Anda di halaman 1dari 2

Nama Npm Jurusan

: Esa Devi Safiani : 1116041026 : Ilmu Administrasi Negara

Uts Etika Administrasi Publik

Kasus Lokal Yang Menyangkut Tentang Etika Organisasi

Etika merupakan refleksi mengenai nilai-nilai & norma-norma moral yang dipedomani dalam mengatur pola sikap, perilaku ataupun ucapannya. Dalam etika menyangkut konsep baikburuk dan benar-salah yang terkait dengan kehidupan organisasi, nilai tersebut dapat dirumuskan ke dalam kode etik organisasi yang bersangkutan. Dewasa ini keberadaan etika mengalami pengaburan, banyak para pejabat ataupun pegawai sipil yang luntur etikanya. Hal itu berakibat pada penurunan kinerja organisasi publik tersebut. Nyatanya banyak kasus-kasus yang berkaitan dengan pelanggarn etika, mulai dari KKN, rendahnya disiplin pegawai, penyalahgunaan wewenang, mementingkan kepentingan pribadi di atas kelompok, PNS yang terlibat sebagai tim sukses parpol, dan berbagai kasus-kasus lain. Pada tulisan ini, saya ingin membahas mengenai pembangunan Dinasti oleh pejabat public. Contoh yang dekat sekali dengan kita yaitu Dinasti Sjachroedin ZP, dia juga
merupakan: Ayah dari Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza. dan Ayah dari Wakil Bupati Pringsewu Handiytya Narapati. Secara hukum formal tidak melanggar, namun secara etika maka dinasti politik jauh dari kepantasan. Bahkan parahnya lagi, persoalan kepantasan pun akan kembali diperdebatkan sehingga semakin mengaburkan etika. Sebagian pihak menganggap dinasti politik adalah hal yang pantas. Namun bagi masyarakat, akan memunculkan prasangka bahwa terjadi proses yang tidak benar dalam pemilihannya.

Karena tidak ada aturan hukum tertulis yang dilanggar, pemerintah pusat merasa kesulitan untuk melarang tindakan yang tidak etis tersebut. Politik dinasti seringkali

mengabaikan etika politik. Menempatkan pejabat bukan karena kapasitasnya, tetapi karena kekerabatannya.Kekuasaan hanya dikuasai oleh beberapa orang yang berasal dari satu keluarga

tanpa memberi ruang pihak lain untuk berpartisipasi. Dinasti politik akan menumbuhkan oligarki politik serta tidak sehat bagi upaya regenerasi kepemimpinan politik, akibat kekuasaan hanya dikuasai oleh beberapa orang yang berasal dari satu keluarga tanpa memberi ruang kepada pihak lain untuk berpartisipasi. Selain itu, dinasti politik juga sangat berdampak buruk bagi akuntabilitas birokrasi dan pemerintahan. Akibatnya, pejabat hasil dinasti politik yang menduduki jabatan publik, cenderung serakah serta marak korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).Kemudian, dinasti politik juga menjadi pintu masuk bagi pihak-pihak yang memiliki motivasi merampas harta kekayaan dan keuangan negara dengan cara memanfaatkan kekerabatannya tersebut..
Semua yang terdapat di hukum formal ada di etika sedangkan tak semua yang ada di etika terdapat di hukum formal. Ketika masyarakat bisa menjalankan semua etika kehidupan sosial yang benar, mungkin hukum formal tidak akan dibutuhkan. Namun itu akan sulit dicapai, karena kehidupan sosial yang bersubjek pada manusia akan sulit bahkan tidak mungkin menegakan etika 100%. Nah, pada dinasti politik kondisi ini yang berlaku yaitu hukum formal dianggap lebih berarti dibandingkan pada etika. Posisi etika di kehidupan sosial lebih tinggi dari hukum formal. Untuk menjaga etika ini maka muncul hukum formal. Namun, tidak bisa semua etika diwujudkan dalam hukum formal. Namun, hukum formal muncul dari etika. Karena tidak mempunyai hukuman yang mengikat, banyak pihak yang memilih melanggar etika daripada hukum formal. Dan yang terjadi, banyak orang yang lebih malu melanggar hukum formal daripada etika