Anda di halaman 1dari 4

Potensi Kayu Galam Melaleuca cajuputi di Habitat Lahan Rawa Gambut di Kalimantan Selatan

Lahan rawa adalah lahan yang sepanjang tahun atau beberapa bulan dalam setahun selalu basah, atau jenuh air (water logged), atau mempunyai air tanah yang dangkal, bahkan tergenang. Lahan rawa adalah merupakan lahan yang menempati posisi peralihan antara sistem daratan dan perairan, yaitu mencakup wilayah peralihan antara daratan dan laut, dan antara lahan kering (upland) dan sungai-sungai besar. Lahan rawa gambut merupakan hutan rawa yang tumbuh di atas tanah gambut dengan kedalaman gambut paling sedikit 50 cm. Hutan atau rawa gambut yang ada di Indonesia merupakan gabungan antara hutan gambut dan hutan hujan tropis. Pengelolaan hutan dan lahan gambut perlu dilakukan secara bijaksana dan hati-hati, hal ini disebabkan karena hutan atau rawa gambut merupakan suatu ekosistem yang mudah rapuh, sehingga kalau pengelolaan tidak dilakukan secara benar, hutan tersebut tidak akan lestari. kelebihan air dari daerah-daerah sekitarnya dan mengurangi resiko banjir. Hutan rawa gambut juga merupakan sumber daya alam yang dapat bersifat berkelanjutan karena memiliki berbagai jenis kayu yang berharga. Jenis pohon yang tumbuh di areal rawa gambut sangat spesifik dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi baik dari hasil kayunya maupun hasil non kayu seperti getahgetahan, rotan, obat-obatan dan lain-lain. Beberapa jenis kayu komersil tinggi seperti ramin (Gonystylus bancanus), meranti rawa (Shorea pauciflora, Shorea tysmanniana, S.uliginosa), jelutung (Dyera lowii), nyatoh (Palaquium spp), bintangur (Calophyllum spp), kapur naga (Calophyllum macrocarpum) dan lain-lain. Lahan rawa gambut yang mengalami degradasi baik sebagai akibat penebangan liar, penjarahan dan kebakaran hutan dan lain-lain ini harus segera dilakukan rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi ekologis maupun meningkatkan produktivitasnya sehingga fungsi ekosistem itu dapat segera pulih kembali. Disamping menyediakan berbagai hasil hutan dan berbagai jenis ikan, hutan rawa gambut juga menjadi habitat berbagai jenis satwa langka seperti Fauna yang spesifik yang ada di hutan rawa gambut di antaranya adalah orang utan (Pongo pygmaeus), bakantan (Nasalis larvatus), beruang madu

(Helarctos malayanus), owa (Hylobates agilis), burung rangkong (hornbills), macan daun, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan lain-lain. Secara ringkas, tanah di lahan gambut adalah tanah-tanah yang tersusun dari bahan tanah organik yang jenuh air dengan ketebalan 50 cm atau lebih. Dikaitkan dengan ketebalan bahan organik, maka tanah mineral yang mempunyai lapisan gambut di permukaan 20 50 cm disebut sebagai tanah mineral bergambut (peaty soil). Dikatakan sebagai tanah mineral murni apabila lapisan gambut dipermukaaan < 20 cm. Dalam klasifikasi tanah lama, tanah gambut disebut organosol. Lahan rawa gambut secara umum memiliki kapasitas penyerapan dan penyimpanan air yang sangat besar yaitu antara 0,8-0,9 m3/m3 gambut (Notohadiprawira, 1997), sehingga lahan gambut merupakan suatu resevoir air yang besar. Lahan rawa gambut di Kalimantan Selatan dijumpai di Kabupaten Barito Kuala, Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Tapin dan Kota Banjarbaru. Vegetasi kawasan ini banyak didominasi oleh jenis kayu galam (Melaleuca cajuputi) yang tumbuh secara alami. Jenis flora pohon ini membentuk adaptasi terhadap lingkungan rawa, air tawar yang pada umumnya memiliki pH rendah (35) dan kurang subur membentuk sosok hutan rawa galam. Sekilas hutan rawa galam dikawasan ini seperti lahan terlantar yang tidak berharga. Lahan ini mempunyai fungsi hidrologi dan lingkungan bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta makhluk hidup lainnya sehingga harus dilindungi dan dilestarikan. Secara ekologis keberadaan hutan rawa galam mempunyai fungsi dan manfaat sebagai berikut : 1. Sebagai sumber cadangan air, hutan rawa dapat menyerap dan menyimpan kelebihan air dari daerah sekitarnya dan akan mengeluarkan cadangan air tersebut pada saat daerah sekitarnya kering atau dengan kata lain banjir dapat dicegah, intrusi air laut kedalam air tanah dan sungai pun dapat dihindari. 2. Sebagai pelindung lingkungan ekosistem daratan dan penyerap CO2 dan penghasil O2

3.

Sebagai sumber bahan makanan nabati dan hewani dimanfaatkan sebagai sumber mata pencaharian penduduk sekitarnya.

4. 5.

Penyedia bahan baku berbagai keperluan hidup bagi berbagai masyarakat local Kayu Galam sebagai penyedia bahan baku industri dan berbagai komoditas perdagangan yang bernilai ekonomis tinggi yang dapat menambah devisa Negara. Manfaat ekonomis hutan rawa seperti hasil berupa kayu (kayu konstruksi, tiang/pancang, kayu bakar, arang dan lain lain). Sedangkan hasil hutan ikutan (tannin,madu, obat-obatan)

6.

Jasa lingkungan (ekowisata) Eksploitasi lahan rawa gambut diKalimantan Selatan seharusnya didukung oleh

kebijakan-kebijakan pengelolaan lahan rawa gambut untuk mengatur dengan jelas keberadaan lahan bergambut karena fungsi ekologisnya. Selain itu pengelolaan flora pohon jenis galam (Melaleuca cajuputi) ini menjadi penting karena kaitannya dengan kebutuhan bahan baku industri dan rumah tanggga masyarakat. Sekarang ini di Kalimantan Selatan sering terjadi banjir, hal ini salah satunya penyebabnya karena keberadaan hutan galam semakin berkurang luasannya banyak yang berubah fungsi baik sebagai pemukiman, perkantoran maupun sebagai perkebunan. Hal ini tidak dapat dipungkiri mengingat semakin sempitnya kawasan saat ini. Hal ini timbul sebagai dampak keberadaan hutan rawa galam sebagai kawasan resapan, yang sudah sangat sempit luasannya. Di lain pihak kawasan lahan gambut juga merupakan sumber cadangan air yang harus terus dijaga dan dipertahankan. Namun, seperti halnya kawasan hutan tropik pada umumnya, lahan rawa gambut merupakan ekosistem yang rapuh (fragile), tidak subur karena sistem hara tertutup sehingga pemanfaatannya harus bijaksana (a wise landuse) dan berpegang teguh karakteristik lahan. Nilai konservasi hutan atau lahan rawa gambut yang sangat tinggi karena fungsifungsi seperti fungsi hidrologi, cadangan karbon, dan biodiversitas yang penting untuk kenyamanan lingkungan dan kehidupan satwa. Jika ekosistemnya terganggu maka pada

intensitas dan frekuensi bencana alam akan makin sering terjadi. Lahan gambut tidak hanya merupakan sumber CO2, tetapi juga gas lainnya seperti metana (CH4) dan nitrousoksida (N2O). Selain berubahnya fungsi kawasan bergambut, pemanfaatan kayu galam didalam kawasan ini sangat tinggi. Masyarakat mengambil kayu galam untuk kebutuhan lokal maupun untuk di ekspor ke luar Kalimantan. Sampai saat ini tidak ada aturan yang mengatur mengenai tata cara pemungutan dan teknik permudaan serta pelestarian kayu galam tersebut. Sampai saat ini permudaan hutan rawa galam masih mengandalkan permudaan alam, hal ini karena jenis galam termasuk jenis tumbuhan yang tahan terhadap kebakaran dan kekeringan. Ini disebabkan ekologis galam yaitu fire-climax, dimana daerah bekas kebakaran menyebabkan biji galam akan tumbuh dengan cepat dan lama kelamaan akan mendominasi daerah tersebut (Lazuardi dan Supriadi, 2000). Lahan rawa gambut tropika di Kalimantan Selatan memiliki keanekaragaman hayati dan merupakan sumber plasma nutfah yang potensial, sehingga mempunyai nilai konservasi yang tinggi. Fungsi-fungsi lain lahan rawa gambut seperti fungsi hidrologi, cadangan karbon, dan keanekaragaman hayati yang penting untuk daya dukung kehidupan manusia sekitarnya. Oleh karena itu, pengelolaan lahan rawa gambut dan vegetasi di atasnya perlu menerapkan pendekatan konservasi. Semua itu dapat diakomodir dengan suatu Peraturan Daerah yang dapat mengatur agar fungsi kelestariaan hutan rawa gambut dapat terus dipertahankan dan keberadaan hutan rawa gambut dapat dimanfatkan oleh masyarakat sehingga dapat terwadahi semua kepentingan yang ada. Agar pemanfaatan lahan bergambut dapat terlaksana berdasarkan fungsinya : Pertama, lahan rawa gambut untuk kawasan lindung, kawasan pengawetan, yakni kawasan yang tidak boleh dibuka sesuai kriteria kawasan lindung dan pengawetan. Kedua , kawasan budidaya. Kawasan yang memungkin dilakukan usaha pertanian dan non pertanian ( pemukiman dan industri tertentu yang ramah lingkungan). Ketiga, pemanfaatan kayu galam pada kawasan lawan rawa tersebut diatur untuk membatasi pemungutan yang berlebihan.