Anda di halaman 1dari 24

CKD

Pada tahun 2002, National Kidney Foundation (NKF) Kidney Disease Outcome Quality Initiative (K/DOQI)

Definisi STRUMA

Struma adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid. Pembesaran kelenjar tiroid dapat disebabkan oleh kurangnya diet iodium yang dibutuhkan untuk produksi hormon tiroid. Terjadinya pembesaran kelenjar tiroid dikarenakan sebagai usaha meningkatkan hormon yang dihasilkan.

Sering ditemukan di daerah pegunungan seperti pengunungan Alpen, Himalaya, Bukit Barisan, dan sebagainya dan juga terlihat di dataran rendah seperti Finlandia, Belanda, dan sebagainya. Untuk struma toksika prevalensinya 10 kali lebih sering pada wanita dibanding pria. Di Inggris, prevalensi Hypertiroidisme pada praktek umum adalah 25 35 kasus dalam 10.000 wanita, sedang di rumah sakit didapatkan 3 kasus dalam 10.000 pasien. Pada wanita ditemukan 20 27 kasus dalam 1.000 wanita, sedangkan pria 1 5 per 1.000 pria. Data dari Whickham Survey pada pemeriksaan penyaring kesehatan dengan menggunakan Free Thyroxine Index (FT4) menunjukkan prevalensi Hipertiroidisme pada masyarakat sebanyak 2%.

Epidemiologi...

Yang mendasari proses itu ada 4 hal utama:


1.

2. 3.

Etiologi...

4.

Gangguan perkembangan, seperti terbentuknya kista (kantongan berisi cairan) atau jaringan tiroid yang tumbuh di dasar lidah (misalnya pada kista tiroglosus atau tiroid lingual). Proses radang atau gangguan autoimun seperti penyakit Graves dan penyakit tiroiditis Hashimoto. Gangguan metabolik (misal, defisiensi iodium) serta hyperplasia, misalnya pada struma koloid dan struma endemik. Pembesaran yang didasari oleh suatu tumor atau neoplasia meliputi adenoma sejenis tumor jinak dan adenokarsinoma, suatu tumor ganas.

Klasifikasi

1. Berdasarkan fisiologisnya : a. Eutiroid : aktivitas kelenjar tiroid normal b. Hipotiroid : aktivitas kelenjar tiroid yang kurang dari normal c. Hipertiroid : aktivitas kelenjar tiroid yang berlebihan 2. Berdasarkan klinisnya : a. Non-Toksik (eutiroid dan hipotiroid) Difusa : endemik goiter, gravida Nodusa : neoplasma b. Toksik (hipertiroid) Difus : grave, tirotoksikosis primer Nodusa : tirotoksikosis skunder

3. Berdasarkan morfologinya : a. Struma Hyperplastica Diffusa Suatu stadium hiperplasi akibat kekurangan iodine (baik absolut ataupun relatif). Defisiensi iodine dengan kebutuhan excessive biasanya terjadi selama pubertas, pertumbuhan, laktasi dan kehamilan. Karena kurang iodine kelenjar menjadi hiperplasi untuk menghasilkan tiroksin dalam jumlah yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan supply iodine yang terbatas.

Struma Colloides Diffusa


Ini disebabkan karena involusi vesikel tiroid. Bila kebutuhan excessive akan tiroksin oleh karena kebutuhan yang fisiologis (misal, pubertas, laktasi, kehamilan, stress, dsb.) atau defisiensi iodine telah terbantu melalui hiperplasi, kelenjar akan kembali normal dengan mengalami involusi. Sebagai hasil vesikel distensi dengan koloid dan ukuran kelenjar membesar.

c. Struma Nodular Biasanya terjadi pada usia 30 tahun atau lebih yang merupakan sequelae dari struma colloides. Struma noduler dimungkinkan sebagai akibat kebutuhan excessive yang lama dari tiroksin. Ada gangguan berulang dari hiperplasi tiroid dan involusi pada masing-masing periode kehamilan, laktasi, dan emosional (fase kebutuhan).

1. Anamnesa a. Penderita datang dengan keluhan adanya benjolan pada leher depan bagian tengah b. Usia dan jenis kelamin : nodul tiroid timbul pd usia < 20 tahun atau > 50 tahun dan jenis kelamin laki-laki resiko malignancy tinggi (20-70%). c. Riwayat radiasi daerah leher & kepala pada masa anak-anak malignancy 33-37% d. Kecepatan tumbuh tumor. Nodul jinak membesar lama (tahunan), nodul ganas membesar dengan Diagnosis cepat (minggu/bulan)

e. Gangguan menelan, sesak nafas, suara serak & nyeri (akibat penekanan/desakan dan/atau infiltrasi tumor sebagai pertanda telah terjadi invasi ke jaringan atau organ di sekitarnya) f. Asal dan tempat tinggal (pegunungan/pantai) g. Benjolan pada leher, lama, pembesaran h. Riwayat penyakit serupa pada keluarga i. Struma toksik : Kurus, irritable, keringat banyak Nervous Palpitasi Hipertoni simpatikus (kulit basah dingin & tremor) j. Struma non-toksik : Gemuk Malas dan banyak tidur Gangguan pertumbuhan

Pemeriksaan Fisik Pulsasi : bila nampak adanya pulsasi pada permukaan pembengkakan

a. Inspeksi Pemeriksa berada di depan penderita. Penderita posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher terbuka sedikit hiperekstensi agar m. sternokleidomastoideus relaksasi sehingga tumor tiroid mudah dievaluasi. Apabila terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen berikut : Lokasi : lobus kanan, lobus kiri, ismus Ukuran : besar/kecil, permukaan rata/noduler Jumlah : uninodusa atau multinodusa Bentuk : apakah difus (leher terlihat bengkak) ataukah berupa noduler lokal Gerakan : pasien diminta untuk menelan, apakah pembengkakannya ikut bergerak

b. Palpasi Pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi, pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan kedua tangan. Beberapa hal yang perlu dinilai pada pemeriksaan palpasi : Perluasan dan tepi Gerakan saat menelan, apakah batas bawah dapat diraba atau tidak dapat diraba trachea dan kelenjarnya. Konsistensi, temperatur, permukaan, dan adanya nyeri tekan Hubungan dengan m. sternocleidomastoideus (tiroid letaknya lebih dalam daripada musculus ini. Limfonodi dan jaringan sekitar

c. Auskultasi Pada auskultasi perlu diperhatikan adanya bising tiroid yang menunjukkan adanya hipertiroid.

Pemeriksaan penunjang

1. Laboratorium Pemeriksaan kadar TSH, T3 total, Free T4, dan T4 total. 2. Radiologi Thorax adanya deviasi trakea, retrosternal struma, coin lesion (papiler), cloudy (folikuler). Leher AP lateral evaluasi jalan nafas untuk intubasi pembiusan. 3. USG Dilakukan untuk mendeteksi nodul yang kecil atau nodul di posterior yang secara klinis belum dapat dipalpasi. Di samping itu, dapat dipakai untuk membedakan nodul yang padat atau kistik serta dapat dimanfaatkan untuk penuntun dalam tindakan biopsy aspirasi jarum halus.

4. Scanning tiroid (pemeriksaan sidik tiroid) Memakai uptake I131 yang didistribusikan ke tiroid untuk menentukan fungsi tiroid. Normalnya uptake 15-40 % dalam 24 jam. Bila uptake > normal disebut hot area, sedangkan jika uptake < normal disebut cold area (pada neoplasma) 5. Pemeriksaan sitologi melalui biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH) Pemeriksaan sitologi nodul tiroid diperoleh dengan aspirasi jarum halus. Cara pemeriksaan ini berguna untuk menetapkan diagnosis suspek maligna ataupun benigna.

Penatalaksanaan

1. Konservatif/medikamentosa a. Indikasi : Usia tua Pasien sangat awal Rekurensi pasca bedah Pada persiapan operasi Struma residif Pada kehamilan, misalnya pada trimester ke-3

b. Struma non toksik : iodium, ekstrak tiroid 20-30 mg/dl c. Struma toksik : Bed rest PTU 100-200 mg (propilthiouracil) Merupakan obat anti-tiroid, dimana bekerjanya dengan prevensi pada sintesis dan akhir dari tiroksin. Obat ini bekerja mencegah produksi tiroksin (T4). Diberikan dosis 3x 100 mg/hari tiap 8 jam sampai tercapai eutiroid. Bila menjadi eutiroid dilanjutkan dengan dosis maintenance 2 x 50 mg/hari selama 12-18 bulan.

Lugol 5 10 tetes Obat ini membantu mengubah menjadi tiroksin dan mengurangi vaskularisasi serta kerapuhan kelenjar tiroid. Digunakan 10-21 hari sebelum operasi. Namun sekarang tidak digunakan lagi, oleh karena propanolol lebih baik dalam mengurangi vaskularisasi dan kerapuhan kelenjar. Dosis 3 x 5-10 mg/hari selama 14 hari. Iodium (I131)

2. Radioterapi Menggunakan I131, biasanya diberikan pada pasien yang telah diterapi dengan obat anti-tiroid dan telah menjadi eutiroid. Indikasi radioterapi adalah pasien pada awal penyakit atau pasien dengan resiko tinggi untuk operasi dan untuk pasien dengan hipotiroid rekuren. Radioterapi merupakan kontraindikasi bagi wanita hamil dan anak-anak.

3. Operatif a. Isthmulobectomy , mengangkat isthmus b. Lobectomy, mengangkat satu lobus, bila subtotal sisa 3 gram c. Tiroidectomi total, semua kelenjar tiroid diangkat d. Tiroidectomy subtotal bilateral, mengangkat sebagian lobus kanan dan sebagian kiri. e. Near total tiroidectomi, isthmulobectomy dextra dan lobectomy subtotal sinistra dan sebaliknya. f. RND (Radical Neck Dissection), mengangkat seluruh jaringan limfoid pada leher sisi yang bersangkutan dengan menyertakan n. accessories, v. jugularis eksterna dan interna, m. sternocleidomastoideus dan m. omohyoideus serta kelenjar ludah submandibularis.

PENATALAKSANAAN

KONSERVATIF - Indikasi: usia tua, struma residif. - Struma non toksik: jodium, ekstrak tiroid 20-30 mg/dl. -Struma toksik: a) PTU 100-200 mg (gol thiouracil) Diberikan 3x/hari tiap 8 jam sampai tercapai euthyroid, dilanjutkan dosis maitenan 5 mg selama 12-18 bulan. Efek samping: - penderita resisten. - leukopeni, urtikari, demam, anemia (penekanan sum2 tlg). - Tdk dipakai pada struma retrosternal menyebebkan vaskularisasi bertambah, kelenjar membesar menimbulkan penekanan. b) Lugol 5-10 tetes diberikan 3x/hari selama 7-10 hari, membantu merubah tyroksin dan mengurangi vaskularisasi serta kerapuhan kelenjar tiroid. Dapat digunakan 10-21 hari sebelum operasi. Obat ini sekarang tidak terpakai diganti dengan propanolol.

OPERATIF - Indikasi: 1. pembesaran kelenjar tiroid dengan gejala penekanan berupa: a) gangguan menelan. b) gangguan pernapasan. c) suara parau. 2. keganasan kelenjar tiroid. 3. struma nodus dan diffusa toxica. 4. kosmetik. -Teknik Operasi: a) Isthmulobectomy , mengangkat isthmus. b) lobectomy, mengangkat satu lobus, bila subtotal sisa 3 gram. c) Tiroidectomi total, semua kelenjar tiroid diangkat. d) Tiroidektomi subtotal bilateral, mengangkat sebagian besar lobus kanankiri, sisa jaringan 2-4 gram di bagian posterior untuk mencegah kerusakan paratiroid dan saraf reccurent laryngeus

Krisis Tiroid
Reseptor Katekolamin, infeksi, stres krn operasi katekolamin T3 dan FT4 >> krisis tiroid Klinis

Laboratorium T3 , T4 , FT4 , TSH

Demam Takikardi, atrial fibrilasi, gagal jantung Gelisah, delirium, koma Mual, muntah, diare, ikterik