Anda di halaman 1dari 23

DASAR-DASAR SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH

1. Pendahuluan Peningkatan jumlah penduduk dan laju pertumbuhan ekonomi serta pembangunan di suatu daerah selain mempunyai dampak positif juga menimbulkan dampak negatif. Indonesia yang merupakan negara nomor empat terpadat di dunia dengan prakiraan jumlah penduduk tahun 2007 mencapai 234 juta jiwa, menghadapi banyak permasalah terkait sanitasi lingkungan terutama masalah pengelolaan sampah. Berdasarkan target MDGs (Millineum Development Goals) pada tahun 2015 tingkat pelayanan persampahan ditargetkan mencapai 80%. Tetapi di Indonesia berdasarkan data BPS tahun 2004, hanya 41,28% sampah yang dibuang ke lokasi tempat pembuangan sampah (TPA), dibakar sebesar 35, 59%, dibuang ke sungai 14,01%, dikubur sebesar 7,97% dan hanya 1,15% yang diolah sebagai kompos. Berdasarkan kondisi ini jika tidak dilakukan upaya pengelolaan sampah dengan baik maka tingkat pelayanan berdasarkan target nasional akan sulit tercapai. Telah diketahui bahwa sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu estetika lingkungan, menimbulkan bau, serta mengakibatkan berkembangnya penyakit. Gangguan lingkungan oleh sampah dapat timbul mulai dari sumber sampah, di mana penghasil sampah tidak melakukan penanganan dengan baik. Hal ini dapat terjadi pada penghasil sampah yang tidak mau menyediakan tempat sampah di rumahnya, dan lebih suka membuang sampah dengan seenaknya ke saluran air atau membakarnya sehingga mencemari lingkungan sekitarnya. Tempat sampah yang disediakan di rumah tangga dan lokasi komersial seperti pasar, tidak bertutup, sehingga menyebabkan sampah tercecer dan menjadi tempat berkembangbiaknya lalat serta menimbulkan bau. Selain itu pola penanganan sampah secara umum masih belum sebagaimana yang dipersyaratkan, sehingga timbul masalah pencemaran. Pemerintah menyadari bahwa permasalahan sampah telah menjadi permasalahan nasional. Perlu adanya sistem pengelolaan yang dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir. Selain itu bahwa dalam pengelolaan

sampah diperlukan kepastian hukum, kejelasan tanggung jawab dan kewenangan Pemerintah, pemerintahan daerah, serta peran masyarakat dan dunia usaha sehingga perlu adanya Undang-Undang yang mengatur tentang pengelolaan sampah. Pada tahun 2008 disahkan UU no 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang bertujuan antara lain : a. Agar pengelolaan ini dapat memberikan manfaat secara ekonomi (sampah sebagai sumber daya), sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat; b. Agar mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh sampah terhadap kesehatan dan lingkungan; c. Agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara proporsional, efektif, dan efisien. Kondisi pengelolaan persampahan di berbagai kota di Indonesia ditenggarai cenderung menurun, terlihat dari menurunnya tingkat pelayanan yang hanya 40% pada tahun 2000 (sebelumnya pernah mencapai 50%), walau secara perlahan meningkat kembali menjadi 56% pada 2006 (data BPS, 2006). Dalam kurun waktu tersebut juga terjadi berbagai kasus pencemaran lingkungan yang disebabkan karena pengelolaan sampah yang tidak sesuai dengan standar teknis. 2. Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah didefinisikan adalah semua kegiatan yang bersangkut paut dengan pengendalian timbulnya sampah, pengumpulan, transfer dan transportasi, pengolahan dan pemrosesan akhir/pembuangan sampah, dengan mempertimbangkan faktor kesehatan lingkungan, ekonomi, teknologi, konservasi, estetika, dan faktorfaktor lingkungan lainnya yang erat kaitannya dengan respons masyarakat. Menurut UU no 18 Tahun 2008 pengelolaan sampah didefinisikan sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Kegiatan pengurangan meliputi: a. pembatasan timbulan sampah; b. pendauran ulang sampah; dan/atau c. pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan kegiatan penanganan meliputi :

a. pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah; b. pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara (TPS) atau tempat pengolahan sampah 3R skala kawasan (TPS 3R), atau tempat pengolahan sampah terpadu; c. pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah 3R terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir (TPA) atau tempat pengolahan sampah terpadu (TPST); d. pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah; dan/atau e. pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

2.1. Prinsip Pengelolaan Sampah - Paradigma lama penanganan sampah secara konvensional yang bertumpu pada proses pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir perlu diubah dengan mengedepankan terlebih dahulu proses pengurangan dan pemanfaatan sampah. - Pengurangan dan pemanfaatan sampah secara signifikan dapat mengurangi kebutuhan pengelolaan sehingga sebaiknya dilakukan di semua tahap yang memungkinkan baik sejak di sumber, TPS, Instalasi Pengolahan, dan TPA. Dengan demikian diharapkan target pengurangan sampah sebesar 20% dapat terpenuhi. - Pengurangan dan pemanfaatan sampah sejak disumbernya akan memberikan dampak positif, dalam hal ini peran serta masyarakat sangatlah penting. 5 - Komposisi sampah dengan kandungan organik tinggi (60-80%) merupakan potensi sumber bahan baku kompos yang dapat melibatkan peran serta

masyarakat. - Daur ulang oleh sektor informal perlu diupayakan menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah perkotaan. - Tempat Pemrosesan Akhir merupakan tahap terakhir penanganan sampah. Pemanfaatan TPA sebaiknya untuk jangka panjang (minimal 10 tahun). - Insinerator merupakan pilihan teknologi terakhir untuk pengolahan sampah kota, mengingat karakteristik sampah di Indonesia yang masih mengandung organik yang cukup tinggi, biaya investasi dan operasi serta pemeliharaan yang mahal.

3.2. Aspek Pengelolaan Sampah 3.2.1. Aspek Teknis Operasional Aspek Teknis Operasional dapat dibagi lagi atas 6 elemen fungsi (aspek) yaitu, penimbulan (waste generation), penanganan yang terdiri dari pemisahan, penyimpanan dan prosesing di tempat (waste handling, separation, storage and processing at the source), pengumpulan (collection), pemindahan dan pengangkutan (transfer and transport), pemisahan, prosesing dan transformasi (separation and processing and transformation), dan pemrosesan akhir (disposal). Penanggung jawab pengelolaan persampahan dilaksanakan oleh dinas-dinas terkait seperti Dinas Kebersihan. Pengelolaan oleh dinas-dinas terkait ini dimulai dari pengangkutan sampah sampai pemrosesan akhir sampah. Untuk sumber sampah dan pengumpulan di sumber sampah adalah menjadi tanggung jawab pengelola yaitu: 1) Swasta/developer dan atau; 2) Organisasi kemasyarakatan. 3) Sampah B3-rumah tangga ditangani khusus oleh lembaga tertentu 3.2.1.1. Penimbulan A. Sumber Sampah Sumber sampah seperti telah dijelaskan dalam UU no 18 Tahun 2008 didefinisikan sebagai asal timbulan sampah. Sampah yang akan dikelola dibedakan atas :

9 a. Sampah rumah tangga didefinisikan sebagai berasal dari kegiatan seharihari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. b. Sampah sejenis sampah rumah tangga sebagaimana dimaksud berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya. c. Sampah spesifik sebagaimana dimaksud meliputi:

ampah yang timbul secara tidak periodik. Sampah rumah tangga bersumber dari aktifitas rumah/dapur serta aktifitas rumah tangga lainnya. Jenis atau tipe sampah yang dihasilkan terutama berupa sampah basah dan sampah kering dan debu. Sampah sejenis sampah rumah tangga bersumber dari pasar, pertokoan, restoran, perusahaan dan sebagainya. Sebagian besar kategori sampah ini berasal dari pasar dan kebanyakan berupa sampah organik. Ketegori sampah spesifik dikelola secara terpisah dengan jenis sampah yang lain karena mempunyai sifat spesifik yang harus ditangani secara khusus. Berdasarkan klasifikasi sumber-sumber sampah tersebut, dapat dikembangkan lagi jenis sumbersumber sampah yang lainnya sesuai dengan sumber sampah. Sebagai contoh misalnya, dari sampah pertanian, kandang hewan/pemotongan hewan, instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah dan lain-lain. A.1. Klasifikasi Sumber Sampah Prosentase timbulan sampah adalah 75% timbulan sampah berasal dari permukiman dan 25% dari non permukiman. Ada beberapa kategori sumber sampah yang dapat digunakan sebagai acuan, yaitu: - Sumber sampah yang berasal dari daerah perumahan

- Sumber sampah yang berasal dari daerah komersial - Sumber sampah yang berasal dari fasilitas umum - Sumber sampah yang berasal dari fasilitas sosial Klasifikasi kategori sumber sampah tersebut pada dasarnya juga dapat menggambarkan klasifikasi tingkat perekonomian yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kemampuan masyarakat dalam membayar retribusi sampah dan menentukan pola subsidi silang. 10 Daerah Perumahan (rumah tangga) Sumber sampah didaerah perumahan dibagi atas : - Perumahan masyarakat berpenghasilan tinggi (High income) - Perumahan masyarakat berpenghasilan menengah (Middle income) - Perumahan masyarakat berpenghasilan rendah/daerah kumuh (Low income/slum area) Daerah Komersial Daerah komersial umumnya didominasi oleh kawasan perniagaan, hiburan dan lainlain. Yang termasuk kategori komersial adalah pasar pertokoan hotel restauran bioskop salon kecantikan industri dan lain-lain. Fasilitas Umum Fasilitas umum merupakan sarana/prasarana perkotaan yang dipergunakan untuk kepentingan umum. Yang termasuk dalam kategori fasilitas umum ini adalah perkantoran, sekolah, rumah sakit, apotik, gedung olah raga, museum, taman, jalan, saluran/sungai dan lain-lain. Fasilitas Sosial Fasilitas sosial merupakan sarana prasarana perkotaan yang digunakan untuk kepentingan sosial atau bersifat sosial. Fasilitas sosial ini meliputi panti-panti sosial (rumah jompo, panti asuhan) dan tempat-tempat ibadah (mesjid, gereja pura, dan lain-lain). Sumber Lain Dari klasifikasi sumber-sumber sampah tersebut, dapat dikembangkan lagi jenis sumber-sumber sampah yang lain sesuai dengan kondisi kotanya atau peruntukan tata

guna lahannya. Sebagai contoh sampah yang berasal dari tempat pemotongan hewan atau limbah pertanian ataupun buangan dari instalasi pengolahan air limbah (sludge), dengan catatan bahwa sampah atau limbah tersebut adalah bersifat padat dan bukan kategori sampah B3. B. Timbulan Sampah Ukuran timbulan sampah dapat didasarkan kepada berat dan volume. - Berdasarkan berat, satuan berat ton, kg - Berdasarkan volume, satuan volume liter, m3 Satuan atau Unit Timbulan Limbah Padat Perumahan l/capita.day; kg/orang/hari Komersil l/capita.day; kg/orang.hari 11 Industri l waste/product.day Pertanian l waste/ton of raw product Jalan l/panjang jalan Metoda Pengukuran 1. Load-Count Analysis Didasarkan atas jumlah kendaraan pengangkutan yang masuk dilokasi Transfer Station atau Recycling Center atau TPA, bisa berdasarkan jumlah, volume dan berat. 2. WeightVolume Analysis, pengukuran langsung pada kendaraan pengangkut, bisa berdasarkan berat, atau volume. B.1. Faktor Penting Menentukan Jumlah Timbulan Sampah Jumlah timbulan sampah perlu diketahui, agar pengelolaan persampahan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Jumlah timbulan sampah ini akan berhubungan dengan elemen-elemen pengelolaan sampah antara lain: - pemilihan peralatan, misalnya wadah, alat pengumpulan dan pengangkutan - perencanaan rute pengangkutan - fasilitas untuk daur ulang - luas dan jenis TPA

Banyaknya timbulan sampah di dalam suatu kota dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: a. reduksi di sumber sampah, sangat mempengaruhi jumlah timbulan sampah di suatu kota. Adanya peningkatan reduksi timbulan sampah pada sumber sampah akan menurunkan laju timbulan sampah secara signifikan. Beberapa aktivitas yang ternasuk dalam reduksi sampah seperti : - mengurangi bungkus/packaging - produk lebih tahan lama (dpt digunakan lagi) - mengganti bahan sekali pakai (popok, tempat makanan, piring dll) - sesedikit mungkin menggunakan bahan-bahan/sumber daya alam - tingkatkan bahan yang dapat direcycle atau reused b. recycling, bagian dari upaya mereduksi jumlah sampah. Merupakan metoda yang dapat merubah sampah mempunyai nilai ekonomis. c. kebiasaan masyarakat mempengaruhi penanganan sampah mulai dari sumber sampah. Jika masyarakat mempunyai kebiasaan mengelola sampah dengan baik maka laju timbulan sampah di suatu kota dapat ditekan atau diturunkan. d. Peraturan, terkait dengan kebijakan pemerintah misalkan peraturan untuk mengurangi penggunaan kemasan yang tidak ramah lingkungan. e. Kondisi fisik dan geografi (musim, iklim, dataran tinggi)

B.2. Metoda Pengukuran Jumlah Timbulan Sampah Pengukuran jumlah timbulan sampah dapat dilakukan dengan pengukuran berat atau volume sampah atau kedua-duanya. - Pengukuran berat sangat tergantung pada densitas sampah - Volume sampah juga sangat dipengaruhi oleh densitas sampah - Pengukuran berat dan volume sampah. Beberapa metoda yang dapat digunakan untuk mengukur jumlah timbulan sampah, diuraikan sebagai berikut ini.

1) Load-count analysis/Analisis penghitungan beban Jumlah masing-masing volume sampah yang masuk ke TPA dihitung dengan mencatat : volume, berat, jenis angkutan dan sumber sampah, kemudian dihitung jumlah timbulan sampah kota selama perioda tertentu.

2) Weight-volume analysis/Analisis berat-volume Jumlah masing-masing volume sampah yang masuk ke TPA dihitung dengan mencatat : volume dan berat sampah, kemudian dihitung jumlah timbulan sampah kota selama perioda tertentu.

3) Material-balance analysis/Analisis kesetimbangan bahan Material balance lebih baik menghasilkan data untuk sampah rumah tangga, institusi, industri dan material balance juga diperlukan untuk program daur ulang. C. Komposisi Sampah Komposisi sampah sangat menentukan sistem penanganan yang dapat dilakuan terhadap sampah. Komposisi menentukan jenis dan kapasitas peralatan, sistem, dan program penanganannya. Komposisi sampah adalah setiap komponen sampah yang membentuk suatu kesatuan, dalam prosentase (%). Komposisi sampah berbeda-beda berdasarkan sumber sampah, karakteristik perilaku masyarakat serta kondisi ekonomi yang berbeda dan proses penanganan sampah di sumber sampah. Pada tabel 3 dapat dilihat komposisi sampah berdasarkan sumber sampah dan komposisi sampah dari masing-masing sumbernya.

NO.

SUMBER SAMPAH Kertas Karton Plastic

KOMPOSISI SAMPAH

1. Kantor

Cartridge printer bekas Sampah makanan plastik (pembungkus spuit, spuit bekas) kaca (botol obat, pecahan kaca) perban bekas potongan jaringan tubuh sisa obat Sampah organic Kertas/karton Karet Kain Sampah makanan Kertas pembungkus Potongan rumput Plastic pembungkus Ranting/ daun kering Pecahan bata, beton, genting Kayu, kertas Kertas Plastic Daun kering Sampah makanan Logam Kain Daun, ranting

2. Rumah Sakit

3. Pasar

4. Rumah Makan

5. Lapangan Olahraga/ Terbuka

6. Pembangunan gedung 7. Jalan & lapangan parkir

8. Rumah tangga

D. Karakteristik Sampah

Karakteristik sampah secara umum dibedakan atas : 1. Karakteristik fisik 2. Karakteristik kimiawi 3. Karakteristik biologi Karakteristik sampah sangat menentukan metoda pengolahan yang akan digunakan. Terutama komposisi berdasarkan karakteristik kimiawi sangat menentukan reaksi komponen unsur pembentuk sampah seperti kandungan unsur Carbon (C), Nitrogen (N), Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Kandungan unsur ini sangat menentukan kelayakan metoda pengolahan sampah yang akan dibahas pada Bab lain di dalam modul pelatihan ini. Karakteristik Fisik , terdiri atas : 1. Kandungan kadar air, penentuan berapa kandungan kadar air dalam sampah dengan menggunakan metoda gravimetri. Persamaan matematik yang digunakan adalah : M = {(w-d)/w}x100% dimana: w= jumlah berat sampel, kg d = berat sampel setelah dikeringkan 1050 C, kg 2. Spesific Weight / Berat Jenis (berat/volume; kg/liter, lb/ft3) 23 3. Ukuran partikel dan distribusi partikel 4. Field Capacity, didefinisikan sebagai jumlah total air yang dapat ditahan oleh sampah secara gravitasi 5. Permeabilitas sampah, sangat penting untuk mengetahui pergerakan cairan dan gas dalam landfill. Karakteristik Kimiawi, terdiri atas : 1. Proximate Analysis Analisis terhadap kelembaban sampah, kandungan volatile di dalam sampah, fixed carbon, dan ash di dalam sampah.

2. Fusing point of ash Temperatur dimana bisa terbakar sbg abu (clinker) suhu diatas 1000oC 3. Ultimate Analysis Analisis terhadap unsur-unsur kimia penyusun sampah. Sampah mengandung komponen Carbon, Hidrogen, Oksigen, Nitrogen, Sulfur, dan Ash. Analisis ini sangat menentukan sistem pengolahan sampah yang efektif digunakan untuk memusnahkan sampah. 4. Energy content (Btu/lb) Analisis kandungan energi dalam sampah. Sampah mengandung unsur karbon yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Beberapa jenis sampah yang mempunyai nilai kalor tinggi seperti kayu, serbuk gergaji dan lainnya dapat digunakan sebagai sumber energi. Bomb calorimeter dapat digunakan untuk menentukan nilai kalor dari masing-masing komponen sampah. Karakteristik Biologi, terdiri atas : 1. Biodegradability adalah kemampuan sampah untuk diuraikan dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Ditentukan dengan persamaan : BF = 0.83 0.028 LC dimana : BF = Biodegradable Fraction (fraksi bahan organik yang mudah terurai) LC = Lignin Content (kandungan lignin) Semakin tinggi dari nilai BF, maka kemampuan diuraikan oleh mikroorganisme meningkat (Tabel 6). Komponen Sampah makanan Koran Kertas tulis Karton Sampah kebun 7-15 94.0 96.0 94.0 50-90 %VS 0.4 21.9 0.4 12.9 4.1 LC (%VS) 0.82 0.22 0.82 0.72 0.72 BF

3.2.1.2. Penanganan: Pemisahan, Penyimpanan dan Prosesing di Tempat - Wadah sampah individual (disumber) disediakan oleh setiap penghasil sampah sendiri sedangkan wadah komunal dan pejalan kaki disediakan oleh pengelola dan atau swasta. spesifikasi wadah sedemikian rupa sehingga memudahkan operasionalnya, tidak permanen dan higienis. Akan lebih baik apabila ada pemisahan wadah untuk sampah basah dan sampah kering. - Pengosongan sampah dari wadah individual dilakukan paling lama 2 hari sekali sedangkan untuk wadah komunal harus dilakukan setiap hari.

3.2.1.3. Pengumpulan - Pengumpulan sampah dari sumber dapat dilakukan secara langsung dengan alat angkut (untuk sumber sampah besar atau daerah yang memiliki kemiringan lahan cukup tinggi) atau tidak langsung dengan menggunakan gerobak (untuk daerah teratur) dan secara komunal oleh mayarakat sendiri (untuk daerah tidak teratur). - Penyapuan jalan diperlukan pada daerah pusat kota seperti ruas jalan protokol, pusat perdagangan, taman kota dan lain-lain.

3.2.1.4. Transfer dan Transport Pemindahan - Pemindahan sampah dari alat pengumpul (gerobak) ke alat angkut (truk) dilakukan di trasnfer depo atau container untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan. m. - Pemindahan skala kota ke stasiun transfer diperlukan bila jarak ke lokasi TPA lebih besar dari 25 km. Pengangkutan - Pengangkutan secara langsung dari setiap sumber harus dibatasi pada daerah pelayanan yang tidak memungkinkan cara operasi lainnya atau pada daerah pelayanan tertentu berdasarkan pertimbangan keamanan maupun estetika

dengan memperhitungkan besarnya biaya operasi yang harus dibayar oleh pengguna jasa. - Penetapan rute pengangkutan sampah harus didasarkan pada hasil survey time motion study untuk mendapatkan jalur yang paling efisien. - Jenis truk yang digunakan minimal dump truck yang memiliki kemampuan membongkar muatan secara hidrolis, efisien dan cepat. - Penggunaan arm roll truck dan compactor truck harus mempertimbangkan kemampuan pemeliharaan.

3.2.1.5. Pemisahan, Prosesing dan Transformasi - Pengolahan sampah dimaksudkan untuk mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke TPA serta meningkatkan efisiensi penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan. - Teknologi pengolahan sampah dapat dilakukan melalui pembuatan kompos, pembakaran sampah secara aman (bebas COx, SOx, NOx dan dioxin), pemanfaatan gas metan dan daur ulang sampah. Khusus pemanfaatana gas metan TPA (landfill gas), dapat masuk dalam CDM (clean developmant mechanism) karena secara significan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca yang berpengaruh pada iklim global. - Skala pengolahan sampah mulai dari individual, komunal (kawasan), skala kota dan skala regional. - Penerapan teknologi pengolahan harus memperhatikan aspek lingkungan, dana, SDM dan kemudahan operasional. 3.2.1.6. Pemrosesan Akhir - Pemilihan lokasi TPA harus mengacu pada SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA. Agar keberadaan TPA tidak mencemari lingkungan, maka jarak TPA ke badan air penerima > 100m, ke perumahan terdekat > 500 m, ke airport 1500 m (untuk pesawat propeler) dan 3000 m (untuk pesawat jet). Selain itu muka air tanah harus > 4 m, jenis tanah lempung dengan nilai K < 10-6 cm/det. - Metode pembuangan akhir minimal harus dilakukan dengan controlled landfill

(untuk kota sedang dan kecil) dan sanitary landfill (untuk kota besar dan metropolitan) dengan sistem sel. - Prasarana dasar minimal yang harus disediakan adalah jalan masuk, drainase keliling dan pagar pengaman (dapat berfungsi sebagai buffer zone). - Fasilitas perlindungan lingkungan yang harus disediakan meliputi lapisan dasar kedap air, jaringan pengumpul leachate, pengolahan leachate dan ventilasi gas / flaring atau landfill gas extraction untuk mngurangi emisi gas. - Fasilitas operasional yang harus disediakan berupa alat berat (buldozer, excavator, loader dan atau landfill compactor) dan stok tanah penutup. - Penutupan tanah harus dilakukan secara harian atau minimal secara berkala dengan ketebalan 20 - 30 cm. - Penyemprotan insektisida harus dilakukan apabila penutupan sampah tidak dapat dilakukan secara harian. 29 - Penutupan tanah akhir harus dilakukan sesuai dengan peruntukan lahan bekas TPA. - Kegiatan pemantauan lingkungan harus tetap dilakukan meskipun TPA telah ditutup terutama untuk gas dan efluen leachate, karena proses dekomposisi sampah menjadi gas dan leahate masih terus terjadi sampai 25 tahun setelah penutupan TPA. - Manajemen pengelolaan TPA perlu dikendalikan secara cermat dan membutuhkan tenaga terdidik yang memadai. - Lahan bekas TPA direkomendasikan untuk digunakan sebagai lahan untuk berbagai keperluan seperti taman, lapangan olahraga, dan lain-lain. 3.2.2. Aspek Kelembagaan Beberapa kondisi yang ada yang berkaitan dengan aspek kelembagan/institusi adalah : - Sebagian besar institusi pengelola adalah berbentuk Dinas, Suku Dinas, Seksi, Sub Seksi dimana belum ada pemisahan antara operator dan regulator; - Struktur organisasi yang ada belum ditunjang dengan kapasitas (jumlah dan kualitas SDM) yang memadai sesuai dengan kewenangannya; - Tata laksana kerja belum jelas antara bagian administrasi dan pelaksana teknis

lapangan, termasuk kewenangan penarikan retribusi serta pengalokasian anggaran untuk pendanaan investasi; - Kurangnya koordinasi dan kerjasama antara instansi terkait yang ada di lapangan. Kelembagaan yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah kelembagaan yang sesuai dengan amanat PP 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, PP 41/2007 tentang Pemerintahan Daerah, PP 23/2004 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, serta Permendagri 61/2009 tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Perangkat peraturan tersebut di atas digunakan sebagai dasar untuk meningkatkan kelembagaan pengelolaan sampah, antara lain : - Memisahkan regulator dan operator pengelola sampah, misalnya membentuk UPTD atau kerjasama dengan swasta sebagai operator; - Peningkatan kualitas SDM melalui training dan rekruitmen SDM untuk jangka panjang sesuai dengan kualifikasi bidang keahlian persampahan/manajemen karena struktur organisasi mencerminkan tugas dan tanggung jawab yang jelas dalam kegiatan-kegiatan penanganan sampah yang harus senantiasa ditunjang dengan kapasitas serta kualitas SDM yang memadai; 30 - Untuk pengelolaan sampah lintas kabupaten/kota, dapat dibentuk lembaga pengelola di tingkat provinsi, sedangkan untuk pengelolaan sampah lintas provinsi, dapat dibentuk lembaga pengelola di tingkat nasional. 3.2.3. Aspek Pembiayaan Beberapa kondisi yang ada yang berkaitan dengan aspek pembiayaan adalah : - Keterbatasan biaya, termasuk sumber pendanaan, untuk investasi dan operasi/pemeliharaan mengakibatkan pelayanan pengelolaan sampah yang tidak optimal; - Belum terciptanya iklim yang kondusif untuk kerjasama dengan swasta (Berdasarkan Perpres No. 13 Tahun 2010 tentang Kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur); - Tarif/retribusi sampah belum didasarkan pada perhitungan dan pendataan

(klasifikasi wajib retribusi) yang memadai dan realisasi penarikan retribusi masih rendah (rata-rata nasional : 20%). Pembiayaan yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah : - Investasi yang lebih memadai yang didasarkan pada kebutuhan dan peningkatan sarana prasarana, kapasitas SDM, serta kampanye dan edukasi bidang persampahan; - Biaya operasi dan pemeliharaan yang mencukupi untuk kebutuhan pengoperasian sarana prasarana persampahan yang perhitungannya didasarkan pada kebutuhan alternatif pengoperasian seluruh kegiatan penanganan sampah dari sumber sampai TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah untuk jangka panjang; - Tarif atau retribusi yang disusun berdasarkan struktur/klasifikasi wajib retribusi (cross subsidi), kemampuan daerah, kemampuan masyarakat yang dapat mencukupi kebutuhan operasional pengelolaan sampah (mengarah pada pola cost recovery); - Penerapan pola insentif dan disinsentif bagi para pelaku yang terlibat dalam pengelolaan persampahan; - Pendapatan dari penarikan tarif atau retribusi harus terkoordinasi dan tercatat secara baik dan transparan serta diinvestasikan kembali untuk kepentingan pengelolaan sampah. 31 3.2.4. Aspek Peraturan Berbagai Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah sampai dengan Standar Nasional Indonesia sudah dikeluarkan termasuk Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, dengan demikian diharapkan pengelolaan sampah dapat dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat; secara efektif dan efisien. Beberapa kondisi yang ada yang berkaitan dengan aspek hukum dan peraturan adalah: - Beberapa daerah belum memiliki Perda terkait Institusi, Retribusi dan Ketentuan

Penanganan Persampahan; - Kurangnya sosialisasi dan penyuluhan mengenai Perda bidang persampahan; - Belum adanya penerapan sanksi atas pelanggaran dalam bidang persampahan. Hukum dan peraturan yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah : - Pemerintah daerah memiliki Perda yang terdiri dari Perda Pembentukan Institusi, Perda Ketentuan Penanganan Persampahan dan Perda Retribusi, dimana substansi materi Perda harus cukup menyeluruh, tegas dan dapat diimplementasikan untuk jangka panjang (20 tahun); - Penerapan Perda tersebut perlu didahului dengan sosialisasi, uji coba dikawasan tertentu dan penerapan secara menyeluruh. Selain itu juga diperlukan kesiapan aparat dari mulai kepolisian, kejaksaan dan kehakiman untuk penerapan sanksi atas pelanggaran yang terjadi; - Evaluasi Perda perlu dilakukan setiap 5 tahun untuk menguji tingkat kelayakannya. 3.2.5. Aspek Peran Serta Masyarakat Beberapa kondisi yang ada yang berkaitan dengan aspek peran serta masyarakat adalah : - Kesadaran masyarakat terhadap penanganan sampah masih rendah; - Masyarakat belum terinformasikan tentang berbagai peraturan, pedoman, SOP yang ada dalam pengelolaan sampah; - Kurang mengikutsertakan masyarakat dalam proses pengelolaan sampah. Komunikasi yang perlu dibangun secara terus menerus antara pemerintah daerah dengan masyarakat dan diantara masyarakat itu sendiri yang menyangkut baik masalah kebijakan maupun masalah bimbingan teknis. 32 Peran serta masyarakat yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah : - Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah melalui antara lain kampanye, sosialisasi dan edukasi bidang persampahan; - Mensosialisasikan dan menyebarluaskan NSPK (Norma, Standar, Prosedur, Kriteria) persampahan yang ada; - Perlu dibentuk forum komunikasi sebagai media antara masyarakat dan pemerintah daerah.

3.3. Dampak Pencemaran Akibat Sampah 3.3.1. Potensi Dampak Dalam kenyataannya banyak pengelola kebersihan menghadapi berbagai masalah antara lain tidak tersediaanya prasarana dan sarana, SDM, peraturan, dan dana yang memadai, sehingga tidak dapat menyediakan pelayanan yang baik sesuai dengan ketentuan teknis dan harapan masyarakat, akibatnya sering terjadi pencemaran lingkungan seperti pencemaran udara (bau), pencemaran air, dan pencemaran tanah. Berbagai potensi yang menimbulkan berbagai dampak dapat meliputi : a. Perkembangan Vektor Penyakit Wadah sampah merupakan tempat yang sangat ideal bagi pertumbuhan vektor penyakit terutama lalat dan tikus. Hal ini disebabkan dalam wadah sampah terdapat sisa makanan. Tempat Penampungan Sementara/Container juga merupakan tempat berkembangnya vektor tersebut karena alasan yang sama. Sudah barang tentu akan menurunkan kualitas kesehatan lingkungan sekitarnya. Vektor penyakit terutama lalat sangat potensial berkembangbiak di lokasi TPA. Hal ini terutama disebabkan oleh frekwensi penutupan sampah yang tidak dilakukan sesuai ketentuan sehingga siklus hidup lalat dari telur menjadi larva telah berlangsung sebelum penutupan dilaksanakan. Gangguan akibat lalat umumnya dapat ditemui sampai radius 1-2 km dari lokasi TPA. b. Pencemaran Udara Sampah yang menumpuk dan tidak segera terangkut merupakan sumber bau tidak sedap yang memberikan efek buruk bagi kawasan disekitarnya terutama permukiman, perbelanjaan, rekreasi, dan lain-lain. Pembakaran sampah seringkali terjadi sehingga menyebabkan gangguan bagi lingkungan sekitarnya. Sarana pengangkutan yang tidak tertutup berpotensi menimbulkan masalah bau di sepanjang jalur yang dilalui, terutama akibat bercecerannya air leachate dari bak kendaraan. 33 Pada TPA terjadi pelepasan zat (partikel dan gas) ke udara dari hasil pengolahan

atau pemrosesan sampah yang tidak sempurna, diantaranya berupa : partikulat, SOx, NOx, hidrokarbon, HCI, dioksin, dan lain-lain. Proses dekomposisi sampah di TPA secara kontinu akan berlangsung dan dalam hal ini akan dihasilkan berbagai gas seperti CO, C02, CH4, H2S, dan lain-lain yang secara langsung akan mencemari udara serta mendorong terjadinya emisi gas rumah kaca (Green House Gases) yang mengakibatkan pemanasan global (global warming), disamping efek yang merugikan terhadap kesehatan manusia di sekitarnya seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Pembongkaran sampah dengan volume yang besar dalam lokasi pengolahan berpotensi menimbulkan gangguan bau. Disamping itu juga sangat mungkin terjadi pencemaran berupa asap bila sampah dibakar pada instalasi yang tidak memenuhi syarat teknis. Seperti halnya perkembangan populasi lalat, bau tak sedap di TPA juga timbul akibat penutupan sampah yang tidak dilaksanakan dengan baik. Asap juga seringkali timbul di TPA akibat terbakarnya tumpukan sampah baik secara sengaja maupun tidak. Produksi gas metan yang cukup besar dalam tumpukan sampah menyebabkan api sulit dipadamkan sehingga asap yang dihasilkan akan sangat mengganggu daerah sekitarnya. c. Pencemaran Air Prasarana dan sarana pengumpulan yang terbuka sangat potensial menghasilkan leachate terutama pada saat turun hujan. Aliran leachate ke saluran atau tanah sekitarnya akan menyebabkan terjadinya pencemaran. Instalasi pengolahan berskala besar menampung sampah dalam jumlah yang cukup besar pula sehingga potensi leachate yang dihasilkan di instalasi juga cukup potensial untuk menimbulkan pencemaran air dan tanah di sekitarnya. Leachate yang timbul di TPA sangat mungkin mencemari lingkungan sekitarnya baik berupa rembesan dari dasar TPA yang mencemari air tanah di bawahnya. Pada lahan yang terletak di kemiringan, kecepatan aliran air tanah akan cukup tinggi sehingga dimungkinkan terjadi cemaran terhadap sumur penduduk yang trerletak pada elevasi yang lebih rendah. Pencemaran leachate juga dapat terjadi akibat efluen pengolahan yang belum

memenuhi syarat untuk dibuang ke badan air penerima. Karakteristik pencemar leachate yang sangat besar akan sangat mempengaruhi kondisi badan air penerima terutama air permukaan yang dengan mudah mengalami kekurangan oksigen terlarut sehingga mematikan biota yang ada. d. Pencemaran Tanah Pembuangan sampah yang tidak dilakukan dengan baik misalnya di lahan kosong atau TPA yang dioperasikan secara sembarangan akan menyebabkan lahan setempat mengalami pencemaran akibat tertumpuknya sampah organik dan 34 mungkin juga mengandung Bahan Buangan Berbahaya (B3). Bila hal ini terjadi maka akan diperlukan waktu yang sangat lama sampai sampah terdegradasi atau larut dari lokasi tersebut. Selama waktu itu lahan setempat berpotensi menimbulkan pengaruh buruk terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya. e. Gangguan Estetika Lahan yang terisi sampah secara terbuka akan menimbulkan kesan pandangan yang sangat buruk sehingga mempengaruhi estetika lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat terjadi baik di lingkungan permukiman atau juga lahan pembuangan sampah lainnya. Proses pembongkaran dan pemuatan sampah di sekitar lokasi pengumpulan sangat mungkin menimbulkan tumpahan sampah yang bila tidak segera diatasi akan menyebabkan gangguan lingkungan. Demikian pula dengan ceceran sampah dari kendaraan pengangkut sering terjadi bila kendaraan tidak dilengkapi dengan penutup yang memadai. Di TPA ceceran sampah terutama berasal dari kegiatan pembongkaran yang tertiup angin atau ceceran dari kendaraan pengangkut. Pembongkaran sampah di dalam area pengolahan maupun ceceran sampah dari truk pengangkut akan mengurangi estetika lingkungan sekitarnya. Sarana pengumpulan dan pengangkutan yang tidak terawat dengan baik merupakan sumber pandangan yang tidak baik bagi daerah yang dilalui. Lokasi TPA umumnya didominasi oleh ceceran sampah baik akibat pengangkutan yang kurang baik, aktivitas pemulung maupun tiupan angin pada lokasi yang sedang

dioperasikan. Hal ini menimbulkan pandangan yang tidak menyenangkan bagi masyarakat yang melintasi/tinggal berdekatan dengan lokasi tersebut. f. Kemacetan Lalu lintas Lokasi penempatan sarana prasarana pengumpulan sampah yang biasanya berdekatan dengan sumber potensial seperti pasar, pertokoan, dan lain-lain serta kegiatan bongkar muat sampah berpotensi menimbulkan gangguan terhadap arus lalu lintas. Arus lalu lintas angkutan sampah terutama pada lokasi tertentu seperti transfer station atau TPA berpotensi menjadi gerakan kendaraan berat yang dapat mengganggu lalu lintas lain; terutama bila tidak dilakukan upaya-upaya khusus untuk mengantisipasinya. Arus kendaraan pengangkut sampah masuk dan keluar dari lokasi pengolahan akan berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas di sekitarnya terutama berupa kemacetan pada jam-jam kedatangan. Pada TPA besar dengan frekuensi kedatangan truck yang tinggi sering menimbulkan kemacetan pada jam puncak terutama bila TPA terletak berdekatan dengan jalan umum. 35 g. Gangguan Kebisingan Kebisingan akibat lalu lintas kendaraan berat/truck timbul dari mesin-mesin, bunyi rem, gerakan bongkar muat hidrolik, dan lain-lain yang dapat mengganggu daerahdaerah sensitif di sekitarnya. Di instalasi pengolahan kebisingan timbul akibat lalu lintas kendaraan truk sampah disamping akibat bunyi mesin pengolahan (tertutama bila digunakan mesin pencacah sampah atau shredder). Kebisingan di sekitar lokasi TPA timbul akibat lalu lintas kendaraan pengangkut sampah menuju dan meninggalkan TPA; disamping operasi alat berat yang ada. h. Dampak Sosial Hampir tidak ada orang yang akan merasa senang dengan adanya pembangunan tempat pembuangan sampah di dekat permukimannya, karenanya tidak jarang menimbulkan sikap menentang/oposisi dari masyarakat dan munculnya keresahan.

Sikap oposisi ini secara rasional akan terus meningkat seiring dengan peningkatan pendidikan dan taraf hidup mereka, sehingga sangat penting untuk mempertimbangkan dampak ini dan mengambil langkah-langkah aktif untuk menghindarinya. 3.3.2. Resiko Lingkungan Komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak akibat adanya kegiatan pembangunan sistem penyediaan air bersih akan mencakup : a. Geo-Fisik-Kimia yang meliputi : kuantitas dan kualitas air tanah/permukaan, kualitas udara, kondisi tanah, dan kebisingan; b. Biologis : baik keanekaragaman maupun kondisi flora/fauna; c. Sosio ekonomi budaya : meliputi kependudukan, kesehatan masyarakat, pola kehidupan masyarakat, mata pencaharian, estetika, kecemburuan masyarakat, persepsi masyarakat terhadap proyek, nilai jual tanah, situs sejarah, adat, dan lain-lain; d. Prasarana umum : jalan, saluran drainase, jaringan PLN/Telkom, perpipaan air bersih/air limbah, dll.