Anda di halaman 1dari 33

Blue Print Pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan #01 POSTED BY TANAHKERONTANG 7 MEI 2012 TINGGALKAN SEBUAH KOMENTAR

Pendidikan merupakan pilar utama dalam pengembangan sumber daya manusia. Hal ini beralasan dan tak terbantahkan karena peletakan dasar budi pekerti dan pengembangan potensi manusia melalui pendidikan sebagai suatu bagian integral. Kegiatan pendidikan selalu menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia karena merupakan posisi strategis sebagai asset dan faktor produksi dalam pembangunan. Karena itu membangun sumber daya manusia hendaknya menjadi prioritas utama untuk mewujudkan tujuan Bangsa Indonesia yaitu menciptakan manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur. Hal ini makin dipertegas dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS yang memberi ruang seluas-luasnya bagi Rakyat Indonesia untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan. Rendahnya mutu pendidikan merupakan salah satu faktor yang mendasari perubahan-perubahan dalam kebijaksanaan pendidikan di Indonesia yang melahirkan Undang-Undang SISDIKNAS tersebut. Disamping itu, terdengar keluhan mengenai ketidaksesuaian antara kemampuan yang diperoleh atau dicapai di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan oleh pengguna tenaga kerja. Oleh karena itu disusunlah kebijakan baru dalam paradigma pendidikan untuk lebih menjamin peningkatan mutu pada jenjang pendidikan dasar, menengah, dan kejuruan. Kebijakan ini menuntut adanya hubungan antara sekolah dengan dunia nyata sehingga pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperoleh siswa di sekolah membuatnya berfungsi dalam kehidupannya sehari-hari. Kebijakan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebagai upaya untuk memenuhi tuntutan diatas membawa konsekuensi logis pada penyelenggaraan proses belajar mengajar. Untuk itu, pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pendukung dalam maksimalisasi ketercapaian Proses Belajar di sekolah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Apalagi jika hal tersebut disinergikan dengan pertumbuhan jumlah siswa yang dari tahun ke tahun makin bertambah seiring dengan kesadaran masyarakat

akan manfaat dan proyeksi Sekolah Menengah Kejuruan sebagai penyedia tenaga kerja dengan kompetensi yang dimiliki luarannya. Setiap sekolah harus menyadari sepenuhnya akan tantangan yang dihadapi dan melakukan penyikapan terhadap hal tersebut diatas dengan melakukan langkah-langkah antisipatif dengan proyeksi dan perhitungan matang tentang realitas yang berkembang di masyarakat. Kemudahan akses transportasi, program-program terencana dan terukur serta dukungan dari stakeholder merupakan beberapa faktor pendukung berkembangnya sebuah SMK. Disamping itu terdapat pula beberapa kendala yang dihadapi, diantaranya Belum tersedianya Sarana Prasarana yang memadai; belum tercapainya standar kompetensi bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Belum terciptanya sinergitas antara Sekolah dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri, serta belum tersedianya bahan ajar yang mendukung maksimalisasi prose belajar, serta pengelolaan Administrasi Pembelajaran yang belum optimal. Berangkat dari kondisi diatas, setiap sekolah mesti kembali merumuskan seperti apa visi yang hendak dicapai dan dalam penentuan visi tersebut haruslah memperhatikan prinsip Imagible (dapat di bayangkan); Desirable (menarik); Feasible (realistis dan dapat dicapai);Focused (jelas); Flexible (aspiratif dan responsif terhadap perubahan lingkungan); serta Communicable (mudah dipahami). Setelah mengetahui dan membuat rumusan visi yang jelas, sebuah sekolah selanjutnya menetapkan Misi yang semestinya merupakan terjemahan secara konkret terhadap harapan / visi yang telah dirumuskan sebelumnya. Kejelasan visi dan misi akan memudahkan sekolah dalam mencapai tujuan yang hendak diinginkan. Ketidakjelasan visi, misi dan tujuan dari sebuah sekolah akan berakibat pada eksistensi dan pengembangannya dimasa mendatang. Tentunya hal tersebut bukanlah satusatunya yang mempengaruhi perjalanan sebuah sekolah, masih banyak faktor lain seperti manajemen kepemimpinan, pola pendistribusian tugas dan tanggungjawab, serta penerapan profesionalisme dalam bentuk pemberian reward dan pemberlakuan punishment.

Selain itu, sebuah sekolah mesti memperhatikan situasi dan faktor lingkungan disekitarnya sebagai suatu potensi yang mesti dimaksimalkan. Situasi dan lingkungan

sekitar sekolah mesti dikerahkan dan diberdayakan sebagai salah satu suply energi untuk menggerakkan sekolah dan itu diadasarkan pada seperti apa perangkat-perangkat di sekolah yang bersangkutan melakukan analisis kritis (SWOT). Contoh yang bisa dikemukakan diantaranya, perbedaan menyolok akan terlihat pada sebuah sekolah yang menjalin interaksi kontinyu dengan Dunia Usaha/Dunia Industri di sekitarnya dengan sekolah yang tidak memaksimalkan keberadaan Dunia Usaha /Dunia Industri di daerahnya. Sekolah yang menjalin kerjasama intens dengan Stake Holder (salah satunya DU/DI) akan mempunyai gambaran yang jelas tentang proyeksi kebutuhan tamatannya (minimal), sementara yang tidak memanfaatkan DU/DInya akan berjalan tanpa arah yang jelas. Mengapa demikian? Karena sebuah sekolah (SMK) adalah produsen yang menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah untuk diserap oleh DU/DI yang dan itu mutlak adanya. Disinilah perlunya kejelasan relevansi keberadaan sebuah sekolah dalam pembangunan Daerah. Penentuan Program Studi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan jasa di daerah akan berimplikasi pada animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Menengah Kejuruan dan pada akhirnya akan memberi dampak pada perbaikan taraf hidup masyarakat dikarenakan besarnya keterserapan tamatan dari SMK bersangkutan. Dalam Grand Design Pendidikan Indonesia ditegaskan bahwa pendidikan yang dikelola dengan baik dan tepat sasaran akan mengupgrade taraf ekonomi masyarakat. Penataan sekolah dalam hal ini SMK perlu dilakukan sebagaimana pula pentingnya dilakukan pendekatan-pendekatan inovatif sebagai penyikapan positif terhadap perkembangan yang terjadi dimana tuntutan terhadap SMK yang semakin besar dimana awalnya SMK hanya diposisikan sebagai pabrik tenaga kerja, namun sekarang SMK didudukkan sebagai wadah untuk melahirkan jiwa kewirausahaan yang melahirkan konsep Teaching Industry atau Teaching Factory. Teaching Factory merupakan salah satu bentuk kerjasama yang dibangun antara sekolah dengan industri. Teaching Factory adalah suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan pengetahuan sekolah. Teknologi pembelajaran yang inovatif dan praktek produktif merupakan konsep metode pendidikan yang berorientasi pada manajemen pengelolaan siswa dalam pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan dunia industri. (Brosur IGI, 2007). Dalam pengertian lain bahwa pembelajaran berbasis produksi merupakan suatu proses pembelajaran keahlian atau keterampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau jasa yang sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen. Dengan kata lain barang yang diproduksi dapat berupa hasil produksi yang dapat dijual atau yang dapat digunakan oleh masyarakat, sekolah atau konsumen. Program Teaching Factory merupakan perpaduan pembelajaran yang sudah ada yaitu Competency Based Training (CBT) danProduction Based Training (PBT),

dalam pengertiannya bahwa suatu proses keahlian atau keterampilan (life skill) dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan pasar/konsumen.Dalam penjelasan singkatnya Teaching Factory adalah pembelajaran berorientasi bisnis dan produksi. Proses penerapan program Teaching Factory adalah dengan memadukan konsep bisnis dan pendidikan kejuruan sesuai dengan kompetensi keahlian yang relevan,misalnya : pada Program Studi Keahlian Tata Boga melalui kegiatan pembuatan dan penjualan produk olahan makanan yang dikerjakan oleh peserta didik. http://tanahkerontang.wordpress.com/2012/05/07/blue-printpengembangan-sekolah-menengah-kejuruan-01/

Blue Print Sekolah Unggul SEBUAH AZAM MENUJU SEKOLAH ISLAM UNGGUL

Ilustrasi Sekolah Unggulan Islami : Sekolah Unggulan Islami adalah tempat proses pembelajaran dengan sistem kurikulum terpadu antara ilmu, agama, ketrampilan hidup, dan dilaksanakan secara simultan yakni melibatkan unsur pendidikan yang meliputi : guru, kurikulum, media , siswa dan penataan lingkungan belajar yang kondusif dan Islami sehingga mampu berdaya saing menuju terdepan dalam kompetisi dan unggul dalam prestasi serta berorientasi pada Smart and Good. Tujuan diselenggarakannya sekolah sangat berhubungan erat dengan salah satu tujuan negara yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa / anak bangsa (bukan sekedar kecerdasan intelektual) / agar mampu berdaya guna, dan berhasil guna bagi dirinya, kemaslahatan umat manusia dan alam semesta raya. Oleh karenanya untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan proses pembelajaran dengan pola pendekatan multiple Intelegences dengan mengembangkan kemampuan / kecerdasan yang meliputi : IQ, EQ dan SQ. Tentunya konsep yangideal tersebut perlu didukung oleh pihak pemerintah dan stake holders atau dewan pengampu pendidikan sehingga menjadi sekolah yang efektif dan unggul dalam kerangka internalisasi nilai - nilai islami. Dengan kata lain sekolah sebagai lembaga dakwah Islam dan pengembangan ekonomi umat merupakan implementasi dari ayat Allah SWT terhadap konsep rahmatan lil alamin. Sesungguhnya standar pendidikan unggulan islami dapat diterapkan pada jenjang, satuan dan jenis serta pada jalur pendidikan yang senantiasa menginginkan bentuk perubahan konsep mutu pendidikan yang terkendali. Makin bermutu suatu sekolah tentu akan makin diminati oleh masyarakat, sebaliknya sekolah yang tidak berorientasi pada mutu sudah barang tentu daya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya kurang. Jenjang dan satuan pendidikan yang diselenggarakan

Pemerintah Republik Indonesia, antara lain : 1. Jenjang pendidikan dasar dalam satuan sekolah : SD / MI, SMP / MTs, 2. Jenjang pendidikan menengah dalam satuan sekolah : SMA / MA, SMK / MAK 3. Jenjang pendidikan tinggi dalam satuan sekolah : Akedemi, Politeknik, Institute Sekolah Tinggi, Universitas Berdasarkan jenisnya, pendidikan dapat dibagi manjadi 7, yakni : 1.Pendidikan umum 2.Pendidikan Kejuruan Akademi,Politeknik 3.Pendidikan Akademi 4.Pendidikan Profesi 5.Pendidikan Vocasi 6.Pendidikan Agama 7.Pendidikan Khusus Adapun pendidikan berdasarkan jalurnya , dapat dikelompokkan menjadi 3 hal , yaitu : 1. Pendidikan formal, yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah atau institusi swasta berdasarkan peraturan perundang-undangan tentang pendidikan dan undang-undang organik yang berhubungan dengan sistem pendidikan nasional. 2. Pendidikan non formal adalah pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan institusi swasta / masyarakat untuk meningkatkan kemampuan berpikir / ketrampilan hidup. 3. Pendidikan in formal adalah pendidikan dalam keluarga melalui sikap keteladanan.

Tujuan diselenggarakannya lembaga pendidikan adalah untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dalam dimensi ilmu agama dan ilmu pengetahuan serta ketrampilan hidup melalui proses pembelajaran sehingga diharapkan akan berpengaruh positif terhadap anak didik dalam menghadapi hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Masyarakat Barat telah memahami bahwa ilmu dan agama dari sisi filsafat dipahami dan dinyatakan : Relegion without science is lame, science without religion is blind artinya agama tanpa ilmu adalah lumpuh, ilmu tanpa agama adalah buta. Dengan demikian ilmu dan agama sangat perlu dikaji dan diamalkan karena akan berguna untuk kemaslahatan dan keseimbangan hidup di dunia dan di akhirat. Sekolah unggulan islami merasa tertantang untuk mengejawantahkan ilmu, agama dan ketrampilan hidup. Melalui

efektifitas manajemen sekolah unggulan islami insyaallah akan terjawab essensi dan strategi dalam mengkaji keseimbangan ilmu dan agama serta ketrampilan hidup sebagai pelaksanaan prinsip integrated curriculum school dan internalisasi nilai-nilai islam di muka bumi ini. Latar Belakang Sekolah Unggulan Islami Perubahan adalah proses, tahapan, model dan pendekatan sistem yang bermuara pada upaya mencapai tujuan. Pendidikan nasional sebagai wahana untuk merubah cakrawala pandang anak didik ke arah penanaman identitas bangsa Indonesia yang lebih bermartabat dan bermanfaat sehingga perlu diproses dengan pendekatan sistem melalui paradigma pendidikan baru yakni : bottom up policy dan sudah saatnya ditanggalkan paradigma pendidikan lama yakni : top down policy Paradigma pendidikan baru : Bottom up policy merupakan pilihan yang tepat dikarenakan paradigma tersebut terkandung makna pengelolaan sekolah dan prinsip pembelajaran yang dibangun secara bersama dengan menggunakan kriteria : kreatifitas, keterbukaan, membuka inovasi dan menciptakan karakter memanusiakan manusia serta proses pendidikan yang demokratis dan efektif. Sebaliknya paradigma pendidikan yang lama Top down policy hanya akan melahirkan manusia subyektif, kurang kreatifitas, kurang demokratis, asal bapak senang (ABS) , kurang professional jiwa ketergantungan ( menunggu bantuan baik moril maupun materiil ) sehingga kurang bernilai produktif dan kurang efektif. Sekolah unggulan islami sebagai alternatif bagi : praktisi, pemerhati, dan masyarakat luas tentu diharapkan mampu melahirkan generasi yang handal, unggul, kreatif, trampil, berbudi bawa laksana dan dapat membuka lapangan kerja melalui kurikulum bermuatan life skill dan integreted curriculum serta internalisasi nilai nilai Islam . Jika predikat atau citra sekolah unggulan sudah berkibar di masyarakat maka tugas terberat selanjutnya adalah menjaga eksistensi dan mempertahankan esensi nilai unggulan tersebut . Dengan demikian sekolah unggulan islami mempunyai kriteria, sebagai berikut : 1. Diterapkan paradigma pendidikan Bottom Up Policy bukan Top down policy . 2. Berorientasi pada mutu yakni manajemen mutu , kendali mutu dan jaminan mutu 3. Membangun sistem pendidikan secara utuh dan simultan yang meliputi : guru, anak didik, kurikulum, media dan lingkungan sekolah / kelas yang kondusif. 4. Selalu mengadakan konsolidasi, link sekolah serta perencanaan dan pengembangan

yang mengedepankan unggul dalam prestasi dan terdepan dalam kompetisi 5. Menciptakan lingkungan sekolah yang islami secara esensional dan eksistensiona. 6. Diterapkan sistem pendidikan nasional dengan kurikulum jati diri / muatan loka 7. Intensifikasi media pembelajaran dengan pendekaatan media alam sebagai wujud pelaksanaan tadabur 8. Ditegakkan disiplin baik untuk guru dan siswa dengan diterapkan tata tertib oleh team work sekolah serta mengedepankan keteladanan sebagai jaminan mutu diri. 9. Menerapkan sistem administrasi dengan komputerisasi dan administrasi dinding. 10. Menjalin kerja sama yang harmonis antara sekolah dengan komite sekolah serta lingkungan masyarakat Maksud dan Tujuan Sekolah Unggulan Islami : Banyak anak didik yang sebenarnya potensial namun diproses secara tradisional dan sangat sederhana bahkan ironisnya sekolah tersebut kurang berorientasi pada peningkatan mutu. Sesungguhnya anak didik sebagai Raw in ( bahan mentah ) yang bermutu, dikelola oleh sekolah secara profesional dan maksimal dengan pendekatan pembelajaran yang fun maka akan menghasilkan out put yang bermutu tinggi. Mendapatkan bahan mentah yang bermutu tinggi tentu dengan penyeleksian ketika penerimaan siswa baru. Hal ini bukan berarti mendikotomikan anak didik menjadi orang yang eklusif atau arogan. Sekolah unggulan islami melakukan tindakan preventif dengan berupaya memilih dan memilah in put untuk menggali dan mengarahkan anak didik agar perkembangan irama potensi anak didik dapat selaras dengan perkembangan zaman. Jika terjadi kesalahan dalam pengelolaan anak didik , dimungkinkan terjadi hal yang tidak kita inginkan yakni gab dangerous Hal demikian bukan berarti membuat komunitas Brilliant School , akan tetapi justru dengan sekolah unggulan islami diharapkan lahir anak didik yang mempunyai kemampuan dan pribadi dwi tunggal atau dikatakan sebagai pribadi ideal dan utuh smart and good artinya anak didik yang cerdas dan baik dalam sikap, perilaku dan perbuatannya. Oleh karenanya sekolah unggulan islami mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1. Program Integrated Curiculum School Kurikulum ini memuat kurikulum nasional yang dijiwai implementasi nilai-nilai islamiah serta dilengkapi life skill atau ketrampilan hidup. Dengan kata lain ada keterpaduan dalam memahami : ilmu, agama dan ketrampilan hidup.

2. Pendidik berkompetensional ( kepribadian, pedagogik, professional dan sosial ) 3. Lingkungan sekolah mencerminkan : a. Iklim sekolah yang islami dan kondusif dengan sikap ; senyum , sapa, salam.maaf , terima kasih. b. Pola pendidikan yang demokratis dan terbuka terhadap kritik yang konstruktif. c. Berpola pikir dan pola sikap yang dinamis atau mengikuti perkembangan jaman d. Menerapkan kedisiplinan sebagai pilot project system pendidikan melalui penegakkan tata tertib dan didukung rambu-rambu : petunjuk, peringatan, larangan, dan sanksi yang edukatif. e. Penerapan Bilingual system dalam lingkungan sekolah, antara lain: English day, Arabic day ,English/Arabic area, file triep, conversation, MC. f. Pembuatan sentra sentra bakat dan proyek proyek siswa sebagai ralisasi nyata Multiple Inteligence ( sentra Bisnis siswa, Area Teater, camp Futsal, camp Tahfidzul Quran, Club English, Club Arabic, Camp Karate dll) g. Masjid di sekolah sebagai sentral kegiatan dan pengembangan identitas Islam h. Banyaknya agenda kegiatan islamiah baik untuk siswa, karyawan, dan pendidik 4. Perwujudan prestasi sekolah : kejuaraan, ketenaran / popularitas, dan keteladanan 5. Membangun sistem organisasi dan tatalaksana baik dewan Guru, Karyawan dan OSIS, Unit Kegiatan Siswa, dsb dengan berdasarkan Standar Operasional Prosedur atau SOP yang telah diformulasikan dan disepakati oleh yang berkompeten 6. Menerapkan pola pembelajaran : Quantum Learning, Student Active Learning Learning by Fun, pendekatan multiple intelegences, pendekatan kontekstual, dll. 7. Sarana dan prasarana yang representatif/ lengkap a. Penggunaan IT pada siswa.( siswa dibiasakan mengunakan IT dalam presentasi/tugas) b. Penggunaan IT pada Guru/pegawai. c. Tersedianya Hot Spot/Internet Free dalam proses KBM, SIM Sekolah/Manemen) 8. Punya program unggulan yakni : agama , penerapan teknologi dasar, bahasa Inggris, bahasa arab, dan konomi praktek antara lain : Bidang Penerapan teknologi Dasar ( PTD ) : i. Benkel Sains. ii. Lab IPA iii. Lab Pertanian. Bidang Agama :

- Pembinaan Siswa/guru/pegawai/ortu secara rutin ( kajian rutin/liqo) - Implementasi PHBI dengan kerja kongkrit untuk masyarakat ( Baksos, khitanan missal , penyuluhan kesehatan, jumat bersih dll) - Pengkaderan DaI sekolah. - dll.

Bidang Ekonomi : - Bidang pertanian : Pupuk organik, pembibitan, perikanan, persemaian, pupuk cair, bio gas, dll - Jasa : BMT, wartel,jasa angkutan, jasa bayar telp, jasa PAM, dll - Industri : Production House dengan home industri kecil - Perdagangan : Memasarkan hasil produksi dari bentuk usahanya - Ekstratif : Jasa tambahan yang bersifat profit (di luar usaha yang dijalani ) Rumusan Sekolah Unggulan Islami Formulasi sekolah unggulan islami diproyeksikan dalam aneka prinsip kegiatan diantaranya : o Menata kerangka proses manajemen sekolah o Mengembangkan eksistensi dan essensi sekolah untuk segenap civitas institusi pendidikan dengan melakukan :

Penataan lingkungan fisik agar senantiasa : bersih, aman, tertib, dan indah. Penataan lingkungan psikis dengan menegakkan disiplin dan kekeluargaan Pentingnya penggunaan atribut : pakaian identitas muslim dan perlengkapannya Penanaman mental positif yakni : percaya diri, adaptif, dinamis dan konsekuen Penegakkan : tata tertib, sanksi, dan mekanisme penanganan masalah siswa Sosialisasi tindakan preventif agar tidak terjadi pelanggaran peraturan Sekolah dengan : 1. Memberikan petunjuk yang jelas 2. Ada peringatan dan larangan yang jelas 3. Perlunya kode etik sekolah dan norma sekola 4. Pembinaan rutin oleh Kepala Sekolah, bagian kesiswaan atau guru yang telah dijadwalkan dan disyahkan oleh kepala sekolah

Pelatihan untuk improvement guru maupun karyawan dalam institusi pendidikan Contoh : 1). Training for new teachers dan Training for new officer 2). Out Bond untuk menguji andrenalin / kekuatan mental menghadapi tantangan realita hidup, baik dalam kerja maupun di luar kerja Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa ( LDKS ) dalam rangka kaderisasi organisasi siswa intra sekolah atau OSIS Ekstra kurikuler sebagai penyaluran minat dan bakat siswa . Unit kegiatan tersebut antara lain : 1).KIR singkatan dari Kelompok Ilmiah Remaja 2).KBB singkatan dari Kelompok Belajar Bersama 3).ROIS singkatan dari Kerohanian Iislam 4) Cabang cabang Olah raga ( untuk berprestasi dan kesehatan ) o Melaksanakan program life skill di satuan dan jenjang pendidikan di sekolah o Penerapan standar mutu pembelajaran dengan pola pendekatan antara lain : Menggali kemampuan siswa / guru dengan pendekatan multiple intelegences Aktivasi siswa yang dipandu guru pembimbing dalam bentuk kegiatankegiatan : Bedah buku Resume for book Kegiatan sosial keagamaan Dunia usaha tepat guna untuk meningkatkan produktifitas siswa dan institusi di bidang : Agraris, Industri, Jasa, Perdagangan, dan Ekstratif Training for Student / Teachers, antara lain: motivasi, manajemen waktu, dll Program pembinaan dan bukan pembinasaan. ( untuk siswa, dan guru. ) Berupaya sukses melalui kegiatan sekolah dengan membangun rencana baru yakni: o Mengukur kembali tujuan yang direncanakan untuk mengetahui validitas antara harapan dan tingkat pencapaiannya. Jadi hal ini mengukur baju badan sendiri dengan ukuran badan sendiri dan bukan dengan ukuran orang lain / lembaga lain. o Perlunya konsultan pendidikan yang berpengalaman sehingga mempunyai frame of work atau blue print / program kerja yang baik.

o Melaksanakan plan system sekolah sesuai dengan yang telah disepakati secara : konsinten, komitmen, dan sinergis. o Melaksanakan kegiatan sekolah secara : partisipatif, bertanggungjawab, amanah terhadap tugas, dan fungsinya didasari satu niat, satu fikroh, dan satu tujuan o Menggunakan paradigma pendidikan : Bottom Up Policy , bukan Top down policy Segala daya upaya yang sungguh dan tanpa mengenal lelah , team yang solid , sdm yang handal maka semua tujuan besar ini akan mampu direalisasikan . Akhirnya tiada sesuatu yang sempurna dan hanya terus belajardan berusahalah kita akan merangkai karya yang lebih paripurna dan hanya untuk menggapai ridhonya. Amin. http://hidupberkahindah.blogspot.com/2011/04/blueprint-sekolah-unggul.html pada 7 des 2013 11.57

Pengembangan Sistem dan Sarana Teknologi Informasi untuk SMK


Published October 9, 2012 | By jeruchie

Abstrak Sarana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah menjadi kebutuhan utama bagi semua sekolah kejuruan (SMK). Berdasar jumlah pengguna TIK dan kegiatan yang perlu dukungan TIK, SMK dapat dikategorikan sebagai instutisi besar yang memerlukan dukungan TIK skala besar pula, sehingga pengadaan dan pengelolaannya memerlukan perencanaan yang integral dan matang. Makalah ini membahas kerangka dari kebijakan, rencana strategis, konsep pengembangan organisasi unit pengelola TIK, manajemen pengguna, infrastruktur jaringan dan sistem informasi terpadu. Hal-hal tersebut perlu dirumuskan oleh SMK sebagai acuan dalam pengembangan TIK di SMK untuk mendukung peningkatan mutu SMK. 1. Pendahuluan Saat ini teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah menjadi kebutuhan yang utama bahkan tulang punggung bagi penyelenggaraan pendidikan di SMK. Secara umum, SMK dapat dikategorikan sebagai institusi berukuran besar, jika diukur dari jumlah siswa, pegawai (guru dan non-guru), jumlah kegiatan pada suatu satuan waktu, jumlah gedung dan ruang, dll. Untuk institusi besar, pengembangan, pengelolaan sarana TIK dan yang menggunakannya perlu dirancang dengan baik untuk menjamin agar sarana TIK dapat dimanfaatkan secara optimal dan mendatangkan keuntungan yang diharapkan. SMK memerlukan sarana TIK dasar, yaitu infrastruktur jaringan (termasuk sarana komunikasi dan internet) dan sistem-sistem informasi. Selain itu, untuk menunjang kegiatan, juga memerlukan sarana TIK lain (lanjut) untuk e- Education , e- Research , eSociety, dll. Makalah ini membahas blue print yang terkait dengan pengembangan sarana TIK untuk SMK, yaitu kebijakan, rencana strategis, program kerja tahunan TIK, pengembangan unit pengelola TIK, manajemen pengguna, pengembangan infrastruktur jaringan, sistem informasi terpadu untuk SMK dan sarana TIK lain. 2. Kebijakan, Rencana Strategis, Program Kerja Tahunan TIK

2.1. Kebijakan di Bidang TIK TIK sudah dikenal merupakan sarana yang mendasar dan menjadi tulang punggung bagi SMK. Setiap SMK perlu memiliki kebijakan umum maupun khusus di bidang TIK, yang tentunya tidak menyimpang dari visi dan misi SMK. Sebagai contoh, di bawah ini diberikan kebijakan umum sarana TIK untuk SMK:
Manajemen informasi dan pemanfaatan sarana TIK tidak menyimpang dari ketentuan atau aturan-aturan yang berlaku di lingkungan SMK dan Indonesia. Sarana TIK disediakan bagi stakeholders SMK untuk memenuhi kebutuhan yang ada.

Sarana TIK dimanfaatkan untuk:


Mendukung penjaminan mutu, sehingga dimana dimungkinkan, informasi untuk penjaminan mutu harus disediakan. Mendukung kegiatan Diklat secara optimal. Mendukung manajemen SMK secara optimal. Memberikan layanan informasi yang memadai bagi masyarakat luar. semua keperluan

Sarana TIK akan terus dikembangkan untuk mengikuti perkembangan teknologi dan mengoptimalkan pemanfaatannya, dengan demikian, SDM pengelola sarana TIK maupun pengguna sarana TIK juga akan terus dikembangkan. 2.2. Rencana Strategis TIK dan Program Kerja Tahunan Rencana strategis SMK di bidang TIK untuk jangka panjang dan menengah, yang berpijak pada kebijakan yang ada, selain bermanfaat bagi penyusunan program kerja tahunan, juga dapat berdampak positif bagi staf pengelola sarana TIK. Staf, yang mayoritas merupakan knowledge worker dan memiliki kemampuan bekerja mandiri yang baik, dapat terpacu untuk melakukan penelitian dan menyiapkan skil bagi pekerjaan masa depan. Untuk SMK, sasaran dan strategi sarana TIK dapat disusun dengan pengelompokan:
Bidang Pengajaran dan Pembelajaran Bidang Penelitian Bidang Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama Bidang Administrasi & Keuangan Manajemen Pengetahuan/Informasi Inti (Pusat Data)

Sebagai penjabaran dari rencana strategis, program kerja tahunan dapat disusun dan dikelompokkan dalam lingkup yang lebih rinci, yaitu bidang infrastruktur jaringan, pengembangan sistem informasi (yang dibagi-bagi lagi ke dalam subsistem, lihat Bagian 6), edukasi bagi pengelola maupun pengguna TIK, pengembangan organisasi dan sistem kerja pengelola TIK, dll. Program kerja disertai proposal yang selain menjabarkan program juga mencantumkan KPI (key performance indicator) untuk evaluasi mutu. 3. Pengembangan Organisasi Unit Pengelola TIK Secara umum, pekerjaan unit pengelola TIK di SMK dapat dikelompokkan dalam infrastruktur jaringan dan perangkat keras, perangkat lunak (yang merupakan bagian dari sistem informasi), help-desk dan edukasi TIK (Mun-Koon, 2007). Divisi pada unit pengelola TIK disusun berdasar kelompok tersebut. Untuk memastikan bahwa sarana TIK di SMK selalu dikembangkan sesuai dengan kemajuan teknologi di luar dan untuk menjamin bahwa kualitas layanan TIK sesuai standar tertentu, di sini diusulkan untuk menambah dua divisi yaitu Pengembangan & Perencanaan dan Jaminan Kualitas & Keamanan (Liem, SeSMK. 2007). Rincian tugas diberikan pada Tabel 1.
Divisi Pengembangan & Perencanaan

Mengusulkan kebijakan, strategi dan perencanaanTIK untuk jangka panjang. Membuat rencana jangka menengah dan tahunan, berdasarkan rencana jangka panjang yang ditetapkan. Mengawasi dan melakukan proses jaminan kualitas terhadap semua rancangan, implementasi dan pengoperasian IT di sekolah. Melakukan jaminan keamanan, risk management, disaster recovery program untuk hal-hal yang berkaitan dengan IT.
Divisi Infrastruktur Jaringan

Perencanaan, instalasi dan konfigurasi jaringan, termasuk sistem operasi jaringan untuk lingkup SMK Pemrograman aplikasi jaringan (untuk layanan email, mailing list, manajemen pengguna, dll.). Melakukan pemeliharaan fisik jaringan (kabel, router, switch, access point). Mengelola server-server pusat data. Melakukan backup data secara rutin.
Divisi Perangkat Keras & Sistem Operasi

Memberikan layanan servis perangkat keras. Uji-coba produk perangkat keras dan perangkat lunak aplikasi umum. Memberikan layanan konsultasi dan distribusi yang terkait dengan perangkat lunak berlisensi.
Divisi Perangkat Lunak

Meng-arsitek-i pengembangan perangkat lunak. Merancang atau mengevaluasi rancangan perangkat lunak. Mengembangkan perangkat lunak (inhouse) atau melakukan pengawasan pengembangan perangkat lunak (outsource). Melakukan user acceptance test (UAT) pada saat implementasi. Melakukan pemeliharaan perangkat lunak dengan bekerja sama dengan system owner atau developer dari luar. Memberikan rekomendasi kepada komunitas SMK untuk pemilihan perangkat lunak.
Divisi Help-Desk & Pusat Informasi

Menerima permintaan layanan TIK dan meneruskan sesuai divisi yang menangani. Memelihara website atau homepage. Memelihara mailing list di lingkungan SMK. Mensosialisasikan layanan-layanan TIK baru dan pengetahuan umum yang up to date
Divisi Edukasi Teknologi Informasi

Merencanakan program pengembangan SDM di bidang TIK dan pelatihan yang dibutuhkan. Membuat program pelatihan, termasuk bekerja sama dengan vendor atau institusi luar. Membentuk jaringan kerjasama dengan semua stakeholder TIK di lingkungan SMK.
Divisi Jaminan Kualitas dan Keamanan

Menetapkan standar kualitas dan keamanan. Mengevaluasi rancangan dan implementasi untuk memastikan bahwa standar dipenuhi. Selain yang di atas, divisi pendukung lain yang diperlukan adalah sekretariat, yang bertanggung- jawab terhadap administrasi dan keuangan. Contoh organisasi pengelola TIK beserta deskripsi lengkap untuk setiap posisi dan kualifikasi SDM yang dibutuhkan dapat dicari di internet.
Ads not by this site

4. Manajemen Pengguna Pengguna didefinisikan sebagai individu yang menggunakan sarana TIK di SMK. Karena jumlah pengguna di SMK jumlahnya sangat banyak dan beragam, maka unit pengelola TIK perlu untuk merumuskan (Liem, Nov. 2007):

Kategori pengguna (misalnya siswa, guru, kaprog, kepala sekolah, wakil, komite sekolah, yayasan, biro, lembaga, dll.), estimasi jumlah, hak (misalnya email, workstation, ruang disk dengan kuota, homepage, dll.) dan kewajibannya. Persyaratan menjadi pengguna untuk setiap kategori pengguna. Kebijakan manajemen pengguna (misalnya otentifikasi tunggal, dua bulan setelah lulus user account dihapus, dll.). Standar pengelolaan pengguna pada setiap kategori. Prosedur, agreement form dan penjelasan tanggung jawab pengguna ketika pengguna pertama kali mendapatkan haknya. Pelatihan-pelatihan untuk setiap kategori pengguna.

Jika hal-hal di atas dapat dirumuskan dengan baik, maka layanan TIK dan kebutuhan penyediaan sumber daya yang terkait dengan layanan tersebut akan dapat diestimasi dengan baik pula. Selain itu, hal di atas juga diperlukan untuk:
Merancang keamanan sistem. Mengatur hak akses yang terotomatisasi pada semua sub sistem (ketika pengguna login, secara otomatis akan diberi hak sesuai dengan kategorinya).

5. Infrastruktur Jaringan Sekolah Menengah Kejuruan, jika dipandang sebagai sebuah entitas bisnis, memiliki ciri khusus yang memerlukan infrastruktur jaringan yang khusus pula. Pengguna jaringan beragam, yaitu penyandang dana (yayasan/pemerintah), pimpinan, guru, staf non-guru, siswa, orang tua siswa, alumni, sekolah lainnya dan masyarakat luas. Program-program kerja SMK juga beragam dan tidak terlepas dari motto SMK Bisa, yaitu diklat, pembelajaran dan aplikasi maupun professional practices. SMK biasanya juga memiliki rencana strategis untuk pengembangan, sehingga program-program kerjanya dapat berubah dari tahun ke tahun. Pada jaman sekarang, semua hal di atas akan berpengaruh terhadap perencanaan jaringan. Jaringan untuk SMK harus mampu mendukung semua kegiatan SMK pada setiap saat. Bagian ini akan membahas hal-hal mendasar yang diperlukan pada perencanaan pengembangan jaringan SMK. 5.1. Analisis Kebutuhan Pengguna Jaringan SMK Pada tahap awal pengembangan jaringan SMK, perlu dilakukan identifikasi kebutuhan dan analisis untuk mencari solusi jaringan yang sesuai. Pada Tabel 2, diberikan kebutuhan-kebutuhan SMK yang terkait dengan jaringan, analisis dan solusi umum untuk perancangan jaringan. Kebutuhan SMK dan solusi umum untuk jaringan.
Volume data elektronik pada jaringan sangat besar. Agar data tidak memenuhi seluruh jaringan, trafik perlu dikelompokkan. Trafik data lokal, untuk lingkungan unit organisasi, tidak dialirkan ke luar unit tersebut (hanya trafik keluar unit yang ditransmisikan ke luar jaringan unit). Maka, jaringan sekolah dibagi menjadi beberapa subnet. Topologi jaringan dipilih yang mudah dikembangkan (ditambah, diubah) untuk mengantisipasi penambahan jumlah pengguna. Ruang-ruang guru, staf, tempat diselenggarakan diklat dan tempat berkumpulnya siswa/i harus dilingkup oleh jaringan kabel dan/atau nirkabel. Menyediakan server-server dengan fungsi khusus (misalnya server email, mail list, sistem informasi akademik, keuangan, perpustakaan digital, dll), agar kinerja server dapat optimal dalam mendukung setiap jenis kegiatan. Server-server perlu diintegrasikan dalam jaringan khusus (subnet) agar transmisi data antar server cepat dan keamanan lebih mudah dijamin. Akses server juga harus cepat dan topologi jaringan memungkinkan penambahan server dengan mudah. Jaringan sekolah harus mendukung transmisi data dalam kecepatan tinggi (giga bit per detik), antar jaringan lokal pada unit/gedung dikoneksikan dengan backbone berkecepatan tinggi (misalnya dengan media serat optik).

Aplikasi yang menyediakan akses informasi restriktif ditempatkan dalam jaringan khusus (tersendiri), terpisah dengan yang harus menyediakan akses seluas-luasnya, sehingga keamanan lebih mudah dijamin. Jaringan sekolah dapat dijangkau melalui dial-up (saluran telpon), jaringan nirkabel (yang menjangkau rumah, tempat kos) maupun melalui jaringan internasional. Dengan demikian, jaringan universitas harus menyediakan entry- point untuk akses-akses tersebut. Koneksi ke jaringan internasional (internet) dengan bandwidth yang memadai (kecepatan tinggi) dan jaringan lain, misalnya WAN SMK. Jaringan tahan terhadap derau, interferensi dan memiliki jalur back-up jika saluran terputus. Berlangganan layanan koneksi internet ke lebih dari satu perusahaan komunikasi. Sistem disarter recovery plan dan sarana proteksi terhadap peralatan jaringan.

Perancangan keamanan jaringan (fisik, Manajemen user account dan otentifikasinya. 5.2. Skema Jaringan untuk SMK

sistem

operasi, aplikasi jaringan).

Perancangan jaringan secara umum tidak dapat dipisahkan dari konsep protokol OSI yang terdiri dari 7 layer, yaitu layer Fisik, Data, Jaringan, Transport, Sesi, Presentasi dan Aplikasi. Sebagai implementasi dari solusi umum pada Tabel 2, pada Gambar 1 diberikan skema jaringan tipikal untuk SMK, yang pada konsep OSI berada pada layer fisik, dengan mengadopsi konsep pada (Harijoso, 2007). Deskripsi singkat jaringan tersebut diberikan di bawah ini: Jaringan antar bengkel dan koneksi ke jaringan luar (internet, dll.). Dedicated link antar bengkel dapat dengan:
media fiber optic (FO) jika jarak antar ruang tidak terlalu jauh atau SMK mampu mengadakannya sendiri berlangganan leased line (biasanya dengan media kabel tembaga) ke perusahaan telekomunikasi berlangganan Virtual Private Network (VPN) ke perusahaan telekomunikasi koneksi wireless point-to- point milik perguruan tinggi sendiri. Pada contoh di Gambar 1(a), topologi yang digunakan adalah ring (namun, pemilihan topologi harus didasarkan pada optimasi). Koneksi ke jaringan internasional, internet, dapat diadakan untuk setiap kampus maupun dipusatkan berdasarkan pertimbangan optimasi. Untuk mendukung kesuksesan WAN SMK yang dikembangkan dapodik jateng, jaringan SMK di Indoensia perlu bergabung dengan WAN SMK dengan koneksi wireless point-to-point ke node terdekat. (Lihat Gambar 1(a).)

Jaringan internal. Dengan pertimbangan bahwa FO memiliki karakteristik tahan terhadap derau dan interferensi, stabil, aman dan kecepatan tinggi (hingga giga bits/detik), maka jaringan backbone yang menghubungkan seluruh gedung perlu dibangun dengan media FO. Selain itu, mengingat jaringan backbone merupakan urat nadi jaringan internal, maka jaringan ini harus selalu tersedia. Jika satu jalur terputus (karena ganggungan kabel atau perangkat jaringan, misalnya switch, router), maka komunikasi harus dapat melewati jalur alternatif lain. Sebagai contoh, pada Gambar 1(b) diberikan jaringan backbonedengan topologi gabungan star dan mess, yang menjamin ketersediaan jaringan internal. Router-router pada gedung dapat dihubungkan ke Access Point (AP) untuk menyediakan hotspot Wi-Fi di dalam dan sekitar gedung dan/atau ke switch jaringan kabel yang dapat dikelompokkan dalam subnet-subnet. Jaringan internal (dan hotspot Wi-Fi) Gedung. Router yang tersambung ke FO, selain dihubungkan ke AP juga dapat dihubungkan ke switch atau router atau switch router jika diperlukan untuk memecah jaringan di gedung menjadi subnet-subnet. Sebuah router dapat menangani sejumlah kelas C (254) node, namun berdasarkan tingkat utilisasi pada setiap node, kapasitas tersebut sulit untuk dipenuhi. Misalnya, untuk laboratorium, kapasitas yang disarankan adalah 60 node, sedangkan ruang

administrasi dapat lebih besar, misalnya 100. Dalam sebuah gedung, jaringan perlu dibagi-bagi lagi ke dalam subnet, yang menjamin kecepatan transfer data yang tinggi antar node di subnet. Pertimbangan utama dalam pembentukan subnet adalah kebutuhan interaksi antar pengguna jaringan. Jika, sekelompok pengguna memerlukan interaksi yang intensif (misalnya berkolaborasi dalam tugas/pekerjaan), maka node tempat pengguna mengakses jaringan perlu ditempatkan dalam sebuah subnet. Sebaliknya, jika interaksi rendah maka sebaiknya ditempatkan dalam subnet terpisah untuk mengurangi trafik data di dalam subnet (agar kecepatan transfer data dapat pada subnet dapat dijamin). Contoh: subnet server di pusat data, ruang guru, lab, dll. Topologi jaringan yang disarankan pada gedung adalah star (extended star) agar mudah untuk dikembangkan. (Lihat Gambar 1(c,d).) 5.2. Skema Jaringan untuk SMK

Perancangan jaringan secara umum tidak dapat dipisahkan dari konsep protokol OSI yang terdiri dari 7 layer, yaitu layer Fisik, Data, Jaringan, Transport, Sesi, Presentasi dan Aplikasi. Sebagai implementasi dari solusi umum pada Tabel 2, pada Gambar 1 diberikan skema jaringan tipikal untuk SMK, yang pada konsep OSI berada pada layer fisik, dengan mengadopsi konsep pada (Harijoso, 2007). Deskripsi singkat jaringan tersebut diberikan di bawah ini: Jaringan antar bengkel dan koneksi ke jaringan luar (internet, dll.). Dedicated link antar bengkel dapat dengan: (a) media fiber optic (FO) jika jarak antar ruang tidak terlalu jauh atau SMK mampu mengadakannya sendiri (b) berlangganan leased perusahaan telekomunikasi line (biasanya dengan media kabel tembaga) ke

(c) berlangganan Virtual Private Network (VPN) ke perusahaan telekomunikasi (d) koneksi wireless point-to- point milik perguruan tinggi sendiri. Pada contoh di Gambar 1(a), topologi yang digunakan adalah ring (namun, pemilihan topologi harus didasarkan pada optimasi). Koneksi ke jaringan internasional, internet, dapat diadakan untuk setiap kampus maupun dipusatkan berdasarkan pertimbangan optimasi. Untuk mendukung kesuksesan WAN SMK yang dikembangkan dapodik jateng, jaringan SMK di Indoensia perlu bergabung dengan WAN SMK dengan koneksi wireless point-to-point ke node terdekat. (Lihat Gambar 1(a).) Jaringan internal. Dengan pertimbangan bahwa FO memiliki karakteristik tahan terhadap derau dan interferensi, stabil, aman dan kecepatan tinggi (hingga giga bits/detik), maka jaringan backbone yang menghubungkan seluruh gedung perlu dibangun dengan media FO. Selain itu, mengingat jaringan backbone merupakan urat nadi jaringan internal, maka jaringan ini harus selalu tersedia. Jika satu jalur terputus (karena ganggungan kabel atau perangkat jaringan, misalnya switch, router), maka komunikasi harus dapat melewati jalur alternatif lain. Sebagai contoh, pada Gambar 1(b) diberikan jaringan backbonedengan topologi gabungan star dan mess, yang menjamin ketersediaan jaringan internal. Router-router pada gedung dapat dihubungkan ke Access Point (AP) untuk menyediakan hotspot Wi-Fi di dalam dan sekitar gedung dan/atau ke switch jaringan kabel yang dapat dikelompokkan dalam subnet-subnet. Jaringan internal (dan hotspot Wi-Fi) Gedung. Router yang tersambung ke FO, selain dihubungkan ke AP juga dapat dihubungkan ke switch atau router atau switch

router jika diperlukan untuk memecah jaringan di gedung menjadi subnet-subnet. Sebuah router dapat menangani sejumlah kelas C (254) node, namun berdasarkan tingkat utilisasi pada setiap node, kapasitas tersebut sulit untuk dipenuhi. Misalnya, untuk laboratorium, kapasitas yang disarankan adalah 60 node, sedangkan ruang administrasi dapat lebih besar, misalnya 100. Dalam sebuah gedung, jaringan perlu dibagi-bagi lagi ke dalam subnet, yang menjamin kecepatan transfer data yang tinggi antar node di subnet. Pertimbangan utama dalam pembentukan subnet adalah kebutuhan interaksi antar pengguna jaringan. Jika, sekelompok pengguna memerlukan interaksi yang intensif (misalnya berkolaborasi dalam tugas/pekerjaan), maka node tempat pengguna mengakses jaringan perlu ditempatkan dalam sebuah subnet. Sebaliknya, jika interaksi rendah maka sebaiknya ditempatkan dalam subnet terpisah untuk mengurangi trafik data di dalam subnet (agar kecepatan transfer data dapat pada subnet dapat dijamin). Contoh: subnet server di pusat data, ruang guru, lab, dll. Topologi jaringan yang disarankan pada gedung adalah star (extended star) agar mudah untuk dikembangkan. (Lihat Gambar)

Ads not by this site

Gambar 1. Skema jaringan tipikal smk untuk: (a) Antar bengkel dan koneksi ke jaringan luar (internet, WAN, dll.) (b)Sebuah ruang bengkel (c) Gedung dengan ruang pusat data (berisi server-server jaringan), teleconference dan pimpinan (d)Gedung dengan lab-lab dan ruang guru. Pengalamatan dan Domain Setelah subnet-subnet jaringan SMK dirancang, alokasi alamat IP internal SMK (biasanya dalam formatNN.NNN.NNN.NNN, dimana N adalah angka) untuk setiap subnet perlu dirumuskan sedemikian rupa sehingga berhirarki, memberikan arti/makna tertentu dan node pemakai alamat IP ini dengan mudah dapat dialokasi untuk keperluantroubleshooting. Untuk server-server internal (dengan IP internal) maupun eksternal (dengan IP eksternal, biasanya diperoleh dari provider internet), domain name server juga perlu disiapkan. 5.3. Isu Keamanan Jaringan Dengan jumlah pengguna yang sangat banyak, beragam, dan ancaman dari luar yang konstan ada dan terus berkembang, keamanan jaringan smk merupakan isu yang sangat penting. Karena itu, rancangan keamanan berdasar konsep yang matang diperlukan. Secara umum, firewall, proxy server dan router dapat dimanfaatkan untuk menjaga keamanan jaringan. Selain itu, beberapa alternatif lainnya adalah :

- Pemisahan jaringan secara fisik, sehingga pengguna terlokalisasi dan data yang sensitif (misalnya nilai dan keuangan) dapat diproteksi secara fisik juga. Dengan konsep ini, jaringan SMK secara fisik dipisahkan menjadi beberapa sub-jaringan, misalnya jaringan untuk siswa dipisahkan dengan jaringan guru, administrasi akademik, dll. - Pembatasan koneksi lintas subnet (routing). Pemilik subnet (unit organisasi) dapat mengatur agar koneksi keluar (ke subnet lain atau WAN) pada komputer tertentu atau seluruh komputer dalam subnet tersebut dapat dibatasi. Pengaturan ini diatur melalui firewall router pada subnet yang bersangkutan. - Pembatasan akses aplikasi. Pemilik subnet dapat mengatur layanan jaringan (file sharing, printer sharing, server web dan koneksi peer-to-peer) agar dapat dimanfaatkan oleh komputer tertentu. Pengaturan dapat melalui firewall router pada subnet yang bersangkutan. - Pembatasan akses jaringan. Dalam suatu saat, seorang pengguna hanya dapat login dari satu komputer sehingga mengurangi penyalah-gunaan user account. 5.4. Tantangan dan Masalah Tantangan dan masalah utama pada pengadaan, pemeliharaan dan pemanfaatan jaringan adalah:
Ketersediaan jaringan, yang harus selalu mendapatkan prioritas padahal masalah internal dan eksternal dapat datang kapan saja. Masalah internal: listrik yang sering mati dan pemeliharaan peralatan TIK di seluruh bengkel yang berjumlah sangat banyak dan beragam. Masalah eksternal: Pemblokan alamat IP oleh dunia luar, jaminan vendor TIK dan perusahaan telekomunikasi penyedia jasa koneksi internet. Keamanan jaringan, merupakan tantangan yang berat dengan makin canggihnya algoritmaalgoritma yang dikembangkan oleh para hacker untuk penetrasi jaringan. Manajemen email untuk atasi email spam (menurut hasil penelitian awal 2008, 19 dari 20 email adalah spam), penyaringan email spam harus selalu menggunakan teknik atau algoritma terbaru dan perlu optimasi agar tidak menyedot sumber-daya (komputasi server dan bandwidth). Edukasi pengguna. Banyak masalah terjadi karena kekurang-pahaman pengguna dalam pemanfaatan sarana TIK.

6. Sistem Informasi Terpadu (SIT) Sistem Informasi (SI) berbasis komputer terdiri dari basis data, aplikasi basis data, software (perangkat lunak) aplikasi, perangkat keras, dan staf yang mengembangkan serta menggunakannya. Seiring dengan kemajuan TIK dan untuk menjamin tercapainya mutu SMK yang baik, saat ini SI sudah merupakan sarana yang mendasar bagi SMK. 6.1. Kebutuhan Stakeholders Adapun kebutuhan stakeholders yang terkait dengan SI, dapat dikelompokkan menjadi tiga kebutuhan yang mendukung:
Kegiatan operasional Diklat dan manajemen SMK, kebutuhan: meningkatkan produktivitas, efisiensi dan kualitas hasil diklat. Ciri data yang dikelola: transaksional, berasal dari transaksitransaksi kegiatan. Layanan informasi internal dan eksternal. Ciri data yang dikelola: sebagian besar berupa data detil (yang sering maupun tidak sering diubah), data dapat juga mengandung data mutlimedia. Penjaminan mutu, kebutuhan: menyediakan data dan informasi untuk evaluasi mutu dan pengambilan keputusan. Ciri data: agregat (ringkasan) dari data operasional yang akurat, terkini (up to date), terstruktur dan terklasifikasi secara tertentu. Data perlu disajikan dalam bentuk yang ringkas, menarik dan mudah dibaca.

Untuk memenuhi kebutuhan di atas, idealnya, sistem-sistem informasi di SMK terpadu dan menjamin konsistensi, keakuratan dan kekinian data pada setiap sistem informasi. Pembangunan sistem yang terpadu, merupakan pekerjaan yang sangat besar, memerlukan sumber daya banyak dan makan waktu lama. Karena itu, master plan (blue print) dan tantangan yang ada perlu diidentifikasi agar dapat diatasi. 6.2. Master Plan SIT Pada master plan, beberapa hal yang perlu dirumuskan atau dikumpulkan adalah:
Kebijakan dan aturan yang terkait dengan setiap sistem informasi. Arsitektur SIT beserta deskripsi dari setiap komponen sistem.


1. 2. 3.

Standard Operating Procedure (SOP) tahap awal untuk setiap sistem informasi. Spesifikasi awal dari setiap sistem informasi yang meliputi: Identifikasi pengguna dan hak-haknya pada setiap sistem informasi. Fungsi-fungsi utama setiap sistem informasi beserta deskripsinya. Keterkaitan dan interface antar sistem informasi. Master plan basisdata. Tingkat urgensi dari setiap sistem informasi. Key success factor dan strategi pembangunan sistem.

Bagian ini membahas secara singkat tentang arsitektur, deskripsi singkat sistem-sistem informasi, master plan basisdata dan strategi pembangunan sistem. Arsitektur SIT SIT yang diusulkan ini menerapkan konsep centralized data and distributed processing yang cocok untuk lingkungan sekolah kejuruan, di mana data disuruann dt;eisuruannSesss SMK l-hal yleh ui;dihapus, dll.).&rewall router pada dan strd& , beberapa hal yang perlu dirumuskan atau dikumpulkan adalah: <}-i utama setiap sistem ingm>, ei>, ei><<m>nerlu di1Fungsi-udau sa ba:>) dank2Tajuan TIK dan untem>sulbeberapai setll router m><<basisdata. &m>Oisdata.<1t;em&ga ueyi.ida ayang> ing Prte stgdah dapa dan aturaikelompokkalt;&lpandpokkalt;&rong&h:< data: agrting Prte scesa aturaikeloasal dng&h:< dean yang sa)oan Setelgrajaan yang sangat besar iinfoang sepc besar iinfoang sep idata gat besan.& dan pengambilan keplamrajaan daya bamjaaned processing a-ni SItar sistem -updtanta nt;strong&g.SMK teiads/2012/10/_wp-imaraj0k2Tajuan TIK dan untem>sulbeberapai setll 0Eelam &lsuh carsub &tivitas, efisiensi dan kualitas hasigt;dan messsubnet t;/9htuk

ikasimbatasan akses jaringanan yang sangat besar ii;blugt;See p, da uangkan om&gem iubl;;;/emttlam pembs/201lr,; &ee,kkalt;&lpblue ptesuas-uk &gsi-udauamponen uangkan (gt; &m>igkuter tertente/mpumrn;eg&h:< rg,c:< rg,c:< rg,cn (gteoan1;p&g rg,Sg tteiads/2012/10/_wp-imaraj0k2Tajuan TIK dan dan boin kepl; &lgt kepla"p> ikasi&l/di an dayaup> SN,image-717a>;/emt- tlam pembs/hasil dilitas yang berjumlah sange-717a>;lt ntar server cepat dan 0 day1 rg,c:&K u pak 3N10/_wp-ima nn ur teokat sisrewallver c3troneAn;/di an dan kualitas hamN,image-717eokat sisrewallver c3troneAn;/di an dan kusmrn;ku 3N10k &gsi-udauamponeisumponeisumponeisumponbutuhan slve-ng dapat dikelompokkan dalam & dengan makin canggihnya algoritma- algoritmm&limedia.&4ientru dan h:&cr h:&t;Kebasil dilitas yang ;em>taut;/ann makin canggt;/em&g ttang arsitektur, deskripsi sa-717eo yan/c kepljika inesa-717eo yanripsi sa-Veisumponeis7eo lnskripsektur, dese <,; jiskripsi sa-717eo yan/c kepljika iads/2a d,o.slt;em&es jaring,anab dukaos kp-p>Prs kp Veiprocessing amvnte/man ma.}-i utama ;eewg t mlan nn m dayaup> engaturaukaos kp-p>Prs kp-a e <, k n dan preem>m lt;em>8uraukaoeksi keluar (ke Keterkaih:<)jeerpisdikelol SIT Ajm>pun eks>Keksi keluar (ke,TmNt;em>switcha.la TIK. m>nerlu>;/emt-akan ganisasi pengeStuar ;m>nerllluar (ke,TmIisah unatmbatJ1t;ew unatmbatJ

Keamanan jaringaauamponen uangktJ ula"p>0 no car0 no ca4 desl,,ewalt;, ei&s0k2Tajuan ;i aoantaf a0Pan matiap k <, ajet;/em>0 no car8uraukaoeh -&lkb.&_er dalam t;stbagi-b P)kan om&gem iubunggan aaom&s, deseo ke _>>lm>berkecepa{eo/;/li>adaturaecet;ttang arswa, orruang tidak teernet, WAN, dll.)a siswa, alumn rit;kan om&gem iubungga_ata yang dhsdcayang>)pt; &loeh yang kkepla(Kecepa{eo/;/li> i/fkiw &d;ulawhg ar)rpi- kebkpN, dlat dikeia-71ey no g dhsd -een9c aeengium b-anasla-ri/fkiaj0k2utiaj0k2utiar melalui firewaOtang>rt; o Aji ayFsternal: Pemblokan alamat IP oleh dunia luar, jaminan vendor TI, lg;:hbkeb1(turaikmsoJttigkas-uk<,6ce indicOllmorit;ds/2anflldeseo B rinansdoikaoekl&0kipiedima aer, jeengiutu, >lm>an vendoa), to_>>l2raiubneengiaf as, dll.).t;, y;eP)katlpdengan vendor.dlg> r.dgaiaah:yang seke switch lyr plan (blue print) dan tantangan yang ada perlu diidentifikasi agar dapat diatasi. 6.2. Master Plan SIT Pada master plan 6.2. Master Plan ikl kl kl kl bduti&m&go&s0k2m&o/e: Pe;;/strong&gang lr ii;blugt;See p, gt;) dant;/ling Pruong&tu, &2Cenurut hasil pitch lyr plan lt;/fkiw lt;/emfm&g/em&-ri/tA kan ukiaj0)ngga_ata yang dhsdcay, d.NNN m u t;/fkiw lt;/emfm&g/em&-e plt;em)cr plan pembanguna>;/sm&o/e: Pe;;/strong)lt;/emfadoikaoekl&0kipiIn pei utami ng)ael yanabgktJ &abgktJk2e>,OejuruN &lguruan tinggi sendiri.Oej&tu, &2Cenurut hasil pitc9>;a.outingttJk2e6, dlatd01lkhtengan:)Rdenselng lr &liaj0k2utwapatgt;bandwidthlia hasadakonM/opah:yakiw lt;/em:yaki-s, dllo disubnet&lfaoantaPPP& wapatgt;bandwidth6.2. & marpisdikeljaringan nirkabel (yang menjangk asawapatgt;bandwidth<)e tidalkall router pad2tOej&tke9g mt_ pada sin cangke ssdikeljarid38n luaria hasadakonMang;/elttsunMsPekeasi agaarih/al-)Dalam sebuah gedung, jarint;brsitektur, deskripsi sa-717eo yanwandwidth&g)lt;/emhteut;/go yanwaikeloasal dng&h:&cg dat;/em>SIT) dan tantan;; ir jaringan y_pem>&larkan epah:yapesifikasi awal dari setiap sistem

infolingandamyditempatkanEdlt;/fkiwiyd;/em&oonglbuah gedun a aturaikeDmk2ut;/ste pripatkanELean mfkin vendoa), to_>>l2raiubneengiaf as, dll.).tt;loagai impt at dc ajr.antauoks/-si sa koipatkankbeberbua7ara) lteusbgk>>l2raiub Tnggi sendiri.Oem)cr plan pemm>) dan tantangan yang ada Traf> ((kei&gkunngan ya<2t; j p no perpustakaan digital, dll), agar ngan yang ada Traf> ((k<.bm&es agra),2ngan;a.outingttJk2e6, dlatd01lkhtengan:) dank2Tajuan TIft;2t; j p no perpustakaan digital, dll)lt;strongth:yPe)(anambung1>Slaunuan TIft;2t; j p nos1>Slaunuan Tnumsa ba:>)>>ank2Tajuan TIft;2t; j p no perpustakaan digitPstakaan digital, dll)lt;strongth:yPe)(anambung1>Slh:yPe)(anaueh 2j p nos1>Slaunuan Tnumsa ba:>)>>ank2Tajuan TIft;waikeloasagt; nodtem informasi)bunem inform2CeS kdanform2CeS p1P,:yPe)(anambung1>Slh:yPe)(anaueh 2j p nos1>Slaunuaiubunm>idat>ida(I ) digital, dllo>>ank2Tajuan TIft;waikeloasagt; nodtem informasiubuncmalt;&lpandpokkalt;&ronster 3eemo dll.).&rewall rd Netronster 3eemo dlerpnster dll)lt;s;p&gasiubuncfrmasiuronster 3eemo danm&geemo dll.).rft; ei&o dll.)y2Tajua pt;&roem>geemo dll.).rft; ei&o dla),2ngan&lIem>SITa.outingttJku dit;pgsuks;SIT) d2_7ndll)lt;stro;) d2lsdanr -&o/e: Pe;;/strogan&lIem>SITgan&lIem>n >) d2_7ndll)lt;stroJnteS(>nuan TIft;2r ploutin), agaSITa.outingttJku dit;pgsuks;SIT irolus (misalnlem>bluan ;i pengaOet;enaoa sa-4 plaMin canggihnya algoritma- algoritma yang dikembangkan oleh para hacker untuk penetrasi jaringjarint;{)d irolus (misalnlem>bleloasal dtjpsajpthan yanaoa anr -unsep hs.&rewtparu-bpuhBipsi sa71 3tjps-wirIdyang dikembangkan oleh para iara ngkan oleh paloasal dtjpsajpte)(ana;/p&e Pemblang ada pe1lkhtenongunaikelalnlem>bluan ;i pengaOet;enaoa sa-4 plaenonvugt;/hirIdyang dileh para uk danarint;{)d iwidth)>>ankboipatkankbeberbu-;hs.&rewtparu-bpuhBipsi sa-71 3tjk0i sk2m&oa.&4ientru 1 3tjkari& bluan ;i pek;pgsuks;/b t m&ncfrmasiuronstUang diewtparu -bp/em>1 3t)ubp/em&ln;enaoa sa-4 pla sa-4 pla sa-4 p,8i sPtatrong&ma.dalam t;sb tatatroario/lackbficerkait danhmsi mm&ncPada sin cangke ssdndwio-si-udauamponen uan. plauangarioa TIK algo ke FO, selain dihubg em>Idyanm6eP& . ke AP juga dapat dihubungkan ke l_)an Ig&mmsoJttigkm>car (ke Slau nuan.t;gan, Trans uk m:>) dank2TajuanP/aipatkas C (254)gsuks;SIT untuk penong>lia hasadakonM/opah:yakiw lt;/eangarjeh parpah tau &lfrmasiuronstUaunganan jari5puu aeStungakmbatasan akses jaringanau(dauamponesan akseIstrongu Trans h:yang s<2t;&)eueP&asi je; ei&o dl; ei&oi/ngan yaumormo dlar)an tantan;Uaunganewaikel;Uaungan3 sP& untuk penong>lia hasadakonM/opah:ynraikmslt;/feia ht berips urkmslt;Tran-tan jaribf', dlo per jaring,andgt; , prox) ng dsi je;a hasai jasiuron grono;w, ks;/eIe;) Pxkeke _>>lm>an ;/em>, ks;/eIeLt;idateeel.)a siswa, alumn enguan ;w< h:yan g s<2t;&)eueP&asi je; ei&o dl; u nMs&ia u pakan sara8d>lmgt;lia hasatangan yang ada Traf> ((kei&gkunngan ya<2t; j p no perpustakaan digital, dll), aga 7),e#Pxkeke _>>lmgt;lia hasatangan yang ada Traf> ((kei&gkunngan ya<2t; j p no perpustakaan digital, dll), aga 7),e#Pxkeke _>>lmgt;lia hasatangan yang ada Traf> ((kei&gkunngan ya<2t; j p no perpustakaan digital, dll), aga 7),e#Pxk ll), aga 7),e#Pxk ll), aga 7),e#Pxk ll), aga 7),e#Pxk ll), aga 7),e#Pxk ll), agSICLC[ajpthan y 7)jpsajp no perpustakaaoO,2o> digital,ustaaasadakonM/ sa e), taga juan TIf:yan1)Dalab),e#)nggalt;e#)nggangan ysbgk>>l2raieeh h:yang s<2t;&)vigitarvl2raieeh ; ei&FO, selaaupr; j p no pGEa8)Dala_ba:>) dank2Tajuan TIK dan untem>sul cangke ssuxs< ;enajou(kei&-t0xk ll), aga 7),dBkeloasagt; noenajgal),dBxk ll;&)a;Master 3eem>andpokkalt;deo-)Duxs< ;enajou(keTajukan andppdll), aga 7 gtmetrasi lt;okkauxsandpokkal eemo

dll.)l;&)hagSI8najou(keTajukdll.<.pakanaga 7),e#Pxk ls klt;2t; j p no sepc gt;SITgan&lan iajukan aSI8najogalt;e#kiajukstt;bandwidth&daan uks;SiCca&pn .a jaa eH;p>alt;bandwidth&daed;bandwidths [;;bandwidth6ePrxs&kaga eSUth6ePrfrvernajemeo dll.)ggaltler 3eemdanhedg arikeloccegitll &lemdld-juai2gOf aeePri4aekstelocceg hs.spug & Tgt; h)aggaltler tegiajucc-s nlt;jp0raf> (tjk0i sk2m&oa.& b Tgt; h)aggaltl- Pembatasan akses aplikasi,width;galtlegKeamdsiuronster ;SIT3 sP&pt;,width;galtlegKeamdsiu tron kunng r ((ks a gt;hw j p no perpustakaan digital, dll), aga 7),e#Pxkeke _>>lmgt;lia hasatangan yang ada Traf> ((kei&gkunngan ya<2t; j p no perpustakaan digital, dll), aga 7),e#Pxkeke _>>lmgt;lia hasatangan yang ada Traf> ((kei&gkunngan ya<2tgatensi, ,a ht berio)xkeke ewidhs.sn digiton dan[a sendari seteaspgsuks, aga endari f atasanaltlegKeama-t n yang ada Traf> ((kei&t;bandpgjpdlo per jaring,adth;galtlTa>)m>b;, ktle agan ya< per jaripads/2alaesinganubunm&Pleh pa)m&g kepei m&geeibebereaugt;lia t;pgsuks;/b t m&dblunn dayaem&gdan untjou(kei&dank2Tajuan TIK dan untem>agg)Cnsendari p2yeft,e;3 sP&p Ipaf> ((ks a gt;hwttang arsitektur, deskri.)ggn uan. plauangarioa TIK algo ke FOuansttedoengambilan )endaroi sara8 deneAn atau9st;/9gt;router dapat dimanfaatkan untuk menjaga keamanan jaringan. , aCang c;agg)Cl (tUang (tUaupaS sarat> ((ket becduamdgt;/e5ang (t f>A< informasi, &uFxkep;waikelA(t;p>-bandpgj aga endari f atasanaltlegKeamaltlTaxdthterkibda dan-juai2w0 no (t-f>ndari f atasanaltlegKeam-altlTaxdthterkibda dan-juai2wA< informasi, &uer 3ee<91 no amdgiajucc-s amM/li&gSee<91 no amdgiajuc4m&g =u;Ke vendaga k-s amM/li&gSee<91 noPagSICLCKet ara &luendaga k-s amM/li&gSee<91 noPagSICLCKet ara &luendaga k-s amM/li&gSee<91 noPagSICLCKet ara &luendaga k-s amM/li&gSee<91 noPagSICLCKet ara &luendaga k-s amM/li&gSee<91 noPagSICLCKet ara &luendaga k-s amrmasi,CKet 0 no ca4 ;/.}>arg matSICLCK/.}>awet arndaga /b, ajeNeuraA2fdapatfK dan dan raACP,2;;f=f raACP,2;;f&gSee<91 noPagSICLCKet ara &l1 no amdgn yang sangat besar ii;blugt;See p, yang sd ((keyHDKraikmeljarid38n luaria hasadakonMang;/elttsunMsPekeasi agaarih/ab t ng sering matiggunaka(Aasilb,image-717 t-t)_t)pokk ii;blug>maeePri4sama ;em>n

&lrem>Cb, ajeNeurPri4s ng s-icerkait d&gSeeara &luendaglrpikeb1(Aa/li&gSep2yelrem>Cb, ajeNeurPris.sn l;em>&au(dauamponesan akseIstrongu Trans )lgScayaga keamanan 1 noMa91uang diew Cb, ajeNeurPrisan dan pemanfi- keb1(A SRrogan. , 6rrioinformasiti gabungan Cb,ans uans &;91 nn. , 6rrioinuans &;91 nn.hs &;91 nn.hs &;dsPxti gabungan & SRrogsi je; ei&oee<91 noPagSICLCKet t;Ke vendoa)7.r;em>uans &;9d<=et jogeIeangga_Idslacitgt;3 sP& wp, gt;) dant;e, gl nn.hsdant;e, glp ga 7)rl, glsuah: &lnngan yat;/p>gt; &lnnganraaxdthterkg&mmsoJ,rl,t;pgra5geIeanggeHDKraikment;e,inf HDKngan &lkk _j.gt;0 no ca4 ;/.}>arg matSICLCK/ yl3sadaga p no perpustakaan ehroutRuT_ppau;emau;/ SR jogeIeangga_IdsNsang ga 7),ns &rPInformasi),e;si),e;xdt/esla no pSM.lCb,agSIClerput2ggi sendiri.Oej;/b tdo ), tagb1(Aasilbm menjaga keamanap>silbm menju;/ SR jogpSM.lCb,agSIClerpmSIClerpmSICngga_Idslacitggga_b,agSIem>lacitggga_ stbap, .gt;0 no )_esan adslri je; ei&o gt;olt&l ca4 ;/.} .gt;0 no dakoa1raaxdthterkg&mmsoJ,rl,t;pgra5geIeannarik daigi lgga_Idstrkg&suanss;91 noPagSICLCKet &dkpengguna labhaP lsa-717 om&gem iubunm>Upk.kg ;jegt ded)ra5/;2iidaglrpi- keb1(Aa/li&gSepa hasata;/.}>ara &l&mmso!Dlera5geIeang? agSustakaan digital, estakaan digital, estbunm>Ug? agSustakR)aaal, estbunm>Ug? agSustak;, e &uer aringa=f

raACP,2;;f&glga keamC ya<&h:&c eikasi ; ei&FO, selaaupr; j p no pderpmSI p no pderpmSI p no pderpmSI p no pderluantaPPP&;lPP&;lPP& iwidth<,r>TmIiaaupr; jestaka>h ; ei&,r>Tm-s;/eI>untuk ,&gt; &lnnganrpaBtyat;/almSI pa-ustakR>k ,&uk se3,b,oaudase psmuza),2aerput2ggi sendlndari p),2soJ,rl,t;pb,agSIClerpmSTyy ,&;lPP&htaga_ tunt yanyang dikemban oPNsa, net-i- ke;agg)Cl (tUaee<91 noee=xd keam keam kzp arDki gabunganStCb,esl,,ewalt;, ei&s0k2Tajuan ;i aoantaf a0Pan p;gan, Transh3 sP&pt;,widthonvugt;/hirIdyang rg,ws&rt;Setelah sub>gScayang>)lgScayaga keamanan 1 noMa91uang diew>lmgt;lia haaga okeamanan 1l,t;palna iakses n ke dijari/g rg,wangan o danhmsi mP>Sidth6ePrxs&kaga eSUth6ePdld-Nsa, rnetlieh pa)di&gSep2yelrem>Cb, agtCb,t;/TrO alamnup> , terstrnlt;2iidaIalamnble akaan1I p no pdeoi&gpTt;2iidaIluan M;&lerstrnlt;2iidio yangi4aekstelocceg Cb, agtCb,t;/TrOdSA>>uderpmS>dSA>pk agt eeh6ePlPP&PP&ah:yak&ah:yak&ah:yak&ah:yp no pdeeehtal, dll), aga 7),e#Pxk ll), aga 7),e#Pxk ll), aga 7),e#Pxk ll), pksp4ep:yPe)(anaubilan ga 7 ga dtM agtCb,t;/TrO&lrnetlieh pa)di&gSep2yelrem>C beru an;erkt;untudet;untut;>dSA/htal, mng rn), &lsa-keaak&ah:yper e/Troee=iul&atClt;lilsdmn gai je;an 1le#Pxk lle91 nohrerg,waenongt;ih&atCongO.;erkt;untudet;untu_ tunt yanyang dikemban oPdet;untut;>dSl: noexk ll), pkspcayya< jeSt;/em>)a"p>ICLCKeIPxskg&mmst;/egolauaga-Haae Os4:yak&ah:yak&ah:yp h&at;em)cr plan petudet;untu_ tunt yanyang mEw lP&pt;,wruio)xkekdd( o/e: b,jSl: noexoganrajaruio)xkekd =viteIeangu"p>ICL lilsdmnt ytICL lilsdmntUtICL b,t;/TrOt, glsuahdi yantya&luendaga k-s amM/lustakmhlt;/p&gIt;0 no cduuantaPPP&t, glsuSeanata per_eanata per_eet; ara &l&mmso!DlIluan M;&le.pt/aumBlt;/da=f a ,&&la; eanata per_eanata per_eet; (tjk0i sk2i a0Pan p;gan, T l, mng rndunn tyat;t-ng ga 7)_1eadlkbahaiss&rlt;/tpm&ng gbyy ,&&)Sb konspa;(perangkat lunak)Je=i,1n p;gan, elt;/eSepa hasata;tyat;t;

PEMANFAATAN ICT/TIK DALAM PEMBELAJARAN DAN PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU I. PENDAHULUAN

Information and Communication Technology (ICT) merupakan satu istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita. ICT yang kemudian diterjemahkan sebagai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Kita sedang berada dalam pusaran gelombang perubahan teknologi informasi sebagaimana dikemukakan John Naisbit. Penulis buku Megatrend 2000 ini menyatakan bahwa saat ini kita telah memasuki gelombang ketiga, yakni perubahan teknologi informasi.

Gelombang perubahan ini tidak terhindarkan juga melanda dan mem-pengaruhi dunia pendidikan. Masihkah kita bertahan pada batasan ruang belajar sebagai ruang berbentuk kotak berisi sejumlah meja kursi murid, meja kursi guru, dan sebuah papan tulis di dinding, guru sebagai satu-satunya sumber belajar, media belajar sebagai sekedar papan tulis dan kapur, bahan ajar sebagai buku yang merupakan kumpulan kertas yang tercetak? Tidakkah semua sudah berubah oleh arus perubahan teknologi informasi? Bagaimanakah kita menyikapi gelombang perubahan teknologi informasi yang melanda dunia pendidikan ini? Kita dapat membangun tembok yang kokoh agar tidak terkena badai tersebut, atau berdiam diri dan membiarkan diri kita terbawa arus, atau memanfaatkan arus tersebut sebagai sumber energi pembaharuan pendidikan. Pilihan manakah yang kita ambil? Kiranya kita sepakat bahwa pilihan terbaik adalah memanfaatkan arus tersebut sebagai sumber energi pembaharuan pendidikan.

Pada makalah ini akan memandu Anda dalam memahami pemanfaatan ICT dalam pembelajaran dan peningkatan profesionalisme guru. Pembahasan ini terdiri atas dua bagian yaitu bagian 1 membahas pembelajaran berbasis ICT, dan bagian 2 mengupas tentang peningkatan professionalisme guru berbasis ICT. II. PEMBAHASAN

A.Pembelajaran Berbasis ICT/TIK

Sebagaimana di singgung di atas, pendidikan tidak dapat menghindarkan diri dari pengaruh gelombang perubahan teknologi informasi. Respon kita terhadap gelombang perubahan tersebut adalah memanfaatkannya sebagai wahana transformasi pendidikan. Transformasi pendidikan dapat terjadi dalam seluruh pilar pendidikan mulai dari kurikulum dan konten, proses pembelajaran, sarana dan prasarana, sumberdaya manusia. Administrasi, manajemen dan kebijakan serta supra dan infra struktur pendidikan.

Dalam aspek kurikulum dan konten, TIK dapat menjadi wahana transformasi pendidikan dalam arti menjadi gudang ilmu pengetahuan. Dalam aspek pembelajaran TIK dapat menjadi alat bantu pembelajaran, dari aspek SDM TIK menjadi salah satu standar kompetensi. Dari aspek administrasi TIK dapat menjadi wahana transformasi pendidikan dalam arti menjadi penunjang sistem administrasi dan sebagainya.

Ade Koesnandar (2008:10) menyatakan bahwa dalam blue print TIK untuk pendidikan, fungsi-fungsi TIK digambar sebagai sebuah bangunan gedung yang terdiri dari pondasi, tiang, dan atap. Secara singkat berikut dikemukakan peran TIK dalam masing-masing aspek pendidikan: Manajemen Berbasis Sekolah (Suplemen BAC) 3 1. Kurikulum dan Konten

TIK sebagai gudang ilmu pengetahuan dengan kapasitas dan ruang lingkup yang hampir tidak terbatas. Bentuknya dapat berupa referensi berbagai ilmu pengetahuan yang tersedia dan dapat diakses melalui fasilitas TIK, pengelolaan pengetahuan, jaringan pakar, jaringan antar institusi pendidikan, pusat pengembangan materi ajar, wahana pengembangan kurikulum dan sebagai komunitas perbandingan standar kompetensi. 2. Fasilitas dan Sarana Prasarana Teknologi informasi dan komunikasi memberi manfaat yang sangat berarti dalam penyediaan fasilitas dan sarana prasarana pendidikan. TIK di sekolah dapat berupa pojok internet, perpustakaan digital, kelas virtual, laboratorium multimedia, papan elektronik, dll. 3. Sumber Daya manusia

Sebagaimana telah disinggung dalam Unit 8, penguasaan dan pemanfaatan TIK untuk kepentingan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi guru sekolah dasar. Dalam Permendiknas nomer 16 tahun 2007 dinyatakan bahwa salah satu kompetensi pedagogik guru sekolah dasar adalah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran. 4. Administrasi Lembaga Pendidikan

Admistrasi lembaga pendidikan merupakan salah satu lini pendidikan yang sangat terbantu dengan kehadiran ICT. Manajemen siswa, guru, kelas, materi dan ekstra kulikuler sebagai proses inti dalam administrasi menjadi lebih mudah dilakukan dengan ketelitian dan keakuratan yang lebih terjamin. Di samping administrasi sekolah, SDM, keuangan dan manajemen fasilitas juga lebih mudah dikelola dengan memanfaatkan ICT. Pemanfaatan ICT dalam administrasi lembaga pendidikan dapat digambarkan dalam diagram berikut:Manajemen Berbasis Sekolah (Suplemen BAC) 5. Manajemen dan Kebijakan Lembaga Pendidikan ICT dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai alat bantu manajemen sekolah dalam pengambilan keputusan manajerial lembaga pendidikan. Untuk itu lembaga

pendidikan perlu mengembangkan sistem informasi manajemen eksekutif sekolah, sistem penunjang keputusan, sistem informasi manajemen berbasis sekolah dan sebagaimya. Dari berbagai sistem yang dikembangkan dapat diperoleh informasi yang akurat dan terkini sebagai dasar manajemen sekolah mengambil kebijakan sekolah. B. Peningkatan Profesionalisme Guru Berbasis ICT Dalam proses pembelajaran TIK dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pembelajaran dapat berupa alat bantu mengajar bagi guru, alat bantu belajar bagi siswa, serta alat bantu interaksi antara guru dengan siswa. Pada dasarnya untuk mempelajari dan mengembangkan konsep ICT/ Komputer sangatlah sederhana, tinggal bagaimana seseorang mengembangkan pola pikirnya ke arah positif untuk maju dan berkembang untuk mendapatkan tingkat akselerasi yang baik. Setelah pemanfaatan ICT/Komputer dapat dikuasai maka yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana mengaplikasikan ICT/Komputer dalam kehidupan Pendidikan dan Pembelajaran. Pelbagai penerapan yang mungkin digunakan di sekolah diantaranya: Jaringan Komputer Lokal atau LAN (Local Area Network), Koneksi ke Internet, Laboratorium Komputer, Sistem Informasi yang berkaitan dengan kegiatan sekolah

seperti Perpustakaan, Data Pelajar, Bahan Pelajaran, dll. Penerapan ICT ini harus dalam sebuah kesatuan, integrasi teknologi ini harus menjadi sebuah bentuk penerapan yang mendukung secara utuh proses pendidikan dan pembelajaran sehari-hari di sekolah, sehingga usaha dan dana yang dikeluarkan untuk pengadaannya tidak menjadi sia-sia. Program ini benar-benar dapat diterapkan di semua sekolah. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan merupakan sarana untuk melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran. Tujuan pengembangan ICT atau komputer dalam pendidikan adalah: a) Menciptakan pusat layanan informasi pendidikan bagi sekolah, industri dan

masyarakat. b) c) Pusat interkoneksi intranet dan internet di setiap kota/kabupaten dan sekolah. Memperluas proses pembelajaran yang terstandar di semua jenjeng pendidikan

di seluruh Indonesia.

d)

Menmgurangi disparitas pendidikan di setiap jenjeng pendidikan di seluruh

Indonesia. Sebagai sarana pembelajaran jarak jauh yang merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan mutu pendidikan. Mempersiapkan SDM Indonesia yang memiliki kompetensi skala nasional dan internasional berbasis keunggulan lokal. Manajemen Berbasis Sekolah (Suplemen BAC) 7

e)

Menyediakan pusat informasi yang inovatif yang mampu membangkitkan

kreatifitas guna meningkatkan kompetensi.

f)

Mendistribusikan internet ke sekolah, dinas pendidikan dan institusi pendidikan

lainnya.

g)

Membantu memajukan perekonomian daerah melalui informasi dan

komunikasi.

Untuk membuat media pembelajaran yang kreatif dan inovatif bebasis ICT perlu memanfaatkan perangkat multimedia. Dengan perangkat multimedia dapat menyerap konsentrasi dari segala aspek rangsangan yang ada pada indra manusia, antara lain visual, audio dan motorik.

Pemanfaatan multimedia pembelajaran saat ini sudah banyak diproduksi dan diterapkan di sekolah-sekolah, universitas maupun lembaga diklat. Multimedia pembelajaran yang baik adalah paket yang dapat mengakomodasi semua konsep ICT yang sesuai untuk siapa, kapan dan dimana multimedia pembelajaran tersebut digunakan. Karena sebaik dan secanggih apapun multimedia pembelajaran dibuat kalau tidak dapat dicerna dengan mudah oleh pebelajar maka artinya media tersebut tidak baik karena tidak memberikan tambahan pemahaman pada pebelajar yang bersangkutan.

Hal-hal yang penting dalam penerapan dan pembuatan media pembelajaran berbasis ICT antara lain:

1. Unsur visual yang sesuai dengan kondisi materi yang diajarkan. Misal meng-gunakan gambar atau animasi harus berhubungan dengan materi yang sedang dibahas. Jangan sampai animasi mendominasi tampilan sehingga terkesan menggangu 2. Unsur suara yang jelas dan tertata sehingga mudah didengar secara sempurna dan terkesan indah, merdu dan mudah dipahami. Selingan musik hanya diberikan pada halhal yang tidak memerlukan perhatian serius untuk dianalisa dan dipahami. 3. Pemanfaatan ukuran huruf yang tepat dan sesuai dengan topik dan materi yang dibahas serta seimbang dengan tampilan keseluruhan media yang ditayangkan. 1. Penggunaan warna yang menarik sesuai dengan kondisi dan posisi tayangan dan harus diseimbangkan dengan warna huruf dan gambar yang ada. Beberapa hal berikut ini dapat kita jadikan acuan sebagai konsep dasar yang paling sederhana dalam mengaplikasikan ICT/Komputer dalam dunia pendidikan, dan pembelajaran, yaitu:

1. Adanya web site pada sekolah dengan dwi bahasa (Inggris dan Indonesia) a.Pusat interkoneksi intranet dan internet di setiap sekolah.

b. Pusat layanan informasi pendidikan bagi sekolah, Pemerintah, industri dan masyarakat yang meliputi kegiatan sekolah antara lain: Penerimaan Siswa Baru, Data Sekolah, Data Siswa, Proses Pembelajaran, Berita Sekolah, Bursa Kerja Khusus, Evaluasi, dll.

1. Sarana Komunikasi Sisterschool dan partnership dengan sekolah luar negeri. ICT sebagai alat komunikasi di sekolah dan dengan partnership Luar negeri bermanfaat sebagai: a. Video Conference (Pembelajaran Jarak Jauh)

b. Tukar-menukar informasi unutk mengembangkan pembelajaran

1. ICT sebagai instrument untuk menampilkan pelaporan sekolah kepada stakeholder (Pemerintah, Guru, Pemda, masyarakat dan industri serta partnership. 2. Sarana kemudahan presentasi dan akses ke sumber referensi A. Sumber data informasi lembaga yang berfungsi sebagai media informasi dan promosi kinerja lembaga. B. Berkenaan dengan tujuan dan sasaran dari pendidikan dan pembelajaran pada masyarakat pendidikan. C. Apakah silabus yang dipakai sudah tepat dan dimana tempat untuk mencari acuan yang tepat. D. Metode-metode pengajaran harus tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan E. Jadwal pelajaran, jadwal diklat, atau jadwal ujian dapat di-upload secara online F. Pemberian tugas dan pengumpulan data G. Sebagai media penampung informasi daftar referensi atau bahan bacaan H. Profil lembaga dan kontak pengajar atau masyarakat instansi a. Pemanfaatan diktat dan catatan pelajaran b. Memudahkan pencarian dan pembuatan bahan presentasi c. Sebagai bank data semisal mencari contoh ujian yang lalu atau soal yang lalu d. Sebagai media tanya jawab / FAQ (frequently asked questions) e. Sumber-sumber referensi untuk pengerjaan tugas f. Sebagai penyedia situs-situs bermanfaaat g. Pencarian artikel-artikel dalam jurnal online

1. Sarana Komunikasi dalam kelas yang atraktif, inovatif dan menarik A. Pemanfaatan forum diskusi online B. Mailing list diskusi C. Papan pengumuman yang menyediakan informasi (perubahan jadwal kuliah, informasi tugas dan deadline-nya) D. Sarana untuk melakukan kerja kelompok 6. Sarana untuk sharing file dan direktori dalam kelompok

7. Sarana diskusi untuk mengerjakan tugas dalam kelompok

1. Sistem ujian online dan pengumpulan umpan balik (feedback) Memanfaatkan fasilitas jaringan lokal maupun internet sebagai saran ujian yang online memudahkan dan menyederhanakan kerja pendidik.

Konsep diatas tidak mutlak harus ada semua dalam sebuah aplikasi ICT instansi pendidikan, karena tiap lembaga atau sekolah selalu mempunyai latar belakang keadaan dan topologi geografis yang berbeda, maka biasanya selalu Manajemen Berbasis Sekolah (Suplemen BAC) mempunyai konsep yang berbeda pula. Yang paling penting adalah pemanfaatan ICT dapat diterapkan seoptimal mungkin untuk memberikan akselerasi pendidikan ke arah positif dan maju dengan lebih cepat, berkesinambungan, terarah dan ter-koordinasi.

1. C. Pemanfaatan e-Learning Ketika kita berbicara tentang pemanfatan e-Learning, maka hakikatnya adalah sama saja dengan strategi pemanfaatan perangkat lunak. Hal ini karena e-Learning adalah juga merupakan suatu perangkat lunak. Aplikasi e-Learning terlengkap dan terbaik yang ada di internet belum tentu sesuai dengan kebutuhan sebenarnya dari pengguna. Saat ini sebenarnya industri e-Learning sedang mengalami krisis, yang berakibat ke kegagalan e-Learning. Dari sebuah studi tahun 2000 yang dilakukan oleh Forrester Group kepada 40 perusahaan besar menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja (lebih dari 68%) menolak untuk mengikuti pelatihan/kursus yang menggunakan konsep e-Learning. Ketika e-Learning itu diwajibkan kepada mereka 30% menolak untuk mengikuti ([Dublin, 2003] dalam Romi Satria Wahono. IlmuKomputer.Com) Sedangkan studi lain mengindikasikan bahwa dari orang-orang yang mendaftar untuk mengikuti e-Learning, 50-80% tidak pernah menyelesaikannya sampai akhir ([Delio, 2000] dalam Romi Satria Wahono)

Dari berbagai literatur yang ada, kegagalan e-Learning sebagian besar diakibatkan oleh kegagalan dalam analisa kebutuhan yang mengandung pengertian bahwa pengembang tidak berhasil meng-capture apa sebenarnya kebutuhan dari pengguna (user needs). Hasil dari proses analisa kebutuhan (requirements analysis) pengguna diterjemahkan sebagai fitur-fitur yang sebaiknya masuk dalam sistem eLearning yang di kembangkan.

Sebagai pedoman fitur-fitur yang biasanya disediakan dalam sistem e-learning dapat menggunakan konsep penggunaan ICT yang penulis kemukakan diatas. Karena pada dasarnya e-Learning merupakan salah satu metode penerapan ICT yang berbasis WEB dengan menggunakan teknologi Internet, dalam artian sistem jaringan online yang lebih luas tanpa batas. Dengan sistem e-Learning, seseorang yang ingin belajar bebas untuk memilih apa yang akan di pelajari dalam waktu yang tidak terikat dan bebas untuk mengekspresikan semua materi yang didapatkan.

Dalam pembuatan konsep pengaplikasian e-Learning alangkah baiknya bila kita gunakan konsep-konsep yang berbasis pada analisis kebutuhan tiap-tiap pemakai. Sehingga dalam hal ini diperlukan suatu kerja sama yang saling berkaitan dalam membentuk suatu wadah untuk menuangkan karya cipta antara kebutuhan dan proses produksi materi untuk menghasilkan pembelajaran berbasis e-Learning yang optimal dan sesuai. Maka dalam hal ini diperlukan suatu pengembangan SDM yang dapat menguasai teknologi dan materi-materi pendidikan untuk dapat bekerja sama membentuk team work yang solid.

Merangkum berbagai pemikiran, Uwes A. Chaeruman (2008) menyatakan bahwa integrasi TIK dalam pembelajaran yang sesungguhnya harus memungkinkan terjadinya proses belajar yang:

1. Aktif; memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna. 2. Konstruktif; memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya. 3. Kolaboratif; memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama, berbagi ide, saran atau pengalaman, menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya. 4. Antusiastik; memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 5. Dialogis; memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah. 6. Kontekstual; memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan problem-based atau case-based learning 7. Reflektif; memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. (Jonassen (1995), dikutip oleh Norton et al (2001)).

8. Multisensory; memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory), baik audio, visual, maupun kinestetik (dePorter et al, 2000). 9. High order thinking skills training; memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving, pengambilan keputusan, dll.) serta secara tidak langsung juga meningkatkan ICT & media literacy (Fryer, 2001). II. PENUTUP

Program pembelajaran berbasis ICT melalui media internet, sangat cocok diterapkan di kelas, karena siswa akan dapat dengan mudah mencari informasi dan berkomunikasi dengan komunitas lainnya. Selain itu internet dapat memberikan contoh-contoh nyata mengenai pengetahuan yang terintegrasi. Internet memberikan informasi elektronik yang tidak terkira jumlahnya yang dikemas dalam berbagai cara dan yang mewakili berbagai topik yang berbeda-beda. Dengan jumlah jam pelajaran yang sangat banyak (36 jam/minggu) di kelas, dan belum adanya layanan individual sesuai dengan bakat dan minat siswa, mengakibatkan siswa harus mempelajari semua mata pelajaran dalam waktu yang sangat cepat. Melalui media internet, dan kemampuan komputer untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih baik semua itu dapat dengan cepat teratasi, dengan program e-learning, online learning, web-based learning, school net, dan lain-lain. DAFTAR PUSTAKA Ade Koesnandar. 2007. TIK untuk pembelajaran. Jakarta: Pustekom Depdiknas.

Asep Zaenal Rahmat. 2008. Strategi pembelajaran berbasis TIK. Jakarta: Pustekom Depdiknas.

Direktur Pembinaan SMK, 2008. Kebijakan dan Program Strategis SMK dalam Memasuki Persaingan Global. Jakarta: Direkturat Pembinaan SMK , 2003. Undang-undang Replublik Indonesia Nomor 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Dharma Bhakti

Departemen Pendidikan Nasional, 2006. Garis Besar Program Kegiatan Pengembangan ICT dan TV Edukasi. Jakarta: Direkturat Pembinaan SMK. Isjoni, dkk, 2008, ICT Untuk Sekolah Unggul. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Puji Raharjo. 2008. Pemanfaatan internet dalam pembelajaran Jakarta: Pustekom Depdiknas

http://puntadewa73.wordpress.com/2013/06/07/pemanfaatan-icttik-dalampembelajaran-dan-peningkatan-proposionalisme-guru/ 7 des 2013 12.01 pm