Anda di halaman 1dari 5

UJIAN AKHIR SEMESTER II PROGRAM MASGISTER KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA MATA KULIAH SURVEILENCE K-3 KAMIS, 27 JUNI

2013 Dosen : Prof. Dr. Tri Martiana, dr.,MS : Muhammad Syafii :

Nama NIM

1. Melakukan identifikasi bahaya yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan dan gangguan kecelakaan Di Indonesia, industri tekstil masih merupakan andalan industri nasional dalam menghasilkan pendapatan devisa negara. Para pekerja industri tekstil mendapat paparan potensi bahaya yang dapat mengganggu kesehatannya. Oleh karena itu diperlukan suatu manajemen identifikasi bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan ataupum kecelakaan kerja Industri tekstil dimulai dari indust

Secara umum alur produksi tekstil dapat di jelaskan sebagai berikut :

2. Menyusun rencana kegiatan surveilence Penyakit Paru Akibat Kerja yang berkaitan dengan permasalahan di industry terlampir 3. Dalam proses produksi di industry terlampir, banyak pajanan bahan kimia. Buatlah identifkasi permasalahan kesehatan yang mungkin timbul akibat paparan bahan kimia tersebut.

Banyak macam zat kimia yang digunakan dalam industri tekstil, zat kimia tersebut sangat berperan penting dalam proses penyempurnaan. Berikut adalah beberapa paparan zat kimia yang sering digunakan dalam industri tekstil yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan : a. Deterjen Deterjen ada yang bersifat kationik, anionik, maupun nonionik. Kesemuanya membuat zat yang lipofilik mudah terlarut dan menyebar di perairan. Selain itu, ukuran zat lipofilik menjadi lebih halus, sehingga mempertinggi toxisitas racun. absorbsi racun. Deterjen ada pula yang Deterjen juga mempermudah

persisten, sehingga terjadi akumulasi. Dua bahan

terpenting dari pembentuk deterjen yakni surfaktan dan builders, diidentifikasi mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap manusia dan lingkungannya. Surfaktan dapat menyebabkan permukaan kulit kasar, hilangnya kelembaban alami yamg ada pada permukan kulit dan meningkatkan permeabilitas permukaan luar

b. Soda Api (NaOH) Sodium hidroksida tersedia dalam bentuk serpihan-serpihan (konsentrat 100%) atau dalam bentuk cair dengan konsentrasi yang bermacam-macam. Penggunaan dalam industri tekstil: a) Untuk mengontrol nilai pH; b) Fiksasi pewarna-pewarna reaktif; c) Pewarnaan dengan Indigo dan Naftol; d) Proses pengelantangan dengan hidrogen peroksida; e) Sebagai zat penghilang kanji; f) Digunakan untuk proses pemasakan kain kapas, rayon dan poliester; g) Proses merserisasi pada kain kapas; h) Proses pengurangan berat pada kain poliester; i) Penyempurnaan krep pada kain kapas, dll.

NaOH ini sangat korosif terhadap tubuh para pekerja

c. Asam Klorida (HCl) HCl adalah cairan kekuning-kuningan dengan aroma kuat yang menusuk, bersifat sangat korosif.

Penggunaan dalam industri tekstil a) Sebagai unsur saponifikasi bagi zat warna Indigosol; b) Sebagai zat penghilang kanji pada jenis kanji alam, dll. d. Hidrogen Peroksida (HO) Hidrogen peroksida memiliki sifat oksidasi yang kuat dan merupakan agen pengelantangan yang hebat. Hidrogen peroksida juga mudah terbakar. Penggunaan dalam industri tekstil: a) Untuk pengelantangan oksidatif pada katun; b) Oksidasi pewarnaan dengan Indigo dan pewarna tangki (vat dyes), dll.

e. Zat warna Naftol dan zat warna reaktif Zat warna Naftol dan zat warna reaktif termasuk dalam golongan senyawa Azo. Senyawa azo merupakan bahan kimia yang berbahaya apabila masuk ke dalam tubuh dan terakumulasi. Senyawa Azo mampu mereduksi amina aromatik yang menghasilkan arylamines yang dapat menimbulkan alergi pada kulit. Selain itu, bahan penyempurna pewarnaan yang digunakan untuk kedua zat warna tersebut adalah sama yaitu zat warna naftol memerlukan bahan berupa garam diazium dan natrium hidroksida sebagai pelekatan zat warna ke dalam kain, sedangkan zat warna reaktif memerlukan natrium hidroksida dan alkali untuk proses pelekatannya. Penggunaan dalam industri tekstil: a) Digunakan bersama garam diazonium untuk mewarnai katun yang digunakan untuk

batik dalam suhu ruang; b) Digunakan untuk mewarnai serat selulosa, dll.

a. Penyakit paru dan saluran pernafasan (broncopulmoner) yang disebabkan oleh debu kapas vlas, henep, dan sisal (bissinosis).

4. Sebutkan dokumen-dokumen pendukung yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan surveilence kecelakaan kerja