Anda di halaman 1dari 25

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanah merupakan akumulasi tubuh alam bebas, yang menduduki sebagian besar
permukaan bumi yang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai
akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam
keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula.
Tanah merupakan faktor terpenting dalam tumbuhnya tanaman dalam suatu
sistem pertanaman, pertumbuhan suatu jenis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah
satunya ialah tersedianya unsur hara, baik unsur hara makro maupun unsur hara
mikro. Tanah sebagai medium pertumbuhan tanaman berfungsi pula sebagai pemasok
unsur hara, dan tanah secara alami memiliki tingkat ketahanan yang sangat beragam
sebagai medium tumbuh tanaman.
Tanaman memerlukan makanan yang sering disebut hara tanaman (plant
nutrient) untuk memenuhi siklus hudupnya. Apabila suatu tanaman kekurangan suatu
unsur hara, maka akan menampakkan gejala pada suatu organ tertentu yang spesifik
yang biasa disebut gejala kekahatan. Unsur hara yang diperlukan tanaman tidak
seluruhnya dapat dipenuhi dari dalam tanah. Oleh karena itu perlu penambahan dari
luar biasanya dalam bentuk pupuk. Pupuk adalah bahan yang diberikan kedalam
tanah atau tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman dan dapat
berfungsi untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah.
Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia dan biologi tanah.
Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif, tekstur, struktur, kelembaban dan
tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi reaksi tanah (pH tanah), KTK,
kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur hara, cadangan unsur hara dan
ketersediaan terhadappertumbuhan tanaman. Sedangkan biologi tanah antara lain
meliputi aktivitas mikrobia perombak bahan organik dalam proses humifikasi dan
pengikatan nitrogen udara. Evaluasi kesuburan tanah dapat dilakukan melalui
beberapa cara, yaitu melalui pengamatan gejala defisiensi pada tanaman secara
visual, analisa tanaman dan analisa tanah. Analisa tanaman meliputi analisa serapan
hara makro primer (N, P dan K) dan uji vegetatif tanaman dengan melihat
pertumbuhan tanaman. Sedangkan analisa tanah meliputi analisa ketersediaan hara
makro primer (N, P dan K) dalam tanah. Pembuatan makalah ini dimaksudkan untuk
membahas beberapa hal terkait dengan kesuburan tanah, sehingga pemakalah mampu
memahami dan menjelaskan dasar-dasar kesuburan tanah, indikator kesuburan tanah,
evaluasi kebutuhan pupuk dan perbaikan kesuburan tanah.

1.2 Tujuan
1.3 Hipotesis

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kesuburan Tanah
Kesuburan tanah adalah Suatu keadaan tanah dimana tata air, udara dan unsur
hara dalam keadaan cukup seimbang dan tersedia sesuai kebutuhan tanaman, baik
fisik, kimia dan biologi tanah (Syarif Effendi, 1995).
Kesuburan tanah adalah kondisi suatu tanah yg mampu menyediakan unsur hara
essensial untuk tanaman tanpa efek racun dari hara yang ada (Foth and Ellis ; 1997).
Menurut Brady, kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk menyediakan unsur
hara essensial dalam jumlah dan proporsi yang seimbang untuk pertumbuhan.
Tanah yang subur adalah tanah yang mempunyai profil yang dalam (kedalaman
yang sangat dalam) melebihi 150 cm, strukturnya gembur remah, pH 6-6,5,
mempunyai aktivitas jasad renik yang tinggi (maksimum). Kandungan unsur haranya
yang tersedia bagi tanaman adalah cukup dan tidak terdapat pembatas-pembatas tanah
untuk pertumbuhan tanaman (Sutejo.M.M, 2002)
Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung sejumlah faktor
pembentuk tanah yang merajai di lokasi tersebut, yaitu: bahan induk, iklim, relief,
organisme, atau waktu. Tanah merupakan fokus utama dalam pembahasan ilmu
kesuburan tanah, sedangkan kinerja tanaman merupakan indikator utama mutu
kesuburan tanah.
Kesuburan tanah merupakan mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan
oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi bagian tubuh tanah yang
menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Ada akar yang berfungsi menyerap air dan
larutan hara, dan ada yang berfungsi sebagai penjangkar tanaman. Kesuburan habitat
akar dapat bersifat hakiki dari bagian tubuh tanah yang bersangkutan, dan/atau
diimbas (induced) oleh keadaan bagian lain tubuh tanah dan/atau diciptakan oleh
pengaruh anasir lain dari lahan, yaitu bentuk muka lahan, iklim dan musim. Karena
bukan sifat melainkan mutu maka kesuburan tanah tidak dapat diukur atau diamati,
akan tetapi hanya dapat ditaksir (assessed).
Penaksirannya dapat didasarkan atas sifat-sifat dan kelakuan fisik, kimia dan
biologi tanah yang terukur, yang terkorlasikan dengan keragaan (performance)
tanaman menurut pengalaman atau hasil penelitian sebelumnya. Kesuburan tanah
dapat juga ditaksir secara langsung berdasarkan keadaan tanaman yang teramati
(bioessay). Hanya dengan cara penaksiran yang pertama dapat diketahui sebab-sebab
yang menentukan kesuburan tanah. Dengan cara penaksiran kedua hanya dapat
diungkapkan tanaggapan tanaman terhadap keadaan tanah yang dihadapinya.
Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menghasilkan bahan tanaman
yang dipanen. Maka disebut pula daya menghasilkan bahan panen atau produktivitas.
Ungkapan akhir kesuburan tanah ialah hasil panen, yang diukur dengan bobot bahan
kering yang dipungut per satuan luas (biasanya hektar) dan per satuan waktu. Dengan
menggunakan tahun sebagai satuan waktu untuk perhitungan hasilpanen, dapat
dicakup akibat variasi keadaan habitat akar tanaman karena musim (Schroeder,
1984).
Hasil panen besar dengan variasi musiman kecil menandakan kesuburan tanah
tinggi, karena ini berarti tanah dapat ditanami sepanjang tahun dan setiap kali
menghasilkan hasilpanen besar. Hasil panen besar tetapi hanya sekali setahun pada
musim baik, menandakan kesuburan tanah tidak tinggi, karena pada musim yang lain
tanah tidak dapat ditanami. Hal ini antara lain karena kekahatan (deficiency) lengas
tanah, atau sebaliknya karena mengalami tumpat air (waterlogged), kadar garam larut
air meningkat liwat batas, tanah menjadi sulit diolah untuk memperoleh struktur yang
baik (luar biasa liat atau keras sekali) dan sebagainya.
Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia dan biologi tanah
sebagai berikut:

1) Kesuburan Fisika
Sifat fisik tanah yang terpenting adalah solum, tekstur, struktur, kadar air tanah,
drainase dan porisitas tanah.
Pengaruh struktur dan tekstur tanah terhadap pertumbuhan tanaman terjadi secara
langsugung. Struktur tanah yang remah (ringan) pada umumnya menghasilkan laju
pertumbuhan tanaman pakan dan produksi persatuan waktu yang lebih tinggi
dibandingkan dengan struktur tanah yang padat.
Jumlah dan panjang akar pada tanaman makanan ternak yang tumbuh pada tanah
remah umumnya lebih banyak dibandingkan dengan akar tanaman makanan ternak
yang tumbuh pada tanah berstruktur berat. Hal ini disebabkan perkembangan akar
pada tanah berstruktur ringan/remah lebih cepat per satuan waktu dibandingkan akar
tanaman pada tanah kompak, sebagai akibat mudahnya intersepsi akar pada setiap
pori-pori tanah yang memang tersedia banyak pada tanah remah.
Selain itu akar memiliki kesempatan untuk bernafas secara maksimal pada tanah
yang berpori, dibandiangkan pada tanah yang padat. Sebaliknya bagi tanaman
makanan ternak yang tumbuh pada tanah yang bertekstur halus seperti tanah
berlempung tinggi, sulit mengembangkan akarnya karena sulit bagi akar untuk
menyebar akibat rendahnya pori-pori tanah. Akar tanaman akan mengalami kesulitan
untuk menembus struktur tanah yang padat, sehingga perakaran tidak berkembang
dengan baik. Aktifitas akar tanaman dan organisme tanah merupakan salah satu
faktor utama pembentuk agregat tanah (Anonim, 2010)
Tekstur tanah ditentukan di lapangan dengan cara melihat gejala konsistensi dan
rasa perabaan menurut bagan alir dan di laboratorium dengan menguunakan metode-
metode. Metode tersebut adalah metode pipet atau metode hidrometer (Elisa, 2002).
Warna adalah petunjuk untuk beberapa sifat tanah. Biasanya perbedaan warna
permukaan tanah disebabkan oleh perbedaan kandungan bahan organik. Semakin
gelap warna tanah semakin tinggi kandungan bahan organiknya. Warna tanah
dilapisan bawah yang kandungan bahan organiknya rendah lebih banyak dipengaruhi
oleh jumlah kandungan dan bentuk senyawa besi (Fe). Di daerah yang mempunyai
sistem drainase (serapan air) buruk, warnah tanahnya abu-abu karena ion besi yang
terdapat di dalam tanah berbentuk Fe
2+
.
Komponen mineral dalam tanah terdiri dari campuran partikel-partikel yang
secara individu berbeda ukurannya. Menurut ukuran partikelnya, komponen mineral
dalam tanah dapat dibedakan menjadi tiga yaitu; Pasir, berukuran 50 mikron 2 mm;
Debu, berukuran 2 50 mikron dan Liat, berukuran dibawah 2 mikron. Tanah
bertekstur pasir sangat mudah diolah, tanah jenis ini memiliki aerasi (ketersediaan
rongga udara) dan drainase yang baik, namun memiliki luas permukaan kumulatif
yang relatif kecil, sehingga kemampuan menyimpan airnya sangat rendah atau
tanahnya lebih cepat kering.
Tekstur tanah sangat berpengaruh pada proses pemupukan, terutama jika pupuk
diberikan lewat tanah. Pemupukan pada tanah bertekstur pasir tentunya berbeda
dengan tanah bertekstur lempung atau liat. Tanah bertekstur pasir memerlukan pupuk
lebih besar karena unsur hara yang tersedia pada tanah berpasir lebih rendah.
Disamping itu aplikasi pemupukannya juga berbeda karena pada tanah berpasir
pupuk tidak bisa diberikan sekaligus karena akan segera hilang terbawa air atau
menguap.

2) Kesuburan Kimia
Sifat kimia tanah berhubungan erat dengan kegiatan pemupukan. Dengan
mengetahui sifat kimia tanah akan didapat gambaran jenis dan jumlah pupuk yang
dibutuhkan. Pengetahuan tentang sifat kimia tanah juga dapat membantu memberikan
gambaran reaksi pupuk setelah ditebarkan ke tanah.
Sifat kimia tanah meliputi kadar unsur hara tanah, reaksi tanah (pH), kapasitas
tukar kation tanah (KTK), kejenuhan basa (KB), dan kemasaman.
Salah satu sifat kimia tanah adalah keasaman atau pH (potensial of hidrogen), pH
adalah nilai pada skala 0-14, yang menggambarkan jumlah relatif ion H+ terhadap
ion OH- didalam larutan tanah. Larutan tanah disebut bereaksi asam jika nilai pH
berada pada kisaran 0-6, artinya larutan tanah mengandung ion H+ lebih besar
daripada ion OH-, sebaliknya jika jumlah ion H+ dalam larutan tanah lebih kecil dari
pada ion OH- larutan tanah disebut bereaksi basa (alkali) atau miliki pH 8-14. Tanah
bersifat asam karena berkurangnya kation Kalsium, Magnesium, Kalium dan
Natrium. Unsur-unsur tersebut terbawa oleh aliran air kelapisan tanah yang lebih
bawah atau hilang diserap oleh tanaman.
Kemasaman tanah merupakan hal yang biasa terjadi di wilayah-wilayah bercurah
hujan tinggi yang menyebabkan tercucinya basa-basa dari kompleks jerapan dan
hilang melalui air drainase. Pada keadaan basa-basa habis tercuci, tinggallah kation
Al dan H sebagai kation dominant yang menyebaabkan tanah bereaksi masam
(Coleman dan Thomas, 1970).
Di Indonesia pH tanah umumnya berkisar 3-9 tetapi untuk daerah rawa seeperti
tanah gambut ditemukan pH dibawah 3 karena banyak mengandung asam sulfat
sedangakan di daerah kering atau daerah dekat pantai pH tanah dapat mencapai di
atas 9 karena banyak mengandung garam natrium.
Menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap oleh tanaman, pada
umumnya unsur hara mudah diserap oleh akar tanaman pada pH tanah netral 6-7,
karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara mudah larut dalam air.
pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi
tanaman. Pada tanah asam banyak ditemukan unsur alumunium yang selain bersifat
racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh tanaman. Pada tanah
asam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga ditemukan unsur mikro
seperti Fe, Zn, Mn dan Cu dalam jumlah yang terlalu besar, akibatnya juga menjadi
racun bagi tanaman.
pH tanah sangat mempengaruhi perkembangan mikroorganisme di dalam tanah.
Pada pH 5.5 - 7 bakteri jamur pengurai organik dapat berkembang dengan baik
Tindakan pemupukan tidak akan efektif apabila pH tanah diluar batas optimal.
Pupuk yang telah ditebarkan tidak akan mampu diserap tanaman dalam jumlah yang
diharapkan, karenanya pH tanah sangat penting untuk diketahui jika efisiensi
pemupukan ingin dicapai. Pemilihan jenis pupuk tanpa mempertimbangkan pH tanah
juga dapat memperburuk pH tanah.
Derajat keasaman (pH) tanah sangat rendah dapat ditingkatkan dengan
menebarkan kapur pertanian, sedangkan pH tanah yang terlalu tinggi dapat
diturunkan dengan penambahan sulfur. Dapat disimpulkan, secara umum pH yang
ideal bagi pertumbuhan tanaman adalah mendekati 6.5-7. Namun kenyataannya setiap
jenis tanaman memiliki kesesuaian pH yang berbeda.

3) Kesuburan Biologi
Sifat biologi tanah meliputi bahan organik tanah, flora dan fauna tanah
(khususnya mikroorganisme penting seperti bakteri, fungi dan Algae), interaksi
mikroorganisme tanah dengan tanaman (simbiosa) dan polusi tanah.
Tanah dikatakan subur bila mempunyai kandungan dan keragaman biologi yang
tinggi. Berikut merupakan tabel jumlah maksimum biomassa dari organisme tanah
pada tanah subur yang berada pada padang rumput :
Kind of organism
Abundance
(no/m
2
)
Biomass
(g/m
2
)
Bacteria 3 x 10
14
300
Fungi 4 x 10
15
400
Protozoa 5 x 10
8
38
Nematodes 10
7
12
Earthworms and related forms 10
5
132
Mites 2 x 10
5
3
Springtails 5 x 10
4
5
Other invertebrates (snails,
millipedes, etc)
2 x 10
3
36
From: B.N. Richards (1974) Introduction to the Soil Ecosystem
Organisme (mikroorganisme) tanah penting dalam kesuburan tanah karena:
a) berperan dalam siklus energi
b) berperan dalam siklus hara
c) berperan dalam pembentukan agregat tanah
d) menentukan kesehatan tanah (suppressive / conducive terhadap munculnya
penyakit terutama penyakit tular tanah-soil borne pathogen)

2.2 Perinsip Pengolahan Tanah yang Baik
Kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam yang ditentukan oleh
interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi tanah yang menjadi habitat akar-akar
aktif tanaman. Kesuburan habitat akar dapat bersifat hakiki dari bagian tubuh tanah
yang bersangkutan, dan/atau di imbas oleh keadaan bagian lain dari tanah dan/atau
diciptakan pengaruh dari keadaan lain lahan seperti lahan, iklim dan musim.
Kesuburan tanah merupakan mutu suatu tanah atau lahan melainkan bukan sifat tanah
maka kesuburan tanah tidak dapat diukur atau diamati melainkan hanya dapat
ditaksir. Penaksiran kesuburan tanah dapat dilakukan atas dasar sifat-sifat dan
kelakuan fisik, kimia dan biologi tanah tersebut. Selain dengan melihat sifat-sifat dan
kelakuan fisik, kimia dan biologi tanah penaksiran kesuburan tanah dapat dilakukan
secara kangsung dengan cara melihat keadaan tanaman yang berada diareal tersebut.
Dari kedua cara penaksiran diatas cara penaksiran pertama lebih efektif digunakan
dalam menaksir kesuburan tanah, karena dengan cara penaksiran pertama dapat
diketahui faktor-faktor yang dapat menentukan kesuburan tanah. Sedangkan
bilapenaksiran dilakukan dengan cara kedua maka kita hanya dapat mengetahui
bahwa tanah tersebut memiliki kesuburan tanah yang baik atau tidak, tanpa bisa
mengetahui faktor-faktor yang menentukan kesuburan dari tanah tersebut.
Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah utnuk mendukung pertumbuhan
tanaman secara optimal sehingga tanamn yang ditanam dapat menghasilkan produksi
yang optimal. Pada dasarnya kesuburan tanah merupakan tolak ukur dari tingkat hasil
panen atau tingkat produktivitas suatu tanaman yang ditanam diareal tersebut. Hasil
panen atau produktivias dari tanaman tersebut diukur dangan bobot kering yang
diambil pada luasan tertentu dengan satuan waktu tertentu pula. Dengan
menggunakan tahunan sebagai satuan waktu untuk perhitungan hasil panen, dapat
dicakup akibat variasi keadaan habitat akar tanaman karena musim (menurut
Schroeder, 1984 dalam Tejoyuwono et al, 2006). Dari hasil perhitungan jika
didapatkan hasil panan yang besar dengan variasi musim yang kecil dalam satu tahun
maka hal ini menandakan bahwa tingkat kesuburan tanahnya tinggi. Hal ini
menandakan bahwa tanah dapat ditanami sepanjang tahun dan setiap kali penanaman
dapat memberikan hasil panen yang besar. Namun apabila hasil panen besar namun
hanya dapat ditanami sekali dalam setahun, dan penanaman hanya dapat dilakukan
pada musim baik saja. Hal ini menandakan bahwa tingkat kesuburan tanahnya rendah
karena pada musim lain tanah tidak dapat ditanami.
Kesuburan tanah itu sendiri terbagi menjadi dua yaitu kesuburan tanah aktual dan
juga kesuburan tanah potensial. Kesuburan tanah aktual adalah kesuburan tanah yang
hakiki. Sedangkan kesuburan tanah potensial adalah kesuburan tanah maksimum
yang dapat dicapai dengan intervensi teknologi yang mengoptimalkan semua faktor.
Intervensi teknologi yan gdapat mengoptimalkan semua faktor tersebut diantaranya:
(1) terdapat keseimbangan antara tambahan hasil panen atau nilai tambah ekonomi
dari komoditi sesuai yang diharapkan dengan tambahan biaya yang harus
dikeluarkan, (2) kemampuan masyarakat untuk membiayai intervensi tersebut, (3)
keterampilan masyarakat dalam menerapkan teknik intervensi tersebut secara
berkesinambungan. Ketiga faktor intervensi tersebut tidak dapat diterapkan apabila
salah satu dari ketiganya tidak dimiliki oleh petani sendiri, karena ketiga faktor
intervensi tersebut saling mempengaruhi. Untuk kemampuan itu sendiri dipengaruhin
oleh dua faktor yaitu petani itu sendiri termasuk koperasinya dan juga pemerintah
dengan subsidi atau kreditnya. Sedangkan untuk keterampilan teknik melaksanakan
intervensinya dipengaruhi oleh keterampilan petani dan bantuan pemerintah dalam
menyediakan sarana dan prasarana teknik yang meliputi jalan, bendungan, saluran
irigasi, drainase dan juga bimbingan teknologi. Jika semua faktor diatas dapat
dilaksanakan dengan baik maka sifat dan kelakuan tanah menjadi penentu tanggapan
tanah terhadap intervensi teknologi yang diberikan. Sehingga tingkat dan juga macam
intervensi yang diberikan ditentukan oleh jenis tanah dan keadaan lingkungan yang
mempengaruhi sifat tanah tersebut. Jadi setiap wilayah memilik kriteria yang
berbeda- beda dalam pemberian intervensi teknologinya.
Intervensi teknologi diatas diberikan oleh petani untuk melakukan pengelolaan
kesuburan tanah. Pengelolaan kesuburan tanah sendiri bertujuan untuk
mengoptimumkan kesuburan tanah tersebut. Setiap jenis tanah memiliki sifat yang
berbeda-beda begitu pula dengan tanamn yang ditanam pada tanah tersebut juga
memiliki sifat dan persyaratan tumbuh dan berkembang yang berbeda-beda pula.
Maka ukuran optimum kesuburan tanah menjadi berbeda-beda pula, sehingga
diperlukan pengelolaan kesuburan tanah yang berbeda. Kriteria optimum kesuburan
didasarkan atas sejumlah variabel tanah yang menentukan produktivitas tanaman.
Kesuburan tanah tersbut bukan ditentukan oleh jumlah pengaruh tiap variabel itu
sendiri melainkan oleh daya pengaruh yang timbul dari hubungan interaktif atau
kompensatif antar variabel. Sebagai contoh pada beberapa sifat tanah seperti pH,
tekstur, struktur, mineralogi lempung dan bahan organik mentukan dinamika lengas
tanah.
Hampir semua proses dan kejadian dalam tanah dapat terjadi karena pengaruh air
sebagai mediumnya. Semua proses-proses yang menciptakan kesuburan tanah atau
sebaliknya mendorong terjadinya degradasi tanah seperti hidrolisis, pelarutan yang
dapat menuju pada proses pencucian dalam tanah dan juga proses reduksi semuanya
dilakukan oleh air. Salah satu contoh adalah proses reduksi, proses ini terjadi karena
air menutup jalan masuknya udara kedalam tanah.
Dari contoh tersebut dapat dikatakan bahwa pengelolaan lengas tanah menjadi pokok
pengelolaan kesuburan tanah. Dimana pemupukan merupakan salah satu usaha dari
pengelolaan kesuburan tanah itu sendiri. Namun usaha pemupukan tersebut tidak
dapat memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan apabila tidak disertai dengan
pengelolaan lengas tanah. Namun apabila pemupukan dilakukan pada tanah yang
kekurangan lengas tanah justru akan membuat tanaman pada areal tersebut menjadi
stress. Stress pada tanaman tersebut terjadi karena pada tanah yang kekurangang
lengas dan dilakukan pemupukan terjadi peningkatan kekentalan larutan tanah. Hal
ini disebabkan jika keadaan larutan dalam tanah lebih kental dibandingkan dengan
keadaan larutan dalam jaringan tanaman akan menyebabkan air dalam jaringan
tanaman dapat keluar untuk menyamakan keadaan diantara tanah dan juga tanaman.
Jika air dalam jaringan tanaman keluar maka tanaman akan menjadi stress. Sistem
irigasi dan juga drainase yang baik merupakan cara pengelolaan lengas tanah yang
biasa digunakan.
Setelah melakukan pengelolaan lengas tanah dan lengas tanah dalam keadaan baik
maka usaha selanjutnya yang dapat dilakukan adalah dengar cara melakukan
pemupukan. Menurut pengertian luas pemupukan adalah pemberian pupuk kepada
tanah dengan maksud memperbaiki atau meningkatkan kesuburan tanah. Sedangkan
pemupukan menurut pengertian khusus adalah pemberian bahan yang dimaksudkan
untuk menambah hara yang dibutuhkan oleh tanaman dalam tanah. Pemberian bahan
yang dimaksud disini untuk memperbaiki keadaan tanah secara fisik, kimia dan
biologinya. Bahan- bahan yang diberikan dalam rangka perbaikan sifat fisik, kimia
dan biologi tanah meliputi mulsa, pembenahan tanah, pemberian kapur untuk
menaikkan pH tanah, pemberian belerang untuk menurunkan pH, dan juga pemberian
gips untuk menurunkan kadar garam yang terlalu tinggi dalam tanah.
Selain dengan menggunakan bahan diatas pemuukan dapat dilakukan juga dengan
menggunakan pupuk hijau atau pupuk kandang. Bahan-bahan pupuk yang diberikan
dapat meningkatkan atau memperbaiki serapan pupuk melalui peranan bahan
amandemen dalam mengefektifkan interaksi antara tanah dan pupuk dan/atau
memperbaiki keadaan lingkungan perakaran yang pada gilirannya mengefektifkan
keadaan fisik akar tanaman dalam menyerap unsur hara dalam tanah. Dengan bahan
amandemen dalam dapat memperbaiki serapan unsur hara pada tanah meskipun
tanpa disertai pemupukan yang menambahn unsur hara, kesuburan tanah sudah dapat
ditingkatkan. Pemupukan dengan pupuk hijau dan pupuk kandang lebih efektif dalam
peningkatan serapan unsur hara dalam tanah, karena pupuk kandang dan pupuk hijau
memiliki fungsi rangkap yaitu menambahkan unsur hara dan mengamandemen tanah.
Pupuk hijau atau pupuk kandang yang akan diaplikasikan harus diolah terlbih dahulu
agar proses dekomposisi pada bahan organik yang terkandung dalam pupuk hijau dan
pupuk kandang tersebut dapat berlangsung dengan baik. Dalam pengaplikasian pupuk
hijau atau pupuk kandang ke tanah ada beberapa cara yaitu: (1) memberikannya
langsung ke tanah, baik itu sebagai mulsa ataupun langsung dibenamkan dalam tanah,
(2) membakarnya, (3) mengomposkannya.
Bahan organik yang terkandung dalam pupuk hijau dan juga pupuk
kandang berfungsi sebagai penyimpan unsur hara yang secara perlahan akan di
lepaskan kedalam jaringan air tanah dan disediakan bagi tanaman. Dengan
kemampuan bahan organik mengikat dan menyimpan unsur hara, maka tanah yang
memiliki kandungan bahan organik cukup dapat mel;epaskan unsur haranya seara
perlahan sehingga kesuburan tanah tetap dapat dijaga meskipun tanpa adanya
pemupukan ulang. Selain berfungsi dalam menyimpan dan mengikat unsur hara
bahan organik dalam tanah dan atas tanah berfungsi melindungi dan juga membantu
dalam mengatur suhu dan kelembaban tanah.
Dari hasil pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa dala pengelolaan
kesuburan tanah dapa dilakukan beberapa cara yaitu dengan cara pengelolaan lengas
tanah. Pengelolaan lengas tanah dilakukan dengan cara melakukan pemupukan dan
penambahan bahan-bahan. Bahan-bahan yang ditambahkan berupa pemberian mulsa,
pemberian kapur, pemberian belerang, dan pemberian gips. Sedangkan untuk
pemupukannya dilakukan dengan pemberian pupuk kandang dan juga pupuk hijau
untuk meningkatkan serapan dan ketersediaan unsur hara dalam tanah. Dari kedua
cara yang dilakukan pemberian pupuk hijau dan pupuk kandang lebih efektif dalam
usaha pengelolaan kesuburan tanah karena unsur hara dari pupuk kandang dan pupuk
hijau ketersediaanya dan serapannya berlanjut.

2.3 Tinjauan Tiap Topik
2.3.1 Isu Kekeringan
Kekurangan Bahan Organik
Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang,
dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh
tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan
penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami
pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam
pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya
bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui
melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.
Faktor yang Mempengaruhi Bahan Organik Tanah
Diantara sekian banyak faktor yang mempengaruhi kadar bahan organik dan nitrogen
tanah, faktor yang penting adalah kedalaman tanah, iklim, tekstur tanah dan drainase.
Kedalaman lapisan menentukan kadar bahan organik dan N. Kadar bahan organik
terbanyak ditemukan di lapisan atas setebal 20 cm (15-20%). Semakin ke bawah
kadar bahan organik semakin berkurang. Hal itu disebabkan akumulasi bahan organik
memang terkonsentrasi di lapisan atas.
Faktor iklim yang berpengaruh adalah suhu dan curah hujan. Makin ke daerah dingin,
kadar bahan organik dan N makin tinggi. Pada kondisi yang sama kadar bahan
organik dan N bertambah 2 hingga 3 kali tiap suhu tahunan rata-rata turun 100C. bila
kelembaban efektif meningkat, kadar bahan organik dan N juga bertambah. Hal itu
menunjukkan suatu hambatan kegiatan organisme tanah.
Tekstur tanah juga cukup berperan, makin tinggi jumlah liat maka makin tinggi kadar
bahan organik dan N tanah, bila kondisi lainnya sama. Tanah berpasir memungkinkan
oksidasi yang baik sehingga bahan organik cepat habis.
Pada tanah dengan drainase buruk, dimana air berlebih, oksidasi terhambat karena
kondisi aerasi yang buruk. Hal ini menyebabkan kadar bahan organik dan N tinggi
daripada tanah berdrainase baik. Disamping itu vegetasi penutup tanah dan adanya
kapur dalam tanah juga mempengaruhi kadar bahan organik tanah. Vegetasi hutan
akan berbeda dengan padang rumput dan tanah pertanian. Faktor-faktor ini saling
berkaitan, sehingga sukar menilainya sendiri (Hakim et al, 1986).

Peranan Bahan Organik Bagi Tanah
Bahan organik berperan penting untuk menciptakan kesuburan tanah. Peranan bahan
organik bagi tanah adalah dalam kaitannya dengan perubahan sifat-sifat tanah, yaitu
sifat fisik, biologis, dan sifat kimia tanah. Bahan organik merupakan pembentuk
granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat tanah yang
stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya.
Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur
remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan air secara vertikal atau infiltrasi dapat
diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan
erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena
ruang pori tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat.
Bahan organik umumnya ditemukan dipermukaan tanah. Jumlahnya tidak besar,
hanya sekitar 3-5% tetapi pengaruhnya terhadap sifat-sifat tanah besar sekali. Sekitar
setengah dari kapasitas tukar kation berasal dari bahan organik. Ia merupakan sumber
hara tanaman. Disamping itu bahan organik adalah sumber energi bagi sebagian besar
organisme tanah. Dalam memainkan peranan tersebut bahan organik sangat
ditentukan oleh sumber dan susunannya, oleh karena kelancaran dekomposisinya,
serta hasil dari dekomposisi itu sendiri.

Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Fisika Tanah
- Meningkatkan kemampuan tanah menahan air. Hal ini dapat dikaitkan dengan sifat
polaritas air yang bermuatan negatif dan positif yang selanjutnya berkaitan dengan
partikel tanah dan bahan organik. Air tanah mempengaruhi mikroorganisme tanah
dan tanaman di atasnya. Kadar air optimal bagi tanaman dan mikroorganisme adalah
0,5 bar/ atmosfer.
- Warna tanah menjadi coklat hingga hitam. Hal ini meningkatkan penyerapan energi
radiasi matahari yang kemudian mempengaruhi suhu tanah.
- Merangsang granulasi agregat dan memantapkannya
- Menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk lainnya dari liat.
Salah satu peran bahan organik yaitu sebagai granulator, yaitu memperbaiki struktur
tanah. Menurut Arsyad (1989) peranan bahan organik dalam pembentukan agregat
yang stabil terjadi karena mudahnya tanah membentuk kompleks dengan bahan
organik. Hai ini berlangsung melalui mekanisme:
- Penambahan bahan organik dapat meningkatkan populasi mikroorganisme tanah,
diantaranya jamur dan cendawan, karena bahan organik digunakan oleh
mikroorganisme tanah sebagai penyusun tubuh dan sumber energinya. Miselia atau
hifa cendawan tersebut mampu menyatukan butir tanah menjadi agregat, sedangkan
bakteri berfungsi seperti semen yang menyatukan agregat.
- Peningkatan secara fisik butir-butir prima oleh miselia jamur dan aktinomisetes.
Dengan cara ini pembentukan struktur tanpa adanya fraksi liat dapat terjadi dalam
tanah.
- Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan bagian-bagian pada senyawa
organik yang berbentuk rantai panjang.
- Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan antar bagian negatif liat
dengan bagian negatif (karbosil) dari senyawa organik dengan perantara basa dan
ikatan hidrogen.
- Peningkatan secara kimia butir-butir liat melalui ikatan antara bagian negatif liat
dan bagian positf dari senyawa organik berbentuk rantai polimer.

Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Kimia Tanah
Meningkatkan daya jerap dan kapasitas tukar kation (KTK). Sekitar setengah dari
kapasitas tukar kation (KTK) tanah berasal dari bahan organik. Bahan organik dapat
meningkatkan kapasitas tukar kation dua sampai tiga puluh kali lebih besar daripada
koloid mineral yang meliputi 30 sampai 90% dari tenaga jerap suatu tanah mineral.
Peningkatan KTK akibat penambahan bahan organik dikarenakan pelapukan bahan
organik akan menghasilkan humus (koloid organik) yang mempunyai permukaan
dapat menahan unsur hara dan air sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian bahan
organik dapat menyimpan pupuk dan air yang diberikan di dalam tanah. Peningkatan
KTK menambah kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara.

Unsur N,P,S diikat dalam bentuk organik atau dalam tubuh mikroorganisme,
sehingga terhindar dari pencucian, kemudian tersedia kembali. Berbeda dengan
pupuk komersil dimana biasanya ditambahkan dalam jumlah yang banyak karena
sangat larut air sehingga pada periode hujan terjadi kehilangan yang sangat tinggi,
nutrien yang tersimpan dalam residu organik tidak larut dalam air sehingga
dilepaskan oleh proses mikrobiologis. Kehilangan karena pencucian tidak seserius
seperti yang terjadi pada pupuk komersil. Sebagai hasilnya kandungan nitrogen
tersedia stabil pada level intermediet dan mengurangi bahaya kekurangan dan
kelebihan.

Bahan organik berperan sebagai penambah hara N, P, K bagi tanaman dari hasil
mineralisasi oleh mikroorganisme. Mineralisasi merupakan lawan kata dari
immobilisasi. Mineralisasi merupakan transformasi oleh mikroorganisme dari sebuah
unsur pada bahan organik menjadi anorganik, seperti nitrogen pada protein menjadi
amonium atau nitrit. Melalui mineralisasi, unsur hara menjadi tersedia bagi tanaman.

Meningkatkan kation yang mudah dipertukarkan dan pelarutan sejumlah unsur hara
dari mineral oleh asam humus. Bahan organik dapat menjaga keberlangsungan suplai
dan ketersediaan hara dengan adanya kation yang mudah dipertukarkan. Nitrogen,
fosfor dan belerang diikat dalam bentuk organik dan asam humus hasil dekomposisi
bahan organik akan mengekstraksi unsur hara dari batuan mineral.
Mempengaruhi kemasaman atau pH. Penambahan bahan organik dapat meningkatkan
atau malah menurunkan pH tanah, hal ini bergantung pada jenis tanah dan bahan
organik yang ditambahkan. Penurunan pH tanah akibat penambahan bahan organik
dapat terjadi karena dekomposisi bahan organik yang banyak menghasilkan asam-
asam dominan. Sedangkan kenaikan pH akibat penambahan bahan organik yang
terjadi pada tanah masam dimana kandungan aluminium tanah tinggi , terjadi karena
bahan organik mengikat Al sebagai senyawa kompleks sehingga tidak terhidrolisis
lagi .
Peranan bahan organik terhadap perbaikan sifat kimia tanah tidak terlepas dalam
kaitannya dengan dekomposisi bahan organik, karena pada proses ini terjadi
perubahan terhadap komposisi kimia bahan organik dari senyawa yang kompleks
menjadi senyawa yang lebih sederhana. Proses yang terjadi dalam dekomposisi yaitu
perombakan sisa tanaman atau hewan oleh miroorganisme tanah atau enzim-enzim
lainnya, peningkatan biomassa organisme, dan akumulasi serta pelepasan akhir.
Akumulasi residu tanaman dan hewan sebagai bahan organik dalam tanah antara lain
terdiri dari karbohidrat, lignin, tanin, lemak, minyak, lilin, resin, senyawa N, pigmen
dan mineral, sehingga hal ini dapat menambahkan unsur-unsur hara dalam tanah.

Pengaruh Bahan Organik pada Sifat Biologi Tanah
Jumlah dan aktivitas metabolik organisme tanah meningkat. Secara umum, pemberian
bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme.
Bahan organik merupakan sumber energi dan bahan makanan bagi mikroorganisme
yang hidup di dalam tanah. Mikroorganisme tanah saling berinteraksi dengan
kebutuhannya akan bahan organik karena bahan organik menyediakan karbon sebagai
sumber energi untuk tumbuh.
Kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik meningkat.
Bahan organik segar yang ditambahkan ke dalam tanah akan dicerna oleh berbagai
jasad renik yang ada dalam tanah dan selanjutnya didekomposisisi jika faktor
lingkungan mendukung terjadinya proses tersebut. Dekomposisi berarti perombakan
yang dilakukan oleh sejumlah mikroorganisme (unsur biologi dalam tanah) dari
senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana. Hasil dekomposisi berupa senyawa
lebih stabil yang disebut humus. Makin banyak bahan organik maka makin banyak
pula populasi jasad mikro dalam tanah.
Peranan Bahan Organik Bagi Tanaman
Bahan organik memainkan beberapa peranan penting di tanah. Sebab bahan organik
berasal dari tanaman yang tertinggal, berisi unsur-unsur hara yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan tanaman. Bahan organik mempengaruhi struktur tanah dan cenderung
untuk menjaga menaikkan kondisi fisik yang diinginkan. Peranan bahan organik ada
yang bersifat langsung terhadap tanaman, tetapi sebagian besar mempengaruhi
tanaman melalui perubahan sifat dan ciri tanah.
Pengaruh Langsung Bahan Organik pada Tanaman
Melalui penelitian ditemukan bahwa beberapa zat tumbuh dan vitamin dapat diserap
langsung dari bahan organik dan dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Dulu
dianggap orang bahwa hanya asam amino, alanin, dan glisin yang diserap tanaman.
Serapan senyawa N tersebut ternyata relatif rendah daripada bentuk N lainnya. Tidak
dapat disangkal lagi bahwa bahan organik mengandung sejumlah zat tumbuh dan
vitamin serta pada waktu-waktu tertentu dapat merangsang pertumbuhan tanaman dan
jasad mikro.
Bahan organik ini merupakan sumber nutrien inorganik bagi tanaman. Jadi tingkat
pertumbuhan tanaman untuk periode yang lama sebanding dengan suplai nutrien
organik dan inorganik. Hal ini mengindikasikan bahwa peranan langsung utama
bahan organik adalah untuk menyuplai nutrien bagi tanaman. Penambahan bahan
organik kedalam tanah akan menambahkan unsur hara baik makro maupun mikro
yang dibutuhkan oleh tumbuhan, sehingga pemupukan dengan pupuk anorganik yang
biasa dilakukan oleh para petani dapat dikurangi kuantitasnya karena tumbuhan sudah
mendapatkan unsur-unsur hara dari bahan organik yang ditambahkan kedalam tanah
tersebut. Efisiensi nutrisi tanaman meningkat apabila pememukaan tanah dilindungi
dengan bahan organik.
Pengaruh Tidak Langsung Bahan Organik pada Tanaman
Sumbangan bahan organik terhadap pertumbuhan tanaman merupakan pengaruhnya
terhadap sifat-sifat fisik, kimia dan biologis dari tanah. Bahan organik tanah
mempengaruhi sebagian besar proses fisika, biologi dan kimia dalam tanah. Bahan
organik memiliki peranan kimia di dalam menyediakan N, P dan S untuk tanaman
peranan biologis di dalam mempengaruhi aktifitas organisme mikroflora dan
mikrofauna, serta peranan fisik di dalam memperbaiki struktur tanah dan lainnya.
Hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman yang tumbuh di tanah tersebut.
Besarnya pengaruh ini bervariasi tergantung perubahan pada setiap faktor utama
lingkungan. Sehubungan dengan hasil-hasil dekomposisi bahan organik dan sifat-sifat
humus maka dapat dikatakan bahwa bahan organik akan sangat mempengaruhi sifat
dan ciri tanah.
Peranan tidak langsung bahan organik bagi tanaman meliputi :
- Meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman. Bahan organik dapat meningkatkan
kemampuan tanah menahan air karena bahan organik, terutama yang telah menjadi
humus dengan ratio C/N 20 dan kadar C 57% dapat menyerap air 2-4 kali lipat dari
bobotnya. Karena kandungan air tersebut, maka bahan organik terutama yang sudah
menjadi humus dapat menjadi penyangga bagi ketersediaan air.
- Membentuk kompleks dengan unsur mikro sehingga melindungi unsur-unsur
tersebut dari pencucian. Unsur N,P,S diikat dalam bentuk organik atau dalam tubuh
mikroorganisme, sehingga terhindar dari pencucian, kemudian tersedia kembali.
- Meningkatkan kapasitas tukar kation tanah Peningkatan KTK menambah
kemampuan tanah untuk menahan unsur- unsur hara.
- Memperbaiki struktur tanah Tanah yang mengandung bahan organik berstruktur
gembur, dan apabila dicampurkan dengan bahan mineral akan memberikan struktur
remah dan mudah untuk dilakukan pengolahan. Struktur tanah yang demikian
merupakan sifat fisik tanah yang baik untuk media pertumbuhan tanaman. Tanah
yang bertekstur liat, pasir, atau gumpal akan memberikan sifat fisik yang lebih baik
bila tercampur dengan bahan organik.
- Mengurangi erosi dengan memperbaiki agregasi tanah. Bahan organik merupakan
pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat
tanah yang stabil. Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada
taranya. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi
berstruktur remah yang relatif lebih ringan. Pergerakan air secara vertikal atau
infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat sehingga aliran
permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi
lebih baik karena ruang pori tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat.
- Menstabilkan temperatur. Bahan organik dapat menyerap panas tinggi dan dapat
juga menjadi isolator panas karena mempunyai daya hantar panas yang rendah,
sehingga temperatur optimum yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk
pertumbuhannya dapat terpenuhi dengan baik.
- Meningkatkan efisiensi pemupukan. Secara umum, pemberian bahan organik dapat
meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Demikian pula dengan
peranannya dalam menanggulangi erosi dan produktivitas lahan. Penambahan bahan
organik akan lebih baik jika diiringi dengan pola penanaman yang sesuai, misalnya
dengan pola tanaman sela pada sistem tumpangsari. Pengelolaan tanah atau lahan
yang sesuai akan mendukung terciptanya suatu konservasi bagi tanah dan air serta
memberikan keuntungan tersendiri bagi manusia.

Warna Tanah
Pola Tanam Monokultur
Musim Kemarau
Jauhnya Aliran Sungai
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Manajemen Kesuburan Tanah dilaksanakan selama kegiatan praktikum
yaitu hari Rabu dan dilaksanakan di plot erosi Fakultas Pertanian Universitas
Brawijaya dengan kegiatan penanaman tanaman jagung serta pengamatan, dan juga
pengambilan sampel tanah pada hari Senin, tanggal 21 Oktober 2013 di Kecamatan
Kromengan, Kabupaten Malang.
3.2 Kondisi Umum Wilayah
Kecamatan Kromengan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di bagian
selatan wilayah Kabupaten Malang. Secara administratif, di sebelah barat, timur dan
selatan, berturut-turut berbatasan dengan Kecamatan Wonosari, kecamatan Kepanjen,
dan Kecamatan Sumberpucung. Kecamatan Kromengan terbagi menjadi 6 wilayah
desa, yaitu Jambuwer, Peniwen, Kromengan, Ngadirejo, Jatikerto, dan Slorok.
Secara umum, jenis tanah yang mendominasi Kecamatan Kromengan adalah
Inceptisol dan Asosiasi Alfisol, dengan nama great group Typic Tropudalf dan
Fluventic Ustropept. Berdasarkan peta topografi yang ada, kecamatan Kromengan
termasuk dataran rendah dengan ketinggian tempat 220 - 400 m di atas permukaan
laut. Jika dilihat dari letaknya secara topografis, daerah ini terletak di lereng bawah
Gunung Pitrang dengan bahan induk penyusun tanahnya didominasi oleh bahan
aluvium dan fluvent. Daerah ini memiliki landIorm datar hingga bergelombang
dengan kemiringan berkisar antara 0 - 60. Suhu udara pada daerah ini berkisar
antara 13 -31 C dengan curah hujan per tahun 1600-5000 mm.
3.3 Metode Penelitian
Metode penelitian Praktikum Manajemen Kesuburan Tanah berupa pengambilan
sampel tanah komposit secara acak di lahan yang saat itu ditanami oleh komoditas
tembakau. Semua contoh tanah yang dimabil secara acak tersebut kemudian
dimasukkan ke dalam karung goni sebelum nantinya akan digrinding untuk
menghaluskan tanah.
Isu masalah yang ada pada wilayah penelitian adalah kekeringan, sehingga perlakuan
yang diberikan adalah pemberian pupuk organik dengan harapan pemberian bahan
organik mampu mengembalikan kesehatan tanah dengan pemenuhan kebutuhan air.
Rancangan yang dilakukan untuk polybag percobaan adalah dengan Rancangan Acak
Kelompok (RAK) dengan jumlah tiga (3) perlakuan dengan perbedaan masing-
masing perlakuan adalah dosis pupuk organik yang diberikan. Perlakuan pertama
dosis pupuk yang diberikan yaitu sebanyak 3 kg, perlakuan kedua sebanyak 2 kg, dan
perlakuan ketiga sebanyak 1 kg. Masing-masing perlakuan dilakukan ulangan
sebanyak tiga (3) kali ulangan.
Dalam pengambilan sampel tanah, alat yang diperlukan, antara lain cangkul untuk
mengambil sampel tanah, karung goni sebagai tempat untuk sampel tanah, serta
kertas label untuk memberikan keterangan tanah yang digunakan untuk sampel.
Setelah kegiatan pengambilan sampel tanah, kegiatan selanjutnya yang dilakukan
adalah pengujian sampel tanah yang meliputi pengujian C-organik, N total, serta
kandungan P dan K. Kemudian selanjutnya dilakukan penanaman tanaman jagung
dengan populasi 2 tanaman per polybag. Kemudian dilakukan pengamatan dengan
parameter tinggi tanaman dan jumlah daun. Setelah 41 hari setelah penanaman,
dilakukan analisa laboratorium dengan parameter pengamatan antara lain C-organik,
N total, kandungan P serta K, pH serta EH.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Data Pengamatan
4.1.2 Grafik Pengamatan
4.1.3 Rancangan Percobaan yang Diamati
4.2 Pembahasan

V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA