Anda di halaman 1dari 2

DASAR TEORI Sabun adalah bahan pembersih yang berbentuk cair maupun padat, bisa digunakan untuk mandi,

mencuci pakaian, atau membersihkan peralatan rumah tangga. Sabun merupakan garam alkali dari asam-asam lemak. Sabun yang ditemukan pertama kali oleh bangsa Arab pada abad ke-19, pada dasarnya merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari reaksi saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah ( misalnya NaOH ). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol. Selain C12 dan C18 sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat. Lemak minyak yang digunakan dapat berupa lemak hewani, minyak nabati, lilin ataupun minyak ikan laut. Semua lemak atau minyak pada dasarnya dapat digunakan untuk membuat sabun. Lemak dan minyak nabati merupakan dua tipe ester. Lemak merupakan campuran ester yang dibuat dari alkohol dan asam karboksilat seperti asam stearat, asam oleat dan asam palmitat. Lemak padat mengandung ester dari gliserol dan asam palmitat, sedangkan minyak, seperti minyak zaitun mengandung ester dari gliserol asam oleat. Pada dasarnya, pembuatan sabun dapat dilakukan dua pilihan metode, yakni : 1. Metode Batch 2. Metode kontinu Pada saat ini,telah digunakan proses saponifikasi trigliserida sistem kontinu sebagai ganti proses saponifikasi trigliserida sistem batch. Reaksi yang terjadi pada proses ini adalah :

Pada pembuatan sabun, menggunakan 2 bahan yaitu bahan baku dan bahan pendukung. Bahan baku utama pembuatan sabun adalah lemak atau minyak dan senyawa alkali. Lemak dan minyak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah trigliserida dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan diesterifikasi dengan gliserol. Masingmasing lemak mengandung sejumlah molekul asam lemak dengan rantai karbon panjang antara C12 pada lemak jenuh dan begitu juga pada lemak tak jenuh. Campuran trigliserida diolah menjadi sabun melalui proses saponifikasi dengan larutan NaOH membebaskan gliserol . Sifat sifat sabun yang dihasilkan ditentukan oleh jumlah dan komposisi dari komponen asam-asam lemak yang digunakan. Komposisi asam-asam lemak yang sesuai dalam pembuatan sabun dibatasi panjang rantai dan tingkat kejenuhan. Pada umumnya panjang rantai yang kurang dari 12 atom karbon dihindari penggunaanya karena dapat membuat iritasi pada kulit, sebaliknya panjang rantai yang lebih dari 18 atom karbon membentuk sabun yang sukar larut dan sulit menimbulkan busa. Terlalu besar bagian asam asam lemak tak jenuh menghasilkansabun yang mudah teroksidasi bila terkena udara. Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap sehingga titik lelehnya lebih rendah daripada asam lemak jenuh yang memiliki ikatan rangkap, sehingga sabun yang dihasilkan juga akan lembek dan mudah meleleh pada temperatur tinggi. Sedangkan bahan pendukung yang biasa digunakan dalam pembuatan sabun adalah untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil saponifikasi (pengendapan sabun dan pengambilan gliserin ) sampai sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, pewarna.

Sabun memiliki karakteristik yang khas, diantaranya : a) Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa. CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + OHb) Jika larutan sabun dalam air diaduk, maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garamgaram Mg atau Ca mengendap. CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2 c) Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun ( garam natrium dari asam lemak ) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hidrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik dan larut dalam zat organik, sedangkan COONa sebagai kepala yang bersifat hidrofilik dan larut dalam air.