Anda di halaman 1dari 32

Rina Mardiati, S.Pd., M.T.

|Matematika Teknik II 1

Matematika Teknik II
Edisi Jurusan Teknik Elektro UIN SGD Bandung










Rina Mardiati, S.Pd., M.T.



Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Sain dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Bandung 2013



Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 2

Kata Pengantar

Modul ini dibuat dalam rangka membantu mahasiswa jurusan teknik elektro untuk dapat
memahami dan mempelajari mata kuliah Matematika Teknik II pada fakultas Sain dan
Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.
Mata kuliah matematika teknik II ini merupakan mata kuliah pilihan yang memiliki bobot 3
sks. Mata kuliah ini mempunyai tujuan agar mahasiswa mampu mengetahui cara
menyelesaikan permasalah matematis dalam bidang teknik yang dipakai sebagai landasan
ilmu untuk mempelajari mata kuliah keelektroan pada semester berikutnya. Pada mata
kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu mengetahui bagaimana cara
mengimplementasikan materi yang didapat ke dalam mata kuliah keelektroan.
Pada modul matematika teknik II ini akan dibahas mengenai pengantar matematika teknik
II, bilangan kompleks, bentuk polar/kutub, kurva dan daerah dalam bidang kompleks, fungsi
kompleks, limit, turunan kompleks, fungsi analitik, fungsi harmonik dan sekawan, fungsi
eksponensial, fungsi logaritma dan fungsi trigonometri.
Menyadari akan ketidaksempurnaan modul ini, baik isi maupun redaksinya, penulis sangat
berharap akan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan modul ini pada masa yang
akan datang. Tak lupa pula penulis ucapkan syukur alhamdulillah kepada Allah SWT yang
telah memberikan kekuatan kepada penulis dalam menyelesaikan modul ini, sehingga
modul ini akhirnya berada di tangan Anda.
Terakhir, penulis berdoa, mudah-mudahan buku ini dapat memberikan banyak manfaat bagi
yang membacanya. Amien.

Bandung, Juli 2013

Penulis




Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 3

Daftar Isi

Halaman
Cover
Kata Pengantar.
Daftar Tabel
Daftar Gambar.
Pendahuluan Kuliah..
Bab 1 Pengantar Matematika Teknik II.......
Bab 2 Bilangan Kompleks.
Bab 3 Bentuk Polar dan Kutub....
Bab 4 Kurva dan Daerah dalam Bidang Kompleks....
Bab 5 Fungsi Kompleks.......
Bab 6 Limit....
Bab 7 Turunan Kompleks....
Bab 8 Fungsi Analitik..
Bab 9 Fungsi Harmonik Sekawan..
Bab 10 Fungsi Eksponensial..
Bab 11 Fungsi Logaritma.
Bab 12 Fungsi Trigonometri
Bab 13 Keterkaitan dengan penelitian.
Daftar Pustaka.






Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 4

Pendahuluan Kuliah

Gambaran Umum
Mata kuliah Matematika Teknik II ini merupakan mata kuliah yang diberikan kepada
mahasiswa jurusan Teknik Elektro, Fakultas Sain dan Teknologi, UIN Bandung.
Mata kuliah ini mempunyai bobot 3 sks, dengan alokasi waktu 50 menit per sks. Jadi, dalam
satu kali pertemuan mempunyai durasi waktu 3 x 50 menit = 150 menit (2 jam 30 menit).
Tujuan
Memberikan pengetahuan dasar tentang matematika teknik meliputi bilangan kompleks,
fungsi bilangan kompleks serta pemetaan konformal yang berkaitan dengan keilmuan
teknik elektro.
Topik yang Dibahas
1. Pengantar Matematika Teknik II
2. Bilangan Kompleks
3. Bentuk Polar/Kutub
4. Kurva dan Daerah dalam Bidang Kompleks
5. Fungsi Kompleks
6. Limit
7. Turunan kompleks
8. Fungsi Analitik
9. Fungsi Harmonik dan Sekawan
10. Fungsi Eksponensial
11. Fungsi Logaritma
12. Fungsi trigonometri
13. Pemetaan Konformal
Prasyarat
Prasyarat untuk mengikuti mata kuliah ini adalah:
1. Kalkulus I;
2. Kalkulus II;




Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 5

Bab 1. Pengantar Matematika Teknik II

1.1 Deskripsi Singkat

Mata kuliah ini merupakan pengantar membahas tentang : Sistem Bilangan
Kompleks, Fungsi dengan Peubah Kompleks sebagai pemetaan dari suatu
bidang kompleks ke bidang kompleks lainnya, Pemetaan Konform yang
sederhana, Pendiferensialan dan Pengintegralan Kompleks.

1.2 Kegunaan Mata Kuliah
Bagi mahasiswa mata kuliah ini dapat berguna untuk mengembangkan konsep-
konsep matematika secara mendalam serta mampu menjelaskan konsep yang
tidak dapat dijelaskan oleh mata kuliah lain, misalnya menjelaskan bilangan
negatif di bawah tanda akar. Juga berguna untuk menambah wawasan terhadap
konsep matematika secara konprehensif. Selain dari itu, mata kuliah ini berguna
sebagai fondasi ilmu untuk mengikuti mata kuliah kelektroan yang lainnya.

1.3 Tujuan Instruksional Umum
Pada akhir perkuliahan mahasiswa dapat menjelaskan dan menyelesaikan soal-
soal tentang konsep yang terkait dengan bilangan kompleks. Mahasiswa pun
ditugaskan untuk dapat mengambil intisari dari perkuliahan ini serta dapat
mengimplementasikan pada matakuliah keelektroan.



Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 6

1.4 Susunan Bahan Ajar
Bab 1 : Pengantar Matematika Teknik II
Bab 2 : Bilangan Kompleks
Bab 3 : Bentuk Polar/Kutub
Bab 4 : Kurva dan daerah dalam Bidang Kompleks
Bab 5 : Fungsi Kompleks
Bab 6 : Limit
Bab 7 : Turunan Kompleks
Bab 8 : Fungsi Analitik
Bab 9 : Fungsi Harmonik dan Sekawan
Bab 10 : Fungsi Eksponensial
Bab 11 : Fungsi Logaritma
Bab 12 : Fungsi Trigonometri
Bab 13 : Keterkaitan dengan Penelitian

1.5 Petunjuk Bagi Mahasiswa
1) Sebelum mempelajari konsep Sistem Bilangan Kompleks, mahasiswa sudah
memahami konsep bilangan, terutama konsep sistem bilangan real.
2) Sebelum mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharuskan membaca dan
mempelajari konsep yang akan dikuliahkan.
3) Ikuti penjelasan dan contoh yang diberikan dosen.
4) Setiap tugas atau latihan soal yang diberikan diusahakan kerja sendiri, dan
jika ada masalah atau hal yang belum dimengerti dapat ditanyakan melalui
teman atau dosen.




Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 7

Bab 2. Bilangan Kompleks

2.1 Aljabar Bilangan Kompleks
Definisi 2.1
Bilangan Kompleks adalah suatu pasangan terurut dari dua bilangan real x dan y
yang dinyatakan oleh (x,y). Pernyataan ini merupakan definisi formal dari
bilangan kompleks. Lambang bilangan kompleks kita gunakan huruf z yang
berarti z = (x,y) dimana x bagian real dari z (ditulis Re(z)) dan y bagian imaginer
dari z (ditulis Im(z)).
Khusus pasangan terurut (x,0) diidentifikasikan dengan bilangan real x, yaitu
(x,0) = x dan pasangan terurut (0,y) dinamakan bilangan imaginer sejati.
Selanjutnya diambil lambang I untuk pasangan terurut (0,1), yaitu = (0,1) yang
dinamakan satuan imaginer.
Definisi 2.2
Dua bilangan kompleks z
1
= (x
1
, y
1
) dan z
2
= (x
2
, y
2
) dikatakan sama, ditulis z
1
=
z
2
jika x
1
=x
2
dan y
1
= y
2
. Khususnya z = (x,y) = (0,0) jika dan hanya jika x=0 dan
y=0.
Definisi 2.3
Jika z
1
= (x
1
, y
1
) dan z
2
= (x
2
, y
2
) adalah bilangan kompleks, maka jumlah dan
hasil kali dari z
1
dan z
2
masing-masing adalah bilangan kompleks z
1
+ z
2
dan z
1

z
2
yang diperoleh dari aturan berikut.

Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 8

z
1
+ z
2
= (x
1
, y
1
) + (x
2
, y
2
) = (x
1
+ x
2
, y
1
+ y
2
)
z
1
z
2
= (x
1
, y
1
) (x
2
, y
2
) = (x
1
x
2
- y
1
y
2
, x
1
y
2
+ x
2
y
1
)
Teorema 2.1
Himpunan bilangan kompleks C memenuhi sifat-sifat lapangan, yakni :
1) z
1
+ z
2
e C dan z
1
z
2
e C, z
1
, z
2
e C
2) z
1
+ z
2
= z
2
+ z
1
dan z
1
z
2
= z
2
z
1
, z
1
, z
2
e C
3) (z
1
+ z
2
) + z
3
= z
1
+ (z
2
+ z
3
) dan (z
1
z
2
) z
3
= z
1
(z
2
z
3
), z
1
, z
2
, z
3
e C
4) z
1
(z
2
+ z
3
) = z
1
z
2
+ z
1
z
3
, z
1
, z
2
, z
3
e C
5) Ada 0 = (0,0) e C, sehingga z + 0 = z, ze C
6) Ada 1 = (1,0) = 0, 1eC, sehingga z . 1 = z, z e C
7) z = (x,y) e C, - -z = (-x, -y) e C, z + (-z) = 0
8) z = (x,y) e C, - z
-1
= (
2 2
y x
x
+
,
2 2
y x
y
+

) e C, z z
-1
= 1
Bukti Teorema 2.1 dapat dilakukan sendiri dengan berpedoman pada definisi 2.2 dan 2.3
Pada bagian berikut anda akan diperkenalkan pada penulisan lain dari bilangan
kompleks z = (x,y). Dengan identifikasi x = (x,0) dan I = (0,1) dapat diuraikan sebagai
berikut :
(0,y) = (0,1)(y,0) = iy ..(1)
z = (x,y) = (x,0) + (0,y) = x + (0,y) .(2)
Dari (1) dan (2) dapat diperoleh : z = x + iy
Demikian pula i
2
= i x i = (0,1)(0,1) = (-1,0) = -1, karena itu bilangan kompleks x = (x,y)
dapat ditulis dalam bentuk z = x + iy, dimana x dan y bilangan real dan i satuan imaginer
dengan i
2
= -1
Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 9

Contoh 1 :
Jika z = (x,y) dan 1 =(1,0), maka z x 1 = (x,y) x (1,0) = (x, iy)(1 + i0) = x + iy = z
Jika z = (x,y) dan z
-1
= (
2 2
y x
x
+
,
2 2
y x
y
+

), maka
zz
-1
= (x + iy) (
2 2
y x
x
+
,
2 2
y x
y
+

i)
=
2 2
2 2
y x
y x
+
+
+
2 2
y x
xy yx
+

i = 1 + 0i = 1
Contoh 2 :
Diberikan z
1
= 2 3i dan z
2
= -5 + i, tentukan bilangan kompleks :
(a) z
1
+ z
2
; (b) z
1
- z
2
; (c) z
1
z
2
; dan (d)
2
1
z
z

Jawab :
(a) z
1
+ z
2
= (2 3i) + (-5 + i) = (2 5) + (-3 + 1)i = -3 2i
(b) z
1
- z
2
= (2 3i) - (-5 + i) = (2 + 5) + (-3 - 1)i = 7 4i
(c) z
1
z
2
= (2 3i) (-5 + i) = 10 + 2i + 15i 3i
2
= -7 + 17i
(d)
2
1
z
z
=
i
i
+

5
3 2
= (
i
i
+

5
3 2
)(
i
i


5
5
) =
i
i i i

+ +
25
3 15 2 10
2
=
26
13 13 i +
=
2
1
+
2
1
i
Definisi 2.4
Jika z = (x,y) = x + iy bilangan kompleks, maka bilangan kompleks sekawan dari z (ditulis z
= ( x, -y) = x iy
Contoh 3 :
Jika z
1
= 3 + 4i dan z
2
= -2 5i, maka kompleks sekawan dari z
1
dan z
2
adalah z
1
=
3 4i dan z
2
= -2 + 5i
Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 10

Teorema 2.2
1. Jika z bilangan kompleks, maka :
(a) z = z
(b) z + z = 2 Re(z)
(c) z z = 2i Im(z)
(d) z z = (Re(z))
2
+ (Im(z))
2

2. Jika z
1
dan z
2
bilangan kompleks, maka :
(a)
2 1
z z + =
1
z +
2
z
(b)
2 1
z z =
1
z
2
z
(c)
2 1
z z =
1
z
2
z
(d) ) (
2
1
z
z
=
2
1
z
z
;
2
z 0 =
Bukti
Misalkan z
1
= x
1
+ iy
1
dan z
2
= x
2
+ y
2
, maka

2 1
z z + = ) ( ) (
2 2 1 1
iy x iy x + + + = i y y x x ) ( ) (
2 1 2 1
+ + + = (x
1
+ x
2
) i(y
1
+ y
2
)
= (x
1
- iy
1
) + (x
2
- iy
2
) =
1
z +
2
z
Latihan 1
1. Ubahlah bilangan kompleks berikut menjadi bentuk x + iy
a. (5 2i) + (2 + 3i) b. (2 - i) (6 3i) c. (2 + 3i)(-2 3i)
d. 6i/(6 5i) e. i
2
, i
3
, i
4
, i
5
, , i
10
f. (1 + i) / (1 i)
g. {i/(1-i)} + {(1-i)/i}
2. Jika z = -1 I, buktikan z
2
+ 2z + 2 = 0
Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 11

3. Cari bilangan kompleks z = x + iy yang memenuhi :
a. z
-1
= z b. z = -z
4. Buktikan untuk setiap bilangan kompleks z berlaku :
a. Re(z) =
2
1
(z + z ) b. Im(z) =
2
1
i(z - z )
5. Buktikan
2 1
z z +
1
z
2
z = 2 Re(
2 1
z z )
















Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 12

Bab 3. Bentuk Polar/Kutub

Bilangan kompleks juga bisa dinyatakan dalam bentuk polar yaitu dalam parameter
dan dengan hubungan sebagai berikut.


: disebut modulus z, r juga dinotasikan |z|
: disebut argumen z, biasa disingkat dengan arg z
Jadi z bisa dituliskan dalam bentuk:

Dari hubungan x,y terhadap r dan maka r dan dapat dinyatakan dalam bentuk :


Secara geometrik, r merupakan jarak titik z terhadap titik asalnya (0,0) sedangkan
merupakan sudut z yang diukur dari sumbu x positif dan tidak terdefinisi pada z=0.
Nilai prinsipil didefinisikan pada
Karena sifat dari yang berulang, seringkali kita hanya menggunakan nilai pada
selang tersebut.

Operasi Perkalian dan Pembagian
Untuk mempermudah dapat digunakan sifat operasi sebelumnya untuk
mendapatkan hasil operasi dalam bentuk polar. Diketahui

dan


Perkalian


Pembagian


Hasil operasi diatas menggunakan sifat





Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 13

Bab 4. Kurva dan Daerah pada Bidang Kompleks

Definisi
|z-a| : Jarak antara z dan a
Lingkaran C dengan jari-jari r dan pusat a dapat disajikan dalam bentuk |z-a\=r
|z-a|<r : Interior dari C
Daerah ini disebut: cakram buka dengan pusat a atau lingkungan a
|z-a|r : sebuah cakram tertutup dengan pusat a
r
1
< |z-a| r
2
: annulus terbuka atau cincin buka yaitu daerah diantara dua lingkaran
dengan jari-jari r
1
dan r
2
.
Definisi
Himpunan S disebut terbuka jika setiap titik di S memiliki cakram buka yang
keseluruhan titiknya masuk didalam S.
Himpunan terbuka S disebut tersambung jika untuk sembarang 2 titik di S dapat
dihubungkan oleh sejumlah ruas garis yang terletak si S juga.
Himpunan terbuka dan tersambung disebut domain (fungsi kompleks).











Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 14

Bab 5. Fungsi Kompleks

5.1 Fungsi
Fungsi kompleks definisinya identik dengan fungsi real satu peubah y = f(x).
Namun ada penggantian lambang peubah bebas x oleh z dan peubah tak bebas
y oleh w. Dengan demikian, maka fungsi kompleks tersebut dapat ditulis sebagai
w = f(z), dimana z pada himpunan di bidang kompleks.

Definisi 5.1.1
Misalkan D himpunan titik pada bidang z. Fungsi kompleks f adalah suatu aturan
yang memasangkan titik z anggota D dengan satu dan hanya satu titik w pada
bidang w, yaitu (z,w) fungsi tersebut ditulis w = f(z).
Himpunan D disebut domain dari f, dinyatakan oleh Df dan f(z) disebut range dari
f dinyatakan oleh Rf, yaitu himpunan f(z) untuk setiap z anggota D.

Contoh 1:
a. w = z
2
+ 10z c. w = z( + iz - z
-2

b. w = z
-1
d. w = 1/(z
2
+1) ; z = x + iy
Contoh 1a yaitu fungsi dengan domain seluruhnya di bidang z
Contoh 1b dan 1c yaitu fungsi dengan semua titik pada bidang z, kecuali di z = 0
Contoh 1d yaitu fungsi dengan domain semua tiitk pada bidang z, kecuali di z =
i
Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 15

Fungsi komposisi didefinisikan : Misalkan diketahui fungsi f dengan domain Df dan
fungsi g dengan domain Dg, jika Rf Dg = |, maka ada fungsi komposisi g(f(z)) dengan
domain suatu himpunan bagian dari Df.
Contoh 2 :
f(z) = z + i dan g(z) = z
2
z + 1 + i
Jika Rf Dg = |, maka g(f(z)) = g(2z + i)
= (2z + i)
2
(2z + i) + 1 + i
= (4z
2
+ (-2 + 4i)z
Jika Rg Df = |, maka f(g(z)) = f(z
2
z + 1 + i)
= 2(z
2
z + 1 + i) + i
= 2z
2
22z + 22 + 3i











Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 16

Bab 6. Limit

Diketahui daerah D pada bidang z dan titik z
o
terletak di dalam D atau pada
batas D. Misalkan fungsi w = f(z) terdefinisi pada D, kecuali mungkin di z
0
. Apabila
titik z bergerak mendekati z
0
melalui setiap lingkungan sebarang K dan nilai f(z)
bergerak mendekati suatu nilai tertentu yaitu w
0
, maka dikatakan limit f(z) adalah
untuk z menuju z
0
ditulis : l i m
z zo
f(z) = w
0

Definisi 2.2.1
Misalkan fungsi w = f(z) terdefinisi pada daerah D kecuali mungkin di z
0
. (titik
z
0
di dalam D dan pada batas D) limit dari f(z) adalah w
0
untuk z menuju z
0
, jika
untuk setiap c > 0, terdapat o > 0, sedemikian hingga f(z) w
0
( < c, apabila 0<z
z
0
( < o, ditulis ; l i m
z zo
f(z) = w
0

Secara simbolik
l i m
z zo
f(z) = w
0
c > 0, -o > 0 0 < z z
0
( < o f(z) w
0
( < c
Catatan perlu diperhatikan :
1) Titik z
0
tidak perlu termasuk domain fungsi f
2) Peubah z menuju z
0
melalui sebarang lingkungan K, artinya z menuju z
0
dari
segala arah.
3) Apabila z menuju z
0
melalui dua lingkungan yang berbeda saja, mengakibatkan
f(z) menuju dua nilai yang berbeda, maka limit fungsi f tidak ada untuk z menuju
z
0.

Contoh 3 :
Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 17

Buktikan l i m
z zo
f(z) = z
0
, jika f(z) = z
Bukti :
Akan ditunjukkan c > 0, -o > 0 z z
0
( < c z z
0
( < o
Jelas ada o = c, apabila z z
0
( < o, maka z z
0
( < c, berarti l i m
z zo
f(z) = z
0

Teorema 5.1
Jika fungsi f mempunyai limit untuk z menuju z
0
, maka nilai limitnya tunggal.
Bukti :
Andaikan f mempunyai dua nilai limit yakti w
1
dan w
2
dengan w
1
= w
2
.
Berarti l i m
z zo
f(z) = w
1
dan l i m
z zo
f(z) = w
2

Ambil bilangan positif c = w
1
w
2
(
Menurut definisi c > 0, -o > 0, sehingga :
f(z) w
1
( < c dan f(z) w
2
( < c
Jika 0 < z z
0
( < o
Dengan menggunakan ketaksamaan segitiga, diperoleh ;
w
1
w
2
( = w
1
f(z) + f(z) w
2
(
s w
1
f(z)( + f(z) w
2
(
< c + c = w
1
w
2
( + w
1
w
2
(
< w
1
w
2
(
Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 18

Terakhir diperoleh w
1
w
2
( < w
1
w
2
( . Hal ini tidak mungkin, berarti
pengandaian salah. Jadi limit f harus tunggal.
Teorema 5.2
Misalkan z = (x,y) = x + iy dan f(z) = u(x,y) + iv(x,y) dengan domain D.
Titik z
0
= (x
0
, y
0
) = x
0
+ iy
0
di dalam D atau pada batas D
Maka
l i m
z zo
f(z) = x
0
+ iy
0
jika dan hanya jika berlaku
l i m u(x,y) = x
0
dan l i m v(x,y) = y
0

(x,y) (x
0
,y
0
) (x,y) (x
0
,y
0
)
Buktinya akan dibahas dalam bentuk diskusi dan pemecahannya.
Teorema 5.3
Misalkan fungsi f dan F limitnya ada di z
0

l i m f(z) = w
0
dan l i m F(z) = t
0

z z
0
z z
0

Maka :
1). l i m {f(z) + F(z)} = w
0
+ t
0

z z
0

2). l i m {f(z) F(z)} = w
0
t
0

z z
0

3). l i m f(z) / F(z) = w
0
/ t
0
, t
0
= 0
z z
0

2.2 Kekontinuan
Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 19

Misalkan fungsi f(z) terdefinisi di D pada bidang z dan titik z
0
terletak pada
interior D. Fungsi f(z) dikatakan kontinu di z
0
apabila
l i m f(z) = f(z
0
)
z z
0

Teorema 5.6
Jika 1. f(z) = u(x,y) + iv(x,y)
2. f(z) = terdefinisi disetiap titik pada daerah R
3. z
0
= x
0
+ iy
0
titik di dalam R
maka fungsi f(z) kontinu jika dan hanya jika u(x,y) dan v(x,y) masing-masing kontinu
di (x
0
, y
0
).
Latihan 5
1. Tentukan nilai fungsi dari :
a. f(z) = z
2
2z + 1 ; di z = 1 + 2i
b. f(z) = (z+1)/(z-1) ; di z = -i
c. f(z) = z|
2
(Re(z))
2
; di z =3 + i
2. Jika z = x + iy, nyatakan fungsi berikut dalam bentuk u(x,y) + iv(x,y) dan u(r,u) +
iv(r,u).
a. f(z) = z
2
+ 3z
b. f(z) = iz + Im(1/z)
c. f(z) = 2 + it
3. Pada masing-masing soal berikut ada dua titik z dari suatu fungsi w = f(z).
a. z
1
= -2i; z
2
= 1 + i; w = z 2i
Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 20

b. z
1
= 2 + 2i; z
2
= 3i; w = iz
c. z
1
= 1 + i; z
2
= -4i; w = iz




















Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 21

Bab 7. Turunan

7.1 Turunan
Definisi 7.1
Jika f(z) bernilai tunggal dalam suatu daerah R di bidang z, maka turunan
fungsi f(z) didefinisikan sebagai
f(z) =
0 h
Limit

h
z f h z f ) ( ) ( +
(1)
nilai limitnya ada dan tunggal serta kontinu di h 0













Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 22

Bab 8. Fungsi Analitik

8.1 Fungsi Analitik
Definisi 8.1
Jika turunan f(z) ada di semua titik z dari suatu daerah R, maka f(z) dikatakan analitik
dalam R. Fungsi f(z) dikatakan analitik di suatu titik z
0
jika terdapat suatu lingkungan

0
z z c sehingga f(z) ada di setiap titik pada lingkungan tersebut
Contoh 1 :
f(z) analitik di z
0
maka f(z) kontinu di z
0
, dan berikan contoh kebalikannya tidak
selalu berlaku benar.
Jawab :
f(z) analitik di z
0
maka berlaku :
f(z
0
+ h) f(z
0
) =
h
z f h z f ) ( ) (
0 0
+
. h dimana h = Ax = 0
0 h
Limit
f(z
0
+ h) f(z
0
) =
0 h
Limit
h
z f h z f ) ( ) (
0 0
+
.
0 h
Limit
h = f(z
0
).0 = 0
karena f(z
0
) ada, maka berlaku :
0 h
Limit
f(z
0
+ h) f(z
0
) = 0 atau
0 h
Limit
f(z
0
+ h) = f(z
0
).atau
f(z) kontinu di z
0
.
Sebaliknya :
f(z) = z kontinu di z
0
berarti ;
Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 23

dz
d
(f(z)) =
0 Az
Limit

z
z z z
A
A +
=
iy x
iy x iy x iy x
y x
it
A + A
+ A + A + +
A A 0 ,
lim

=
0 ,
lim
A A y x
it

iy x
iy x iy x iy x
A + A
A A + ) (

=
0 ,
lim
A A y x
it

iy x
iy x
A + A
A A

Jika 0 = Ay
x
x
x
it
A
A
A 0
lim
= 1
Jika = A 0 x
y i
y i
y
it
A
A
A 0
lim
= -1
Akibatnya f(z) = z tidak analitik dimana-mana dan hal ini menunjukkan bahwa
fungsi yang kontinu tidak perlu memiliki turunan atau tidak perlu analitik.
8.2 Persamaan Cauchy Riemann
Syarat perlu agar w = f(z) = u(x,y) + iv(x,y) analitik dalam suatu daerah R adalah
u dan v memenuhi persamaan Cauchy Riemann

y
v
x
u
c
c
=
c
c
;
x
v
y
u
c
c
=
c
c
(2)
jika turunan parsial (2) kontinu dalam R, maka persamaan Cauchy Riemann
adalah syarat cukup agar f(z) analitik dalam R.
Fungsi u(x,y) dan v(x,y) seringkali dinamakan fungsi sekawan. Jika salah satu
dari f(u) atau f(v) diberikan maka kita dapat menentukan yang lainnya dalam
bentuk penjumlahan sebarang, sehingga bentuk u + iv = f(z) analitik.
Contoh 2
Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 24

Diketahui w = f(z) = u(x,y) + iv(x,y) analitik dalam suatu daerah R dan
persamaan Cauchy Riemann
y
v
x
u
c
c
=
c
c
;
x
v
y
u
c
c
=
c
c
.. Tunjukan :
(a) syarat perlu, dan
(b) syarat cukup agar w analitik.
Jawaban :
(a) Syarat perlu agar f(z) analitik, maka limit
0 Az
Limit

z
z f z z f
A
A + ) ( ) (

= f(z) =
| | | |
y x
y x iv y x u y y x x iv y y x x u
y x
it
A + A
+ A + A + + A + A +
A A
) , ( ) , ( ) , ( ) , (
0 ,
lim

harus ada dan tidak bergantung pada caranya z A (atau x A dan y A )
mendekati nol. Kita memandang dua kemungkinan pendekatan
Kasus 1 : Ay = 0, Ax 0
| |
(

A
A +
+
A
A +
A x
y x v y x x v
i
x
y x u y x x u
x
it ) , ( ) , ( ) , ( ) , (
0
lim
=
x
v
i
x
u
c
c
+
c
c

asalkan turunan parsialnya ada.
Kasus 2 : Ax = 0, Ay 0
| |
(

A
A +
+
A
A +
A y
y x v y y x v
y i
y x u y y x u
y
it ) , ( ) , ( ) , ( ) , (
0
lim
=
i
1
y
v
y
u
c
c
+
c
c

=
y
v
dy
u
i
c
c
+
c

Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 25

sekarang f(z) tidak mungkin analitik, kecuali dua limit ini sama. Jadi suatu
syarat perlu agar f(z) analitik adalah :
x
v
i
x
u
c
c
+
c
c
=
y
v
dy
u
i
c
c
+
c
atau
y
v
x
u
c
c
=
c
c
,
y
u
dx
v
c
c
=
c

(b) Syarat cukup. Karena
x
u
c
c
dan
y
u
c
c
diandaikan kontinu, maka kita mempunyai
:
u A = u(x +Ax, y +Ay) u(x,y)
= {u(x +Ax, y +Ay) u(x, y +Ay) u(x,y)}
= |
.
|

\
|
+
c
c
1
c
x
u
Ax +
|
|
.
|

\
|
+
c
c
1
q
y
u
Ay
=
x
u
c
c
Ax +
y
u
c
c
Ay +
1
c Ax +
1
q Ay
dimana
1
c 0 dan
1
q 0 untuk Ax 0 dan Ay 0
Dengan cara yang sama, karena
x
v
c
c
dan
y
v
c
c
diandaikan kontinu, maka kita mempunyai :
v A = |
.
|

\
|
+
c
c
2
c
x
v
Ax +
|
|
.
|

\
|
+
c
c
2
q
y
v
Ay
=
x
v
c
c
Ax +
y
v
c
c
Ay +
2
c Ax +
2
q Ay
dimana
2
c 0 dan
2
q 0 untuk Ax 0 dan Ay 0 maka :
w A = v u A + A =
x
v
i
x
u
c
c
+
c
c
x A + y
y
v
i
y
u
A
c
c
+
c
c
+
2
c Ax +
2
q Ay
Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 26

dimana c =
2 1
c c i + 0 dan
2 1
q q q i + = 0 untuk Ax 0 dan Ay 0
menurut persamaan Chauchy Riemann maka dapat ditulis sebagai :
w A =
x
v
i
x
u
c
c
+
c
c
x A + y
x
v
i
x
u
A
c
c
+
c
c
+ c Ax + q Ay
=
x
v
i
x
u
c
c
+
c
c
( x A + ) y iA + c Ax + q Ay
kemudian bagilah dengan Az = Ax + i Ay dan ambil limitnya untuk
0 Ax , maka kita melihat bahwa :

z
w
c
c
= f(z) =
x
w
x
it
A
A
A 0
lim
=
z
v
i
z
u
c
c
+
c
c
sehingga turunannya ada dan tunggal,
yaitu f(z) analitik dalam R

Latihan 8
1. Tentukan turunan setiap fungsi berikut di titik yang diberikan dengan
menggunakan definisi :
a. f(z) = 3z
2
+ 4iz 5 + i ; di z = 2
b. f(z) =
i z
i z
2
2
+

; z = -i
c. f(z) = 3z
-2
; z =1 + i
2. Untuk setiap fungsi berikut ini, tentukan titik singularnya yaitu titik dimana
fungsinya tidak analitik. Tentukan pula turunan di semua titik lainnya.
a.
i z
z
+
b.
5 2
2 3
2
+ +

z z
z

Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 27

3. Buktikan bahwa jika w = f(z) = u + iv analitik dalam suatu daerah R, maka
dz
dw
=
x
w
c
c
= i
y
w
c
c

4. Tunjukkan bahwa fungsi x
2
+ iy
2
tidak analitik dimana-mana. Bandingkan hal ini
dengan kenyataan bahwa persamaan Chauchy Riemann dipenuhi di x=0, y = 0



















Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 28

Bab 9. Fungsi Harmonik dan Sekawan

Definisi
Jika sebuah fungsi analitik pada domain D, maka
dan akan memenuhi persamaan Laplace


Suatu fungsi 2 peubah (riil) yang memenuhi persamaan Laplace disebut fungsi
Harmonik ( harmonic function)
u : fungsi sekawan harmonis v
v : fungsi sekawan harmonis u
















Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 29

Bab 10. Fungsi Eksponensial

Fungsi ini memiliki bentuk

.
Untuk mengubah

ke dalam bentuk maka dapat dilakukan dengan cara


memecah z dalam kemudian menggunakan rumus Euler untuk
menyederhanakan bentuk


Bila dijumpai persamaan berbentuk

, untuk menentukan nilai

maka


dapat diubah terlebih dahulu menjadi

.
Dengan meng-ln-kan edua ruas didapatkan persamaan


Bentuk ini sudah sesuai dengan bentuk standarnya
Perioditas

adalah , ini berarti

untuk k=0,1,2,..
Daerah pokok adalah dan












Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 30

Bab 11. Fungsi Logaritma

Logaritma asli dari z dinotasikan dengan l .
Nilai yang terkait dengan nilai prinsipil argumen dinotasikan dengan .
Misal dengan dengan dituliskan sebagai

maka kita akan


dapatkan


Sehingga


Jadi,
















Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 31

Bab 12. Fungsi Trigonometri

Fungsi Trigonometri dapat dinyatakan dalam bentuk:


Dengan mengubah fungsi trigonometri dalam bentuk seperti diatas dan dengan
memanfaatkan fungsi-fungsi eksponen maka penyederhanaan dalam bentuk standar
bilangan kompleks dapat dilakukan.















Rina Mardiati, S.Pd., M.T. |Matematika Teknik II 32

DAFTAR PUSTAKA

1. Churchill, R. V. and Brown, J. W, 1995, Complex Variables and Aplikations, Sixth Edition,
McGraw-Hill, Inc, New York
2. John D Paliouras, 1987, Peubah Kompleks untuk Ilmuwan dan Insinyur, (alih bahasa
Wibisono Gunawan), Erlangga,Jakarta
3. Krevszig, Erwin, 2011, Advanced Engineering Mathematics, Tenth Edition, Willey, New
York
4. Spiegel, Murray R, 1994, Peubah kompleks (terjemahan), Erlangga, Jakarta.