Anda di halaman 1dari 4

REFLEKSI KASUS RETENSI PLACENTA

Nama : Yunita Dwi Herwati NIM : 20080310054 I. LAPORAN KASUS Seorang wanita P1A0 datang ke rumah sakit melalui UGD dengan keluhan peradarahan banyak semalam dengan riwayat pasca persalinan 9 hari yang lalu. Di rumah sakit dilakukan pemeriksaan USG dan pemeriksaan dalam, di tegakkan diagnosis retensio sisa placenta. MASALAH YANG DIKAJI Apa saja jenins-jenis dari retensio placenta dan bagaimana penanganan yang harus dilakukan pada pasien tersebut? ANALISIS KASUS Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta hingga atau lebih dari 30 menit setelah bayi lahir. Hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta disebabkan oleh gangguan kontraksi uterus. Tidak semua retensio plasenta menyebabkan terjadinya perdarahan. Apabila terjadi perdarahan, maka plasenta dilepaskan secara manual lebih dulu.

II.

III.

Jenis retensio plasenta adalah: 1. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh melekat lebih dalam, yang menurut perlekatannya dibagi menjadi : Placenta adhesiva, yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam Placenta inkreta, dimana vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua sampai ke miometrium Placenta akreta, yang menembus lebih dalam ke dalam miometrium tetapi belum menembus serosa Placenta perkreta, yang menembus sampai serosa atau peritoneum dinding rahim. 2. Plasenta sudah lepas tetapi belum keluar karena atonia uteri dan akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Atau karena adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim akibat kesalahan penanganan kala III, yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarserata) (Winkjosastro, 2006). Penanganan retensio plasenta atau sebagian plasenta adalah: 1. Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter yang berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat, apabila memungkinkan). Monitor jantung, nadi,

tekanan darah dan saturasi oksigen. Transfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah. 2. Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau NaCl 0.9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi. 3. Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus. 4. Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Indikasi manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala tiga persalinan kurang lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan lahir, tali pusat putus. 5. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus. 6. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral. Pemberian antibiotika apabila ada tandatanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder. Retensio plasenta dengan separasi parcial a. Tentukan jenis retensio yang terjadi karena berkaitan dengan tindakan yang akan diambil b. Regangkan tali pusat dan minta pasien untuk mengedan. Bila ekspulsi plasenta tidak terjadi, coba traksi terkontrol tali pusat. c. Pasang infus oksitosin 20 IU dalam 500 mL NS/RL dengan 40 tetes per menit. Bila perlu, kombinasikan dengan misoprostol 400 mg per rektal (sebaiknya tidak menggunakan ergometrin karena kontraksi tonik yang timbul dapat menyebabkan plasenta terperangkap dalam kavum uteri) d. Bila traksi terkontrol gagal untuk melahirkan plasenta, lakukan manual plasenta secara hati-hati dan halus untuk menghindari terjadinya perforasi dan perdarahan e. Lakukan transfusi darah apabila diperlukan f. Beri antibiotika profilaksis (ampisilin 2 g IV / oral + metronidazol 1 g supositoria / oral) g. Segera atasi bila terjadi komplikasi perdarahan hebat, infeksi, syok neurogenik. Plasenta inkarserata a. Tentukan diagnosis kerja melalui anamnesis, gejala klinik dan pemeriksaan b. Siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk menghilangkan konstriks serviks dan melahirkan plasenta c. Pilih fluethane atau eter untuk konstriksi serviks yang kuat, siapkan infus oksitosin 20 IU dalam 500 mL NS/RL dengan 40 tetes per menit untuk mengantisipasi gangguan kontraksi yang diakibatkan bahan anastesi tersebut. d. Bila prosedur anestesi tidak tersedia dan dan serviks dapat dilalui cunam ovum, lakukan manuver sekrup untuk melahirkan plasenta. Untuk prosedur ini berikan

analgesik (Tramadol 100 mg IV atau Pethidine 50 mg IV) dan sedatif (Diazepam 5 mg IV) pada tabung pada tabung suntik yang terpisah. Plasenta Akreta a. Tanda penting untuk diagnosis pada pemeriksaan luar adalah ikutnya fundus atau korpus bila tali pusat ditarik. Pada pemeriksaan dalam sulit ditentukan tepi plasenta karena karena implantasi yang dalam. b. Upaya yang dapat dilakukan pada fasilitas kesehatan dasar adalah menentukan diagnosis, stabilisasi pasien dan rujuk ke rumah sakit rujukan karena kasus ini memerlukan tindakan operatif. IV. DOKUMENTASI Identitas Pasien Nama Pasien : Ny. Yulianti Usia : 24 Alamat : Tulasan, Mulyodadi, Bantul Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Agama : Islam Pendidikan: SMU No RM : 48 06 47 Masuk RS : 24-09-2012 ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 24 September 2009 WIB dan data sekunder Keluhan Utama Pasien datang melalui IGD dengan rujukan bidan, dengan keterangan keluar darah sejak kemarin malam (23 September 2009) pasca persalinan hari ke-9. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien merupakan rujukan dari bidan karena terdapat pendarahan pada hari ke 9 pasca melahirkan. Pada waktu partus spontan, plasenta sudah lahir lengkap namun pada saat eksplorasi kesan yang didapatkan tidak bersih. Selain itu, pasien juga mengeluhkan adanya nyeri pada perut bawah. Riwayat Penyakit Dahulu Diabetes Melitus, Penyakit jantung, batuk lama, hipertensi disangkal Riwayat Penyakit Keluarga Hipertensi, Diabetes Melitus, Penyakit jantung, Asma disangkal Riwayat Obstetri, Pekerjaan, Sosial Ekonomi, Kejiwaan, dan Kebiasaan

Riwayat sosial : pasien seorang ibu rumah tangga, sehari-hari tidak sering melakukan aktivitas berat, Pasien tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak ada riwayat berbaganti-ganti pasangan. Riwayat menstruasi : menstruasi pertama saat usia 14 tahun, siklus teratur tiap bulan, Riwayat pernikahan : pasien menikah 1 kali Riwayat kehamilan : P1A0 Anak pertama : Wanita, 9 hari, lahir spontan di bidan, BL 2500 gram Riwayat KB : Tidak ditanyakan PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan tanggal 24 September 2012 di Ruang Bersalin RS Panembahan Senopati Bantul Kesadaran : compos mentis Keadaan gizi : cukup Status gizi : BB 47 kg TB 155 cm IMT 19,6 Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 80 x/menit Suhu : 36.8 0C Pernafasan : 20 x/menit V. REFERENSI Mauren Boyle, Micheal, J., Kreo. 2008. Kedaruratan dalam Persalinan. EGC. Jakarta Varney, H, et al. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4. vol 2. EGC. Jakarta. Cunningham Gary F, Leveno J Kenneth , Bloom L Steven , Hauth C John , III Gilstrap Larry , Wenstrom D Katharine . Williams Obstetrics 22ND EDITION 2005 .

Yogyakarta, 4 Januari 2013

DR.dr.H.M.A.Ashari, Sp. OG(K)