Anda di halaman 1dari 38

REAKTOR (R 110)

Fungsi : Mereaksikan propilena dan amonia untuk menghasilkan asetonitril


Tipe : Reaktor fixed bed multitubular

Persamaan reaksi
Reaksi yang terjadi pada reaktor adalah reaksi seri, yaitu sebelum
membentuk asetonitril, terbentuk propionitril yang selanjutnya membentuk
asetonitril.
CH
3
CH = CH
2
+ NH
3
CH
3
CH
2
CN + 2H
2

CH
3
CH
2
CN + H
2
CH
3
CN + CH
4

Tabel C.1 Data percobaan
761,11 K 769,44 K
Konversi C
3
H
6
menjadi CH
3
CN (%)
Selektivitas CH
3
CN (%)
Selektivitas CH
3
CH
2
CN (%)
Mol NH
3
: Mol C
3
H
6

Tekanan operasi (atm)
Residence time (detik)
Volume reaktor percobaan (ml)
32,57
99,2976
1,2.10
-3

2 : 1
7,1225
14
350
37,45
99,9714
-
2 : 1
7,1225
14
350

(Industrial and Chemical Engineering vol 45 no.2, Feb 1953)
Pada percobaan yang telah dilakukan, reaksi dijalankan pada suatu reaktor
yang diisi dengan katalisator 10 % MoO
3
pada activated alumina. Sedangkan
untuk perancangan reaktor, berdasarkan data-data diatas.

C.1.1 Menentukan Nilai k
1
dan k
2
pada Berbagai Suhu:

Reaksi yang terjadi :
k1
CH
3
CH = CH
2
+ NH
3
CH
3
CH
2
CN + 2H
2
..( C.1.1)
k2
CH
3
CH
2
CN + H
2
CH
3
CN + CH
4
...( C.1.2)
Jika :
CH
3
CH = CH
2
= A H
2
= D
NH
3
= B CH
3
CN = E
CH
3
CH
2
CN = C CH
4
= F
x = konversi C
3
H
6
menjadi CH
3
CH
2
CN dan CH
3
CN
y = konversi C
3
H
6
menjadi CH
3
CN

Neraca massa :
Asumsi asumsi yang diambil :
1. Aliran plug flow, tidak ada gradien konsentrasi kearah radial (D/Dp
= 8 50) (Rase, 1977)
2. Dispersi aksial diabaikan (L/Dp 100) (Rase, 1977)
3. Gradien konsentrasi intra partikel dan interfase diabaikan
4. Steady state
Penyusunan model neraca massa dilakukan dalam sebuah pipa berisi
katalisator sepanjang z dengan konversi X
A

Elemen Volum z ID
4
2
A
t
=
z A A =




Gambar C.1 Neraca massa pada pada reaktor pipa
Neraca massa A (C
3
H
6
) di fase gas pada elemen volume
(rate of input) (rate of output) = (rate of acc.)
( ) ( ) 0 . ) ( F - F A A
v
= A + A + B V rA v v

( ) ( )
.
A A
) (- -
V
F - F
v
B A
v
r
v
=
A
A +


jika V 0 maka diperoleh :
. ) (- -
V
B A
A
r
d
dF
=
.( C.1.3)

F
A
X
A

F
A
+ F
A

X
A
+ X
A


Az
ID
Neraca massa E (CH
3
CN) di fase gas pada elemen volume
( ) ( ) 0 B . r F - F
2
E E
v
= A + A + V v v

( ) ( )
.
2
E E
r
V
F - F
v
B
v
v
=
A
A +

jika V 0 maka diperoleh :
.
2
r
V
B
E
d
dF
=
.( C.1.4)
Persamaan-persamaan kecepatan reaksi :
(-r
1
) = k
1
. C
A
. C
B
............( C.1.5)
(-r
2
) = k
1
. C
C
. C
D
............( C.1.6)
Umpan :
C
3
H
6
= F
Ao

NH
3
= 2 F
Ao

C
3
H
8
= 0,01F
Ao
H
2
O

=

0,02 F
Ao

Keluar elemen volume :
C
3
H
6
(F
A
) = F
AO
(1 - x)
NH
3
(F
B
) = F
AO
(2 - x)
C
2
H
5
CN (F
C
) = F
AO
(x - y)
H
2
(F
D
) = F
AO
(2x - y)
CH
3
CN (F
E
) = F
AO
Y
CH
4
(F
F
) = F
AO
Y
C
3
H
8
= 0,0526 F
Ao
+


n
t
= F
A
+ F
B
+ F
C
+ F
D
+ F
E
+ F
F
+ F
I

= F
AO
(3,0526 + x)
RT
P
x
x) (3,0526
x) (1
RT
P
x
x) (3,0526 F
x) (1 F
RT
P
x
nt
F
C
AO
AO A
A
+

=
+

= =
RT
P
x
x) (3,0526
x) (2
RT
P
x
x) (3,0526 F
x) (2 F
RT
P
x
nt
F
C
AO
AO B
B
+

=
+

= =
RT
P
x
x) (3,0526
y) - (
RT
P
x
x) (3,0526 F
y) - ( F
RT
P
x
nt
F
C
AO
AO C
C
+
=
+
= =
x x


RT
P
x
x) (3,0526
y) (2x
RT
P
x
x) (3,0526 F
y) - x 2 ( F
RT
P
x
nt
F
C
AO
AO D
D
+

=
+
= =

sehingga persamaan (C.1.3) menjadi :
B 1
AO
x
RT
P
x
x) (3,0526
x) (2
x
RT
P
x
x) (3,0526
x) (1
x k
dV
x) (1 dF
+


AO
B
2
2
1
F

x
RT
P
x
x) (3,0526
x) (2 x x) (1
x k
dV
dx
|
.
|

\
|
+

= .( C.1.7)
persamaan (4) menjadi :
B 2
AO
x
RT
P
x
x) (3,0526
y) (2x
x
RT
P
x
x) (3,0526
y) - (
x k
dV
dF
+

+
=
x y

AO
B
2
2
2
F

x
RT
P
x
x) (3,0526
) (2x x y) (x
x k
dV
dy
|
.
|

\
|
+

=
y
( C.1.8)
dengan :
r
1
, r
2
= kecepatan reaksi, mol/waktu
k
1
, k
2
= konstanta kec. reaksi, vol
2
/(mol.berat katalis.waktu)
F
AO =
umpan C
3
H
6
mula-mula, mol/waktu
F
i
= mol masing-masing komponen (i = a, b, c, d, e, f, i), mol/waktu
V = volume reaktor percobaan, vol

B
= densitas bulk katalis, berat/vol
C
i
= konsentrasi masing-masing komponen, mol/vol
P = tekanan reaktor, absolut
T = suhu operasi, K
R = konstanta gas ideal
Analisis pada kondisi operasi :
P = 7,125 atm
T = 761,11 K = 488,11 C
Residence time = 14 detik
Volume reaktor = 350 ml

jam
ml
90000
jam 1
s 3600
x
s
ml
25
detik 14
ml 350
Fv = = =
gmol/jam 2635 , 10
K 761,11 .
K gmol
atm ml
06 , 82
ml/jam 90000 . atm 7,125
T R
V P
n
t
= = =
gmol/jam 3,3623
3,0526
10,2635
F
AO
= =
konversi C
3
H
6
total (x) = 32,8004 %
konversi C
3
H
6
menjadi CH
3
CN (y) = 32,57 %

Analisis pada kondisi operasi :
P = 7,125 atm
T = 769,44 K = 496,44 C
Residence time = 14 detik
Volume reaktor = 350 ml
jam
ml
90000
jam 1
s 3600
x
s
ml
25
detik 14
ml 350
Fv = = =
gmol/jam 1523 , 10
K 769,44 .
K gmol
atm ml
06 , 82
ml/jam 90000 . atm 7,125
T R
V P
n
t
= = =
gmol/jam 3,3259
3,0526
10,1523
F
AO
= =
konversi C
3
H
6
total (x) = 37,4607 %
konversi C
3
H
6
menjadi CH
3
CN (y) = 37,45 %

Dengan menggunakan persamaan (7) dan (8) dan dengan menggunakan
metode Runge Kutta, harga k
1
dan k
2
dapat dicari dengan coba-coba
menggunakan program komputer. Jika hasil x dan y sesuai atau mendekati
dengan harga yang diinginkan maka hasil coba-coba k
1
dan k
2
benar. Hasil
perhitungan konstanta kecepatan reaksi dapat dilihat pada tabel C.2.
Tabel C.2 Hasil perhitungan konstanta kecepatan reaksi
761,11 K 769,44 K
k
1
, cm
6
/(gmol.gkat.jam) 705.860 871.505
k
2
, cm
6
/(gmol.gkat.jam) 1,045.10
9
2,5125.10
9


Hubungan konstanta kecepatan reaksi dengan suhu
Hubungan konstanta kecepatan reaksi dengan suhu didekati dengan
persamaan Arhenius :
k = A exp (-E/RT) .( C.1.9)
atau
ln k = C + D/T .( C.1.10)
dengan :
k = konstanta kecepatan reaksi
A = faktor frekuensi tumbukan partikel
E = energi aktivasi
R = konstanta gas ideal
T = suhu absolut
C = ln A
D = -E/R
Hubungan konstanta kecepatan reaksi 1 (k
1
) dengan suhu (T) :
ln k = C + D/T
ln (705860) = C + D/761,11
11,4671722 = C + D (1,31387 10
-3
) .( C.1.11)
ln (871505) = C + D/769,44
13,6779769 = C + D (1,29965 10
-3
) .( C.1.12)
dari persamaan (11) dan (12) diperoleh nilai C dan D
C = 32,9391 dan D = -14820,3153
Maka persamaan k
1
untuk berbagai suhu =
ln k
1
= 32,9391 14820,3153/T atau
k
1
= 2,0197 10
14
exp (180,6034/RT) ...( C.1.13)
Hubungan konstanta kecepata reaksi 2 (k
2
) dengan suhu :
ln k = C + D/T
ln (1,045.10
9
) = C + D/761,11
20,7672827 = C + D (1,31387 10
-3
) .( C.1.14)
ln (2,5125.10
9
) = C + D/769,44
21,6445441 = C + D (1,29965 10
-3
) .( C.1.15)
dari persamaan (14) dan (15) diperoleh nilai C dan D
C = 101,7997 dan D = -61674,58
Maka persamaan k
2
untuk berbagai suhu =
ln k
2
= 101,7997- -61674,58/T atau
k
2
= 1,6257.10
44
exp (751,5791/RT) .( C.1.16)
Persamaan (C.1.13) dan (C.1.16) digunakan untuk menghitung nilai k
1
dan k
2

pada berbagai suhu pada perhitungan reaktor.

C.1.2 Ukuran Butir Katalisator
Katalisator yang digunakan adalah 10 % MoO
3
yang diaktivasi dengan
alumina dengan specific gravity 3,98. Bentuk partikel yang dipilih adalah bola
dengan diameter 0,25 (diameter untuk partikel bola yang biasa digunakan adalah
1/16 . (Smith, 1970)
Percobaan Colburn untuk perbandingan antara koefisien transfer panas
pada pipa yang berisi katalisator dan pipa kosong pada berbagai variasi
perbandingan diameter katalis dan diameter pipa dinyatakan sebagai berikut
(Smith, 1970, hal: 511).
Tabel C.3 Percobaan Colburn
dP/dt 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30
hP/ht 5,50 7,00 7,80 7,50 7,00 6,60

Dari hasil percobaan diatas dipilih dP/dt = 0,15, karena memberikan nilai hP/ht
yang paling besar (transfer panas yang baik)
Untuk menentukan porositas, dapat dilihat pada fig. 222 (Brown, 1978)
hubungan antara porositas dan dP/dt. Porositas yang diperoleh pada dP/dt = 0,15
adalah 0,4.
Bulk density (
B
) = 2,388 g/ml (Industrial and Chemical Engineering vol
45 no.2, Feb 1953).
C.1.3 Ukuran Tube
Perbandingan diameter katalisator dan diameter pipa ; dP/dt = 0,15
Diameter katalisator = 0,25 in (0,635 cm)
Diameter pipa = 1,67 in
Dari tabel 11 (Kern, 1965) diambil spesifikasi pipa sebagai berikut :
Schedule number = 40
Nominal pipe size, IPS = 1,5 in
Diameter dalam, ID = 1,610 in
Diameter luar, OD = 1,90 in
Flow area per pipe = 2,04 in
2

Weight per lin ft = 2,72 lbsteel/ft
Bahan konstruksi = Seamless steel SA-312

Susunan Tube
Susunan tube yang dipilih adalah triangular pitch, meskipun Pressure
drop lebih besar dari square pitch namun memberikan transfer panas yang lebih
baik.
Ukuran pitch, P
T
= 1,25 x OD = 1,25 x 1,90 = 2,375 in
Clearance, C = Pt OD = 2,375 1,90 = 0,475 in

Jumlah Tube
Jumlah tube ditentukan dengan cara sebagai berikut :
a. Ambil sembarang nilai jumlah tube
b. Menghitung aliran massa tiap satuan luas tube (G = F/A)
c. Menghitung Reynold Number ; Re > 100
d. Membendingkan besarnya Pressure drop per satuan panjang tube dengan
referensi, besarnya Pressure drop total harus lebih kecil dari 3 15 %
tekanan total (Rase, 1977).
Hasil perhitungan yang diperoleh, jumlah tube = 800 buah.



C.1.4 Ukuran Shell
Diameter Shell
Ukuran diameter shell diperkirakan dengan menghitung diameter bundel
yang didasarkan padas susunan tube standar. Diameter bundle tube dihitung
menggunakan persamaan 12.3 b (Coulson vol. 6, 1989) :
Db = do . (Nt/K1)
1/n1
.(C.1.17)
dengan : Nt = jumlah tube
do = diameter luar tube, in
Db = diameter bundle, in
Dari tabel 12.4 (Coulson vol. 6, 1989) diperoleh untuk nilai k1 dan n1 pada
triangular pitch, Pt = 1,25 do dan satu pass shell, yaitu :
k1 = 0,319 dan n1 = 2,142
Db = 4,83 . (800/0,319)
1/2,412
= 157,9916 cm
Diameter shell dihitung dengan melihat gambar 12.10 (Coulson vol. 6, 1989)
untuk jenis fixed dan U-tube :
Diameter shell Diameter bundle = 0,025 m (2,5 cm)
Diameter dalam shell = 157,9916 cm + 2,5 cm = 160.4916cm = 63.1857 in

Diameter Ekivalen Shell
Diameter ekivalen shell untuk triangular pitch menggunakan persamaan
7.5 (Kern, 1950) :
do 0,5
) 4 / do x 0,5 - Pt 0,86 Pt x (0,5 x 4
De
2
= ..(C.1.18)
dengan : De = diameter ekivalen shell, in
Pt = ukuran pitch, in
Do = diameter luar tube, in
Dari perhitungan diperoleh nilai De = 1,3524 in

Cross Flow Area Shell
Dihitung dengan menggunakan persamaan 7.1 (Kern, 1950):

Pt
B x C' x IDS
as = (C.1.19)
as = 718.6374 in
2

dengan : as = flow area untuk shell, in
2

IDS = diameter dalam shell, in
C = clearance, in
B = buffle spacing, in
P
T
= ukuran pitch, in
Buffle spacing diambil 0,9 x diameter dalam shell (Buffle spacing untuk gas pada
umumnya mendekati 1 x diameter dalam shell) (Kern, 1950).


C.1.5 Neraca Massa Reaktor
Asumsi asumsi yang diambil :
1. Aliran plug flow, tidak ada gradien konsentrasi ke arah radial (D/Dp
= 8 50) (Rase, 1977)
2. Dispersi aksial diabaikan (L/Dp 100) (Rase, 1977)
3. Gradien konsentrasi intra partikel dan interfase diabaikan
4. Steady state
Penyusunan model neraca massa dilakukan dalam sebuah pipa berisi
katalisator sepanjang z dengan konversi X
A

Elemen volume z ID
4
2
A
t
=
z A A =




Gambar C.2 Neraca massa pada reaktor pipa
Neraca massa A (C
3
H
6
) di fase gas pada elemen volume setebal Z.
(rate of input) (rate of output) = (rate of acc.)
( ) 0 z ID
4

) r ( F - F
2
B.
1
A A
Z Z Z
=
|
.
|

\
|
+
+
( ) ( )
2
.
1
A A
4
) (- -
z
F - F
Z Z Z
ID r B
t
=
A
A +

jika z 0 maka diperoleh :
2
B.
1
A
ID
4

) (-r -
dz
dF
=

karena F
A
= F
A0
(1 - X
A
)
dF
A
= - F
A0
dX
A

didapat :
0
2
B.
1
1
ID
4

) (-r
dz
dx
A
F
=
..(C.1.20)
Az
ID
F
A
X
A

F
A
+ F
A

X
A
+ X
A


Dari persamaan (C.1.5) dan (C.1.20) didapat persamaan diferensial antara
konversi reaksi 1 terhadap perubahan panjang reaktor.

(C.1.21)

Neraca massa B (NH
3
) di fase gas pada elemen volume setebal Z
rate of input) (rate of output) = (rate of acc.)
( ) 0 z ID
4

) r ( F - F
2
B.
1 B B
Z Z Z
=
|
.
|

\
|
+
+
( ) ( )
2
.
1
B B
4
) (- -
z
F - F
Z Z Z
ID r B
t
=
A
A +


jika z 0 maka diperoleh :
2
B.
1
B
ID
4

) (-r -
dz
dF
=
( C.1.22)
Neraca massa C (CH
3
CH
2
CN) di fase gas pada elemen volume setebal Z
rate of input) (rate of output) = (rate of acc.)
( ) 0 z ID
4

) r (r F - F
2
B.
2 1 C C
Z Z Z
=
|
.
|

\
|

+
( ) ( )
2
.
2 1
C C
4
) r - (r
z
F - F
Z Z Z
ID B
t
=
A
A +

jika z 0 maka diperoleh :
2
B.
2 1
C
ID
4

) r - (r
dz
dF
=
( C.1.23)

Neraca massa D (H
2
) di fase gas pada elemen volume setebal Z
rate of input) (rate of output) = (rate of acc.)
( ) 0 z ID
4

) r (r F - F
2
B.
2 1 D D
Z Z Z
=
|
.
|

\
|

+
( ) ( )
2
B.
2 1
D D
ID
4

) r - (r
z
F - F
Z Z Z
=
A
A +

jika z 0 maka diperoleh :
2
B.
2 1
D
ID
4

) r - (r
dz
dF
=
( C.1.24)

Neraca massa E (CH
3
CN) di fase gas pada elemen volume setebal Z
rate of input) (rate of output) = (rate of acc.)
( ) 0 z ID
4

r F - F
2
B.
2 E E
Z Z Z
=
|
.
|

\
|

+
( ) ( )
2
B.
2
E E
ID
4

r
z
F - F
Z Z Z
=
A
A +

jika z 0 maka diperoleh :
2
B.
2
E
ID
4

r
dz
dF
=
( C.1.25)
Dari persamaan (C.1.25) dan persamaan (C.1.6) didapat persamaan
diferensial antara konversi reaksi 2 terhadap perubahan panjang reaktor.



Neraca massa F (CH
4
) di fase gas pada elemen volume setebal Z
rate of input) (rate of output) = (rate of acc.)
( ) 0 z ID
4

r F F
2
B.
2 F F
Z Z Z
=
|
.
|

\
|

+
-

( ) ( )
2
B.
2
F F
ID
4

r
z
F - F
Z Z Z
=
A
A +

jika z 0 maka diperoleh :
2
B.
2
F
ID
4

r
dz
dF
=
( C.1.27)
Dimana:

B
= bulk density dari katalisator, g/cm
3
ID = diameter dalam pipa, cm
Fi = kecepatan alir masing-masing komponen, mol/waktu
i = A, B, C, D, E, dan F
r
1
dan r
2
= kecepatan reaksi 1 dan 2, mol/waktu/berat kat.

Hasil perhitungan neraca massa keluar reaktor dengan bantuan program
komputer dapat dilihat pada Tabel C.4 berikut:
Tabel C.4 Neraca massa keluar reaktor
Senyawa
yi
Mol/jam Kg/jam
H
2

0,108
45,980 91,961
CH
4
0,114 48,151 770,408
C
3
H
6
0,181 76,741 3223,103
C
3
H
8
0,017 7,163 315,153
NH
3
0,470 199,448 3390,621
CH
3
CN
0,108
45,954 184,116
CH
3
CH
2
CN
3,1E-5
0,013 0,722
H
2
0
0,001
0,536 9,666
Total
1,000
423,986 9685,7396

C.1.6 Neraca Panas Reaktor

Reaksi :
Hr
1

CH
3
CH = CH
2
+ NH
3
CH
3
CH
2
CN + 2H
2
H
1
= endothermis
Hr
2

CH
3
CH
2
CN + H
2
CH
3
CN + CH
4
H
2
= eksothermis

Asumsi asumsi yang diambil :
1. Aliran plug flow, tidak ada gradien suhu ke arah radial
(D/Dp = 8 50) (Rase, 1977)
2. Dispersi aksial diabaikan (L/Dp 100) (Rase, 1977)
3. Gradien suhu intra partikel dan interfase diabaikan
4. Steady state
5. Kapasitas panas gas (Cp), viskositas gas () dan panas reaksi (H
R
)
merupakan fungsi suhu dan bukan fungsi jarak.
Penyusunan model neraca panas dilakukan dalam sebuah pipa berisi
katalisator sepanjang z dengan konversi x dan y pada suhu gas T.

a. Neraca panas fase gas pada elemen volume
(rate of input) (rate of output) + heat of reaction = (rate of acc.)
| | ( ) | | ( ) ( ) 0 H - y . F H - x F T - Tp N OD z U -
R2 AO R1
Ao t D Z = A A + A A + A +
|
.
|

\
|
A + t Z Z H H
( ) ( ) T - Tp N OD z U - H
dz
dy
F H -
dz
dx
F
z
-
t D
R2 AO R1
Ao
Z
|
.
|

\
|

A +
A A + A =
A
t
H H Z Z

Jika diambil 0 z A maka :
( ) ( )
( )
T - N OD z U - H
dz
dy
F H -
dz
dx
F F t D
R2 AO R1
Ao Ao Tp
dz
dH
A A + A = t
( ) ( ) ( )
( )

A A + A = T - Tp N OD z U - H
dz
dy
F H -
dz
dx
F
dz
dT
Cpi t D
R2 AO R1
Ao t Fi

( ) ( )
( )
( )


A + A
=

Cpi Fi dz
dT
T - Tp N OD U - H
dz
dy
F H -
dz
dX
F t D
R2 AO R1
A
Ao t

............. (C.1.28)

Dimana:
T = Suhu gas , K
Tp = Suhu pemanas, K
Fi = Kecepatan aliran massa komponen i, mol/jam
F
A0
= Kecepatan aliran massa komponen A, mol/jam
Cpi = Kapasitas panas komponen i, J/(mol.K)
N
t
= Jumlah pipa
U
D
= Koef.transfer panas overall, J/(jam.cm
2.
K)
H
R1
dan H
R2
= Panas reaksi, J/jam

b. Neraca panas pada pemanas
Asumsi :
1. Arah aliran pemanas cocurent
2. Steady state
(rate of input) (rate of output) = (rate of acc.)
( ) D 0 Tp - T z D U
z z
Tp Cp m = A +
A +
Nt O
z
Tp Cps m t

( )
Cp m
T Nt OD U
z
z
Ts
z z
Ts
D


=
A

A +
Tp - t

Jika diambil 0 z A maka :
( )
Cp m
Nt OD U
z
dTs D


=
A
Tp - T t
. ( C.1.29)
Dimana :
m

= Kecepatan aliran massa pemanas, mol/jam
Cp = Kapasitas panas pemanas, J/(mol.K)


C.1.7 Pressure drop Reaktor
a. Pressure drop dalam Tube
Pressure drop pada pipa berisi katalisator dapat didekati dengan
persamaan Ergun ( Walas, 1959 ) :
( ) ( )
(

c
c


= G 75 , 1
Dp
1 150 1
Dp g
G
dz
dP
( C.1.30)
Dimana:
dP = Pressure drop, lb/ft
2

dz = tebal tumpukan katalisator, ft
G = kecepatan aliran massa gas dalam pipa, lb/j.ft
2
= densitas gas,lb/cuft
Dp

= diameter ekivalen katalisator,ft
g = konstanta percepatan gravitasi bumi, ft/j
2

c = porositas tumpukan katalis
= viskositas gas, lb/j/ft

b. Pressure drop dalam Shell
Pressure drop dalam shell dihitung menggunakan persamaan Kern
s s De Bs
L Ds Gs f
Ps
|

= A
10
2
10 22 , 5
12
. ( C.1.31)
Dimana:
Ps = Pressure drop dalam shell,psi
L = panjang shell,ft
Gs = kecepatan aliran massa dalam shell, lb/j.ft
2
Ds = diameter dalam shell, ft
De

= diameter ekivalen, ft
Bs = jarak baffle, ft
S = spesific gravity
f = faktor friksi, ft
2
/in
2

|s = viscosity ratio

C.1.8 Sifat-sifat Fisis Bahan

1. Kapasitas Panas Gas
Kapasitas panas bahan dihitung dengan menggunakan persamaan :
Cp = A + BT + CT
2
+ DT
3
. ( C.1.32)
dengan : Cp = kapasitas panas, joule/mol K
T = suhu, K
A,B,C,D = konstanta kapasitas panas
Kapasitas panas campuran dihitung dengan persamaan :
Cp campuran = yi . Cpi ( C.1.33)
dengan : Yi = fraksi mol bahan

2. Viskositas Gas
Viskositas gas dihitung dengan persamaan sebagai berikut (Perry, 1999) :
f(1,33.Tr) x
Vc
Tc) . (BM 33,3
i
2/3
1/2
= . ( C.1.34)
Tr) 0,9log(1,9
0,645
(Tr.1,9)
0,261
- Tr . 1,08 f(1,33.Tr) = . ( C.1.35)
Viskositas campuran :
1/2
1/2
(BMi) . yi
(BMi) . i) . (yi
campuran
E
E
= . ( C.1.36)
Dimana : = viskositas gas, mikropoise
Tc = temperature kritis
Vc = volume kritis, cm
3

Tr = T/Tc
T = suhu, K
BM = berat molekul, g/mol

3. Konduktivitas Gas
Konduktivitas panas gas dihitung dengan persamaan empiris yang dijabarkan
oleh Eucken (Perry, 1999) :
Ki = (Cpi + 2,483) x (i/BMi) ( C.1.37)

Dimana : Ki = konduktivitas panas, cal/m K jam
Cpi = kapasitas panas, cal/gmol K
i = viskositas, g/m jam
konduktivitas panas campuran dihitung dengan persamaan :
1/2
1/2
(BMi) . yi
(BMi) . .Ki) (yi
Kcampuran
E
E
= ( C.1.38)

4. Koefisien transfer panas overall, U
D
`
a. Koefisien transfer panas dalam pipa, hi (joule/m
2
K jam)
Dihitung dengan persamaan Leva (Wallas, 1959) :
Untuk Dp/Dt < 0,35
hi = 0,813 (K/Dt) . e
-G.Dp/Dt
. (G.Dp/)
0,9
.. ( C.1.39)
untuk 0,35 < Dp/Dt < 0,6
hi = 0,125 (K/Dt) . (G.Dp/)
0,75
.. ( C.1.40)
Dimana : hi = koefisien transfer panas dalam pipa, J/jam cm
2
K
K = konduktivitas gas, J/cm jam K
Dt = diameter pipa, cm
Dp = diameter partikel, cm
G = kecepatan aliran massa gas, g/cm
2
jam
= viskositas gas, g/cm jam
hi = 198,9173 J/jam cm
2
K
hio = hi x IDt/ODt .. ( C.1.41)
= 30,8878 J/jam cm
2
K
b. Koefisien transfer panas dalam shell, ho
Koefisien transfer panas dalam shell, ho untuk 2100 < Re < 1.000.000 :
ho = 0,36 . (K/De) . (Gs.De/)
0,55
. (Cps.s/Ks)
1/3
.(/w)
0,14
...( C.1.42)
dengan :
ho = koefisien transfer panas dalam shell, J/jam cm
2
K
K = konduktivitas gas, J/cm jam K
De = diameter ekivalen shell , cm
Cps = kapasitas panas pemanas, J/gmol K
Gs = kecepatan aliran massa pemanas, g/cm
2
jam
s = viskositas fluida dalam shell, g/cm jam
(/w)
0,14
= 1
ho = 99,9558 J/jam cm
2
K
c. Clean overall transfer coefficient, Uc
Koefisien transfer panas pada dinding pipa besar sehingga dapat
diabaikan,
1/Uc = 1/ho + 1/(hi . IDt/ODt) ( C.1.43)
Uc = 23,5962 J/jam cm
2
K
d. Dirty overall heat transfer coefficient, Ud
Dihitung dengan persamaan :
1/Ud = 1/Uc + Rd ( C.1.44)
dengan : Rd = fouling factor (120 250) (Coulson vol. 6, 1989)
Ud = 0,0078 J/jam cm
2
K

5. Panas reaksi
Reaksi :
Hr
1

CH
3
CH = CH
2
+ NH
3
CH
3
CH
2
CN + 2H
2
H
1
= endothermis
Hr
2

CH
3
CH
2
CN + H
2
CH
3
CN + CH
4
-H
2
= eksothermis
Data panas pembentukan pada T = 298,15 K
H
f
C
3
H
6
= 20417,92 joule/mol
H
f
NH
3
= -45689,28 joule/mol
H
f
CH
3
CH
2
CN = 50626,40 joule/mol
H
f
CH
4
= -74851,76 joule/mol
H
f
CH
3
CN = 87864 joule/mol
H
f
H
2
= 0 joule/mol
H
r1
= (2 . H
f
H
2
+

H
f
CH
3
CH
2
CN) (H
f
C
3
H
6
+ H
f
NH
3
)
= (2 . 0 + 50626,40) (20417,92 45689,28)
= 75897,76 joule/gmol
H
r2
= (H
f
CH
3
CN

+

H
f
CH
4
) (2 . H
f
H
2
+

H
f
CH
3
CH
2
CN)
= (87864 74851,76) (2 . 0 + 50626,40)
= -37614,16 joule/gmol
Panas reaksi untuk setiap suhu T adalah
}
A + A = A
T
298
o
r r
dT Cp H H .. ( C.1.45)
Untuk reaksi pertama :
A = 38,664 C = -3,867.10
-5

B = 6,163.10
-3
D = 2,463.10
-8

H
r1
= 75897,760 + 38,664.(T 298) + 3,082.10
-3
(T
2
298
2
)
+ 1,289.10
-5
(T
3
298
3
) + 6,158.10
-9
(T
4
298
4
) ( C.1.46)
Untuk reaksi kedua :
A = -2,813 C = 9,085.10
-5

B = -7,3353.10
-3
D = -3,5293.10
-8

H
r1
= -37614,160 -2,813.(T 298) -3,668.10
-3
(T
2
298
2
) + 3,028.10
-5
(T
3

298
3
) + 8,823.10
-9
(T
4
298
4
) ( C.1.47)

Dimana: H
r1
= Panas untuk reaksi pertama, J/mol
H
r2
= Panas untuk reaksi kedua, J/mol
T = suhu, K
Untuk menghitung ukuran reaktor (panjang), serta distribusi komposisi,
suhu gas, suhu pemanas, dan Pressure drop disetiap titik ketinggian,
menggunakan persamaan neraca massa, neraca panas, Pressure drop, dan
persamaan-persamaan pendukung. Persamaan-persamaan tersebut dapat
diselesaikan secara numeris dengan metode Runge-Kutta menggunakan program
komputer. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel C.5 berikut.

Tabel C.5 Hasil perhitungan reaktor dengan menggunakan program komputer
z T Tp P x y
0 769,4400 850 7,1225 0 0
25 767,4137 849,4548 7,1224 0,0044 8,1031E-05
50 766,3352 848,9056 7,1223 0,0088 0,0006
75 765,0793 848,3523 7,1222 0,0131 0,0019
100 763,5955 847,7934 7,1221 0,0174 0,0041
125 761,8491 847,2275 7,1221 0,0217 0,0071
150 759,8187 846,6527 7,2197 0,0260 0,0108
175 757,4915 846,0671 7,1219 0,0303 0,0151
200 754,8593 845,4688 7,1218 0,0345 0,0197
225 751,9152 844,8559 7,1217 0,0388 0,0245
250 748,6508 844,2262 7,1216 0,0430 0,0295
275 745,0561 843,5778 7,1215 0,0472 0,0345
300 741,4824 842,9091 7,1215 0,0634 0,0423
325 738,8131 842,2240 7,1214 0,0825 0,0573
350 736,7962 841,5278 7,1213 0,1014 0,0766
375 735,2661 840,8243 7,1212 0,1202 0,0974
400 734,1477 840,1166 7,1211 0,1388 0,1183
425 733,4084 839,4073 7,1210 0,1573 0,1389
450 733,0333 838,6989 7,12096 0,1756 0,1591
475 733,0161 837,9937 7,1209 0,1938 0,1788
500 733,3548 837,2942 7,1208 0,2119 0,1980
525 734,0515 836,6027 7,1207 0,2298 0,21697
550 735,1111 835,9215 7,1206 0,2476 0,2356
575 736,5419 835,2531 7,1205 0,2652 0,25399
600 738,3547 834,5998 7,1205 0,2828 0,2721
625 740,5638 833,9642 7,1204 0,3002 0,2901
650 743,1857 833,3488 7,1203 0,3175 0,3078
675 746,23999 832,7564 7,1202 0,3346 0,3254
700 749,7366 832,1898 7,1201 0,3517 0,3448
725 753,6896 831,6517 7,1200 0,3686 0,3624
742,62 756,77798 831,2915 7,11998 0,3805 0,3745
745 757,2120 831,2439 7,11997 0,3821 0,3761


Gambar C.3 Hubungan antara panjang reaktor dengan konversi reaksi 1 dan 2

Gambar C.4 Hubungan antara panjang reaktor dengan temperatur operasi

0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0.3
0.35
0.4
0.45
0.5
0 200 400 600 800
K
o
n
v
e
r
s
i

R
e
a
k
s
i

Panjang Reaktor (cm)
Reaksi 2
Reaksi 1
700
710
720
730
740
750
760
770
780
0 100 200 300 400 500 600 700 800
T
e
m
p
e
r
a
t
u
r

R
e
a
k
s
i

(
K
)

Panjang Reaktor (cm)

Gambar C.5 Hubungan antara panjang reaktor dengan tekanan operasi





7.1195
7.12
7.1205
7.121
7.1215
7.122
7.1225
7.123
0 100 200 300 400 500 600 700 800
T
e
k
a
n
a
n

(
a
t
m
)

Panjang Reaktor (cm)
C.1.9 Mechanical Design Reaktor

1. Tebal Shell
Tebal Shell minimum dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
C
0,6.P - E . f
r . P
tmin + = .. ( C.1.48)
Dengan : P = Tekanan Perancangan, Psi
R = Jari-jari dalam Shell, in
E = Joint Efficiency
f = Tekanan maksimum yang diijinkan untuk bahan, Psi
c = Corrosion allowance, in

Tekanan dalam Shell = 6 atm
Faktor keamanan diambil 10 % (Coulson vol. 6, 1989)
Tekanan perancangan = 0,1 x 6 atm = 6,6 atm = 97,02 Psi
Bahan konstruksi yang digunakan = carbon steel SA 212 Grade B
pada T > 925
0
F, f = 5500 Psi (table 13.1 Brownell, 1959)
joint efficiency ; E = 0,85 (double welded joint)
Corrosion allowance, c = 0,125 in
Diameter shell = 63,1857 in
0,125
6,6 x 0,6 - 0,85 x 5500
40,41 x 6,6
t + =
= 0,9742 in
Diambil tebal standar = 1 in

2. Tebal pipa
Ukuran pipa dapat dilihat pada tabel 11 Kern (1950).
Spesifikasi pipa :
Bahan konstruksi : Seamless carbon steel SA 106 Grade B
Allowable stress, f : 5500 Psi (Brownell, 1959)
Diameter dalam pipa, ID : 1,61 in
Diameter luar pipa, OD : 1,9 in
Schedule Number : 40
Nominal pipe size, IPS : 1,5 in
Berat/ft pipa : 2,72 lb
steel
/ft
Luas area per pipa : 2,04 in
2


3. Tebal head
Head yang digunakan adalah jenis torispherical dished head. Tebal head
dihitung dengan persamaan 7.76 dan persamaan 7.77 Brownell (1959).
C
P f
W Rc P
t +

=
. 2 , 0 . . 2
. .
min
c
.. (C.1.49)
) 3 ( 4 / 1
1
R
Rc
W + + = .. (C.1.50)

Dengan : P = Tekanan perancangan, Psi
W = Stress Intensification factor for torispherical dished
head
f = Tekanan maksimum yang diijinkan pada bahan, Psi
E = Joint efficiency, in
C = Corrosion allowance, in
Rc = Crown radius, in
R
1
= Knuckle radius, in

Poperasi = 7,125 atm
Pdesign = 1,1 x 7,125 atm
= 7,8375 atm
= 115,2112 psi
Bahan konstruksi = Carbon steel SA 212 Grade B

E = 0,8
f = 5500 Psi
c = 0,125 in
Rc = 63,1857 in
R
1
= 0,06 x 63,1857 in = 3,7911 in

|
|
.
|

\
|
+ =
3,7911
63,1857
3 x
4
1
W = 1,7706 in
0,125
115,2112 x 0,2 - 1 x 5500 x 2
1,7706 63,1857x x 115,2112
tmin + =
tmin = 1,1183 in

Diambil tebal standar = 1 2/16 in

4. Tinggi head
Tinggi head dihitung dengan persamaan :

h = Sft + IDD + t min

dari tabel 5.8 Brownell (1959), diperoleh:
Sf = 1,5 in
Rc = 63,1857 in
t = 1 2/16 in

IDD = Rc Rc/2 . 3 = 8,4653 in

h = 1,5 + 8,4653 + 1,1183
= 11,0836 in
= 28,1523 cm
5. Volume dan berat katalisator
Volume katalis = Nt x Atube x L
Atube = . . (1,61)
2
= 2,04 in
2

= 13,16 cm
2

L = 742,6195 cm

Volume katalis = 800 x 2,04 x 742,6195
= 1211955,0240 cm
3


Berat katalisator = Volume x p
= 1211955,024 x 2,388 g/cm
3

= 2894148,5970 g
= 2894,1486 kg


6. Tebal penyangga katalis (bed support)
Penyangga katalis berupa Perforated plate dengan ketebalan tertentu.
Tekanan yang harus ditahan oleh bed support = tekanan operasi + tekanan
karena katalisator

Tekanan operasi = 115,2112 Psi
tube penampang Luas
tube r tiap katalisato Berat
r katalisato karena Tekanan =

16 , 13
3617,6857
r katalisato karena Tekanan = = 274,9001 g/cm
2
= 4,0410 psi
Perforated plate yang digunakan mempunyai lubang dengan luas sama
dengan 50% luas tampang pipa.
Tebal plate dihitung dengan persamaan 13.27 Brownell (1959) :
c
F
P
. C' d. t +
|
.
|

\
|
= . ( C.1.51)
Dengan t = tebal minimum plate, in
d = diameter plate, in
P = Tekanan perancangan, Psi
f = Tekanan maksimum yang diijinkan pada bahan, Psi
c

= Konstanta dari appendix H Brownell (1959)


c = Corrosion allowance, in

Pdesign = 7,8375 atm = 115,2112 Psi
Bahan konstruksi = Carbon steel SA 212 Grade B
Allowable stress, f = 5500 Psi
Corrosion Allowance, c = 0,25
0,125
5500
115,2112
x
16
3
x 1,61 t + =

t = 0,2259 in
Diambil tebal standar 4/16

7. Tebal pemegang pipa (tube plate)
Pemegang pipa harus dapat mengatasi perbedaan tekanan antara dalam pipa

C
f .
P'
. Dp . Cph tp +
A
= ................. ( C.1.52)
(persamaan 13.112 Coulson vol. 6, 1989)
dengan : Cph = konstanta design = 1,1
Dp = diameter shell, in
P = perbedaan tekanan
= (115,1708 97,02) = 18,1508 psi
= ligament efficiency = 0,5
f = maximum allowable stress, psi
C = corrosion allowance, in
Bahan konstruksi = Carbon steel SA 212 Grade B
f = 5500 psi
C = 0,125 in
5500 x 0,5
18,1508
63,1857 x 1,1 tp = + 0,125 = 5,7717 in

Diambil tebal standar = 5 13/16 in

8. Diameter Saluran Umpan
Diameter optimum dihitung dengan persamaan 5.14 Coulson vol. 6 (1989).


-0,37 0,03 0,52
opt
. . G . 352,8 d = ................. ( C.1.53)

dengan : d
opt
= diameter optimum pipa, mm
G = kecepatan aliran massa, kg/s
= viskositas fluida, untuk gas
0,07
= 0,71
= densitas fluida, kg/m
3

Umpan reaktor = 9811,1453 kg/jam = 2,7253 kg/s
Densitas umpan = 0,7235 kg/m
3

-0,37 0,52
0,7235 0,71x x (2,7253) x 352,8 dopt =


= 469,4498 mm
= 18,4823 in




Diambil spesifikasi pipa standar :
Schedule number = 20
IPS = 20 in
OD pipa = 20 in
ID pipa = 19,25 in

9. Diameter saluran keluar produk
Diameter optimum dihitung dengan persamaan C.1.53.


-0,37 0,03 0,52
opt
. . G . 352,8 d = ................ (C.1.53)

dengan : d
opt
= diameter optimum pipa, mm
G = kecepatan aliran massa, kg/s
= viskositas fluida, untuk gas
0,07
= 0,71
= densitas fluida, kg/m
3

Kecepatan aliran gas = 2,7253 kg/s
Densitas produk = 0,7235 kg/m
3

-0,37 0,52
0,7235 0,71x x (2,7253) x 352,8 dopt =
= 469,4498 mm
= 18,4823 in
Diambil spesifikasi pipa standar :
Schedule number = 20
IPS = 20 in
OD pipa = 20 in
ID pipa = 19,25 in

10. Diameter saluran gas pemanas masuk
Kecepatan aliran gas = 2,7778 kg/detik
Densitas gas = 1,7795 kg/m
3
Diameter optimum pipa :
Diameter optimum dihitung dengan persamaan C.1.53.


-0,37 0,03 0,52
opt
. . G . 352,8 d = ............... (C.1.53)


dengan : d
opt
= diameter optimum pipa, mm
G = kecepatan aliran massa, kg/s
= viskositas fluida, untuk gas
0,07
= 0,71
= densitas fluida, kg/m
3
-0,37 0,52
1,7795 0,71x x ) (2,7778 x 352,8 dopt =
= 352,3003 mm
= 13,8701 in
Diambil spesifikasi pipa standar :
Schedule number = 30
IPS = 14 in
OD pipa = 14 in
ID pipa = 13,25 in

11. Diameter saluran gas pemanas keluar
Kecepatan aliran gas = 2,7778 kg/detik
Densitas gas = 1,7795 kg/m
3
Diameter optimum pipa :
Diameter optimum dihitung dengan persamaan C.1.53.


-0,37 0,03 0,52
opt
. . G . 352,8 d = ................ (C.1.53)

dengan : d
opt
= diameter optimum pipa, mm
G = kecepatan aliran massa, kg/s
= viskositas fluida, untuk gas
0,07
= 0,71
= densitas fluida, kg/m
3
-0,37 0,52
1,7795 0.71x x ) (2,7778 x 352,8 dopt = = 352,3003 mm = 13,8701 in

Diambil spesifikasi pipa standar :
Schedule number = 30
IPS = 14 in
OD pipa = 14 in
ID pipa = 13,25 in

12. Perlengkapan reaktor yang lain
a. Top man hole
Terletak disamping lubang pemasukan reaktan, diameter man hole antara
6 24 in (dipilih 18 in).
b. Void space
Ruang kosong diatas dan dibawah tumpukan katalisator tinggi antara
0 19 in (dipilih 6 in)
c. Innert ballast
Berfungsi untuk melindungi permukaan katalisator terhadap pengaruh
langsung aliran reaktan. Dipakai jenis tubular alumina balls, dengan tebal
tumpukan antara 2 16 in (dipilih 6 in).
d. Ballast separation screen
Terletak antara inert ballast dan katalisator berupa anyaman kawat
berukuran 10 x 10 mesh x 0,72 wire screen
e. Tinggi reaktor
Tinggi reaktor merupakan penjumlahan dari tinggi katalis, tinggi head,
tinggi ruang kosong dan innert ballast.
Tinggi katalisator = 742,6195 cm
Tinggi head = 28,1523 cm
Tinggi ruang kosong = 6 in = 15,24 cm
Inert ballast = 6 in = 15,24 cm

Tinggi total reaktor = tinggi katalis + 2 x tinggi head + 2 x ruang
kosong + 2 x inert ballast
Tinggi total reaktor
= 742,6195 + 2 x 28,1523 + 2 x 15,24 + 2 x 15,24 = 859,8841 cm
= 8,5988 m








13. Tebal Isolasi




T1 T4
T2 T3
Q Q


X1 X2
Gambar C.6 Distribusi suhu pada dinding reaktor

T
1
= suhu dinding dalam reaktor
T
2
= suhu dinding luar reaktor
T
3
= suhu dinding luar isolasi
T
4
= suhu udara luar
T
1
= suhu gas pemanas rata-rata = 840 K
T
2
= suhu udara luar = 303 K
T
3
= suhu dinding luar isolasi = 333 K

Koefisien perpindahan panas yang terjadi di dinding luar isolasi dan udara
merupakan gabungan antara konveksi dan radiasi, yang dihitung sebagai berikut :

a. Koefisien perpindahan panas konveksi
Koefisien perpindahan panas ini dihitung berdasarkan pada suhu film
rata-rata, Tf :
Tf = (Tg + Tu)/2
hc = . T
1/3

x = . L
3
. T
dengan : L = Tinggi reaktor, ft
T = Beda suhu dinding luar isolasi dengan udara
= dievaluasi dari harga x
= dicari dari fig 7.8 Mc Adams (1954)
= 9 . 10
7
ftF pada suhu 545,4 R
x = 9 . 10
7
. (28,2114)
3
. (140 86)
x = 1,0912 . 10
14

untuk harga x > 10
10
maka = 0,19; sehingga
hc = 0,19 . (140 86)
1/3

= 0,7182 Btu/jam ft
2
F


b. Koefisien perpidahan panas radiasi
Koefisien perpindahan panas radiasi dihitung dengan persamaan :

) T - (T
) T - (T . .
hr
u 3
4
u
4
3
= ................. (C.1.54)
harga = 0,967

545,4) - (599,4
) 545,4 - (599,4 . 10 . 1,73 . 0,967
hr
4 4 -9
=
hr = 1,2578 Btu/jam ft
2
F
sehingga : h = hc + hr
= 0,7182 + 1,2578
= 1,9760 Btu/jam ft
2
F

Persamaan-persamaan perpindahan panas :
1. Perpindahan panas dalam dinding reaktor

ODs/IDs ln
) T - (T . k . . 2
Q
2 1 baj a
= .................. (C.1.55)

2. Perpindahan panas dalam dinding isolasi

ODI/IDs ln
) T - (T . k . . 2
Q
3 2 ins
= ................... (C.1.56)

3. Perpindahan panas dari dinding luar isolasi ke udara
Q = h . . ODI . (T
3
T
4
) ..................... (C.1.57)

4. Perpindahan panas gabungan di dalam dinding reaktor dan dinding isolasi

ins baj a
3 1
k . . 2
(ODI/ODs) ln

k . . 2
(ODs/IDs) ln
) T - (T
Q
+
=



Pada keadaan steady-state maka :
) T - (T . ODI . . h
k . . 2
(ODI/ODs) ln

k . . 2
(ODs/IDs) ln
) T - (T

u 3
ins baj a
3 1
=
+

85,734) - (139,734 . ODI . . 1,976
0,077 x . 2
8) (ODI/5,348 ln

21 .x . 2
2655) (5,3488/5, ln
139,734) - (1052,334
=
+

dengan cara coba-coba harga ODI, maka diperoleh harga
ODI = 8,6346 ft
jadi tebal isolasi = (ODI ODs)/2 = (8,6346 - 5,3488)/2
= 1,6429 ft = 50,0762 cm

13. Desain Penyangga Vessel (Pondasi Vessel)













Gambar C.7 Bracket support (supported from steel - work)
(gambar 13.24 Coulson vol. 6, 1999)










Gambar C.8 Desain bracket (single gusset plate)
(gambar 13.32 Coulson vol. 6, 1999)
Beban desain maksimum dari penyangga dapat ditentukan dengan persamaan
13.96 Coulson vol. 6 (1989).
F
bs
= 60 L
c
t
c
................. (C.1.58)
Dimana: F
bs
: beban desain maksimum per bracket, N
L
c
: karakteristik dimensi bracket, mm
t
c
: tebal plat, mm
Dipilih:
Material = low-alloy steel SA 193 Grade B7
(tabel 13.1 Brownell, 1959)
Tinggi reaktor = 8,5988 m
L
c
= 859,88 mm (diasumsi panjang L
c
adalah 1/10 dari tinggi
reaktor)
t
c
= 1,5 in
= 38 mm (diasumsi tebal plat bracket 150% dari tebal
dinding shell reaktor)
F
bs
= 1965686 N
= 1965,686 kN





SKALA 1 : 45
Keterangan:
1. Shell
2. Tube
3. Inlet reaktan
4. Outlet produk
5. Inlet gas pemanas
6. Outlet gas pemanas
7. Man hole
8. Isolasi
9. Innert ballast
10. Void space
11. Head
Gambar C.9 Reaktor fixed bed multitubular
2
5
8
3
11
4
7
6
10
9
1