Anda di halaman 1dari 68

PENGELOLAAN LIMBAH PABRIK GULA

PRODUKSI BERSIH
Prinsip :
Meningkatkan efisiensi produksi dan pada saat yang sama mengurangi limbah atau buangan lain di tempat sumber limbah dihasilkan stilah lain : Minimalisasi limbah dan pencegahan polusi.

Dasar dasar Produksi Bersih


Penghematan bahan baku dan energi Tidak menggunakan bahan beracun dan berbahaya (B3) pada bahan bakunya Mengurangi jumlah buangan dan bahan beracun Mengurangi dampak negatif sepanjang proses produksi Bukan hanya Pengoperasian IPAL dan Pengolahan Limbah Padat

Teknik Produksi Bersih


Ada 3 langkah produksi bersih 1. Mengurangi sumber pencemar --- in housekeeping 2. Perubahan proses 3. Daur ulang/modifikasi barang jadi

Manfaat Produksi Bersih


Meningkatkan efisiensi Menghemat bahan baku dan energi Memberi akses yang lebih baik dengan Lembaga keuangan Tuntutan pasar Memperbaiki lingkungan Lebih mudah untuk mencapai syarat perundangan Memperbaiki lingkungan kerja Citra perusahaan

Metodologi Proksi

Menyusun suatu team Menyusun analisis langkah langkah proses Menyarankan jalan keluar Menganalisis jalan keluar yang diusulkan Melaksanakan usulan yang dipilih Mengulang kembali (start over again)

Studi Kasus
Produksi Bersih di Guitang China

Pengolahan Limbah Padat


Sumber Limbah Padat : - Blotong (Stasiun Pemurnian) - Ampas (Stasiun Gilingan) - Sisa sisa kertas saring dan sampah laboratorium yang lain.

Penanganan Limbah Padat


-

Pemanfaatan blotong dan ampas untuk kompos Pemanfaatan ampas untuk bahan bakar Blotong dapat dimanfaatkan untuk media tumbuh jamur (Perlu diuji toksisitasnya) Limbah kertas saring yang mengandung Pb asetat dikategorikan limbah B3

Sumber Limbah B3
Oli Bekas Soda Kaustik Accu Bekas Limbah kertas saring yang mengandung Pb Asetat

Penanganan Limbah B3

Pengemasan Penyimpanan Pengumpulan Pengangkutan Pengolahan Pembuangan

Contoh Pengolahan Limbah B3


Pembakaran (Incenerator) Pengolahan Biologis Solidifikasi Secure Landfill

Pengemasan

Penyimpanan

Secure Landfill

Pengolahan Limbah B3 di PPLI

Pengumpulan Limbah Padat dan B3

Emisi Udara

Sumber Pencemaran Udara dari Pabrik Gula


Emisi gas SO2 Emisi Partikulat (Abu dan Debu) dari sisa pembakaran Ampas di Boiler Emisi gas CO2 dari hasil pembakaran pada ketel. Untuk Baku Mutu mengacu pada PP no 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara

Penanganan Limbah Udara


Dust Collector Cerobong Wet Scrubber Perubahan bahan baku atau modifikasi alat
Pengelolaannya disesuaikan dengan karakteristik partikel pencemar dan gas pencemar

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PADA PABRIK GULA

Teknologi Pengolahan Limbah Cair Pabrik Gula


Impounding -- penampungan limbah Recirculation Aeration Spray cooling -- pendinginan air kondensor Biological Treatment - aerobik, anaerobik Filtrasi -- penyaring mekanis

Alternatif Pengolahan Limbah Untuk Pabrik Gula


Praktek Terbaik Pengolahan Limbah Cair Lahan Luas Pemisah minyak Kolam ekualisasi Kolam penyaringan atau sedimentasi Kolam anaerobik Kolam fakultatif Kolam aerobik Kolam monitor Lahan Terbatas Pemisah minyak Kolam ekualisasi Kolam penyaring atau sedimentasi Tangki lumpur aktif Clarifier

Karakteristik Limbah: 1. BOD tergolong tinggi 2. pH air limbah cenderung asam 3. TSS rendah 4. Seringkali minyak terbawa masuk ke IPAL 5. Debit Berfluktuasi

Unit Pengolahan Yang Digunakan:

Pre Treatment (Pendahuluan) - Oil Trap (Pengolahan Minyak)


- Ekualisasi - Netralisasi - Sedementasi Awal

Biological Treatment - Aerobik


- Anaerobik

Pengendapan Akhir

Diagram Proses

PENGOLAHAN PENDAHULUAN
Fungsi : Menciptakan kondisi sesuai yang diinginkan oleh mikroba dalam biological treatment. (Menghilangkan zat zat yang menghambat daur hidupnya) Terdiri dari:
-

Ekualisasi Netralisasi Penangkap minyak

EKUALISASI
Fungsi : Meminimisasi atau mengontrol fluktuasi karakteristik air limbah untuk mencapai kondisi dalam proses pengolahan berikutnya. (Untuk meratakan aliran/membuat aliran mendekati konstan)

EKUALISASI
Keuntungan Penggunaan Ekualisasi : - Efisiensi pengolahan biologis meningkat karena tidak terjadi shock loading,beban pencemar dan pH lebih stabil - Kualitas effluent dan pemadatan lebih konstan - Mempermudah kontrol terhadap bahan kimia

EKUALISASI
Peletakan : - Setelah Sedimentasi Awal - Sebelum Sedimantasi Awal Penentuan Volume : Berdasarkan Fluktuasi Air Limbah yang dihasilkan dalam 1 hari (24- jam) Volume = menggunakan inflow mass diagram, Debit Kumulatif diplot dengan waktu

EKUALISASI (inflow mass diagram)

EKUALISASI
Konstruksi Meliputi : - Konstruksi Bak - Konstruksi Material
3 ft freeboard
Maksimum surface area

Floating aerator 1 3

Minimum required Operating level Minimum allowable operating level to protect floating aerator *

Volume efektif bak

Concrete scour pad Variable

* These dimension will vary with aerator design and size

EKUALISASI
Pengadukan/Mixing dan Aerasi Fungsi : - Mencegah pengendapan lumpur di kolam ekualisasi - Menghindari bau atau timbul kondisi septik - Mengurangi konsentrasi zat kimia pencemar seperti : Fe,Mn

EKUALISASI
Jenis Pengaduk Untuk Ekualisasi : - Hydraulic Mixing - Turbine mixing - Diffuser Aeration System Kebutuhan Udara 3.74 m3/m3 limbah - Mechanical Aeration Surface Aerator Power (12-15hp/million gallon)=(0.003-0.004) Kw/m3

NETRALISASI
Fungsi : Menetralkan zat zat kimia yang terkandung dalam air limbah Diantaranya : -pH -Kesadahan (Alkalinitas) -Zat Zat Toksik

NETRALISASI Kesadahan perlu dinetralkan sebab : Dapat menimbulkan fouling pada diffuser. Penentuan Effect dari Kesadahan. : Langlier Index (-) : korosif (+): fouling (scale) Stability Index > 6 : korosif < 6 : scale

NETRALISASI
Difokuskan pada Penetralan pH Sebab : Karakteristik Limbah Pabrik Gula cenderung asam dan tidak hampir tidak ada zat kimia yang terkandung (konsentrasi relatif kecil)

NETRALISASI
Perencanaan Unit Netralisasi meliputi : - Penentuan Volume Bak Netralisasi - Penentuan Zat Kimia yang Digunakan + Dosis dan Waktu Pembubuhannya - Perencanaan Sistem Pengadukan

NETRALISASI
Penentuan Volume Ditentukan Berdasarkan : - Debit rata rata influent air limbah - Waktu Tinggal (waktu pengadukan)

V = Q x td

NETRALISASI

Penentuan zat kimia yang ditambahkan tergantung pH limbah Dosis optimum + waktu pembubuhan ditentukan berdasarkan analisa laboratorium Zat kimia yang biasa digunakan untuk penetralan : pH asam : Ca(OH)2,soda kaustik (NaOH) pH basa : HCl,H2SO4

Neutralization Curve
12 10 8
pH

6 4 2 0 0 500
Perubahan pH

1000

1500

2000

2500

3000

mg kapur / l waste

NETRALISASI
Pengadukan dapat dilakukan dengan cara: Pengadukan Mekanik Hydraulic Mixing (Baffle Channel) Pneumatic Mixing (Diffuser)

OIL SEPARATOR
-

Limbah yang mengandung minyak sebagian besar dihasilkan dari Stasiun Gilingan Sebagian terdiri dari oli, dan minyak pelumas Minyak dalam Limbah Cair membentuk Emulsi ( Tidak Larut ) Ukuran Partikelnya : < 0.25 micron atau bisa 100 X lebih besar

OIL SEPARATOR
Penentuan Ukuran Partikel Dapat dilakukan dengan penglihatan biasa (distribusi partikel akan terlihat) - Jika ukuran > dari 200 micron partikel minyak terlihat jelas - Ukuran partikel 100 10 emulsinya tampak berwarna putih susu - Ukuran partikel 10 -1 tampak berwarna putih kebiruan - Ukuran partikel 1-0.5 tampak berwarna abu abu pucat - Ukuran partikel < 0.5 micron cairan akan tampak transparan.

OIL SEPARATOR
Metode Pemisahan Minyak - Grafitasi API dan CPS - Koagulasi Penambahan zat deelmulsifiers (Asam, Alum dan FeSO4 - Air Flotation ( Tekanan Udara )

OIL SEPARATOR
Berdasarkan Ukuran Partikel Hukum Secara Gravitasi : Stokes

u Gr (di d 2) / 9v
2

Dimana, u = Kecepatan naiknya partikel minyak ke permukaan air G = Percepatan gravitasi r = Radius dari partikel d1 = Densitas zat cair pada fase internal d2 = Densitas zat cair pada fase eksternal v = Viskositas dari emulsi

OIL SEPARATOR
API Standart (American Petroleum Instutute) - Berbentuk rectangular p:l = 4:1 - Partikel minyak naik ke permukaan dan suspended solid mengendap di dasar bak (lapisan minyak dipisahkan secara manual) - Pengikatan partikel minyak menggunakan plate yang dipasang miring dalam ruang pemisah

Kriteria Desain API


Design Parameter Design Flow Rate < 185 gpm (11.7 L/s)
1Maximum

> 185 gpm ( 11.7 L/s) 1,000 gpm (11.3) L/s 4:1 0.3 : 1 to 0.5 : 1 2 (1.5) 2 ( 0.06)

Surface gpd/ft2 (L/s-m2)

Loading,

1,000 to 2,000 gpm (11.3 to 22.6) L/s


2

Length : Width (minimum) Depth : Width Maximum Depth, ft (m)

4:1 1 : 1 ( maximum ) 3 ( 0.9 )

Maximum Horizontal Velocity, 2 (0.6) fpm (m/min)

OIL SEPARATOR

OIL SEPARATOR
CORRUGATED PLATE SEPARATOR Digunakan untuk mengoptimalkan dari unit API Standart - Menggunakan plate plate yang terbuat dari stainless stell - Untuk ukuran partikel 0.006 cm - Beban hidrolik tergantung temperatur dan spesific gravity

Kriteria Desain
-

Jarak antar plate

Sudut Kemiringan Loading Rate = 2.8 sampai 5.7 L/min.m2


Luas area setiap pemisah

= in sampai 1 in (13 mm 25 mm) = 40o 600


= 9.3 92.9 m2 (downflow) 25.1 sampai 206.2 m2 (crossflow)

OIL SEPARATOR

OIL SEPARATOR
Untuk mengoptimalkan proses pemisahan (untuk partikel minyak yang lebih kecil) menggunakan coalescing plates

Coalescing plates
Dengan bahan yang terbuat dari oleophilic

OIL SEPARATOR

Sedimentasi
Pengendapan (Sedimentasi) adalah proses pemisahan partikel dengan cairannya secara gravitasi berdasarkan berat jenisnya. Adapun maksud proses pengendapan pada pengolahan primer adalah: Untuk mengurangi padatan terlarut dalam air limbah hingga 80 90% Untuk mengurangi kromium dan sulfida hingga 100% Untuk mengurangi beban BOD dan COD hingga 50 80% Untuk mengurangi warna

Rectangular Sedimentation

Circular Sedimentation

Tipe Pengendapan
Pengendapan Tipe I Partikel Diskrit Pengendapan Tipe II Partikel hasil dari Koagulasi dan Flokulasi Pengendapan Tipe III dan IV Lumpur dan Padatan jenuh

Settling Zone
Clear Water region Discrete settling region (type 1) Flocculant settling region (type 2)

Depth

Hindered (zone) settling region (type 3) Compression region (type 4)

Time

Perencanaan Sedimentasi Awal

Hitung Panjang Bak Yang Dibutuhkan

W = 0.75 m

L / Panjang Bak ?

Perencanaan Sedimentasi II
Parameter yang Diperlukan - Debit - Overflow Rate - Solid Fluks - Konsentrasi Lumpur

Kurva Solid Flux