Anda di halaman 1dari 5

ASAM DAN BASA

Pendapat: 1. Bagas Setyadi Asam : larutan zat kimia yang memiliki pH dibawah 7 dan biasanya bersifat korosit, serta memiliki rasa asam. Basa : larutan zat kimia yang memiliki pH diatas 7 dan biasanya memiliki rasa pahit. Dedi Adrian Asam : Basa : Jordi Carlingga Reno Asam : Basa : Lia Vivi Farida Asam : suatu larutan yang bereaksi dengan air mengandung ion H+ , memiliki rasa asam, dan memiliki pH < 7. Basa : suatu lerutan yang bereaksi dengan air mengandung bion OH-, memiliki rasa pahit dan memilki pH >7. Lita Samantha Manurung Asam : larutan yang memilkin pH < 7 dan menghasilkan ion H+ Basa : larutan yang memiliki ph > 7 dan menghasilkan ion OHSigit Pratama Asam : zat yang memiliki kadar pH rendah dibawah 7 dan mengandung ion H+ Basa : zat yang memiliki kadar pH tinggi diatas 7 dan mengandung ion OHRizal Gata Kusuma Asam : larutan yang memiliki pH kurang dari 7 dan dapat melepas electron Basa : larutan yang memiliki pH lebih dari 7 dan dapat menerima elektron.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Ryan Mulyadi Saragih Asam : Basa :

KESIMPULAN Asam adalah suatu larutan yang memiliki pH < 7, bersifat korosit, bila bereaksi dengan air dapat membentuk ion H+, larutan pendonor proton, dan biasanya memiliki rasa asam. Contoh-contoh larutan asam: 1. HCl 2. H2SO4 3. HI 4. HBr 5. HF Basa adalah suatu larutan yang memiliki ph > 7, bila bereaksi dengan air membentuk ion OH-, larutan penerima proton, dan biasanya memilki rasa yang pahit. Contoh-contoh larutan basa: 1. NaOH 2. Mg(OH)2 3. KOH 4. NH3 5. Ca(OH)2

AIR GEOTHERMAL Secara bahasa Geothermal berasal dari kata Yunani yaitu Geo yang berarti bumi dan therme yang berarti panas. Jadi geothermal merupakan sumber energi baru terbarui dengan menggunakan energi panas dari bumi untuk membangkitkan suatu energi tanpa mengeluarkan emisi gas buangan. Energi panas bumi adalah energi yang dihasilkan oleh tekanan panas dari bumi. Energi Geothermal ini biasanya dioperasikan untuk pembagkit listrik. Sebagai salah satu bentuk energi yang terbarui, karena geothermal menggunakan panas bumi dan panas bumi pada suatu daerah dapat habis, sehingga secara teknis energi geothermal ini tidak diperbarui secara total.

1.1 Karakteristik Brine (Limbah Geothermal)

Brine di geothermal mengandung konsentrasi garam yang terlarut tinggi terutama ion klorida dan ion sulfat, yang merupakan ion agresif. Brine di geothermal bersifat asam, secara umum komposisi kimia yang terdapat dalam brine mengandung unsur sebagai berikut, Natrium (Na), Kalium (K), Magnesium (Mg), Sulfat (SO4), dan asam Bikarbonat (HCO3). Berdasarkan komposisi dan sifat asam pada brine, air geothermal dapat menimbulkan terjadinya scaling (pengerakan), korosi atau keduanya. Produk yang dihasilkan dari proses korosi scale dapat terbentuk dari berbagai unsur kimia yang terlarut tetapi tetap berdasarkan dua faktor penting, yaitu kesadahan (hardness) dan alkalinitas. Kalsium karbonat adalah scale deposit yang paling umum terbentuk akibat air bawah tanah yang digunakan pada sistem geothermal. Total hardness adalah pengukuran pertama dari garam kalsium dan magnesium yang terdapat dalam air. Sedangkan unsur lain yang juga merupakan komponen hardness antara lain alumunium, mangan, besi atau seng yang semuanya tersebut disebut komponen minor. Pada dasarnya ada 2 kesadahan (hardness) yaitu : 1. Temporary hardness yaitu disebabkan oleh Ca dan Mg bikarbonat (mengendap pada material jika dipanaskan)

2. Permanent hardness yaitu disebabkan oleh Ca dan Mg sulfat atau klorida larut dengan natrium.

Hubungan air geotermal dengan asam basa adalah sebagai berikut : 1. Dalam air geotermal, sifat asam pada air panas sangat mempengaruhi kualitas air geotermal itu sendiri. Jika sifat asam yang dikandung air geotermal itu tinggi, maka air geotermal tersebut akan semakin panas dan bagus. Karena dalam sifat asam mengandung 3 unsur yaitu Na, K, dan CL. Ketiga unsur tersebut merupakan unsur yang digunakan untuk

menemukan titik atau tempat reservoir geotermal yang ada pada permukaan bumi. Oleh karena itu, jika ditemukan air yang mengandung asam yang tinggi dan ada unsur Na, K, dan Cl , bisa jadi tempat itu berpotensi terdapat geotermal yang tinggi. 2. Selain asam, basa juga bisa digunakan dalam menentukan apakah air itu merupakan potensi geotermal atau tidak. Pada air yang mengandung basa yang tinggi itu akan mempengaruhi kualitas air itu sendiri. Air yang mengadung basa yang tinggi itu kemungkinan tidak bisa berpotensi sebagai geotermal.