Anda di halaman 1dari 85

RHINITIS ALERGI

Referat Rhinologi
Oke Kadarullah
Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran RS Dr. Hasan Sadikin Bandung 2011
1

PENDAHULUAN
Masalah kesehatan global Pasien dari seluruh negara, seluruh etnik, seluruh kondisi sosial ekonomi dan semua umur Mempengaruhi kehidupan sosial, gangguan tidur, sekolah dan pekerjaan serta ekonomi
Updated ARIA Recomendation 2008 2

EPIDEMIOLOGI
Rinitis alergi terjadi pada kira-kira 500 juta orang: > 100 juta orang di Eropa dan Amerika Utara > 150 juta orang di Asia Pasifik > 100 juta orang di India, Pakistan, dan negara sekitarnya > 75 juta orang di Amerika Tengah dan Selatan > 30 juta orang di Afrika > 50 juta orang di negara lain.
Updated ARIA Recomendation 2008 3

DEFINISI
Rhinitis Alergi ( RA ) suatu gangguan fungsi hidung setelah terpapar alergen inflamasi mukosa hidung diperantarai IgE Gejala: - Bersin-bersin - Hidung tersumbat - Rhinorrhoea - Hidung gatal - PND
Updated ARIA Recomendation 2008 4

KLASIFIKASI rhinitis ALERGI


MENURUT ARIA-WHO 2008 SEWAKTU-WAKTU Ringan MENETAP Ringan SEWAKTU-WAKTU Sedang-Berat MENETAP Sedang-Berat

Alergen dan Sumber Alergen


Alergen : antigen yang menginduksi dan bereaksi dengan IgE spesifik. Sumber : binatang, serangga, tanaman, jamur atau dari tempat kerja.

Terdiri dari protein atau glikoprotein.


Updated ARIA Recomendation 2008

Alergen inhalan
Dalam Rumah
Tungau Binatang peliharaan Serangga Tanaman

Di Luar Rumah
Serbuk sari Jamur Agen okupasi

Updated ARIA Recomendation 2008

TUNGAU DEBU RUMAH


Dermatophagoides pteronyssinus (Der p), Dermatophagoides farinae (Der f), Euroglyphus maynei (Eur m), Lepidoglyphus destructor (Lep d), Blomia tropicalis (Blo t). Dermatophagoides dan Euroglyphus memakan rambut kulit manusia, terdapat di : - kasur - dasar tempat tidur - bantal - karpet - kain pelapis furniture - mainan berbulu halus
Updated ARIA Recomendation 2008 8

TUNGAU DEBU RUMAH


Pertumbuhan maksimal panas (di atas 20C) dan keadaan lembab (80% kelembababan relatif) Sedikit pada ketinggian 1800 m dpl, banyak pada daerah tropis Alergen terkandung pada feses : 10-20m

Updated ARIA Recomendation 2008 9

Serbuk sari
Sel kelamin jantan tanaman berbiji Rerumputan, tanaman, pepohonan. Ukuran 10-100 m

Updated ARIA Recomendation 2008

10

HEWAN ANJING DAN KUCING Alergen utama pada asma, rinitis, atau rinokonjungtivitis, batuk. Alergen kucing kel. Sebasea, saliva dan kel. perianal, dgn reservoar pada bulu. Alergen anjing pada bulu, saliva, kulit
Updated ARIA Recomendation 2008

11

BINATANG PENGERAT Kelinci, marmut, harmster, tikus. Alergen pada bulu binatang, urine, serum dan saliva. BINATANG LAINNYA Kuda gejala pada mata dan hidung. Alergen ini mudah menguap dan sensitisasi dapat terjadi melalui kontak langsung atau tidak langsung.
Updated ARIA Recomendation 2008

12

ALERGEN JAMUR
Jamur dan ragi melepaskan sejumlah besar spora alergenik. Tumbuh pada kondisi panas dan lembab. Luar rumah, dalam rumah dan pada makanan Ragi alergenik: C. albicans, Saccaromyces cerevisiae, Saccaromyces minor dan Pityrosporum
Updated ARIA Recomendation 2008 13

SERANGGA
Inhalasi kotoran serangga respon imun IgE & alergi pernapasan. Alergen kecoa sekresi gastrointestinal & kittin Distribusi seluruh rumah.

POLUTAN
Dalam rumah: asap tembakau, luar
Updated ARIA Recomendation 2008 14

PATOGENESIS RHINITIS ALERGI


Fase Sensitasi
Reaksi Alergi Fase Cepat Reaksi Alergi Fase Lambat
Creticos PS. The consideration of immunotherapy in the treatment of allergic asthma. J Allergy Clin Immunol 1998. Baraniuk. Pathogenesis of allergic rhinitis. J Allergy Clin Immunol 1999
15

Creticos PS. The consideration of immunotherapy in the treatment of allergic asthma. J Allergy Clin Immunol 1998.

16

Peran Sel Mast

Williams CMM, Gall SJ. The diverse potential effector and immunoregulatory of mast cell in allergic disease. J allergy Clin Immunol. 2000.
17

Interaksi Sel Mast dengan Sel T


Mekori & Metcalfe. Mast cell - T cell interactions. J Allergy Clin Immunol.1999.

18

Peran Mediator & Manifestasi Gejala

Baraniuk. Pathogenesis of allergic rhinitis. J Allergy Clin Immunol 1999.


19

DIAGNOSIS
ANAMNESIS PEMERIKSAAN FISIK PEMERIKSAAN PENUNJANG

20

ANAMNESIS
Gejala-gejala rinitis alergi Frekuensi serangan Derajat berat ringan serangan Manifestasi penyakit alergi lain sebelum atau bersamaan dengan rinitis Faktor pemicu timbulnya gejala rinitis alergi Riwayat atopi di keluarga Riwayat pengobatan dan hasilnya

21

GEJALA RINITIS ALERGI


Gejala curiga suatu rinitis alergi
2 atau lebih dari gejala berikut: Selama > 1 jam tiap hari - Rinore yang encer - Bersin, khususnya paroksismal - Hidung tersumbat - Hidung gatal - konjungtivitis

Gejala biasanya TIDAK berhubungan dengan rinitis alergi


-Gejala unilateral ++++ -Hidung tersumbat tanpa gejala lain -Rinore mukopurulen -Rinore posterior (PND) - dengan mukus yang tebal - dan/atau tanpa rinore anterior -Nyeri -Epistaksis rekuren -Anosmia

Klasifikasi dan penilaian keparahan

Rujuk pasien tsb ke dokter


22

SISTEM SKOR NASAL


Weeke B, 1986. M. Okuda, Tokyo Jepang

Skor 0: tidak ada gejala hidung dan mata Skor 1 (ringan): gejala tersumbat sebagian, pilek < 3 jam/hari, bersin < 5 kali serangan perhari. Gatal hidung ringan. Gejala mata gatal ringan. Skor 2 (sedang): tersumbat sebagian, pilek >3jam/hari, tetapi tidak seharian. Gatal hidung sedang. Gatal mata sedang dengan bengkak dan mata berair tetapi tidak seharian Skor 3 (berat): gejala sumbatan hidung total, hampir sepanjang hari, pilek sepanjang hari, bersin > 15 kali per serangan/hari. Gatal hidung berat.. Gejala mata berat, bengkak hebat, gatal dan berair berat.
23

KLASIFIKASI rhinitis ALERGI


MENURUT ARIA-WHO 2008
SEWAKTU-WAKTU
Gejala

MENETAP
Gejala

< 4 hari per minggu atau < 4 minggu

> 4 hari per minggu


dan > 4 minggu

RINGAN
Tidur normal Aktifitas sehari-hari saat olahraga dan saat santai normal Saat bekerja dan sekolah normal Tidak ada keluhan yang mengganggu

SEDANG-BERAT
SATU ATAU LEBIH GEJALA

Tidur terganggu Aktifitas sehari-hari saat olahraga dan saat santai terganggu Saat bekerja dan sekolah terganggu Ada keluhan yang mengganggu
(ARIA WHO Consensus 2001)
24

PEMERIKSAAN FiSIK

RINOSKOPI ANTERIOR 1. Ukuran besar konka bengkak 2. Warna mukosa biru pucat (livid) 3. Warna ingus jernih, encer
Nasal endoscopy Rigid Hopkins rods atau flexible fibre optic endoscope. Dilakukan dalam anestesi topikal intra nasal.

25

memorialhermann.org

26

PEMERIKSAAN MAKSILOFASIAL
Allergic salute Nasal crease / Linea nasalis Allergic shiners/ Dennies line

www.medscape.com
27

Pemeriksaan Penunjang
1. Tes Kulit Epidermal : Tes Kulit Tusuk ( Skin Prick Test) Tes Kulit Gores (Skin Scratch Test): (tak direkomendasikan) Intradermal : Tes Kulit Pengenceran Tunggal Tes Kulit Pengenceran Berganda Modified Quantitative Test 2. IgE Spesifik : RAST & MRT
28

Skin

Fig. 6. Objective Test for Diagnostic of IgE-mediated allergy.1 Skin Test / Prick Test The preferred methode

Mast cells

Blood vessel Basophil cells

Measurement of serum-specific IgE Histamine release

Basophil activation

Mast cells

Nasal challenge Bronchial challenge Oral challenge Conjunctival challenge

Mucosa
1. Updated ARIA Recomendation 2008
29

TES KULIT EPIDERMAL


Tes Kulit Tusuk (Skin Prick Test) Untuk diagnosis alergi tipe cepat. Mendeteksi adanya IgE Untuk akurasi sebelum dilaksanakan harus melewati masa wash out

30

Tes kulit tusuk (skinprick test)

Keuntungan:
Lebih aman Beberapa alergen dapat di test secara bersamaan Hasil dapat segera dibaca dengan cepat

Kerugian:
Kurang berespon pada orang dengan sensitifitas terhadap antigen yang lemah
31

Tes kulit tusuk (skinprick test)


Meneteskan antigen pd kulit, kemudian kulit dicungkit dgn sudut 45o dgn jarum no 26. Hasil dibaca setelah 15

Menginduksi bintul (wheal) dan eritem (flare)

Hasil : gradasi positif 1-4. Kontrol positif : Histamin Kontrol negatif: vaksin pelarut

32

Tes kulit tusuk (skinprick test)

33

TES KULIT INTRADERMAL


TES KULIT PENGENCERAN TUNGGAL (SINGLE DILUTION)

Lebih sensitif dari tes kulit epidermal Konsentrasi larutan yang digunakan bervariasi pengenceran 1:500 atau 1: 1000 Dilakukan penyuntikan alergen pd bagian volar dgn sudut 45O

34

TES KULIT INTRADERMAL


Tes kulit pengenceran berganda (SKIN END POINT TITRATION =SET ) Mendiagnosis alergi inhalan yang diperantarai oleh IgE. Suntikan intrakutan mulai dosis terkecil Endpoint Kondisi dimana mulai terjadinya respon alergi yang timbul akibat penyuntikan alergen. Keuntungan lebih aman, mudah dibaca, ada standarisasi, dapat dipakai sebagai dosis awal imunoterapi, hasil pengobatan cepat, lama imunoterapi lebih singkat.

35

SKIN END POINT TITRATION (SET)


Teknis pemeriksaan SET dengan pembuatan bintul suntik intrakutan sebesar 4mm (biasanya 0.01 ml) 1:100

Hasil SET dibaca dalam waktu 10 menit.

POSITIF perubahan bintul > 2 mm dari bintul awal

Bila bintul menghilang atau mengecil negatif

36

Kesalahan penentuan endpoint:

Antigen disuntikan terlalu dalam Antigen terlalu banyak atau sedikit Iritasi dari injeksi oleh jarum dapat menyebabkan pinggir dari bintul tidak jelas

37

Modified Quantitave Testing (MQT)

Multi-test screen

< 3 mm

8 mm

> 9 mm

Put on #2

Put on #5

+ EP #6

< 6 mm

> 7 mm

< 5 mm

7-8 mm

>9 mm

test negative

+ EP # 3

+ EP # 4

+ EP # 5

+ EP # 6
38

PEMERIKSAAN IgE SPESIFIK


Ditemukan oleh Ishizaka dan Johansson thn 1967
Pengukuran IgE spesifik tidak dipengaruhi oleh obatobatan atau penyakit kulit.

Pemeriksaan IgE Spesifik dalam serum penting IgE total disebabkan alergi, infeksi parasit dan faktor ras.

Sensitivitas dan spesifisitas tes ini lebih dari 85%.


39

PEMERIKSAAN IgE SPESIFIK

Radio Alergo Sorbent Test (RAST)

RAST Spesifitas tinggi tetapi kurang sensitif. memonitor imunoterapi

Di Amerika Serikat 85% penunjang diagnostik RA

40

Keuntungan Radio Alergo Sorbent Test (RAST)


Dpt digunakan pd kelainan kulit luas, anak-anak yg tdk kooperatif

Dpt digunakan pd penderita RA yg tdk dpt lepas dari obat antihistamin

Bahaya anafilaksis tdk ada dan pemeriksaan lebih menyenangkan

41

Kerugian Radio Alergo Sorbent Test (RAST)

Relatif mahal

Hasil pembacaan cukup lama

Kurang sensitif bila dibandingkan dengan tes cungkit

42

Untuk membedakan rinitis alergi dengan non alergi. Teknik pengambilan sekret dgn sekresi sisih hidung, kapas lidi steril, penyikatan, isap mikro, biopsi & kerokan. Jirpongsananuruk kerokan PEMERIKSAAN APUS MUKOSAmukosa HIDUNG (NASAL SMEAR) hidung dgn rhinopobe sensitivitas 91,7%. Sudiro, 2005 dgn ringhaak sensitivitas 82,1%.
43

PEMERIKSAAN APUS MUKOSA HIDUNG (NASAL SMEAR)

Melihat pola sel pada mukosa hidung Bagian medio-inferior concha inferior apusan dioles pada kaca preparat dan diwarnai. eosinofil, sel mast dan sel goblet alergi leukosit PMN, sel epitel dan bakteri infeksi

44

PENATALAKSANAAN RHINITIS ALERGI

45

PENGHINDARAN DIRI TERHADAP ALERGEN


Menghindari alergen kunci utama pengobatan Mencegah kontak antara alergen dengan IgE spesifiknya yang terdapat di permukaan sel sel mediator Sangat sulit dilakukan
46

PEMELIHARAAN DAN PENINGKATAN KEBUGARAN JASMANI


Mengurangi gejala alergi
Peningkatan populasi salah satu limfosit TH penghambatan reaksi alergi

47

Updated ARIA Recomendation 2008

48

ANTIHISTAMIN
Kompetisi dlm berikatan dng reseptor H1 di organ sasaran.
1. Oral : Generasi I
promethazine, brompheramine Intranasal, Intraocular: Azelastine, Levocabastine, Olopatadine

2. Oral : Generasi II
Terfenadine, Desloratadine, Cetirizine, Loratadine

49

Ideal Antihistamin: Anti inflamasi


Pelepasan Histamin dari basophils Pelepasan TNF dari mast cells Pelepasan PGD2, LTC4 dari FcERI positive cells Pelepasan IL-6/IL-8 dari endothelial cells Histamine-induced P-selectin expression Menginduksi TNF untuk melepas RANTES Pelepasan IL-4/IL-13 dari basophils Pembentukan Superoxide dari eosinofil PAF- menginduksi kemotaksis eosinophils Adhesion dari sel endothelial Mengekspresikan ICAM-1
50

Menghambat

DEKONGESTAN:
ORAL EPHEDRINE, PHENYLEPHRINE, PSEUDOEPHEDRINE INTRANASAL

OXYMETHAZOLINE,
XYLOMETHAZOLINE

Termasuk adrenergik (topikal/sistemik) vasokontriktor Mengatasi sumbatan hidung sementara Lebih efektif digunakan bersama antihistamin Pemakaian obat topikal jangka lama rhinitis medikamentosa

51

ANTIKOLINERGIK 5,9
Antikolinergik topikal (Ipatropium hanya simptom Bromida) saja, tidak sebagai menghambat anti histamin yang Ipatropium Bromida dapat pelepasan nasal spray asetilkolin, stimulasi menghentikan parasimpatis akumulasi mastosit mengurangi gejala dan eosinofil rinore.

52

Anti leukotrien gejala hidung tersumbat

Mediator leukotrien menginduksi gejala hidung tersumbat.

ANTI LEUKOTRIEN5 Obat antileuklotrien dapat dikombinasikan dengan antihistamin.


Montelukast, Pranlukast, Zafirlukast
53

Invivo disodium kromoglikat << jumlah akumulasi selsel eosinofil serta dapat menekan fungsi sel-sel proInflamatory.

Mekanisme kerja kromolin belum jelas.

Pemakaiannya harus berulang tiap 6 jam karena lama obat pendek hingga pemberian obat ini kurang praktis

KROMOLIN SODIUM LOCAL: CROMOGLYCATE, NEDOCROMIL


54

KORTIKOSTEROID

Steroid lokal penghambatan Eosinofil (EG2+) dalam memproduksi IL-5 oleh T cell CD3+. Intranasal: Beclomethasone, Budesonide, Fluticasone, Mometasone, Triamcinolone. Kortikosteroid sistemik anti inflamasi sangat kuat intervensi system imun Oral/IM: Dexamethasone, Hydrocortisone, Methylprednisolone, Prednisone, Triamcinolone
55

Penyuntikan allergen spesifik secara berulang dan teratur pada pasien dengan kondisi IgE mediated

Terapi Imuno Alergen Spesifik (TIAS)6

Tujuan memberikan perlindungan thd gejala-gejala alergi dan reaksi inflamasi yang berhubungan dengan paparan allergen alami.

56

Terapi Imuno Alergen Spesifik (TIAS)


Conventional
1 suntikan/alergen Dosis pemeliharaan setelah 20x kunjungan. Reaksi sistemik 1-2%, 20-30menit pasca suntik

Cluster

2 suntikan/alergen Dosis pemeliharaan lebih cepat Reaksi sistemik lebih mudah terjadi

Rush

Penyuntikan tiap 15-30 menit dalam 24 jam Pasien di rawat Premedikasi (+) Reaksi sistemik >>

57

Modifieid Rush
Seminggu sekali (10 -13 kali) Dua minggu sekali 5-6 kali Tiga minggu sekali 3 kali Sebulan sekali 2-3 kali Dua bulan sekali dst sampai 6 bulan sekali : masing-masing 2 kali. Bilamana pada tahapan interval terjadi kekambuhan gejala interval waktu kembali ke tahap sebelumnya. (Sumarman, Poli THT-KL, RSHS Bandung)

58

Mekanisme imunoterapi spesifik

59

Terbentukny a T reg pascaimunoterapi spesifik

60

Stimulus Terhadap Sel DC

61

Kuesioner untuk mengetahui Kualitas Hidup Penderita RA

62

63

64

KESIMPULAN
1. Rhinitis Alergi ( RA ) suatu gejala gangguan pada hidung setelah terpapar oleh alergen IgE-mediated inflammation pada mukosa hidung. 2. Tiga gejala kardinal pada hidung yang terjadi pada alergi: - Bersin-bersin - Hidung tersumbat - Sekret mukoid 3. Klasifikasi RA menurut ARIA-WHO 2008 menjadi sewaktu-waktu dan terus menerus sedangkan berdasarkan berat-ringannya diklasifikasikan menjadi ringan dan sedang-berat
65

KESIMPULAN
4. Penatalaksanaan RA berupa penghindaran alergen, pengobatan medika mentosa, imunoterapi spesifik serta edukasi

5. Imunoterapi spesifik efektif jika sesuai jadwal , membutuhkan kepatuhan pasien yang tinggi.
6. Keberhasilan penatalaksanaan penderita rinitis alergi adalah perbaikan kualitas hidupnya.

66

TERIMA KASIH

67

Terapi Imuno Alergen Spesifik (TIAS)


Seminggu sekali (10 -13 kali) Dua minggu sekali 5-6 kali Tiga minggu sekali 3 kali Sebulan sekali 2-3 kali Dua bulan sekali dst sampai 6 bulan sekali : masing-masing 2 kali. Bilamana pada tahapan interval terjadi kekambuhan gejala interval waktu kembali ke tahap sebelumnya. (Sumarman, Poli THT-KL, RSHS Bandung)

68

Dosis ITS

R<3

Contoh reaksi sitemik

0,6
R=3

0,7 0,8
0,4
R = 3,1 E > 80 mm (Reaksi sistemik II) 50 % Reaksi sistemik (-)

0,5
0,6

R<3 Reaksi sistemik (-) R=3 DM SC


69

ALERGEN MAKANAN
Alergi makanan jarang didapatkan pada penderita rinitis alergi tapi tanpa gejala lain. Rinitis gejala yang paling sering dari alergi makanan pada pasien dengan keterlibatan organ lain. Reaksi alergi pada bayi < 6 bulan susu atau soya > 50% bayi dengan alergi susu rinitis. Alergen makanan pada dewasa reaksi berat:
Updated ARIA Recomendation 2008

70

ALGORITMA DIAGNOSIS RINITIS ALERGI

Rinore anterior cair dan bersin-bersin

Pasien mungkin alergi

YA

TIDAK

Hidung tersumbat

Pasien tidak menyerupai alergi

Post Nasal Drip

Pasien seperti alergi Gejala terjadi pada saat yang sama setiap hari

Perubahan warna dan/atau nyeri pd wajah Curiga suatu rinosinusitis kronik

Pasien sangat menyerupai alergi

Gejala mata bilateral: -Pruritus - Berair - Kemerahan

Konfirmasi diagnosis rinitis alergi dengan tes kulit dan/atau serum-spesifik IgE

Konfirmasi diagnosis rinosinusitis dengan pemeriksaa CT scan THT 71

GEJALA RINITIS KONJUNGTIVITIS ALERGI


Gejala curiga suatu konjugtivitis alergi Gejala TIDAK curiga suatu konjungtivitis alergi

1 atau lebih dari gejala berikut: Selama > 1 jam tiap hari
-Gejala yang behubungan dengan rinitis - Gejala mata bilateral - Mata gatal - Mata merah - Tidak ada fotofobia

1 atau lebih dari gejala berikut: -Gejala tidak berhubungan dengan rinitis - Gejala mata unilateral - Mata terasa seperti terbakar tapi tidak gatal - Mata kering - Fotofobia

Apakah gejala mengganggu pasien

YA

Memerlukan pemeriksaan dokter


72

PEMERIKSAAN HIDUNG
Nasal endoscopy Menilai patologi hidung & sinus paranasalis yg tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior. Rigid Hopkins rods atau flexible fibre optic endoscope. Dilakukan dalam anestesi topikal intra nasal. Ada tiga tahapan: Tahap pertama konka inferior sampai nasofaring Tahap kedua Konka media dan meatus media Tahap ketiga Konka superior, resesus sfenoethmoidalis, resessus frontalis

73

DIAGNOSIS RINITIS ALERGI


Tes obyektif untuk diagnosis alergi yang diperantai oleh IgE : - Skin Prick Test (SPT) - Serum spesifik IgE Jumlah prediksi positif untuk epidemiologi tes diagnosis RA (SAPALDIA) : - SPT (48.7%) : akurat, aman, biaya rellatif murah - Phadiatop (43.5%)
Updated ARIA Recomendation 2008

74

Interpretasi Tes Kulit


False Positif Dermografism. Reaksi iritan atau peningkatan nonspesifik dari reaksi yang sangat kuat. False negatif Kurangnya potensi dan hilangnya potensi ekstrak. Obat-obatan yang mengatur reaksi alergi. Penyakit yang menurunkan respon kulit. Teknik yang tidak tepat (tusukan tidak ada
Updated ARIA Recomendation 2008

75

TES INVITRO
Total serum IgE - Normal: IgE meningkat dari sejak lahir ke remaja menurun perlahan2 mencapai suatu plateau setelah usia 20-30 tahun. - Penyakit alergi & parasit total IgE serum meningkat. - Tidak digunakan lagi untuk skrining atau mendiagnosis alergi.
76

TES INVITRO
Serum-spesific IgE Metode: - Radioallergensorbent test (RAST) pertama - Radio-labeled atau enzym-labeled anti IgE Disarankan untuk menggunakan pengukuran kuantitatif.
77

TES INVITRO
Faktor2 yang mempengaruhi pengukuran serumspesific IgE: Perbedaan reagen penting assay yang tepat. Kualitas alergen penting, hanya ekstrak yang distandarisasi yang digunakan. Kalibrator harus dicatat di WHO International Reference Preparation for Human IgE.

78

TES INVITRO
Tanda aktivasi darah perifer - Basofil degranulasi dan melepaskan mediator (histamin dan CysLT) distimulasi oleh alergen spesifik. - Tes aktivasi basofil baru didasarkan pd: ekspresi dari CD63, CD45 atau CD203 dalam

79

TES INVITRO
Nasal specific IgE - Konsep reaksi alergi lokal pada hidung tanpa pelepasan IgE sistemik tidak sepenuhnya disupport dan pengukuran IgE pada sekresi hidung tidak dapat dilakukan secara rutin.
80

IMUNOTERAPI BERDASARKAN SET


Initial Dose - Penyuntikan 0,05 ml larutan endpoint - Selanjutnya dinaikkan 0,05 ml - Ahli berpengalaman naik 0,10 ml - Interval penyuntikan 1 - 2 kali / minggu Bila dosis Maintenance sudah dicapai suntikan boleh dijarangkan 2 3 minggu sekali

81

Terapi Imuno Alergen Spesifik (TIAS)6

Starting dose : Optimal dose : Tolerable dose :

Dosis yg aman diberikan pada pertama kali, biasanya dalam jumlah yg kecil atau sangat kecil tergantung senstivitas pasien (berdasarkan Skin prick test)
Dosis tertinggi yang harus diberikan sbg dosis maintenance sama untuk setiap pasien, tidak tergantung usia

Dosis tertinggi yang harus diberikan sbg maintenance, yg dapat ditoleransi aman bagi pasien. Dosis ini berbeda untuk setiap pasien, tergantung usia
82

Terapi Imuno Alergen Spesifik (TIAS)6


Efek Samping TIAS dibagi sebagai berikut : 1. Reaksi non-spesifik Gejala : rasa tidak nyaman, sakit kepala atau atralgia 2. Reaksi lokal : Bercak kemerahan & bengkak di tempat suntikan 3. Reaksi sistemik kemerahan yg ringan di tempat suntikan sampai anafilaksis berat

83

KLASIFIKASI REAKSI SISTEMIK IMUNOTERAPI

0 I

: Tidak ada gejala atau nonimmunotherapy-related symptom : Reaksi sistemik ringan urtikaria lokal, rinitis atau asma ringan (PF<20% menurun dari baseline) II : Reaksi sistemik sedang onset perlahan-lahan (>15 menit), urtikaria generalisata dan/atau asma sedang (PF < 40% menurun dari baseline), sulit tidur, mual. III : Reaksi sistemik berat (tidak mengancam jiwa) onset cepat (<15 menit) urtikaria generalisata, angioedem atau asma berat (PF > 40% menurun dari baseline) IV : Syok anafilaktik gejala segera menimbulkan reaksi gatal, kemerahan, eritema, urtikaaria generalisata , stridor (angioedem), asma yang segera timbul, hipotensi, dll

84

Ratio aman untuk reaksi sistemik: Ratio W15 3.0 W0 Eritema < 80 mm (Sumarman, Madiadipoera / THT-KL RSHS, Bandung)

85