Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR PEMULIAAN TANAMAN

ACARA V MENENTUKAN BOBOT 1000 BIJI

Semester : Gasal 2013/2014

Oleh: Nama NIM Rombongan : Nurma Hudda Fauzaniar : A1L012174 : D2

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN LABORATORIUM PEMULIAAN TANAMAN DAN BIOTEKNOLOGI PURWOKERTO 2013

ACARA V. MENENTUKAN BOBOT 1000 BIJI

Tanggal Praktikum Nama NIM Nama Partner

: 16 Oktober 2013 : Nurma Hudda Fauzaniar : A1L012174 : 1. Elis Aris Tianawati 2. M. Rizki Ramdani 3. Anggi Fuji L. 4. Kki Rezki A. 5. M. Munfaqih Fahmi 6. Anisa Difani 7. Imam Bahroni 8. Yuwono

Rombongan Asisten

: D2 : 1. Trian Aprilianti 2. Masykur Sunaji

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Benih yang bermutu tinggi yang berasal dari berbagai varietas/klon merupakan salah satu factor penting yang akan menentukan tinggi rendahnya produksi tanaman, maka sebelum menanam carilah benih yang baik lebih dahulu. Bila membeli di toko bibit, identifikasinya tercantum, pada pembungkusnya. Bacalah keterangan-keterangan tersebu, bila perlu ukurlah atau timbanglah per 1000 butir, selanjutnya ukurlah daya dari kecepatan perkecambahan. Bila benih tak berkecambah atau mengandung penyakit atau gaya genetisnya tidak cukup, maka factor-faktor produksi lain nya tidak akan berguna, karena tanaman tidak dapat memanfaatkan lingkungan. Tanaman dalam berkembang biak, ada yang secara vegetatif dan ada yang secara generatif. Tanaman yang berkembang biak secara generatif, digunakanlah suatu bagian tanaman yang disebut biji. Biji berasal dari buah yang merupakan hasil peleburan antara sel kelamin betina dan sel kelamin jantan dari suatu jenis tanaman. Dalam praktikum kali ini, biji diartikan sama dengan benih. Benih yang digunakan sebagai alat perkembangbiakan suatu tanaman harus mempunyai mutu dan kualitas yang baik. Benih bermutu dan memiliki kualitas yang baik adalah benih yang berasal dari bibit yang unggul dan setelah dibudidayakan mempunyai hasil dengan kuantitas dan kualitas yang baik pula. Salah satu cara untuk menjaga mutu dan kualitas benih adalah dengan penggunaan benih bersertifikat yang pada proses produksinya diterapkan cara dan persyaratan tertentu sesuai dengan ketentuan sertifikasi benih. Bobot 1000 biji merupakan salah satu persyaratan dalam kegiatan sertifikasi benih sehingga diperlukan teknik dan metode tertentu dalam menentukan bobot 1000 biji. Biji memiliki viabilitas yang berbeda beda. Viabilitas biji juga dapat dipengaruhi dari bobotnya. Penghitungan 1000 biji dapat dijadikan patokan atau takaran dalam menguji tingkat viabilitas biji.

B. Tujuan Praktikum ini bertujuan untuk menentukan boot 1000 biji dari suatu tanaman.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bobot 1000 biji merupakan suatu factor penting dalam pelaksanaan uji benih. Jika diketahui bobot 1000 biji maka ukuran satu biji tanaman dapat diketahui. Selain itu, berdasarkan bobot 1000 biji maka kebutuhan benih perhektar dapat diketahui. Prinsip pelaksanaan penentuan berat 1000 biji adalah 1000 butir benih hasil uji kemurnian benih ditimbang dengan tingkat kepekaan penimbangan pada uji kemurnian benih (Tim Pengampu, 2013) Benih yang bermutu tinggi yang berasal dari berbagai varietas/klon merupakan salah satu factor penting yang akan menentukan tinggi rendahnya produksi tanaman, maka sebelum menanam carilah benih yang baik lebih dahulu. Bila membeli di toko bibit, identifikasinya tercantum, pada pembungkusnya. Bacalah keterangan-keterangan tersebu, bila perlu ukurlah atau timbanglah per 1000 butir, selanjutnya ukurlah daya dari kecepatan perkecambahan. Bila benih tak berkecambah atau mengandung penyakit atau gaya genetisnya tidak cukup, maka factorfaktor produksi lain nya tidak akan berguna, karena tanaman tidak dapat memanfaatkan lingkungan (Aak, 1998). Benih atau biji mempunyai arti dan pengertian yang bermacam-macam, tergantung dari bidang, dan dari segi mana peninjauannya. Biji merupakan alat untuk mempertahankan kelanjutan hidup jenis (spesies) suatu tumbuhan yaitu dengan cara mempertahankan atau memeperpanjang kehidupan embryonic axis. Kehidupan embryonic axis dalam biji kemudian berubah menjadi kehidupan bentuk baru sampai bertahun-tahun sesudah tanaman induknya mati (Jurnalis Kamil, 1979). Benih adalah simbol dari suatu permulaan, ia merupakan inti dari kehidupan di alam semesta dan yang paling penting adalah kegunaannya sebagai penyambung dari kehidupan tanaman. Dalam konteks agronomi, benih dituntut untuk bermutu tinggi, sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum sebagai teknologi yang maju (Lita Sutopo, 1985). Biji yang baik dari berbagai lahan pertanian harus mempunyai suatu varietas superior. Karakteristik biji yang baik pada umumnya terlihat dari pertumbuhan bijinya. Biji yang baik dijelaskan oleh Hayes (1942), yaitu harus mempunyai sifat-sifat antara lain : 1. Mampu beradaptasi terhadap lingkungan dan tanah.

2. Kemurnian jenisnya tinggi. 3. Daya produksinya tinggi. 4. Karakter-karakter agronomi sesuai dengan yang diinginkan. 5. Ketahanan terhadap hama penyakit tinggi. 6. Kualitas sifat-sifat khusus baik. Klasifikasi benih yang telah beradaptasi superior dalam hal : 1. Daya germinasi. 2. Warna dan bobot biji. 3. Keseragaman. 4. Bebas dari penyakit. 5. Bebas dari racun dan rumput liar. 6. Bebas dari kerusakan. 7. Bebas dari campuran atau varietas tanaman lain. Dalam konteks agronomi, benih dituntut untuk bermutu tinggi, sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum dengan sarana teknologi yang maju. Walaupun pertumbuhan dan produksi tanaman sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim dan cara bercocok tanam, tetapi tidak boleh diabaikan pentingnya pemilihan kualitas benih yang akan digunakan (Sutopo, 1985). Pengujian benih ditujukan untuk mengetahui mutu atau kualitas benih. Pengujian kualitas benih dilakukan di laboratorium untuk menentukan baik mutu fisik maupun mutu fisiologik suatu jenis atau kelompok benih. Pengujian terhadap mutu fisik benih mencakup kegiatan pengambilan contoh benih, kadar air benih dan berat 1000 butir benih. Sedangkan pengujian terhadap mutu fisiologik benih mencakup kegiatan pengujian daya kecambah, kekuatan tumbuh, dan kesehatan benih (Lita Sutopo, 2002). Menurut Kartasapoetra, dkk (1992), benih yang berkualitas tinggi itu memiliki daya tumbuh lebih dari 90 persen, dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : 1. Memiliki viabilitas atau dapat mempertahankan kelangsungan pertumbuhannya menjadi tanaman yang baik atau mampu berkecambah (tumbuh dengan normal) merupakan tanaman yang menghasilkan atau sering disebut juga sebagai benih yang matang. 2. Memiliki kemurnian (trueness seeds), artinya terbebas dari kotoran, terbebas dari benih jenis tanaman lain, terbebas dari benih varietas lain, dan terbebas dari biji herba, hama, dan penyakit.

BAB III METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan 1. Alat Alat yang digunakan dalam praktikum menentukan bobot 1000 biji ini adalah timbangan analitik dan hand counter 2. Bahan Sedangkan bahan-bahan yang digunakan yaitu: biji padi (Oryza sativa L.) dan biji kedelai (Glycine max L. Merr.).

B. Prosedur Kerja 1. Metode 1 a. Diambil benih sebanyak 1000 butir dan ditimbang b. Angka hasil penimbangan yang diperoleh dicatat c. Diulang sebanyak 5 kali 2. Metode 2 a. Diambil benih sebanyak 200 butir dan ditimbang b. Angka hasil penimbangan dicatat c. Bobot 1000 biji dihitung dengan rumus: Bobot 1000 biji (gram) = d. Dikerjakan 5 kali ulangan 3. Metode 3 a. Diambil benih kurang lebih sebanyak 1000 butir dan ditimbang b. Angka hasil penimbangan dicatat c. Bobot 1000 biji dihitung dengan rumus: Bobot 1000 biji = 1000 x d. Dikerjakan 5 kali ulangan 4. Data pada masing masing metode dimasukkan kedalam table yang sudah disediakan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan

1. Metode 1 X = 1000 biji No. Bobot X (gr) 1. 28,60 1000 x 1000 x 1000 x 1000 x 1000 x Bobot Y (gr) Y= 142,95 V= M-Y - 0,01 V2 0.0001

2.

28,55

0, 04

0,0016

3.

30,05

- 1,46

2,1816

4.

28,50

0,09

0,0081

5.

27,25

1,34 Y= 0

1,7986 V2= 2,937

M= SM = =

gram = 0,197 gram

2. Metode 2 X = 200 biji No. 1. Bobot X (gr) 19,50 Y = 494 ,0 Bobot Y (gr) V=M-Y 1,3 V2 16,9

2.

19,35

2,05

4,2025

3.

19,29

2,8

7,84

4.

20,05

-1,45

2,1025

5.

20,70

-4,7 V = 0

22,09 V2 = 53,135

M= SM = =

3. Metode 3 X1 = 824 biji X2 = 600 biji X3 = 718 biji X4 = 643 biji X5 = 561 biji No 1. Bobot X (gr) 24,25 Bobot Y (gr) V=M-Y -2,24 V2 5,0176

2.

18,75

-4,06

16,4838

3.

14,70

7,41

54,9081

4.

19,35

-2,9

8, 41

14,25 Y = 135,95

1,78 V = 0

3,204 V2 = 88,0233

M= SM = =

B. Pembahasan

Bobot 1.000 biji merupakan berat nisbah dari 1.000 butir benih yang dihasilkan oleh suatu jenis tanaman atau varietas. Salah satu aplikasi penggunaan bobot 1.000 biji adalah untuk menentukan kebutuhan benih dalam satu hektar. Penentuan benih dapat dilakukan dengan menetukan bobot 1000 biji. Dengan mengetahui biji yang besar atau berat berarti menandakan biji tersebut pada saat dipanen sudah dalam keadaan yang benar-benar masak, karena biji yang baik untuk ditanam atau dijadikan benih adalah biji yang benar-benar masak. Penggunaan bobot 1000 biji adalah untuk mencari bobot rata-rata yang dapat menyebabkan ukuran benih yang konstan dalam beberapa spesies karena penggunaan contohnya terlalu banyak, hal ini dapat menutupi variasi dalam tiap individu tumbuhan (Mugnisyah, 1990) Penentuan berat 1000 butir benih, pada prinsipnya pelaksanaan adalah 1000 butir benih hasil uji kemurnian benih ditimbang dengan tingkat kepekaan penimbangan yang sama, dengan tingkat kepekaan penimbangan pada uji kemurnian benih. Untuk menentukan berat 1000 butir benih dapat pula dilakukan dengan menimbang per 100 butir. Caranya, 100 butir benih diambil sebanyak delapan kali, masing-masing ditimbang, kemudian dihitung varian, standar deviasi dan koefisien variasinya. (Kuswanto, 1997). Penentuan bobot 1000 biji suatu tanaman untuk mengetahui produktivitas suatu tanaman pada suatu luas tertentu yang diharapkan dapat menentukan hasil dari suatu varietas yang dapat beradaptasi dengan lingkungan. Untuk penentuan berat 1000 butir benih, prinsip pelaksanaannya adalah 1000 butir benih hasil uji kemurnian benih ditimbang dengan tingkat kepekaan penimbangan pada uji kemurnian benih, dapat juga dilakukan dengan penimbangan per 100 butir. (Kuswanto, 1997). Perhitungan bobot 1000 biji ini selalu dilakukan untuk mengetahui kualitas dari biji tersebut. Hasil gabah setiap hektar dapat diketahui dengan bobot 1000 biji, karena bobot 1000 biji relatif lebih tetap, sehingga dapat digunakan untuk menyatakan hasil setiap hektarnya (Ismunadji, dkk, 1998). Metode yang dilakukan dalam penghitungan bobot 1000 biji ada tiga macam. Metode
tersebut yaitu:

1. Metode I

Metode ini yaitu dengan menghitung secara akurat sejumlah 1000 biji dari tanaman yang akan diketahui bobotnya. Keunggulan dari metode ini adalah sample yang dihitung menunjukan hasil yang benar benar bobot 1000 biji. Namun metode ini memiliki kelemahan yaitu, dalam hal kesalahan penghitungan biji (terutama biji yang berukuran kecil) cukup besar. 2. Metode II Metode ini dilakukan dengan mengambil sejumlah 200 biji kemudian ditimbang dan dihitung dengan rumus: Bobot 1000 biji (gr) = Metode ini lebih sederhana, karena kita hanya perlu menggunakan biji sebanyak 200 biji. Tingkat validitas dari perhitungan yang diperoleh bisa lebih sederhana dan dapat dijadikan acuan dalam penentuan bobot 1000 biji. 3. Metode III Benih diambil secara sembarang dengan cara mengambil satu genggam, kemudian dilakukan penghitungan jumlah biji. Setelah jumlah biji diketahui maka dilakukan penimbangan untuk mengetahui bobotnya. Bobot 1000 biji dapat diketahui dari rumus berikut: Bobot 1000 biji = 1000 x metode ini dimanfaatkan saat jumlah biji tidak dapat ditaksir atau hanya tersedia dalam jumlah sedikit. Metode ini dapat digunakan dalam penaksiran bobot 1000 biji dengan tingkat validitas yang baik. Besar dan berat dari biji (benih) dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : a. Benih induk besar atau berat sehingga menghasilkan biji yang berat atau besar pula. b. Adanya pengaruh faktor genetik dan agrogeologi. c. Kematangan vegetasi, semakin matang vegetasi biji semakin berat. d. Habitat tanaman, pada habitat tanaman yang kering biji yang dihasilkan besar. Pada percobaan yang telah dilakukan didapat data penimbangan 1000 biji gabah padi, yaitu hasil bobot 1000 biji yang sebenarnya adalah 28,59 0,197 gram dan nilai salah menengah 0,197 pada metode yang pertama.

Pada metode kedua, diperoleh bahwa bobot biji yang sebenarnya adalah 98,8 2,65 gram dan nilai salah menengah sebesar 2,65. Pada metode ketiga, didapatkan data bobot 1000 biji yang sebenarnya yaitu 27,19 4,401 gram dan nilai salah menengah 4,401. Perhitungan dari tiap metode memunculkan tingkat ketelitian yang berbeda beda. Perbedaan yang terjadi antar metode cukup jelas. Perbedaan bobot 1000 biji padi untuk metode I, II dan III cukup berbeda nyata. Selisih yang cukup jauh menunjukan adanya tingkat validitas penghitungan dari tiap metode perlu diperhatikan. Tiap metode yang diterapkan dalam penghitungan bobot 1000 biji harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Manfaat dari penentuan bobot 1000 biji yaitu dalam pengujian daya hasil suatu tanaman dan dalam penentuan deskripsi tanaman (terutama tanaman yang dimanfaatkan bijinya). Penentuan kebutuhan benih per hektar juga dapat diketahui dari perhitungan bobot 1000 biji.

BAB V KESIMPULAN

Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini yaitu:

1.

Perhitungan bobot 1000 biji memberikan hasil yang relatif konstan dengan tingkat kesalahan menengah kecil sehingga dapat dijadikan patokan dalam pegujian hasil dan deskripsi varietas suatu tanaman.

2.

Penentuan bobot biji digunakan untuk mengetahui keperluan benih per hektar dan pengujian benih.

3.

Hasil bobot 1000 biji yang sebenarnya adalah 28,59 0,197 gram dan nilai salah menengah 0,197 pada metode yang pertama.

4.

Pada metode kedua, diperoleh bahwa bobot biji yang sebenarnya adalah 98,8 2,65 gram dan nilai salah menengah sebesar 2,65.

5.

Pada metode ketiga, didapatkan data bobot 1000 biji yang sebenarnya yaitu 27,19 4,401 gram dan nilai salah menengah 4,401.

DAFTAR PUSTAKA

Ismunadji. 1998. Padi Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. IPB, Bogor. Justice. 2002. Jurnal Kementrian Negara Riset danTeknologi. Jakarta. Kamil, Jurnalis. 1979. Teknologi Benih 1. Penerbit Angkasa Raya. Padang. Hal: 277 Kartasapoetra, Ance G. 1986. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum. PT Bina Aksara: Jakarta. Mugnisyah, W. 1990. Pengantar Produksi Benih. Rajawali Press, Jakarta. Nulhakim, Lukman dan Muhammad Hatta. 2008. Pengaruh Varietas Kacang Tanah dan Waktu Tanam Jagung Manis Terhadap pertumbuhan dan Hasil pada Sistem Tumpangsari. Jurnal Floratek No. 3 halaman 19-25. Parmono, Eko. 2009. Praktikum Teknologi benih. Bandar Lampung : Universitas Lampung. Silahooy, Ch. 2012. Efek Dolomit dan SP-36 Terhadap Bintil akar, Serapan N dan Hasil Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) pada Tanah Kambisol. Agrologia Vol. 1 No. 2 halaman 91-98. Soepomo. 1968. Ilmu Seleksi dan Teknik Kebun Percobaan. Penerbit PT. Soeroengan, Jakarta.