Anda di halaman 1dari 37

4

memiliki variasi ketebalan antara 1000 m sampai 1500 m seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2.3 pada lampiran 1 (Alam, 2009 .

2.2

Logging geofisika !ogging adalah suatu alat yang diran"ang guna mendapatkan in#ormasi$

in#ormasi tentang keadaan ba%ah permukaan (subsurface). &onsep dasar logging untuk mengetahui in#ormasi ba%ah permukaan ini didasarkan atas pantulan atau hasil tumbukan antara si#at$si#at kelistrikan, radioakti#, dan gelombang suara terhadap #ormasi. 'erekaman electrical log dimulai pertama kali pada tahun 192(. di sebuah ladang minyak ke"il milik 'e"helbrohn di Alsa"e. )ebuah provinsi di 'eran"is bagian utara. !og ini merupakan gra#ik tunggal tahanan jenis listrik dari potongan #ormasi batuan yang terdapat di sekitar lubang bor, "ara perekaman pada metode ini dinamakan stasiun. *imana Sonde (alat pengukuran downhole berhenti pada interval periodik dalam lubang bor, dalam metode ini pengukuran dan penghitungan tahanan jenis dilakukan se"ara manual. +ara ini dilakukan dari satu stasiun ke stasiun lainnya hingga semua log direkam (,eo$log, 19(- . .etode logging ini diperkenalkan se"ara komersial di /ene0uela, 1)A, 2usia dan 3india 4elanda. &emampuan pengukuran tahanan jenis ini digunakan untuk tujuan korelasi dan identi#ikasi potensial hidrokarbon, metode ini dengan "epat dikenal di industri perminyakan. 'ada tahun 1931 pengukuran Spontaneous Potential (SP) dimasukkan dalam kurva tahanan jenis pada log elektrik. 'ada tahun yang sama )"hlumberger bersaudara, serta .ar"el dan +onrad, memperkenalkan sebuah metode sempurna perekaman kontinu dan pen perekam pertama yang telah disempurnakan. 1ntuk interpretasi maupun analisa baik kualitati# maupun kuantitati#. 5enis$jenis logging geo#isika yang umum digunakan antara lain 6

1. Electric

: SP Log, Resistivit Log

!. Radioactive %. &coustic Log '. ()age Log

: "R Log, #ensit Log, $eutron Log : Sonic Log : *+(, S,&R, E+(, etc

1ntuk eksplorasi batubara logging densitas dan sinar ga))a adalah metode yang direkomendasikan untuk menentukan si#at geologi di sekitar lapisan batubara. )etiap logging mempunyai keistime%aan masing$masing oleh karena itu lebih baik melakukan kombinasi logging untuk analisa menyeluruh (7ahid, 2008 . 2.2.1 Log Gamma Ray (GR)

'ada dasarnya ga))a ra log merekam pan"aran radioakti# dari #ormasi. )inar radioakt# alami yang direkam berupa uraniu), thoriu), dan potassiu). Log ga))a ra sederhana memberikan rekaman kombinasi dari tiga unsur radioakti#, sedangkan spectral ga))a ra menunjukkan masing$masing unsur radioakti#. Log ga))a ra merekam unsur radioakti# dalam skala &P( (&)erican Petroleu) (nstitute). Log ga))a ra umumnya direkam dalam satu kolom bersama log caliper. 1nsur$unsur radioakti# yang ada dalam suatu batuan "enderung untuk terkonsentrasi di dalam batuan yang memiliki kadar radioakt# tinggi. *e#leksi kurva sinar ga))a pada batuan jenis ini akan relati# besar seperti pada batu lempung. 4atuan yang hanya mengandung sedikit unsur radioakti# akan memberikan de#leksi kurva sinar ga))a yang relati# ke"il, seperti pada batubara (,eo$log, 19(- . *alam #ormasi$#ormasi sedimen se"ara normal ga))a ra ("R) Log men"erminkan cla dan shale yang terkandung dalam #ormasi$#ormasi batuan. 3al ini disebabkan elemen$elemen radioakti# "enderung untuk berkonsentrasi di dalam cla dan shale. 9ormasi yang bersih biasanya mempunyai si#at radioakti# dengan tingkat yang sangat rendah, ke"uali kontaminasi radioakti#, "ontohnya seperti vul-aniash atau geonite wash atau apabila air #ormasi mengandung garam$garam

potassiu). "R Log dapat di rekam dalam cased well (sumur dengan selubung pipa , ini sering digunakan sebagai pengganti SP yang tidak dapat diperoleh dalam cased well (sumur dengan selubung pipa , atau jika SP log tidak memuaskan. "R log sangat berman#aat untuk non.shal bed dan korelasinya. )ementara shale dan shal sand mempunyai si#at radioakti# yang tinggi, clean sand, carbonate dan coal pada umumnya menunjukkan si#at radioakti# yang rendah. 'ada clean coal (batubara bersih, tanpa pengotor akan menampilkan radioakti# yang sangat rendah dibanding dengan #ormasi lainnya. adanya kontaminasi dari #ormasi lainnya atau adanya garam potassiu) seperti dijelaskan di atas, menyebabkan kisaran nilai coal /one akan menunjukkan tingkat radioakti# yang relati# tinggi (namun masih berada diba%ah sand atau carbonate . *alam hal ini kurva "R Log akan menjadi sangat berman#aat untuk menunjukkan coal /one (kisaran batubara tersebut (:&', 2009 . ;ilai utama dari "R Log ini digunakan untuk membedakan antara shale dan (sandstone) serta batuan$batuan radioakti# lainnya. <ambahan, sand tertentu di dalam beberapa tempat mempunyai si#at radioakti# yang lebih besar dari pada shale. =nterpretasi dari stratigra#i "R log diperlukan untuk mengetahui kondisi lokasi . 'enggolongan si#at radioakti# batuan sedimen adalah 6 1. 0er low radioactivit 6 anh drite, salt, coal, dan )odular atau concretionar chert. 2, Low radioactivit 6 pure li)estone, dolo)ite dan (sandstone) atau "ampuran dari batuan$batuan ini, )icrocr stalline untuk earth dolo)ite lebih radioakti# dari pada coarse grained (sandstone). 2adioakti# dari li)estone dan dolo)ite lebih besar untuk %arna yang lebih gelap. 3. +ediu) radioactivit : arcose, granite wash, shale dolo)ite, siltstone, )aris, calcareous dan sand shale. *alam hal ini batuan yang mempunyai %arna gelap seperti pure roc- mempunyai si#at radioakti# yang lebih tinggi dari pada yang ber%arna "erah -. 1igher radioactivit : Shale, vul-ani- ash dan bentonite possess.

1ntuk penilaian geologi pada area yang luas, sebaiknya digunakan a"uan batuan yang memiliki radioaktivitas tinggi (.argaesa, 200> . *ari uraian diatas, dapat diketahui bah%a intensitas ga))a ra dalam borehole sebanding dengan konsentrasi dari mineral radioakti# dalam #ormasi. *engan kata lain intensitas rata$rata radioaktivitas dalam borehole amat ditentukan oleh porsi shale dalam #ormasi. 4atas$batas bed dita#sirkan dengan "ukup teliti apabila sampel interval dan ke"epatan logging dibuat semakin ke"il. 'ada kurva "R log batas$batas bed tersebut adalah separuh jalan antara de#leksi maksimum dan minimum dari anomali "R log. "R log juga dapat digunakan untuk menggambarkan mineral non radioa-tif seperti 2oal bed, atau korelasi cased hole. *ibandingkan dengan open hole log, de#leksi ga))a ra pada cased hole sedikit melemah karena absorpsi dari steel casing atau semen. 4erikut ini gambar kurva log ga))a terhadap beberapa jenis batuan .

,ambar 2.1 6 2espon sinar gamma pada berbagai jenis batuan (:&', 2009

,ambar 2.2 6 'enentuan ketebalan lapisan dari kurva sinar gamma (:&', 2009 2.2.2 Log Densitas (Density Log)

A%alnya penggunaan log densitas ini dipakai dalam industri eksplorasi minyak sebagai alat bantu interpretasi porositas. &emudian dalam eksplorasi batubara log densitas dikembangkan menjadi unsur utama dalam identi#ikasi ketebalan bahkan kualitas sea) batubara. *alam hal ini log densitas akan memberikan gambaran rapat massa batubara sangat khas yakni hampir setengah kali rapat massa batuan lain pada umumnya. )i#at #isik ini (rapat massa batubara juga hampir linier dengan kandungan abu sehingga pemakaian log ini akan memberikan gambaran khas bagi tiap daerah dengan karakteristik lingkungan pengendapannya. *alam operasinya logging rapat massa dilakukan dengan mengukur sinar 3 yang ditembakkan dari sumber mele%ati dan dipantulkan oleh #ormasi batuan, kemudian direkam kembali oleh dua detektor yang ditempatkan dalam satu probe

dengan jarak satu sama lain diatur sedemikan rupa, sehingga kedua detektor short dan long space diamankan dari pengaruh sinar 3 yang datang langsung dari sumber radiasi. )ehingga yang terekam oleh kedua detektor hanya sinar yang telah mele%ati #ormasi saja. *alam hal ini e#ek pemendaran sinar radiasi seperti ditentukan dalam e#ek pemendaran +ompton. *imana menurutnya, jumlah sinar yang terpendarkan sebanding dengan jumlah elektron per satuan volum (,eo$log, 19(- . *alam pemakaian radiasi 3 untuk pengukuran rapat massa ini dipakai radiasi yang memendar ke depan. 1ntuk mem#okuskannya radiasi yang diman#aatkan adalah yang keluar dari sumber melalui jendela yang disediakan dengan ukuran yang juga telah ditentukan. 3al ini dimaksudkan agar log hanya mengukur rapat massa medium (#ormasi batuan antara sumber radiasi dengan detektor !og densitas merekam se"ara menerus dari bul- densit #ormasi.densitas yang diukur merupakan semua densitas dari batuan termasuk batubara. )e"ara heologi bul- densit adalah #ungsi dari densitas mineral$mineral pembentuk batuan (misalnya matriks dan volume dari #luida bebas yang mengisi pori. 'rinsip pengukuran log densitas adalah menembakkan sinar gamma yang memba%a partikel #oton kedalam #ormasi batuan. 'artikel$pertikel #oton akan bertumbukan dengan elektron yang ada dalam #ormasi. 4anyaknya energi sinar gamma yang hilang setiap kali bertumbukan menunjukkan densitas elektron dalam #ormasi yang mengindikasikan densitas #ormasi . .asuknya sinar gamma ke dalam batuan akan menyebabkan benturan antar sinar gamma dan elektron sehingga terjadi pengurangan energi pada sinar gamma tersebut. )isa energi sinar gamma ini direkam detektor sinar gamma, semakin lemah energi yang diterima detektor, maka semakin banyak jumlah elektron di dalam batuan yang berarti semakin padat butiran penyusun batuan per satuan volum yang mengindikasikan besarnya densitas batuan (.argaesa, 200> .

10

,ambar 2.3 6 .etode perhitungan ketebalan lapisan pada short densit (*evelopment department :&', 2009

.etode log densitas untuk penentuan ketebalan lapisan, yaitu dengan membagi dua dengan perbandingan tertentu, batuan dan nilai densitas yang mengapit batas.

2.2.3

Log Caliper !og ini merupakan log penunjang dalam kegiatan logging, log caliper ini

digunakan untuk menunjukkan kondisi diameter lubang bor yang nantinya akan digunakan untuk perhitungan volum lubang bor dalam kegiatan penyemenan. .an#aat lain dari log caliper ini adalah 6 1. menentukan setting pac-er yang tepat pada #S,. 2. :stimasi ketebalan )ud ca-e. 3. 'erhitungan ke"epatan lempung untuk pengangkatan cutting.

11

-. .embantu interpretasi log listrik dengan memberikan ukuran diameter lubang bor yang tepat, karena diameter yang digunakan dalam interpretasi log listrik diasumsikan sama dengan diameter bit.

'enggunaan "aliper log didasarkan adanya perbedaan tekanan hidrostatilempung dengan tekanan #ormasi yang dapat menyebabkan terjadinya )ud ca-e dan filtrat lempung. )emakin porous lapisan maka lapisan )ud ca-e semakin tebal, sedangkan lapisan )ud ca-e akan memperke"il diameter lubang bor, dan keadaan inilah yang akan direkam oleh caliper log. 'rinsip kerja alat ini berdasarkan mekanisme dari pegas. 1ntuk menyesuaikan kondisi lubang bor yang umumnya tidak rata digunakan pegas yang dapat mengembang se"ara fle-sibel. 1jung paling ba%ah dari pegas tersebut dihubungkan dengan rod, dimana rod ber#ungsi untuk meneropong keadaan lubang bor. &edudukan rod ini ditentukan oleh kompresi dari pegas dan dari sini ukuran lubang bor dapat ditentukan. Arus dan coil perekam membentuk coupling inductive sedemikian rupa sehingga potensi yang diinduksi dalam coil perekam tergantung pada posisi rod. 3al ini akan menghasilkan pen"atatan tegangan yang bervariasi dengan ukuran lubang bor, yang selanjutnya akan di"atat oleh peralatan di permukaan (,eo$log, 19(- .

2.3 Karakteristik Batupasir (sandstone) 'asir dide#inisikan sebagai sedimen yang mengandung butiran berukuran antara 83 ?m hingga 2mm. 2entang ukuran ini dibagi ke dalam lima interval 6 sangat halus, halus, sedang, kasar, dan sangat kasar. 'erlu di"atat bah%a penamaan ini hanya berdasarkan ukuran partikel. .eskipun banyak batupasir mengandung kuarsa, istilah batupasir tidak berimplikasi pada jumlah kehadiran kuarsa dalam batuan, dan beberapa batupasir tidak mengandung butir kuarsa sama

12

sekali. )ama dengan arenite, yaitu batupasir dengan matriks kurang dari 15@ tidak berimplikasi terhadap komposisi klastik apapun. 4atupasir merupakan batu$batu yang renggang (loose tapi padat (co)pact , yang terdiri dari #ragmen$#ragmen dengan diameter berkisar antara 0,05 mm sampai 0,2 mm, dan #ragmen$#ragmen tersebut menyatu dan mengeras ( ce)ented (,raha, 19>( . 'ada umumnya sandstone tersusun atas "ampuran beberapa ma"am unsurAkomponen ke"il. )eperti 4uart/ dan chert, #eldspar, #ragmen batuan dengan diameter yang berkisar antara 0,05 mm sampai 0,2 mm, dan #ragmen$#ragmen tersebut menyatu dan mengeras (ce)ented , ukuran matriks yang biasanya tersusun atas mineral "lay dan mineral lain yang berukuran kurang dari 0,03 mm

,ambar 2.- 6 penampang melintang batupasir (,raha, 19>(

4atupasir merupakan batuan sedimen klastik yang dominan butirannya berukuran pasir. )eperti halnya batuan sedimen klastik yang lain, parameter yang dapat diamati pada batupasir adalah tekstur, struktur dan komposisi mineral. *ari

13

ketiga parameter tersebut dapat diturunkan beberapa parameter yang dapat diukur, yang nantinya dianggap sebagai parameter empiris batupasir (4oggs, 19>( . *ari tekstur batupasir dapat diturunkan beberapa parameter empiris, yaitu bentuk butir (pembundaran dan pembulatan seperti ditunjukkan oleh gambar 2.12, sortasi (gambar 2.13 , dan ukuran butir (gambar 2.1- . )edangkan dari struktur sedimen dapat diturunkan parameter$parameter empiris, misalnya arah perlapisan silang siur, arah orientasi butir, dan lain$lain. *an dari komposisi mineral dapat diturunkan beberapa parameter empiris batupasir, yaitu persen butiran keras (rigid grain), butiran lunak (ductile grain dan matrik. *i samping beberapa parameter di atas juga terdapat parameter yang berhubungan dengan parameter$parameter tersebut, yaitu bul- densit , porositas dan permeabilitas.

,ambar 2.5 6 4entuk butir batupasir (menurut pettijohn, 19>( dalam ,raha, 19>(

14

,ambar 2.8 6 'erbandingan sortasi atau pemilahan

<abel 2.( 6 &lasi#ikasi ukuran butir skala 1dden$Bent%orth

15

(,raha, 19>(

)i#at$si#at 4atupasir antara lain 6 1. Struktur Sedimen 4atupasir dapat memiliki struktur sedimen yang beragam. )truktur sedimen itu paling jelas terlihat pada singkapan. )truktur internal dari individu$individu lapisan batupasir sangat penting artinya. 4atupasir umumnya memperlihatkan perlapisan silang$siur. )kala perlapisan silang$siur dalam suatu tubuh batupasir merupakan #ungsi dari kekasaran partikel penyusun batupasir itu serta ketebalan lapisannya. 4anyak pasir memperlihatkan perlapisan gelembur (ripple bedding berskala ke"il. 4atupasir lain memiliki struktur graded bedding. )ebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, graded bedding dan perlapisan silang$siur merupakan dua gejala yang tidak pernah ditemukan dalam satu lapisan yang sama serta mengindikasikan dua #asies batupasir yang jauh berbeda. "raded bedding mengindikasikan pengendapan di ba%ah alas gelombang dan terutama menjadi pen"iri batupasir endapan perairan yang dalam. )ebagian batupasir tidak mengandung perlapisan silang$siur maupun graded bedding, bahkan tidak memperlihatkan struktur internal sama sekali. Balau demikian, hasil penelitian dengan menggunakan sinar$C menunjukkan bah%a sebagian besar batupasir yang tampak masi# itu sebenarnya memiliki laminasi internal (&oesoemadinata, 19>9 . 2. Komposisi Batupasir &omposisi batupasir dapat dinyatakan dalam komposisi kimia ruah ( bulche)ical co)position). Analisis kimia ruah seperti itu sangat berman#aat. 'asir dan sedimen lain pada dasarnya merupakan produk dari proses$proses #raksinasi kimia dan mekanis berskala besar yang, meskipun kurang sempurna, seringkali mendorong diperolehnya hasil$hasil yang menakjubkan. 'roses$proses tersebut, apabila berlangsung dalam %aktu yang lama, akan menyebabkan terpisahkannya unsur$unsur ke dalam produk akhir yang se"ara kimia lebih kurang homogen. 1ntuk memahami sepenuhnya proses$proses geokimia dan evolusi berbagai tipe

16

sedimen, kita perlu melakukan analisis kimia. *ata analisis kimia seperti itu akan memberikan suatu norma atau bench )ar- untuk mempelajari produk$produk metamor#isme tingkat tinggi serta untuk mempelajari apa yang diperoleh dan apa yang hilang jika proses itu tidak isokimia atau untuk memastikan asal$usul produk akhir pada saat tekstur dan struktur asli dari sedimen tidak dapat dikenal lagi. Analisis seperti itu juga berman#aat untuk pasir halus atau pasir yang mengandung matriks berbutir halus dimana modal analysis sukar untuk dilaksanakan. &ita memerlukan data kimia, khususnya data kimia rata$rata, untuk mempelajari kesetimbangan massa dan aliran material dalam evolusi bumi se"ara keseluruhan (,raha, 19>( . &omposisi kimia pasir serta batuan lain pada umumnya biasanya dilaporkan oleh para analis dalam satuan oksida. &adar oksigen sendiri sebenarnya tidak ditentukan se"ara langsung. &arena itu, praktek untuk melaporkan hasil analisis kimia dalam satuan oksida sebenarnya didasarkan pada asumsi bah%a unsur$unsur yang ada berkombinasi dengan oksigen dalam proporsi$proporsi stoikiometris. )ebagai "ontoh, jika sul#ida besi hadir dalam batuan, jelas tidak benar apabila kita melaporkan kehadiran besi dalam 9eD dan sul#ur dalam )D3. 1ntungnya, dalam kebanyakan sedimen, sul#ida jarang ditemukan dan penge"ualian seperti itu dan penge"ualian lain se"ara umum tidak penting. &omponen sedimen berukuran pasir se"ara #isik dapat terdiri dari dua komponen utama yaitu 6 a. b. #etrital )ineral grain (detritus butir mineral , berasal dari hasil erosi mineral batuan yang tertranspotasikan dan terendapkan seukuran pasir. Lithic frag)en, berasal dari hasil erosi atau disagregat batuan sebelumnya seukuran pasir. &omposisi pasir detritus mineral, mineral yang paling umum dijumpai dalam batu pasir adalah mineral$mineral yang resisten (tahan terhadap erosi selama masa transportasi dan melimpah jumlahnya. )eperti kuarsa. .ineral lainnya juga dijumpai dalam batupasir, diantaranya6 feldspar, mika, dan variasi lainnya. 1. Kuarsa

17

.erupakan mineral yang paling umum dijumpai dalam batupasir. jumlahnya melimpah dalam batuan granitis dan sedikit atau beberapa dalam batuan inter)ediate dan batuan ultrabasa. Alasan utama mengapa kuarsa banyak dijumpai dalam batupasir adalah karena kuarsa (memiliki kekerasan mineral E ( dalam skala mohs merupakan mineral resiten terhadap pelapukan selama masa transportasi. *alam sampel hand spe"imen butiran kuarsa menunjukkan sedikit variasi jenis yang ber%arna seperti s)o- atau )il- 5uart/ dan a)eth st terdapat juga tetapi kebanyakan kuarsa terlihat sebagai butir bening (4oggs, 19>( 2.3.1 Penamaan Batupasir dan Klasifikasinya *eskripsi batupasir meliputi beberapa in#ormasi mengenai tipe butiran yang ada. ;ama in#ormal seperti batupasir mikaan digunakan ketika batuan mengandung mineral dalam jumlah tertentu, dalam hal ini mika dalam jumlah yang besar. =stilah seperti batupasir karbonatan dan ferruginous sandstone dapat juga digunakan untuk menunjukkan komposisi kimia tertentu, dalam hal ini adalah kalsium karbonat dan besi. ;ama$nama ini untuk batupasir sangat berguna dan dianjurkan untuk deskripsi lapangan dan hand speci)en, tapi bila telah menggunakan analisis petrogra#i yang lengkap, digunakan nama #ormal. 4iasanya skema klasi#ikasi 'ettijohn (19(5 seperti yang ditunjukkan oleh gambar 2.15 berikut 6

18

,ambar 2.> 6 &lasi#ikasi 'ettijohn batupasir sering disebut sebagai F<obleron plotG (menurut 'ettijohn 19(5 dalam Binardi, 200>

&lasi#ikasi batupasir 'ettijohn mengkombinasikan kriteria tekstur (proporsi matriks lumpuran A )udd )atri-s dengan kriteria komposisi (persentase tiga komponen utama batupasirH kuarsa, feldspar, dan #ragmen batuan . 1ntuk menggunakan skema ini pada klasi#ikasi batupasir, proporsi relati# kuarsa, feldspar, dan #ragmen harus ditentukan terlebih dahulu dengan perkiraan visual atau menghitungnya di ba%ah mikroskop komponen lain seperti mika dan #ragmen biogenik tidak diperhitungkan. *imensi ketiga diagram klasi#ikasi digunakan untuk menampilkan tekstur batuan, proporsi relati# klastik dan matriks. *alam batupasir, matriksnya adalah material lanau dan lempung yang terendapkan bersama dengan butiran pasir. <ahap selanjutnya adalah menghitung jumlah matriks lumpuran6 jika jumlah matriks yang ada kurang dari 15@, batuan disebut areniteH antara 15@ sampai (5@ disebut wac-e, dan jika volume batuan

19

banyak tersusun oleh matriks berbutir halus maka diklasi#ikasikan sebagai batulumpur ()udstone . &uarsa adalah tipe butiran paling umum dalam kebanyakan batupasir, jadi klasi#ikasi ini mengutamakan kehadiran butiran lain. 3anya 25@ feldspar yang diperlukan dalam batuan agar bisa disebut feldspathic arenite, ar-osic arenite atau ar-ose (ketiga istilah ini dapat digunakan bila batupasir kaya butiran feldspar . 25@ #ragmen batuan dalam batupasir disebut lithic arenite. !ebih dari 95@ kuarsa harus ada dalam batuan agar dapat diklasi#ikasikan sebagai kuarsa areniteH batupasir dengan persentase sedang dari butiran feldspar atau #ragmen batuan disebut subar-osic arenite dan sublithic arenite. 6ac-e juga dibagi ke dalam kuarsa wac-e, feldspathic (ar-osic) wac-e dan lithic wac-e, tapi tanpa subdivisi. 5ika tipe butir selain daripada tiga komponen utama hadir dalam kuantitas penting (sedikitnya 5@ atau 10@ , kata imbuhan digunakan seperti kuarsa arenite mikaan, "atatan bah%a "ontoh batuan ini tidak mengandung 95@ butiran kuarsa sebagai proporsi semua butir yang ada, tapi 95@ dari jumlah kuarsa, feldspar, dan #ragmen batuan ketika dijumlahkan bersama. =stilah gre wac-e terkadang digunakan untuk batupasir yang mungkin juga disebut feldspathic atau lithic wac-e (,raha, 19>( . 2.4 Karakteristik Batubara (coal) 4atubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses #isika dan kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Dleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar #osil. Adapun proses yang mengubah tumbuhan menjadi batubara tadi disebut dengan pembatubaraan (coalification). 1nsur$unsur utama batubara terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen 'roses penggambutan yang terpenting adalah pembentukan substansi humus yang ditentukan oleh suplai oksigen, kenaikan temperatur dan lingkungan tertentu yang dapat membentuk endapan batubaratanpa ada gangguan. 'embentukan gambut tidak bergantung pada kedalaman tetapi tergantung pada #asies

20

humi#ikasi. )ebaliknya kenaikan tekanan akan berpengaruh terhadap pengurangan kadar airdan kondisi ini dipakai seagai pedoman pengukuran diagenesa dimana semakin tinggi proses pembatubaraan semakin sedikit kandungan air pada batubara tersebut. 'erbedaan antara gambut dan batubara muda dapat dilihat pada tabel berikut ini (%inarto, 2005 6

<abel 2.1 6 perbedaan gambut dan batubara muda

Parameter +oisture (bed )oisture @ karbon (da# Sellulosa bebas *apat dipotong

ambut I (5 @ J 80 @ Ka Ka

Brown Coal J (5 @ I 80 @ <idak <idak

)umber 6 %inarto, 2005

'roses selanjutnya dari penggambutan adalah proses pembatubaraan yang merupakan perkembangan gambut menjadi batubara lignit, subbituminus, bituminus, antrasit dan meta antrasit. 'embentukan batubara sangat ditentukan oleh kenaikan temperatur yang akan merubah struktur #isik, komposisi kimia dan biokimia batubara. <ekanan yang terbentuk akan mempengaruhi porositas batubara dengan berkurangnya kandungan air dalam batubara. *engan demikian proses selanjutnya adalah derajat pembatubaraan yang ditentukan oleh perubahan komposisi kimianya ( +, D, 3 dan /olatile matter . Akibat berkurangnya kadar air ini maka proses dekomposisi akan mengakibatkan kandungan kenaikan kandungan karbonnya. Baktu sangat berpengaruh terhadap proses pembatubaraan, untuk %aktu pemanasan yang lebih lama, tingkat batubara yang dihasilkan akan lebih tinggi.

21

Dleh karena itu batubara yang umurnya lebih tua pada prinsipnya mempunyai tingkat pembatubaraan yang lebih tinggi (Binarto, 2005 . <ekanan mempunyai pengaruh yang relati# ke"il dibandingkan dengan temperatur dan %aktu. *alam hal ini tekanan hanya ber#ungsi untuk memadatkan bahan organik dan memeras kandungan airnya. Dleh karena itu tekanan bersi#at pembatubaraan struktur #isik saja. )e"ara umum tahapan proses pembentukan batubara diikuti dengan keluarnya 0at$0at +D2 dan 32D serta bertambahnya unsur karbon. 1rutan proses pembentukan batubara se"ara ringkas dapat diuraikan se"ara berikut ()itumorang, 2005 6 1. ambut ,ambut merupakan #ase a%al dari proses pementukan batubara dan masih memperlihatkan si#at asal dan bahan dasarnya (tanaman asalnya . ,ambut memiliki kadar air di atas (5@ serta nilai kalori yang paling rendah. 2. Lignit !ignit merupakan #ase yang telah memperlihatkan struktur kekar dan gejala perlapisan, endapan ini dapat digunakan untuk pembakaran dengan temperatur rendah. !ignit ini mengandung air 35@ hingga (5@ dari beratnya, 3. Subbituminus )ubbituminus masih mengandung sedikit karbon dan banyak air sehingga kurang e#isien dibandingkan bituminus. 4. Bituminus 4ituminus di"irikan dengan si#at padat dan hitam, mengandung 8>@ hingga >8@ unsur karbon (+ dan berkadar air >@ hingga 10@ dari beratnya serta dapat dipergunakan untuk pembakaran dengan temperatur tinggi. !. "ntrasit

22

Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan %arna hitam berkilauan (luster metalik, mengandung antara >8@ hingga 9>@ unsur karbon (+ dengan kadar air kurang dari >@.

4eberapa nama batuan yang harus diketahui dimana batuan ini sering ditemukan berasosiasi dengan batubara, antara lain 6 1. Batubara Lempungan (shalycoal) 4atubara !empungan (shal coal yaitu batubara yang mengandung

komponen lempung, dalam hal ini atubara adalah yang dominan. 2. Batulempung batubaraan (coalyshale) 4atulempung batubaraan (coal shale yaitu batulempung yang mengandung komponenA#ragmen batubara. 3. Batulempung karbonan 4atulempung karbonan yaitu batulempung yang mengandung karbon, ber%arna abu$abu kehitaman dan umumnya lunak.

2.4.1 #aktor$faktor penting dalam pembentukan batubara 'osisi tektonik, paleogeogra#i dan keadaan iklim merupakan #aktor yang menentukan dalam pembentukan ra%a$ra%a penghasil batubara. 'osisi tektonik tempat "ekungan terbentuknya endapan batubara mempengaruhi ke"epatan penurunan dan bentuk mor#ologi "ekungan. &ondisi ini akan menentukan kemungkinan meluasnya daerah ra%a$ra%a serta tebalnya lapisan batubara. )edangkan iklim ditentukan oleh posisi geogra#inya, yang akan mempengaruhi jenis tumbuhan sebagai sumber pembentukan batubara, selanjutnya setelah pengendapan yaitu proses metamor#osa dan proses geologi lainnya (Binarto, 2005 .

23

1. %&olusi tumbu'$tumbu'an :volusi tumbuhan terutama menentukan jenis tumbuhan yang dapat berubah menjadi gambut. 'ada iklim kering tumbuhan yang menjai bahan gambut di"irikan oleh pohon g )nosper) l copod dan jenis semak$semak. )edangkan pada iklim basah tumbuhan didominasi oleh pohon$pohon yang mirip dengan semak$semak (tabel 2.5 berikut 6 <abel 2.2 6 perbandingan antara kondisi, jenis tumbuhan dan jenis batubara yang dihasilkan Kondisi Air terbuka Kapur &lgae, plan-ton (iosen &lgae, plan-ton )olosen &lgae, plan-ton *enis Batubara 2hannel7boghead, kaya akan spora atau pollen Air dangkal 2ala)ite l copod atau Akar dan kayu Akar kayu dan 4atubara "ampuran, pollen 2a%a Pteridoph ta, l copodina + rica, fungi Spora spagnu) 4atubara ampuran, kaya akan spora atau pollen <anah kering " )nosper)ae $ 'inus 6ood coal, kaya akan spora atau

miskin akan spora )umber 6 <ei"hmuller, 198> dalam )itumorang, 2005

2. +klim 4atubara yang termasuk pada iklim tropis dan subtropis umumnya di"irikan oleh lapisan yang tebal, ber%arna terang (bright yang terbentuk dari batang kayu

24

(pohon$pohon . )ebaliknya batubara yang terbentukpada iklim basah dan sedang umumnya memiliki ketebalan lebih tipis.

3. Paleogeorafi dan tektonik )yarat$syarat terbentuknya #ormasi batubara, antara lain 6 1. &enaikan muka air tanah se"ara perlahan$lahan (lambat . 2. 'erlindungan ra%a (sand bar terhadap pantai atau sungai. 3. :nergi relie# rendah 5ika muka air tanah "epat naik atau penurunan dasar ra%a "epat, maka kondisi akan menjadi li)nic atau bahkan akan terjadi endapan laut ()arine berupa lempung, napal atau gamping. )edangkan jika penurunan terlalu lambat, maka tumpukan sisa tumbuhan akan menjadi teroksidasi (ber%arna merah dan tererosi. Dleh karena itu pembentukan lapisan batubara berhubungan erat dengan paleogeografi dan struktur daerah tempat batubara tersebut terbentuk.

2.4.2 Sifat fisik dan kimia batubara )i#at #isik batubara tergantung kepada unsur kimia pembentuk batubara tersebut. )edangkan berat jenisnya berkisar antara 1,25 sampai 1,(0, dimana perubahannya sesuai dengan mutu kualitas batubara. 4erat atau porositasnya. &ekerasan batubara berkaitan dengan struktur dan komposisi batubara. Barna batubara bervariasi antara "oklat, hitam sampai hitam mengkilat. Barna goresan batubara berkisar dari terang sampai "oklat tua. )edangkan pe"ahan batubara memperlihatkan bentuk kasar atau konkoidal dan sangat tergantung pada kualitas batubara tersebut (Binarto, 2005 . jenis batubara tergantung pada jumlah kandungan mineral atau abu (ash dan juga kekompakan

25

)i#at kimia batubara dipengaruhi oleh #aktor pembentuk, in#iltrasi mineral asing selama dan sesudah batubara terbentuk. 1nsur kimia yang utama adalah karbon, hidrogen, nitrogen dan sul#ur yang membentuk "ampuran komplek antara 0at organik dan anorganik. 9aktor$#aktor yang mempengaruhi komposisi batubara antara lain 6 1. 2. 3. -. 5. 8. +ara penimbunan dan penguburan tanaman pembentuk batubara. 1sia endapan dan penyebaran geogra#is batubara. )truktur tanaman pembentuk batubara. &omposisi kimia bahan rombakan. &eadaan dan intensitas mikrobiologi. ,eologi sejarah pengendapan batubara. 4atubara biasanya ditemukan berupa lapisan$lapisan atau lensa$lensa diantara batuan sedimen, seperti batulempung, batulanau, serpih, batupasir dan kadang$kadang gamping. !apisan batulempung yang terdapat dibagian ba%ah lapisan batubara disebut undercla , dan biasanya banyak mengandung jejak$jejak akar. Ada atau tidaknya undercla diba%ah lapisan batubara dapat digunakan sebagai interpretasi dari tipe sedimentasi batubara, apakah batubara tersebut diendapkan se"ara insitu (allochthonous atau transported (situmorang, 2005 . )e"ara umum batubara memiliki si#at$si#at #isik sebagai berikut 6 1. 2. 3. -. 4er%arna "oklat sampai hitam. 4erlapis menyerupai sedimen. 'adat .udah terbakar.

26

5. 8. (. >. 9. 10. 11.

&edap "ahaya. ;on kristalin. 4erkilap kusam sampai "emerlang. 4erat jenis 1.25 L 1.(0 &ekerasan 0.5$2.5 4ersi#at gas 'e"ahan kasar sampai konkoidal

2.4.3 Kualitas batubara &ualitas batubara adalah si#at #isika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi potensi kegunaannya. &ualitas batubara ditentukan oleh material dan )ineral )atter penyusunnya, serta oleh derajat coalification (ran- . Analisis dasar dalam penentuan kualitas batubara didasarkan atas beberapa #aktor berikut, antara lain (<homas, 2002 6 1. As recei ed !asis (a.r) As re"eived basis (a.r atau sering disebut juga sebagai as sampled adalah data yang menunjukkan persentase total moisture batubara dari keadaan asalAa%al mula "ontoh batubaraAbelum mengalami gangguan atau proses apapun. ". Air#dried !asis (a.d.!) Air$dried basis (a.d.b adalah data yang menunjukkan persentase air$dried dari batubara, dalam hal ini batubara sudah tidak memiliki sur#a"e moisture. $. Dry !asis (dry)

27

*ry basis (dr

adalah data yang menunjukkan presentase moisture

batubara setelah melalui proses pengeringan. %. Dry ash#free !asis (d.a.f) *ry ash.free basis (d.a.f menunjukkan besarnya volatile )atter dan fi8ed carbon yang dihubungkan dengan banyaknya )oisture dan ash yang telah hilang. *asar ini digunakan dalam penentuan #raksi yang terkandung dalam batubara. &. Dry' mineral#matter#free !asis (d.m.m.f) #r , )ineral.)atter.free basis (d.).).f) menunjukkan total )ineral )atter yang menunjukkan kandungan ash batubara. 1ntuk lebih jelas mengenai hubungan antara #aktor tersebut dapat dilihat pada persamaan yang ditunjukkan oleh tabel 2.8 lampian 1. 1mumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan analisa kimia pada batubara yang diantaranya berupa analisis pro-si)ate dan analisis ulti)ate. Analisis pro-si)ate dilakukan untuk menentukan jumlah air ()oisture , 0at terbang (volatile )atter , karbon padat (fi8ed carbon , dan kadar abu (ash , sedangkan analisis ulti)ate dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia pada batubara seperti karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur tambahan dan juga unsur arang. *alam penelitian ini pembahasan tentang kualitas batubara hanya di#okuskan pada analisis proksimat terutama mengenai nilai kalori ( 20 , total sulfur (,S , dan kandungan abu (ash (Kakub, 2000 .

2.!. Lingkungan Pengendapan 4atubara umumnya diendapkan pada lingkunganAdaerah ra%a$ra%a tempat dimana banyak ditemukan tumbuh$tumbuhan sebagai asal pembentuk batubara. )ekitar 90@ batubara di dunia (termasuk indonesia terbentuk di lingkungan paralis, yaitu ra%a$ra%a yang berdekatan dengan pantai. *aerah seperti ini dapat

28

dijumpai di daerah dataran pantai, laguna, paparan delta dan sungai pada kondisi reduksi. 'engendapan batubara di daratan pantai terjadi di ra%a$ra%a di belakang pematang pasir, yang ke arah darat berasosiasi dengan sistem laguna. *aerah ini tertutup dari hubungan dengan laut terbuka. 'engaruh oksidasi air tidak ada, sehingga menunjang pembentukan batubara pada ra%a$ra%a pantai. 'ada lingkunngan delta, batubara terbentuk pada ra%a$ra%a "ekungan (ba"ks%amp dan di daerah paparan delta (delta plain . )edangkan di daerah delta front atau prodelta batubara tidak terbentuk, karena posisinya berada di ba%ah permukaan laut ()itumorang, 2005 . 5ika lingkungan pengendapan batubara mendapat pengaruh dari air laut ()arine environ)ent maka pada lapisan batubara tersebut akan ditemukan mineral pirit dalam jumlah yang banyak dan dapat men"apai 5 @. !apisan batubara umumnya berasosiasi dengan batuan sedimen klastik, antara lain batulempung, batulanau, dan batupasir. !apisan batuan yang berasosiasi dengan batubara ini disebut sebagai lapisan pemba%a batubara (coal )easure . *ilihat dari proses terbentuknya batubara dapat dibagi atas dua golongan, yaitu 6 1. Batubara insitu (A(tochlono(s) 4atubara insitu (&utochlonous yaitu batubara yang terbentuk di tempat, dimana tanaman asal terdapat. 1mumnya batubara jenis ini memiliki lapisan yang "ukup tebal dan kandungan abunya rendah. +iri$"iri jenis batubara insitu di lapangan adalah ditemukannya sisa$sisa tanaman (seat earth pada lantai batubara. *isamping itu batas batubara dan lapisan batuan diba%ah dan diatasnya adalah berangsur atau tidak tajam. !apisan pengotor pada batubara ini pada umumnya adalah jarang. )ebagian besar memiliki kandungan abu yang rendah yaitu sekitar 10 @ bahkan ada yang 2 @.

29

2.

Batubara transportasi (transported)allochthono(s) 4atubara transportasi (transported7allochthonous yaitu batubara yang

terbentuk tidak pada tempatnya, dimana tanaman asal terdapat, sehingga melalui proses transportasi ketempat pengenapan. 4atubara jenis ini umumnya memiliki lapisan yang tipis dan mengandung mineral (abu "ukup tinggi dibandingkan dengan batubara insitu. *i lapangan, batubara jenis ini dapat diamati dengan memperhatikan batas yang sangat jelasAtajam antara batubara dan lapisan batuan diba%ah dan diatasnya. &etebalan batubara berkisar dari beberapa sentimeter sampai puluhan meter. &etebalan batubara sangat ditentukan oleh beberapa #aktor, diantaranya adalah 6 1. 2. 3. <anaman asal pembentukan. +ekungan dan lingkungan pengendapan Akti#itas tektonik yang berkembang. *i dalam eksplorasi batubara harus bisa mengkorelasikan lapisan batubara dengan lapisan batubara lainnya. 1ntuk dapat mengkorelasikan lapisan batubara tersebut harus ada lapisan penunjuk (-e bed yang diharapkan ditemukan di setiap lapisan batubara dengan mudah pada posisi yang relati# sama. !apisan penunjuk ini dapat lempung pengotor (cla band7parting .

1.

"ir (moist(re) Air yang terkandung dalam batubara terdiri dari 6

2.!

"ir bebas (free moist(re) Air bebas (free )oisture adalah air yang terikat se"ara mekanik dengan

batubara pada permukaan, dalam retakan dan mempunyai tekanan uap normal. &adar air di dalam batubara dipengaruhi oleh berbagai kondisi pengeringan dan pembasahan selama penambangan, transportasi, penyimpanan, dan lain$lain.

30

2., "ir lembab (moist(re in air dried sample) Air lembab ()oisture in air dried sa)ple adalah air yang terikat se"ara #isik dalam batubara dan mempunyai tekanan uap leih rendah dari pada tekanan normal. &adar air lembab bertambah besar dengan menurunnya peringkat batubara.

"bu (ash) Abu atau bisa juga disebut )ineral )atter terjadi didalam batubara sebagai

inherent atau e8traneous. $." *nherent mineral matter (nherent )ineral )atter adalah unsur pengotor yang berhubungan dengan tumbuhan asal pembentukan batubara. .ineral )atter jenis ini tidak dapat dihilangkan atau di"u"i dari batubara. 'ada umumnya jumlah mineral jenis ini adalah relati# sedikit. 3.3 +,traneo(s mineral matter E8traneous )ineral )atter adalah lapisan yang terdapat diantara lapisan batubara, biasanya terdiri dari serpih, batupasir, batulempung atau batugamping. 4entuk e8traneous )ineral )atter dalam lapisan batubara dapat berupa butiran menyebar tidak beraturan, mengisi rekahan atau rongga. 5umlah mineral )atter jenis ini "ukup banyak dibandingkan dengan inherent )ineral )atter tetapi kandungannya dapat dikurangi melalui proses pen"u"ian. 4atubara yang memiliki kandungan ash tinggi pada umumnya memiliki nilai kalori yang rendah, dimana komposisi karakteristik yang pada umumnya sering terdapat pada abu batubara dapat dilihat pada tabel berikut 6

<abel 2.3 6 komposisi karakteristik abu batubara

31

:lemen Silica &lu)ina *erric o8ide

2umus kimia )iD2 A!2D3 9e2D3

2entang (@ 15$55 10$-0 1$-0

2alciu) o8ide +agnesiu) o8ide Sodiu) o8ide

+aD .gD ;a2D

1$25 0.5$5 0$>

Potassiu) o8ide ,itaniu) o8ide +agnesiu) o8ide

&2D <iD2 .n3D-

0$5 0$3 0$1

Sulphate Phosphate

)D3 92D5

0$12 0$3 )umber 6 Kakub, 2000

-at terbang ( olatile matter) 7at terbang terdiri atas 0at$0at yang mudah terbakar seperti 3 2, +D, metan dan

uap$uap yang mengembus seperti tar, gas +D 2 dan 32D. 7at terbang mempunyai hubungan yang erat dengan peringkat batubara, dimana semakin rendah 0at terbang maka akan semakin tinggi peringkat batubara seperti yang ditunjukkan oleh tabel berikut 6

32

<abel 2.- 6 klasi#ikasi batubara berdasarkan kadar 0olatile )atter 0olatile )atter &elas (dmm# 0 1 2 3 5 8,(,>,9 0L3@ 3 L 10 @ 10 L 1- @ 1- L 20 @ 20 $ 2> @ 2> L 33 @ I 33 @ &okas &ntrasit Se)i.antrasit Se)i.bitu)inous, bitu)inous Loss volatile +ediu) volatile 1igh volatile *eskripsi

)umber 6 A)<., 19>- dalam situmorang, 2005

*alam peman#aatan batubara 0at terbang mempunyai arti penting dalam karakteristik atau kualitas batubara. 4atubara dengan kadar 0at terbang yang tinggi akan mngeluarkan gas$gas dan uap pembakaran yang tinggi sehingga lebih mudah menyala dan lebih "epat membakar residu karbon. )edang batubara dengan kandungan 0at terbang yang ke"il akan mengeluarkan gas$gas lebih sedikit dan uap pembakaran lebih sedikit, sehingga lebih sulit menyala tetapi lebih lama menyala dalam membakar residu karbon.

Karbon padat (fi,ed car!on) &arbon padat (fi8ed carbon) adalah karbon yang terdapat pada batubara

dalam bentuk padat. 5umlah karbon padat ditentukan oleh kadar air, abu dan 0at terbang. &adar karbon padat adalah (Kakub, 2000 6

33

9+ = 100@ @( air + abu + /. )

(1

*imana 6 9+ E *i8ed 2arbon /. E 0olatile +atter

)edangkan harga fuel ratio dirumuskan sebagai berikut (Binarto, 2005 6

*uel ratio E *i8ed carbon70olatile )atter (2

3arga fuel ratio ini sering digunakan dalam klasi#ikasi untuk menentukan rank batubara seperti yang ditunjukkan pada tabel 2.> berikut 6

<abel 2.- 6 klasi#ikasi rank batubara berdasarkan fuel ratio *enis batubara &okas &ntrasit Se)i antrasit Se)i 9itu)inus 9itu)inus (Low volatil) ()ediu) volatil) (high volatil) -(el ratio 92 2>.8 -.3 2.> 1.9 1.3

34

Lignit )umber 6 Binarto, 2005

0.9

.ilai kalori 'erhiungan nilai kalori diukur dengan membakar "onto batubara dalam suatu

bo)b calori)eter standar, biasanya dalam kondisi air dried (adb). )atuan energi yang dipergunakan yaitu .egajoule per kilogram (.5Akg , kilo kalori per kilogram (kkal.kg atau konversi lain 4tu per lb, konversi angka tersebut diberikan sebagai berikut 6 1,00 .5Akg E -29,923 4tuAlb E 23>,>-8 kkalAkg

Parameter ini dianggap sebagai jumlah panas pembakaran material batubara

yang dapat dibakar seperti karbon, sul#ur dan hidrogen. ;ilai kalori sangat berhubungan dengan peringkat batubara, mengingat pengkayaan karbon terjadi pada proses kematangan batubara, sehingga batubara berperingkat tinggi akan mempunyai nilai kalori lebih tinggi dari pada batubara berperingkat rendah. Alpern dkk (19>9 mengkorelasikan nilai kalori terhadap kandungan air, yang menunjukkan hubungan yang baik dalam hubungannya dengan rank batubara. 3al ini menunjukkan bah%a nilai kalori merupakan salah satu parameter yang baik untuk menentukan karakteristik dan rank batubara, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut (<homas, 2002 6

<abel 2.5 6 &lasi#ikasi rank berdasarkan nilai kalori dari berbagai ran- batubara

35

&ondisi "ross 2al 0alue 2al 0alue 4tuAlb (da# &"alAkg (da#

Lignit

9itu)inus Subbit 9it

&ntrasit

(200

9900 $ 12800

15500

I 15500

-000

5500 $ (000

>850

I >850

)umber 6 <ei"hmuller, 19>( dalam %inarto, 2005 / 0nsur$unsur yang terdapat dalam batubara 1nsur$unsur yang terdapat di dalam batubara adalah karbon, (+ , hidrogen (3 , oksigen (D , belerang () , dan nitrogen (; (<homas, 2002 . /.1 Karbon (1) dan )idrogen ()) &arbon (+ dan 3idrogen (3 merupakan unsur anorganik, pada umumnya membentuk +D2 dan 32D. +D2 umumnya berasal dari mineral karbonat sedangkan 32D kemungkinan berasal dari mineral lempung atau juga dari inherent matter pada batubara tersebut.

/.2 2ksigen (2) Dksigen merupakan komponen yang paling penting dalam menentukan tingkatan batubara. /.3 Belerang (S) 4elerang merupakan penyebab korosi dan pen"emaran pada atmos#er. *alam batubara belerang terdiri atas tiga bentuk, yakni 6 /.3.1 Belerang organik 4elerang organik menunjukkan komponen organik yang terkandung pada batubara dan terdapat diseluruh material carboneceus dalam batubara, dan

36

jumlahnya tidak dapat dikurangi dengan teknik pen"u"ian tetapi dengan @ total sulphur dengan p ritic dan sulphate sulphur (%inarto, 2005 . )(0 E <) $ )(p $ )(s (3

*imana 6 )(0 E 4elerang organik (dalam @ <) E ,otal Sulfur (dalam @ )(p E Sulphur P ritic (dalam @ )(s E sulphate sulphur (dalam @
/.3.2 Belerang pirit (#eS2)

4elerang pirit menunjukkan mineral sul#ida dalam batubara, pada umumnya berupa iron p rite dan merupakan bagian dari mineral matter yang terdapat dalam batubara yang jumlahnya kemungkinan masih bisa dikurangi dengan teknik pen"u"ian. 3 "spek eologi

4erdasarkan tingkat keyakinan geologi, sumber daya terukur harus mempunyai tingkat keyakinan lebih besar dibandingkan dengan sumber daya terunjuk, begitu pula sumber daya terunjuk harus memiliki tingkat keyakinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan sumber daya tereka. )umber daya terukur dan terukur dapat ditingkatkan menjadi "adangan terkira dan terbukti. <ingkat keyakinan geologi tersebut se"ara kuantitati# di"erminkan oleh jarak titik in#ormasi seperti singkapan dan titik bor. 3.1.1 "spek %konomi

37

&etebalan minimal lapisan batubara yang dapat ditambang dan ketebalan maksimal lapisan pengotor yang tidak dapat dipisahkan pada saat ditambang, yang menyebabkan kualitas batubaranya menurun karena meningkatnya kandungan abu. (4adan )tandarisasi ;asional <erdapat beberapa parameter$parameter dalam perhitungan "adangan yaitu6 1. +adangan batubara <ebal batubara yang dihitung sebagai "adangan M 1,0 meter <ebal parting J 0,01 meter dihitung sebagai "adangan *ensitas batuan 1,3 grAm3 ,eologi"al #aktor 90@ dari "adangan terukur Single slope penambangan 800, overal slope -50 :levasi penambangan minus 80 meter mal )2 maksimum 10 6 1 'emukiman, jalan dan lahan produkti# sampai radius 50 m tidak dihitung 2. +adangan terukur <ebal batubara yang dihitung sebagai "adangan M 1,0 meter <ebal parting J 0,01 meter dihitung sebagai "adangan *ensitas batubara 1,3 2adius perhitungan "adangan dari data poin yang ada yaitu 250 meter &edalaman maksimum 100 meter 'emukiman, jalan dan lahan produkti# sampai radius 50 meter tidak dihitung

3.

+adangan terunjuk <ebal batubara yang dihitung sebagai "adangan M 0,5 meter <ebal parting J 0,05 meter sebagai sebagai "adangan *ensitas batubara 1,3

38

2adius perhitungan "adangan dari batas pengukuran "adangan measured yaitu 250$500 meter =nterval kedalaman yaitu 100$200 meter 'emukiman, jalan dan lahan dan lahan produkti# diabaikan <ebal batubara yang dihitung sebagai "adangan M 0,5 meter <ebal parting J 0,05 meter dihitung sebagai "adangan *ensitas batubara 1,3 2adius perhitungan "adangan dari batas pengukuran "adangan terunjuk yaitu I 500 meter &edalaman maksimum I 200 meter 'emukiman, jalan dan lahan produkti# diabaikan

-.

+adangan tereka

4erikut ini merupakan sketsa perhitungan volume endapan yang digunakan sebagai gambaran untuk menghitung volume batubara

,ambar 2.10 )ketsa perhitungan volumen endapan dengan rumus mean area metode penampang .elalui sketsa di atas, dapat didapatkan persamaan perhitungan volume batubara sebagai berikut 6

39

&eterangan6 )1, )2 6 !uas penampang endapan (m2 ! 6 5arak antar penampang (m / 6 /olume (m3 )edangkan untuk menghitung tonase batubara digunakan rumus6

&eterangan6 < / 4j 6 <onase batubara 6 /olume (m3 6 4erat jenis (tonAm3 4eratjenis batubara adalah 1.3 tonAm3. 4erat jenis batubara juga sangat bergantung kepada jumlah dan jenis mineral yang dikandung abu dan juga kekompakan atau porositasnya. 'enentuan berat jenis batubara digunakan sebagai data geologi untuk mengetahui tonase batubara, sehingga dapat diketahui apakah layak ditambang dengan memperhitungkan #aktor komersial. 1ntuk mengetahui )2 suatu batubara dilakukan perhitungan sebagai berikut6

*imana / merupakan volumen lapisan penutup (overburden

dan <

merupakan tonase batubara. .aka nilai stripping ratio ()2 dapat ditentukan. 4. (etode Cross .ection atau Geological .ection <erdapat beberapa metode perhitungan "adangan batubara diantaranya adalah metode "roos se"tion. .etode ini membagi tubuh endapan kedalam blok$ blok dengan konstruksi penampang geologi pada interval$interval sepanjang garis melintang atau pada level yang berbeda sesuai kerja eksplorasi. =nterval

40

penampang dapat sama atau bervariasi sesuai dengan keadaan geologi dari persyaratan penambangan. &euntungan metode "ross se"tion adalah dapat menggambarkan keadaan geologi endapan mineral, prosedurnya "epat, dan sederhana, tetapi menuntut analisa bentuk dan ukuran penampang guna menentukan rumus yang tepat. .etode ini merupakan pilihan yang tepat untuk endapan mineral yang seragam, sering pula pada endapan yang berbentuk perlapisan.