Anda di halaman 1dari 21

FIQH ALTERNATIF

Pendahuluan
Ketika Gus Dur menghalalkan Ajinomoto yang dinyatakan
haram oleh MUI, timbul kebingungan di kalangan umat Islam,
mana yang benar di antara keduanya? Fatwa MUI ataukah
pendapat Gus Dur? Mungkinkah benar kedua-duanya, atau
salah kedua-duanya? Itulah kira-kira pertanyaan yang
terpendam di benak umat Islam saat itu, yang mungkin saja
belum diperoleh jawabannya sampai sekarang.
Tentu saja, kasus Ajinomoto hanyalah contoh kecil, yang
status hukumnya kontroverional. Di samping itu, masih
banyak lagi masalah, kalau tidak seluruh persoalan fiqh,
bersifat kontroversional. Untuk menyebut beberapa di
antaranya, adalah mengenai status bunga bank, bagaimana
hukumnya, haram atau halal? Jual beli pesanan (salam) dan
jual beli dengan cara kredit, boleh tidak? Jawabannya, ada
yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan,
dengan alasannya sendiri-sendiri. Itu dalam bidang ekonomi
(muamalah). Dalam soal perkawinana (munakahat), banyak
sekali masalah yang kontroversial. Misalnya, sahkah nikah
tanpa wali? Bolehkah akad nikah dilaksanakan dengan jarak
jauh, seperti melalui telpon atau teleconference? Bagaimana
hukumnya poligami, hukum nikah mut’ah, dan menikah beda
agama? Kemudian, apakah orang yang sudah melakukan zina
dan sudah hamil boleh dinikahkan atau tidak? Jawabannya,
bisa boleh bisa tidak, tergantung dalil dan alasan yang
dipilihnya. Demikian pula dalam bidang politik (siyasah),
bolehkah perempuan jadi kepala negara? Jadi hakim? Itu pun,
kontroversial, ada yang membolehkan dan ada yang
melarang dengan argumentasinya masing-masing.
Adanya formulasi fiqh yang tidak satu macam, apalagi
berkaitan dengan persoalan haram dan tidak haram, boleh
dan tidak bolehnya suatu peristiwa hukum yang melibatkan
kehidupan orang banyak, seperti dicontohkan di atas, sangat
2

berpotensi menimbulkan konflik di kalangan umat Islam.


Setidaknya, telah membuat bingung ummat, dan bukan
mustahil sebagian dari mereka kemudian menjadi alergi
berbicara fiqh. Karena itu, diperlukan solusi dan penyikapan
secara proporsional, yang dapat menjelaskan sejatinya
karakteristik fiqh berikut sebab-sebabnya mengapa
formulasinya bisa dua tiga macam, dan terutama lagi
tentang bagaimana menyikapi formulasi yang macam-
macam itu. Tulisan ini merupakan langkah awal dari solusi
yang ingin ditawarkan itu.

Pengertian Fiqh
Kata fiqh, dilihat dari makna harfiahnya adalah al-fahm,
yang berarti faham. Atau, al-ilmu yang berarti pengetahuan
atau ilmu pengetahuan. Fiqh, baik sebagai suatu faham
maupun sebagai suatu ilmu, tentu tidak terlepas dari
karakternya yang nisbi dan selalu terbuka untuk perbedaan
dan perubahan, karena fiqh tidak pernah lahir di ruang
hampa. Fiqh lahir dari dan dalam dinamika pemikiran dan
kehidupan manusia. Karenanya, fiqh berwatak dinamis
mengikuti dinamika intelektual dan kultural kehidupan
manusia. Fiqih yang pada satu masa atu suatu daerah
tertentu dianggap benar, bisa saja ditolak di waktu dan pada
tempat yang lain. Demikian sebaliknya. Apa yang dahulu
dilarang karena berbagai alasan, sekarang menjadi pilihan
karena alasan yang lain, atau karena alasan yang dulu sudah
tidak ada lagi. Dengan demikian, tidak berarti bahwa fiqh
yang dahulu atau yang ditinggalkan itu salah, ia bisa benar
juga, untuk waktu dan tempatnya saat itu, tetapi dianggap
salah atau kurang tepat kalau diamalkan saat ini, karena
situasi dan kondisinya berbeda atau sudah berubah. Maka,
perubahan itulah yang menghendaki perubahan fiqh. Fuqaha
mengungkapkannya dengan kalimat: Taghayyur al-ahkam bi
taghayyuri al-amkinah wa al-azminah wa al-ahwal (Hukum
dapat berubah karena perubahan situasi dan kondisi yang
terjadi di sekitarnya).
3

Secara depinitif, fiqh biasa diartikan dengan hukum-


hukum syara’ yang bersifat praktis yang diperoleh dari dalil-
dalil (al-Qur’an dan al-Sunnah) tertentu. Atau, secara
sederhana dapat dikatakan, bahwa fiqh adalah formula
hukum Islam, sebagai hasil pemahaman atau interpretasi
terhadap al-Qur’an/ al-Sunnah mengenai satu atau beberapa
kasus hukum tertentu. Ia merupakan hasil pemikiran,
pemahaman, atau hasil kerja fikir (ijtihad) fuqaha (ulama
yang secara profesional menekuni bidang ini). Sebagai hasil
pemikiran dan produk ilmu pengetahuan, maka
kebenarannya relatif (nisbi). Ia dapat dikritisi dan dikaji
ulang. Ia pun dapat berubah dan berkembang sejalan dengan
perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Selain itu, sebagai hasil pemahaman atau interpretasi,
maka perbedaan dan keberagaman merupakan sesuatu yang
biasa, bahkan sudah seyogyanya. Perbedaan dan
keberagaman merupakan sifat dasar fiqh. Semua sifat itu
merupakan karakter dan habitat fiqh. Fiqh seyogyanya harus
macam-macam. Perbedaan rumusan fiqh bukanlah suatu
keanehan, melainkan suatu kemestian. Yang aneh justru
apabila hukum Islam hanya satu macam, bukan ketika ada
dua atau beberapa macam. Harus dianggap aneh kalau
hukum fiqh harus satu macam. Mengapa? Karena, banyak
faktor yang mengharuskannya. Salah satu faktornya, karena
ia merupakan hasil pemikiran, atau setidaknya melibatkan
pemikiran orang yang merumuskannya. Sedangkan
pemikiran manusia, karena berbagai sebab dan
latarbelakang, seringkali macam-macam. Pemikiran manusia
dipengaruhi oleh banyak faktor: faktor pendidikan,
pengalaman, kondisi sosial ekonomi, budaya, dan faktor-
faktor lain, baik faktor internal maupun eksternal, yang
secara langsung atau tidak langsung ikut mempengaruhi
pemikirannya; termasuk ketika memahami al-Quran dan al-
Sunnah, dan ketika melakukan istinbath serta menetapkan
hukum (fiqh). Maka, yang jadi persoalan bukan bagaimana
menjadikan fiqh agar menjadi satu macam, sebab hal itu sulit
dilakukan dan sekaligus melawan habitat atau kodrat fiqh itu
sendiri. Yang penting adalah bagaimana memahami dan
4

menyikapi fiqh yang macam-macam, atau fiqh yang


kontroversial itu.
Pemahaman yang komprehensif dan proporsional
tentang fiqh diperlukan, karena spektrumnya yang sanat
luas. Lingkup kajian fiqh meliputi segenap persoalan hukum
tentang perilaku manusia atau perbuatan mukallaf (orang
dewasa, yang sudah terkena beban hukum). Hukum-hukum
fiqh itu merupakan hasil pemahaman fuqaha (pakar di bidang
fiqh) atas nash (al-Qur’an dan al-Sunnah) yang berhubungan
dengan perbuatan-perbuatan (amaliyah) manusia sesuai
dengan dalilnya masing-masing yang dianggap relevan
dengan perbuatan tersebut (dalil tafshili). Dengan demikian,
lingkup kajian fiqh adalah seluas perbuatan manusia, dan
sebanyak dalil yang berhubungan dengan perbuatan
manusia tersebut.
Lingkup kajian fiqh meliputi segala hal yang berkatan
dengan bagaimana seharusnya manusia berhubungan dan
melakukan pengabdian kepada tuhannya, Allah SWT. Berarti,
fiqh dalam hal ini membahas hukum dan cara-cara thaharah
(bersuci), shalat, puasa, zakat, dan haji. Inilah yang
kemudian dikenal dengan Fiqh Ibadah. Fiqh juga membahas
tentang bagaimana manusia menjalin kerja sama ekonomi
dengan sesamanya. Dalam hal ini, fiqh menawarkan konsep
tentang jual beli (al-bay’), pinjam meminjam (al-âriyah),
sewa-menyewa (al-ijârah), pesan-memesan (al-salm)
kerjasama usaha (al-mudhârabah atau al-qirâdh), kerjasama
dalam permodalan (al-musyârakah), atau kerjasama
penggarapan tanah (al-muzâra’ah dan al-mukhâbarah). Hal-
hal yang berkaitan dengan kajian bidang ini dikenal dengan
fiqh Muamalah.
Kemudian, fiqh juga membahas bagaimana hukum dan
proses perkawinan yang disyariatkan dalam Islam, hubungan
lawan jenis yang dilarang, dan bagaimana mekanisme ketika
keutuhan perkawinan tidak dapat lagi dipertahankan, serta
bagaimana kedudukan harta dan pembagiannya ketika
mereka bercerai atau salah satunya meninggal dunia. Hal-hal
seperti ini dibahas dalam Fiqh Munakahah dan Fiqh Mawaris.
Mengenai hukum tentang perilaku kejahatan dan
pelanggaran berikut sanksi-sanksinya dibahas dalam fiqh
5

Jinâyah. Sedangkan aturan yang berkaitan dengan tata cara


memilih pemimpin, mengenai tugas dan tugas dan
kewajibannya, serta mengenai bagaimana norma-norma
kepemimpinan dalam Islam, dibahas dalam Fiqh Siyâsah.
Itulah garis besar objek kajian fiqh yang ditemukan
dalam kitab-kitab klasik selama ini. Dalam perkembangannya
belakangan ini, tentu lingkup kajian fiqh sudah berkembang
lebih luas lagi, dan akan terus berkembang sejalan dengan
perkembangan jaman dan dinamika masyarakat. Kajian fiqh
tidak lagi terbatas pada masalah ibadah, muamalah,
munakahah, warits, jinayah, dan siyasah, tetapi berkembang
meliputi bidang-bidang kehidupan lain yang lebih spesifik.
Karena itu, belakangan ini muncul apa yang disebut dengan
misalnya Fiqh Perempuan, Fiqh Sosial, Fiqh Kesehatan, dan
Fiqh Lingkungan Hidup, yang mengkaji masalah-masalah
tersebut dari perspektif fiqh (hukum Islam). Bahkan, yang
lebih menarik lagi adalah munculnya Fiqh Lintas Agama yang
menawarkan pluralisme, inklusifisme, dan liberalisme dalam
bidang fiqh. Fenomena ini mempertegas dan memperkuat
habitat fiqh yang dinamis (dapat berubah sesuai dengan
perubahan keadaan, taghayyur bi taghayyuri al-amkinati, wa
al-azminati wa al-ahwâl), sekaligus memperlihatkan
perannya sebagai pengawal dan pedoman bagi kehidupan
kontemporer, agar perilaku kehidupan manusia senantiasa
berada dalam sinaran nilai-nilai ilahi.

Fiqh Kontroversial, Kenapa?


Fiqh, dengan karakteristik seperti disebutkan di atas,
sangat kaya dengan nuansa kontroversi atau keragaman
pendapat (khilafiyah). Sebab utamanya, seperti telah
disebutkan berulang kali, adalah karena fiqh merupakan hasil
pemikiran atau hasil pemahaman. Sebagai hasil pemikiran,
maka rumusan hukum fiqh dapat berbeda antara ulama yang
satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut disebabkan oleh
banyak faktor, antara lain sebagai berikut:
Pertama, karena perbedaan dalil yang ditemukan/ dipilih,
termasuk di dalamnya perbedaan penilaian terhadap dalil,
yang menyebabkan suatu dalil dipilih oleh ulama yang satu
6

dan ditinggalkan oleh ulama yang lain. Atau, sebaliknya. Hal


ini sangat dimungkinkan, karena seringkali suatu peristiwa
hukum memiliki dalil yang tidak satu, alias banyak yang bisa
dijadikan dalil. Misalnya, untuk pelaksanaan shalat. Kita
diperintahkan untuk shalat seperti shalat Rasulullah SAW
(Shallu kama roaitumuni ushalli).Persoalan timbul ketika
hadits tentang bagaimana Rasulullah shalat ternyata tidak
hanya satu, dan satu sama lain berbeda isinya. Seperti
tmengenai cara Rasul mengangkat tangan dalam takbirat al-
ihram, dalam satu hadits dikatakan sampai sejajar dada,
dalam hadits lain sampai pundak dan dalam hadits lainnya
lagi sampai sejajar dengan telinga. Demikian pula dalam
bacaan do’a iftitah, bacaan basmalah, fatihah, bacaan ruku’
dan sujud. Masing-masing dalilnya tidak hanya satu, dan itu
berbeda satu sama lain.
Perbedaan dalil bukan hanya terjadi pada level yang
setara, hadits dengan hadits, seperti pada contoh di atas,
tetapi banyak pula terjadi antara dalil al-Quran dengan al-
Hadits. Seperti Q.S. al-Baqarah: 178 yang memerintahkan
untuk berwasiat kepada orang tua dan kerabat, sementara
al-Hadits melarang berwasiat kepada ahli waris. Dalam
konteks seperti ini, maka para ulama dengan alasannya
sendiri memilih dalil yang dinilainya lebih kuat, sementara
ulama lainnya dengan alasannya pula memilih dalil yang lain
lagi, yang juga dianggapnya lebih kuat. Maka, hukum yang
ditetapkan oleh masing-masing ulama itu akan berbeda,
sesui dengan dalil yang dipilihnya.Dengan demikian, ketika
ada dua atau tiga dalil, maka hukumnya pun bisa ada dua
atau tiga macam. Menjadi aneh, ketika dalilnya ada dua atau
lebih, kok hukumnya harus satu macam saja.
Kedua, karena perbedaan pemahaman terhadap dalil.
Mungkin saja, dalil untuk suatu masalah hukum itu hanya
ada satu, tetapi pemahaman terhadap dalil itu bisa berbeda
antara ulama yang satu dengan ulama lainnya. Contohnya,
masalah wudlu. Dalilnya dalam al-Quran hanya satu, yaitu
ayat 6 surah al-Maidah, yang menyatakan bahwa “apabila
kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu
dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu
dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki”. Tetapi,
7

karena para ulama berbeda dalam memahami ayat itu,


maka formulasi fardlu wudlu ada beberapa versi. Ada yang
menyatakan, bahwa fardlu wudlu itu ada empat dan ada
enam; sementara versi lain mengatakan ada tujuh, ada
delapan, dan lebih dari itu.
Perbedaan pemahaman terhadap dalil itu terjadi karena
berbagai sebab, tetapi yang paling banyak disebabkan
karena perbedaan pemahaman terhadap makna huruf dan
makna lafaz yang ada pada dalil bersangkutan. Perbedaan
tentang fardlu, seperti dicontohkan di atas, sebabnya adalah
karena perbedaan dalam memaknai huruf athaf wau. Imam
Abu Hanifah memaknai wau itu “li al-jam’i faqath”, hanya
menunjukkan bahwa wudlu itu terdiri atas empat anggota
badan yang disebut di dalam ayat; karena itu menurutnya,
fardlu itu hanya empat. Sementara Imam Syafi’i, Malik dan
Ahmad ibn Hanbal mengartikan tidak hanya li al-jam’i tetapi
juga li at-tartib, berurutan. Karenanya, fardlu wudlu
ditambah dengan tartib. Bahkan, Imam Malik menambahkan
lagi dengan muwalah (berturut-turut) karena wau athaf itu
juga bermakna li al-tawalli, berturut-turut (sebelum kering
anggota wudlu yang satu harus segera dibasuh/ disapu
anggota berikutnya). Maka, otomatis jumlahnya bertambah
lagi. Demikian seterusnya.
Sebab lain, karena ulama yang satu memaknai lafaz
tertentu secara hakiki, ulama lain memaknainya secara
majazi (kiasan). Seperti lafaz lamastum al-nisa’. Imam Syafi’i
mengartikan secara hakiki, karenanya batal wudlu hanya
dengan bersentuhan kulit laki-laki dengan perempuan.
Sedangkan Imam Abu Hanifah mengartikannya secara
majazi, yang maksudnya jima’ (setubuh), sehingga dengan
hanya bersentuhan wudlu tidak batal. Wudlu baru batal
apabila melakukan jima’.
Selain itu, perbedaan bisa disebabkan karena lafaz dalil
itu sendiri memiliki makna ganda (musytarak), seperti lafaz
quru’ pada kalimat tsalatsata quru’ (Q.S. al-Baqarah: 228),
yang berarti suci dan haid. Ulama Syafi’iyah memaknai lafaz
itu dengan arti suci, sehingga lamanya masa iddah itu adalah
tiga kali suci. Sedangkan Hanafiyah mengartikannya dengan
8

haid, sehingga masa iddah adalah tiga kali haid, bukan tiga
kali suci.
Di samping faktor-faktor di atas, masih ada beberapa
sebab lain, yang menjadi menyebabkan terjadinya
perbedaan rumusan fiqh itu, antara lain adalah perbedaan
dalam mengambil konsekuensi dari penunjukan suatu dalil.
Apakah redaksi perintah (amr) pada dalil itu mengandung
konsekuensi hukum wajib atau sunnah saja. Demikian dalam
redaksi larangan (nahy), apakah menunjukkan hukum haram
atau makruh saja. Atau, apakah dalil tersebut harus diartikan
secara tekstual, atau bisa secara kontekstual. Perbedaan
semacam ini membawa konsekuens yang signifikan terhadap
kemungkinan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam
formulasi fiqh.
Ketiga, karena berbeda metode yang digunakan.
Terdapat sejumlah metode yang biasa digunakan oleh para
ulama di dalam menetapkan hukum. Di antaranya adalah
metode qiyas, istihsan dan al-mashlahah al-mursalah. Para
ulama tidak seluruhnya sepakat bahwa metode-metode itu
dapat digunakan. Abu Daud al-Dhahiri misalnya. Ia tidak mau
menggunakan qiyas, karena itu bangkai tiku yang jatuh ke
dalam benda cair selain minyak sapi, dinilai tidak
menajiskannya. Sebab, hadits Nabi SAW hanya mengatakan
bahwa yang najis adalah ketika tikus masuk ke minyak sapi,
dan itu tidak bisa diqiyaskan kepada benda cair lainnya.
Pandangan tersebut berbeda dengan ulama lain (Imam
Syafi’i) yang mengakui metode qiyas sebagai sumber hukum
Islam. Contoh lain adalah ulama Malikiyah. Dengan dasar al-
mashlahah al-mursalah, mereka membolehkan membunuh
orang Islam yang dijadikan perisai oleh musuh untuk
menghancurkan Islam. Sementara jumhur ulama tidak
membolehkannya karena mereka tidak menerima al-
mashlahah al-mursalah sebagai dalil.
Keempat, karena perbedaan konsep masalah dan aspek-
aspek yang dipertimbangkan ketika hukum itu dirumuskan.
Misalnya, perbedaan tentang boleh tidaknya pluralisme,
tergantung bagaimana pluralisme itu didefinisikan. MUI
mendefinisikan pluralisme sebagai faham yang mengajarkan
bahwa semua agama itu sama, maka dengan semangat
9

memelihara akidah dan integrasi umat, pluralisme


dinyatakan bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan
umat Islam diharamkan mengikutinya.1 Sementara itu,
kalangan pluralis mendefinisikan pluralisme sebagai faham
yang memandang bahwa pada dasarnya agama-agama itu
berbeda, tetap semuanya memiliki ajaran yang sama tentang
keharusan memelihara perdamaian dan kasih sayang.
Pluralisme adalah faham yang memandang bahwa pluralitas
itu merupakan realitas, dan masing-masing memiliki hak
untuk diyakini dan diimani oleh penganutnya masing-masing.
Dengan pengertian seperti ini, maka pluralisme bukan saja
tidak haram, tetapi boleh jadi merupakan suatu keniscayaan.
Dilihat dari berbagai sudut pandang seperti di atas,
kiranya menjadi jelas bahwa perbedaan dalam rumusan fiqh
bukanlah suatu keanehan, melainkan suatu kewajaran,
bahkan mungkin suatu kemestian. Ketika penilaian dan
pemahaman terhadap dalil itu berbeda, masa hukum yang
dikeluarkannya harus sama. Demikian juga ketika berbeda
persepsi tentang konsep masalah yang hendak dicarikan
hukumnya, metode yang digunakannya, dan aspek yang
dipertimbangkannya ketika hukum itu dirumuskan, maka
sudah tentu produk hukum yang dihasilkannya pun akan
berbeda. Yang aneh, justru apabila hukum Islam hanya satu
macam, bukan ketika ada dua atau beberapa macam. Hukum
yang macam-macam itu mungkin saja (dalam perspektif
tertentu) salah satunya yang benar, atau semuanya salah,
tetapi boleh jadi benar semuanya. Siapa tahu? Biarlah Allah
SWT, sesuai dengan firman-Nya, yang akan memutuskan di
hari akhirat nanti, mana yang benar di antara sekian
kemungkinan benar yang berbeda-beda itu (Q.S. al-Baqarah:
113). Setelah dimaklumi bahwa kontroversi dan perbedaan
rumusan fiqh merupakan sesuatu yag niscaya, maka
berikutnya yang lebih penting lagi adalah memaklumi
bagaimana menyikapi kontroversi hukum yang bermacam-
macam itu.

1
Majelis Ulama Indonesia, Fatwa Munas VII Majelis Ulama Indonesia. Jakarta: MUI,
2005.
10

Menyikapi Kontroversi Fiqh, Bagaimana?


Salah satu cara untuk menyikapi kontroversi fiqh adalah
menerima kontroversi itu sebagai realitas, dan menjadikan
keseluruhannya sebagai pilihan-pilihan hukum, atau sebagai
fiqh alternatif. Maksudnya, fiqh yang hukumnya tidak satu
macam itu, mungkin dua, tiga atau beberapa macam itu,
semuanya dipandang sebagai pilihan-pilihan benar, yang
boleh diambil sesuai dengan kecenderungan nurani dan
kebutuhan yang memilihnya, tanpa harus merasa bersalah
apalagi menyalahkan orang lain yang berbeda pilihannya.
Dengan demikian, fiqh alternatif itu adalah fiqh yang macam-
macam. Yakni, fiqh yang memuat berbagai masalah fiqh
dalam berbagai pandangan fuqaha, yang semuanya dapat
dipilih sebagai alternatif. Hal itu berlaku untuk seluruh
masalah yang masuk dalam wilayah kajian fiqh, baik dalam
bidang ibadah, muamalah, munakahah, jinayah, waris,
siyasah, maupun bidang-bidang fiqh lainnya.
Perlu disadari, bahwa untuk sebagian besar umat Islam
tidak mudah memahami adanya fiqh yang beragam seperti
ini, apalagi untuk menerima seluruhnya sebagai realitas,
sebagai pilihan-pilihan benar, sebagai fiqh alternatif, yang
boleh dipilih oleh siapa pun dalam keadaan bagaimana pun.
Sampai saat ini masih banyak orang yang merasa bingung
dan cenderung menganggap aneh, kalau formulasi hukum
Islam (fiqh) bermacam-macam, atau berbeda-beda
rumusannya. Dalam pandangan mereka, hukum Islam itu
seyogyanya hanya satu macam, sama untuk semua kaum
Muslimin di mana pun, karena bersumber dari al-Qur’an dan
hadits Nabi yang sama. Bagi mereka, nampaknya sulit untuk
dapat memahami adanya formula fiqh yang berbeda-beda,
apalagi untuk mengakui adanya fiqh Indonesia, fiqh Arab,
atau fiqh daerah-daerah tertentu. Kalau pun diakui bahwa
faktanya memang banyak kasus yang dihukumi berbeda oleh
fuqaha, yang benar mestilah hanya satu. Kemudian, secara
terang-terangan atau tidak, biasanya orang mengklaim
bahwa yang satu benar itu adalah yang menjadi pilihannya.
Pilihan orang lain, yang berbeda dengan pilihannya itu
pastilah salah. Masih sulit bagi mereka untuk mengakui
apalagi mengamalkan fiqh yang berbeda-beda dalam posisi
11

yang setara. Masih kuat anggapan bahwa memilih fiqih itu


harus satu macam; tidak boleh memilih lebih dari satu,
apalagi pindah-pindah pilihan. Dalam pandangan mereka,
memilih lebih dari satu macam fiqh, atau berpindah-pindah
dari satu fiqh ke fiqh yang lain disebut talfiq, dan itu haram
hukumnya.
Begitulah kira-kira pandangan umat Islam selama ini
dalam menyikapi perbedaan dan keberagamanan rumusan
hukum Islam (fiqh). Maka, fiqh terkesan menjadi sangat kaku,
bahkan sepanjang sejarahnya lebih sering menjadi pemicu
konflik daripada sebagai pemersatu. Perbedaan fiqh lebih
nampak sebagai pembawa laknat, daripada sebagai rahmat.
Inilah kondisi yang harus segera diakhiri, dengan
mendudukkan fiqh secara proporsional sesuai dengan
karakteristik dan habitatnya.
Bagian paling penting yang perlu dipahami dan
digarisbawahi tentang karakteristik fiqh, dan karena itulah
mengapa perlu ditegaskan lagi, adalah perbedaan dan
keberagaman. Kapan pun dan pada bidang apa pun dari
kajian fiqh, hal yang tidak dapat dihindari adalah adanya
perbedaan-perbedaan atau kontroversi-kontroversi di
dalamnya. Perbedaan dan kontroversi itu tidak perlu
dihindari, apalagi dimusuhi, tetapi harus didekati dan
diselami agar ia membawa rahmat, bukan membawa laknat.
Perbedaan dapat membawa laknat ketika perbedaan itu
menjadi konflik dan permusuhan. Konflik dan permusuhan
sangat mungkin terjadi ketika masing-masing pihak
mengklaim bahwa yang benar adalah yang menjadi
pilihannya. Sesungguhnya, tidak menjadi masalah orang
mengklaim atau beranggapan bahwa fiqh yang menjadi
pilihannya merupakan fiqh yang benar. Asalkan, tidak disertai
tudingan bahwa yang berbeda dengan pilihannya adalah
salah. Tudingan yang selalu menganggap salah pada pilihan
orang lain inilah yang menjadi persoalan. Karena, klaim dan
tudingan semacam itu bukan saja tidak realistik dan tidak
kondusif bagi perkembangan fiqh, pada tingkat tertentu
dapat mengganggu ukhuwwah (persaudaraan) sesama
Muslim. Bukankah memelihara ukhuwwah itu wajib
hukumnya? Kalau begitu, wajib pula untuk mencari solusi
12

bagaimana agar fiqh dapat berkembang tanpa harus


mengganggu ukhuwwah, bahkan bila mungkin turut memberi
konstribusi dalam memperkuat semangat ukhuwwah itu.
Fiqh Alternatif merupakan salah satu ikhtiar ke arah itu.
Wacana yang dikembangkan adalah wacana fiqh inklusif
(kalau boleh digunakan istilah ini) atau fiqh muqaran (fiqh
perbandingan). Dengan wacana seperti ini diharapkan umat
Islam memperoleh gambaran utuh dan proporsional tentang
karakteristik fiqh, yang sejatinya memang kaya dengan
nuansa perbedaan. Berkaitan dengan itu, maka sikap yang
dikembangkan adalah sikap toleran seperti yang dimiliki oleh
ulama dahulu (mutaqaddimun). Ungkapan yang perlu
diwarisi dari tradisi akademik mereka adalah: “Mazhabku
benar, tapi tidak tertutup kemungkinan salah; sedangkan
mazhabmu salah tetapi terbuka kemungkinan benar”.
Dengan upaya ini, diharapkan kaum Muslim dapat lebih
toleran terhadap perbedaan, dan dapat menerima
perbedaan-perbedaan itu sebagai kenyataan, bahkan
keharusan. Lebih jauh, diharapkan umat Islam semakin
terbiasa untuk sepakat dalam perbedaan atau sepakat dalam
ketidaksepakatan, sebagai prasyarat bagi terjalinnya
ukhuwwah dalam arti yang sesungguhnya. Inilah makna
tersirat yang ingin digapai melalui tulisan ini.
Upaya untuk mengembangkan fiqh alternatif memerlukan
jiwa besar, selain wawasan fiqh yang luas, agar yang
bersangkutan tidak terjebak pada pemihakan kepada salah
satunya. Dalam konteks ini, yang lebih dikedepankan adalah
pengungkapan tentang sebab-sebab terjadinya kontroversi di
kalangan fuqaha pada setiap bidang kajian, tanpa harus
memihak kepada salah satu. Contoh yang sudah merintis
model ini adalah Ibnu Rusyd melalui karya menumentalnya,
Bidayat al-Mujtahid, yang banyak mengilhami sekaligus
menjadi obsesi tulisan ini.
Hal yang juga perlu digarisbawahi adalah bahwa pendekatan
fiqh alternatif tidak mesti menawarkan pilihan tertentu dari
sejumlah kemungkinan benar yang ada, yang harus dipilih,
semata-mata karena ingin menempatkan fiqh secara
proporsional. Maksudnya, karena secara metodologis, dari
perspektif fiqh maupun ushul fiqh, rumusan fiqh yang
13

ditawarkan fuqaha itu ada kemungkinan benar seluruhnya,


setidaknya dalam perspektifnya masing-masing, maka
rumusan manapun sah dan dapat dipilih. Paparan fiqh
alternatif berhenti sampai dengan penyajian tentang
rumusan fiqh dari setiap fuqaha, alasan-alasannya, dan
sebab-sebab terjadinya perbedaan (kontroversi) di antara
mereka pada masalah bersangkutan. Sampai di situ, kiranya
pembaca sudah cukup memiliki bahan untuk menentukan
pilihan sendiri. Dengan demikian, soal pilihan tentang
rumusan fiqh mana yang akan diambil sepenuhnya
dipersilakan kepada individu atau komunitas Muslim
bersangkutan, sesuai dengan kecerdasan dan
kecenderungan masing-masing. Pendekatan fiqh alternatif
cukup dengan meyakinkan, bahwa pilihan mana pun, sejauh
pilihan itu masih berdasarkan pada al-Quran dan al-Sunnah,
insya Allah merupakan pilihan yang benar, setidaknya bukan
sesuatu yang sesat atau menyesatkan. Jaminan Rasulullah
SAW, “fa lan tadlillû abadâ”, tidak akan sesat untuk
selamanya!
Kalaupun ingin menyarankan, maka ambillah yang lebih baik
atau yang terbaik.dari sekian pilihan yang tersedia. Misalnya,
dalam menyikapi kontroversi tentang batal tidaknya wudlu
karena bersentuhan dengan lawan jenis. Dalam persektif
fiqh, hukumnya kontroversial, bisa batal dan bisa tidak batal;
tergantung perspektif mazhab mana yang dianut. Maka,
dalam kasus ini, yang lebih baik adalah berwudlu lagi, sebab
dengan itu ada tambahan amal, yaitu wudlu yang notabene
merupakan ibadah tersendiri bilamana dilakukan.. Atau,
ikutilah sikap Abu Hanifah. Ketika ditanya tentang hukum air
comberan (air hujuan yang tergenang dan mengenai
pakaian), ia katakan bahwa air itu suci, sehingga pakaian
yang terkena air tersebut tidak harus dicuci. Namun, ketika
air itu mengenai pakaiannya, ternyata Abu Hanifah mencuci
pakaian tersebut. Saat dipertanyakan kembali, ia menjawab:
“Dzalika fatwa wa hadza taqwa”, itu adalah fatwa, dan ini
adalah taqwa. Rupanya, meskipun air comberan itu tidak
najis, Abu Hanifah merasa lebih baik apabila mencucinya. Ia
merasa tidak/ kurang sreg memakai kain yang kotor,
meskipun tidak najis. Inilah sikap ihsan, memilih yang
14

terbaik dari sejumlah pilihan yang ada; dan sikap demikian


merupakan indikator kualitas ketaqwaan. Jadi, yang dipilih
adalah yang lebih baik atau lebih sreg, bukan yang lebih
benar, karena tidak mudah mencari yang lebih benar, atau
karena dalam fiqh peluang kebenarannya sama, relatif.
Walaupun tentu saja, pandangan seperti ini pun
kontroversial.
Lepas dari kemungkinan tawaran fiqh alternatif ini yang
bisa kontroversial, setidaknya pendekatan dapat
menawarkan alternatif bagaimana menyikapi berbagai
hukum fiqh yang kontroversial itu. Belajar dari literatur, ada
beberapa teori yang telah ditawarkan oleh para ahli dalam
menyikapi masalah tersebut. Pertama, metode tarjih.
Dengan metode ini, hukum diambil mana yang lebih kuat
(rajih) dalilnya, dan hukum yang dianggap tidak kuat atau
lemah (marjuh) diabaikan. Prosesnya, diawali dengan
penelitian terhadap sejumlah dalil yang ada dari berbagai
aspeknya, mulai dari otentisitas dalil tersebut, ketegasan
dalalah (kandungan maknanya), kualifikasi perawinya,
maupun kesinambungan sanadnya. Dalil yang dinilai unggul
dalam beberapa aspek yang dinilai, itulah yang dipilih atau
diunggulkan. Kalaupun dinilai sama kuatnya, masih bisa
dilihat dari segi asbab al-nuzul atau asbab al-wurud dalil itu,
termasuk dari segi waktu turunnya. Dalil yang datang
belakangan lebih diunggulkan daripada yang datang lebih
awal, sebagaimana dikenal dalam teori nasakh
(penghapusan atau penangguhan dalil yang datang lebih
dulu oleh dalil yang datang kemudian). Namun demikian,
hasil dari metode ini masih menyisakan persoalan karena
dalam realitasnya seringkali terdapat penilaian yang berbeda
dalam menetapkan dalil mana yang dianggap unggul dari
sejumlah dalil yang tersedia. Ulama yang satu menilai dalil
tertentu yang rajih, sementara ulama lain menganggap yang
rajih adalah dalil yang lain, bukan yang dianggap rajih oleh
ulama pertama. Sehingga, hasil dari motede ini tetap
kontrovesial dan potensial menimbulkan konflik.
Kedua, metode jam’u, atau metode kompromi. Dengan
metode ini, sejumlah dalil yang kontroversial diupayakan
untuk dicarikan titik temu agar sedapat mungkin kedua dalil
15

yang kontroversial dapat dipertemukan dan dapat diamalkan


keduanya. Misalnya, ketika ada dalil yang membatalkan
wudlu karena bersentuhan dengan lawan jenis atau karena
menyentuh kemaluan, dan di pihak lain ada dalil yang tidak
membatalkannya; maka untuk mengkompromikannya
ditetapkan hukum “lebih baik berwudlu”. Tapi, persoalannya
tidak semua dalil dapat dikompromikan seperti itu. Maka,
perlu dicari cara yang lain. Cara kompromi lainnya itu adalah
dengan mengabaikan kedua dalil yang bertentangan itu,
yang dikenal dengan istilah mauquf atau tawaquf. Cara ini
diambil sesuai dengan kaidah al-khuruj min al-khilaf
mustahab” keluar dari khilafiyah dianjurkan). Dengan cara
ini, dalil-dalil yang bertentangan dianggap tidak ada, dan
karenanya tidak ada yang diamalkan.
Kedua metode yang sangat populer di kalangan ulama
ushul itu, tanpa disadari telah “memakan korban” berupa
hilangnya atau tidak dipakainya sejumlah dalil karena
dianggap lemah atau tidak diunggulkan. Bahkan, hanya
karena pertimbangan datangnya lebih dahulu atau karena
kredibilitas pembawa dalilnya (perawi atau sanadnya).
Padahal, boleh jadi subtansi atau pesan yang terkandung
dalam dalil itu sendiri positif, konstrktif, atau maslahat bagi
kehidupan. Lebih dari itu, adalah implikasinya yang dapat
menimbulkan konflik berkepanjangan, karena masing-masing
memiliki klaim paling benar, atau masing-masing mengaku
berdasarkan pada dalil yang paling rajih. Padahal, semua
klaim benar dan rajih itu bersifat ijtihadi, sehingga ulama
yang satu dengan lainnya dapat berbeda dalam menilai dalil
mana yang lebih unggul atau lebih shahih itu, termasuk
kesimpulan benar yang dihasilkan dari dalil-dalil tersebut.
Atas dasar itu, kiranya layak untuk dipertimbangkan cara
lain untuk menyikapi dalil-dalil yang kontroversial itu, yaitu
dengan melihat semuanya sebagai pilihan-pilihan dalil dan
pilihan-pilihan hukum yang boleh dipilih dan diamalkan
sesuai dengan keinginan, atau sesuai dengan kebutuhan dan
kemaslahatan. Cara itulah yang diajukan Fiqh Alternatif ini.
Dengan cara itu, maka pertimbangannya lebih pada
kebutuhan “pragmatis” atau kebutuhan kemaslahatan
daripada pada penilaian terhadap keunggulan dalilnya.
16

Misalnya, dalam soal ibadah, pilihannya adalah mana yang


lebih sreg atau lebih menenteramkan hati, dan lebih
membawa taqarrub (kedekatan) kepada Allah. Bila Imam
Syafi’i berprinsip “jika hadits shahih itulah madzhabku” (Idza
shahha al-hadits fahuwa madzhabi), maka prinsip yang
dipegang oleh pendekatan ini kurang lebih adalah “bila nyata
ada mashlahat itulah madzhabku” (idza shahhat al-
mashlahat fahuwa madzhabi).
Berdasarkan pada paradigma ini, maka semua alternatif
hukum yang ada dapat dipilih sebagai alternatif-alternatif
fiqh, sebagai alternatif atau pilihan-pilihan benar yang boleh
dipilih dan diamalkan oleh siapa pun dan dalam keadaan
bagaimana pun, sepanjang semuanya memiliki dalil dari al-
Quran dan al-Sunnah. Atau, sepanjang mengandung
kemashalahatan yang tidak bertentangan dengan kedua
sumber hukum tersebut. Kebolehan memilih dari sekian
pilihan yang ada dalam al-Qu’an dan al-Sunnah, atau spirit
yang ada atau digali dari keduanya itu, sejalan dengan sabda
Rasulullah SAW, “Ma in tamassaktum bihima fa lan tadlillu
abada”. Bahwa, “sepanjang berpegang teguh pada kedua
pusaka yang ditinggalkannya, al-Quran dan al-Sunnah, kalian
tidak akan sesat selamanya”.
Atas jaminan Rasul SAW yang sangat tegas dalam hadits
itu, maka terbuka pilihan yang bebas bagi siapa pun untuk
memilih salah satu atau sejumlah pilihan tertentu, bahkan
berpindah-pindah dari pilihan yang satu kepada pilihan yang
lain dari sekian pilihan yang tersedia, sepanjang pilihan itu
ada dasarnya dari al-Quran atau al-Sunnah, atau
dimungkinkan oleh kedua sumber hukum Islam itu. Tidak
masalah, apakah pilihan itu sesuai atau tidak sesuai dengan
pendapat ulama mazhab atau kiyai tertentu.

Fiqh Alternatif, Apa Perlunya?


Adalah kenyataan, bahwa corak Islam Indonesia adalah
Islam fiqh. Indikatornya dapat dilihat melalui lembaga
pendidikan pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan
Islam lainnya. Hampir semua lembaga pendidikan Islam
(terutama di pondok pesantren salaf, tradisional) di tanah air
17

mengajarkan kitab atau pelajaran fiqh. Posisinya, seolah


menjadi pelajaran wajib. Indikator lainnya terlihat pada
pertanyaan-pertanyaan yang muncul di berbagai media,
mediaa cetak maupun elektronik. Ketika dibuka rubrik tanya
jawab keislaman, sebagian besar pertanyaan yang muncul
berkisar sekitar masalah-masalah fiqh. Mulai dari soal-soal
bersuci, sampai masalah zakat dan pembagian waris.
Mengenai soal bagaimana bersuci bagi orang yang sakit, soal
mandi junub yang kesiangan di bulan ramadlan, sampai
masalah perkawinan beda agama, dan masalah-masalah
kehidupan sosial kemasyarakatan sehari-hari lainnya.
Bahkan, belakangan ruang lingkupnya pun semakin meluas,
tidak lagi sebatas perbuatan (amaliyah), tapi merambah
pada wilayah pemikiran dan idiologi. Contohnya, tentang
pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama yang
belakangan ini (2005) difatwakan haram hukumnya oleh
Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Wacana fiqh begitu dominan mewarnai wacana dan
hazanah pemikiran keislaman sepanjang masa, sejak masa
awal Islam maupun pada masa modern sekarang ini. Begitu
dominannya masalah fiqh, dan begitu besarnya tuntutan
masyarakat untuk mendapat layanan, bimbingan, dan
kejelasan status hukum mengenai bidang-bidang kehidupan
yang dihadapinya, maka kredibilitas seorang kiayi, ulama,
ustadz, muballigh, dai, atau pakar Islam seringkali diukur
oleh seberapa luas wawasan pengetahuan dan
penguasaannya terhadap bidang fiqh ini. Ekstrimnya,
kompetensi dan kepakaran seorang kiayi dan ahli agama itu
bisa diragukan dan dipertanyakan bila tanpa menguasai
bidang fiqh.
Secara historis, corak dan nuansa pemikiran fiqh mulai
mendominasi wacana intelektual dan kehidupan keagamaan
umat Islam Indonesia diduga terjadi setelah munculnya
ormas-ormas keagamaan modern seperti Muhammadiyah
(1912), Nahdlatul Ulama (1923), dan Persatuan Islam ( l926).
Ormas-ormas keagaman itulah yang secara kultural banyak
mewacanakan masalah-masalah fiqh. Melalui lembaga-
lembaga pendidikan yang dimilikinya, masing-masing ormas-
ormas ini mengajarkan dan mengembangkan corak fqih
18

tertentu yang berbeda satu dengan lainnya, yang kemudian


secara fanatik diikuti dan dikembangkan oleh para
pengikutnya masing-masing. Dalam konteks ini, secara
sengaja atau pun tidak, langsung atau tidak langsung,
ormas-ormas Islam telah memberi konstribusi positif dan
signifikan bagi perkembangan fiqh di tanah air.
Bidang studi fiqh dianggap penting untuk dipelajari dan
dikembangkan dengan beberapa alasan: Pertama, karena
fiqh berhubungan dengan perilaku keagamaan dan
kehidupan manusia sehari-hari, mulai dari bangun tidur,
makan, bekerja, sampai dengan tidur lagi, baik dalam
kedudukan dan peran sebagai individu dalam kaitannya
dengan Sang Pencipta, Allah SWT, maupun sebagai anggota
masyarakat. Setiap individu dan masyarakat Muslim
berkepentingan untuk mengetahui fiqh, baik untuk
kepentingan keilmuan dan keagamaan maupun untuk
keperluan legalitas dan legitimasi hukum Islam atas segenap
perilaku yang dilakukannya.
Kedua, karena corak Islam Indonesia secara sosiokultural
dan intelektual sangat kental dengan nuansa fiqh. Salah satu
indikatornya adalah bahwa fiqh menjadi bidang studi “wajib”
di hampir seluruh pondok pesantren dan sekolah-sekolah
agama. Kemudian, pada hampir setiap pengajian dan tanya
jawab keagamaan, baik yang langsung maupun melalui mass
media, selalu didominasi oleh berbagai pertanyaan seputar
masalah fiqh. Dengan demikian, studi fiqh diperlukan bagi
pengembangan fiqh, agar ia tetap eksis dan survive sejalan
dengan dinamika kehidupan manusia yang
membutuhkannya.
Ketiga, karena fiqh sarat dengan potensi konflik. Hal ini
terkait dengan karakteristik fiqh yang kaya dengan
perbedaan pendapat (ikhtilaf). Secara sosiologis, perbedaan
pendapat dan perbedaan formula fiqh pada tingkat tertentu
telah menimbulkan berbagai konflik antara pengikut yang
satu dengan pengikut lainnya. Sehingga tidak berlebihan,
bila sejarah fiqh dinilai identik dengan sejarah konflik. Kesan
ini memang memberi kontribusi bagi popularitas fiqh,
sehingg ia menjadi sangat populer di dunia Islam. Namun,
bersamaan dengan itu, kesan tersebut sangat tidak kondusif
19

bagi pengembangan fiqh, karena dapat menimbulkan sikap


apriori terhadapnya, terutama terhadap berbagai persoalan
khilafiyah (kontroversial) dalam fiqh. Dengan alasan untuk
menghindari konflik di kalangan umat, orang pun dilarang
berbicara soal-soal khilafiyah. Indikasinya nampak pada
kuatnya himbauan agar “para muballigh dan ustadz jangan
mengangkat masalah-masalah khilafiyah”, sehingga
masalah-masalah fiqh yang kontroversial cenderung
disembunyikan, tanpa penjelasan secara rasional dan
proporsional. Masalah-masalah kontroversial yang dianggap
sebagai potensi dan sumber konflik itu pun dibiarkan tumbuh
ibarat api dalam sekam. Maka, implikasinya, wujud
ukhuwwah di kalangan ummat Islam hanya bersifat artifisial,
basa-basi. Ukhuwwah dalam arti sesungguhnya sulit
terwujud, karena hal itu mensyaratkan adanya sikap toleran
terhadap perbedaan, yakni kesiapan untuk berbeda
pendapat, sepakat dalam ketidaksepakatan atau sepakat
dalam perbedaan (agree in disegreement).
Sehubungan dengan itu, maka sejalan dengan
kedewasaan masyarakat yang semakin baik dalam menyikapi
perbedaan, sudah saatnya dan sepatutnya fiqh dikaji secara
transparan, terutama aspek-aspek fiqh yang kontroversial.
Persoalan ini perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak
yang kompeten, khususnya dari para pengasuh dan peminat
bidang kajian ini. Tujuannya, agar secara proporsional fiqh
dapat terus berkembang sesuai dengan kebutuhan jaman,
tanpa harus ada yang ditutup-tutupi atau disembunyikan.
Dengan cara itu, maka fiqh akan lebih berkembang, sekaligus
menawarkan banyak pilihan hukum yang secara praktis
diperlukan, baik untuk pengembangan keilmuan maupun
bagi pemecahan berbagai persoalan kehidupan manusia,
sesuai dengan situasi dan kondisinya. Lebih dari itu, secara
sosiologis diharapkan akan dapat membangun toleransi dan
ukhuwwah islamiyah dalam arti yang lebih luas dan
sebenarnya, sekaligus mengakhiri dan menghilangkan
potensi konflik yang bersumber dari masalah-masalah
khilafiyah di bidang fiqh, yang tidak kondusif bagi soliditas
umat Islam dan kehidupan masyarakat Indonesa yang plural
20

dan multikultural, bahkan bagi perkembangan fiqh itu sendiri.


Wallahu A’lam.
21

Penutup:
Tulisan ini, betata pun sederhananya, ingin saya
persembahakan sebagai kado ulang tahun untuk guruku yang
sangat saya kagumi dan sangat saya banggakan, Prof. Atjep
Djazuli, yang pada Maret 2008 ini berulang tahun ke-70.
Semoga beliau berkenan menerimanya.
Alhamdulillah, saya merasa sangat beruntung telah
diberi kesempatan menjadi salah seorang murid Prof. Atjep
Djazuli. Selama empat tahun lebih saya menimba ilmu beliau
yang sangat luas di bidang fiqh dan ushul fiqh. Khususnya,
ketika saya menjadi mahasiswa di Fakultas Syariah IAIN
(sekarang UIN) Bandung mulai tahun 1978 sampai 1984. Di
mata kami, para muridnya, sosok Prof. Atjep bukan hanya
seorang dosen, tapi sekaligus seorang kiyai yang sangat
terpelajar, yang sangat ahli di bidangnya (fiqh dan ushul fiqh).
Saya kira, bukan hanya kesan subjektif saya, insya Allah,
semua orang yang pernah menjadi muridnya, dan siapa pun
yang pernah berdiskusi dan mendengar atau membaca pikiran
dan wawasannya, merasakan keluasan ilmu beliau.
Bagi saya pribadi, Prof. Atjep adalah seorang guru yang
banyak memberi motivasi dan inspirasi dalam memperluas
wawasan dalam bidan fiqh. Bahkan, ketertarikan saya pada
bidang studi fiqih/ ushul fiqh sejak menjadi mahasiswanya,
sedikit banyak termotivasi oleh perkuliahan beliau. Keingininan
untuk mengikuti dan meneladani jejak beliau dalam
menguasai bidang studi itu, merupakan perjuangan panjang
yang terus saya jalani sampai saat ini.
Semoga ilmu yang telah diajarkan beliau kepada saya
dan para muridnya, yang sekarang sudah ratusan bahkan
mungkin ribuan jumlahnya, dan sudah puluhan di antaranya
telah menjadi guru besar, merupakan ilmu yang bermanfaat
(yuntafa’u bih), ilmu yang barokah, selain merupakan wujud
kebermaknaan hidup dan pengabdian beliau yang patut
diteladani. Selamat ulang tahun guruku!