Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif seperti daging, berbentuk segitiga yang tumbuh dari arah temporal maupun nasal konjungtiva menuju kornea pada arah intrapalpebra. Keadaan ini diduga merupakan suatu fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet, daerah yang kering dan lingkungan yang banyak angin, karena sering terdapat pada orang yang sebagian besar hidupnya berada di lingkungan yang berangin, penuh sinar matahari, berdebu atau berpasir. Kasus pterigium yang tersebar di seluruh dunia sangat bervariasi, tergantung pada geografisnya, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah dekat equator. Prevalensi juga tinggi pada daerah berdebu dan kering. Insiden pterigium di Indonesia yang terletak di daerah ekuator, yaitu 13,1 %. Insiden tertinggi pterigium terjadi pada pasien dengan rentang umur 20-49 tahun. Pasien dibawah umur 15 tahun jarang terjadi pterigium. Rekuren lebih sering terjadi pada pasien yang usia muda dibandingkan dengan pasien usia tua. Jika pterigium membesar dan meluas sampai ke daerah pupil, lesi harus diangkat bersama dengan sebagian kecil kornea superficial di luar daerah perluasannya. Kombinasi autograft konjungtiva dan eksisi lesi terbukti mengurangi risiko kekambuhan.

BAB II LAPORAN KASUS


ANAMNESIS Autoanamnesis Nama Lengkap Tempat dan Tanggal Lahir Umur Pekerjaan Alamat Jenis Kelamin Pendidikan Nama : Ny. Y Umur : 56 tahun Ruang : Kelas : -

: Ny. Y : Kenten laut, 4 januari 1957 : 56 Tahun : Pedagang : Jl. A. Nakowi Rt 26 Dusun III, kenten laut, Palembang : Perempuan : SMP

Dokter yang Merawat : dr. Ibrahim, Sp.M Dokter Muda : Friska Doreenda Putri, S.Ked

Tanggal Pemeriksaan : 3 Juni 2013 Keluhan Utama : Di kedua matanya berselaput yang terjadi sejak 1 tahun yang lalu Keluhan Tambahan : Kedua mata terasa mengganjal sejak 1 bulan yang lalu, gatal (+), berair (+), terasa perih, kabur (+). 1. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengaku 1 tahun yang lalu, timbul selaput di mata kanan dan kirinya. Selaput tersebut mengenai bagian terluar bola mata. Mula-mula selaput tersebut kecil dan tumbuh di sudut mata dekat hidung kemudian lama kelamaan selaput tersebut tumbuh disudut mata yang satunya pada kedua mata. Mata terasa seperti mengganjal (+), gatal (-), berarir (+), mata merah (+), sekret (-), kabur(-), penglihatan seperti berkabut (-), silau (-). Riwayat pengobatan tidak ada. Beberapa bulan terakhir, pasien mengeluh selaput tersebut semakin meluas,

dan semakin terasa mengganggu, kedua mata terasa gatal, berarir (+), mata merah (+), perih (+), secret (-), kabur (+), penglihatan seperti berkabut (-), silau (-). Penderita lalu datang ke poliklinik RSMP. 2. Riwayat Penyakit Dahulu a. Riwayat menderita penyakit serupa sebelumnya tidak ada b. Riwayat penyakit darah tinggi ada sejak 2 tahun yang lalu c. Riwayat penyakit kencing manis disangkal 3. Riwayat Penyakit Keluarga a. Riwayat keluarga menderita penyakit serupa disangkal b. Riwayat keluarga memiliki penyakit darah tinggi disangkal d. Riwayat penyakit kencing manis disangkal PEMERIKSAAN FISIK Nama : Ny. Y Umur : 56 tahun Ruang : Kelas : -

Status Generalis Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Compos mentis Tanda Vital : - Tekanan Darah : 140/90 mmHg - Nadi : 85 x/menit - Laju Napas : 21 x/menit - Suhu : 36,6 0C Status Oftalmologis OD OS

Gambar 1.1 Gambar mata kanan10

Gambar 1.2 Gambar mata kiri10


3

No. 1. 2. 3.

4.

5.

6.

7.

Pemeriksaan OD 20/100 PH = 20/80 Visus Digit = N Tekanan Intra Okuler Kedudukan Bola Mata Posisi Ortoforia Eksoftalmus (-) Enoftalmus (-) Pergerakan Bola Mata Atas (+) Baik Bawah (+) Baik Temporal (+) Baik Temporal atas (+) Baik Temporal bawah (+) Baik Nasal (+) Baik Nasal atas (+) Baik Nasal bawah (+) Baik Nistagmus (-) Palpebrae Hematom (-) Edema (-) Hiperemis (-) Benjolan (-) Ulkus (-) Fistel (-) Hordeolum (-) Kalazion (-) Ptosis (-) Ektropion (-) Entropion (-) Sekret (-) Trikiasis (-) Madarosis (-) Punctum Lakrimalis Edema (-) Hiperemis (-) Benjolan (-) Fistel (-) Konjungtiva Tarsal Superior Edema (-) Hiperemis (-) Sekret (-)

OS 20/100 PH = 20/70 Digit = N Ortoforia (-) (-) (+) Baik (+) Baik (+) Baik (+) Baik (+) Baik (+) Baik (+) Baik (+) Baik (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-)

8.

9.

Epikantus Konjungtiva Tarsalis Inferior Kemosis Hiperemis Anemis Folikel Papil Lithiasis Simblefaron Konjungtiva Bulbi Kemosis

(-) (-) (+) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Jaringan fibrovaskular (+) berbentuk segitiga disisi nasal dan temporal dengan apex sudah melewati kornea namun tidak melebihi pinggiran pupil. (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Jernih (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-)

(-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Jaringan fibrovaskular (+) berbentuk segitiga disisi nasal dan temporal dengan apex sudah melewati kornea namun tidak melebihi pinggiran pupil. (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Jernih (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-)

Pterigium

10.

Pinguekula Flikten Simblefaron Injeksi konjungtiva Injeksi siliar Injeksi episklera Perdarahan subkonjungtiva Kornea Kejernihan Edema Ulkus Erosi Infiltrat Flikten Keratik presipitat Macula Nebula Leukoma Leukoma adherens Stafiloma

Neovaskularisasi Imbibisi Pigmen iris Bekas jahitan Tes sensibilitas

(-) (-) (-) (-) Tidak dilakukan

(-) (-) (-) (-) Tidak dilakukan

11.

12.

13.

14.

15.

16.

Limbus kornea Arkus senilis Bekas jahitan Sklera Sklera biru Episkleritis Skleritis Kamera Okuli Anterior Kedalaman Kejernihan Flare Sel Hipopion Hifema Iris Warna Gambaran radier Eksudat Atrofi Sinekia posterior Sinekia anterior Iris bombe Iris tremulans Pupil Bentuk Besar Regularitas Isokoria Letak Refleks cahaya langsung Seklusio pupil Oklusi pupil Leukokoria Lensa

(+) (-) (-) (-) (-) Cukup Jernih (-) (-) (-) (-) Cokelat Jelas/tidak jelas (-) (-) (-) (-) (-) (-) Bulat 3 mm Reguler (+) Sentral (+) (-) (-) (-)

(+) (-) (-) (-) (-) Cukup Jernih (-) (-) (-) (-) Cokelat Jelas/tidak jelas (-) (-) (-) (-) (-) (-) Bulat 3 mm Reguler (+) Sentral (+) (-) (-) (-)

Kejernihan Shadow test Refleks kaca Luksasi Subluksasi Pseudofakia Afakia

Jernih (-) (-) (-) (-) (-) (-)

Jernih (-) (-) (-) (-) (-) (-)

17.

Funduskopi Refleks fundus Papil - warna papil - bentuk - batas Retina - warna - perdarahan - eksudat Makula lutea

Tidak dinilai Tidak dinilai

Tidak dinilai Tidak dinilai

Tidak dinilai

Tidak dinilai

Tidak dinilai

Tidak dinilai

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Nama : Ny. Y Umur : 56 tahun

Ruang : Kelas : -

Anjuran Pemeriksaan: 1. Pemeriksaan Laboratorium Darah Rutin (Hb, CT, BT, Leukosit, Ht) 2. Pemeriksaan Gula Darah RINGKASAN ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN JASMANI Nama : Ny. Y Umur : 56 tahun Ruang : Kelas : -

Pasien mengaku 1 tahun yang lalu, timbul selaput di mata kanan dan kirinya. Selaput tersebut mengenai bagian terluar bola mata. Mula-mula selaput tersebut kecil dan tumbuh di sudut mata dekat hidung kemudian lama kelamaan selaput tersebut tumbuh disudut mata yang satunya pada kedua mata. Mata terasa seperti mengganjal (+), gatal (-), berarir (+), mata merah (+), sekret (-), kabur(-), penglihatan seperti berkabut (-), silau (-). Riwayat pengobatan tidak ada.

Beberapa bulan terakhir, pasien mengeluh selaput tersebut semakin meluas, dan semakin terasa mengganggu, kedua mata terasa gatal, berarir (+), mata merah (+), perih (+), secret (-), kabur (+), penglihatan seperti berkabut (-), silau (-). Penderita lalu datang ke poliklinik RSMP.

Daftar Masalah: 1. Mata kanan dan kiri terasa seperti ada yang mengganjal , Mata merah (+), berair (+), perih (+), gatal (+), kabur (+). 2. Visus : OD : 20/100 PH : 20/80 OS : 20/100 PH : 20/70 3. Konj. Bulbi : ODS Pterigium 4. Limbus Kornea : ODS Arkus Senilis (+) Kemungkinan Penyebab Masalah : 1. OD : Pterigium grade III nasal dan temporal 2. OS : Pterigium grade III nasal dan temporal RENCANA PENGELOLAAN Nama : Ny. Y Umur : 56 tahun Ruang : Kelas : -

1. Edukasi dan Informed consent : - Informasi kepada pasien bahwa penglihatan penderita akan menurun yang bisa ditimbulkan akibat selaput yang tumbuh pada matanya yang sudah mencapai pinggir pupilnya - Informasi kepada pasien bahwa selaput tersebut harus segera dibuang dengan tindakan operasi. 2. Rencana operasi eksisi pterigium dan graft konjungtiva.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1

Anatomi Konjungtiva Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sclera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi palpebra (suatu sambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus. Sesuai dengan namanya, konjungtiva menghubungkan antara bola mata dan kelopak mata. Dari kelopak mata bagian dalam, konjungtiva terlipat ke bola mata baik dibagian atas maupun bawah. Refleksi atau lipatan ini disebut dengan forniks superior dan inferior. Forniks superior terletak 8-10 mm dari limbus sedangkan forniks inferior terletak 8 mm dari limbus. Lipatan tersebut membentuk ruang potensial yang disebut saccus konjungtiva, yang bermuara melalui fissure palpebra antara kelopak mata superior dan inferior. Pada bagian medial konjungtiva, tidak ditemukan forniks, tetapi dapat ditemukan karunkula dan plika semilunaris yang penting dalam sistem lakrimal. Pada bagian lateral, forniks bersifat lebih dalam hingga 14 mm dari limbus. Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea.

Gambar 2.1. Anatomi Konjungtiva

10

Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu : a. Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus. b. Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya. c. Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihat konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.

Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak. Aliran darah konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan bersama dengan banyak vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya membentuk jaringjaring vaskuler konjungtiva yang banyak sekali. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun dalam lapisan superfisial dan lapisan profundus dan bersambung dengan pembuluh limfe palpebra hingga membentuk pleksus limfatikus yang banyak. Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan pertama (oftalmik) nervus trigeminus. Saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat nyeri. 3.2 Definisi Pterigium berasal dari bahasa Yunani, yaitu Pteron yang artinya sayap. Pterygium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pterigium berbentuk segitiga, pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke daerah korena. pterigium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di daerah kornea. Pterigium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, maka bagian pterigium akan berwarna merah. Pterigium dapat mengenai kedua mata.

11

Gambar 1. Pterygium 3.3 Epidemiologi Pterigium tersebut di seluruh dunia, tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. Prevalensi juga tinggi di daerah berdebu dan kering. Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah dekat ekuator, yakni daerah yang terletak kurang 370 lintang utara dan selatan dari ekuator. Prevalensi tinggi sampai 22% di daerah dekat ekuator dan kurang dari 2 % pada daerah yang terletak di atas 400 lintang. Insiden pterigium cukup tinggi di Indonesia yang terletak di daerah ekuator, yaitu 13,1 %. 3.4 Faktor Risiko Faktor risiko yang mempengaruhi antara lain : 1. Usia. Prevalensi pterygium meningkat dengan pertambahan usia banyak ditemui pada usia dewasa tetapi dapat juga ditemui pada usia anak-anak. 2. Pekerjaan. Pertumbuhan pterygium berhubungan dengan paparan yang sering dengan sinar UV. 3. Tempat tinggal. Gambaran yang paling mencolok dari pterygium adalah distribusi geografisnya. Distribusi ini meliputi seluruh dunia tapi banyak survei yang dilakukan setengah abad terakhir menunjukkan bahwa negara di khatulistiwa memiliki angka kejadian pterygium yang lebih tinggi. Survei lain juga menyatakan orang yang menghabiskan 5 tahun pertama

12

kehidupannya pada garis lintang kurang dari 300 memiliki risiko penderita pterygium 36 kali lebih besar dibandingkan daerah yang lebih selatan. 4. Jenis kelamin. Tidak terdapat perbedaan risiko antara laki-laki dan perempuan. 5. Herediter. Pterygium diperengaruhi faktor herediter yang diturunkan secara autosomal dominan. 6. Infeksi. Human Papiloma Virus (HPV) dinyatakan sebagai faktor penyebab pterygium. 7. Faktor risiko lainnya. Kelembaban yang rendah dan mikrotrauma karena partikel-partikel tertentu seperti asap rokok, pasir merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterygium. 3.5 Etiologi dan Patofisiologi Konjungtiva bulbi selalu berhubungan dengan dunia luar. Kontak dengan ultraviolet, debu, kekeringan yang mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi yang menjalar ke kornea. Etiologi pterigium tidak diketahui dengan jelas. Karena penyakit ini lebih sering pada orang yang tinggal di daerah beriklim panas, maka gambaran yang paling diterima tentang hal tersebut adalah respon terhadap faktor-faktor lingkungan seperti paparan terhadap sinar ultraviolet dari matahari, deaerah kering, inflamasi, daerah dengan angin kencang dan debu atau faktor iritan lainnya. Diduga berbagai faktor risiko tersebut menyebabkan terjadinya degerasi elastisitas jaringan kolagen dan proliferasi fibrovaskular. Dan progresifitasnya di diduga merupakan hasil dari kelainan lapisan Bowman kornea. Beberapa studi menunjukkan adanya predisposisi genetic untuk kondisi ini. Teori lain menyebutkan bahwa patofisiologi pterigium ditandai dengan degenerasi elastic kolagen dan proliferasi fibrovaskular dengan permukaan yang menutupi epitel. Hal ini disebabkan karena struktur konjungtiva yang
13

selalu berhubungan dengan dunia luar dan secara intensif kontak dengan ultraviolet dan debu sehingga sering mengalami kekeringan yang

mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi sampai mencapai ke kornea. Selain itu, pengeringan lokal dari kornea dan konjungtiva yang menyebabkan kelainan tear film menimbulkan fibroplastik baru. Tingginya insiden pterigium pada daerah beriklim kering mendukung teori ini. Teori terbaru mengenai pterigium, menyatakan kerusakan limbal stem cell di daerah intrapalpebra akibat sinar ultraviolet. Limbal stem cell merupakan sumber regenerasi epitel kornea dan sinar ultraviolet menjadi mutagen untuk p53 supressor gene pada limbal stem cell. Tanpa apoptosis, transforming growth factors-beta diproduksi dalam jumlah berlebihan dan meningkatkan proses kolagenase sehingga sel-sel bermigrasi dan terjadi angiogenesis. Akibatnya, terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular. Pada jaringan subkonjungtiva terjadi perubahan degenerasi elastic dan proliferasi jaringan vascular dibawah epitelium yang kemudian menembus kornea. Kerusakan pada kornea terdapat pada lapisan Bowman oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular yang sering disertai inflamasi ringan. Epitel dapat normal, tebal, atau tipis dan kadang terjadi displasia. Pada keadaan defisiensi limbal stem cell, terjadi pembentukan jaringan konjungtiva pada permukaan kornea. Pemisahan fibroblast dari jaringan pterigium menunjukkan perubahan phenotype, yaitu lapisan fibroblast mengalami proliferasi sel yang berlebihan. Pada fibroblast pterigium menunjukkan matriks metalloproteinase, yaitu matriks ektraselular yang berfungsi untuk memperbaiki jaringan yang rusak, penyembuhan luka, dan mengubah bentuk. Hal ini menjelaskan penyebab pterigium cenderung terus tumbuh dan berinvasi ke stroma kornea sehingga terjadi reaksi fibrovaskular dan iflamasi.

14

3.6

Gejala Klinis Pterigium lebih sering dijumpai pada laki-laki yang bekerja di luar rumah. Bisa unilateral atau bilateral. Kira-kira 90% terletak di daerah nasal. Pterigium yang terletak di nasal dan temporal dapat terjadi bersamaan walaupun pterigium di daerah temporal jarang ditemukan. Kedua mata sering terlibat, tetapi jarang simetris. Perluasan pterigium dapat sampai ke medial dan lateral limbus sehingga menutupi sumbu penglihatan, menyebabkan penglihatan kabur. Secara klinis pterigium muncul sebagai lipatan berbentuk segitiga pada konjungtiva yang meluas ke kornea pada daerah fissure interpalpebra. Biasanya pada bagian nasal tetapi dapat juga terjadi pada bagian temporal. Deposit besi dapat dijumpai pada bagian epitel kornea anterior dari kepala pterigium (stokers line). Pterigium memiliki tiga bagian, yaitu : - Bagian Kepala atau cap, biasanya datar, terdiri atas zona abu-abu pada kornea yang kebanyakan terdiri atas fibroblast. Area ini menginvasi dan menghancurkan lapisan bowman pada kornea. Garis zat besi (iron line/ stokers line) dapat dilihatbpada bagian anterior kepala. Area ini juga merupakan area kornea yang kering. - Bagian Whitish. Terletak langsung setelah cap, merupakan sebuah lapisan vesikular tipis yang menginvasi kornea seperti halnya kepala. Bagian badan atau ekor, merupakan bagian yang mobile (dapat bergerak), lembut, merupakan area vesicular pada konjungtiva bulbi dan merupakan area paling ujung. Badan ini menjadi tanda khas yang paling penting untuk dilakukannya koreksi pembedahan. Pembagian pterigium berdasarkan perjalanan penyakit dibagi atas 2 tipe, yaitu : - Progresif pterigium : tebal dan vascular dengan beberapa infiltrat di depan kepala pterigium (disebut cap pterigium) - Regresif pterigium : tipis, atrofi, sedikit vascular. Akhirnya membentuk membran tetapi tidak pernah hilang.
15

Pada fase awal pterigium tanpa gejala, hanya keluhan kosmetik. Gangguan terjadi ketika pterigium mencapai daerah pupil atau menyebabkan astigmatisme karena pertumbuhan fibrosis pada tahap regresi. Kadang terjadi diplopia sehingga menyebabkan terbatasnya pergerakan mata. Pembagian lain pterigium yaitu : 1. Tipe I : meluas kurang 2 mm dari kornea. Stokers line atau deposit besi dapat dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterigium. Lesi sering asimptomatis meskipun sering mengalami inflamasi ringan. Penderita dengan pemakaian lensa kontak dapat mengalami keluhan lebih cepat. 2. Tipe II : menutupi kornea sampai 4 mm, bias primer atau rekuren setelah operasi, berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan astigmatisma. 3. Tipe III : mengenai kornea lebih dari 4 mm dan mengganggu aksis visual. Lesi yang luas terutama yang rekuren dapat saling berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva yang meluas ke fornik dan biasanya menyebabkan gangguan pergerakan bola mata. Pterigium juga dapat dibagi kedalam 4 derajat, yaitu : 1. Derajat 1 : jika pterigium hanya terdapat pada limbus kornea 2. Derajat 2 : jika sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm melewati kornea. 3. Derajat 3 : sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (pupil dalam keadaan normal sekitar3 4 mm) 4. Derajat 4 : pertumbuhan pterigium melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan Berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterigium dan harus diperiksa dengan slit lamp pterigium dibagi 3 yaitu : T1 (atrofi) : pembuluh darah episkleral jelas terlihat T2 (intermediet) : pembuluh darah episkleral sebagian terlihat
16

T3 (fleshy, opaque) : pembuluh darah tidak jelas.

3.7

Penegakkan Diagnosis 1. Anamnesis Pada anamnesis didapatkan adanya keluhan penderita seperti mata merah, gatal, mata sering berarir, gangguan penglihatan. Selain itu perlu juga ditanyakan adanya riwayat mata merah berulang, riwayat banyak bekerja diluar ruangan pada daerah dengan pajanan sinar matahari yang tinggi, serta dapat pula ditanyakan riwayat trauma sebelumnya. 2. Pemeriksaan Fisik Pada inspeksi pterigium terlihat sebagai jaringan fibrovaskular pada permukaan konjungtiva. Pterigium dapat memberikan gambaran yang vascular dan tebal tetapi ada juga pterigium yang avaskular dan flat. Pterigium paling sering ditemukan pterigium pada daerah temporal. 3. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan pada pterigium adalah topografi kornea untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa astigmatisme ireguler yang disebabkan oleh pterigium. a. Pemeriksaan tekanan bola mata. Tonometri merupakan pemeriksaan untuk menentukan tekanan bola mata seseorang berdasarkan fungsinya dimana tekanan bola mata merupakan keadaan mempertahankan mata bulat sehingga tekanan bola mata yang normal tidak akan memberikan kerusakan saraf optic atau yang terlihat sebagai kerusakan dalam bentuk kerusakan galukoma pada papil saraf optic. Dikenal 4 bentuk cara pengukuran tekanan bola mata : 1. Palpasi , kurang tepat karena tergantung faktor subjektif 2. Identasi tonometri, dengan member beban pada permukaan kornea. 3. Aplanasi tonomtri, mendatarkan permukaan kecil kornea.
17

4. Tonometri udara (air tonometry), kurang tepat karena dipergunakan diruang terbuka. b. Pemeriksaan kelainan papil saraf optik Oftalmoskopi, Pemeriksaan kedalam mata dengan memakai alat yang dinamakan oftalmoskop. Dengan oftalmoskop dapat dilihat saraf optic didalam mata dan akan dapat ditentukan apakah tekanan bola mata telah mengganggu saraf optic. Saraf optic dapat dilihat secara langsung. Warna serta bentuk dari mangkok saraf optik pun dapat menggambarkan ada atau tidak ada kerusakan akibat glaucoma. Kelainan pada pemeriksaan oftalmoskopi dapat terlihat : Kelainan papil saraf optik - Saraf optik pucat atau atrofi - Saraf optik bergaung Kelaianan serabut retina, serat yang pucat atau atrofi akan berwarna hijau Tanda lainnya seperti perdarahan peripapilar c. Pemeriksaan Sudut Bilik Mata Gonioskopi adalah suatu cara untuk melihat keadaan patologik sudut bilik mata, juga untuk melihat hal-hal yang terdapat pada sudut bilik mata seperti benda asing. d. Pemeriksaan Lapangan pandang

3.8

Diagnosis Banding Secara klinis pterigium dapat dibedakan dengan dua keadaan yang sama yaitu pinguekula dan pseudopterigium. Bentuknya kecil, meninggi, massa kekuningan berbatasan dengan limbus pada konjungtiva bulbi di fissure interpalpebra dan kadang-kadang mengalami inflamasi. Tindakan eksisi tidak diindikasikan. Prevalensi dan insiden meningkat dengan meningkatnya umur.

18

Pinguekula sering pada iklim sedang dan iklim tropis dan angka kejadian sama pada laki-laki dan perempuan. Paparan sinar ultraviolet bukan faktor risiko penyebab pinguekula. Pertumbuha yang mirip dengan pterigium, pertumbuhannya membentuk sudut miring seperti pseudopterigium atau terriens marginal degeneration. Pseudopterigium mirip dengan pterigium dimana adanya jarin gan parut

fibrovaskular yang timbul pada konjungtiva bulbimenuju kornea. Berbeda dengan pterigium, pseudopterigium adalah akibat inflamasi permukaan ocular sebelumnya seperti trauma, trauma kimia, konjungtivitis sikatrial, trauma bedah atau ulkus perifer kornea. Untuk mengidentifikasi pseudopterigium, cirinya tidak melekat pada limbus kornea. Probing dengan muscle hook dapat dengan mudah melewati bagian bawah pseudopterigium pada limbus, dimana hal ini tidak dapat dilakukan pada pterigium. Pada pseudopterigium tidak dapat dibedakan antara head, cap dan body dan pseudopterigium cenderung keluar dari ruang fissure interpalpebra yang berbeda dengan true pterigium.

3.9

Penatalaksanaan Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati. Untuk pterigium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga baha penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraocular tinggi atau mengalami kelainan kornea. Untuk mencegah progresifitas, beberapa peneliti menganjurkan

penggunaan kacamata pelindung ultraviolet. Adapun indikasi operasi menurut Ziegler dan Guilermo Pico, yaitu : Menurut Ziegler : 1. Mengganggu visus 2. Mengganggu pergerakan bola mata

19

3. Berkembang progresif 4. Mendahului suatu operasi intraokuler 5. kosmetik Menurut Guilermo Pico : 1. Progresif, risiko rekurensi > luas 2. Mengganggu visus 3. Mengganggu pergerakan bola mata 4. Masalah kosmetik 5. Di depan apeks pterigium terdapat Grey Zone 6. Pada pterigium dan kornea sekitarnya ada nodul pungtat 7. Terjadi kongesti (klinis) secara periodic Indikasi eksisi pterigium sangat bervariasi. Eksisi dilakukan pada kondisi adanya ketidaknyamanan yang menetap, gangguan penglihatan pterigium bila ukuran 3-4 mm dan pertumbuhan yang progresif ke tengah kornea atau aksis visual, adanya gangguan pergerakan bola mata. Eksisi pterigium bertujuan untuk mencapai gambaran permukaan mata yang licin. Suatu teknik yang sering digunakan untuk mengangkat pterigium dengan menggunakan pisau yang datar untuk mendiseksi pterigium kearah limbus. Memisahkan pterigium kearah bawah pada limbus lebih disukai, kadang-kadang dapat timbul perdarahan oleh karena trauma jaringan sekitar otot. Setelah eksisi, kauter sering digunakan untuk mengontrol perdarahan. Beberapa teknik operasi yang dapat menjadi pilihan, yaitu : 1. Bare Sclera : tidak ada jahitan atau jahitan , benang absorbable digunakan untuk melekatkan konjungtiva ke sclera di depan insersi tendon rektus. Meninggalkan suatu daerah sklera yang terbuka. Kerugian dari teknik ini adalah tingginya tingkat rekurensi pasca pembedahan yang dapat mencapai 40-75%.

20

2. Simple closure : tepi konjungtiva yang bebas dijahit bersama (efektif jika hanya defek konjungtiva sangat kecil ) 3. Sliding flaps : suatu insisi bentuk L dibuat sekitar luka kemudian flap konjungtiva digeser untuk menutupi defek. 4. Relational flap : insisi bentuk U dibuat sekitar luka bekas eksisi untuk memungkinkan dilakukannya membentuk lidah pada konjungtiva yang kemudian dirotasi pada tempatnya. 5. Conjunctival graft : mengguanakan free graft yang biasanya diambil dari konjungtiva bulbi bagian superior, dieksisi sesuai dengan ukuran luka kemudian dipindahkan dan dijahit atau difiksasi dengan bahan perekat jaringan ( misalnya Tisseel VH, Baxter Helathcare, Dearfield, Illionis ).

3.10 Komplikasi Komplikasi pterigium meliputi sebagai berikut : Pra operatif 1. 2. 3. 4. 5. Astigmat Kemerahan Iritasi Bekas luka yang kronis pada konjungtiva dan kornea Keterlibatan yang luas otot ekstraokular dapat membatasi penglihatan dan menyebabkan diplopia Intra operatif Nyeri, iritasi, kemerahan, graft oedema, conneoscleral dellen (thinning),dan perdarahan subkonjungtival dapat terjadi akibat tindakan eksisi dengan conjunctival autigrafting, namun kopmlikasi ini secara umum bersifat sementara dan tidak mengancam penglihatan. Pasca operatif Komplikasi pasca eksisi adalah sebagai berikut :

21

1.

Infeksi, reaksi bahan jahitan, diplopia, jaringan parut, parut kornea, graft konjungtiva longgar, perforasi mata, perdarahan vitreus dan ablasi retina

2.

Penggunaan mitomycin C post operasi dapat menyebabkan ektasia atau nekrosis sclera dan kornea.

3.

Pterigium rekuren.

3.11 Prognosis Penglihatan dan kosmetik penderita setelah eksisi adalah baik. Kebanyakan penderita dapat beraktivitas lagi setelah 48 jam post operasi. Penderita dapat beraktivitas lagi setelah 48 jam post operasi. Penderita dengan pterigium rekuren dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan konjungtiva autograft atau transplantasi membrane amnion. Umumnya rekurensi terjadi pada 3-6 bulan pertama setelah operasi.

22

BAB IV ANALISIS KASUS


Pasien mengaku 1 tahun yang lalu, timbul selaput di mata kanan dan kirinya. Selaput tersebut mengenai bagian terluar bola mata. Mula-mula selaput tersebut kecil dan tumbuh di sudut mata dekat hidung kemudian lama kelamaan selaput tersebut tumbuh disudut mata yang satunya pada kedua mata. Mata terasa seperti mengganjal (+), gatal (-), berarir (+), mata merah (+), sekret (-), kabur(-), penglihatan seperti berkabut (-), silau (-). Riwayat pengobatan tidak ada. Beberapa bulan terakhir, pasien mengeluh selaput tersebut semakin meluas, dan semakin terasa mengganggu, kedua mata terasa gatal, berarir (+), mata merah (+), perih (+), secret (-), kabur (+), penglihatan seperti berkabut (-), silau (-). Penderita lalu datang ke poliklinik RSMP. Dari hasil pemeriksaan tajam penglihatan didapat kan visus menurun yaitu OD : 4/60 dan OS : 4/60. Pada pemeriksaan konjungtiva bulbi mata kanan dan kiri di dapatkan jaringan fibrovaskular (+) berbentuk segitiga di sisi nasal dan temporal dengan apex apex sudah melewati kornea namun tidak melebihi pinggiran pupil. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik diatas, penderita ini didiagnosis Pterigium ODS grade III. Penatalaksanaan pada penderita ini adalah edukasi dan in formed consent. Karena pterigium sudah mencapai grade III dan sudah mengganggu penglihatan. Prognosis penderita ini, dubia ad bonam.

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata, edisi kedua. Jakarta: Balai Penelitian FKUI,2003. 119-120 2. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Editor Tahjono. Dalam panduan manajermen klinik PERDAMI. CV Ondo Jakarta; 2006. 56 58 3. 4. Wijana N. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Tegal Abadi, 1993; 210-211. Raihana. Karakteristik Penderita Pterygium di Poliklinik Mata RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Periode Januari 2003 Desember 2005. Pekanbaru: FK UNRI, 2007. 5. Tan DTH. Ocular Surface Diseases Medical and Surgical Management. New York: Springer, 2002; 65-83. 6. 7. Putra AK. Penatalaksanaan pterygium Atmajaya. 2003 : 2 : 137 147 Duffek Catherine . Pterygium.http://healthlibrary.epnet.com/GetContent.aspx. diakses 8 juni 2013 8. Riordan-Eva P., Whitcher JP. Vaughan & Asburys General Ophtalmology. 17th Ed. Philadelphia: McGraw-Hill, 2007; 3-5, 401-406 9. Murril AC., Stanfield LD., Vanbrocklin DM., Bailey LI., Denbeste PB., Dilomo CR., et all. Optometric Clinical Practice Guideline. USA: American Optometric Association, 2004.

24