Anda di halaman 1dari 18

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi HIV/AIDS 2.1.1. Definisi HIV Virus adalah mikroorganisme yang hidup intraseluler obligat, yang tersusun atas satu jenis asam nukleat, yaitu RNA saja atau DNA saja, dan dikelilingi oleh selubung protein. Virus juga bervariasi dalam hal struktur, organ genom, ekspresi maupun strategi replikasi dan transmisinya. 14,15 Virus terdiri dari empat famili besar yaitu Poxviridae, Herpesviridae, Parvoviridae, dan Paramyxoviridae dan ntuk virus golongan RNA, hanya memiliki asam ribonukleat (ribonucleic acid) yang banyak dijumpai patogenik terhdap manusia maupun hewan. Salah satu golongan virus RNA adalah famili Retroviridae. Retrovirus yang merupakan virus dengan virion yang mengandung reverse transcriptase. Dalam

kelompok retrovirus, termasuk virus-virus leukimia dan sarkoma pada manusia dan hewan, foamyvirus dan lentivirus.14 HIV adalah suatu retrovirus anggota subfamili lentivirinae yang menunjukkan banyak gambaran khas fisikokimia dari familinya. Ciri khas morfologi yang unik dari HIV adalah adanya nukleoid yang berbentuk silindris dalam virion matur.15

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.1. Anatomi penampang virus HIV beserta bagian-bagiannya 16

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyebabkan terjadinya AIDS. Pada tahun 1983, virus ini dulunya dikenal dengan nama LAV (Lymphadenopathy Virus) yang ditemukan oleh Luc Montagnier dari Perancis pada seorang penderita limfadenopati. Penemuan ini kemudian disusul oleh Gallo pada tahun 1984 yang menyatakan bahwa virus ini menyerang sel limfosit T penolong dan kelainan ini dinamakan HTLV III (Human T Cell Lymphotropic Virus Type III). Pada tahun 1986, International Committee on Taxonomy of Viruses memutuskan nama penyebab AIDS adalah HIV sebagai pengganti nama LAV dan HTLV III. 17,18 HIV adalah sejenis retrovirus RNA yang memiliki kemampuan untuk menginfeksi secara selektif sistem kekebalan tubuh dan kemudian membuat tidak berdayanya sistem tersebut yang sebenarnya berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap

Universitas Sumatera Utara

berbagai penyakit. Akibat dari adanya infeksi ini mampu menghasilkan defek pertahanan yang membuat tubuh menjadi amat rentan terhadap infeksi-infeksi lainnya.17,18

2.1.2. Definisi AIDS AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sindroma yang merupakan kumpulan gejala-gejala berbagai penyakit dan infeksi yang disebabkan oleh virus HIV yang merusak sebahagian dari sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga orang yang terkena penyakit tersebut mudah terkena berbagai penyakit yang mematikan dan tidak lazim. 19 AIDS juga dapat didefinisikan melalui huruf-huruf yang terdapat dalam AIDS, yaitu : 18 a. Acquired : didapat, ditularkan dari satu orang ke orang lain dan bukan penyakit bawaan b. Immune : kebal, sistem kekebalan/kekebalan tubuh, yang melindungi tubuh

terhadap infeksi c. Deficiency : kekurangan, menunjukkan adanya kadar atau nilai yang lebih rendah dari normal d. Syndrome : suatu kumpulan tanda atau gejala yang bila didapatkan secara bersamaan, menunjukkan bahwa seseorang mengidap suatu penyakit/keadaan tertentu.

2.2. Etiologi dan Patogenesis

Universitas Sumatera Utara

Virus HIV adalah retrovirus yang mengandung bahan kimia yang disebut reverse transcriptase yang mentranskip RNA virus menjadi DNA bila virus tersebut masuk ke dalam sel target yang mana sel targetnya adalah sel yang mempunyai molekul CD4 dan kelompok terbesar yang mempunyai molekul CD4 adalah limfosit T4. 20,21 Limfosit T4 merupakan pusat dan sel utama yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menginduksi kebanyakan fungsi-fungsi imunologik. Sel-sel target lain adalah monosit, makrofag, sel dendrite, sel Langerhans dan sel mikroglia. 18,21 Bila virion HIV masuk ke dalam sel T, beberapa peristiwa yang kompleks dan berurutan akan berlangsung dan akan berakhir dengan partikel virus yang baru dari beberapa sel target yang terinfeksi. Membran virus akan melebur dengan membran sel T yang memungkinkan virus RNA lepas dan masuk ke dalam sel inang. Dalam waktu 12 jam peristiwa reverse transcriptase yang terjadi di dalam sel T, membuat DNA virus kemudian bersembunyi di dalam DNA sel inang dan dapat bersifat dorman selama bertahun-tahun, sebelum mulai bereplikasi membunuh sel T. Hal inilah yang membuat sistem imun secara perlahan-lahan menjadi tidak berfungsi dan menyebabkan penderita rentan terhadap berbagai infeksi. 20,22

2.3. Epidemiologi HIV/AIDS 2.3.1. Distribusi dan Frekuensi Pada tahun 1992, sekurang-kurangnya 12,9 juta penduduk dunia terinfeksi dengan HIV termasuk anak-anak, dan dari jumlah ini sebanyak 2,58 juta telah menjadi penderita AIDS dengan CFR sebesar 98,9%. 23

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan laporan dari UNAIDS (2004), prevalensi pengidap HIV dewasa (1549 tahun) di wilayah Sub Sahara Afrika sebesar 7,4%. Benua Afrika didiami oleh 10% jumlah populasi dunia, namun di saat yang sama, 60% dari jumlah populasinya telah mengidap AIDS. Demikian juga dengan prevalensi pengidap HIV dewasa (15-49 tahun) di Amerika Utara sebesar 0,6% dan di Eropa Barat sebesar 0,3%. 5 Berdasarkan laporan dari Dirjen PP dan PL Depkes RI (2006), prevalensi kasus AIDS secara nasional sebesar 3,47 per 100.000 penduduk dengan prevalensi kasus tertinggi dilaporkan dari Propinsi Papua yaitu sebesar 50,94 per 100.000 penduduk dan disusul dengan Propinsi Jakarta dengan prevalensi sebesar 28,73 per 100.000 penduduk.
24

Berdasarkan Profil Kesehatan Nasional Tahun 2005, kasus AIDS tertinggi dilaporkan berada pada golongan umur 20-39 tahun (79,98%) dan 40-49 tahun (8,47%) sedangkan berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI (2007), rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 4,07:1. 9,10 Berdasarkan profil tersebut juga dinyatakan bahwa penularan HIV/AIDS terbanyak adalah melalui hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik bersama pada IDU. Kelompok umur 20-49 tahun merupakan kelompok umur yang aktif dalam aktivitas seksual dan pengguna IDU juga didominasi oleh kelompok umur produktif. 9

2.3.2. Determinan Determinan HIV/AIDS dibagi atas tiga kategori yaitu : 18 a. Host (pejamu)

Universitas Sumatera Utara

Distribusi umur penderita AIDS di Amerika Serikat, Eropa dan Afrika tidak berbeda jauh, kelompok terbesar berada pada umur 30-39 tahun dan menurun pada kelompok umur yang lebih besar dan lebih kecil. Penderita dari daerah urban (perkotaan) umumnya lebih tinggi daripada di daerah rural (pedesaan), karena di kota lebih banyak dilakukan promiskuitas (hubungan seksual dengan banyak mitra seksual). Kelompok masyarakat beresiko tinggi adalah kelompok masyarakat yang melakukan promiskuitas, penyalahguna narkotika suntik dan penerima transfusi darah, dan untuk kelompok

penyalahguna narkotika suntik ada karena penggunaan jarum suntik secara bersama dan sering masih terdapat sisa darah di dalam alat suntik.

b.

Agent Jumlah virus HIV yang berada dalam tubuh pengidap HIV, sangat menentukan

dalam proses penularan. Penurunan jumlah sel limfosit T biasanya berbanding terbalik dengan jumlah virus HIV yang ada dalam tubuh, yaitu makin rendah sel limfosit T nya, maka makin besar pula jumlah virus dalam darahnya. Hal ini juga terjadi pada penularan transplasental, makin rendah jumlah sel limfosit T seorang ibu pengidap HIV, maka makin besar kemungkinan penularan HIV kepada janinnya. c. Environment Lingkungan biologis, sosial ekonomi, budaya dan agama sangat menentukan penyebaran AIDS. Lingkungan biologis misalnya adanya riwayat ulkus genitalis, herpes simpleks dan sifilis yang positif akan meningkatkan prevalensi HIV karena luka-luka ini

Universitas Sumatera Utara

menjadi tempat masuknya HIV. Faktor sosial ekonomi, budaya dan agama secara bersama atau sendiri-sendiri sangat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat, baik dalam hal seksual maupun perilaku penggunaan narkotika.

2.4. Transmisi HIV/AIDS Pola transmisi yang berhubungan erat dengan unsur tempat keluar dan masuknya agent adalah : 2.4.1. Transmisi Seksual Perilaku yang dianggap mempunyai resiko tinggi dan seringkali ada hubungannya dengan infeksi HIV antara lain hubungan seksual secara ano-genital, khususnya bagi mitra seksual yang pasif menerima ejakulasi semen dari seorang pengidap HIV. Mukosa rektum sangat tipis dan mudah sekali mengalami perlukaan saat berhubungan seksual secara ano-genital. Tingkat resiko kedua adalah hubungan oro-genital termasuk menelan semen dari mitra seksual pengidap HIV, dan yang ketiga adalah hubungan genitogenital/heteroseksual. Saat melakukan hubungan seksual, sering terjadi perlukaan yang ukurannya mikroskopis (hanya dapat dilihat dengan mikroskop) dan mulut yang bisa menjadi jalan bagi HIV untuk masuk ke aliran darah pasangannya. 18,19 Kegiatan seksual lain yang mungkin dapat menyebabkan terjadinya infeksi HIV antara lain : 25 a. Anilingus yaitu melakukan hubungan intim di daerah anal dengan menggunakan lidah b. Cunnilingus yaitu melakukan hubungan intim di daerah vagina/klitoris dengan menggunakan lidah (resiko lebih tinggi saat menstruasi)

Universitas Sumatera Utara

c. Fellatio yaitu melakukan hubungan intim pada daerah genital pria dengan menggunakan lidah dan penghisapan (resiko lebih tinggi bila ejakulasi terjadi di dalam mulut) d. Fisting yaitu memasukkan atau meletakkan tangan atau lengan bawah ke dalam rektum atau vagina e. Memakai benda-benda seks pada rektum/vagina yang dapat menyebabkan robekan pada mukosa, dimana luka yang terjadi dapat merupakan jalan masuk bagi virus 2.4.2. Transmisi Non Seksual HIV dapat menular melalui transmisi parenteral yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya seperti alat tindik yang terkontaminasi HIV. Transmisi ini biasanya terjadi akibat penyalahgunaan narkotika suntik dan juga pengunaan jarum suntik yang banyak dipakai oleh petugas kesehatan. Transmisi parenteral lainnya adalah lewat donor/transfusi darah yang mengandung HIV. Resiko tertular HIV lewat transfusi darah adalah lebih dari 90%, artinya bila seseorang mendapat transfusi darah yang terkontaminasi HIV, maka dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan akan menderita infeksi sesudah itu. 18 Transmisi non seksual yang lain adalah melalui transmisi ibu kepada janin. Seorang ibu yang mengidap HIV bisa menularkan HIV tersebut kepada janin yang dikandungnya. Ini tidak berarti bahwa HIV/AIDS adalah penyakit keturunan, karena penyakit keturunan berada di gen-gen manusia, sedangkan HIV menular saat darah atau cairan vagina ibu membuat kontak dengan darah atau cairan anaknya. 19,25

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan kedua jenis transmisi yang sangat mempengaruhi masuknya HIV ke dalam darah, ada beberapa transmisi yang masih belum terbukti dan masih menjadi bahan perdebatan para pakar AIDS diantaranya adalah lewat air susu ibu, air liur, air mata, urine, udara, makanan, air, cairan muntahan, kontak yang tak disengaja (berpelukan atau berciuman), gigitan serangga, hubungan sosial dan pada orang serumah. 18,25

2.5. Diagnosis 2.5.1. Diagnosis Dini Infeksi HIV HIV didiagnosis dengan mendeteksi antibodi anti-HIV melalui ELISA (enzymelinked immunoabsorbent assay). Pemeriksaan ELISA mempunyai sensitifitas 93% sampai 98% dan spesifisitas 98% sampai 99%. Hasil positif palsu dan negatif palsu dapat berakibat luar biasa, karena akibatnya sangat serius. Oleh sebab itu, pemeriksaan ELISA diulang dua kali, dan jika keduanya menunjukkan hasil positif, dilanjutkan dengan pemeriksaan yang lebih spesifik, yaitu Western Blot. 21,26 Uji Western Blot ini, juga dilakukan sebanyak dua kali dan pemeriksaan ini lebih sedikit memberikan hasil positif palsu dan negatif palsu. Jika seseorang telah dipastikan mempunyai seropositif terhadap HIV, maka dilakukan pemeriksaan klinis dan imunologik untuk menilai keadaan penyakitnya.21 Infeksi HIV akan menyebabkan timbulnya gejala klinis yang mulai terjadi pada saat timbulnya serokonversi dan diakhiri dengan timbulnya penyakit AIDS.2 Stadium HIV membagi infeksi virus ini menjadi empat kelompok yaitu : a. Kelompok I Infeksi Akut

Universitas Sumatera Utara

Kelompok ini dapat berupa symptomatic sero-conversion atau asyimptomatic sero-conversion. Gejala dapat berupa sindrom seperti pada infeksi

Mononucleosis infectiosa, aseptic meningitis berupa rash dan keluhan muskulo skletal. Keluhan ini bersifat sementara saja, dan kemudian menghilang dengan sendirinya. 18 b. Kelompok II Infeksi Asimptomatik Pada kelompok ini, sebagian besar penderita infeksi HIV tampak benar-benar sehat, karena tidak terdapat gejala gejala penyakit yang terjadi. Kelompok ini hanya dapat diketahui melalui hasil tes darah. 2 c. Kelompok III Limfadenopati Generalisata Persisten (LGP) Salah satu gejala umum dari infeksi HIV adalah adanya limfadenopati yang ditandai dengan adanya pembesaran kelenjar getah bening paling sedikit 1 cm di beberapa tempat yang menetap. 17 d. Kelompok IV Penyakit lainnya, yang terbagi atas lima sub kelompok, yaitu : i. Penyakit-penyakit umum (demam > 1 bulan, berat badan berkurang > 10%, diare > 1 bulan) ii. Penyakit-penyakit saraf (dementia, mielopati, neuropati perifer) iii. Infeksi sekunder (penyakit-penyakit yang perlu diawasi oleh Pusat Pengawasan Penyakit dan penyakit-penyakit lainnya seperti leucoplakia pada rambut-rambut sekitar mulut, herpes zoster multidermatom, bakteremia, salmonellosis rekuren, nokardiosis, tuberculosis, oral candidiasis )

Universitas Sumatera Utara

iv. Kanker sekunder (Kaposi Sarcoma, limfoma non-Hodgkin, limfoma serebral primer) v. Kelainan lainnya (hal-hal yang tidak termasuk di atas tetapi masih ada hubungannya dengan infeksi HIV) 2

2.5.2. Diagnosis AIDS AIDS adalah stadium akhir dari serangkaian abnormalitas kekebalan dan klinis yang dikenal sebagai spektrum infeksi HIV. Manifestasi klinis utama dari AIDS adalah tumor dan terjadinya infeksi opurtunistik. Kaposi Sarcoma adalah tumor yang pertama kali dilaporkan yang disebabkan oleh virus Herpes dan ditandai dengan bercak ungu kemerahan pada lidah. Lesi kulit pada awalnya makular dan berkembang menjadi plak terindurasi berwarna merah ungu. Terdapat gejala berspektrum luas mulai dari lesi kulit atau oral sampai diseminasi disertai keterlibatan nodus limfatikus, saluran pencernaan atau paru. 18,26 Infeksi opurtunistik melibatkan hampir semua sistem badan. Pneumonia Pneumocytis carinii merupakan infeksi opurtunistik yang umum terbanyak terjadi. Pada pasien AIDS, gejala utamanya dapat hanya demam, batuk kering yang tidak produktif, lemah, nafas pendek yang terjadi secara bertahap dan tidak ada rasa sakit. Diagnosis ditegakkan dengan adanya kista-kista yang khas pada sekret pernafasan. 21 Infeksi opurtunistik lainnya, antara lain TBC, infeksi-infeksi jamur seperti cryptococcosis, cryptoporodiosis, kandidiasis, histoplasmosis, terjadinya herpes

simpleks, serta infeksi virus sitomegalo pada retina mata (sitomegalovirus).17,21

Universitas Sumatera Utara

2.5.3. Manifestasi Klinis Pada Anak-anak Pada anak-anak, gejala yang timbul sangat bervariasi, seperti kegagalan untuk bertahan hidup, limfadenopati atau pembengkakan parotis, infeksi bakterial yang kronis dan berulang. Anak-anak yang terkena AIDS juga sangat peka terhadap terjadinya infeksi kandidiasis oral, diare, infeksi pernafasan, demam yang tak dapat diterangkan dan perkembangan yang terhambat. Pada anak-anak, tidak timbul infeksi opurtunistik seperti Kaposi Sarcoma. 21

2.6. Metode Pengambilan Darah Tes HIV 18 Dalam pengambilan darah untuk tes HIV, ada beberapa metode yang digunakan antara lain : 2.6.1. Unlinked Anonymous Unlinked anonymous adalah pemeriksaan anti HIV terhadap sampel darah yang diambil untuk pemeriksaan-pemeriksaan lain, dan setelah menghilangkan semua identitas penderita. Hasil pemeriksaan ini tidak dapat dihubungkan kembali dengan si penderita. 2.6.2. Voluntary Anonymous Metode ini dilakukan dengan sampel darah diberikan secara sukarela oleh seseorang setelah yang bersangkutan menandatangani surat persetujuan. Pada sampel ini hanya diberikan nomor kode. Hasil pemeriksaan dapat dilihat oleh yang bersangkutan dari pengumuman hasil pemeriksaan tanpa seorang lain pun mengetahuinya, termasuk petugas survailans. 2.6.3. Voluntary Confidential

Universitas Sumatera Utara

Metode ini dilakukan dengan sukarela oleh seseorang untuk diperiksa darahnya tetapi hasilnya diketahui hanya oleh petugas kesehatan tertentu dan petugas ini harus merahasiakan hasil pemeriksaan tersebut. 2.6.4. Mandatory Metode ini dilakukan terhadap semua orang yang mempunyai maksud tertentu. Pemeriksaan ini dilandasi suatu dasar hukum, sehingga tidak ada yang bisa menghindar dari pemeriksaan ini. 2.6.5. Compulsatory Metode ini biasanya dilakukan kepada kelompok masyarakat yang umumnya kemerdekaannya dibatasi, misalnya seperti narapidana, pusat rehabilitasi narkotika, para resosialisasi PSK. Kelompok ini biasanya diwajibkan untuk mengikuti pemeriksaan anti HIV.

2.7. Pencegahan HIV/AIDS Pencegahan terhadap HIV/AIDS digolongkan berdasarkan tiga kategori, yaitu : 2.7.1. Pencegahan Primer Tujuan dari pencegahan primer adalah untuk mengurangi kasus HIV/AIDS dengan cara mengendalikan faktor risiko dan cara transmisinya. Pencegahan primer ini dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan, antara lain : a. tidak melakukan hubungan seksual (abstinence) dengan orang lain yang bukan pasangannya dan tidak berganti pasangan dan saling setia (be faithful)

Universitas Sumatera Utara

b. menggunakan kondom sewaktu melakukan aktivitas seksual yang berisiko (consistently use condom) c. menghindari penggunaan jarum suntik secara bergantian kepada orang lain d. semua alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik, jarum tato, atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan cara yang benar e. mengembangkan program pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai cara penularan HIV 17,27

2.7.2. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder ditujukan kepada para penderita dan mengurangi akibatakibat yang lebih serius dari kasus yang terjadi, yaitu melalui diagnosis dini dan pemberian pengobatan. Pada tahap ini, individu yang beresiko tinggi dapat melakukan tes skrining untuk melihat anti HIV dalam darahnya. 18,27

2.7.3. Pencegahan Tersier Pencegahan tersier dilakukan untuk mengurangi kemajuan atau komplikasi penyakit yang sudah terjadi dan adalah merupakan sebuah aspek terapeutik dan kedokteran rehabilitasi yang penting sekali. Upaya ini terdiri atas ukuran-ukuran yang dimaksudkan untuk menurunkan kelemahan dan kecacatan, memperkecil penderitaan dan membantu penderita untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kondisi yang tidak dapat diobati lagi. 27 Pencegahan ini dapat dilakukan misalnya melalui pendekatan kejiwaan terhadap penderita AIDS, kesiapan keluarga dan masyarakat untuk menerima orang yang hidup

Universitas Sumatera Utara

dengan AIDS (ODHA) dengan meniadakan stigma terhadap keberadaan ODHA dan senantiasa mendampingi dan mendukung ODHA melalui perawatan dengan penuh kasih sayang. 17,18

2.8. VCT (Voluntary Counseling and Testing) 2.8.1. Definisi VCT VCT adalah proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidential dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV yang penting untuk pencegahan dan perawatannya. 28 2.8.2. Tujuan VCT Tujuan umum adalah menurunkan angka kesakitan HIV/AIDS melalui peningkatkan mutu pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS sukarela dan perlindungan bagi petugas layanan VCT dan klien.29 Tujuan khusus dari VCT antara lain : a. Sebagai pedoman penatalaksanaan pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS. b. Menjaga mutu layanan melalui penyediaan sumber daya dan manajemen yang sesuai. c. Memberi perlindungan dan konfidensialitas dalam pelayanan konseling dan testing HIV/AIDS 29 Tujuan dari VCT ini merupakan suatu langkah awal yang penting menuju program pelayanan HIV/AIDS lainnya yaitu pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, pencegahan dan manajemen klinis penyakit-penyakit yang berhubungan dengan HIV, pengendalian penyakit TBC serta dukungan psikologis dan hukum. 30

Universitas Sumatera Utara

2.8.3. Prinsip Pelayanan VCT 29 Adapun prinsip pelayanan dalam VCT antara lain : a. Sukarela dalam melaksanakan testing HIV. Pemeriksaan HIV hanya dilaksanakan atas dasar kerelaan klien, tanpa paksaan, dan tanpa tekanan. Keputusan untuk dilakukan testing terletak ditangan klien. Kecuali testing HIV pada darah donor di unit transfusi dan transplantasi jaringan, organ tubuh dan sel. Testing dalam VCT bersifat sukarela sehingga tidak direkomendasikan untuk testing wajib pada pasangan yang akan menikah, pekerja seksual, IDU, rekrutmen pegawai/tenaga kerja Indonesia, dan asuransi kesehatan. b. Saling mempercayai dan terjaminnya konfidensialitas. Layanan harus bersifat profesional, menghargai hak dan martabat semua klien. Semua informasi yang disampaikan klien harus dijaga kerahasiaannya oleh konselor dan petugas kesehatan, tidak diperkenankan didiskusikan di luar konteks kunjungan klien. Semua informasi tertulis harus disimpan dalam tempat yang tidak dapat dijangkau oleh mereka yang tidak berhak. Untuk penanganan kasus klien selanjutnya dengan seizin klien, informasi kasus dari diri klien dapat diketahui. c. Mempertahankan hubungan relasi konselor-klien yang efektif. Konselor mendukung klien untuk kembali mengambil hasil testing dan mengikuti pertemuan konseling pasca testing untuk mengurangi perilaku berisiko. Dalam VCT dibicarakan juga respon dan perasaan klien dalam menerima hasil testing dan tahapan penerimaan hasil testing positif. d. Testing merupakan salah satu komponen dari VCT.

Universitas Sumatera Utara

WHO dan Departemen Kesehatan RI telah memberikan pedoman yang dapat digunakan untuk melakukan testing HIV. Penerimaan hasil testing senantiasa diikuti oleh konseling pasca testing oleh konselor yang sama atau konselor lainnya yang disetujui oleh klien. 2.8.4. Tahapan VCT Dalam melakukan kegiatannya, VCT memiliki beberapa tahap, yakni :29 a. Konseling Pra Testing Adapun yang dilakukan pada saat konseling pra testing antara lain : i. ii. Penerimaan klien Informasikan kepada klien tentang pelayanan tanpa nama (anonimus) sehingga nama tidak ditanyakan iii. iv. Menjelaskan tentang prosedur VCT Penilaian risiko untuk membantu klien mengetahui faktor risiko dan menyiapkan diri untuk pemeriksaan darah v. Memberikan pengetahuan akan implikasi terinfeksi atau tidak terinfeksi HIV dan memfasilitasi diskusi tentang cara menyesuaikan diri dengan status HIV

b.

Tes HIV Prinsip tes HIV adalah sukarela dan terjaga kerahasiaanya. Tes dimaksud untuk

menegakkan diagnosis. Ada serangkaian tes yang berbeda-beda karena perbedaan prinsip metode yang digunakan. Tes yang digunakan adalah tes serologis untuk mendeteksi

Universitas Sumatera Utara

antibodi HIV dalam serum atau plasma. Spesimen adalah darah klien yang diambil secara intravena, plasma atau serumnya. Pada saat ini belum digunakan spesimen lain seperti saliva, urine, dan spot darah kering. Penggunaan metode tes cepat (rapid testing) memungkinkan klien mendapatkan hasil tes pada hari yang sama. Tujuan tes HIV ada 4 yaitu untuk membantu menegakkan diagnosis, pengamanan darah donor (skrining), untuk surveilans, dan untuk penelitian. Hasil tes yang disampaikan kepada klien adalah benar milik klien dan petugas laboratorium harus menjaga mutu dan konfidensialitas dan menghindari terjadinya kesalahan, baik teknis (technical error) maupun manusia (human error) dan administratif (administrative error). Petugas laboratorium mengambil darah setelah klien menjalani konseling pra testing.

c.

Konseling Pasca Tes Konseling pasca testing membantu klien memahami dan menyesuaikan diri

dengan hasil tes. Konselor mempersiapkan klien untuk menerima hasil tes, memberikan hasil tes, dan menyediakan informasi selanjutnya. Konselor mengajak klien mendiskusikan strategi untuk menurunkan penularan HIV.

Universitas Sumatera Utara