P. 1
Laporan Akhir Kajian_GABUNG

Laporan Akhir Kajian_GABUNG

|Views: 175|Likes:
Dipublikasikan oleh Herry Supriyadi

More info:

Published by: Herry Supriyadi on Dec 19, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2015

pdf

text

original

Laporan Akhir

KAJIAN BIDANG KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT: SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH TAHUN ANGGARAN 2012

0 Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa, laporan kajian mengenai Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah ini dapat kami selesaikan. Laporan ini disusun melalui serangkaian kegiatan yang sangat intensif seperti seminar, lokakarya, diskusi dengan pakar, pejabat pemerintah, dan pelaku di lapangan, kunjungan lapangan, studi literatur dan dukungan beberapa kajian lainnya. Kajian ini dilakukan untuk menyusun rekomendasi kebijakan terkait sinkronisasi perencanaan dan penganggaran pusat dan daerah khususnya bidang kesehatan dan gizi masyarakat. Hal ini dalam rangka untuk meningkatkan kualitas perencanaan dan penganggaran bidang kesehatan dan gizi masyarakat. Dengan demikian diharapkan rekomendasi kajian ini dapat memberikan kontribusi dalam perumusan arah kebijakan dan strategi dalam perencanaan dan penganggaran kesehatan antara Pusat dan Daerah. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak baik di pusat maupun daerah yang telah memberikan kontribusi dalam pelaksanaan kajian. Semoga laporan kajian ini dapat memberikan manfaat kepada seluruh pembaca dan kepada bangsa Indonesia dalam mewujudkan Indonesia Masa Depan yang Maju, Mandiri, Adil dan Makmur. Amin.

Jakarta, Desember 2012

Dr. Hadiat, MA Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat – Bappenas

1 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah

TIM PENYUSUN KAJIAN SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH TAHUN ANGGARAN 2012

Penanggung Jawab

: Dra.Nina Sardjunani, MA

Ketua Anggota

: Dr. Hadiat, MA : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ir. Yosi Diani Tresna, MPM; Sularsono, SP, ME; Dra. Esti Nurhayati, MM; Erwin Dimas, SE, DEA, MSi; Benny Azwir, ST, MM; Inti Wikanestri, SKM, MPA; Dewi Amila Solikha, SKM; Sidayu Ariteja, SE; dan Asep Zaenal Mustofa, SKM, M.Epid.

Tim Pendukung

: Nurlaily Aprilianti

2 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI Kata Pengantar ........................................................................................ Tim Penyusun .......................................................................................... Daftar Isi .................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN............................................................................ A. Latar Belakang ............................................................................. B. Permasalahan .............................................................................. C. Tujuan ........................................................................................... D. Ruang Lingkup............................................................................. E. Metodologi .................................................................................. F. Manfaat yang Diharapkan............................................................ BAB II KERANGKA PIKIR KAJIAN............................................................. 2.1. Landasan Normatif Perencanaan Nasional.............................. 2.2. Kerangka Pikir Kajian................................................................. BAB III HASIL PELAKSANAAN DAN ANALISA KAJIAN ............................ A. Siklus Perencanaan Dan Penganggaran (Musyawarah Perencanaan Pembangunan..................................................... B. Identifikasi Regulasi yang Mendukung Pelaksanaan Perencanaan dan Penganggaran di Pusat dan Daerah........... C. Analisa Situasi dan Review dalam Proses Perencanaan dan Penganggaran Tingkat Provinsi (Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Gorontalo)........................................................................... D. Faktor yang Berpengaruh Dalam Sinergi dan Sinkronisasi Perencanaan............................................................................ BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan............................................................................... B. Rekomendasi........................................................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Rencana Kerja K/L tahun 2012 Berdasarkan Program Per Kegiatan UKPPD K/L Persandingan UKPPD K/L Alokasi Belanja Urusan Kesehatan (diluar gaji) Kumpulan Paparan Workshop Kegiatan Kajian

Halaman 1 2 3 4 4 5 5 6 6 6 7 7 10 12 12 16

20 33 37 37 37

3 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional yang termaktup dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Tujuan utama pembangunan nasional adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dilakukan secara berkelanjutan. Berdasarkan visi pembangunan nasional di atas maka melalui pembangunan kesehatan yang ingin dicapai demi mewujudkan Indonesia sehat sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia juga untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdasarkan kehidupan bangsa maka diselenggarakan program pembangunan secara berkelanjutan, terencana dan terarah. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Peningkatan status kesehatan dan gizi masyarakat merupakan salah satu komponen penting dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia sekaligus untuk meningkatkan daya saing bangsa. yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).Dalam RPJMN 2010—2014 pembangunan diarahkan untuk memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. Pada era desentralisasi sekarang ini, perencanaan dan penganggaran kesehatan di daerah telah menjadi isu yang sangat penting, terutama bila dikaitkan dengan implementasi desentralisasi administrasi pemerintahan dan implementasi prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik. Selain itu secara substantif perencanaan dan penganggaran juga memiliki arti penting jika dikaitkan dengan penerapan prinsip-prinsip demokrasi dalam alokasi sumber daya publik. Secara umum, ada lima instrumen hukum utama yang secara langsung melandasi kerangka desentralisasi perencanaan dan penganggaran daerah yang berlaku di Indonesia saat ini, yaitu: 1) Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 2) Undangundang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; 3) Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; 4) Undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah; serta 5) Peraturan Pemerintah No. 38 Tahun 2007 Pembagian Urusan Pemerintah antara Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota.

4 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah

Kerangka desentralisasi merupakan peluang sekaligus tantangan bagi upaya pembangunan kesehatan, terutama dikaitkan dengan sinkronisasi perencanaan dan pengganggaran kesehatan di pusat dan daerah. Keberagaman serta dinamika yang terjadi di daerah adalah potensi yang dapat mendukung ataupun melemahkan kebijakan nasional di tingkat pusat. Sesuai dengan Keputusan Men.PPN/Kepala Bappenas No. PER05/M.BAPPENAS/10/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, tugas pokok Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, koordinasi, sinkronisasi pelaksanaan penyusunan dan evaluasi perencanaan pembangunan nasional di bidang kesehatan dan gizi masyarakat, serta pemantauan dan penilaian atas pelaksanaannya. Sedangkan bidang pembangunan yang menjadi ruang lingkup tugas pokok dan fungsi Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat meliputi bidang kesehatan dan gizi masyarakat, serta pengawasan obat dan makanan. Dalam rangka perumusan kebijakan perencanaan pembangunan nasional, maka dipandang perlu dilakukan suatu kajian khusus dan atau paper kebijakan untuk mempertajam perencanaan pada tahap selanjutnya. B. Permasalahan Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam melakukan sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan di pusat dan daerah, antara lain:
1.

Siklus perencanaan dan penganggaran pusat terkait dengan jadwal belum sesuai dengan siklus penganggaran di daerah; Penterjemahan kebijakan kesehatan di daerah yang belum sesuai kebijakan nasional di pusat; Peran pembiayaan pusat yang belum sepenuhnya mendukung kebutuhan pembangunan kesehatan di daerah

2.

3.

C. Tujuan Secara umum tujuan dari kajian ini adalah tersusunnya rekomendasi terkait dengan sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan antara pusat dan daerah dalam rangka meningkatkan kualitas perencanaan dan penganggaran kesehatan di Indonesia. Secara khusus tujuan kajian ini adalah:
1.

Untuk mengetahui kesesuaian siklus perencanaan dan penganggaran antara pusat dengan daerah, Untuk mengetahui kesesuaian kebijakan antara pusat dan daerah terutama dalam menterjemahkan kebijakan pusat kedalam kebijakan daerah, Untuk mengetahui peran pembiayaan kesehatan pusat dalam mendukung kebutuhan pembiayaan kesehatan daerah

2.

3.

5 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah

desk review. dilakukan analisis data secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Mempelajari pelaksanaan forum musyawarah perencanaan pembangunan di daerah dan nasional. Untuk pengumpulan data dilakukan melalui indepth interview dengan narasumber. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). mempertimbangkan waktu pelaksanaan musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan) di daerah. Pengumpulan data dilakukan pada 3 (tiga) propinsi yaitu. DIY dan Gorontalo) dengan kebijakan RKP (Nasional). Jawa Barat. kunjungan lapangan. Sedangkan Di Provinsi Gorontalo kunjungan lapangan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan musrenbang. E. Kajian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. terkait pelaksanaan proses perencanaan dan penganggaran di pusat dan di daerah. Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan kajian ini meliputi: pengumpulan dan pengolahan data dan informasi yang terkait dengan perencanaan dan penganggaran kesehatan di pusat dan daerah. Mengidentifikasi peraturan yang mendukung pelaksanaan perencanaan dan penganggaran kesehatan baik di pusat dan di daerah. Workshop daerah dilaksanakan di Provinsi Jawa Barat dan DI Yogyakarta. dan Gorontalo. Manfaat Yang Diharapkan Hasil kajian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi unit perencana dan pelaksana di Kementerian/Lembaga dan SKPD yang terkait dalam pembangunan kesehatan dan gizi masyarakat dalam menyusun arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan baik di pusat dan daerah. workshop pusat dan daerah. dan konsinyasi).D. 5. Metodologi 2. mencakup : 1. Menggali pendapat dari pemangku kebijakan dan para pakar. F. 4. Pada tahap setelah dilakukan pengumpulan data dan informasi. 6 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . 3. Mempelajari siklus perencanaan yang dilakukan mulai di tingkat daerah (provinsi) sampai tingkat pusat. Mereview kesesuaian Kebijakan RKPD pada 3 (tiga) provinsi (Jabar.

berkeadilan. (3) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. (3) pengendalian pelaksanaan rencana. terpadu. berwawasan.1). 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional menghendaki arah dan tujuan kebijakan pembangunan diselenggarakan berdasarkan demokrasi dengan prinsip-prinsip kebersamaan.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengatur pengeloalan keuangan negara. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional diselenggarakan berdasarkan azas umum penyelenggaraan Negara. dan pengawasan. (2) menjamin terciptanya integrasi. lingkungan serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan Nasional. dan tanggap terhadap perubahan. A. (1) penyusunan rencana. Tahap penyusunan rencana dilaksanakan untuk menghasilkan rancangan lengkap suatu rencana yang siap untuk ditetapkan yang terdiri dari 4 (empat) langkah. Langkah pertama adalah penyiapan rancangan rencana pembangunan yang bersifat teknokratik. antarruang. terarah. Sedangkan langkah keempat adalah penyusunan rancangan akhir rencana pembangunan. dan terukur. berkeadilan. yaitu memadukan Undang-Undang No.II. 25 Tahun 2004 tentang SPPN. Perencanaan pembangunan nasional disusun secara sistematis. antarfungsi pemerintah maupun pusat dan daerah. dan Rencana 7 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Sistem perencanaan pembangunan nasional bertujuan untuk (1) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan. Langkah kedua. Langkah berikutnya adalah melibatkan masyarakat (pemangku kepentingan) dan menyelaraskan rencana pembangunan yang dihasilkan masing-masing jenjang pemerintahan melalui musyawarah perencanaan pembangunan. dan (5) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. penganggaran. Tahap berikutnya adalah penetapan rencana menjadi produk hukum sehingga mengikat semua pihak untuk melaksanakannya. menyeluruh. Keempat tahapan diselenggarakan secara berkelanjutan sehingga secara keseluruhan membentuk satu siklus perencanaan yang utuh. berkelanjutan. dan berkelanjutan. sinkronisasi. masing-masing instansi pemerintah menyiapkan rancangan rencana kerja dengan berpedoman pada rancangan rencana pembangunan yang telah disiapkan. Tahapan perencanaan pembangunan nasional meliputi. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Undang-Undang/Peraturan Daerah. efektif. KERANGKA PIKIR KAJIAN Landasan Normatif Perencanaan Nasional Pelaksanaan Undang-Undang No. dan sinergi baik antardaerah. antarwaktu.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan Undang-Undang No. Alur sistem perencanaan dan penganggaran baik di Pusat maupun di daerah (Gbr. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Peraturan Presiden/Kepala Daerah. (4) mengoptimalkan partisipasi masyarakat. (2) penetapan rencana. pelaksanaan. dan (4) evaluasi pelaksanaan rencana. menyeluruh. Menurut Undang-Undang No.

Misi. ekonomi. Misi. Gambar 1. dan arah pembangunan nasional untuk periode 20 (dua puluh) tahun. sumber daya alam. Dokumen ini lebih bersifat visioner dan hanya memuat hal-hal yang mendasar sehingga memberi keleluasaan yang cukup bagi penyusunan rencana jangka menegah dan tahunannya. misi. Program Kepala Daerah RenstraSKPD Acuan Pedoman RenjaSKPD Pedoman RKASKPD Rincian APBD UU SPPN UU KN Selanjutnya perencanaan pembangunan jangka panjang nasional diikuti dengan penentuan pilihan arah untuk pembangunan kewilayahan. Program Presiden Dijabarkan Pedoman RPJP Nasional Pedoma (UU No. Oleh karena itu. Dokumen RPJP diperlukan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi secara perlahan sehingga tidak terasa dalam jangka pendek. budaya politik. dan keamanan. pertahanan. Informasi ini digunakan sebagai bahan penyusunan visi pembangunan untuk periode rencana yang dimaksud. Alur Sistem Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan di Pusat dan Daerah Visi. tetapi dapat menimbulkan masalah besar bagi kesejahteraan rakyat dalam jangka panjang. sarana dan prasarana. memuat visi. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP).Pembangunan Tahunan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Peraturan Presiden/Kepala Daerah. serta 8 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Perubahan yang demikian antara lain terjadi pada demografi. pada tahap awal penyusunan RPJP Nasional pemikiran visioner yang berkaitan dengan perubahan jangka panjang diatas perlu dihimpun dan dikaji dengan seksama. sosial. n 17/2007) Acuan Pedoman Pedoman RenstraKL RenjaKL RKA-KL Rincian APBN Pemerintah Pusat Acuan Dijabarkan RPJM Nasional RKP Pedoman RAPBN APBN Diperhatikan Dijabarkan Diserasikan melalui Musrenbang RPJP Daerah Pedoman RPJM Daerah RKP Daerah Pedoman RAPBD APBD Pemerintah Daerah Pedoman Dijabarkan Visi.

berkelanjutan. serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan nasional. Kedudukan dokumen rencana aksi dengan dokumen perencanaan. dan agama. ekonomi. hukum. dan perundang-undangan. keamanan. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. pemerintah juga perlu mendorong. Komitmen ini. Walaupun bernama rencana kerja pemerintah. dan program prioritas Presiden ke dalam Rancangan Awal. Pemerintah melalui Instruksi Presiden No.3 Tahun 2010 tentang Pembangunan Berkeadilan mengamanatkan agar daerah menyusun rencana aksi. Dengan demikian tahap awal dari penyusunan RPJM Nasional adalah penjabaran visi-misi. namun perlu disadari bahwa pembangunan nasional utamanya dilaksanakan oleh masyarakat itu sendiri. politik. Semua kegiatan pemerintah ini dikategorikan sebagai kegiatan dalam kerangka regulasi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional adalah rencana pembangunan nasional untuk periode 5 (lima) tahun yang merupakan penjabaran dari visi. ditindaklanjuti dengan rancangan peta penuntun penyusunan kebijakan kunci (road map) yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Rancangan Awal ini dijadikan sebagai pedoman bagi semua kementerian/lembaga dalam menyusun Rencana Strategisnya (Renstra-KL). memuat prioritas pendanaannya. Di samping itu. dan memfasilitasi kegiatan masyarakat. misi. untuk menjembatani komitmen-komitmen internasional terkait pembangunan kesehatan seperti pencapaian target pembangunan Millenium (Millenium Development Goals).2) 9 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Yang diperlukan dari pemerintah adalah aturan agar kegiatan masyarakat itu sendiri sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan yang ditetapkan dalam pasal 33 UNDANG-UNDANGD 1945 yaitu berdasarkan demokrasi dengan prinsip kebersamaan. sebagaimana gambar berikut (Gbr. berwawasan lingkungan. Saat ini terkait dengan pencapaian bidang kesehatan telah disusun Rencana Aksi Daerah (RAD) MDGs dan RAD Pangan dan Gizi. Rancangan akhir disusun dengan mengakomodasi hasil Musrenbang dan kemudian ditetapkan menjadi RPJM Nasional. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. berkeadilan. Draft RPJM Nasional disusun dengan menggunakan Renstra-KL dan menjadi bahan bagi Musrenbang Jangka Menengah. mengkoordinasikan. Disamping itu. dan program prioritas Presiden yang disusun dengan berpedoman pada RPJP. rencana kerja dan pendanaannya. pertahanan. rancangan kerangka ekonomi makro.arah pembangunan bidang-bidang kehidupan seperti sosial. Dokumen rencana aksi memuat perencanaan dan penganggaran untuk periode 5 tahunan.

perencanaan partisipatif diwujudkan antara lain melalui musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) di mana sebuah rancangan rencana dibahas dan dikembangkan bersama semua pemangku kepentingan. Daerah Istomewa Yogyakarta. perkembangan perencanaan partisipatif bermula dari kesadaran bahwa kinerja sebuah prakarsa sangat ditentukan oleh semua pihak yang terkait dengan prakarsa tersebut. dengan fokus pada siklus perencanaan dan penganggaran dan menilai efektifitas pelaksanaan forum Musrenbangnas dan Musrenbangda. Semua pihak yang terkait selanjutnya dikenal dengan istilah pemangku kepentingan (stakeholders). kelompok profesional. dan lain-lain. Hal lainnya yang akan dikaji untuk melihat sinkronisasi perencanaan dan penganggaran ini adalah melakukan review dokumen kebijakan pada provinsi terpilih (Jawa Barat. Kedudukan RAN-PG/RAD-PG dan Roadmap MDGs/RAD-MDGs dalam Dokumen Perencanaan Nasional Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). masyarakat. Pemangku kepentingan berasal dari semua aparat penyelenggara negara (eksekutif. Komitmen semua pemangku kepentingan adalah kunci keberhasilan program.Gambar 2. B. Dari hasil serangkaian tahapan tersebut akan dianalisis secara mendalam dan terstruktur hal-hal yang menjadi bottleneck atau faktor-faktor penghambat dalam sinkronisasi perencanaan dan penganggaran pusat dan 10 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . legislatif. pemilik usaha. dan Gorontalo) untuk melihat penterjemahan kebijakan perencanaan dan penganggaran pusat ke daerah. Proses perencanaan dan penganggaran baik di pusat dan daerah merupakan hal utama yang akan direview. Kerangka Pikir Kajian Kerangka pikir kajian menjelaskan tentang lingkup hal yang akan menjadi bahasan dalam kajian. kaum rohaniawan. dan yudikatif). Dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. dan diyakini bahwa besarnya komitmen ini tergantung kepada sejauhmana mereka terlibat dalam proses perencanaan. organisasi non pemerintah.

daerah. Kerangka Pikir Kajian Proses Perencanaan & Penganggaran (Pusat & Daerah) Gambaran siklus perencanaan dan penganggaran Gambaran efektivitas forum musrenbang Penterjemahan Kebijakan Perencanaan & Penganggaran (Pusat & Daerah) Review dokumen kebijakan (sandingan RKP & RKPD) Analisis terhadap Proses Perencanaan dan Penganggaran serta Dokumen Kebijakan (Pusat & Daerah) Rekomendasi upaya sinkronisasi kebijakan (Pusat & Daerah) 11 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Pada tahap akhir diharapkan dapat dirumuskan rekomendasi dalam rangka sinkronisasi perencanaan dan penganggaran pusat dan daerah. Gambar 3.

pemerintahan daerah (provinsi dan kabupaten/Kota). provinsi. Secara rutin dan konsisten pelaksanaan Musrenbang ini telah diselenggarakan dalam proses penyusunan perencanaan pembangunan baik untuk rencana pembangunan jangka pendek. melalui suatu forum yang disebut sebagai Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang. 12 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Musrenbang mempunyai peranan strategis untuk mengakomodasi semua masukan dari kementerian terkait. Setiap proses penyusunan dokumen rencana pembangunan tersebut memerlukan koordinasi antar-instansi pemerintah dan partisipasi seluruh pelaku pembangunan. dan tahunan melalui penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Alur perencanaan dan penganggaran daerah berawal dari kegiatan Musrenbang Desa pada bulan Januari yang kemudian dilanjutkan dengan Musrenbang Kecamatan pada bulan Februari. Tujuan pelaksanaan Musrenbang pada intinya adalah untuk menghasilkan kesepakatan –kesepakatan antarpelaku pembangunan tentang rancangan rencana kerja pemerintah dan rancangan kerja pemerintah daerah. kecamatan. yang menitik beratkan pada pembahasan untuk sinkronisasi rencana kerja antar-kementerian/lembaga/satuan kerja perangkat daerah dan antardaerah. jangka menengah. forum SKPD. Pemerintah masih berkomitmen dan berupaya untuk melakukan penyempurnaan mekanisme dan format Musrenbang baik dari segi tingkat partisipasi. Siklus Perencanaan dan Penganggaran (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) Sesuai amanat Undang-Undang No.III. implementasi dan keluarannya. dan panjang. lembaga non kementerian. dan komponen masyarakat guna mencapai perencanaan aspiratif yang berjenjang dari tingkat lokal sampai nasional. menengah. Forum Musrenbang tersebut adalah (i) Forum antarpelaku dalam rangka menyusun rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah. HASIL PELAKSANAAN DAN ANALISA KAJIAN A. Sampai dengan saat ini. dan (iii) Diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dengan mengikutsertakan masyarakat. kabupaten/kota. salah satu tahap yang harus dilalui dalam proses penyusunan rencana pembangunan jangka panjang. dan regional sampai tingkat nasional. Pada bulan Maret dilakukan Forum SKPD untuk membahas penyusunan Renja SKPD Kabupaten/ Kota dan pada bulan yang sama diadakan Musrenbang Kabupaten/Kota. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Pemerintah telah merintis langkah-langkah yang membuka peluang masyarakat untuk turut merencanakan dan menganggarkan biaya yang diperlukan untuk pembangunan di wilayah mereka. (ii) Forum pemangku kepentingan dalam rangka menyusun rencana pembangunan daerah dimulai dari tingkat desa/kelurahan. baik dari aspek regulasi maupun praktek di lapangan. Sebagai komponen dari komunikasi publik.

Arahan pusat ke daerah masih normatif. Pada Musrenbang 2011 telah teridentifikasi kelemahan yang terjadi ada pada 7 titik kritis pelaksanaan musrenbang yaitu : 1. Belum jelasnya kriteria penetapan prioritas. Pemprov dan Bappenas) dan hasil dari evaluasi menunjukkan bahwa waktu pembahasan relatif mencukupi. Musrenbang ditujukan untuk mengefektifkan perencanaan dan penganggaran dengan melihat berbagai kendala seperti sumber daya manusia yang terbatas dan dari segi tataran birokratis. melakukan pemetaan di UPPD jika terjadi perubahan nomenklatur di Renja K/L serta integrasi aplikasi Renja dan UPPD. isu strategis provinsi. Pembahasan hanya pada kegiatan dengan sumber pendanaan dekonsentrasi/Tugas Perbantuan sehingga belum terlaksananya pembahasan Dana Alokasi Khusus (DAK).Selanjutnya pada bulan Mei dilakukan penetapan RKPD. Penyusunan RKA-SKPD dan RAPBD ditetapkan pada bulan Juli—September yang selanjutnya akan dibahas dan disetujui Rancangan APBD dengan DPRD bulan Oktober—November. menggunakan format pembahasan trilateral desks (K/L. 3. sehingga diharapkan 13 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Evaluasi Rancangan Perda APBD. Rencana Penyelenggaraan Rangkaian Musrenbang Dalam Rangka Penyusunan RKP. Pada PraMusrenbangnas pada tahun 2011 yang dilakukan satu hari untuk satu wilayah. agar dapat menjadi acuan bagi provinsi untuk mendukung sasaran pembangunan nasional dan juga bagi Kementerian dan Lembaga dalam mengalokasikan resource ke daerah. 6. Pada Musrenbang selanjutnya diharapkan akan ada penentuan prioritas bidang DAK. Pelaksanaan APBD dilakukan pada Januari tahun berikutnya. Waktu pembahasan sinkronisasi program /kegiatan terbatas. Nomenklatur kegiatan Kementerian dan Lembaga dengan daerah belum sepenuhnya sama terutama akibat adanya Inisiatif Baru sehingga hal ini diharapkan tetap mengikuti nomenklatur Renja K/L. Pembahasan dan kesepakatan KUA antara KDH dengan DPRD serta pembahasan dan kesepakatan PPAS antara KDH dengan DPRD dilakukan pada bulan Juni. diharapkan menggunakan prioritas nasional. 5. 7. 4. Berdasarkan evaluasi pada tahun 2011 diketahui bahwa isu strategis belum sepenuhnya dijadikan kriteria seleksi sehingga diharapkan pada tahun-tahun kedepan penetapan kegiatan prioritas berdasarkan isu strategis Provinsi. dan RKA-KL sebagai arahan ke daerah. Tujuan dan sasaran yang disampaikan dari pusat ke daerah kurang tajam sehingga diperlukan pembahasan dan kesepakatan isu strategis ada pada forum Triwulanan I dan menjadi fokus pembahasan pada rangkaian Musrenbang. penetapan Perda APBD dan penyusunan DPA SKPD dilakukan pada bulan Desember. Tindak lanjut dari hasil musrenbangnas tidak pasti sehingga diinginkan ada suatu keberlanjutan dari proses yang sudah ada. 2. Hal ini dikarenakan verifikasi oleh Direktorat Sektoral terhadap Renja mitranya belum berjalan. Maka dari itu. Hal ini terkait dengan kualitas isu strategis Provinsi yang perlu lebih disempurnakan.

Gambar 4. Isu strategis pada Musrenbang 2012 akan diberi tanggapan oleh provinsi itu sendiri dan diharapkan dari isu strategis tersebut dihasilkan output 3 sampai 5 kegiatan strategis yang dapat dibawa hingga pra musrenbang. sebagai penanggung jawab sektor dan mengarahkan mitra daerah serta menagwasi hasil Musrenbangnas bagi provinsinya. Mekanisme baru terkait dengan UP4B (Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat) masih akan dilakukan pembahasan lebih lanjut. memberikan arahan mengenai isu strategis provinsi. memastikan usulan kegiatan prioritas daerah sesuai dengan isu strategis provinsi. mempelajari UPPD Provinsi. Output lain yang diharapkan adalah keluarnya UKPPD (Usulan Kegiatan dan Pendanaan Pemerintah Daerah) yang digambarkan pada gambar berikut (Gbr. 5).pada tahun-tahun ke depan peran dari direktorat sektoral Bappenas untuk lebih aktif mengawal proses finalisasi Renja KL berdasarkan hasil Musrenbangnas. Tujuh Titik Kritis dalam Pelaksanaan Musrenbang Terobosan baru yang dilakukan pada pelaksanaan Musrenbang tahun 2012 adalah adanya penunjukkan Liasion Officer (LO) dimana perannya adalah mempelajari dan mengawal isu strategis provinsi. Output dari Pra Musrenbang adalah keluarnya isu strategis provinsi dimana 5 kegiatan yang dapat disepakati oleh Kementerian dan Lembaga yang kemudian akan diberikan prioritas pendanaan. 14 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .

sedangkan fungsi penganggaran pada di Kementerian Keuangan. F3. F2. Format pada UKPPD (F1. F4 usulan Renja KL. dalam perencanaan kesehatan masih mempunyai peluang yaitu (1) Kesehatan merupakan isu yang didukung oleh semua pihak 15 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . F4) ada pada lampiran. (5) Waktu proses perencanaan terlalu pendek. Di tingkat Daerah. Di tingkat pusat tantangan dan permasalahan secara umum adalah fungsi koordinasi penyusunan perencanaan pembangunan nasional pada Kementerian PPN/Bappenas. Namun. sandingan UKPPD dengan Renja K/L) . (3) Dana yang digunakan untuk melaksanakan perencanaan tidak mencukupi. F2 (longlist. (4) Menu pusat belum mengakomodir kebutuhan daerah. Berbagai hambatan dalam perencanaan dan penganggaran yang dirasakan antara lain (1) Menu perencanaan pusat belum dapat mengakomodir daerah.Gambar 5. peran Kementerian Dalam Negeri dalam proses perencanaan pembangunan daerah dan penganggaran cukup besar yang melibatkan internal lintas Eselon I Kementerian Dalam Negeri. Dalam proses perencanaan dan penganganggaran berbagai tantangan dan permasalahan ditemukan. F3 usulan UKPPD. (2) Belum adanya sinergitas antara perencanaan pembangunan dengan penganggaran daerah. Renja K/L 2011. Proses perencanaan pembangunan daerah dilakukan melalui Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah. baik di pusat maupun didaerah. dan (3) Belum adanya sinergitas antara perencanaan pembangunan nasional dengan perencanaan pembangunan daerah. (2) SDM dalam menyusun perencanan tidak memadai baik kualitas maupun kuantitas. Hal tersebut berdampak (1) Belum adanya sinergitas antara perencanaan pembangunan dengan penganggaran nasional. sedangkan dalam penganggaran melalui Direktorat Jenderal Keuangan Daerah. sehingga hal ini menuntut koordinasi yang cukup intensif. Renja K/L 2012 sehingga akan menghasilkan output F1 (usulan shortlist 3-5 kegiatan plus usulan untuk koordinasi provinsi). Alur UKPPD Dasar dari UKPPD adalah input dari K/L. (6) Jadwal perencanaan belum tepat. sehingga hal ini menjadi tantangan yang besar dalam proses sinkronisasi perencanaan dan penganggaran.

54 Tahun 2010 tentang pelaksanaan PP No. 7) 16 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . dan (4) Undang-Undang No. meliputi empat regulasi yang mengatur mengenai perencanaan dan penganggaramn yaitu (1) Undang-Undang No.8 tahun 2008. B. swasta. perencanaan Nasional Selain itu. sarana dan prasarana kesehatan memadai dan perencanaan disusun berdasarkan RPJMD dengan mendapat dukungan dari pemerintah. Identifikasi Regulasi Yang Mendukung Pelaksanaan Perencanaan Dan Penganggaran di Pusat dan Daerah Regulasi yang mendukung pelaksanaan perencanaan dan penganggaran di pusat dan daerah.32 tahun 2004 tentang Desentralisasi. 6). (2) Undang-Undang No. dan Pemerintah Daerah (Kabupaten dan Kota) dan Peraturan Pemerintah No. (3) Undang-Undang No.menjadi prioritas pembangunan nasional dan (2) Adanya dukungan dari stakeholder dalam menyusun perencanaan sesuai dengan kebutuhan program. Regulasi yang mengatur tentang pusat dan daerah (Gbr. Kebijakan-kebijakan operasional tersebut secara prinsip mendukung sinkronisasi perencanaan dan penganggaran pusat dan daerah dalam satu kesatuan sistem perencanaan pembangunan nasional. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pusat.33 tahun 2004 tentang Keuangan Daerah. juga terdapat kebijakan operasional Peraturan Pemerintah No. Tata Cara Penyusunan. dan LSM. 17 tahun 2003 yang mengatur pengelolaan keuangan negara. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah serta Peraturan Menteri Dalam Negeri No. usulan program kesehatan bisa diajukan melalui APBN atau APBD. Pemerintah Daerah Provinsi.25 tahun 2004 mengatur khusus mengenai perencanaan yaitu Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. dimana dapat digambarkan pada gambar berikut (Gbr. 8 tahun 2008 tentang Tahapan. dimana undang-undang tersebut mengatur perencanaan dan penganggaran di Gambar 6.

Disamping itu PP ini diharapkan dapat menjadi pendorong bagi ketaatan prinsip anggaran menyesuaikan fungsi (money follows function). 17 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang No. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota juga telah ditetapkan (Gbr. pemerintah telah menyusun dan menetapkan hampir seluruh peraturan perundang-undangan yang mengatur desentralisasi dan otonomi daerah. ditetapkan pula PP No. Peraturan Pemerintah No. Melalui penetapan peraturan pelaksana Undang-Undang No. Sinkronisasi Perencanaan Dan Penganggaran Pusat Dan Daerah Dalam Satu Kesatuan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Dari hasil identifikasi diatas. Selain itu. 33 Tahun 2004 tersebut maka pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah menjadi lebih tertata.Gambar 7. Pemerintahan Daerah Provinsi. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang akan melengkapi mekanisme dan instrumen tata hubungan pembangunan antara propinsi dan kabupaten/kota.8). Peraturan ini menjadi acuan utama pelaksanaan pembangunan antarpelaku pembangunan.

Pasal 26 ayat (1) PP Nomor 58 Tahun 2005 Jo. penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup dan penganggaran untuk setiap pengeluaran APBD harus didukung dengan dasar hukum yang melandasinya.Gambar 8 . Keberhasilan program dapat dilihat dengan adanya: (1) jalinan hubungan kerja. Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau Kabupaten/ Kota yang terdiri dari urusan wajib. Disamping itu terdapat beberapa regulasi yang mengatur penganggaran belanja daerah adalah sebagai berikut : 1. 2. koordinasi. Pasal 31 ayat (1) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006. Pasal 18 PP Nomor 58 Tahun 2005. Dalam menyusun APBD. Peraturan terkait Pembagian Urusan Kewenangan Hal penting lainnya adalah tersusunnya PP Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang memungkinkan Pemerintah secara tersistem memantau dan mengevaluasi kinerja pemerintahan daerah. fungsi. 18 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah menjadi lebih baik dibandingkan dengan periode pembangunan sebelumnya. urusan pilihan dan urusan concurrent. pendelegasian. dan penugasan antartingkat pemerintahan dan (2) kejelasan pembagian urusan pemerintahan antartingkat pemerintahan. Dengan telah berhasil disusunnya dan ditetapkannya berbagai peraturan perundangan.

bantuan sosial. belanja yang ditentukan persentasenya sesuai amanat per Undang-Undang. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 menggunakan pendekatan perencanaan sektoral dan regional. Pasal 22 ayat (2) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006. Analisa Kebijakan yang Berkaitan dengan Perencanaan dan Penganggaran Dari hasil kajian yang dilakukan oleh Biro Hukum Bappenas menunjukkan bahwa ada beberapa undang-undang yang isinya bertentangan. Di tingkat pusat fungsi koordinasi penyusunan perencanaan pembangunan nasional ada di Kementerian PPN/Bappenas. Tidak ada muatan sanksi (administratif) bagi pihak-pihak yang tidak mengikuti Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional maupun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Kelembagaan penyusunan perencanaan dan penganggaran terpisah. Struktur APBD diklasifikasikan menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan urusan pemerintahan tersebut. 4 belanja pokok tersebut yaitu belanja yang diarahkan (earmark). sehingga dalam pelaksanaan kegiatan menimbulkan kerancuan bagi instansi terkait di daerah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mengatur pula perencanaan pembangunan dan penganggaran (di daerah). belanja yang bersifat mengikat/ wajib yang belanja tersebut harus didukung oleh provinsi. 4. namun perilaku daerah terkadang berbeda dengan pemenuhan belanja lainnya seperti hibah. belanja pemenuhan urusan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM). bantuan keuangan. Hal ini disebabkan belum adanya harmonisasi peraturan yang dikeluarkan oleh kementerian terkait. Alokasi belanja ditentukan melalui kebijakan penganggaran dan teknis penganggaran. Pengaturan perencanaan pembangunan dan penganggaran pada Undang-Undang 32 Tahun 2004 tersebut pada beberapa ketentuannya bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004. Perilaku belanja yang harusnya dilakukan oleh daerah adalah prioritas untuk pemenuhan 4 belanja pokok terlebih dahulu yang kemudian baru memenuhi belanja lainnya. Kebijakan penganggaran meliputi 4 belanja pokok dan belanja lain-lain. belanja tidak terduga dan belanja subsidi lebih didahulukan. Tata cara pelaksanaan perencanaan pembangunan dan penganggaran belum menjadi satu kesatuan yang sistemik serta diatur dalam banyak peraturan yang terpisah bahkan di antaranya ada yang bertentangan. sedangkan UndangUndang No. sedangkan fungsi penganggaran ada di Kementerian 19 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .Terdapat beberapa rumusan kalimat dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dan UndangUndang Nomor 25 Tahun 2004 yang menimbulkan interpretasi yang beragam (Multi interprestasi) dan sulit dipahami oleh stakeholders. 32 Tahun 2004 menggunakan pendekatan kewenangan/konkruensi.3.

peran Kementerian Dalam Negeri dalam proses perencanaan pembangunan daerah dan penganggaran cukup besar. Apapun yang direncanakan. Sandingan Regulasi yang mengatur Perencanaan Daerah dan Perencanaan Nasional UU 17/2003 (Keuangan Negara) Kementerian Keuangan Berdasar prestasi kerja UU 33/2004 (Keuangan UU 32/2004 Daerah) (Desentralisasi) Kementerian Dalam Negeri Yang disusun berdasar prestasi kerja dan RKA SKPD Tidak berdasar prestasi kerja Renstra SKPD UU 25/2004 (SPPN) Kementerian PPN/Bappenas Tidak berdasar prestasi kerja Renstra SKPD dan RKPD Isu Penyusunan Renja SKPD Pedoman penyusunan Renja SKPD Pihak yang menetapkan prioritas dan plafon Prioritas dan plafon RKA SKPD DPRD dan Pemda DPRD danPemda Kepala Daerah Acuan penyusunan RKA SKPD Dibahas dahulu oleh DPRD lalu disampaikan ke PPKD Usul DPRD Acuan penyusunan RKA SKPD Dibahas dahulu oleh DPRD lalu disampaikan ke PPKD Tidak ditegaskan Dasar penyusunan RKA SKPD Diserahkan ke PPKD Tidak ditegaskan Perubahan RAPBD C. (2) Perbedaan waktu dalam proses perencanaan mulai dari jadwal pelaksanaan musrenbang sampai dengan pengesahan anggaran. Tabel 1. Analisa Situasi dan Review dalam Proses Perencanaan dan Penganggaran Tingkat Provinsi (Jawa Barat. belum ada koordinasi yang baik. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian belum maksimal dalam mengkoordinasikan lembaga perencanaan pembangunan (Kementerian PPN/Bappenas) dan lembaga penganggaran (Kementerian Keuangan).Keuangan. sedangkan dalam penganggaran melalui Ditjen Keuangan Daerah. dan (3) Implementasi kebijakan pemerintah yang dituangkan dalam UNDANG-UNDANG No. Tidak ada otoritas tunggal yang mengendalikan pelaksanaan perencanaan pembangunan dan penganggaran.36/2009 tentang kesehatan yaitu pasal 171 yang menyebutkan alokasi anggaran kesehatan pemerintah pusat sebesar 5% dari APBN dan pemerintah daerah 10% dari APBD di luar gaji dengan kenyataan yang terjadi dikebanyakan daerah (provinsi dan 20 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . dan Gorontalo) Dari hasil pengumpulan data pada beberapa daerah menunjukkan yaitu di Provinsi Jawa Barat tantangan dan permasalahan dalam perencanaan dan penganggaran yang ditemukan antara lain adalah (1) Perbedaan dalam penentuan prioritas program dalam perencanaan antara pusat dan daerah. keputusan akhir ada di anggaran. Namun antara Ditjen Bangda dan Ditjen Keuangan Daerah. Keterlibatan perencanaan pembangunan dilakukan melalui Ditjen Bangda. Di tingkat Daerah. DI Yogyakarta.

di Provinsi DI Yogyakarta tantangan dan permasalahan yang ditemukan antara lain adalah (i) Regulasi K/L yang berkenaan dengan perencanaan dan penganggaran kesehatan berkaitan dengan Peraturan Kementerian Dalam Negeri. Pendekatan penyusunan perencanaan dan penganggaran daerah mengacu pada 14 SPM sehingga hal ini mendorong daerah untuk mengacu pada SPM. potensi serta dinamika daerah. 21 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Pada umumnya anggaran kesehatan di daerah (provinsi dan kabupaten/kota) berkisar antara 3 persen sampai 5 persen. Dokumen RPJP Daerah berfungsi sebagai road map (peta arah) pembangunan daerah 20 tahun ke depan dan sebagai pedoman penyusunan RPJMD yang kemudian akan ada 4 periode RPJMD. pada kenyataannya anggaran kesehatan di Propinsi Gorontalo hanya dipenuhi sebesar 2. Sedangkan. tantangan dan permasalahan perencanaan dan penganggaran yang ditemukan di Provinsi Gorontalo antara lain adalah (i) Perbedaan dalam menerjemahkan kebijakan nasional ke dalam kebijakan di daerah. Gambaran Ketidaksesuaian antara Kebutuhan Daerah dengan Dukungan Pusat. Prinsip dari perencanaan pembangunan daerah merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional yang dilakukan bersama pemangku kepentingan sesuai dengan peran dan kewenangan yang mengintegrasikan RTRW dengan rencana pembangunan serta dilaksanakan berdasarkan kondisi. partisipatif. Peraturan Kementerian Kesehatan dan Peraturan Kementerian Keuangan masih tumpang tindih dalam operasional kegiatan program di daerah dan (ii) Menu-menu kegiatan yang diterbitkan di tingkat pusat melalui dana pusat ke daerah belum sejalan dengan permasalahan yang ada di daerah. 36 Tahun 2009. masih terdapat beberapa daerah yang masih belum cukup baik dalam perencanaan daerahnya. Sedangkan. nasional dan global. teknokratik.kabupaten/kota) di Indonesia. RPJMD berfungsi sebagai pedoman pembangunan di daerah selama 5 tahun dan sebagai pedoman untuk penyusunan rencana kerja tahunan (RKPD) yang nantinya akan menjadi instrument untuk mengoperasionalkan RPJMD dan sebagai acuan penyusunan Rencana Kerja SKPD yang bersifat indikatif serta menjadi pedoman dalam penyusunan KUA dan PPAS. dikatakan anggaran kesehatan untuk daerah sebesar 10% diluar gaji. Berdasarkan hasil evaluasi dokumen perencanaan daerah. Pendekatan perencanaan pembangunan daerah berdasarkan pada politik.5 % dan (ii) Pemerintah pusat masih belum optimal dalam mengakomodasi usulan yang diajukan oleh daerah. ini terkait dengan anggaran kesehatan yang tercantum dalam undang-undang No. Pada tingkat pusat terdapat fokus-fokus perencanaan namun justru pada tingkat daerah tidak mengetahui sehingga diperlukan instrument-instrumen untuk perencanaan dan penganggaran daerah. Perencanaan Pembangunan Daerah adalah proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya. guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. top down & bottom up. Perlu diperhatikan untuk sinkronisasi dan konsistensi dalam SKPD karena masih ditemukan kelemahan SKPD yang tidak tepat dalam menentukan indikator.

dan Kota). urgensi dan program yang mendukung percepatan pembangunan bidang kesehatan dan gizi masyarakat harus disosialisasikan kepada DPRD. anggaran kesehatan yang disediakan oleh pemerintah daerah untuk bidang kesehatan memang sudah mencapai batas penganggaran minimal daerah untuk kesehatan sebesar 10.4%. Jika melihat dari penjelasan di atas. (3) Perbedaan prioritas legislatif dengan perencanaan dan penganggaran program yang ada. Bottleneck tersebut antara lain : (1) Perbedaan time line dari sistem perencanaan antara pusat dan daerah . perlu kerjasama antar OPD di Jawa Barat. Padahal fungsi yang seharusnya dicapai untuk bidang kesehatan adalah pelayanan publik. opsi yang dapat dipertimbangkan dalam langkahlangkah untuk perencanaan dan penganggaran kesehatan di Provinsi Jawa Barat adalah sebagai berikut : (1) Sinkronisasi berbagai peraturan daerah terkait perencanaan dan penganggaran. namun dari jumlah tersebut sebanyak 7. Selain itu. Oleh karena itu.5% berada pada OPD selain Dinas Kesehatan yang tidak bergerak pada pelayanan publik. (2) Penyusunan isu strategis provinsi berbasis pada potret daerah (data 22 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan di Provinsi Jawa Barat tidak hanya dilihat antara pusat dan daerah. (4) Masih terdapatnya ketidakjelasan pembagian urusan pusat dan daerah (Provinsi. sehingga harus senantiasa terakomodasi dalam setiap dokumen rencana pembangunan daerah untuk menjamin tersedianya alokasi anggaran yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. (3) Untuk menjamin dukungan pendanaan APBD sesuai dengan prioritas kemampuan keuangan daerah. tetapi juga dilihat dari antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada di Jawa Barat. Sebagai contoh. Kabupaten. dan (5) Masih lemahnya koordinasi lintas sektor terutama koordinasi yang melibatkan pihak swasta dan tokoh masyarakat. Permasalahan dalam Koordinasi Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Kesehatan. terdapat bottleneck yang perlu mendapat perhatian dan perlu bersama dicarikan solusinya. (2) Upaya untuk mewujudkan sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan antarpusat dan daerah harus ditempuh dengan menyelaraskan pendekatan dan jadwal waktu penyusunan perencanaan dan penganggaran antara kementerian terkait dan pemerintah daerah sesuai regulasi.Terdapat perubahan paradigma pada Musrenbang daerah yaitu adanya klarifikasi dan penajaman program serta usulan program terdapat pada forum SKPD. (2) Perbedaan dalam penentuan prioritas program dalam perencanaan (e-planning vs Musrenbang). Rekomendasi yang diberikan untuk daerah yaitu: (1) Bidang Kesehatan dan gizi masyarakat merupakan bidang prioritas dalam pembangunan nasional dan daerah. Permendagri tentang pedoman perencanaan RKPD yang selama ini hanya berbentuk surat edaran saat ini sedang dalam proses penyusunan. Dalam sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan di Provinsi Jawa Barat tidak hanya dilihat antara pusat dan daerah.

6)Revitalisasi Musrenbang dengan mengangkat isu strategis daerah (termasuk isu kesehatan). RKA kabupaten/kota 2013. Langkah nyata yang diambil Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dalam sinkronisasi tersebut. Selanjutnya output yang diharapkan dari kegiatan ini adalah hasil identifikasi masalah dan kebutuhan pembangunan kesehatan per kabupaten/kota. rencana usulan kegiatan Provinsi dan kabupaten/kota dari berbagai sumber dana. Kegiatan tersebut terdiri dari Input. Proses. (4) Pengarusutamaan RAD MDGs ke dalam perencanaan dan penganggaran di daerah. diskusi kelompok per kabupaten/kota. dan (7) Penguatan kerjasama lintas sektor terkait kesehatan termasuk pelibatan swasta. dan Kabupaten/Kota pada minggu kedua bulan Maret 2012. Dengan melakukan hal tersebut diharapkan dapat mengambil pelajaran dari tahun 2011 dan mampu memperbaikinya untuk perencanaan tahun 2013. Sedangkan pada bagian proses. kegiatan. organisasi profesi (kerjasama vertikal dan horizontal). RKA Provinsi 2013. target dan pembiayaan. Gambar 9. materi sinkronisasi.spasial). dan Output. dan panduan diskusi kelompok. protap pengusulan kegiatan dan anggaran. pendampingan diskusi kelompok dari Provinsi. yaitu dengan melakukan pertemuan sinkronisasi dan koordinasi kebijakan program dan anggaran Pusat. (3) Penetapan bersama prioritas program. hal-hal yang dibahas antara lain : hasil kinerja 2011. Bagan Tahapan Perencanaan di Provinsi Jawa Barat Sumber : Dinas Kesehatan Jawa Barat 23 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Provinsi. kebijakan program kesehatan provinsi 2013. sasaran. kegiatan yang dillakukan terdiri dari: ceramah tanya jawab. Pertemuan ini dilakukan di lima wilayah yang membahas evaluasi tahun 2011 dan rencana 2013. (5) Perencanaan harus didasarkan pada evidence based. Pada bagian input. rumusan prioritas program pembangunan kes 2013.

(3) Sosialisasi kepada SKPD perlu di tingkatkan. proses perencanaan di Prov. kurang lengkapnya data. Dalam Koordinasi Perencanaan dan Penganggaran di DIY. Tantangan dalam Koordinasi Perencanaan dan Penganggaran di Provinsi DIY. Sistem Informasi Penataan Ruang (SIPR). Hal ini dikarenakan proses pelaksanaan dilakukan selama 1 bulan. Tantangan-tantangan tersebut antara lain sebagai berikut : (1) Pada tahun 2012. Kabupaten/Kota. (b) Perencanaan mengutamakan kombinasi fokus dan lokus (keterkaitan antarsektor). Kelurahan. Pelaksanaan Musrenbangda di Provinsi Gorontalo dilakukan setelah melihat jadwal pelaksanaan dengan Musrebangnas dari Bappenas sehingga durasi pelaksanaan dirasa kurang cukup meskipun pelaksanaan Musrenbangda sudah dilakukan selama satu bulan di tingkat Desa. dan Provinsi. Prov. (c) Musrenbang melalui trilateraldesk dalam rangka membahas persandingan-persandingan guna mensinergikan kabupaten/kota. maka program/kegiatan yang diusulkan akan “terpental/tertolak”/tidak bisa masuk karena tidak punya kontribusi terhadap indikator sasaran (target yang harus dicapai). lokasi pelaksanaan program/kegiatan. Koordinasi perencanaan dan penganggaran di Provinsi Gorontalo perlu perbaikan diantaranya sebagai berikut : (1) Waktu pelaksanaan kegiatan koordinasi harus sesuai jadwal. hasil Musrenbang Provinsi belum seefisien yang diharapkan. DIY sudah melibatkan pihak legislatif pada rangkaian kegiatan proses musrenbang. langkah nyata yang dilakukan lainnya terutama untuk merevitalisasi Musrenbang untuk memasukan isu-isu strategis antara lain dengan mensosialisasikan isuisu strategis kesehatan kepada masyarakat sehingga pada saat proses musrenbang isu-isu tersebut dapat diangkat dan dimasukan dalam prioritas program atau kegiatan provinsi.5% dan (2) pemerintah pusat masih belum optimal dalam mengakomodasi usulan yang diajukan daerah. Kelebihan dari “jogjaplan” adalah jika program/kegiatan tidak sesuai dengan indikator sasaran yang harus dicapai (telah ditetapkan). masih didapati beberapa tantangan yang perlu dipikirkan bersama solusi penyelesaiannya. Selain itu. Kecamatan. provinsi. (2) Konsistensi 24 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .Selain itu. APBD I & II) karena forum SKPD di tingkat Provinsi belum dilaksanakan. Perencanaan dan penganggaran kesehatan di Provinsi Gorontalo terdapat beberapa kendala terutama terkait koordinasi pelaksanaan Musrenbangda. misalnya anggaran untuk kesehatan harusnya 10% hanya dipenuhi sebesar 2. dan (d) Perencanaan didukung dengan aplikasi “jogjaplan”. (2) Manajemen forum perencanaan penganggaran perlu dioptimalkan. Dengan beberapa langkah nyata tersebut diharapkan terjadi sinkronisasi perencanaan dan penganggaran antara pusat dan daerah baiksecara vertikal dan horizontal. dan rincian pembebanan (APBN. DIY mengalami beberapa revitalisasi khususnya pada kegiatan musrenbang daerah. dan pusat. Revitalisasi yang dilakukan meliputi (a) Musrenbang lebih bersifat substansial dan terbuka terhadap partisipasi masyarakat. Terkait permasalahan perencanaan dan penganggaran juga mencakup antara lain: (1) Penerjemahan kebijakan nasional kedalam kebijakan di daerah belum sesuai. Oleh karena itu. Selain itu. Sistem Informasi Profil Daerah (SIPD) dan Web Monitoring dan Evaluasi.

yang dimana forum-forum tersebut merupakan pendukung dari proses musrenbang daerah dan forum SKPD. 25 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . dan (4) Hal-hal yang dapat disinkronkan antara provinsi dan kabupaten/kota di DIY untuk bidang kesehatan antara lain melalui sinkronisasi: (a) sharing dana (APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota). Sikronisasi Perencanaan dan Penganggaran di Provinsi DIY Berdasarkan hasil diskusi dan analisis situasi Perencanaan dan Penganggaran di Provinsi DIY. dan Jamkesda). Jamkesos. (b) lokasi kegiatan. dan (c) sasaran (Jamkesmas. DIY dengan SKPD Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melalui rapat koordinasi antarprogram baik di tingkat pusat maupun kabupaten/kota serta rapat kerja kesehatan daerah (Rakerkesda). sebaiknya sejalan dengan permasalahan yang ada di daerah. sebagaimana terlihat pada Gbr.perencanaan dan penganggaran di daerah dapat dilihat dari dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) kemudian diterjemahkan ke dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) – Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) dan kemudian ditetapkan kedalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). DIY dilakukan dengan sinkronisasi rencana strategis (renstra) antara SKPD Dinas Kesehatan Prov. Gambar 10. (3) Proses sinkronisasi bidang kesehatan di Prov. tersusun suatu rekomendasi sebagai berikut: (1) Perlu adanya harmonisasi regulasi K/L berkenaan dengan perencanaan dan penganggaran khususnya bidang kesehatan untuk menghindari tumpangtindih regulasi di tingkat operasional daerah (Peraturan Menteri Dalam Negeri – Peraturan Menteri Keuangan – Peraturan Menteri Kesehatan) dan (2) Diharapkan menu-menu kegiatan yang diterbitkan di tingkat pusat melalui dana pusat ke daerah. 10.

RKPD 2011 Prov.Tabel 2. peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih. TPA) Sosialisasi Skrining Tumbang Anak Dengan Pengelola Program Anak Kab/Kota (SDIDTK. intelegensi.BKB. peningkatan cakupan neonatal dengan komplikasi yang ditangani. Jogjakarta. dan Lansia                      Pertemuan Pembahasan dan Analisa Hasil Pendampingan KIA di Tingkat Prov Lokakarya Pemantapan Integrasi KIA dan Gizi di Provinsi Pertemuan PWS-KIA di Provinsi Pertemuan Kemitraan Pelayanan KIA dengan Lintas Sektor dalam Upayan Peningkatan Aksesibilitas Program Jampersal Review dan Evaluasi Program PKRE-T di Provinsi Review dan Evaluasi pelayanan kesehatan ibu dan anak terintegrasi Bimbingan teknis KIA dan Gizi terintegrasi Sinergitas Pelayanan KB di Kab/Kota Pertemuan Evaluasi Pelaksanaan Penerapan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Pertemuan koordinasi dalam Pembinaan Kesehatan anak usia dini holistik-integratif (PAUD. peningkatan cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani. peningkatan cakupan kunjungan bayi. Skrining hipotiroid. serta RAD MDGs Jawa Barat. UKS. Jawa Barat Peningkatan Pelayanan KIA. bayi dan balita 26 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . dan Gorontalo terkait isu KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) Dari hasil analisa dari dokumen perencanaan daerah (RKPD) tahun 2011.SDITK. Brainbooster Penguatan sistem rujukan kelainan Tumbuh Kembang Anak Pertemuan Kemitraan/jejaring dalam penanganan kasus KtP dan KtA Pertemuan Sosialisasi Penanganan KtP dan KtA Pertemuan penguatan penanganan komplikasi neonatus bagi pengelola program KIA Pertemuan Koordinasi Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus di Jawa Barat Fasilitasi dan pembinaan program lansia di kab/kota Pertemuan pembahasan dan Pemutahiran data Program Pembinaan usia lanjut di Provinsi Rapat Koordinasi Hari Ulang tahun Usia Lanjut Penggandaan buku pedoman Pembinaan Kesehatan Lansia Lansia Penggandaan kohort ibu. 1. Matriks sandingan RKP dan RKPD Provinsi. peningkatan cakupan kunjungan ibu hamil (K1 dan K4). terlihat penterjemahan kebijakan pusat ke daerah sebagaimana berikut : RKP 2011 Penyediaan sarana kesehatan yang mampu melaksanakan PONED dan PONEK. peningkatan cakupan peserta KB aktif yang dilayani sektor pemerintah.

Jawa Barat     2. Rehab Medik dan Alat Medis Keperawatan Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengembangan IRJ. Loundry RKPD 2011 Prov. Penggandaan Buku KIA Fasilitasi pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja di 26 kab/kota Fasilitasi tim Jambore UKS Provinsi Jawa Barat Pertemuan Penguatan TP UKS di Provinsi Kegiatan PHKI Dukungan kegiatan gizi mayarakat 3. Pengadaan Cetak Buku Pedoman Umum dan Teknis Program Gizi Pendampingan dan Fasilitasi Program Gizi Evaluasi cakupan konsumsi garam beryodium rumah tangga melalui survei cepat Verifikasi / Validasi Gizi Buruk Evaluasi dan Pembinaan Hasil . IRI & IGD Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengembangan IPSRS.hasil Pelatihan di Bidang Gizi Ke Kab/Kota Pengadaan Buku Bidang Teknis Bidang Gizi Pengadaan Timbangan untuk Validasi data Pengadaan alat ukur panjang badan Konsultasi ke Pusat Kegiatan Pemberian makanan Tambahan (PMT) Pemulihan bagi balita Gizi Buruk        Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengembangan Pasien Maskin Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Stroke Unit. Stokr Unit. Laboratorium. Gizi. DIY RKP 2011 penyediaan sarana kesehatan yang mampu melaksanakan PONED dan PONEK. Farmasi . peningkatan cakupan kunjungan ibu Kebijakan KIA terbagi dalam 3 program yaitu: 1. NICU. Kegiatan Perbaikan Gizi Masyarakat          4. ICCU. Program Kesehatan Balita dalam Keluarga   Pengembangan Keterpaduan SDIDTK Balita Pengembangan MTBS 27 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .RKP 2011 RKPD 2011 Prov. peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih. Renal unit dan High Care Unit Anak Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengembangan Bedah Central Kegiatan Pengadaan Sarana dan Prasarana Pengembangan Radiologi.

RKPD Jabar (2012) Kegiatan Pertemuan Pembahasan dan Analisa Hasil Pendampingan KIA di Tingkat Provinsi Lokakarya Pemantapan Integrasi KIA dan Gizi di Provinsi Pertemuan PWSKIA di Provinsi Pertemuan Kemitraan Pelayanan KIA dengan Lintas Sektor dalam 1. peningkatan cakupan kunjungan bayi. 2. 2. Keluaran Jumlah bidan yang dilatih APN (Rp. peningkatan cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani. 3. 3. 3. Keluaran Terlaksanannya Pertemuan Pembahasan dan Analisa Hasil Pendampingan KIA di Tingkat Provinsi Terlaksanannya Lokakarya Pemantapan Integrasi KIA dan Gizi di Provinsi Terlaksanannya Pertemuan PWSKIA di Provinsi Terlaksananya Pertemuan 2. peningkatan cakupan peserta KB aktif yang dilayani sektor pemerintah. antara lain melalui: penyediaan sarana kesehatan yang mampu melaksanakan PONED dan PONEK. 3. 2. 28 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih. bayi dan balita. Gorontalo Peningkatan kesehatan ibu. peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih. Program Kesehatan Bayi dalam Keluarga  Pembinaaan Teknis Pasca Pelatihan Manajemen Asfiksia/BBLR  Pengembangan Surveillan KIA  Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan Anak 3. peningkatan cakupan neonatal dengan komplikasi yang ditangani. Pelatihan APN dan Evaluasi Pasca Latih Kunjungan rumah untuk meningkatkan cakupan ibu nifas Advokasi pembentukan Rumah Tunggu bagi bumil risti dan seluruh bumil di daerah geografis sulit tanpa fasilitas kesehatan di Kabupaten Orientasi dan peningkatan pelaksanaan 1. peningkatan cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani.5 juta) Jumlah ibu nifas yang dikunjungi Jumlah pertemuan advokasi pembentukan Rumah Tunggu bagi Bumil Risti dan seluruh bumil di daerah geografis sulit tanpa fasilitas kesehatan di kabupaten 1. peningkatan cakupan imunisasi tepat waktu pada bayi dan balita. peningkatan cakupan kunjungan bayi. peningkatan cakupan kunjungan ibu hamil (K1 dan K4). Bulin  Evaluasi dan Koordinasi Pelayanan Kesehatan Ibu  Sosialisasi Pelaksanaan Sistem Mata Rantai Rujukan Penguatan Pelayanan KB  Penguatan Task Force KIA  Evaluasi RS PONEK RKPD 2011 Prov. 2. RKP 2011 penyediaan sarana kesehatan yang mampu melaksanakan PONED dan PONEK. peningkatan cakupan neonatal dengan komplikasi yang ditangani. 3. peningkatan cakupan peserta KB aktif yang dilayani sektor pemerintah. 4. peningkatan cakupan kunjungan ibu hamil (K1 dan K4). peningkatan cakupan kunjungan bayi.hamil (K1 dan K4). 4.Bufas. 4. Program Kesehatan Ibu dalam Keluarga  Pengembangan Implementasi Deteksi Risti Bumil  Pelatihan PPGDON Nakes  Sosialisasi Pengenalan Tanda Bahaya Bumil. RAD MDGs Jabar (2012) Kegiatan 1.

Terlaksananya Pertemuan Evaluasi Pelaksanaan Penerapan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan 10. 29 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . 18. 16. 11. 9. Pertemuan Evaluasi Pelaksanaan Penerapan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan 10. 17. 7. Terlaksananya Sinergitas Pelayanan KB di Kab/Kota 9. Rumah tunggu dan PONED Jumlah kampanye KIE persalinan di fasilitas yang dilakukan Jumlah Bidan koordinator yang melaksanakan Supervisi Fasilitatif Jumlah Puskesmas yang melaksanakan PWS Jumlah Puskesmas yang dibina dalam pemanfaatan buku KIA Jumlah desa yang melaksanakan pendataan Ibu Hamil Jumlah Paket kelas ibu yang diadakan Jumlah Puskesmas yang melaksanakan kelas ibu Jumlah Puskesmas PONED yang melaksanakan ANC terpadu Provinsi : Jumlah kab/kota yang melaksanakan DTPS Provinsi : Jumlah kabupaten DTPK yang mempunyai mobile tim Jumlah Faskes dasar yang mendapat Kit Pelayanan KB Jumlah dokter dan bidan yang telah RKPD Jabar (2012) Kegiatan Upaya Peningkatan Aksesibilitas Program Jampersal 5. Terlaksananya Pertemuan Kemitraan/jejaring dalam penanganan kasus KtP dan KtA 11. 8. Terlaksananya Pertemuan Sosialisasi Penanganan KtP dan KtA 12. Pertemuan penguatan penanganan komplikasi neonatus bagi pengelola program KIA Keluaran Kemitraan Pelayanan KIA dengan Lintas Sektor dalam Upaya Peningkatan Aksesibilitas Program Jampersal 5. 14. 6. Pertemuan Sosialisasi Penanganan KtP dan KtA 12. 14. Terlaksananya Pertemuan penguatan penanganan komplikasi neonatus bagi 5. 5. Bimbingan teknis KIA dan Gizi terintegrasi 8. 7. 15. 15. 8. Review dan Evaluasi pelayanan kesehatan ibu dan anak terintegrasi 7. rumah tunggu dan PONED Kampanye KIE persalinan di fasilitas kesehatan dan kesiapan menghadapi komplikasi persalinan Orientasi Bikor dalam melaksanakan Supervisi Fasilitatif Pembinaan Puskesmas dalam pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) termasuk layanan swasta Pembinaan Puskesmas dalam pemanfaatan Buku KIA Pendataan Ibu Hamil Pengadaan Paket Kelas Ibu untuk Puskesmas Orientasi pembentukan kelas Ibu di Puskesmas Orientasi ANC terpadu bagi puskesmas PONED Fasilitasi perencanaan terpadu kab/kota dalam pecepatan penurunan angka kematian ibu yang responsif gender (DTPS) Pembentukan mobile team untuk memberikan 4. Terlaksananya Review dan Evaluasi Program PKRE-T di Provinsi 6. Pertemuan Kemitraan/jejaring dalam penanganan kasus Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) dan Kekerasan terhadap Anak (KtA) 11. Terlaksanannya Bimbingan teknis KIA dan Gizi terintegrasi 8. Sinergitas Pelayanan KB di Kab/Kota 9. 13.RAD MDGs Jabar (2012) Kegiatan Kemitraan Bidan dan Dukun Penyediaan fasilitas pertolongan persalinan di Puskesmas Fasilitasi Pembuatan SK Bupati Walikota/ Perda Persalinan. Terlaksananya Review dan Evaluasi pelayanan kesehatan ibu dan anak terintegrasi 7. 11. 12. 12. 6. 16.Terpadu (PKRE-T) di Provinsi 6. 13. 9. 10. Review dan Evaluasi Program Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial. 10. Keluaran Jumlah Dukun yang bermitra dengan Bidan Jumlah Puskesmas yang mempunyai ruang bersalin dan peralatan Jumlah SK Bupati Walikota/Perda tentang Persalinan.

Penggandaan kohort ibu. 27. 22. Terlaksananya Penggandaan Buku KIA 17. 30 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . 22. 19. bayi dan balita 14. 23. 28. 21. KB. 24. 25. 28. 20. 20. 25. 30. Penggandaan Buku KIA Keluaran pengelola program KIA 13. 19. bayi dan balita 14. Keluaran mengikuti update ketrampilan pelayanan KB Jumlah bidan Pustu/Poskesdes yang telah mengikuti orientasi ABPK Jumlah Puskesmas yang mengikuti orientasi pelayanan KB pasca persalinan Jumlah alokon buffer stock yang diadakan di Propinsi Jumlah sweeping pelayanan KB yang dilaksanakan di Kab/Kota Jumlah Puskesmas yang melaksanakan PKPR Jumlah buku pedoman panduan kesehatan remaja yang diadakan dan didistribusikan ke puskesmas Jumlah Puskesmas yang telah mengikuti sosialisasi buku panduan kesehatan remaja Jumlah remaja di sekolah dan luar sekolah menjadi konselor sebaya yang mampu berbagi informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksual Jumlah sekolah yang melakukan insersi ARH ke dalam kurikulum Jumlah puskesmas rawat inap yang dilatih PONED Jumlah Puskesmas PONED yang dilatih Pelayanan Pasca RKPD Jabar (2012) Kegiatan 13. 29. 23. Terlaksanannya Penggandaan kohort ibu. 26. 21.RAD MDGs Jabar (2012) Kegiatan pelayanan kesehatan ibu di DTPK Penyediaan Kit pelayanan KB di faskes dasar yang memberikan pelayanan KB Update (pemutakhiran) keterampilan pelayanan KB bagi Dokter dan Bidan di tingkat pelayanan dasar Orientasi ABPK bagi Bidan Pustu/Poskesdes Orientasi Pelayanan KB pasca persalinan Pengadaan buffer stock alokon di tingkat Provinsi Sweeping pelayanan KB bagi kab/kota dengan unmet need tinggi Orientasi/pelatihan fasilitas pelayanan yang ramah remaja bagi Puskesmas di Kab/Kota Pengadaan buku pedoman panduan kesehatan remaja Sosialisasi buku panduan kesehatan remaja Pelatihan Konselor sebaya (Peer konselor) Insersi ARH dalam kurikulum Pelatihan PONED termasuk evaluasi pasca latih bagi tim PONED di puskesmas Pelatihan pelayanan pasca keguguran untuk tim PONED Penyediaan sarana & prasarana untuk PONED. 27. 18. 29. 26. 24.

32. 36. 30. 40. 38. 43. 33. 42. 31. 35. KB dan pelayanan pasca keguguran Jumlah puskesmas PONED yang memiliki ambulans PONED Jumlah Puskesmas PONED yang mampu memberikan PKRE terpadu Jumlah Puskesmas PONED yang mampu tatalaksana PP-KtP Jumlah AMP termasuk surveilans kematian ibu yang dilaksanakan Jumlah rekapitulasi data kematian ibu Jumlah RS yang melaksanakan PONEK sesuai standar Jumlah RS yang melaksanakan PONEK sesuai standar Jumlah kunjungan pembinaan Tim PONEK RS ke Pkm PONED Jumlah RS yang dilatih klinis pelayanan KB sesuai standar. 38. 41. 32. 37. 41. 33. 37. 36. 34. Jumlah kunjungan pembina tim PONEK Jumlah RS PONEK di kab/kota yang memiliki sarana dan peralatan sesuai standar. RKPD Jabar (2012) Kegiatan Keluaran 31. 39. 39. 31 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .RAD MDGs Jabar (2012) Kegiatan Pelayanan pasca keguguran Penyediaan Ambulans PONED untuk mendukung rujukan PONED Orientasi PKRE terpadu di Puskesmas PONED Orientasi PP-KtP terpadu di Puskesmas PONED Orientasi Surveilans kematian ibu dan AMP bagi tim AMP di kab/kota Pengolahan data kematian ibu di kab/kota Bintek Tim PONEK RS di Kab/Kota Evaluasi pasca pelatihan tim PONEK RS (On the Job Training) Pembinaan 4 Puskesmas oleh Tim PONEK RS (minimal 4 kali setahunper PKM) Pelatihan klinis pelayanan KB di RS kab/kota Pembinaan RS dan Klinik Swasta oleh RS PONEK (RS dan klinik yang ada di sekitar PONEK) Pemenuhan standar sarana dan peralatan RS PONEK di kab/kota Pembuatan SK Tim PONEK Kab/kota Regional sistem rujukan maternal neonatal di Kab/Kota Keluaran Keguguran (Post Abortion Care) Jumlah Puskesmas PONED yang memiliki sarana dan prasarana untuk PONED. 40. 35. 34.

4. 3. Jumlah RS yang sudah memiliki SK Tim PONEK RS 43. 5. 32 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Keluaran Jumlah bidan yang dilatih APN Jumlah ibu nifas yang dikunjungi Jumlah pertemuan advokasi pembentukan Rumah Tunggu bagi Bumil Risti dan seluruh bumil di daerah geografis sulit tanpa fasilitas kesehatan di kabupaten Jumlah Dukun yang bermitra dengan Bidan Jumlah Puskesmas yang mempunyai ruang bersalin dan peralatan Jumlah SK Bupati Walikota/Perda tentang Persalinan. 4. 5. dan bufas Data evaluasi dan kesepakatan pelayanan kesehatan ibu Peserta mendapat pemahaman tentang pelaksanaan sistem mata rantai rujukan 2. 4. Pelatihan APN dan Evaluasi Pasca Latih Kunjungan rumah untuk meningkatkan cakupan ibu nifas Advokasi pembentukan Rumah Tunggu bagi bumil risti dan seluruh bumil di daerah geografis sulit tanpa fasilitas kesehatan di Kabupaten Orientasi dan peningkatan pelaksanaan Kemitraan Bidan dan Dukun Penyediaan fasilitas pertolongan persalinan di Puskesmas Fasilitasi Pembuatan SK Bupati Walikota/ Perda Persalinan. 2.RAD MDGs Jabar (2012) Kegiatan Keluaran 42. 8. 3. dan bulin Evaluasi dan koordinasi pelayanan kesehatan ibu Sosialisasi pelaksanaan sistem mata rantai rujukan Penguatan pelayanan KB Penguatan task force KIA Evaluasi RS PONEK 1. 7. 3. 5. 2. 7. 5. 9. rumah tunggu dan PONED Kampanye KIE persalinan di fasilitas kesehatan dan kesiapan menghadapi komplikasi persalinan Orientasi Bikor dalam melaksanakan Supervisi Fasilitatif Pembinaan Puskesmas dalam pelaksanaan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) 1. Rumah tunggu dan PONED Jumlah kampanye KIE persalinan di fasilitas yang dilakukan Jumlah Bidan koordinator yang melaksanakan Supervisi Fasilitatif Jumlah Puskesmas yang melaksanakan PWS 1. bulin. RKPD DIY (2012) Kegiatan Pengembangan implementasi deteksi risti bumil Pelatihan PPGDON Nakes Sosialisasi pengenalan tanda bahaya bumil. 8. bufas. 9. 2. 8. 6. 6. 7. 4. 6. Keluaran Peserta mendapat pemahaman tentang deteksi risti bumil melalui forum kelas ibu Peserta mendapat pemahaman tentang PPGDON Peserta mendapat pemahaman tentang pengenalan tanda bahaya pada bumil. Jumlah kab/kota yang melaksanakan regionalisasi sistem rujukan maternal neonatal RKPD Jabar (2012) Kegiatan Keluaran RAD MDGs DIY (2012) Kegiatan 1. 3.

12. 16. Substansi perencanaan pembangunan dan penganggaran belum tajam mengarah pada upaya mencapai tujuan pembangunan. propinsi dan kabupaten/kota antara lain: 1. 7. Provinsi : Jumlah kabupaten DTPK yang mempunyai mobile tim RKPD DIY (2012) Kegiatan 6. Program dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dapat berbeda dengan Program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Jumlah Puskesmas PONED yang melaksanakan ANC terpadu 15. Ada Program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang tidak dimuat/dilaksanakan oleh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. 33 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .RAD MDGs DIY (2012) Kegiatan termasuk layanan swasta Pembinaan Puskesmas dalam pemanfaatan Buku KIA Pendataan Ibu Hamil Pengadaan Paket Kelas Ibu untuk Puskesmas Orientasi pembentukan kelas Ibu di Puskesmas Orientasi ANC terpadu bagi puskesmas PONED Fasilitasi perencanaan terpadu kab/kota dalam pecepatan penurunan angka kematian ibu yang responsif gender (DTPS) Pembentukan mobile team untuk memberikan pelayanan kesehatan ibu di DTPK Keluaran 10. 15. Provinsi : Jumlah kab/kota yang melaksanakan DTPS 16. Jumlah Puskesmas yang melaksanakan kelas ibu 14. Keluaran Dokumen penguatan pelayanan KB Kesepakatan untuk penguatan task force KIA Data tentang Evaluasi Pelaksanaan RS mampu PONEK 10. 8. Jumlah Puskesmas yang dibina dalam pemanfaatan buku KIA 11. di mana permasalahan utama yang muncul adalah tidak adanya prioritas yang jelas (prioritas pembangunan dalam dokumen perencanaan poembangunan sangat banyak dan tidak fokus) serta program Kementerian/Lembaga yang tidak mengarah pada pencapaian program nasional. Jumlah desa yang melaksanakan pendataan Ibu Hamil 12. Perencanaan ditinjau dari segi substansi a. Jumlah Paket kelas ibu yang diadakan 13. 13. Faktor yang Berpengaruh Dalam Sinergi Dan Sinkronisasi Perencanaan Berbagai faktor yang memiliki pengaruh belum terwujudnya sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat. c. Kementerian/Lembaga yang memberikan laporan kepada Kementerian PPN/Bappenas hanya sedikit. Pelaporan (dan evaluasi) masih bersifat parsial dan belum dijadikan sebagai bahan penyusunan rencana. b. 11. 14. D.

propinsi dan kabupaten kota belum berjalan efektif. pelaksanaan. Periodesasi pemilihan kepala daerah berbeda/tidak bersamaan antardaerah sehingga periodesasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah menjadi tidak bersamaan antardaerah yang menyebabkan pula berbedanya substansi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Sinergi dan sinkronisasi perencanaan dari perspektif kerangka kebijakan. Untuk mewujudkan Sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat. Sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat. Sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat. terutama jangka panjang. Muncul dokumen perencanaan yang dianggap sebagai dokumen tandingan seperti Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 20112025. tidak mengakomodasi perubahan. propinsi dan kab/kota dilakukan secara komprehensif mulai dari perencanaan. j. 2. propinsi dan kab/kota Sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat.d. anggaran. propinsi dan kab/kota perlu perhatian dari berbagai perspektif antara lain: a. f. i. Kepentingan Politik DPR (Legislative Heavy). propinsi dan kab/kota. dan evaluasi yang mencakup kebijakan atau regulasi. propinsi dan kab/kota merupakan penentu utama kelancaran dalam pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan di bidang kesehatan. Dari sisi kelembagaan. Bahkan koordinasi Ditjen Bangda (Perencanaan) dan Ditjen Keuangan Daerah (APBD) yang berada dalam satu lembaga (Kementerian Dalam Negeri) belum terlaksana dengan baik. Belum ada ruang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk mengubah rencana berdasarkan kebutuhan dan perubahan lingkungan strategis. e. Koordinasi Kementerian PPN/Bappenas dengan Kementerian Keuangan yang belum terlaksana dengan baik. dan berbagai Rencana Aksi Nasional serta Rencana Aksi Daerah. g. pengendalian. diperlukan untuk: (1) memperkuat koordinasi antar pelaku perencanaan di 34 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . h. Sinergi dan sinkronisasi perencanaan dari segi kebijakan antara pusat. Pola komunikasi antara pusat. Masih rendahnya kemampuan SDM perencana baik di tingkat pusat maupun daerah yang menyebabkan kualitas perencanaan pembangunan dan penganggaran tidak memadai dalam mencapai tujuan pembangunan. seperti turut menentukan kegiatan dan costing. Perencanaan pembangunan. kelembagaan serta pengembangan wilayah. adanya ego kelembagaan dan lemahnya koordinasi internal lembaga pemerintah. di mana saat ini DPR turut berperan menentukan kebijakan teknis dan operasional.

pemerintah propinsi dan pemerintah kab/kota yang dapat dilakukan melalui antara lain: (1) Sinkronisasi dan sinergi perencanaan melalui sinergi kebijakan (RPJP NAS. Dalam hal ini sinergi dan sinkronisasi dapat dilakukan dengan cara : (1) Konsultasi dan Koordinasi secara lebih efektif dalam penyusunan peraturan perundangan dan (2) Pembentukan forum koordinasi lintas instansi dan lintas sektor dalam rangka harmonisasi peraturan perundangan yang berkaitan dengan perencanaan dan penganggaran. dan (5) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya yang efektif. propinsi dan pusat. propinsi dan kabupaten/kota. 35 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Untuk mencapai sinergi dan sinkronisasi perencanaan dari segi kebijakan antara pusat. RPJPM Nas. baik 5 (lima) tahun atau tahunan dapat dilaksanakan dengan mengoptimalkan pelaksanaan Musrenbang di semua level/ tingkatan pemerintahan mulai tingkat desa atau kelurahan. dan (5) Sinergi dan sinkronisasi dalam pengendalian kebijakan anggaran. musrenbang juga diharapkan dapat mendorong terciptanya partisipatif semua pelaku pembangunan dan berkembangnya transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. propinsi dan kabupaten/kota. RKP & RKPD). sehingga dapat mendukung pelaksanaan program dan kegiatan yang tercantum dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun berjalan dalam lingkup RPJMN 2010 – 2014. program dan kegiatan antara pusat. Sinergi dan sinkronisasi dari perspektif kerangka regulasi Sinergi dan sinkronisasi dari segi kerangka regulasi diarahkan untuk mendorong harmonisasi peraturan perundang-undangan baik dalam bentuk Undang-Undang maupun Peraturan-peraturan pemerintah pusat. propinsi dan kabupaten/kota. efisien.pusat. RPJPP & RPJPD. propinsi dan kabupaten/kota. (4) Pengembangan basis data dan sistem informasi perencanaan yang lengkap dan akurat. (3) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. RPJMP & RPJMD. kesepakatan dan ketaatan dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan. berkeadilan dan berkelanjutan. propinsi dan kab/kota perlu upaya bersama antara pemerintah pusat. penganggaran. (2) menjamin tersusunnya perencanaan yang sinergi. Selain upaya di atas sinergi dan sinkronisasi perencanaan antara pusat. Selain itu. Dengan demikian akan terwujud sinkronisasi perencanaan dari segi kebijakan. Selain itu sinergi dan sinkronisasi perencanaan perlu di arahkan untuk meningkatkan kesepahaman. kecamatan. sinkron dan terintegrasi antara pusat. propinsi dan kab/kota. peraturan Bupati/ Walikota harus harmonis dan sinkron dengan kebijakan dan peraturan perundang-undangan pemerintah pusat. (4) mengoptimalkan partisipasi masyarakat di semua tingkatan pemerintahan. (3) Standardisasi indikator dalam menyusun perencanaan dan nomenklatur dalam penganggaran yang digunakan oleh K/L dan SKPD. (2) Sinergi dan Sinkronisasi dalam penetapan target dan sasaran. kabupaten/kota. Diharapkan setiap kebijakan peraturan perundang-undangan baik peraturan Gubernur. pelaksanaan dan pengawasan. b.

Dalam upaya sinergi dan sinkronisasi penganggaran dapat dilakukan dengan cara : (1) Meningkatkan efektifitas pelaksanaan penggunaan anggaran dari berbagai sumber dan terintegrasi dan (2) Sinkronisasi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang dikeluarkan K/L agar sesuai dengan kebutuhan daerah (propinsi dan kabupaten/kota) dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.c. Kedepan sinergi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat dilakukan dengan cara: (1) Menata dan menyempurnakan pengaturan kewenangan antar tingkat pemerintahan sebagai dasar penetapan kinerja dan alokasi anggaran dengan penerapan anggaran berbasis kinerja secara bertanggungjawab. d. 36 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . dan (3) Meningkatkan kapasitas aparatur yang mampu menjembatani kepentingan nasional dan daerah serta kerja sama antardaerah. propinsi dan kabupaten/kota dilaksanakan selaras dengan upaya penataan dan penguatan perimbangan keuangan antara pusat. Sinergi dan sinkronisasi dari perspektif kelembagaan dan aparatur daerah Sinergi dan sinkronisasi dari sudut pandang kelembagaan dan aparatur. dalam pemerintahan diarahkan untuk memperbaiki tata kelola kelembagaan pemerintah daerah dan meningkatkan kapasitas aparatur daerah. propinsi dan kabupaten/kota. Sinergi dan sinkronisasi dari perspektif penganggaran Sinergi dan sinkronisasi pusat. (2) Mengendalikan pemekaran daerah dan menetapkan pengelolaan daerah otonom dengan tetap mengutamakan harmonisasi kepentingan nasionaldan kebutuhan daerah serta rentang kendali manajemen yang ideal.

Siklus perencanaan dan penganggaran antara pusat dan daerah masih belum sepenuhnya sejalan. namun kepastian seluruh kebijakan tersebut diimplementasikan kedalam dokumen anggaran masih menghadapi beberapa kendala antara lain (a) Keterbatasan anggaran yang ada di tingkat provinsi. Bantuan pembiayaan pusat tersebut secara signifikan telah mendukung perbaikan status kesehatan di daerah juga. KESIMPULAN Dari pelaksanaan Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah dapat disimpulkan beberapa hal penting yaitu: 1. tugas perbantuan. serta bantuan sosial seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Persalinan (Jampersal). Kementerian Dalam Negeri. dan Kementerian PPN/Bappenas) belum sinergi. Memperkuat sistem perencanaan dan penganggaran dengan (a) Melakukan evaluasi terhadap sistem perencanaan dalam rangka menyempurnakan sistem yang telah ada termasuk revitalisasi pelaksanaan Musrenbang dengan mengutamakan kombinasi fokus dan lokus (keterkaitan antarsektor). (d) Perumusan indikator dalam penterjemahan kebijakan belum sepenuhnya menggambarkan sebagai alat ukur kebutuhan anggaran dalam mencapai kegiatan. 3. (c) Mengembangkan sistem dan jaringan perencanaan pembangunan pelaksana perencanaan pembangunan baik di pusat dan daerah dan mengembangkan sistem 37 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . hal ini antara lain ditandai dengan (a) Kepatuhan daerah dalam melaksanakan siklus perencanaan dan penganggaran sesuai dengan regulasi yang ada masih rendah. REKOMENDASI 1. dan (c) Dalam menyusun perencanaan belum mengacu pada isu strategis dan prioritas nasional antara pusat dan daerah. terutama dilakukan melalui mekanisme dana dekonsentrasi. dana alokasi khusus. (c) Kapasitas tenaga di bidang perencanaan dan penganggaran yang masih belum optimal.IV. Peran pembiayaan kesehatan pusat dalam mendukung pembangunan kesehatan daerah sangat besar. B. 2. (b) Menyempurnakan berbagai aturan (Standar Operasional) dan mekanisme pelaksanaan perencanaan dan penganggaran. Pentejemahan kebijakan pusat kedalam kegiatan di daerah di bidang kesehatan dan gizi masyarakat secara umum telah sejalan. Selain itu juga pembiayaan pusat juga diberikan dalam bentuk Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk mendukung upaya pembangunan kesehatan preventif dan promotif. (b) Kebijakan operasional dalam perencanaan dan penganggaran antar Kementerian/Lembaga (Kementerian Keuangan. terutama yang bersumber dari APBD. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. (b) Kesesuaian dengan kebijakan politik pada setiap daerah akibat dominasi peran legislative (DPRD).

(c) Meningkatkan kapasitas tenaga di bidang perencanaan dan penganggaran khususnya di tingkat daerah. Meningkatkan optimalisasi pembiayaan kesehatan pusat dalam mendukung pembangunan kesehatan daerah dengan (a) Meningkatkan efektifitas dan efisiensi penggunaan dana dekonsentrasi. (b) Melakukan advokasi kepada pihak legislative (DPRD) untuk meningkatkan keberpihakan pada pembangunan kesehatan. tugas perbantuan. serta bantuan sosial seperti Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan Persalinan (Jampersal) dan (b) Meningkatkan pembiayaan pusat dalam bentuk Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) untuk mendukung upaya pembangunan kesehatan preventif dan promotif. 3. dan (e) Optimalisasi perencanaan dan penganggaran dalam pelaksanaan rapat koordinasi teknis yang dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga. 2.informasi publik. 38 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . dana alokasi khusus. terutama yang bersumber dari APBD. dan (d) Mengembangkan sistem monitoring terpadu antara pusat dan daerah serta bersifat lintas program. (d) Merumuskan indikator dalam penterjemahan kebijakan yang sepenuhnya menggambarkan sebagai alat ukur kebutuhan anggaran dalam mencapai kegiatan. Memperkuat kepastian seluruh kebijakan tersebut diimplementasikan kedalam dokumen anggaran dengan (a) Melakukan advokasi peningkatan anggaran kesehatan yang ada di tingkat provinsi.

Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Presentasi Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat (2012). Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah Serta AntarDaerah. Buku Pegangan 2010. Jakarta. Peraturan Presiden RI No. Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta. Evaluasi Lima Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004-2009. Memelihara Momentum Perubahan.DAFTAR PUSTAKA Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2010). Penyelenggaraan Pemerintah dan Pembangunan Daerah. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Undang-Undang N0. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005—2025. Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2010). Peraturan Presiden RI No. Jakarta Undang-undang No. Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah. Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2011). 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004—2009. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah 39 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010—2014. Rancangan Awal Kerangka Proses dan Mekanisme Revitalisasi Musrenbang 2011. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Undang-Undang No.

Kejari dan Unsur Kejaksaan Diselesaikan Cabjari dan Jajaran Berdasarkan Peraturan Terhadap Pengawasan di Perundang-Undangan dan Penyalahgunaan Daerah Kebijaksanaan yang Wewenang. TugasDitetapkan Oleh Jaksa Tugas Rutin. Kendaraan Operasional roda-4. kendaraan tahanan serta sarana perlengkapan gedung untuk seluruh satuan kerja baik di pusat maupun di daerah guna mendukung pelaksanaan tugas-tugas penegakan hukum 1.2 3Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas AparaturKejaksaan RI 1.2. Satuan 2011 2012 Target 2013 2014 2015 Alokasi Dana (Juta) 2011 2012 2013 2014 2015 unit 10 10 10 10 10 3148 5164 3148 3148 lapdu 6 9 9 9 9 220 283 283 283 40 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .1 1091Pembangunan/ Provinsi Tersedianya Sarana dan Jumlah pengadaan Pengadaan/ Jawa Prasarana Gedung Kantor.1 2Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kejaksaan RI 1. sarana perlengkapan Peningkatan Sarana Barat rumah jabatan untuk dan peralatan dan Prasarana aparatur Kejaksaan di Kejaksaan RI daerah.RENCANA KERJA KEMENTERIAN/LEMBAGA TAHUN 2012 BERDASARKAN PERPOGRAM PER KEGIATAN Provinsi : Jawa Barat Kementerian/Lemba No Kode Lokasi Sasaran Indikator Sasaran ga 1 6KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA 1.1 1097Peningkatan Provinsi Terlaksananya Kegiatan Jumlah Laporan Pengawasan Jawa Pengawasan Atas Pengaduan Aparatur Kejaksaan Barat Pelaksanaan Tugas Rutin Masyarakat yang di Daerah Baik di dan Pembangunan Semua Ditindaklanjuti dan Kejati.1. FORM F4 .LAMPIRAN 1. Pusat Rumah Sakit Kejaksaan. Agung. Pelanggaran Disiplin dan Penanganan Perkara Oleh Aparatur Kejaksaan di Daerah.

UKPPD KEMENTERIAN / LEMBAGA Provi Jawa Barat APBD 2011 2012 Realisasi 2011 Usulan 2013 Pendukung Dana Dana Dana Dana Dana Usulan Target (juta) Target (Juta) Target (Juta) Target (Juta) Target (Juta) Baru No Kode KL/Program/Kegiatan Lokasi Sasaran Indikator Sasaran Satuan 1 1MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT 1.1 1001Pengelolaan Administrasi Provinsi Terselenggaranya Persentase (%) Pelayanan Persen (%) 0 MPR dan Sekretariat Jawa Barat administrasi keanggotaan kesehatan Jenderal dan kepegawaian. ketatausahaan serta pelayanan kesehatan Sekretariat Jenderal 1. Kab.2. 1.3 1007Pembangunan.2. ketatausahaan serta pelayanan kesehatan Sekretariat Jenderal 1.2. Peningkatan dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan. Bekasi Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 Pengadaan. Peningkatan dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan. 0 0 0 2398 100000 00 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 11 111 0 0 0 0 454545 0 0 0 0 0 0 0 0 41 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah . Bogor Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 Pengadaan. perencanaan dan evaluasi. Bekasi Terselenggaranya Persentase (%) Pelayanan Persen (%) 0 MPR dan Sekretariat administrasi keanggotaan kesehatan Jenderal dan kepegawaian. perencanaan dan evaluasi. dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor.1. Provinsi Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 Pengadaan.1.2 1001Pengelolaan Administrasi Kab. dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor. Kab.2 2 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur MPR 1. dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor.FORM F3 . 1.2 1007Pembangunan.1 1Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya MPR 1.1 1007Pembangunan. Peningkatan Jawa Barat dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan.

UKPPD Format F1 42 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .

016.00 3.783.502.92% 6.00 127.00 228.137.979.093.00 263.145.290.00 7.147.000.645.124.653.674.000.628.12% 43 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .304.162.00 2.871.918.778.00 2.29% 11.41% 3.789.827.261.243.205.645.000.00 10.354.342.801.850.24% 5.000.37% 5.561.141.000.00 3.272.107.150.00 329.107.000.199.00 165.00 1.925.475.037.021.693.491.80 1.00 117.72% 8.600.00 969.429.951.838.000.022.511.09% 2.855.106.525.56% 3.00 2.976.293.76% 9.315.479.500.051.587.000.500.057.791.235.403.00 U.00 11.408.929.065.902.387.191.76% 12.156.829.ALOKASI BELANJA URUSAN KESEHATAN PROVINSI SELURUH INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2012 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DAERAH Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Provinsi Se.296.992.843.838.744.272.00 1.943.00 7.100.030.00 1.005.00 189.00 87.00 938.45 1.846.917.05% 7.804.00 266.60% 6.031.429.00 486.000.64% 7.000.61% 4.942.69% 4.53% 8.815.00 14.633.167.000.223.068.108.144.00 3.998.00 174.00 3.00% 15.391.00 4.00 4.042.00 417.66 89.760.245.000.396.076.183.560.00 12.00 39.97% 6.625.442.706.962.760.192.00 2.721.217.650.50 % 9.075.65% 6.100.019.258.000.073.942.869.20% 8.800.00 196.214.134.452.Indonesia TOTAL BELANJA 9.248.000.310.99% 6.744.833.031.67 2.493.24% 5.00 166.556.00 973.822.623.940.586.00 6.713.945.00 15.00 311.489.306.00 575.978.008.503.864.620.656.198.288.955.349.114.758.500.140.88 67.77% 8.731.00 96.724.838.380.00 33.358.403.729.656.474.121.167.KESEHATAN 895.65% 9.415.553.20% 8.301.125.613.827.00 136.74% 12.91 2.407.04% 5.00 62.00 3.170.032.565.15% 8.889.00 807.937.00 330.150.00 1.083.70% 7.00 29.557.736.950.482.249.00 532.395.731.224.870.261.217.254.20 1.169.817.009.000.000.450.580.00 231.311.64% 15.122.31 2.00 4.969.358.359.663.316.00 1.695.863.154.77% 3.019.00 194.425.595.203.91 2.29% 3.570.029.082.742.931.838.853.00 149.502.938.058.00 444.401.366.322.30% 9.709.990.

00 565.93% 2.084.788.29% 0.61% 2.063.214.78% 5.261.44% 5.721.00 25.783.000.969.502.804.00 202.249.415.602.00 253.000.845.41% 2.ALOKASI BELANJA URUSAN KESEHATAN (diluar gaji) PROVINSI SELURUH INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2012 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DAERAH Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Provinsi Se.91 2.91% 4.108.760.000.00 359.254.778.296.419.387.943.122.786.00 91.537.235.789.15% 6.000.076.207.022.466.293.815.709.00 2.570.00 190.00 109.000.12% 11.00 102.366.838.00 109.00 33.450.827.00 41.49% 1.203.429.451.401.261.073.000.481.651.248.380.154.45 1.00 2.00 36.000.170.38% 6.69% 5.00 4.00 53.00 1.00 62.99% 1.32% 1.725.359.91 2.247.144.223.801.213.126.105.18 31.829.653.00 103.354.400.021.000.534.429.511.483.827.Indonesia TOTAL BELANJA 9.560.00 71.452.14% 8.032.586.019.396.93% 1.199.90% 2.000.000.583.17% 2.20 1.00 2.082.000.553.212.838.511.349.00 89.031.408.00 718.580.295.870.00 1.525.00 4.945.800.000.288.560.KESEHATAN/BL 746.000.936.00 13.385.315.990.556.100.00 421.121.938.167.065.904.000.311.628.205.38% 2.310.995.482.000.64% 4.86% 44 | Kajian Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan antara Pusat dan Daerah .00 10.85% 2.00 6.008.758.31 2.929.760.613.239.919.079.942.82% 4.00 293.633.124.998.500.482.087.39% 4.663.766.742.000.595.00 3.761.150.777.00 1.235.00 938.005.00 1.538.24% 5.706.000.530.67 2.00 969.00 31.00 3.065.979.650.00 3.105.853.500.917.902.80 1.223.115.145.681.38% 5.00 130.042.224.49% 4.644.00 11.000.59% 4.00 213.744.075.20 % 7.744.00 421.00 7.256.489.656.00 22.00 2.937.639.000.085.717.050.00 174.502.00 10.550.019.00 U.134.962.950.358.095.114.000.222.831.760.350.00 2.931.293.95% 7.656.000.461.643.374.63% 6.245.100.76% 3.000.31% 11.833.580.500.00 12.00 353.00 3.874.422.00 36.817.380.08% 9.613.135.00 7.100.00 4.67% 5.191.483.00 1.000.942.272.395.207.00 15.133.822.557.517.147.258.358.031.000.100.503.000.00 209.955.000.711.

KUMPULAN PAPARAN WORKSHOP KEGIATAN KAJIAN .

Peran LO: 3 Mempelajari UPPD Provinsi 4 1 . agar bisa menjadi acuan bagi provinsi untuk mendukung sasaran pembangunan nasional dan juga bagi KL dalam mengalokasikan resource ke daerah Solusi 2012 Menggunakan Prioritas Nasional. • Menggunakan alokasi D/TP tahun berjalan dan sebelumnya (<2012) sebagai baseline No 1 Evaluasi 2011 Kualitas Isu Strategis Provinsi perlu lebih disempurnakan. ditanggapi oleh Pemprov. agar bisa menjadi acuan bagi provinsi untuk mendukung sasaran pembangunan nasional dan juga bagi KL dalam mengalokasikan resource ke daerah Solusi 2012 • Isu Strategis dibahas dan disepakati di forum Triwulanan I (29 Feb) • Isu Strategis menjadi fokus pembahasan pada rangkaian Musrenbang 2012 Peran LO: Mempelajari dan mengawal isu strategis provinsi No 3 Titik Kritis Arahan Pusat ke daerah masih normatif Evaluasi 2011 Kualitas Isu Strategis Provinsi perlu lebih disempurnakan. • Program dan kegiatan sudah dipertajam sampai indikator. dan disampaikan oleh MenPPN pada Musrenbangprov. yang digunakan juga dalam aplikasi Usulan Pendanaan Pemerintah Daerah (UPPD). Peran LO: Memberikan arahan mengenai Isu Strategis Provinsi Tujuan dan sasaran kurang tajam 4 2 Hanya membahas dana Dekon/ TP Selain membahas D/TP. 5 Maret 2012 2 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Tujuh Titik Kritis: Evaluasi 2011 dan Solusi 2012 Titik Kritis Solusi 2011 • Tujuan/sasaran nasional sudah dipertajam (segregasi) hingga level provinsi berdasarkan Isu Strategis Provinsi. dan RKAKL 2011 dan 2012 sebagai arahan ke daerah. Pembahasan DAK belum terlaksana dalam Musrenbang 2011 • Penentuan prioritas bidang DAK • Akan ditentukan lebih lanjut pada Raker II Nomenklatur kegiatan K/L dan daerah belum sama Aplikasi UPPD sudah menggunakan nomenklatur Renja K/L. Isu Strategis Provinsi. • Melakukan pemetaan di UPPD jika terjadi perubahan nomenklatur di Renja K/L • Integrasi aplikasi Renja dan UPPD.06/02/2013 KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS SISTEMATIKA PAPARAN RANCANGAN PENYELENGGARAAN RANGKAIAN MUSRENBANG 2012 DALAM RANGKA PENYUSUNAN RKP 2013 Oleh : MUSRENBANG 2012 o Tujuh titik kritis: Evaluasi 2011 dan Solusi 2012 o Tujuh tahap revitalisasi Musrenbang – Pra Rakorbangpus s. Nomenklatur UPPD dan Renja K/L belum sepenuhnya sama (terutama akibat adanya Inisiatif Baru) • Tetap mengikuti nomenklatur Renja K/L. juga akan dimulai pembahasan perkiraan kebutuhan DAK melalui penentuan prioritas DAK per bidang.d Pasca Musrenbangnas – UKPPD DIREKTORAT TATA RUANG DAN PERTANAHAN Jakarta. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Tujuh Titik Kritis: Evaluasi 2011 dan Solusi 2012 Solusi 2011 • Isu Strategis Provinsi disiapkan oleh Bappenas. disepakati dalam forum Triwulanan.

Peran direktorat sektoral Bappenas untuk lebih aktif mengawal proses finalisasi Renja KL berdasarkan hasil musrenbangnas. Per wilayah/ hari MUSREN BANGNAS (26 Apr) 1. 25 Apr) 1. Peran LO: Memastikan usulan kegiatan prioritas daerah sesuai dengan Isu Strategis Provinsi MUSRENBANG PROV KHUSUS P4B PRA MUSRENBANGNAS KHUSUS P4B Untuk masukan penajaman Renja K/L Menghasilkan UPPD RAKOR BANGPUS (21 Mar) RATEK K/L (< 21 Maret) MUSREN BANGPROV (21 Mar-10 Apr) Persandingan UPPD & Renja K/L (10-15 Apr) 6 Waktu pembahasan sinkronisasi program/ kegiatan terbatas Tindak lanjut hasil Musrenbangnas tidak pasti Menggunakan format pembahasan trilateral desks (K/L.06/02/2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Tujuh Titik Kritis: Evaluasi 2011 dan Solusi 2012 Solusi 2011 Menggunakan Isu Strategis Provinsi sebagai kriteria untuk menetapkan program/ kegiatan/ indikator yang dibahas di Pra Musrenbangnas. Awal RKP 2012 dan SEB pagu indikatif 2013. Peran LO: Mengawal hasil musrenbangnas bagi provinsinya 5 PRA-RAKOR BANGPUS (<21 Mar) Menyusun Isu Strategis Provinsi sebagai basis pembahasan sinkronisasi pusat daerah TRIWULANAN I (29 Feb) Menetapkan Isu Strategis FORUM OMS (21-30 Mar) Menjaring aspirasi publik bagi RKP 2013 PRA-MUSREN BANGNAS (16-20. • SEB • Rancangan Awal RKP 2013 • Catatan rapat untuk ditindaklanjuti dalam penyusunan Renja K/L dan UPPD Keluaran Tindak Lanjut Penyusunan: • Renja K/L oleh K/L • UPPD oleh Pemprov melalui Musrenbangprov Peran LO : Berkoordinasi dengan Bappeda Provinsi yang bersangkutan o Hal baru dalam Musrenbang 2012 – Liasion Officer (LO) – Isu Strategis – UP4B Input • SEB Pagu Indikatif 2013 • Rancangan Awal RKP 2013 o Output Pra Musrenbangnas – Regular (Kesepakatan UKPPD) – Isu Strategis Provinsi ( Kesepakatan 5 Kegiatan Strategis) 7 8 2 . Waktu pembahasan relatif mencukupi Cukup baik. Laporan hasil Pra Musren 2. Peran LO: • Sebagai penanggungjawab sektor • Mengarahkan mitra daerah 7 Verifikasi oleh Direktorat Sektoral terhadap Renja mitranya belum berjalan. Pemprov dan Bappenas) pada Pra Musrenbangnas (satu hari satu wilayah). Arahan presiden 3. Dialog PusatDaerah PASCA MUSREN BANGNAS (30 Apr) Pertemuan Bappenas – K/L membahas hasil Musrenbangnas untuk penyempurnaan RKP 2013 Rangkaian Musrenbangnas 6 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Catatan KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Rakorbangpus Mekanisme Sidang Pleno: • Bappenas menyampaikan Ranc. KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Tujuh Tahap Revitalisasi (Plus P4B) RAKORBANGPUS KHUSUS P4B Mendiseminsikan Rancangan Awal RKP 2013 dan SEB Pagu Indikatif 2013 Menghasilkan masukan untuk Rancangan Renja K/L No 5 Titik Kritis Belum jelasnya kriteria penetapan prioritas Evaluasi 2011 Isu strategis belum sepenuhnya dijadikan kriteria seleksi Solusi 2012 Penetapan kegiatan prioritas berdasarkan Isu Strategis Provinsi. Membahas Sinkronisasi Pusat Daerah. • Kemenkeu menyampaikan kebijakan fiskal dan pelaksanaan anggaran 2013. Melakukan verifikasi pada forum Pasca Musrenbangnas untuk memastikan hasil Musrenbangnas telah diakomodir dalam Renja K/L dan RKP. 2.

• Usulan prioritas bidang DAK. target. Peran LO: • Sebagai penanggungjawab sektor/bidang • Fasilitasi Provinsi mitra KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Musrenbangnas Mekanisme • Laporan hasil kesepakatan PraMusrenbangnas • Arahan Presiden mengenai pelaksanaan pembangunan 2012 dan rencana 2013 • Paparan para menteri koordinator mengenai strategi pelaksanaan pembangunan menurut bidang kerja masingmasing sektor • Dialog para menteri dan gubernur membahas arahan pelaksanaan dari Presiden Keluaran • Pelaporan hasil kesepakatan mengenai Program. kegiatan dan diusulkan didanai Isu Strategis dan indikator dengan APBN melalui UPPD.. Provinsi mengacu tema dan • Rancangan RKPD prioritas (konsep) • Indikasi Renja KL Provinsi dan Rancangan Awal RKP per provinsi Rancangan Renja 2013 serta • Aplikasi UPPD SKPD yang telah kesesuaiannya disempurnakan • Usulan kegiatan dengan Isu Strategis berdasarkan hasil Kabupaten/Kota Provinsi dan Musrenbangprov. program kegiatan. • Membahas daftar pendek UPPD (F1) dan bila memungkinkan dilanjutkan dengan membahas daftar panjang UPPD (F2). lokus. dan indikasi anggaran dalam bentuk berita acara.. Bappenas: • Membahas persandingan sasaran dan prioritas nasional dengan sasaran dan prioritas daerah.(2) Mekanisme • UPPD (short list-F1) berdasarkan isu strategis provinsi yang akan dibahas dalam Pra-Musrenbangnas Keluaran • UPPD terpilih (short list-F1) yang dipilih berdasarkan isu strategis provinsi untuk dibahas dalam Pra Musrenbangnas. 11 12 3 . • UPPD hasil Musrenbangprov. • Para pihak menandatangani berita acara kesepakatan/keputusan. Input Rekapitulasi Kesepakatan Pra Musrenbangnas • Rancangan Awal RKP 2013. Tindak lanjut Rekapitulasi Berita Acara Kesepakatan dilaporkan kepada Presiden di Musrenbang-nas. Peran LO: • Mendampingi Pejabat Eselon I Bappenas ke daerah • Memberikan pendampingan selama Musrenbangprov • Memastikan hasil Musrenbangprov dapat dibawa ke Jakarta 9 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Musrenbangprov.(1) Input Mekanisme Sidang pleno dan kelompok membahas: Keluaran Tindak Lanjut • Menyampaikan UPPD kepada Bappenas • Penyusunan usulan bidang dana transfer (DAK) 2013. kerangka investasi • Prioritas bidang wilayah DAK • program/kegiatan yang potensial dikerja-samakan dengan sektor swasta (KPS/PPP) 10 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Pra Musrenbangnas Input Mekanisme • Trilateral desk (H1-5) antara KL. Kegiatan Strategis dan Pendanaan Pusat dan Daerah. Bappeda. Keluaran Hasil kesepakatan. Tindak Lanjut Input • Rancangan awal RKP 2013 • Program/kegiatan prioritas yang akan didanai oleh APBD • Rancangan Isu• program. • Isu Strategis Provinsi. • Arahan Presiden RI Tindak Lanjut • K/L menyempurnakan Renja K/L untuk diverifikasi pada forum Pasca Musrenbangnas..06/02/2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Musrenbangprov. • Membahas prioritas bidang DAK. • Rancangan Awal Renja K/L tahun 2013 yang memuat indikasi kegiatan per provinsi..

indikator. • Rancangan Akhir RKP tahun 2013. lokasi dan pendanaan hasil Musrenbangnas . • Menetapkan Rancangan Akhir RKP 2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Input • Rekapitulasi kesepakatan sinergi program.06/02/2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Pasca Musrenbangnas Mekanisme Bilateral desk Bappenas-KL • K/L menunjukkan kepada Bappenas bahwa hasil Musrenbangnas telah tercantum dalam Renja K/L. • Jika ada hasil kesepakatan yang belum dapat diakomodir dalam Renja K/L. • Renja K/L yang final (sudah diparaf) menjadi input untuk penyempurnaan RKP 2013. • Rancangan Renja K/L Tahun 2013 yang telah disempurnakan berdasarkan hasil Musrenbangnas dan arahan presiden. Fakta. Potensi II. Usulan Kegiatan dan Pendanaan Pemerintah Daerah (UKPPD) 13 14 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Alur UKPPD RENJA K/L 2012 RENJA KL 2013 UKPPD PEMERINTAH PROVINSI KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS MATERI PEMBAHASAN PRA MUSRENBANGNAS INPUT KEMENTERIAN /LEMBAGA I. ISU STRATEGIS (5 kegiatan strategis) OUT PUT F1 ShortList Sandingan F2 LongList Sandingan F3 UKPPD F4 RENJA K/L 15 16 4 . Tindak lanjut • Bappenas melakukan penyempurnaan Rancangan RKP 2013. kegiatan. Keluaran • Rancangan Akhir Renja K/L tahun 2013. Renja KL. • F1  Format (Short List). K/L harus memberikan penjelasan. • • • PROSES PRIORITAS NASIONAL (RPJMN/RKP) PERSANDINGAN REKAP UKPPD : F4  Format F3  Format F2  Format (Long List). Persandingan UKPPD dan Renja KL – Persandingan Prioritas Pembahasan – PRIORITAS WILAYAH (RPJMD/RKPD) Isu strategis. UKPPD (usulan daerah final). • Direktorat teknis Bappenas memastikan Renja K/L sudah mengakomodir hasil musrenbangnas dengan memberikan paraf.

1. kendaraan tahanan serta sarana perlengkapan gedung untuk seluruh satuan kerja baik di pusat maupun di daerah guna mendukung pelaksanaan tugas-tugas penegakan hukum 1.RENCANA KERJA KEMENTERIAN/LEMBAGA TAHUN 2012 BERDASARKAN PERPOGRAM PER KEGIATAN Satuan 2011 2012 Target 2013 2014 2015 Alokasi Dana (Juta) 2011 2012 2013 2014 2015 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS UKPPD Format F3 FORM F3 .1 1.2.1 1091Pembangunan/ Provinsi Tersedianya Sarana dan Jumlah pengadaan Pengadaan/ Jawa Prasarana Gedung Kantor. perencanaan dan evaluasi. Bekasi Terselenggaranya Persentase (%) Pelayanan Persen (%) 0 0 0 0 0 0 0 MPR dan Sekretariat administrasi keanggotaan kesehatan Jenderal dan kepegawaian.2 1. Peningkatan dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan. dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor.UKPPD KEMENTERIAN / LEMBAGA Provi Jawa Barat APBD Pendukung 2011 2012 Realisasi 2011 Usulan 2013 Dana Dana Dana Dana Dana Usulan Kode KL/Program/Kegiatan Lokasi Sasaran Indikator Sasaran Satuan Target (juta) Target (Juta) Target (Juta) Target (Juta) Target (Juta) Baru 1MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT 1Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya MPR 1001Pengelolaan Administrasi Provinsi Terselenggaranya Persentase (%) Pelayanan Persen (%) 0 0 0 0 2398 100000 0 MPR dan Sekretariat Jawa Barat administrasi keanggotaan kesehatan 00 Jenderal dan kepegawaian.1 1097Peningkatan Provinsi Terlaksananya Kegiatan Jumlah Laporan Pengawasan Jawa Pengawasan Atas Pengaduan Aparatur Kejaksaan Barat Pelaksanaan Tugas Rutin Masyarakat yang di Daerah Baik di dan Pembangunan Semua Ditindaklanjuti dan Kejati. Peningkatan Jawa Barat dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan. Kejari dan Unsur Kejaksaan Diselesaikan Cabjari dan Jajaran Berdasarkan Peraturan Terhadap Pengawasan di Perundang-Undangan dan Penyalahgunaan Daerah Kebijaksanaan yang Wewenang. Pelanggaran Disiplin dan Penanganan Perkara Oleh Aparatur Kejaksaan di Daerah.2 3Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Kejaksaan RI 1. 1007Pembangunan.2.2. Provinsi Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 0 0 0 11 111 0 Pengadaan. Agung.1. Bekasi Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 0 0 0 0 0 0 Pengadaan. ketatausahaan serta pelayanan kesehatan Sekretariat Jenderal 2 Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur MPR 1007Pembangunan. Bogor Pelayanan perlengkapan Persentase (%) Persen (%) 0 0 0 0 454545 0 0 Pengadaan.1 1. Peningkatan dan inventarisasi dalam Ketersediaan peralatan. sarana perlengkapan Peningkatan Sarana Barat rumah jabatan untuk dan peralatan dan Prasarana aparatur Kejaksaan di Kejaksaan RI daerah. dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor. Provinsi : Jawa Barat Kementerian/Lemba ga No Kode Lokasi Sasaran Indikator Sasaran 1 6KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA 1. TugasDitetapkan Oleh Jaksa Tugas Rutin. Kendaraan Operasional roda-4.2 1. dan Pengelolaan Sarana lingkup MPR dan perlengkapan kerja dan dan Prasarana MPR Sekretariat Jenderal alat tulis kantor.2. Kab.1.2 lapdu 6 9 9 9 9 220 283 283 283 1. perencanaan dan evaluasi. ketatausahaan serta pelayanan kesehatan Sekretariat Jenderal 1001Pengelolaan Administrasi Kab. 1007Pembangunan. Pusat Rumah Sakit Kejaksaan. Kab.3 17 18 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS UKPPD Format F2 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS UKPPD Format F1 19 20 5 . unit 10 10 10 10 10 3148 5164 3148 3148 No 1 1.1 2Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kejaksaan RI 1.1 1.06/02/2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS UKPPD Format F4 FORM F4 .

06/02/2013 KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS Isu Strategis KEMENTERIAN PPN/ BAPPENAS TERIMA KASIH 21 6 .

d Psl 154 PENGENDALIAN & EVALUASI Psl 155 s. baik dalam aspek pendapatan. PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya. melalui urutan pilihan. dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Tata Cara Penyusunan. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah 4. UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah 3. Pada Acara : WORKSHOP KAJIAN SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH HOTEL SARI PAN PACIFIC. akses terhadap pengambilan kebijakan. PP 58/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 5. UU 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara 3. UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah 4. PERMENDAGRI 59/2007 tentang Perubahan atas PERMENDAGRI 13/2006. UU 25/2004 tentang Sistem Perencanaan pembangunan nasional 2. PP 08/2008 tentang Tahapan. PERMENDAGRI 13/2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 6. UU 17/2003 tentang Keuangan Negara 2. guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu.d Psl 84 Psl 85 s. lapangan berusaha. TATA CARA PENYUSUNAN Lampiran II Lampiran III Lampiran IV Lampiran V Lampiran VI TAHAPAN Psl 20 s. kesempatan kerja.d Psl 133 PEMBANGUNAN DAERAH adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata.d Psl 281 1 . PERMENDAGRI 54/2010 tentang Pelaksanaan PP 08/2008 PENGANGGARAN : 1.Dasar Hukum Perencanaan & Penganggaran PERENCANAAN : 1. 3 4 PENGESAHAN KDH Psl 134 s. maupun peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). berdaya saing.d Psl 49 Psl 50 s. 6 MARET 2012 2 PERENCANAAN DATA DAN INFORMASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DOKUMEN RPJPD (20 th) RPJMD (5 th) RENSTRA SKPD (5 th) RKPD (1 th) RENJA SKPD (1 th) PENETAPAN PERDA PERDA PENGESAHAN KDH PERKADA adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat.d Psl 98 Psl 99 s.

pedoman dalam penyusunan KUA dan PPAS. RPJM Daerah berfungsi sebagai : • • pedoman pembangunan di daerah selama 5 (lima) tahun. acuan penyusunan Rencana Kerja SKPD. sesuai dgn kondisi nyata dan kebutuhan masyarakat dan urusan wajib serta urusan pilihan yang menjadi tanggungjawab SKPD.PRINSIP & PENDEKATAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (Pasal 3. kabupaten/ kota. (melibatkan semua pemangku kepentingan) Top down & Bottom Up (diselaraskan melalui musyawarah nasional. nasional dan global Pendekatan Perencanaan Pembangunan Daerah: • • • • Politik. kecamatan dan desa) Berdasarkan prestasi kerja (Performance Budgeting System) Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah (Medium Term Expenditure Framework) Perencanaan Penganggaran terpadu (Unified Budgeting System) Pagu Indikaif & Prakiraan maju (Resource Envelope & Forward Estimate) Mengacu pada SPM. pedoman bagi penyusunan RPJMD. instrumen untuk meningkatkan keunggulan utama daerah (core competency). • • •  alat atau instrumen pengendalian bagi satuan pengawas internal (SPI) dan Bappeda. acuan penyusunan visi dan misi calon kepala daerah. Pedoman penyusunan rencana kerja tahunan (RKPD). instrumen bagi mewujudkan pembangunan berkelanjutan dalam jangka 20 tahun. Pasal 6 & Pasal 11) TUJUAN PEMBANGUNAN DAERAH Karakteristik lokasi dan Wilayah Potensi Pengembangan Wilayah ASPEK GEOGRAFIS & DEMOGRAFIS Wilayah rawan Bencana Demografi Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Kesejahteraan Sosial Seni Budaya dan olahraga Prinsip Perencanaan Pembangunan Daerah:     Satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional Dilakukan bersama pemangku kepentingan sesuai peran dan kewenangan Mengintegrasikan RTRW dgn rencana pembangunan Dilaksanakan berdasarkan kondisi. (penjabaran dari agenda-agenda pembangunan yang ditawarkan KDH terpilih) Teknokratik. Kegiatan & Penganggaran: • • • • • IPM PROVINSI SE-INDONESIA TAHUN 2009  Fungsi Dokumen Rencana Pembangunan Daerah RPJP Daerah berfungsi sebagai : • • • • •  Road map (peta arah) pembangunan daerah 20 tahun kedepan. (menggunakan metoda dan kerangka pikir ilmiah) Partisipatif. provinsi. potensi serta dinamika daerah. instrumen mengukur tingkat pencapaian kinerja kepala SKPD pedoman evaluasi penyelenggaraan Pemda sebagaimana amanat PP 6/2008 RKP Daerah berfungsi sebagai : • • instrumen untuk mengoperasionalkan RPJMD. 8 7 • 2 . 5 IPM ASPEK PELAYANAN UMUM Pelayanan dasar Pelayanan Penunjang Kemampuan Ekonomi Daerah ASPEK DAYA SAING DAERAH Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Iklim Berinvestasi Sumber Daya Manusia 6 Pendekatan Penyusunan Program.

12 RPJPD K/K PEDOMAN RPJMD K/K DIJABARKAN PEDOMAN RENSTRA SKPD K/K RKPD K/K PEDOMAN DIACU RAPBD K/K PEDOMAN RENJA SKPD K/K 12 11 3 .KETERHUBUNGAN ANTARDOKUMEN (RPJPD VS RPJMD) VISI & MISI 20TH ARAH PEMBANGUNAN DAERAH 20 TH SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH 20 TH Arah Pembangunan 5 Tahun I Sasaran Pokok 5 Tahun I Arah Pembangunan 5 Tahun II Sasaran Pokok 5 Tahun II Arah Pembangunan 5 Tahun III Sasaran Pokok 5 Tahun III Arah Pembangunan 5 Tahun IV Sasaran Pokok 5 Tahun IV KETERHUBUNGAN ANTARDOKUMEN (RPJMD VS RKPD) VISI & MISI 5 TH TUJUAN Sasaran Tahun I Penyelenggaraan Urusan Indikator Kinerja Daerah Strategi & Arah Kebijakan & S A S A R A N 5 TH Sasaran Tahun III Strategi & Arah Kebijakan Sasaran Tahun II Strategi & Arah Kebijakan Sasaran Tahun IV Strategi & Arah Kebijakan Sasaran Tahun V Strategi & Arah Kebijakan Program Pembangunan Daerah Program Pembangunan Daerah Program Pembangunan Daerah Program Pembangunan Daerah Program Pembangunan Daerah 9 10 KONSISTENSI DAN SINKRONISASI ANTAR DOKUMEN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Daerah I (5) II (10) III (15) IV 20) SINKRONISASI PERENCANAAN & PENGANGGARAN PUSAT DAN DAERAH DALAM SATU KESATUAN SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL 20 TAHUN PEDOMAN 5 TAHUN 1 TAHUN DIJABARKAN RPJPN RPJMN DIPERHATIKAN RKP DIACU DAN DISERASIKAN PEDOMAN DIACU RAPBN RPJPD DIACU PEDOMAN RENSTRA K/L PEDOMAN Renstra SKPD Kebijakan umum dan program Pemb Daerah Serta Indikasi Rencana Program Prioritas Disertai Kebutuhan Pendanaan I II III IV V Program dan kegiatan dan indikator kinerja SKPD I II III IV V RENJA K/L PEDOMAN RPJPD PROV PEDOMAN RPJMD PROV DIPERHATIKAN DIJABARKAN PEDOMAN RKPD PROV DIACU DAN DISERASIKAN RAPBD PROV RPJMD DIACU PEDOMAN RENJA SKPD PROV DIACU RENSTRA SKPD PROV Renja SKPD RKPD Prirotias dan sasaran.. serta Program dan kegiatan 1 2 3 . 12 Program dan keg Pemb Daerah 1 2 3 ..

65/Permenten/OT. Program keadilan untuk semua 3. 22/PER/M. 3. 10. 15/2010 ttg SPM Bidang Pendidikan Dasar. 7. PERMEN Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia No. 5. 2. kreatifitas. Peraturan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional No: 55/Hk-010/B5/2010 ttg ttg SPM Bidang Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera di Kab/Kota. Renja SKPD. PERMEN Dalam Negeri No. 4. 8.41 TAHUN 2011 tanggal 25 Agustus 2011 tentang SPM Bidang Perhubungan 14 Provinsi dan Kab/kota. RKA-SKPD sesuai klasifikasi belanja daerah dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. 10. 9. PERMENHUB NOMOR PM.SINERGI PROGRAM JANGKA MENENGAH PUSAT DAN DAERAH 11 PRIORITAS NASIONAL (RPJMN) 1. 14.140/12/2010 tgl 22 Desember 2010 ttg SPM Bidang Ketahanan Pangan Provinsi dan Kab/Kota. 14/PRT/M/2010 tgl 25 Oktober 2010 ttg SPM Bidang Pekerjaan Umum. 3. 5. (4) Rencana Pencapaian SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dituangkan dalam RPJMD dan Renstra SKPD. Program Pro Rakyat 2. 11. 1/2010 ttg SPM Bidang Layanan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan. KEPMEN Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM 106/HK. 2. PERMEN Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. (3) Pemerintahan Daerah menyusun rencana pencapaian SPM yang memuat target tahunan pencapaian SPM dengan mengacu pada batas waktu pencapaian SPM sesuai dengan Peraturan Menteri. 14 SPM 1. dan Inovasi teknologi. PERMEN Sosial No. 741/MENKES/PER/VII/2008 tentang SPM Bidang Kesehatan.501/MKP/2010 tgl 23 Desember 2010 ttg SPM Bidang Kesenian . terluar dan pascakonflik. 9. 8.Kominfo/12/2010 tgl 20 Desember 2010 ttg SPM Bidang Komunikasi dan Informasi. 22/PERMEN/M/2008 ttg SPM Bidang Bidang Perumahan Rakyat Daerah Provinsi dan Daerah Kab/Kota. PERMEN Pertanian No. 62/2008 ttg SPM Bidang Pemerintahan Dalam Negeri di Kab/Kota. 13. 129/HUK/2008 ttg SPM (SPM) Bidang Sosial Daerah Provinsi dan Daerah Kab/Kota. 7. PERMEN Negara Perumahan Rakyat No. 6. Pendidikan Kesehatan Penanggulangan kemiskinan Ketahanan pangan Infrastruktur Iklim investasi dan iklim usaha Energi Lingkungan hidup dan pengelolaan bencana. terdepan. 15/MEN/X/2010 tgl 29 Oktober 2010 ttg SPM Bidang Ketenagakerjaan. 11. 19/2008 tentang SPM Bidang Lingkungan Hidup Daerah Provinsi dan Daerah Kab/Kota. PERMEN Pekerjaan Umum No. 1 2 3 4 5 15 • PERSIAPAN PENYUSUNAN • PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL • PELAKSANAAN MUSRENBANG • PERUMUSAN RANCANGAN AKHIR • PENETAPAN 16 4 . 4. 3 FOKUS PROGRAM (INPRES 3/2010) 1. Reformasi birokrasi dan tata kelola. Daerah tertinggal. Program pencapaian tujuan pembangunan milenium (MDG”s) PROGRAM-PROGRAM 26 URUSAN WAJIB & 8 URUSAN PILIHAN 13 INTEGRASI SPM DALAM RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (Pasal 9 PP 65 Tahun 2005) TAHAPAN PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (1) Pemerintah Daerah menerapkan SPM sesuai dengan ketentuan Peraturan PerundangUndangan. 12. (5) Target tahunan pencapaian SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dituangkan ke dalam RKPD. (2) SPM yang telah ditetapkan Pemerintah menjadi salah satu acuan bagi pemerintah daerah untuk menyusun perencanaan dan penganggaraan penyelenggaraan pemerintahan daerah. PERMEN Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kebudayaan. PERMEN Kesehatan No. PERMEN Negara Lingkungan Hidup No. KUA. 6. PERMEN Informasi dan Komunikasi No.

. ..... misi dan arah pembangunan daerah dengan mengacu pada RPJP Nasional dan RPJPD provinsi..  RPJPD kabupaten/kota memuat visi. misi dan arah kebijakan RPJPD kab/kota Pembahasan dan penetapan Perda RPJPD 19 Indikator Target 5 th Indikator Target 5 th Indikator Target 5 th Indikator Target 5 th 20 5 ........... misi dan arah pembangunan daerah dengan mengacu pada RPJP Nasional... ...... .) Arah Kebijakan Lima Tahun ke-4 (. Visi & misi daerah Arah kebijakan Kaidah pelaksanaan 17 18 TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RPJPD KAB/KOTA (Lampiran II Permendagri No 54/2010) 1 Persiapan Penyusunan RPJPD Pengolahan data dan informasi Penelaahan RPJPN & RPJPD prov & kab/kota lainnya ARAH KEBIJAKAN JANGKA PANJANG DAERAH Rancangan Awal RPJPD 2 VISI DAERAH MISI DAERAH 3 Perumusan visi dan misi daerah Perumusan sasaran pokok dan arah kebijakan Musrenbang RPJPD Penelaahan RTRW kab/kota & RTRW kab/kota Lainnya Analisis isu-isu strategis 4 Rancangan Akhir RPJPD Sasaran Pokok 20 Tahun Analisis Gambaran umum kondisi daerah Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Masukan dari SKPD Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Konsultasi rancangan akhir RPJPD dengan GUBERNUR Arah Kebijakan Lima Tahun ke-1 (.. .....RPJPD (Pasal 20 s............) 5 Penyelarasan visi...) Arah Kebijakan Lima Tahun ke-2 (..) Arah Kebijakan Lima Tahun ke-3 (...d Pasal 49) SISTEMATIKA DOKUMEN RPJPD (Pasal 40 ayat (1) PP 8/2008) Pendahuluan Gambaran umum kondisi daerah Analisa isu–isu strategis  RPJPD provinsi memuat visi.

....... Dst ....... misi..... ............. Dst ....  RPJMD memuat arah kebijakan keuangan daerah............... Misi 1…… Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun I Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun II Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun III Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun IV 21 Misi 2…… Misi dst …… dst ..........SASARAN POKOK DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN RPJPD KABUPATEN/KOTA (Tabel T-II.... Sasaran Pokok 20 Tahun VISI MISI Uraian Sasaran Pokok 1 ................................. Indikator dan Target .............. ........... Visi dst. kebijakan umum.. Misi dst …… dst ............ .. program SKPD dan lintas SKPD............. dst ............. Dst ....................... ........ ... dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJP daerah dengan memperhatikan RPJM nasional......... ... strategi pembangunan daerah... ......... serta program kewilayahan disertai dengan rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Tujuan & Sasaran  Strategi & Arah Kebijakan  Kebijakan Umum & Program Pembangunan Daerah  Indikasi Program Prioritas & Pendanaan  Penetapan Indikator Kinerja Daerah  Kaidah Pelaksanan 23 TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RPJMD KABUPATEN/KOTA (Lampiran III Permendagri No 54/2010) Persiapan Penyusunan RPJMD 1 2 Rancangan Awal RPJMD Penelaahan RPJPD Kab/Kota Perumusan Strategi dan arah kebijakan Pengolahan data dan informasi Penyusunan Rancangan Renstra SKPD VISI.49 Lampiran II Permendagri No 54/2010) RPJMD (Pasal 50 s................ Misi.......... RPJMD Provinsi dan kab/kota lainnya Perumusan Penjelasan visi dan misi serta Tujuan dan Sasaran 3 4 Pelaksanaan Forum Konsultasi Publik Analisis Gambaran umum kondisi daerah & pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan Analisis isu-isu strategis Pembahasan dengan DPRD Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Penyelarasan program prioritas dan pendanaan 5 Pembahasan dan penetapan Perda RPJMD 24 6 . Arah Kebijakan Pembangunan (20 Tahun) (KAIDAH PELAKSANAAN) Visi 1.............................. MISI dan Program KDH Perumusan Kebijakan umum dan program pembangunan daerah Perumusan Indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan Rancangan RPJMD Musrenbang RPJMD Rancangan Akhir RPJMD Konsultasi rancangan akhir RPJMD dengan GUBERNUR Hasil evaluasi capaian RPJMD Penelaahan RTRW Kab/kota & RTRW daerah lainnya Penelaahan RPJMN...............d Pasal 84)  RPJMD untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran dari visi....... 22 Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun I Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun II Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun III Arah Kebijakan Pembangunan Lima Tahun IV SISTEMATIKA DOKUMEN RPJMD (Pasal 40 ayat (2) PP 8/2008)  Pendahuluan  Gambaran Umum Kondisi Daerah  Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah & Kerangka Pendanaan  Analisa Isu–isu Strategis  Visi.... Sasaran Pokok 2 ..... .........................C.

..91 Lampiran III Permendagri No 54/2010) Capaian Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Bidang Urusan Pemerintahan dan Program Prioritas Pembangunan Kondisi Kinerja pada Awal RPJMD (Tahun 0) Kondisi Kinerja SKPD pada akhir periode RPJMD Penan No (1) Sasaran (2) Strategi dan Arah Kebijakan (3) Indikator Kinerja (outcome) (4) Capaian Kinerja Kondisi Awal (5) Kondisi Akhir (6) Program Pembangunan Daerah (7) Bidang Urusan (8) SKPD Penanggung Jawab (9) 1 1 1 1 1 Kode Indikator Kinerja Program (outcome) Tahun-1 Tahun-2 Tahun-3 Tahun-4 Tahun-5 ggung Jawab Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp Target Rp 01 Kesehatan 01 01 Program ..... Strategi dan Kebijakan  Rencana Program & Kegiatan. pada  Pendahuluan  Gambaran Pelayanan SKPD  Isu–isu Strategis Tugas dan Fungsi SKPD  Visi. 2 2 2 2 2 25 26 RENSTRA SKPD (Pasal 85 s.. dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD..... Keluaran Sasaran & Pedanaan Indikatif  Indikator Kinerja SKPD mengacu ke RPJMD 27 28 7 . 01 03 Dst ....... 01 02 Program.d Pasal 98) SISTEMATIKA DOKUMEN RENSTRA-SKPD (Pasal 40 ayat (4) PP 8/2008)  Renstra-SKPD memuat visi...90 Lampiran III Permendagri No 54/2010) INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN RPJMD KABUPATEN/KOTA (Tabel T-III....KEBIJAKAN UMUM & PROGRAM PEMBANGUNAN RPJMD KABUPATEN/KOTA (Tabel T-III.  Penyusunan Renstra-SKPD berpedoman RPJMD dan bersifat indikatif.. Tujuan & Sasaran........... 01 02 Dst .. kebijakan. misi. Misi.. Urusan Pilihan 01 Pertanian 01 01 Program... strategi. Indikator Kinerja.. 02 Dst . program..C.C. tujuan.

Dst ...... 4 sesuai Pengolahan data dan informasi Penetapan Renstra SKPD RENSTRA-SKPD 29 30 KERANGKA WAKTU & SIKLUS PERENCANAAN & PENGANGGARAN TAHUNAN RKP (PP 20/2004) Rancangan Awal RKPD P/K/K Rancangan Renja SKPD Penetapan RKPD P/K/K/Desa EVALUASI RAPERDA APBD Rencana Kerja Pembangunan Daerah (Pasal 99 s.............. Program ..........28 Lampiran IV Permendagri No 54/2010) 3 Indikator Data Kinerja Capaian Program pada (outcome) Tahun dan Awal Kegiatan Perenca (output) naan Target Kinerja Program dan Kerangka Pendanaan Kondisi Kinerja pada akhir periode Unit Kerja Renstra SKPD Lokasi SKPD Penanggu ngjawab Renstra-KL & Renstra SKPD Provinsi Penelaahan RTRW & KLHS Tdk sesuai VERIFIKASI sesuai Rancangan Akhir RPJMD Tujuan Sasaran Indikator Sasaran 2011 2012 2013 2014 2014 Kode Perumusan Isu-isu strategis berdasarkan tupoksi Analisis Gambaran pelayanan SKPD Perumusan visi dan misi SKPD Perumusan Tujuan Perumusan rencana program. kegiatan............. LOKASI & PENDANAAN INDIKATIF RENSTRA SKPD KABUPATEN/KOTA (Tabel T-IV...d Pasal 133) Kesepakatan KUA/PPAS Penetapan Renja SKPD Pengajuan RAPBD Penetapan APBD RKA-SKPD RKPD memuat rancangan kerangka ekonomi daerah........ Kegiatan. rencana kerja dan pendanaannya serta prakiraan maju dengan mempertimbangkan kerangka pendanaan dan pagu indikatif.... Kegiatan..... Jan Feb Mrt Apr Musrenbang RKP NAS Musrenbang RRKPD PROV Musrenbang RRKPD K/K Forum SKPD K/K Musrenbang Kecamatan Musrenbang Desa/kel 31 32 Forum SKPD PROV Rancangan Interim RKP (PP 40/2006) Mei Jun Juli Agt Sept Okt Nov Des program prioritas pembangunan daerah........ Kegiatan.. KEGIATAN.......... indikator kinerja..... Tujuan Sasaran 1 2 target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp target Rp 2 Perumusan sasaran Perumusan indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD Rancangan RENSTRA-SKPD (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17) (18) (19) (20) (21) Rancangan akhir RENSTRA-SKPD Tdk sesuai Tujuan Sasaran 1 1 SPM Perumusan Strategi dan Kebijakan Forum SKPD Kab/Kota VERIFIKASI Program ..BAGAN ALIR TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RENSTRA SKPD KABUPATEN/KOTA (Lampiran IV Permendagri No 54/2010) Persiapan Penyusunan Rentra-SKPD 1 PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RPJMD SE KDH ttg Penyusunan Rancangan Renstra-SKPD Rancangan RPJMD Musrenbang RPJMD RENCANA PROGRAM......... INDIKATOR KINERJA...... 8 .........C......... baik yang bersumber dari APBD maupun sumber-sumber lain yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat....... kelompok sasaran dan pendanaan indikatif Program dan Kegiatan Penyesuaian Rancangan Renstra-SKPD Perda RPJMD Penyempurnaan Rancangan Renstra-SKPD (1) (2) (3) (4) (5) Program .

Inventarisasi jenis program/kegiatan yang diusulkan DPRD dalam dokumen rumusan hasil penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD tahun lalu dan dikelompokkan kedalam urusan SKPD. 5. Lakukan pengecekan dan validasi oleh tim penyusun RKPD yang berasal dari SKPD terkait terhadap kebutuhan riil di lapangan dengan mempertimbangkan asas manfaat. Indikator kinerja yang diusulkan serta lokasi yang diusulkan. 4. Rumuskan usulan program dan kegiatan yang dapat diakomodasikan dalam rancangan awal RKPD 35 36 9 . 3.SISTEMATIKA DOKUMEN RKPD (Pasal 40 ayat (3) PP 8/2008) TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RKPD KAB/KOTA (Lampiran V Permendagri No 54/2010) Persiapan Penyusunan RKPD 1 SE Penyusunan Renja-SKPD Berita Acara Musrenbang kecamatan Pokok-pokok pikiran DPRD Kab/Kota      Pendahuluan Evaluasi Pelaksanaan RKPD Tahun Lalu Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah Beserta Kerangka Pendanaan Prioritas dan Sasaran Pembangunan Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah Pengolahan data dan informasi Review RPJMD Telaahan kebijakan nasional (RKP) & provinsi (RKPD PROV) 2 Rancangan Awal RKPD Penyusunan Rancangan Renja SKPD kab/kota Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah VERIFIKASI Bappeda Analisis Ekonomi & keuda Evaluasi Kinerja RKPD Tahun Lalu Rancangan RKPD Perumusan program prioritas daerah beserta pagu indikatif Perumusan prioritas dan sasaran pembangunan Perumusan Kerangka Ekonomi & Kebijakan Keuda Musrenbang RKPD kab/kota 3 Penetapan PERBUP/PERWAL ttg RKPD 5 Dok RKPD kab/kota tahun berjalan 4 Forum Konsultasi Publik Penyelarasan Rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif Rancangan Akhir RKPD PENYUSUNAN KUA & PPAS 34 33 PERAN DAN FUNGSI DPRD DALAM PENYUSUNAN RKPD Penelaahan Pokok-Pokok Pikiran DPRD PERDA APBD Kesepakatan KDH dgn DPRD IndikasI rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan RPJMD (5 Thn) Fungsi Legislasi. efisiensi dan efektivitas. kemendesakan. Budget & Pengawasan Hasil Jaring Asmara/ Kunker/ Reses Dapil/ Pokok-pokok pikiran DPRD Kab/Kota Musrenbang RKPD kab/kota KESEPAKATAN KUA & PPAS PERDA RPJMD Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah RANCANGAN AWAL RKPD Rancangan RKPD RANCANGAN AKHIR RKPD RKPD Analisis Ekonomi & keuda Evaluasi Kinerja RKPD Tahun Lalu Penyusunan Rancangan Renja SKPD kab/kota 1. 2. Kaji pandangan dan pertimbangan yang disampaikan berkaitan dengan usulan program/kegiatan hasil penelaahan.

67 Lampiran V Permendagri No 54/2010) Rencana Tahun .. (tahun rencana) Target Capaian Lokasi Kinerja Kebutuhan Dana/ Pagu indikatif (Rp) Kode Urusan/Bidang Urusan Kinerja Pemerintahan Daerah & Program/ Program/Kegiatan Indikator Prakiraan Maju Rencana Tahun ...C. Catatan Penting Target Capaian Kinerja Kebutuhan Dana/ Pagu indikatif (Rp) Rencana Kerja SKPD Renja-SKPD merupakan dokumen perencanaan SKPD untuk periode (1) satu tahun Kegiatan 37 38 SISTEMATIKA DOKUMEN RENJA-SKPD (Pasal 40 ayat (5) PP 8/2008) Persiapan Penyusunan Renja SKPD TAHAPAN DAN TATACARA PENYUSUNAN RENJA SKPD KABUPATEN/KOTA (Lampiran VI Permendagri No 54/2010) 1 SE KDH perihal penyampaian rancangan awal RKPD sebagai bahan penyusunan rancangan Renja-SKPD kab/kota Sinkronisasi Kebijakan Nasional dan Provinsi Telaahan Rancangan Awal RKPD kab/kota Perumusan Ranc.. akhir RKPD Pendahuluan Per KDH RKPD kab/kota Evaluasi Pelaksanaan Renja Tahun Lalu Tujuan.. indikator kinerja........... dana indikatif Penetapan Renja-SKPD oleh Kepala SKPD pelaksanaan Renja- hasil evaluasi SKPD kab/kota tahun lalu Penyempurnaan Rancangan Renja SKPD kab/kota Pembahasan Renja SKPD pada Forum SKPD Kabupaten/Kota RENJA-SKPD Kab/Kota 3 Usulan program & kegiatan dari masyarakat Musrenbang Kecamatan Musrenbang Desa 40 10 .... Sasaran Program & Kegiatan indikator kinerja & kelompok sasaran yang menggambarkan Pencapaian Renstra SKPD Dana indikatif beserta sumbernya & prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif Sumber dana Penutup 39 Pengolahan data dan informasi hasil evaluasi capaian Renstra SKPD kab/kota 2 Rancangan Renja-SKPD kab/kota Musrenbang RKPD Penyusunan Rancangan RKPD Penyesuaian Rancangan Renja SKPD kab/kota Penyesuaian Rancangan Renja SKPD kab/kota Pengesahan Renja-SKPD oleh KDH Analisis Gambaran Pelayanan SKPD Isu-isu penting penyelenggara an tugas dan fungsi SKPD Perumusan Tujuan 4 Perumusan Sasaran Perumusan program dan kegiatan..RENCANA PROGRAM & KEGIATAN SERTA PRAKIRAAN MAJU RKPD KAB/KOTA (Tabel T-V.

UU 25/2004 Pasal 16 PP 58/2005 Penyusunan APBD berpedoman pada RKPD dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat untuk tercapainya tujuan bernegara. Catatan Penting Target Capaian Kinerja Kebutuhan Dana/ Pagu Indikatif Kode Urusan/Bidang Urusan Kinerja Pemerintahan Daerah & Program/ Program/Kegiatan Indikator Rencana Tahun ....RENCANA PROGRAM & KEGIATAN SERTA PRAKIRAAN MAJU RENJA SKPD KAB/KOTA (Tabel T-VI. (tahun rencana) Kebutuhan Dana/ Pagu Indikatif Kegiatan Lokasi Target Capaian Kinerja PENGENDALIAN DAN EVALUASI 41 42 DASAR HUKUM SINKRONISASI RKPD-KUA .PPAS & RAPBD Pasal 17 ayat (2) Penyusunan RAPBD berpedoman pada RKPD dalam UU 17/2003 rangka mewujudkan tercapainya tujuan bernegara.... TUJUAN SINKRONISASI RKPD-KUA-PPAS & RAPBD (UTK MENCAPAI TUJUAN BERNEGARA) TUJUAN BERNEGARA (UUD 1945) KEWENANGAN PEMERINTAHAN DAERAH RPJMD DPRD EPPD Berdasarkan KUA yang telah disepakati dengan DPRD......10 Lampiran VI Permendagri No 54/2010) Prakiraan Maju Rencana Tahun . sebagai landasan penyusunan RAPBD kepada DPRD selambat-lambatnya pertengahan Juni tahun berjalan. Pasal 25 ayat (2) RKPD menjadi pedoman penyusunan RAPBD. Pasal 18 ayat (1) UU 17/2003 Pemerintah Daerah menyampaikan KUA tahun anggaran berikutnya sejalan dengan RKPD.C..... Pasal 18 ayat (3) Pemerintah Daerah bersama DPRD membahas PPAS UU 17/2003 untuk dijadikan acuan bagi setiap SKPD. 43 RKPD KUA PPAS RAPBD LPKD & LKPJ RENJA SKPD RKA-SKPD DPA-SKPD LAKIP 44 11 ....

Dalam hal pelaksanaan RPJPD dan RPJMD terjadi perubahan capaian sasaran tahunan tetapi tidak mengubah target pencapaian sasaran akhir pembangunan jangka panjang dan menengah. dan/atau d. serta SKPD penanggungjawab. tidak sesuai dengan Peraturan Menteri ini. penetapan perubahan RPJPD dan RPJMD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. KUA. 47 12 . Indikator Kinerja (Hasil Program. RENSTRA dan rekomendasi kpd Bupati/Walikota : SKPD. Memuat : Indikator Kinerja Program dan Kegiatan. Pagu indikif. Keluaran Kegiatan. merugikan kepentingan nasional. RPJMD. tidak sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan rencana pembangunan daerah yang diatur dalam Peraturan Menteri ini. Target Kinerja atas capaian program. RPJMD. Lokasi. 48 laporan ikhtisar realisasi kinerja dan laporan keuangan BUMD/perusahaan daerah. RPJMD & RKPD prov • Perbaikan dan penyempurnaan Renstra SKPD& Renja SKPD PROV • Tindak lanjut pelaksanaan Renja SKPD RPJPD. RPJMD Evaluasi Hasil Rencana Pembangunan Daerah c. PPAS DAN RAPBD RKPD : DAFTAR RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH PROV/KAB/KOTA. Indikator capaian.RKPD KAB/KOTA Melaporkan kpd Gubernur dan rekomendasi perbaikan / penyempurnaan RPJPD. RPJMD & RKPD) RPJPD. Memuat : Program. Tolok ukur kinerja. DPASKPD Penatausahaan/ Akuntansi Keuda LAPORAN REALISASI ANGGARAN NERACA LAPORAN ARUS KAS catatan atas laporan keuangan RKPD KUA PPAS PERDA APBD PRKPD PKUA PPPAS PERDA PAPBD DPPA SKPD RPJPD dan RPJMD perubahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. terjadi perubahan yang mendasar. Hasil Kegiatan). Prakiraan Maju (Target Capaian & Pagu Indikatif TA Berikutnya). RKPD & RENJA SKPD • Perbaikan dan penyempurnaan RPJPD. Kebutuhan Dana/Pagu Indikatif dan Prakiraan Maju Lampiran RAPERKADA ttg Penjabaran APBD Memuat : Judul Program dan Kegiatan. RPJMD dan RKPD oleh Bupati/Walikota • Laporan triwulan capaian Renja SKPD kpd Bappeda Prov • Menindaklanjuti rekomendasi Gub atas pelaksanaan Renja SKPD Lampiran RAPERDA ttg APBD KEPALA SKPD RENSTRA SKPD & RENJA SKPD PROV PROV RENJA SKPD : DAFTAR PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS SKPD PROV/KABUPATEN/KOTA. hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa proses perumusan. RPJMD dan RKPD oleh Gubernur KUA & PPAS (Kesepakatan KDH dgn DPRD) GUBERNUR (BAPPEDA PROVINSI) Gub melaporkan kpd MDN (RPJPD. PENGANGGARAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN DAERAH PERUBAHAN RPJPD dan RPJMD (Pasal 282 s. Waktu Pelaksanaan. RPJMD & RKPD) RPJPD. RKPD & RENJA SKPD • Perbaikan dan penyempurnaan RPJPD. RENSTRA dan rekomendasi kpd Gubernur : SKPD. Lokasi.EVALUASI KONSISTENSI/SINKRONISASI RKPD. RPJMD. hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa substansi yang dirumuskan.RKPD PROV HASIL DAN TINDAK LANJUT Melaporkan kpd MDN dan rekomendasi perbaikan/ penyempurnaan RPJPD. b. masukan dan keluaran serta hasil kegiatan. RPJMD & RKPD kab/kota • Perbaikan dan penyempurnaan Renstra SKPD& Renja SKPD KAB/KOTA • Tindak lanjut pelaksanaan Renja SKPD • Laporan triwulan capaian Renja SKPD kpd Bappeda kab/kota RENSTRA SKPD & RENJA • Menindaklanjuti rekomendasi Bup/Walikota atas pelaksanaan Renja SKPD KAB/ KOTA SKPD 46 KERANGKA PENGENDALIAN DAN EVALUASI SINKRONISASI KEBIJAKAN PERENCANAAN. Sumber dana. Kegiatan Lokasi. Target Capaian Kinerja. PJMD.d Pasal 281) PELAKSANA MENDAGRI (DITJEN BINA BANGDA) FOKUS RPJPD.d Pasal 284) Perubahan RPJPD dan RPJMD hanya dapat dilakukan apabila: RPJPD Pengendalian Prumusan Kebijakan perencanaan Pembangunan Daerah Pengendalian Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah Review Laporan Triwulan Laporan Smesteran a. 45 BUPATI/ WALIKOTA (BAPPEDA KAB/KOTA) KEPALA SKPD KAB/KOTA Bup/Walikota melaporkan kpd Gub (RPJPD. TUGAS DAN FUNGSI PENGENDALIAN DAN EVALUASI PEMBANGUNAN DAERAH (Pasal 155 s.

d Pasal 286) RKPD dapat diubah dalam hal tidak sesuai dengan perkembangan keadaan dalam tahun berjalan. urgensi dan program yang mendukung percepatan pembangunan bidang kesehatan dan gizi masyarakat harus disosialisasikan kepada DPRD. REKOMENDASI 1. 2. b. Upaya untuk mewujudkan sinkronisasi perencanaan dan penganggaran kesehatan antar pusat dan daerah harus ditempuh dengan menyelaraskan pendekatan dan jadwal waktu penyusunan perencanaan dan penganggaran antara kementerian terkait dan pemerintah daerah sesuai regulasi.PERUBAHAN RKPD (Pasal 285 s. • Perubahan RKPD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. prioritas dan sasaran pembangunan. 3. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kerangka ekonomi daerah dan kerangka pendanaan. dan/atau c. RPJMD dan RKPD) untuk menjamin tersedianya alokasi anggaran yang sesuai kebutuhan pembangunan kesehatan. sehingga harus senantiasa terakomodasi dalam setiap dokumen rencana pembangunan daerah (RPJPD. keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun anggaran sebelumnya harus digunakan untuk tahun berjalan. rencana program dan kegiatan prioritas daerah. keadaan darurat dan keadaan luar biasa sebagaimana ditetapkan dalam perturan perundang-undangan. 49 50 51 13 . Bidang kesehatan dan gizi masyarakat merupakan bidang prioritas dalam pembangunan nasional dan daerah. Untuk menjamin dukungan pendanaan APBD sesuai dengan prioritas kemampuan keuangan daerah. meliputi : a.

ALO K ASI B E LAN JA D IT E N T U K AN  KEBIJAKAN PENGANGGARAN  TEKNIS PENGANGGARAN  Pasal 22 ayat (2) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Struktur APBD diklasifikasikan menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan urusan pemerintahan tersebut.  Pasal 26 ayat (1) PP Nomor 58 Tahun 2005 Jo.Si. urusan pilihan dan urusan concurrent. penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup dan penganggaran untuk setiap pengeluaran APBD harus didukung dengan dasar hukum yang melandasinya. HAMDANI. 3 4 1 . Ak Direktur Anggaran Daerah DIREKTORAT JENDERAL KEUANGAN DAERAH Disampaikan dalam Acara Workshop Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan Antara Pusat dan Daerah Musrenbang Kab/Kota (Maret) Forum SKPD Penyusunan Renja SKPD Kab/Kota (Maret) Musrenbang Kecamatan (Februari) 4 8 Penyusunan RKA-SKPD & RAPBD (Juli-September) Pembahasan dan persetujuan Rancangan APBD dgn DPRD (Oktober-November) Evaluasi Rancangan Perda APBD (Desember) 3 9 2 10 Musrenbang Desa (Januari) 1 12 11 Penetapan Perda APBD (Desember) KEMENTERIAN DALAM NEGERI 2012 Pelaksanaan APBD 13 Januari thn berikutnya 1 Penyusunan DPA SKPD (Desember) 2 BELANJA DAERAH  Pasal 18 PP Nomor 58 Tahun 2005 Dalam menyusun APBD.SKEDUL PERENCANAAN & PENGANGGARAN Pembahasan & Kesepakatan KUA antara KDH dgn DPRD (Juni) Penetapan RKPD (Mei) 5 6 7 Pembahasan dan Kesepakatan PPAS antara KDH dgn DPRD (Juni) PETA HASIL EVALUASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH Drs. M. Pasal 31 ayat (1) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kab/kota yang terdiri dari urusan wajib. MM.

Tambahan Penghasilan Guru Pns. Fungsional.LAIN Dikaitkan dengan urusan yang menjadi kewenangan daerah (provinsi atau kab/kota) sesuai tugas dan fungsi SKPD 7    .   BELANJA PEMENUHAN URUSAN SESUAI SPM : 26 URUSAN WAJIB 8 URUSAN PILIHAN   7 8 2 .L DUKUNGAN PROGRAM PRIORITAS NASIONAL      BELANJA YG DIARAHKAN (EARMARK) BELANJA YANG BERSIFAT MENGIKAT/WAJIB BELANJA YG DITENTUKAN PROSENTASENYA SESUAI AMANAT PER UU BELANJA PEMENUHAN URUSAN SESUAI SPM BELANJA LAIN-LAIN       BANTUAN KEUANGAN YG BERSIFAT KHUSUS 6 5 BELANJA YG DITENTUKAN PROSENTASENYA SESUAI AMANAT PER UU :   BELANJA FUNGSI PENDIDIKAN 20% DARI TOTAL BELANJA BELANJA URUSAN KESEHATAN 10% (DARI TOTAL BELANJA DILUAR GAJI) DBH PAJAK KEPADA KAB/KOTA BANTUAN PARPOL INSENTIF PEMUNGUTAN PAJAK BELANJA MODAL  BELANJA HIBAH BELANJA BANTUAN SOSIAL BELANJA BANTUAN KEUANGAN BELANJA TIDAK TERDUGA BELANJA SUBSIDI     BELANJA LAIN . Sertifikasi Guru) BELANJA YANG BERSIFAT MENGIKAT/WAJIB :     BELANJA PEGAWAI BELANJA BUNGA KEGIATAN DPA .KEBIJAKAN PENGANGGARAN MELIPUTI :   BELANJA YG DIARAHKAN (EARMARK) DAK DBH .DR DBH CUKAI TEMBAKAU DANA OTSUS (Untuk Program) DANA BOS DANA INSENTIF DAERAH (DID) DANA PENYESUAIAN (Tunj.

PROSES EVALUASI PERDA APBD PROVINSI & PERATURAN GUBERNUR TTG PENJABARAN APBD Membuat RAPERGUB Sebesar Pagu APBD Tahun Lalu (15 hari) PROSES EVALUASI PERDA APBD KAB/KOT & PERATURAN BUP/WAL TTG PENJABARAN APBD Membuat RAPERBUP/WAL Sebesar Pagu APBD Tahun Lalu (15 hari) RAPERDA APBD Tidak Setuju Pengesahan MDN (30 Hari) GUBERNUR menetapkan PER-GUB RAPERDA APBD Tidak Setuju Pengesahan Gubernur (30 Hari) Bupati/Walikota menetapkan PER-BUP/WAL DPRD Dibahas bersama DPRD & Pemda Pemberitahuan Penyempurnaan Penyempurnaan (7 Hari) Setuju Melewati Batas WKT Evaluasi GUBERNUR menetapkan PERDA & PER-GUB DPRD Dibahas bersama DPRD & Pemda Pemberitahuan Penyempurnaan Penyempurnaan (7 Hari) Tdk Sesuai Dgn UU Tdk Disempurnakan Tdk Sesuai Dgn UU Tdk Disempurnakan Setuju Melewati Batas waktu Evaluasi Bupati/Walikota menetapkan PERDA & PER-BUP/WAL RAPERGUB PENJABARAN APBD Penyampaian RAPERDA APBD & RAPERGUB APBD (3 hari) MDN (15 hari) Hasil Evaluasi RAPERBUP/WAL PENJABARAN APBD MDN membatalkan Berlaku Pagu APBD Sebelumnya Penyampaian RAPERDA APBD & RAPERBUP/WAL APBD (3 hari) GUBERNUR (15 hari) Hasil Evaluasi GUB membatalkan Berlaku Pagu APBD Sebelumnya Sesuai dgn UU 9 Sesuai dgn UU Laporan kpd MDN 10 Jumlah Provinsi Yang Menetapkan Perda APBD Tepat Waktu (2008-2012) Dalam Trilliun Rupiah 35 30 28 21 15 30 25 20 15 10 10 5 0 2008 2009 2010 2011 2012 *) Catatan: TA 2012 Belum termasuk Provinsi Aceh dan Papua 11 12 3 .

424.29 30.70% 78.34 54.941 1.92% 5.58% 14.83 26.30 4.556 1.615.25 22.41% 18.49 23.08 3.85% Papua Barat Papua Maluku Utara 3.008 893.385.063 PROSENTASE 29.00 3.010 2012 146.28% 36.18 25.614.12 26.117.397.2020 PROSENTASE 8.42 33.902.560.80 3.001 8.008 2.470.242.007 730.23% Jawa Timur Jawa Barat Banten PROVINSI YANG MEMILIKI PORSI PAD TERENDAH PROVINSI TOTAL PENDAPATAN PAD NOMINAL PROSENTASE PROVINSI YANG MEMILIKI PORSI PAD TERENDAH PROVINSI TOTAL PENDAPATAN 1.962 304.70% 14.92 13.87% 8.60 13.91% 2011 PROPORSI URAIAN 2012 PROPORSI URAIAN NOMINAL % NOMINAL % PAD DANA PERIMBANGAN LAIN-LAIN PENDPTAN YG SAH TOTAL 66.94% 2010 113.58 1.72% 13.313.361 11.07 35.79 26.87% 74.400 4.68 2009 105.173. Diolah dari Data APBD Ditjen Keuangan Daerah 2.627 76.650.02% 23.42 26.00 26.97% 71.710 5.068.56% 9.41 3.89% 14.474 205.973 PROSENTASE PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA PEGAWAI TERENDAH PROVINSI Sulawesi Barat Kepulauan Riau Maluku Utara TOTAL BELANJA 969.73 24.016 10.840 768.43 3. Data Tahun 2012 dengan jumlah 31 Provinsi *) Hibah dalam bentuk uang dan untuk Tahun 2012 belum termasuk Hibah Bos kepada satuan pendidikan dasar Maluku Utara Gorontalo 15 16 4 .673.182.07 PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA PEGAWAI TERENDAH PROVINSI Sulawesi Barat TOTAL BELANJA 776.18% 15.95 33.59 49.55 21.827 203.54% Catatan: 1.67% 11.838 216.494 3.41% Jawa Timur Jawa Barat Jawa Tengah 9.38% 14.911 1.984 142.19 25.07 51.872.369.147 724.553 PROSENTASE 78.20% 38.053.24 Jawa Timur 2011 146.55 2.59 27.4 3.9640 PAD NOMINAL 93.214.523.84 26.09 1.88 130.981.61% 76.2011 PROVINSI YANG MEMILIKI PORSI PAD TERTINGGI PROVINSI TOTAL PENDAPATAN PAD NOMINAL PROSENTASE PROVINSI 2012 (dalam juta rupiah) PORSI PAD.90 24.346 BELANJA PEGAWAI NOMINAL 108.95 23.162.69 24.13% 10.341 2.18 27.00 50.7 3.827.624 98.316.11 23.297 BELANJA PEGAWAI NOMINAL 10.91 PROSENTASE 16.30 23.707 5.43 18.648 134.567 952.801 184.81% 26. DANA PERIMBANGAN DAN LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH PROVINSI YANG MEMILIKI PORSI PAD TERTINGGI TOTAL PENDAPATAN 11.45 3.678 2.043 6.075 PAD NOMINAL 9.886 12.188.907.2 5.67% PAD DANA PERIMBANGAN LAIN-LAIN PENDPTAN YG SAH TOTAL 74.922.07 136.00 4.245 7.031 12.567 BELANJA PEGAWAI NOMINAL 160.665 1.175 80.72 20.35 9.57 5.418 1.68 22.13 29.200 PROSENTASE 2008 96.80 24.13% Maluku Utara Sulawesi Barat Gorontalo 13 14 Struktur Belanja APBD Provinsi 5 Tahun Terakhir (2008-2012) (dalam juta rupiah) (dalam trilyun rupiah) Tahun Total Belanja Daerah Belanja Pegawai % Hibah*) % Bansos % Belanja Barang & Jasa % Belanja Modal 2011 % 2012 PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA PEGAWAI TERTINGGI PROVINSI DKI Jakarta Jawa Timur Jawa Barat TOTAL BELANJA 33.791 BELANJA PEGAWAI NOMINAL 9.57 6.27% 11.60 21.27% PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA PEGAWAI TERTINGGI PROVINSI DKI Jakarta Jawa Barat TOTAL BELANJA 30.27 12.305.30 31.43 29.22 3.160 8.783 11.30 3.

00 U.057.00 1.272.922.00 29.979.951.358.03 10.121.19% PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA MODAL TERENDAH PROVINSI TOTAL BELANJA 768.07 49.91 2.137.47 Gorontalo DI Yogyakarta Sulawesi Tengah 19.00 2.401.349.526.140.452.223.09% 2.60% (dalam trilyun rupiah) URAIAN Dana Bagi Hsl Pjk/Bkn Pjk Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus 12.000.021.55 1.296.556.009.833.99% 6.97% 6.108.827.502.05% 7.31 49.663.41 216.217.889.191.493.804.107.100.553.12% 19 19 5 .74 22.245.871.029.931.254.00 3.600.627.945.144.214.706.74% 12.366.083.561.00 87.586.183.00 807.408.24% 5.00 2.489.955.145.288.60 1.69% 4.943.91 2.791.41% 14.403.068.224.310.107.95 BELANJA MODAL NOMINAL 130.60% 6.693.217.000.00 12.196.35 1.53 PROSENTASE 14.628.708.00 174.479.243.998.87 1.91 PROSENTASE PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA MODAL TERENDAH PROVINSI TOTAL BELANJA 893.853.425.00 196.00 417.407.290.032.76% 9.00 62.65% 9.653.721.000.082.442.000.938.940.474.724.829.41% 3.35% 2011 25.150.610.863.500.154.354.30% 9.838.00 973.00 15.96 1.00 127.76% 12.005.37% 5.00 3.141.429.625.316.134.570.674.Indonesia TOTAL BELANJA 9.60 2012 24.403.301.817.000.595.40% Gorontalo Maluku Nusa Tenggara Timur 183.00 136.124.15% 8.KESEHATAN 895.00 938.760.650.000.00 4.429.633.00 311.00 96.838.969.736.503.623.00 330.20% 8.72% 8.778.917.00 6.78 219.645.125.835.100.076.560.565.50 % 9.10% 28.167.065.67 2.114.801.475.976.00 3.00 486.00 3.45 1.864.731.870.783.391.075.744.359.170.00 1.70 BELANJA MODAL NOMINAL 9.962.00 532.019.00 6.030.580.00 228.322.827.929.00 14.20% 8.88 67.00 160.64% 7.00 11.24% 5.073.000.408.83% 15.56% DKI Jakarta Kalimantan Timur Aceh 31.04% 5.68 BELANJA MODAL NOMINAL 148.203.358.77% 8.258.306.450.92% 6.00 10.147.224.058.66 89.00 4.205.22 7.709.000.367.22 TOTAL Catatan: 17 1.525.429.00 329.198.037.022.645.00 165.80 1.511.502.000.(dalam milyar rupiah) DANA PERIMBANGAN PROVINSI SE INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2011-2012 2011 PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA MODAL TERTINGGI PROVINSI TOTAL BELANJA 30.500.00 166.00 444.106.000.26% 9.587.838. Diolah dari Data APBD Ditjen Keuangan Daerah 2.827.042.261.000.942.843.869.29% 3.56 2.00 231.00 2.000.65% 6.482.192.000.77% 3.000.387.742.293.000.00 189.396.61% 4.500.41 1.26 1.822.07% 25.00 969.156.10 1.00 7.000.760.167.925.713.902.315.36 9.942.00 33.54 PROSENTASE 33.846.55 BELANJA MODAL NOMINAL 11.789.39% 23.00 1.815.122.56% 3.64% 15.31 2.093.019.731.00 1.974.707.70% DKI Jakarta Kalimantan Timur Riau 20.051.235.990.00 194.918.249.016.855.992.008.613.150.53% 8. Data Tahun 2012 dengan jumlah 30 Provinsi 18 SINKRONISASI ANGGARAN PROGRAM/KEGIATAN PROVINSI MENDUKUNG 11 PRIORITAS NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2012 ALOKASI BELANJA URUSAN KESEHATAN PROVINSI SELURUH INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2012 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DAERAH Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Provinsi Se.729.00 575.656.23 2.620.00 263.70% 7.00 3.491.031.838.272.800.00 1.695.937.978.311.162.342.758.395.744.00% 15.00 149.00 2.00 39.415.304.80 23.169.850.656.00 266.248.00 4.199.29% 11.31 PROSENTASE PROVINSI 2012 PROVINSI YANG MEMILIKI BELANJA MODAL TERTINGGI TOTAL BELANJA 33.950.031.20 1.00 117.00 7.380.261.557.452.100.

354.00 31.721.38% 2.122.838.845.000.00 1.82% 4.050.822.170.00 15.931.644.41% 2.00 2.633.000.653.64% 4.870.000.105.706.63% 6.00 11.073.00 3.93% 1.00 421.00 359.222.00 7.511.00 53.534.525.788.00 353.78% 5.00 2.500.450.801.853.760.39% 4.100.38% 5.817.145.00 25.000.00 109.483.760.126.783.00 36.86% SEKIAN dan TERIMA KASIH 22 6 .019.258.709.000.084.000.744.021.827.00 7.00 2.91 2.829.293.00 1.942.17% 2.00 U.385.429.557.000.955.00 4.942.395.400.087.00 421.199.651.500.00 12.917.950.134.000.00 253.67% 5.000.580.154.452.005.245.758.000.008.85% 2.44% 5.00 2.00 36.00 109.461.766.000.00 565.650.000.95% 7.711.213.613.800.207.995.595.12% 11.483.108.000.45 1.61% 2.031.00 2.235.570.422.315.00 190.256.000.121.580.833.49% 1.00 1.207.00 71.742.67 2.000.725.530.560.387.451.063.00 938.550.18 31.223.91% 4.502.00 6.115.00 209.00 102.517.962.349.254.902.998.00 202.936.095.90% 2.212.761.00 13.00 89.261.105.114.214.415.079.224.32% 1.022.69% 5.00 3.31 2.235.239.969.15% 6.943.482.815.29% 0.167.804.656.031.560.00 33.032.31% 11.000.380.075.000.511.00 4.366.00 22.085.00 718.717.00 10.100.293.429.358.358.38% 6.065.00 1.000.374.310.000.937.396.538.150.065.00 174.643.874.08% 9.042.482.904.929.133.14% 8.KESEHATAN/BL 746.663.80 1.019.205.602.00 4.20 % 7.938.203.681.000.613.00 3.789.124.553.248.838.639.556.500.583.419.99% 1.00 213.744.288.ALOKASI BELANJA URUSAN KESEHATAN (diluar gaji) PROVINSI SELURUH INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2012 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 DAERAH Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Barat Sulawesi Utara Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Maluku Utara Papua Papua Barat Total Provinsi Se.350.502.919.59% 4.00 293.401.656.000.537.990.249.100.100.272.380.827.147.00 62.00 3.831.261.945.295.786.000.91 2.466.296.359.24% 5.760.00 91.481.000.778.000.076.777.247.20 1.49% 4.979.000.76% 3.00 130.311.00 41.000.503.00 1.082.Indonesia TOTAL BELANJA 9.135.00 969.586.489.00 10.93% 2.144.223.191.628.408.00 103.

c. Perencanaan harus didasarkan pemahaman sistem dengan baik. Controling. Analisis situasi & perumusan masalah 2. perumusan masalah. Penentuan tujuan 3. DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Perencanaan  suatu langkah awal dalam proses memecahkan masalah  yang terdiri dari analisis situasi. 6. dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia (UU No 25/2004) BY: DELINA HASAN DIPRESENTASIKAN PADA PERTEMUAN DI BANDUNG 7 Maret 2012 Perencanaan merupakan inti kegiatan manajemen. Identifikasi & perumusan kegiatan 4. Estimasi kebutuhan biaya (A&I Based Costing) 7. Integrasi Anggaran 8. Penyusunan Rencana Operasional b. melalui urutan pilihan. penentuan tujuan. Evaluation Suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. Perencanaan secara implisit mengemban misi organisasi untuk mencapai hari depan yang lebih baik. Dari batasan diatas dapat disimpulkan: a. Konversi Mata Anggaran  SK Mendagri DH-BP-BDG-070312 Ascobat G/P2KT-III/05 1 . Organizing. Actuating.06/02/2013 GAMBARAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PEMBANGUNAN KESEHATAN DI INDONESIA Perencanaan Salah satu fungsi dalam fungsi manajemen yang terdiri dari . Integrasi rencana 5. semua kegiatan manajemen diatur dan diarahkan oleh perencanaan. Perencanaan pada hakikatnya menyusun konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan misi organisasi.Planning. penentuan kegiatan untuk mencapai tujuan. kepada analisis dan LANGKAH POKOK PERENCANAAN & PENGANGGARAN TERPADU 1. dan penentuan sumber daya untuk melaksanakannya.

Sumber penyakit Resiko lingkungan: 1.Data geografi . DHF.06/02/2013 Penentuan Kegiatan Penentuan Sumberdaya/ biaya Analisis situasi adalah proses untuk mengenali masalah kesehatan dan determinan masalah tersebut serta analisis hal-hal umum yang diperkirakan bermanfaat untuk program kesehatan. Health Seeking Behavior 3. Distribusinya mnrt tempat 4. malaria.Epidemiologi masalah kesehatan . Morbiditas (Prev/Insidens).Pencapaian kinerja program .Sarana dan prasarana . Disribusinya mnrt waktu 5. Sosial Resiko perilaku: 1.dll DH-BP-BDG-070312 2. Analisis situasi sangat “critical” dalam perencanaan kesehatan Pengorganisasian Penentuan Tujuan P O A E C Analisis Situasi & Identifikasi masalah Pelaksanaan/ Monitoring & Cotroling Evaluasi  Perlu data yg akurat dan “up to date” tentang: .Data demografi .Faktor resiko perilaku . Family Planning (2) Immunisasi (2) Th/ infectious diseases (Tb. Essential Clinical Services (WB 1993) (1) KIA (2) KB (3) Pengobatan Tbc (4) Pengobatan PMS (5) Pengobatan kurang gizi pada anak 2. Kebiasaan-2. Distribusinya menurut klpok pddk 3. Health belief 2.Sumberdaya pembiayaan Siklus pemecahan masalah & fungsi manajemen Sumber PKEKK DH-BP-BDG-070312 Identifikasi Masalah Deskripsi masalah: 1.Faktor resiko lingkungan . Mortalitas Kinerja Program 1. Biologis 3. Fisik 2. Essential Services for the poor (SEARO/Tokyo 1998) (1) Maternal Child Health. etc) (4) Th/ of undernutrition (5) Health Promotion (6) Referal to hospital for MCH and communicable diseases DH-BP-BDG-070312 2 .

Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit 14. Berkaitan dgn outcome (masalah) 2. Basic Six (1) KIA / KB (2) P2M (3) PKL (4) Perbaikan Gizi Masyarakat (5) Promkes (6) Pengobatan 1. Lima Program Terpadu (Posyandu) (1) Diare (2) ISPA (3) Gizi/penimbangan (4) Immunisasi (5) PKM Tabel-2 Daftar SPM.24 bulan keluarga miskin 10. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin 2 Pelayanan kesehatan rujukan 15. Permekes no. sulit mengukur perubahan “outcome” Biasanya cukup menentukan “output” program (misal: cakupan2) Tujuan harus punya indikator Indikator tsb harus memenuhi kriteria “SMART” . Permenkes Nomor 741/Menkes/Per/VII/2008 No Jenis Pelayanan Indikator Kinerja 4. bisa bersifat “outcome” Biasanya rencana tahunan. SPM.Appropriate (sesuai dg kebijakan. Cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan 4. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 12.Measurable (dapat diukur kemajuannya) . mudah dipahami oleh pelaksana) . dan strategi nasional. Cakupan kunjungan bayi 7. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 3. Cakupan pelayanan anak balita 9. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani 6.Time bound (ada batas waktu pencapaiannya) Tujuan: Langkah-langkah Penentuan Tujuan Target/tujuan global Target/tujuan nasional Keadaan Masalah Target Renstrakes Daerah Tujuan (Rumusan I) Trend kinerja masa lalu Faktor internal Faktor eksternal Tujuan (Rumusan akhir) 1.Specific (jelas sasarannya. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan masyarakat miskin 16. Cakupan pemberian MP-ASI anak usia 6 . Berkaitan dengan output (kinerja program) DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Kualitatif Kuantitatif Sasaran penduduk Sasaran lokasi Sasaran waktu 3 . Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 11. Cakupan desa/kelurahan UCI 8. Cakupan desa/kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penanggulangan Kejadian penyelidikan epidemiologi < 24 jam Biasa (KLB) 4 Promosi kesehatan dan 18. visi dan misi institusi) . Cakupan pelayanan nifas 5.06/02/2013 5. 741/Menkes/Per/VII/2008 3. Cakupan peserta KB aktif 13. Cakupan desa siaga aktif Pemberdayaan masyarakat 1 Pelayanan kesehatan dasar Target 2010 2015 95% 80% 90% 90% 80% 90% 100% 90% 100% 100% 100% 70% 100% 100% 100% 100% 100% 80% DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Penentuan tujuan • • • • • • Yang ditentukan adalah tujuan tahun depan (target program tahun depan) Tujuan bisa bersifat “output”. Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS) di kabupaten/kota 3 Penyelidikan epidemiologi dan 17. tujuan program. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 2.

Intervensi lingk. DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 4 .Case detection & pengobatan .DBH .06/02/2013 Penentuan kegiatan • Kegiatan program kesehatan sudah baku • Ada dalam pedoman-pedoman program • Prinsipnya: kegiatan tersebut harus yg sudah terbukti “cost effective” • Contoh kegiatan baku dlm program malaria: .TP . tenaga.Jamkes .. Temuan kasus b. b.Dekon .Intervensi investasi perilaku c. Pengobatan investasi Kegiatan Manajemen Pengembangan/ investasi Tujuan outcome Tujuan output Kegiatan di masyarakat Pengembangan/ a.PAD .Pembagian kelambu IDENTIFIKASI & PERUMUSAN KEGIATAN Pelayanan individu Pengembangan/ a.Vector control .PHLN . biaya • Namun dalam penganggaran semua sumberdaya diukur dalam nilai uang • Sumber-sumber pembiayaan kesehatan didaerah termasuk: .Promkes Kegiatan tak langsung Kegiatan langsung DH-BP-BDG-070312 Ascobat G/P2KT-III/05 Penentuan Sumber Daya • Sumber daya termasuk sarana.DAK .Dll Pengorganisasian Pengorganisasian adalah mengatur personel atau staf yang ada dalam institusi tesebut agar kegiatan yang telah ditetapkan dalam rencana tersebut dapat berjalan dengan baik yang akhirnya semua tujuan dapat dicapai. Mobilisasi sosial .DAU .

Proses pengawasan DH-BP-BDG-070312 Pelaksanaan Elemen-elemen dalam pelaksanaan sistem pelayanan kesehatan . DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN BAIK YANG DILAKSANAKAN LANGSUNG OLEH PEMERINTAH DAERAH MAUPUN YANG DITEMPUH DENGAN MENDORONG PARTISIPASI MASYARAKAT. PROGRAM.Pelaksanaan program 2. Objek Pengawasan . UU NO 25/2004 MENGATUR TENTANG PERANAN DAN TANGGUNG JAWAB KEPALA SKPD UNTUK MENYIAPKAN RENJA SKPD.Kuantitas dan kualitas program . Agar pengawasan dapat berjalan dengan baik minimal ada 3 hal yang perlu diperhatikan yaitu. 3.Biaya program . Metode Pengawasan . 1. 1.Proses .Melalui pengumpulan data atau informasi 3. UNDANG-UNDANG NO 12 / 2008 PERUBAHAN KEDUA ATAS UU 32/2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH.Out come Monitoring dan Evaluasi Program Kesehatan Yang perlu di lakukan dalam evaluasi adalah. KETERKAITANNYA DENGAN VISI DAN MISI RENSTRA SKPD DAN RPJMD . 4. DH-BP-BDG-070312 5 . UNDANG-UNDANG INI JUGA MENEKANKAN KETERKAITAN ERAT ANTARA PENYUSUNAN RKPD DENGAN RENJA SKPD. UNDANG-UNDANG NO 25/2004 TENTANG SISTEM PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN NASIONAL (SPPN) .Melalui analisis terhadap laporan-laporan yang ada . 1. DH-BP-BDG-070312 UNDANG-UNDANG TERSEBUT MENGEMUKAKAN TENTANG RENCANA KERJA (RENJA) SKPD SEBAGAI PENJABARAN DARI RENSTRA SKPD UNTUK JANGKA WAKTU 1 (SATU) TAHUN YANG MEMUAT KEBIJAKAN.06/02/2013 Pengawasan dan Pengarahan Pengawasan dan Pengarahan Pengawasan dan pengarahan adalah suatu proses untuk mengukur penampilan kegiatan atau pelaksanaan kegiatan suatu program yang selanjutnya memberikan pengarahan-pengarahan sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. 2. Efektifitas Perencanaan Relevansi Perencanaan Adekuasi perencanaan Kualitas Perencanaan DH-BP-BDG-070312 Peraturan Perundang-undangan berkaitan dgn perencanaan tahunan 1.Input .Out-Put .Melalui kunjungan langsung atau observasi terhadap objek yang diawasi .

DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 1. KEBIJAKAN. MENGINGAT PENYUSUNAN RENJA SKPD MENGACU PADA RKPD. PERATURAN PEMERINTAH NO 59/2007 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH. PROPORSIONALITAS. UNDANG-UNDANG NO 17/2003 TENTANG KEUANGAN NEGARA . UNDANG-UNDANG INI JUGA MENEKANKAN TENTANG PERLUNYA PENYUSUNAN RENJA SKPD DAN RKA SKPD BERBASIS PENGANGGARAN KINERJA. PP 58/2005 INI MENYEBUTKAN BAHWA RENJA SKPD MERUPAKAN PENJABARAN DARI RENSTRA SKPD YANG DISUSUN BERDASARKAN EVALUASI PENCAPAIAN PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN-TAHUN SEBELUMNYA. PERATURAN PEMERINTAH NO 58/2005 PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH . RKASKPD. MAKA RENJA SKPD JUGA PERLU MENCERMINKAN KERANGKA PENGANGGARAN YANG DIATUR DALAM PERMENDAGRI TERSEBUT. UNTUK ITU. PROFESIONALITAS. RENJA SKPD PERLU MENGGUNAKAN KERANGKA FUNGSI. INI MENUNJUKKAN TENTANG PERLUNYA RKPD JUGA MENGGAMBARKAN TARGET CAPAIAN KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SEHINGGA MUDAH UNTUK DITRANSFORMASIKAN KEDALAM RENJA SKPD DAN RKA SKPD. NAMUN MENGATUR TENTANG PERANAN DAN KEDUDUKAN RKPD DALAM KAITANNYA DENGAN PERUMUSAN KUA APBD DAN RAPBD. UNDANG-UNDANG NO 33/2004 TENTANG PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH . UU 33 / 2004 MENYEBUTKAN TENTANG RKPD SEBAGAI DASAR PENYUSUNAN RAPBD DAN RKA SKPD. PERMENDAGRI 59/2008 TELAH MENETAPKAN PROGRAM DENGAN KODE PROGRAMNYA SERTA KODE REKENING SETIAP KEGIATAN YANG PERLU DIIKUTI OLEH SETIAP SKPD . URUSAN WAJIB.PRINSIP PENGELOLAAN KEUANGAN YANG MELIPUTI AKUNTABILITAS. TERMASUK DIDALAMNYA RKPD. KETERBUKAAN DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN DAN PEMERIKSAAN KEUANGAN OLEH BADAN PEMERIKSA YANG BEBAS DAN MANDIRI. PPAS. DAN APBD. UNDANG UNDANG 17/2003 INI TIDAK MENGATUR SECARA EKSPLISIT TENTANG RENJA SKPD. UNDANGUNDANG INI MENEKANKAN TENTANG PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA (PERFORMANCE BUDGETING) DAN SERTA PRINSIP. DAN MENETAPKAN PRIORITAS PROGRAM DAN KEGIATANNYA. PROSES.06/02/2013 1. DAN URUSAN PILIHAN PEMERINTAHAN DAERAH DALAM MENGANALISIS ISU STRATEGIS. PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NO 59/2007 YANG MERUPAKAN PENJABARAN PERATURAN PEMERINTAH NO 58/2005 TELAH MENGATUR SECARA RINCI MEKANISME. DAN PROSEDUR PENYUSUNAN PENGANGGARAN TAHUNAN DAERAH. SETIAP PROGRAM DAN KEGIATAN PERLU MEMPUNYAI TOLOK UKUR DAN TARGET KINERJA CAPAIAN PROGRAM YANG JELAS. KUA. DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 6 . MERUMUSKAN STRATEGI. 1. RAPBD. TENTANG 6.

PERTANGGUNGJAWABAN TERSEBUT BERUPA LAPORAN YANG DIDSAMPAIKAN KEPADA ATASAN MASING-MASING. TATA CARA PENYUSUNAN. PROGRAM PRIORITAS URUSAN WAJIB DAN PILIHAN MENGACU PADA STANDAR PELAYANAN MINIMAL SESUAI KONDISI NYATA DAERAH DAN KEBUTUHAN MASYARAKAT. RENJA SKPD DIBAHAS DALAM FORUM SKPD YANG DISELENGGARAKAN BERSAMA ANTAR PEMANGKU KEPENTINGAN UNTUK MENENTUKAN PRIORITAS KEGIATAN PEMBANGUNAN . BILA HAL TERSEBUT TERJADI AKAN MEMPERLEMAH DINAS KESEHATAN DALAM HAL PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PROGRAM DIKARENAKAN KEWENANGAN UNTUK MELAKUKAN KOORDINASI IDEALNYA OLEH BIDANG BINA PROGRAM SETINGKAT ESSELON III. DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 7 . DARI 4 (EMPAT) BIDANG YANG DIREKOMENDASIKAN TENTUNYA MEMPERKECIL PELUANG TERBENTUK BIDANG BINA PROGRAM YANG MENGKOORDINIR PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PROGRAM .06/02/2013 7. DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 10. LAPORAN TERBUT DISEBUT DENGAN ISTILAH LAKIP. PP 41 / 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH 9. DAN PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN / KOTA . PP 8/2008 MENGEMUKAKAN BAHWA KEWAJIBAN SKPD UNTUK MENYUSUN RENSTRA DAN RENJA SKPD YANG BERPEDOMAN PADA RPJMD DAN BERSIFAT INDIKATIF SERTA DISUSUN DENGAN MENGGUNAKAN DATA DAN INFORMASI. PENGENDALIAN DAN EVALUASI PELAKSANAAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH. 8. SEDANGKAN UNTUK URUSAN PILIHAN ADALAH URUSAN PEMERINTAHAN YANG SECARA NYATA ADA DAN BERPOTENSI SERTA MENJADI UNGGULAN DAERAH TERSEBUT. TETAPI PADA PP 41 TERSEBUT PADA PASAL 25 DISEBUTKAN BAHWA UNTUK ORGANISASI DINAS DAERAH TERDIRI DARI (1) SATU SEKRETARIAT DAN PALING BANYAK 4 (EMPAT) BIDANG . INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (INPRES) NOMOR 7 TAHUN 1999 TENTANG AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (AKIP) INPRES TERSEBUT MEWAJIBKAN SETIAP SKPD/INSTANSI PEMERINTAH SEBAGAI UNSUR PENYELENGGARA PEMERINTAHAN NEGARA UNTUK MEMPETANGGUNGJAWABKAN PELAKSANAAN TUGAS POKOK DAN FUNGSINYA SERTA KEWENANGAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA DENGAN DIDASARKAN PADA SUATU PERENCANAAN STRATEGIK (RENSTRA) YANG DITETAPKAN OLEH MASING-MASING SKPD/INSTANSI PEMERINTAH. PERATURAN PEMERINTAH NO 8/ 2008 TENTANG TAHAPAN. URUSAN PEMERINTAHAN YANG WAJIB DISELENGGARAKAN OLEH PEMERINTAH DAERAH ADALAH ERAT KAITANNYA DENGAN PELAYANAN DASAR. KONSEKUENSI DARI ADANYA URUSAN WAJIB DAN PILIHAN TERSEBUT DAERAH WAJIB MENGALOKASIKAN ANGGARANNYA UNTUK OPERASIONAL PELAYANAN DASAR TERSEBUT MELALUI MEKANISME PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN SEBAGAIMANA DIATUR DENGAN UU 25/2004 DAN PP 8/2008. SECARA EXPLISIT PP 41 / 2007 TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN PENYUSUNAN RENJA TAHUNAN SKPD. SEKRETARIAT MEMBAWAHI 3 (TIGA) SUB.BAGIAN. LEMBAGA – LEMBAGA PENGAWAS DAN PENILAI AKUNTABILITAS DAN AKHIRNYA DISAMPAIKAN KEPADA PRESIDEN. DAN BIDANG MEMBAWAHI 3 (TIGA) SEKSI. PERATURAN PEMERINTAH NO 38 / 2007 TENTANG PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH. PP 38 / 2007 INI SECARA NYATA MENYEBUTKAN TENTANG URUSAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN/KOTA MELIPUTI URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN.. PEMERINTAHAN DAERAH PROVINSI.

10%. Belum ada sinkronisasi dalam perencanaan dan penganggaran antara pusat dan daerah.06/02/2013 Masalah Dalam Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Kesehatan Langkah-langkah dan Jadwal kegiatan Perencanaan dan penganggaran antara pusat dan daerah belum dilaksanakan dengan baik. kegiatan. apalagi integrasi .Kelemahan dalam melakukan analisis situasi .Kelemahan sistem informasi kesehatan . - Daerah belum sepenuhnya mengikuti kebijakan dan regulasi dari pusat. dll * Target tahun depan tidak realistis . - - - *Tidak “evidence based” . demikian juga pusat harus dapat membaca kesulitan daerah.Sering mengikuti saja target emosional .Tidak didasarkan pada prospek ketersediaan sumberdaya thn yad * Fragmented .perencana pasif. Bbrp kelemahan perencanaan (atas dasar pegamatan) * Kaku.Tidak didasarkan pada trend pencapaian masa lalu . DAK penggunaannya hanya diperbolehkan untuk fisik. Immunisasi pembiayaannya sangat kecil (sumber data DHA ).sering disebut karena “egoisme program” .tidak ada konsisten antara masalah dan tujuan dan kegiatan dan alokasi sumberdaya DH-BP-BDG-070312 8 .tapi bisa juga karena perencanaan top-down (sudah terfragmentasi dari atas) * DH-BP-BDG-070312 • Budget driven: . rule driven (sulit dirubah karena terikat peraturan) . disisi lain untuk operasional masih sangat kurang. menjadi tdk efektif kalau anggaran tsb digunakan lagi untuk fisik.Program. trend kinerja dll • Benang merah logika “problem solving” tidak jelas . Untuk program-program kesehatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti KIA.Isinya sulit dirubah/disesuaikan dengan perubahan yg bisa terjadi sepanjang tahun. Anggaran lebih banyak dipergunakan untuk kegiatan tidak langsung seperti manajerial.rencana tahun lalu ditambah-tambah sedikit. demikian juga untuk program Promotif dan Preventif sangat kecil. akibatnya pembiayaan untuk kuratif menjadi besar.perencanaan dilakukan tanpa mind-set tentang siklus pemecahan masalah .tidak ada kordinasi antara program.15%.target dan kegiatan didasarkan pada flafond anggaran yg tersedia (budget based targeting) . sumberdana terikat pada peraturan baku . Contoh: Alokasi anggaran bersumber pemerintah seperti DAK peruntukannya tidak fleksibel sesuai kebutuhan daerah. Untuk daerah yang fisiknya sudah mencukupi.Kelemahan informasi/pengetahuan ttg faktor-faktor yg berkaitan dengan suatu masalah kesehata DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 * Historical planning . tidak mau menghitung besaran masalah.

Kekurangan biaya operasional akibat kecenderungan belanja fisik .Ini akibat kelemahan dalam perencanaan DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 9 . artinya program P2PL dan Promkes relatif lebih kecil dibanding anggaran RS DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Realisasi Terlambat • • • • • • Karena proses birokrasi anggaran berkepanjangan Sinyalemen: penggunaan hak budget oleh legislatif berlebihan Dampaknya: waktu pelaksanaan program sangat pendek Pelaksana program bergulat dengan urusan SPJ Akhirnya: kinerja program tidak mencapai target Atau: kalaupun mencapai target. lebih baik diusulkan sarana fisik.Sebagai contoh: anggaran dekon membengkak. pertemuan kordinatif . UC fogging. PK-nya ada di propinsi.Bisa juga karena kelemahan data ttg biaya satuan kegiatan operasional (UC kunjungan lapangan. hasilnya 3 – 4 kali dari ketersediaan anggaran selama ini • Juga ada “kekurangan relatif”.Pekerjaan di kabupaten/kota terganggu Kinerja dan Anggaran Kecenderungan Fisik Ini biasa terjadi karena sdh diantisipasi realisasi akan terlambat. bisa selesai dlm waktu relatif pendek .Lemah dalam mengkaitan anggaran dengan output . pelatihan. mutunya rendah (misal: UCI campak tercapai.Biaya operasional sangat menentukan kinerja program .06/02/2013 Kelemahan penganggaran Kesehatan Daerah • • • • • • • • • • Anggaran kesehatan terlalu kecil Realisasi terlambat Terfragmentasi Kecenderungan belanja fisik Biaya operasional tidak cukup Fenomena pyramida terbalik (banyak diatas) Lemah kaitan antara anggaran dengan kinerja Cenderung untuk kuratif Peruntukan kaku “Bocor” Anggaran kesehatan terlalu kecil • Dibandingkan dengan kebutuhan normatif (US$ 12/capita.Pengaggaran cenderung berorientasi pada belanja faktor input (belanja barang) . sering mengundang org kabupaten ke propinsi . tapi KLB campak tetap terjadi karena lemahnya manajmen “cold chain” Kurang Biaya Operasional . dll) Fenomena Pyramida terbalik .Anggaran terpakai banyak untuk kegiatan “capacity building”. menurut World Development Report 1993) • Kebutuhan rill setelah dihitung dgn P2KT. nilai tahun 1993.

Penentuan Kegiatan .06/02/2013 Cenderung Kuratif .Penentuan Tujuan . 59/2007) • Daftar SPM ternyata tidak memasukkan program tertentu secara spesifik (misal malaria dan tbc) • Mata anggaran dalam Permendagri No.Kewajiban memberikan jaminan kepada penduduk miskin  anggaran untuk rawat jalan dan rawat inap naik . 59/2007 tidak mencakup mata anggaran yang diperlukan dalam program kesehatan DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Bocor • Tidak usah dibahas • Semua sudah tahu apa maksudnya • Kalau mau “sharing” pengalaman boleh sampaikan Solusi 1). dll Peuruntukan Kaku • Mau tidak mau harus ikuti nomenklatur program dan mata anggaran sesuai peraturan (SPM dan Permendagri No.Pelaksanaan .Kesehatan identik dengan RS. Siklus pemecahan masalah perlu dilakukan dimulai dari .Anggaran untuk promotif dan preventif mendapat dampaknya .Monitoring .Bisa juga karena eksekutif pemerintah memiliki persepsi tidak tepat ttg pembangunan kesehatan: .Evaluasi DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 10 . tenaga spesialis. alat canggih.Pengorganisasian .Identifikasi masalah .Analisis situasi .Penentuan Sumber daya .

06/02/2013 2). Anggaran Berbasis Kinerja Anggaran berbasis kinerja menjaga agar anggaran operasional untuk kegiatan langsung tercukupi Anggaran operasional kegiatan langsung adalah penentu kinerja Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran Pusat dan Daerah Renstra KL Pedoman Pedoman Dijabar kan Pedoman Renja KL Pedoman RKAKL Keppes Rincian APBN Pemerintah Pusat Diacu Pedoman RPJP Nasional Diacu RPJM Nasional RKP RAPBN APBN Diperhatikan Pedoman Diselaraskan melalui Musrenbang RPJP Daerah RPJM Daerah Dijabar kan RKP daerah Diacu Pedoman RAPBD APBD Pemerintah Daerah Pedoman Renstra SKPD Pedoman Renja SKPD Pedoman RKA SKPD Kep KDH tentang Rincian APBD UU SPPN UU KN/PERMENDAGRI 59/07 = Terdapat penyelarasan Renja KL dan kegiatan Dekon/TP dengan rancangan RKPD (PP 20/2004 Pasal 6) = Terdapat penyelarasan Renja KL menjadi RKA-KL yang dirinci menurut unit organisasi/kegiatan. Persiapan perencanaan b. Analisis situasi & kebijakan kesehatan 2 Rapat Kerja Perencanaan (I) 3 Musrenbang desa 4 Unit-unit Dinkes menyusun RKT 5 Musrenbang kecamatan 6 Puskesmas menyusun RKT 7 Rapat Kerja Perencanaan (II) 8 Forum SKPD (ekpos oleh Kadinkes) 9 Musrenbang Kabupaten/Kota 10 Jaring asmara 11 Kebijakan Umum Anggaran 12 Asistensi anggaran (pembahasan usulan) 13 Keputusan anggaran RKT = Rencana Kerja Tahunan Jaring asmara= menjaring aspirasi masyarakat Unit pelaksana Dinkes Dinkes Arahan oleh Dinkes Puskesmas + Desa Unit-2 Dinkes Puskesmas + Camat Puskesmas Dinkes + Puskesmas SKPD + Bappeda SKPD + Bappeda + DPRD DPRD DPRD & Pemda Dinkes + Bappeda DPRD + Pemda Des Jan Peb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nop Des x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x Jadwal perencanaan sangat ketat PKEKK . termasuk alokasi sementara untuk Dekon/TP (PP 21/2004 Pasal 10) DH-BP-BDG-070312 DH-BP-BDG-070312 Langkah &Jadwal perencanaan daerah No Kegiatan 1 Analisis situasi a.FKMUI DH-BP-BDG-070312 11 .

serta sumber daya kesehatan. Penyelenggaraan tugas kesekretariatan. pelayanan kesehatan. AKK 17 SASARAN DEPKES ANGKA / JUMLAH KESAKITAN DAN STATUS GIZI • EKPOD 8 INDIK SPM BIDANG KESEHATAN KAB/KOTA ( 18 INDIKATOR ) PELAYANAN KES DASAR 14 INDIKATOR PELAYANAN KES RUJUKAN 2 INDIKATOR FARMA SI. PERDA 10/2009 DAN PERDA 11/2010 TTG SKP NORMA STANDAR PROSEDUR KRITERIA (NSPK) (URUSAN PEMERINTAH PUSAT PP 38 TAHUN 2007. ALKES DAN MAK • PENYEL EPIDEMIO & PENANGG KLB PROMOSI KES & PEMBERD MASY • Peraturan Pemerintah RI Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT DINAS KESEHATAN LANDASAN HUKUM • PP RI Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. PROVINSI DAN KAB/KOTA DALAM PEMBANGUNAN BIDANG KESEHATAN SESUAI URUSAN IK MDGs UHH AKB. • Pemenkes RI Nomor 741/MENKES/ PER/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kab/Kota. Perumusan dan penetapan kebijakan teknis urusan kesehatan. pelayanan kesehatan. Pemerintahan Daerah Provinsi. AKI. 3. SINERGITAS PUSAT. 4. dan tugas pembantuan. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. dekonsentrasi. Pengkoordinasian dan pembinaan UPTD.06/02/2013 TUGAS DAN FUNGSI DINKES Berdasarkan :Pergub 32 Tahun 2009 SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN PUSAT PROVINSI DAN KAB/KOTA Tugas Pokok Dinkes Provinsi : melaksanakan urusan Pemda bidang kesehatan berdasarkan azas otonomi. UPAYA KES PEMBIA -YAAN KES SDM KES MANAJ EMEN KES PEMBER DAYAA N MASY REGU LASI KES KEMITR AAN LIT BANG & IPTEK URUSAN PROVINSI PADA PP 38 TAHUN 2007. 5. Pembinaan dan pelaksanaan tugas kesehatan meliputi : regulasi dan kebijakan kesehatan. PP RI Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaran Pemerintah Daerah. serta sumber daya kesehatan. Permendagri Nomor 79 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian Standar Pelayanan Minimal. Penyelenggaraan Urkes meliputi : regulasi dan kebijakan kesehatan. AKABA. penyehatan lingkungan dan pencegahan penyakit. 2. Fungsi : 1. penyehatan lingkungan dan pencegahan penyakit. KEPMENKES 922 TAHUN 2008) 1 .

81 (2008)10) 63-64 65-66 Gender 6 Indeks Pemberdayaan 54. Diseases Menurunnya AKI menjadi 118 per 100. 18.000 KH 33-34/1.000 KH5) 35-36/1.10.51 (2008)10) 61-63 64-65 Gender No Indikator Kinerja Poverty & Hunger Maternal Health 34 per 1000 KH (Jabar 39/1000 KH) 228 per 100.1/ 100.000 KH thn 2003) 23 per 1000 KH (Menurunkan 2/3 nya dari tahun 1999) 102 per 100.5 tahun 10 .60% 95 .000 KH (Menurunkan 3/4 nya dari tahun 1999) EDUCATION Comm.15/100.0 thn Menurunnya AKB menjadi 24 per 1000 KH RPJMN 2010 – 2014 TARGET MDG 2015 TA TARGET DAN CAPAIAN INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN PROVINSI JAWA BARAT RPJMD 2008-2013 Kondisi Awal Capaian Target Midterm Target 2013 (Tahun 2007) Tahun 2009 (2011) MISI PERTAMA : Mewujudkan Sumberdaya Manusia Jawa Barat yang Produktif dan Berdaya Saing 1 Angka Rata-rata Lama 7.000 (Kelahiran Hidup/KH) KH (2003) KH5) KH KH 5 Indeks Pembangunan 60.000 321.000 KH ( Jabar 321.8 (2006) 61.000 38/1.5 tahun Sekolah ***) 2 Angka Melek Huruf 95.4 (2006) 55.62 tahun) Meningkatnya UHH menjadi 72.9.58 tahun***) 9 .8% 5 SINKRONISASI PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DGN NASIONAL 20 TAHUN 5 TAHUN Skema Integrasi dan Sinkronisasi Perencanaan Pembangunan Nasional dan Daerah 1 TAHUN DIJABARKAN PEDOMAN RPJPN DIACU PEDOMAN RPJMN RKP DIACU DAN DISERASIKAN DIACU DIPERHATIKAN RENSTRA K/L DIJABARKAN PEDOMAN RENJA K/L RPJPD PROV PEDOMAN RPJMD PROV RKPD PROV DIACU DAN DISERASIKAN PEDOMAN DIACU DIPERHATIKAN DIACU DIACU RENSTRA SKPD PROV DIJABARKAN PEDOMAN RENJA SKPD PROV PEDOMAN RPJPD K/K RPJMD K/K PEDOMAN RENSTRA SKPD K/K RKPD K/K DIACU PEDOMAN RENJA SKPD K/K 2 .45% anak balita) Menurunnya prevalensi gizikurang pada anak balita menjadi 15%.000 kh GENDER ENVIRONMENT CHLD HEALTH PARTNERSHIP 18.000 KH (Kelahiran Hidup/KH) KH (2006) 4 Angka Kematian Ibu 321/100.000 215-220/100.5 tahun 7.000 205-210/100.26/1.96% 97 – 98% 3 Angka Kematian Bayi 40.06/02/2013 MDG 2015 8 Tujuan CAPAIAN 2007 PEPRES No: 5/2010 (Jabar 67.4% pada anak balita (Jabar 11.32% 95.

DPA SKPD hasil verifikasi 67 oleh Tim Anggaran Pemda Penyampaian DPA 60 SKPD kpd kepala SKPD 63 Surat Verifikasi ranc. standar satuan harga & SPM 48 Raperda ttg APBD. PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA 12. nota keuangan. PERTEMUAN SINKRONISASI DAN KOORDINASI PERENCANAAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA DENGAN KABUPATEN/KOTA MAXIMAL PADA BULAN FEBRUARI 4. hsl Musrenbang kab/kota 10 Dok Ranc RenjaSKPD 11 Hasil forum SKPD kab/kota. hasil Musren kab/kota 12 Pelaksanaan Forum SKPD 13 Kesepakatan hasil forum SKPD 21 Peny Ranc Akhir Renja SKPD Penyempur naan ranc.06/02/2013 3).Renstra/RPJMD kab/kota 15 Dokumen Rancangan RKPD 14 Penyusunan Rancangan RKPD 17 Pelaks Pra Musrenbangprov & Musrenban g prov. PROVINSI DAN PUSAT ( critical issue) 2. PENENTUAN PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA 9. Akhir RKPD & Rapergub 20 Dok. KONSULTASI DENGAN PUSAT TTG PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA 8.Ranc.Ranc. PPAS. RKP & Ranc. kinerja SKPD 7 Hasil Evaluasi 8 Peny. TAHAPAN PROSES PERENCANAAN PEMBANGUNAN TAHUNAN DAERAH (RKPD) JANUARI PEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER 49 Pembahasan di DPRD. MENGINFORMASIKAN TENTANG KEBIJAKAN PROGRAM TAHUN YANG DATANG BERDASARKAN URUSAN PROVINSI MAKSIMAL PADA BULAN JANUARI (YANG EVIDANCE BASE) 3. DPA SKPD & menyampaikan kpd PPKD utk verifikasi oleh Tim Anggaran Pemda 62 Rancangan DPA SKPD 22 Dok Ranc Akhir Renja SKPD 43 Dokumen RKA SKPD 66 DPA SKPD sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh kepala SKPD Program Manajemen Pelayanan Kesehatan 29 Pedoman penyusunan APBD dari Mendagri setiap tahun 55 Evaluasi Mendagri 56 Keputusan Mendagri ttg hasil evaluasi Raperda APBD & Raperkada penjabaran APBD INTERVENSI SINKRONISASI DALAM ALUR PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN KESEHATAN DARI BERBAGAI SUMBER DANA KEBIJAKAN DAN PROGRAM PROVINSI DAN KAB/KOTA DARI BERBAGAI SUMBER DANA KONSULTASI DGN PUSAT TTG SINKRONISASI & KOORD PERENC PUSAT PROVINSI DAN KAB/KOTA DI PROVINSI SINKRONISASI & KOORD PERENC PUSAT PROVINSI DAN KAB/KOTA DI PROVINSI SINKRONISASI & KOORD PERENC PUSAT PROVINSI DAN KAB/KOTA DI KAB/KOTA INFORMASI KEBIJAKAN PROGRAM PUSAT DAN PROVINSI TAHAPAN PERENCANAAN DI PROVINSI 1. MUSRENBANGNAS 11. capaian kinerja. 18 Dok BA Hasil Musrenbangprov 19 Penyusunan ranc. APBD & PPAS PPAS yg yg tlh tlh disepakat disepakati bersama i 39 Nota Kesepakatan kepala daerah dg pimpinan DPRD ttg KU APBD dan PPAS 51 Kepala daerah menyi apkan/menyusun Raperkada ttg penja-baran APBD 52 Dokumen Raperkada ttg penjabaran APBD 53 Penyampaian persetujuan bersama thd Raperda ttg APBD & Raperkada ttg penjabaran APBD 54 Dok Persetujuan bersama thd Raperda ttg APBD & Raperkada ttg penjabaran APBD 58 Perda ttg APBD & Perkada ttg penjabaran APBD 57 Penetapan kepala daerah thd Raperda APBD dan Raperkada ttg penjabaran APBD menjadi Perda ttg APBD & Perkada ttg penjabaran APBD Program Dukungan Manajemen & Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Kesehatan Program Bina Gizi & KIA Program Pembinaan Upaya Kesehatan 28 Penyusunan ranc. DPA SKPD Ranc. Tupoksi SKPD & hsl forum SKPD kab/kota. DPA SKPD Pemberitahuan oleh Tim Anggaran Pemda Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Program Kefarmasian dan Alkes Program Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Sinkro nisasi ??? Program Upaya Kesehatan Program Peningkatan Sarana & Prasarana Pelayanan Kesehatan 6 Peny eval. prakiraan maju. Renja SKPD& penetapan peraturan kepala SKPD ttg Renja SKPD 25 Dok Renja SKPD Program Pencegahan & Penanggulangan Penyakit Menular dan Tidak Menular 42 Kepala SKPD menyusun RKA SKPD 44 Penyampaian RKA SKPD kpd PPKD untuk dibahas oleh Tim Anggaran Pemda 61 Kepala SKPD menyusun ranc. PPAS antara DPRD dan kepala daerah 38 Penetapan KU APBD & PPAS kedalam Nota Kesepakatan antara kepala daerah dg pimpinan DPRD 27 Pergub ttg RKPD 32 KU APBD yg telah disepakati bersama antara kepala daerah bersama DPRD 26 Penetapan Pergub ttg RKPD 1 Peny.Hasil forum SKPD kab/kota . pedoman peny. PERTEMUAN SINKRONISASI DAN KOORDINASI KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN PUSAT.Ranc. PPAS 34 Dokumen ranc. KU APBD antara kepala daerah bersama DPRD Pembahasan bersama ranc. PPAS 40 Penyu dok pedoman peny. Awal RKP 4 Peny Ranc Awal RKPD 5 Dokumen Rancangan Awal RKPD 16 . RKPD kab/kota . MELAKSANAKAN MONEV PELAKSANAAN KEGIATAN DI PROVINSI DAN KAB/KOTA Musrenbangnas (April – Mei) MUSRENBANG PROVINSI (AWAL APRIL) MUSRENBANG KAB/KOTA (AWAL MARET) MUSRENBANG KECAMATAN (februari) MUSRENBANG DESA/KEL (januari) RUMUSAN 3 KEBIJAKAN DAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA RUMUSAN 2 KEBIJAKAN DAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA PRAMUSRENBANG PROVINSI (AKHIR MARET) RUMUSAN 1 KEBIJAKAN DAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA INFORMASI KEBIJAKAN PROGRAM KAB/KOTA IDENTIFIKASI MASALAH DAN KEBUTUHAN KAB/KOTA SP KE DESA 3 . KU APBD 30 Dokumen ranc. MENELAAH USULAN KAB/KOTA MENJADI RUMUSAN USULAN PADA MUSRENBANG KAB/KOTA PADA MG 1 BULAN MARET 5. KU APBD 33 Penyusunan ranc. MELAKSANAKAN PEMBAGIAN KEGIATAN DAN ANGGARAN KAB/KOTA 13. analisis standar belanja. untuk memperoleh persetujuan bersama sesuai peraturan tata tertib DPRD. KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN PEMBANGUNAN KESEHATAN PADA MUSRENBANG PROVINSI AWAL BULAN APRIL 10. RKA SKPD 24 45 Pembahasan dg Tim Anggaran Pemda ttg kesesuaian dg KU APBD. RKA SKPD 41 Dok. ranc. Raperda ttg APBD & dok pendukungnya oleh PPKD 46 RKA SKPD yg telah ditelaah oleh Tim Anggaran Pemda 59 65 PPKD menyiapkan PPKD mengesahkan 66 ranc. Renja SKPD 9 Renstra SKPD. Renja KL . APBD 47 Peny. indikator kinerja. DPA SKPD dg surat DPA SKPD yg telah pemberitahuan persetujuan Sekda disah-kan oleh PPKD kpd SKPD utk 64 menyusun ranc. HARMONISASI RENSTRA KAB/KOTA. Ranc. DRAFT KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN SERTA DESK PROGRAM DAN ANGGARAN PADA PRAMUSRENBANG PERWILAYAH MG KE 3 DAN MG KE 4 BULAN MARET 7. yang menitikberat-kan kesesuaian antara KU APBD dan PPAS dg program dan kegiatan yg diusulkan dalam Raperda ttg APBD NOVEMBER DESEMBER 50 Dokumen persetujuan Raperda ttg APBD antara kepala daerah bersama DPRD KETERKAITAN PROGRAM PUSAT & PROVINSI APBN APBD Program Sumber Daya Kesehatan 35 31 Pembahasan ranc. Evaluasi Kinerja 2 Hasil Evaluasi 3 RPJM RPJMD prov. Ranc Akhir RKPD & Rapergub 23 Penelaahan/ asistensi ranc. Akhir Renja SKPD 37 36 Dokumen KU Ranc. PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA PADA MG 2 MARET 6.

Kab Sumedang Kab.7 0.02 75.26 49.70 95.10 JAWA BARAT NASIONAL 8.98 78.0 92.15 1.90 59. Bekasi 53. Garut 11.85 99.0 76.2 73. Purwakarta 51.1 80 52 Kota Cirebon JUMLAH 238 3.36 1.31 51.88 80.3 75.8 87.7 6 Kab.9 46.46 81. Majalengka 64.54 3 7.26 69.3 KN1 KN LENGKAP PN K4 K1 HIV API MAL CDR TBC AK TBC AB JAGA JML MAS PENGELOMPOKAN KABUPATEN/KOTA BERDASAR KATAGORI MASALAH TAHUN 2010 NO KABUPATEN Kab.0 88.06 0. Purwakarta SEDANG NASIONAL 11. Majalengka JML Kota SukabumI KABUPATEN 12 Barat Kab.50 96. Karawang BERAT SEDANG RINGAN (5X1)+(2x2)= Ket : berat sedang ringan 10.33 73.31 56.85 73.49 80. Cianjur (5x1)+(3x2)= 11 SEDANG Kota Tasikmalaya 67.23 98.83 5 5.56 85.21 88.63 0.45 85.03 54.74 42. Kab Sukabumi 1.45 94 8. Majalengka (2X1)+(6x2)=13 BERAT Kab.26 94.11 82.54 97.43 0.01 8.28 94.43 0.Tasikmalaya 79.41 83.4 59.92 3.2 77.53 80 51.70 90. Kab Tasikmalaya 2.27 88.72 15. Kota Sukabumi (4X1)+(3X2)= 11 8 Kab.4 89.9 81. Kuningan 0.2 79. Kuningan SEDANG Kab.5 92.68 87.23 78.17 94.88 89.07 98.49 95.6 8 89.01 85. Kt Bogor 7 Kab.19 4 1 Kab.94 88.25 74.81 1.81 1.35 98.01 85.56 0.22 0.38 79.13 0.8 Kab.95 80.01 82.75 3.04 79.71 28.9 89.3 3.4 100.94 84.53 67.6 69.28 7 #DIV/0! #DIV/0! 105.3 88.8 95. Kota Cirebon (5X1)+(2x2)= 9 Bandung Kab. Bogor 82. Purwakarta (4X1)+(2X2)= 8 SEDANG 9.1 72.91 93.2 92.2 91. Kab Bandung Barat 4.1 74.38 4 .58 60.59 81.89 JUMLAH MASALAH KATAGORI MASALAH 7 8 9 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 (5X1)+(2x2)= 9 SEDANG PENGELOMPOKAN KABUPATEN/KOTA (3X1)+(6x2)=17 BERAT BERDASARKAN KATAGORI MASALAH 3 Kab.75 0.03 8 (3X1)+(2X2)=7 15.0 88.2 84.78 Kab.45 59.9 41.37 63.18 67.03 95.33 0.4 98. Kab Purwakarta 0. Kota Depok 10 Kab.18 Kab.98 124.37 94.94 2 Kab.12 96.13 29.72 98.55 51. Bandung (2X1)+(4x2)=10 SEDANG Kab.7 92.67 91.06 14. Cianjur 18 Kota Bogor 0.30 69.68 72.57 21 Kota Cirebon SEDANG Kab.45 85. Subang 64.13 79.3 89.76 45.90 73.45 10.86 78.3 70. Kota Tasikmalaya 9.89 (5X1)+(3X2)= 11 25 Kota Cimahi SEDANG Kab.96 46.42 84.1 15 Kab.06 3 24 Kota Tasikmalaya (3X1)+(2X2)=7 SEDANG 5.07 80.3 99. Ciamis (3X1)+(4X2)=11 Kab.50 53.5 4 Kab.93 93.07 82.62 76.15 1 7. Bandung 76.65 20 Kota 2 SEDANG Kab.4 Kab.47 Sumber: Dinas Kesehatan (4X1)+(3X2)= 10 26 Kota Banjar SEDANG Kab Bandung Brt 81.35 8.70 4 8.62 82.92 98.63 83.93 88.52 94.4 79.56 92. Sukabumi 65.01 69. Cirebon (4X1)+(3X2)= 11 SEDANG Bila angka jabar lebih tinggi dp angka nasional maka angka jabar jadi patokan tertinggi BERAT : > 12 5.09 7.95 98.85 0.60 8.45 19.52 82.56 Kab.12 74. Bekasi (2X1)+(5x2)=12 SEDANG Kab.28 11. Indramayu (3X1)+(3x2)=9 MAS SEDANG 7. Sumedang 82.99 81.53 (1X1)+(1X2)=3 Kota Bekasi 22 16.09 80.55 Sukabumi 11.53 80.7 84.2 95. Indramayu 55.88 1.38 85.4 99.33 4.43 56.76 77.60 94 8. Kab Bogor 1.6 SKORE Kota Bogor 2.46 68.48 3X1 = 3 RINGAN Kab.83 39.1 82. Kota Bekasi 9 Kab.7 81.92 83.15 72. Kab Karawang 85.38 77.55 0.16 90.51 85.65 0.74 69.21 4 6.34 95.83 1.98 1.24 50.01 90.48 58.97 83.21 91.72 Kota Bekasi 1 Kota Depok 2 99.06/02/2013 TAHAPAN PERENCANAAN DI PROVINSI HARMONISASI RENSTRA KAB/KOTA.7 67.85 67. Kab Kuningan Kota Kab.76 63.98 78.66 91.13 74.55 - 0 0 4 98.38 92.04 86.87 3 17.54 1.86 99. Bekasi 1 Kota Depok 5.44 2 Kab. Sukabumi Kab. Kab Bandung 3. Bogor 1 2 3 4 5 6 Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi 8. BandunG 0 Kab.22 Kab. Kab Garut 4.2 14 Kab.7 77.23 86.92 Kab.Kab.48 0.38 64.48 83.3 96.35 52 84.6 8.Bogor JAWA BARAT 74.06 87. Tasikmalaya 7.12 1.35 57.32 0.86 86.91 42.89 3 7. Kota Banjar 6.3 85.55 50.14 84.45 1.57 74. Kab Cianjur 2.6 82.87 74.68 1.71 79.26 66.19 96.64 78.61 62. Cirebon 80.11 12.08 Kab. PROVINSI DAN PUSAT MENGINFORMASIKAN TENTANG KEBIJAKAN PROGRAM TAHUN YANG DATANG BERDASARKAN URUSAN PROVINSI MAKSIMAL PADA BULAN JANUARI PERTEMUAN SINKRONISASI DAN KOORDINASI PERENCANAAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA DENGAN KABUPATEN/KOTA MAXIMAL PADA BULAN FEBRUARI MENELAAH USULAN KAB/KOTA MENJADI RUMUSAN USULAN PADA MUSRENBANG KAB/KOTA PADA MG 1 BULAN MARET PERTEMUAN DI 5 WILAYAH EVALUASI 2011 DAN RENCANA 2013 22 SD 28 MARET 2012 INPUT PROSES • CERAMAH TANYA JAWAB • DISKUSI KELOMPOK PER KAB/KOTA • PENDAMPINGAN DISKUSI KELOMPOK DARI PROVINSI OUTPUT • HASIL IDENTIFIKASI MASALAH DAN KEBUTUHAN PEMBANGUNAN KESEHATAN PER KAB/KOTA • RUMUSAN PRIORITAS PROGRAM PEMBANGUNAN KES 2013 • RENCANA USULAN KEGIATAN PROVINSI DAN KAB/KOTA DARI BBG SUMBER DANA PERTEMUAN SINKRONISASI DAN KOORDINASI KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN PUSAT.2 82. Indramayu Kota Cimahi 2 57.2 79.30 86.13 66.15 57.5 93. Cirebon 3.05 98.01 92. Kab Indramayu Kab.07 73. Sumedang 11Cimahi Kab.31 78. Kota Bandung 3X1=3 19 Kota Sukabumi RINGAN 4. Subang SEDANG rang pak KAP Kota Bandung(2x1)+(3x2)=8 8. Bandung Prev API CDR AK Gi CamKN1 LENGPN K4 K1 HIV AB JAGA Gibur MAL TBC TBC 13 Kab.76 81.89 46.37 75.3 97.09 48.41 2 8. Garut 82.6 87.51 1.Tasikmalaya (2X1)+(6x2)=14 BERAT Kab.35 102.46 79.0 98.24 91.91 89. Ciamis 63.80 78. Sumedang (3X1)+(2X2)=7 SEDANG : 6-12 SEDANG 6.75 99.31 68.19 94.55 13.65 2 5.46 73. PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA PADA MG 2 MARET DRAFT KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN SERTA DESK PROGRAM DAN ANGGARAN PADA PRAMUSRENBANG PERWILAYAH MG KE 3 DAN MG KE 4 BULAN MARET KONSULTASI DENGAN PUSAT TTG PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA PENENTUAN PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA KEBIJAKAN PROGRAM DAN ANGGARAN PEMBANGUNAN KESEHATAN PADA MUSRENBANG PROVINSI AWAL BULAN APRIL MUSRENBANGNAS PROGRAM DAN ANGGARAN PROVINSI DAN KAB/KOTA MELAKSANAKAN PEMBAGIAN KEGIATAN DAN ANGGARAN KAB/KOTA MELAKSANAKAN MONEV PELAKSANAAN KEGIATAN DI PROVINSI DAN KAB/KOTA PERTEMUAN DI 5 WILAYAH EVALUASI 2011 DAN RENCANA 2013 22 SD 28 MARET 2012 • HASIL KINERJA 2011 • KEBIJAKAN PROGRAM KES PROV 2013 • MATERI SINKRONISASI • PROTAP PENGUSULAN KEGIATAN DAN ANGGARAN • RKA PROV 2013 • RKA KAB/KOTA 2013 • PENDUAN DISKUSI KELOMPOK TAHAPAN PERENCANAAN KAB/KOTA sesuai pergub No 79 tahun 2010 • IDENTIFIKASI PERMASALAH KAB/KOTA SAMPAI KE TINGKAT DESA • INFORMASI KEBIJAKAN PROGRAM KAB/KOTA • KONSULTASI PROGRAM DAN KEGIATAN DENGAN PROVINSI • INFORMASI KEBIJAKAN PROGRAM PUSAT DAN PROVINSI KEPADA KECAMATAN (PUSKESMAS) • RUMUSAN AWAL KEBIJAKAN DAN PROGRAM DARI BERBAGAI SUMBER DANA N O LOKASI PRIORITAS INTERVENSI DATA SPATIAL MASALAH KESEHATAN SESUAI INDIKATOR DAN TARGET MDGs BIDANG KESEHATAN JAWA BARAT TAHUN 2010 KOTA Prev Gi rang Prev Gibur ImM Campak 92.1 93.1 79.38 0. Kab Bekasi Kab.60 58.10 90.7 5 Kab. Karawang 73.22 18.88 8.74 9 73.34 22. Kab Majalengka KETERANGAN : ≥ angka nas ≥ angka Jabar < angka Nas < angka Jabar 31 RATA2 : 9. Cianjur 78.9 82.7 1.17 99.87 0.85 0.47 95.2 88.09 0.72 86.2 51. 78.39 96.80 31.8 100 Kab.84 1.44 65.63 3 10.9 95. Garut SubanG (5x1)+(3x2)= 11 SEDANG Kota Banjar 3 72.59 Kab.01 48. Karawang (4X1)=4 RINGAN Kab.46 5 17 Kab Bandung Brt (4X1)+(5x2)=14 BERAT 7.14 87.04 87.81 Kota Tasikmalaya Kota Banjar 13. Kab Subang 10.76 76. Kab Ciamis 5.02 69.40 88.09 83.83 91. Kuningan 73.3 86.71 60.82 10.00 69.3 16 Kab.15 96. Kota Cimahi RINGAN 46. Kab Cirebon RINGAN : <6 Prev ImM KN Kab. Ciamis (3X1)+(1X2)=5 Kota Depok 23 RINGAN Kab.

000 4.160.350.000 480.478. CIANJUR KAB.464.500.156.000 4. CIANJUR 4KAB.000.031.300.110. KAB.089.06 0.000.769.000 5.707.000 933.722.006 11.000 5.331.600.000.130.146 35.852.555.392.036.149.000 - DANA ALOKASI KHUSUS 1.000 43.000 9.660.795.030.590.195.599.860.33 33.817.703 4.264.880.822.000.000 4.369.000 9.000 6.500.772.95 #DIV/0! 1.559.000 2.667 4.123.000 14.050.000 3.000 2. KAB. TASIK (B) CIAMIS MAJALENGKA CIDERES "45" KUNINGAN ARJAWINANGUN WALED INDRAMAYU PATROL SUBANG BAYUASIH KARAWANG REKAPITULASI ANGGARAN KESEHATAN KABUPATEN KOTA PROVINSI JAWA BARAT APBD2 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 2011 APBD Kes Murni 96.000 1.956.393 1.000 18.000 4.398.783 903.655.097.780.000 1.200.194.369.000 15.76 5.377.856.000.104.086 160.000 18.771.620.716.022 681.296 2.350 746.000 17.000 1.326.000 2.104.846.930 16.302.915.000 6.272.063.42 1.120.000 90.000 3.459.000 9.000 6.000 3.000 1.460.843.000.773.830 1. SUBANG KAB.000 1.000 5.460.000 3.861.000 400.429.684 10.931 18.000 169.000 2.630. 13KAB.000 6. BANDUNG KAB.000 1.000 13.108.32 2.227.000 17.840.825 739.45 4.978.520.000 45. SUKABUMI KAB.157.000 YANDAS 5 3.000.57 0.000.814. KAB. 16KAB.000 2. BOGOR NO RS RSUD RSUD UPTD 4 RSUD 5 RSUD 6 RSUD 7 RSUD 8 RSUD 9 RSUD 10 UPTD 11 RSUD 12 RSUD 13 RSUD 14 RSUD 15 RSUD 16 RSUD 1 2 3 RUMAH SAKIT TUGAS PEMBANTUAN 5.473.000 184.715.000 4.000.840.929.830.212.550.171. SUMEDANG GARUT CIBINONG CIAWI LABKESDA LEUWILIANG (B) SEKARWANGI PELABUHAN RATU JAMPANG KULON CIANJUR CIMACAN LABKESDA CILILIN (B) SOREANG MAJALAYA CICALENGKA SUMEDANG Dr.290.000 933. 11KAB.000.000 7.37 9.930.388 1.000 1.481.45 34 RSUD R.966.670.610.956 982. TASIKMALAYA CIAMIS MAJALENGKA KUNINGAN CIREBON INDRAMAYU SUBANG PURWAKARTA KARAWANG RSUD RSUD RSUD 20 RSUD 21 RSUD 22 RSUD 23 RSUD 24 RSUD 25 RSUD 26 RSUD 27 RSUD 28 RSUD 29 RSUD 17 18 19 17KAB.750.000 13. TASIKMALAYA KAB.000 9.000 10.000.123.982.980 46.417. 12KAB.000 1.198.364.964.022 770.331.760.140.611.302.448 30.595.699.503.000 2.000.269.23 0.482.950.342.829.403.468.736. KAB.520.081.705.875.000 3.262.000. INDRAMAYU KAB.000.000 8.974. SLAMET PAMEUNGPEUK (B) KAB.676 1.055.86 5.320.000 3.800.268.604.343.091.583.200.000.890.000.190.441 114.754.020.961 46.781.900.000 8.498.000 12.000.000 3.29 0.052.365 1.000 2.000.519.34 1.200.000 23.000 5.000 3.000.920.360.107.205.000.916.703.827 17.570.758 2.904.532.846.000 1.099.824.000.329.716. SUMEDANG KAB.048.194.000.000 2.371.288.000 14.772.500 1.12 #DIV/0! 2.000 4. KUNINGAN KAB.705.767.725.000 10.000 TOTAL 28.172.193.000 4.150.000.070.200.463.850 12.704.000 250.400. SUKABUMI 3KAB.000 5.835.300.37 2.421.000.112.200.225.000 3.124.662 383.926. LABKESDA KAB/KOTA & RSJ PROVINSI NO KABUPATEN/ KOTA 1KAB.782.59 4.000 1.000.000.527.555.146.000 22.200.046.290.237.000.907.378 Jamkesda Kabkota 44.000.03 #DIV/0! 3.000 3.000.513.01 7.868 16.804.000 2.699.305.000.841.125.050.860 74.250 4.592.951.043. KAB.980.000 1.21 4.932.80 5.813.925. BEKASI 31 RSUD UPTD 32 LABKESDA 16 17 18 KAB.748.13 18KOTA 19KOTA 20KOTA 21KOTA 22KOTA DEPOK BOGOR SUKABUMI CIMAHI BANDUNG 33 RSUD DEPOK - 2.000 1.036.000.194 1.06/02/2013 PROPORSI BESAR ANGGARAN PEMBANGUNAN BIDANG KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT BERDASARKAN SUMBER DANA TAHUN 2011 APBN APBD PROV APBD KAB KOTA DANA APBN (TP &DAK) TAHUN 2012 DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA NO 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 KABUPATEN/KOTA 2 KAB.284.577.900.260.000 15.368 1.960.000 2.407.126.562.512.020. KAB.783.010.455.000.885 6.767.677.401.000 1.489.000 294.318.620.566.880.322.509. SUKABUMI KAB. KAB.000.468.820 903.430.785 1.000 7.858.950 16.561.827 5.000 3.27 3.070.743.787.45 42.785.676.441.000 3.410.04 0.120.640.600.367 2.390.000.420.000.115.393.080.089.271 1.893.000 403.960.000.189 38.472.600.97 100 2.550.003.900.820.378.000 4. 14KAB.000.504.792.000 1.942.188.06 9.000 8.200.424.000 - 35 RSUD 36 RSUD RSKIA 38 RSJ 37 23KOTA TASIKMALAYA 39 RSUD 24KOTA 25KOTA 26KOTA BANJAR CIREBON BEKASI JUMLAH 40 RSUD RSUD UPTD RSUD BANJAR GUNUNG JATI LABKESDA KOTA BEKASI - 33.042 21.000.000.022.360.145.000.605 693.438 1.410.000 1.000 2.000 2.000 2.050. 5KAB.000 TUGAS PEMBANTUAN (TP) YANDAS 4 9.160.000.210 20.305.628.860.360.000 10.136.000 96.550.000 5.330.236.640.488.678.010.774.30 2.580.734.702.450.300.362 1.216. KARAWANG APBD Kes Murni 286.000.467.878.710.000 1.000 8.000 41 42 43 5 .000 4.000 1.64 6.941.47 4.006. CIREBON KAB.387.033 % 39.641.515.199.157 39.000.000 2.040.000 10.250.166.878.000 7.300 85.000 905.790.000 DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) OBAT GENERIK 6 16.000.54 0.293.377 80.746.445.234.774.151.990.148.670.341.313.000 4.000 1.04 14.412.958 1.000.000 9.800.389.364.991.000.085.000.395.120.000 6.130.000.372 5.890.64 6.261.560.190.813.000 DANA APBN (TP & DAK) TAHUN 2012 RSUD.200.004.30 1.587.000 3.18 5.855.005 5.245.000 4.000 4.600.33 5.569. KOTA KOTA KOTA KOTA KOTA KOTA KOTA KOTA KOTA BANDUNG BARAT BANDUNG SUMEDANG GARUT TASIKMALAYA CIAMIS MAJALENGKA KUNINGAN CIREBON INDRAMAYU SUBANG PURWAKARTA KARAWANG BEKASI DEPOK BOGOR SUKABUMI CIMAHI BANDUNG TASIKMALAYA BANJAR CIREBON BEKASI JUMLAH BOK 3 8.166.100.646 1.032.480.000.018.097.12 1. 7KAB.000 3.460.286.207.279. PURWAKARTA KAB.000 1.000 4.993.000 73.874.923 6.000.300.759.000 19 20 21 22 23 24 25 26 KOTA SUKABUMI KOTA BANDUNG KOTA CIREBON KOTA BEKASI KOTA DEPOK KOTA CIMAHI KOTA TASIKMALAYA KOTA BANJAR TOTAL 124.730.52 2.806.341.114 1.000 63.192.257.322.068.702.000.000 27% 39% 34% SUMBER DANA APBN APBD PROV APBD KAB KOTA TOTAL JUMLAH 1.69 3.147.000 4.813.666.453.973.627.661.582.000 10.901.000.660.550.500.633.15 6.980.000 19.867 1.304.000 2.549.180.893 63.000 6.944.530.000 5.898.500 884.156.650 744.457.204 2.450 Jamkesda Kabkota 20.000 16.561 14.072.855.700.800.090.000.576.280.575 27.071 1.133. GARUT KAB.903.000.151 32.946.000. KAB.829.81 0. CIANJUR KAB.399.000 7.284 827.050.934.983.000 400.174 1.843.828.963.678.000 2.476.000.351.000 2.692.600.000 1.000 10.548.528.850. MAJALENGKA KAB.000.930.750 7.SH CIBABAT CIMAHI KOTA BANDUNG KOTA BANDUNG BANDUNG KOTA TASIKMALAYA 4.000 1.450 35.409.010.000 1.000 7.977 25.270.750.550.000.000 1.685.49 0.591 1.834.344.457.000.000 9.150 Kab Kota KAB.000 19.107.757.186 26.710 1.385.349. KAB.770.233.133.832.760.000 3.169.410. KAB.071.147 1.000 2.613. KAB.340.200.701.000 % APBD Total APBD2 Kes/Kab/K Kabkota ota 1.659.705.000 11.000.000 3.000.400.452.016.528.521.250. BANDUNG BARAT KOTA BOGOR 32.225.000 2.100 1.000. KAB.542.000 27. 15KAB.026 107.850.000.300.473.000 51.880.600.457 56.606. CIAMIS KAB.351.122.100.577.SYAMSUDIN.864 7.762.68 1.000 2.088.700.67 4.169.591.000.000 2.000.000.000 27.000 10.637.117.636.099 35.000 1.439.625.004.683 2.544.066.57 8KAB.000 1.000 16.000 4.455.702.532.300 85.582.567.787.281. BEKASI UPTD 30 LABKESDA KAB.160.000.433.690.750.787.173.447.750.717. BEKASI KAB.368.915. 10KAB.512.961.950.601.000 9.417.267 7.371.746 576.173.000 6.000 4.000 4.000 1.000 1.225. 9KAB.556.874.22 #DIV/0! 2.503.000 1.000 - 2KAB.950.400.040. BOGOR KAB.810.998.70 26.889.000 3.066 1.21 1.183 1. KAB.642 22.746.943.000 3.334. BANDUNG BARAT BANDUNG 6KAB.717.885.000 1.906.000 12.665.998.000.000 2.000 3.000.000 79.000 8.382.506.519.840.000 1.480.570.000.000 % APBD Total APBD2 Kes/Kab/Kot Kabkota a 2.630.607.825 1.590.021.350.855.000 1. BOGOR KAB.832.539.46 4.174 47.897 65.836.208.30 4.000.731.095.000.980.000 2.000 15.695 50.270.000 1.000 7.000 171.230.000.656.910.739.000 14.562.475.000 400.94 2.000.898 1.90 3.652.000 2.14 1.340.600.799.000 26.000 500.033.480.429.760.062.900 6.780.000 2.896.540.934.000 1.340.000 366.336.000 1.000 61.000 1.000 15.942.836 52.500.647.010.

Sumedang Kab.828.000.926.730. PERMASALAHAN Belum terintegrasinya perencanaan.211.000 8. Merancang pengendalian Strategi dan Langkah dengan Sistem Rasional .182.458.417 164.730.000 2012 8.5 Milyar 1 Milyar 3.5 Milyar 6 Milyar 1 Milyar 1. Menetapkan tindakan berdasarkan pilihan.730.808. Renstra OPD/Biro 10 Februari 2012 5 Penyampaian Surat Edaran Gubernur tentang Rancangan Awal RKPD 2013 14–29 Febr 2012 19 – 22 Maret 2012 26 Maret – 2 April 2012 Penyusunan Rancangan Renja OPD/Biro 2013 7–22 Febr 2012 Forum OPD/ Gabungan OPD Penyampaian Rancangan Awal Renja Ke Bappeda 8 7 .000.510 29.145.000 8.000.000 SUMBER DANA DAK DEKON TP JUMLAH TAHUN 2011 214.626. Indramayu Pameungpeuk Arjawinangun Kota Tasikmalaya Kab. Tasikmalaya Cideres Kab.06/02/2013 Bantuan Keuangan Gubernur untuk RSUD Tahun 2010 dan Tahun 2012 NAMA KEGIATAN Pemenuhan dan Peningkatan Sarana Prasarana RSUD 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Perencanaan dan Pembangunan Gedung Layanan Gakin 11 12 13 14 NAMA RSUD Kota Bekasi Cimacan – Kab.31 Mei 2012 11 Juni 2012 22 Pengesahan Renja OPD/ Biro Tahun 2013 melalui Peraturan Gubernur 29 Juni 2012 Penetapan Renja OPD/Biro Tahun 2013 melalui Peraturan Kepala OPD 6 . berpikir secara analisis.11 Mei 2012 20 30 April .577 JADWAL PENYUSUNAN RENJA DISKES JABAR 2013 PERMASALAHAN DAN RUMUSAN SOLUSI NO 1. sasaran.760 489.1 Mei 2012 23 – 30 April 2012 16 – 20 April 2012 2. Verifikasi Renja OPD oleh Bidang Bappeda Rancangan Akhir Renja OPD 17 Penyempurnaan Renja OPD Hasil Verifikasi 29 Juni 2012 2012 16 – 23 April Verifikasi Renja OPD oleh Bidang Bappeda 23 April .24 April 2012 3. Sukabumi TOTAL 2010 1. RUMUSAN SOLUSI Penetapan bersama prioritas program.000.044. target dan pembiayaan antara pusat dan daerah .5 Milyar 5 Milyar 30.tanggung jawab dan kewenangan.tujuan.000 13. Bekasi Gunung Jati Cirebon Sekarwangi Kab. kegiatan.100 20.000 2012 295.660 179.650 413.31 Mei 2012 21 Penyempurnaan Rancangan Akhir Renja OPD 14 .458. 14 . Lemah dalam menganalisa dan menelaah keputusan yang telah diambil dan yang akan timbul.000 40.625. Belum terlaksananya proses perencanaan yang formal dan sistematis berdasarkan rasa tanggung jawab.058. Cianjur Pelabuhan Ratu Kab.458.5 Milyar 7 Milyar 2 Milyar 1. Perencanaan melakukan penataan problematika. Cianjur Kab.

RUANG LINGKUP NORMA (Apa yang seharusnya) ANALISIS PEMBERLAKUAN KHUSUS PERUMUSAN KERJASAMA “MOU” • Target untuk outcomes dan intervensi perlu ditentukan.06/02/2013 MATERI “SINKRONISASI DAN SHARING ACTIVITIES” KEGIATAN UTAMA BIDANG KESEHATAN ANTARA DEPKES RI DINKES PROV DAN KAB/KOTA DI JAWA BARAT Tujuan Menjamin kesinambungan pelaksanaan kegiatan pembangunan kesehatan antar pusat dan daerah PERTEMUAN FORUM KORRDINASI BIRO PERENCANAAN DEPKES DENGAN KEPALA DINAS KESEHATAN PROVINSI/KABUPATEN/KOTA DAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA SE JAWA BARAT LEMBANG 12 S/D 14 NOVEMBER 2008 KONSEP • Operasionalisasi dari PP 38 (2007) • Membangun kemitraan dimana pusat. 5. 3. 2. kegiatan dijabarkan. tanggung jawab diidentifikasi. implikasi sumber daya ditentukan dan • Masalah spesifik akan diidentifikasi di mana diperlukan upaya kerjasama utk menyelesaikannya 7 . AKB and AK Balita : – – – – – gizi Penyakit infeksi pada anak Penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi Malaria TB. 4. HIV/AIDS dan lainnya sesuai dengan epidemiologi setempat HAL-HAL DIPERHATIKAN: 1. Provinsi and kab/kota saling mengisi/melengkapi dalam mencapai tujuan bersama  berfokus pada kesehatan ibu dan anak serta intervensi terkait yang berdampak langsung pada AKI.

micronutrients) FISCAL CAPACITY a. ManajemenAlokasi Kes Daerah Building APBN APBD Formula KAYA • Fiscal I. menyusui. sanitasi.KHUSUS: II. AKI dan prev Gizi Kurang LAHIR • Linakes • Kn1 BAYI/BALITA  Kes. makanan tambahan. daerah Pro-equity • Besaran •masalah b. Build • Pendampingan 8 . Ibu • ANC AKI …% • ASI dan MPASI • Vit A • Imunisasi • Tatalaksana kasus NASIONAL REGIONAL LOKAL (KAB/KOTA) • Suplementasi Gizi ANC Mikro NAKES (MMN/Fe) Air bersih. IV. higiene Pemberantasan malaria/Pengendalian Penyakit PENATAAN ALOKASI DAN UTILISASI Analisis DANA PEMERINTAH Indikator • Kesehatan Anak Layanan Inti • layanan neonatus • Immunisasi – campak. Fiscal CapacityIII.06/02/2013 Selected sensitive Proxy indicators NORMA RUANG LINGKUP WUS NORMA HAMIL • KB (CU) • TT2+ Indikator Antara untuk penurunan AKB. DPT3 • MTBS (penanganan pneumonia. I. Alokasi APBD unt Kes Capacity • Peningkatan BESAR ALOKASI Basis c. diarrhea) • Gizi esensial (gizi konsul kehamilan & kehamilan. capacity UMUM: MISKIN Indikator Nasional MDGs • Angka Kematian Balita • Angka Kematian Bayi • Cakupan imunisasi sebelum usia 1 tahun (campak) SPM Indikator daerah HARUS DISEPAKATI  RENSTRA DINKES • 80% komplikasi neonatal tertangani (2010) • 90% bayi mendapat kunjungan post-natal (2010) • 100% cakupan layanan vaksinasi di masyarakat (2010) • 100% anak dengan ASI mendapat makanan tambahan (2010) • 100% anak gizi buruk ditangani (2010) II. MEMENUHI PRINSIP Eppidemiological •Peningkatan “HOW TO ALLOCATE KECIL ADVOKASI * Unit Cost THE SCARCITY OF Alokasi APBN Burden of Disease RESOURCES” UNT KES Pengendalian • Faktor• pendukung • Cap.

pengobatan) Indikator • Malaria Layanan Inti • Mencari Pengobatan segera • Diagnosis dan Penanganan yang efektif • Profilaksis bagi Ibu Hamil • Kleambua berinsektisida dan materi lainnya Indikator Nasional MDGs • AKI • Cakupan persalinan ditilong Nakes • Ankga Prevalensi Konstrasepsi • Angka Kelahiran paa Remaja (Adolescent birth rate) • Cakupan Antenatal care (K1. kematian terkait TB • Cakupan deteksi TB dna pengobatan melalui program DOTS Layanan Inti .Uji & Konseling Sukarela (VCT) -Pencagahan transmisi dari Ibu dan anak .Perubahan Perilaku melalui Komunikasi .Penggunaan Kondom .Diagnosis & manajemen pasien .06/02/2013 Indikator • Kesehatan Ibu Layanan Inti • Antenatal care •Pertolongan Persalinan oleh NAKES •Layanan PONED/K •KB •STI (deteksi. prevalensi.Pelayanan bg anak yatim dan anak rentan lainnya Indikator Nasional MDGs Cakupan populasi dengan infeksi lanjut HIV mendapat akses thdp obat retrovial (ARV) SPM •100% deteksi dan penanganan kssus pada 2010 Indikator Daerah HARUS DISEPAKATI  RENSTRA DINKES •100% deteksi dan penanganan kasus pada 2010 9 .Aksese thdp Obat .Blood safety -Surveilens -. K4) • Unmet needs for family planning SPM • 90% persalinan ditolong oleh Nakes (2015) • 80% kehamilan berisiko tinggi mendapat penanganan layak (2015) • 100% akses thdp layanan gawat darurat di tiap kab/kota (2015) • Angka prevalensi KB mencapai 70% pada 2010 • Cakupan K4 mecapai 95% pada 2015 • 90% Ibu mendapatkan akses layanan post-partum pada 2015 Indikator Daerah HARUS DISEPAKATI  RENSTRA DINKES Indikator Nasional MDGs •Angka insiden dan kematian terkiat malaria •Proporsi balita yang tidur dengan kelambu berinsektisida (insecticide-bed nets) •Proporsi balita mendapat pengobatan malaria secara tepat SPM •100% deteksi dan penanganan malaria pada 2010 Indikator Daerah HARUS DISEPAKATI  RENSTRA DINKES Indikator • TB Layanan Inti • DOTS Indikator • HIV/AIDS SPM Indikator Daerah HARUS DISEPAKATI  RENSTRA DINKES Indikator Nasional MDGs • Angka insidens.ProgramTB terpadu .

Pemenuhan dan Pelatihan SDM 3. Penelitian/Kajian Survei 11. campak. K4) Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Nakes (PN) Cakupan Penanganan Komplikasi Obstetri Neonatal (KD) Cakupan Kunjungan Nifas (KF) Jumlah Kematian Ibu Jumlah Bidan di Desa Jumlah Bidan yang Terlatih APN Jumlah Puskesmas PONED berfungsi Jumlah RS PONEK (Yanmedik) berfungsi CPR NORMA PERCEPATAN PENURUNAN AKI Indikator Antara CAKUPAN PELAYANAN K-4 INTERVENSI / KEGIATAN 1. malaria) Outcome/evaluation: Angka Kematian Balita. 6. Kualitas Yankes Dasar dan Rujukan 9. Dll 10 . Pembinaan 13. Penyediaan Biaya Operasional 10. Penguatan R/R 12. 7.06/02/2013 Penyakit Menular–Indikator Sekilas Penykait Menular pada Anak2 (ISPA . Promosi Kesehatan Perbaikan Gizi Penyediaan Obat dan vaksin Peningkt.000 penduduk Outcome/evaluation: seroprevalence HIV pada usia15 -24 HIV/AIDS INDIKATOR YANG DIPANTAU Dalam penurunan AKI           Cakupan Pelayanan Antenatal (K1. Peningkt. Alkes Yankes Dasar dan Rujukan CAKUPAN KUNJUKAN KN-2 CAKUPAN LINAKES 8. AngkaKematian Bayi Monitoring Pelaksanaan: • % Balita tidur dengan kelambu ber-insektisida • % Balita dengan akses MTBS • % Balita Sakit yang mencapat perawatan layak di rumah • % Bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif selama 6 bulan Monitoring Pelaksanaan: • % Bayi yang mendapat imunisasi Campak • % Bayi yang mendapat imunisasi DPT3 lengkap Monitoring Pelaksanaan: • % Ibu hamil yang mendapat pengobatan malaria intermiten • % fasilitas yang menyediakan lobat anti malaria ini pertama dan kedua • % Penduduk berisiko tinggi terserang malaria mendapatkan pengobatan dalam waktu kurang dari 24 jam Monitoring Pelaksanaan: • % Kasus TB terdeteksi mengikuti program DOTS yang dilaporkan • % Kasus TB terdeteksi yang diobati Monitoring Pelaksanaan: • % akses thd Kondom • % Kasus IMS yang ditangani scr benar • % donasi darah yang aman (terskrining) • % Penderita HIV/AIDS dengan infeksi oportunistik yang mendapat akses obat Penyakit Menular pada Anak2 yang dapat Dicegah dengan Vaksinasi Malaria Outcome/evaluation: Penurunan angka kesakitan penyakit menular yang dapat dicegah dengan Vaksinasi Outcome/evaluation: Penurunan angka kematian akibat Malaria(kelompok umu rbalita dan kelompok umur lainnya) CONTOH SINKRONISASI DAN PEMBAGIAN PERAN TB Outcome/evaluation: Angka Kejadian TB: Jumlah kasus baru pada tiap 100. Pemberdayaan Masyarakat 4. 5. Strandar dan Regulasi 2.

4. 2. Monitoring dan evaluasi Fasilitasi Lokakarya DTPS Kab/Kota V V Kab/Kota V V V V V V VV PELAYANAN KB BERKUALITAS 8 Buku KIA Penyempurnaan 2. 2. Menetapkan Masalah Utama Program Menetapkan Norma untuk program dalam mencapai tujuan program Menetapkan Upaya untuk mengatasi masalah utama Menetapkan Kegiatan Utama dari upaya tersebut Menetapkan sub kegiatan untuk mencapai tujuan dari kegiatan utama Menetapkan Kewajiban  peran masing2 tingkatan dalam setiap sub kegiatan Menetapkan kebutuhan sumber daya yang diperlukan ( biaya. KEGIATAN/SUBKEGIATAN SASARAN PUSAT PRO KAB/ CONTOH KEC/ Desa NO. 5. 5. Pengadaan Alakon PUSKESMAS PONED Biaya Operasional RS PONEK Advokasi Bumil Hasil Aseptor UTD RS Pemda RS Kab RS Kab B D V V V V V 5. PEMENUHAN SDM KESEHATAN 1. Dokter Puskesmas Bidan Kab/Kota V V V V V V V V V V V 3. 3. 1 2. 5. 3. KEMITRAAN BIDAN . 3. V V V VV Bidan Dr. Peningkatan Sarana Puskes.06/02/2013 KEGIATAN UTAMA UPAYA PENURUNAN AKI  P4K dng stiker di Seluruh Puskesmas  PONED / PONEK  Kemitraan Bidan – Dukun  Unit Transfusi Darah di RS Kabupaten  Pelayanan KB Berkualitas  Pemenuhan SDM Kesehatan PEMBAGIAN PERAN PEMBAGIAN PERAN KEGIATAN DAN SUBKEGIATAN PEMBAGIAN PERAN NO. F. v v V V V V V v V v V V V V Dokterdarah Umum Donor DSOG Puskesmas 3. 4. 4 Pelatihan Petugas PONED Pelayanan Alkon V V Biaya Operasional Monitoring dan Evaluasi V V V V V V G. KEGIATAN/SUBKEGIATAN SASARAN PRO KAB/ KEC/ DESA PUSK UPAYA PERCEPATAN PENURUNAN AKI PUSAT VINSI VINSI KOTA PUSK KOTA NO. Pemetaan SDM Kesehatan Kabupaten V V 3.1. Peningkatan Sarana dan Fasilitas … Desa Provinsi SASARAN RS PEMBAGIAN PERAN VPUSAT V V KEGIATAN/SUBKEGIATAN Sosialisasi Kab RS Kab PRO VINSI V V KAB/ KOTA V V KEC/ PUSK DESA A 2. 3. 7.DUKUN 1. 5. 4. Pengadaan Stiker Biaya Pertemuan Rutin di Puskesmas Sosialisasi FasilitasI On The Job Training Kampanye Bumil Desa Dokter Bidan & Dukun Ormas Bidan DSOG Ormas V V NO . 4. 5. 2. Luar Gedung DSOg TUGAS MASING MASING PROGRAM 1. Pengadaan Pendampingan 1. Kabupaten Puskesmas Ormas dan Puskesmas Bidan Desa 2 Audit Pelayanan Kunjungan Rumah : Monitoring dan Evaluasi DSOG Bumil Kab Dokter Puskesmas Bidan Desa PRO V V VINSI V 5 V V KAB/ KOTA 6 V 3 V 4 V V V V V H. 4. sarana dan prasarana) dan siapa penanggung jawab / sumber keuangannya serta siapa pelaksana pengadaan Sub-sub Program dan Kegiatan Intervensi 1 PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT 1. V V V V Audit Medik Pelayanan KB Pelatihan Tenaga UTD Fasilitasi Dokter Perawatan BidanDokter Dokter /Bidan Bidan 2.2. V KEGIATAN/SUBKEGIATAN Kab SASARAN V V V V PEMBAGIAN PERAN VV V V V VV V V V PUSAT V V V 4. P4K DI SETIAP PUSKESMAS Pelatihan Petugas PONEK Puskesmas DSOG 1. IMMUNISASI MATRIX PEMBIAYAAN DAN SUMBER PEMBIAYAAN Jumlah dan Sumber Pembiayaan Komponen Sasaran Total Dana APBN Dekon 4 TP DAK 5 Prov 6 APBD Kab/ Kota 7 2 3 Vaksin Alat Suntik Cold chain Pelatihan Operasional Sos-mob 11 . Provinsi. Dokter Re-orientasi di Pusat.3. DISTRICT TEAM PROBLEM Peningkatan Fasilitasi V 1. Dalam Gedung Perawat Kab/Kota V V V V V 3. Kelompok Fasilitasi Calon donor darah Desa : Fasiltasi Pengadaan Perawat Biaya Operasional Puskesmas Fasilitasi pembentukan Bidan di Desa pembentukan 3. 6. 7. 6. 2. Pelatihan Petugas 1. Peningkatan Sarana dan Fasilitas BERFUNGSINYA UTD / UTD RS 1. C E RS PONEK 24 JAM 1. 3. tenaga.

10 4. 72.17 . 1. 0 50 50 11. 74. 4. 1. 1.5 0 50 23. 2 Pelatihan Petugas KABIDANG ……………………………… ttd H.77 1.4 05.3 43.3 144. 20. 5.4 20.10 551.4 05.79 235. 4.0 70.26 5. 0.1 87.00 30 0 0 50 0. 731.83 .0 0 20 235 .83 2.12 1. 352. 15.42 9.55 9. 865.5 ml 368.73 2. 352.62 12.00 30 0.0 50.00 00 50 367 .50 750.51 7.6 20. 674. 9. 80 20 28. 124.87 2.1 86.6 352.10 4.36 22.1 86. Kabupaten dan Puskesmas Kunjungan RumahKB Audit Medik Pelayanan 6 Peningkatan Fasilitasi 3 Biaya Operasional Puskesmas DISTRICT TEAM PROBLEM 7 Monitoring dan evaluasi 3.73 2.58 0. 352.60 20 7.00 30 4.77 1.00 30 0 0 50 0. KEGIATAN SASARAN NO KEGIATAN C RS PONEK 24 JAM NO 1 Peningkatan Sarana dan Fasilitas KEGIATAN 1 2 . gahan dan Peng suntik 9.62 0.75 9.93 0. 72.19 4.1 28.00 50 4. 4. 528.1 00.6 .6 352.1 00.00 00 50 80 20 20 30 JUMLAH PERSENTASE DAN SUMBER BIAYA 2013 APBD APBD APBN/P PROVIN KAB/ HLN SI KOTA AB AB AB % % % S S S 919 1.0 50. .02 9. Luar Gedung Advokasi Bidan desa ibu UTD bersalin perawat Dokter Bidan Bumil Ormas Perawat Ormas Provinsi PUS Maskin Ormas Dokter Kab/Kota Bidan Puskesmas Bumil Dokter Bidan Kab/Kota Puskesmas Kab/Kota Kab/Kota 100% 100% V V 100% 100% 100% 100% 100% 100% V 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% V 100% 100% 100% 100% 100% 100% DAFTAR PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN KESEHATAN YANG AKAN DIKERJASAMAKAN DEPKES.62 312.65 9.51 4.4 86.00 00 50 80 20 20 30 4.0 86. eranta angan suntik 0. 187. 700.7 86.50 50. ibu bersalin 1 jaminan Peningkatan Sarana II 2 PENINGKATAN KESEHATAN IBU Pelatihan Tenaga UTD 2 DI Pelatihan Petugas PONED 3 Fasilitas AP4K SETIAP PUSKESMAS 4 1 5 2 Biaya Operasional Pengadaan Stiker Monitoring dan Evaluasi Sosialisasi Kampanye F. 551. 1.07 70.7 32. Pemb nggul Alat Desa 7. 4.10 1.0 7.77 1. 3 PELAYANAN KB BERKUALITAS 3 Fasilitasi 1 Pengadaan Alakon 4 Re-orientasi di Pusat.89 7. Dalam Gedung 5 3 1 2 3 Lokakarya DTPS Pendampingan Penyempurnaan Hasil 3.2 73.00 20 0.8 44.6 86.06/02/2013 KEBUTUHAN PEMBIAYAAN BIDANG ……… TAHUN 2010 PEMBAGIAN PERAN PERAN PUSAT PUSAT PROVINSI PROVINSI DAN KABUPATEN KABUPATEN KOTA KOTA DALAM DALAM DAN MDGs PEMBAGIAN DAN PENCAPAIAN IPM IPM DAN DAN MDGs PEMBAGIAN PERAN PENCAPAIAN MDGs NO.00 20 6.36 22.89 00 0 50 0 20 0 30 0 00 50 0.00 00 50 10.7 820. 176 28.54 4.75 1.56 0.26 5.50 50.55 367.7 149.62 312.11 6.02 9.3 29.0 50. 050.10 4.84 86.6 10.3 3. 1.5 0 0 50 4.83 .60 7.2.3 116.08 nisasi 4. 0 00 50 587 1.17 .07 70. 700.05 6. 223. 50. 50.LAH DAN SUMBER BIAYA DAN SUMBER BIAYA 2010 2013 2009 2011 2012 BIA SUBTARGE BIA SUB SUB APBD APBD YA APBD APBD APBD APBD APBD APBD APBD APBD SUB PROG KEGI T YA APBN/P APBN/P APBN/P APBN/P APBN/P BIDA KEGIAT BIDA RAM ATAN KINERJ 200 PROVIN KAB/KO 200 PROVIN KAB/KO PROVIN KAB/KO PROVIN KAB/KO PROVIN KAB/KO NG AN HLN HLN HLN HLN HLN SI TA SI TA SI TA SI TA SI TA 9 NG A 9201 AB AB AB AB AB AB ABS % ABS % ABS % % ABS % ABS % % ABS % ABS % % % ABS % % % ABS % 3 S S S S S S 1.90 30 12 .73 2. 674.0 82.4 716 32.6 .5 29.51 4. 612. Cakupa 500. 149. DISKES PROVINSI DAN KAB/KOTA SE JAWA BARAT TAHUN 2009-2013 EXCELL JUMLAH PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE JUM JUMLAH PERSENTASE JUM JUMLAH PERSENTASE JUMLAH PERSENTASE DAN SUMBER BIAYA DAN SUMBER BIAYA LAH DAN SUMBER BIAYA 2009.89 7. 551. 3.4 11. 700.3 43.58 3.0 0 20 35. 0.7 0 30 7.8 43. 9.5 61. 176 760. 700. .54 4.08 4.2 10. 674.58 0. 187. I PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT MISKIN 1APembiayaan 2 Pelatihan Petugas yankesPONEK maskin2 B PUSKESMAS PONED 1 Jamkesmas 2 jamkes Provinsi 1 Peningkatan Sarana dan Fasilitas 3 On The Job Training 4 1 2 PEMBAGIAN PERAN PUSAT PROVINSI DAN KABUPATEN KOTA DALAM PENCAPAIAN IPM SASARAN RS vertikal SASARAN 3 RS Provinsi RS Kab DSOG 3 Dokter maskin BPS Bidan maskin non bangunan DSOG kuota alat Dokter kesehatan Bidan jamkesmas DSOG pemeliharaan maskin Dokter non dokter kuota Bidan RS Puskesmas Provinsi jamkesmas bidan RS Pemda 3 PUSAT 4 PROVINSI KAB/KOTA 5 PERAN 6 PEMBAGIAN PUSAT PROVINSI KAB/KOTA 100% PEMBAGIAN PERAN 4 5 6 50% 50% PUSAT PROVINSI KAB/KOTA 100% 50% 50% 100% 50% 4 50% 50% Sub-sub Program dan Kegiatan dan sub kegiatan Intervensi Sumber Pembiayaan Target Total Dana Tngkt Peren canaa n APBN Dekon TP DA K 5 Prov APBD Kab/ Kota 7 Kec/ Pusk 8 APD Desa 40% 50% 5 50% 50% 50% 50% 6 100% 100% 100% 100% 100% 60% 100% 100% 3 2 9 5 Audit Pelayanan jamkesda Kab/Kota Pengadaan Tenaga Kesehatan Fasilitasi 2 3 4 6 100% 100% 100% 100% BPembiayaan persalinan D BERFUNGSINYA UTD / UTD RS 1.08 4.00 0.0 86.26 5.73 1.5 73. 00 30 6.77 1. 3.55 367.0 00.26 0.05 6.0 50. Pence Bantu Pengad Upaya Pence gahan an aan alat 919 919 Kes.05 6.5 73.64 4.3 0. 124.37 5. 870 .5 1.36 22.8 59.00 20 0.0 86. 176 28.3 144.1 86.2 136 20.8 43.2 73.95 5.10 1.51 4. 187.07 745.0 00.02 9.54 4.5 1. 23.05 ml 5. DISKES PROVINSI DAN KAB/KOTA SE JAWA BARAT TAHUN 2009-2010 DAFTAR PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN KESEHATAN YANG AKAN DIKERJASAMAKAN DEPKES.1 28.51 4.8 44.62 12. 84.05 6. 305 . 367.4 32. 5.7 16.02 9. 551.00 50 0.00 20 0.26 5.81 6. 372.81 6.4 716 32.0 54. 880.8 73.83 919.62 12. 674. 544 .81 6. 050.82 0. 352. 235. 0. 00 58.00 30 n Pengad aan alat 587 587 suntik 5 5. 10. kit Menul y box suntik 101.0 86. 050. 23.76 1.7 3. .83 .5 29.79 235.4 05.90 8. 163.17 . 551.8 44.89 0.6 0 20 551 . 731. ml 7.84 4.00 00 50 00 20 00 30 0. 5.3 144.79 5.68 6.6 .0 86.50 8.3 22.7 149.2 73.0 0 30 352 . 72.68 6. Provinsi. 816 .68 6.2 136 ar Immu 0. 721. 187.5 1.67 4.0 50.10 431.1 24.0 50.08 4.51 4.1 20.10 8.7 .8 06.3 3. 72.8 44. 144.50 750. 116. 116.84 73.6 36. 149.2 30.3 3.59 1.00 20 0.81 6.00 00 50 00 20 00 30 0.00 00 50 00 20 00 30 UCI san Penya dan Pengad Penya kit Safet aan alat 10.7 149.7 820.1 20.0 50.58 790. 20 30 43. 00. dan Pena adaan 0.00 00 50 00 20 00 30 0.5 0 30 4. 3. 124.8 0 20 4. 050.0 29.68 6.2 73.75 3.3 144. 731.7 149.5 29. 124.7 00. 731.7 .89 7.73 2.4 05.4 32.2 73. 0. 737 .5 0 0 50 4. 76.3 116.5 00 50 50 00 20 50 30 00 0 50 0 20 0 30 00 0 50 0 20 0 30 00 0 50 0 20 0 30 00 0 50 0 20 0 30 00 0 50 11.3 22.6 36.90 30 4.00 20 0.77 1.2 73.5 61.6 352.83 919.90 30 23. 144. 0 50 50 TOTAL 117. 9.50 5. 3.10 1.90 23.2 10.10 551.93 1. 1.1 49.2 136 73. 367. 00 20 4.54 4. 1.25 3.7 22.7 32.8 73. 105 .17 587.0 00.17 1. 352. 820.60 20 7. 352.5 81. 74.8 43.00 00 50 80 20 20 30 4.00 0. 0 50 50 11. 360.4 716 32.60 20 7.00 00 50 80 20 20 30 4.0 70.0 83.58 0.1. 235.9 0 30 Safety Box 72.4 11.5 29.7 . 23.17 587. 216.50 50.58 790. 76.8 43.00 30 0 00 50 0.7 16.6 352. 0. 820.

Terima kasih Hatur Nuhun 13 . layanan konsultasi dari Pusat? • • Untuk kinerja manajemen Untuk penyediaan layanan kesehatan Wass…….06/02/2013 Kegiatan & Tanggungjawab KEGIATAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN Pusat /prov/kb/kt Pusat Provi/kab/kota PELAKSANAN PENGADAAN Pusat /prov/kb/kt Pusat Provi/kab/kota Kegiatan & Tanggungjawab KEGIATAN TJ KEUANGAN PELAKSANA PENGADAAN Staff • Pegawai Negeri • Pegawai PTT • PegawaiKontrak Promotion Konstruksi • Pembangunan baru • Rehabilitasi. Keuangan Pembangunan. Rutin • Epidemiologi Siapa yang bertanggung jawab untuk menjamin input yang dibutuhkan? • Monitoring dan Pelaporan – Permasalahan kesehatan apa yang spesifik di daerah? – Bagaimana daerah menyikapinya? – Manajemen Informasi Kesehatan yang Adekuat – Sistem Manajemen Keuangan dan Administrasi yang adekuat * * * Butuh bantuan teknis. Fisik. rekonstruksi Peralatan Kendaraan Material dan Barang Habis Pakai • Vaccines • Obat TB • Obat lainnya • Suplemen Gizi • Bahan habis pakai kesehatan/kedokteran • Bahan habis pakai Training • Pre-service • In-service Biaya Operasional • Sewa • Utilities • Pemeliharaan rutin Public-private contracting Tantangan • Target setting • • • – Apa implikasi dari sumber daya? – Di mana sumber daya ini bisa didapatkan? Tenaga.

1. Proses Politik Pemilihan Presiden/kepala Daerah menghasilkan rencana pembangunan hasil proses politik. Melalui musrenbang.Proses Politik Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience 1 . 4. Proses Teknokratik Menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja secara fungsional bertugas untuk itu 3. Misi dalam RPJM/D 2. al. khususnya penjabaran Visi.Siklus Utama Aktivitas Perencanaan Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran Provinsi & Kabupaten/Kota Oleh : Kabid Renstik Bappeda Provinsi DIY 1 Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience PROSES PERENCANAAN 1. Proses Partisipatif Perencanaan yang melibatkan para pemangku kepentingan pembangunan (stake holder). atau dari bawah ke atas menurut jenjang pemerintahan. Proses Bottom-Up dan Top Down Perencanaan yang aliran prosesnya dari atas kebawah.

Bappeda Prov.Proses konsultasi yang dilakukan dengan DPRD Rangkaian Panjang Acara Musrenbang RKPD (1 bulan) Arahan Awal Sekda. Proses Teknokratik Pengolahan data dan informasi Telaahan kebijakan nasional Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Rancangan Awal RKPD Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Analisis Ekonomi & keuda Evaluasi Kinerja RKPD Tahun Lalu Perumusan prioritas dan sasaran pembangunan beserta pagu Perumusan Kerangka Ekonomi & Kebijakan Keuda Perumusan program prioritas daerah beserta pagu indikatif RPJMD Dok RKPD kab/kota tahun berjalan Penyelarasan Rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience 2 . Kemendagri. serta kapasitas SDM dan institusi dalam proses penyusunan prioritas pembangunan RKPD Provinsi Tahun 2012 Persiapan Penyusunan RKPD Tim Penyusun RKPD 2. Kemendagri. Ka. Kemenkeu Penyaji Kepala SKPD Penyaji Kabid Bappeda Penyaji Kab/Kota Pimpinan Desk Kabid Bappeda Penyaji Ka. Kemenkeu) Telaah atas hasil Forum SKPD & Rencana tindak lanjut dari Bidang2 sektoral Bappeda dikombinasi dengan konsep Expert Long list Usulan Kab/Kota Verifikasi: long list menjadi short list Short List Usulan Kab/Kota 2-9 April Top Down Pokok-pokok pikiran DPRD Provinsi DIY 12 April Forum Gabungan Kab/Kota Trilateral Desk Penutupan Musrenbang Buttom Up Usulan SKPD Unlimited Learning Experience Buttom Up Usulan Kab/kota Rancangan Akhir RKPD Penggunaan data dan informasi. DIY Arahan Pusat (Bappenas. Bappeda & TAPD 29 Feb Top Down Top Down Entry di Aplikasi Jogjaplan 9 Maret Rancangan Awal RKPD Pembukaan Musrenbang 19-26 Maret 12-20 Maret Forum SKPD 28 Maret Forum Gabungan SKPD 27 Maret Penyaji Bappenas.

maka program/kegiatan yang diusulkan akan “terpental/tertolak”/tidak bisa masuk karena tidak punya kontribusi terhadap Indikator Sasaran (target yg hrs dicapai).Tema 10 Prioritas 23 Sasaran 144 Indikator Sasaran (target yg hrs dicapai) 244 Program Jika program/kegiatan tidak sesuai dengan indikator sasaran yang harus dicapai (telah ditetapkan). Proses Partisipatif Perumusan Permasalahan Pembangunan Daerah Analisis Ekonomi & keuda Evaluasi Kinerja RKPD Tahun Lalu Perumusan prioritas dan sasaran pembangunan beserta pagu Perumusan Kerangka Ekonomi & Kebijakan Keuda Perumusan program prioritas daerah beserta pagu indikatif RPJMD Dok RKPD kab/kota tahun berjalan Forum Konsultasi Publik Penyelarasan Rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience 3 . Interface www.com yang berbasis web Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience Proses konsultasi yang dilakukan dengan masyarakat sipil Persiapan Penyusunan RKPD Pengolahan data dan informasi Telaahan kebijakan nasional Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Pokok-pokok pikiran DPRD provinsi Rancangan Awal RKPD 3.jogjaplan.

Proses Top-Down Pimpinan Desk Kabid Bappeda Buttom Up Usulan Kab/kota Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience 4 . ataupun website Bappeda Unlimited Learning Experience Proses konsultasi yang dilakukan dengan Pemerintah Kabupaten/Kota Long list Usulan Kab/Kota Verifikasi: long list menjadi short list Short List Usulan Kab/Kota 28 Maret Forum Gabungan Kewilayahan Kab/Kota 2-9 April Trilateral Desk 12 April Penutupan Musrenbang 5. telepon. Proses Buttom-Up Forum Lintas Sektor & Lintas Wilayah Rangkaian Acara Musrenbang Provinsi DIY Tahun 2012 Forum Gab SKPD 27 Mar 2012 Penutupan Musrenbang 12 April 2012 Trilateral Desk 2-10 April 2012 Forum Kab/Kota 28 Mar 2012 Pasca Musrenbang Masyarakat dapat berpartisipasi pada setiap tahapan Musrenbang terutama di Forum SKPD dan Gabungan (baik sektoral maupun kewilayahan). serta melalui surat.Proses konsultasi yang dilakukan dengan masyarakat sipil Pra Musrenbang Pembukaan Musrenbang 9 Mar 2012 Forum SKPD 12-20 Mar 2012 Entry Aplikasi Perencanaan 19-26 Mar 2012 4.

Proses konsultasi yang dilakukan dengan Pemerintah Pusat Hirarki Perencanaan Arahan Pusat (Bappenas.KL RINCIAN APBN Pemerintah Pusat RPJP NASIONAL pedoman RPJM NASIONAL Pedoman dijabarkan diacu RPJMD 2009-2013 dijabarkan PERDA No. 2/2009 RENJA KL Pedoman RKA . Kemendagri. 4/2009 RKP Pedoman RAPBN APBN RPJP DAERAHggara n pedoman diacu RPJM DAERAH RENSTRA SKPD PERENCANAAN diperhatikan Pedoman Diserasikan melalui MUSRENBANG RKPD dijabarkan PERGUB RKPD Pedoman KUA PPAS Pedoman RAPBD APBD dijadikan acuan 2012 Pemerintah Daerah KUA PPAS 2012 dijadikan dasar NOTA KESEPAKATAN Pedoman RENJA SKPD Pedoman RKA SKPD PENJABARAN APBD PENGANGGARAN Unlimited Learning Experience APBD 2012 PERDA & PERGUB penjabaran Unlimited Learning Experience 5 . Kemenkeu) Telaah atas hasil Forum SKPD & Rencana tindak lanjut dari Bidang2 sektoral Bappeda dikombinasi dengan konsep Expert Entry di Aplikasi Jogjaplan 19-26 Maret 12-20 Maret Pembukaan Musrenbang Forum SKPD 28 Maret Forum Gabungan SKPD 27 Maret Penyaji Kepala SKPD Penyaji Kabid Bappeda Konsultasi Triwulanan maupun konsultasi lain UKPPD Top Down Top Down Top Down Top Down Forum Gabungan Kab/Kota Rancangan RKPD Penyaji Kab/Kota Buttom Up Usulan SKPD Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience Hirarki Perencanaan dan Penganggaran UU 25/2004 RENSTRA KL Pedoman HIRARKI PENYUSUNAN RENCANA & ANGGARAN RPJPD 2005-2025 dijadikan pedoman PERDA No.

Terluas. Kreativitas. dan Pasca Konflik Kebudayaan. Keterkaitan antara RKPD Provinsi dengan RPJMD Provinsi Pentingnya Keterkaitan RKPD Provinsi Th 2012 merupakan penjabaran dari RPJMD Provinsi Th 2009-2013 Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience b. Keterkaitan antara RKPD Provinsi dengan RKP 2012 Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pendidikan Kesehatan Penanggulangan Kemiskinan Pendidikan dan Kebudayaan Kesehatan Pariwisata Ketahanan Pangan & Agro Industri Iklim Investasi dan Usaha Infrastruktur Penanggulangan Kemiskinan Lingkungan Hidup dan Mitigasi Bencana Reformasi Birokrasi Pengarusutamaan Gender Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience Ketahanan Pangan RKP Infrastruktur Iklim Investasi dan Usaha Energi Lingkungan Hidup dan Bencana RKPD Daerah Tertinggal.a. Terdepan. dan Inovasi Teknologi Bidang Politik. Hukum. dan Keamanan Bidang Perekonomian Bidang Kesejahteraan Rakyat 6 .

Visi RPJPD Visi RPJMD Tema RKPD Penyelarasan Tema Tahun 2012 “Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat” “Perluasan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat” pembangunan kembali akibat bencana guna Prioritas 1: Pendidikan & Kebudayaan Misi 1: Pendidikan Misi 2: Budaya Misi 3: Pariwisata Misi 4: Kesra Misi 1: SDM & Budaya Prioritas 2: Kesehatan RKP RKPD DIY Bantul Gunungkidul Pengembangan Usaha Masyarakat dan Daya Dukung Pariwisata Serta Peningkatan Pelayanan Dasar Misi 2: Pariwisata Prioritas 3: Pariwisata Prioritas 4: Ketahanan Pangan & Agro Industri Prioritas 5: Iklim Investasi & Usaha Prioritas 6: Infrastruktur Prioritas 7: Penanggulangan Kemiskinan Sleman Peningkatan kesejahteraan dan percepatan pemulihan pasca bencana melalui pemberdayaan masyarakat dan peningkatan pelayanan yang berkualitas Misi 3: Good Governance Katalisator Misi 4: Sarana & Prasarana Prioritas 8: Lingk. mengoptimalkan sumber daya alam berwawasan lingkungan serta mengembangkan daya saing ekonomi lokal berbasis penanggulangan bencana Penyelarasan dengan Prioritas Nasional Prioritas 10: Pengarusutamaan Gender Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience Konsistensi Perencanaan & Penganggaran Pentingnya Konsistensi Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience 7 . Hidup & Mitigasi Bencana Prioritas 9: Reformasi Birokrasi & Tata Kelola Kulon Progo Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi dan Pengurangan Kemiskanan Kota Yk Mewujudkan visi kota yogyakarta dengan jiwa dan gerakan segoro amarto Mengembangkan kualitas sumber daya manusia dan IPTEK.

Perencanaan dan Penganggaran Tahunan Daerah

Gambaran Kesesuaian RKPD 2012 dengan RAPBD 2012
Kondisi RKPD 2012
Jumlah Jumlah Jumlah SKPD Program Kegiatan 34 244 2.364 Pagu Anggaran 1.692.470.668.382

Kondisi KUA PPAS 2012
Jumlah Jumlah Jumlah SKPD Program Kegiatan 34 244 2.364 Plafon Anggaran 1.715.172.040.257

Kondisi APBD 2012
Jumlah Jumlah Jumlah SKPD Program Kegiatan
Dalam evaluasi APBD oleh Kemendagri: RKPD_KUA PPAS_RAPBD harus konsisten 29
Unlimited Learning Experience

Anggaran 2.124.288.709.311
Unlimited Learning Experience

34

244

2.364

Ranc. Awal RKPD Ranc. Awal Renja-SKPD Ranc RKPD Musrenbang Ranc. Akhir RKPD

Skenario Musrenbang Tahun 2010
Pra Musrenban g Forum SKPD Forum Gabungan

RKPD

Renja-SKPD KUA - PPAS RKA - SKPD RAPBD

Pasca Musrenban g

Sidang Kelompok

Musrenban g

APBD

SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN
Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience

8

Rangkaian Musrenbang Tahun 2010
Arahan Gubernu r Sinkronisasi tema, prioritas dan program strategis dengan kab/kota RKPD Usulan Kab/Kota

Skenario Musrenbang Tahun 2011
Pra Musrenbang Forum SKPD Forum Gabungan

Rakor Teknis SKPD Prov

Rancanga n Akhir RKPD Rancanga n awal RKPD Forum SKPD

Pasca Musrenbang

Sidang Kelompok

Musrenbang

Forum Gabungan

Musrenban g

Sidang Kelompok
Unlimited Learning Experience Unlimited Learning Experience

Rangkaian Musrenbang Tahun 2011
Arahan Gubernu r Musrenban g Sidang Kelompok

Pra Musrenba ng

Skenario Musrenbang Tahun 2012
Entry Aplikasi Perencanaan

Pembukaan Musrenbang

Forum SKPD

Rangkaian Acara Musrenbang Provinsi DIY Tahun 2012 Forum Gab SKPD Penutupan Musrenbang Trilateral Desk Forum Kab/Kota

Rancanga n awal RKPD

Forum SKPD

Forum Gabungan

RKPD

Pasca Musrenbang
Unlimited Learning Experience

Masyarakat dapat berpartisipasi pada setiap tahapan Musrenbang
Unlimited Learning Experience

Forum Lintas Sektor & Lintas Wilayah

Rakor Teknis SKPD Prov

Usulan Kab/Kota

Rancanga n Akhir RKPD

9

Rangkaian Musrenbang Tahun 2012
Arahan Awal Sekda, Ka. Bappeda & TAPD Arahan Pusat (Bappenas, Kemendagri , Kemenkeu) Top DownEntry di Aplikasi Jogjapla n Telaah atas hasil Forum SKPD & Rencana tindak lanjut dari Bidang2 sektoral Bappeda dikombinasi dengan konsep Expert Long list Usulan Kab/Kota
Verifikasi: long list menjadi short list

Revitalisasi Musrenbang Provinsi Tahun 2012
Sebelumnya
Hanya Event Ceremonial (waktu hanya 1-2 hari) Hanya terfokus pada sudut pandang Sektoral saja

Menjadi
Lebih substansial & terbuka terhadap partisipasi masyarakat (waktu 1 bulan) Kombinasi Fokus dan Lokus (Keterkaitan antar sektor) Trilateral Desk (membahas persandinganpersandingan guna mensinergikan kab/kota, prov, dan pusat) Didukung Aplikasi Jogjaplan, SIPR, SIPD dan Web Monev
Unlimited Learning Experience

Top Down

Top Down

Short List Usulan Kab/Kota

Pokokpokok pikiran DPRD Provinsi DIY Penutupan Musrenba ng

Rancang an Awal RKPD

Pembukaa n Musrenban g

Forum SKPD

Forum Gabung an SKPD

Forum Gabunga n Kab/Kota

Trilateral Desk

Tidak ada Trilateral Desk
Buttom Up Usula n SKPD Buttom Up Usulan Kab/kot a Rancanga n Akhir RKPD Unlimited Learning Experience

Belum didukung Aplikasi yang memadai untuk menyajikan data

Terima kasih

Unlimited Learning Experience

10

M.KES Pusat Daerah SKPD/ Unit2 Antar level – Antar fungsi .Antar unit seluruhnya menyatu SINKRONISASI Sinkronisasi Kebijakan Pusat – Provinsi – Kab/kota Perencanaan Renja KL –SKPD Prov –SKPD Kab Penganggaran APBN – APBD Prov – APBD Kab 1 .2/6/2013 PERLU SINKRONISASI PENYELENGGARAAN Pembangunan Kesehatan SINKRONISASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN PROVINSI DAN KABUPATEN / KOTA BIDANG KESEHATAN KEPALA DINAS KESEHATAN PROV DIY Dr. SARMINTO.

prevalensi penyakit TB 5. MASALAH PRIORITAS 1. • Malaria • Status Gizi Penyakit Tidak menular • CVD .Jantung. Regulasi & Sistem Kes. Hipertensi dll • Diabetes Mellitus Usulan APBD Prov Usulan Kab/kota Usulan Prov Sinkronisasi Sinkronisasi Usulan APBN Prov Usulan Prov Pusat • NAPZA • Kecelakaan Sinkronisasi Rencana Kinerja 2 . kematian & Kesakitan DBD. Belum terlindunginya masyarakat secara maksimal terhadap beban pembiayaan kesehatan. • DBD. kematian akibat penyakit degeneratif .2/6/2013 Kerangka Pikir Sinkronisasi Dinkes Prov. d Hubungan Masalah Prioritas Dg UHH DERAJAD KESEHATAN Umur Harapan Hidup Renstra Depkes RPJMD Renstra Kota Sinkronisasi Renstra Bantul Renstra Klprogo Renstra Gnkidul Renstra Sleman Kebijakan Pokok DInkes Rakor Program2 dg Kab/kota Renstra SKPD Dinkes DIY Sintesa & Usulan Rakor Program2 di Pusat Rakerkesda Kematian Umum Kematian Balita Kematian Bayi Kematian Ibu Forum SKPD Musrenbang MASALAH PRIORITAS Penyakit Menular • TB.Kes Provinsi DIY Kebijakan Provinsi RPJPD RPJMD Renstra SKPD Renja SKPD 1. Stroke. kematian & Kesakitan akibat akibat kecelakaan dan rudakpaksa 3. diabetes dll 2. dan malaria 7. penyakit akibat penyalahgunaan Napza dan IMS 8. aksesibilitas terhadap yankes yg berkualitas 9. gizi buruk. DIY Kebijakan Nasional RPJPN RPJMN Renstra KL Renja KL Permasalahan Kesehatan Prioritas DIY DERAJAT KESEHATAN Kematian Ibu Kematian Bayi Kematian Balita Umur Harapan Hidup Kebijakn Kab/kota Kebijakan Pemb. prevalensi HIV/AIDS d 6. kardiovaskuler. gizi kurang dan gizi lebih 4. • HIV/ AIDS.

DIY • Manajemen Kesehatan • Sistem Informasi • Penelitian Pengembangan • Pencegahan &pengendalian penyakit • Pelayanan Kesehatan • Promosi dan pemberdayaan • Kesehatan keluarga • Perbaikan Gizi Masyarakat • Pengembangan Lingkungan Sehat • • • • Status Gizi Kematian Ibu Kematian Bayi Kematian Balita Kegiatan untuk Sinkronisasi (Dinkes DIY-2012) • Kebijakan – – – – – – – – – – – – – Review Renstra Penyusunan Renja Rakor dengan Kabupaten/kota Sinkronisasi Perencanaan dan Anggaran Sinkronisasi Perencanaan dan Anggaran –Provinsi dan Kab/kota Rakor Sinrkonisasi Pusat & Daerah Forum Sinkronisasi Prov & Kab/kota Forum SKPD (Lintas Fungsi oleh Pemprov) Musrenvang Provinsi Rakerkesda Forum Renja Lintas Fungsi dan Lintas Kab/kota Forum di tingkat unit lintas fungsi dan lintas kab/kota Koordinasi dan Konsultasi Daerah dan Pusat • Sediaan farmasi per bekalan kes &makanan • Pendidikan Kesehatan dan SDM • Renstra Dinkes DIY • Perencanaan dan Penganggaran • • • • Penyakit Tidak menular Penyakit Menular Kecelakaan NAPZA • Pembiayaan kesehatan Harapan • Sinkronisasi dalam permasalahan pokok • Sinkronisasi dalam arah kebijakan • Sinkronisasi dalam manajemen – Perencanaan – Penganggaran – Evaluasi • • • • • • • • Contoh… Program / kegiatan yang berhasil disinkronkan melalui sharing dana (2012) Malaria (APBD Provinsi >< APBD Kab Kulon Progo) TFC (APBD Prov >< APBD G Kidul dan K Progo) Penanganan Gizi Buruk/Gizi Kurang (APBN >< APBD) UKBM / Desa Siaga (APBN versus APBD Prov >< APBD Kab/kota) Kab/kota Sehat (APBD Prov >< APBD kab/kota) Pengembangan Pasar Sehat (APBD Prov >< WHO) Audit Maternal Perinatal ( APBD Prov ><APBD kab/kota) Survailance Penyakit ( APBN >< BBTKL><APBD Prov ><APBD kab/kota) • Pengendalian Penyakit dan KLB ( APBN >< BBTKL><APBD Prov ><APBD kab/kota) • dll • Implementasi : – – – – – Pusat .2/6/2013 Program Kerja Dinkes Prov.Provinsi – kab/kota Pemerintah – Swasta – Masyarakat – LSM Lintas Sektoral (horisontal – vertikal di DIY) Lintas Program – Unit termasuk UPT Lintas Penyandang Dana (BHLN-Donor dll) 3 .

Jamkesos.Program / kegiatan yang berhasil disinkronkan melalui sasaran (2012) • Jamkesmas . dan Jamkesda (walaupun masih perlu upaya lebih lanjut) • STBM (APBN versus APBD Prov >< APBD Kab/kota) • Pengawasan dan Keamanan Pangan (APBN versus APBD Prov >< APBD Kab/kota) • dll • Promosi Kesehatan (Provinsi dan Kab/kota) UPAYA SINKRONISASI MASIH PERLU DITINGKATKAN Contoh Program / kegiatan yang berhasil disinkronkan untuk Tahun 2013 Permasalahan Sinkronisasi • Jenis – Dis-sinkron antar Level (Pusat – Daerah) – Dis-sinkron antar Fungsi (Lintas Sektor) – Dis-sinkron antar Program (internal) • Ancaman • PROSES 2013\rekap rinci per kab diambil dari sheet renja dinkes 2013 pasca quality. 4 .xlsx – Outcome : Pencapaian tujuan Pembangunan nasional dan daerah – Impact : inefisiensi – inefektifitas – Output : kekacauan sistem pembangunan kes.2/6/2013 Contoh…Program / kegiatan yang berhasil disinkronkan dg LOKASI (2012) Contoh….

2/6/2013 5 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->