Anda di halaman 1dari 6

Pemeriksaan Urin Urin merupakan cairan yang dihasilkan oleh ginjal melalui proses penyaringan darah.

Oleh kaena itu kelainan darah dapat menunjukkan kelainan di dalam urin. Pemeriksaan urin merupakan salah satu pemeriksaan rutin yang banyak diminta oleh dokter atau pada pemeriksaan kesehatan umum (General Check Up). Informasi penting apa yang diperoleh dari pemeriksaan urin rutin Pemeriksaan urin yang tepat dan teliti memiliki peran yang sangat penting untuk mendeteksi adanya kelainan pada ginjal atau di luar ginjal !agaimana pemeriksaan urin dilakukan Pemeriksaan urin dilakukan melalui " tahap yang saling melengkapi# yaitu$ % &akroskopis % 'imia Urin % &ikroskopis ((edimen Urin) Pemeriksaan urin kurang mendapat perhatian# namun ternyata mempunyai makna diagnosis yang penting (elama ini pemeriksaan urin dilakukan secara kon)ensional (manual). Oleh karena itu hasil pemeriksaan urin memiliki )ariasi sangat besar# tergantung dari kecakapan subyek yang mengerjakannya. *engan perkembangan teknologi# dimungkinkan suatu metode pemeriksaan urin yang lebih baik dan terstandarisasi menggunakan metode otomatis. Pemeriksaan kimia urin dan sedimen secara manual memiliki tingkat subjektifitas yang jauh lebih besar (edangkan pengerjaan secara kon)ensional dengan pelaporan semi kuantitatif# dikembangkan metode 'o)a yang memberikan hasil kuantitatif# meskipun masih dikerjakan secara manual. (aat ini telah tersedia alat kimia dan sedimen urin otomatis yang memberikan hasil kuantitatif# lebih cepat dan terstandarisasi sehingga diharapkan akan memudahkan interpretasi dengan hasil yang lebih teliti dan lebih tepat# kecuali bila pada pada keadaan memerlukan yang konfirmasi dilakukan secara manual.

Sebelum menilai hasil analisa urine, perlu diketahui tentang proses pembentukan urine. Urine merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk 1 ml urin per menit. Secara umum dapat dikatakan bah a pemeriksaan urin selain untuk mengetahui kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan!kelainan dipelbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal, uterus dan lain!lain. Faktor-Faktor Yang Turut Mempengaruhi Susunan Urin Untuk mendapatkan hasil analisa urin yang baik perlu diperhatikan beberapa faktor antara lain persiapan penderita dan cara pengambilan contoh urin. "eberapa hal perlu diperhatikan dalam persiapan penderita untuk analisa urin misalnya pada pemeriksaan glukosa urin sebaiknya penderita jangan makan #at reduktor seperti $itamin %, karena #at tersebut dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara reduksi dan hasil negatif palsu dengan cara en#imatik. &ada pemeriksaan urobilin, urobilinogen dan bilirubin sebaiknya tidak diberikan obat yang memberi arna pada urin, seperti $itamin "2 'ribofla$in(, pyridium dan lain lain. &ada tes kehamilan dianjurkan agar mengurangi minum supaya urin menjadi lebih pekat. Susunan urin tidak banyak berbeda dari hari ke hari, tetapi pada pihak lain mungkin banyak berbeda dari aktu ke aktu sepanjang hari, karena itu penting untuk mengambil contoh urin menurut tujuan pemeriksaan. Untuk pemeriksaan urin seperti pemeriksaan protein, glukosa dan sedimen dapat dipergunakan urin ! se aktu, ialah urin yang dikeluarkan pada aktu yang tidak ditentukan dengan khusus, kadang kadang bila unsur sedimen tidak ditemukan karena urin! se aktu terlalu encer, maka dianjurkan memakai urin pagi. Urin pagi ialah urin yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari, urin ini baik untuk pemeriksaan berat jenis, protein sedimen dan tes kehamilan. &ada penderita yang sedang haid atau )leucorrhoe) untuk mencegah kontaminasi dianjurkan pengambilan contoh urin dengan cara clean $oided specimen yaitu dengan melakukan kateterisasi, punksi suprapubik atau pengambilan urin midstream dimana urin yang pertama

keluar tidak ditampung, tapi urin yang keluar kemudian ditampung dan yang terakhir tidak turut ditampung. Pemeriksaan Makroskopik, Mikroskopik Dan Kimia Urin Dikenal pemeriksaan urin rutin dan lengkap. *ang dimaksud dengan pemeriksaan urin rutin adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia urin yang meliputi pemeriksaan protein dan glukosa. Sedangkan yang dimaksud dengan pemeriksaan urin lengkap adalah pemeriksaan urin rutin yang dilengkapi dengan pemeriksaan benda keton, bilirubin, urobilinogen, darah samar dan nitrit. Pemeriksaan Makroskopik *ang diperiksa adalah $olume, arna, kejernihan, berat jenis, bau dan p+ urin. &engukuran

$olume urin berguna untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif atau semi kuantitatif suatu #at dalam urin, dan untuk menentukan kelainan dalam keseimbangan cairan badan. &engukuran $olume urin yang dikerjakan bersama dengan berat jenis urin bermanfaat untuk menentukan gangguan faal ginjal. Volume urin "anyak sekali faktor yang mempengaruhi $olume urin seperti umur, berat badan, jenis kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan akti$itas orang yang bersangkutan. ,ata!rata didaerah tropik $olume urin dalam 2- jam antara .00!!1/00 ml untuk orang de asa. "ila didapatkan $olume urin selama 2- jam lebih dari 2000 ml maka keadaan itu disebut poliuri. &oliuri ini mungkin terjadi pada keadaan fisiologik seperti pemasukan cairan yang berlebihan, ner$ositas, minuman yang mempunyai efek diuretika. Selain itu poliuri dapat pula disebabkan oleh perubahan patologik seperti diabetes mellitus, diabetes insipidus, hipertensi, pengeluaran cairan dari edema. "ila $olume urin selama 2- jam /00!!010 ml maka keadaan ini dikatakan oliguri. 2eadaan ini mungkin didapat pada diarrhea, muntah !muntah, deman edema, nefritis menahun. 3nuri adalah suatu keadaan dimana jumlah urin selama 2- jam kurang dari /00 ml. +al ini mungkin dijumpai pada shock dan kegagalan ginjal. 4umlah urin siang 12 jam dalam keadaan normal 2 sampai - kali lebih banyak dari urin malam 12 jam. "ila perbandingan tersebut terbalik disebut nokturia, seperti didapat pada diabetes mellitus. Warna urin &emeriksaan terhadap arna urin mempunyai makna karena kadang!kadang dapat menunjukkan

kelainan klinik. 5arna urin dinyatakan dengan tidak ber arna, kuning muda, kuning, kuning tua, kuning bercampur merah, merah, coklat, hijau, putih susu dan sebagainya. 5arna urin dipengaruhi oleh kepekatan urin, obat yang dimakan maupun makanan. &ada umumnya ditentukan oleh kepekatan urin, makin banyak diuresa makin muda arna arna urin itu. 5arna normal

urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam #at arna seperti urochrom, urobilin dan porphyrin. "ila didapatkan perubahan Disamping itu perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya #at hemoglobin yang menyebabkan arna

arna abnormal, seperti arna coklat.

arna merah dan bilirubin yang menyebabkan

5arna urin yang dapat disebabkan oleh jenis makanan atau obat yang diberikan kepada orang sakit seperti obat diri$at fenol yang memberikan arna coklat kehitaman pada urin.

2ejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat seperti jernih, agak keruh, keruh atau sangat keruh. "iasanya urin segar pada orang normal jernih. 2ekeruhan ringan disebut nubecula yang terdiri dari lendir, sel epitel dan leukosit yang lambat laun mengendap. Dapat pula disebabkan oleh urat amorf, fosfat amorf yang mengendap dan bakteri dari botol penampung. Urin yang telah keruh pada aktu dikeluarkan dapat disebabkan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti epitel, leukosit dan eritrosit dalam jumlah banyak. Berat jenis urin &emeriksaan berat jenis urin bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan memakai falling drop, gra$imetri, menggunakan pikno meter, refraktometer dan reagens 6pita6. "erat jenis urin se aktu pada orang normal antara 1,00/ !! 1,0/0. "erat jenis urin herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. 7akin pekat urin makin tinggi berat jenisnya, jadi berat jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urin se aktu yang mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih, menunjukkan bah a faal pemekat ginjal baik. 2eadaan ini dapat dijumpai pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin kurang dari 1,008 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun. mungkin disebabkan oleh #at menyebabkan Bau urin Untuk menilai bau urin dipakai urin segar, yang perlu diperhatikan adalah bau yang abnormal. "au urin normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. "au yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol, petai, obat!obatan seperti mentol, bau buah!buahan seperti pada ketonuria. "au amoniak disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya terjadi pada urin yang dibiarkan tanpa penga et. 3danya urin yang berbau busuk dari semula dapat berasal dari perombakan protein dalam saluran kemih umpamanya pada karsinoma saluran kemih. p urin arna coklat. arna yang normal ada dalam jumlah besar, seperti urobilin

&enetapan p+ diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. p+ urin normal berkisar antar -,1 !! .,0. Selain itu penetapan p+ pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. &ada infeksi oleh 9scherichia coli biasanya urin bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman &roteus yang dapat merombak ureum menjadi atnoniak akan menyebabkan urin bersifat basa.

Dalam pengobatan batu karbonat atau kalsium fosfat urin dipertahankan asam, sedangkan untuk mencegah terbentuknya batu urat atau oksalat p+ urin sebaiknya dipertahankan basa. Pemeriksaan Kimia Urin Di samping cara kon$ensional, pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana dengan hasil cepat, tepat, spesifik dan sensitif yaitu memakai reagens pita. ,eagens pita 'strip( dari berbagai pabrik telah banyak beredar di :ndonesia. ,eagens pita ini dapat dipakai untuk pemeriksaan p+, protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen dan nitrit. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimum, akti$itas reagens harus dipertahankan, penggunaan haruslah mengikuti petunjuk dengan tepat; baik mengenai cara penyimpanan, pemakaian reagnes pita dan bahan pemeriksaan. Urin dikumpulkan dalam penampung yang bersih dan pemeriksaan baiknya segera dilakukan. "ila pemeriksaan harus ditunda selama lebih dari satu jam, sebaiknya urin tersebut disimpan dulu dalam lemari es, dan bila akan dilakukan pemeriksaan, suhu urin disesuaikan dulu dengan suhu kamar. 3gar didapatkan hasil yang optimal pada tes nitrit, hendaknya dipakai urin pagi atau urin yang telah berada dalam buli!buli minimal selama - jam. Untuk pemeriksaan bilirubin, urobilinogen dipergunakan urin segar karena #at!#at ini bersifat labil, pada suhu kamar bila kena cahaya. "ila urin dibiarkan pada suhu kamar, bakteri akan berkembang biak yang menyebabkan p+ menjadi alkali dan menyebabkan hasil positif palsu untuk protein. &ertumbuhan bakteri karena kontaminasi dapat memberikan basil positif palsu untuk pemeriksaan darah samar dalam urin karena terbentuknya peroksidase dari bakteri. ,eagens pita untuk pemeriksaan protein lebih peka terhadap albumin dibandingkan protein lain seperti globulin, hemoglobin, protein "ence 4ones dan mukoprotein. <leh karena itu hasil pemeriksaan proteinuri yang negatif tidak dapat menyingkirkan kemungkinan terdapatnya protein tersebut didalam urin. Urin yang terlalu lindi, misalnya urin yang mengandung amonium kuartener dan urin yang terkontaminasi oleh kuman, dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara ini. &roteinuria dapat terjadi karena kelainan prerenal, renal dan post!renal. 2elainan pre!renal disebabkan karena penyakit sistemik seperti anemia hemolitik yang disertai hemoglobinuria, mieloma, makroglobulinemia dan dapat timbul karena gangguan perfusi glomerulus seperti pada hipertensi dan payah jantung. &roteinuria karena kelainan ginjal dapat disebabkan karena kelainan glomerulus atau tubuli ginjal seperti pada penyakit glomerulunofritis akut atau kronik, sindroma nefrotik, pielonefritis akut atau kronik, nekrosis tubuler akut dan lain! lain. Pemeriksaan glukosa dalam urin dapat dilakukan dengan memakai reagens pita. Selain itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi ion cupri menjadi cupro. Dengan cara reduksi mungkin didapati hasil positip palsu pada urin yang mengandung bahan reduktor selain glukosa seperti = galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obat!obatan seperti streptomycin, salisilat, $itamin %. %ara en#imatik lebih sensitif dibandingkan dengan cara

reduksi. %ara en#imatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg>dl, sedangkan pada cara reduksi hanya sampai 210 mg>dl. 4uga cara ini lebih spesifik untuk glukosa, karena gula lain seperti galaktosa, laktosa, fruktosa dan pentosa tidak bereaksi. Dengan cara en#imatik mungkin didapatkan hasil negatip palsu pada urin yang mengandung kadar $itamin % melebihi 01 mg>dl atau benda keton melebihi -0 mg>dl. &ada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin. ?lukosuria dapat terjadi karena peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kepasitas maksimum tubulus untuk mereabsorpsi glukosa seperti pada diabetes mellitus, tirotoksikosis, sindroma %ushing, phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau karena ambang rangsang ginjal yang menurun seperti pada renal glukosuria, kehamilan dan sindroma Fanconi. Pemeriksaan !iliru!in dalam urin berdasarkan reaksi antara garam dia#onium dengan bilirubin dalam suasana asam, yang menimbulkan sulfo salisilat. 3danya bilirubin 0,01!1 mg>dl urin akan memberikan basil positif dan keadaan ini menunjukkan kelainan hati atau saluran empedu. +asil positif palsu dapat terjadi bila dalam urin terdapat mefenamic acid, chlorproma#ine dengan kadar yang tinggi sedangkan negatif palsu dapat terjadi bila urin mengandung metabolit pyridium atau serenium. arna biru atau ungu tua. ?aram dia#onium terdiri dari p!nitroben#ene dia#onium dan p!toluene sulfonate, sedangkan asam yang dipakai adalah asam