Anda di halaman 1dari 4

Konsep dan Fisolofi dasar QA Dr.

Heather Palmer (1983) dari Universitas Harvard mendefinisikan Quality Assurance adalah suatu proses pengukuran mutu, menganalisa kekurangan yang ditemukan dan membuat kegiatan untuk meningkatkan penampilan yang diikuti dengan pengukuran mutu kembali untuk menentukan apakah peningkatan telah dicapai. Ia adalah suatu kegiatan yang sistematik, suatu siklus kegiatan yang mempergunakan standart pengukuran. Suatu filosofi komprehensif tentang kehidupan dan kegiatan organisasi yang menekankan perbaikan berkelanjutan sebagai tujuan fundamental untuk meningkatkan mutu, produktivitas, dan mengurangi pembiayan. Menurut Patel (1994), komponen sistem kualitas meliputi: 1. Kualitas pelanggan, yaitu apakah kualitas pelayanan mampu memberikan pada pelanggan apa yang mereka inginkan, yang diukur dari penggunaan jasa, misalnya kepuasan pelanggan atau keluhan pelanggan; 2. Kualitas profesional, yaitu apakah pelayanan mampu memenuhi kebutuhan pelanggan yang didefinisikan secara profesional, dan apakah prosedur dan standar profesional tersebut dapat dipercaya untuk menghasilkan produk atau jasa yang diinginkan; 3. Kualitas proses, desain dan operasi proses pelayanan menggunakan sumber daya dengan cara yang paling efisien untuk memenuhi kebutuhan pelangggan. Perubahan sistem pelayanan kesehatan saat ini berlangsung dengan sangat cepat yang didorong oleh beberapa kekuatan, dan mempengaruhi terhadap peningkatan kualitas dan kemanan dalam pelayanan. Beberapa kekuatan itu diantaranya : 1. Ekonomi 2. Demografi dan keragaman sosial 3. Regulasi dan Legislasi 4. Teknologi 5. Penyedian layanan kesehatan 6. Lingkungan dan Globalisasi Kegiatan QA berdasarkan model sistem mutu pelayanan kesehatan, contoh : Input : Standar dan prosedur (Standard Operating Procedure) Perizinan (Licencure) Sertifikasi (Certification) Akreditasi (Accreditation) Paket KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) Proses : Proses yankes = a set of activities that go on within and between practitioners and patients. (Donabedian) QA pada sisi proses yankes, berhubungan langsung dengan praktik medis dokter pasien, kepatuhan SOP, informed consent. Kegiatan: peer review, check list, kuesioner, wawancara, dsb.

Output/outcome Outcome = a change in patients current and future health status that can be attributed to antecedent health care. (Donabedian) Menilai apakah hasil (output) bermutu, diukur dengan standar hasil (yang diharapkan) dari pelayanan (medis) yang dilakukan. Hasil pelayanan (medis) dapat dinilai antara lain dengan: - Audit medis pasca operasi/tindakan medis lain. - Audit maternal perinatal. - Studi kasus/kematian 48 jam. - Review rekam medis. - Adanya keluhan pasien berkaitan dg pasca operasi. - Informed consent.

Evolusi QA Evolusi mutu dapat dijelaskan secara ringkas pada gambar sebagai berikut (Dale, 2003): 1800-an Inspection 1930-an Quality control 1960-an Quality Assurance 1980-an Total Quality

Sejarah perkembangan tentang upaya perbaikan mutu yang dikutip dari Tjahyono Koentjoro, 2004 menerangkan bahwa upaya perbaikan mutu dan kinerja pelayanan kesehatan di Indonesia telah mulai dilakukan sejak tahun 1986 dengan diterapkannya Gugus Kendali Mutu di rumah sakit dan di puskesmas serta pada pelayanan kesehatan yang lain. Perbaikan ini dilanjutkan dengan dikenalkannya total quality management pada tahun 1994 dan performance management pada tahun 1996. (Menurut saya ini tdk usah dikasi masuk karena akan perlu penjelasan lebih lanjut tentang performance management)

Pentingnya Quality Improvement Institute of Medicine (IOM) menjelaskan 6 tujuan Quality Improvement dalam pelayanan kesehatan, dimana pelayanan kesehatan seharusnya: a. Safe Menghindari cedera pasien dari perawatan yang dimaksudkan untuk membantu mereka b. Effective Memberikan layanan berdasarkan pengetahuan ilmiah untuk semua yang bisa mendapatkan manfaat dan tidak melakukan pelayanan yang tidak memiliki manfaat kepada pasien. (Hindari kekurangan dan kelebihan) c. Patient-Centered Memberikan perawatan yang menghormati dan responsif terhadap keinginan, kebutuhan, dan nilai-nilai individu pasien, serta menjamin bahwa nilai-nilai tersebut sebagai pedoman perawat dalam membuat keputusan klinis. d. Timely/ tepat waktu

Mengurangi menunggu dan terkadang keterlambatan yang bisa berbahaya bagi penerima dan pemberi layanan keperawatan. e. Efficient/efisien Menghindari sampah, terutama dari peralatan dan perlengkapan, serta ide dan energi terkait dalam pelayanan. f. Equiptable/adil Memberikan pelayanan yang tidak berfariasi dari segi kualitas karena karakteristik pasien, seperti jenis kelamin, etnis, lokasi geografik, dan status sosial ekonomi.

Penggunaan Teknologi Institute of Medicine ( IOM ) Laporan (2001-2003 ) mendukung penggunaan informasi kesehatan teknologi untuk meningkatkan praktik dan meningkatkan keselamatan pasien . Informatika merupakan kompetensi inti untuk semua profesional kesehatan dan dipandang sebagai kekuatan penting dalam meningkatkan pelayanan kesehatan. Area fokus untuk pusat IOM pada: Infrastruktur informasi nasional Komputerisasi data klinis Pendukung keputusan klinis Penggunaan Internet Integrasi evidence-based practice. IOM (2003) mengemukakan bahwa penggunaan teknologi akan memperbaiki biaya, hasil klinis, kualitas, dan keselamatan. Praktik keperawatan harus dapat mengakomodasi trend pelayanan kesehatan dengan dimasukannya konsep dalam kolaborasi interdispliner, sistem yang berfokus pada pasien, dan literasi informasi. Selain itu perawat harus memanfaatkan teknologi dan informasi untuk menggabungkan evidanced-based practices untuk

meningkatkan kualitas dan kemanan dalam sistem pelayanan kesehatan.

QUALITY ASSURANCE
FILOSOFI

menekankan perbaikan berkelanjutan sebagai tujuan fundamental untuk meningkatkan mutu, produktivitas, dan mengurangi pembiayaan

Dr. Heather Palmer (1983) Quality Assurance adalah suatu proses pengukuran mutu, menganalisa kekurangan yang ditemukan, membuat kegiatan untuk meningkatkan penampilan, pengukuran mutu kembali untuk menentukan apakah peningkatan telah dicapai.

Kualitas Proses
EVOLUSI Quality (Dale, 2003)

Inspection
1920-an

Quality control
1930-an

Quality Assurance
1960-an

Total Quality
1980-an

Komponen Quality

Kualitas Pelanggan

Tjahyono Koentjoro, (2004) menerangkan bahwa upaya perbaikan mutu dan kinerja pelayanan kesehatan di Indonesia telah mulai dilakukan sejak tahun 1986 dengan diterapkannya Gugus Kendali Mutu di rumah sakit dan di puskesmas serta pada pelayanan kesehatan yang lain. Perbaikan ini dilanjutkan dengan dikenalkannya total quality management pada tahun 1994 dan performance management pada tahun 1996.

Kualitas Profesional

QA dalam Sistem. Pel.Kes Input


Standar dan prosedur (SOP) Perizinan (Licencure) Sertifikasi (Certification) Akreditasi (Accreditation) Paket KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)

Safe Output
Menilai apakah hasil (output) bermutu, diukur dengan standar hasil (yang diharapkan) dari pelayanan yang dilakukan. Ex: Keluhan Pasien

Proses
Pelayanan Kesehatan (Kepatuhan SOP)

Equiptable
6 aims Quality Improvement

Effectife

Efficient Timely

Patient Centered

Anda mungkin juga menyukai