Anda di halaman 1dari 13

COST VOLUME PROFIT ANALYSIS (CVP)

Cost Volume Profit Analysis merupakan bagian dari akuntansi manajemen. Menurut Blocher (2000), analisis CVP merupakan metode untuk menganalisis bagaimana keputusan operasi dan kerputusan pemasaran mempenagruhi laba bersih, berdasarkan pemahaman tentang hubungan antara biaya variabel, biaya tetap, harga jual per unit dan tingkat output. Menurut Hansen & Mowen (2005), analisis biaya-volume-laba (cost volume profit analysis) merupakan suatu alat yang sangat berguna untuk perencanaan dan pengambilan keputusan. Sedangkan menurut Garrison, dkk (2006), analisis biaya-volume-laba adalah satu dari beberapa alat yang berguna bagi manajer dalam memberikan perintah. Analisis CVP dapat menjadi alat yang berharga untuk mengidentifikasi luas dan besarnya masalah ekonomi yang dihadapi perusahaan dan membantu menunjukkan secara tepat jawaban yang diperlukan. Analisis CVP juga dapat ditujukan pada banyak isu lainnya, seperti: jumlah unit yang harus dijual agar impas, dampak pengurangan biaya tetap pada titik impas; dan dampak peningkatan harga pada laba. Sebagai tambahan, analisis CVP memungkinkan manajer untuk melakukan analisis sensitivitas dengan menguji pengaruh berbagai tingkat harga atau biaya pada laba. Menurut Bustami (2006), analisis cost volume profit dapat digunakan untuk hal-hal sebagai berikut: 1. Mengetahui jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. 2. Mengetahui jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh tingkat keuntungan tertentu. 3. Mengetahui seberapa jauh berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. 4. Mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan volume penjualan. 5. Menentukan bauran produk yang diperlukan untuk mencapai jumlah laba yang ditargetkan.

Margin Kontribusi Margin kontribusi menurut Garrison, dkk (2006) adalah jumlah yang tersisa dari pendapatan dikurangi beban variabel. Margin kontribusi merupakan jumlah yang tersisa untuk menutup biaya tetap dan memberikan keuntungan. Margin kontribusi juga dapat

disajikan dalam bentuk persentase. Hansen & Mowen (2005) menyatakan bahwa rasio margin kontribusi (contribution margin ratio) adalah bagian dari setiap dolar penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba. Adapun rumus rasio margin kontribusi adalah: Rasio Margin Kontribusi : Margin Kontribusi Penjualan

Margin kontribusi memberikan informasi tentang seberapa jauh volume penjualan boleh turun dari yang dianggarkan namun perusahaan tidak menderita rugi. Dengan kata lain, margin kontribusi merupakan batas keamanan bagi perusahaan dalam hal terjadi penurunan penjualan, berapa pun penurunan penjualan yang terjadi sepanjang dalam batas-batas tersebut perusahaan tidak akan menderita rugi. Margin kontribusi juga dapat membantu manajer untuk mengetahui besarnya resiko yang terkandung dalam suatu rencana penjualan. Perusahaan yang mempunyai margin kontirbusi yang besar dikatakan lebih baik karena rentang penurunan penjualan yang dapat ditolerir adalah lebih besar sehingga kemungkinan menderita kerugian rendah. Namun sebaliknya jika margin kontribusi rendah, kemungkinan perusahaan untuk menderita kerugian besar. Dalam hal ini, manajer dapat

mempertimbangkan untuk meningkatkan volume penjualan atau menurunkan biayanya. Langkah ini akan membantu untuk menurunkan timbulnya resiko kerugian.

Analisis Titik Impas Pengertian Analisis Titik Impas (Break Event Point) menurut Bustami (2006): Suatu cara atau teknik yang digunakan oleh seorang manajer perusahaan untuk mengetahui pada volume (jumlah) penjualan dan volume produksi berapakah suatu perusahaan yang bersangkutan tidak menderita kerugian dan tidak pula memperoleh laba. Bustami (2006) mengemukakan bahwa analisis biaya, volume, dan laba maupun titik impas akan memberikan hasil yang memadai apabila asumsi berikut terpenuhi: 1. Perilaku penerimaan dan pengeluaran dilukiskan dengan akurat dan bersifat linier sepanjang jangkauan (rentang) yang relevan. 2. Biaya dapat dipisah menjadi biaya tetap dan biaya variabel. 3. Efisiensi dan produktivitas tidak akan berubah. 4. Harga jual tidak akan mengalami perubahan. 5. Biaya-biaya tidak berubah. 6. Bauran penjualan tetap konstan. 7. Tidak ada perbedaan yang signifikan (nyata) antara persediaan awal dan persediaan akhir.

Kegunaan dari break even point antara lain: 1. Sebagai dasar untuk merencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai laba tertentu. Jadi dapat digunakan untuk perencanaan laba atau profit planning 2. Sebagai dasar untuk mengendalikan kegiatan yang sedang berjalan, yaitu untuk alat pencocokan antara realisasi dengan angka angka dalam perhitungan break even atau dalam chart break even atau sebagai alat pengendalian atau controlling. 3. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual, yaitu setelah diketahui hasil hasil perhitungannya menurut analisa break even dan laba yang ditargetkan. 4. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan dengan terlebih dulu melihat berapakah titik break even-nya.

Asumsi asumsi yang diperlukan supaya dapat menganalisa break even adalah : 1. Bahwa biaya biaya yang ada harus dapat diidentifikasikan atau ditetapkan sebagai biaya tetap dan biaya variabel. Biaya yang meragukan apakah sebagai biaya variabel atau sebagai biaya tetap harus tegas tegas dimasukkan kedalam salah satu variabel atau tetap. Biaya semi variabel dimasukkan ke biaya variabel, biaya semi tetap dimasukkan kedalam biaya tetap. 2. Bahwa yang ditetapkan sebagai biaya tetap itu akan tetap konstan, tidak mengalami perubahan meskipun volume produksi atau volume kegiatan berubah selama batas batas tertentu. 3. Biaya variabel per unit konstan, berapapun jumlah barang yang diproduksi. Jika kegiatan produksi berubah, biaya variabel itu berubah proporsional dalam jumlah seluruhnya, sehingga biaya per unitnya akan tetap sama. Tetapi, dalam kenyataannya biaya variabel itu tidak harus proporsional dengan volume kegiatan. Dapat degresif dapat pula progresif. Perhitungan Analisis Break Event Point Titik impas dapat dihitung dengan menggunakan dua metode yaitu: 1. Metode Persamaan Dalam metode persamaan, terdapat dua pendekatan yang dapat digunakan dalam menghitung titik impas baik dalam unit maupun rupiah sebagai berikut: a. Pendekatan Pendapatan Operasi

Pendekatan pendapatan operasi memfokuskan pada laporan laba-rugi sebagai alat yang berguna dalam mengorganisasikan biaya perusahaan dalam kategori biaya tetap dan variabel. Laporan laba-rugi dapat dinyatakan dalam persamaan naratif: Penghasilan operasi = Pendapatan penjualan Beban variabel Beban Tetap

Persamaan ini dapat diperluas lagi menjadi: Penghasilan operasi = (Harga Jual x Jumlah unit) (Biaya variabel per unit x jumlah unit) Jumlah biaya tetap b. Pendekatan Margin Kontribusi Margin kontribusi adalah pendapatan penjualan dikurangi biaya variabel total. Pada titik impas, jumlah margin kontribusi setara dengan beban tetap.

BEP (unit)

: Biaya tetap Margin kontribusi per Unit Biaya tetap Rasio margin kontribusi

BEP (Rupiah) :

2. Metode Grafik Hubungan biaya-volume-laba dapat digambarkan secara grafik dengan menyiapkan grafik biaya-volume-laba. Grafik biaya-volume-laba menekankan hubungan biaya-volume-laba pada berbagai tingkat aktivitas.

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa titik impas (break event point) adalah titik potong antara garis total pendapatan dengan garis total beban. Daerah rugi merupakan daerah dimana jumlah garis biaya lebih besar daripada jumlah garis penjualan. Daerah laba adalah sebaliknya dimana garis penjualan di atas atau lebih besar dari jumlah biaya.

Biaya (cost) Menurut Hansen dan Mowen (2005), biaya adalah kas atau ekuivalen kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan membawa keuntungan masa sekarang dan masa yang akan datang untuk organisasi. Sedangkan menurut Hongren, Foster, dan Datar (2005), cost as a resource sacrificed or forgone to achieve a specific objective. Menurut pengertian ini, biaya yaitu sebagai sumberdaya yang dikorbankan atau dikeluarkan untuk mencapai tujuan tertentu. Biaya yang akan memberikan manfaat (benefit) hanya pada periode berjalan / sekarang (current periode) biasanya dicatat sebagai beban (expense) dibandingkan aktiva. Beban/pengeluaran (expense) adalah pembelanjaan yang sekarang dikonsumsi atau biaya yang telah dihabiskan. Beban itu sendiri terjadi karena dua sebab, pertama yang berasal dari cost yang sudah expired (melampaui masanya) dan yang kedua karena penggunaan, maksudnya beban itu hadir jika sudah melakukan pemakaian tertentu atau utilitas. Misalnya : penggunaan air, listrik, telepon, internet, dst.

Perilaku Biaya a. Biaya Variabel (variable cost) Pengertian biaya variabel menurut Garrison (2006), biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang jumlahnya berubah secara proporsional terhadap perubahan tingkat aktivitas. Biaya variabel merupakan biaya yang berubah-ubah sebanding dengan volume kegiatan atau output, contohnya: biaya bahan baku, komisi penjualan, dan biaya tenaga kerja langsung. Jika tingkat aktivitasnya dilipatduakan, total biaya variabel juga akan berlipat dua. Jika aktivitas naik 10%, maka total biaya variabel akan naik sebesar 10% juga. Jadi semakin besar volume kegiatan, maka semakin besar pula total biaya variabel. Sedangkan biaya variabel per unit konstan dengan adanya perubahan volume kegiatan. Besarnya volume kegiatan tidak akan berpengaruh terhadap biaya variabel per unit.

b. Biaya Tetap (fixed cost) Pengertian biaya tetap menurut Mulyadi (2000), biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar perubahan volume tertentu. Biaya tetap per satuan berubah dengan adanya perubahan volume kegiatan. Karakteristik biaya tetap menurut Kamaruddin (1996): i. Biaya total yang tidak berubah atau tidak dipengaruhi oleh periode yang ditentukan atau kegiatan tertentu. ii. Biaya per unitnya berbanding terbalik dengan perubahan volume, pada volume rendah fixed cost unitnya tinggi, sebaliknya pada volume tinggi fixed cost per unitnya rendah.

Perubahan biaya tetap per unit berbanding terbalik dengan perubahan volume aktivitas. Semakin tinggi volume aktivitas maka semakin rendah biaya tetap per unit, sebaliknya semakin rendah volume aktivitas, semakin tinggi biaya per unit. Jadi adanya perubahan biaya tetap per unit akibat perubahan aktivitas tidak berarti bahwa biaya tetap per unit harus diberlakukan sebagai biaya variabel, karena peningkatan volume aktivitas dalam rentang relevan akan menurunkan biaya total per unit tetapi total biaya tetap tidak akan berubah.

Biaya Semivariabel Pengertian biaya semivariabel menurut Mulyadi (2000), biaya yang memiliki unsur tetap dan variabel di dalamnya. Unsur biaya yang tetap merupakan jumlah biaya minimum untuk menyediakan jasa sedangkan unsur biaya variabel merupakan bagian dari biaya semivariabel yang dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan. Sedangkan menurut Garrison (2006), biaya semivariabel (mixed cost) adalah biaya yang terdiri atas elemen biaya variabel maupun biaya tetap. Mixed cost atau semivariable cost merupakan biaya yang di dalamnya terdiri dari elemen-elemen biaya tetap dan biaya variabel. Biaya ini mencakup suatu jumlah yang sebagian tetap dalam rentang kegiatan yang relevan dan sebagian lagi berubah karena adanya perubahan volume kegiatan. Contoh jenis biaya semivariabel yaitu biaya listrik dan air.

Metode Penentuan Harga Pokok Produksi Metode penentuan harga pokok produksi merupakan cara memperhitungkan unsurunsur biaya kedalam harga pokok produksi. Dalam memperhitungkan unsur-unsur biaya kedalam harga pokok produksi melalui 2 pendekatan, yaitu : a. Full Costing/Absorption Costing Full Costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang

memperhitungkan semua unsur biaya produksi kedalam harga pokok produksi , yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik baik yang berperilaku variabel maupun tetap. Harga pokok produksi menurut metode Full costing : Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik variabel Biaya overhead pabrik tetap Harga pokok produksi Biaya pemasaran Biaya administrasi & umum Total harga pokok produk XX XX XX XX XX XX XX XX Biaya non produksi/by.komersial Biaya produksi

Ikhtisar Harga Pokok Produksi Dan Total Harga Pokok Produk Menurut Metode Full Costing : Prime Cost Conversion Cost = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga kerja = Biaya Tenaga Kerja + By.Overhead Pabrik tetap + By. Overhead Pabrik Variabel Harga Pokok Produksi = Biaya Bahan Baku + Biaya Tenaga kerja+ By.Overhead Pabrik tetap + By. Overhead Pabrik Variabel Biaya Komersial Total Harga Pokok Produk = Biaya Adm & Umum + Biaya Pemasaran = Harga Pokok Produksi + Biaya Komersial

b. Variable Costing/Direct Costing Variable Costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke kedalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang berperilaku variabel. Harga pokok produksi menurut metode Variable costing : Biaya bahan baku Biaya tenaga kerja langsung Biaya overhead pabrik variable Harga pokok produksi Biaya pemasaran Biaya administrasi & umum Total harga pokok produk XX XX XX XX XX XX XX Biaya non produksi/by.komersial Biaya produksi

Ikhtisar Harga Pokok Produksi Dan Total Harga Pokok Produk Menurut Metode Variable Costing : Harga Pokok Produksi Variabel = Biaya Bahan Baku + By.Tenaga Kerja + By. Overhead pabrik Variabel By. Periode = By.Overhead pabrik tetap + By. Adm & umum Tetap + By. Pemasaran Tetap Total Harga Pokok Produk = Harga Pokok Produksi Variabel + By Adm & Umum Variabel + By. Pemasaran Variabel + By. Periode

Perbedaan Full Costing dan Variable Costing Costs Product Cost Full Costing -Direct Materials -Direct Labor -Variable Overhead -Fixed Overhead -Selling expense -Administrative Expense Variable Costing -Direct Materials -Direct Labor -Variable Overhead -Selling expense -Administrative Expense -Fixed Overhead

Period Costs

Perbandingan Laporan Laba Rugi Dengan Full costing dan Variable costing Contoh : PT Bayu memproduksi produk kanvas rem motor selama tahun 2011 sebanyak 100.000 unit kanvas dan menjual sebanyak 75.000 unit kanvas dengan harga per unit Rp 27.000. Biaya selama tahun berjalan yaitu: Biaya pabrikasi per unit: Bahan baku Tenaga kerja Overhead variabel Overhad tetap Rp 3.800 Rp 3.600 Rp 3.600 Rp 2.400 (Rp 240.000.0000/100.000 unit)

Beban pemasaran dan administratif: Variabel (per unit yg terjual) Rp 2.600 Tetap Rp 160.000.000 PT BAYU Laporan Laba Rugi (Variable Costing) Desember 2011 Pendapatan penjualan Rp 27.000 x 75.000 Dikurangi Biaya Variabel: Biaya pabrikasi variabel (Rp 10.400 x 75.000) Biaya pemasaran & adm Rp 780.000.000 Rp 2.025.000.000

(Rp 2.600 x 75.000) Margin kontribusi Dikurangi Biaya Tetap: Beban pabrikasi tetap

Rp 195.000.000

(Rp 975.000.000) Rp 1.050.000.000

Rp 240.000.000 (Rp 400.000.000) Rp 650.000.000

Beban pemasaran & adm tetapRp 160.000.000 Laba bersih

PT BAYU Laporan Laba Rugi (Full costing) Desember 2011

Pendapatan penjualan Rp 27.000 x 75.000 Dikurangi Biaya Variabel: Biaya pabrikasi variabel (Rp 10.400 x 75.000) Biaya pemasaran & adm (Rp 2.400 x 75.000) Laba Kotor Dikurangi beban pemasaran & adm Variabel ( Rp 2.600 x 75.000) Tetap Laba bersih Rp 195.000.000 (Rp 355.000.000) Rp 710.000.000 Rp 180.000.000 (Rp 960.000.000) Rp 1.065.000.000 Rp 780.000.000 Rp 2.025.000.000

Rp 160.000.000

Dari kedua laporan laba rugi di atas, terlihat perbedaan laba bersih antara metode variable costing dengan metode full costing. Hal ini terjadi karena perbedaan perlakuan terhadap biaya tetap. Metode full costing memasukkan biaya tetap ke dalam biaya persediaan. Sedangkan metode variable costing memperlakukan biaya tetap sebagai beban yang dikenakan pada periode pengeluaran. Dalam metode full costing, jika produksi lebih tinggi dari pada penjualan maka biaya tetap dalam persediaan akhir ditangguhkan sampai periode yang akan datang. Hal ini berbeda dalam metode variable costing, dimana biaya tetap dibebankan. Karena itu metode full costing memperlihatkan laba bersih yang lebih tinggi. Sebaliknya apabila penjualan lebih tinggi daripada produksi, biaya tetap dalam persediaan awal dibebankan dalam perioderberjalan dan ditambahkan ke biaya tetap yang dikeluarkan selama periode berjalan. Karena itulah metode full costing memperlihatkan laba bersih yang lebih rendah.

Jika biaya overhead tetap per unit produk sama dalam persediaan awal dan persediaan akhir, perbedaan laba sama dengan perubahan persediaan dikali tarif overhead tetap per unit. Dari kasus PT Bayu: Unit yang diproduksi 100.000 unit Unit yang terjual Kenaikan persediaan 75.000 unit 25.000 unit

Dengan memakai tarif overhead tetap Rp 2.400 per unit. Perbedaan laba bersih menjadi: Rp 2.400 x 25.000 Atau Laba bersih full costing Laba bersih variabel costting Persediaan Rp 710.000.000 Rp 650.000.000 Rp 60.000.000 = Rp 60.000.000

Jika tarif overhead tetap berbeda dalampersediaan awal dan persediaan akhir maka rekonsiliasi angka laba bersih : Laba full costing (+) Overhead tetap dalam persediaan awal (-) Overhead tetap dalam persediaan akhir (=) Laba bersih dengan variable costing