Anda di halaman 1dari 27

akMEDAN Paparan bahan kimia berbahaya dalam jajanan anak membuat anak-anak dibayangi berbagai penyakit degeneratif di masa

a depannya. Di Sumatera Utara sendiri, berdasarkan penelitian yang dilakukan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumut, 60 persen anak anak di perkotaan cenderung mengonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia dan pengawet. Hal ini diungkapkan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumut, Henry Salim Siregar. Kata dia, pola makan atau gaya hidup anak-anak sekarang lebih cenderung mengonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya atau pengawet. Padahal ini sangat berbahaya karena kualitas hidup terganggu, siapa nanti yang menjadi pemimpin bangsa ini. Memang dampaknya bukan sekarang, tapi akan terlihat dalam waktu jangka panjang. Anak-anak sekarang juga minim mengonsumsi sayur-sayuran, padahal ini sangat baik untuk kesehatan, katanya hari ini.

Karena itu, menurut Henry, semua pihak harus membantu pemerintah menyosialisasikan bahayanya bahan-bahan kimia dalam makanan anak. Kita akan sosialisasikan. Nggak baik kalau anak-anak semakin lama mengonsumsi makanan seperti ini, jelasnya. Untuk itu, Henry menghimbau agar orangtua menyediakan makanan sehat bagi bekal anaknya ke sekolah. Hendri Salim memaparkan, penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) atau food additives sudah sangat meluas. Hampir semua industri pangan, baik industri besar maupun industri rumah tangga, dipastikan menggunakan BTP. Penggunaan BTP memang tidak dilarang asalkan bahan tersebut benar-benar aman bagi kesehatan manusia dan dalam dosis yang tepat. Pengawet merupakan salah satu jenis BTP yang paling banyak digunakan oleh produsen makanan. Penggunaan BTP dimaksudkan untuk mempertahankan kesegaran atau agar produk tahan lama, serta untuk memperbaiki rasa, aroma, penampilan fisik, dan warna. Beberapa pengawet yang termasuk antioksidan berfungsi mencegah makanan menjadi tengik akibat perubahan kimiawi. Namun, karena kurangnya pengetahuan tentang bahaya penggunaan BTP, para produsen makanan menggunakan BTP (pengawet) secara berlebihan. Paling banyak mereka menggunakan formalin. Dikatakannya, formalin merupakan salah satu pengawet yang akhir-akhir ini banyak digunakan dalam makanan, padahal jenis pengawet tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan. Formalin merupakan larutan tidak berwarna, berbau tajam, mengandung formaldehid sekitar 37 persen dalam air, biasanya ditambahkan metanol 10-15 persen. Pengawet ini memiliki unsur aldehida yang bersifat mudah bereaksi dengan protein, karenanya ketika disiramkan ke makanan seperti tahu, formalin akan mengikat unsur protein mulai dari bagian permukaan tahu hingga terus meresap ke bagian dalamnya. Dengan matinya protein setelah terikat unsur kimia dari formalin maka bila ditekan tahu terasa lebih kenyal. Selain itu protein yang telah mati tidak akan diserang bakteri pembusuk yang menghasilkan senyawa asam. Itulah sebabnya tahu atau makanan berformalin lainnya menjadi lebih awet. Formalin selain harganya murah, mudah didapat dan pemakaiannya pun tidak sulit sehingga sangat diminati sebagai

pengawet oleh produsen pangan yang tidak bertanggung jawab. Hasil survei dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan, sejumlah produk pangan menggunakan formalin sebagai pengawet, kata dia. Kalau untuk jajanan anak-anak yang mengandung pengawet dan zat pewarna kimia berbahaya, bisa ditandai dengan rasa pahit makanan tersebut, misalnya pada kerupuk. Kemudiannya warnanya sangat cerah seperti pada es ganepo dan es sejenisnya. Pada buah-buahan asinan dengan sedikit pahit dan kenyal, dan lainnya, jelasnya. Terpisah, Kabid Sertifikasi dan Layanan Informasi Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Medan, Sacramento Tarigan mengakui saat ini anak-anak di perkotaan khususnya di sekolah, mayoritas mengonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya dan bahan pengawet seperti bakso, mi, kerupuk berwarna, lontong dan lainnya. Memang dalam operasi rutin yang kita lakukan melalui mobil operasional laboratorium keliling ke sekolah-sekolah, masih banyak anak-anak yang mengonsumsi makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya dan masih ada ditemukan para pedagang yang menjajakan makanannya mengandung bahan tidak baik tersebut. Tapi tidak semua pedagang seperti itu, maka konsumen juga harus lebih pintar dalam membeli, ujarnya. Untuk itu, katanya, dalam rangka monitoring dan pembinaan keamanan pangan terutama di lingkungan sekolah, pihaknya akan berkoordinasi dengan lintas sektor seperti Badan Ketahanan Pangan (BKP), Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan menargetkan pada 2012 ini jumlah anak-anak perkotaan yang mengkonsumsi makanan tidak sehat ini dapat diminimalisir. Jadi awalnya kita data para pedagang ini, jika memang masih ada yang kita temukan yang menjual makanan tidak sehat maka akan kita kita bina mereka. Memang masih ada saja pedagang yang menjual bahan kimia berbahaya seperti boraks pada bakso. Tapi ini sudah menurun sekitar 10 persen ya, ucapnya. Senada dengan Henry Salim Siregar, Umar Zein selaku konsultan gizi mengatakan, dampak akan dirasa dalam rentan waktu yang panjang. Mengonsumsi makanan mengandung bahan pengawet, dan pewarna akan memberikan dampak jangka panjang bagi seorang anak. Di antaranya yakni penyakit kanker, alergi, gangguan pernafasan dan pencernaan, ujarnya. Selain itu konsumsi makanan berbahan pengawet bukan tidak mungkin akan memberikan gangguan ke otak seperti lambatnya daya pikir seorang anak, meskipun belum ada penelitian secara resmi yang dilakukan oleh ahli. Mengingat zat pengawet, bilang Umar Zein, merupakan salah satu pencetus penyakit kanker yang dihasilkan dalam jangka panjang.

Dampak negatif dari formalin yang terkandung pada makanan bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh. Karena formalin sering digunakan sebagai pengawet produk-produk pangan maupun non pangan yang sifatnya mampu membunuh bakteri yang membusukkan makanan.

Formalin adalah nama dagang dari campuran formaldehid, metanol dan air. Formalin yang beredar di pasaran mempunyai kadar formaldehid yang bervariasi, antara 20 persen hingga 40 persen. Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal), merupakan aldehida berbentuk gas dengan rumus kimia HCO. Unsur yang terkandung dalam formalin adalah unsur aldehida yang mudah bereaksi dengan protein. Tidak hanya itu, formalin dapat pula menimbulkan kerusakan pada organ-organ tubuh lain. Dalam jangka pendek, misalnya, jika hidung menghirup formalin, efeknya akan terjadi iritasi dan rasa terbakar pada organ penciuman serta tenggorokan. Selain itu, formalin dapat menimbulkan gangguan pernapasan serta batuk. Dalam jangka panjang formalin akan mengakibatkan kanker seperti kanker hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru-paru, dan otak. Selain itu, penggunaan formalin yang terlalu sering akan mengganggu sistem kerja hati, kerusakan saraf, ginjal, paru-paru, dan organ reproduksi. sumber: berbagai sumber

Diposkan di kategori Nutrisi dengan label dampak negatif dari formalin dampak negatif formalin, Akibat mengkonsumsi makanan yang mengandung formalin, dampak negatif mengkonsumsi makanan berbahaya, dampak negatif mengkonsumsi makanan yang mengandung formalin, dampak negatif penggunaan formalin pada makanan, efek makanan mengandung formalin, efek mengkonsumsi formalin, epek negatip makanan mengandung kimia, FORMALIN, makalah formalin kimia Pengaruh Formalin Bagi Sistem Tubuh Dr Widodo Judarwanto SpA, Rumah Sakit Bunda Jakarta

01/02/2006 Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian laboratorium yang dilakukan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM) di Jakarta, ditemukan sejumlah produk pangan seperti ikan asin, mi basah, dan tahu yang memakai formalin sebagai pengawet. Produk pangan berformalin itu dijual di sejumlah pasar dan supermarket di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, dan Bekasi. Adanya bahan aditif dan pengawet berbahaya dalam makanan ini sebenarnya sudah lama menjadi rahasia umum. Tetapi masalah klasik tersebut kembali menjadi pembicaraan hangat akhir tahun ini karena temuan Balai POM. Fakta ini lebih menyadarkan masyarakat bahwa selama ini terdapat bahaya formalin yang mengancam kesehatan yang berasal dari konsumsi makanan sehari-hari. Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 10-40% dari formaldehid. Bahan ini biasanya digunakan sebagai antiseptic, germisida, dan pengawet. Formalin mempunyai banyak nama kimia diantaranya adalah : Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform, Formic aldehyde, Formalith, Tetraoxymethylene, Methyl oxide, Karsan, Trioxane, Oxymethylene dan Methylene glycol. Di pasaran, formalin bisa ditemukan dalam bentuk yang sudah diencerkan, dengan kandungan formaldehid 10-40 persen. FORMALIN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di sektor industri sebenarnya formalin sangat banyak manfaatnya. Formaldehid memiliki banyak manfaat, seperti anti bakteri atau pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi lalat dan berbagai serangga lain. Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea, bahan pembuatan produk parfum, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan bahan untuk insulasi busa. Formalin juga dipakai sebagai pencegah korosi untuk sumur minyak.. Di bidang industri kayu sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). Dalam konsentrasi yag sangat kecil (<1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet. Di industri perikanan, formalin digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit ikan akibat ektoparasit seperti fluke dan kulit berlendir. Meskipun demikian, bahan ini juga sangat beracun bagi ikan. Ambang batas amannya sangat rendah, sehinggga terkadang ikan yang diobati malah mati akibat formalin daripada akibat penyakitnya. Formalin banyak digunakan dalam pengawetan specimen ikan untuk keperluan penelitian dan identifikasi. Di dunia kedokteran formalin digunakan untuk pengawetan mayat manusia untuk dipakai dalam pendidikan mahasiswa kedokteran. Untuk pengawetan biasanya digunakan formalin dengan konsentrasi 10%. Besarnya manfaat di bidang industri ini ternyata disalahgunakan untuk penggunaan pengawetan industri makanan. Biasanya hal ini sering ditemukan dalam industri rumahan, karena mereka tidak terdaftar dan tidak terpantau oleh Depkes dan Balai POM setempat. Bahan makanan yang diawetkan dengan formalin biasanya adalah mi basah, tahu, bakso, ikan asin dan beberapa makanan lainnya. Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam

formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air, sebagai bahan pengawet biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen. Bila tidak diberi bahan pengawet makanan seperti tahu atau mi basah seringkali tidak bisa tahan dalam lebih dari 12 jam. Formaldehid juga dipakai untuk reaksi kimia yang bisa membentuk ikatan polimer, dimana salah satu hasilnya adalah menimbulkan warna produk menjadi lebih cerah. Sehingga formalin dipakai di industri plastik. bahan pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca. Sehingga formalin juga banyak dipakai di produk rumah tangga seperti piring, gelas dan mangkuk yang berasal dari plastik atau melamin. Bila piring atau gelas tersebut terkena makanan atau minutan panas maka bahan formalin yang terdapat dalam gelas akan larut. Dari penelitian hasil air rebusan yang kemudian dibawa ke Laboratorium Kimia Universitas Indonesia, ini didapatkan hasil, bahwa kandungan formalin pada hampir semua produk yang diteliti, kandungan formalin sangat tinggi antara 4,76 9,22 miligram per liter. Barang-barang tersebut bila digunakan dalam keadaan dingin sebenarnya tidak berbahaya. Tetapi sangat berbahaya bila wadah-wadah ini dipakai untuk menaruh bahan makanan panas seperti membuat minuman teh, kopi, atau makanan berkuah panas. BAHAYA PAPARAN FORMALIN Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yaitu mulut dan pernapasan. Sebetulnya, sehari-hari kita menghirup formalin dari lingkungan sekitar. Polusi yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang mau tidak mau kita hirup, kemudian masuk ke dalam tubuh. Asap rokok atau air hujan yang jatuh ke bumi pun sebetulnya juga mengandung formalin. Formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa : luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia. Jika kandungan dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel, sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan kerusakan pada organ tubuh. Formalin merupakan zat yang bersifat karsinogenik atau bisa menyebabkan kanker. Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing pemberian formalin dalam dosis tertentu jangka panjang secara bermakna mengakibatkan kanker saluran cerna seperti adenocarcinoma pylorus, preneoplastic hyperplasia pylorus dan adenocarcinoma duodenum. Penelitian lainnya menyebutkan pengingkatan resiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan. Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. Sehingga formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah. Imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. Jika imunitas tubuh rendah atau mekanisme pertahanan tubuh rendah, sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. Usia anak khususnya bayi dan balita adalah salah satu yang rentan untuk mengalami gangguan ini. Secara mekanik integritas mukosa (permukaan) usus dan peristaltik (gerakan usus) merupakan pelindung masuknya zat asing masuk ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi zat berbahaya tersebut. Secara imunologik sIgA (sekretori Imunoglobulin A) pada permukaan mukosa dan limfosit pada

lamina propia dapat menangkal zat asing masuk ke dalam tubuh. Pada usia anak, usus imatur (belum sempurna) atau sistem pertahanan tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan bahan berbahaya masuk ke dalam tubuh sulit untuk dikeluarkan. Hal ini juga akan lebih mengganggu pada penderita gangguan saluran cerna yang kronis seperti pada penderita Autism, penderita alergi dan sebagainya. Menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter. IPCS adalah lembaga khusus dari tiga organisasi di PBB, yaitu ILO, UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada keselamatan penggunaan bahan kimiawi. Bila formalin masuk ke tubuh melebihi ambang batas tgersebut maka dapat mengakibatkan gangguan pada organ dan system tubuh manusia. Akibat yang ditimbulkan tersebut dapat terjadi dalam waktu singkat atau jangka pendek dan dalam jangka panjang, bisa melalui hirupan, kontak langsung atau tertelan. Akibat jangka pendek yang terjadi biasanya bila terpapar formalin dalam jumlah yang banyak, Tanda dan gejala akut atau jangka pendek yang dapat terjadi adalah bersin, radang tonsil, radang tenggorokan, sakit dada, yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual, diare dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian. Bila terhirup formalin mengakibatkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk. Kerusakan jaringan sistem saluran pernafasan bisa mengganggu paru-paru berupa pneumonia (radang paru) atau edema paru ( pembengkakan paru). Bila terkena kulit dapat menimbulkan perubahan warna, kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar. Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata. Apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan , sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal. Meskipun dalam jumlah kecil, dalam jangka panjang formalin juga bisa mengakibatkan banyak gangguan organ tubuh. Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru. Gangguan otak mengakibatk efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, gangguan emosi, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi, daya ingat berkurang dan gangguan perilaku lainnya. Dalam jangka panjang dapat terjadi gangguan haid dan kemandulan pada perempuan. Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak juga bisa terjadi. Apabila terkena kulit, kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari

tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung. Jika terkena mata, bahaya yang paling menonjol adalah terjadinya radang selaput mata. Jika tertelan akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada. PENANGANAN BILA TERPAPAR FORMALIN Bila terkena hirupan atau terkena kontak langsung formalin, tindakan awal yang harus dilakukan adalah menghindarkan penderita dari daerah paparan ke tempat yang aman. Bila penderita sesak berat, kalau perlu gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis untuk melakukan pernafasan buatan. Bila terkena kulit lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena formalin. Cuci kulit selama 15-20 menit dengan sabun atau deterjen lunak dan air yang banyak dan dipastikan tidak ada lagi bahan yang tersisa di kulit. Pada bagian yang terbakar, lindungi luka dengan pakaian yag kering, steril dan longgar. Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata dikedip-kedipkan. Pastikan tidak ada lagi sisa formalin di mata. Aliri mata dengan larutan dengan larutan garam dapur 0,9 persen (seujung sendok teh garam dapur dilarutkan dalam segelas air) secara terus-menerus sampai penderita siap dibawa ke rumah sakit atau ke dokter. Bila tertelan segera minum susu atau norit untuk mengurangi penyerapan zat berbahaya tersebut. Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit. Yang lebih menyulitkan adalah pemantauan efek samping jangka panjang. Biasanya hal ini terjadi akibat paparan terhadap formalin dalam jumlah kecil. Dalam jangka pendek akibat yang ditimbulkan seringkali tanpa gejala atau gejala sangat ringan. Jangka waktu tertentu gangguan dan gejala baru timbul. BAGAIMANA MENYIKAPINYA? Isu adanya formalin yang terdapat dalam bahan makanan dan alat makan sehar-hari ini memang harus diwaspadai. Tetapi sebaiknya tidak harus disikapi secara berlebihan. Bukan berarti kita harus sama sekali tidak makan tahu, bakso, mi basah atau ikan asin. Atau kita tidak harus menghindari bahan plastik atau melamin untuk alat makan kita. Karena tidak semua bahan makanan atau alat makan tersebut mengandung formalin. Yang penting konsumen harus jeli dengan memperhatikan kualitas makanan dan alat makan yang dibeli atau dipakai. Untuk alat makan berasal dari plastik atau melamin, kalau mudah sekali pudar atau kusam, berarti bahannya banyak yang terkikis maka produk seperti ini perlu dihindari. Jika tidak yakin akan kualitas produk melamin yang Anda punya, sebaiknya jangan gunakan piranti makan tersebut untuk makanan serta minuman panas. Untuk makanan dingin, biasanya tidak berbahaya. Formalin yang sudah membentuk polimer dalam keadaan dingin sulit untuk terurai. Dalam mengonsumsi bahan makanan kita harus mencermati makanan yang mengandung formalin. Kalau tahu tahan sampai berhari-hari, kenyal dan padat sangat mungkin mengandung formalin. Sebetulnya, makanan yang mengandung formalin memiliki bau yang khas, sehingga bisa dideteksi

oleh orang awam sekalipun. Pencegahan paparan langsung terhadap formalin harus dilakukan, khususnya bagi pekerja industri yang memakai formalin. Agar tidak terhirup gunakan alat pelindung pernafasan, seperti masker, kain atau alat lainnya yang dapat mencegah kemungkinan masuknya formalin ke dalam hidung atau mulut. Lengkapi sistem ventilasi dengan penghisap udara (exhaust fan) yang tahan ledakan. Gunakan pelindung mata atau kacamata pengaman yang tahan terhadap percikan. Sediakan kran air untuk mencuci mata di tempat kerja yang berguna apabila terjadi keadaan darurat. Pencegahan paparan pada kulit sebaiknya menggunakan sarung tangan dan pakaian pelindung bahan kimia yang tahan terhadap bahan kimia. Hindari makan, minum dan merokok selama bekerja atau cuci tangan sebelum makan. Meskipun dampaknya sangat berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh, sangatlah tidak bijaksana jika melarang penggunaan formalin. Banyak industri memerlukan formalin sehingga harus bijaksana dalam menggunakannya. Paling utama adalah dengan tidak menggunakannya pada makanan, karena masih ada pengawet makanan yang aman. Depkes atau Badan POM beserta instansi terkait harus mengawasi secara ketat dan terus menerus dalam masalah ini.

DAFTAR PUSTAKA : 1. Hurni, H. and H. Ohder. 1973. Reproduction study with formaldehyde and hexamethylenetetramine in beagle dogs. Food Cosmet. Toxicol. 11: 459-462. 2. Johannsen, F.R., G.J. Levinskas and A.S. Tegeris. 1986. Effects of formaldehyde in the rat and dog following oral exposure. Toxicol. Lett. 30: 1-6. 3. Seidenberg, J.M., D.G. Anderson and R.A. Becker. 1986. Validation of an in vivo developmental toxicity screen in the mouse. Teratol. Carcinogen. Mutagen. 6: 361-374. 4. Takahashi, M., R. Hasegawa, F. Furukawa, K. Toyoda, H. Sato and Y. Hayashi. 1986. Effects of ethanol, potassium metabisulfite, formaldehyde and hydrogen peroxide on gastric carcinogenesis in rats after initiation with N-methyl- N'nitro-N'nitrosoguanidine. Jap. J. Cancer Res. 77: 118-124. 5. Til, H.P., R.A. Woutersen, V.J. Feron, V.H.M. Hollanders, H.E. Falke and J.J. Clary. 1989. Two-year drinking water study of formaldehyde in rats. Food Chem. Toxicol. 27(2): 77-87. 6. U.S. EPA. 1989. Draft Drinking Water Health Advisory for Formaldehyde. Office of Drinking Water, Washington, DC. 7. Acheson, E.D., M.J. Gardner, B. Pannett, H.R. Barnes, C. Osmond and C.P. Taylor. 1984. Formaldehyde in the British Chemical Industry. The Lancet. p. 611-615. 8. Albert, R.E., A.R. Sellakumar, S. Laskin, M. Kuschner, N. Nelson and C.A. Snyder. Gaseous

formaldehyde and hydrogen chloride induction of nasal cancer in the rat. J. Natl. Cancer Inst. 68(4): 597-603. 9. Blair, A., P.A. Stewart, R.N. Hoover, et al. 1986. Mortality among industrial workers exposed to formaldehyde. J. Natl. Cancer Inst. 76(6): 1071-1084. 10. Blair, A., P. Stewart, P.A. Hoover, et al. 1987. Cancers of the nasopharynx and oropharynx and formaldehyde exposure. J. Natl. Cancer Inst. 78(1): 191-193. 11. Consensus Workshop on Formaldehyde. 1984. Deliberations of the Consensus Workshop on Formaldehyde, October 3-6, 1983. Little Rock, AK. (Final report) 12. Dalbey, W.E. 1982. Formaldehyde and tumors in hamster respiratory tract. Toxicology. 24: 9-14. 13. Hayes, R.B., J.W. Raatgever, A. de Bruyn and M. Gerin. 1986. Cancer of the nasal cavity and paranasal sinuses, and formaldehyde exposure. Int. J. Cancer. 37: 487-492. 14. Kerns, W.D., K.L. Pavkov, D.J. Donofrio, E.J. Gralla and J.A. Swenberg. 1983. Carcinogenicity of formaldehyde in rats and mice after long-term inhalation exposure. Cancer Res. 43: 4382-4392. 15. Liebling, T., K.D. Rosenman, H. Pastides, R.G. Griffith and S. Lemeshow. 1984. Cancer mortality among workers exposed to formaldehyde. Am. J. Ind. Med. 5: 423-428. 16. Olsen, J.H., S.P. Jensen, M. Hink, K. Faurbo, N.O. Breum and O.M. Jensen. 1984. Occupational formaldehyde exposure and increased nasal cancer risk in man. Int. J. Cancer. 34: 639-644. 17. Rusch, G.M., J.J. Clary, W.E. Rinehart and H.F. Bolte. 1983. A 26-week inhalation toxicity study with formaldehyde in the monkey, rat and hamster. Toxicol. Appl. Pharmacol. 68: 329-343. 18. Sellakumar, A.R., C.A. Snyder, J.J. Solomon and R.E. Albert. Carcinogenicity of formaldehyde and hydrogen chloride in rats. Toxicol. Appl. Pharmacol. 81: 401-406. 19. Stayner, L.S., A.B. Smith, G. Reeve, et al. 1985. Proportionate mortality study of workers in the garment industry exposed to formaldehyde. Am. J. Ind. Med. 7: 229-240. 20. Stayner, L.T., L. Elliott, L. Blade, R. Keenlyside and W. Halperin. 1988. A retrospective cohort mortality study of workers exposed to formaldehyde in the garment industry. Am. J. Ind. Med. 13(6): 667-682. 21. Tobe, M., T. Kaneko, Y. Uchida, et al. 1985. Studies of the inhalation toxicity of formaldehyde. National Sanitary and Medical Laboratory Service (Japan). p. 1-94. 22. Ulsamer, A.G., K.C. Gupta, M.S. Cohn and P.W. Preuss. 1982. Formaldehyde in indoor air: Toxicity and risk. In: Proceed. 75th Ann. Meet. Air Pollut. Control Assoc. 16 p.

23. U.S. EPA. 1987. Assessment of Health Risk to Garment Workers and Certain Home Residents from Exposure to Formaldehyde. Office of Toxic Substances, Washington, DC. 24. Vaughn, T.L., C. Strader, S. Davis and J.R. Daling. 1986a. Formaldehyde and cancers of the pharynx, sinus and nasal cavity: I. Occupational exposures. Int. J. Cancer. 38: 677-683. Ciri-ciri makanan yang mengandung formalin IN BTM, FORMALIN / BY S HAMDANI / Berikut ini terdapat beberapa ciri penggunaan formalin, walaupun tidak terlampau khas untuk mengenali pangan berformalin, namun dapat membantu membedakannya dari pangan tanpa formalin. Ciri-ciri mi basah yang mengandung formalin: * Tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius) * Bau agak menyengat, bau formalin * Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal Ciri-ciri tahu yang mengandung formalin: * dak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius) * Tahu terlampau keras, namun tidak padat * Bau agak mengengat, bau formalin (dengan kandungan formalin 0.5-1ppm) Ciri-ciri baso yang mengandung formalin: * Tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) * Teksturnya sangat kenyal Ciri-ciri ikan segar yang mengandung formalin: * Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) * Warna insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih * Bau menyengat, bau formalin Ciri-ciri ikan asin yang mengandung formalin: * Tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) * Bersih cerah * Tidak berbau khas ikan asin Menurut Syamsiah (2003 : 45) bagian rimpang lengkuas mengandung atsiri 1%, kamfer, sineol minyak terbang, eugenol, seskuiterpen, pinen kaemferida, galangan, galangol, kristal kuning dan asam metil sinamat. Minyak atsiri yang dikandungnya antara lain galangol, galangin, alpinen, kamfer, dan methyl-cinnamate. Zat-Zat kimia seperti fenol dalam minyak atsiri dalam rimpang lengkuas (Lenguas galanga l.) efektif digunakan sebagai pengganti formalin. Selain itu, tanaman tersebut mudah dibudidayakan dan untuk mendapatkannya tidak dibutuhkan biaya yang mahal.

Maka dari itu, penulis merancang penelitian yang berjudul Pemanfaatan Lengkuas (Lenguas galanga l.) sebagai Bahan Pengawet Pengganti Formalin

BAHAYA PENGGUNAAN PENGAWET (FORMALIN) DALAM MAKANAN BAGI TUBUH MANUSIA Agustus 31, 2012 oleh TEweWe BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Makanan merupakan kebutuhan bagi semua mahluk hidup termasuk manusia. Makanan dibutuhkan untuk memperoleh energi yang digunakan untuk beraktifitas sehari-hari. Pada umumnya makan hanya mampu bertahan dalam waktu beberapa hari atau beberapa jam sampai makan tidak lagi dapat dikonsumsi sehingga harus dibuang. Untuk pelaku bisnis makanan, hal ini merupakan salah satu kendala yang harus diatasi. Untuk itu diperlukan campuran khusus agar makanan yang diproduksi dapat bertahan lebih lama. Salah satu alternatif agar makanan lebih tahan lama adalah dengan menambahkan bahan pengawet dalam makanan ,seperti formalin. Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Disektor industri sebenarnya formalin sangat banyak manfaatnya. Formaldehid mempunyai banyak manfaat untuk pembersih lantai, kapal, gudang-gudang, pakaian, pembasmi lalat dan berbagai serangga. Dalam makalah ini akan dikaji mengenai permasalahan pokok tentang formalin. Mengenai masalah formalin, perhatian pemerintah kita kurang baik, karena selain digunakan dalam sektor industri, formalin juga disalahgunakan untuk keperluan lain seperti pengawetan makanan yang sangat tidak baik apabila di konsumsi oleh tubuh manusia. Formalin sangat berbahaya jika dihirup , mengenai kulit dan tertelan. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang maka formadehid dapat merusak hati, ginjal, limpa, pankreas ,dll. Disinilah Seringkali ada salah pengertian mengenai pengawet untuk makanan yang seolah-olah aman digunakan selama tidak menyebabkan keracunan atau kematian (toksisitas akut), tetapi sebenarnya menyebabkan kerusakan organ tubuh manusia apabila di gunakan dalam jangka panjang (toksisitas kronik). Tujuan Penggunaan pengawet dalam produk pangan dalam prakteknya berperan sebagai antimikroba atau antioksidan yang berfungsi mencegah makanan menjadi tengik, pencoklatan, dan perkembangan noda hitam yang disebabkan oleh perubahan kimiawi dalam makanan tersebut . namun penggunaannya harus tetap di batasi . 1.2 RUMUSAN MASALAH 1. Apakah yang di maksud dengan formalin ? 2. Bagaimana cara pembuatan formalin? 3. Apa saja kegunaan formalin ? 4. Bagaimana ciri-ciri makanan yang mengandung formalin ? 5. Apa saja dampak penggunaan formalin untuk tubuh ? 6. Bagaimana cara menyikapi dan menanggulangi formalin ? 7. Bagaimana cara memberi pertolongan jika keracunan formalin?

1.3 TUJUAN PENULISAN 1. Mengetahui apakah yang di maksud dengan formalin. 2. Mengetahui cara pembuatan formalin 3. Mengetahui apa saja kegunaan formalin. 4. Mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung formalin. 5. Mengetahui dampak penggunaan formalin untuk tubuh. 6. Mengetahui cara menyikapi dan menanggulangi bahaya dari formalin. 7. Mengetahui cara menolong korban keracunan formalin. 1.4 MANFAAT PENULISAN Adapun manfaat dari makalah ini adalah : 1. Memberikan pengetahuan tentang formalin dan cara pembuatannya 2. Kita dapat mengetahui kebaikan dan keburukan formalin. 3. Kita dapat mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung formalin dan makanan yang tidak mengandung formalin 4. Memberikan informasi mengenai dampak formalin bagi kesehatan tubuh. 5. Kita dapat mengetahui tips atau cara menyikapi dan penanggulangan bahaya formalin. BAB II ISI 2.1. Pengenalan Formalin Formalin adalah larutan tak berwarna, mudah larutdalam air, mudah menguap, dan mempunyai bau yang tajam. Di dalam formalin terkandung sekitar 37 % formaldehid dalam air. Biasanya ditambah metanol hingga 15 % sebagai pengawet. Formalin termasuk golongan aldehida suku pertama denganrumus kimia ; H-CH=O. Formalin mempunyai banyak nama kimiadiantaranya adalah : Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid,Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform,Superlysoform, Formic aldehyde, Formalith, Tetraoxymethylene, Methyloxide, Karsan, Trioxane, Oxymethylene dan Methyleneglycol. Formalin ini biasa digunakan sebagai bahan perekat untuk kayu lapis dan disinfektan untuk peralatan rumahsakit serta untuk pengawet mayat. formalin banyak disalah gunakan untuk pengawet bahan makanan sehari-hari. Beberapa jenis peralatan rumahtangga yang terbuat dari plastik atau melamin, seperti mangkuk, pring dangelas juga menggunakan formalin. Peralatan itu hanya aman digunakan dalam kondisi dingin. Pengaruh formalin terhadap sistem tubuh tergantung pada berapa lama dan berapa kadar yang terakumulasi dalamtubuh. Faktor imunitas tubuh juga ikut menentukan.Namun bagi usia bayidan anak kecenderungan bahaya formalin semakin besar, karena systemimun tubuhnya belum sempurna. Sifat oksidator formalin dapat merusaksel-sel tubuh sehingga menghambat metabolisme, bahkan dapatmengakibatkan pertumbuhan sel yang abnormal (kanker). Akhir-akhir ini banyak di temukan makanan yang mengandung formalin, Temuan terbarumenyatakan bahwa beberapa produk permen susu dan makanan kecilkemasan/bermerk asal China juga mengandung formalin. Fakta ini tentusaja sangat menghawatirkan, karena formalin bukanlah zat aditif makanan,namun justru mengancam kesehatan. Produk-produk yang

mengandungformalin itu tanpa sadar dikonsumsi masyarakat luas sehari-hari, karenatidak tahu bagaimana membedakan makanan berformalin ataukah tidak. Disamping itu dapat pula akibat ketidaktahuan dampak penggunaan formalin,zat ini masih luas dipergunakan. Dampak yang tak terlihat secara langsung ini juga membuat para produsen tidak peduli akan akibat jangkapanjangnya. Akumulasi formalin terus-menerus dalam tubuh dapat berakibat fatal yang mengancam sistem keseimbangan tubuh.formalin adalah salah satu jenis pengawet yang sangat berbahaya, Apabila tertelan sebanyak 2 sendok makan saja atau 30 mL formalin bisa menyebabkan kematian. Gejala yang ditimbulkan jika formalin tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah, diare, kemungkinan terjadi perdarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi, kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu, juga bisa menyebabkan kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal. 2.2. Pembuatan Formalin Secara industri, formaldehida dibuat dari oksidasi katalitik metanol. Katalis yang paling sering dipakai adalah logam perak atau campuran oksida besi danmolibdenum serta vanadium. Dalam sistem oksida besi yang lebih sering dipakai (proses Formox), reaksi metanol dan oksigen terjadi pada 250 C dan menghasilkan formaldehida, berdasarkan persamaan kimia 2 CH3OH + O2 2 H2CO + 2 H2O. Katalis yang menggunakan perak biasanya dijalankan dalam hawa yang lebih panas, kira-kira 650 C. dalam keadaan begini, akan ada dua reaksi kimiasekaligus yang menghasilkan formaldehida: satu seperti yang di atas, sedangkan satu lagi adalah reaksi dehidrogenasi CH3OH H2CO + H2. Bila formaldehida ini dioksidasi kembali, akan menghasilkan asam format yang sering ada dalam larutan formaldehida dalam kadar ppm. Di dalam skala yang lebih kecil, formalin bisa juga dihasilkan dari konversi etanol, yang secara komersial tidak menguntungkan. 2.3. Kegunaan formalin Penggunaan formalin yang benar : 1. Pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih : lantai, kapal, gudang, dan pakaian. 2. Pembasmi lalat dan berbagai serangga lain. 3. Bahan pada pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca, dan bahanpeledak. 4. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas. 5. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea. 6. Bahan untuk pembuatan produk parfum. 7. Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku.

8. Pencegah korosi untuk sumur minyak. 9. Bahan untuk insulasi busa. 10. Bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood). 11. Cairan pembalsam ( pengawet mayat ). 12. Dalam konsentrasi yang sangat kecil ( < 1% ) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pemcuci piring, pelembut, perawat sepatu, sampo mobil, lilin dan pembersih karpet. Penggunaan formalin yang salah : Penggunaan Formalin yang salah adalah hal yang sangat disesalkan. Melalui sejumlah survey dan pemeriksaan laboratorium, ditemukan sejumlah produk pangan yang menggunakan formalin sebagai pengawet. Praktek yang salah seperti ini dilakukan oleh produsen atau pengelola pangan yang tidak bertanggung jawab. Beberapa contoh produk yang sering diketahui mengandung formalin misalnya: 1. Ikan segar : Ikan basah yang warnanya putih bersih, kenyal, insangnya berwarna merah tua (bukan merah segar), awet sampai beberapa hari dan tidak mudah busuk. 2. Ayam potong : Ayam yang sudah dipotong berwarna putih bersih, awet dan tidak mudah busuk. 3. Mie basah : Mie basah yang awet sampai beberapa hari dan tidak mudah basi dibandingkan dengan yang tidak mengandung formalin. 4. Tahu : Tahu yang bentuknya sangat bagus, kenyal, tidak mudah hancur, awet beberapa hari dan tidak mudah basi 2.4 Ciri-ciri produk pangan yang mengandung formalin Seperti telah dipaparkan di muka, bahwa terdapat sejumlah produk yang secara sengaja ditambahkan formalin sebagai pengawet. Untuk memastikan apakah sebuah produk pangan mengandung formalin atau tidak memang dibutuhkan uji laboratorium. Kita sebaiknya berhati-hati bila menjumpai produk pangan yang mempunyai ciri sebagai berikut: 1. Tahu yang bentuknya sangat bagus, kenyal, tidak mudah hancur / rusak / busuk sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius), terlampau keras, namun tidak padat, bau agak mengengat; 2. Mie basah yang awet beberapa hari dan tidak mudah basi dibandingkan dengan yang tidak mengandung formalin, tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius), bau agak menyengat, tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal; 3. Ayam berformalin tidak rusak sampai 2 hari pada suhu kamar 25 derajat Celsius, teksturnya kencang dan bau formalin tercium.

4. Ikan basah yang warnanya putih bersih, kenyal, insangnya berwarna merah tua bukan merah segar, awet sampai beberapa hari dan tidak mudah busuk; tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius); bau menyengat; 5. Baso yang tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius), teksturnya sangat kenyal; 6. Ikan asin yang tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius), bersih cerah, tidak berbau khas ikan asin, Tidak dihinggapi lalat di area berlalat. 2.5 Bahaya penggunaan formalin untuk tubuh Formalin merupakan zat toksik dan sangat iritatif untuk kulit dan mata. Formalin bagi tubuh manusia diketahui sebagau zat beracun, karsinogen (penyebab kanker), mutagen (menyebabkan perubahan sel, jaringan tubuh), korosif dan iritatif. Uap dari formalin sendiri sangat bebahaya jika terhirup oleh pernafasan dan juga sangat berbahaya dan iritatif jika tertelan manusia. Untuk mata, seberapa encerpun formalin ini tetap iritatif. Jika tertelan maka seseorang tersebut harus segera diminumkan air banyak-banyak dan segera diminta untuk memuntahkan isi lambungnya. Dampak buruk bagi kesehatan pada seseorang yang terpapar dengan formalin dapat terjadi akibat paparan akut atau paparan yang langsung kronik (bertahun-tahun), antara lain sakit kepala, radang hidung kronis (rhinitis), mual-mual, gangguan pernafasan baik berupa batuk kronis atau sesak nafas kronis. Formalin juga dapat merusak persyarafan tubuh manusia dan dikenal dengansebagai zat yang bersifat beracun untuk persyarafan tubuh kita (neurotoksik). Gangguan pada persyarafan berupa susah tidur, sensitive, mudah lupa, sulit berkonsentrasi. Pada wanita akan menyebabkan ganguan menstruasi dan infertilas. Formalin juga dapat diserap oleh kulit dan seperti telah disebutkan diatas juga dapat terhirup oleh pernafasan kita. Oleh karena itu dengan kontak langsung dengan zat tersebut tanpa menelannya juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Penggunaan formalin jangka panjang pada manusia dapat menyebabkan kanker mulut dan tenggorokan. Bahkan pada penelitian binatang menyebabkan kanker kulit dan kanker paru. Bahaya terpaparnya formalin jangka pendek dan jangka panjang, adalah: 1. Bila terhirup Akut:

Iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk. Kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan seperti radang paru, pembengkaka paru. Tanda-tanda lainnya meliputi bersin, radang tekak, radang tenggorokan, sakit dada yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan muntah. Pada konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan kematian.

Kronik:

Menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitisasi pada paru. Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrsi dan daya ingat berkurang. Gangguan haid dan kemandulan pada perempuan. Kanker hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak.

2. Bila terkena kulit Akut:

Menimbulkan perubahan warna, yakni kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar.

Kronik:

Terasa panas, mati rasa, gatal dan memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan radang kulit yang menyebabkan gelembung.

3. Bila terkena mata Akut:

Menimulkan iritasi mata sehingga mata memerah, terasa sakit, gatal dan penglihatan kabur serta mengeluarkan air mata.

Kronik:

Radang selaput lendir.

4. Bila tertelan: Akut:

Mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi perdarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi, kejang dan koma. Kerusakan pada hati, jantung, otak, limpa, pankreas, SSP dan ginjal.

Kronik:

Iritasi pada saluran pencernaan, muntah-muntah dan kepala pusing, penurunan suhu tubuh dan rasa gatal di dada.

2.6 Cara menyikapi dan menanggulangi bahaya formalin Isu adanya formalin yang terdapat dalam bahan makanan dan alat makan sehari-hari ini memang harus diwaspadai. Tetapi sebaiknya tidak mensikapi secara berlebihan. Bukan berarti kita harus sama

sekali tidak makan tahu, bakso, mi basah atau ikan asin. Atau kita tidak harus menghindari bahan plastik atau melamin untuk alat makan kita. Karena tidak semua bahan makanan atau alat makan tersebut mengandung formalin. Yang penting konsumen harus jeli dengan memperhatikan kualitas makanan dan alat makan yang dibeli atau dipakai. Pencegahan paparan langsung terhadap formalin harus dilakukan, khususnya bagi pekerja industri yang memakai bahan formalin. Agar tidak terhirup gunakan alat pelindung pernafasan, seperti masker, kain dan alat lainnya yang dapat mencegah kemungkinan masuknya formalin kedalam hidung atau mulut. Lengkapi sistem ventilasi dengan penghisap udara (exhaust fan) yang tahan ledakan. Gunakan pelindung mata atau kacamata pengamanyang tahan terhadap percikan. Sediakan kran air untuk mencuci mata ditempat kerja yang berguna apabila terjadi kecelakaan darurat. Pencegahan paparan pada kulit sebaiknya menggunakan sarung tangan dan pakaian pelindung bahan kimia yang tahan terhadap bahan kimia. Hindari makan, minum dan merokok selama bekerja atau cuci tangan sebelum makan. Meskipun dampaknya sangat berbahaya jika terakumulasi didalam tubuh, sangat tidak bijaksana jika melarang penggunaan formalin. Banyak industri memerlukan formalin sehingga harus bijaksana dalam menggunakannya. 2.7 Cara menolong korban keracunan formalin Bila terhirup

Jika tidak aman memasuki daerah paparan,pindahkan penderita ketempat yang aman bila perlu gunakan masker berkatup atau peralatan sejenis unuk melakukan pernafasan buatan Segera hubungi Dokter.

Bila terkena mata

Bilas mata dengan air mengalir yang cukup banyak sambil mata dikedip-kedipkan pastikan tidak ada lagi sisa formalin di mata Aliri mata dengan larutan dengan larutan garam dapur 0,9 persen ( seujung sendok the garam dapur dilarutkan dalam segelas air ) secara terus menerus sampai penderita siap dibawa ke Rumah Sakit Segera bawa ke Dokter.

Bila terkena kulit

Lepaskan pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkena Formalin,Cuci kulit selama 15- 20 menit dengan sabun atau deterjen lunak dan cair yang banyak dan dipastikan dan dipastikat sudah tidak ada lagi bahan yang tersisa dikulit ,pada bagian yang terbakar ,lindungi luka dengan pakian yang kering ,steril dan longgar,bila perlu segera hubungi dokter.

Bila tertelan

Bila diperlukan segera hubungi dokter atau dibawa ke rumah sakit.

2.8 Cara menyimpan formalin


Jangan di simpan di lingkungan bertemperatur di bawah150C Tempat penyimpanan harus terbuat dari baja tahan karat,alumunium murni,polietilen atau polyester yang dilapisi fiberglass

Tempat penyimpanan tidak boleh terbuat dari baja besi,tembaga,nikel atau campuran seng dengan permukaan yang tidak dilindungi/dilapisi. Jangan menggunakan bahan alumunium bila temperatur lingkungan berada di atas 60 derajat celcius

BAHAYA BORAKS DAN FORMALIN PADA MAKANAN di 00.58 Boraks merupakan garam natrium yang banyak digunakan di berbagai industri nonpangan, khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Boraks biasa berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, mudah larut dalam air, tetapi borakstidak dapat larut dalam alkohol. Boraks biasa digunakan sebagai pengawet dan antiseptic kayu. Daya pengawet yang kuat dari boraks berasal dari kandungan asam borat didalamnya. Asam borat sering digunakan dalam dunia pengobatan dan kosmetika. Misalnya, larutan asam borat dalam air digunakan sebagai obat cuci mata dan dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung, dan salep luka kecil. Namun, bahan ini tidak boleh diminum atau digunakan pada luka luas, karena beracun ketika terserap masuk dalam tubuh. Berikut beberapa pengaruh boraks pada kesehatan. a. Tanda dan gejala akut : Muntah-muntah, diare, konvulsi dan depresi SSP(Susunan Syaraf Pusat) b. Tanda dan gejala kronis - Nafsu makan menurun - Gangguan pencernaan - Gangguan SSP : bingung dan bodoh - Anemia, rambut rontok dan kanker. Sedangkan formalin merupakan cairan tidak berwarna yang digunakan sebagai desinfektan, pembasmi serangga, dan pengawet yang digunakan dalam industri tekstil dan kayu. Formalin memiliki bau yang sangat menyengat, dan mudah larut dalam air maupun alkohol. Beberapa pengaruh formalin terhadap kesehatan adalah sebagai berikut. a. Jika terhirup akan menyebabkan rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan , sukar bernafas , nafas pendek, sakit kepala, dan dapat menyebabkan kanker paru-paru. b. Jika terkena kulit akan menyebabkan kemerahan pada kulit, gatal, dan kulit terbakar c. Jika terkena mata akan menyebabkan mata memerah, gatal, berair, kerusakan mata, pandangan kabur, bahkan kebutaan d. Jika tertelan akan menyebabkan mual, muntah-muntah, perut terasa perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit membiru, hilangnya pandangan, kejang, bahkan koma dan kematian. Boraks dan formalin akan berguna dengan positif bila memang digunakan sesuai dengan

seharusnya, tetapi kedua bahan itu tidak boleh dijadikan sebagai pengawet makanan karena bahanbahan tersebut sangat berbahaya, seperti telah diuraikan diatas pengaruhnya terhadap kesehatan. Walaupun begitu, karena ingin mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, banyak produsen makanan yang tetap menggunakan kedua bahan ini dan tidak memperhitungkan bahayanya.. Beberapa contoh makanan yang dalam pembuatannya sering menggunakan boraks dan formalin adalah bakso, ikan, tahu,dan mie,.Formalin dan boraks merupakan bahan tambahan yang sangat berbahaya bagi manusia karena merupakan racun. Bila terkonsumsi dalam konsentrasi tinggi racunnya akan mempengaruhi kerja syaraf. Secara awam kita tidak dapat mengetahui seberapa besar kadar konsentrat formalin dan boraks yang digunakan dalam suatu makanan. lebih baik hindari makanan yang mengandung formalin.

"PAKAI formalin nggak, Mang, tahunya?" tanya seorang ibu. "Kalau mau tahu yang bebas formalin gampang kok, Bu, pilih saja yang dilaletin," sahut ibu yang satu lagi. Seperti biasa, celoteh sejumlah ibu saat merubungi tukang sayur keliling selalu menghiasi suasana pagi di suatu kompleks perumahan. Namun, sejak Tabloid GHS memberitakan tentang pengawet mayat (formalin), boraks (antiseptik), juga pewarna tekstil (Rhodamin B) yang dipakai untuk mengawetkan makanan, dan kemudian dilanjutkan oleh berbagai media massa, banyak orang menjadi lebih berhati-hati. Selain lebih cerewet tanya ini-itu kepada penjualnya, tiap orang juga mencari kiat mudah untuk mencirikan makanan yang aman. Seperti ibu tadi. Menurutnya, makanan berformalin akan dijauhi lalat. Lalu, makanan seperti bakso yang mengandung boraks, tak bakal disentuh kucing. "Binatang saja ndak doyan, masa iya manusia mesti memakannya," ujarnya. Sampel dan pengujian laboratorium Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) akan adanya pengawet berbahaya itu awal Desember lalu memang hanya mencakup wilayah Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Mataram, dan Makassar. Namun, ada baiknya seluruh rakyat Indonesia saat ini mewaspadai kenyataan itu. Sebetulnya penggunaan pengawet yang dapat memicu penyakit itu telah digunakan sejak belasan tahun lalu. Mungkin saja bahan makanan lain yang tidak masuk pengujian BPOM juga telah terkontaminasi zat-zat kimia itu. Produk makanan atau sampel yang diuji meliputi tahu, mi basah, dan ikan yang secara keseluruhan berjumlah 761 sampel. Formalin Merusak Saraf Pusat Formalin adalah bahan kimia yang kegunaannya untuk urusan luar tubuh. Contohnya untuk

pembunuh hama, pengawet mayat, bahan disinfektan dalam industri plastik, busa, dan resin untuk kertas. Di dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen sebagai pengawet. Akibat masuknya formalin pada tubuh bisa akut maupun kronis. Kondisi akut tampak dengan gejala alergi, mata berair, mual, muntah, seperti iritasi, kemerahan, rasa terbakar, sakit perut, dan pusing. Kondisi kronis tampak setelah dalam jangka lama dan berulang bahan ini masuk ke dalam tubuh. Gejalanya iritasi parah, mata berair, juga gangguan pencernaan, hati, ginjal, pankreas, sistem saraf pusat, menstruasi, dan memicu kanker. Pertolongan pertama pada keracunan akut Tergantung konsentrasi cairan dan gejala yang dialami korban. * Sebelum ke rumah sakit: Gunakan arang aktif (norit). Jangan memberi rangsang agar muntah karena menimbulkan risiko trauma korosif pada saluran cerna atas. * Di rumah sakit: Dilakukan bilas lambung (gastric lavage), pemberian arang aktif (meski pemberian ini akan mengganggu penglihatan bila dilakukan teropong usus untuk mendiagnosis trauma esofagus dan saluran cerna). Hemodialisis (cuci darah) untuk mengeliminasi habis formalin dari tubuh. Tindakan ini dilakukan bila terjadi keadaan asidosis metabolik (keracunan berat yang mengganggu metabolisme). Ciri makanan berformalin Mi basah: - Bau sedikit menyengat. - Awet, tahan dua hari dalam suhu kamar (25 Celsius). Pada suhu 10C atau dalam lemari es bisa tahan lebih 15 hari. - Mi tampak mengkilat (seperti berminyak), liat (tidak mudah putus), dan tidak lengket. Tahu: - Bentuknya sangat bagus. - Kenyal. - Tidak mudah hancur dan awet (sampai tiga hari pada suhu kamar (25C). Pada suhu lemari es (10C) tahan lebih dari 15 hari. - Bau agak menyengat. - Aroma kedelai sudah tak nyata lagi. Bakso: - Kenyal. - Awet, setidaknya pada suhu kamar bisa tahan sampai lima hari. Ikan: - Warna putih bersih. - Kenyal. - Insangnya berwarna merah tua dan bukan merah segar. - Awet (pada suhu kamar) sampai beberapa hari dan tidak mudah busuk. - Tidak terasa bau amis ikan, melainkan ada bau menyengat Ikan asin: - Ikan berwarna bersih cerah. - Tidak berbau khas ikan.

- Awet sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar (25C). - Liat (tidak mudah hancur). Ayam potong: - Berwarna putih bersih. - Tidak mudah busuk atau awet dalam beberapa hari. Boraks Bisa Mematikan Menurut Dra. Euis Megawati, Apt., boraks adalah bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptik kayu, dan pengontrol kecoak. Sinonimnya natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat. Sifatnya berwarna putih dan sedikit larut dalam air. Sering mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, bahkan kematian. Ciri makanan berboraks Sama seperti formalin, cukup sulit menentukan apakah suatu makanan mengandung boraks. Hanya lewat uji laboratorium, semua bisa jelas. Namun, penampakan luar tetap memang bisa dicermati karena ada perbedaan yang bisa dijadikan pegangan untuk menentukan suatu makanan aman dari boraks atau tidak. Bakso - Lebih kenyal dibanding bakso tanpa boraks. - Bila digigit akan kembali ke bentuk semula. - Tahan lama atau awet beberapa hari. - Warnanya tampak lebih putih. Bakso yang aman berwarna abu-abu segar merata di semua bagian, baik di pinggir maupun tengah. - Bau terasa tidak alami. Ada bau lain yang muncul. - Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola bekel. Gula Merah - Sangat keras dan susah dibelah. - Terlihat butiran-butiran mengkilap di bagian dalam. Pewarna Kain di Jajanan Anak Selain formalin dan boraks, beberapa jenis bahan makanan yang diuji BPOM juga mengandung bahan berbahaya seperti pewarna tekstil, kertas, dan cat (Rhodamin B), methanil yellow, amaranth. Pemakaian ini sangat berbahaya karena bisa memicu kanker serta merusak ginjal dan hati. Payahnya lagi, bahan-bahan ini ditambahkan pada jajanan untuk anak-anak seperti es sirop atau cendol, minuman ringan seperti limun, kue, gorengan, kerupuk, dan saus sambal. Ciri makanan yang mengandung Rhodamin B: - Warna kelihatan cerah (berwarna-warni), sehingga tampak menarik. - Ada sedikit rasa pahit (terutama pada sirop atau limun).

- Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya. - Baunya tidak alami sesuai makanannya.

Bahan tambahan makanan (food additives) adalah senyawa atau campuran senyawa kimia yang sengaja ditambahkan ke dalam makanan (non bahan tambahan makanan) namun oleh masyarakat dijadikan bahan tambahan makanan. Dan ini merupakan salah satu masalah mental masyarakat. Formalin Formalin adalah nama dagang formaldehida yang dilarutkan dalam air dengan kadar 36 40 %. Formalin biasa juga mengandung alkohol 10 15 % yang berfungsi sebagai stabilator supaya formaldehidnya tidak mengalami polimerisasi. Formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, dengan gejala : sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, depresi susunan syaraf dan gangguan peredaran darah. Injeksi formalin (suntikan) dengan dosis 100 gram dapat menyebabkan kematian dalam waktu 3 jam. Tahu merupakan produk pangan yang sering direndam formalin. Tahu yang tidak direndam formalin hanya bertahan 1 2 hari saja kemudian berlendir. Sedangkan yang direndam formalin akan bertahan 4 5 hari bahkan bisa sampai 1 bulan dalam kadar tertentu. Boraks Boraks berasal dari bahasa Arab yaitu Bouraq. Merupakan kristal lunak lunak yang mengandung unsur boron, berwarna dan mudah larut dalam air. Boraks merupakan garam Natrium Na2 B4O7 10H2O yang banyak digunakan dalam berbagai industri non pangan khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Gelas pyrex yang terkenal dibuat dengan campuran boraks. Boraks sejak lama telah digunakan masyarakat untuk pembuatan gendar nasi, kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang secara tradisional di Jawa disebut Karak atau Lempeng. Disamping itu boraks digunakan untuk industri makanan seperti dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan kecap. Mengkonsumsi boraks dalam makanan tidak secara langsung berakibat buruk, namun sifatnya terakumulasi (tertimbun) sedikit-demi sedikit dalam organ hati, otak dan testis. Boraks tidak hanya diserap melalui pencernaan namun juga dapat diserap melalui kulit. Boraks yang terserap dalam tubuh dalam jumlah kecil akan dikelurkan melalui air kemih dan tinja, serta sangat sedikit melalui keringat. Boraks bukan hanya menganggu enzim-enzim metabolisme tetapi juga menganggu alat reproduksi pria.

Boraks yang dikonsumsi cukup tinggi dapat menyebabkan gejala pusing, muntah, mencret, kejang perut, kerusakan ginjal, hilang nafsu makan. Boraks dalam bakso Pemakaian boraks untuk memperbaiki mutu bakso sebagai pengawet telah diteliti pada tahun 1993. Di DKI Jakarta ditemukan 26% bakso mengandung boraks baik di swalayan, pasar tradisional dan pedagang makanan jajanan. Pada pedagang bakso dorongan ditemukan 7 dari 13 pedagang menggunakan boraks dengan kandungan boraks antara 0,01 0,6 % Selain itu digunakan tawas yang dilarutkan dalam 2 gram/liter air tersebut digunakan untuk merebus bakso untuk mengeringkan dan mengeraskan permukaan bakso. Beberapa pengolah bakso menggunakan TiO2 yaitu zat kimia yang disebut Titanium dioksida untuk menghindari warna bakso yang gelap.

Zat-zat berbahaya yang bisa menyebabkan penyakit mematikan seperti kanker bisa saja terdapat pada jajanan pasar atau jajanan anak-anak di sekolah. Apa saja zat-zat berbahaya itu, ciri-cirinya jika terkandung dalam makanan dan apa efeknya jika tubuh mengonsumsinya? Formalin Formalin adalah larutan yang tidak berwana dan baunya sangat menusuk. Di dalam Formalin terkandung sekitar 37 % formaldehid dalam air. Biasanya ditambah metanol hingga 15 % sebagai pengawet. Barang ini biasa digunakan sebagai bahan perekat untuk kayu lapis dan disinfektan untuk peralatan rumahsakit serta untuk pengawet mayat. Formalin juga dilerang keras digunakan untuk pengawet makanan. Bahaya formalin jika terhirup, mengani kulit dan tertelan, bisa menyebabkan luka bakar, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi, dan bahaya kanker pada manusia. Bila tertelan sebanyak 2 sendok makan saja atau 30 mL formalin bisa menyebabkan kematian. Gejala yang ditimbulkan jika formalin tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah, diare, kemungkinan terjadi perdarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi, kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu, juga bisa menyebabkan kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal. Beberapa makanan yang ditemukan mengandung formalin sebagai pengawet di anataranya mie basah, tahu, baso, ayam dan ikan serta beberapa hasil laut lainnya.

Untuk mengetahui apakah beberapa makanan seperti mie, tahu dan baso berformalin, berikut ciricirinya. Ciri-ciri mie basah berformalin: tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar (25 derajat celcius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat celsius). Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal. Bau agak menyengat seperti bau formalin. Ciri-ciri tahu berformalin: Tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar 25 derajat Celsius dan bisa tahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat celsius). Tahu terlampau keras, kenyal namun tidak padat. Bau agak menyengat. Ciri-ciri ikan segar atau hasil laut berformalin: tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar (25 derajat C). Warna insang merah tua tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging ikan putih bersih. Bau formalin atau agak menyengat. Ciri-ciri ikan asin berformalin: tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu 25 derajat celsius. Bersih cerah dan tidak berbau khas ikan asin. Tidak dihinggapi lalat di area berlalat. Ciri-ciri baso berformalin: Tidak rusak sampai 2 hari pada suhu kamar 25 derajat celsius, teksturnya sangat kenyal dan bau formalin agak menyengat. Ciri-ciri ayam berformalin: Tidak rusak sampai 2 hari pada suhu kamar 25 derajat Celsius, teksturnya kencang dan bau formalin tercium. Boraks Boraks adalah senyawa berbentuk kristal, warna putih, tidak berbau dan stabil pada suhu tekanan normal. Boraks merupakan senyawa kimia berbahaya untuk pangan dengan nama kimia natrium tetrabonat (NaB4O7 10H2O). Dapat dijumpai dalam bentk padat dan jika larut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Boraks atau asam borat biasa digunakan sebagai bahan pembuat deterjen, bersifat antiseptik dan mengurangi kesadahan air. Bahan berbahaya ini Haram digunakan untuk makanan. Bahaya boraks jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan bisa menyebabkan iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit, iritasi mata dan kerusakan ginjal. Jika boraks 5-10 gram tertelan oleh anakanak bisa menyebabkan shock dan kematian. Efek Akut dari boraks bisa menyebabkan badan berasa tidak enak, mual, nyeri hebat pada perut bagian atas, perdarahan gastro-enteritis disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam dan sakit kepala. Penyelahgunaan boraks untuk makanan telah ditemukan pada mie basah, baso, kerupuk dan jajanan lainnya.

Untuk mengetahui makanan mengandung boraks ciri-cirinya sebagai berikut: - Ciri-ciri mie basah mengandung boraks: Teksturnya kenal, lebih mengkilat, tidak lengket, dan tidak cepat putus. - Ciri baso mengandung boraks: teksturnya sangat kenal, warna tidak kecokelatan seperti penggunaan daging namun lebih cenderung keputihan. -Ciri-ciri jajanan (seperti lontong) mengandung boraks: teksturnya sangat kenyal, berasa tajam, seprti sangat gurih dan membuat lidah bergetar dan meberikan rasa getir. - Ciri-ciri kerupuk mengandung boraks: teksturnya renyah dan bisa menimbulkan rasa getir.

BAHAYA FORMALIN UNTUK KESEHATAN Senin, 11 April 2011 15:46 Penilaian Pengunjung: Kurang / 11 Terbaik
Nilai

SK Menkes RI No. 722 tahun 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan, yang dimaksud pengawet adalah bahan tambaha makanan yang mencegah atau menghambat pengasaman atau peruraian lain terhadap makanan yang disebabkan oleh mikroorganisma. Pada saat ini masih banyak ditemukan penggunaan bahan tambahan makanan (BTM) yang dilarang untuk digunakan dalam makanan dan berbahaya bagi kesehatan misalnya : formalin, boraks dll. 9 bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan (Asam borak, asam salisilat, dietilpirokarbonat, dulsin,kalium klorat kloramfenikolminyak nabati yang dubrominasi dan formalin). Formalin banyak disalahgunakan untuk mengawetkan makanan seperti tahu, mie basah, ikan dan lain-lain Penyalahgunaan formalin dalam beberapa jenis makanan bukan suatu hal yang baru. Sulitnya membedakan produk makanan yang mengandung formalin. Ketidaktahuan bahaya yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi makanan mengandung formalin Sikap masyarakat yang kurang peduli terhadap bahan berbahaya ini. Kurang sosialisasi kepada masyarakat Kurangnya pengawasan yang intensif oleh instansi terkait. Formalin adalah nama dagang dari formaldehida

( HCHO ) Dipasarkan dalam bentuk cair dan tablet. Biasanya formalin mengandung 30 - 40 % formaldehid dalam pelarut air dan mengandung 10 % metanol. Sehari-hari formalin digunakan untuk mengawetkan serangga, hewan kecil, organ manusia (hasil biopsi) bahkan untuk pengawet mayat. Pada kosmetika bisa digunakan sebagai deodoran dan anti hidrolitik (menghambat keringat) Digunakan dalam industri plastik, anti busa, bahan konstruksi, kertas, karpet, tekstil, cat dan mebel. Secara efektif digunakan untuk membunuh berbagai macam parasit dan bakteri yang menempel pada ikan hias. Pada peternakan kadang-kadang formalin yang diencerkan digunakan sebagai desinfektan. Larutan formalin dengan pengenceran konsentrasi 1/100 sampai 1/10000 BAHAYA FORMALIN BAGI KESEHATAN Formalin di udara berbau tajam menyesakkan, merangsang hidung, tenggorokan dan mata Dampak buruk bagi kesehatan pada seseorang yang terpapar dengan formalin dapat terjadi akibat paparan akut atau paparan yang berlangsung kronik Formalin sangat berbahaya bagi kesehatan, bagi tubuh manusia diketahui sebagai zat beracun, karsinogen ( menyebabkan kanker ), mutagen yang menyebabkan perubahan sel dan jaringan tubuh, korosif dan iritatif Orang yang mengonsumsinya (akut) akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, dan kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran darah. Uap dari formalin sendiri sangat berbahaya jika terhirup oleh saluran pernapasan dan juga sangat berbahaya dan iritatif jika tertelan oleh manusia. Jika sampai tertelan, orang tersebut harus segera diminumkan air banyak-banyak dan diminta memuntahkan isi lambung. Gangguan pada persarafan berupa susah tidur, sensitif, mudah lupa, sulit berkonsentrasi. Pada wanita akan menyebabkan gangguan menstruasi dan infertilitas. Penggunaan formalin jangka panjang dapat menyebabkan kanker mulut dan tenggorokan.Pada penelitian binatang menyebabkan kanker kulit dan kanker paru. Formalin disamping masuk melalui alat pencernaan dan pernafasan, juga dapat diserap oleh kulit. Formalin juga termasuk zat neurotoksik, karena bersifat racun dan dapat merusak syaraf tubuh manusia dalam dosis tertentu.

informasi menurut sistem keamanan pangan terpadu menyebutkan bahwa jika formalin terminum minimal 30 ml (sekitar 2 sendok makan) dapat menyebabkan kematian.

BAHAN PENGAWET YANG AMAN Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 1. Benzoat, (dalam bentuk asam, garam kalium, garam natrium) . 2. Propionat (dalam bentuk asam, garam kalium, garam natrium). 3. Nitrit (dalam bentuk garam kalium/natrium) dan nitrat ( dalam bentuk garam kalium/natrium). 4. Sorbat, (dalam bentuk garam kalium dan kalsium). 5. Sulfit (dalam bentuk garam kalium dan natrium bisulfit atau metabisulfit). SIMPULAN DAN SARAN 1. Penggunaan formalin sebagai pengawet pada makanan masih banyak ditemukan di pasaran walaupun bahan tersebut dilarang sebagai bahan tambahan pangan. 2. Penggunaan formalin dalam makanan menimbulkan efek yang berbahaya bagi kesehatan baik dalam jangka pendek (akut) maupun pada penggunaan jangka panjang (kronis) serta pada batas ambang aman. 3. Perlu sosialisasi penggunaan pengawet makanan yang aman secara terus menerus dan perlu pengawasan beredarnya makanan mengandung formalin oleh instansi terkait secara berkelanjutan 4. Perlu pengaturan hukum yang tegas untuk mengurangi beredarnya makanan yang mengandung bahan berbahaya di pasaran