) 1) Surat permohonan yang harus bermaterai dan ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri/Niaga yang bersangkutan; 2) Izin dari pengacara yang telah dilegalisir atau Kartu Pengacara;
21

Ibid, hlm 15-19.

65

3) Surat Kuasa Khusus; 4) Surat Tanda Bukti Diri (KTP) dari suami/istri yang masih berlaku; 5) Persetujuan suami/istri yang dilegalisir; 6) Daftar aset dan tanggung jawab; 7) Neraca pembukuan terakhir (dalam hal perorangan memiliki perusahaan). b. Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang 1) Surat Permohonan yang bermaterai serta ditujukan pada Ketua Pengadilan Negeri atau Niaga yang bersangkutan; 2) Hanya diajukan oleh debitur; 3) Permohonan ini harus ditandatangani oleh seorang debitur dan penasehat hukumnya; 4) Dilampirkan asli dari Surat Kuasa Khusus untuk mengajukan permohonan tersebut (catatan : penunjukan kuasa kepada orangnya bukan kepada law firmnya). 5) Izin pengacara yang dilegalisir/Kartu Pengacara; 6) Alamat dan nama/identitas lengkap para kreditur konkuren disetai jumlah tagihannya masing-masing kepada debitur; 7) Dilampirkan neraca pembukuan passifa dan aktiva dari debitur; 8) Harus dilampirkan rencana perdamaian yang memuat tawaran pembayaran seluruh atau sebagian utang kreditur konkuren (jika ada);

66

Catatan : 1. Surat permohonan serta dokumen-dokumen atau surat-surat dibuat rangkap sesuai dengan jumlah pihak, serta ditambah 4 (empat) rangkap untuk majelis dan arsip; 2. Dokumen-dokumen atau surat-surat yang berupa foto copy harus dilegalisir sesuai dengan aslinya oleh penjabat yang

berwenang/panitera Pengadilan Negeri; 3. Dokumen-dokumen atau surat-surat yang dibuat di luar negeri harus diterjemahkan oleh penerjemah resmi dan disahkan oleh

kedutaan/perwakilan Indonesia di Negara tersebut. c. Permohonan dari Debitur (Perkongsian/Partner) 1) Surat permohonan bermaterai yang telah diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri / Niaga yang bersangkutan; 2) Izin pengacara yang dilegalisir/Kartu pengacara; 3) Surat Kuasa Khusus; 4) Akta Pendaftaran Perusahaan yang dilegalisir (dicap) oleh Kantor Perdagangan paling lambat 1 (satu) minggu sebelum permohonan didaftarkan; 5) Persetujuan tertulis dari semua mitra usaha; 6) Neraca Keuangan terakhir; 7) Nama serta alamat semua debitur dan kreditur / mitra usaha.

67

d. Permohonan dari Debitur (Yayasan/Asosiasi) 1) Surat permohonan bermaterai yang telah ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri/Niaga yang bersangkutan; 2) Izin pengacara yang dilegalisir/Kartu Pengacara; 3) Surat Kuasa Khusus; 4) Akta Pendaftaran Yayasan ataupun Asosiasi yang telah dilegalisir (dicap) oleh kantor perdagangan paling lambat 1 (satu) minggu sebelum permohonan didaftarkan; 5) Putusan Dewan Pengurus yang memutuskan dalam hal mengajukan pernyataan pailit; 6) Anggaran dasar atau anggaran rumah tangga; 7) Neraca keuangan terakhir; 8) Nama serta alamat semua debitur dan kreditur. e. Permohonan dari Debitur (Perseroan Terbatas) 1) Surat permohonan yang telah bermaterai yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri/Niaga yang bersangkutan; 2) Izin pengacara yang dilegalisir/kartu pengacara; 3) Surat Kuasa Khusus; 4) Akta pendirian perusahaan yang dilegalisir (dicap) oleh Kantor Perdagangan paling lambat 1 (satu) minggu sebelum permohonan didaftarkan; 5) Putusan sah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terakhir;

68

6) Anggaran Dasar atau Anggaran Rumah Tangga; 7) Neraca Keuangan terakhir; 8) Nama dan alamat semua debitur dan kreditur. f. Permohonan dari Debitur (Kejaksaan/Bank Indonesia/Bapepam) 1) Surat permohonan yang bermaterai yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri/Niaga yang bersangkutan; 2) Surat Tugas/Surat Kuasa; 3) Izin pengacara yang dilegalisir/kartu pengacara; 4) Surat Kuasa Khusus; 5) Surat pendaftaran perusahaan/bank/perusahaan efek yang dilegalisir (dicap) oleh kantor perdagangan paling lambat 1 (satu) minggu sebelum permohonan didaftarkan; 6) Surat Perjanjian Hutang; 7) Terdapat perincian utang yang jatuh tempo atau tidak dibayar; 8) Neraca keuangan terakhir; 9) Daftar aset dan tanggung jawab; 10) Nama serta alamat semua debitur dan kreditur. g. Permohonan dari kreditur 1) Pada surat permohonan bermaterai yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri/Niaga yang bersangkutan; 2) Izin pengacara yang dilegalisir/kartu Pengacara; 3) Surat Kuasa Khusus;

69

4) Dalam hal akta pendaftaran yayasan atau asosiasi yang telah dilegalisir (dicap) oleh kantor perdagangan paling lambat 1 (satu) minggu sebelum permohonan didaftarkan; 5) Surat Perjanjian Utang; 6) Perincian utang yang tidak dibayar; 7) Nama serta alamat masing-masing debitur; 8) Tanda kenal diri debitur; 9) Nama serta alamat mitra usaha; 10) Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia serta Bahasa inggris oleh penerjemah resmi (jika menyangkut unsur asing).