Anda di halaman 1dari 4

Manusia Menurut Islam

A. Hakikat Manusia
Pembahasan mengenai hakikat manusia dalam islam dapat dipahami dengan menjelaskan proses penciptaan manusia beserta dimensi-dimensinya dengan menelusuri beberapa term yg digunakan al-Quran dalam menjelaskan makna manusia. Proses penciptaan manusia Berdasarkan Q.S al-Hijr(15) : 28-29, Shad(38) : 71-72, al-Muminun (23) : 1216, al-Mumin(40): 67-68, dapat disimpulkan bahwa menurut al-Quran, manusia terdiri dari dua unsur utama yakni unsur tanah dan unsur roh. Dimana unsur tanah ini akan berproses menjadi bentuk manusia secara sempurna yang dikenal dengan istilah jasmani, dan unsur roh yang ditiupkan Allah SWT kedalam bentuk yg telah sempurna yang tercipta dari tanah. Unsur ini merupakan unsur rohaniah manusia. Proses yang dimaksud dari unsur tanah yang kemudian diproses menjadi bentuk manusia secara sempurna adalah dari saripati yang berasal dari tanah kemudian dijadikan air mani, kemudian segumpal darah, kemudian segumpal daging itu dijadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu dibungkus dengan daging, kemudian dijadikan makhluk yang berbentuk lain. Dimensi-dimensi manusia Istilah yang digunakan dalam al-Quran dalam menunjuk manusia yakni (1)albasyar, (2) al-insan, al-ins, unas, al-nas, (3) bani adam, dan zurriyah. Penelusuran terhadap penggunaan istilah itu dalm al-Quran menunjuk beberapa dimensi manusia sekaligus menunjuk kebutuhan manusia, yakni: Dimensi biologis-reproduksi yang membutuhkan sandang, pangan, papan dan seks(reproduksi) yang ditunjukkan oleh al-basyar. Dimensi intelektual peradaban yang membutuhkan ilmu pengetahuan, ditunjukkan oleh al-insan. Dimensi sosial-masyarakat dan religius-spiritual yang membutuhkan hubungan sosial masyarakat dan agama serta ketaatan pada Tuhan, yang ditunjukkan oleh al-ins, unas, al-nas. Dimensi historis manusia yang relevan dengan kesejarahan manusia dan asal keturunannya yang ditunjukkan oleh bani adam, dan zurriyah. Jika dikaitkan antara dimensi pada manusia dengan proses penciptaannya, maka akan diperoleh sbb: Yakni dimana unsur jasmanaiah relevan dengan dimensi biologis-reproduksi, serta unsur rohaniah relevan dengan dimensi intelektual, sosial dan religiusspiritual. Dengan demikian dapat kita tegaskan bahwa unsur rohaniah merupakan dimensi yang dominan, % pada diri manusia. Sedangkan unsur

jasmaniah hanya % pada diri manusia. Oleh karena itu, keempat dimensi tersebut harus diarahkan menuju area kerohanian atau bermuara pada unsur rohani manusia jika kita ingin menjadi manusia sejati yang berujung pada kebahagiaan abadi. Namun, jika kita memenuhi kebutuhan jasmaniah tanpa memperhatikan yang halal dan haram, dengan kata lain mengabaikan unsur rohani, maka kita akan terjerumus pada area kebinatangan dan kehewanan yang berujung pada kesengsaraan abadi.

B. Kodrat Manusia
o Sifat ketergantungan sebagai kodrat manusia Berdasarkan terjemahan dari QS al-Alaq(96) : 2, yakni (Rabb)menciptakan manusia sebagai alaq. Kata alaq disini secara etimologis bermakna yakni sesuatu yang bergantung pada sesuatu yang lain. Kepada siapa kita bergantung? Seperti yang dikatakan pada QS al-Alaq pada ayat pertama yakni bacalah atas nama Tuhanmu yang menciptakan. Jadi kita sebagai manusia yang lemah segalanya sudah seharusnya tergantung pada Allah SWT, apabila kita melepaskan sifat ketergantungan kita, maka yang terjadi adalah kehancuran dan kerusakan hidup. Sama seperti jika kita memisalkan pada janin yang ada dalam kandungan seorang ibu, apabila janin tersebut melonggarkan ketergantungan pada tempat ia bergantung, maka yang terjadi yakni keguguran, dengan kata lain, kehancuran. Selain itu manusia akan tetap berada dalam kodratnya, yakni sifat ketergantungan. Setelah lahir di dunia seorang manusia pun tidak akan mampu hidup sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, harus ada orang lain. Dengan demikian manusia tidak akan dapat melepaskan sifat ketergantungannya sekalipun manusia tersebut dengan sekuat tenaga ingin melepaskan diri dari-Nya. o Kodrat manusia berupa sifat keutamaannya Sifat keutamaan manusia antara lain adalah manusia diciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk, dimuliakan oleh Allah SWT dan diberi kemampuan untuk melakukan perjalanan di daratan dan lautan, serta di beri akal, dan kemampuan memahami. Dimana tolak ukur segi kemuliaan dan keutamaan manusia terletak pada kualitas religius-spiritualnya. Tegasnya iman dan amal saleh yang meliputi kesalehan individu, kesalehan sosial-masyarakat, dan kesalehan intelektual. Oleh karena itu, kemampuan akal dan memahami manusia terhadap objek ilmu harus dalam rangka menyadari keagungan Allah dan menyadari kelemahannya, sehingga kita tidak berlaku sombong, dan tidak tergelincir dalam paradigma berpitir iblis dan syaitan.

o Kodrat manusia berupa tujuan diciptakannya/menjadi hamba Allah dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku QS. Al-zariyat(51): 56. Kandungan ayat tersebut menjelaskan bahwa tidak lain tujuan diciptakannya manusia yakni beribadah kepada Allah SWT. Gerak dan diamnya adalah fungsi ibadah kepada Allah. Fungsi ini telah menjadi kodrat manusia. Oleh karena itu manusia yang tidak beribadah kepada Allah SWT, maka manusia tersebut telah menjauh dari kodratnya sebagai manusia dan menenggelamkan diri pada hawa nafsunya dan menjadi syaitan-syaitan yang nyata. Dalam kitab maqayis lughat, kata hamba abdun merunjuk dua makna pokok yaitu kelemahan dan kerendahan dan kekerasan dan kekasaran. Al-Raghib al-Ashfahani, membagi makna kata abdun menjadi empat, yaitu: 1) hamba karena hukum yakni budak-budak 2) hamba karena diciptakan yakni manusia dan seluruh makhluk 3) hamba karena pengabdian kepada Allah 4) hamba karena memburu dunia dan kesenangannya seperti ditegaska dalam hadis abd al-dirha dan abd al-dinar. Wujud keutamaan dan kemuliaan manusia adalah fungsi ubudiyahnya kepada Allah.

C. Potensi-Potensi Manusia
Salah satu kedudukan tinggi yang dimiliki manusia dibanding mahluk lainnya adalah dijadikannya manusia sebagai khalifah diatas muka bumi ini. Yang bertugas dan bertanggung jawab dalam menegakkan hukum-hukum Allah dalam tatanan kehidupan manusia di muka bumi ini. Namun untuk mengemban amanah itu bukanlah hal yang mudah, bahkan langit, bumi dan gunung-gunung enggan untuk memikul amanat tersebut, karena takut dapat mengkhianatinya. Namun manusia mau memikulnya, hal ini dikarenakan manusia memiliki potensi-potensi dalam dirinya yakni: keimanan dan kemampuan amal salehnya, kemampuan intelektual dan keilmuannya. Dengan demikian, seorang khalifah bertugas dan bertanggung jawab memakmurkan bumi dengan mewujudkan bayang-bayang surgawi di bumi, yakni kehidupan yang terpelihara dengan baik antara manusia yang sebagai khalifah denga Allah SWT pemberi kekhalifaan. Dan tercipta pula hubungan yang baik antara manusia dan sesamanya.

D. Kedudukan manusia sebagai khalifah


Salah satu kedudukan tinggi yang dimiliki manusia adalah sebagai khalifah. Ayat yang menjelaskan diantaranya QS 35:39 kandungan ini menginformasikan pertama Allah menjadikan manusia sebagai khalifah diatas bumi dan kedua Allah menjeaskan bahwa jika diantara manusia ada berlaku kafir maka kekufurannya akan ditimpakan. Kata khalifah secara etimologis bermakna mengganti belakangan dan perubahan dari makna tersebut dapat dipahami adanya pergantian dimana generasi pengganti datang

belakangan dan menciptakan perubahan ke arah yang positif. Secara istilah Khalifah adalah kepala pemerintahan dalam islam. Pendapat yang lain, khalifah adalah kepemimpinan para nabi secara bergantian dalam menegakkan hukum-hukum Tuhan. Tugas khalifah dalam QS shad:26 adalah menegakkan hukum dengan adil dan disisi lain dilarang mengikuti hawa nafsunya. Dari ayat tersebut, tugas seorang khalifah adalah menegakkan hukum-hukum Allah yang hanya dapat terwujud jika manusia tidak mengikuti hawa nafsunya.