Anda di halaman 1dari 12

ATTACHMENT STYLE AND ADULT RELATIONSHIP

Jika seseorang berkata apa yang membawa kebahagiaan dating, semua itu berbicara tentang hubungan kepribadian (Myers,1992). Lalu bagaimana hubungan seseorang dapat terbentuk, apakan setiap orang merasakan hal yang sama saat menjalin hubungan dengan orang lain. Semua itu berawal dari hubungan individu dengan figur pengasuhnya yang kelak akan memunculkan kelekatan dan akan menjadi pancaran hubungannya dengan orang lain saat individu itu dewasa.

1.1 Object Relation


Inti dari kepribadian individu tidak dapat dimengerti tanpa memahami hubungan individu tersebut dengan orang lain. Pendekatan itulah yang disebut sebagai teori relasi objek (object relation theory). Istilah relasi objek digunakan dalam konteks yang merujuk pada representasi mental dari orang lain yang penting bagi individu (significant others). Teori relasi objek berfokus pada pentingnya hubungan dengan individu lain dalam mendefinisikan kepribadian, dan mereka yakin bahwa self dibentuk secara sosial melalui interaksi interpersonal yang spesifik. Teori relasi objek merupakan bagian dari teori Freud mengenai teori insting, tetapi penyebabnya berbeda setidaknya dalam tiga hal. Pertama, relasi objek tidak terlalu

menekankan dorongan-dorongan biologis dan lebih menekankan pada pentingnya pola yang konsisten dalam hubungan interpersonal. Kedua, kebalikan dari teori Freud yang bersifat paternalistis dan menekankan pada kekuatan dan kontrol ayah, teori relasi objek cenderung lebih pada pengasuhan (maternal)l dengan menekankan keintiman dengan figur ibu. Ketiga, teori relasi objek umumnya lebih memandang kontak dan hubungan sebagai motif utama tingkah laku manusia, bukan kematangan seksual. Beberapa pandangan tokoh tehadap teori object relation, yang pertama, Melanie Klein menekankan pentingnya empat sampai enam bulan pertama setelah kelahiran, yang dianggapnya sebagai masa paling kritis untuk perkembangan kepribadian, dimana hubungan anak dengan payudara ibu merupakan dasar dari sebuah hubungan dan berperan menentukan tipe hubungan selanjutnya dengan orang lain. Menurutnya, walaupun baru lahir, bayi
1

memiliki gambaran ketidaksadaran diri baik dan buruk yang terkait dengan nurturing breast (sehingga perutnya penuh) dan frustrating breast (sehingga perutnya kosong). Margaret S. Mahler percaya bahwa pengindraan pembentukan identitas seorang anak bergantung pada tiga tahap hubungan dengan ibunya. Pertama, bayi memiliki kebutuhan dasar untuk disayangi dan diasuh oleh ibunya. Kedua, mereka mengembangkan hubungan simbiotik yang aman; ketiga, mereka keluar dari lingkaran protektif ibunya dan membangun individualitasnya. Heinz Kohut lebih menekankan pada pembentukan diri sendiri, dimana diri (self) berkembang dari suatu gambaran yang tak terdeferensiasi dan samar-samar hingga menjadi identitas individu yang jelas dan tepat. Bayi memerlukan pengasuhan orang dewasa untuk mencukupi kebutuhan fisik dan psikologisnya. Melalui proses interaksi yang menimbulkan rasa empati, bayi menerima respon orang dewasa (self object) terhadap dirinya sebagai rasa bangga, bersalah, malu, iri hati, atau lainnya, yang kesemua sikap itu pada akhirnya akan membentuk struktur bangunan diri sendiri. Dari seluruh pernyataan ahli diatas dapat disimpulakn object relation merupakan hubungan individu (bayi) dengan orang lain (pengasuh) diluar dirinya, kepribadian itu

tidakdapat dimengerti tanpa memahami hubungan individu tersebut dengan orang lain. Contohnya hubungan seorang anak dengan Ibunya, dengan hal tersebut akan menekankan pada pengasuhan dan keintiman dengan pengasuh/Ibunya.

1.2 Attachment Style


Attachment merupakan suatu ikatan emosional yang melibatkan keinginan untuk mencari dan mempertahankan kedekatan dengan orang tertentu terutama dalam keadaan sulit. Hal ini terkait pada suatu system yang menyediakan rasa aman, perlindungan dan keselamatan. Sesungguhnya attachment style menggambarkan hubungan bayi denga ibunya/pengasuhnya. Mary Ainsworth mengatakan banwa attachment style merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua/pengasuh (Mc Cartney dan Dearing, 2002). Beberapa perilaku attachment pada bayi meliputi kedekatan dengan ibu seperti mengikuti ibu,menangis serta memanggil ibu jika ibu tiada dipandangan matanya.- Menurut Ainsworth (Belsky, 1988) hubungan kelekatan berkembang melalui pengalaman bayi dengan
2

pengasuh di tahun-tahun awal kehidupannya.- Attachment juga dikatakan sebagai suatu hubungan emosional atau hubungan yang bersifat afektif antara satu individu dengan individu yang lain.- Hubungan juga akan bertahan lama dan memberikan rasa aman walaupun figur lekat tidak nampak dalam pandangan anak. Ainsworth meyakini bahawa kelekatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 bentuk yaitu, secure (aman), avoidant (menghindari), dan Anxious (menolak).
1. Secure attachment style

Gaya kelekatan ini mucul karena adanya pemenuhan baik kebutuhan (biologis) maupun emosional perhatian dari figur pengasuh kepada bayi/infant. Individu yang mendapatkan pemenuhan secara utuh baik kebutuhan biologis maupun emosional akan menunjukkan rasa percaya yang tinggi bagi individu lain yang berada diluar dirinya. Gaya kelektana ini menunjukkan bahwa individu memiliki self-esteem yang tinggi dan positif terhadap orang lain.

2. Anxious-ambivalent

Gaya kelekatan ini mucul karena kurangnya pemenuhan emosional dari figur pengasuh, figur pengasuh hanya terbatas hingga pemenuhan kebutuhan (biologis). Individu yang memiliki kelekatan ini mau cenderung mempunyai perasaan negatif yang disebab kanadanya perhatian yang selektif dalam situasi distress. Mereka mempunyai akses yang cepat terhadap afek dan memori negatif, yang relevan dengan pengalaman pengasuhan awal. Bahkan dalambeberapa hal, bukan saja perasaan negatiftetapi juga metode koping dalam situasi distress.

3. Avoidant style

Gaya kelekatan ini muncul karena kurangnya pemenuhan emosional pada figur pengasuh dan kurang sensitifnya figure pengasuh pada pemenuhan kebutuhan (biologis). Dalam model kelekatan ini menunjukkan figur pengasuh yang tidak membangun kontak fisik dan ekspresi emosional dengan anak. Figur pengasuh kurang memadai atau kurang ekspresif, disini Figur pengasuh juga menunjukan sikap yang tidak konsisten. Model ini akan menghasilkan penolak
3

akan kehadiran figur pengasuh, dan individu akan menampakkan permusuhan atau penolakan..

Ketiga bentuk kelekatan ini akan mempeengaruhi hubungan seseorang dimasa depannya, terkait relasi dan penerimaan orang lain diluar diri individu. Ketiga model diatas juga akan menunjukkan bentuk pendekatan hubungan seseorang, apakah orang tersebut memiliki self-image kurang sehat

1.3 Adult Attachment Style


Ketiga model-model kelekatan yang dipelajari ketika anak-anak dapat menjelaskan kualitas relasi pada keadaan dewasa seseorang. Gagasannya adalah bahwa hakekat relasi kelekatan pada masa kanak-kanak sampai taraf tertentu akan mencerminkan di relasi romantik di kemudian hari. Cara berpikir ini secara langsung diturunkan dari teori Neoanalitik, yang melibatkan kecemasan dasar yang tidak terselesaikan dan dari berbagai studi terkait yang menyangkut dasar-dasar biologis dari kelekatan bayi, seperti kelekatan yang telah diteliti oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth.

3 bentuk hasil turunan kelekatan pada orang dewasa

1. Secure Secure attachment memberikan turuna bentuk yang menunjukkan secara mudah individu membentuk relasi dekat dengan orang lain, membiarkan orang lain dekat dengannya dan mampu mempercayai dan mempertahankan hubungannya orang lain.

2. Avoidant Avoidant attachment memberikan turunan yang menujukkan perasaan tidak nyaman ketika mereka membangun kedekatan yang intim dengan orang lain atau ketika orang lain dekat sekali dengannya. Tipe ini cenderung memiliki masalah untuk mempercayai dan dipercayai oleh orang lain.

3. Anxious-Ambivalent Anxious-Ambivalent attachment memberikan turunan yang menunjukkan perasan tidak aman dengan relasinya dan ia takut jika orang lain merasa putus asa atau kecewa dengan relasi yang terjalin. Selain itu individu memunculkan obesesi rasa kawatir yang besar pada orang lain.

Sekitar setengah dari orang-orang yang diteliti digolong dalam Secure Lovers, sedangkan sisanya digolongkan dalan Avoidant Lovers dan Anxious-Ambivalent Lovers. Gaya kelekatan inividu dapat diprediksi dari kualitas relasi mereka dengan orang tuanya. Sekitar 56% orang dewasa yang bertipe kelekatan aman, ditemukan memiliki kepuasan yang paling besar dan paling berkomitmen terhadap hubungan dibanding dengan tipe kelekatan lain. 25% orang dewasa bertipe kelekatan avoidant , 11% orangdewasa diidentifikasi sebagai tipeanxious-ambivalent dan 5% tidak teridentifikasi. (Mickelson,kessler & Sharver, 1987. introduction to personality, 141) Pada dasarnya seseorang menjalin relasi dengan orang lain didorong dari masa lalunya dan dorongan gtersebut berada pada alam bawah sadarnya. Hubungan pada orang dewasa merupakan hasil proyeksi dari hubungan masa anak-anak terdahulunya.

1.4 Alternative Models and Measurement


Beberapa peneliti menunjukan bahwa ada model alternatif pada kelekatan orang dewasa dimana penelitian tersebut memberikan ukuran yang mengklasifikasikan seseorang. Bartholomew dan teman-teman membagi bentuk alternatif model kelekatan menjadi dua dimensi. Dimensi yang pertama adalah rasa takut ditinggalkan oleh pasangan. Pada dimensi pertama ini individu akan merasa bahwa orang lain yang mereka cintai akan meninggalkan mereka, hal ini muncul disebabkan kekurangan harga diri yang muncul dari dalam dan mencari penerimaan diri dengan menjadi dekat dan akrab dengan orang lain. Individu pada dimensi ini mencoba membuktikan bahwa mereka harus menjadi layak menerima cinta. Kecenderunga individu ini adalah sering memunculkan perilaku yang menyenangkan dan lucu agar mendapatkan cinta dari orang lain. Dimensi kedua individu menekankan bentuk kenyamanan dan kedekatan dengan orang lain. Hal ini muncul karena individu merasa orang lain dapat dipercaya dan akan menyediakan kebutuhan emosional mereka. Dibagian lain inidvidu menujakkan bahwa oranglain tidak mampu dipercaya dan melakukan penolakan pada dirinya. Individu pada
5

dimensi ini mencoba menunjukkan

bahwa rasa percaya pada orang lain tidak dapat

ditumbuhkan, sering rasa tidak percaya itu makan individu menganggap orang lain melakukan penolakan pada dirinya. . Dari dua bentuk dimensi diatas peneliti mendapatkan empat model kategori yang bisa terdapat pada diri seseorang. Seseorang akan diletakkan pada salah satu kategori yang akan menujukkan kecenderunga seseorang pada kedua deminsi. Empat model kategori ini terdiri dari, secure, avoidant/dismissing, anxiousambivalent/preocupied, dan disoriented/fearful. Kategori secure merupakan kategori yang baik, kategori ini menunjukkan bahwa individu mampu membentuk relasi dekat dengan orang lain, membiarkan orang lain dekat dengannya dan mampu mempercayai dan mempertahankan hubungannya orang lain. Individu yang memiliki secure attachmen akan mengembangkan model mental diri sebagai orang yang berharga, penuh dorongan, dan mengembangkan model mental orang lain sebagai orang yang bersahabat, dipercaya, responsif,dan penuh kasih saying. Ketegori avoidant/ dismissing menujukkan individu memiliki perasaan tidak nyaman ketika mereka membangun dekat yang intim dengan orang lain atau ketika orang lain sangat dekat dengannya. Tipe ini cenderung memiliki masalah untuk mempercayai dan dipercayai oleh orang lain. Orang yang berada salam kategori ini tidak mampu membrikan kepercayaan pada orang lain diluar dirinya. Individu mau memiliki hubunagan dengan orang lain, tetapi ia cenderung tidak memberikan kepercayaan pada orang tersebut. Kategori anxious-abivaent/preocupied menujukkan individu memiliki perasaan tidak nyaman ketika mereka dekat dengan orang lain atau ketika orang lain dekat dengannya. Tipe ini cenderung memiliki masalah untuk mempercayai dan dipercayai oleh orang lain. Individu cenderung tidak mau membangun hubungan dengan orang lain dan juga cenderung tidak memberi kepercayaan pada orang tersebut. Kategori disoriented/fearful menujukkan individu tidak layak dicintai dan meraguakn hubunga intim denga orang lain. Orang dalam kategori ini menutup diri dari orang lain karen takut akan rasa sakit dari penolakan.

Fear of abandonment Low high

Fear of Closeness

low secure avoidant/dismissing

High anxious-ambivalent preocupied disoriented/fearful

1.5 Attachment Style and Romantic Relationships


Gaya kelekatan memberikan dampak pada hubungan romantis seseorang. Gambaran umum hubungan romantis adalah hubungan yang penuh kebahagiaan. Bentuk-bentuk kelekatan yang telah dipelajari diatas merupakan gambaran dasar seseorang membangun hubungan relasi romantis dengan orang lain. Bentuk kelekatan tersebut merupakan investasi secara tidak langsung dalam kehidupan sehari-hari pada pasangan dewasa. Pasangan dewasa memiliki banyak permasalah terkait rasa kepercayaan dimana kepercayaan muncul disebabkan adanya relasi yang terbuka dan prilaku-prilaku yang menunjukkan penerimaan. Pada inividu dengan kelekatan insecure (aavoidant dan anxious) akan menunjukkan kecenderungan hambatan-hamnatan dalam masalah keterbukaan dan penerimaan.

Kecenderunga yang muncul adalah stres yang diakibatkan keraguan atas pasangan, jika sters itu berulang dampaknya pada pasangan bahkan hingga perceraian, banyak pasangan dewasa yang bercerai karena stres kepercayaan dan tidak adanya bentuk penerimaan. Tetapi tidak menutup kemungkina hubungan sesorang dengan pasangan dapat menjadi baik, hubungan seseorang buakan hanya dipenagruhi kelekatan yang ia peroleh pada masa anak-anak. Hal ini dibuktikan dengan penelitian Davila, Burge, dan Hammen yang menunjukkan 30% wanita dapat merubah gaya kelakatan pada hubungannya setelah tahun kedua hubungannya. Penelitian ini menujukkan bahwa tidak sepenuhnya attachment style berkontribusi penuh atas hubungan seseorang, hubungan itu terbentuk lama dan seseorang dapat mengembangkan dan memunculkan prilaku dan sikap baru yang terbentuk dari pengalaman hubungannya.
7

Rivew Jurnal
Jurnal 1 Attachment Security, Compassion, and Altruism

Penelitian 1 Studi ini menunjukkan secara meyakinkan bahwa kontekstual aktivasi rasa attachment

security memimpin orang-orang merespon lebih seperti orang-orang yang dispositionally secure. Subjek 1 Subjek yang digunakan adalah anggota out-group dengan perbandingan terhadap kelompok kontrol. Hasil 1 Peneliti menemukan bahwa kontekstual aktivasi attachment security mengurangi reaksi negatif kepada anggota out-group (Mikulincer & Shaver, 2001). Dibandingkan dengan kelompok kontrol, orang-orang yang rasa aman yang sesaat meningkat adalah lebih bersedia untuk berinteraksi dengan anggota berpotensi mengancam out-group (misalnya, Israel Arab yang telah menulis sebuah esai menghina tentang para peserta studi in-group Yahudi Israel) yang kurang terancam oleh ancaman sosial dan ekonomi yang dibangkitkan oleh imigran Yahudi Rusia baru-baru ini ke Israel , dan yang kurang diskriminatif terhadap kaum homoseksual. Dalam studi ini, peningkatan keamanan berkurang dalam kelompok/out-group perbedaan yang jelas dalam kelompok kontrol dan kelompok peserta yang menerima eksperimental induksi positif mempengaruhi tidak terkait attachment (seperti melalui membaca cerita komik atau membayangkan memenangkan lotre).

Penelitian 2 Meneliti efek attachment security pada tanggapan kasih sayang terhadap orang lain yang

menderita. Dalam studi ini, kecemasan dispositional attachment dan avoidance dinilai dengan pengalaman dalam skala hubungan yang dekat (ECR; Brennan et al., 1998), dan rasa attachment security diaktifkan (prima). Subjek 2 Subjek yang digunakan adalah peserta membaca sebuah cerita tentang seorang mahasiswa yang sedang dalam kesulitan, mencari bantuan dari orang tuanya, dan menerima dukungan, kenyamanan dan jaminan dari mereka. Dibuat perbandingan dalam kondisi ini, dengan cara para peserta membaca komik (positif-mempengaruhi priming) atau cerita-cerita biasa (netral priming). Hasil 2 Setelah prosedur priming, peserta dinilai suasana hati mereka saat ini, membaca sebuah cerita singkat tentang mahasiswa yang orang tuanya telah meninggal dalam kecelakaan mobil, dan kemudian dinilai berapa banyak mereka mengalami perasaan kasih sayang yang terkait (misalnya, kasih sayang,simpati, kelembutan) dan perasaan tekanan pribadi (misalnya, ketegangan, kekhawatiran, penderitaan). Diprediksi, peserta primed dengan sebuah cerita attachment-security melaporkan tingkat yang lebih tinggi dari perasaan kasih sayang dari peserta di positive-affect dan netral kondisi, dan tingkat bawah penderitaan pribadi dari peserta di kondisi netral. Temuan ini juga menunjukkan bahwa efek dari security-related priming dan attachmentstyle perbedaan tidak bisa dapat dijelaskan berdasarkan suasana hati. Meskipun priming dari mempengaruhi positif menurunkan personal distress, itu tidak signifikan mempengaruhi kasih sayang, perubahan ataupun tidak dalam suasana hati menengahi efek dari priming keamanan dan dispositional attachment security pada kasih sayang dan personal distress. Efek dari attachment security sedang tidak sama seperti efek dari positive-affect induksi dan sedang tidak dijelaskan dalam hal perubahan suasana hati sederhana.

Jurnal 2 Attachment Theory Predicts The Formation Of Romantic Relationships

Penelitian Hubungan romantis didefinisikan sebagai hubungan yang abadi, penting, intim dan

berkomitmen yang dibagi antara dua individu. Hubungan romantis biasanya dimulai dengan penuh gairah kasih sayang. Subjek 1 Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 620 peserta. Usia peserta sekitar 14 sampai 82 tahun dengan 23 peserta perempuan. Hasil 1 Perbedaan yang signifikan ditemukan dalam sikap: individu securely attached yang lebih mungkin untuk mendukung kepercayaan hubungan romantis yang langgeng berbeda dengan peserta insecurely attached. Ditemukan juga bahwa ketegori avoidant adalah yang paling mungkin untuk percaya pada kemungkinan hubungan romantis yang langgeng karena tidak ingin berhubungan intim. Ambivalent style terdapat keunikan, bahwa mereka melaporkan perasaan yang signifikan dari kesepian, menunjukan bahwa ada konflik antara keinginan romantis dan kemampuan untuk memperoleh hubungan langgeng karena kecemasan. Penelitian ini menyediakan dukungan dari attachment theory karena merupakan disposisi bawah sadar abadi dibentuk pada masa kanak-kanak dan dibawah umur. Subjek 2 Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 118 mahasiswa psikologi untuk memeriksa kembali prediksi sikap romantis. Hasil 2 Temuan konsisten dengan penelitian sebelumnya. Ditemukan bahwa avoidant attachment style ini berhubungan negatif dengan panjang dan kualitas hubungan romantis. Tidak ada korelasi yang ditemukan untuk hubungan yang panjang dengan anxious attachment style; namun kualitas hubungan yang negatif dengan anxious attachment. Bertentangan dengan
10

penelitian

sebelumnya,

infant-parent

attachment

dari

avoidant

attachment

hanya

berhubungan negatif dengan hubungan romantis yang langgeng apabila nilai kecemasan yang juga tinggi untuk individu. Tidak ada efek ketika nilai kecemasan yang rendah untuk peserta avoidant. Sebanding dengan attachment theory, parental attachment melakukan prediksi kualitas; namun, panjang hubungan bisa tidak dapat diprediksi.

11

SUMBER
1. Burger M. Jerry, Itroduction to personality, 8th edition, 2008 2. Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik Freud, Yustimy Semiun, OFM, Kanisius, Yogyakarta 3. Baron & Byrne, Psikologi Sosial Jilid 2, Jakarta: Erlangga, 2004 4. Feits & feits, Theories of personality, edisi keenam, 2008 5. http://www.jstor.org/stable/20182981. Sage Publications, Inc 6. Griffith university undergraduate student psychology journal, valome 1, 2009

12