Laporan Akhir

KAJIAN BIDANG KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT: SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH TAHUN ANGGARAN 2012

0 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa, laporan kajian mengenai Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah ini dapat kami selesaikan. Laporan ini disusun melalui serangkaian kegiatan yang sangat intensif seperti seminar, lokakarya, diskusi dengan pakar, pejabat pemerintah, dan pelaku di lapangan, kunjungan lapangan, studi literatur dan dukungan beberapa kajian lainnya. Kajian ini dilakukan untuk menyusun rekomendasi kebijakan terkait sinkronisasi perencanaan dan penganggaran pusat dan daerah khususnya bidang kesehatan dan gizi masyarakat. Hal ini dalam rangka untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan dan gizi masyarakat. Dengan demikian diharapkan rekomendasi kajian ini dapat memberikan kontribusi dalam perumusan arah kebijakan dan strategi dalam perencanaan dan penganggaran kesehatan antara Pusat dan Daerah. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak baik di pusat maupun daerah yang telah memberikan kontribusi dalam pelaksanaan kajian. Semoga laporan kajian ini dapat memberikan manfaat kepada seluruh pembaca dan kepada bangsa Indonesia dalam mewujudkan Indonesia Masa Depan yang Maju, Mandiri, Adil dan Makmur. Amin.

Jakarta, Desember 2012

Dr. Hadiat, MA Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat – Bappenas

1 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah

TIM PENYUSUN KAJIAN SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH TAHUN ANGGARAN 2012

Penanggung Jawab

: Dra.Nina Sardjunani, MA

Ketua Anggota

: Dr. Hadiat, MA : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ir. Yosi Diani Tresna, MPM; Sularsono, SP, ME; Dra. Esti Nurhayati, MM; Erwin Dimas, SE, DEA, MSi; Benny Azwir, ST, MM; Inti Wikanestri, SKM, MPA; Dewi Amila Solikha, SKM; Sidayu Ariteja, SE; dan Asep Zaenal Mustofa, SKM, M.Epid.

Tim Pendukung

: Nurlaily Aprilianti

2 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI Kata Pengantar ........................................................................................ Tim Penyusun .......................................................................................... Daftar Isi .................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN............................................................................ A. Latar Belakang ............................................................................. B. Permasalahan .............................................................................. C. Tujuan ........................................................................................... D. Ruang Lingkup............................................................................. E. Metodologi .................................................................................. F. Manfaat yang Diharapkan............................................................ BAB II KERANGKA PIKIR KAJIAN............................................................. 2.1. Landasan Normatif Perencanaan Nasional.............................. 2.2. Kerangka Pikir Kajian................................................................. BAB III HASIL PELAKSANAAN DAN ANALISA KAJIAN ............................ A. Siklus Perencanaan Dan Penganggaran (Musyawarah Perencanaan Pembangunan..................................................... B. Identifikasi Regulasi yang Mendukung Pelaksanaan Perencanaan dan Penganggaran di Pusat dan Daerah........... C. Analisa Situasi dan Review dalam Proses Perencanaan dan Penganggaran Tingkat Provinsi (Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Gorontalo)........................................................................... D. Faktor yang Berpengaruh Dalam Sinergi dan Sinkronisasi Perencanaan............................................................................ BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan............................................................................... B. Rekomendasi........................................................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Rencana Kerja K/L tahun 2012 Berdasarkan Program Per Kegiatan UKPPD K/L Persandingan UKPPD K/L Alokasi Belanja Urusan Kesehatan (diluar gaji) Kumpulan Paparan Workshop Kegiatan Kajian

Halaman 1 2 3 4 4 5 5 6 6 6 7 7 10 12 12 16

20 33 37 37 37

3 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional yang termaktup dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan visi pembangunan nasional di atas maka melalui pembangunan kesehatan yang ingin dicapai demi mewujudkan Indonesia sehat sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia juga untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdasarkan kehidupan bangsa maka diselenggarakan program pembangunan secara berkelanjutan, terencana dan terarah. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Peningkatan status kesehatan dan gizi masyarakat merupakan salah satu komponen penting dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia sekaligus untuk meningkatkan daya saing bangsa. yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).Dalam RPJMN 2010—2014 pembangunan diarahkan untuk memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. Pada era desentralisasi sekarang ini, perencanaan dan penganggaran kesehatan di daerah telah menjadi isu yang sangat penting, terutama bila dikaitkan dengan implementasi desentralisasi administrasi pemerintahan dan implementasi prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik. Selain itu secara substantif perencanaan dan penganggaran juga memiliki arti penting jika dikaitkan dengan penerapan prinsip-prinsip demokrasi dalam alokasi sumber daya publik. Secara umum, ada lima instrumen hukum utama yang secara langsung melandasi kerangka desentralisasi perencanaan dan penganggaran daerah yang berlaku di Indonesia saat ini, yaitu: 1) Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 2) Undangundang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; 3) Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; 4) Undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah; serta 5) Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 Pembagian Urusan Pemerintah antara Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota.

4 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah

Kerangka desentralisasi merupakan peluang sekaligus tantangan bagi upaya pembangunan kesehatan, terutama dikaitkan dengan sinkronisasi perencanaan dan pengganggaran kesehatan di pusat dan daerah. Keberagaman serta dinamika yang terjadi di daerah adalah potensi yang dapat mendukung ataupun melemahkan kebijakan nasional di tingkat pusat. Sesuai dengan Keputusan Men.PPN/Kepala Bappenas No. PER05/M.BAPPENAS/10/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, tugas pokok Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, koordinasi, sinkronisasi pelaksanaan penyusunan dan evaluasi perencanaan pembangunan nasional di bidang kesehatan dan gizi masyarakat, serta pemantauan dan penilaian atas pelaksanaannya. Sedangkan bidang pembangunan yang menjadi ruang lingkup tugas pokok dan fungsi Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat meliputi bidang kesehatan dan gizi masyarakat, serta pengawasan obat dan makanan. Dalam rangka perumusan kebijakan perencanaan pembangunan nasional, maka dipandang perlu dilakukan suatu kajian khusus dan atau paper kebijakan untuk mempertajam perencanaan pada tahap selanjutnya. B. Permasalahan Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam melakukan sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan di pusat dan daerah, antara lain:
1.

Siklus perencanaan dan penganggaran pusat terkait dengan jadwal belum sesuai dengan siklus penganggaran di daerah; Penterjemahan kebijakan kesehatan di daerah yang belum sesuai kebijakan nasional di pusat; Peran pembiayaan pusat yang belum sepenuhnya mendukung kebutuhan pembangunan kesehatan di daerah

2.

3.

C. Tujuan Secara umum tujuan dari kajian ini adalah tersusunnya rekomendasi terkait dengan sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan antara pusat dan daerah dalam rangka meningkatkan kualitas perencanaan dan penganggaran kesehatan di Indonesia. Secara khusus tujuan kajian ini adalah:
1.

Untuk mengetahui kesesuaian siklus perencanaan dan penganggaran antara pusat dengan daerah, Untuk mengetahui kesesuaian kebijakan antara pusat dan daerah terutama dalam menterjemahkan kebijakan pusat kedalam kebijakan daerah, Untuk mengetahui peran pembiayaan kesehatan pusat dalam mendukung kebutuhan pembiayaan kesehatan daerah

2.

3.

5 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah

Jawa Barat. dan konsinyasi). Pada tahap setelah dilakukan pengumpulan data dan informasi. E. Kajian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. workshop pusat dan daerah. Untuk pengumpulan data dilakukan melalui indepth interview dengan narasumber. DIY dan Gorontalo) dengan kebijakan RKP (Nasional). Pengumpulan data dilakukan pada 3 (tiga) propinsi yaitu. F. Workshop daerah dilaksanakan di Provinsi Jawa Barat dan DI Yogyakarta. Mempelajari siklus perencanaan yang dilakukan mulai di tingkat daerah (provinsi) sampai tingkat pusat. kunjungan lapangan. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menggali pendapat dari pemangku kebijakan dan para pakar. dilakukan analisis data secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. desk review. Mereview kesesuaian Kebijakan RKPD pada 3 (tiga) provinsi (Jabar. terkait pelaksanaan proses perencanaan dan penganggaran di pusat dan di daerah. Metodologi 2. Mempelajari pelaksanaan forum musyawarah perencanaan pembangunan di daerah dan nasional. mempertimbangkan waktu pelaksanaan musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan) di daerah. Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan kajian ini meliputi: pengumpulan dan pengolahan data dan informasi yang terkait dengan perencanaan dan penganggaran kesehatan di pusat dan daerah. Mengidentifikasi peraturan yang mendukung pelaksanaan perencanaan dan penganggaran kesehatan baik di pusat dan di daerah.D. 3. 4. 6 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . mencakup : 1. 5. Manfaat Yang Diharapkan Hasil kajian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi unit perencana dan pelaksana di Kementerian/Lembaga dan SKPD yang terkait dalam pembangunan kesehatan dan gizi masyarakat dalam menyusun arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan baik di pusat dan daerah. dan Gorontalo. Sedangkan Di Provinsi Gorontalo kunjungan lapangan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan musrenbang.

dan (5) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Tahap berikutnya adalah penetapan rencana menjadi produk hukum sehingga mengikat semua pihak untuk melaksanakannya. sinkronisasi.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengatur pengeloalan keuangan negara. dan berkelanjutan. antarruang. (2) penetapan rencana. Langkah pertama adalah penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat teknokratik. (1) penyusunan rencana. dan Rencana 7 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . masing-masing instansi pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan. pelaksanaan. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional menghendaki arah dan tujuan kebijakan pembangunan diselenggarakan berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan. yaitu memadukan Undang-Undang No. menyeluruh. berwawasan. Tahapan perencanaan pembangunan nasional meliputi. Sedangkan langkah keempat adalah penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional diselenggarakan berdasarkan azas umum penyelenggaraan Negara. antarwaktu.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan Undang-Undang No. dan (4) evaluasi pelaksanaan rencana. 25 Tahun 2004 tentang SPPN. (2) menjamin terciptanya integrasi. Langkah berikutnya adalah melibatkan masyarakat (pemangku kepentingan) dan menyelaraskan rencana pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan. Sistem perencanaan pembangunan nasional bertujuan untuk (1) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan. (3) pengendalian pelaksanaan rencana. Perencanaan pembangunan nasional disusun secara sistematis. terpadu. efektif. penganggaran. A. (4) mengoptimalkan partisipasi masyarakat. berkelanjutan. berkeadilan. terarah.1). Keempat tahapan diselenggarakan secara berkelanjutan sehingga secara keseluruhan membentuk satu siklus perencanaan yang utuh. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Peraturan Presiden/Kepala Daerah.II. menyeluruh. dan tanggap terhadap perubahan. Alur sistem perencanaan dan penganggaran baik di Pusat maupun di daerah (Gbr. lingkungan serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional. dan terukur. antarfungsi pemerintah maupun pusat dan daerah. KERANGKA PIKIR KAJIAN Landasan Normatif Perencanaan Nasional Pelaksanaan Undang-Undang No. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Undang-Undang/Peraturan Daerah. Langkah kedua. dan pengawasan. (3) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. berkeadilan. dan sinergi baik antardaerah. Menurut Undang-Undang No. Tahap penyusunan rencana dilaksanakan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu rencana yang siap untuk ditetapkan yang terdiri dari 4 (empat) langkah.

Informasi ini digunakan sebagai bahan penyusunan visi pembangunan untuk periode rencana yang dimaksud. Alur Sistem Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan di Pusat dan Daerah Visi. Perubahan yang demikian antara lain terjadi pada demografi. sumber daya alam. misi. serta 8 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Dokumen ini lebih bersifat visioner dan hanya memuat hal-hal yang mendasar sehingga memberi keleluasaan yang cukup bagi penyusunan rencana jangka menegah dan tahunannya. sarana dan prasarana. dan arah pembangunan nasional untuk periode 20 (dua puluh) tahun. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Dokumen RPJP diperlukan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi secara perlahan sehingga tidak terasa dalam jangka pendek. memuat visi. Oleh karena itu.Pembangunan Tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Peraturan Presiden/Kepala Daerah. budaya politik. pertahanan. sosial. Gambar 1. Program Presiden Dijabarkan Pedoman RPJP Nasional Pedoma (UU No. Misi. tetapi dapat menimbulkan masalah besar bagi kesejahteraan rakyat dalam jangka panjang. ekonomi. Program Kepala Daerah RenstraSKPD Acuan Pedoman RenjaSKPD Pedoman RKASKPD Rincian APBD UU SPPN UU KN Selanjutnya perencanaan pembangunan jangka panjang nasional diikuti dengan penentuan pilihan arah untuk pembangunan kewilayahan. dan keamanan. pada tahap awal penyusunan RPJP Nasional pemikiran visioner yang berkaitan dengan perubahan jangka panjang diatas perlu dihimpun dan dikaji dengan seksama. Misi. n 17/2007) Acuan Pedoman Pedoman RenstraKL RenjaKL RKA-KL Rincian APBN Pemerintah Pusat Acuan Dijabarkan RPJM Nasional RKP Pedoman RAPBN APBN Diperhatikan Dijabarkan Diserasikan melalui Musrenbang RPJP Daerah Pedoman RPJM Daerah RKP Daerah Pedoman RAPBD APBD Pemerintah Daerah Pedoman Dijabarkan Visi.

keamanan. Walaupun bernama rencana kerja pemerintah. Rancangan Awal ini dijadikan sebagai pedoman bagi semua kementerian/lembaga dalam menyusun Rencana Strategisnya (Renstra-KL). dan memfasilitasi kegiatan masyarakat. Dokumen rencana aksi memuat perencanaan dan penganggaran untuk periode 5 tahunan. untuk menjembatani komitmen-komitmen internasional terkait pembangunan kesehatan seperti pencapaian target pembangunan Millenium (Millenium Development Goals). namun perlu disadari bahwa pembangunan nasional utamanya dilaksanakan oleh masyarakat itu sendiri.3 Tahun 2010 tentang Pembangunan Berkeadilan mengamanatkan agar daerah menyusun rencana aksi. misi. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. dan program prioritas Presiden yang disusun dengan berpedoman pada RPJP. Disamping itu. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. berkeadilan. hukum. berkelanjutan. ekonomi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional adalah rencana pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahun yang merupakan penjabaran dari visi. Semua kegiatan pemerintah ini dikategorikan sebagai kegiatan dalam kerangka regulasi. Di samping itu. pertahanan. serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan nasional. rancangan kerangka ekonomi makro. rencana kerja dan pendanaannya. politik. Rancangan akhir disusun dengan mengakomodasi hasil Musrenbang dan kemudian ditetapkan menjadi RPJM Nasional. sebagaimana gambar berikut (Gbr. Pemerintah melalui Instruksi Presiden No. pemerintah juga perlu mendorong. Yang diperlukan dari pemerintah adalah aturan agar kegiatan masyarakat itu sendiri sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan yang ditetapkan dalam pasal 33 UNDANG-UNDANGD 1945 yaitu berdasarkan demokrasi dengan prinsip kebersamaan. memuat prioritas pendanaannya. dan agama.arah pembangunan bidang-bidang kehidupan seperti sosial.2) 9 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Komitmen ini. Kedudukan dokumen rencana aksi dengan dokumen perencanaan. Dengan demikian tahap awal dari penyusunan RPJM Nasional adalah penjabaran visi-misi. mengkoordinasikan. berwawasan lingkungan. dan perundang-undangan. Saat ini terkait dengan pencapaian bidang kesehatan telah disusun Rencana Aksi Daerah (RAD) MDGs dan RAD Pangan dan Gizi. ditindaklanjuti dengan rancangan peta penuntun penyusunan kebijakan kunci (road map) yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. dan program prioritas Presiden ke dalam Rancangan Awal. Draft RPJM Nasional disusun dengan menggunakan Renstra-KL dan menjadi bahan bagi Musrenbang Jangka Menengah.

pemilik usaha. Semua pihak yang terkait selanjutnya dikenal dengan istilah pemangku kepentingan (stakeholders). Pemangku kepentingan berasal dari semua aparat penyelenggara negara (eksekutif. B. Hal lainnya yang akan dikaji untuk melihat sinkronisasi perencanaan dan penganggaran ini adalah melakukan review dokumen kebijakan pada provinsi terpilih (Jawa Barat. Kedudukan RAN-PG/RAD-PG dan Roadmap MDGs/RAD-MDGs dalam Dokumen Perencanaan Nasional Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). dengan fokus pada siklus perencanaan dan penganggaran dan menilai efektifitas pelaksanaan forum Musrenbangnas dan Musrenbangda. dan diyakini bahwa besarnya komitmen ini tergantung kepada sejauhmana mereka terlibat dalam proses perencanaan. Dari hasil serangkaian tahapan tersebut akan dianalisis secara mendalam dan terstruktur hal-hal yang menjadi bottleneck atau faktor-faktor penghambat dalam sinkronisasi perencanaan dan penganggaran pusat dan 10 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. legislatif. dan Gorontalo) untuk melihat penterjemahan kebijakan perencanaan dan penganggaran pusat ke daerah.Gambar 2. masyarakat. perkembangan perencanaan partisipatif bermula dari kesadaran bahwa kinerja sebuah prakarsa sangat ditentukan oleh semua pihak yang terkait dengan prakarsa tersebut. dan lain-lain. perencanaan partisipatif diwujudkan antara lain melalui musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) di mana sebuah rancangan rencana dibahas dan dikembangkan bersama semua pemangku kepentingan. Proses perencanaan dan penganggaran baik di pusat dan daerah merupakan hal utama yang akan direview. kelompok profesional. organisasi non pemerintah. kaum rohaniawan. Daerah Istomewa Yogyakarta. Kerangka Pikir Kajian Kerangka pikir kajian menjelaskan tentang lingkup hal yang akan menjadi bahasan dalam kajian. dan yudikatif). Komitmen semua pemangku kepentingan adalah kunci keberhasilan program.

daerah. Kerangka Pikir Kajian Proses Perencanaan & Penganggaran (Pusat & Daerah) Gambaran siklus perencanaan dan penganggaran Gambaran efektivitas forum musrenbang Penterjemahan Kebijakan Perencanaan & Penganggaran (Pusat & Daerah) Review dokumen kebijakan (sandingan RKP & RKPD) Analisis terhadap Proses Perencanaan dan Penganggaran serta Dokumen Kebijakan (Pusat & Daerah) Rekomendasi upaya sinkronisasi kebijakan (Pusat & Daerah) 11 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Gambar 3. Pada tahap akhir diharapkan dapat dirumuskan rekomendasi dalam rangka sinkronisasi perencanaan dan penganggaran pusat dan daerah.

III. Sampai dengan saat ini. Pada bulan Maret dilakukan Forum SKPD untuk membahas penyusunan Renja SKPD Kabupaten/ Kota dan pada bulan yang sama diadakan Musrenbang Kabupaten/Kota. lembaga non kementerian. (ii) Forum pemangku kepentingan dalam rangka menyusun rencana pembangunan daerah dimulai dari tingkat desa/kelurahan. Secara rutin dan konsisten pelaksanaan Musrenbang ini telah diselenggarakan dalam proses penyusunan perencanaan pembangunan baik untuk rencana pembangunan jangka pendek. dan (iii) Diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dengan mengikutsertakan masyarakat. baik dari aspek regulasi maupun praktek di lapangan. menengah. salah satu tahap yang harus dilalui dalam proses penyusunan rencana pembangunan jangka panjang. jangka menengah. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 12 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Musrenbang mempunyai peranan strategis untuk mengakomodasi semua masukan dari kementerian terkait. Sebagai komponen dari komunikasi publik. dan komponen masyarakat guna mencapai perencanaan aspiratif yang berjenjang dari tingkat lokal sampai nasional. forum SKPD. Siklus Perencanaan dan Penganggaran (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) Sesuai amanat Undang-Undang No. provinsi. implementasi dan keluarannya. yang menitik beratkan pada pembahasan untuk sinkronisasi rencana kerja antar-kementerian/lembaga/satuan kerja perangkat daerah dan antardaerah. kabupaten/kota. Tujuan pelaksanaan Musrenbang pada intinya adalah untuk menghasilkan kesepakatan –kesepakatan antarpelaku pembangunan tentang rancangan rencana kerja pemerintah dan rancangan kerja pemerintah daerah. HASIL PELAKSANAAN DAN ANALISA KAJIAN A. kecamatan. Pemerintah telah merintis langkah-langkah yang membuka peluang masyarakat untuk turut merencanakan dan menganggarkan biaya yang diperlukan untuk pembangunan di wilayah mereka. dan regional sampai tingkat nasional. Pemerintah masih berkomitmen dan berupaya untuk melakukan penyempurnaan mekanisme dan format Musrenbang baik dari segi tingkat partisipasi. dan panjang. dan tahunan melalui penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Alur perencanaan dan penganggaran daerah berawal dari kegiatan Musrenbang Desa pada bulan Januari yang kemudian dilanjutkan dengan Musrenbang Kecamatan pada bulan Februari. Forum Musrenbang tersebut adalah (i) Forum antarpelaku dalam rangka menyusun rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah. pemerintahan daerah (provinsi dan kabupaten/Kota). Setiap proses penyusunan dokumen rencana pembangunan tersebut memerlukan koordinasi antar-instansi pemerintah dan partisipasi seluruh pelaku pembangunan. melalui suatu forum yang disebut sebagai Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang.

dan RKA-KL sebagai arahan ke daerah. Tujuan dan sasaran yang disampaikan dari pusat ke daerah kurang tajam sehingga diperlukan pembahasan dan kesepakatan isu strategis ada pada forum Triwulanan I dan menjadi fokus pembahasan pada rangkaian Musrenbang. Evaluasi Rancangan Perda APBD. Pada Musrenbang 2011 telah teridentifikasi kelemahan yang terjadi ada pada 7 titik kritis pelaksanaan musrenbang yaitu : 1. Maka dari itu. Pembahasan hanya pada kegiatan dengan sumber pendanaan dekonsentrasi/Tugas Perbantuan sehingga belum terlaksananya pembahasan Dana Alokasi Khusus (DAK). 7. Waktu pembahasan sinkronisasi program /kegiatan terbatas. Pada Musrenbang selanjutnya diharapkan akan ada penentuan prioritas bidang DAK. Arahan pusat ke daerah masih normatif. Musrenbang ditujukan untuk mengefektifkan perencanaan dan penganggaran dengan melihat berbagai kendala seperti sumber daya manusia yang terbatas dan dari segi tataran birokratis. menggunakan format pembahasan trilateral desks (K/L. Pada PraMusrenbangnas pada tahun 2011 yang dilakukan satu hari untuk satu wilayah. Berdasarkan evaluasi pada tahun 2011 diketahui bahwa isu strategis belum sepenuhnya dijadikan kriteria seleksi sehingga diharapkan pada tahun-tahun kedepan penetapan kegiatan prioritas berdasarkan isu strategis Provinsi. Tindak lanjut dari hasil musrenbangnas tidak pasti sehingga diinginkan ada suatu keberlanjutan dari proses yang sudah ada. diharapkan menggunakan prioritas nasional. 5. Pemprov dan Bappenas) dan hasil dari evaluasi menunjukkan bahwa waktu pembahasan relatif mencukupi. Belum jelasnya kriteria penetapan prioritas. agar dapat menjadi acuan bagi provinsi untuk mendukung sasaran pembangunan nasional dan juga bagi Kementerian dan Lembaga dalam mengalokasikan resource ke daerah. Hal ini terkait dengan kualitas isu strategis Provinsi yang perlu lebih disempurnakan. isu strategis provinsi. Pembahasan dan kesepakatan KUA antara KDH dengan DPRD serta pembahasan dan kesepakatan PPAS antara KDH dengan DPRD dilakukan pada bulan Juni. penetapan Perda APBD dan penyusunan DPA SKPD dilakukan pada bulan Desember. 3. melakukan pemetaan di UPPD jika terjadi perubahan nomenklatur di Renja K/L serta integrasi aplikasi Renja dan UPPD. sehingga diharapkan 13 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Rencana Penyelenggaraan Rangkaian Musrenbang Dalam Rangka Penyusunan RKP. 2. Pelaksanaan APBD dilakukan pada Januari tahun berikutnya. 4. Hal ini dikarenakan verifikasi oleh Direktorat Sektoral terhadap Renja mitranya belum berjalan. 6. Nomenklatur kegiatan Kementerian dan Lembaga dengan daerah belum sepenuhnya sama terutama akibat adanya Inisiatif Baru sehingga hal ini diharapkan tetap mengikuti nomenklatur Renja K/L.Selanjutnya pada bulan Mei dilakukan penetapan RKPD. Penyusunan RKA-SKPD dan RAPBD ditetapkan pada bulan Juli—September yang selanjutnya akan dibahas dan disetujui Rancangan APBD dengan DPRD bulan Oktober—November.

Mekanisme baru terkait dengan UP4B (Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat) masih akan dilakukan pembahasan lebih lanjut. 14 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Gambar 4. Output lain yang diharapkan adalah keluarnya UKPPD (Usulan Kegiatan dan Pendanaan Pemerintah Daerah) yang digambarkan pada gambar berikut (Gbr. mempelajari UPPD Provinsi. sebagai penanggung jawab sektor dan mengarahkan mitra daerah serta menagwasi hasil Musrenbangnas bagi provinsinya. 5). Isu strategis pada Musrenbang 2012 akan diberi tanggapan oleh provinsi itu sendiri dan diharapkan dari isu strategis tersebut dihasilkan output 3 sampai 5 kegiatan strategis yang dapat dibawa hingga pra musrenbang. Output dari Pra Musrenbang adalah keluarnya isu strategis provinsi dimana 5 kegiatan yang dapat disepakati oleh Kementerian dan Lembaga yang kemudian akan diberikan prioritas pendanaan. Tujuh Titik Kritis dalam Pelaksanaan Musrenbang Terobosan baru yang dilakukan pada pelaksanaan Musrenbang tahun 2012 adalah adanya penunjukkan Liasion Officer (LO) dimana perannya adalah mempelajari dan mengawal isu strategis provinsi. memastikan usulan kegiatan prioritas daerah sesuai dengan isu strategis provinsi. memberikan arahan mengenai isu strategis provinsi.pada tahun-tahun ke depan peran dari direktorat sektoral Bappenas untuk lebih aktif mengawal proses finalisasi Renja KL berdasarkan hasil Musrenbangnas.

sedangkan fungsi penganggaran pada di Kementerian Keuangan. Renja K/L 2012 sehingga akan menghasilkan output F1 (usulan shortlist 3-5 kegiatan plus usulan untuk koordinasi provinsi). Dalam proses perencanaan dan penganganggaran berbagai tantangan dan permasalahan ditemukan. F4 usulan Renja KL. F3 usulan UKPPD. Hal tersebut berdampak (1) Belum adanya sinergitas antara perencanaan pembangunan dengan penganggaran nasional. (3) Dana yang digunakan untuk melaksanakan perencanaan tidak mencukupi. F4) ada pada lampiran. Namun. Berbagai hambatan dalam perencanaan dan penganggaran yang dirasakan antara lain (1) Menu perencanaan pusat belum dapat mengakomodir daerah. Format pada UKPPD (F1. F2 (longlist. Renja K/L 2011. Di tingkat pusat tantangan dan permasalahan secara umum adalah fungsi koordinasi penyusunan perencanaan pembangunan nasional pada Kementerian PPN/Bappenas. (2) SDM dalam menyusun perencanan tidak memadai baik kualitas maupun kuantitas. sehingga hal ini menjadi tantangan yang besar dalam proses sinkronisasi perencanaan dan penganggaran. dalam perencanaan kesehatan masih mempunyai peluang yaitu (1) Kesehatan merupakan isu yang didukung oleh semua pihak 15 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . sandingan UKPPD dengan Renja K/L) . sehingga hal ini menuntut koordinasi yang cukup intensif. (6) Jadwal perencanaan belum tepat. (4) Menu pusat belum mengakomodir kebutuhan daerah. Alur UKPPD Dasar dari UKPPD adalah input dari K/L. (2) Belum adanya sinergitas antara perencanaan pembangunan dengan penganggaran daerah. peran Kementerian Dalam Negeri dalam proses perencanaan pembangunan daerah dan penganggaran cukup besar yang melibatkan internal lintas Eselon I Kementerian Dalam Negeri. Di tingkat Daerah.Gambar 5. dan (3) Belum adanya sinergitas antara perencanaan pembangunan nasional dengan perencanaan pembangunan daerah. (5) Waktu proses perencanaan terlalu pendek. F3. sedangkan dalam penganggaran melalui Direktorat Jenderal Keuangan Daerah. Proses perencanaan pembangunan daerah dilakukan melalui Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah. baik di pusat maupun didaerah. F2.

dan Pemerintah Daerah (Kabupaten dan Kota) dan Peraturan Pemerintah No.8 tahun 2008. (2) Undang-Undang No. perencanaan Nasional Selain itu. meliputi empat regulasi yang mengatur mengenai perencanaan dan penganggaramn yaitu (1) Undang-Undang No. usulan program kesehatan bisa diajukan melalui APBN atau APBD. dimana dapat digambarkan pada gambar berikut (Gbr. B. Pemerintah Daerah Provinsi. 8 tahun 2008 tentang Tahapan. 7) 16 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Kebijakan-kebijakan operasional tersebut secara prinsip mendukung sinkronisasi perencanaan dan penganggaran pusat dan daerah dalam satu kesatuan sistem perencanaan pembangunan nasional. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pusat. dan LSM. 17 tahun 2003 yang mengatur pengelolaan keuangan negara. sarana dan prasarana kesehatan memadai dan perencanaan disusun berdasarkan RPJMD dengan mendapat dukungan dari pemerintah. swasta. juga terdapat kebijakan operasional Peraturan Pemerintah No. dan (4) Undang-Undang No. (3) Undang-Undang No. Tata Cara Penyusunan. 6). Identifikasi Regulasi Yang Mendukung Pelaksanaan Perencanaan Dan Penganggaran di Pusat dan Daerah Regulasi yang mendukung pelaksanaan perencanaan dan penganggaran di pusat dan daerah.25 tahun 2004 mengatur khusus mengenai perencanaan yaitu Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.54 Tahun 2010 tentang pelaksanaan PP No.menjadi prioritas pembangunan nasional dan (2) Adanya dukungan dari stakeholder dalam menyusun perencanaan sesuai dengan kebutuhan program.32 tahun 2004 tentang Desentralisasi. Regulasi yang mengatur tentang pusat dan daerah (Gbr. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah serta Peraturan Menteri Dalam Negeri No.33 tahun 2004 tentang Keuangan Daerah. dimana undang-undang tersebut mengatur perencanaan dan penganggaran di Gambar 6.

Disamping itu PP ini diharapkan dapat menjadi pendorong bagi ketaatan prinsip anggaran menyesuaikan fungsi (money follows function). Melalui penetapan peraturan pelaksana Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tersebut maka pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah menjadi lebih tertata. Pemerintahan Daerah Provinsi. Sinkronisasi Perencanaan Dan Penganggaran Pusat Dan Daerah Dalam Satu Kesatuan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Dari hasil identifikasi diatas.8). pemerintah telah menyusun dan menetapkan hampir seluruh peraturan perundang-undangan yang mengatur desentralisasi dan otonomi daerah. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota juga telah ditetapkan (Gbr. 17 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . ditetapkan pula PP No. Peraturan ini menjadi acuan utama pelaksanaan pembangunan antarpelaku pembangunan. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang akan melengkapi mekanisme dan instrumen tata hubungan pembangunan antara propinsi dan kabupaten/kota.Gambar 7. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Selain itu. Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang No.

2. Pasal 31 ayat (1) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006. Disamping itu terdapat beberapa regulasi yang mengatur penganggaran belanja daerah adalah sebagai berikut : 1. urusan pilihan dan urusan concurrent. Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau Kabupaten/ Kota yang terdiri dari urusan wajib. penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup dan penganggaran untuk setiap pengeluaran APBD harus didukung dengan dasar hukum yang melandasinya.Gambar 8 . Dalam menyusun APBD. Pasal 18 PP Nomor 58 Tahun 2005. koordinasi. pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah menjadi lebih baik dibandingkan dengan periode pembangunan sebelumnya. Dengan telah berhasil disusunnya dan ditetapkannya berbagai peraturan perundangan. fungsi. Pasal 26 ayat (1) PP Nomor 58 Tahun 2005 Jo. 18 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . pendelegasian. Keberhasilan program dapat dilihat dengan adanya: (1) jalinan hubungan kerja. dan penugasan antartingkat pemerintahan dan (2) kejelasan pembagian urusan pemerintahan antartingkat pemerintahan. Peraturan terkait Pembagian Urusan Kewenangan Hal penting lainnya adalah tersusunnya PP Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang memungkinkan Pemerintah secara tersistem memantau dan mengevaluasi kinerja pemerintahan daerah.

Tata cara pelaksanaan perencanaan pembangunan dan penganggaran belum menjadi satu kesatuan yang sistemik serta diatur dalam banyak peraturan yang terpisah bahkan di antaranya ada yang bertentangan. sedangkan fungsi penganggaran ada di Kementerian 19 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . belanja yang ditentukan persentasenya sesuai amanat per Undang-Undang. bantuan sosial. Di tingkat pusat fungsi koordinasi penyusunan perencanaan pembangunan nasional ada di Kementerian PPN/Bappenas. belanja tidak terduga dan belanja subsidi lebih didahulukan. 32 Tahun 2004 menggunakan pendekatan kewenangan/konkruensi. 4. Kelembagaan penyusunan perencanaan dan penganggaran terpisah. Perilaku belanja yang harusnya dilakukan oleh daerah adalah prioritas untuk pemenuhan 4 belanja pokok terlebih dahulu yang kemudian baru memenuhi belanja lainnya. Analisa Kebijakan yang Berkaitan dengan Perencanaan dan Penganggaran Dari hasil kajian yang dilakukan oleh Biro Hukum Bappenas menunjukkan bahwa ada beberapa undang-undang yang isinya bertentangan.3. belanja pemenuhan urusan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM). belanja yang bersifat mengikat/ wajib yang belanja tersebut harus didukung oleh provinsi.Terdapat beberapa rumusan kalimat dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dan UndangUndang Nomor 25 Tahun 2004 yang menimbulkan interpretasi yang beragam (Multi interprestasi) dan sulit dipahami oleh stakeholders. namun perilaku daerah terkadang berbeda dengan pemenuhan belanja lainnya seperti hibah. Alokasi belanja ditentukan melalui kebijakan penganggaran dan teknis penganggaran. 4 belanja pokok tersebut yaitu belanja yang diarahkan (earmark). Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengatur pula perencanaan pembangunan dan penganggaran (di daerah). Hal ini disebabkan belum adanya harmonisasi peraturan yang dikeluarkan oleh kementerian terkait. Pengaturan perencanaan pembangunan dan penganggaran pada Undang-Undang 32 Tahun 2004 tersebut pada beberapa ketentuannya bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004. bantuan keuangan. sehingga dalam pelaksanaan kegiatan menimbulkan kerancuan bagi instansi terkait di daerah. Tidak ada muatan sanksi (administratif) bagi pihak-pihak yang tidak mengikuti Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional maupun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 menggunakan pendekatan perencanaan sektoral dan regional. Pasal 22 ayat (2) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006. Kebijakan penganggaran meliputi 4 belanja pokok dan belanja lain-lain. Struktur APBD diklasifikasikan menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan urusan pemerintahan tersebut. sedangkan UndangUndang No.

Di tingkat Daerah. (2) Perbedaan waktu dalam proses perencanaan mulai dari jadwal pelaksanaan musrenbang sampai dengan pengesahan anggaran. Keterlibatan perencanaan pembangunan dilakukan melalui Ditjen Bangda. peran Kementerian Dalam Negeri dalam proses perencanaan pembangunan daerah dan penganggaran cukup besar. belum ada koordinasi yang baik. Tabel 1. Sandingan Regulasi yang mengatur Perencanaan Daerah dan Perencanaan Nasional UU 17/2003 (Keuangan Negara) Kementerian Keuangan Berdasar prestasi kerja UU 33/2004 (Keuangan UU 32/2004 Daerah) (Desentralisasi) Kementerian Dalam Negeri Yang disusun berdasar prestasi kerja dan RKA SKPD Tidak berdasar prestasi kerja Renstra SKPD UU 25/2004 (SPPN) Kementerian PPN/Bappenas Tidak berdasar prestasi kerja Renstra SKPD dan RKPD Isu Penyusunan Renja SKPD Pedoman penyusunan Renja SKPD Pihak yang menetapkan prioritas dan plafon Prioritas dan plafon RKA SKPD DPRD dan Pemda DPRD danPemda Kepala Daerah Acuan penyusunan RKA SKPD Dibahas dahulu oleh DPRD lalu disampaikan ke PPKD Usul DPRD Acuan penyusunan RKA SKPD Dibahas dahulu oleh DPRD lalu disampaikan ke PPKD Tidak ditegaskan Dasar penyusunan RKA SKPD Diserahkan ke PPKD Tidak ditegaskan Perubahan RAPBD C.Keuangan. DI Yogyakarta. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian belum maksimal dalam mengkoordinasikan lembaga perencanaan pembangunan (Kementerian PPN/Bappenas) dan lembaga penganggaran (Kementerian Keuangan).36/2009 tentang kesehatan yaitu pasal 171 yang menyebutkan alokasi anggaran kesehatan pemerintah pusat sebesar 5% dari APBN dan pemerintah daerah 10% dari APBD di luar gaji dengan kenyataan yang terjadi dikebanyakan daerah (provinsi dan 20 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Apapun yang direncanakan. Namun antara Ditjen Bangda dan Ditjen Keuangan Daerah. dan (3) Implementasi kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam UNDANG-UNDANG No. keputusan akhir ada di anggaran. Analisa Situasi dan Review dalam Proses Perencanaan dan Penganggaran Tingkat Provinsi (Jawa Barat. dan Gorontalo) Dari hasil pengumpulan data pada beberapa daerah menunjukkan yaitu di Provinsi Jawa Barat tantangan dan permasalahan dalam perencanaan dan penganggaran yang ditemukan antara lain adalah (1) Perbedaan dalam penentuan prioritas program dalam perencanaan antara pusat dan daerah. Tidak ada otoritas tunggal yang mengendalikan pelaksanaan perencanaan pembangunan dan penganggaran. sedangkan dalam penganggaran melalui Ditjen Keuangan Daerah.

partisipatif. Berdasarkan hasil evaluasi dokumen perencanaan daerah. 36 Tahun 2009. ini terkait dengan anggaran kesehatan yang tercantum dalam undang-undang No.5 % dan (ii) Pemerintah pusat masih belum optimal dalam mengakomodasi usulan yang diajukan oleh daerah. Pendekatan perencanaan pembangunan daerah berdasarkan pada politik. Peraturan Kementerian Kesehatan dan Peraturan Kementerian Keuangan masih tumpang tindih dalam operasional kegiatan program di daerah dan (ii) Menu-menu kegiatan yang diterbitkan di tingkat pusat melalui dana pusat ke daerah belum sejalan dengan permasalahan yang ada di daerah. potensi serta dinamika daerah. top down & bottom up. dikatakan anggaran kesehatan untuk daerah sebesar 10% diluar gaji. Perencanaan Pembangunan Daerah adalah proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya. RPJMD berfungsi sebagai pedoman pembangunan di daerah selama 5 tahun dan sebagai pedoman untuk penyusunan rencana kerja tahunan (RKPD) yang nantinya akan menjadi instrument untuk mengoperasionalkan RPJMD dan sebagai acuan penyusunan Rencana Kerja SKPD yang bersifat indikatif serta menjadi pedoman dalam penyusunan KUA dan PPAS. 21 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. teknokratik. Sedangkan. masih terdapat beberapa daerah yang masih belum cukup baik dalam perencanaan daerahnya. nasional dan global. Prinsip dari perencanaan pembangunan daerah merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional yang dilakukan bersama pemangku kepentingan sesuai dengan peran dan kewenangan yang mengintegrasikan RTRW dengan rencana pembangunan serta dilaksanakan berdasarkan kondisi. Perlu diperhatikan untuk sinkronisasi dan konsistensi dalam SKPD karena masih ditemukan kelemahan SKPD yang tidak tepat dalam menentukan indikator. pada kenyataannya anggaran kesehatan di Propinsi Gorontalo hanya dipenuhi sebesar 2. Pada umumnya anggaran kesehatan di daerah (provinsi dan kabupaten/kota) berkisar antara 3 persen sampai 5 persen. Pada tingkat pusat terdapat fokus-fokus perencanaan namun justru pada tingkat daerah tidak mengetahui sehingga diperlukan instrument-instrumen untuk perencanaan dan penganggaran daerah. Gambaran Ketidaksesuaian antara Kebutuhan Daerah dengan Dukungan Pusat. di Provinsi DI Yogyakarta tantangan dan permasalahan yang ditemukan antara lain adalah (i) Regulasi K/L yang berkenaan dengan perencanaan dan penganggaran kesehatan berkaitan dengan Peraturan Kementerian Dalam Negeri. Dokumen RPJP Daerah berfungsi sebagai road map (peta arah) pembangunan daerah 20 tahun ke depan dan sebagai pedoman penyusunan RPJMD yang kemudian akan ada 4 periode RPJMD. Sedangkan. tantangan dan permasalahan perencanaan dan penganggaran yang ditemukan di Provinsi Gorontalo antara lain adalah (i) Perbedaan dalam menerjemahkan kebijakan nasional ke dalam kebijakan di daerah.kabupaten/kota) di Indonesia. Pendekatan penyusunan perencanaan dan penganggaran daerah mengacu pada 14 SPM sehingga hal ini mendorong daerah untuk mengacu pada SPM.

Terdapat perubahan paradigma pada Musrenbang daerah yaitu adanya klarifikasi dan penajaman program serta usulan program terdapat pada forum SKPD. Oleh karena itu. (2) Upaya untuk mewujudkan sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan antarpusat dan daerah harus ditempuh dengan menyelaraskan pendekatan dan jadwal waktu penyusunan perencanaan dan penganggaran antara kementerian terkait dan pemerintah daerah sesuai regulasi. Jika melihat dari penjelasan di atas. (4) Masih terdapatnya ketidakjelasan pembagian urusan pusat dan daerah (Provinsi. Kabupaten. (3) Untuk menjamin dukungan pendanaan APBD sesuai dengan prioritas kemampuan keuangan daerah. sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan di Provinsi Jawa Barat tidak hanya dilihat antara pusat dan daerah. Bottleneck tersebut antara lain : (1) Perbedaan time line dari sistem perencanaan antara pusat dan daerah . namun dari jumlah tersebut sebanyak 7. (2) Penyusunan isu strategis provinsi berbasis pada potret daerah (data 22 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . perlu kerjasama antar OPD di Jawa Barat.5% berada pada OPD selain Dinas Kesehatan yang tidak bergerak pada pelayanan publik. Sebagai contoh. sehingga harus senantiasa terakomodasi dalam setiap dokumen rencana pembangunan daerah untuk menjamin tersedianya alokasi anggaran yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. anggaran kesehatan yang disediakan oleh pemerintah daerah untuk bidang kesehatan memang sudah mencapai batas penganggaran minimal daerah untuk kesehatan sebesar 10. terdapat bottleneck yang perlu mendapat perhatian dan perlu bersama dicarikan solusinya. Padahal fungsi yang seharusnya dicapai untuk bidang kesehatan adalah pelayanan publik. Dalam sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan di Provinsi Jawa Barat tidak hanya dilihat antara pusat dan daerah. Permendagri tentang pedoman perencanaan RKPD yang selama ini hanya berbentuk surat edaran saat ini sedang dalam proses penyusunan. tetapi juga dilihat dari antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada di Jawa Barat. Rekomendasi yang diberikan untuk daerah yaitu: (1) Bidang Kesehatan dan gizi masyarakat merupakan bidang prioritas dalam pembangunan nasional dan daerah. urgensi dan program yang mendukung percepatan pembangunan bidang kesehatan dan gizi masyarakat harus disosialisasikan kepada DPRD. Selain itu. (3) Perbedaan prioritas legislatif dengan perencanaan dan penganggaran program yang ada. opsi yang dapat dipertimbangkan dalam langkahlangkah untuk perencanaan dan penganggaran kesehatan di Provinsi Jawa Barat adalah sebagai berikut : (1) Sinkronisasi berbagai peraturan daerah terkait perencanaan dan penganggaran. (2) Perbedaan dalam penentuan prioritas program dalam perencanaan (e-planning vs Musrenbang). dan (5) Masih lemahnya koordinasi lintas sektor terutama koordinasi yang melibatkan pihak swasta dan tokoh masyarakat. dan Kota). Permasalahan dalam Koordinasi Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Kesehatan.4%.

RKA Provinsi 2013. Bagan Tahapan Perencanaan di Provinsi Jawa Barat Sumber : Dinas Kesehatan Jawa Barat 23 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . (5) Perencanaan harus didasarkan pada evidence based. (4) Pengarusutamaan RAD MDGs ke dalam perencanaan dan penganggaran di daerah. (3) Penetapan bersama prioritas program.spasial). protap pengusulan kegiatan dan anggaran. Langkah nyata yang diambil Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dalam sinkronisasi tersebut. pendampingan diskusi kelompok dari Provinsi. kegiatan. kebijakan program kesehatan provinsi 2013. materi sinkronisasi. diskusi kelompok per kabupaten/kota. Gambar 9. hal-hal yang dibahas antara lain : hasil kinerja 2011. organisasi profesi (kerjasama vertikal dan horizontal). yaitu dengan melakukan pertemuan sinkronisasi dan koordinasi kebijakan program dan anggaran Pusat. Pada bagian input. Pertemuan ini dilakukan di lima wilayah yang membahas evaluasi tahun 2011 dan rencana 2013. Proses. rencana usulan kegiatan Provinsi dan kabupaten/kota dari berbagai sumber dana. dan panduan diskusi kelompok. 6)Revitalisasi Musrenbang dengan mengangkat isu strategis daerah (termasuk isu kesehatan). Selanjutnya output yang diharapkan dari kegiatan ini adalah hasil identifikasi masalah dan kebutuhan pembangunan kesehatan per kabupaten/kota. dan (7) Penguatan kerjasama lintas sektor terkait kesehatan termasuk pelibatan swasta. Kegiatan tersebut terdiri dari Input. Dengan melakukan hal tersebut diharapkan dapat mengambil pelajaran dari tahun 2011 dan mampu memperbaikinya untuk perencanaan tahun 2013. kegiatan yang dillakukan terdiri dari: ceramah tanya jawab. RKA kabupaten/kota 2013. rumusan prioritas program pembangunan kes 2013. dan Output. target dan pembiayaan. Provinsi. sasaran. Sedangkan pada bagian proses. dan Kabupaten/Kota pada minggu kedua bulan Maret 2012.

Kecamatan. langkah nyata yang dilakukan lainnya terutama untuk merevitalisasi Musrenbang untuk memasukan isu-isu strategis antara lain dengan mensosialisasikan isuisu strategis kesehatan kepada masyarakat sehingga pada saat proses musrenbang isu-isu tersebut dapat diangkat dan dimasukan dalam prioritas program atau kegiatan provinsi. (c) Musrenbang melalui trilateraldesk dalam rangka membahas persandingan-persandingan guna mensinergikan kabupaten/kota. Terkait permasalahan perencanaan dan penganggaran juga mencakup antara lain: (1) Penerjemahan kebijakan nasional kedalam kebijakan di daerah belum sesuai. Kabupaten/Kota. Kelebihan dari “jogjaplan” adalah jika program/kegiatan tidak sesuai dengan indikator sasaran yang harus dicapai (telah ditetapkan). Hal ini dikarenakan proses pelaksanaan dilakukan selama 1 bulan.5% dan (2) pemerintah pusat masih belum optimal dalam mengakomodasi usulan yang diajukan daerah.Selain itu. Pelaksanaan Musrenbangda di Provinsi Gorontalo dilakukan setelah melihat jadwal pelaksanaan dengan Musrebangnas dari Bappenas sehingga durasi pelaksanaan dirasa kurang cukup meskipun pelaksanaan Musrenbangda sudah dilakukan selama satu bulan di tingkat Desa. hasil Musrenbang Provinsi belum seefisien yang diharapkan. Tantangan dalam Koordinasi Perencanaan dan Penganggaran di Provinsi DIY. Oleh karena itu. proses perencanaan di Prov. Dalam Koordinasi Perencanaan dan Penganggaran di DIY. DIY sudah melibatkan pihak legislatif pada rangkaian kegiatan proses musrenbang. (b) Perencanaan mengutamakan kombinasi fokus dan lokus (keterkaitan antarsektor). dan (d) Perencanaan didukung dengan aplikasi “jogjaplan”. Koordinasi perencanaan dan penganggaran di Provinsi Gorontalo perlu perbaikan diantaranya sebagai berikut : (1) Waktu pelaksanaan kegiatan koordinasi harus sesuai jadwal. dan Provinsi. maka program/kegiatan yang diusulkan akan “terpental/tertolak”/tidak bisa masuk karena tidak punya kontribusi terhadap indikator sasaran (target yang harus dicapai). dan rincian pembebanan (APBN. Revitalisasi yang dilakukan meliputi (a) Musrenbang lebih bersifat substansial dan terbuka terhadap partisipasi masyarakat. (3) Sosialisasi kepada SKPD perlu di tingkatkan. kurang lengkapnya data. DIY mengalami beberapa revitalisasi khususnya pada kegiatan musrenbang daerah. Kelurahan. Tantangan-tantangan tersebut antara lain sebagai berikut : (1) Pada tahun 2012. Sistem Informasi Profil Daerah (SIPD) dan Web Monitoring dan Evaluasi. lokasi pelaksanaan program/kegiatan. Selain itu. APBD I & II) karena forum SKPD di tingkat Provinsi belum dilaksanakan. masih didapati beberapa tantangan yang perlu dipikirkan bersama solusi penyelesaiannya. Perencanaan dan penganggaran kesehatan di Provinsi Gorontalo terdapat beberapa kendala terutama terkait koordinasi pelaksanaan Musrenbangda. Prov. Selain itu. provinsi. (2) Konsistensi 24 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . (2) Manajemen forum perencanaan penganggaran perlu dioptimalkan. misalnya anggaran untuk kesehatan harusnya 10% hanya dipenuhi sebesar 2. Dengan beberapa langkah nyata tersebut diharapkan terjadi sinkronisasi perencanaan dan penganggaran antara pusat dan daerah baiksecara vertikal dan horizontal. Sistem Informasi Penataan Ruang (SIPR). dan pusat.

yang dimana forum-forum tersebut merupakan pendukung dari proses musrenbang daerah dan forum SKPD.perencanaan dan penganggaran di daerah dapat dilihat dari dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) kemudian diterjemahkan ke dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) – Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) dan kemudian ditetapkan kedalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). DIY dilakukan dengan sinkronisasi rencana strategis (renstra) antara SKPD Dinas Kesehatan Prov. dan (c) sasaran (Jamkesmas. dan (4) Hal-hal yang dapat disinkronkan antara provinsi dan kabupaten/kota di DIY untuk bidang kesehatan antara lain melalui sinkronisasi: (a) sharing dana (APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota). Gambar 10. Sikronisasi Perencanaan dan Penganggaran di Provinsi DIY Berdasarkan hasil diskusi dan analisis situasi Perencanaan dan Penganggaran di Provinsi DIY. dan Jamkesda). DIY dengan SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melalui rapat koordinasi antarprogram baik di tingkat pusat maupun kabupaten/kota serta rapat kerja kesehatan daerah (Rakerkesda). 25 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Jamkesos. (3) Proses sinkronisasi bidang kesehatan di Prov. 10. tersusun suatu rekomendasi sebagai berikut: (1) Perlu adanya harmonisasi regulasi K/L berkenaan dengan perencanaan dan penganggaran khususnya bidang kesehatan untuk menghindari tumpangtindih regulasi di tingkat operasional daerah (Peraturan Menteri Dalam Negeri – Peraturan Menteri Keuangan – Peraturan Menteri Kesehatan) dan (2) Diharapkan menu-menu kegiatan yang diterbitkan di tingkat pusat melalui dana pusat ke daerah. sebaiknya sejalan dengan permasalahan yang ada di daerah. (b) lokasi kegiatan. sebagaimana terlihat pada Gbr.

peningkatan cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani. peningkatan cakupan neonatal dengan komplikasi yang ditangani. bayi dan balita 26 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .BKB. Brainbooster Penguatan sistem rujukan kelainan Tumbuh Kembang Anak Pertemuan Kemitraan/jejaring dalam penanganan kasus KtP dan KtA Pertemuan Sosialisasi Penanganan KtP dan KtA Pertemuan penguatan penanganan komplikasi neonatus bagi pengelola program KIA Pertemuan Koordinasi Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus di Jawa Barat Fasilitasi dan pembinaan program lansia di kab/kota Pertemuan pembahasan dan Pemutahiran data Program Pembinaan usia lanjut di Provinsi Rapat Koordinasi Hari Ulang tahun Usia Lanjut Penggandaan buku pedoman Pembinaan Kesehatan Lansia Lansia Penggandaan kohort ibu. UKS. 1. serta RAD MDGs Jawa Barat. intelegensi. RKPD 2011 Prov. Skrining hipotiroid. peningkatan cakupan kunjungan ibu hamil (K1 dan K4).SDITK. peningkatan cakupan peserta KB aktif yang dilayani sektor pemerintah. dan Lansia                      Pertemuan Pembahasan dan Analisa Hasil Pendampingan KIA di Tingkat Prov Lokakarya Pemantapan Integrasi KIA dan Gizi di Provinsi Pertemuan PWS-KIA di Provinsi Pertemuan Kemitraan Pelayanan KIA dengan Lintas Sektor dalam Upayan Peningkatan Aksesibilitas Program Jampersal Review dan Evaluasi Program PKRE-T di Provinsi Review dan Evaluasi pelayanan kesehatan ibu dan anak terintegrasi Bimbingan teknis KIA dan Gizi terintegrasi Sinergitas Pelayanan KB di Kab/Kota Pertemuan Evaluasi Pelaksanaan Penerapan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Pertemuan koordinasi dalam Pembinaan Kesehatan anak usia dini holistik-integratif (PAUD. dan Gorontalo terkait isu KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) Dari hasil analisa dari dokumen perencanaan daerah (RKPD) tahun 2011. peningkatan cakupan kunjungan bayi. peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih. Matriks sandingan RKP dan RKPD Provinsi. Jawa Barat Peningkatan Pelayanan KIA.Tabel 2. terlihat penterjemahan kebijakan pusat ke daerah sebagaimana berikut : RKP 2011 Penyediaan sarana kesehatan yang mampu melaksanakan PONED dan PONEK. Jogjakarta. TPA) Sosialisasi Skrining Tumbang Anak Dengan Pengelola Program Anak Kab/Kota (SDIDTK.

Jawa Barat     2. Pengadaan Cetak Buku Pedoman Umum dan Teknis Program Gizi Pendampingan dan Fasilitasi Program Gizi Evaluasi cakupan konsumsi garam beryodium rumah tangga melalui survei cepat Verifikasi / Validasi Gizi Buruk Evaluasi dan Pembinaan Hasil . Laboratorium. Farmasi . peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih.RKP 2011 RKPD 2011 Prov.hasil Pelatihan di Bidang Gizi Ke Kab/Kota Pengadaan Buku Bidang Teknis Bidang Gizi Pengadaan Timbangan untuk Validasi data Pengadaan alat ukur panjang badan Konsultasi ke Pusat Kegiatan Pemberian makanan Tambahan (PMT) Pemulihan bagi balita Gizi Buruk        Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengembangan Pasien Maskin Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Stroke Unit. Program Kesehatan Balita dalam Keluarga   Pengembangan Keterpaduan SDIDTK Balita Pengembangan MTBS 27 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Rehab Medik dan Alat Medis Keperawatan Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengembangan IRJ. Gizi. Kegiatan Perbaikan Gizi Masyarakat          4. ICCU. Renal unit dan High Care Unit Anak Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengembangan Bedah Central Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengembangan Radiologi. Loundry RKPD 2011 Prov. Stokr Unit. DIY RKP 2011 penyediaan sarana kesehatan yang mampu melaksanakan PONED dan PONEK. peningkatan cakupan kunjungan ibu Kebijakan KIA terbagi dalam 3 program yaitu: 1. NICU. Penggandaan Buku KIA Fasilitasi pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja di 26 kab/kota Fasilitasi tim Jambore UKS Provinsi Jawa Barat Pertemuan Penguatan TP UKS di Provinsi Kegiatan PHKI Dukungan kegiatan gizi mayarakat 3. IRI & IGD Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengembangan IPSRS.

peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih. peningkatan cakupan kunjungan ibu hamil (K1 dan K4). 4. peningkatan cakupan neonatal dengan komplikasi yang ditangani. 2.hamil (K1 dan K4). RAD MDGs Jabar (2012) Kegiatan 1. Program Kesehatan Bayi dalam Keluarga  Pembinaaan Teknis Pasca Pelatihan Manajemen Asfiksia/BBLR  Pengembangan Surveillan KIA  Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan Anak 3. bayi dan balita. Keluaran Jumlah bidan yang dilatih APN (Rp. antara lain melalui: penyediaan sarana kesehatan yang mampu melaksanakan PONED dan PONEK. Gorontalo Peningkatan kesehatan ibu. peningkatan cakupan kunjungan ibu hamil (K1 dan K4). peningkatan cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani. 3. RKP 2011 penyediaan sarana kesehatan yang mampu melaksanakan PONED dan PONEK. 2. peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih. 28 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Keluaran Terlaksanannya Pertemuan Pembahasan dan Analisa Hasil Pendampingan KIA di Tingkat Provinsi Terlaksanannya Lokakarya Pemantapan Integrasi KIA dan Gizi di Provinsi Terlaksanannya Pertemuan PWSKIA di Provinsi Terlaksananya Pertemuan 2. peningkatan cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani. 3. 4. peningkatan cakupan neonatal dengan komplikasi yang ditangani. 2.5 juta) Jumlah ibu nifas yang dikunjungi Jumlah pertemuan advokasi pembentukan Rumah Tunggu bagi Bumil Risti dan seluruh bumil di daerah geografis sulit tanpa fasilitas kesehatan di kabupaten 1. Pelatihan APN dan Evaluasi Pasca Latih Kunjungan rumah untuk meningkatkan cakupan ibu nifas Advokasi pembentukan Rumah Tunggu bagi bumil risti dan seluruh bumil di daerah geografis sulit tanpa fasilitas kesehatan di Kabupaten Orientasi dan peningkatan pelaksanaan 1. peningkatan cakupan peserta KB aktif yang dilayani sektor pemerintah. 2. 3. Bulin  Evaluasi dan Koordinasi Pelayanan Kesehatan Ibu  Sosialisasi Pelaksanaan Sistem Mata Rantai Rujukan Penguatan Pelayanan KB  Penguatan Task Force KIA  Evaluasi RS PONEK RKPD 2011 Prov. peningkatan cakupan kunjungan bayi. 3. 3. peningkatan cakupan peserta KB aktif yang dilayani sektor pemerintah. RKPD Jabar (2012) Kegiatan Pertemuan Pembahasan dan Analisa Hasil Pendampingan KIA di Tingkat Provinsi Lokakarya Pemantapan Integrasi KIA dan Gizi di Provinsi Pertemuan PWSKIA di Provinsi Pertemuan Kemitraan Pelayanan KIA dengan Lintas Sektor dalam 1. Program Kesehatan Ibu dalam Keluarga  Pengembangan Implementasi Deteksi Risti Bumil  Pelatihan PPGDON Nakes  Sosialisasi Pengenalan Tanda Bahaya Bumil. 4. peningkatan cakupan imunisasi tepat waktu pada bayi dan balita. peningkatan cakupan kunjungan bayi.Bufas. peningkatan cakupan kunjungan bayi.

8. 7. 12. rumah tunggu dan PONED Kampanye KIE persalinan di fasilitas kesehatan dan kesiapan menghadapi komplikasi persalinan Orientasi Bikor dalam melaksanakan Supervisi Fasilitatif Pembinaan Puskesmas dalam pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) termasuk layanan swasta Pembinaan Puskesmas dalam pemanfaatan Buku KIA Pendataan Ibu Hamil Pengadaan Paket Kelas Ibu untuk Puskesmas Orientasi pembentukan kelas Ibu di Puskesmas Orientasi ANC terpadu bagi puskesmas PONED Fasilitasi perencanaan terpadu kab/kota dalam pecepatan penurunan angka kematian ibu yang responsif gender (DTPS) Pembentukan mobile team untuk memberikan 4. 15. Pertemuan penguatan penanganan komplikasi neonatus bagi pengelola program KIA Keluaran Kemitraan Pelayanan KIA dengan Lintas Sektor dalam Upaya Peningkatan Aksesibilitas Program Jampersal 5. 10. 18. 13. 7. 29 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Terlaksananya Review dan Evaluasi Program PKRE-T di Provinsi 6. Pertemuan Sosialisasi Penanganan KtP dan KtA 12. 17. 6. 11. 16. Terlaksananya Review dan Evaluasi pelayanan kesehatan ibu dan anak terintegrasi 7. 9. 8. 5. Sinergitas Pelayanan KB di Kab/Kota 9. Pertemuan Evaluasi Pelaksanaan Penerapan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan 10. Rumah tunggu dan PONED Jumlah kampanye KIE persalinan di fasilitas yang dilakukan Jumlah Bidan koordinator yang melaksanakan Supervisi Fasilitatif Jumlah Puskesmas yang melaksanakan PWS Jumlah Puskesmas yang dibina dalam pemanfaatan buku KIA Jumlah desa yang melaksanakan pendataan Ibu Hamil Jumlah Paket kelas ibu yang diadakan Jumlah Puskesmas yang melaksanakan kelas ibu Jumlah Puskesmas PONED yang melaksanakan ANC terpadu Provinsi : Jumlah kab/kota yang melaksanakan DTPS Provinsi : Jumlah kabupaten DTPK yang mempunyai mobile tim Jumlah Faskes dasar yang mendapat Kit Pelayanan KB Jumlah dokter dan bidan yang telah RKPD Jabar (2012) Kegiatan Upaya Peningkatan Aksesibilitas Program Jampersal 5. 15. Terlaksanannya Bimbingan teknis KIA dan Gizi terintegrasi 8. Bimbingan teknis KIA dan Gizi terintegrasi 8. 14. 16. Terlaksananya Pertemuan Sosialisasi Penanganan KtP dan KtA 12. 6. 14.RAD MDGs Jabar (2012) Kegiatan Kemitraan Bidan dan Dukun Penyediaan fasilitas pertolongan persalinan di Puskesmas Fasilitasi Pembuatan SK Bupati Walikota/ Perda Persalinan. 10.Terpadu (PKRE-T) di Provinsi 6. Review dan Evaluasi pelayanan kesehatan ibu dan anak terintegrasi 7. Keluaran Jumlah Dukun yang bermitra dengan Bidan Jumlah Puskesmas yang mempunyai ruang bersalin dan peralatan Jumlah SK Bupati Walikota/Perda tentang Persalinan. 12. Review dan Evaluasi Program Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial. Terlaksananya Pertemuan Evaluasi Pelaksanaan Penerapan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan 10. Terlaksananya Pertemuan Kemitraan/jejaring dalam penanganan kasus KtP dan KtA 11. Terlaksananya Sinergitas Pelayanan KB di Kab/Kota 9. 9. 13. 11. Pertemuan Kemitraan/jejaring dalam penanganan kasus Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) dan Kekerasan terhadap Anak (KtA) 11. Terlaksananya Pertemuan penguatan penanganan komplikasi neonatus bagi 5.

30. 19. 25. 29. Penggandaan kohort ibu. 21. 27. 27. 29. 21. 24. 26. 22. 23. 20. 23. 25. Penggandaan Buku KIA Keluaran pengelola program KIA 13. 28. 24. 28. Terlaksanannya Penggandaan kohort ibu. 26. 18. Keluaran mengikuti update ketrampilan pelayanan KB Jumlah bidan Pustu/Poskesdes yang telah mengikuti orientasi ABPK Jumlah Puskesmas yang mengikuti orientasi pelayanan KB pasca persalinan Jumlah alokon buffer stock yang diadakan di Propinsi Jumlah sweeping pelayanan KB yang dilaksanakan di Kab/Kota Jumlah Puskesmas yang melaksanakan PKPR Jumlah buku pedoman panduan kesehatan remaja yang diadakan dan didistribusikan ke puskesmas Jumlah Puskesmas yang telah mengikuti sosialisasi buku panduan kesehatan remaja Jumlah remaja di sekolah dan luar sekolah menjadi konselor sebaya yang mampu berbagi informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksual Jumlah sekolah yang melakukan insersi ARH ke dalam kurikulum Jumlah puskesmas rawat inap yang dilatih PONED Jumlah Puskesmas PONED yang dilatih Pelayanan Pasca RKPD Jabar (2012) Kegiatan 13. KB. 20. bayi dan balita 14.RAD MDGs Jabar (2012) Kegiatan pelayanan kesehatan ibu di DTPK Penyediaan Kit pelayanan KB di faskes dasar yang memberikan pelayanan KB Update (pemutakhiran) keterampilan pelayanan KB bagi Dokter dan Bidan di tingkat pelayanan dasar Orientasi ABPK bagi Bidan Pustu/Poskesdes Orientasi Pelayanan KB pasca persalinan Pengadaan buffer stock alokon di tingkat Provinsi Sweeping pelayanan KB bagi kab/kota dengan unmet need tinggi Orientasi/pelatihan fasilitas pelayanan yang ramah remaja bagi Puskesmas di Kab/Kota Pengadaan buku pedoman panduan kesehatan remaja Sosialisasi buku panduan kesehatan remaja Pelatihan Konselor sebaya (Peer konselor) Insersi ARH dalam kurikulum Pelatihan PONED termasuk evaluasi pasca latih bagi tim PONED di puskesmas Pelatihan pelayanan pasca keguguran untuk tim PONED Penyediaan sarana & prasarana untuk PONED. bayi dan balita 14. 22. Terlaksananya Penggandaan Buku KIA 17. 19. 30 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .

38. 37. 38. 34. 33. KB dan pelayanan pasca keguguran Jumlah puskesmas PONED yang memiliki ambulans PONED Jumlah Puskesmas PONED yang mampu memberikan PKRE terpadu Jumlah Puskesmas PONED yang mampu tatalaksana PP-KtP Jumlah AMP termasuk surveilans kematian ibu yang dilaksanakan Jumlah rekapitulasi data kematian ibu Jumlah RS yang melaksanakan PONEK sesuai standar Jumlah RS yang melaksanakan PONEK sesuai standar Jumlah kunjungan pembinaan Tim PONEK RS ke Pkm PONED Jumlah RS yang dilatih klinis pelayanan KB sesuai standar. 35. 40. 42. 37.RAD MDGs Jabar (2012) Kegiatan Pelayanan pasca keguguran Penyediaan Ambulans PONED untuk mendukung rujukan PONED Orientasi PKRE terpadu di Puskesmas PONED Orientasi PP-KtP terpadu di Puskesmas PONED Orientasi Surveilans kematian ibu dan AMP bagi tim AMP di kab/kota Pengolahan data kematian ibu di kab/kota Bintek Tim PONEK RS di Kab/Kota Evaluasi pasca pelatihan tim PONEK RS (On the Job Training) Pembinaan 4 Puskesmas oleh Tim PONEK RS (minimal 4 kali setahunper PKM) Pelatihan klinis pelayanan KB di RS kab/kota Pembinaan RS dan Klinik Swasta oleh RS PONEK (RS dan klinik yang ada di sekitar PONEK) Pemenuhan standar sarana dan peralatan RS PONEK di kab/kota Pembuatan SK Tim PONEK Kab/kota Regional sistem rujukan maternal neonatal di Kab/Kota Keluaran Keguguran (Post Abortion Care) Jumlah Puskesmas PONED yang memiliki sarana dan prasarana untuk PONED. 41. 30. 40. 36. 33. 32. 35. Jumlah kunjungan pembina tim PONEK Jumlah RS PONEK di kab/kota yang memiliki sarana dan peralatan sesuai standar. 32. 31. 39. 36. 41. RKPD Jabar (2012) Kegiatan Keluaran 31. 31 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . 39. 34. 43.

4. 2. 6. dan bulin Evaluasi dan koordinasi pelayanan kesehatan ibu Sosialisasi pelaksanaan sistem mata rantai rujukan Penguatan pelayanan KB Penguatan task force KIA Evaluasi RS PONEK 1. bulin. 5. 9. bufas. 5. 8. 9. 6. 3. Rumah tunggu dan PONED Jumlah kampanye KIE persalinan di fasilitas yang dilakukan Jumlah Bidan koordinator yang melaksanakan Supervisi Fasilitatif Jumlah Puskesmas yang melaksanakan PWS 1. 7. 32 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . 8. 5. 5. Keluaran Jumlah bidan yang dilatih APN Jumlah ibu nifas yang dikunjungi Jumlah pertemuan advokasi pembentukan Rumah Tunggu bagi Bumil Risti dan seluruh bumil di daerah geografis sulit tanpa fasilitas kesehatan di kabupaten Jumlah Dukun yang bermitra dengan Bidan Jumlah Puskesmas yang mempunyai ruang bersalin dan peralatan Jumlah SK Bupati Walikota/Perda tentang Persalinan. 4. 3. 3. 4. RKPD DIY (2012) Kegiatan Pengembangan implementasi deteksi risti bumil Pelatihan PPGDON Nakes Sosialisasi pengenalan tanda bahaya bumil. 7. 3. 4. Keluaran Peserta mendapat pemahaman tentang deteksi risti bumil melalui forum kelas ibu Peserta mendapat pemahaman tentang PPGDON Peserta mendapat pemahaman tentang pengenalan tanda bahaya pada bumil. 6. rumah tunggu dan PONED Kampanye KIE persalinan di fasilitas kesehatan dan kesiapan menghadapi komplikasi persalinan Orientasi Bikor dalam melaksanakan Supervisi Fasilitatif Pembinaan Puskesmas dalam pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) 1. 8. dan bufas Data evaluasi dan kesepakatan pelayanan kesehatan ibu Peserta mendapat pemahaman tentang pelaksanaan sistem mata rantai rujukan 2. Jumlah RS yang sudah memiliki SK Tim PONEK RS 43. Pelatihan APN dan Evaluasi Pasca Latih Kunjungan rumah untuk meningkatkan cakupan ibu nifas Advokasi pembentukan Rumah Tunggu bagi bumil risti dan seluruh bumil di daerah geografis sulit tanpa fasilitas kesehatan di Kabupaten Orientasi dan peningkatan pelaksanaan Kemitraan Bidan dan Dukun Penyediaan fasilitas pertolongan persalinan di Puskesmas Fasilitasi Pembuatan SK Bupati Walikota/ Perda Persalinan. 2.RAD MDGs Jabar (2012) Kegiatan Keluaran 42. Jumlah kab/kota yang melaksanakan regionalisasi sistem rujukan maternal neonatal RKPD Jabar (2012) Kegiatan Keluaran RAD MDGs DIY (2012) Kegiatan 1. 7. 2.

Provinsi : Jumlah kabupaten DTPK yang mempunyai mobile tim RKPD DIY (2012) Kegiatan 6.RAD MDGs DIY (2012) Kegiatan termasuk layanan swasta Pembinaan Puskesmas dalam pemanfaatan Buku KIA Pendataan Ibu Hamil Pengadaan Paket Kelas Ibu untuk Puskesmas Orientasi pembentukan kelas Ibu di Puskesmas Orientasi ANC terpadu bagi puskesmas PONED Fasilitasi perencanaan terpadu kab/kota dalam pecepatan penurunan angka kematian ibu yang responsif gender (DTPS) Pembentukan mobile team untuk memberikan pelayanan kesehatan ibu di DTPK Keluaran 10. 33 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . 11. Program dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dapat berbeda dengan Program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. b. propinsi dan kabupaten/kota antara lain: 1. Substansi perencanaan pembangunan dan penganggaran belum tajam mengarah pada upaya mencapai tujuan pembangunan. 8. c. 7. D. Jumlah desa yang melaksanakan pendataan Ibu Hamil 12. 13. di mana permasalahan utama yang muncul adalah tidak adanya prioritas yang jelas (prioritas pembangunan dalam dokumen perencanaan poembangunan sangat banyak dan tidak fokus) serta program Kementerian/Lembaga yang tidak mengarah pada pencapaian program nasional. 15. Pelaporan (dan evaluasi) masih bersifat parsial dan belum dijadikan sebagai bahan penyusunan rencana. Jumlah Puskesmas yang melaksanakan kelas ibu 14. Jumlah Puskesmas PONED yang melaksanakan ANC terpadu 15. 12. Kementerian/Lembaga yang memberikan laporan kepada Kementerian PPN/Bappenas hanya sedikit. Keluaran Dokumen penguatan pelayanan KB Kesepakatan untuk penguatan task force KIA Data tentang Evaluasi Pelaksanaan RS mampu PONEK 10. Ada Program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang tidak dimuat/dilaksanakan oleh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Perencanaan ditinjau dari segi substansi a. Faktor yang Berpengaruh Dalam Sinergi Dan Sinkronisasi Perencanaan Berbagai faktor yang memiliki pengaruh belum terwujudnya sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat. 14. Jumlah Paket kelas ibu yang diadakan 13. Provinsi : Jumlah kab/kota yang melaksanakan DTPS 16. 16. Jumlah Puskesmas yang dibina dalam pemanfaatan buku KIA 11.

seperti turut menentukan kegiatan dan costing. adanya ego kelembagaan dan lemahnya koordinasi internal lembaga pemerintah. j. propinsi dan kab/kota Sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat. pelaksanaan. Periodesasi pemilihan kepala daerah berbeda/tidak bersamaan antardaerah sehingga periodesasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah menjadi tidak bersamaan antardaerah yang menyebabkan pula berbedanya substansi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Kepentingan Politik DPR (Legislative Heavy). Sinergi dan sinkronisasi perencanaan dari segi kebijakan antara pusat. Dari sisi kelembagaan. i. Perencanaan pembangunan. h. Sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat. dan evaluasi yang mencakup kebijakan atau regulasi. g. propinsi dan kab/kota. Belum ada ruang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk mengubah rencana berdasarkan kebutuhan dan perubahan lingkungan strategis. pengendalian. diperlukan untuk: (1) memperkuat koordinasi antar pelaku perencanaan di 34 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . 2. Sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat. e. terutama jangka panjang. Sinergi dan sinkronisasi perencanaan dari perspektif kerangka kebijakan. propinsi dan kab/kota perlu perhatian dari berbagai perspektif antara lain: a. Muncul dokumen perencanaan yang dianggap sebagai dokumen tandingan seperti Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 20112025. propinsi dan kab/kota merupakan penentu utama kelancaran dalam pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan di bidang kesehatan. dan berbagai Rencana Aksi Nasional serta Rencana Aksi Daerah. di mana saat ini DPR turut berperan menentukan kebijakan teknis dan operasional.d. Masih rendahnya kemampuan SDM perencana baik di tingkat pusat maupun daerah yang menyebabkan kualitas perencanaan pembangunan dan penganggaran tidak memadai dalam mencapai tujuan pembangunan. Pola komunikasi antara pusat. Koordinasi Kementerian PPN/Bappenas dengan Kementerian Keuangan yang belum terlaksana dengan baik. propinsi dan kab/kota dilakukan secara komprehensif mulai dari perencanaan. anggaran. Untuk mewujudkan Sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat. propinsi dan kabupaten kota belum berjalan efektif. kelembagaan serta pengembangan wilayah. Bahkan koordinasi Ditjen Bangda (Perencanaan) dan Ditjen Keuangan Daerah (APBD) yang berada dalam satu lembaga (Kementerian Dalam Negeri) belum terlaksana dengan baik. f. tidak mengakomodasi perubahan.

musrenbang juga diharapkan dapat mendorong terciptanya partisipatif semua pelaku pembangunan dan berkembangnya transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. sehingga dapat mendukung pelaksanaan program dan kegiatan yang tercantum dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun berjalan dalam lingkup RPJMN 2010 – 2014. Dengan demikian akan terwujud sinkronisasi perencanaan dari segi kebijakan. propinsi dan kabupaten/kota. b. Diharapkan setiap kebijakan peraturan perundang-undangan baik peraturan Gubernur. 35 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . penganggaran. propinsi dan kabupaten/kota. RPJPP & RPJPD. RPJPM Nas. program dan kegiatan antara pusat. sinkron dan terintegrasi antara pusat. propinsi dan kab/kota. kecamatan. (2) Sinergi dan Sinkronisasi dalam penetapan target dan sasaran. Selain itu. kabupaten/kota. RPJMP & RPJMD. Selain itu sinergi dan sinkronisasi perencanaan perlu di arahkan untuk meningkatkan kesepahaman. Selain upaya di atas sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat. dan (5) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya yang efektif. pemerintah propinsi dan pemerintah kab/kota yang dapat dilakukan melalui antara lain: (1) Sinkronisasi dan sinergi perencanaan melalui sinergi kebijakan (RPJP NAS. Sinergi dan sinkronisasi dari perspektif kerangka regulasi Sinergi dan sinkronisasi dari segi kerangka regulasi diarahkan untuk mendorong harmonisasi peraturan perundang-undangan baik dalam bentuk Undang-Undang maupun Peraturan-peraturan pemerintah pusat. berkeadilan dan berkelanjutan. Untuk mencapai sinergi dan sinkronisasi perencanaan dari segi kebijakan antara pusat. propinsi dan kab/kota perlu upaya bersama antara pemerintah pusat. Dalam hal ini sinergi dan sinkronisasi dapat dilakukan dengan cara : (1) Konsultasi dan Koordinasi secara lebih efektif dalam penyusunan peraturan perundangan dan (2) Pembentukan forum koordinasi lintas instansi dan lintas sektor dalam rangka harmonisasi peraturan perundangan yang berkaitan dengan perencanaan dan penganggaran. (2) menjamin tersusunnya perencanaan yang sinergi. peraturan Bupati/ Walikota harus harmonis dan sinkron dengan kebijakan dan peraturan perundang-undangan pemerintah pusat. efisien. propinsi dan pusat. (3) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. (4) mengoptimalkan partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. (4) Pengembangan basis data dan sistem informasi perencanaan yang lengkap dan akurat.pusat. baik 5 (lima) tahun atau tahunan dapat dilaksanakan dengan mengoptimalkan pelaksanaan Musrenbang di semua level/ tingkatan pemerintahan mulai tingkat desa atau kelurahan. RKP & RKPD). propinsi dan kabupaten/kota. kesepakatan dan ketaatan dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan. pelaksanaan dan pengawasan. dan (5) Sinergi dan sinkronisasi dalam pengendalian kebijakan anggaran. propinsi dan kabupaten/kota. (3) Standardisasi indikator dalam menyusun perencanaan dan nomenklatur dalam penganggaran yang digunakan oleh K/L dan SKPD.

dan (3) Meningkatkan kapasitas aparatur yang mampu menjembatani kepentingan nasional dan daerah serta kerja sama antardaerah.c. propinsi dan kabupaten/kota. Kedepan sinergi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat dilakukan dengan cara: (1) Menata dan menyempurnakan pengaturan kewenangan antar tingkat pemerintahan sebagai dasar penetapan kinerja dan alokasi anggaran dengan penerapan anggaran berbasis kinerja secara bertanggungjawab. dalam pemerintahan diarahkan untuk memperbaiki tata kelola kelembagaan pemerintah daerah dan meningkatkan kapasitas aparatur daerah. 36 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . propinsi dan kabupaten/kota dilaksanakan selaras dengan upaya penataan dan penguatan perimbangan keuangan antara pusat. Dalam upaya sinergi dan sinkronisasi penganggaran dapat dilakukan dengan cara : (1) Meningkatkan efektifitas pelaksanaan penggunaan anggaran dari berbagai sumber dan terintegrasi dan (2) Sinkronisasi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang dikeluarkan K/L agar sesuai dengan kebutuhan daerah (propinsi dan kabupaten/kota) dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. Sinergi dan sinkronisasi dari perspektif kelembagaan dan aparatur daerah Sinergi dan sinkronisasi dari sudut pandang kelembagaan dan aparatur. Sinergi dan sinkronisasi dari perspektif penganggaran Sinergi dan sinkronisasi pusat. (2) Mengendalikan pemekaran daerah dan menetapkan pengelolaan daerah otonom dengan tetap mengutamakan harmonisasi kepentingan nasionaldan kebutuhan daerah serta rentang kendali manajemen yang ideal.

KESIMPULAN Dari pelaksanaan Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah dapat disimpulkan beberapa hal penting yaitu: 1. Selain itu juga pembiayaan pusat juga diberikan dalam bentuk Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk mendukung upaya pembangunan kesehatan preventif dan promotif. dana alokasi khusus. 3. terutama dilakukan melalui mekanisme dana dekonsentrasi. dan Kementerian PPN/Bappenas) belum sinergi. Bantuan pembiayaan pusat tersebut secara signifikan telah mendukung perbaikan status kesehatan di daerah juga. (b) Kebijakan operasional dalam perencanaan dan penganggaran antar Kementerian/Lembaga (Kementerian Keuangan. REKOMENDASI 1. (b) Kesesuaian dengan kebijakan politik pada setiap daerah akibat dominasi peran legislative (DPRD). (c) Kapasitas tenaga di bidang perencanaan dan penganggaran yang masih belum optimal. serta bantuan sosial seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Persalinan (Jampersal). 2. Peran pembiayaan kesehatan pusat dalam mendukung pembangunan kesehatan daerah sangat besar. Siklus perencanaan dan penganggaran antara pusat dan daerah masih belum sepenuhnya sejalan. (c) Mengembangkan sistem dan jaringan perencanaan pembangunan pelaksana perencanaan pembangunan baik di pusat dan daerah dan mengembangkan sistem 37 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .IV. Memperkuat sistem perencanaan dan penganggaran dengan (a) Melakukan evaluasi terhadap sistem perencanaan dalam rangka menyempurnakan sistem yang telah ada termasuk revitalisasi pelaksanaan Musrenbang dengan mengutamakan kombinasi fokus dan lokus (keterkaitan antarsektor). B. dan (c) Dalam menyusun perencanaan belum mengacu pada isu strategis dan prioritas nasional antara pusat dan daerah. terutama yang bersumber dari APBD. tugas perbantuan. Kementerian Dalam Negeri. hal ini antara lain ditandai dengan (a) Kepatuhan daerah dalam melaksanakan siklus perencanaan dan penganggaran sesuai dengan regulasi yang ada masih rendah. (d) Perumusan indikator dalam penterjemahan kebijakan belum sepenuhnya menggambarkan sebagai alat ukur kebutuhan anggaran dalam mencapai kegiatan. namun kepastian seluruh kebijakan tersebut diimplementasikan kedalam dokumen anggaran masih menghadapi beberapa kendala antara lain (a) Keterbatasan anggaran yang ada di tingkat provinsi. Pentejemahan kebijakan pusat kedalam kegiatan di daerah di bidang kesehatan dan gizi masyarakat secara umum telah sejalan. (b) Menyempurnakan berbagai aturan (Standar Operasional) dan mekanisme pelaksanaan perencanaan dan penganggaran. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A.

informasi publik. Meningkatkan optimalisasi pembiayaan kesehatan pusat dalam mendukung pembangunan kesehatan daerah dengan (a) Meningkatkan efektifitas dan efisiensi penggunaan dana dekonsentrasi. tugas perbantuan. dan (d) Mengembangkan sistem monitoring terpadu antara pusat dan daerah serta bersifat lintas program. terutama yang bersumber dari APBD. (b) Melakukan advokasi kepada pihak legislative (DPRD) untuk meningkatkan keberpihakan pada pembangunan kesehatan. dana alokasi khusus. Memperkuat kepastian seluruh kebijakan tersebut diimplementasikan kedalam dokumen anggaran dengan (a) Melakukan advokasi peningkatan anggaran kesehatan yang ada di tingkat provinsi. dan (e) Optimalisasi perencanaan dan penganggaran dalam pelaksanaan rapat koordinasi teknis yang dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga. 38 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . serta bantuan sosial seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Persalinan (Jampersal) dan (b) Meningkatkan pembiayaan pusat dalam bentuk Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk mendukung upaya pembangunan kesehatan preventif dan promotif. 2. (d) Merumuskan indikator dalam penterjemahan kebijakan yang sepenuhnya menggambarkan sebagai alat ukur kebutuhan anggaran dalam mencapai kegiatan. 3. (c) Meningkatkan kapasitas tenaga di bidang perencanaan dan penganggaran khususnya di tingkat daerah.

Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah Serta AntarDaerah. Jakarta. Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah. Evaluasi Lima Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004-2009. Undang-Undang No.DAFTAR PUSTAKA Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2010). 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah 39 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2010). Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2011). 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004—2009. Jakarta. Peraturan Presiden RI No. Buku Pegangan 2010. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010—2014. Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta Undang-undang No. Peraturan Presiden RI No. Memelihara Momentum Perubahan. Undang-Undang N0. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Rancangan Awal Kerangka Proses dan Mekanisme Revitalisasi Musrenbang 2011. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005—2025. Penyelenggaraan Pemerintah dan Pembangunan Daerah. Presentasi Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat (2012). Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

1 1097Peningkatan Provinsi Terlaksananya Kegiatan Jumlah Laporan Pengawasan Jawa Pengawasan Atas Pengaduan Aparatur Kejaksaan Barat Pelaksanaan Tugas Rutin Masyarakat yang di Daerah Baik di dan Pembangunan Semua Ditindaklanjuti dan Kejati. Agung. Satuan 2011 2012 Target 2013 2014 2015 Alokasi Dana (Juta) 2011 2012 2013 2014 2015 unit 10 10 10 10 10 3148 5164 3148 3148 lapdu 6 9 9 9 9 220 283 283 283 40 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .LAMPIRAN 1. kendaraan tahanan serta sarana perlengkapan gedung untuk seluruh satuan kerja baik di pusat maupun di daerah guna mendukung pelaksanaan tugas-tugas penegakan hukum 1. Kejari dan Unsur Kejaksaan Diselesaikan Cabjari dan Jajaran Berdasarkan Peraturan Terhadap Pengawasan di Perundang-Undangan dan Penyalahgunaan Daerah Kebijaksanaan yang Wewenang. FORM F4 . TugasDitetapkan Oleh Jaksa Tugas Rutin.2 3Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas AparaturKejaksaan RI 1. Pusat Rumah Sakit Kejaksaan.RENCANA KERJA KEMENTERIAN/LEMBAGA TAHUN 2012 BERDASARKAN PERPOGRAM PER KEGIATAN Provinsi : Jawa Barat Kementerian/Lemba No Kode Lokasi Sasaran Indikator Sasaran ga 1 6KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA 1.1. Pelanggaran Disiplin dan Penanganan Perkara Oleh Aparatur Kejaksaan di Daerah.1 1091Pembangunan/ Provinsi Tersedianya Sarana dan Jumlah pengadaan Pengadaan/ Jawa Prasarana Gedung Kantor.1 2Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kejaksaan RI 1.2. sarana perlengkapan Peningkatan Sarana Barat rumah jabatan untuk dan peralatan dan Prasarana aparatur Kejaksaan di Kejaksaan RI daerah. Kendaraan Operasional roda-4.

Peningkatan Jawa Barat dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan.1 1Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya MPR 1. 1. dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor. Peningkatan dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan.2. ketatausahaan serta pelayanan kesehatan Sekretariat Jenderal 1.2 1001Pengelolaan Administrasi Kab. perencanaan dan evaluasi. Kab.1. Bekasi Terselenggaranya Persentase (%) Pelayanan Persen (%) 0 MPR dan Sekretariat administrasi keanggotaan kesehatan Jenderal dan kepegawaian.UKPPD KEMENTERIAN / LEMBAGA Provi Jawa Barat APBD 2011 2012 Realisasi 2011 Usulan 2013 Pendukung Dana Dana Dana Dana Dana Usulan Target (juta) Target (Juta) Target (Juta) Target (Juta) Target (Juta) Baru No Kode KL/Program/Kegiatan Lokasi Sasaran Indikator Sasaran Satuan 1 1MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT 1.2. Bogor Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 Pengadaan.2.2 2 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur MPR 1. Peningkatan dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan. ketatausahaan serta pelayanan kesehatan Sekretariat Jenderal 1. 1. Bekasi Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 Pengadaan.1 1001Pengelolaan Administrasi Provinsi Terselenggaranya Persentase (%) Pelayanan Persen (%) 0 MPR dan Sekretariat Jawa Barat administrasi keanggotaan kesehatan Jenderal dan kepegawaian.1. Provinsi Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 Pengadaan.FORM F3 . dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor. 0 0 0 2398 100000 00 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 111 0 0 0 0 454545 0 0 0 0 0 0 0 0 41 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .1 1007Pembangunan. perencanaan dan evaluasi.3 1007Pembangunan. dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor.2 1007Pembangunan. Kab.

UKPPD Format F1 42 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .

301.475.77% 3.183.000.628.248.45 1.955.288.243.261.KESEHATAN 895.800.31 2.093.106.05% 7.709.021.00 4.938.00 1.005.969.645.125.00 96.64% 7.489.00 1.000.076.91 2.76% 12.623.565.452.00 2.170.580.00 3.304.403.140.00 62.721.00 39.00 4.979.00 444.843.00 165.656.00 127.114.942.000.000.00 3.827.387.205.491.137.016.349.789.403.917.00 231.482.942.Indonesia TOTAL BELANJA 9.758.00 189.391.415.00 417.00 969.144.00 2.729.65% 6.815.645.833.107.00% 15.008.744.058.00 2.147.653.322.00 938.80 1.429.030.863.561.073.167.031.560.141.100.827.258.358.56% 3.000.931.53% 8.479.380.846.000.736.00 3.990.69% 4.00 3.829.395.154.00 228.192.00 10.156.00 1.656.224.693.00 29.000.100.037.929.217.000.65% 9.778.00 166.61% 4.442.00 11.864.978.429.000.600.500.950.342.315.962.937.031.902.706.09% 2.254.822.742.72% 8.998.64% 15.37% 5.838.00 266.60% 6.587.66 89.311.316.245.838.366.00 330.121.306.556.12% 43 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .553.00 3.057.00 6.00 136.99% 6.019.407.525.000.029.290.493.871.00 973.00 1.150.134.67 2.000.358.674.731.91 2.00 14.00 7.082.000.00 807.083.940.29% 3.976.943.511.000.724.075.00 1.695.502.107.359.296.30% 9.108.00 4.00 196.41% 3.889.20% 8.791.167.97% 6.042.009.20% 8.500.855.000.29% 11.650.15% 8.272.838.918.198.223.00 2.760.945.145.70% 7.235.00 87.051.586.869.00 532.817.122.203.74% 12.032.850.853.50 % 9.00 15.663.ALOKASI BELANJA URUSAN KESEHATAN PROVINSI SELURUH INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2012 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DAERAH Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Provinsi Se.068.217.760.20 1.162.310.24% 5.401.77% 8.293.124.00 486.870.408.557.354.022.00 117.925.00 12.199.00 194.261.00 U.000.00 263.00 7.88 67.713.633.169.474.396.804.570.595.425.00 575.00 149.214.744.992.000.838.450.04% 5.500.065.502.150.00 174.24% 5.249.00 311.951.731.783.92% 6.00 33.76% 9.801.272.019.00 329.625.620.503.191.613.

000.429.00 91.943.00 10.133.41% 2.38% 2.354.019.00 1.126.570.556.18 31.KESEHATAN/BL 746.00 2.90% 2.124.031.ALOKASI BELANJA URUSAN KESEHATAN (diluar gaji) PROVINSI SELURUH INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2012 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DAERAH Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Provinsi Se.021.00 22.553.135.005.998.24% 5.00 209.995.00 359.00 253.829.67% 5.709.00 130.93% 1.917.76% 3.586.482.235.100.550.00 174.783.14% 8.00 31.310.450.12% 11.105.00 3.358.500.222.938.293.00 2.00 13.022.31 2.39% 4.205.213.511.93% 2.063.777.000.000.99% 1.744.065.530.511.154.295.760.261.079.804.249.00 293.415.366.408.85% 2.008.663.489.643.134.223.80 1.00 2.650.822.223.000.000.786.000.374.401.000.235.461.245.800.595.293.845.00 12.00 718.945.69% 5.032.050.247.122.087.00 53.00 421.00 25.00 109.78% 5.656.31% 11.500.296.831.721.000.108.076.073.82% 4.502.63% 6.000.778.00 U.00 71.15% 6.000.075.91% 4.085.00 10.969.537.395.00 102.656.100.000.628.000.350.870.400.095.272.00 4.084.838.29% 0.08% 9.00 2.560.00 109.000.261.827.00 36.706.979.387.207.580.32% 1.207.483.224.481.64% 4.517.00 202.942.000.955.380.653.00 190.000.105.311.422.00 2.639.838.147.45 1.451.00 4.760.031.500.00 7.482.212.145.902.00 969.00 36.359.758.560.114.00 15.557.00 421.937.91 2.942.00 1.17% 2.258.503.256.681.214.00 3.00 4.534.742.065.38% 6.00 3.00 11.483.00 353.380.44% 5.203.429.000.000.170.167.396.613.962.788.000.725.00 3.452.91 2.000.019.121.817.000.100.815.20 1.00 1.042.633.000.929.466.936.801.95% 7.00 62.00 1.761.931.315.000.583.580.760.538.288.191.49% 1.59% 4.419.00 213.00 103.525.651.904.150.874.833.082.248.853.144.00 6.00 33.744.254.990.115.199.644.349.717.00 565.602.502.827.00 938.00 1.100.711.919.20 % 7.000.00 89.00 7.613.239.67 2.61% 2.49% 4.00 41.000.000.385.000.38% 5.Indonesia TOTAL BELANJA 9.358.86% 44 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .950.766.789.

KUMPULAN PAPARAN WORKSHOP KEGIATAN KAJIAN .

dan RKAKL 2011 dan 2012 sebagai arahan ke daerah. agar bisa menjadi acuan bagi provinsi untuk mendukung sasaran pembangunan nasional dan juga bagi KL dalam mengalokasikan resource ke daerah Solusi 2012 • Isu Strategis dibahas dan disepakati di forum Triwulanan I (29 Feb) • Isu Strategis menjadi fokus pembahasan pada rangkaian Musrenbang 2012 Peran LO: Mempelajari dan mengawal isu strategis provinsi No 3 Titik Kritis Arahan Pusat ke daerah masih normatif Evaluasi 2011 Kualitas Isu Strategis Provinsi perlu lebih disempurnakan. Pembahasan DAK belum terlaksana dalam Musrenbang 2011 • Penentuan prioritas bidang DAK • Akan ditentukan lebih lanjut pada Raker II Nomenklatur kegiatan K/L dan daerah belum sama Aplikasi UPPD sudah menggunakan nomenklatur Renja K/L. dan disampaikan oleh MenPPN pada Musrenbangprov. Isu Strategis Provinsi. • Melakukan pemetaan di UPPD jika terjadi perubahan nomenklatur di Renja K/L • Integrasi aplikasi Renja dan UPPD. Nomenklatur UPPD dan Renja K/L belum sepenuhnya sama (terutama akibat adanya Inisiatif Baru) • Tetap mengikuti nomenklatur Renja K/L. yang digunakan juga dalam aplikasi Usulan Pendanaan Pemerintah Daerah (UPPD). 5 Maret 2012 2 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Tujuh Titik Kritis: Evaluasi 2011 dan Solusi 2012 Titik Kritis Solusi 2011 • Tujuan/sasaran nasional sudah dipertajam (segregasi) hingga level provinsi berdasarkan Isu Strategis Provinsi. juga akan dimulai pembahasan perkiraan kebutuhan DAK melalui penentuan prioritas DAK per bidang. Peran LO: 3 Mempelajari UPPD Provinsi 4 1 .d Pasca Musrenbangnas – UKPPD DIREKTORAT TATA RUANG DAN PERTANAHAN Jakarta. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Tujuh Titik Kritis: Evaluasi 2011 dan Solusi 2012 Solusi 2011 • Isu Strategis Provinsi disiapkan oleh Bappenas. disepakati dalam forum Triwulanan. agar bisa menjadi acuan bagi provinsi untuk mendukung sasaran pembangunan nasional dan juga bagi KL dalam mengalokasikan resource ke daerah Solusi 2012 Menggunakan Prioritas Nasional. Peran LO: Memberikan arahan mengenai Isu Strategis Provinsi Tujuan dan sasaran kurang tajam 4 2 Hanya membahas dana Dekon/ TP Selain membahas D/TP. ditanggapi oleh Pemprov. • Menggunakan alokasi D/TP tahun berjalan dan sebelumnya (<2012) sebagai baseline No 1 Evaluasi 2011 Kualitas Isu Strategis Provinsi perlu lebih disempurnakan.06/02/2013 KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS SISTEMATIKA PAPARAN RANCANGAN PENYELENGGARAAN RANGKAIAN MUSRENBANG 2012 DALAM RANGKA PENYUSUNAN RKP 2013 Oleh : MUSRENBANG 2012 o Tujuh titik kritis: Evaluasi 2011 dan Solusi 2012 o Tujuh tahap revitalisasi Musrenbang – Pra Rakorbangpus s. • Program dan kegiatan sudah dipertajam sampai indikator.

Pemprov dan Bappenas) pada Pra Musrenbangnas (satu hari satu wilayah). Melakukan verifikasi pada forum Pasca Musrenbangnas untuk memastikan hasil Musrenbangnas telah diakomodir dalam Renja K/L dan RKP. • SEB • Rancangan Awal RKP 2013 • Catatan rapat untuk ditindaklanjuti dalam penyusunan Renja K/L dan UPPD Keluaran Tindak Lanjut Penyusunan: • Renja K/L oleh K/L • UPPD oleh Pemprov melalui Musrenbangprov Peran LO : Berkoordinasi dengan Bappeda Provinsi yang bersangkutan o Hal baru dalam Musrenbang 2012 – Liasion Officer (LO) – Isu Strategis – UP4B Input • SEB Pagu Indikatif 2013 • Rancangan Awal RKP 2013 o Output Pra Musrenbangnas – Regular (Kesepakatan UKPPD) – Isu Strategis Provinsi ( Kesepakatan 5 Kegiatan Strategis) 7 8 2 . • Kemenkeu menyampaikan kebijakan fiskal dan pelaksanaan anggaran 2013. Per wilayah/ hari MUSREN BANGNAS (26 Apr) 1. Peran direktorat sektoral Bappenas untuk lebih aktif mengawal proses finalisasi Renja KL berdasarkan hasil musrenbangnas. Peran LO: Mengawal hasil musrenbangnas bagi provinsinya 5 PRA-RAKOR BANGPUS (<21 Mar) Menyusun Isu Strategis Provinsi sebagai basis pembahasan sinkronisasi pusat daerah TRIWULANAN I (29 Feb) Menetapkan Isu Strategis FORUM OMS (21-30 Mar) Menjaring aspirasi publik bagi RKP 2013 PRA-MUSREN BANGNAS (16-20. Peran LO: Memastikan usulan kegiatan prioritas daerah sesuai dengan Isu Strategis Provinsi MUSRENBANG PROV KHUSUS P4B PRA MUSRENBANGNAS KHUSUS P4B Untuk masukan penajaman Renja K/L Menghasilkan UPPD RAKOR BANGPUS (21 Mar) RATEK K/L (< 21 Maret) MUSREN BANGPROV (21 Mar-10 Apr) Persandingan UPPD & Renja K/L (10-15 Apr) 6 Waktu pembahasan sinkronisasi program/ kegiatan terbatas Tindak lanjut hasil Musrenbangnas tidak pasti Menggunakan format pembahasan trilateral desks (K/L. Awal RKP 2012 dan SEB pagu indikatif 2013. Dialog PusatDaerah PASCA MUSREN BANGNAS (30 Apr) Pertemuan Bappenas – K/L membahas hasil Musrenbangnas untuk penyempurnaan RKP 2013 Rangkaian Musrenbangnas 6 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Catatan KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Rakorbangpus Mekanisme Sidang Pleno: • Bappenas menyampaikan Ranc. 2. Laporan hasil Pra Musren 2. 25 Apr) 1. Membahas Sinkronisasi Pusat Daerah.06/02/2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Tujuh Titik Kritis: Evaluasi 2011 dan Solusi 2012 Solusi 2011 Menggunakan Isu Strategis Provinsi sebagai kriteria untuk menetapkan program/ kegiatan/ indikator yang dibahas di Pra Musrenbangnas. Arahan presiden 3. Peran LO: • Sebagai penanggungjawab sektor • Mengarahkan mitra daerah 7 Verifikasi oleh Direktorat Sektoral terhadap Renja mitranya belum berjalan. Waktu pembahasan relatif mencukupi Cukup baik. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Tujuh Tahap Revitalisasi (Plus P4B) RAKORBANGPUS KHUSUS P4B Mendiseminsikan Rancangan Awal RKP 2013 dan SEB Pagu Indikatif 2013 Menghasilkan masukan untuk Rancangan Renja K/L No 5 Titik Kritis Belum jelasnya kriteria penetapan prioritas Evaluasi 2011 Isu strategis belum sepenuhnya dijadikan kriteria seleksi Solusi 2012 Penetapan kegiatan prioritas berdasarkan Isu Strategis Provinsi.

kerangka investasi • Prioritas bidang wilayah DAK • program/kegiatan yang potensial dikerja-samakan dengan sektor swasta (KPS/PPP) 10 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Pra Musrenbangnas Input Mekanisme • Trilateral desk (H1-5) antara KL.(1) Input Mekanisme Sidang pleno dan kelompok membahas: Keluaran Tindak Lanjut • Menyampaikan UPPD kepada Bappenas • Penyusunan usulan bidang dana transfer (DAK) 2013. Input Rekapitulasi Kesepakatan Pra Musrenbangnas • Rancangan Awal RKP 2013. • UPPD hasil Musrenbangprov.. dan indikasi anggaran dalam bentuk berita acara.(2) Mekanisme • UPPD (short list-F1) berdasarkan isu strategis provinsi yang akan dibahas dalam Pra-Musrenbangnas Keluaran • UPPD terpilih (short list-F1) yang dipilih berdasarkan isu strategis provinsi untuk dibahas dalam Pra Musrenbangnas. Peran LO: • Sebagai penanggungjawab sektor/bidang • Fasilitasi Provinsi mitra KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Musrenbangnas Mekanisme • Laporan hasil kesepakatan PraMusrenbangnas • Arahan Presiden mengenai pelaksanaan pembangunan 2012 dan rencana 2013 • Paparan para menteri koordinator mengenai strategi pelaksanaan pembangunan menurut bidang kerja masingmasing sektor • Dialog para menteri dan gubernur membahas arahan pelaksanaan dari Presiden Keluaran • Pelaporan hasil kesepakatan mengenai Program. Keluaran Hasil kesepakatan. Bappeda. • Arahan Presiden RI Tindak Lanjut • K/L menyempurnakan Renja K/L untuk diverifikasi pada forum Pasca Musrenbangnas. Peran LO: • Mendampingi Pejabat Eselon I Bappenas ke daerah • Memberikan pendampingan selama Musrenbangprov • Memastikan hasil Musrenbangprov dapat dibawa ke Jakarta 9 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Musrenbangprov. • Isu Strategis Provinsi. 11 12 3 . Kegiatan Strategis dan Pendanaan Pusat dan Daerah. kegiatan dan diusulkan didanai Isu Strategis dan indikator dengan APBN melalui UPPD..06/02/2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Musrenbangprov. • Usulan prioritas bidang DAK. • Membahas daftar pendek UPPD (F1) dan bila memungkinkan dilanjutkan dengan membahas daftar panjang UPPD (F2). • Para pihak menandatangani berita acara kesepakatan/keputusan.. Tindak Lanjut Input • Rancangan awal RKP 2013 • Program/kegiatan prioritas yang akan didanai oleh APBD • Rancangan Isu• program.. program kegiatan. Provinsi mengacu tema dan • Rancangan RKPD prioritas (konsep) • Indikasi Renja KL Provinsi dan Rancangan Awal RKP per provinsi Rancangan Renja 2013 serta • Aplikasi UPPD SKPD yang telah kesesuaiannya disempurnakan • Usulan kegiatan dengan Isu Strategis berdasarkan hasil Kabupaten/Kota Provinsi dan Musrenbangprov. Bappenas: • Membahas persandingan sasaran dan prioritas nasional dengan sasaran dan prioritas daerah. • Membahas prioritas bidang DAK. target. • Rancangan Awal Renja K/L tahun 2013 yang memuat indikasi kegiatan per provinsi. Tindak lanjut Rekapitulasi Berita Acara Kesepakatan dilaporkan kepada Presiden di Musrenbang-nas. lokus.

• F1  Format (Short List). Fakta. K/L harus memberikan penjelasan. kegiatan. • Rancangan Akhir RKP tahun 2013. Tindak lanjut • Bappenas melakukan penyempurnaan Rancangan RKP 2013. Persandingan UKPPD dan Renja KL – Persandingan Prioritas Pembahasan – PRIORITAS WILAYAH (RPJMD/RKPD) Isu strategis. Usulan Kegiatan dan Pendanaan Pemerintah Daerah (UKPPD) 13 14 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Alur UKPPD RENJA K/L 2012 RENJA KL 2013 UKPPD PEMERINTAH PROVINSI KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS MATERI PEMBAHASAN PRA MUSRENBANGNAS INPUT KEMENTERIAN /LEMBAGA I. lokasi dan pendanaan hasil Musrenbangnas . indikator. Renja KL. • Rancangan Renja K/L Tahun 2013 yang telah disempurnakan berdasarkan hasil Musrenbangnas dan arahan presiden. ISU STRATEGIS (5 kegiatan strategis) OUT PUT F1 ShortList Sandingan F2 LongList Sandingan F3 UKPPD F4 RENJA K/L 15 16 4 .06/02/2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Pasca Musrenbangnas Mekanisme Bilateral desk Bappenas-KL • K/L menunjukkan kepada Bappenas bahwa hasil Musrenbangnas telah tercantum dalam Renja K/L. • Menetapkan Rancangan Akhir RKP 2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Input • Rekapitulasi kesepakatan sinergi program. Keluaran • Rancangan Akhir Renja K/L tahun 2013. UKPPD (usulan daerah final). Potensi II. • • • PROSES PRIORITAS NASIONAL (RPJMN/RKP) PERSANDINGAN REKAP UKPPD : F4  Format F3  Format F2  Format (Long List). • Jika ada hasil kesepakatan yang belum dapat diakomodir dalam Renja K/L. • Direktorat teknis Bappenas memastikan Renja K/L sudah mengakomodir hasil musrenbangnas dengan memberikan paraf. • Renja K/L yang final (sudah diparaf) menjadi input untuk penyempurnaan RKP 2013.

UKPPD KEMENTERIAN / LEMBAGA Provi Jawa Barat APBD Pendukung 2011 2012 Realisasi 2011 Usulan 2013 Dana Dana Dana Dana Dana Usulan Kode KL/Program/Kegiatan Lokasi Sasaran Indikator Sasaran Satuan Target (juta) Target (Juta) Target (Juta) Target (Juta) Target (Juta) Baru 1MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT 1Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya MPR 1001Pengelolaan Administrasi Provinsi Terselenggaranya Persentase (%) Pelayanan Persen (%) 0 0 0 0 2398 100000 0 MPR dan Sekretariat Jawa Barat administrasi keanggotaan kesehatan 00 Jenderal dan kepegawaian.2. Bogor Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 0 0 0 454545 0 0 Pengadaan.2. Pelanggaran Disiplin dan Penanganan Perkara Oleh Aparatur Kejaksaan di Daerah. ketatausahaan serta pelayanan kesehatan Sekretariat Jenderal 2 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur MPR 1007Pembangunan. Kendaraan Operasional roda-4.1 1. Peningkatan dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan. Peningkatan dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan. Kejari dan Unsur Kejaksaan Diselesaikan Cabjari dan Jajaran Berdasarkan Peraturan Terhadap Pengawasan di Perundang-Undangan dan Penyalahgunaan Daerah Kebijaksanaan yang Wewenang. Agung.1 1.1. Kab.3 17 18 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS UKPPD Format F2 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS UKPPD Format F1 19 20 5 . perencanaan dan evaluasi. Kab.1 1097Peningkatan Provinsi Terlaksananya Kegiatan Jumlah Laporan Pengawasan Jawa Pengawasan Atas Pengaduan Aparatur Kejaksaan Barat Pelaksanaan Tugas Rutin Masyarakat yang di Daerah Baik di dan Pembangunan Semua Ditindaklanjuti dan Kejati.06/02/2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS UKPPD Format F4 FORM F4 . 1007Pembangunan. TugasDitetapkan Oleh Jaksa Tugas Rutin. kendaraan tahanan serta sarana perlengkapan gedung untuk seluruh satuan kerja baik di pusat maupun di daerah guna mendukung pelaksanaan tugas-tugas penegakan hukum 1.RENCANA KERJA KEMENTERIAN/LEMBAGA TAHUN 2012 BERDASARKAN PERPOGRAM PER KEGIATAN Satuan 2011 2012 Target 2013 2014 2015 Alokasi Dana (Juta) 2011 2012 2013 2014 2015 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS UKPPD Format F3 FORM F3 .2 lapdu 6 9 9 9 9 220 283 283 283 1. dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor. dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor.1 2Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kejaksaan RI 1. sarana perlengkapan Peningkatan Sarana Barat rumah jabatan untuk dan peralatan dan Prasarana aparatur Kejaksaan di Kejaksaan RI daerah.1.2 3Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Kejaksaan RI 1.2 1.1 1.1. dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor. Bekasi Terselenggaranya Persentase (%) Pelayanan Persen (%) 0 0 0 0 0 0 0 MPR dan Sekretariat administrasi keanggotaan kesehatan Jenderal dan kepegawaian.1 1091Pembangunan/ Provinsi Tersedianya Sarana dan Jumlah pengadaan Pengadaan/ Jawa Prasarana Gedung Kantor.2.2 1. unit 10 10 10 10 10 3148 5164 3148 3148 No 1 1. Bekasi Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 0 0 0 0 0 0 Pengadaan.2. ketatausahaan serta pelayanan kesehatan Sekretariat Jenderal 1001Pengelolaan Administrasi Kab. Peningkatan Jawa Barat dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan. Pusat Rumah Sakit Kejaksaan. Provinsi Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 0 0 0 11 111 0 Pengadaan. perencanaan dan evaluasi. Provinsi : Jawa Barat Kementerian/Lemba ga No Kode Lokasi Sasaran Indikator Sasaran 1 6KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA 1. 1007Pembangunan.

06/02/2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Isu Strategis KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS TERIMA KASIH 21 6 .

PP 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 5. melalui urutan pilihan. PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya. maupun peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).d Psl 154 PENGENDALIAN & EVALUASI Psl 155 s. TATA CARA PENYUSUNAN Lampiran II Lampiran III Lampiran IV Lampiran V Lampiran VI TAHAPAN Psl 20 s. guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu.d Psl 133 PEMBANGUNAN DAERAH adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata. kesempatan kerja. Pada Acara : WORKSHOP KAJIAN SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH HOTEL SARI PAN PACIFIC. PP 08/2008 tentang Tahapan. PERMENDAGRI 59/2007 tentang Perubahan atas PERMENDAGRI 13/2006.d Psl 84 Psl 85 s. PERMENDAGRI 13/2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 6.d Psl 98 Psl 99 s. berdaya saing. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah 4. 6 MARET 2012 2 PERENCANAAN DATA DAN INFORMASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DOKUMEN RPJPD (20 th) RPJMD (5 th) RENSTRA SKPD (5 th) RKPD (1 th) RENJA SKPD (1 th) PENETAPAN PERDA PERDA PENGESAHAN KDH PERKADA adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. UU 17/2003 tentang Keuangan Negara 2. PERMENDAGRI 54/2010 tentang Pelaksanaan PP 08/2008 PENGANGGARAN : 1.d Psl 281 1 .Dasar Hukum Perencanaan & Penganggaran PERENCANAAN : 1. Tata Cara Penyusunan.d Psl 49 Psl 50 s. UU 25/2004 tentang Sistem Perencanaan pembangunan nasional 2. UU 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara 3. UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah 4. UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah 3. dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. 3 4 PENGESAHAN KDH Psl 134 s. akses terhadap pengambilan kebijakan. lapangan berusaha. baik dalam aspek pendapatan.

• • •  alat atau instrumen pengendalian bagi satuan pengawas internal (SPI) dan Bappeda. kecamatan dan desa) Berdasarkan prestasi kerja (Performance Budgeting System) Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term Expenditure Framework) Perencanaan Penganggaran terpadu (Unified Budgeting System) Pagu Indikaif & Prakiraan maju (Resource Envelope & Forward Estimate) Mengacu pada SPM. (menggunakan metoda dan kerangka pikir ilmiah) Partisipatif. (penjabaran dari agenda-agenda pembangunan yang ditawarkan KDH terpilih) Teknokratik. provinsi. 8 7 • 2 . pedoman dalam penyusunan KUA dan PPAS. Kegiatan & Penganggaran: • • • • • IPM PROVINSI SE-INDONESIA TAHUN 2009  Fungsi Dokumen Rencana Pembangunan Daerah RPJP Daerah berfungsi sebagai : • • • • •  Road map (peta arah) pembangunan daerah 20 tahun kedepan. Pasal 6 & Pasal 11) TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH Karakteristik lokasi dan Wilayah Potensi Pengembangan Wilayah ASPEK GEOGRAFIS & DEMOGRAFIS Wilayah rawan Bencana Demografi Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan Sosial Seni Budaya dan olahraga Prinsip Perencanaan Pembangunan Daerah:     Satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional Dilakukan bersama pemangku kepentingan sesuai peran dan kewenangan Mengintegrasikan RTRW dgn rencana pembangunan Dilaksanakan berdasarkan kondisi. instrumen bagi mewujudkan pembangunan berkelanjutan dalam jangka 20 tahun. Pedoman penyusunan rencana kerja tahunan (RKPD). (melibatkan semua pemangku kepentingan) Top down & Bottom Up (diselaraskan melalui musyawarah nasional.PRINSIP & PENDEKATAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (Pasal 3. nasional dan global Pendekatan Perencanaan Pembangunan Daerah: • • • • Politik. instrumen mengukur tingkat pencapaian kinerja kepala SKPD pedoman evaluasi penyelenggaraan Pemda sebagaimana amanat PP 6/2008 RKP Daerah berfungsi sebagai : • • instrumen untuk mengoperasionalkan RPJMD. kabupaten/ kota. RPJM Daerah berfungsi sebagai : • • pedoman pembangunan di daerah selama 5 (lima) tahun. pedoman bagi penyusunan RPJMD. instrumen untuk meningkatkan keunggulan utama daerah (core competency). potensi serta dinamika daerah. acuan penyusunan Rencana Kerja SKPD. sesuai dgn kondisi nyata dan kebutuhan masyarakat dan urusan wajib serta urusan pilihan yang menjadi tanggungjawab SKPD. 5 IPM ASPEK PELAYANAN UMUM Pelayanan dasar Pelayanan Penunjang Kemampuan Ekonomi Daerah ASPEK DAYA SAING DAERAH Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Iklim Berinvestasi Sumber Daya Manusia 6 Pendekatan Penyusunan Program. acuan penyusunan visi dan misi calon kepala daerah.

12 Program dan keg Pemb Daerah 1 2 3 . serta Program dan kegiatan 1 2 3 . 12 RPJPD K/K PEDOMAN RPJMD K/K DIJABARKAN PEDOMAN RENSTRA SKPD K/K RKPD K/K PEDOMAN DIACU RAPBD K/K PEDOMAN RENJA SKPD K/K 12 11 3 ..KETERHUBUNGAN ANTARDOKUMEN (RPJPD VS RPJMD) VISI & MISI 20TH ARAH PEMBANGUNAN DAERAH 20 TH SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH 20 TH Arah Pembangunan 5 Tahun I Sasaran Pokok 5 Tahun I Arah Pembangunan 5 Tahun II Sasaran Pokok 5 Tahun II Arah Pembangunan 5 Tahun III Sasaran Pokok 5 Tahun III Arah Pembangunan 5 Tahun IV Sasaran Pokok 5 Tahun IV KETERHUBUNGAN ANTARDOKUMEN (RPJMD VS RKPD) VISI & MISI 5 TH TUJUAN Sasaran Tahun I Penyelenggaraan Urusan Indikator Kinerja Daerah Strategi & Arah Kebijakan & S A S A R A N 5 TH Sasaran Tahun III Strategi & Arah Kebijakan Sasaran Tahun II Strategi & Arah Kebijakan Sasaran Tahun IV Strategi & Arah Kebijakan Sasaran Tahun V Strategi & Arah Kebijakan Program Pembangunan Daerah Program Pembangunan Daerah Program Pembangunan Daerah Program Pembangunan Daerah Program Pembangunan Daerah 9 10 KONSISTENSI DAN SINKRONISASI ANTAR DOKUMEN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah I (5) II (10) III (15) IV 20) SINKRONISASI PERENCANAAN & PENGANGGARAN PUSAT DAN DAERAH DALAM SATU KESATUAN SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL 20 TAHUN PEDOMAN 5 TAHUN 1 TAHUN DIJABARKAN RPJPN RPJMN DIPERHATIKAN RKP DIACU DAN DISERASIKAN PEDOMAN DIACU RAPBN RPJPD DIACU PEDOMAN RENSTRA K/L PEDOMAN Renstra SKPD Kebijakan umum dan program Pemb Daerah Serta Indikasi Rencana Program Prioritas Disertai Kebutuhan Pendanaan I II III IV V Program dan kegiatan dan indikator kinerja SKPD I II III IV V RENJA K/L PEDOMAN RPJPD PROV PEDOMAN RPJMD PROV DIPERHATIKAN DIJABARKAN PEDOMAN RKPD PROV DIACU DAN DISERASIKAN RAPBD PROV RPJMD DIACU PEDOMAN RENJA SKPD PROV DIACU RENSTRA SKPD PROV Renja SKPD RKPD Prirotias dan sasaran..

(3) Pemerintahan Daerah menyusun rencana pencapaian SPM yang memuat target tahunan pencapaian SPM dengan mengacu pada batas waktu pencapaian SPM sesuai dengan Peraturan Menteri. 11. 15/2010 ttg SPM Bidang Pendidikan Dasar. Kebudayaan. terdepan. 3 FOKUS PROGRAM (INPRES 3/2010) 1. 9. 14 SPM 1.501/MKP/2010 tgl 23 Desember 2010 ttg SPM Bidang Kesenian . KUA. 1/2010 ttg SPM Bidang Layanan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan. PERMEN Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia No. 15/MEN/X/2010 tgl 29 Oktober 2010 ttg SPM Bidang Ketenagakerjaan. kreatifitas. 62/2008 ttg SPM Bidang Pemerintahan Dalam Negeri di Kab/Kota. 6. PERMEN Sosial No. 8. 4.140/12/2010 tgl 22 Desember 2010 ttg SPM Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kab/Kota. PERMEN Negara Perumahan Rakyat No. 3. 10. Pendidikan Kesehatan Penanggulangan kemiskinan Ketahanan pangan Infrastruktur Iklim investasi dan iklim usaha Energi Lingkungan hidup dan pengelolaan bencana. 14/PRT/M/2010 tgl 25 Oktober 2010 ttg SPM Bidang Pekerjaan Umum. 129/HUK/2008 ttg SPM (SPM) Bidang Sosial Daerah Provinsi dan Daerah Kab/Kota. 12. 11. Program Pro Rakyat 2. PERMEN Pekerjaan Umum No.41 TAHUN 2011 tanggal 25 Agustus 2011 tentang SPM Bidang Perhubungan 14 Provinsi dan Kab/kota. (5) Target tahunan pencapaian SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dituangkan ke dalam RKPD. PERMEN Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.Kominfo/12/2010 tgl 20 Desember 2010 ttg SPM Bidang Komunikasi dan Informasi. 8. PERMEN Negara Lingkungan Hidup No. Program pencapaian tujuan pembangunan milenium (MDG”s) PROGRAM-PROGRAM 26 URUSAN WAJIB & 8 URUSAN PILIHAN 13 INTEGRASI SPM DALAM RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (Pasal 9 PP 65 Tahun 2005) TAHAPAN PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (1) Pemerintah Daerah menerapkan SPM sesuai dengan ketentuan Peraturan PerundangUndangan. PERMEN Kesehatan No. 5. PERMEN Pertanian No. Reformasi birokrasi dan tata kelola. Renja SKPD. 22/PER/M. 7. PERMENHUB NOMOR PM. RKA-SKPD sesuai klasifikasi belanja daerah dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. PERMEN Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 13. Daerah tertinggal. 22/PERMEN/M/2008 ttg SPM Bidang Bidang Perumahan Rakyat Daerah Provinsi dan Daerah Kab/Kota. 9. 2.SINERGI PROGRAM JANGKA MENENGAH PUSAT DAN DAERAH 11 PRIORITAS NASIONAL (RPJMN) 1. PERMEN Dalam Negeri No. Program keadilan untuk semua 3. dan Inovasi teknologi. Peraturan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional No: 55/Hk-010/B5/2010 ttg ttg SPM Bidang Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera di Kab/Kota. 14. 19/2008 tentang SPM Bidang Lingkungan Hidup Daerah Provinsi dan Daerah Kab/Kota. 1 2 3 4 5 15 • PERSIAPAN PENYUSUNAN • PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL • PELAKSANAAN MUSRENBANG • PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR • PENETAPAN 16 4 . 741/MENKES/PER/VII/2008 tentang SPM Bidang Kesehatan. 7. PERMEN Informasi dan Komunikasi No. KEPMEN Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM 106/HK. (2) SPM yang telah ditetapkan Pemerintah menjadi salah satu acuan bagi pemerintah daerah untuk menyusun perencanaan dan penganggaraan penyelenggaraan pemerintahan daerah. 3. 65/Permenten/OT. terluar dan pascakonflik. 6. 4. 10. (4) Rencana Pencapaian SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dituangkan dalam RPJMD dan Renstra SKPD. 5. 2.

misi dan arah pembangunan daerah dengan mengacu pada RPJP Nasional. .RPJPD (Pasal 20 s..  RPJPD kabupaten/kota memuat visi.....) Arah Kebijakan Lima Tahun ke-4 (..d Pasal 49) SISTEMATIKA DOKUMEN RPJPD (Pasal 40 ayat (1) PP 8/2008) Pendahuluan Gambaran umum kondisi daerah Analisa isu–isu strategis  RPJPD provinsi memuat visi........) 5 Penyelarasan visi. .. .... misi dan arah pembangunan daerah dengan mengacu pada RPJP Nasional dan RPJPD provinsi. ........... misi dan arah kebijakan RPJPD kab/kota Pembahasan dan penetapan Perda RPJPD 19 Indikator Target 5 th Indikator Target 5 th Indikator Target 5 th Indikator Target 5 th 20 5 ...) Arah Kebijakan Lima Tahun ke-3 (......... Visi & misi daerah Arah kebijakan Kaidah pelaksanaan 17 18 TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RPJPD KAB/KOTA (Lampiran II Permendagri No 54/2010) 1 Persiapan Penyusunan RPJPD Pengolahan data dan informasi Penelaahan RPJPN & RPJPD prov & kab/kota lainnya ARAH KEBIJAKAN JANGKA PANJANG DAERAH Rancangan Awal RPJPD 2 VISI DAERAH MISI DAERAH 3 Perumusan visi dan misi daerah Perumusan sasaran pokok dan arah kebijakan Musrenbang RPJPD Penelaahan RTRW kab/kota & RTRW kab/kota Lainnya Analisis isu-isu strategis 4 Rancangan Akhir RPJPD Sasaran Pokok 20 Tahun Analisis Gambaran umum kondisi daerah Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Masukan dari SKPD Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Konsultasi rancangan akhir RPJPD dengan GUBERNUR Arah Kebijakan Lima Tahun ke-1 (.......) Arah Kebijakan Lima Tahun ke-2 (..

........ .... kebijakan umum. serta program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.......C.............................. dst .... 22 Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun I Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun II Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun III Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun IV SISTEMATIKA DOKUMEN RPJMD (Pasal 40 ayat (2) PP 8/2008)  Pendahuluan  Gambaran Umum Kondisi Daerah  Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah & Kerangka Pendanaan  Analisa Isu–isu Strategis  Visi........ .. MISI dan Program KDH Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Rancangan RPJMD Musrenbang RPJMD Rancangan Akhir RPJMD Konsultasi rancangan akhir RPJMD dengan GUBERNUR Hasil evaluasi capaian RPJMD Penelaahan RTRW Kab/kota & RTRW daerah lainnya Penelaahan RPJMN.................... .. Dst ... Misi dst …… dst ............ Misi........ .........  RPJMD memuat arah kebijakan keuangan daerah......d Pasal 84)  RPJMD untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran dari visi......... Indikator dan Target ...... Sasaran Pokok 20 Tahun VISI MISI Uraian Sasaran Pokok 1 . .......................... ...............................SASARAN POKOK DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN RPJPD KABUPATEN/KOTA (Tabel T-II......... Dst ........................... Dst ............................. RPJMD Provinsi dan kab/kota lainnya Perumusan Penjelasan visi dan misi serta Tujuan dan Sasaran 3 4 Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Analisis Gambaran umum kondisi daerah & pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Analisis isu-isu strategis Pembahasan dengan DPRD Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Penyelarasan program prioritas dan pendanaan 5 Pembahasan dan penetapan Perda RPJMD 24 6 .. Visi dst..... misi. strategi pembangunan daerah............49 Lampiran II Permendagri No 54/2010) RPJMD (Pasal 50 s..... Sasaran Pokok 2 . program SKPD dan lintas SKPD........... .......... dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional. Misi 1…… Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun I Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun II Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun III Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun IV 21 Misi 2…… Misi dst …… dst ............. Arah Kebijakan Pembangunan (20 Tahun) (KAIDAH PELAKSANAAN) Visi 1.... ........ Tujuan & Sasaran  Strategi & Arah Kebijakan  Kebijakan Umum & Program Pembangunan Daerah  Indikasi Program Prioritas & Pendanaan  Penetapan Indikator Kinerja Daerah  Kaidah Pelaksanan 23 TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RPJMD KABUPATEN/KOTA (Lampiran III Permendagri No 54/2010) Persiapan Penyusunan RPJMD 1 2 Rancangan Awal RPJMD Penelaahan RPJPD Kab/Kota Perumusan Strategi dan arah kebijakan Pengolahan data dan informasi Penyusunan Rancangan Renstra SKPD VISI.....

.. 02 Dst .. dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD. 01 03 Dst .d Pasal 98) SISTEMATIKA DOKUMEN RENSTRA-SKPD (Pasal 40 ayat (4) PP 8/2008)  Renstra-SKPD memuat visi. Strategi dan Kebijakan  Rencana Program & Kegiatan..C. kebijakan... Indikator Kinerja..90 Lampiran III Permendagri No 54/2010) INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN RPJMD KABUPATEN/KOTA (Tabel T-III. Misi..... strategi.. Urusan Pilihan 01 Pertanian 01 01 Program......... 01 02 Dst ....  Penyusunan Renstra-SKPD berpedoman RPJMD dan bersifat indikatif..C. 2 2 2 2 2 25 26 RENSTRA SKPD (Pasal 85 s...91 Lampiran III Permendagri No 54/2010) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Kondisi Kinerja pada Awal RPJMD (Tahun 0) Kondisi Kinerja SKPD pada akhir periode RPJMD Penan No (1) Sasaran (2) Strategi dan Arah Kebijakan (3) Indikator Kinerja (outcome) (4) Capaian Kinerja Kondisi Awal (5) Kondisi Akhir (6) Program Pembangunan Daerah (7) Bidang Urusan (8) SKPD Penanggung Jawab (9) 1 1 1 1 1 Kode Indikator Kinerja Program (outcome) Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 ggung Jawab Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp 01 Kesehatan 01 01 Program .. Tujuan & Sasaran. pada  Pendahuluan  Gambaran Pelayanan SKPD  Isu–isu Strategis Tugas dan Fungsi SKPD  Visi... misi... 01 02 Program.... tujuan..... program.KEBIJAKAN UMUM & PROGRAM PEMBANGUNAN RPJMD KABUPATEN/KOTA (Tabel T-III. Keluaran Sasaran & Pedanaan Indikatif  Indikator Kinerja SKPD mengacu ke RPJMD 27 28 7 ..

... Program ...C......... Dst ........ Tujuan Sasaran 1 2 target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp 2 Perumusan sasaran Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD Rancangan RENSTRA-SKPD (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) Rancangan akhir RENSTRA-SKPD Tdk sesuai Tujuan Sasaran 1 1 SPM Perumusan Strategi dan Kebijakan Forum SKPD Kab/Kota VERIFIKASI Program .. LOKASI & PENDANAAN INDIKATIF RENSTRA SKPD KABUPATEN/KOTA (Tabel T-IV.....28 Lampiran IV Permendagri No 54/2010) 3 Indikator Data Kinerja Capaian Program pada (outcome) Tahun dan Awal Kegiatan Perenca (output) naan Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kondisi Kinerja pada akhir periode Unit Kerja Renstra SKPD Lokasi SKPD Penanggu ngjawab Renstra-KL & Renstra SKPD Provinsi Penelaahan RTRW & KLHS Tdk sesuai VERIFIKASI sesuai Rancangan Akhir RPJMD Tujuan Sasaran Indikator Sasaran 2011 2012 2013 2014 2014 Kode Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tupoksi Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Tujuan Perumusan rencana program......... kelompok sasaran dan pendanaan indikatif Program dan Kegiatan Penyesuaian Rancangan Renstra-SKPD Perda RPJMD Penyempurnaan Rancangan Renstra-SKPD (1) (2) (3) (4) (5) Program ... rencana kerja dan pendanaannya serta prakiraan maju dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif........... INDIKATOR KINERJA...........d Pasal 133) Kesepakatan KUA/PPAS Penetapan Renja SKPD Pengajuan RAPBD Penetapan APBD RKA-SKPD RKPD memuat rancangan kerangka ekonomi daerah.. Jan Feb Mrt Apr Musrenbang RKP NAS Musrenbang RRKPD PROV Musrenbang RRKPD K/K Forum SKPD K/K Musrenbang Kecamatan Musrenbang Desa/kel 31 32 Forum SKPD PROV Rancangan Interim RKP (PP 40/2006) Mei Jun Juli Agt Sept Okt Nov Des program prioritas pembangunan daerah...........BAGAN ALIR TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RENSTRA SKPD KABUPATEN/KOTA (Lampiran IV Permendagri No 54/2010) Persiapan Penyusunan Rentra-SKPD 1 PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD Rancangan RPJMD Musrenbang RPJMD RENCANA PROGRAM...... baik yang bersumber dari APBD maupun sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat...... kegiatan. 4 sesuai Pengolahan data dan informasi Penetapan Renstra SKPD RENSTRA-SKPD 29 30 KERANGKA WAKTU & SIKLUS PERENCANAAN & PENGANGGARAN TAHUNAN RKP (PP 20/2004) Rancangan Awal RKPD P/K/K Rancangan Renja SKPD Penetapan RKPD P/K/K/Desa EVALUASI RAPERDA APBD Rencana Kerja Pembangunan Daerah (Pasal 99 s. Kegiatan.............. Kegiatan....... indikator kinerja........ 8 . Kegiatan......... KEGIATAN...

kemendesakan. Inventarisasi jenis program/kegiatan yang diusulkan DPRD dalam dokumen rumusan hasil penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD tahun lalu dan dikelompokkan kedalam urusan SKPD. Kaji pandangan dan pertimbangan yang disampaikan berkaitan dengan usulan program/kegiatan hasil penelaahan. efisiensi dan efektivitas. Rumuskan usulan program dan kegiatan yang dapat diakomodasikan dalam rancangan awal RKPD 35 36 9 . 2. 4. 5.SISTEMATIKA DOKUMEN RKPD (Pasal 40 ayat (3) PP 8/2008) TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RKPD KAB/KOTA (Lampiran V Permendagri No 54/2010) Persiapan Penyusunan RKPD 1 SE Penyusunan Renja-SKPD Berita Acara Musrenbang kecamatan Pokok-pokok pikiran DPRD Kab/Kota      Pendahuluan Evaluasi Pelaksanaan RKPD Tahun Lalu Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah Beserta Kerangka Pendanaan Prioritas dan Sasaran Pembangunan Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah Pengolahan data dan informasi Review RPJMD Telaahan kebijakan nasional (RKP) & provinsi (RKPD PROV) 2 Rancangan Awal RKPD Penyusunan Rancangan Renja SKPD kab/kota Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah VERIFIKASI Bappeda Analisis Ekonomi & keuda Evaluasi Kinerja RKPD Tahun Lalu Rancangan RKPD Perumusan program prioritas daerah beserta pagu indikatif Perumusan prioritas dan sasaran pembangunan Perumusan Kerangka Ekonomi & Kebijakan Keuda Musrenbang RKPD kab/kota 3 Penetapan PERBUP/PERWAL ttg RKPD 5 Dok RKPD kab/kota tahun berjalan 4 Forum Konsultasi Publik Penyelarasan Rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif Rancangan Akhir RKPD PENYUSUNAN KUA & PPAS 34 33 PERAN DAN FUNGSI DPRD DALAM PENYUSUNAN RKPD Penelaahan Pokok-Pokok Pikiran DPRD PERDA APBD Kesepakatan KDH dgn DPRD IndikasI rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan RPJMD (5 Thn) Fungsi Legislasi. Budget & Pengawasan Hasil Jaring Asmara/ Kunker/ Reses Dapil/ Pokok-pokok pikiran DPRD Kab/Kota Musrenbang RKPD kab/kota KESEPAKATAN KUA & PPAS PERDA RPJMD Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah RANCANGAN AWAL RKPD Rancangan RKPD RANCANGAN AKHIR RKPD RKPD Analisis Ekonomi & keuda Evaluasi Kinerja RKPD Tahun Lalu Penyusunan Rancangan Renja SKPD kab/kota 1. Lakukan pengecekan dan validasi oleh tim penyusun RKPD yang berasal dari SKPD terkait terhadap kebutuhan riil di lapangan dengan mempertimbangkan asas manfaat. Indikator kinerja yang diusulkan serta lokasi yang diusulkan. 3.

... akhir RKPD Pendahuluan Per KDH RKPD kab/kota Evaluasi Pelaksanaan Renja Tahun Lalu Tujuan. dana indikatif Penetapan Renja-SKPD oleh Kepala SKPD pelaksanaan Renja- hasil evaluasi SKPD kab/kota tahun lalu Penyempurnaan Rancangan Renja SKPD kab/kota Pembahasan Renja SKPD pada Forum SKPD Kabupaten/Kota RENJA-SKPD Kab/Kota 3 Usulan program & kegiatan dari masyarakat Musrenbang Kecamatan Musrenbang Desa 40 10 ...... Catatan Penting Target Capaian Kinerja Kebutuhan Dana/ Pagu indikatif (Rp) Rencana Kerja SKPD Renja-SKPD merupakan dokumen perencanaan SKPD untuk periode (1) satu tahun Kegiatan 37 38 SISTEMATIKA DOKUMEN RENJA-SKPD (Pasal 40 ayat (5) PP 8/2008) Persiapan Penyusunan Renja SKPD TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RENJA SKPD KABUPATEN/KOTA (Lampiran VI Permendagri No 54/2010) 1 SE KDH perihal penyampaian rancangan awal RKPD sebagai bahan penyusunan rancangan Renja-SKPD kab/kota Sinkronisasi Kebijakan Nasional dan Provinsi Telaahan Rancangan Awal RKPD kab/kota Perumusan Ranc. indikator kinerja...67 Lampiran V Permendagri No 54/2010) Rencana Tahun .RENCANA PROGRAM & KEGIATAN SERTA PRAKIRAAN MAJU RKPD KAB/KOTA (Tabel T-V......... (tahun rencana) Target Capaian Lokasi Kinerja Kebutuhan Dana/ Pagu indikatif (Rp) Kode Urusan/Bidang Urusan Kinerja Pemerintahan Daerah & Program/ Program/Kegiatan Indikator Prakiraan Maju Rencana Tahun ..C. Sasaran Program & Kegiatan indikator kinerja & kelompok sasaran yang menggambarkan Pencapaian Renstra SKPD Dana indikatif beserta sumbernya & prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif Sumber dana Penutup 39 Pengolahan data dan informasi hasil evaluasi capaian Renstra SKPD kab/kota 2 Rancangan Renja-SKPD kab/kota Musrenbang RKPD Penyusunan Rancangan RKPD Penyesuaian Rancangan Renja SKPD kab/kota Penyesuaian Rancangan Renja SKPD kab/kota Pengesahan Renja-SKPD oleh KDH Analisis Gambaran Pelayanan SKPD Isu-isu penting penyelenggara an tugas dan fungsi SKPD Perumusan Tujuan 4 Perumusan Sasaran Perumusan program dan kegiatan.

.. Pasal 18 ayat (3) Pemerintah Daerah bersama DPRD membahas PPAS UU 17/2003 untuk dijadikan acuan bagi setiap SKPD. Catatan Penting Target Capaian Kinerja Kebutuhan Dana/ Pagu Indikatif Kode Urusan/Bidang Urusan Kinerja Pemerintahan Daerah & Program/ Program/Kegiatan Indikator Rencana Tahun ... Pasal 18 ayat (1) UU 17/2003 Pemerintah Daerah menyampaikan KUA tahun anggaran berikutnya sejalan dengan RKPD.. (tahun rencana) Kebutuhan Dana/ Pagu Indikatif Kegiatan Lokasi Target Capaian Kinerja PENGENDALIAN DAN EVALUASI 41 42 DASAR HUKUM SINKRONISASI RKPD-KUA .. sebagai landasan penyusunan RAPBD kepada DPRD selambat-lambatnya pertengahan Juni tahun berjalan. 43 RKPD KUA PPAS RAPBD LPKD & LKPJ RENJA SKPD RKA-SKPD DPA-SKPD LAKIP 44 11 ..10 Lampiran VI Permendagri No 54/2010) Prakiraan Maju Rencana Tahun ..C..PPAS & RAPBD Pasal 17 ayat (2) Penyusunan RAPBD berpedoman pada RKPD dalam UU 17/2003 rangka mewujudkan tercapainya tujuan bernegara..RENCANA PROGRAM & KEGIATAN SERTA PRAKIRAAN MAJU RENJA SKPD KAB/KOTA (Tabel T-VI...... UU 25/2004 Pasal 16 PP 58/2005 Penyusunan APBD berpedoman pada RKPD dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat untuk tercapainya tujuan bernegara.. TUJUAN SINKRONISASI RKPD-KUA-PPAS & RAPBD (UTK MENCAPAI TUJUAN BERNEGARA) TUJUAN BERNEGARA (UUD 1945) KEWENANGAN PEMERINTAHAN DAERAH RPJMD DPRD EPPD Berdasarkan KUA yang telah disepakati dengan DPRD. Pasal 25 ayat (2) RKPD menjadi pedoman penyusunan RAPBD...

Pagu indikif. serta SKPD penanggungjawab. Kebutuhan Dana/Pagu Indikatif dan Prakiraan Maju Lampiran RAPERKADA ttg Penjabaran APBD Memuat : Judul Program dan Kegiatan. Waktu Pelaksanaan. RPJMD. RPJMD dan RKPD oleh Gubernur KUA & PPAS (Kesepakatan KDH dgn DPRD) GUBERNUR (BAPPEDA PROVINSI) Gub melaporkan kpd MDN (RPJPD. masukan dan keluaran serta hasil kegiatan. hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa proses perumusan. Target Kinerja atas capaian program.EVALUASI KONSISTENSI/SINKRONISASI RKPD. RPJMD. RPJMD. 48 laporan ikhtisar realisasi kinerja dan laporan keuangan BUMD/perusahaan daerah. Prakiraan Maju (Target Capaian & Pagu Indikatif TA Berikutnya). DPASKPD Penatausahaan/ Akuntansi Keuda LAPORAN REALISASI ANGGARAN NERACA LAPORAN ARUS KAS catatan atas laporan keuangan RKPD KUA PPAS PERDA APBD PRKPD PKUA PPPAS PERDA PAPBD DPPA SKPD RPJPD dan RPJMD perubahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. terjadi perubahan yang mendasar. hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa substansi yang dirumuskan. PJMD. tidak sesuai dengan Peraturan Menteri ini. Keluaran Kegiatan. RPJMD Evaluasi Hasil Rencana Pembangunan Daerah c. Lokasi. 47 12 .d Pasal 281) PELAKSANA MENDAGRI (DITJEN BINA BANGDA) FOKUS RPJPD. 45 BUPATI/ WALIKOTA (BAPPEDA KAB/KOTA) KEPALA SKPD KAB/KOTA Bup/Walikota melaporkan kpd Gub (RPJPD. Sumber dana. TUGAS DAN FUNGSI PENGENDALIAN DAN EVALUASI PEMBANGUNAN DAERAH (Pasal 155 s. Lokasi. Tolok ukur kinerja. Indikator Kinerja (Hasil Program. tidak sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan rencana pembangunan daerah yang diatur dalam Peraturan Menteri ini. Kegiatan Lokasi. RKPD & RENJA SKPD • Perbaikan dan penyempurnaan RPJPD. RENSTRA dan rekomendasi kpd Bupati/Walikota : SKPD. Memuat : Program. KUA. penetapan perubahan RPJPD dan RPJMD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. RPJMD & RKPD) RPJPD. Target Capaian Kinerja. dan/atau d. Hasil Kegiatan).d Pasal 284) Perubahan RPJPD dan RPJMD hanya dapat dilakukan apabila: RPJPD Pengendalian Prumusan Kebijakan perencanaan Pembangunan Daerah Pengendalian Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Review Laporan Triwulan Laporan Smesteran a. RPJMD & RKPD) RPJPD. RPJMD dan RKPD oleh Bupati/Walikota • Laporan triwulan capaian Renja SKPD kpd Bappeda Prov • Menindaklanjuti rekomendasi Gub atas pelaksanaan Renja SKPD Lampiran RAPERDA ttg APBD KEPALA SKPD RENSTRA SKPD & RENJA SKPD PROV PROV RENJA SKPD : DAFTAR PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS SKPD PROV/KABUPATEN/KOTA. PPAS DAN RAPBD RKPD : DAFTAR RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH PROV/KAB/KOTA. RENSTRA dan rekomendasi kpd Gubernur : SKPD. merugikan kepentingan nasional.RKPD KAB/KOTA Melaporkan kpd Gubernur dan rekomendasi perbaikan / penyempurnaan RPJPD. Dalam hal pelaksanaan RPJPD dan RPJMD terjadi perubahan capaian sasaran tahunan tetapi tidak mengubah target pencapaian sasaran akhir pembangunan jangka panjang dan menengah. RPJMD & RKPD kab/kota • Perbaikan dan penyempurnaan Renstra SKPD& Renja SKPD KAB/KOTA • Tindak lanjut pelaksanaan Renja SKPD • Laporan triwulan capaian Renja SKPD kpd Bappeda kab/kota RENSTRA SKPD & RENJA • Menindaklanjuti rekomendasi Bup/Walikota atas pelaksanaan Renja SKPD KAB/ KOTA SKPD 46 KERANGKA PENGENDALIAN DAN EVALUASI SINKRONISASI KEBIJAKAN PERENCANAAN. RKPD & RENJA SKPD • Perbaikan dan penyempurnaan RPJPD. Memuat : Indikator Kinerja Program dan Kegiatan.RKPD PROV HASIL DAN TINDAK LANJUT Melaporkan kpd MDN dan rekomendasi perbaikan/ penyempurnaan RPJPD. b. RPJMD & RKPD prov • Perbaikan dan penyempurnaan Renstra SKPD& Renja SKPD PROV • Tindak lanjut pelaksanaan Renja SKPD RPJPD. PENGANGGARAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN DAERAH PERUBAHAN RPJPD dan RPJMD (Pasal 282 s. Indikator capaian.

REKOMENDASI 1. keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun anggaran sebelumnya harus digunakan untuk tahun berjalan. meliputi : a. Bidang kesehatan dan gizi masyarakat merupakan bidang prioritas dalam pembangunan nasional dan daerah. prioritas dan sasaran pembangunan. keadaan darurat dan keadaan luar biasa sebagaimana ditetapkan dalam perturan perundang-undangan. b. 49 50 51 13 .PERUBAHAN RKPD (Pasal 285 s. • Perubahan RKPD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.d Pasal 286) RKPD dapat diubah dalam hal tidak sesuai dengan perkembangan keadaan dalam tahun berjalan. Untuk menjamin dukungan pendanaan APBD sesuai dengan prioritas kemampuan keuangan daerah. 2. RPJMD dan RKPD) untuk menjamin tersedianya alokasi anggaran yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. urgensi dan program yang mendukung percepatan pembangunan bidang kesehatan dan gizi masyarakat harus disosialisasikan kepada DPRD. sehingga harus senantiasa terakomodasi dalam setiap dokumen rencana pembangunan daerah (RPJPD. Upaya untuk mewujudkan sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan antar pusat dan daerah harus ditempuh dengan menyelaraskan pendekatan dan jadwal waktu penyusunan perencanaan dan penganggaran antara kementerian terkait dan pemerintah daerah sesuai regulasi. 3. dan/atau c. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kerangka ekonomi daerah dan kerangka pendanaan. rencana program dan kegiatan prioritas daerah.

 Pasal 26 ayat (1) PP Nomor 58 Tahun 2005 Jo. HAMDANI.Si. ALO K ASI B E LAN JA D IT E N T U K AN  KEBIJAKAN PENGANGGARAN  TEKNIS PENGANGGARAN  Pasal 22 ayat (2) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Struktur APBD diklasifikasikan menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan urusan pemerintahan tersebut. 3 4 1 . penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup dan penganggaran untuk setiap pengeluaran APBD harus didukung dengan dasar hukum yang melandasinya.SKEDUL PERENCANAAN & PENGANGGARAN Pembahasan & Kesepakatan KUA antara KDH dgn DPRD (Juni) Penetapan RKPD (Mei) 5 6 7 Pembahasan dan Kesepakatan PPAS antara KDH dgn DPRD (Juni) PETA HASIL EVALUASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH Drs. MM. urusan pilihan dan urusan concurrent. Ak Direktur Anggaran Daerah DIREKTORAT JENDERAL KEUANGAN DAERAH Disampaikan dalam Acara Workshop Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan Antara Pusat dan Daerah Musrenbang Kab/Kota (Maret) Forum SKPD Penyusunan Renja SKPD Kab/Kota (Maret) Musrenbang Kecamatan (Februari) 4 8 Penyusunan RKA-SKPD & RAPBD (Juli-September) Pembahasan dan persetujuan Rancangan APBD dgn DPRD (Oktober-November) Evaluasi Rancangan Perda APBD (Desember) 3 9 2 10 Musrenbang Desa (Januari) 1 12 11 Penetapan Perda APBD (Desember) KEMENTERIAN DALAM NEGERI 2012 Pelaksanaan APBD 13 Januari thn berikutnya 1 Penyusunan DPA SKPD (Desember) 2 BELANJA DAERAH  Pasal 18 PP Nomor 58 Tahun 2005 Dalam menyusun APBD. M. Pasal 31 ayat (1) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kab/kota yang terdiri dari urusan wajib.

Tambahan Penghasilan Guru Pns. Sertifikasi Guru) BELANJA YANG BERSIFAT MENGIKAT/WAJIB :     BELANJA PEGAWAI BELANJA BUNGA KEGIATAN DPA .LAIN Dikaitkan dengan urusan yang menjadi kewenangan daerah (provinsi atau kab/kota) sesuai tugas dan fungsi SKPD 7    .L DUKUNGAN PROGRAM PRIORITAS NASIONAL      BELANJA YG DIARAHKAN (EARMARK) BELANJA YANG BERSIFAT MENGIKAT/WAJIB BELANJA YG DITENTUKAN PROSENTASENYA SESUAI AMANAT PER UU BELANJA PEMENUHAN URUSAN SESUAI SPM BELANJA LAIN-LAIN       BANTUAN KEUANGAN YG BERSIFAT KHUSUS 6 5 BELANJA YG DITENTUKAN PROSENTASENYA SESUAI AMANAT PER UU :   BELANJA FUNGSI PENDIDIKAN 20% DARI TOTAL BELANJA BELANJA URUSAN KESEHATAN 10% (DARI TOTAL BELANJA DILUAR GAJI) DBH PAJAK KEPADA KAB/KOTA BANTUAN PARPOL INSENTIF PEMUNGUTAN PAJAK BELANJA MODAL  BELANJA HIBAH BELANJA BANTUAN SOSIAL BELANJA BANTUAN KEUANGAN BELANJA TIDAK TERDUGA BELANJA SUBSIDI     BELANJA LAIN .DR DBH CUKAI TEMBAKAU DANA OTSUS (Untuk Program) DANA BOS DANA INSENTIF DAERAH (DID) DANA PENYESUAIAN (Tunj.   BELANJA PEMENUHAN URUSAN SESUAI SPM : 26 URUSAN WAJIB 8 URUSAN PILIHAN   7 8 2 . Fungsional.KEBIJAKAN PENGANGGARAN MELIPUTI :   BELANJA YG DIARAHKAN (EARMARK) DAK DBH .

PROSES EVALUASI PERDA APBD PROVINSI & PERATURAN GUBERNUR TTG PENJABARAN APBD Membuat RAPERGUB Sebesar Pagu APBD Tahun Lalu (15 hari) PROSES EVALUASI PERDA APBD KAB/KOT & PERATURAN BUP/WAL TTG PENJABARAN APBD Membuat RAPERBUP/WAL Sebesar Pagu APBD Tahun Lalu (15 hari) RAPERDA APBD Tidak Setuju Pengesahan MDN (30 Hari) GUBERNUR menetapkan PER-GUB RAPERDA APBD Tidak Setuju Pengesahan Gubernur (30 Hari) Bupati/Walikota menetapkan PER-BUP/WAL DPRD Dibahas bersama DPRD & Pemda Pemberitahuan Penyempurnaan Penyempurnaan (7 Hari) Setuju Melewati Batas WKT Evaluasi GUBERNUR menetapkan PERDA & PER-GUB DPRD Dibahas bersama DPRD & Pemda Pemberitahuan Penyempurnaan Penyempurnaan (7 Hari) Tdk Sesuai Dgn UU Tdk Disempurnakan Tdk Sesuai Dgn UU Tdk Disempurnakan Setuju Melewati Batas waktu Evaluasi Bupati/Walikota menetapkan PERDA & PER-BUP/WAL RAPERGUB PENJABARAN APBD Penyampaian RAPERDA APBD & RAPERGUB APBD (3 hari) MDN (15 hari) Hasil Evaluasi RAPERBUP/WAL PENJABARAN APBD MDN membatalkan Berlaku Pagu APBD Sebelumnya Penyampaian RAPERDA APBD & RAPERBUP/WAL APBD (3 hari) GUBERNUR (15 hari) Hasil Evaluasi GUB membatalkan Berlaku Pagu APBD Sebelumnya Sesuai dgn UU 9 Sesuai dgn UU Laporan kpd MDN 10 Jumlah Provinsi Yang Menetapkan Perda APBD Tepat Waktu (2008-2012) Dalam Trilliun Rupiah 35 30 28 21 15 30 25 20 15 10 10 5 0 2008 2009 2010 2011 2012 *) Catatan: TA 2012 Belum termasuk Provinsi Aceh dan Papua 11 12 3 .

840 768.08 3.361 11.707 5.424.54% Catatan: 1.27% PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA PEGAWAI TERTINGGI PROVINSI DKI Jakarta Jawa Barat TOTAL BELANJA 30.28% 36.09 1.43 29.41 3.58% 14.385.22 3.87% 8.58 1.010 2012 146.24 Jawa Timur 2011 146.297 BELANJA PEGAWAI NOMINAL 10.00 50.627 76.783 11.470.70% 78.001 8.341 2.2 5.650.92% 5.30 23.827.30 3.30 31.075 PAD NOMINAL 9.07 51.30 4.008 893.42 33.941 1.902.369.60 21.20% 38.42 26.615.175 80.69 24.245 7.117.67% 11.567 BELANJA PEGAWAI NOMINAL 160.13% Maluku Utara Sulawesi Barat Gorontalo 13 14 Struktur Belanja APBD Provinsi 5 Tahun Terakhir (2008-2012) (dalam juta rupiah) (dalam trilyun rupiah) Tahun Total Belanja Daerah Belanja Pegawai % Hibah*) % Bansos % Belanja Barang & Jasa % Belanja Modal 2011 % 2012 PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA PEGAWAI TERTINGGI PROVINSI DKI Jakarta Jawa Timur Jawa Barat TOTAL BELANJA 33.827 203.886 12.162.973 PROSENTASE PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA PEGAWAI TERENDAH PROVINSI Sulawesi Barat Kepulauan Riau Maluku Utara TOTAL BELANJA 969.4 3.70% 14.18 27.007 730.07 35.523.57 5.83 26.56% 9.648 134.2020 PROSENTASE 8.41% Jawa Timur Jawa Barat Jawa Tengah 9.59 27.89% 14.397.791 BELANJA PEGAWAI NOMINAL 9.907.23% Jawa Timur Jawa Barat Banten PROVINSI YANG MEMILIKI PORSI PAD TERENDAH PROVINSI TOTAL PENDAPATAN PAD NOMINAL PROSENTASE PROVINSI YANG MEMILIKI PORSI PAD TERENDAH PROVINSI TOTAL PENDAPATAN 1.147 724.7 3.43 3.81% 26.346 BELANJA PEGAWAI NOMINAL 108.553 PROSENTASE 78.94% 2010 113.981.27% 11.182.73 24.160 8.49 23.35 9.008 2.242.673.922.053.07 136.12 26. DANA PERIMBANGAN DAN LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH PROVINSI YANG MEMILIKI PORSI PAD TERTINGGI TOTAL PENDAPATAN 11.214.43 18.316.2011 PROVINSI YANG MEMILIKI PORSI PAD TERTINGGI PROVINSI TOTAL PENDAPATAN PAD NOMINAL PROSENTASE PROVINSI 2012 (dalam juta rupiah) PORSI PAD.400 4.80 24. Diolah dari Data APBD Ditjen Keuangan Daerah 2.474 205.85% Papua Barat Papua Maluku Utara 3.11 23.68 22.91% 2011 PROPORSI URAIAN 2012 PROPORSI URAIAN NOMINAL % NOMINAL % PAD DANA PERIMBANGAN LAIN-LAIN PENDPTAN YG SAH TOTAL 66.9640 PAD NOMINAL 93.92 13.872.91 PROSENTASE 16.61% 76.305.624 98.665 1.18% 15.80 3.87% 74.678 2.043 6.88 130.97% 71.962 304.560.494 3.41% 18.188.29 30.173.34 54.38% 14.68 2009 105.614.418 1.55 21.27 12.18 25.567 952.57 6.068.55 2.59 49.031 12.13 29.72 20.801 184.90 24.063 PROSENTASE 29.313.984 142.95 23.02% 23.911 1.13% 10.84 26.72% 13.07 PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA PEGAWAI TERENDAH PROVINSI Sulawesi Barat TOTAL BELANJA 776.00 4.95 33.60 13.838 216.00 3.016 10.79 26.200 PROSENTASE 2008 96.19 25.710 5.00 26.67% PAD DANA PERIMBANGAN LAIN-LAIN PENDPTAN YG SAH TOTAL 74.25 22. Data Tahun 2012 dengan jumlah 31 Provinsi *) Hibah dalam bentuk uang dan untuk Tahun 2012 belum termasuk Hibah Bos kepada satuan pendidikan dasar Maluku Utara Gorontalo 15 16 4 .556 1.45 3.

556.00 29.731.23 2.610.162.403.645.88 67.00 231.258.358.744.65% 9.838.500.827.855.156. Diolah dari Data APBD Ditjen Keuangan Daerah 2.713.000.822.500.962.425.452.170.00 3.945.55 1.817.918.429.00 39.00 149.553.008.789.214.70% 7.261.80 23.322.019.000.401.311.833.261.203.00 266.969.KESEHATAN 895.54 PROSENTASE 33.41% 3.00 166.00 807.00 1.955.00 160.525.019.613.96 1.31 2.00 1.000.316.442.990.00 7.827.391.00 117.26 1.24% 5.198.951.00 2.889.05% 7.169.199.Indonesia TOTAL BELANJA 9.00 33.000.645.801.450.40% Gorontalo Maluku Nusa Tenggara Timur 183.64% 15.35% 2011 25.760.00 14.00 969.107.80 1.296.20 1.124.00 87.482.871.00 311.00 11.00 194.429.47 Gorontalo DI Yogyakarta Sulawesi Tengah 19.051.580.489.005.03 10.000.00 174.107.408.29% 3.031.595.00 973.141.45 1.00 417.64% 7.931.125.000.00 4.042.628.56% 3.00 10.565.74% 12.78 219.000.758.922.976.53 PROSENTASE 14.009.853.167.76% 12.00% 15.838.00 486.502.724.349.00 96.272.56% DKI Jakarta Kalimantan Timur Aceh 31.663.082.53% 8.408.031.380.00 U.293.66 89.144.77% 3.736.075.41 1.415.721.366.00 62.00 3.77% 8.00 532.760.016.07% 25.586.91 2.70% DKI Jakarta Kalimantan Timur Riau 20.943.223.00 4.68 BELANJA MODAL NOMINAL 148.10 1.00 3.245.022.00 165.00 196.00 938.057.31 PROSENTASE PROVINSI 2012 PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA MODAL TERTINGGI TOTAL BELANJA 33.140.36 9.41 216.00 1.843.272.00 136.235.22 7.076.00 329.500.367.778.19% PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA MODAL TERENDAH PROVINSI TOTAL BELANJA 768.829.00 127.475.560.000.570.835.00 2.196.224.620.00 575.183.00 2.708.942.902.863.304.29% 11.000.35 1.093.625.37% 5.706.869.479.032.30% 9.20% 8.729.744.121.827.10% 28.474.731.00 6.00 1.00 3.396.978.137.150.15% 8.407.(dalam milyar rupiah) DANA PERIMBANGAN PROVINSI SE INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2011-2012 2011 PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA MODAL TERTINGGI PROVINSI TOTAL BELANJA 30.783.106.100.000.068.695.838.310.04% 5.511.145.72% 8.00 263.065.979.167.00 189.974.74 22.561.650.674.134.656.87 1.91 2.55 BELANJA MODAL NOMINAL 11.000.254.083.940.503.917.742.992.491.41% 14.00 12.850.557.656.00 4.587.000.50 % 9.021.000.929.707.60% 6.69% 4.791.306.452.526.693.00 2.60% (dalam trilyun rupiah) URAIAN Dana Bagi Hsl Pjk/Bkn Pjk Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus 12.192.429.000.288.358.00 330.122.60 2012 24.937.000.029.26% 9.12% 19 19 5 .815.97% 6.248.243.249.191.030.073.000.502.00 7.39% 23.627.00 1.00 3.00 6.56 2.70 BELANJA MODAL NOMINAL 9.217.67 2.804.315.653.154.800.950.61% 4.864.20% 8.83% 15.92% 6.342.60 1.99% 6.870.205.354.108.150.65% 6.600.846.100.623.224.395.290.00 444.709.00 15.09% 2.998.493.91 PROSENTASE PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA MODAL TERENDAH PROVINSI TOTAL BELANJA 893.07 49.403.925. Data Tahun 2012 dengan jumlah 30 Provinsi 18 SINKRONISASI ANGGARAN PROGRAM/KEGIATAN PROVINSI MENDUKUNG 11 PRIORITAS NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2012 ALOKASI BELANJA URUSAN KESEHATAN PROVINSI SELURUH INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2012 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DAERAH Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Provinsi Se.037.838.633.95 BELANJA MODAL NOMINAL 130.359.22 TOTAL Catatan: 17 1.938.387.24% 5.31 49.058.100.217.147.76% 9.00 228.301.942.114.

293.KESEHATAN/BL 746.639.63% 6.135.00 421.000.717.656.503.80 1.613.105.247.032.000.962.115.00 2.133.721.904.311.969.853.105.084.800.483.00 3.00 1.517.656.942.000.706.580.00 353.00 359.380.628.14% 8.000.419.67 2.00 1.00 109.979.64% 4.93% 1.079.00 7.681.919.415.124.248.000.461.144.93% 2.00 565.223.91 2.108.401.00 3.990.Indonesia TOTAL BELANJA 9.38% 5.167.838.44% 5.385.602.761.502.90% 2.817.783.235.00 4.082.586.643.663.00 25.929.261.786.000.366.511.766.000.00 7.00 36.955.502.350.838.249.633.86% SEKIAN dan TERIMA KASIH 22 6 .00 174.008.261.00 213.20 1.ALOKASI BELANJA URUSAN KESEHATAN (diluar gaji) PROVINSI SELURUH INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2012 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DAERAH Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Provinsi Se.00 15.199.00 11.995.00 10.534.170.870.00 71.395.511.00 3.17% 2.212.00 2.452.100.000.087.45 1.387.085.67% 5.00 421.76% 3.258.422.095.00 2.00 102.644.943.00 41.99% 1.00 91.29% 0.31% 11.760.031.154.000.126.000.065.254.147.000.00 969.349.00 1.15% 6.931.203.050.00 31.500.396.556.00 36.00 33.91 2.831.744.538.69% 5.315.000.32% 1.00 2.00 1.580.553.725.942.12% 11.760.711.450.239.245.00 4.000.000.82% 4.358.042.00 U.00 253.00 293.845.000.288.833.076.429.121.500.293.207.374.583.938.000.937.005.122.00 53.000.827.00 202.000.815.08% 9.451.31 2.20 % 7.483.760.00 13.482.256.38% 2.000.481.408.788.223.777.000.145.550.653.021.000.874.272.00 6.613.295.18 31.950.595.000.38% 6.557.150.00 62.500.224.49% 4.570.022.709.429.100.00 938.00 12.525.00 209.00 109.560.804.354.778.78% 5.00 89.24% 5.400.310.031.789.85% 2.822.537.530.827.59% 4.100.065.39% 4.560.651.296.00 4.49% 1.482.063.000.00 718.207.41% 2.801.829.00 103.00 2.998.000.222.214.00 3.359.205.134.758.61% 2.00 190.114.742.744.945.917.466.95% 7.650.936.019.000.91% 4.235.100.000.00 10.358.213.00 22.075.380.073.00 130.489.191.00 1.019.902.

Controling. Organizing. penentuan kegiatan untuk mencapai tujuan. Perencanaan harus didasarkan pemahaman sistem dengan baik. dan penentuan sumber daya untuk melaksanakannya. Estimasi kebutuhan biaya (A&I Based Costing) 7. Perencanaan pada hakikatnya menyusun konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan misi organisasi. c. Dari batasan diatas dapat disimpulkan: a. perumusan masalah. dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia (UU No 25/2004) BY: DELINA HASAN DIPRESENTASIKAN PADA PERTEMUAN DI BANDUNG 7 Maret 2012 Perencanaan merupakan inti kegiatan manajemen. melalui urutan pilihan. Analisis situasi & perumusan masalah 2. Actuating. 6. Integrasi rencana 5. Konversi Mata Anggaran  SK Mendagri DH-BP-BDG-070312 Ascobat G/P2KT-III/05 1 . penentuan tujuan. Evaluation Suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. Identifikasi & perumusan kegiatan 4.Planning. Integrasi Anggaran 8. kepada analisis dan LANGKAH POKOK PERENCANAAN & PENGANGGARAN TERPADU 1. Perencanaan secara implisit mengemban misi organisasi untuk mencapai hari depan yang lebih baik. semua kegiatan manajemen diatur dan diarahkan oleh perencanaan. DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Perencanaan  suatu langkah awal dalam proses memecahkan masalah  yang terdiri dari analisis situasi. Penentuan tujuan 3. Penyusunan Rencana Operasional b.06/02/2013 GAMBARAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PEMBANGUNAN KESEHATAN DI INDONESIA Perencanaan Salah satu fungsi dalam fungsi manajemen yang terdiri dari .

Distribusinya mnrt tempat 4.Data demografi . Distribusinya menurut klpok pddk 3.dll DH-BP-BDG-070312 2. Health belief 2.Pencapaian kinerja program . Fisik 2.Faktor resiko perilaku .Faktor resiko lingkungan . Biologis 3. etc) (4) Th/ of undernutrition (5) Health Promotion (6) Referal to hospital for MCH and communicable diseases DH-BP-BDG-070312 2 . Family Planning (2) Immunisasi (2) Th/ infectious diseases (Tb. Disribusinya mnrt waktu 5. Morbiditas (Prev/Insidens). Mortalitas Kinerja Program 1. DHF. Sumber penyakit Resiko lingkungan: 1.Sumberdaya pembiayaan Siklus pemecahan masalah & fungsi manajemen Sumber PKEKK DH-BP-BDG-070312 Identifikasi Masalah Deskripsi masalah: 1. malaria. Kebiasaan-2. Essential Clinical Services (WB 1993) (1) KIA (2) KB (3) Pengobatan Tbc (4) Pengobatan PMS (5) Pengobatan kurang gizi pada anak 2.Data geografi . Health Seeking Behavior 3.Sarana dan prasarana . Essential Services for the poor (SEARO/Tokyo 1998) (1) Maternal Child Health. Analisis situasi sangat “critical” dalam perencanaan kesehatan Pengorganisasian Penentuan Tujuan P O A E C Analisis Situasi & Identifikasi masalah Pelaksanaan/ Monitoring & Cotroling Evaluasi  Perlu data yg akurat dan “up to date” tentang: .Epidemiologi masalah kesehatan . Sosial Resiko perilaku: 1.06/02/2013 Penentuan Kegiatan Penentuan Sumberdaya/ biaya Analisis situasi adalah proses untuk mengenali masalah kesehatan dan determinan masalah tersebut serta analisis hal-hal umum yang diperkirakan bermanfaat untuk program kesehatan.

Cakupan pelayanan nifas 5. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin 2 Pelayanan kesehatan rujukan 15.Time bound (ada batas waktu pencapaiannya) Tujuan: Langkah-langkah Penentuan Tujuan Target/tujuan global Target/tujuan nasional Keadaan Masalah Target Renstrakes Daerah Tujuan (Rumusan I) Trend kinerja masa lalu Faktor internal Faktor eksternal Tujuan (Rumusan akhir) 1. Cakupan kunjungan bayi 7.06/02/2013 5. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 3. Cakupan pelayanan anak balita 9. Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS) di kabupaten/kota 3 Penyelidikan epidemiologi dan 17. 741/Menkes/Per/VII/2008 3. Cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan 4.Specific (jelas sasarannya. Permekes no. Cakupan desa/kelurahan UCI 8.24 bulan keluarga miskin 10. Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 11. dan strategi nasional. Cakupan pemberian MP-ASI anak usia 6 . SPM. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan masyarakat miskin 16. bisa bersifat “outcome” Biasanya rencana tahunan. Berkaitan dengan output (kinerja program) DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Kualitatif Kuantitatif Sasaran penduduk Sasaran lokasi Sasaran waktu 3 . mudah dipahami oleh pelaksana) . Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani 6. Lima Program Terpadu (Posyandu) (1) Diare (2) ISPA (3) Gizi/penimbangan (4) Immunisasi (5) PKM Tabel-2 Daftar SPM. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 2. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 12.Appropriate (sesuai dg kebijakan.Measurable (dapat diukur kemajuannya) . Permenkes Nomor 741/Menkes/Per/VII/2008 No Jenis Pelayanan Indikator Kinerja 4. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit 14. Berkaitan dgn outcome (masalah) 2. visi dan misi institusi) . sulit mengukur perubahan “outcome” Biasanya cukup menentukan “output” program (misal: cakupan2) Tujuan harus punya indikator Indikator tsb harus memenuhi kriteria “SMART” . Cakupan peserta KB aktif 13. Cakupan desa siaga aktif Pemberdayaan masyarakat 1 Pelayanan kesehatan dasar Target 2010 2015 95% 80% 90% 90% 80% 90% 100% 90% 100% 100% 100% 70% 100% 100% 100% 100% 100% 80% DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Penentuan tujuan • • • • • • Yang ditentukan adalah tujuan tahun depan (target program tahun depan) Tujuan bisa bersifat “output”. Cakupan desa/kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penanggulangan Kejadian penyelidikan epidemiologi < 24 jam Biasa (KLB) 4 Promosi kesehatan dan 18. tujuan program. Basic Six (1) KIA / KB (2) P2M (3) PKL (4) Perbaikan Gizi Masyarakat (5) Promkes (6) Pengobatan 1.

PHLN .Intervensi investasi perilaku c.Vector control .Dll Pengorganisasian Pengorganisasian adalah mengatur personel atau staf yang ada dalam institusi tesebut agar kegiatan yang telah ditetapkan dalam rencana tersebut dapat berjalan dengan baik yang akhirnya semua tujuan dapat dicapai. Intervensi lingk.06/02/2013 Penentuan kegiatan • Kegiatan program kesehatan sudah baku • Ada dalam pedoman-pedoman program • Prinsipnya: kegiatan tersebut harus yg sudah terbukti “cost effective” • Contoh kegiatan baku dlm program malaria: .DAU . tenaga.Jamkes . biaya • Namun dalam penganggaran semua sumberdaya diukur dalam nilai uang • Sumber-sumber pembiayaan kesehatan didaerah termasuk: .PAD . Pengobatan investasi Kegiatan Manajemen Pengembangan/ investasi Tujuan outcome Tujuan output Kegiatan di masyarakat Pengembangan/ a. Temuan kasus b.Promkes Kegiatan tak langsung Kegiatan langsung DH-BP-BDG-070312 Ascobat G/P2KT-III/05 Penentuan Sumber Daya • Sumber daya termasuk sarana.Case detection & pengobatan .DBH .Pembagian kelambu IDENTIFIKASI & PERUMUSAN KEGIATAN Pelayanan individu Pengembangan/ a.. Mobilisasi sosial .DAK . DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 4 .TP .Dekon . b.

Out come Monitoring dan Evaluasi Program Kesehatan Yang perlu di lakukan dalam evaluasi adalah. DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN BAIK YANG DILAKSANAKAN LANGSUNG OLEH PEMERINTAH DAERAH MAUPUN YANG DITEMPUH DENGAN MENDORONG PARTISIPASI MASYARAKAT.Out-Put .Biaya program .06/02/2013 Pengawasan dan Pengarahan Pengawasan dan Pengarahan Pengawasan dan pengarahan adalah suatu proses untuk mengukur penampilan kegiatan atau pelaksanaan kegiatan suatu program yang selanjutnya memberikan pengarahan-pengarahan sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. UNDANG-UNDANG NO 12 / 2008 PERUBAHAN KEDUA ATAS UU 32/2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH. DH-BP-BDG-070312 UNDANG-UNDANG TERSEBUT MENGEMUKAKAN TENTANG RENCANA KERJA (RENJA) SKPD SEBAGAI PENJABARAN DARI RENSTRA SKPD UNTUK JANGKA WAKTU 1 (SATU) TAHUN YANG MEMUAT KEBIJAKAN.Kuantitas dan kualitas program . UNDANG-UNDANG NO 25/2004 TENTANG SISTEM PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN NASIONAL (SPPN) .Input . Agar pengawasan dapat berjalan dengan baik minimal ada 3 hal yang perlu diperhatikan yaitu. 1. Metode Pengawasan . 4. KETERKAITANNYA DENGAN VISI DAN MISI RENSTRA SKPD DAN RPJMD . Proses pengawasan DH-BP-BDG-070312 Pelaksanaan Elemen-elemen dalam pelaksanaan sistem pelayanan kesehatan . 1. DH-BP-BDG-070312 5 .Melalui kunjungan langsung atau observasi terhadap objek yang diawasi .Pelaksanaan program 2. UNDANG-UNDANG INI JUGA MENEKANKAN KETERKAITAN ERAT ANTARA PENYUSUNAN RKPD DENGAN RENJA SKPD. 1.Melalui pengumpulan data atau informasi 3.Proses . PROGRAM. 2. 3. Objek Pengawasan .Melalui analisis terhadap laporan-laporan yang ada . Efektifitas Perencanaan Relevansi Perencanaan Adekuasi perencanaan Kualitas Perencanaan DH-BP-BDG-070312 Peraturan Perundang-undangan berkaitan dgn perencanaan tahunan 1. UU NO 25/2004 MENGATUR TENTANG PERANAN DAN TANGGUNG JAWAB KEPALA SKPD UNTUK MENYIAPKAN RENJA SKPD.

TERMASUK DIDALAMNYA RKPD. RENJA SKPD PERLU MENGGUNAKAN KERANGKA FUNGSI. MAKA RENJA SKPD JUGA PERLU MENCERMINKAN KERANGKA PENGANGGARAN YANG DIATUR DALAM PERMENDAGRI TERSEBUT. PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NO 59/2007 YANG MERUPAKAN PENJABARAN PERATURAN PEMERINTAH NO 58/2005 TELAH MENGATUR SECARA RINCI MEKANISME. UNTUK ITU. 1. DAN APBD. PERATURAN PEMERINTAH NO 59/2007 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH. RKASKPD. UNDANGUNDANG INI MENEKANKAN TENTANG PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA (PERFORMANCE BUDGETING) DAN SERTA PRINSIP. UU 33 / 2004 MENYEBUTKAN TENTANG RKPD SEBAGAI DASAR PENYUSUNAN RAPBD DAN RKA SKPD. DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 1. UNDANG-UNDANG NO 17/2003 TENTANG KEUANGAN NEGARA . URUSAN WAJIB. KEBIJAKAN. PROSES. UNDANG-UNDANG NO 33/2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH . KUA. NAMUN MENGATUR TENTANG PERANAN DAN KEDUDUKAN RKPD DALAM KAITANNYA DENGAN PERUMUSAN KUA APBD DAN RAPBD. SETIAP PROGRAM DAN KEGIATAN PERLU MEMPUNYAI TOLOK UKUR DAN TARGET KINERJA CAPAIAN PROGRAM YANG JELAS. PERMENDAGRI 59/2008 TELAH MENETAPKAN PROGRAM DENGAN KODE PROGRAMNYA SERTA KODE REKENING SETIAP KEGIATAN YANG PERLU DIIKUTI OLEH SETIAP SKPD . UNDANG UNDANG 17/2003 INI TIDAK MENGATUR SECARA EKSPLISIT TENTANG RENJA SKPD. DAN PROSEDUR PENYUSUNAN PENGANGGARAN TAHUNAN DAERAH. PROFESIONALITAS. KETERBUKAAN DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN DAN PEMERIKSAAN KEUANGAN OLEH BADAN PEMERIKSA YANG BEBAS DAN MANDIRI. UNDANG-UNDANG INI JUGA MENEKANKAN TENTANG PERLUNYA PENYUSUNAN RENJA SKPD DAN RKA SKPD BERBASIS PENGANGGARAN KINERJA.06/02/2013 1. DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 6 . MENGINGAT PENYUSUNAN RENJA SKPD MENGACU PADA RKPD.PRINSIP PENGELOLAAN KEUANGAN YANG MELIPUTI AKUNTABILITAS. PERATURAN PEMERINTAH NO 58/2005 PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH . DAN URUSAN PILIHAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM MENGANALISIS ISU STRATEGIS. PP 58/2005 INI MENYEBUTKAN BAHWA RENJA SKPD MERUPAKAN PENJABARAN DARI RENSTRA SKPD YANG DISUSUN BERDASARKAN EVALUASI PENCAPAIAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN-TAHUN SEBELUMNYA. TENTANG 6. RAPBD. INI MENUNJUKKAN TENTANG PERLUNYA RKPD JUGA MENGGAMBARKAN TARGET CAPAIAN KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SEHINGGA MUDAH UNTUK DITRANSFORMASIKAN KEDALAM RENJA SKPD DAN RKA SKPD. PROPORSIONALITAS. DAN MENETAPKAN PRIORITAS PROGRAM DAN KEGIATANNYA. MERUMUSKAN STRATEGI. PPAS.

PERATURAN PEMERINTAH NO 8/ 2008 TENTANG TAHAPAN. INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (INPRES) NOMOR 7 TAHUN 1999 TENTANG AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (AKIP) INPRES TERSEBUT MEWAJIBKAN SETIAP SKPD/INSTANSI PEMERINTAH SEBAGAI UNSUR PENYELENGGARA PEMERINTAHAN NEGARA UNTUK MEMPETANGGUNGJAWABKAN PELAKSANAAN TUGAS POKOK DAN FUNGSINYA SERTA KEWENANGAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA DENGAN DIDASARKAN PADA SUATU PERENCANAAN STRATEGIK (RENSTRA) YANG DITETAPKAN OLEH MASING-MASING SKPD/INSTANSI PEMERINTAH. KONSEKUENSI DARI ADANYA URUSAN WAJIB DAN PILIHAN TERSEBUT DAERAH WAJIB MENGALOKASIKAN ANGGARANNYA UNTUK OPERASIONAL PELAYANAN DASAR TERSEBUT MELALUI MEKANISME PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN SEBAGAIMANA DIATUR DENGAN UU 25/2004 DAN PP 8/2008. PP 8/2008 MENGEMUKAKAN BAHWA KEWAJIBAN SKPD UNTUK MENYUSUN RENSTRA DAN RENJA SKPD YANG BERPEDOMAN PADA RPJMD DAN BERSIFAT INDIKATIF SERTA DISUSUN DENGAN MENGGUNAKAN DATA DAN INFORMASI. LEMBAGA – LEMBAGA PENGAWAS DAN PENILAI AKUNTABILITAS DAN AKHIRNYA DISAMPAIKAN KEPADA PRESIDEN. TATA CARA PENYUSUNAN. SEKRETARIAT MEMBAWAHI 3 (TIGA) SUB. DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 10. DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 7 . TETAPI PADA PP 41 TERSEBUT PADA PASAL 25 DISEBUTKAN BAHWA UNTUK ORGANISASI DINAS DAERAH TERDIRI DARI (1) SATU SEKRETARIAT DAN PALING BANYAK 4 (EMPAT) BIDANG . URUSAN PEMERINTAHAN YANG WAJIB DISELENGGARAKAN OLEH PEMERINTAH DAERAH ADALAH ERAT KAITANNYA DENGAN PELAYANAN DASAR.06/02/2013 7. SEDANGKAN UNTUK URUSAN PILIHAN ADALAH URUSAN PEMERINTAHAN YANG SECARA NYATA ADA DAN BERPOTENSI SERTA MENJADI UNGGULAN DAERAH TERSEBUT. RENJA SKPD DIBAHAS DALAM FORUM SKPD YANG DISELENGGARAKAN BERSAMA ANTAR PEMANGKU KEPENTINGAN UNTUK MENENTUKAN PRIORITAS KEGIATAN PEMBANGUNAN . PERTANGGUNGJAWABAN TERSEBUT BERUPA LAPORAN YANG DIDSAMPAIKAN KEPADA ATASAN MASING-MASING. LAPORAN TERBUT DISEBUT DENGAN ISTILAH LAKIP. BILA HAL TERSEBUT TERJADI AKAN MEMPERLEMAH DINAS KESEHATAN DALAM HAL PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PROGRAM DIKARENAKAN KEWENANGAN UNTUK MELAKUKAN KOORDINASI IDEALNYA OLEH BIDANG BINA PROGRAM SETINGKAT ESSELON III. SECARA EXPLISIT PP 41 / 2007 TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN PENYUSUNAN RENJA TAHUNAN SKPD. DAN BIDANG MEMBAWAHI 3 (TIGA) SEKSI.BAGIAN. DARI 4 (EMPAT) BIDANG YANG DIREKOMENDASIKAN TENTUNYA MEMPERKECIL PELUANG TERBENTUK BIDANG BINA PROGRAM YANG MENGKOORDINIR PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PROGRAM . PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH. PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI. PP 38 / 2007 INI SECARA NYATA MENYEBUTKAN TENTANG URUSAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KOTA MELIPUTI URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN.. PERATURAN PEMERINTAH NO 38 / 2007 TENTANG PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH. 8. PROGRAM PRIORITAS URUSAN WAJIB DAN PILIHAN MENGACU PADA STANDAR PELAYANAN MINIMAL SESUAI KONDISI NYATA DAERAH DAN KEBUTUHAN MASYARAKAT. PP 41 / 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH 9. DAN PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN / KOTA .

10%. tidak mau menghitung besaran masalah.Isinya sulit dirubah/disesuaikan dengan perubahan yg bisa terjadi sepanjang tahun.perencanaan dilakukan tanpa mind-set tentang siklus pemecahan masalah .rencana tahun lalu ditambah-tambah sedikit. trend kinerja dll • Benang merah logika “problem solving” tidak jelas . Belum ada sinkronisasi dalam perencanaan dan penganggaran antara pusat dan daerah.Program.15%.tidak ada kordinasi antara program.Tidak didasarkan pada trend pencapaian masa lalu . demikian juga untuk program Promotif dan Preventif sangat kecil.target dan kegiatan didasarkan pada flafond anggaran yg tersedia (budget based targeting) . kegiatan. apalagi integrasi . Immunisasi pembiayaannya sangat kecil (sumber data DHA ).tidak ada konsisten antara masalah dan tujuan dan kegiatan dan alokasi sumberdaya DH-BP-BDG-070312 8 . Contoh: Alokasi anggaran bersumber pemerintah seperti DAK peruntukannya tidak fleksibel sesuai kebutuhan daerah. DAK penggunaannya hanya diperbolehkan untuk fisik. Untuk daerah yang fisiknya sudah mencukupi.perencana pasif.tapi bisa juga karena perencanaan top-down (sudah terfragmentasi dari atas) * DH-BP-BDG-070312 • Budget driven: . Anggaran lebih banyak dipergunakan untuk kegiatan tidak langsung seperti manajerial. dll * Target tahun depan tidak realistis .Sering mengikuti saja target emosional . akibatnya pembiayaan untuk kuratif menjadi besar.Tidak didasarkan pada prospek ketersediaan sumberdaya thn yad * Fragmented .Kelemahan informasi/pengetahuan ttg faktor-faktor yg berkaitan dengan suatu masalah kesehata DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 * Historical planning . sumberdana terikat pada peraturan baku . - - - *Tidak “evidence based” . menjadi tdk efektif kalau anggaran tsb digunakan lagi untuk fisik. rule driven (sulit dirubah karena terikat peraturan) . disisi lain untuk operasional masih sangat kurang.Kelemahan dalam melakukan analisis situasi .Kelemahan sistem informasi kesehatan .06/02/2013 Masalah Dalam Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Kesehatan Langkah-langkah dan Jadwal kegiatan Perencanaan dan penganggaran antara pusat dan daerah belum dilaksanakan dengan baik. Untuk program-program kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti KIA. - Daerah belum sepenuhnya mengikuti kebijakan dan regulasi dari pusat. demikian juga pusat harus dapat membaca kesulitan daerah.sering disebut karena “egoisme program” . Bbrp kelemahan perencanaan (atas dasar pegamatan) * Kaku.

dll) Fenomena Pyramida terbalik .Ini akibat kelemahan dalam perencanaan DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 9 . nilai tahun 1993. pertemuan kordinatif .Lemah dalam mengkaitan anggaran dengan output .Pekerjaan di kabupaten/kota terganggu Kinerja dan Anggaran Kecenderungan Fisik Ini biasa terjadi karena sdh diantisipasi realisasi akan terlambat. bisa selesai dlm waktu relatif pendek .Biaya operasional sangat menentukan kinerja program . lebih baik diusulkan sarana fisik. artinya program P2PL dan Promkes relatif lebih kecil dibanding anggaran RS DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Realisasi Terlambat • • • • • • Karena proses birokrasi anggaran berkepanjangan Sinyalemen: penggunaan hak budget oleh legislatif berlebihan Dampaknya: waktu pelaksanaan program sangat pendek Pelaksana program bergulat dengan urusan SPJ Akhirnya: kinerja program tidak mencapai target Atau: kalaupun mencapai target.Sebagai contoh: anggaran dekon membengkak. menurut World Development Report 1993) • Kebutuhan rill setelah dihitung dgn P2KT. mutunya rendah (misal: UCI campak tercapai.06/02/2013 Kelemahan penganggaran Kesehatan Daerah • • • • • • • • • • Anggaran kesehatan terlalu kecil Realisasi terlambat Terfragmentasi Kecenderungan belanja fisik Biaya operasional tidak cukup Fenomena pyramida terbalik (banyak diatas) Lemah kaitan antara anggaran dengan kinerja Cenderung untuk kuratif Peruntukan kaku “Bocor” Anggaran kesehatan terlalu kecil • Dibandingkan dengan kebutuhan normatif (US$ 12/capita.Anggaran terpakai banyak untuk kegiatan “capacity building”. PK-nya ada di propinsi. UC fogging.Kekurangan biaya operasional akibat kecenderungan belanja fisik . hasilnya 3 – 4 kali dari ketersediaan anggaran selama ini • Juga ada “kekurangan relatif”. pelatihan. tapi KLB campak tetap terjadi karena lemahnya manajmen “cold chain” Kurang Biaya Operasional .Pengaggaran cenderung berorientasi pada belanja faktor input (belanja barang) . sering mengundang org kabupaten ke propinsi .Bisa juga karena kelemahan data ttg biaya satuan kegiatan operasional (UC kunjungan lapangan.

Anggaran untuk promotif dan preventif mendapat dampaknya .Penentuan Tujuan .Pelaksanaan .Kewajiban memberikan jaminan kepada penduduk miskin  anggaran untuk rawat jalan dan rawat inap naik .Kesehatan identik dengan RS. 59/2007 tidak mencakup mata anggaran yang diperlukan dalam program kesehatan DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Bocor • Tidak usah dibahas • Semua sudah tahu apa maksudnya • Kalau mau “sharing” pengalaman boleh sampaikan Solusi 1). alat canggih. dll Peuruntukan Kaku • Mau tidak mau harus ikuti nomenklatur program dan mata anggaran sesuai peraturan (SPM dan Permendagri No.Identifikasi masalah . tenaga spesialis.06/02/2013 Cenderung Kuratif .Penentuan Kegiatan .Bisa juga karena eksekutif pemerintah memiliki persepsi tidak tepat ttg pembangunan kesehatan: .Analisis situasi . 59/2007) • Daftar SPM ternyata tidak memasukkan program tertentu secara spesifik (misal malaria dan tbc) • Mata anggaran dalam Permendagri No.Pengorganisasian .Evaluasi DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 10 .Penentuan Sumber daya . Siklus pemecahan masalah perlu dilakukan dimulai dari .Monitoring .

Anggaran Berbasis Kinerja Anggaran berbasis kinerja menjaga agar anggaran operasional untuk kegiatan langsung tercukupi Anggaran operasional kegiatan langsung adalah penentu kinerja Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Pusat dan Daerah Renstra KL Pedoman Pedoman Dijabar kan Pedoman Renja KL Pedoman RKAKL Keppes Rincian APBN Pemerintah Pusat Diacu Pedoman RPJP Nasional Diacu RPJM Nasional RKP RAPBN APBN Diperhatikan Pedoman Diselaraskan melalui Musrenbang RPJP Daerah RPJM Daerah Dijabar kan RKP daerah Diacu Pedoman RAPBD APBD Pemerintah Daerah Pedoman Renstra SKPD Pedoman Renja SKPD Pedoman RKA SKPD Kep KDH tentang Rincian APBD UU SPPN UU KN/PERMENDAGRI 59/07 = Terdapat penyelarasan Renja KL dan kegiatan Dekon/TP dengan rancangan RKPD (PP 20/2004 Pasal 6) = Terdapat penyelarasan Renja KL menjadi RKA-KL yang dirinci menurut unit organisasi/kegiatan.06/02/2013 2). Analisis situasi & kebijakan kesehatan 2 Rapat Kerja Perencanaan (I) 3 Musrenbang desa 4 Unit-unit Dinkes menyusun RKT 5 Musrenbang kecamatan 6 Puskesmas menyusun RKT 7 Rapat Kerja Perencanaan (II) 8 Forum SKPD (ekpos oleh Kadinkes) 9 Musrenbang Kabupaten/Kota 10 Jaring asmara 11 Kebijakan Umum Anggaran 12 Asistensi anggaran (pembahasan usulan) 13 Keputusan anggaran RKT = Rencana Kerja Tahunan Jaring asmara= menjaring aspirasi masyarakat Unit pelaksana Dinkes Dinkes Arahan oleh Dinkes Puskesmas + Desa Unit-2 Dinkes Puskesmas + Camat Puskesmas Dinkes + Puskesmas SKPD + Bappeda SKPD + Bappeda + DPRD DPRD DPRD & Pemda Dinkes + Bappeda DPRD + Pemda Des Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x Jadwal perencanaan sangat ketat PKEKK .FKMUI DH-BP-BDG-070312 11 . Persiapan perencanaan b. termasuk alokasi sementara untuk Dekon/TP (PP 21/2004 Pasal 10) DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Langkah &Jadwal perencanaan daerah No Kegiatan 1 Analisis situasi a.

4.06/02/2013 TUGAS DAN FUNGSI DINKES Berdasarkan :Pergub 32 Tahun 2009 SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN PUSAT PROVINSI DAN KAB/KOTA Tugas Pokok Dinkes Provinsi : melaksanakan urusan Pemda bidang kesehatan berdasarkan azas otonomi. Perumusan dan penetapan kebijakan teknis urusan kesehatan. Penyelenggaraan Urkes meliputi : regulasi dan kebijakan kesehatan. Pengkoordinasian dan pembinaan UPTD. 5. Permendagri Nomor 79 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian Standar Pelayanan Minimal. penyehatan lingkungan dan pencegahan penyakit. 3. PP RI Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaran Pemerintah Daerah. Pemerintahan Daerah Provinsi. AKI. • Pemenkes RI Nomor 741/MENKES/ PER/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kab/Kota. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT DINAS KESEHATAN LANDASAN HUKUM • PP RI Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. PERDA 10/2009 DAN PERDA 11/2010 TTG SKP NORMA STANDAR PROSEDUR KRITERIA (NSPK) (URUSAN PEMERINTAH PUSAT PP 38 TAHUN 2007. PROVINSI DAN KAB/KOTA DALAM PEMBANGUNAN BIDANG KESEHATAN SESUAI URUSAN IK MDGs UHH AKB. AKK 17 SASARAN DEPKES ANGKA / JUMLAH KESAKITAN DAN STATUS GIZI • EKPOD 8 INDIK SPM BIDANG KESEHATAN KAB/KOTA ( 18 INDIKATOR ) PELAYANAN KES DASAR 14 INDIKATOR PELAYANAN KES RUJUKAN 2 INDIKATOR FARMA SI. 2. AKABA. Pembinaan dan pelaksanaan tugas kesehatan meliputi : regulasi dan kebijakan kesehatan. Penyelenggaraan tugas kesekretariatan. pelayanan kesehatan. serta sumber daya kesehatan. pelayanan kesehatan. dan tugas pembantuan. ALKES DAN MAK • PENYEL EPIDEMIO & PENANGG KLB PROMOSI KES & PEMBERD MASY • Peraturan Pemerintah RI Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. SINERGITAS PUSAT. Fungsi : 1. KEPMENKES 922 TAHUN 2008) 1 . dekonsentrasi. serta sumber daya kesehatan. UPAYA KES PEMBIA -YAAN KES SDM KES MANAJ EMEN KES PEMBER DAYAA N MASY REGU LASI KES KEMITR AAN LIT BANG & IPTEK URUSAN PROVINSI PADA PP 38 TAHUN 2007. penyehatan lingkungan dan pencegahan penyakit.

000 205-210/100.000 KH (Menurunkan 3/4 nya dari tahun 1999) EDUCATION Comm.5 tahun 7.58 tahun***) 9 .62 tahun) Meningkatnya UHH menjadi 72.0 thn Menurunnya AKB menjadi 24 per 1000 KH RPJMN 2010 – 2014 TARGET MDG 2015 TA TARGET DAN CAPAIAN INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN PROVINSI JAWA BARAT RPJMD 2008-2013 Kondisi Awal Capaian Target Midterm Target 2013 (Tahun 2007) Tahun 2009 (2011) MISI PERTAMA : Mewujudkan Sumberdaya Manusia Jawa Barat yang Produktif dan Berdaya Saing 1 Angka Rata-rata Lama 7.60% 95 .26/1.06/02/2013 MDG 2015 8 Tujuan CAPAIAN 2007 PEPRES No: 5/2010 (Jabar 67. Diseases Menurunnya AKI menjadi 118 per 100.5 tahun Sekolah ***) 2 Angka Melek Huruf 95.000 kh GENDER ENVIRONMENT CHLD HEALTH PARTNERSHIP 18.96% 97 – 98% 3 Angka Kematian Bayi 40.51 (2008)10) 61-63 64-65 Gender No Indikator Kinerja Poverty & Hunger Maternal Health 34 per 1000 KH (Jabar 39/1000 KH) 228 per 100.4 (2006) 55.8% 5 SINKRONISASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DGN NASIONAL 20 TAHUN 5 TAHUN Skema Integrasi dan Sinkronisasi Perencanaan Pembangunan Nasional dan Daerah 1 TAHUN DIJABARKAN PEDOMAN RPJPN DIACU PEDOMAN RPJMN RKP DIACU DAN DISERASIKAN DIACU DIPERHATIKAN RENSTRA K/L DIJABARKAN PEDOMAN RENJA K/L RPJPD PROV PEDOMAN RPJMD PROV RKPD PROV DIACU DAN DISERASIKAN PEDOMAN DIACU DIPERHATIKAN DIACU DIACU RENSTRA SKPD PROV DIJABARKAN PEDOMAN RENJA SKPD PROV PEDOMAN RPJPD K/K RPJMD K/K PEDOMAN RENSTRA SKPD K/K RKPD K/K DIACU PEDOMAN RENJA SKPD K/K 2 .9. 18.10.15/100.000 KH 33-34/1.000 321.000 KH thn 2003) 23 per 1000 KH (Menurunkan 2/3 nya dari tahun 1999) 102 per 100.32% 95.45% anak balita) Menurunnya prevalensi gizikurang pada anak balita menjadi 15%.000 KH5) 35-36/1.000 KH (Kelahiran Hidup/KH) KH (2006) 4 Angka Kematian Ibu 321/100.000 KH ( Jabar 321.8 (2006) 61.1/ 100.5 tahun 10 .000 215-220/100.81 (2008)10) 63-64 65-66 Gender 6 Indeks Pemberdayaan 54.000 38/1.4% pada anak balita (Jabar 11.000 (Kelahiran Hidup/KH) KH (2003) KH5) KH KH 5 Indeks Pembangunan 60.

MENELAAH USULAN KAB/KOTA MENJADI RUMUSAN USULAN PADA MUSRENBANG KAB/KOTA PADA MG 1 BULAN MARET 5. Evaluasi Kinerja 2 Hasil Evaluasi 3 RPJM RPJMD prov. DPA SKPD Pemberitahuan oleh Tim Anggaran Pemda Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Program Kefarmasian dan Alkes Program Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Sinkro nisasi ??? Program Upaya Kesehatan Program Peningkatan Sarana & Prasarana Pelayanan Kesehatan 6 Peny eval. DPA SKPD hasil verifikasi 67 oleh Tim Anggaran Pemda Penyampaian DPA 60 SKPD kpd kepala SKPD 63 Surat Verifikasi ranc. RKA SKPD 24 45 Pembahasan dg Tim Anggaran Pemda ttg kesesuaian dg KU APBD. Ranc. APBD 47 Peny. KONSULTASI DENGAN PUSAT TTG PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA 8. MENGINFORMASIKAN TENTANG KEBIJAKAN PROGRAM TAHUN YANG DATANG BERDASARKAN URUSAN PROVINSI MAKSIMAL PADA BULAN JANUARI (YANG EVIDANCE BASE) 3. Ranc Akhir RKPD & Rapergub 23 Penelaahan/ asistensi ranc. analisis standar belanja. DPA SKPD dg surat DPA SKPD yg telah pemberitahuan persetujuan Sekda disah-kan oleh PPKD kpd SKPD utk 64 menyusun ranc. Akhir Renja SKPD 37 36 Dokumen KU Ranc. KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN PEMBANGUNAN KESEHATAN PADA MUSRENBANG PROVINSI AWAL BULAN APRIL 10. PPAS antara DPRD dan kepala daerah 38 Penetapan KU APBD & PPAS kedalam Nota Kesepakatan antara kepala daerah dg pimpinan DPRD 27 Pergub ttg RKPD 32 KU APBD yg telah disepakati bersama antara kepala daerah bersama DPRD 26 Penetapan Pergub ttg RKPD 1 Peny. KU APBD antara kepala daerah bersama DPRD Pembahasan bersama ranc.Renstra/RPJMD kab/kota 15 Dokumen Rancangan RKPD 14 Penyusunan Rancangan RKPD 17 Pelaks Pra Musrenbangprov & Musrenban g prov. ranc. PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA PADA MG 2 MARET 6. MELAKSANAKAN PEMBAGIAN KEGIATAN DAN ANGGARAN KAB/KOTA 13.Hasil forum SKPD kab/kota . PPAS 40 Penyu dok pedoman peny. kinerja SKPD 7 Hasil Evaluasi 8 Peny. standar satuan harga & SPM 48 Raperda ttg APBD. 18 Dok BA Hasil Musrenbangprov 19 Penyusunan ranc. nota keuangan. MELAKSANAKAN MONEV PELAKSANAAN KEGIATAN DI PROVINSI DAN KAB/KOTA Musrenbangnas (April – Mei) MUSRENBANG PROVINSI (AWAL APRIL) MUSRENBANG KAB/KOTA (AWAL MARET) MUSRENBANG KECAMATAN (februari) MUSRENBANG DESA/KEL (januari) RUMUSAN 3 KEBIJAKAN DAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA RUMUSAN 2 KEBIJAKAN DAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA PRAMUSRENBANG PROVINSI (AKHIR MARET) RUMUSAN 1 KEBIJAKAN DAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA INFORMASI KEBIJAKAN PROGRAM KAB/KOTA IDENTIFIKASI MASALAH DAN KEBUTUHAN KAB/KOTA SP KE DESA 3 . KU APBD 33 Penyusunan ranc.Ranc. indikator kinerja. Renja SKPD& penetapan peraturan kepala SKPD ttg Renja SKPD 25 Dok Renja SKPD Program Pencegahan & Penanggulangan Penyakit Menular dan Tidak Menular 42 Kepala SKPD menyusun RKA SKPD 44 Penyampaian RKA SKPD kpd PPKD untuk dibahas oleh Tim Anggaran Pemda 61 Kepala SKPD menyusun ranc. RKP & Ranc. APBD & PPAS PPAS yg yg tlh tlh disepakat disepakati bersama i 39 Nota Kesepakatan kepala daerah dg pimpinan DPRD ttg KU APBD dan PPAS 51 Kepala daerah menyi apkan/menyusun Raperkada ttg penja-baran APBD 52 Dokumen Raperkada ttg penjabaran APBD 53 Penyampaian persetujuan bersama thd Raperda ttg APBD & Raperkada ttg penjabaran APBD 54 Dok Persetujuan bersama thd Raperda ttg APBD & Raperkada ttg penjabaran APBD 58 Perda ttg APBD & Perkada ttg penjabaran APBD 57 Penetapan kepala daerah thd Raperda APBD dan Raperkada ttg penjabaran APBD menjadi Perda ttg APBD & Perkada ttg penjabaran APBD Program Dukungan Manajemen & Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Kesehatan Program Bina Gizi & KIA Program Pembinaan Upaya Kesehatan 28 Penyusunan ranc. Renja KL . PPAS 34 Dokumen ranc. PROVINSI DAN PUSAT ( critical issue) 2. Renja SKPD 9 Renstra SKPD. RKA SKPD 41 Dok. HARMONISASI RENSTRA KAB/KOTA. prakiraan maju. KU APBD 30 Dokumen ranc. yang menitikberat-kan kesesuaian antara KU APBD dan PPAS dg program dan kegiatan yg diusulkan dalam Raperda ttg APBD NOVEMBER DESEMBER 50 Dokumen persetujuan Raperda ttg APBD antara kepala daerah bersama DPRD KETERKAITAN PROGRAM PUSAT & PROVINSI APBN APBD Program Sumber Daya Kesehatan 35 31 Pembahasan ranc. RKPD kab/kota . MUSRENBANGNAS 11. PERTEMUAN SINKRONISASI DAN KOORDINASI KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN PUSAT. hasil Musren kab/kota 12 Pelaksanaan Forum SKPD 13 Kesepakatan hasil forum SKPD 21 Peny Ranc Akhir Renja SKPD Penyempur naan ranc. Tupoksi SKPD & hsl forum SKPD kab/kota. TAHAPAN PROSES PERENCANAAN PEMBANGUNAN TAHUNAN DAERAH (RKPD) JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER 49 Pembahasan di DPRD. DRAFT KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN SERTA DESK PROGRAM DAN ANGGARAN PADA PRAMUSRENBANG PERWILAYAH MG KE 3 DAN MG KE 4 BULAN MARET 7. PPAS.Ranc. DPA SKPD & menyampaikan kpd PPKD utk verifikasi oleh Tim Anggaran Pemda 62 Rancangan DPA SKPD 22 Dok Ranc Akhir Renja SKPD 43 Dokumen RKA SKPD 66 DPA SKPD sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh kepala SKPD Program Manajemen Pelayanan Kesehatan 29 Pedoman penyusunan APBD dari Mendagri setiap tahun 55 Evaluasi Mendagri 56 Keputusan Mendagri ttg hasil evaluasi Raperda APBD & Raperkada penjabaran APBD INTERVENSI SINKRONISASI DALAM ALUR PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN DARI BERBAGAI SUMBER DANA KEBIJAKAN DAN PROGRAM PROVINSI DAN KAB/KOTA DARI BERBAGAI SUMBER DANA KONSULTASI DGN PUSAT TTG SINKRONISASI & KOORD PERENC PUSAT PROVINSI DAN KAB/KOTA DI PROVINSI SINKRONISASI & KOORD PERENC PUSAT PROVINSI DAN KAB/KOTA DI PROVINSI SINKRONISASI & KOORD PERENC PUSAT PROVINSI DAN KAB/KOTA DI KAB/KOTA INFORMASI KEBIJAKAN PROGRAM PUSAT DAN PROVINSI TAHAPAN PERENCANAAN DI PROVINSI 1. pedoman peny. Awal RKP 4 Peny Ranc Awal RKPD 5 Dokumen Rancangan Awal RKPD 16 .06/02/2013 3). hsl Musrenbang kab/kota 10 Dok Ranc RenjaSKPD 11 Hasil forum SKPD kab/kota. Raperda ttg APBD & dok pendukungnya oleh PPKD 46 RKA SKPD yg telah ditelaah oleh Tim Anggaran Pemda 59 65 PPKD menyiapkan PPKD mengesahkan 66 ranc. PENENTUAN PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA 9. untuk memperoleh persetujuan bersama sesuai peraturan tata tertib DPRD. PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA 12. DPA SKPD Ranc.Ranc. Akhir RKPD & Rapergub 20 Dok. capaian kinerja. PERTEMUAN SINKRONISASI DAN KOORDINASI PERENCANAAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA DENGAN KABUPATEN/KOTA MAXIMAL PADA BULAN FEBRUARI 4.

47 Sumber: Dinas Kesehatan (4X1)+(3X2)= 10 26 Kota Banjar SEDANG Kab Bandung Brt 81.62 76.2 95.09 48.62 82.75 3.93 88. Kuningan SEDANG Kab.15 72.74 69.8 Kab.13 0.3 88.2 88.9 46.07 80.83 1.87 3 17.4 98.63 0. Kota Cirebon (5X1)+(2x2)= 9 Bandung Kab.06/02/2013 TAHAPAN PERENCANAAN DI PROVINSI HARMONISASI RENSTRA KAB/KOTA.81 1.65 2 5.38 92.88 8.1 82.65 20 Kota 2 SEDANG Kab.45 1. Kuningan 73.01 8.72 98.2 79.55 13.03 8 (3X1)+(2X2)=7 15.94 88.51 85.65 0.70 90.52 94.9 89.24 91.3 97.4 59.31 68.7 5 Kab.35 57.28 7 #DIV/0! #DIV/0! 105.17 94. Purwakarta 51.56 Kab. Bekasi 53.15 96.11 12.7 84.98 78.06 14.12 1.53 80 51.0 92.74 9 73.0 76.55 Sukabumi 11. Kab Karawang 85.9 82. Kt Bogor 7 Kab.71 60.89 (5X1)+(3X2)= 11 25 Kota Cimahi SEDANG Kab. Kab Indramayu Kab.33 0.9 95. Kab Cianjur 2.53 (1X1)+(1X2)=3 Kota Bekasi 22 16.5 4 Kab.89 JUMLAH MASALAH KATAGORI MASALAH 7 8 9 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 (5X1)+(2x2)= 9 SEDANG PENGELOMPOKAN KABUPATEN/KOTA (3X1)+(6x2)=17 BERAT BERDASARKAN KATAGORI MASALAH 3 Kab.67 91.96 46.38 4 .78 Kab.82 10.36 1. Indramayu 55.4 99.2 73. Karawang BERAT SEDANG RINGAN (5X1)+(2x2)= Ket : berat sedang ringan 10.06 87.63 83. Sukabumi Kab.52 82.71 79.35 98.56 0. Cirebon 3. Bandung (2X1)+(4x2)=10 SEDANG Kab.86 86. BandunG 0 Kab.60 94 8.93 93.34 22.3 16 Kab.06 0.01 92.7 67.1 74.61 62.89 3 7.13 74. Kab Bandung 3.30 69.19 96. Sumedang 11Cimahi Kab.85 67.2 91.18 Kab.92 3. Bandung 76.37 75. Kota Tasikmalaya 9. Kab Sukabumi 1.17 99.04 86.3 75.45 85.22 0.01 85.06 3 24 Kota Tasikmalaya (3X1)+(2X2)=7 SEDANG 5.90 73.6 8 89.Kab.72 Kota Bekasi 1 Kota Depok 2 99. Kab Cirebon RINGAN : <6 Prev ImM KN Kab.09 83.31 56.9 41.85 0. Sumedang 82. Cirebon (4X1)+(3X2)= 11 SEDANG Bila angka jabar lebih tinggi dp angka nasional maka angka jabar jadi patokan tertinggi BERAT : > 12 5.46 5 17 Kab Bandung Brt (4X1)+(5x2)=14 BERAT 7.89 46.45 94 8. Indramayu (3X1)+(3x2)=9 MAS SEDANG 7.8 87.13 29.38 79.19 4 1 Kab.8 95.2 79.34 95.Tasikmalaya 79.31 78.76 81.15 1.10 90.02 75.07 98.63 3 10. Subang SEDANG rang pak KAP Kota Bandung(2x1)+(3x2)=8 8.88 1. Cianjur 18 Kota Bogor 0.58 60.04 87.54 97. Majalengka (2X1)+(6x2)=13 BERAT Kab.60 8.83 91.01 48.Bogor JAWA BARAT 74. Kota Banjar 6.46 73.14 84.87 0.22 18.07 73.31 51.57 74.72 15.59 81.55 51.3 99. Bekasi (2X1)+(5x2)=12 SEDANG Kab.98 78.32 0.12 74.05 98.87 74.21 88.49 80.6 SKORE Kota Bogor 2.80 78.28 11.13 66.68 87.76 77.97 83. Bekasi 1 Kota Depok 5.37 63.15 57.2 77.1 72.0 88. Bogor 1 2 3 4 5 6 Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi 8.12 96. Ciamis (3X1)+(1X2)=5 Kota Depok 23 RINGAN Kab.01 90.57 21 Kota Cirebon SEDANG Kab.39 96. Kab Bekasi Kab.3 3.5 92.3 96.91 93.43 0.45 59. Kota Sukabumi (4X1)+(3X2)= 11 8 Kab.81 1.38 85.51 1.27 88.19 94.88 80.7 6 Kab. Bandung Prev API CDR AK Gi CamKN1 LENGPN K4 K1 HIV AB JAGA Gibur MAL TBC TBC 13 Kab. Subang 64.01 82.2 82.00 69.09 7.46 81. Ciamis 63.10 JAWA BARAT NASIONAL 8.44 2 Kab. Bogor 82.26 49.83 5 5.09 0.98 124.98 1.2 51.86 78.04 79.99 81.3 KN1 KN LENGKAP PN K4 K1 HIV API MAL CDR TBC AK TBC AB JAGA JML MAS PENGELOMPOKAN KABUPATEN/KOTA BERDASAR KATAGORI MASALAH TAHUN 2010 NO KABUPATEN Kab.76 63.42 84.1 93. Kab Majalengka KETERANGAN : ≥ angka nas ≥ angka Jabar < angka Nas < angka Jabar 31 RATA2 : 9.94 84.21 91.09 80. Garut SubanG (5x1)+(3x2)= 11 SEDANG Kota Banjar 3 72.46 68. Cianjur 78.28 94.90 59.33 4. Garut 82.7 77.5 93. Indramayu Kota Cimahi 2 57. Sumedang (3X1)+(2X2)=7 SEDANG : 6-12 SEDANG 6.85 99.84 1.83 39. Ciamis (3X1)+(4X2)=11 Kab.35 8.23 78.94 2 Kab. Kab Purwakarta 0.18 67.55 0.60 58.3 89.59 Kab.71 28.46 79.91 89.48 83.9 81.45 10.72 86.4 79.24 50.48 0.70 4 8.80 31.75 0.41 2 8.70 95.02 69.13 79.4 100.85 0. Cianjur (5x1)+(3x2)= 11 SEDANG Kota Tasikmalaya 67.85 73.38 0. Sukabumi 65.35 52 84.75 99.3 86.3 85.47 95.7 0.1 15 Kab.66 91.6 69.68 72.03 54.4 Kab.0 88.23 98. Tasikmalaya 7. Kab Ciamis 5. Kab Garut 4.86 99.37 94.53 80.54 3 7.44 65.33 73.43 0. Kab Tasikmalaya 2.81 Kota Tasikmalaya Kota Banjar 13.92 83.26 69.45 85.38 64.16 90.1 79. Kota Bekasi 9 Kab.50 96.25 74. Kota Bandung 3X1=3 19 Kota Sukabumi RINGAN 4.01 69. Karawang 73.7 81. PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA PADA MG 2 MARET DRAFT KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN SERTA DESK PROGRAM DAN ANGGARAN PADA PRAMUSRENBANG PERWILAYAH MG KE 3 DAN MG KE 4 BULAN MARET KONSULTASI DENGAN PUSAT TTG PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA PENENTUAN PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN PEMBANGUNAN KESEHATAN PADA MUSRENBANG PROVINSI AWAL BULAN APRIL MUSRENBANGNAS PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA MELAKSANAKAN PEMBAGIAN KEGIATAN DAN ANGGARAN KAB/KOTA MELAKSANAKAN MONEV PELAKSANAAN KEGIATAN DI PROVINSI DAN KAB/KOTA PERTEMUAN DI 5 WILAYAH EVALUASI 2011 DAN RENCANA 2013 22 SD 28 MARET 2012 • HASIL KINERJA 2011 • KEBIJAKAN PROGRAM KES PROV 2013 • MATERI SINKRONISASI • PROTAP PENGUSULAN KEGIATAN DAN ANGGARAN • RKA PROV 2013 • RKA KAB/KOTA 2013 • PENDUAN DISKUSI KELOMPOK TAHAPAN PERENCANAAN KAB/KOTA sesuai pergub No 79 tahun 2010 • IDENTIFIKASI PERMASALAH KAB/KOTA SAMPAI KE TINGKAT DESA • INFORMASI KEBIJAKAN PROGRAM KAB/KOTA • KONSULTASI PROGRAM DAN KEGIATAN DENGAN PROVINSI • INFORMASI KEBIJAKAN PROGRAM PUSAT DAN PROVINSI KEPADA KECAMATAN (PUSKESMAS) • RUMUSAN AWAL KEBIJAKAN DAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA N O LOKASI PRIORITAS INTERVENSI DATA SPATIAL MASALAH KESEHATAN SESUAI INDIKATOR DAN TARGET MDGs BIDANG KESEHATAN JAWA BARAT TAHUN 2010 KOTA Prev Gi rang Prev Gibur ImM Campak 92.2 84.6 87. Kab Subang 10.68 1.26 66. Kab Bogor 1.48 58.76 76.Tasikmalaya (2X1)+(6x2)=14 BERAT Kab.07 82.43 56.6 82.08 Kab.30 86. PROVINSI DAN PUSAT MENGINFORMASIKAN TENTANG KEBIJAKAN PROGRAM TAHUN YANG DATANG BERDASARKAN URUSAN PROVINSI MAKSIMAL PADA BULAN JANUARI PERTEMUAN SINKRONISASI DAN KOORDINASI PERENCANAAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA DENGAN KABUPATEN/KOTA MAXIMAL PADA BULAN FEBRUARI MENELAAH USULAN KAB/KOTA MENJADI RUMUSAN USULAN PADA MUSRENBANG KAB/KOTA PADA MG 1 BULAN MARET PERTEMUAN DI 5 WILAYAH EVALUASI 2011 DAN RENCANA 2013 22 SD 28 MARET 2012 INPUT PROSES • CERAMAH TANYA JAWAB • DISKUSI KELOMPOK PER KAB/KOTA • PENDAMPINGAN DISKUSI KELOMPOK DARI PROVINSI OUTPUT • HASIL IDENTIFIKASI MASALAH DAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN KESEHATAN PER KAB/KOTA • RUMUSAN PRIORITAS PROGRAM PEMBANGUNAN KES 2013 • RENCANA USULAN KEGIATAN PROVINSI DAN KAB/KOTA DARI BBG SUMBER DANA PERTEMUAN SINKRONISASI DAN KOORDINASI KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN PUSAT.23 86.95 98.50 53.7 92.92 98.54 1.35 102.55 50. Purwakarta (4X1)+(2X2)= 8 SEDANG 9.01 85. Cirebon 80. 78.64 78.7 1. Kab Kuningan Kota Kab.0 98.6 8.76 45.21 4 6.95 80.56 92. Kota Depok 10 Kab.15 1 7.26 94.56 85.1 80 52 Kota Cirebon JUMLAH 238 3. Kab Bandung Barat 4.53 67. Kota Cimahi RINGAN 46.22 Kab.49 95. Kab Sumedang Kab.38 77.88 89.03 95.74 42.55 - 0 0 4 98.3 70.48 3X1 = 3 RINGAN Kab.45 19.92 Kab.2 92. Purwakarta SEDANG NASIONAL 11.91 42.8 100 Kab. Kuningan 0.2 14 Kab.11 82.4 89. Majalengka 64.41 83. Garut 11. Majalengka JML Kota SukabumI KABUPATEN 12 Barat Kab.14 87.40 88. Karawang (4X1)=4 RINGAN Kab.

130.000 1.000. TASIKMALAYA CIAMIS MAJALENGKA KUNINGAN CIREBON INDRAMAYU SUBANG PURWAKARTA KARAWANG RSUD RSUD RSUD 20 RSUD 21 RSUD 22 RSUD 23 RSUD 24 RSUD 25 RSUD 26 RSUD 27 RSUD 28 RSUD 29 RSUD 17 18 19 17KAB.146 35.561.331.174 1.000 1.261.570.840.707.000 1.759.18 5.582.661.281.114 1.000 400.000 DANA APBN (TP & DAK) TAHUN 2012 RSUD.94 2.828.000 171.066.180.767.457.760.000 1.000.000.600.378 Jamkesda Kabkota 44.760.000 1.400.000 18.005 5.236.813.000.000 1.000 3.000.655. KAB.326.832.06 9.45 42.890.567.550.540.271 1.100.100.590. SUKABUMI KAB.400.000 - DANA ALOKASI KHUSUS 1.500.055.000 6.000.350 746.200.156.703.000 9.300 85.820 903.450 35.395.910.000 250.000 2.072.160.000 169.636.341.630.021.69 3.043.000 1.47 4.392.000 16.57 0.920.115.000 3.604.173.832.652.590.000.398.482.447.350.86 5.150 Kab Kota KAB.555.216.304.946.000.601.000.980 46.000 3.417.341. KAB.000 7.000 79.194.926.610.600.022.932.269.885 6.980.066 1.000 7.532.000 51.703 4.000 500.050.583.000 8.126.268.360.475.532.01 7.550.368.000.160.245.313.512.973.702.476.081. CIREBON KAB.382.200.417.790.198.450.401.000 2.107.980.000 6.124.000 12.000.000 480.834.000 2.004.120.942.000 3.000 63.000 3.893 63.509.500.780.000 2.000 1.367 2.676.843.855.000 1.700.237.600.746 576.190.399.000 2.822. 7KAB.000 6.234. BOGOR KAB.858.403.000.750.010.360.580.528.503.000 4.046.468.026 107.867 1.000 8.000 1.000 2.34 1.569.230.677.388 1.800.387.750.000 19 20 21 22 23 24 25 26 KOTA SUKABUMI KOTA BANDUNG KOTA CIREBON KOTA BEKASI KOTA DEPOK KOTA CIMAHI KOTA TASIKMALAYA KOTA BANJAR TOTAL 124.207.000 4.000 4.000.21 1.302.318.174 47.792.929.000 10.390.964.868 16.000 19.519.117.950 16.685. BEKASI UPTD 30 LABKESDA KAB.000 1.542.000.000 9.750.194 1.772.000 8.089.378.825 739.088.893.000.280.754.998.704.850.290.429.122.556.257.12 1.099 35.550.200.186 26.000 1.099.445.480.000 17.771.233.460.340.000 1.369.250.200.000.827 5.555.000 1.705.660.000 4.942.15 6.748.173.840.000.000 5.151 32.646 1.000.145.000 19.460.360.342.998.225.020.52 2. BANDUNG KAB.750.783.200.453.000 3.795.903.000.800.000 18.941.810.000 1.731.199.286.368 1.480.000.349.772.13 18KOTA 19KOTA 20KOTA 21KOTA 22KOTA DEPOK BOGOR SUKABUMI CIMAHI BANDUNG 33 RSUD DEPOK - 2.591.000 2.171.916.000.32 2.520.305.000 % APBD Total APBD2 Kes/Kab/Kot Kabkota a 2.210 20.000 9.000 1.000 4.850 12.000 400.000.157.04 14.650 744.000 1.000.963.172.550.410.302.000 1.000 41 42 43 5 .33 33.705.183 1.787.799.000 5.781.040.407.000 1.670.070.943.000 2.340.000 6.000 3.000.010.000 27% 39% 34% SUMBER DANA APBN APBD PROV APBD KAB KOTA TOTAL JUMLAH 1.000 9.052.678.701.600.782.758 2.195. SUKABUMI 3KAB.104.097. CIANJUR KAB.200.846. KAB.000 1.000 2.420. KOTA KOTA KOTA KOTA KOTA KOTA KOTA KOTA KOTA BANDUNG BARAT BANDUNG SUMEDANG GARUT TASIKMALAYA CIAMIS MAJALENGKA KUNINGAN CIREBON INDRAMAYU SUBANG PURWAKARTA KARAWANG BEKASI DEPOK BOGOR SUKABUMI CIMAHI BANDUNG TASIKMALAYA BANJAR CIREBON BEKASI JUMLAH BOK 3 8.897 65.000 11.717.000 3.250.000 5.200.560.500 1.550.120.000 294.343.464.000 5. 15KAB.769.000.000 2.980. CIANJUR 4KAB.90 3.000.473.270.457 56.130.787.824.439.750 7.SYAMSUDIN.000 4.000 9.169.157 39.300.147 1.472.944.000 5.350.783 903.000 2.250 4.296 2.000 26. SUMEDANG KAB.774.620.21 4.527.000.000 1.000 6.562. KAB.000 90.000 1.04 0.169.923 6.000.683 2.000 1.293.06 0.000 2.875.880.364. 12KAB.000 400.000 14.133.000 933.000 1.12 #DIV/0! 2.800.595.000 YANDAS 5 3.785 1.000.090.000.577.633.000 2.000 6.813.539.773.107. PURWAKARTA KAB.000 43.410.000.212.000.548.000 1. KAB.889.000 1.59 4.000 12.835.000 1.377.290.829.455.000.000 4.000.880.27 3.843.956.000.599. GARUT KAB.930.260.151.108.900. KAB.67 4.389.000 403.520.000.515.000.000 10.123.000.746.033 % 39.000 1. KAB.000 933.000.473.500.050.14 1.30 4.270.605 693. 14KAB.699.746. SUMEDANG GARUT CIBINONG CIAWI LABKESDA LEUWILIANG (B) SEKARWANGI PELABUHAN RATU JAMPANG KULON CIANJUR CIMACAN LABKESDA CILILIN (B) SOREANG MAJALAYA CICALENGKA SUMEDANG Dr.846.000 5.322.836.040.978.400.147.SH CIBABAT CIMAHI KOTA BANDUNG KOTA BANDUNG BANDUNG KOTA TASIKMALAYA 4.000. KAB.900.000 905.600.322.780.000 2.438 1.000 TUGAS PEMBANTUAN (TP) YANDAS 4 9.000 2.966.684 10.699.300.000 27.76 5.478.54 0.606.878.371.000.112.22 #DIV/0! 2.288.204 2.717. CIANJUR KAB.463.530.743.33 5.30 1.225.000.097.587.000.000 4.000.562.864 7.000.000 1.855.300.036.874.340.120. 13KAB.841.000 4.032.762.785.000 % APBD Total APBD2 Kes/Kab/K Kabkota ota 1.64 6.227. 10KAB.003.000 2.896.000 366.000.369.770.000.068.468.042 21.448 30.000.334.459.409.500 884.000 23.49 0.036.018.000 45.592.852.006.022 681.702.678.577.086 160.455.000 13.850.000 3.662 383.000 2.544.272.000 13.000.344.000 4.365 1. CIAMIS KAB.262. 5KAB. SLAMET PAMEUNGPEUK (B) KAB.591 1.000.000 10.991.450 Jamkesda Kabkota 20.200.983.089.000 7.000 4.000 2.351.000 7.925.907.000 3.898.982. 9KAB.022 770.194.000.031.329.95 #DIV/0! 1.640.000 3.000.063.906.000 3.874.46 4.000.091.692.000 8.878.225.806. KAB.561 14.000 2.188.647.904.885.860. BEKASI KAB.385.071 1.830.814.000 1.23 0.000 10.000 15.503.45 4.000. SUKABUMI KAB.410.666.757.284 827.000 2.667 4.189 38.950.774.627.642 22.000.901.000.000 - 2KAB.817.393 1.690.062.500.977 25.000.57 8KAB.200.804.000 8.000 9.715.000 6.320.000.960.300 85.68 1.03 #DIV/0! 3.498.330.441.050.611.641.521.915.000 16.000 4.656.861.351.630.930.433.457.825 1.000.000 TOTAL 28.148.460.961.010.820.81 0.421.566.760.000.559.267 7.29 0.489.700.125.97 100 2.000.393.64 6.010.480.033.000 96.856.071.900.813.000 184.300.160.934.000 3.80 5.000 15.730.070.000.000.000 22.787.710 1.519.006 11.575 27.665.452.956 982.958 1.050.000 14.156.710.264.305.362 1.000 3.000 3.000 10. KAB.279.506.695 50.000 15.150.000 4.000 27. LABKESDA KAB/KOTA & RSJ PROVINSI NO KABUPATEN/ KOTA 1KAB. KUNINGAN KAB.676 1.000 10.000 1.016.000. TASIK (B) CIAMIS MAJALENGKA CIDERES "45" KUNINGAN ARJAWINANGUN WALED INDRAMAYU PATROL SUBANG BAYUASIH KARAWANG REKAPITULASI ANGGARAN KESEHATAN KABUPATEN KOTA PROVINSI JAWA BARAT APBD2 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 2011 APBD Kes Murni 96.625.467.000.000 2.528.000 14.000 3.512.085.827 17.000 2.488.100 1.42 1.640.000.030.441 114.000 4.951.000 2.095.620.961 46. SUBANG KAB.481.960. 16KAB. TASIKMALAYA KAB.582.670.000.70 26. KAB.990.123. MAJALENGKA KAB.600.429.166. BANDUNG BARAT BANDUNG 6KAB.37 2.000 7.860.993.890.880.722.513.915.110. BOGOR NO RS RSUD RSUD UPTD 4 RSUD 5 RSUD 6 RSUD 7 RSUD 8 RSUD 9 RSUD 10 UPTD 11 RSUD 12 RSUD 13 RSUD 14 RSUD 15 RSUD 16 RSUD 1 2 3 RUMAH SAKIT TUGAS PEMBANTUAN 5.000 5.000 - 35 RSUD 36 RSUD RSKIA 38 RSJ 37 23KOTA TASIKMALAYA 39 RSUD 24KOTA 25KOTA 26KOTA BANJAR CIREBON BEKASI JUMLAH 40 RSUD RSUD UPTD RSUD BANJAR GUNUNG JATI LABKESDA KOTA BEKASI - 33.000 4. BANDUNG BARAT KOTA BOGOR 32.377 80.30 2.716.000 17.855.336.860 74.000 10.364. KAB.104.06/02/2013 PROPORSI BESAR ANGGARAN PEMBANGUNAN BIDANG KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT BERDASARKAN SUMBER DANA TAHUN 2011 APBN APBD PROV APBD KAB KOTA DANA APBN (TP &DAK) TAHUN 2012 DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 KABUPATEN/KOTA 2 KAB.000.371.950.208.000.149.637.190.000 61. 11KAB.000 4.600.734.424.613.300.166.705.000.607.931 18.974. KAB.660.000 1.000 1.000 3.146.136.000. BOGOR KAB.331. KARAWANG APBD Kes Murni 286.000 DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) OBAT GENERIK 6 16.000 7.736.133.45 34 RSUD R.898 1.900 6.950.284.004.000 2.000 1.000.000 3.767. INDRAMAYU KAB.829.570.048.37 9.000.192.000 2.504.930 16.000 1.430.659.193.739.830 1.000 15.628.702.080.020. BEKASI 31 RSUD UPTD 32 LABKESDA 16 17 18 KAB.000 73.372 5.412.000 3.205.716.576.000.725.140.840.549.000 9.934.000 4.836 52.

650 413.458.000.1 Mei 2012 23 – 30 April 2012 16 – 20 April 2012 2. kegiatan.000 2012 8. Cianjur Kab.24 April 2012 3.100 20.145.211. Belum terlaksananya proses perencanaan yang formal dan sistematis berdasarkan rasa tanggung jawab. sasaran. Sumedang Kab.5 Milyar 7 Milyar 2 Milyar 1. RUMUSAN SOLUSI Penetapan bersama prioritas program. berpikir secara analisis.000. Indramayu Pameungpeuk Arjawinangun Kota Tasikmalaya Kab.058. Menetapkan tindakan berdasarkan pilihan.730.000.5 Milyar 5 Milyar 30.626. Lemah dalam menganalisa dan menelaah keputusan yang telah diambil dan yang akan timbul.000 40.660 179.000 8. Perencanaan melakukan penataan problematika.11 Mei 2012 20 30 April . Verifikasi Renja OPD oleh Bidang Bappeda Rancangan Akhir Renja OPD 17 Penyempurnaan Renja OPD Hasil Verifikasi 29 Juni 2012 2012 16 – 23 April Verifikasi Renja OPD oleh Bidang Bappeda 23 April .06/02/2013 Bantuan Keuangan Gubernur untuk RSUD Tahun 2010 dan Tahun 2012 NAMA KEGIATAN Pemenuhan dan Peningkatan Sarana Prasarana RSUD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perencanaan dan Pembangunan Gedung Layanan Gakin 11 12 13 14 NAMA RSUD Kota Bekasi Cimacan – Kab. Bekasi Gunung Jati Cirebon Sekarwangi Kab. Sukabumi TOTAL 2010 1.182.577 JADWAL PENYUSUNAN RENJA DISKES JABAR 2013 PERMASALAHAN DAN RUMUSAN SOLUSI NO 1.tujuan.000 8.000 SUMBER DANA DAK DEKON TP JUMLAH TAHUN 2011 214. Merancang pengendalian Strategi dan Langkah dengan Sistem Rasional .31 Mei 2012 11 Juni 2012 22 Pengesahan Renja OPD/ Biro Tahun 2013 melalui Peraturan Gubernur 29 Juni 2012 Penetapan Renja OPD/Biro Tahun 2013 melalui Peraturan Kepala OPD 6 . 14 . Renstra OPD/Biro 10 Februari 2012 5 Penyampaian Surat Edaran Gubernur tentang Rancangan Awal RKPD 2013 14–29 Febr 2012 19 – 22 Maret 2012 26 Maret – 2 April 2012 Penyusunan Rancangan Renja OPD/Biro 2013 7–22 Febr 2012 Forum OPD/ Gabungan OPD Penyampaian Rancangan Awal Renja Ke Bappeda 8 7 .808.31 Mei 2012 21 Penyempurnaan Rancangan Akhir Renja OPD 14 .828.000.760 489.5 Milyar 1 Milyar 3. Cianjur Pelabuhan Ratu Kab.000 2012 295.5 Milyar 6 Milyar 1 Milyar 1. target dan pembiayaan antara pusat dan daerah .tanggung jawab dan kewenangan.458.730.417 164. PERMASALAHAN Belum terintegrasinya perencanaan.926.510 29.458.730.625. Tasikmalaya Cideres Kab.000 13.044.

3. 2.06/02/2013 MATERI “SINKRONISASI DAN SHARING ACTIVITIES” KEGIATAN UTAMA BIDANG KESEHATAN ANTARA DEPKES RI DINKES PROV DAN KAB/KOTA DI JAWA BARAT Tujuan Menjamin kesinambungan pelaksanaan kegiatan pembangunan kesehatan antar pusat dan daerah PERTEMUAN FORUM KORRDINASI BIRO PERENCANAAN DEPKES DENGAN KEPALA DINAS KESEHATAN PROVINSI/KABUPATEN/KOTA DAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA SE JAWA BARAT LEMBANG 12 S/D 14 NOVEMBER 2008 KONSEP • Operasionalisasi dari PP 38 (2007) • Membangun kemitraan dimana pusat. Provinsi and kab/kota saling mengisi/melengkapi dalam mencapai tujuan bersama  berfokus pada kesehatan ibu dan anak serta intervensi terkait yang berdampak langsung pada AKI. implikasi sumber daya ditentukan dan • Masalah spesifik akan diidentifikasi di mana diperlukan upaya kerjasama utk menyelesaikannya 7 . RUANG LINGKUP NORMA (Apa yang seharusnya) ANALISIS PEMBERLAKUAN KHUSUS PERUMUSAN KERJASAMA “MOU” • Target untuk outcomes dan intervensi perlu ditentukan. HIV/AIDS dan lainnya sesuai dengan epidemiologi setempat HAL-HAL DIPERHATIKAN: 1. 4. tanggung jawab diidentifikasi. AKB and AK Balita : – – – – – gizi Penyakit infeksi pada anak Penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi Malaria TB. 5. kegiatan dijabarkan.

sanitasi. ManajemenAlokasi Kes Daerah Building APBN APBD Formula KAYA • Fiscal I.06/02/2013 Selected sensitive Proxy indicators NORMA RUANG LINGKUP WUS NORMA HAMIL • KB (CU) • TT2+ Indikator Antara untuk penurunan AKB. Build • Pendampingan 8 . AKI dan prev Gizi Kurang LAHIR • Linakes • Kn1 BAYI/BALITA  Kes. Fiscal CapacityIII. higiene Pemberantasan malaria/Pengendalian Penyakit PENATAAN ALOKASI DAN UTILISASI Analisis DANA PEMERINTAH Indikator • Kesehatan Anak Layanan Inti • layanan neonatus • Immunisasi – campak. diarrhea) • Gizi esensial (gizi konsul kehamilan & kehamilan. menyusui. makanan tambahan. daerah Pro-equity • Besaran •masalah b. DPT3 • MTBS (penanganan pneumonia. Alokasi APBD unt Kes Capacity • Peningkatan BESAR ALOKASI Basis c. MEMENUHI PRINSIP Eppidemiological •Peningkatan “HOW TO ALLOCATE KECIL ADVOKASI * Unit Cost THE SCARCITY OF Alokasi APBN Burden of Disease RESOURCES” UNT KES Pengendalian • Faktor• pendukung • Cap. Ibu • ANC AKI …% • ASI dan MPASI • Vit A • Imunisasi • Tatalaksana kasus NASIONAL REGIONAL LOKAL (KAB/KOTA) • Suplementasi Gizi ANC Mikro NAKES (MMN/Fe) Air bersih. I. micronutrients) FISCAL CAPACITY a. IV.KHUSUS: II. capacity UMUM: MISKIN Indikator Nasional MDGs • Angka Kematian Balita • Angka Kematian Bayi • Cakupan imunisasi sebelum usia 1 tahun (campak) SPM Indikator daerah HARUS DISEPAKATI  RENSTRA DINKES • 80% komplikasi neonatal tertangani (2010) • 90% bayi mendapat kunjungan post-natal (2010) • 100% cakupan layanan vaksinasi di masyarakat (2010) • 100% anak dengan ASI mendapat makanan tambahan (2010) • 100% anak gizi buruk ditangani (2010) II.

kematian terkait TB • Cakupan deteksi TB dna pengobatan melalui program DOTS Layanan Inti .Diagnosis & manajemen pasien .Penggunaan Kondom . K4) • Unmet needs for family planning SPM • 90% persalinan ditolong oleh Nakes (2015) • 80% kehamilan berisiko tinggi mendapat penanganan layak (2015) • 100% akses thdp layanan gawat darurat di tiap kab/kota (2015) • Angka prevalensi KB mencapai 70% pada 2010 • Cakupan K4 mecapai 95% pada 2015 • 90% Ibu mendapatkan akses layanan post-partum pada 2015 Indikator Daerah HARUS DISEPAKATI  RENSTRA DINKES Indikator Nasional MDGs •Angka insiden dan kematian terkiat malaria •Proporsi balita yang tidur dengan kelambu berinsektisida (insecticide-bed nets) •Proporsi balita mendapat pengobatan malaria secara tepat SPM •100% deteksi dan penanganan malaria pada 2010 Indikator Daerah HARUS DISEPAKATI  RENSTRA DINKES Indikator • TB Layanan Inti • DOTS Indikator • HIV/AIDS SPM Indikator Daerah HARUS DISEPAKATI  RENSTRA DINKES Indikator Nasional MDGs • Angka insidens. prevalensi.Aksese thdp Obat .ProgramTB terpadu .Blood safety -Surveilens -.Perubahan Perilaku melalui Komunikasi .06/02/2013 Indikator • Kesehatan Ibu Layanan Inti • Antenatal care •Pertolongan Persalinan oleh NAKES •Layanan PONED/K •KB •STI (deteksi. pengobatan) Indikator • Malaria Layanan Inti • Mencari Pengobatan segera • Diagnosis dan Penanganan yang efektif • Profilaksis bagi Ibu Hamil • Kleambua berinsektisida dan materi lainnya Indikator Nasional MDGs • AKI • Cakupan persalinan ditilong Nakes • Ankga Prevalensi Konstrasepsi • Angka Kelahiran paa Remaja (Adolescent birth rate) • Cakupan Antenatal care (K1.Uji & Konseling Sukarela (VCT) -Pencagahan transmisi dari Ibu dan anak .Pelayanan bg anak yatim dan anak rentan lainnya Indikator Nasional MDGs Cakupan populasi dengan infeksi lanjut HIV mendapat akses thdp obat retrovial (ARV) SPM •100% deteksi dan penanganan kssus pada 2010 Indikator Daerah HARUS DISEPAKATI  RENSTRA DINKES •100% deteksi dan penanganan kasus pada 2010 9 .

malaria) Outcome/evaluation: Angka Kematian Balita. 7. Strandar dan Regulasi 2. campak.000 penduduk Outcome/evaluation: seroprevalence HIV pada usia15 -24 HIV/AIDS INDIKATOR YANG DIPANTAU Dalam penurunan AKI           Cakupan Pelayanan Antenatal (K1. 6. Kualitas Yankes Dasar dan Rujukan 9. Pemberdayaan Masyarakat 4. 5. Penguatan R/R 12. AngkaKematian Bayi Monitoring Pelaksanaan: • % Balita tidur dengan kelambu ber-insektisida • % Balita dengan akses MTBS • % Balita Sakit yang mencapat perawatan layak di rumah • % Bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif selama 6 bulan Monitoring Pelaksanaan: • % Bayi yang mendapat imunisasi Campak • % Bayi yang mendapat imunisasi DPT3 lengkap Monitoring Pelaksanaan: • % Ibu hamil yang mendapat pengobatan malaria intermiten • % fasilitas yang menyediakan lobat anti malaria ini pertama dan kedua • % Penduduk berisiko tinggi terserang malaria mendapatkan pengobatan dalam waktu kurang dari 24 jam Monitoring Pelaksanaan: • % Kasus TB terdeteksi mengikuti program DOTS yang dilaporkan • % Kasus TB terdeteksi yang diobati Monitoring Pelaksanaan: • % akses thd Kondom • % Kasus IMS yang ditangani scr benar • % donasi darah yang aman (terskrining) • % Penderita HIV/AIDS dengan infeksi oportunistik yang mendapat akses obat Penyakit Menular pada Anak2 yang dapat Dicegah dengan Vaksinasi Malaria Outcome/evaluation: Penurunan angka kesakitan penyakit menular yang dapat dicegah dengan Vaksinasi Outcome/evaluation: Penurunan angka kematian akibat Malaria(kelompok umu rbalita dan kelompok umur lainnya) CONTOH SINKRONISASI DAN PEMBAGIAN PERAN TB Outcome/evaluation: Angka Kejadian TB: Jumlah kasus baru pada tiap 100. Penyediaan Biaya Operasional 10. Peningkt. Alkes Yankes Dasar dan Rujukan CAKUPAN KUNJUKAN KN-2 CAKUPAN LINAKES 8. Dll 10 . K4) Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Nakes (PN) Cakupan Penanganan Komplikasi Obstetri Neonatal (KD) Cakupan Kunjungan Nifas (KF) Jumlah Kematian Ibu Jumlah Bidan di Desa Jumlah Bidan yang Terlatih APN Jumlah Puskesmas PONED berfungsi Jumlah RS PONEK (Yanmedik) berfungsi CPR NORMA PERCEPATAN PENURUNAN AKI Indikator Antara CAKUPAN PELAYANAN K-4 INTERVENSI / KEGIATAN 1. Pemenuhan dan Pelatihan SDM 3. Promosi Kesehatan Perbaikan Gizi Penyediaan Obat dan vaksin Peningkt. Penelitian/Kajian Survei 11.06/02/2013 Penyakit Menular–Indikator Sekilas Penykait Menular pada Anak2 (ISPA . Pembinaan 13.

P4K DI SETIAP PUSKESMAS Pelatihan Petugas PONEK Puskesmas DSOG 1. 5. KEMITRAAN BIDAN . 2. Peningkatan Sarana dan Fasilitas BERFUNGSINYA UTD / UTD RS 1.3. 3. 5. Pengadaan Alakon PUSKESMAS PONED Biaya Operasional RS PONEK Advokasi Bumil Hasil Aseptor UTD RS Pemda RS Kab RS Kab B D V V V V V 5. 5. Kabupaten Puskesmas Ormas dan Puskesmas Bidan Desa 2 Audit Pelayanan Kunjungan Rumah : Monitoring dan Evaluasi DSOG Bumil Kab Dokter Puskesmas Bidan Desa PRO V V VINSI V 5 V V KAB/ KOTA 6 V 3 V 4 V V V V V H. 2. Peningkatan Sarana Puskes. 2. 5. C E RS PONEK 24 JAM 1. 6. Provinsi.1. 7. Dalam Gedung Perawat Kab/Kota V V V V V 3. Pemetaan SDM Kesehatan Kabupaten V V 3. 3. V KEGIATAN/SUBKEGIATAN Kab SASARAN V V V V PEMBAGIAN PERAN VV V V V VV V V V PUSAT V V V 4. KEGIATAN/SUBKEGIATAN SASARAN PRO KAB/ KEC/ DESA PUSK UPAYA PERCEPATAN PENURUNAN AKI PUSAT VINSI VINSI KOTA PUSK KOTA NO. Pelatihan Petugas 1. sarana dan prasarana) dan siapa penanggung jawab / sumber keuangannya serta siapa pelaksana pengadaan Sub-sub Program dan Kegiatan Intervensi 1 PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT 1. Menetapkan Masalah Utama Program Menetapkan Norma untuk program dalam mencapai tujuan program Menetapkan Upaya untuk mengatasi masalah utama Menetapkan Kegiatan Utama dari upaya tersebut Menetapkan sub kegiatan untuk mencapai tujuan dari kegiatan utama Menetapkan Kewajiban  peran masing2 tingkatan dalam setiap sub kegiatan Menetapkan kebutuhan sumber daya yang diperlukan ( biaya. KEGIATAN/SUBKEGIATAN SASARAN PUSAT PRO KAB/ CONTOH KEC/ Desa NO. F. Kelompok Fasilitasi Calon donor darah Desa : Fasiltasi Pengadaan Perawat Biaya Operasional Puskesmas Fasilitasi pembentukan Bidan di Desa pembentukan 3. Pengadaan Pendampingan 1. 4. 4. 6. 2. 1 2. 5. 4 Pelatihan Petugas PONED Pelayanan Alkon V V Biaya Operasional Monitoring dan Evaluasi V V V V V V G. 3. 7. IMMUNISASI MATRIX PEMBIAYAAN DAN SUMBER PEMBIAYAAN Jumlah dan Sumber Pembiayaan Komponen Sasaran Total Dana APBN Dekon 4 TP DAK 5 Prov 6 APBD Kab/ Kota 7 2 3 Vaksin Alat Suntik Cold chain Pelatihan Operasional Sos-mob 11 .06/02/2013 KEGIATAN UTAMA UPAYA PENURUNAN AKI  P4K dng stiker di Seluruh Puskesmas  PONED / PONEK  Kemitraan Bidan – Dukun  Unit Transfusi Darah di RS Kabupaten  Pelayanan KB Berkualitas  Pemenuhan SDM Kesehatan PEMBAGIAN PERAN PEMBAGIAN PERAN KEGIATAN DAN SUBKEGIATAN PEMBAGIAN PERAN NO. V V V VV Bidan Dr. 3. 4. 3. 4. Monitoring dan evaluasi Fasilitasi Lokakarya DTPS Kab/Kota V V Kab/Kota V V V V V V VV PELAYANAN KB BERKUALITAS 8 Buku KIA Penyempurnaan 2.2. DISTRICT TEAM PROBLEM Peningkatan Fasilitasi V 1. Peningkatan Sarana dan Fasilitas … Desa Provinsi SASARAN RS PEMBAGIAN PERAN VPUSAT V V KEGIATAN/SUBKEGIATAN Sosialisasi Kab RS Kab PRO VINSI V V KAB/ KOTA V V KEC/ PUSK DESA A 2. 4. v v V V V V V v V v V V V V Dokterdarah Umum Donor DSOG Puskesmas 3. Dokter Puskesmas Bidan Kab/Kota V V V V V V V V V V V 3.DUKUN 1. PEMENUHAN SDM KESEHATAN 1. Pengadaan Stiker Biaya Pertemuan Rutin di Puskesmas Sosialisasi FasilitasI On The Job Training Kampanye Bumil Desa Dokter Bidan & Dukun Ormas Bidan DSOG Ormas V V NO . tenaga. Luar Gedung DSOg TUGAS MASING MASING PROGRAM 1. V V V V Audit Medik Pelayanan KB Pelatihan Tenaga UTD Fasilitasi Dokter Perawatan BidanDokter Dokter /Bidan Bidan 2. Dokter Re-orientasi di Pusat.

58 790.26 5.00 30 0 0 50 0.83 .73 2.64 4. 551.51 4. 050.60 20 7.0 50.0 70. I PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT MISKIN 1APembiayaan 2 Pelatihan Petugas yankesPONEK maskin2 B PUSKESMAS PONED 1 Jamkesmas 2 jamkes Provinsi 1 Peningkatan Sarana dan Fasilitas 3 On The Job Training 4 1 2 PEMBAGIAN PERAN PUSAT PROVINSI DAN KABUPATEN KOTA DALAM PENCAPAIAN IPM SASARAN RS vertikal SASARAN 3 RS Provinsi RS Kab DSOG 3 Dokter maskin BPS Bidan maskin non bangunan DSOG kuota alat Dokter kesehatan Bidan jamkesmas DSOG pemeliharaan maskin Dokter non dokter kuota Bidan RS Puskesmas Provinsi jamkesmas bidan RS Pemda 3 PUSAT 4 PROVINSI KAB/KOTA 5 PERAN 6 PEMBAGIAN PUSAT PROVINSI KAB/KOTA 100% PEMBAGIAN PERAN 4 5 6 50% 50% PUSAT PROVINSI KAB/KOTA 100% 50% 50% 100% 50% 4 50% 50% Sub-sub Program dan Kegiatan dan sub kegiatan Intervensi Sumber Pembiayaan Target Total Dana Tngkt Peren canaa n APBN Dekon TP DA K 5 Prov APBD Kab/ Kota 7 Kec/ Pusk 8 APD Desa 40% 50% 5 50% 50% 50% 50% 6 100% 100% 100% 100% 100% 60% 100% 100% 3 2 9 5 Audit Pelayanan jamkesda Kab/Kota Pengadaan Tenaga Kesehatan Fasilitasi 2 3 4 6 100% 100% 100% 100% BPembiayaan persalinan D BERFUNGSINYA UTD / UTD RS 1. . Pemb nggul Alat Desa 7.75 1.3 3.7 86.1 86.68 6.10 1.93 1.7 16.3 3. 674.0 29.1 20. 1.3 29.8 73. 700. 144. 700.50 750.62 12.83 . 74. Kabupaten dan Puskesmas Kunjungan RumahKB Audit Medik Pelayanan 6 Peningkatan Fasilitasi 3 Biaya Operasional Puskesmas DISTRICT TEAM PROBLEM 7 Monitoring dan evaluasi 3. 74.7 149.08 4.26 5.5 73.73 2.54 4.4 32.4 716 32.1 28.60 20 7.75 3.10 4.5 29.58 0.0 00. 124. 15. Provinsi. 737 .17 . 0.0 70.5 73.90 30 4. 0 50 50 11. 20 30 43.0 50.0 50.95 5.51 4.81 6.02 9.1 20. 5.0 00. eranta angan suntik 0.6 352.2 73.05 6. 4. 76. 352. 80 20 28. 674.55 9. gahan dan Peng suntik 9.00 50 4. 124.55 367. 050. 3.5 0 0 50 4.0 0 20 35. 5.58 0. 00 20 4. 2 Pelatihan Petugas KABIDANG ……………………………… ttd H.6 . 0 50 50 11.7 820. 372.7 .3 116.3 43. 1. 3 PELAYANAN KB BERKUALITAS 3 Fasilitasi 1 Pengadaan Alakon 4 Re-orientasi di Pusat.06/02/2013 KEBUTUHAN PEMBIAYAAN BIDANG ……… TAHUN 2010 PEMBAGIAN PERAN PERAN PUSAT PUSAT PROVINSI PROVINSI DAN KABUPATEN KABUPATEN KOTA KOTA DALAM DALAM DAN MDGs PEMBAGIAN DAN PENCAPAIAN IPM IPM DAN DAN MDGs PEMBAGIAN PERAN PENCAPAIAN MDGs NO.10 551. 20.3 22.6 20.17 1.00 00 50 00 20 00 30 0.19 4. 72.2. 731.2 10.0 50.8 43. 4. 187. 00 58.10 4. 880.00 0. 124.2 73.89 7.62 312. 72.6 36. 1. 23. 731.08 4. 352.00 30 4.62 312.50 50.5 1.07 70. 216.4 05. 5.50 750.LAH DAN SUMBER BIAYA DAN SUMBER BIAYA 2010 2013 2009 2011 2012 BIA SUBTARGE BIA SUB SUB APBD APBD YA APBD APBD APBD APBD APBD APBD APBD APBD SUB PROG KEGI T YA APBN/P APBN/P APBN/P APBN/P APBN/P BIDA KEGIAT BIDA RAM ATAN KINERJ 200 PROVIN KAB/KO 200 PROVIN KAB/KO PROVIN KAB/KO PROVIN KAB/KO PROVIN KAB/KO NG AN HLN HLN HLN HLN HLN SI TA SI TA SI TA SI TA SI TA 9 NG A 9201 AB AB AB AB AB AB ABS % ABS % ABS % % ABS % ABS % % ABS % ABS % % % ABS % % % ABS % 3 S S S S S S 1.17 .05 6. 3.62 12. 700.1 28.84 4.5 0 0 50 4.7 149.8 06.75 9.0 50.17 .08 4.05 ml 5.51 4. kit Menul y box suntik 101.68 6.7 3. 367.3 144.7 . 1.1 00.58 3.54 4.50 50.0 82.1.83 .2 30.42 9.7 32.89 7.2 73. 187.5 00 50 50 00 20 50 30 00 0 50 0 20 0 30 00 0 50 0 20 0 30 00 0 50 0 20 0 30 00 0 50 0 20 0 30 00 0 50 11. 84.87 2. 144.3 0. .4 716 32.8 43.5 61.2 136 20.6 . 1.6 0 20 551 .90 23. 9. 870 .8 43.00 00 50 80 20 20 30 4.2 73. 223.1 49.10 4.07 70.4 11.60 20 7.4 716 32. 235.77 1. 731. 124.77 1.00 20 6.0 86.00 30 0.0 50.5 ml 368.0 86.60 7.00 00 50 00 20 00 30 0. 187.8 73. 865.0 86.79 235.0 7. 551.4 11.62 0.37 5.00 20 0. 3.3 144. 149.54 4.7 16. 176 28.51 4. 612.7 00. 00 30 6.6 36.02 9.62 12.77 1.8 59. 700.05 6. 050.25 3. 50. 176 760. Cakupa 500.00 20 0.3 43.2 136 ar Immu 0.00 00 50 00 20 00 30 UCI san Penya dan Pengad Penya kit Safet aan alat 10.7 . 1.1 24.89 7.17 587.3 3.84 86.73 1.3 116. 149. 72.58 0.12 1. KEGIATAN SASARAN NO KEGIATAN C RS PONEK 24 JAM NO 1 Peningkatan Sarana dan Fasilitas KEGIATAN 1 2 .5 0 30 4. 551.81 6.0 54. ibu bersalin 1 jaminan Peningkatan Sarana II 2 PENINGKATAN KESEHATAN IBU Pelatihan Tenaga UTD 2 DI Pelatihan Petugas PONED 3 Fasilitas AP4K SETIAP PUSKESMAS 4 1 5 2 Biaya Operasional Pengadaan Stiker Monitoring dan Evaluasi Sosialisasi Kampanye F.00 00 50 80 20 20 30 4.90 8. 23. 528.17 587.1 00. 163.1 86.55 367.2 73. 10.5 29. 0.00 00 50 00 20 00 30 0. 352.7 820. 820.00 0.10 431.76 1.7 32.2 10.6 86.67 4.5 1.51 7. 187.8 43. 23.4 05.90 30 23.93 0. 116. 0 00 50 587 1. dan Pena adaan 0.7 149. 4.68 6.90 30 12 .77 1.6 .0 86.2 73.00 00 50 80 20 20 30 4. 816 .00 50 0. 50.89 00 0 50 0 20 0 30 0 00 50 0. DISKES PROVINSI DAN KAB/KOTA SE JAWA BARAT TAHUN 2009-2013 EXCELL JUMLAH PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE JUM JUMLAH PERSENTASE JUM JUMLAH PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE DAN SUMBER BIAYA DAN SUMBER BIAYA LAH DAN SUMBER BIAYA 2009.83 919.82 0.5 0 50 23. 367. 360. 9.0 50.00 20 0. 235.0 0 30 352 .50 8.8 0 20 4.00 20 0. Dalam Gedung 5 3 1 2 3 Lokakarya DTPS Pendampingan Penyempurnaan Hasil 3. DISKES PROVINSI DAN KAB/KOTA SE JAWA BARAT TAHUN 2009-2010 DAFTAR PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN KESEHATAN YANG AKAN DIKERJASAMAKAN DEPKES. 105 .00 20 0. 72.9 0 30 Safety Box 72.10 1. 674.6 352. .50 5.4 32.77 1.0 00. 352. 0.8 44. 176 28. Pence Bantu Pengad Upaya Pence gahan an aan alat 919 919 Kes.8 44.65 9. 544 .8 44.81 6. 0. 820.00 30 0 0 50 0.6 352.0 0 20 235 . 3.50 50.10 8.02 9.5 29.4 20.1 86.26 5. 0.10 551.51 4. 1.68 6.3 144. 9. 731. 305 .07 745.7 0 30 7.08 nisasi 4. 4.73 2.56 0.5 81.6 10.4 05. 76.83 919.8 44.2 136 73.58 790.05 6. Luar Gedung Advokasi Bidan desa ibu UTD bersalin perawat Dokter Bidan Bumil Ormas Perawat Ormas Provinsi PUS Maskin Ormas Dokter Kab/Kota Bidan Puskesmas Bumil Dokter Bidan Kab/Kota Puskesmas Kab/Kota Kab/Kota 100% 100% V V 100% 100% 100% 100% 100% 100% V 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% V 100% 100% 100% 100% 100% 100% DAFTAR PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN KESEHATAN YANG AKAN DIKERJASAMAKAN DEPKES.36 22.00 30 n Pengad aan alat 587 587 suntik 5 5.83 2.6 352.1 87.00 00 50 80 20 20 30 JUMLAH PERSENTASE DAN SUMBER BIAYA 2013 APBD APBD APBN/P PROVIN KAB/ HLN SI KOTA AB AB AB % % % S S S 919 1.79 235.79 5.11 6.0 83.73 2.84 73. ml 7.54 4. 551.26 0.59 1.7 149. 0 50 50 TOTAL 117.7 22.5 1.36 22.00 00 50 367 .36 22. 721.00 30 0 00 50 0.0 86.10 1. 116.89 0.5 29. 00.00 00 50 10.4 05. 352.3 144. 352. 050.3 22.5 61. 674.02 9.26 5.4 86.81 6.

Keuangan Pembangunan. Rutin • Epidemiologi Siapa yang bertanggung jawab untuk menjamin input yang dibutuhkan? • Monitoring dan Pelaporan – Permasalahan kesehatan apa yang spesifik di daerah? – Bagaimana daerah menyikapinya? – Manajemen Informasi Kesehatan yang Adekuat – Sistem Manajemen Keuangan dan Administrasi yang adekuat * * * Butuh bantuan teknis. layanan konsultasi dari Pusat? • • Untuk kinerja manajemen Untuk penyediaan layanan kesehatan Wass…….06/02/2013 Kegiatan & Tanggungjawab KEGIATAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN Pusat /prov/kb/kt Pusat Provi/kab/kota PELAKSANAN PENGADAAN Pusat /prov/kb/kt Pusat Provi/kab/kota Kegiatan & Tanggungjawab KEGIATAN TJ KEUANGAN PELAKSANA PENGADAAN Staff • Pegawai Negeri • Pegawai PTT • PegawaiKontrak Promotion Konstruksi • Pembangunan baru • Rehabilitasi. Fisik. Terima kasih Hatur Nuhun 13 . rekonstruksi Peralatan Kendaraan Material dan Barang Habis Pakai • Vaccines • Obat TB • Obat lainnya • Suplemen Gizi • Bahan habis pakai kesehatan/kedokteran • Bahan habis pakai Training • Pre-service • In-service Biaya Operasional • Sewa • Utilities • Pemeliharaan rutin Public-private contracting Tantangan • Target setting • • • – Apa implikasi dari sumber daya? – Di mana sumber daya ini bisa didapatkan? Tenaga.

atau dari bawah ke atas menurut jenjang pemerintahan. Misi dalam RPJM/D 2. Proses Bottom-Up dan Top Down Perencanaan yang aliran prosesnya dari atas kebawah.Siklus Utama Aktivitas Perencanaan Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran Provinsi & Kabupaten/Kota Oleh : Kabid Renstik Bappeda Provinsi DIY 1 Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience PROSES PERENCANAAN 1. 4.Proses Politik Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience 1 . 1. Proses Politik Pemilihan Presiden/kepala Daerah menghasilkan rencana pembangunan hasil proses politik. al. Proses Teknokratik Menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja secara fungsional bertugas untuk itu 3. Melalui musrenbang. khususnya penjabaran Visi. Proses Partisipatif Perencanaan yang melibatkan para pemangku kepentingan pembangunan (stake holder).

Kemenkeu Penyaji Kepala SKPD Penyaji Kabid Bappeda Penyaji Kab/Kota Pimpinan Desk Kabid Bappeda Penyaji Ka. serta kapasitas SDM dan institusi dalam proses penyusunan prioritas pembangunan RKPD Provinsi Tahun 2012 Persiapan Penyusunan RKPD Tim Penyusun RKPD 2. Kemendagri. DIY Arahan Pusat (Bappenas. Ka. Bappeda Prov. Proses Teknokratik Pengolahan data dan informasi Telaahan kebijakan nasional Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Rancangan Awal RKPD Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Analisis Ekonomi & keuda Evaluasi Kinerja RKPD Tahun Lalu Perumusan prioritas dan sasaran pembangunan beserta pagu Perumusan Kerangka Ekonomi & Kebijakan Keuda Perumusan program prioritas daerah beserta pagu indikatif RPJMD Dok RKPD kab/kota tahun berjalan Penyelarasan Rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience 2 . Kemendagri.Proses konsultasi yang dilakukan dengan DPRD Rangkaian Panjang Acara Musrenbang RKPD (1 bulan) Arahan Awal Sekda. Bappeda & TAPD 29 Feb Top Down Top Down Entry di Aplikasi Jogjaplan 9 Maret Rancangan Awal RKPD Pembukaan Musrenbang 19-26 Maret 12-20 Maret Forum SKPD 28 Maret Forum Gabungan SKPD 27 Maret Penyaji Bappenas. Kemenkeu) Telaah atas hasil Forum SKPD & Rencana tindak lanjut dari Bidang2 sektoral Bappeda dikombinasi dengan konsep Expert Long list Usulan Kab/Kota Verifikasi: long list menjadi short list Short List Usulan Kab/Kota 2-9 April Top Down Pokok-pokok pikiran DPRD Provinsi DIY 12 April Forum Gabungan Kab/Kota Trilateral Desk Penutupan Musrenbang Buttom Up Usulan SKPD Unlimited Learning Experience Buttom Up Usulan Kab/kota Rancangan Akhir RKPD Penggunaan data dan informasi.

Tema 10 Prioritas 23 Sasaran 144 Indikator Sasaran (target yg hrs dicapai) 244 Program Jika program/kegiatan tidak sesuai dengan indikator sasaran yang harus dicapai (telah ditetapkan).jogjaplan.com yang berbasis web Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience Proses konsultasi yang dilakukan dengan masyarakat sipil Persiapan Penyusunan RKPD Pengolahan data dan informasi Telaahan kebijakan nasional Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Pokok-pokok pikiran DPRD provinsi Rancangan Awal RKPD 3. Proses Partisipatif Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Analisis Ekonomi & keuda Evaluasi Kinerja RKPD Tahun Lalu Perumusan prioritas dan sasaran pembangunan beserta pagu Perumusan Kerangka Ekonomi & Kebijakan Keuda Perumusan program prioritas daerah beserta pagu indikatif RPJMD Dok RKPD kab/kota tahun berjalan Forum Konsultasi Publik Penyelarasan Rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience 3 . Interface www. maka program/kegiatan yang diusulkan akan “terpental/tertolak”/tidak bisa masuk karena tidak punya kontribusi terhadap Indikator Sasaran (target yg hrs dicapai).

Proses Buttom-Up Forum Lintas Sektor & Lintas Wilayah Rangkaian Acara Musrenbang Provinsi DIY Tahun 2012 Forum Gab SKPD 27 Mar 2012 Penutupan Musrenbang 12 April 2012 Trilateral Desk 2-10 April 2012 Forum Kab/Kota 28 Mar 2012 Pasca Musrenbang Masyarakat dapat berpartisipasi pada setiap tahapan Musrenbang terutama di Forum SKPD dan Gabungan (baik sektoral maupun kewilayahan). telepon. ataupun website Bappeda Unlimited Learning Experience Proses konsultasi yang dilakukan dengan Pemerintah Kabupaten/Kota Long list Usulan Kab/Kota Verifikasi: long list menjadi short list Short List Usulan Kab/Kota 28 Maret Forum Gabungan Kewilayahan Kab/Kota 2-9 April Trilateral Desk 12 April Penutupan Musrenbang 5.Proses konsultasi yang dilakukan dengan masyarakat sipil Pra Musrenbang Pembukaan Musrenbang 9 Mar 2012 Forum SKPD 12-20 Mar 2012 Entry Aplikasi Perencanaan 19-26 Mar 2012 4. serta melalui surat. Proses Top-Down Pimpinan Desk Kabid Bappeda Buttom Up Usulan Kab/kota Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience 4 .

2/2009 RENJA KL Pedoman RKA . Kemenkeu) Telaah atas hasil Forum SKPD & Rencana tindak lanjut dari Bidang2 sektoral Bappeda dikombinasi dengan konsep Expert Entry di Aplikasi Jogjaplan 19-26 Maret 12-20 Maret Pembukaan Musrenbang Forum SKPD 28 Maret Forum Gabungan SKPD 27 Maret Penyaji Kepala SKPD Penyaji Kabid Bappeda Konsultasi Triwulanan maupun konsultasi lain UKPPD Top Down Top Down Top Down Top Down Forum Gabungan Kab/Kota Rancangan RKPD Penyaji Kab/Kota Buttom Up Usulan SKPD Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience Hirarki Perencanaan dan Penganggaran UU 25/2004 RENSTRA KL Pedoman HIRARKI PENYUSUNAN RENCANA & ANGGARAN RPJPD 2005-2025 dijadikan pedoman PERDA No.Proses konsultasi yang dilakukan dengan Pemerintah Pusat Hirarki Perencanaan Arahan Pusat (Bappenas.KL RINCIAN APBN Pemerintah Pusat RPJP NASIONAL pedoman RPJM NASIONAL Pedoman dijabarkan diacu RPJMD 2009-2013 dijabarkan PERDA No. Kemendagri. 4/2009 RKP Pedoman RAPBN APBN RPJP DAERAHggara n pedoman diacu RPJM DAERAH RENSTRA SKPD PERENCANAAN diperhatikan Pedoman Diserasikan melalui MUSRENBANG RKPD dijabarkan PERGUB RKPD Pedoman KUA PPAS Pedoman RAPBD APBD dijadikan acuan 2012 Pemerintah Daerah KUA PPAS 2012 dijadikan dasar NOTA KESEPAKATAN Pedoman RENJA SKPD Pedoman RKA SKPD PENJABARAN APBD PENGANGGARAN Unlimited Learning Experience APBD 2012 PERDA & PERGUB penjabaran Unlimited Learning Experience 5 .

Hukum. Kreativitas. Keterkaitan antara RKPD Provinsi dengan RPJMD Provinsi Pentingnya Keterkaitan RKPD Provinsi Th 2012 merupakan penjabaran dari RPJMD Provinsi Th 2009-2013 Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience b.a. dan Keamanan Bidang Perekonomian Bidang Kesejahteraan Rakyat 6 . Keterkaitan antara RKPD Provinsi dengan RKP 2012 Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pendidikan Kesehatan Penanggulangan Kemiskinan Pendidikan dan Kebudayaan Kesehatan Pariwisata Ketahanan Pangan & Agro Industri Iklim Investasi dan Usaha Infrastruktur Penanggulangan Kemiskinan Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana Reformasi Birokrasi Pengarusutamaan Gender Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience Ketahanan Pangan RKP Infrastruktur Iklim Investasi dan Usaha Energi Lingkungan Hidup dan Bencana RKPD Daerah Tertinggal. dan Pasca Konflik Kebudayaan. dan Inovasi Teknologi Bidang Politik. Terluas. Terdepan.

mengoptimalkan sumber daya alam berwawasan lingkungan serta mengembangkan daya saing ekonomi lokal berbasis penanggulangan bencana Penyelarasan dengan Prioritas Nasional Prioritas 10: Pengarusutamaan Gender Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience Konsistensi Perencanaan & Penganggaran Pentingnya Konsistensi Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience 7 . Hidup & Mitigasi Bencana Prioritas 9: Reformasi Birokrasi & Tata Kelola Kulon Progo Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Pengurangan Kemiskanan Kota Yk Mewujudkan visi kota yogyakarta dengan jiwa dan gerakan segoro amarto Mengembangkan kualitas sumber daya manusia dan IPTEK.Visi RPJPD Visi RPJMD Tema RKPD Penyelarasan Tema Tahun 2012 “Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat” “Perluasan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat” pembangunan kembali akibat bencana guna Prioritas 1: Pendidikan & Kebudayaan Misi 1: Pendidikan Misi 2: Budaya Misi 3: Pariwisata Misi 4: Kesra Misi 1: SDM & Budaya Prioritas 2: Kesehatan RKP RKPD DIY Bantul Gunungkidul Pengembangan Usaha Masyarakat dan Daya Dukung Pariwisata Serta Peningkatan Pelayanan Dasar Misi 2: Pariwisata Prioritas 3: Pariwisata Prioritas 4: Ketahanan Pangan & Agro Industri Prioritas 5: Iklim Investasi & Usaha Prioritas 6: Infrastruktur Prioritas 7: Penanggulangan Kemiskinan Sleman Peningkatan kesejahteraan dan percepatan pemulihan pasca bencana melalui pemberdayaan masyarakat dan peningkatan pelayanan yang berkualitas Misi 3: Good Governance Katalisator Misi 4: Sarana & Prasarana Prioritas 8: Lingk.

Perencanaan dan Penganggaran Tahunan Daerah

Gambaran Kesesuaian RKPD 2012 dengan RAPBD 2012
Kondisi RKPD 2012
Jumlah Jumlah Jumlah SKPD Program Kegiatan 34 244 2.364 Pagu Anggaran 1.692.470.668.382

Kondisi KUA PPAS 2012
Jumlah Jumlah Jumlah SKPD Program Kegiatan 34 244 2.364 Plafon Anggaran 1.715.172.040.257

Kondisi APBD 2012
Jumlah Jumlah Jumlah SKPD Program Kegiatan
Dalam evaluasi APBD oleh Kemendagri: RKPD_KUA PPAS_RAPBD harus konsisten 29
Unlimited Learning Experience

Anggaran 2.124.288.709.311
Unlimited Learning Experience

34

244

2.364

Ranc. Awal RKPD Ranc. Awal Renja-SKPD Ranc RKPD Musrenbang Ranc. Akhir RKPD

Skenario Musrenbang Tahun 2010
Pra Musrenban g Forum SKPD Forum Gabungan

RKPD

Renja-SKPD KUA - PPAS RKA - SKPD RAPBD

Pasca Musrenban g

Sidang Kelompok

Musrenban g

APBD

SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN
Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience

8

Rangkaian Musrenbang Tahun 2010
Arahan Gubernu r Sinkronisasi tema, prioritas dan program strategis dengan kab/kota RKPD Usulan Kab/Kota

Skenario Musrenbang Tahun 2011
Pra Musrenbang Forum SKPD Forum Gabungan

Rakor Teknis SKPD Prov

Rancanga n Akhir RKPD Rancanga n awal RKPD Forum SKPD

Pasca Musrenbang

Sidang Kelompok

Musrenbang

Forum Gabungan

Musrenban g

Sidang Kelompok
Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience

Rangkaian Musrenbang Tahun 2011
Arahan Gubernu r Musrenban g Sidang Kelompok

Pra Musrenba ng

Skenario Musrenbang Tahun 2012
Entry Aplikasi Perencanaan

Pembukaan Musrenbang

Forum SKPD

Rangkaian Acara Musrenbang Provinsi DIY Tahun 2012 Forum Gab SKPD Penutupan Musrenbang Trilateral Desk Forum Kab/Kota

Rancanga n awal RKPD

Forum SKPD

Forum Gabungan

RKPD

Pasca Musrenbang
Unlimited Learning Experience

Masyarakat dapat berpartisipasi pada setiap tahapan Musrenbang
Unlimited Learning Experience

Forum Lintas Sektor & Lintas Wilayah

Rakor Teknis SKPD Prov

Usulan Kab/Kota

Rancanga n Akhir RKPD

9

Rangkaian Musrenbang Tahun 2012
Arahan Awal Sekda, Ka. Bappeda & TAPD Arahan Pusat (Bappenas, Kemendagri , Kemenkeu) Top DownEntry di Aplikasi Jogjapla n Telaah atas hasil Forum SKPD & Rencana tindak lanjut dari Bidang2 sektoral Bappeda dikombinasi dengan konsep Expert Long list Usulan Kab/Kota
Verifikasi: long list menjadi short list

Revitalisasi Musrenbang Provinsi Tahun 2012
Sebelumnya
Hanya Event Ceremonial (waktu hanya 1-2 hari) Hanya terfokus pada sudut pandang Sektoral saja

Menjadi
Lebih substansial & terbuka terhadap partisipasi masyarakat (waktu 1 bulan) Kombinasi Fokus dan Lokus (Keterkaitan antar sektor) Trilateral Desk (membahas persandinganpersandingan guna mensinergikan kab/kota, prov, dan pusat) Didukung Aplikasi Jogjaplan, SIPR, SIPD dan Web Monev
Unlimited Learning Experience

Top Down

Top Down

Short List Usulan Kab/Kota

Pokokpokok pikiran DPRD Provinsi DIY Penutupan Musrenba ng

Rancang an Awal RKPD

Pembukaa n Musrenban g

Forum SKPD

Forum Gabung an SKPD

Forum Gabunga n Kab/Kota

Trilateral Desk

Tidak ada Trilateral Desk
Buttom Up Usula n SKPD Buttom Up Usulan Kab/kot a Rancanga n Akhir RKPD Unlimited Learning Experience

Belum didukung Aplikasi yang memadai untuk menyajikan data

Terima kasih

Unlimited Learning Experience

10

Antar unit seluruhnya menyatu SINKRONISASI Sinkronisasi Kebijakan Pusat – Provinsi – Kab/kota Perencanaan Renja KL –SKPD Prov –SKPD Kab Penganggaran APBN – APBD Prov – APBD Kab 1 . SARMINTO. M.KES Pusat Daerah SKPD/ Unit2 Antar level – Antar fungsi .2/6/2013 PERLU SINKRONISASI PENYELENGGARAAN Pembangunan Kesehatan SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PROVINSI DAN KABUPATEN / KOTA BIDANG KESEHATAN KEPALA DINAS KESEHATAN PROV DIY Dr.

Belum terlindunginya masyarakat secara maksimal terhadap beban pembiayaan kesehatan. Hipertensi dll • Diabetes Mellitus Usulan APBD Prov Usulan Kab/kota Usulan Prov Sinkronisasi Sinkronisasi Usulan APBN Prov Usulan Prov Pusat • NAPZA • Kecelakaan Sinkronisasi Rencana Kinerja 2 . diabetes dll 2. gizi buruk. kematian & Kesakitan akibat akibat kecelakaan dan rudakpaksa 3. kematian akibat penyakit degeneratif . kematian & Kesakitan DBD. • DBD. Stroke. d Hubungan Masalah Prioritas Dg UHH DERAJAD KESEHATAN Umur Harapan Hidup Renstra Depkes RPJMD Renstra Kota Sinkronisasi Renstra Bantul Renstra Klprogo Renstra Gnkidul Renstra Sleman Kebijakan Pokok DInkes Rakor Program2 dg Kab/kota Renstra SKPD Dinkes DIY Sintesa & Usulan Rakor Program2 di Pusat Rakerkesda Kematian Umum Kematian Balita Kematian Bayi Kematian Ibu Forum SKPD Musrenbang MASALAH PRIORITAS Penyakit Menular • TB. gizi kurang dan gizi lebih 4. MASALAH PRIORITAS 1.Jantung. penyakit akibat penyalahgunaan Napza dan IMS 8. dan malaria 7. Regulasi & Sistem Kes. kardiovaskuler. DIY Kebijakan Nasional RPJPN RPJMN Renstra KL Renja KL Permasalahan Kesehatan Prioritas DIY DERAJAT KESEHATAN Kematian Ibu Kematian Bayi Kematian Balita Umur Harapan Hidup Kebijakn Kab/kota Kebijakan Pemb. • HIV/ AIDS.2/6/2013 Kerangka Pikir Sinkronisasi Dinkes Prov. prevalensi HIV/AIDS d 6. prevalensi penyakit TB 5. • Malaria • Status Gizi Penyakit Tidak menular • CVD . aksesibilitas terhadap yankes yg berkualitas 9.Kes Provinsi DIY Kebijakan Provinsi RPJPD RPJMD Renstra SKPD Renja SKPD 1.

Provinsi – kab/kota Pemerintah – Swasta – Masyarakat – LSM Lintas Sektoral (horisontal – vertikal di DIY) Lintas Program – Unit termasuk UPT Lintas Penyandang Dana (BHLN-Donor dll) 3 .2/6/2013 Program Kerja Dinkes Prov.DIY • Manajemen Kesehatan • Sistem Informasi • Penelitian Pengembangan • Pencegahan &pengendalian penyakit • Pelayanan Kesehatan • Promosi dan pemberdayaan • Kesehatan keluarga • Perbaikan Gizi Masyarakat • Pengembangan Lingkungan Sehat • • • • Status Gizi Kematian Ibu Kematian Bayi Kematian Balita Kegiatan untuk Sinkronisasi (Dinkes DIY-2012) • Kebijakan – – – – – – – – – – – – – Review Renstra Penyusunan Renja Rakor dengan Kabupaten/kota Sinkronisasi Perencanaan dan Anggaran Sinkronisasi Perencanaan dan Anggaran –Provinsi dan Kab/kota Rakor Sinrkonisasi Pusat & Daerah Forum Sinkronisasi Prov & Kab/kota Forum SKPD (Lintas Fungsi oleh Pemprov) Musrenvang Provinsi Rakerkesda Forum Renja Lintas Fungsi dan Lintas Kab/kota Forum di tingkat unit lintas fungsi dan lintas kab/kota Koordinasi dan Konsultasi Daerah dan Pusat • Sediaan farmasi per bekalan kes &makanan • Pendidikan Kesehatan dan SDM • Renstra Dinkes DIY • Perencanaan dan Penganggaran • • • • Penyakit Tidak menular Penyakit Menular Kecelakaan NAPZA • Pembiayaan kesehatan Harapan • Sinkronisasi dalam permasalahan pokok • Sinkronisasi dalam arah kebijakan • Sinkronisasi dalam manajemen – Perencanaan – Penganggaran – Evaluasi • • • • • • • • Contoh… Program / kegiatan yang berhasil disinkronkan melalui sharing dana (2012) Malaria (APBD Provinsi >< APBD Kab Kulon Progo) TFC (APBD Prov >< APBD G Kidul dan K Progo) Penanganan Gizi Buruk/Gizi Kurang (APBN >< APBD) UKBM / Desa Siaga (APBN versus APBD Prov >< APBD Kab/kota) Kab/kota Sehat (APBD Prov >< APBD kab/kota) Pengembangan Pasar Sehat (APBD Prov >< WHO) Audit Maternal Perinatal ( APBD Prov ><APBD kab/kota) Survailance Penyakit ( APBN >< BBTKL><APBD Prov ><APBD kab/kota) • Pengendalian Penyakit dan KLB ( APBN >< BBTKL><APBD Prov ><APBD kab/kota) • dll • Implementasi : – – – – – Pusat .

xlsx – Outcome : Pencapaian tujuan Pembangunan nasional dan daerah – Impact : inefisiensi – inefektifitas – Output : kekacauan sistem pembangunan kes.Program / kegiatan yang berhasil disinkronkan melalui sasaran (2012) • Jamkesmas . Jamkesos.2/6/2013 Contoh…Program / kegiatan yang berhasil disinkronkan dg LOKASI (2012) Contoh…. 4 . dan Jamkesda (walaupun masih perlu upaya lebih lanjut) • STBM (APBN versus APBD Prov >< APBD Kab/kota) • Pengawasan dan Keamanan Pangan (APBN versus APBD Prov >< APBD Kab/kota) • dll • Promosi Kesehatan (Provinsi dan Kab/kota) UPAYA SINKRONISASI MASIH PERLU DITINGKATKAN Contoh Program / kegiatan yang berhasil disinkronkan untuk Tahun 2013 Permasalahan Sinkronisasi • Jenis – Dis-sinkron antar Level (Pusat – Daerah) – Dis-sinkron antar Fungsi (Lintas Sektor) – Dis-sinkron antar Program (internal) • Ancaman • PROSES 2013\rekap rinci per kab diambil dari sheet renja dinkes 2013 pasca quality.

2/6/2013 5 .