Anda di halaman 1dari 17

MODUL VI ALKIL HALIDA I.

Pengantar Bab ini membahas tentang senyawa organik senyawa organuk yang paling sederhana dari dua elemen yakni Karbon dan hidrongen yang disebut senyawa hidrokarbon. Ada tiga kelompok utama dari senyawa hirokarbon yaitu hidrokarbon jenuh, tak jenuh dan aromatik. Untuk bab ini hanya membahas hirokarbon jenuh yang hanya mengandung ikatan-ikatan tunggal karbon-karbon. 2. Tujuan Instruksional Umum Materi dalam bab ini sangat erat kaitannya dengan bab selanjutnya yaitu sikloalkana. Dalam bab ini mahasiswa akan memahami prinsip dan ikatan-ikatan jenuh yang terjadi pada karbon dan hidrongen yang lebih dikenal dengan alkana, tata nama dari alkana tersebut, sifat-sifat fisik dari alkana serta reaksi-reaksi yang terjadi pada alkana. rinsip dasar dan reaksi pada bab ini akan menjadi konsep dasar untuk bab selanjutnya. 3. Tujuan Instruksional Khusus !etelah mempelajari bab ini mahasiswa diharapkan dapat " #. Menjelaskan tatanama dari alkana $. Menjelaskan sifat-sifat dari alkana %. Menjelaskan konformasi yang terjadi pada alkana &. Menjelaskan reaksi-reaksi yang terjadi pada alkana . Kegiatan !elajar ALKIL HALIDA ". Uraian Pendahuluan Alkil halida adalah turunan hidrokarbon di mana satu atau lebih hidrogennya diganti dengan halogen. 'iap-tiap hydrogen dalam hidrokarbon potensil digantikan dengan halogen, bahkan ada senyawa hidrokarbon yang semua hidrogennya dapat diganti. !enyawa terflkuorinasi sempurna yang dikenal sebagai fluoro(arbon, (ukup menarik karena kestabilannya pada suhu tinggi. Alkil halida juga terjadi di alam, meskipun lebih banyak terjadi dalam organisme air laut daripada organisme air tawar. )alometana sederhana seperti *)*l%, **l&, *Br&, *)%+, dan *)%*l adalah unsure pokok alga )awai Aspagonsi taxiformis. Bahkan ada senyawa alkil halida yang diisolasi dari organisme laut yang memperlihatkan akti,itas biologis yang menarik. !ebagai (ontoh adalah plo(amen B, suatu turunan triklorosikloheksana yang diisolasi dari alga merah

Plocamium violaceum, berpotensi seperti DD' dalam akti,itas insentisidalnya melawan lar,a nyamuk.

#am$ar %.". Plo&amen !' (e$uah Triklori)a Kimiawan sering menggunakan -. sebagai notasi umum untuk organi( halida, - menyimbolkan suatu gugus alkil dan . untuk suatu halogen. Konfigurasi elektron dalam keadaan dasar halogen adalah sebagai berikut"

erlu di(atat bahwa halogen adalah atom-atom berelektrogenatif tinggi dan hanya kekurangan satu elektron untuk men(apai konfigurasi gas mulia. /leh itu halogen dapat membentuk ikatan ko,alen tunggal atau ionik yang stabil. +katan antara gugus metil dengan fluor, klor, brom, dan ioda terbentuk oleh tumpang tindih orbital sp% dari karbon dengan orbital sp% dari fluor, klor, brom, dan iod. Kekuatan ikatan *0. menurun dari metil fluorida ke metil iodida. )al ini men(erminkan prinsip umum bahwa tumpang tindih orbital-orbital lebih efisien antara orbital-orbital yang mempunyai bilangan kuantum utama yang sama, dan efisiensinya menurun dengan meningkatnya perbedaan bilangan kuantum utama. erlu pula di(atat bahwa halogen adalah lebih elektronegatif dari pada karbon, sehingga ikatan *-. bersifat polar di mana karbon mengemban muatan positif partial 1234 dan halogen muatan negatif partial 124.

Dengan demikian kerapatan elektron pada halogen lebih tinggi dari pada karbon.

2.1.1 Tatanama Alkil Halida )alida sederhana umumnya dinamai sebagai turunan hydrogen halida. !istem +U A* menamai halida sebagai halo turunan hidrokarbon. Dalam nama umum awalan n-, sek-, (s-), dan ter- (t-) se(ara berturut-turut menunjukkan normal, sekunder, dan tersier.

Dengan system +U A*, penamaan semua senyawa yang hanya mengandung fungsi uni,alensi dapat dinyatakan dengan awalan fungsi itu sendiri diikuti dengan nama hidrokarbon induk5 prinsip penomoran seke(il mungkin harus dipatuhi.

!ering terjadi dalam penamaan umum, hidrokarbon dipandang sebagai gugus.

+stilah geminal 1gem-4 1latin geminus, kembar4 dan ,i(inal 1,i(-4 1latin ,i(inus, tetangga4 kadang digunakan untuk memperlihatkan posisi relatif substitutein sebagai geminal untuk posisi #,# dan ,i(inal untuk posisi #,$.

%." (i*at+si*at ,isik Alkil Hali)a !ifat fisik beberapa alkil halida disajikan dalam 'abel 6.# berikut. Kebanyakan alkil halida adalah (air, bromida, iodida, dan polihalida umumnya mempunyai kerapatan 7 #. Alkil halida tidak larut dalam air tetapi dapat saling melarutkan dengan hidrokarbon. 'abel 6.# Alkil )alida

%.2 -eaksi Alkil Hali)a Alkil halida paling banyak ditemui sebagai 8at antara dalam sintesis. Mereka dengan mudah diubah ke dalam berbagai jenis senyawa lain, dan dapat diperoleh melalui banyak (ara. -eaksi alkil halida yang banyak itu dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu reaksi substitusi dan reaksi eliminasi. Dalam reaksi substitusi, halogen 1.4 diganti dengan beberapa gugus lain 184.

-eaksi eliminasi melibatkan pelepasan )., dan hasilnya adalah suatu allena. Banyak sekali modifikasi terhadap reaksi ini, tergantung pada pereaksi yang digunakan.

7.2. !ubstitusi "ukleofilik !uatu nukleofil 194 menyerang alkil halida pada atom karbon hibrida-sp% yang mengikat halogen 1.4, menyebabkan terusirnya halogen oleh nukleofil. )alogen yang terusir disebut gugus pergi. :ukleofil harus mengandung pasangan elektron yang tadinya sebagai elektron ikatan. Ada dua persamaan umum yang dapat dituliskan"

*ontoh masing-masing reaksi adalah"

7.2.2 #ekanisme !ubstitusi "ukleofilik ada dasarnya terdapat dua mekanisme reaksi substitusi nukleofilik. Mereka dilambangkan dengan !:$ adanya !:#. Bagian !: menunjukkan substitusi nukleofilik, sedangkan arti # dan $ akan dijelaskan kemudian. Mekanisme !:$ Mekanisme !:$ adalah proses satu tahap yang dapat digambarkan sebagai berikut"

:ukleofil menyerang dari belakang ikatan *0.. ada keadaan transisi, nukleofil dan gugus pergi berasosiasi dengan karbon di mana substitusi akan terjadi. ada saat gugus pergi terlepas dengan membawa pasangan ele(tron, nukleofil memberikan pasangan elektronnya untuk dijadikan pasangan elektron dengan karbon. :otasi $ menyatakan bahwa reaksi adalah bimolekuler, yaitu nukleofil dan substrat terlibat dalam langkah penentu ke(epatan reaksi dalam mekanisme reaksi.

Adapun (iri reaksi !:$ adalah" #. Karena nukleofil dan substrat terlibat dalam langkah penentu ke(epatan reaksi, maka ke(epatan reaki tergantung pada konsentrasi kedua spesies tersebut. $. -eaksi terjadi dengan pembalikan 1in,ersi4 konfigurasi. Misalnya jika kita mereaksikan ;-$-bromobutana dengan natrium hidrosida, akan diperoleh 1!4-$-butanol.

+on hidroksida menyerang dari belakang ikatan *0Br. ada saat substitusi terjadi, ketiga gugus yang terikat pada karbon sp% kiral itu seolah-olah terdorong oleh suatu bidang datar sehingga membalik. Karena dalam molekul ini /) mempunyai perioritas yang sama dengan Br, tentu hasilnya adalah 1!4-$-butanol. <adi reaksi !:$ memberikan hasil in,ersi. %. <ika substrat --= bereaksi melalui mekanisme !:$ reaksi terjadi lebih (epat apabila - merupakan gugus metil atau primer, dan lambat jika - adalah gugus tersier. >ugus - sekunder mempunyai ke(epatan pertengahan. Alasan untuk urutan ini adalah adanya efek rintangan sterik. -intangan sterik gugus - meningkat dari metil ? primer ? sekunder ? tersier. <adi ke(endrungan reaksi !:$ terjadi pada alkil halida adalah" metil 7 primer 7 sekunder 77 tersier. Mekanisme !:# Mekanisme !:# adalah proses dua tahap. ada tahap pertama, ikatan antara karbon dengan gugus pergi putus.

$ugus pergi terlepas dengan membawa pasangan ele(tron, dan terbentuklah ion karbonium. ada tahap kedua 1tahap (epat4, ion karbonium bergabung dengan nukleofil membentuk produk.

ada mekanisme !:# substitusi terjadi dalam dua tahap. :otasi # digunakan sebab pada tahap lambat hanya satu dari dua pereaksi yang terlibat, yaitu substrat. 'ahap ini sama sekali tidak melibatkan nukleofil.

Berikut ini adalah (iri-(iri suatu reaksi yang berjalan melalui mekanisme !:#" #. Ke(epatan reaksinya tidak tergantung pada konsentrasi nukleofil. 'ahap penentu ke(epatan reaksi adalah tahap pertama di mana nukleofil tidak terlibat. $. <ika karbon pembawa gugus pergi adalah bersifat kiral, reaksi menyebabkan hilangnya akti,itas optik karena terjadi rasemik. ada ion karbonium, hanya ada tiga gugus yang terikat pada karbon positif. Karena itu, karbon positif mempunyai hibridisasi sp2 dan berbentuk planar. <adi nukleofil mempunyai dua arah penyerangan, yaitu dari depan dan dari belakang. Dan kesempatan ini masing-masing mempunyai peluang @A B. <adi hasilnya adalah rasemit. Misalnya, reaksi (!)-%-metilheksana dengan air menghasilkan al(ohol rasemik. !pesies antaranya 1intermediate spesies4 adalah ion karbonium dengan geometri( planar sehingga air mempunyai peluang menyerang dari dua sisi 1depan dan belakang4 dengan peluang yang sama menghasilkan adalah (ampuran rasemik.

-eaksi substrat --. yang melalui mekanisme !:# akan berlangsung (epat jika - merupakan struktur tersier, dan lambat jika - adalah struktur primer. )al ini sesuai dengan urutan kestabilan ion karbonium, %C7 $C77 #C. 7.2.% Perbandingan #ekanisme !n dan !n2 'abel 6.$ berikut memuat ringkasan mengenai mekanisme substitusi dan membandingkannya dengan keadaan-keadaan lain, seperti keadaan pelarut dan struktur nukleofil. erlu diperhatikan bahwa halida primer selalu bereaksi melalui mekanisme !n$, sedangkan halida tersier melalui mekanisme !n#. ada halida sekunder, terdapat dua kemungkinan.

Ta$el %.2 Per$an)ingan reaksi (n2 )engan (n" !n$ !truktur halida rimer atau *)% !ekunder 'ersier !tereokimia :ukleofil 'erjadi kadang-kadang tidak pembalikan ke(epatan reaksi tergantung pada konsentrasi nukleofil, mekanisme memilih nukleofil anion ke(epatan reaksi sedikit dipengaruhi kepolaran pelarut !n#

tidak kadang-kadang terjadi raseminasi ke(epatan reaksi tidak bergantung pada konsentrasi nukleofil, mekanisme memilih nukleofil netral elarut ke(epatan reaksi sangat dipengaruhi kepolaran pelarut ada tahap pertama dalam mekanisme !n# adalah tahap pembentukan ion, sehingga mekanisme ini dapat berlangsung lebih baik dalam pelarut polar. <adi halida sekunder yang dapat bereaksi melalui kedua mekanisme tersebut, kita dapat mengubah mekanismenya dengan menyesuaikan kepolaran pelarutnya. Misalnya, mekanisme reaksi halida sekunder dengan air 1membentuk al(ohol4 dapat diubah dari !n$ menjadi !n# dengan mengubah pelarutnya dari D@ B aseton E@B air 1relatif tidak-polar4 menjadi @A B aseton E@AB air 1lebih polar, dan pelarut pengion yang lebih baik4. Kekuatan nukleofil juga dapat mengubah mekanisme reaksi yang dilalui oleh reaksi oleh reaksi !n. <ika nukleofilnya kuat maka mekanisme !n$ yang terjadi. Berikut ini ada beberapa petunjuk yang digunakan untuk mengetahui apakah suatu nukleofil adalah kuat atau lemah" #. +on nukleofil bersifat nukleofil. Anion adalah pemberi ele(tron yang lebih baik dari pada molekul netralnya. <adi

$. Unsur yang berada pada periode bawah dalam table periodi( (enderung merupakan nukleofil yang lebih kuat dari pada unsure yang berada dalam periode di atasnya yang segolongan. <adi

%.

ada periode yang sama, unsure yang lebih elektronegatif (enderung merupakan nukleofil lebih lemah 1karena ia lebih kuat memegang elektron4 . <adi

Karena * dan : berada dalam periode yang sama, tidak mengherankan jika pada ion " *F:" yang bereaksi adalah karbon, karena sifat nukleofilnya lebih kuat. 7.2.& 'eaksi (liminasi) #ekanisme (2 dan ( <ika alkil halida mempunyai atom hidrogennya pada atom karbon yang bersebelahan dengan karbon pembawa halogen akan bereaksi dengan nukleofil, maka terdapat dua kemungkinan reaksi yang bersaing, yaitu substitusi dan eliminasi.

ada reaksi substitusi, nukleofil menggantikan halogen 1lihat pers. @.@4. ada reaksi eliminasi 1pers. @.G4, halogen . dan hydrogen dari atom karbon yang bersebelahan dieliminasi dan ikatan baru 1ikatan 4 terbentuk di antara karbonkarbon yang pada mulanya membawa . dan ). roses eliminasi adalah (ara umum yang digunakan dalam pembuatan senyawa-senyawa yang mengandung ikatan rangkap. !eringkali reaksi substitusi dan eliminasi terjadi se(ara bersamaan pada pasangan pereaksi nukleofil dan substrat yang sama. -eaksi mana yang dominan, bergantung pada kekuatan nukleofil, struktur substrat, dan kondisi reaksi. !eperti halnya dengan reaksi substitusi, reaksi eliminasi juga mempunyai dua mekanisme, yaitu mekanisme H$ dan H#. Mekanisme H$ -eaksi H$ adalah proses satu tahap. :ukleofil bertindak sebagai basa dan mengambil proton 1hidrogen4 dari atom karbon yang bersebelahan dengan karbon pembawa gugus pergi. ada waktu yang bersamaan, gugu pergi terlepas dan ikatan rangkap dua terbentuk.

Konfigurasi yang terbaik untuk reaksi H$ adalah konfigurasi dimana hydrogen yang akan tereliminasi dalam posisi anti dengan gugus pergi. Alasannya ialah bahwa pada posisi tersebut orbital ikatan * E ) dan * E . tersusun sempurna yang memudahkan pertumpangtindihan orbital dalam pembentukan ikatan baru.

Mekanisme H# Mekanisme H# mempunyai tahap awal yang sama dengan mekanisme !n#. 'ahap lambat atau penentuan ialah tahap ionisasi dari substrat yang menghasilkan ion karbonium 1bandingkan dengan pers. @.%4.

Kemudian, ada dua kemungkinan reaksi untuk ion karbonium. +on bias bergabung dengan nukleofil 1proses !n#4 atau atom karbon bersebelahan dengan ion karbonium melepaskan protonnya, sebagaimana ditunjukkan dengan panah lengkung, dan membentuk alkena 1proses H#4.

!ekarang mari kita lihat dengan substitusi dan eliminasi bersaing. 6.$.@ ersaingan !ubstitusi Dan Hliminasi

(ontoh-(ontoh bagaimana reaksi-reaksi

Ditinjau reaksi antara alkil halida dengan kalium hidrosikda yang dilarutkan dalam metil al(ohol. :ukleofilnya adalah ion hidroksida, /), yaitu nukleofil kuat dan sekaligus adalah basa kuat. elarut al(ohol kurang polar jika

dibandingkan dengan air. Keadaan-keadaan ini menguntungkan proses-proses !n$ dan H$ jika dibandingkan dengan !n# dan H#. Misalnya, gugus alkil pada alkil halida adalah primer, yaitu #-bromobutana. Kedua proses dapat terjadi"

)asilnya adalah (ampuran #-butanol dan #-butena. -eaksi !n# (enderung terjadi jika digunakan pelarut yang lebih polar 1air4, konsentrasi basa yang sedang dan suhu sedang. -eaksi H$, (enderung terjadi jika digunakan pelarut yang kurang polar, konsentrasi basa yang tinggi, dan suhu tinggi. !eandainya kita mengganti alkil halida primer menjadi tersier, reaksi substitusi akan terhambat 1ingat, urutan reakti,itas untuk reakti,itas !n$ adalah #C7$C 77 %C4. 'etapi, reaksi eliminasi akan (enderung terjadi karena hasilnya adalah alkena yang lebih tersubstitusi. bromida, hanya proses H$ yang terjadi. ada kenyataannya, dengan t-butil

<adi, bagaimana kita mengubah butyl bromida tersier menjadi alkoholnyaI Kita tidak menggunakan ion hidroksida melainkan air. Air merupakan basa yang lebih lemah daripada ion hidroksida, sehingga reaksi H$ ditekan. Air juga

merupakan pelarut polar, yang menguntungkan mekanisme ionisasi. Dalam hal ini, H# tidak dapat dihindari sebab persaingan antara H# dan !n# (ukup berat. )asil utama adalah hasil substitusi 1AB4, tetapi eliminasi masih terjadi 1$AB4. -ingkasannya, halida tersier bereaksi dengan basa kuat dalam pelarut nonpolar memberikan eliminasi 1H$4, bukan substitusi. Dengan basa lemah dan nukleofil lemah, dan dalam pelarut polar, halida tersier memberikan hasil utama substitusi 1sn#4, tetapi sedikit eliminasi 1H#4 juga terjadi. )alida primer bereaksi hanya melalui mekanisme-mekanisme !n$ dan e$, karena mereka tidak terionisasi menjadi ion karbonium. )alida sekunder menempati kedudukan pertengahan, dan mekanisme yang terjadi sangat dipengaruhi oleh keadaan reaksi. )alida-halida sekunder dapat bereaksi melalui mekanisme !n# dan!n$ se(ara serentak. 6.% *ontoh-*ontoh -eaksi !ubstitusi :ukleofilik Dan Hliminasi :ukleofil dapat digolongkan menurut jenis atom yang membentuk ikatan ko,alen. :ukleofil yang umum adalah nukleofil oksigen, nitrogen, belerang, halogen, atau karbon. Berikut ini kita akan melihat beberapa (ontoh reaksi yang melibatkan reaksi nukleofil-nukleofil tersebut dengan alkil halida. 6.%.# !intesis eter dengan (ara Jilliamson -eaksi pembuatan eter yang paling umum adalah dengan metode Jilliamson. ada tahap pertama, al(ohol direaksikan dengan logam natrium

untuk menghasilkan alkoksida.

Alkil halida -K. kemudian ditambahan pada (ampuran ini, dan dipanaskan untuk menghasilkan eter.

Karena - dan -K dapat di,ariasikan se(ara luas 1ke(uali -K tersier4, maka sintesis ini sangat bermanfaat. 6.%.$ Amina dari alkil halida 1!n$4 Amoniak bereaksi dengan alkil halida menjadi amina melalui proses dua tahap. 'ahap pertama adalah reaksi substitusi nukleofilik.

Dalam reaksi ini digunakan amoniak berlebihan, dan pada tahap berikutnya amoniak kedua bertindak sebagai basa mengambil proton dari ion alkilamonium sehingga terbentuk amina.

Kedua persamaan 16.#@ dan 6.#G4 dapat digabungkan menjadi persamaan 16.#64 seperti berikut"

!ama halnya dengan sintesis eter Jilliamson, sunbstitusi nukleofilik 1pers. 6.#64 berlangsung dengan baik jika - merupakan gugus alkil primer atau sekunder.

Amina primer yang terbentuk mempunyai pasangan elektron bebas pada nitrogen, dan karenanya dia juga adalah nukleofil yang dapat bereaksi dengan alkil halida menghasilkan amina sekunder.

Amina sekunder juga masih mempunyai pasangan elektron

bebas pada

nitrogen sehingga dia masih merupakan nukleofil, dan bereaksi dengan alkil halida menghasilkan amina tersier.

Akhirnya, amina tersier juga bereaksi lagi dengan alkil halida menghasilkan garam kuaterneri karena amina tersier juga adalah suatu nukleofil.

<adi reaksi antara amoniak dengan alkil halida menghasilkan (ampuran antara amina primer, sekunder, dan tersier. 6.%.% embuatan senyawa nitril 1!n$4 !uatu reaksi yang sangat bermanfaat adalah reaksi antara alkil halida dengan suatu anion karbon. -eaksi ini memerlukan suatu karbanion yang stabil, dan yang memenuhi adalah sianida.

-eaksi ini menyatakan suatu (ara mudah untuk memperpanjang suatu rantai dengan satu ato, karbon. -eaksi ini memberikan hasil yang baik untuk hampir semua halida primer dan sekunder, tetapi halida tersier tidak. 6.%.& embuatan alkuna 1!n$4 -eaksi asam-basa antara #-alkuna dengan suatu basa kuat akan mengarah pada pembentukan garam.

Alkunida adalah pereaksi nukleofil, dan mereka masuk ke dalam reaksi substitusi nukleofilik dengan menyerang atom karbon agen pengalkilasi dengan menggantikan gugus pergi. )asil reaksi ini adalah alkilasi alkunida menghasilkan alkuna baru.

Umumnya reaksi ini terbatas untuk situasi dalam mana agen pengalkilasi 1alkil bromida atau alkil sulfonat4 adalah primer dan tidak ber(abang pada atom karbon-L nya. 6.%.@ embuatan alkena 1H$4 -eaksi eliminasi E*, bimolekuler menyatakan suatu metode yang sangat penting untuk pembuatan alkena dan alkuna. Di dalam peren(anaan, suatu sintesis dengan menggunakan metode ini, pendekatan yang paling praktis adalah menggunakan halida atau sulfonat yang dapat menghasilkan hanya satu alkena. Monodehidrohalogenasi #,#-dihabalkana atau #,$-dihaloalkana dibawah kondisi yang lembut menyebabkan pembentukan ,inil halida. Didalam reaksi eliminasi, produk yang dominan biasanya sesuai dengan hokum !a+t,eff, yaitu olefin yang atom karbon-tak jenuhnya mengandung substutien lebih banyak.

*ontoh"

6.%.G embuatan Alkuna 1H$4 <ika ,inil halida diolah dengan basa yang sangat kuat maka terbentuk alkuna.

)al yang serupa jika $ mol hydrogen halida dieliminasi dari #,# Edihalida atau#,$- dihalida akan dihasilkan alkuna.

Dalam pembuatan dan penanganan senyawa oragnologa, reaktif seperti pereaksi >rignard, kita men(egahnya kontak dengan udara atau pelarut-pelarut protik. Bekerja dengan 8at-8at ini dianjurkan menggunakan pelarut kering dan atmosfir inert. !ebagai (ontoh, air menghidrolisis pereaksi >ridnard

menghasilkan alkana.

/leh karena ikatan karbon-magnesium terpolarisasi dengan muatan parsil negatif pada karbon dan muatan positif pada magnesium, penataan ulang tidak pernah menyertai ion karbonium yang terbentuk dari pereaksi >rignard. !ebagai

(ontoh pereaksi grignard dapat dibuat dari neopentil klorida tanpa terjadinya pentaan ulang.

Dalam pembuatan pereaksi >rignard dari alkil klorida dan ,inil halida yang kurang reaktif, umumnya tetrahidrofuran digunakan sebagai pelarut.