Anda di halaman 1dari 23

VARIASI BAHASA DAN SPEECH COMMUNITY

DISEDIAKAN OLEH :

KAMARIAH BINTI JAILANI KURSUS: HMT 508 (2013)


JABATAN BAHASA MELAYU DAN TERJEMAHAN:

USM

VARIASI BAHASA
Ada banyak definisi variasi bahasa dari para pakar linguistik. Chaer (2004:62) berpendapat bahawa variasi bahasa adalah keragaman bahasa yang disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Bahasa akan memiliki sejumlah keragaman atau variasi karena di era globalisasi saat ini mobiliti orang sangat tinggi. Banyak orang yang berpindah, datang, dan pergi ke suatu negara atau kota dengan berbagai kepentingan. Fenomena tersebut berjalan lama dan terjadilah kontak bahasa di antara masyarakat. Allan Bell (dalam Coupland dan Adam, 1997:240) menjelaskan variasi bahasa

adalah salah satu aspek yang paling menarik dalam sosiolinguistik. Prinsip
dasar dari variasi bahasa ini adalah penutur tidak selalu berbicara dalam cara yang sama untuk semua peristiwa atau kejadian. Ini berarti penutur memiliki alternatif atau piilihan berbicara dengan cara yang berbeda dalam situasi yang

berbeda. Cara berbicara yang berbeda ini dapat menimbulkan maksa sosial

Menurut C.A.Ferguson dan J.D. Gumperz dalam Allen (ed) 1973:92; Varisasi Bahasa ialah: Variasi sebagai language mempunyai sistem dan subsistem yang difahami sama oleh penutur bahasa. Penutur berada dalam masyarakat heterogen sehingga wujud bahasa (parole) menjadi bervariasi. Variasi merupakan padanan dalam bahasa Perancis (Variete) yang bererti ragam atau jenis. Adanya variasi tidak mutlak disebabkan oleh penutur, tetapi juga faktor interaksi sosial yang dilakukan oleh penutur. Kesimpulannya, variasi bahasa ialah perbezaan bentuk-bentuk bahasa untuk maksud yang sama berdasarkan situasi tertentu. Variasi bahasa berlaku disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan masyarakat atau kelompok masyarakat beragam atau para

penuturnya yang tidak homogen.

Adapun penjelasan variasi bahasa tersebut adalah sebagai berikut:


1. Variasi Bahasa dari Segi Penutur
a. Variasi bahasa idioiek

Variasi bahasa idioiek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut
konsep idioiek. Setiap orang mempunyai variasi bahasa atau idioleknya masingmasing. b. Variasi bahasa dialek

Variasi bahasa dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang
jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Umpamanya, bahasa Jawa dialek Bayumas, Pekalongan, Surabaya, dan lain sebagainya.

c. Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal


Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi bahasa pada tahun lima puluhan,

dan variasi bahasa pada masa kini.

d. Variasi bahasa sosiolek

Adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial
para penuturnya. Variasi bahasa ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan lain sebagainya.

e. Variasi bahasa berdasarkan usia


Variasi bahasa berdasarkan usia yaitu variasi bahasa yang digunakan berdasarkan tingkat usia. Misalnya variasi bahasa anak-anak akan berbeda dengan variasi remaja atau orang dewasa.

f. Variasi bahasa berdasarkan pendidikan


Iaitu variasi bahasa yang terkait dengan tingkat pendidikan si pengguna bahasa. Misalnya, orang yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar akan berbeda variasi bahasanya dengan orang yang lulus sekolah tingkal atas. Demikian pula,

orang lulus pada tingkat sekolah menengah atas akan berbeda penggunaan variasi
bahasanya dengan mahasiswa atau para sarjana.

g. Variasi bahasa berdasarkan seks

Variasi bahasa berdasarkan seks adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis
kelamin dalam hal ini pria atau wanita. Misalnya, variasi bahasa yang digunakan oleh ibu-ibu akan berbeda dengan varisi bahasa yang digunakan oleh bapak-bapak. h. Variasi bahasa berdasarkan profesi, pekerjaan, atau tugas para penutur

Variasi bahasa berdasarkan profesi adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis
profesi, pekerjaan dan tugas para penguna bahasa tersebut. Misalnya, variasi yang digunakan oleh para buruh, guru, mubalik, dokter, dan lain sebagninya tentu mempunyai perbedaan variasi bahasa.

i. Variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan


Variasi bahasa berdasarkan lingkal kebangsawanan adaiah variasi yang terkait dengan tingkat dan kedudukan penutur (kebangsawanan atau raja-raja) dalam masyarakatnya. misalnya, adanya perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh

raja (keturunan raja) dengan masyarakat biasa dalam bidang kosa kata, seperti kata
mati digunakan untuk masyarakat biasa, sedangkan para raja menggunakan kata mangkat.

j. Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur

Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur adalah variasi bahasa
yang mempunyai kemiripan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan hanya saja tingkat ekonomi bukan mutlak sebagai warisan sebagaimana halnya dengan tingkat kebangsawanan. Misalnya, seseorang yang

mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi akan mempunyai variasi bahasa yang
berbeda dengan orang yang mempunyai tingkat ekonomi lemah. Berkaitan dengan variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya dikenal adanya variasi bahasa akrolek, basilek, vulgal, slang, kulokial,

jargon, argoi, dan ken. Adapun penjelasan tentang variasi bahasa tersebut adalah
sebagai berikut: 1. Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi dari variasi sosial lainya;

2. Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan
dipandang rendah; 3. Vulgal adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan;

4. Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia;

5. Kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yang
cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan bahasa tulis. Misalnya dok (dokter), prof (profesor), let (letnan), nda (tidak), dll..; 6. Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial

tertentu. Misalnya, para montir dengan istilah roda gila, didongkrak, dll;
7. Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentu dan bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang copet kaca mata artinya polisi;

8. Ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh
dengan kepura-puraan. Misalnya, variasi bahasa para pengemis. Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian .

2. Variasi Bahasa dari segi Pemakaian


Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau fungsinya disebut fungsi olek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tanpak cirinya adalah dalam hal kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain. Misalnya, bahasa dalam karya sastra biasanya menekan penggunaan kata dari segi estetis sehingga dipilih dan digunakanlah kosa kata yang tepat. Ragam bahasa jurnalistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karena harus dipahami dengan mudah; komunikatif karena jurnalis harus menyampaikan berita secara tepat; dan ringkas karena keterbatasasan ruang (dalam media cetak), dan keterbatasan waktu (dalam media elektronik). Intinya ragam bahasa yang dimaksud di atas, adalah ragam bahasa yang menunjukan perbedaan ditinjau dari segi siapa yang menggunakan bahasa tersebut.

3. Variasi Bahasa dari Segi Keformalan


Variasi bahasa berdasarkan tingkat keformalannya, Chaer (2004:700) membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, iaitu: a. Gaya atau ragam beku (frozen) Gaya atau ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan pada situasi-situasi hikmat, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah, dan sebagainya. b. Gaya atau ragam resmi (formal) Gaya atau ragam resmi adalah variasi bahasa yang biasa digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat, dan lain sebagainya. c. Gaya atau ragam usaha (konsultatif) Gaya atau ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim dalam pembicaraan biasa di sekoiah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi. d. Gaya atau ragam santai (casual) Gaya bahasa ragam santai adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi yang tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada

e. Gaya atau ragam akrab (intimate)

Gaya atau ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan leh para
penutur yang hubungannya sudah akrab. Variasi bahasa ini biasanya pendekpendek dan tidak jelas.

Variasi Bahasa dari Segi Sarana


Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf, radio yang menunjukan adanya perbedaan dari

variasi bahasa yang digunakan. salah satunya adalah ragam atau variasi
bahasa lisan dan bahasa tulis yang pada kenyataannya menunjukan struktur yang tidak sama.

SPEECH COMMUNITY
Istilah speech community, masih agak baru usianya kerana istilah ini hanya mula digunakan pada tahun 1933 oleh Bloomfield sebagai pendua kepada istilah sprachgemeinschaff dalam bahasa Jerman (Klooss 1986, 93). Istilah speech community dikenali sebagai komuniti bahasa. Pada awalnya istilah komuniti bahasa didefinisikan sebagai a group of people who use the same systems of speech signals (Bloomfield 1933). Jika mengikuti definisi ini, mana-mana kumpulan manusia yang menggunakan bahasa yang sama bolehlah dianggap membentuk sebuah komuniti bahasa. Dengan perkataan lain, bahasa telah digunakan sebagai satu-satunya ciri jati diri untuk memberi pengertian komuniti bahasa. Walau bagaimanapun, definisi komuniti bahasa yang menggunakan kriteria menuturkan bahasa yang sama sahaja tidak diterima oleh semua ahli linguistik. Misalnya untuk menentukan definisi Bahasa Hymes (1974) (dlm Platt and Platt 1975,34) menyatakan, it would be wrong to make the concept of language a starting point for investigation. Hal ini kerana menurut beliau pengertian bahasa yang sama itu sendiri pun agak kabur.

TINJAUAN
Istilah Speech Community adalah satu konsep teras dalam linguistik empirikal, berada di persimpangan yang punya banyak masalah utama dalam teori sosiolinguistik dan kaedah. Speech Community adalah sekumpulan orang yang berkongsi satu set norma dan jangkaan mengenai penggunaan bahasa. Contohnya,orang yang bercakap bahasa yang sama tidak selalunya ahli-ahli komuniti pertuturan yang sama. Dalam satu tangan , penutur Asia Selatan Bahasa Inggeris di India dan Pakistan berkongsi bahasa dengan rakyat Amerika Syarikat, tetapi jenis yang masing-masing Bahasa Inggeris dan kaedah-kaedah bagi bercakap mereka cukup berbeza. Di Malaysia, speech community lebih merujuk sekumpulan manusia yang menggunakan bahasa Melayu tetapi tidak semestinya berketurunan sama contohnya etnik lain seperti etnik India, Cina dan bumiputera Sabah/Sarawak. Ia dikaitkan dengan penguasaan individu dalam speech community untuk diterima dalam komuniti bahasa tersebut.

Dalam sesebuah komuniti yang ekabahasa, secara tabii sesebuah bahasa dianggap sebagai sebuah sistem yang mengandungi subsistem (atau subsistem-subsistem). Subsistem bahasa merujuk kepada variasi bahasa bagi sesebuah bahasa. Variasi bahasa boleh berbentuk idiolek, dialek (geografi atau sosial), laras, slanga, argot, jargon, gaya atau stail, rutin linguistik sepeti puisi, bahasa rahsia, tekateki dan sebagainya dan juga kod kebahasaan yang terdapat dalam sesebuah bahasa. Kewujudan variasi bahasa yang berbeza sebagaimana yang dinyatakan menyebabkan keadaan ideal yang memaparkan penggunaan bahasa yang benar-benar sama dalam sesebuah komuniti bahasa tidak dapat dicapai dalam dunia sebenar. Hal ini kerana kewujudkan variasi bahasa menjadikan individu dalam sesebuah komuniti bahasa tertentu memiliki repertoir pertuturan yang pelbagai dan berlainan. Hal ini bermakna penutur bukan hanya berupaya menguasai satu subsistem bahasa sahaja, tetapi mungkin cekap menguasai lebih daripada satu subsistem. Misalnya individu Melayu di Malaysia mungkin boleh menguasai Bahasa Melayu, dialek Melayu (yang juga berbeza-beza, misalnya dialek geografi yang berlainan di Malaysia) dan menggunakan pelbagai laras Bahasa Melayu dalam konteks peristiwa komunikasi yang berlainan.( Nori ah Mohamed , Beberapa Aspek Asas Sosiolonguistik,2003,68-69)

Yang dikatakan menuturkan bahasa yang sama tetapi tidak sama ialah apabila setiap individu yang menuturkan sistem bahasa yang sama akan menguasai subsistem bahasa yang berlainan. Jumlah subsistem yang dikuasai juga tidak sama antara individu. Malah boleh dikatakan norma baku yang seragam sekalipun tidak memastikan bahawa dua individu menuturkan keseragaman itu dalam kadar yang sama. Sejajar dengan komuniti ekabahasa, dalam sesebuah komuniti yang menggunakan lebih daripada satu a juga sukar bagi kita untuk menentukan konsep menuturkan bahasa yang sama. Hal ini kerana bukan semua anggota komuniti dapat dipastikan menuturkan jenis bahasa yang sama dan anggota komuniti tidak boleh dipaksa menuturkan jenis bahasa yang sama ,menurut Gumperz(1971,101) :there are no a priori grounds which force us to define speech communities so that all members speak the same language.

Dalam hal ini, Hymes (1996,33) mencadangkan supaya konsep bahasa yang sama itu tidak dirujuk sebagai satu bahasa tetapi hendaklah difikirkan sebagai set cara bertutur (ways of speaking) yang mengandungi stail dan juga konteks stail tersebut digunakan. Seseorang individu boleh menggunakan variasi-variasi bahasa yang berlainan untuk menyampaikan makna yang sama dalam satu bahasa yang sama. Stail-stail tersebut dipilih dan digunakan berdasarkan kerelevanan konteks. Stail-stail yang berlainan mungkin digabung dan digunakan serentak untuk mendapatkan impak yang berlainan sewaktu berkomunikasi. Pengetahuan stail pertuturan ini harus lah diiringi pengetahuan tentang kesesuaian penggunaan stail tersebut. Dengan perkataan lain anggota sesebuah komuniti bahasa bukan sahaja mengongsi pengetahuan linguistik sesebuah bahasa, tetapi juga pengetahuan tentang norma penggunaan pengetahuan linguistik berkenaan. Fishman (1972,22) juga bersetuju dengan pandangan Hymes (1996) apabila beliau mencadangkan supaya definisi bahasa merangkumi all of whose members share at least a single speech variety and the norms for its appropriate use.

DEFINISI SPEECH COMMUNITY


Menurut Lyons (1970), semua orang yang menggunakan sesuatu bahasa atau dialek yang sama merupakan anggota suatu komuniti bahasa atau

speech community.
Nik Safiah Karim (1992) pula menyebut bahawa komuniti bahasa sebagai kumpulan manusia yang menuturkan satu bahasa yang sama, yang membolehkan manusia berhubung antara satu sama lain. Istilah komuniti bahasa mempunyai pelbagai tahap penekanan seperti perkongsian keahlian komuniti dan perkongsian komunikasi linguistik. Istilah paling tepat untuk komuniti bahasa sukar ditetapkan, ada yang berpendapat komuniti bahasa mestilah terdiri daripada mereka yang benarbenar berada dalam komuniti, iaitu sekumpulan masyarakat yang tinggal dalam lokasi yang sama.

Pendapat yang lain pula mengatakan bahawa kesemua manusia mempunyai keahlian sebagai komuniti bahasa, sama ada berdasarkan tempat tinggal, jantina dan sebagainya. Komuniti bahasa dengan berdasarkan perkongsian komunikasi linguistik merupakan konsep yang boleh berubah, terdiri daripadamereka yang mempunyai persamaan dari segi bahasa ibunda dan dialek.

Ada juga berpendapat bahawa ahli komuniti mempunyai persamaan dari segi
keupayaan berkomunikasi dan berhubung walaupun melangkaui sempadan bahasa. Komuniti bahasa boleh dimaksudkan sebagai kumpulan penutur yang mengiktiraf diri mereka sebagai penutur sesuatu bahasa yang tertentu.

Secara umumnya, istilah komuniti merujuk kepada kumpulan orang yang tinggal di
sesuatu daerah, masyarakat yang menetap di sesuatutempat atau negara, orang ramai umumnya atau sekumpulan individu yang mempunyai sifat-sifat, kecenderungan dan kepentingan yang serupa.

1. Berubah-ubah

CIRI-CIRI KOMUNITI BAHASA/SPEECH COMMUNITY


Komuniti berubah dari semasa ke semasa yang disebabkan oleh pelbagai faktor. Memberikan kesan kepada bahasa yang digunakan oleh komuniti tersebut.

2. Kelas dan Status


Bersifat tegar atau tidak Kelas yang tegar, seperti kelas-kelas komuniti di India yang terdiri daripada kasta. Kelas yang tidak tegar, berbeza dari sudut kumpulan status. Bagi komuniti Islam, bahasa Arab menjadi penyatunya. Kadang-kadang kelas dibezakan oleh etnik walaupun dalam negara yang sama. Misalnya, di Kanada terdapat orang Perancis menggunakan bahasa Perancis sedangkan komuniti yang lainnya menggunakan bahasa Inggeris.

3. Pertentangan Kelas
Terdapat pertentangan kelas yang disebabkan oleh perbezaan kelas yang berasaskan etnik, agama dan bahasa yang berlainan.

Di Kanada, terdapat pertentangan kelas antara penutur bahasa


Perancis dengan bahasa Inggeris.

4. Dialek Sosial
Dalam komuniti yang ada kelas tinggi dan rendah, terdapat perbezaan bahasa yang digunakan oleh golongan atas, golongankelas menengah dan golongan kelas bawah. Di negeri barat, terdapat literari standard untuk golongan atasan, local dialects untuk golongan bawahan dan colloquial standard untuk kelas menengah. Perbezaan dialek berlaku pada sebutan, kosa kata, struktur ayat dan lain-lain.

5. Evolusi Sosial
Setiap komuniti akan berubah. Salah satu cara perubahan itu berlaku adalah dari dalam.

Pertambahan jumlah anggotanya, perbaikan pendidikan dan peningkatan ekonomi.


Semua ini mendorong perubahan komuniti dari dalam dan perubahan itu juga mendorong dalam menyebabkan perubahan pada bahasa dan dialek.

6. Ketidaksamaan Komuniti
Wujudnya susun lapis komuniti atau startifikasi sosial, iaitu perbezaan taburan atau ketidaksamaan dari segi martabat kuasa, kekayaan dan hak. Dapat dilihat dalam bahasa yang digunakan seperti bahasa golongan bangsawan dengan orang kebanyakan. Dari sudut sistem panggilan yang membezakan rujukan-rujukan kehormat seperti yang mulia, yang berbahagia danlain-lain. Dalam komuniti Melayu, seperti dalam kalangan adik-beradik panggilan dalam berbahasa. Cth: Long, Ngah dan lain-lain.

7. Interaksi Komuniti
Dalam komuniti yang kecil, terdapat hubungan dan interaksi berdepan atau bersemuka. Dalam hubungan seperti ini, terdapat komponen tertentu,termasuklah peserta, suasana, fungsi interaksi, tajuk, mesej dansaluran.

Bahasa yang digunakan bergantung kepada komponen-komponen tersebut.

8. Mobiliti Sosial
Komuniti manusia adalah dinamik dan berubah secara terus-menerus, sama ada lambat ataupun cepat, sama ada secara evolusi, difusi atau revolusi. Seperti yang berlaku dalam pemberontakan sosial. Salah satu perubahan sosial islah peningkatan kelas ataumartabat melalui bahasa. Contohnya, zaman prakolonial, komuniti Melayu terbahagi kepada dua kelas sahaja, iaitu golongan yang memerintah dan golongan yang diperintah.

TAMAT
Sekian Terima Kasih