Anda di halaman 1dari 15

ANGKA MUAI PANJANG

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II

Dosen Pengampu : Hj. Ade Yeti N, M.Pd.,M.Si. Adam Malik, M.Pd.

Disusun Oleh :

Agrista Ahmad Ramdhani

(1210207006)

Program Study Pendidikan Fisika Jurusan MIPA Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung 2012

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala syukur kehadirat Allah S.W.T, atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyusun makalah ini. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita, Nabibana wa nabiyana Muhammad S.A.W. Makalah ini diajukan sebagai tugas mata kuliah Fisika Laboratoriu sekolah II. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kepada temanteman terutama bapak dosen, diharapkan saran dan kritik yang konstruktif demi kebaikan dan penyempurnaan makalah selanjutnya. Penulis berharap makalah ini benar-benar bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca.

Bandung,

Desember 2012

Penulis

Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................... i DAFTAR ISI...............................................................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang.............................................................................................................................1 1.2 Tujuan..........................................................................................................................................1 1.3 Rumusan Masalah.......................................................................................................................1 BAB II KERANGKA TOERI ......................................................................................................................... 2 2.1. 2.2. 2.3. Pengertian Angka Muai Panjang ............................................................................................. 2 Menentukan Koefisien Muai Panjang ..................................................................................... 2 Pemuaian Zat .......................................................................................................................... 4

BAB III APLIKASI MATERI ......................................................................................................................... 8 3.1. 3.2. 3.3. Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari ................................................................................ 8 Soal dan jawaban ................................................................................................................ 8 Lembar Kerja Siswa ............................................................................................................. 9

BAB IV PENUTUP ................................................................................................................................... 11 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 12

Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II

ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Pemuaian adalah bertambahnya ukuran suatu benda karena pengaruh perubahan suhu atau bertambahnya ukuran suatu benda karena menerima kalor. Pemuaian terjadi pada 3 zat yaitu pemuaian pada zat padat, pada zat cair, dan pada zat gas. Pemuaian pada zat gas ada 3 jenis yaitu pemuaian panjang (untuk satu demensi), pemuaian luas (dua dimensi) dan pemuaian volume (untuk tiga dimensi). Sedangkan pada zat cair dan zat gas hanya terjadi pemuaian volume saja, khusus pada zat gas biasanya diambil nilai koofisien muai volumenya sama dengan 1/273. 1.2. Tujuan 1. Menyelidiki muai panjang zat padat menggunakan musschenbroek 2. Menentukan koefisien muai panjang dari suatu logam 3. Memehami pengaruh kenaikan temperatur terhadap logam

1.3

Rumusan Masalah 1. Apa definisi angka muai panjang? 2. Bagaimana cara menentukan koefisien muai panjang pada suatu logam?

Peta Konsep
SUHU
pemuaian

Zat padat Zat cair gas


Kalor jenis dan kapasitas kalor

KALOR

Transfer energi

Asa black Kalor laten

Perpinda han kalor

konduksi

konveksi

radiasi

Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II

BAB II KERANGKA TOERI


2.1. Pengertian Angka Muai Panjang Koefisien muai panajang suatu benda adalah perbandingan antara pertambahan panjang terhadap panjang awal benda persatuan kenaikan suhu . Jika suatu benda padat dipanaskan maka benda tersebut akan memuai kesegala arah,denagn kata lain ukuran panjang bertambahnya ukuran panjang suatu benda karena menerima kalor.alat untuk

membandingkan muai panjang dari berbagai logam adalah maschen brock.ketika tiga batang logam yang berbeda jenis (tembaga,almunium,besi) dan sama panjang walaupun panjang dari ketiga logam sama dengan mengalami kenaikan suhu yang sama.tetapi pertambahan panjangnya berbeda. (http://aryanto.blog.uns.ac.id/2009/09/12/pemuaian-panjang.pdf)

2.2. Menentukan Koefisien Muai Panjang Pemuaian yang terjadi pada benda, sebenarnya terjadi pada seluruh bagian benda tersebut. Alat yang digunakan untuk menyelidiki pemuaian panjang berbagai zat padat adalah musschenbroek. Pemuaian panjang suatu benda dipengaruhi oleh panjang mula-mula benda, besar kenaikan suhu, dan bergantung dari jenis bahannya. (Modul Praktikum Laboratorium Fisika SL.II:20) Peristiwa yang mengikuti penambahan temperatur pada bahan adalah perubahan ukuran dan keadaanya.keadaan temperatur akan mengakibatkan terjadinya penambahan jarak rata-rata atom bahan. Hal ini mengakibatkan terjadinya pemuaian (ekspensi) pada seluruh padatan tersebut. Perubahan pada dimensi linier disebut sebagai muai linier, jika penambahan temperatur T adalah penambahan panjang T, untuk penambahan temperatur yang kecil, maka pertambahan panjang pada tempertur (lt) akan sebanding dengan perubahan temperatur dengan panjang muai. (Lo). (haliday resnick,1978) Pada umumnya ukuran suatu benda akan berubah apabila suhunya berubah. Pada benda-benda berbentuk batang, perubahan ukuran panjang akibat perubahan suhu adalah sangatlah nyata, sedangkan penambahan ukuran luas penampang dapat diabaikan karenena kecilnya. Perubahan panjang akibat perubahan suhu dapat dirumuskan sebagai berikut : L = . Lo. T
Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II
2

= T/ Lo . 1/ T (Saras dan Zamasky,1981) Bila temperatur sebuah benda naik, maka benda biasanya akan memuai. Jika sebuah

batang panjang yang panjangnya L pada temperatur T. Bila temperatur berubah dengan T, perubahan panjang L sebanding dengan T dan panjang mula-mula L.

Dengan

adalah koefisien muai linear. Besaran ini adalah rasio fraksi perubahan

panjang terhadap perubahan temperatur:

(Tipler, 1998:568) Salah satu sifat zat pada umumnya akan mengalami perubahan dimensi (panjang, luas, dan volume) jika dikenai panas, sedangkan benda tersebut berwujud batang atau kabel maka yang banyak menarik perhatian adalah perubahan panjangnya. Untuk itu didefinisikan suatu besaran yang disebut koefisien muai panjang suatu perubahan fraksional panjang dibagi perubahan suhu. Bila Bila umumnya . Maka, ( ) ( )

berharga sangat kecil, sehingga ( ( )

2 dapat diabaikan, maka: ( )

(Tim Penyusun.2003.Fisika I.MIPA.ITS.Surabaya) Koefisien volume dapat dihitung dalam bentuk koefisien linier (lurus) sebagai berikut, misalnya sebuah benda padat berbentuk paralepedium tegak yang panjang isinya Maka volumenya adalah: ( ) ( ) Ini dibagi dengan . Maka: ( ) .

(Sears & Zemansky, 1969)

Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II

Pemuaian zat berlangsung ke segala arah sehingga panjang, luas, dan volume zat akan bertambah. Untuk zat padat yang bentuknya memanjang, dan berdiameter kecil, pertambahan luas pertambahan luas dan volume dapat diabaikan. Dengan demikian, hanya pertambahan panjang yang diperhatikan. (book.google.com/books?isbn=9797344606) Besarnya panjang zat padat untuk setiap kenaikan suhu 10C pada zat sepanjang 1m disebut koefien muai panjang (). Hubungan antara panjang benda, suhu dan koefisien muai panjang dinyatakan dengan:

( ( Dengan: panjang akhir (m)

) ( )

panjang mula-mula (m) pertambahan panjang (m) koefisien muai panjang (C) perubahan suhu (C) (Modul praktikum laboratorium fisika SL.II,20-21)

2.3.

Pemuaian Zat
Pemuaian dialami oleh zat padat , zat cair dan gas. a. Pemuaian pada zat padat Kadang kadang kamu amati gelas kosong dingin menjadi retak ketika kamu isi

dengan air mendidih dari teko. Ini terjadi karena sisi dalam gelas memuaian lebih dahulu dari pada sisi luarnya yang masih dingin. Ini adalah salah satu contoh masalah yang ditimbulkan oleh pemuaian zat padat. Pemuaian zat padat terdiri dari : 1. Pemuaian Panjang Pernahkah kamu mengamati kabel jaringan listrik pada pagi hari dan siang hari? Kabel jaringan akan tampak kencang pada pagi hari dan tampak kendor pada siang hari. Kabel tersebut mengalami pemuaian panjang akibat terkena panas sinar matahari. Alat yang digunakan untuk menyelidiki pemuaian panjang berbagai jenis zat padat adalah musschenbroek. Pemuaian panjang suatu benda dipengaruhi oleh panjang mula-mula benda, besar kenaikan suhu, dan tergantung dari jenis benda.
Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II
4

Musschenbroek

Besarnya panjang logam setelah dipanaskan adalah sebesar :

besarnya panjang zat padat untuk setiap kenaikan 1C pada zat sepanjang 1 m disebut koefisien muai panjang (). Hubungan antara panjang benda, suhu, dan koefisien muai panjang dinyatakan dengan persamaan ( Keterangan: L0 = panjang mula mula ( m ) L = pertambahan pamjang ( m ) = koefisien muai panjang ( /C) 2. Pemuaian Luas Jika yang dipanaskan adalah suatu lempeng atau plat tipis maka plat tersebut akan mengalami pemuaian pada panjang dan lebarnya. Dengan demikian lempeng akan mengalami pemuaian luas atau pemuaian bidang. Pertambahan luas zat padat untuk setiap kenaikan 1C pada zat seluas 1 m^2 disebut koefisien muai luas (). Hubungan antara luas benda, pertambahan luas suhu, dan koefisien muai luas suatu zat adalah )

(
Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II

)
5

Keterangan: A = Luas akhir (m2) 0 = Pertambahan luas (m2) A0 = Luas mula-mula (m2) = Koefisien muai luas zat (/ C) t = Kenaikan suhu (C) Besarnya dapat dinyatakan dalam persamaan berikut.

3. Pemuaian Volume Jika suatu balok mula-mula memiliki panjang P0, lebar L0, dan tinggi h0 dipanaskan hingga suhunya bertambah t, maka berdasarkan pada pemikiran muai panjang dan luas diperoleh harga volume balok tersebut sebesar

( dimana

Keterangan: V = Volume akhir (m^3) V0 = Volume mula-mula (m^3) V = Pertambahan volume (m^3) = Koefisien muai volume (/C) t = Kenaikan suhu (C)

b.

Pemuaian Zat Cair Pada zat cair tidak melibatkan muai panjang ataupun muai luas, tetapi hanya dikenal

muai ruang atau muai volume saja. Semakin tinggi suhu yang diberikan pada zat cair itu maka semakin besar muai volumenya. Pemuaian zat cair untuk masing-masing jenis zat cair berbeda-beda, akibatnya walaupun mula-mula volume zat cair sama tetapi setelah dipanaskan volumenya menjadi berbeda-beda. Pemuaian volume zat cair terkait dengan pemuaian tekanan karena peningkatan suhu. Titik pertemuan antara wujud cair, padat dan gas disebut titik tripel.
Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II
6

c.

Pemuaian gas Mungkin kamu pernah menyaksikan mobil atau motor yang sedang melaju di jalan

tiba-tiba bannya meletus?. Ban mobil tersebut meletus karena terjadi pemuaian udara atau gas di dalam ban. Pemuaian tersebut terjadi karena adanya kenaikan suhu udara di ban mobil akibat gesekan roda dengan aspal. Pemuaian pada gas adalah pemuaian volume yang dirumuskan sebagai: ( ) adalah koefisien muai volume. Nilai sama untuk semua gas, yaitu 1/273 C-1. Pemuaian gas dibedakan tiga macam, yaitu: 1. Pemuaian gas pada suhu tetap (isotermal), 2. Pemuaian gas pada tekanan tetap (isobar), dan 3. Pemuaian gas pada volume tetap (isokhorik). Muai gas dimanfaatkan pada pembuatan termometer gas, yaitu suatu alat yang digunakan didalam laboratorium untuk menentukan suhu yang sangat rendah. Pada keadaan awal ( suhu awal ) , tekanan gas dalam reservoir menghasilkan beda ketinggian raksa tertentu. Jika reservoir gas dimasukkan ke dalam ruang yang suhunya lebih tinggi dari pada suhu awal, gas memuai dan mendesak raksa pada kaki kiri pipa U. Ini mengakibatkan beda ketinggian raksa h menjadi lebih besar. Dari beda ketinggian raksa ketika suhu gas = suhu awal ( diketahui ) dan ketika suhu gas = suhu akhir ( diukur ) dapatlah dihitung suhu akhir gas. Tentu saja, suhu akhir gas sama dengan suhu ruang dimana termometer gas berada. Gas yang bisa digunakan sebagai pengisi reservoir termometer gas adalah hidrogen, helium, dan nitrogen.

Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II

BAB III APLIKASI MATERI


3.1. Aplikasi dalam Kehidupan Sehari-hari 1. Celah sambungan antar rel kereta api. Celah sambungan tersebut akan terlihat ketika rel bersuhu rendah. Fusi celah tersebut untuk ruang pemuaian ketika suhu mulai naik.

2. Celah pada kaca jendela rumah. Sama halnya dengan celah pada sambungan rel kereta, celah pada kaca jendela juga mempunyai fungsi yang sama. Yaitu untuk ruang pemuaian.

3. Pengelingan Menyambung dua pelat dengan menggunakan paku khusus dengan proses khusus disebut mengeling. Bagaimanakah cara pemasangan paku keling? Paku keling yang dipakai untuk mengeling sesuatu dalam keadaan panas sampai berpijar dan dimasukkan ke dalam lubang pelat yang hendak kita keling. Kemudian paku bagian atas dipukul-pukul sampai rata. Setelah dingin paku keling tersebut akan menyusut dan menekan kuat pelat tersebut. Pengelingan dapat kamu jumpai pada pembuatan badan kapal laut.

3.2.

Soal dan jawaban a. Pilihan ganda 1. Bila koefisien muai panjang logam 4. adalah 0,000008C, maka koefisien muai ruang logam adalah...... a. 0,000024/C b. 0,000048/C c. 0,00024/C d. 0,00048/C e. 0,000048/C Jawaban:c Panjang dua batang rel kereta api 5. masing-masing 10 meter, dipasang pada suhu 20 C. Diharapkan pada suhu 40 C , kedua rel tersebut saling Koefisien muai panjang suatu zat padat bergantung pada ... a. Panjang batang mula-mula b. Jenis zat padat c. Perubahan suhu d. Pertambahan panjang e. Suhu jawaban: b Sebuah keping bimetal terbuat dari logam kuningan dan besi. Jika angka muai panjang kuningan lebih besar daripada besi, maka ketika bimetal dipanaskan ...
8

2.

Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II

bersentuhan. Koefisien muai rel /C. Jarak antara kedua batang rel yang diperlukan pada suhu 20 C adalah .... a. 9,6mm b. 4,8mm c. 2,4mm d. 1,2mm e. 0,8mm Jawaban:c 3. Batang besi panjangnya 2 m pada suhu 20 derajat C. Setelah suhunya mencapai 80 derajat C, panjang batang besi menjadi ... ( = 0,000011/oC) a. 2,0013 m b. 2,0126 m c. 2,0168 m d. 2,0260 m e. 2,0031m Jawaba: a

a. b. c. d. e.

Membengkok ke arah besi Membengkok ke arah kuningan Tetap lurus Menyusut Bertambah volume Jawaban: a

b. Esai Baja pada suhu 20 C panjangnya 3 meter. Jika dipanaskan hingga suhunya 60 C, berapa penambahan panjang benda tersebut? Koefisien muai panjang baja 0, 000011C Pembahasan: L2 = 3 (1 + 0,00044) = 3 (1,00044) = 3, 00132; L2 L1 = 3, 00132 3 = 0,00132 m

3.3.

Lembar Kerja Siswa

PEMUAIAN ZAT PADAT a. Tujuan Menyelidiki pemuaian panjang pada batang logam (zat padat) b. Alat dan Bahan 1. Alat Musschenbroek 2. Batang logam 3 macam ( besi,aluminium,tembaga) dengan ukuran sama 3. Pembakar spiritus 4. Stop-watch c. Prosedur Kerja 1. Siapkan alat Musschenbroek dan pasang ketiga batang logam pada tempatnya
Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II
9

2. Putar jarum penunjuk agar kedudukan jarum penunjuk alat Musschenbroek sama tinggi. 3. Pnaskan ketiga batang logam tersebut dengan pembakar spiritus selama 5 menit atau sampai ketiga batang logam menjadi panas. 4. Amati apa yang terjadi pada jarum penunjuk 5. Catat angka yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk untuk tiap jenis batang logam! d. Tabel Pengamatan Nama Zat 1.Aluminium 2.Besi 3.Tembaga e. Pertanyaan 1. Apakah jarum penunjuk Alat Musschenbroek bergerak setelah batang logam dipanaskan? Jawab: ..................................................................................................................................... 2. Apakah penunjuk jarum untuk ketiga batang logam tersebut sama? Jelaskan! Jawab: ..................................................................................................................................... 3. Batang logam manakah yang mengalami pemuaian terbesar? Jawab: ..................................................................................................................................... 4. Batang logam manakah yang mengalami pemuaian terkecil? Jawab: ..................................................................................................................................... 5. Buatlah urutan ketiga batang logam tersebut dari yang pemuaiannya terkecil! Jawab: ..................................................................................................................................... f. Kesimpulan .......................................................................................................................................... .......................................................................................................................................... (sumber: http://pekerjaanku-srisuwarni.blogspot.com/2011/11/lks.html) Penunjuk Skala setelah Batang Logam Dipanaskan

Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II

10

BAB IV PENUTUP

a. Kesimpulan Koefisien muai panajang suatu benda adalah perbandingan antara pertambahan panjang terhadap panjang awal benda persatuan kenaikan suhu . Jika suatu benda padat dipanaskan maka benda tersebut akan memuai kesegala arah,denagn kata lain ukuran panjang bertambahnya ukuran panjang suatu benda karena menerima kalor.alat untuk

membandingkan muai panjang dari berbagai logam adalah maschen brock.

Pada umumnya ukuran suatu benda akan berubah apabila suhunya berubah. Pada bendabenda berbentuk batang, perubahan ukuran panjang akibat perubahan suhu adalah sangatlah nyata, sedangkan penambahan ukuran luas penampang dapat diabaikan karenena kecilnya. Perubahan panjang akibat perubahan suhu dapat dirumuskan sebagai berikut : L = . Lo. T = T/ Lo . 1/ T b. Saran Agar menghasilkan data yang akurat, disarankan praktikan terlebih dahulu mempelajari konsep tentang angka muai panjang, praktikan juga harus benar-benar faham prosedur pekerjaan. Selain itu, kualitas alat dan bahan yang bagus juga menentukan akurasi perolehan data.

Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II

11

DAFTAR PUSTAKA
Tipler, Paul.2004.physic for scientists and Engineers: Mechanics, Oscillations and Waves, Thermodynamics (5th ed.ed.).W. H. Freeman. Sears & Zemansky, University Physics Addison Weasley Reading. Massachuett.1969. Halliday, Resnick.2011.Fundamentals Of Physics 9th Edition. USA: John Wiley & Sons. Tim Penyusun Modul Praktikum Fisika SL.2003. ITS. Surabaya. Panduan Praktikum Laboratorium Fisika SL.II. 2012. UIN SGD Bandung. BANDUNG http//:Staff. UNY.ac.id/.../Praktikum%Mekanika%Panas%Bunyi.pdf http//:Book.google.com/books?ISBN=9797344606 giancoli, Douglas C. 2001. FISIKA Edisi Kelima Jilid 1. Jakarta: Erlangga http://pekerjaanku-srisuwarni.blogspot.com/2011/11/lks.html

Laboratorium Fisika Sekolah Lanjutan II

12