Anda di halaman 1dari 35

ELVA CRISTY IRIANTI (14120110066) DINI HARDIANTI ADHAR (14120110067) INDRIANI BAHARUDDIN (14120110080)

HIGIENE PERUSAHAAN

Higene Perusahaan adalah usaha untuk melindungi pekerja dan masyarakat sekitar suatu perusahaan atau industri dari bahaya-bahaya yang timbuL

HIGIENE PERUSAHAAN

Terdapat dua hal utama mengenai higene perusahaan dan kesehatan kerja dalam hubungan pertambangan. Pertama, pertambangan dan pengolahan hasil-hasilnya potensil berakibat pencemaran kepada lingkungan. Kedua, pertambangan ditandai khusus oleh cara-cara kerja seperti di bawah tanah.

HIGIENE PERUSAHAAN

Problematika higene perusahaan dan kesehatan kerja di sector pertambangan tergantung dari factor-faktor sebagai berikut : Lokasi dari tambang mempunyai pengaruh timbal balik dengan lingkungannya.
Jenis dari tambang sangat menentukan jenis dan derajat bahaya. Prosedur kerja menentukan sampai di mana gangguan produktivitas dan kesehatan akan terjadi.

LANJUTAN ....
Kemampuan financial perusahaan menentukan sejauh mana pencegahan kesehatan tambang terhadap

Pengertian perusahaan besar sekali pengaruhnya kepada tingkat higene perusahaan. Peraturan per-undang-undangan yang berkekuatan memaksakan standar higene kesehatan dan keselamatan kerja.

HIGIENE PERUSAHAAN

Pada umumnya pekerja-pekerja tambang pun menderita penyakit-penyakit umum seperti tercermin dari masyarakat luas

Namun demikian ada kekhususannya, yaitu sebagai akibat letak pertambangan jauh dari kota-kota besar melainkan jauh terpencil di dalam hutan atau daerah yang tidak didiami manusia.

HIGIENE PERUSAHAAN

Penyakit-penyakit umum ini sebagaimana biasa sangat diperngaruhi kearah yang lebih buruk oleh akibat-akibat kerja dan lingkungan pekerjaan tambang yang menjadi beban tambahan. Keadaan udara lembab dibawah

tanah, pencemaran lingkungan oleh gas dan debu,


penerangan kurang, dan lain-lain dapat meningkatkan jumlah absenteisme

STUDY KASUS Kasus Teluk Buyat

Kasus Teluk Buyat

Teluk Buyat yang berada di Minahasa, Sulawesi Utara adalah lokasi pembuangan limbah tailing atau lumpur sisa tambang PT Newmont Minahasa Raya (NMR). Kekayaan emas yang ditambang Newmont Minahasa Raya (NMR) itu berada di Desa Ratatotok dan Desa Buyat yang berjarak sekitar 165 km arah Barat Daya dari Kota Manado.

Tahun 1800-an ditemukan emas di Lobongan yang berjarak sekitar 2 km ke arah Timur Laut dari Desa Ratatotok

Kasus Teluk Buyat

Tahun 1850 mulai banyak orang berdatangan di tempat itu untuk menambang emas dan menjadi warga di situ.
Tahun 1887 korporasi Belanda bernama Nederland Mynbouw Maschapai (NMM) mengambil alih kawasan Lobongan dari masyarakat. Setelah NMM meninggalkan kawasan itu maka masyarakat kembali melakukan penambangan emas secara tradisional.

Kasus Teluk Buyat

Selanjutnya pada zaman Orde Baru pemerintah mulai melarang para penambang tradisional beroperasi, berkaitan dengan ditandatanganinya kontrak karya pertambangan emas yang dilakukan pemerintah dengan Newmont tanggal 2 Desember 1986. PT. Newmont Minahasa Raya (PT. NMR) adalah perusahaan tambang emas penanaman modal asing (PMA) yang merupakan anak perusahaan Newmont Gold Company, Denver, (USA).

Kasus Teluk Buyat

Ketika memulai kegiatan eksplorasi tahun 1987-an NMR belum mempunyai studi analisis mengenai dampak lingkungan (ANDAL). Pemerintah baru mengesahkan dokumen ANDAL Newmont pada tanggal 17 Nopember 1994. Setelah banyak pihak yang protes lalu Newmont baru merevisi dokumen pengelolaan dan pemantauan lingkungan (RKL dan RPL) pada tahun 1999. Tahap produksi diawali pada Juli 1995 dan pengolahan bijih dimulai Maret 1996

Kasus Teluk Buyat

Sejak

tahun

1987

Newmont

telah

melakukan

eksplorasi dengan merusak tanah dan tanaman warga setempat. Ketika warga korban melawan tindakan sewenang-wenang itu Newmont meminta bantuan Tim Pengendali dan Pengawasan Investasi

Daerah dan Badan Koordinasi Pemantapan Stabilitas


Nasional Daerah (Bakorstanasda Sulawesi Utara)

Kasus Teluk Buyat

Sejak produksi tahun 1996, Newmont melakukan pembuangan limbah tailing sekitar 2000 ton per hari ke dasar laut pada kedalaman 82 meter. Tailing merupakan batuan dan tanah yang tersisa dari suatu proses ekstraksi bijih logam, seperti bijih emas dan bijih tembaga. Menurut PT. NMR, buangan limbah tersebut, terbungkus lapisan termoklin. Sistem ini disebut submarine tailing disposal (STD)

Kasus Teluk Buyat

Pada Tahun 1997 PT.NMR memasang alat pengolah bijih tambang yang mengandung merkuri yang tinggi. Menurut Kepala Dinas Pertambangan Sulut, R.L.E Mamesah, alat ini sengaja dipasang untuk menarik emas yang terbungkus mineral lain, terutama merkuri yang memang sudah ada di alam. Namun berdasarkan catatan departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) izin pembuangan tailing tersebut baru diperoleh Newmont pada tahun 2000 . Di kemudian hari izin tahun 2000 itu disebut izin sementara (tafsir Newmont yang disetujui pengadilan)

Kasus Teluk Buyat

Akhir Juli 1998 warga Buyat Pante dikejutkan dengan bocornya pipa limbah PT NMR. Manajemen

PT NMR hanya menjelaskan bahwa pipa limbah


bawah laut yang bocor itu pada sambungan flens di kedalaman 10 meter.

Kasus Teluk Buyat

Kasus pencemaran Buyat oleh NMR diawali oleh pengaduan warga Dusun Buyat Pante, Bolaang Mongondow ketika warga mengalami gangguan kesehatan diantaranya penyakit kulit (gatal-gatal), kejang-kejang, benjol-benjol, dan lumpuh selama beberapa bulan. Apalagi diakhir Juli 1996, nelayan mendapati puluhan bangkai ikan mati mengapung dan terdampar di pantai. Kematian misterius ikan-ikan ini berlangsung sampai Oktober 1996. Kasus ini terulang pada bulan juli 1997

Kasus Teluk Buyat

Hasil kajian kelayakan pembuangan limbah tailing ke Teluk Buyat yang dilaksanakan oleh PPLH-SA dan Universitas Sam Ratulangi tahun 1999 menyatakan Beberapa ancaman limbah tambang yang dibuang ke dasar laut sebagai berikut:

Kasus Teluk Buyat

Limbah lumpur di dasar perairan akan memberikan dampak buruk bagi organisme benthos dan jenis biota laut lainnya, Elemen kimia toksik seperti arsenic, cadmium, mercury, lead, nickel dan sianida dapat merusak ekosistem laut. Lebih berbahaya elemen-lemen kimia yang bersifat karsinogenik terakumulasi dalam rantai makanan yang akhirnya tiba pada manusia.

Kasus Teluk Buyat

Perusakan

ekosistem

laut

akibat

timbunan tailing yang mengandung logamlogam berat yang mengkontaminasi biota dan

bahkan

meracuni

masyarakat

sekitar

yang

bermukim di sekitar point source yang sangat mengantungkan hidupnya dari hasil laut perairan tersebut

Kasus Teluk Buyat

Pencemaran logam berat terutama logam arsen


dan logam merkuri oleh PT. NMR sudah jelasjelas terbaca pada laporan-laporan RKL/RPL dan

sejak tahun 2000 semua itu sudah terlihat,


namun masih saja dianggap perusahaan

raksasa ini tidak melakukan pencemaran di perairan Teluk Buyat

Kasus Teluk Buyat

Kasus Buyat, menjadi salah salah satu model


pengelolaan lingkungan hidup yang harus

mengorbankan masyarakat yang hidup di garis kemiskinan (yang terlihat) dan mengorbankan seluruh masyarakat Sulut sebetulnya (bencana

ekologis) di masa datang

KOMENTAR KELOMPOK KAMI

KOMENTAR

Dari kajian hukum yang dilakukan diperoleh cukup bukti bahwa PT NMR melakukan beberapa pelanggaran perizinan: NMR belum mempunyai studi analisis mengenai dampak lingkungan (ANDAL). Pemerintah baru mengesahkan dokumen ANDAL Newmont pada tanggal 17 Nopember 1994.

KOMENTAR

Pelanggaran terhadap syarat izin usaha yang diindikasikan dengan pelanggaran terhadap RKL/RPL Pelanggaran terhadap izin pengelolaan tailing sebagai limbah B3

KOMENTAR

Pelanggaran atas izin pembuangan limbah tambang (dumping tailing) ke laut dan pelanggaran itu dapat dikategorikan sebagai perbuatan pidana sebagaimana diatur dan diancam dengan pasal 43 UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

KOMENTAR

Berdasarkan fakta-fakta di atas, bahwa pembuangan tailing adalah ilegal untuk itu diperlukan upaya hukum terhadap Newmont. Di samping itu, berdasarkan prinsip kehati-hatian dini untuk selanjutnya penerapan pembuangan limbah tambang ke laut (STD) dilarang di Indonesia. Selain itu juga upaya relokasi terhadap warga Teluk Buyat karena lautnya tercemar dan ikannya tidak layak dimakan, juga kondisi udaranya buruk dan air minum yang dipasok Newmont pun telah tercemar.

PENAGGUALANGAN

PENANGGULANGAN

Membentuk tim untuk melakukan penyelidikan terpadu yang terdiri dari Tim Pengarah dan Tim Teknis. Tim ini beranggotakan instansi pemerintah terkait, pemerintah daerah, LSM, perguruhan tinggi, dan pakar. Tim terpadu tingkat pusat akan bekerjasama dengan Tim Independen ditingkat Daerah.
Penegakan hukum terhadap pihak yang melanggar.

PENANGGULANGAN

Beberapa langkah dilakukan adalah:

penanganan

yang

harus

segera

Departemen Kesehatan menentukan jenis penyakit yang diderita oleh warga dan melakukan pengobatan dan bila perlu pencegahan Memberikan informasi kepada masyarakat secara terus menerus

PENANGGULANGAN

Kerjasama dengan penuh rasa tanggung jawab dari semua pihak sangat diperlukan dalam menghadapi hal ini. Kesehatan manusia dan lingkungan merupakan prioritas utama dari penanganan yang dilakukan. Hal lain yang harus diperhatikan adalah agar penanganan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, dan tidak tergesagesa. Ketergesa-gesaan dalam pengambilan keputusan akan membuat kepanikan dan semakin memberatkan penderita.

PENANGGULANGAN

Pemantauan lingkungan di daerah penduduk dan sumber makanan (dalam hal ini perairan laut) mutlak dilakukan selama kegiatan berlangsung. Apabila terdapat indikasi pencemaran dapat dievaluasi darimana sumber pencemaran dan dengan segera dapat diperbaiki. Pemeriksaan kesehatan penduduk dapat dilakukan selama kegiatan berlangsung dan setelah kegiatan ditutup, sehingga dapat diketahui kecendrungan kesehatan apakah akibat bahan pencemar dari kegiatan atau akibat lain.

KASUS TELUK BUYAT


PT. NEWMONT DI TELUK BUYAT

KASUS TELUK BUYAT


PEMULIHAN TELUK BUYAT

TERIMA KASIH BANYAK