Anda di halaman 1dari 4

Akuntansi Hibrida Masalah yang dituju oleh akuntansi daya beli konstan berbeda dengan yang dituju oleh

akuntansi kos sekarang. Akuntansi daya beli konstan berusaha untuk mengatasi masalah unit pengukur yang tidak stabil sedangkan akuntansi kos sekarang berusaha untuk mengatasi masalah penilaian. Perbedaan akuntansi daya beli konstan dan kos sekrang Akuntansi Daya Beli Konstan 1. Mengatasi masalah unit pengukur 2. Merevisi atau merevaluasi aset moneter pada akhir periode. 3. Menggunakan indeks harga umum karena sasarannya perubahan harga umum Akuntansi Kos Sekarang 1. Mengatasi masalah penilaian 2. Merevisi atau merevaluasi aset nonmoneter secara terus menerus. 3. Menggunakan indeks harga spesifik karena sasarannya perubahan harga spesifik rugi 4. Mengabaikan untung atau rugi daya beli

4. Mengabaikan untung atau penahannya pada saat revaluasi 5. Mengungkapkan untung atau rugi daya 5. Mengungkapkan untung atau rugi beli atas aset moneter neto penahannan atas aset nonmoneter neto 6. Untung atau rugi sebagai selisih lebih 6. Untung atau rugi sebagai selisih lebih bermakna sebagai penyesuai kapital bermakna sebagai komponen laba daripada komponen laba dalam rangka daripada penyesuaikapital dalam rangka pemertahanan kapital. permertahanan kapital. Dengan memperhatikan keunggulan dan kelemahan masing-maing akuntansi di atas, penggabungan kedua akuntansi di atas sebenarnya akan mengatasi kelemahan yang melekat pada masing-maisng pendekatan. Secara teoritis penggabungan kedua akuntansi tidak menimbulkan masalah karena prosedur dan teknik akuntansi keduanya tidak merupakan prosedur yang tumpang tindih (overlap). Bila kos sekarang menggunakan kos pengganti sebagai basis penilaian, hibrida ini disebut akuntansi kos sekarang/daya beli konstan. Untuk selanjutnya istilah kos sekarang diartikan secara sempit sebagai kos pengganti. Standar Akuntansi Perubahan Harga 1. SFAS No. 33 Semula, melalui SFAS No. 33, FASB mewajibkan informasi pelengkap atas pengaruh harga spesifik dalam laporan tahunan, informasi pelengkap tersebut disajikan secara terpisah. SFAS No. 33 tidak menuntut penyajian komprehensif statemen keuangan atas dasar kos sekarang atau daya beli konstan tetapi hanya mewajibkan pengungkapan sebagian informasi yang membantu pemakai untuk mengevaluasi pengaruh perubahan harga. Standar ini dipandang FASB sebagai suatu eksperimen yang akan dievaluasi kembali dalam lima tahun. Oleh karena itu, standar ini tidak diwajibkan untuk semua perusahaan tetapi diberlakukan hanya untuk perusahaan publik yang menyusun statemen utamanya dalam dolar Amerika dan sesuai dengan PABU-Amerika dan memnuhi kriteria (disebut applicable size tests) berikut:

1. memiliki/menguasai sediaan dan fasilitas fisis (sebelum dikurangi depresiasi, deplasi, dan amortisasi akumulasian) yang jumlah seluruhnya melebihi $125 milion (juta), atau 2. memiliki/menguasai aset neto total (setelah dikurangi depresiasi akumulasian) berjumlah lebih dari $1 bilion (miliar). Untuk akuntansi daya beli konstan, butir-butir minimum yang harus diungkapkan adalah: 1. informasi tentang laba dari operasi berlanjut untuk tahun berjalan atas dasar daya beli konstan. 2. untung atau rugi daya beli atas pos-pos moneter neto untuk tahun berjalan. Untung atau rugi daya beli ini tidak dimasukkan dalam laba dari operasi berlanjut (artinya tidak ditambahkan atau dikurangkan terhadap laba kos historis tetapi dilaporkan sebagai pos yang berdiri sendiri. Untuk akuntansi kos sekarang, kriteria perusahaan yang wajib mengungkapkan sama dengan kriteria untuk akuntansi daya beli konstan tetapi perusahaan mempunyai kelonggaran satu tahun untuk melaksanakannya. Sebagai informasi pelengkap, dalam SFAS No. 33, FASB menetapkan informasi minimal yang harus diungkapkan atas dasar kos sekarang sebagai berikut: 1. Informasi tentang laba dari operasi berlanjut untuk tahun berjalan atas dasar kos sekarang. 2. jumlah rupiah kos sekarang sediaan dan fasilitas fisis pada akhir tahun. 3. untung atau rugi penahanan selama tahun berjalan untuk sediaan dan fasilitas fisis. Untung atau rugi daya beli ini tidak dimasukkan dalam laba dari operasi berlanjut (artinya tidak ditambahkan atau dikurangkan terhadap laba kos historis tetapi dilaporkan sebagai pos yang terpisah). Bila hanyaa butir-butir minimum yang diungkapkan, informasi pelengkap atas dasar daya beli konstan dan kos sekarang dapat disajikan secara terpisah. Ini berarti pengaruh perubahan harga relatif tidak diperhitungkan, akan tetapi, apabila perusahaan ingin menyajikan pengungkapan kos sekarang secara komprehensif dengan menyusun kembali statemen keuangan atas dasar kos sekarang, pengaruh perubahan harga harus diperhitungkan juga. Jadi, pengungkapan secara komprehensif sebenarnya menggunakan akuntansi hibrida. SFAS No. 82 Setelah lima tahun sejak SFAS No. 33 diterbitkan sebagai aksperimen, sudah saatnya FASB meninjau standar tersebut. Setelah mengkaji ulang dan mempertimbangkan, ususlan dari berbagai pihak termasuk praktisi, FASB menerbitkan SAFS No. 82 yang isisnya meniadakan beberapa pengungkapan yang sebelumnya diatur dalam SAFS No.33. pada intinya, standar baru ini meniadakan atau membatalkan ketentuan untuk mengungkapkan informasi daya eli konstan. Alasan di balik standar ini adalah bahwa pemakai merancukan antara informasi daya beli kos sekarang yang telah memperhitungkan pengaru inflasi. Hal semacam itu dianggap sebagai

keberlebihan atau kebanyakan informasi. Dari segi kualitas informasi, kos penyediaan informasi daya beli tidak sepadan dengan manfaat informasi. Artinya, kriteria benefit kos tidak dipenuhi. Dengan standar ini, yang masih diwajibkan adalah akuntansi kos sekarang untuk pengungkapan minimum, akuntansi kos sekarang/daya beli konstan untuk pengungkapan komprehensif, dan ringkasan lima tahun. SFAS No. 89 SFAS No. 82 sebenarnya masih merupakan bagian dari eksperimen FASB terhadap pengaruh perubahan harga. Setelah bereksperimen dan mengkaji standar akuntansi perubahan harga selama dua tahun sejak diterbitkanyya SFAS No. 82, akhirnya FASB mengganti standar tersebut dan beberapa standar lain yang berkaitan menerbitkan SFAS No. 89. Pada intinya, SFAS No. 89 tidak lagi mewajibkan (to require) pengungkapan pengaruh perubahan harga sebagai informasi pelengkap tetapi sangat menganjurkan (to encourage) pengungkapan tersebut. Dalam mengkaji standar perubahan harga, FASB mempertimbangkan saran-saran dari berbagai sumber antara lain penelitian empiris, pengguna (institutional investment community, bankers, dan investor in general), masukan dari dengar pendapat publik (public hearing), dan permintaan komentar (Invitation to Comment). Argumen-argumen pendukung dan penolak akuntasi perubahan harga menjadi pertimbangan FASB dalam memutuskan. Atas berbagai saran-saran dari berbagai sumber di atas, FASB memberi bobot yang cukup tinggi pada argumen yang keberatan terhadap akuntansi perubahan harga sehingga menerbitkan SFAS No. 89 tersebut. Masukan dan saran dari pihak-pihak di atas yang dijadikan basis penyimpulan FASB antara lain adalah: a. informasi pelengkap dalam kenyataannya tidak dipakai secara luas, b. informasi daya beli membingungkan pemakai, c. masyarakat keungan tidak menggunakan informasi perubahan harga karena mempunyai informasi alternatif, d. pedoman dalam standar terlalu kompleks sehingga kos penyusunan tidak sepadan dengan manfaat, dan e. perubahan daya beli atau harga tidak cukup signifikan pada saat ini. Argumen pendukung dan penolak memang cukup imbang sehingga keputusan diambil dengan pemungutan suara empat banding tiga. Anggota yang meolak diberlakukanya SFAS No. 89 mengajukan argumen antara lain: a. laba kos historis menimbulkan ilusi karena menyembunyikan erosi kapital. b. pemberlakuan kembali standar ini pada saatnya nanti akan memakan upaya (kos) yang besar

c. standar ini hanya berlaku untuk perusahaan tertentu dan sudah banyak yang mengimplementasinya, d. dimasa datang perusahaan yang memenuhi makin banyak sehingga standar ini makin relevan.