Anda di halaman 1dari 28

AMALIA FILDZAH AMANSISUS TIMON FIRMINA MARA SEPTIA PARASUCI DEWI RISTA M.

PURBA

ANATOMI FISIOLOGI KEHAMILAN

HORMON YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN FISIOLOGIS


IBU HAMIL

1.

2.

Estrogen; Pertumbuhan janin baik ukuran maupun jumlah sel. Progesteron; Peningkatan sekresi, relaksasi otot-otot polos.

PERUBAHAN PADA SISTEM REPRODUKSI

UTERUS
Ukuran uterus pada kehamilan cukup bulan adalah 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 cc. Berat uterus naik secara luar biasa, dari 30 gram menjadi 1000 gram pada akhir kehamilan (40 minggu). Ismus rahim mengadakan hipertropi dan bertambah panjang, sehingga teraba lebih lunak yang disebut tanda hegar. Pada kehamilan 5 bulan rahim teraba seperti berisi cairan air ketuban, dinding rahim teraba tipis.

Serviks uteri

Serviks bertambah vaskularisasi dan menjadi lunak yang disebut tanda goodell. Kelenjar endoservikal membesar dan mengeluarkan banyak cairan mukus, karena bertambahnya pembuluh darah dan melebar.

Akibat hipervaskularisasi vagina dan vulva kelihatan lebih merah atau kebiru-biruan. Warna livid pada Vagina dan vagina disebut tanda Chadwick. vulva

Dinding perut

Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan robeknya serabut elastik dibawah kulit, maka timbulah striae gravidium.

Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan pemberian ASI pada laktasi. Payudara menjadi lebih besar. Areola payudara menjadi lebih besar. Pengeluaran ASI belum berlangsung karena prolaktin belum berfungsi untuk mengeluarkan ASI. Glandula montgomery makin tampak, puting susu semakin menonjol. Setelah persalinan, hambatan prolaktin tidak ada sehingga pembuatan ASI dapat berlangsung.

PERUBAHAN PADA ORGAN


DAN SISTEM LAINNYA

Sistem Sirkulasi Darah


Selama kehamilan volume darah ibu semakin meningkat secara fisiologi dengan adanya pencairan (hemodilusi). Volume darah akan bertambah besar sekitar 25% dgn puncak kehamilan 32 minggu. Hemodilusi menyebabkan anemia fisiologi dalam kehamilan. Kadar Hb ibu hamil Hb 11 gr% = tidak anemia, 9 10 gr% = anemia ringan, 7 8 gr% = anemia sedang, < 7 gr% = anemia berat.

Sistem pernafasan
Perubahan sistem pernafasan juga dapat berubah untuk dapat memenuhi kebutuhan. Terdapat desakan diafragma karena dorongan rahim yang membesar pada 32 minggu. Ibu hamil bernafas 20-25% lebih dalam dari biasanya.

Traktus urinarius
Karena pengaruh desakan hamil muda dan turunnya kepala bayi pada hamil tua terjadi gangguan miksi dalam bentuk sering kencing, desakan tersebut menyebabkan kandung kemih cepat penuh. Persediaan air seni bertambah 69-70%.

Perubahan Metabolisme
Keseimbangan asam basa mengalami penurunan disebabkan hemodilusi darah dan kebutuhan mineral yang diperlukan janin. Kebutuhan protein wanita hamil makin tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Perkembangan organ kehamilan dan persiapan laktasi. Dalam makanan diperlukan protein tinggi sekitar gr/kg BB atau sebutir telur ayam sehari. Kebutuhan kalori didapat dari karbohidrat, lemak dan protein.

PROTEINURIA
Adanya protein dalam urine dalam konsentrasi lebih besar dari 0,3 gr/liter urine 24 jam atau dalam konsentrasi lebih besar dari 1 gr/liter. Protein dalam urine normal sangat kecil, yaitu kurang dari 100 mg protein/hari, 2/3 dari jumlah tersebut adalah protein yang dikeluarkan dari tubulus. Biasanya protein yang melebihi batas lebih dari 150 mg protein / hari sudah tidak normal, ini dapat dijumpai pada kerusakan-kerusakan membran kapiler glomerulus, atau karena gangguan mekanisme reabsorbsi tubulus atau kerusakan pada kedua mekanisme tersebut .

MACAM-MACAM PROTEINURIA
Fungsional Proteinuria Disebabkan oleh karena kerja ekspose dengan udara yang sangat dingin, otot-otot yang bekerja keras akan menghilang setelah istirahat. Pada kehamilan disebut ostortatik atau postural proteinuria .
a.

b.

Organik Proteinuria

Prerenal proteinuria Dikarenakan penyakit yang umum terjadi dan merupakan indikator penyakit ginjal, misalnya, keracunan obat atau bahan kimia. Karena peningkatan permeabilitas glomerulus, seperti keadaan-keadaan hipertensi esensial dan preeklamsia pada kehamilan, pada proteinuria jenis prerenal sejati, tanpa kerusakan ginjal tetapi apabila berkepanjangan dengan sendirinya dapat menyebabkan kerusakan ginjal.
1)

2)

Proteinuria dalam kehamilan trimester II. Gangguan kesehatan yang umum selama kehamilan adalah tekanan darah tinggi (hipertensi). Gejala ini muncul dengan berbagai cara, insiden ini berkisar antara 5-10 %. Pada hipertensi kehamilan ini terjadi peningkatan tekanan darah setelah 20 minggu kehamilan untuk tekanan sistole 140 mmHg, diastole 90 mmHg. Pada saat inilah timbul gejala spesifik yang hanya muncul selama kehamilan (preeklampsia) dan disertai hipertensi kronik.

PENGERTIAN

Pre eklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi, proteinuri, dan edema. Dimana tekanan darah meningkat selama masa kehamilan. Bila tekanan darah meningkat, tubuh menahan air, dan protein bisa ditemukan dalam urin. Hal seperti ini juga disebut sebagai toxemia atau pregnancy induced hypertension (PIH).

KLASIFIKASI Pre eklamsia Ringan suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel Hipertensi : sistolik / diastolic 140/90 mmHg. Proteinuria : 300 mg / 24 jam Edema : edema local tidak dimasukan dalam criteria pre eklamsi, kecuali edema pada lengan, muka dan perut, edema generalisata.

Pre Eklamsia Berat pre eklamsia dengan tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg dan tekanan darah diastolic Diagnosis Sistolik 160 mmHg dan diastolic 110 mmHg Proteinuria lebih 5 gr / 24 jam Oliguria Kenaikan kadar kreatinin plasma Gangguan fisus dan serebral Nyeri epigastrium Edema paru-paru dan sianosis Hemolisis mikroangiopatik Trombositopenia berat Gangguan fungsi hepar Pertumbuhan janin intra uterin yang terhambat Sindrom HELLP

ETIOLOGI PENYAKIT INI SAMPAI SAAT INI


BELUM DIKETAHUI DENGAN PASTI Penyebab lain yang diperkirakan terjadi, adalah : - Kelainan aliran darah menuju rahim. - Kerusakan pembuluh darah. - Masalah dengan sistim ketahanan tubuh. - Diet atau konsumsi makanan yang salah.

MANIFESTASI

Peningkatan tekanan darah. Sebagai patokan digunakan batasan tekanan darah lebih dari 130/90 mmHg. Terjadi pembengkakan di daerah kaki dan tungkai. Pada kondisi yang lebih berat pembengkakan terjadi di seluruh tubuh. Pembengkakan ini terjadi akibat pembuluh kapiler bocor, sehingga air yang merupakan bagian sel merembes dan masuk ke dalam jaringan tubuh dan tertimbun di bagian tertentu. Kadar protein tinggi dalam urin karena gangguan ginjal. Gejala preeklampsia ringan menunjukkan angka kadar protein urin yang tinggi, yaitu lebih dari 500 mg per 24 jam. Kenaikan berat badan lebih dari 1,36 kg setiap minggu selama trimester kedua, dan lebih dari 0,45kg setiap minggu pada trimester ketiga.

BEBERAPA KONDISI YANG MENINGKATKAN RISIKO PREEKLAMSIA

Sejarah preklamsia Ibu hamil dengan sejarah keluarga ,seperti ibu atau saudara perempuannya pernah mengalami preeklamsia akan meningkatkan risiko ikut terkena. Risiko preeklamsia juga meningkat jika pada kehamilan sebelumnya si ibu mengalami preeklamsia. Kehamilan pertama Usia

Obesitas Kehamilan kembar Kehamilan dengan diabetes. Sejarah hipertensi.

KOMPLIKASI

Berkurangnya aliran darah menuju plasenta Preeklamsia akan mempengaruhi pembuluh arteri yang membawa darah menuju plasenta. Jika plasenta tidak mendapat cukup darah, maka janin akan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga pertumbuhan janin melambat atau lahir dengan berat kurang. Lepasnya plasenta Preeklamsia meningkatkan risiko lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum lahir, sehingga terjadi pendarahan dan dapat mengancam bayi maupun ibunya.

Sindrom HELLP HELLP adalah singkatan dari Hemolyssi (perusakan sel darah merah), Elevated liver enzym dan low platelet count (meningkatnya kadar enzim dalam hati dan rendahnya jumlah sel darah dalam keseluruhan darah). Gejalanya, pening dan muntah, sakit kepala serta nyeri perut atas. Eklamsia Jika preklamsia tidak terkontrol, maka akan terjadi eklamsia. Eklamsia dapat mengakibatkan kerusakan permanen organ tubuh ibu, seperti otak, hati atau ginjal. Eklamsia berat menyebabkan ibu mengalami koma, kerusakan otak bahkan berujung pada kematian janin maupun ibunya. 5. Komplikasi lain

KOMPLIKASI LAIN
Solusio plasenta, biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut. Hipofibrinogenemia. Hemolisis. Perdarahan otak. Merupakan penyebab utama kematian maternal penderita eklampsia. Kelainan mata. Eedema paru-paru. hal ini disebabkan karena payah jantung.

Nekrosis hati Kelainan ginjal endoteliosis glomerulus, anuria,gagal ginjal. Komplikasi lain. lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibat kejang-kejang pneumonia aspirasi dan DIC (disseminated intravascular coagulation). Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra-uterin

TERAPI PENGOBATAN
Bedrest Obat hipertensi. Dokter dapat merekomendasikan pemakaian obat penurun tekanan darah. Pada preklamsia parah dan sindroma HELLP, obat costicosteroid dapat memperbaiki fungsi hati dan sel darah. Obat ini juga dapat membantu paru-paru bayi tumbuh bila harus terjadi kelahiran prematur. Melahirkan. Ini adalah cara terakhir mengatasi preeklamsia. Pada preklamsia akut/parah, dokter akan menganjurkan kelahiran prematur untuk mencegah yang terburuk. Kelahiran ini juga diperlukan kondisi minimal, seperti kesiapan tubuh ibu dan kondisi janin.

PENCEGAHAN

Manfaat istirahat dan tidur, ketenangan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Minum 6-8 gelas air sehari Olahraga yang cukup Serta pentingnya mengatur diit rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein Hindari makanan yang digoreng dan junkfood, minum alkohol, berkafein, juga Menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan. Mengkonsumsi multivitamin yang mengandung asm folat dan suplemen nutrisi Mengkonsumsi makanan berserat

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pre-eklampsia ringan 1. dapat dikatakan tidak mempunyai risiko bagi ibu maupun janin 2. tidak perlu segera diberikan obat antihipertensi atau obat lainnya, tidak perlu dirawat kecuali tekanan darah meningkat terus (batas aman 140-150/90100 mmHg). 3. istirahat yang cukup (berbaring / tiduran minimal 4 jam pada siang hari dan minimal 8 jam pada malam hari) 4. pemberian luminal 1-2 x 30 mg/hari bila tidak bisa tidur 5. pemberian asam asetilsalisilat (aspirin) 1 x 80 mg/hari bila tekanan darah tidak turun, dianjurkan dirawat dan diberi obat antihipertensi : metildopa 3x 125 mg/hari (max.1500 mg/hari), atau nifedipin 3-8 x 5-10 mg/hari, atau nifedipin retard 2-3 x 20 mg/hari, atau pindolol 1-3 x 5 mg/hari (max.30 mg/hari). 7. diet rendah garam dan diuretik TIDAK PERLU 8. jika maturitas janin masih lama, lanjutkan kehamilan, periksa tiap 1 minggu 9. jika dalam perawatan tidak ada perbaikan, tatalaksana sebagai pre-eklampsia berat. Jika perbaikan, lanjutkan rawat jalan 10. pengakhiran kehamilan : ditunggu sampai usia 40 minggu, kecuali ditemukan pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, solusio plasenta, eklampsia, atau indikasi terminasi lainnya. Minimal usia 38 minggu, janin sudah dinyatakan matur. 11. persalinan pada pre-eklampsia ringan dapat dilakukan spontan, atau dengan bantuan ekstraksi untuk mempercepat kala II.

PENATALAKSANAAN PRE-EKLAMPSIA BERAT


Penanganan aktif. Penderita harus segera dirawat, sebaiknya dirawat di ruang khusus di daerah kamar bersalin Pengobatan medisinal : diberikan obat anti kejang MgSO4 dalam infus dextrose 5% sebanyak 500 cc tiap 6 jam. Cara pemberian MgSO4 : dosis awal 2 gram intravena diberikan dalam 10 menit, dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan sebanyak 2 gram per jam drip infus (80 ml/jam atau 15-20 tetes/menit).

Penanganan konservatif Pada kehamilan kurang dari 35 minggu tanpa disertai tandatanda impending eclampsia dengan keadaan janin baik, dilakukan penanganan konservatif. Medisinal : sama dengan pada penanganan aktif. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda preeklampsia ringan, selambatnya dalam waktu 24 jam. Bila sesudah 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan dan harus segera dilakukan terminasi.