Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS PENGARUH JUMLAH PENDUDUK TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI PROVINSI BANTEN Tahun 2010 - 2011

Oleh : Meutia Irma Damayanti Noni Setianingsih Sigit Aji Pambudi

Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Islam Negri Syarifhidayatullah Jakarta

Dosen Pembimbing : Tony S. Chendrawan, ST., SE., M.Si

Abstract This study is aimed to analize how and how much the influence of population variable to the rate of poverty in regency/city of Banten. Regression model used is Ordinary Least Squares by using a panel data. The test result shows that, population variable significantly influence to the rate of poverty in the regency of Banten. And R-squared value of 0.0057 which means 57 % rate of poverty variable can be explained by independent variable. While the rest, the 43%, explained by other factors outside of the model. Keywords : Rate of Poverty, and Population.

A. Pendahuluan Kemiskinan merupakan polemik berkepanjangan dalam proses pembangunan ekonomi disetiap negara. Variabel kemiskinan selalu menjadi momok tersendiri yang berhasil menjadi salah satu permasalahan pokok kependudukan pada proses pembangunan ekonomi di setiap negara. Seperti halnya dengan kesehatan, pengangguran, dan variabel penting lainnya, kemiskinan merupakan bagian dari lingkaran setan pada permasalahan ekonomi khususnya permasalahan kependudukan. Tingkat kesejahteraan seseorang menjadi standar orang tersebut bisa dikatakan miskin atau tidak. Ketika seseorang atau sekelompok orang tidak mampu mencukupi tingkat kesejahteraan ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal dari standar hidup tertentu, maka istilah kemiskinan pun muncul. Kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan menjadi akar dari permasalahan kemiskinan yang ada selama ini. Ditambah lagi dengan keterbatasan lapangan pekerjaan yang disediakan pemerintah yang menjadi pemicu pengangguran kerap kali menjadi salah satu alasan seseorang dikategorikan miskin. Konsep pembangunan ekonomi tentulah berbeda dengan pertumbuhan ekonomi. Menurut Prof. Boediono konsep pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Sedangkan teori pertumbuhan ekonomi bisa saja didefinisikan sebagai penjelasan mengenai faktor-faktor apa yang menentukan kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dan penjelasan mengenai bagaimana faktor-

faktor tersebut berinteraksi satu dengan yang lain, sehingga terjadi proses pertumbuhan. Analisis yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi semata dianggap kurang sempurna. Hal ini disebabkan apabila terjadi peningkatan output dan pendapatan belum tentu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Secara tradisional mengukur pembangunan hanya dengan menekankan pada peningkatan Gross Domestic Product atau Produk Domestik Bruto suatu Negara secara terus menerus dan pertumbuhan ekonomi akan menghilangkan kenyataan adanya ketimpangan di masyarakat dalam menikmati hasil pembangunan. Hal ini disebabkan produk domestic bruto hanya melihat pendapatan secara rata-rata dan pertumbuhan ekonomi tidak melihat manfaat pembangunan pada manusia. Demikian yang dinyatakan oleh Eric Maskin, penerima penghargaan Nobel Ekonomi tahun 2007, dan Kaushik Basu, Guru Besar Ekonomi Universitas Cornell, Amerika Serikat dalam koran Kompas pada tanggal 5 September 2012. Dari pernyataan tersebut dapat ditarik analisis bahwa peningkatan PDB dan pertumbuhan ekonomi semata tidaklah cukup untuk mewujudkan pembangunan ekonomi, diperlukan strategi yang dirasa lebih tepat sasaran. Salah satu indicator yang populer untuk mengukur kinerja pembangunan manusia adalah dengan menggunakan HDI (Human Development Index) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). HDI merupakan program Pembangunan PBB (UNDP) yang mengukur angka harapan hidup, partisipasi sekolah dan indeks PDB berdasarkan PPP.

Tabel 1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Komponen Pembentuk di Banten (Human Development Index and Components in Banten) Tahun Year
1996 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012*
Source : BPS

Angka Harapan Hidup 61,9 62,2 62,4 63,1 62,4 62,6 63,3 64 64,3 64,5 64,6 64,75 64,9 65,05 65,23

Angka Melek Huruf 88,6 91,5 92,1 92,5 93,8 94,2 94 95,6 95,6 95,6 95,6 95,95 96,2 96,25 96,51

Rata-rata Lama Sekolah 6,4 6,6 6,8 7,1 7,9 8,1 7,9 8 8,1 8,1 8,1 8,15 8,32 8,41 8,61

IPM and Components


Pengeluaran Perkapita Real 578,6 579,6 617,8 658 608,7 611,7 618 619,2 620 621 625,52 627,63 629,7 633,64 636,73

Indeks Pembangunan Manusia 66,4 62,8 63,8 65,3 66,6 67,2 67,9 68,8 69,1 69,3 69,7 70,06 70,48 70,95 71,49

Reduksi Short fall (persen) 2,15 1,71 2,07 2,85 0,97 0,61 1,32 1,19 1,42 1,56 1,87

Pada tabel 1 terlihat bahwa IPM di Provinsi Banten terus mengalami peningkatan secara perlahan. Dan seiring dengan peningkatan pada IPM, komponen pembentun IPM itu sendiri seperti angka harapan hidup juga terus mengalami peningkatan secara perlahan. Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa, indicator indeks IPM tersebut adalah indeks harapan hidup, indeks pendidikan dan indeks PDB berdasarkan PPP. Tetapi di dalam makalah ini, penulis hanya mencoba mengupas mengenai jumlah penduduk dan pengaruhnya terhadap kemiskinan yang ada di provinsi Banten. Sebagai provinsi yang masih berpeluang besar disetiap proses pembangunan ekonominya, dengan jumlah penduduk mencapai 11,248,947 jiwa pada sensus tahun 2012 lalu, Banten tidak

terlepas dari permasalahan kependudukan seperti halnya kota-kota lain yang ada di Indonesia. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat setiap tahunnya juga kerap kali menimbulkan permasalahan kependudukan seperti kemiskinan. Salah satu akar permasalahan kemiskinan di kota-kota besar yakni tingginya disparitas antar daerah akibat tidak meratanya dsistribusi pendapatan, sehingga kesenjangan antara masyarakat kaya dan masyarakat miskin di kota-kota besar seperti halnya Banten semakin melebar. Gedung-gedung tinggi yang dibangun diwilayah perkotaan, berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan yang diperlihatkan masyarakat di daerah-daerah yang ada di provinsi Banten.

Regency/Municipal ity 1. Pandeglang 2. Lebak 3. Tangerang* 4. Serang** 5. Tangerang (Mun) 6. Cilegon (Mun) 7. Serang (Mun) 8. Tangerang Selatan (Mun) Banten

Tabel 2 Penduduk Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Population by Regency/Municipality in Banten 1961 - 2012
1961 440,213 427,802 643,647 648,115 206,743 72,054 ... 2,258,5 74 1971 572,628 546,364 789,87 766,41 276,825 93,057 ... 3,045,1 54 1980 694,759 682,868 1,131,1 99 968,358 397,825 140,828 ... 4,015,8 37 1990 858,435 873,646 1,843,7 55 1,244,7 55 921,848 226,083 ... 5,967,9 07 2000 1,011,7 88 1,030,0 40 2,781,4 28 1,652,7 63 1,325,8 54 294,936 ... 8,096,8 09 2010 1,149,61 0 1,204,09 5 2,834,37 6 1,402,81 8 1,798,60 1 374,559 557,785 1,290,32 2 10,632,1 66 2011 1,172,17 9 1,228,88 4 2,960,47 4 1,434,13 7 1,869,79 1 385,72 598,407 1,355,92 6 11,005,5 18 2012 1,181,43 0 1,239,66 0 3,050,92 9 1,448,96 4 1,918,55 6 392,341 611,897 1,405,17 0 11,248,9 47

Source : Population Census 1971-20010 * Including Tangerang Selatan Municipality ** Including Serang Municipality

Tabel 2 menunjukan jumlah penduduk di provinsi Banten yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang terus meningkat setiap tahunnya, provinsi Banten masih memiliki tantangan besar untuk mengeliminer kemiskinan yang menghambat jalannya proses pembangunan ekonomi. Namun, dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang juga tinggi, provinsi Banten pun masih memiliki peluang yang besar untuk mengikutsertakan penduduk yang ada di provinsi Banten pada proses pembagunan ekonominya. Untuk mengurangi tingkat kemiskinan di provinsi Banten, perlu diketahui sebenarnya apakah besarnya jumlah penduduk berhubungan atau mempengaruhi tingkat kemiskinan yang ada di Banten. Sehingga kedepannya dapat dirumuskan sebuah kebijakan publik yang efektif untuk mengurangi tingkat kemiskinan di provinsi Banten dan tidak

hanya sekedar penurunan angka-angka saja melainkan secara kualitatif. B. Perumusan Masalah Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap persepsi masalah yang hendak ditulis dan agar permasalahan tidak meluas dalam pembahasannya, penulis merasa perlu untuk memberikan batasan dan perumusan masalah terhadap objek yang dikaji. Tulisan ini akan dibatasi hanya pada kajian seputar keadaan Pertumbuhan Penduduk Dan Tingkat Kemiskinan Di Provinsi Banten. Sedangkan perumusan masalahnya adalah sebagai berikut : 1. Seberapa besar pengaruh besarnya jumlah penduduk terhadap tingkat kemiskinan di provinsi Banten?

C. Tujuan Penelitian 1. Untuk menganalisa pengaruh jumlah besarnya penduduk

terhadap tingkat kemiskinan di provinsi Banten.

D. Manfaat Penelitian Manfaat yang ingin dicapai dari penulisan mini skripsi ini antara lain : 1. Bagi Penulis Merupakan suatu pembelajaran dan perluasan ilmu yaitu usaha menganalisis suatu permasalahan kependudukan di provinsi Banten dalam kaitannya dengan tingka kemiskinan yang ada di provinsi tersebut. 2. Bagi Pihak Lain Diharapkan dapat memberikan pemahaman dan informasi mengenai permasalahan realita yang terjadi di provinsi Banten kepada masyarakat umum sehingga dapat menanggapi permasalahan kependudukan dan kemiskinan baik secara teori dan realita yang terjadi. E. Tinjauan Pustaka Kemiskinan
Menurut Badan Pusat Statistik, kemiskinan adalah ketidakmampuan memenuhi standar minimum kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan makan maupun non makan. Membandingkan tingkat konsumsi penduduk dengan garis kemiskinan atau jumlah rupiah untuk konsumsi orang perbulan. Definisi menurut UNDP dalam Cahyat (2004), adalah ketidakmampuan untuk memperluas pilihanpilihan hidup, antara lain dengan memasukkan penilaian tidak adanya partisipasi dalam pengambilan kebijakan publik sebagai salah satu indikator kemiskinan.

Menurut Todaro (1997) menyatakan bahwa variasi kemiskinan dinegara berkembang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu : (1) perbedaan geografis, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan, (2) perbedaan sejarah, sebagian dijajah oleh negara yang berlainan, (3) perbedaan kekayaan sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusianya, (4) perbedaan peranan sektor swasta dan negara, (5) perbedaan struktur industri, (6) perbedaan derajat ketergantungan pada kekuatan ekonomi dan politik negara lain dan (7) perbedaan pembagian kekuasaan, struktur politik dan kelembagaan dalam negeri. Ukuran kemiskinan : Menurut Badan Pusat Statistik (2010), penetapan perhitungan garis kemiskinan dalam masyarakat adalah masyarakat yang berpenghasilan dibawah Rp 7.057 per orang per hari. Penetapan angka Rp 7.057 per orang per hari tersebut berasal dari perhitungan garis kemiskinan yang mencakup kebutuhan makanan dan non makanan. Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan patokan 2.100 kilokalori per kapita per hari. Sedang untuk pengeluaran kebutuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan, pendidikan, dan kesehatan.

Sedangkan ukuran menurut World Bank menetapkan standar kemiskinan berdasarkan pendapatan per kapita. Penduduk yang pendapatan per kapitanya kurang dari sepertiga rata-rata pendapatan perkapita nasional. Dalam konteks tersebut, maka ukuran kemiskinan menurut World Bank adalah USD $2 per orang per hari. Jumlah Penduduk

Penduduk menurut Badan Pusat Statistik (BPS) adalah semua orang yang

berdomisili di wilayah geografis Jawa Tengah selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap. Data yang digunakan adalah jumlah penduduk tahun 2005 2008 (dalam satuan jiwa). Menurut Maltus (dikutip dalam Lincolin Arsyad, 1997) kecenderungan umum penduduk suatu negara untuk tumbuh menurut deret ukur yaitu dua-kali lipat setiap 30-40 tahun. Sementara itu pada saat yang sama, karena hasil yang menurun dari faktor produksi tanah, persediaan pangan hanya tumbuh menurut deret hitung. Oleh karena pertumbuhan persediaan pangan tidak bisa mengimbangi pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dan tinggi, maka pendapatan perkapita (dalam masyarakat tani didefinisikan sebagai produksi pangan perkapita) akan cenderung turun menjadi sangat rendah, yang menyebabkan jumlah penduduk tidak pernah stabil, atau hanya sedikit diatas tingkat subsiten.
Maltus tidak percaya bahwa teknologi mampu berlomba denga penduduk. Maltus juga berpendapat bahwa jumlah penduduk yang tinggi pasti mengakibatkan turunnya produksi perkepala. Dalam Essay on the principles of population (1796) ia mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menghindarkan malapetaka adalah dengan melakukan kontrol atau pengawasan atas pertumbuhan penduduk.

1.

2.

3.

Pertumbuhan penduduk yang tinggi akan dibutuhkan untuk membuat konsumsi dimasa mendatang semakin tinggi. Rendahnya sumberdaya perkapita akan menyebabkan penduduk tumbuh lebih cepat, yang gilirannya membuat investasi dalam kualitas manusia semakin sulit. Banyak negara dimana penduduknya masih sangat tergantung dengan sektor pertanian, pertumbuhan penduduk mengancam keseimbangan antara sumberdaya alam yang langka dan penduduk. Sebagian karena pertumbuhan penduduk memperlambat perpindahan penduduk dari sektor pertanian yang rendah produktifitasnya ke sektor pertanian modern dan pekerjaan modern lainnya. Pertumbuhan penduduk yang cepat membuat semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan ekonomi dan sosial. Tingginya tingkat kelahiran merupakan penyumbang utama pertumbuhan kota yang cepat. F. Ruang Lingkup Penelitian

Menurut Maier (dikutip dari Mudrajat Kuncoro, 1997) di kalangan para pakar pembangunan telah ada konsensus bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berdampak buruk terhadap supply bahan pangan, namun juga semakin membuat kendala bagi pengembangan tabungan, cadangan devisa, dan sumberdaya manusia. Terdapat tiga alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memperlambat pembangunan.

Model dalam penelitian ini merupakan hasil penggabungan dari kerangka teoritis yang melihat pengaruh ataupun hubungan dari konstruk-konstruk yang diuji dalam penelitian ini, yaitu: Tingkat pertumbuhan penduduk, Tingkat kemiskinan di provinsi Banten. Data yang digunakan merupakan data angka-angka (kuantitatif) bulanan pada periode 2000 2010. Penulis ingin mengetahui sejauh mana variabel bebas mempengaruhi variabel terikat dan dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif, dimana penulis ingin menggambarkan secara menyeluruh tentang keadaan tingkat pertumbuhan penduduk berikut

hubungannya dengan tingkat kemiskinan di provinsi Banten. .


G. Metode Penelitian Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel penelitian merupakan construct atau konsep yang dapat diukur dengan berbagai macam nilai untuk memberikan gambaran yang nyata mengenai fenomena yang diteliti. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. 1. variabel dependen variabel dependen dalam penelitian ini adalah kemiskinan yang ada di provinsi Banten menurut kota dan kabupaten pada tahun 2010 2011. 2. variabel independen variabel independen dalam penelitian ini adalah jumlah penduduk yang ada di provinsi Banten menurut kota dan kabupaten pada tahun 2010 2011. Jenis dan Sumber Data Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang merupakan penggabungan dari deret berkala (time series) dari tahun 2010 2011 dan deret lintang (cross section) sebanyak 8 data mewakili kota dan kabupaten di provinsi Banten yang menghasilkan 64 observasi. Adapun data dan sumber data yang diperlukan adalah: 1. Data presentasi jumlah penduduk miskin daerah untuk masing-masing kota dan kabupaten di provinsi Banten tahun 2010 2011 yaitu dari badan pusat statistik (BPS) dalam terbitan data dan informasi kemiskinan. 2. Data jumlah penduduk daerah untuk masing-masing kota dan kabupaten di provinsi Banten tahun 2010 2011 yaitu dari badan pusat statistik (BPS) dalam terbitan data dan informasi kemiskinan. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data kuantitatif, dan memiliki fungsi teknis untuk para peneliti dalam melakukan pengumpulan data sehingga angkaangka dapat diberikan pada objek yang diteliti. Data yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini diperoleh melalui studi pustaka sebagai metode pengumpulan datanya, sehingga tidak diperlukan teknik sampling atau kuesioner. Periode data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tahun 2010-2011. Sebagai pendukung, digunakan buku referensi, jurnal, surat kabar, serta browsing website internet terkait dengan masalah kemiskinan dan bahan kajian dalam penelitian ini. Metode Analisis Data Metode Analisis Data Panel Penelitian ini menggunakan analisis panel data sebagai alat pengolahan data dengan menggunakan Eviews 4, dengan kombinasi antara deret waktu (time-series data) dan deret lintang (cross-section). Gujarati (1995), menyatakan bahwa untuk menggambarkan data panel secara singkat, sebagai contoh pada data cross section, nilai dari satu variabel atau lebih dikumpulkan untuk beberapa unit sample pada suatu waktu. Dalam data panel, unit cross section yang sama diteliti dalam beberapa waktu. Dalam model panel data, persamaan model dengan menggunakan data cross section dapat ditulis sebagai berikut: Yi = o + 1 Xi + i .................. (3.1) i = 1,2, .... , N ,dimana N adalah banyaknya data cross section sedangkan persamaan model dengan time series adalah: Yt = o + 1 Xt + t .................. (3.2) t = 1,2, .... , T , dimana T adalah banyaknya data time series Mengingat data panel merupakan gabungan dari time series dan cross section, maka model dapat ditulis sebagai berikut: Yit = o + 1 Xit + it ................. (3.3) i = 1,2, ..., N; t = 1,2, ..., T dimana : N = Banyaknya observasi

T = Banyaknya waktu N x T = Banyaknya data panel H. Hasil Dan Analisis Deskripsi Objek Penelitian Banten merupakan salah satu provinsi yang berbatasan langung dengan provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat. Secara geografis Provinsi Banten terletak di antara 57'50"-71'11" Lintang Selatan dan 1051'11"1067'12" Bujur Timur, berdasarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2000 luas wilayah Banten adalah 9.160,70 km. Provinsi Banten terdiri dari 4 kota, 4 kabupaten, 154 kecamatan, 262 kelurahan, dan 1.273 desa. Provinsi Banten merupakan daerah otonom yang terbentuk berdasarkan Undangundang Nomor 23 Tahun 2000. Sebelum menjadi provinsi, Banten bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada Orde Reformasi perjuangan masyarakat Banten semakin gigih karena mulai terasa semilirnya angin demokrasi dan isu tentang otonomi daerah. Pada 18 Juli 1999 diadakan Deklarasi Rakyat Banten di Alunalun Serang yang kemudian Badan Pekerja Komite Panitia Propinsi Banten menyusun Pedoman Dasar serta Rencana Kerja dan Rekomendasi Komite Pembentukan Propinsi Banten. Rapat paripurna DPR RI pada tanggal 4 Oktober 2000 yang mengesahkan RUU Provinsi Banten menjadi Undang-undang ditetapkan sebagai hari jadi terbentuknya Provinsi Banten. pada tanggal 18 November 2000 dilakukan peresmian Provinsi Banten dan pelantikan penjabat Gubernur H. Hakamudin Djamal untuk menjalankan pemerintahan Provinsi Banten sampai terpilihnya Gubernur definitif. Berdasarkan data sensus penduduk 2010 Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk di Provinsi Banten sebanyak 10.632.166 jiwa. Dengan prosentase 67,01% penduduk perkotaan dan 32,99% penduduk pedesaan. Di Provinsi ini, laju pertumbuhan penduduk mencapai 2,78% /tahun dengan kepadatan 1.100 jiwa /km2. Provinsi Banten terdiri dari 4 Kabupaten dan 4 Kota, diantaranya: Kabupaten Serang Kabupaten Tangerang Kabupaten Pandeglang Kabupaten Lebak Kota Serang

Kota Cilegon Kota Tangerang Kota Tangerang Selatan

Deskripsi Data Kemiskinan Dari data kemiskinan menunjukkan bahwa presentase penduduk miskin provinsi Banten tahun 2010-2011 tertinggi berada di Kabupaten Pandeglang yaitu sebesar 11.4 % ditahun 2010.
Kabupaten/Kota 1. Pandeglang 2. Lebak 3. Tangerang 4. Serang 5. Tangerang (Mun) 6. Cilegon (Mun) 7. Serang (Mun) 8. Tangerang Selatan (Mun) Banten
Source : Susenas

2010 11.4 10.38 7.18 6.34 6.88 4.46 7.03 1.67 7.46

2011 9.80 9.20 6.42 5.63 6.14 3.98 6.25 1.50 6.26

Jumlah Penduduk Dari data jumlah penduduk menunjukkan bahwa presentase jumlah penduduk provinsi Banten tahun 2010-2011 tertinggi berada di Kabupaten Tanggerang yaitu sebesar 2.960.474 ditahun 2011.
Regency/Municipality 1. Pandeglang 2. Lebak 3. Tangerang* 4. Serang** 5. Tangerang (Mun) 6. Cilegon (Mun) 7. Serang (Mun) 2010 1,149,610 1,204,095 2,834,376 1,402,818 1,798,601 374,559 557,785 2011 1,172,179 1,228,884 2,960,474 1,434,137 1,869,791 385,72 598,407

8. Tangerang Selatan (Mun) Banten

1,290,322 10,632,166

1,355,926 11,005,518

Source : Population Census 1971-20010 * Including Tangerang Selatan Municipality ** Including Serang Municipality

Berdasarkan rumusan masalah yang dijelaskan dibab sebelumnya, maka diambil model persamaan pengaruh jumlah penduduk terhadap kemiskinan dikota dan kabupaten provinsi Banten yaitu sebagai berikut: Y = 1 Dimana: Y = Kemiskinan 1 = Jumlah pemduduk

Tabel dan Persamaan Pengujian Statistik dan Analisi Regresi


Dependent Variable: KEMISKINAN? Method: GLS (Cross Section Weights) Date: 12/19/13 Time: 13:28 Sample: 2010 2011 Included observations: 2 Number of cross-sections used: 8 Total panel (balanced) observations: 16 One-step weighting matrix Variable C JUMLAHPENDUDUK ? KEMISKINAN? Weighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression F-statistic Prob(F-statistic) Unweighted Statistics R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Durbin-Watson stat 1.000000 1.000000 6.22E-09 0.079762 Mean dependent var S.D. dependent var Sum squared resid 2438379. 1039603. 5.03E-16 1.000000 1.000000 1.29E-08 4.18E+30 0.000000 Mean dependent var S.D. dependent var Sum squared resid Durbin-Watson stat 5703517. 9624501. 2.16E-15 1.458059 Coefficient 1.28E-10 1.37E-14 1.000000 Std. Error 6.28E-10 4.14E-15 5.28E-15 t-Statistic 0.203260 3.302372 1.89E+14 Prob. 0.8421 0.0057 0.0000

Sumber: Pengolahan data Eviews 4 Tabel diatas menunjukkan bahwa nilai probabilitas jumlah penduduk sebesar 0.0057. nilai ini lebih kecil dari nilai (5%), maka variabel jumlah penduduk berpengaruh secara signifikan terhadap kemiskinan. I. PENUTUP Kesimpulan

Penelitian ini menganalisis bagaimana pengaruh variabel jumlah penduduk terhadap tingkat kemiskinan menurut kota dan kabupaten di Provinsi Banten periode tahun 2010 2011. Berdasar uraian yang telah dilakukan pada analisis sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa variable jumlah penduduk berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan yang ada di Provinsi Banten.

DAFTAR PUSTAKA Lincolin Arsyad, 1997, Ekonomi Pembangunan, Edisi Ketiga, Penerbit BP STIE YKPN,Yogyakarta. Mudrajad Kuncoro, 1997, Ekonomi Pembangunan, Teori, Masalah, dan Kebijakan, Edisi Ketiga, Penerbit UPP AMP YKPN, Yogyakarta. Todaro, Michael P, 2000, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Edisi Ketujuh, Terjemahan Haris Munandar, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Gujarati, Damodar .1995. Ekonometri Dasar Terjemahan, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Badan Pusat Statistik Republik Indonesia Badan Pusat Statistik Provinsi Banten