Anda di halaman 1dari 29

MODEL PERHITUNGAN TINGKAT KESEHATAN BANK PERKREDITAN RAKYAT DI KOTA MALANG DENGAN METODE PEARLS

RANGKUMAN SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Penyelesaian Program Pendidikan Strata Satu Jurusan Manajemen

Oleh : NUR ALIA 2005210150

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS SURABAYA 2009

PENGESAHAN RANGKUMAN SKRIPSI


Nama Tempat, Tanggal Lahir N.I.M Jurusan Program Pendidikan Konsentrasi Judul : : : : : : : Nur Alia Surabaya, 20 Oktober 1987 2005210150 Manajemen Strata 1 Manajemen Perbankan Model Perhitungan Tingkat kesehatan Bank Perkreditan Di Kota Malang Dengan Metode PEARLS Disetujui dan diterima baik oleh : Dosen Pembimbing, Tanggal :................

Drs. Ec. Abdul Mongid, M.A Ketua Jurusan Manajemen, Tanggal :.06 April 2009

Drs. Ec. Herizon, M.Si

1.1 Latar Belakang Masalah Dalam rangka menciptakan industri perbankan yang lebih baik, sehat dan stabil maka perbankan yang sekarang ini perlu dikaji lagi keberadaannya, apakah struktur perbankan nasional memang sudah sejalan dengan perkembangan saat ini maupun kedepan ataukah perlu disempurnakan lagi. Oleh karena itu industri perbankan nasional memerlukan adanya suatu kerangka acuan untuk mengatasi segala perubahan dan tantangan serta arah yang hendak dicapai di masa yang akan datang. Kerangka acuan tersebut diwujudkan dalam bentuk Arsitektur Perbankan Indonesia (API), yang saat ini sedang dilakukan oleh Bank Indonesia. Dalam penyusunan API terdapat salah satu pilar dari enam pilar yang menjadi agenda perbankan ke depan adalah pilar pertama yang menyangkut struktur perbankan yang sehat. Struktur perbankan yang sehat tersebut merupakan inti dari semua permasalahan perbankan, karena baik buruknya industri perbankan akan ditentukan oleh bagus tidaknya struktur yang dibuat di samping itu, perlu adanya fungsi pendukung lain seperti pengawasan dan pengaturan yang efektif. Sebagai lembaga keuangan, bank memiliki usaha pokok berupa menghimpun dana dari masyarakat, untuk kemudian menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat dalam jangka waktu tertentu. Mengingat dana yang dikelola bank adalah dana masyarakat, maka manajemen bank harus selalu melakukan penilaian atas kesehatan bank yang dikelolanya. Penilaian tingkat kesehatan suatu bank dapat diartikan sebagai penilaian atas kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan, secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan

baik, yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku. Penilaian kesehatan perbankan bertujuan untuk menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi sehat, cukup sehat, kurang sehat dan tidak sehat. Kriteria penilaian yang digunakan Biro Riset Info Bank berbeda dengan kriteria Bank Indonesia. Biro Riset Info Bank menerapkan kriteria kriteria yang umum digunakan untuk mengukur kinerja keuangan sebuah bank, dengan menggunakan lima aspek keuangan yaitu aspek permodalan, aspek kualitas aktiva, aspek manajemen, aspek rentabilitas, aspek likuiditas dan aspek sensitivitas. Sedangkan penilaian kesehatan bank versi Bank Indonesia mengacu pada unsur unsur Capital, Asset Quality, Management, Earning,Lliquidity and Sensitivity (CAMELS). CAMELS selama ini menjadi kunci dalam pengawasan bank yang dilakukan oleh Bank Indonesia, namun demikian pengukuran kinerja

menggunakan CAMELS dalam prakteknya tidak sesuai dengan tujuan pengaturannya itu sendiri. Artinya pengukuran CAMELS seringkali menimbulkan interpretasi yang berbeda, karena penggunaan bobot risiko untuk menghitung risiko kredit seringkali tidak sesuai dengan tujuan awal lembaga keuangan untuk memberikan kredit. CAMELS menggunakan data kualitatif sehingga sering menimbulkan interpretasi berbeda, selain itu juga dianggap kurang memberikan nilai tambah bagi bank, untuk terus mendorong pertumbuhan kredit. Saat ini lembaga keuangan internasional banyak memberikan perhatian terhadap alternatif penilaian kinerja lembaga keuangan mikro, yaitu dengan metode PEARLS. PEARLS adalah singkatan dari Protection, Effective Financial

Structure, Asset Quality, Rate of Retiurn and Cost, Liquidity dan Sign of Growth. Metode PEARLS adalah sebuah sistem yang banyak digunakan untuk menilai kinerja perusahaan keuangan terutama perusahaan keuangan mikro. Selain itu metode tersebut dapat digunakan sebagai supervisory tools oleh otoritas perbankan, karena penilaian kinerja ini dirasakan lebih luas. PEARLS merupakan kumpulan rasio keuangan yang akan membantu standarisasi istilah berbagai lembaga keuangan. Artinya cakupan PEARLS yang komprehensif telah mampu menyediakan informasi lebih baik tentang risiko dari pada CAMELS. Yang lebih penting lagi cakupan PEARLS yang lebih luas juga memberikan informasi lebih detail mengenai kondisi bank secara umum terutama aspek pertumbuhan. Terdapat 44 indikator keuangan yang akan digunakan dalam PEARLS, bagi otoritas PEARLS menyediakan sarana untuk melakukan penilaian dengan berdasarkan pada indikator dan standar untuk pengawasan kinerja lembaga keuangan PEARLS awalnya merupakan alat untuk manajemen dalam melakukan evaluasi diri, dalam perkembangan bisa dimanfaatkan oleh otoritas dalam melakukan pengawasan. bagi manajemen bisa menjadi sinyal awal adanya masalah sebelum masalah menjadi gawat. sedangkan bagi komisaris akan menjadi alat untuk melakukan penilaian dan monitoring terhadap direksi. Terdapat perbedaan antara CAMELS dengan PEARLS. CAMELS merupakan alat yang umum digunakan untuk menilai apakah suatu lembaga keuangan sehat atau tidak, sementara PEARLS tidak sekedar melihat apakah bank

tersebut sehat atau tidak, tetapi juga melihat apakah bank tersebut sehat dan tumbuh. Jika dikaji secara rinci maka perbedaan penting lainnya adalah : 1. PEARLS merupakan penilaian berdasarkan pada kuantitatif, sementara CAMELS selain menggunakan ukuran kuantitatif juga menggunakan ukuran kualitatif yaitu untuk unsur manajemen, artinya PEARLS lebih memberikan informasi yang objektif mengenai kinerja suatu bank. 2. PEARLS menilai struktur keuangan dari neraca dan laporan laba rugi, struktur keuangan bank akan menentukan apakah pendapatan dan biaya bank sudah optimal atau belum, sehingga mempengaruhi keuntungan suatu bank. 3. PEARLS mengukur tingkat pertumbuhan suatu bank, dengan mengawasi dan menilai tingkat pertumbuhan bank selain melihat kepuasan nasabah juga menjadi alat, apakah manajemen bank memiliki kesempatan untuk menilai apakah struktur keuangan masih bisa dioptimalkan atau tidak.

1.2 Perumusan Masalah Dari latar belakang yang telah dijabarkan di atas, maka permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah : Bagaimanakah model pemeringkatan yang sesuai dengan BPR dengan melibatkan komponen komponen PEARLS (Protection, Effective Financial Structure, Asset Quality, Rate of Retiurn and Cost, Liquidity dan Sign of Growth)?

1.3 Tujuan Penelitian Membuat model pemeringkatan yang sesuai dengan BPR dengan melibatkan komponen komponen PEARLS (Protection, Effective Financial Structure, Asset Quality, Rate of Retiurn and Cost, Liquidity dan Sign of Growth).

1.4 Manfaat Penelitian Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah dan tujuan penelitian maka manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah : 1. Bagi Bank atau Dunia Perbankan Sebagai sumbangan informasi kepada manajemen maupun otoritas pengawas bagi bank khususnya BPR, selain itu untuk mengelola tingkat kesehatan BPR di masa yang akan datang serta sebagai bahan evaluasi. 2. Bagi Penulis Sebagai sarana untuk menerapkan dan mengaplikasikan teori teori yang telah diperoleh selama masa studi dan untuk menambah pengetahuan dalam bidang perbankan, terutama yang berkaitan dengan penilaian terhadap kinerja keuangan suatu bank. 3. Bagi Pembaca Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan atau sebagai pedoman untuk penelitian selanjutnya. 4. Bagi STIE Perbanas Surabaya Merupakan bahan yang dapat menambah khasanah penelitian dan referensi yang akan digunakan serta bermanfaat di masa yang akan datang

3.1 Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan dapat ditinjau dari berbagai aspek diantaranya adalah : 1. Dilihat dari jenis data yang dianalisis, penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif karena data yang dianalisis pada penelitian ini adalah data kuantitatif. 3.2 Batasan Penelitian Penelitian ini dibatasi pada indikator P1, P2, E5, E9, A1, A2, R9, R12, L1, L3, S1 dan S11 sebagai model pemeringkatan tingkat kesehataan Bank Perkreditan Rakyat dengan periode penelitian secara triwulan pada tahun 2007 2008.

3.3 Identifikasi Variabel Yang Merupakan Variabel penyusun dalam melakukan penilaian tingkat kesehatan bank, dengan metode PEARLS sebagaimana ditunjukkan pada tabel 31 Tabel 3.1 VARIABEL PENELITIAN
Komponen Protection Effective Finanacial Structure Asset Quality Rate Return and Cost Liqiudity Sign of Growth Indikator P1dan P2 E5 dan E9 A1 dan A2 R9 dan R12 L1 dan L3 S1 dan S11

3.5 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Bank Perkreditan Rakyat di Kota Malang. Sampel yang diteliti adalah keseluruhan populasi Bank Perkreditan Rakyat di Kota Malang jadi, pada penelitian menggunakan teknik sampling berupa sensus karena mengambil semua populasi Bank Perkreditan Rakyat di Kota Malang, Yaitu : PT. BPR Putera Dana, PT. BPR Gunung Arjuna, PT. BPR Gunung Ringgit, PT. BPR Trikarya Waranugraha, PD. BPR Tugu Artha Malang, PT. BPR Armindo Kencana, PT. BPR Nusumma Gondanglegi dan PT. BPR Sumber Arto

3.6 Data dan Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data data yang diperoleh dan dikumpulkan dari neraca dan laporan keuangan triwulan periode 2007 sampai dengan 2008 yang terdiri dari Neraca, Laporan Laba Rugi dan Kualitas Aktiva Produktif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, yaitu metode dengan mengumpulkan data atau dokumen yang berupa data dari laporan keuangan bank triwulan 2007 sampai dengan 2008.

3.7 Teknik Analisa Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menetapkan rating atau peringkat. Adapun ketentuannya sebagaimana ditunjukkan pada tabel 3.2

Tabel 3.2 TEKNIK ANALISA DATA


Indikator P1 Rumus Standar Allowance for Loan 100 % Losses/ Delinquency > 12 months Interval 81% 61 80 % 41 60 % 21 40 %
20%

Nilai 10 7,5 5 2,5 0 10 7,5 5 2,5 0 10 7,5 5 2,5 0 10 7,5 5 2,5 0 10 7,5 5 2,5 0

Peringkat 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

Keterangan Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik

P2

Allowance for 35 % LoanLosses/Delinquency

35 % 28 34 % 21 27 % 14 20 % 13 % 80 % 70 79 % 60 69 % 50 59 % 49 % 41 % 31 40 % 21 30 % 11 20 % 10 % 5% 6 10 % 11 15 % 16 20 % 21 % 5% 6 10 % 11 15 % 16 20 % 21 % 5% 4 4,5 % 3 3,5 % 2 2,5 % 1,5% 41 % 31 40 %

E5

Savings Deposits / Total 70 - 80 % Asset

E9

Net Institutional Capital Min 10 % / Total Asset

A1

Total Loan Delinquency <= 5% / Gross Total Loan

A2

Non Earning /Total Asset

Asset <= 5%

10 7,5 5 2,5 0 10 7,5 5 2,5 0 10 7,5

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2

Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik Sangat baik Baik

R9

Total Operating 5 % Expenses /Average Total Asset

R12

Net Income / Average Min 10 % Totalb Asset

21 30 % 11 20 % 10 % L1 ST Investmen + Liquid Min 15 % Asset ST Payables / Savings Deposit 61 % 46 60 % 31 45 % 16 30 % 15 % 1% 2 11 % 12 21 % 22 31 % 32 % 80 % 70 79 % 60 69 % 50 59 % 49 % > 11 % 10 8,5 % 8 6,5 % 6 4,5 % <4%

5 2,5 0 10 7,5 5 2,5 0 10 7,5 5 2,5 0 10 7,5 5 2,5 0 10 7,5 5 2,5 0

3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

Cukup baik Kurang baik Tidak baik Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik Sangat baik Baik Cukup baik Kurang baik Tidak baik

L3

Non Earning Liquid 1 % Asset / Total Asset

S1

Growth in Net Loans

70 80 %

S11

Growth in Total Asset

> inflasi (Desember 2008)

Sumber : Peneliti

4.2.2 Pembahasan Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis yang telah dilakukan sebelumnya, maka dengan menggunakan dua belas indikator yaitu : P1, P2, E5, E9, A1, A2, R9, R12, L1, L3, S1 dan S11 dapat dibuat perhitungan peringkat bank bank BPR di kota Malang, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.13

Tabel 4.13 PERINGKAT BPR KOTA MALANG Nilai Tiap Indikator P1 P2 E5 E9 A1 A2 R9 R12 L1 10 10 5 5 10 10 10 0 2.5 10 10 7.5 2.5 10 10 10 0 0 5 5 7.5 5 7.5 10 10 0 0 7.5 7.5 7.5 2.5 5 10 10 0 5 0 0 0 0 5 5 7.5 0

Nama Bank BPR Tugu Artha Malang BPR Armindo Kencana BPR Gunung Arjuna BPR Gunung Ringgit BPR Nusumma Gondanglegi 10 10 10 0 7.5 10 10 BPR Putera Dana 2.5 2.5 2.5 2.5 0 10 10 BPR Sumber Arto 2.5 5 10 2.5 0 10 10 BPR Trikarya Waranugraha 10 10 5 5 10 10 10 Sumber : Tabel 4.1 sampai dengan Tabel 4.12

L3 10 10 10 10 10 7.5 10 10

S1 S11 Total 0 10 82.5 0 2.5 72.5 0 5 65 0 5 67.5 0 0 0 0 10 0 0 0 82.5 42.5 57.5 70

Berdasarkan Tabel 4.13 dapat dijelaskan peringkat BPR di kota Malang sebagai berikut : a. BPR Tugu Artha menduduki peringkat pertama dengan skor nilai sebesar 82,5, bank tersebut memiliki keunggulan pada indikator : 1. P1 dimana bank memiliki pencadangan yang lebih untuk mengurangi adanya kredit macet. 2. P2 dimana bank memeiliki pencadangan yang lebih untuk mengurangi adanya kredit bermasalah. 3. E9 dimana modal yang dimiliki oleh BPR tersebut mampu memenuhi atau meningkatkan aset yang dimiliki, melalui pembelian inventaris atau aktiva tetap. 4. A1 dimana BPR tersebut mampu menjaga kualitas aktivanya agar tidak menimbulkan kredit bermasalah.

5. A2 dimana mampu mengelola aset yang dimiliki sehingga tidak terlalu banyak dana yang menganggur untuk dialokasikan pada inventaris atau aktiva tetap. 6. R9 yaitu aset yang dimiliki oleh BPR tersebut mampu membiayai kegiatan operasional dari BPR tersebut. 7. L3 yaitu tidak banyak dana yang menganggur dalam bentuk kas, sehingga dapat menghasilkan pendapatan. 8. S11 yaitu mampu mencover kerugian akibat tingginya inflasi, Sebab tingginya inflasi maka akan mendorong tingginya tingkat suku bunga, yang akan berakibat pada berkurangnya minat nasabah dalam melakukan peminjaman dana, sehingga pendapatan yang akan diterima oleh BPR tersebut akan semakin berkurang. Selain itu juga terdapat kelemahan pada indikator : 1. E5 dimana BPR Tugu Artha masih kurang memiliki sumber dana yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk aktiva produktif, misalnya kredit. 2. R12 yaitu BPR tersebut belum mampu mengelola aset yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan bersih. 3. L1 yaitu belum mampu mengelola likuiditas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. 4. S1 yaitu menurunnya tingkat kredit yang diberikan oleh BPR tersebut pada nasabah, karena masyarakat kurang memiliki rasa kepercayaan terhadap BPR dalam melakukan peminjaman dana.

b. BPR Nusumma Gondanglegi menduduki peringkat kedua meskipun skor nilai yang didapat sama dengan BPR Tugu Artha sebesar 82,5. Pada dasarnya nilai indikator yang diperoleh dari BPR ini tidak jauh berbeda dengan BPR Tugu Artha, tetapi BPR Nusumma Gondanglegi memiliki keunggulan pada indikator 1. E5 dimana bank tersebut memiliki sumber dana yang lebih dan dapat dimanfaatkan dalam bentuk aktiva produktif, misalnya kredit. 2. L1 dimana indikator tersebut menunjukkan bahwa BPR tersebut mampu menglola likuiditasnya dengan baik untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Selain itu kelemahan yang dimiliki oleh BPR ini yaitu pada indikator : 1. E9 dimana modal yang dimiliki oleh BPR tersebut belum mampu memenuhi atau meningkatkan aset yang dimiliki. 2. A1 dimana BPR tersebut masih kurang mampu menjaga kualitas aktivanya dalam pemebrian kredit kepada nasabahnya c. BPR Armindo Kencana menduduki peringkat ketiga dengan skor nilai yang didapat sebesar 72,5. Adapun keunggulan yang dimiliki yaitu pada indikator : 1. P1 dimana bank tersebut memiliki pencadangan yang lebih untuk mengurangi adanya kredit macet. 2. P2 dimana bank tersebut memiliki pencadangan yang lebih untuk mengurangi adanya kredit bermasalah. 3. E5 dimana BPR tersebut memiliki sumber dana yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk aktiva produktif misalnya kredit.

4. A1 dimana BPR tersebut mampu menjaga kualitas aktivanya agar tidak menimbulkan kredit bermasalah. 5. A2 dimana mampu mengelola aset yang dimiliki sehingga tidak terlalu banyak dana yang menganggur untuk dialokasikan pada inventaris atau aktiva tetap. 6. R9 dimana aset yang dimiliki oleh BPR tersebut mampu membiayai kegiatan operasionalnya. 7. L3 dimana tidak banyak dana yang menganggur dalam bentuk kas, sehingga bank tersebut dapat mengalokasikan pada aktiva produktif untuk menghasilkan pendapatan. Selain itu BPR ini memiliki kelelmahan pada indikator : 1. E9 dimana modal yang dimiliki belun mampu atau belum dapat meningkatkan aset yang dimiliki. 2. R12 dimana BPR tersebut belum mampu mengelola aset yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan bersih. 3. L1 yaitu belum mampu mengelola likuiditas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. 4. S1 yaitu menurunnya tingkat krdit yang diberikan oleh BPR tersebut pada nasabah, karena masyarakat kurang memiliki rasa kepercayaan terhadap BPR dalam melakukan peminjaman dana. 5. S11 dimana tidak dapat mengcover kerugian akibat tingginya inflasi. Sebab tingginya infasi akan mendorong tingginya kenaikan tingkat suku bunga, yang akan berakibat pada berkurangnya minat nasabah dalam

melakukan peminjaman dana, sehingga pendapatan yang diterima oleh BPR akan semakin berkurang. d. BPR Trikarya Wranugraha menduduki peringkat keempat dengan skor nilai yang didapat yaitu sebesar 70. BPR ini memiliki keunggulan pada beberapa indikator : 1. P1 dimana BPR tersebut memiliki pencadangan yang lebih untuk mengurangi adanya kredit macet. 2. P2 dimana BPR tersebut memiliki pencadangan yang lebih untuk mengurangi adanya kredit bermasalah. 3. E5 dimana BPR tersebut memiliki sumber dana yang dapat dimanfaatkan dalam nentuk aktiva produktif, misalnya kredit. 4. E9 dimana modal yang dimiliki oleh BPR tersebut mampu memenuhi atau meningkatkan aset yang dimiliki, melalui pembelian inventaris atau aktiva tetap. 5. A1 dimana BPR tersebut mapu menjaga kualitas aktivanya agar tidak menimbulkan kredit bermasalah. 6. A2 dimana mampu mengelola aset yang dimiliki sehingga tidak terlalu banyak dana yang menganggur untuk dialokasikan pada inventaris atau aktiva tetap. 7. R9 dimana aset yang dimiliki oleh BPR tersebut mampu membiayai kegiatan operasionalnya.

8. L3 dimana tidak banyak dana yang menganggur dalam bentuk kas, sehingga bank tersebut dapat mengalokasikan pada aktiva produktif untuk menghasilkan pendapatan. Adapun kelemahan yang dimiliki yaitu pada indikator : 1. R12 dimana BPR tersebut belum mampu mengelola aset yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan bersih. 2. L1 yaitu belum mampu mengelola likuiditas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. 3. S1 yaitu menurunnya tingkat kredit yang diberikan oleh BPR tersebut pada nasabah, karena masyarakat kurang memiliki rasa kepercayaan terhadap BPR dalam melakukan peminjaman dana.. 4. S11 dimana tidak dapat mengcover kerugian akibat tingginya inflasi. Sebab tingginya inflasi akan mendorong tingginya kenaikan tingkat suku bunga, yang akan berakibat pada berkurangnya minat nasabah dalam melakukan peminjaman dana, sehingga pendapatan yang diterima oleh BPR akan semakin berkurang. e. BPR Gunung Ringgit menduduki peringkat kelima dengan skor nilai yang didapat yaitui sebesar 67,5. BPR Gunung Ringgit memiliki keunggulan pada indikator : 1. P1 dimana BPR tersebut memiliki pencadangan yang lebih untuk mengurangi adanya kredit macet. 2. P2 dimana BPR tersebut memiliki pencadangan yang lebih untuk mengurangi adanya krdit bermasalah.

3. E5 dimana BPR tersebut memiliki sumber dana yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk aktiva produktif, misalnya kredit. 4. A1 dimana BPR tersebut mampu menjaga kualitas aktivanya agar tidak menimbulkan kredit bermasalah. 5. A2 dimana mapu mengelola aset yang dimiliki sehingga tidak terlalu banyak dana yang menganggur untuk dialokasikan pada inventaris atau aktiva tetap. 6. R9 dimana asst yang dimiliki oleh BPR tersebut mampu membiayai kegiatan operasionalnya. 7. L1 yaitu mampu mengelola likuiditas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. 8. L3 dimana tidak banyak dana yang menganggur dalam bentuk kas, sehingga bank tersebut dapat mengalokasikan pada aktiva produktif untuk menghasilakan pendapatan. Adapun kelemahan yang dimiliki oleh BPR ini, yaitu pada indikator : 1. E9 dimana modal yang dimiliki belum mampu atau belum dapat meningkatkan aset yang dimiliki. 2. R12 dimana BPR tersebut belum mampu mengelola aset yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan bersih. 3. S1 yaitu menurunnya tingkat kredit yang diberikan oleh BPR tersebut pada nasabah, karena masyarakat kurang memiliki rasa kepercayaan terhadap BPR dalam melakukan peminjaman dana.

4. S11 dimana tidak dapat mengcover kerugian akibat tingginya inflasi. Sebab tingginya inflasi akan mendorong tingginya kenaikan tingkat suku bunga, yang akan berakibat pada berkurangnya minat nasabah dalam melakukan peminjama dana, sehingga pendapatan yang diterima oleh

BPR akan semakin berkurang. f. BPR Gunung Arjuna menduduki peringkat keenam dengan skor nilai yang didapat sebesar 65. Adapaun keunggulan BPR ini terletak pada indikator : 1. P1 dimana BPR tersebut memiliki pencadangan yang lebih untuk mengurangi adanya kredit macet. 2. P2 dimana BPR tersebut memiliki pencadangan yang lebih untuk mengurangi adanya kredit bermasalah. 3. E5 dimana BPR tersebut memiliki sumber dana yang dapat dimanfaatkan dalam bentuk aktiva produktif, misalnya kredit 4. E9 dimana modal yang dimiliki atau dapat meningkatkan aset yang dimiliki, melalui pembelian inventaris atau aktiva tetap. 5. A1 dimana BPR tersebut mampu menjaga kualitas aktivanya agar tidak menimbulkan kredit bermasalah. 6. A2 dimana mampu mengelola aset yang dimiliki sehingga tidak terlalu banyak dana yang menganggur untuk dialokasikan pada inventaris atau aktiva tetap. 7. R9 dimana aset yang dimiliki oleh BPR tersebut mampu membiayai kegiatan operasionalnya.

8. L3 dimana tidak banyak dana yang menganggur dalam bentuk kas, sehingga bank tersebut dapat mengalokasikan pada aktiva produktif untuk mengahasilkan pendapatan. 9. S11 yaitu mampu mengcover kerugian akibat tingginya inflasi. Sebab tingginya inflasi maka akan mendorong tingginya tingkat suku bunga, yang akan berakibat pada berkurangnya minat nasabha dalam melakukan peminjaman dana, sehingga pendapatan yang akan diterima oleh BPR tersebut kana semakin berkurang. Adapun kelemahan BPR ini terletak pada indikator : 1. R12 dimana BPR tersebut belum mampu mengelola aset yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan bersih. 2. L1 yaitu belum mapu mengeklola likuiditas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. 3. S1 yaitu menurunnya tingkat kredit yang diberikan oleh BPR tersebut pada nasabah, karena masyarakat kurang memiliki rasa kepercayaan terhadap BPR dalam melakukan peminjaman dana. g. BPR Sumber Arto menmduduki peringkat ketujuh dengan skor nilai yang didapat sebesar 57,5. Adapun keunggulan BPR ini terletak pada indikator : 1. P2 dimana BPR tersebut cukup memiliki pencadangan untuk mengurangi adanya kredit bermasalah. 2. E5 dimana BPR tersebut memiliki kemampuan sangat baik untuk memiliki sumber dana yang lebih dan dapat dimanfaatkan dalam bentuk aktiva produktif, misalnya kredit.

3. A2 dimana mampu mengelola aset yang dimiliki dengan sangat baik, untuk dialokasikan pada inventaris atau aktiva tetap. 4. R9 dimana aset yang dimiliki oleh BPR tersebut mampu membiayai kegiatan operasionalnya. 5. L1 yaitu mampu mengelola likuiditas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. 6. L3 dimana tidak banyk dana yang menganggur dalam bentuk kas, sehingga bank tersebut dapat mengalokasikan pada aktiva produktif untuk menghasilkan pendapatan.

Adapun kelemahan BPR ini terletak pada indikator : 1. P1 dimana BPR tersebut masih kurang memiliki pencadangan untuk mengurangi adanya kredit macet. 2. E9 dimana modal yang dimiliki belum mampu atau belum dapat meningkatkan aset yang dimiliki. 3. A1 dimana BPR tersebut belum mampu menjaga kualitas aktivanya agar tidak menimbulkan kredit bermasalah. 4. R12 dimana BPR tersebut belum mamapu mengelola aset yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan bersih. 5. S1 yaitu menurunnya tingkat kredit yang diberikan oleh BPR tersebut pada nasabah, karena masyarakat kurang memiliki rasa kepercayaan terhadap BPR dalam melakukan peminjaman dana.

6. S11 dimana tidak dapat mengcover kerugian akibat tingginya inflasi. Sebab tingginya inflasi akan mendorong tingginya kenaikan tingkat suku bunga, yang akan berakibat pada berkurangnya minat nasabah dalam melakukan peminjaman dana, sehingga pendapatan yang diterima oleh BPR akan semakin berkurang. h. BPR Putera Dana menduduki peringkat kedelapan dengan skor nilai yang didapat sebesar 42,5. Adapaun keunggulan BPR ini terletak pada indikator : 1. A2 dimana mamapu mengelola aset yang dimiliki dengan sangat baik untuk dialokasikan pada inventaris atau aktiva tetap. 2. R9 dimana aset yang dimiliki oleh BPR tersebut mampu membiayai kegiatan operasionalnya. 3. L1 yaitu mampu mengelola likuiditas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. 4. L3 dimana tidak banyak dana yang menganggur dalam bentuk kas, sehingga bank tersebut dapat mengalokasikan pada aktiva produktif untuk menghasilkan pendapatan. Adapun kelemahan BPR ini terletak pada indikator : 1. P1 dimana BPR tersebut masih kurang memiliki pencadangan untuk mengurangi adanya kredit macet. 2. P2 dimana BPR tersebut kurang memiliki pencadangan untuk mengurangi adanya kredit bermasalah.

3. E5 dimana BPR tersebut memiliki kemampuan sangat baik untuk memiliki sumber dana yang lebih dan dapat dimanfaatkan dalam bentuk aktiva produktif, misalnya kredit. 4. E9 dimana modal yang dimiliki belum mampu atau belum dapat meningkatkan aset yang dimiliki. 5. A1 dimana BPR tersebut mampu menjaga kualitas aktivanya agar tidak menimbulkan kredit bermasalah. 6. R12 dimana BPR tersebuit belum mampu mengelola aset yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan bersih. 7. S1 yaitu menurunnya tingkat kredit yang diberikan oleh BPR tersebut pada nasabah, karena masyarakat kurang memiliki rasa kepercayaan terhadap BPR dalam melakukan peminjaman dana. 8. S11 dimana tidak dapat mengcover kerugian akibat tingginya inflasi. Sebab tingginya inflasi akan mendorong tingginya kenaikan tingkat suku bunga, yang akan berakibat pada berkurangnya minat nasabah dalam melakukan peminjaman dana, sehingga pendapatan yang diterima oleh BPR akan semakin berkurang.

5.1 Kesimpulan Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Diantara delapan BPR yang menjadi sampel penelitian, BPR Tugu Artha mendapat peringkat pertama dengan skor niai yang didapat sebesar 82,5

2. BPR Nusumma Gondanglegi menduduki peringkat kedua dengan skor nilai yang didapat sebesar 82,5. 3. BPR Armindo Kencana menduduki peringkat ketiga dengan skor nilai yang didapat sebesar 72,5. 4. BPR Trikarya Waranugraha mendudduki peringkat keempat dengan skor nilai yang didapat yaitu sebesar 70. 5. BPR Gunung Ringgit menduduki peringkat kelima dengan skor nilai yang didapat yaitu sebesar 67,5. 6. BPR Gunung Arjuna menduduki peringkat keenam dengan skor nilai yang didapat sebesar 65. 7. BPR Sumber Arto menduduki peringkat ketujuh dengan skor nilai yang didapat sebesar 57,5. 8. BPR Putera Dana menduduki peringkat kedelapan dngan skor nilai yang didapat sebesar 40.

5.3 Saran Penulis menyadari bahwa hasil penelitian yang disimpulkan di atas masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu penulis menyampaikan beberapa saran yang diharapkan bermanfaat bagi berbagi pihak yang memiliki kepentingan dengan hasil penelitian. Adapun saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini adalah sebagi berikut :

1. Bagi Bank a. Kebijakan yang terkait dengan komponen Protection (P1) hendaknya BPR Sumber Arto dan BPR Putera Dana meningkatkan pencadangan agar dapat mengurangi kredit dengan kategori macet. b. Kebijakan yang terkait dengan komponen Protection (P2) hendaknya BPR Putera Dana meningkatkan pencadangan agar dapt mengurangi kredit bermasalah (kurang lancar, diragukan dan macet) c. Kebijakan yang terkait dengan komponen Effective Financial Structure (E5) hendaknya BPR Tugu Artha dan BPR Putera Dana dapat meningkatkan sumber dana yang dapat untuk menghasilkan pendapatan yang lebih guna menutup biaya operasional serta dapat dimanfaatkan dalam aktiva produktif. d. Kebijakan yang terkait dengan komponen Effective Financial Structure (E9) hendaknya BPR Nusumma Gindanglegi, BPR Armindo kencana, BPR Gunung Ringgit, BPR Sumber Arto dan BPR Putera Dana hendaknya dapat meningkatkan modal yang dimiliki agar mampu memenuhi atau meningkatkan aset yang dimiliki dengan cara meminjam dana kepada bank lain.. e. Kebijakan yang terkait dengan komponen Asset Quality (A1) hendaknya BPR Nusumma Gondanglegi, BPR Sumber Arto dan BPR Putera Dana hendaknya dapat menjaga kualitas aset yang dimiliki dalam pemberian kredit kepada nasabah dengan menerapkan prinsip kehati hatian dan melaksnakan monitoring kredit.

f. Kebijakan yang terkait dengan komponen Rate Return and Cost (R12) hendaknya seluruh BPR di kota Malang dapat meningkatkan kemampuan untuk mengelola aset yang dimiliki untuk menghasilkan pendapatan bersih. g. Kebijakan yang terkait dengan komponen Liquidity (L1) hendaknya BPR Tuugu Artha, BPR Armindo Kencana, BPR Trikarya Waranugraha dan BPR Gunung Arjuna hendaknya dapat mengelola likuiditasnya dengan baik agar mampu memenuhi kewajiban jangka pendek terhadap nasabah. h. Kebijakan yang terkait dengan komponen Sign og Growth (S1) hendaknya seluruh BPR di kota Malang agar dapat menanamkan rasa kepercayaan kepada nasabah untuk mau melakukan peminjaman dana kepada BPR. i. Kebijakan yang terkait dengan komponen Sign of Growth (S11) hendaknya BPR Armindo Kencana, BPR Trikarya Waranugraha, BPR Gunung Ringgit, BPR Sumber Arto dan BPR Putera Dana agar dapat mencover tingginya inflasi, sebab tingginya inflasi akan mendorong tingginya tingkat suku bunga, yang berakibat pada berkurangnya minat nasabah dalam melakukan peminjamaan dana. 2. Bagi Penelti Selanjutnya a. Bagi peneliti selanjutnya yang sejenis, sebaiknya melengkapi indikator indikator penilaian terhadap predikat kesehatan bank dengan metode PEARLS yang telah ditetapkan di dalam WOCCU, untuk lebih menjamin keakuratan hasil penelitian.

b. Perlu dipertimbangkan juga untuk memperpanjang periode penelitian dan menambah subjek penelitian lainnya agar dapat mempermudah dalam pengukuran rasio keuangan terhadap predikat kesehatan bank dan dapat memberikan hasil pengujian yang lebih baik, serta untuk menambah pengetahuan mahasiswa terhadap dunia perbankan.

DAFTAR RUJUKAN
Bank Indonesia. 2007. Kajian Ekonomi Regional Jawa Timur. Triwulan ke 4, (Online), (http://www.bi.go.id, diakses 17 Oktober 2008) Bank Indonesia. 2008, Laporan Keuangan Publikasi (http://www.bi.go.id, diakses 17 oktober 2008) BPR (Online).

Faradia Hasan. 2007. Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Tingkat Kesehatan Bank Asing di Indonesia. Skripsi Sarjana tidak diterbitkan, STIE Perbanas Surabaya. Info Bank. 2008. Predikat Bank Bank Umum. Biro Riset Info Bank. No 351 Edisi Juni. Irma Aristha. 2008. Pengaruh Rasio KeuanganTerhadap Predikat Kesehatan Bank Umum Swasta Nasional Di Indonesia. Skripsi Sarjana tidak diterbitkan, STIE Perbanas Surabaya. J. Supranto. 2003. Metode Penelitian Hukum dan Statistik. Jakarta. Rineka Cipta Jurnal Statistik Ekonomi Keuangan Edisi Mei 2008. Bank Indonesia Mudrajat Kuncoro Suhardjono. 2002. Manajemen Perbankan. Teori dan Aplikasi. Yogyakarta. BPFE. Pacu Perkembangan BPR , Radar Malang 29 Agustus 2008 Peraturan Bank Indonesia No.9/17/PBI/2007 tanggal 4 Desember 2007 tentang peringkat komposit BPR Richardsons C David. 2002. PEARLS Monitoring System, WOCCU Toolkit Number 4, (Online), (http://www.woccu.org/pubs/monograp.htm, 17 Oktober 2008) Subagyo. 2005. Bank dan Lembaga Keuangan Lain edisi ke-2, cetakan ke-2 STIE YKPN Yogyakarta. Totok Budisantoso, Sigid Triandaru. 2006. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta. Salemba Empat. Veithzal Rivai, Andria Permata Veithzal, et al. 2007. Bank and Financial Institution Management. Jakarta. PT.Raja Grafindo Persada