Anda di halaman 1dari 4

Efek Samping Fenilbutazon Terhadap Penderita Artritis Reumatoid

Efek Samping Fenilbutazon Terhadap Penderita Artritis Reumatoid


Abstrak Latar Belakang. Beredarnya jamu yang mengandung fenilbutazon dikalangan dengan menempel label yang menghilangkan nyeri, pegel, linu. Membuat masyarakat mengkonsumsi jamu dan melupakan obat yang diberikan oleh dokter. Padahal yang dikonsumsi itu mempunyai efek samping yang serius Presentasi kasus. Seorang kakek berumur 79 tahun didiagnosis terkena artritis rheumatoid kemudian meminum jamu yang mengandung fenilbutazon. Kakek merasa nyaman dan mementingkan jamu dari pada obat yang diberi oleh dokter. Kemudian telah meminum jamu tersebut selama 2 minggu Diskusi. Mengkonsumsi fenilbutazon dalam jangka waktu yang lama dan tidak disertai dosis yang tinggi. Menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi kesehatan kita. Contohnya menimbulkan gas yang banyak dalam saluran pencernaan kemudian menimbulkan ulkus peptikum Kesimpulan. Dianjurkan tidak mengkonsumsi fenilbutazon kecuali obat AINS yang lain tidak efektif. Tetapi masih ada alternative lain yaitu penggunaan glukortikoid dan DMARDS Latar Belakang Rheumatoid Arthritis adalah penyakit autoimun yang ditandai oleh inflamasi sistemik kronik dan progresif, dimana sendi merupakan target utama. Populasi yang tinggi di dapatkan di Pima Indian dan Chippewa Indian masing masing sebesar 5,3% dan 6,8%. Di indoesia sendiri, di Poliklinik Reumatologi RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta, kasus baru AR 4,1% dari tahun 2000 dan pada periode Januari s/d Juni 2007. Prevalensi RA lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki laki dengan rasio 3:1. 1 Dalam kasus ini bagaimana penderita RA menggunakan jamu yang mengandung Fenilbutazon yang seharusnya sudah tidak dipakai lagi untuk terapi RA. Tujuan dibuatnya ini adalah bagaimana efek dari pemakaian Fenilbutazon terhadapa RA dan bagaimana seharusnya terapi yang diberikan kepada penderita RA

Presentasi Kasus Tn. HN umur 69 tahun, berat badan 55 dan mempunyai tinggi badan 165cm beragama islam. Bertempat tinggal di Panti Werda. Dia sudah tinggal 15 tahun di tempat itu. Dia tinggal di Panti karena tidak ada tempat tinggal lagi setelah bercerai dari istrinya. Sejak 2 minggu yang lalu mempunyai keluhan kaku dan nyeri sendi pada jari, pergelangan tangan, bahu, dan pergelangan kakinya. Nyeri dan kaku itu muncul pada pagi hari sesudah bangun tidur dan malam ketika ingin tidur. Dia sudah pernah ke klinik Panti dan didiagnosis oleh dokter menderita Rheumatoid

Efek Samping Fenilbutazon Terhadap Penderita Artritis Reumatoid Arthritis dan diberikan obat Piroxicam dengan anjuran pakai 3x1. Kemudian pasien rutin meminum obat tetapi dia juga mengkonsumsi jamu yang mengandung fenilbutazon (NSAID) dan dia mengaku sangat terbantu untuk meringankan nyeri dan kakunya dan menurut dia jamu itu lebih ampuh dari pada obat yang diberikan oleh dokter. Dia juga tidak merasakan efek samping dari jamu tersebut.

Diskusi Etiologi RA sebenarnya tidak diketahui pasti tetapi sejauh ini dikarenakan factor genetic dan hormone sex. Faktor risiko terkena Rheumatoid Arthritis adalah riwayat keluarga yang menderita RA, umur lebih tua, paparan salisilat dan merokok. Bisa jadi karena konsumsi kopi lebih dari 3 cangkir sehari. Gejala pada RA umumnya nyeri dan kaku pada banyak sendi, walaupun ada sepertiga penderita mengalami gejala awal pada satu atau beberapa sendi saja. Sendi yang paling banyak terkena adalah Metacarpophalangeal (MCP) frekuensinya 85% dan biasanya minimal 3 sendi yang terkena.7 Ada kriteria dari ARA yaitu : (1) kaku pagi hari (2) artritis pada 3 persendian atau lebih (3) artritis persendian lengan (4) artrtis simetris (5) nodul rheumatoid (6) factor rheumatoid positif (7) Pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan darah lengkap, factor rheumatoid, laju endap darah atau C-reactive protein (CRP). Pemeriksaan pencitraan yang bisa digunakan untuk menilai penderita RA antara lain foto polos dan MRI. 1 Pada kasus ini penderita RA mengkonsumsi jamu yang mengandung fenilbutazon yang merupakan golongan Obat Anti inflamasi non steroid (OAINS). Fenilbutazon adalah 3,5diokso- 1,2- difenil-4- butilpirazolidin dan oksifenilbutazon adalah derivat oksifenilnya. Fenilbutazon digunakan untuk mengobati artritis reumatoid dan sejenisnya sejak tahun 1949. 2 Farmakodinamik. Efek anti-inflamasi fenilbutazon untuk penyakit atritis reumatoid dan sejenisnya sama kuat dengan salisilat, tetapi efek toksiknya berbeda. Efek analgesik terhadap nyeri yang sebabnya nonreumatik lebih lemah dari salisilat. Fenilbutazon memperlihatkan retensi natrium klorida yang nyata, disertai dengan pengurangan diuresis dan dapat menimbulkan udem. Fenilbutazon memperlihatkan efek urikosurik ringan dengan menghambat reabsorpsi asam urat melalui tubuli. Farmakokinetik. Fenilbutazon diabsorpsi dengan cepat dan sempurna pada pemberian per oral. Kadar tertinggi dicapai dalam waktu 2 jam. Fenilbutazon dan oksifenbutazon diekskresi melalui ginjal secar lambat, karena ikatannya dengan protein plasma membatasi filtrasi glomerulus. Interaksi obat. Karena afinitasnya terhadap protein plasma lebih kuat daripada obat lain, maka fenilbutazon dan oksifenbutazon dapat menggeser obat lain dari ikatannya dengan protein. Pemakaian fenilbutazon dan oksifenbutazon bersama dengananti koagulan oral dan hipoglikemik oral haruslah diawasi secara ketat. Sediaan. Fenilbutazon tersedia sebagai tablet bersalut gula 100 mg dan 200 mg. Juga ada dalam bentuk suntikan. Indikasi. Dalam klinik fenilbutazon digunakan untuk mengobati penyakit pirai (gout) akut, arthritis rheumatoid dan gangguan sendi otot lainnya misalnya spondilitis ankilosa, osteoatritis.

Efek Samping Fenilbutazon Terhadap Penderita Artritis Reumatoid Karena toksisitasnya, fenilbutazon haya digunakan bila obat lain yang lebih aman tidak efektif lagi. Efek non terapi. Alergi terhadap fenilbutazon dan oksifentazon sering terjadi berupa reaksi kulit seperti urtikaria, udem angioneurotik, eritema nodosum, sindrom StevensJohnson, dermatitis eksfoliativa dan lain-lain. Kedua obat ini mengiritasi lambung cukup kuat sehingga sering menimbulkan keluhan pada epigastrium, bahkan dapat menyebabkan korosi lambung, tukak lambung akut atau kronik dan perdarahan lambung. Efek samping lain seperti vertigo, insomnia, euphoria, hematuria, dan penglihatan kabur pernah dilaporkan. Kontraindikasi. Fenilbutazon dan oksifentazon dikontraindikasikan pada penderita dengan hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, dan gangguan fungsi hati sehubungan dengan sifatnya yang menyebabkan retensi air dan natrium. 2 Ada sebuah temuan dimana seorang nenek nenek umur 75 tahun penderita OA meminum jamu yang mengandung fenilbutazon selama 6 minggu mengalami demam, sakit tenggorokan. Ketika di endoscopi ada eritema dan temperaturnya 38o. Kemudian dilakukannya kultur terhadap jamu itu dan ditemukan bakteri Klebsiella pnemoni, Enterobacter sakazakii, and Clostridium species but not C. koseri. Fenilbutazon efektif untuk anti inflamasi tetapi bisa menyebabkan agranulasitosis di United Kingdom sampai dibatasi untuk pengobatan ankylosing spondylitis.5 Sampai sekarang fenilbutazon tetap digunakan untuk terapi artritis gout dan artritis rematoid tetapi kurang aman, dipakai ketika obat NSAID yang lain tidak efektif. 5 Fenilbutazon merupakan derivate pirazol dan golongan NSAID yang kuat tetapi ini harus dipantau karena mampunyai efek samping yang serius. Karena mempunya konsentrasi di plasma yang tinggi setelah meminum fenilbutazon setelah 2 jam berbeda dengan obat yang lain dengan waktu yang panjang. Obat ini diminum harus sambil makan atau dengan bantuan obat antacid untuk mengurai dari efek samping ulkus peptikum. ada beberapa Toksisitas bisa yang terjadi yaitu (1) depresi sumsum tulang, menyebabkan agranulasitosis, trombositopeni purpura dan anemia. (2) pada pencernaan, bias menimbulkan nyeri pada ulu hati, menimbulkan banyak gas dan memberikan rasa mual. Dan bisa menimbulan ulkus peptikum. makanya sering diberika antacid untuk meringankan gejala itu. (3) edema, karena merenti air dan garam. Oleh karena itu dapat menyebabkan gagal jantung (4) pada kulit, timbul kemerahan, tetapi hilang jika menurunkan dosis perlahan. Pada satu kasus 3 hari pemberian original dosis sudah ada efek samping yang berarti.4 tetapi pada kasus ini gejala belum Nampak pada pasien karena pasien baru meminun jamu tersebut 2 minggu dan tidak rutin. Pada tahun 1986 fenilbutazon dipakai untuk balapan kuda untuk mencegah rasa nyeri pada sendi sendi kuda tetapi itu masih kontroversi dibolehkan atau tidak. Karena mempunyai efek samping yang sama yaitu ulkus peptikum. ada juga pemakaian fenilbutazon pada kuda yang menderita radang pada membrane synovial yang melapisi tulang.3

Efek Samping Fenilbutazon Terhadap Penderita Artritis Reumatoid Kesimpulan Jadi seharusnya fenilbutazon sudah tidak lagi digunakan karena cenderung memiliki efek samping yang membahayakan. Tujuan terapi pada RA adalah : (1) mengurangi rasa nyeri (2) mempertahankan status fungsional (3) mengurangi inflamasi (4) mengendalikan keterlibatan sistemik (5) proteksi sendi dan struktur ekstraartikular (6) mengendalikan progresivitas penyakit (7) menghindari komplikasi yang berhubungan dengan terapi. Masih banyak obat dari golongan yang lain yang bisa menyembuhkan penyakit RA. Seperti (1) Glukokortikoid, contohnya adlah prednisone yang cukup efektif untuk meredakan gejala dan memperlambat kerusakan sendi. Dosisnya harus dosis minimal karena risiko tinggi mengalami efek samping seperti osteoporosis, katarak. (2) Disease Modifying Arthritis Rheumatoid Drug (DMARD), beberapa jenis yang digunakan adalah klorokuin, merupakan DMARD paling banyak digunakan di Indonesia karena murah dan gampang didapat tetapi efektivitas rendah disbanding DMARD lainnya. Acknowledgement Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan dan saran yang telah diberikan oleh DR. drh. Hj. Titiek Djannatun (koordinator penyusun Blok Elektif), dr. Hj. RW. Susilowati, MKes (koordinator pelaksana Blok Elektif), dr. Faisal, SpPD dan dr. Indra Kusuma (dosen pengampu dan dosen tutor bidang kepeminatan Geriatri), dan beserta staf Unit Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulya 3 Ciracas, Jawa Barat Daftar Pustaka 1. I Nyoman Suarjana 2009. Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke 5. hal. 2495- 2513. Jakarta 2. Katzumg, B.G. (1989). Farmakologi Dasar dan. Edisi kedua. Jakarta : Hipokrates. Hal. 25 3. Elam C. Toone, JR, 1954. Evaluation of Phenylbutazone (Butazolidin) in the Treatment of Rheumatoid Spondylitis: Report of 50 Cases. NCBI [internet]. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2249105/pdf/tacca00126-0147.pdf 4. J.C. Leonard, 1953. Toxic Effects of Phenylbutazone. BMJ [Internet] http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2016584/pdf/brmedj03446-0031.pdf 5. Sherwood L. gorbach, 2005. Agranulocytosis and Citrobacter Infection Associated with Jamu,a Herbal Remedy Containing Phenylbutazone. Oxford Journals [internet] http://cid.oxfordjournals.org/content/40/12/1859.full.pdf+html 6. Rizasyah Daud, 2000. Diagnosis dan penatalaksanaan artritis rheumatoid [internet] http://www.itokindo.org/?wpfb_dl=24 7. Price, Wilson. 2008. Patofisiologi. Edisi6. Hal 1385 1390. Jakarta