Anda di halaman 1dari 46

INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT SAPI

A.

Bahan Baku Salah satu sentra produksi kulit mentah dan kulit samak adalah Padang Panjang di pulau Sumatera. Selain itu, terdapat pula sentra industri penyamakan kulit banyak terdapat di daerah Sukaregang, Garut, Jawa Barat. Industri ini sudah berkembang dengan baik sejak jaman penjajahan Belanda. Produk kulit samakannya pun sudah ukup dikenal oleh para pelaku industri kerajinan kulit, tidak hanya di wilayah Sukaregang dan !abupaten Garut saja tetapi juga kalangan pelaku industri kerajinan kulit di berbagai daerah lainnya di tanah air. Bahkan, sebagian kulit samakan produksi sentra industri penyamakan kulit Sukaregang, Garut juga diekspor ke berbagai negara untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kalangan industri kulit di luar negeri.
!eterampilan dan keahlian dalam mengolah kulit hewan di kalangan pengusaha industri penyamakan kulit di Sukaregang, Garut umumnya diperoleh se ara turun temurun dari orang tua mereka. Sebagian pengusaha lainnya mendapatkan keterampilan atau keahlian tersebut melalui pengalaman kerja bertahun"tahun di industri penyamakan kulit milik pengusaha lainnya. !eterampilan dan keahlian menyamak kulit hingga kerajinan mengolah kulit hewan menjadi berbagai produk kerajinan di !e amatan Sukaregang, Garut seolah"olah sudah menjadi keterampilan#keahlian milik bersama seluruh anggota masyarakat. !arena sebagian besar masyarakat Sukaregang, Garut kini menggantungkan kehidupannya dari kegiatan industri penyamakan kulit dan industri kerajinan kulit lainnya. Saat ini setidaknya terdapat $$% industri penyamakan kulit di !e amatan Sukaregang, Garut. &i !e amatan Sukaregang, Garut sendiri terdapat tiga kelompok industri penyamakan kulit yang sudah ukup mapan. Pertama, industri penyamakan kulit yang memasok kebutuhan bahan baku kulit untuk industri sepatu. Bahan baku kulit untuk kebutuhan industri sepatu biasanya lebih tebal dan lebih kaku. 'ntuk keperluan industri sepatu ini industri penyamakan kulit biasanya menggunakan bahan mentah dari kulit sapi atau kulit kerbau. !edua, industri penyamakan kulit yang memasok kebutuhan bahan baku kulit untuk industri garmen dari kulit. Biasanya kulit samakan untuk industri garmen memiliki ketebalan kulit yang lebih tipis jika dibandingkan dengan kulit samakan untuk industri sepatu. 'ntuk memenuhi kebutuhan bahan baku kulit bagi industri garmen dari kulit, biasanya kalangan industri penyamakan kulit menggunkan bahan mentah berupa kulit kambing atau kulit domba. Selain dipergunakan sebagai bahan baku untuk industri garmen (seperti jaket kulit), jenis kulit ini biasanya juga dipakai sebagai bahan baku untuk industri sarung tangan gol*. !etiga industri

penyamakan kulit yang memasok kebutuhan bahan baku kulit untuk industri sarung tangan kerja (working gloves) dari kulit. Bahan kulit mentah yang dipakai untuk proses penyamakan kulit jenis ini biasanya diambil dari hasil split atau seset dari kulit sapi atau kulit kerbau. Selain ketiga jenis sentra industri penyamakan kulit tersebut, di Sukaregang masih ada sentra industri kulit lainnya, yaitu sentra industri kerupuk kulit. Biasanya bahan baku untuk industri pembuatan kerupuk kulit ini menggunakan bahan mentah berupa kulit sapi atau kulit kerbau segar. Sentra industri kulit di !abupaten Garut, khususnya di !e amatan Sukaregang kini telah berkembang menjadi klaster industri yang ukup lengkap dan mapan, mulai dari industri hulu berupa industri penyamakan kulit hingga industri hilir berupa industri kerajinan sepatu, tas, jaket, dompet, ikat pinggang, topi dan lain"lain. !eterkaitan antara industri hulu dengan industri hilirnya pun sudah terjalin dengan sangat erat sehingga tumbuh menjadi hubungan yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Sumber + http+##ari*h.blogdetik. om#endies"leather" ompany"memasok"bahan"baku"kulit"berkualitas" hingga"ke"man anegara# ,ingkat produksi kulit samak pada tahun ini mengalami penurunan karena pemasokan bahan baku bekurang , penyamakan kulit Indonesia kekurangan sekitar -% persen bahan baku. Selama ini kapasitas produksi industri penyamakan Indonesia untuk produk kulit sapi, kambing dan domba totalnya men apai ./% juta square feet per tahun. 0ata"rata dari produksi sebanyak 1/2 diekspor ke luar negeri. Sumber +

http+##*inan e.detik. om#read#1%%3#%4#.5#.%1/44#...5133#4#$"pabrik"

penyamakan"kulit"berhenti"produksi
'ntuk menjaga mutu dari tiap produk olahan kulit sapi dibuat standar mutu kulit sapi mentah. Standar mutu kulit sapi mentah basah yaitu + " " Bau 6arna dan kebersihan men urigakan " " Bulu 'kuran kulit + ,idak rontok + + !has kulit sapi + 7erata, segar# erah, bersih dan tidak ada warna yang

Berdasarkan berat kulit sapi dibagi dalam dua tingkatan yaitu + A 8 berat 9 1% kg B 8 berat :8 1% kg

" "

;lastisitas !andungan air a) b)

+ ukup elastis +

!ulit mentah segar, maksimum 5%2 !ulit metah garaman, maksimum 1/2 + + =uka ambuk, goresan#potongan dan lain"lain + <ap bakar atau terkena api + <aplak, lalat dan lain"lain

"

<a at a) b) ) 7ekanis ,ermis Parasit

Sumber + &ewan standardisasi >asional. .331. !ulit Sapi 7entah (S>I %5"1-$5".331). Jakarta + =IPI

B.

Produk
Pohon industri (=ampiran .)

Salah satu jenis produk dari kulit samak yaitu kulit sol. !ulit sol adalah kulit yang diperoleh dari penyamakan kulit sapi dengan menggunakan bahan penyamak nabati. !ulit sol digunakan sebagai lapisan bawah pada sepatu sehingga kulit tersebut harus keras. &alam pengujian kulit sol perlu dilakukan pengujian se ara organoleptis, *isis dan kimiawi untuk mengetahui kualitas dari kulit sol tersebut. !ulit Sol adalah kulit jadi, matang dari bahan baku kulit sapi yang disamak nabati, atau dikombinasikan krom nabati, umumnya digunakan sebagai bawahan sepatu, insole, maupun out sole. Penggunaannya dalam sepatu antara lain untuk + pengeras muka dan belakang, penguat tengah, sol luar, pengisi telapak kaki muka, pita, sol dalam, sol tengah, lapis hak.
Selain itu masih banyak kegunakan kulit samak dari kulit sapi yaitu sebagai bahan baku pembuatan produk fashion, furniture dan kerajinan tangan seperti sepatu, jaket, tas, handycraft, jok mobil atau motor. Standar mutu dari tiap produk dari kulit samak juga harus tetap dijaga. Standar mutu dari produk kulit samak sebagai berikut.

,abel .. Standar 7utu Produk !ulit Samak


>o. .. 'raian !imiawi + .... !adar air ..1. !adar minyak#lemak 7aksimum .?2 Persyaratan

..$. !adar @at larut dalam air ..4. !adar abu ../. !adar krom oksida ..5. &erajat penyamakan ..-. pA 1. Disis + .... ,ebal ..1. !ekuatan Ewik ..$. a). !ekuatan tarik b). !emuluran pada waktu putus 1.4. Penyerapan air a). 1 jam b). 14 jam

(1 " 5)2 7aksimum 52 7aksimum 12 diatas kadar <r1B$ 7inimum 12 7inimum 1/ $,/ C -

%,- C .,1 mm >er* tidak retak 7inimum .%% kg# m1 7aksimum ?%2

7inimum -/2 7inimum .%%2 $. Brganoleptis + $... >er* 6arna oklat muda dan rata Sumber + Badan Standarisasi >asional. .3?3. !ulit Sapi atau !erbau Samak !ombinasi !rom >abati, 7utu dan <ara 'ji. S>I %5"%4?4".3?3. Jakarta + =IPI

<.

Proses Produksi dan Analisis Dinansial " Proses produksi Industri Penyamakan Kulit Industri penyamatan kulit adalah industri yang mengolah kulit mentah (hides atau skins) menjadi kulit jadi atau kulit tersamak (leather) dengan menggunakan bahan penyamak. Pada proses penyamakan, semua bagian kulit mentah yang bukan olagen saja yang dapat mengadakan reaksi dengan @at penyamak. !ulit jadi sangat berbeda dengan kulit mentah dalam si*at organoleptis, *isis, maupun kimiawi. &alam Industri penyamatan kulit, ada tiga pokok tahapan penyamakan kulit, yaitu+ .) Proses Pengerjaan basah (beam house).

1) Proses Penyamakan (tanning). $) Penyelesaian akhir (finishing). 7asing" masing tahapan ini terdiri dari beberapa ma am proses. Setiap proses memerlukan tambahan bahan kimia dan pada umumnya memerlukan banyak air, tergantung jenis kulit mentah yang digunakan serta jenis kulit jadi yang dikehendaki. Se ara prinsip, ditinjau dari bahan penyamak yang digunakan, maka ada beberapa ma am penyamakan yaitu+ a. Penyamakan >abati Penyamakan dengan bahan penyamakan nabati yang berasal dari tumbuhan yang mengandung bahan penyamak misalnya kulit akasia, sagawe, tengguli, mahoni, dan kayu Fuebra ho, eiken, gambir, the, buah pinang, manggis, dan lainnya. !ulit jadi yang dihasilkan misalnya kulit tas koper, kulit sol, kulit pelana kuda, kulit ban mesin, kulit sabuk. b. Penyamakan mineral Penyamak dengan bahan penyamak mineral, misalnya bahan penyamak krom. !ulit yang dihasilkan misalnya kulit boks, kulit jaket, kulit glase, kulit suede. &isamping itu, ada pula bahan penyamak aluminium yang biasanya untuk menghasilkan kulit berwarna putih (misalnya kulit shuttle cock). . Penyamakan minyak Penyamak dengan bahan penyamak yang berasal dari minyak ikan hiu atau ikan lain, biasanya disebut minyak kasar. !ulit yang dihasilkan misalnya+ kulit berbulu tersamak, kulit hamois (kulit untuk lap ka a) dan lainnya. &alam praktiknya untuk mendapatkan si*at *isis tertentu yang lebih baik, misalnya tahan gosok, tahan terhadap keringat dan basah, tahan bengkuk, biasanya dilakukan dengan ara kombinasi. Ada kalanya suatu pabrik penyamkan kulit hanya melaksanakan proses basah saja, proses penyamakan saja, proses penyelesaian akhir atau melakukan 1 tahapan atau ketiga" tiganya sekaligus. Se ara garis besar tahapan proses industri penyamakan kulit sebagai berikut,

yaitu .. ,ahapan Proses Pengerjaan Basah (Beam House) 'rutan proses pada tahap proses basah beserta bahan kimia yang ditambahkan dan limbah yang dikeluarkan, yaitu + a. Perendaman (Soaking). 7aksud perendaman ini adalah untuk mengembalikan si*at" si*at kulit mentah menjadi seperti semula, lemas, lunak dan sebagainya. !ulit mentah kering setelah ditimbang, kemudian direndam dalam ?%%" .%%%2 air yang mengandung . gram# liter obat pembasah dan antiseptik, misalnya tepol, moles al, ysmolan dan sebagainya selama ." 1 hari. !ulit dikerok pada bagian dalam kemudian diputar dengan drum tanpa air selama .# / jam, agar serat kulit menjadi longgar sehingga mudah dimasuki air dan kulit lekas menjadi basah kembali. Pekerjaan perendaman dianggap ukup apabila kulit menjadi lemas, lunak, tidak memberikan perlawanan dalam pegangan atau bila berat kulit telah menjadi 11%" 1/%2 dari berat kulit mentah kering, yang berarti kadar airnya mendekati kulit segar (5%"5/ 2). Pada proses perendaman ini, penyebab pen emarannya ialah sisa desin*ektan dan kotoran" kotoran yang berasal dari kulit. b. Pengapuran (=iming) 7aksud proses pengapuran ialah untuk. .) 7enghilangkan epidermis dan bulu. 1) 7enghilangkan kelenjar keringat dan kelenjar lemak. $) 7enghilangkan semua @at"@at yang bukan menghadapi @at"@at penyamak. <ara mengerjakan pengapuran, kulit direndam dalam larutan yang terdiri dari $%%"4%%2 air (semua dihitung dari berat kulit setelah direndam), 5". 2, !apur ,ohor <a (BA)1, $"52, dan >atrium Sulphida (>a1S). Perendaman ini memakan waktu selam 1"$ hari. &alam proses pengapuran ini mengakibatkan pen emaran yaitu sisa" sisa <a (BA)1, >a1S, @at"@at kulit yang larut, dan bulu ollagen yang akti*

yang terlepas. . Pembelahan (Splitting) 'ntuk pembuatan kulit atasan dari kulit mentah yang tebal (kerbau"sapi) kulit harus ditipiskan menurut tebal yang dikehendaki dengan jalan membelah kulit tersebut menjadi beberapa lembaran dan dikerjakan dengan mesin belah atau Splinting Machine. Belahan kulit yang teratas disebut bagian rajah atau nerf, digunakan untuk kulit atasan yang terbaik. Belahan kulit dibawahnya disebut split, yang dapat pula digunakan sebagai kulit atasan dengan diberi nerf palsu se ara di etak dengan mesin press (;mboshing ma hine) pada tahap penyelesaian akhir. Selain itu, kulit split juga dapat digunakan untuk kulit sol dalam, krupuk kulit, dan lem kayu. 'ntuk pembuatan kulit sol, tidak dikerjakan proses pembelahan karena diperlukan seluruh tebal kulit. d. Pembuangan !apur (Deliming) Bleh karena semua proses penyamakan dapat dikatakan berlangsung dalam lingkungan asam maka kapur didalam kulit harus dibersihkan sama sekali. !apur yang masih ketinggalan akan mengganggu proses" proses penyamakan. 7isalnya + .) 'ntuk kulit yang disamak nabati, kapur akan bereaksi dengan @at penyamak menjadi kalsium tannat yang berwarna gelap dan keras mengakibatkan kulit mudah pe ah. 1) 'ntuk kulit yang akan disamak krom, bahkan kemungkinan akan menimbulkan pengendapan !rom Aidroksida yang sangat merugikan. Pembuangan kapur akan mempergunakan asam atau garam asam, misalnya A1SB4, A<BBA, (>A4)1SB4, &ekaltal dll. e. Pengikisan Protein (Bating) Proses ini menggunakan en@im protese untuk melanjutkan pembuangan semua @at" @at bukan ollagen yang belum terhilangkan dalam proses pengapuran antara lain+

.) Sisa" sisa akar bulu dan pigmen. 1) Sisa" sisa lemak yang tak tersabunkan. $) Sedikit atau banyak @at" @at kulit yang tidak diperlukan artinya untuk kulit atasan yang lebih lemas membutuhkan waktu proses bating yang lebih lama. 4) Sisa kapur yang masih ketingglan. *. Pengasaman ( ickling) Proses ini dikerjakan untuk kulit samak dan krom atau kulit samak sintetis dan tidak dikerjakan untuk kulit samak nabati atau kulit samak minyak. Proses pengasaman untuk mengasamkan kulit pada pA $" $,/ dengan tujuan kulit dapat menyesuaikan dengan pA bahan penyamak yang akan dipakai nanti dan kulit tidak bengkak. Selain itu pengasaman juga berguna untuk+ .) 7enghilangkan sisa kapur yang masih tertinggal. 1) 7enghilangkan noda" noda besi yang diakibatkan oleh >a1gS, dalam pengapuran agar kulit menjadi putih bersih. 1. ,ahapan Proses Penyamakan (!anning) Proses penyamakan dimulai dari kulit pikel untuk kulit yang akan disamakkrom dan sintan, sedangkan untuk kulit yang akan disamak nabati dan disamak minyak tidak melalui proses pickling (pengasaman). Dungsi masing"masing bagian pada proses penyamakan, yaitu+ a. Penyamakan Pada tahap penyamakan ini ada beberapa ara yang bisa dilakukan, yakni+ .) <ara penyamakan dengan bahan penyamakan nabati a) <ara "ounter "urrent !ulit direndam dalam bak penyamakan yang berisis larutan ekstrak

nabati G %,/%. Be selama 1 hari, kemudian kepekatan airan penyamakan dinaikkan se ara bertahap sampai kulit menjadi masak yaitu $" 4 %Be untuk kulit yang tipis seperti kulit lapis, kulit tas, kuli pakaian kuda, dan lain"lain. Sedangkan untuk kulit" kulit yang tebal seperti kulit sol, ban mesin dan lain" lain pada kepekatan 5"? %Be. 'ntuk kulit sol yang keras dan baik biasanya setelah kulit tersamak masak dengan larutan ekstrak, penyamakan masih dilanjutkan lagi dengan ara kulit ditanam dalam babakan dan diberi larutan ekstrak pekat selama 1"/ minggu. b) Sistem samak epat Penyamakan awal menggunakan 1%%2 air, $2 ekstrak mimosa (Sintan) putar dalam drum selam 4 jam. Putar terus tambahkan @at peyamak hingga masak diamkan . malam dalam drum. 1) <ara penyamakan dengan bahan penyamakan mineral a) 7enggunakan bahan penyamak krom Eat penyamak krom yang biasa digunakan adalah bentuk kromium sulphat basa. Basisitas dari garam krom dalam larutan menunjukkan berapa banyak total Helensi kroom diikat oleh hidriksil sangat penting dalam penyamakan kulit. Pada basisitas total antara % " $$,$$2, molekul krom terdispersi dalam ukuran partikel yang ke il (partikel optimun untuk penyamakan). Eat penyamak komersial yang paling banyak digunakan memunyai basisitas $$,$$2. Jika @at penyamak krom ini ingin di*iksasikan didalam substansi kulit, maka basisitas dari airan krom harus dinaikkan sehingga mengakibatkan bertambah besarnya ukuran partikel @at penyamak krom. &alam penyamakan diperlukan 1,/" $,%2 <r1B$ hanya 1/ 2, maka dalam pemakainnya diperlukan .%%#1/ I 1,/ 2 <romosol B8 .%2 <romosol B. Bbat ini dilautkan dengan 1"$ kali air, dan direndam selama . malam. !ulit yang telah diasamkan diputar dalam drum dengan ?%" .%%2, air, $"4 2 garam dapur (>a<l), selama .%"./ menit kemudian bahan penyamak krom dimasukkan sebagai berikut+

" .#$ bagian dengan basisitas $$,$ 2 putar selama . jam. " .#$ bagian dengan basisitas 4%"4/ 2 putar selama . jam. " .#$ bagian dengan basisitas /% 2 putar selama $ jam b) <ara penyamakan dengan bahan penyamak aluminium (tawas putih). !ulit yang telah diasamkan diputar dengan+ " 4%" /% 2 air " .%2 tawas putih " ." 12 garam, putar selama 1"$ jam lu ditumpuk selama . malam. " ;sok harinya kulit diputar lagi selama J C . jam, lalu digantung dan dikeringkan pada udara yang lembab selama 1"$ hari. !ulit diregang dengan tangan atau mesin sampai ukup lemas. $) <ara penyamakan dengan bahan penyamakan minyak !ulit yang akan dimasak minyak biasanya telah disamak

pendahuluan dengan *ormalin. !ulit di u i untuk menghilangkan kelebihan *ormalin kemudian dierah unuk mengurangi airnya, diputar dengan 1%"$% 2 minyak ikan, selama 1"$ jam, tumpuk . malam selanjutnya digantung dan diangin" anginkan selama -".% hari. ,anda"tanda kulit yang masak kulit bila ditarik mudah mulur dan bekas tarikan kelihatan putih. !ulit yang telah masak di u i dengan larutan >a1<B$ .2. b. Pengetaman (Shaving) !ulit yang telah masak ditumpuk selama ."1 hari kemudian diperah dengan mesin atau tangan untuk menghilangkan sebagian besar airnya, lalu diketam dengan mesin ketam pada bagian daging guna mengatur tebal kulit agar rata. !ulit ditimbang guna menentukan jumlah khemikalia yang akan diperlukan untuk proses" proses selanjutnya, selanutnya di u i dengan air mengalir J jam. . Pemu atan (Bleaching)

Aanya dikerjakan untuk kulit samak nabati dan biasanya digunakan asam" asam organik dengan tujuan+ " 7enghilangkan *lek" *lek bsi dari mesin ketam. " 7enurunkan pA kulit yang berarti memudahkan warna kulit. <ara mengerjakan proses pemu atan, kulit diputar dengan ./%"1%%/ air hangat ($5" 4% %<). %,/".,%2, asam oksalat selama J" . jam. d. Penetralan (#eutrali$ing) Aanya dikerjakan untuk kulit samak krom. !ulit samak krom di lingkungannya sangat asam ( pA $"4), maka kulit perlu dinetralkan kembali agar tidak mengganggu dalam proses selanjutnya. Penetralan biasanya menggunakan garam alkali misalnya >aA<B$ dan >eutriga. <ara melakukan penetralan, kulit diputar dengan 1%%2 air hangat 4%" 5%o<. ."12 >aA<B$ atau >eutrigan. Putar selama J" . jam. Penetralan dianggap ukup bila J" K penampang kulit bagian tengah berwarna kuning terhadap Bromo <resol Green (B<G) indikator, sedangkan kulit bagian tepi berwarna biru, kemudian di u i kembali. e. Penge etan (Dyeing) ,ujuan penge etan dasar ialah untuk memberikan warna dasar pada kulit agar pemakaian at tutup nantinya tidak terlalu tebal sehingga at tidak mudah pe ah. <at dasar yang dipakai untuk kulit ada $ ma am+ .). <at direct, untuk kulit samak krom. 1). <at asam, untuk kulit samak krom dan nabati. $). <at basa, untuk kulit samak nabati. *. Peminyakan (%at liguoring) ,ujuan proses peminyakan pada kulit antara lain sebagai berikut+ .) 'ntuk pelumas serat" serat kulit ag kulit menjadi tahan tarik dan tahan

getar. 1) 7enjaga serat kulit agar tidak lengket satu dengan yang lainnya. $) 7embuat kulit tahan air. <ara mengerjakan peminyakan, kulit setelah di at dasar, diputar selama J C .jam dengan ./%2" 1%%2 air 4%" 5% o<, 4"./2 emulsi minyak. &itambahkan %,1" %,/2 asam *ormiat untuk meme ahkan emulsi minyak. 7inyak akan tertinggal dalam kulit dan airnya dibuang. !ulit ditumpuk pada kuda" kuda selama . malam. g. Pelumasan (&iling) Pelumasan hanya dikerjakan untuk kulit sol samak nabati. ,ujuan pelumasan ialah untuk menjaga agar bahan penyamak tidak keluar kepermukaan kulit sebelum kulit menjadi kering, yang berakibat kulit menjadi gelap warnanya dan mudah pe ah ner*nya bila ditekuk.. <ara pelumasan, kulit sol sebagian airnya diperah kemudian kulit diulas dengan ampuran+ .) . bagian minyak para*ine. 1) . bagian minyak sul*onir. $) $ bagian air. !ulit diulas tipis tetapi rata kedua permukaannya, kemudian dikeringkan. h. Pengeringan !ulit yang diperah airnya dengan mesin atau tangan kemudian dikeringkan. Proses ini bertujuan untuk menghentikan semua reaksi kimia didalam kulit. !adar air pada kulit menjadi $".42. i. !elembaban !ulit setelah dikeringkan dibiarkan ."$ hari pada udara biasa agar kulit menyesuaikan dengan kelembaban udara sekitarnya. !ulit kemudian dilembabkan dengan ditanam dalam serbuk kayu yang mengandung air /%" //2 selama .

malam, kulit akan mengambil air dan menjadi basah dengan merata. !ulit kemudian dikeluarkan dan dibersihkan serbuknya. j. Peregangan dan Pementangan !ulit diregang dengan tangan atau mesin regang. ,ujuan peregangan ini ialah untuk menarik kulit sampai mendekati batas kemulurannya dengan tujuan jika dibuat barang kerajinan tidak terlalu mulur, tidak merubah bentuk ukuran. Setelah diregang sampai lemas kulit kemudian dipentang dan setelah kering, kulit dilepas dari pentangnya, digunting dibagian tepinya sampai lubang"lubang dan keriput" keriputnya hilang. $. ,ahapan Penyelesaian Akhir (%inishing) Penyelesaian akhir bertujuan untuk memperindah penampilan kulit jadinya, memperkuat warna dasar kulit, mengkilapkan, menghaluskan penampakan rajah kulit serta menutup a at" a at atau warna at dasar yang tidak rata. " Analisis Ekonomi Penyamakan Kulit

&alam Analisis ;konomi usaha penyamakan kulit perlu diketahui bahwa+

!ulit dijual dalam satuan luas (per square foot), sehingga dalam perhitungan

ekonomis kita menggunakan satuan tersebut

Penge ualian untuk sole leather dijual dalam satuan berat dan kulit"kulit yang

dibuat se ara khusus yang mungkin dijual perlembar atau dalam penghitungan lain seperti halnya kulit *ur, dan reptil !omponen utama biaya langsung (variable cost) pada industri pengolahan kulit +
1 2 3 4 5

bahan baku (kulit), bahan pembantu (@at kimia), tenaga kerja langsung, air, listrik, penanganan limbah, dan biaya pemeliharaan.

!omponen Biaya tidak langsung (overhead cost) pada industri pengolahan kulit

diantaranya +
6 7 8 9

biaya administrasi, superHisi, penjualan, transportasi,

10 komunikasi, 11 sewa, 12 bunga bank, pajak, asuransi, dan 13 penyusutan gedung dan peralatan.

Biaya langsung (variable cost) 'ariable cost adalah biaya yang langsung dipengaruhi oleh banyaknya (unit) barang yang diproduksi. 'ntuk pengolahan kulit yang termasuk biaya langsung ( variable cost) adalah sebagai berikut+ Bahan baku (kulit mentah) harganya sangat ber*luktuasi men apai /%2 tergantung pada ketersediaan kulit mentah dan permintaan pasar. !ulit mentah dibeli dengan satuan berat atau satuan lembar sedangkan penjualan dilakukan dalam satuan luas. 0asio luas yang dihasilkan diekspresikan dalam satuan sF *t per kg. 0asio tersebut dipengaruhi oleh jenis ternak, waktu pemotongan, dan teknik pengulitan. " !ulit garaman dengan berat lebih dari 1% kg menghasilkan kulit jadi dengan luas . C 1 sF *t#kg, dengan rataan .,/ sF. *t.#kg " !ulit garaman dengan berat antara .% C 1% kg menghasilkan kulit jadi dengan luas 1,% C 1,/ sF *t#kg " !ulit ke il (skin) dengan berat kulit garaman dibawah 4 kg menghasilkan kulit jadi dengan luas antara $,% C 4,% sF.*t#kg. " !ulit mentah mengalami penyusutan sampai dengan .%2 dari rasio tersebut, tergantung pada sumber kulit mentahnya. Biaya kulit mentah dapat men apai /%2 atau lebih dari total biaya kulit jadi, sehingga biaya kulit mentah menjadi *aktor utama yang diperhatikan oleh perusahaan pengolahan kulit.

Berkenaan dengan kontribusi biaya kulit mentah yang sangat besar maka sebaiknya proses penyamakan kulit dilakukan dengan hati"hati agar kulit tidak rusak. Penanganan yang harus hati"hati terutama melakukan penyesuaian antara tebal kulit mentah dengan permintaan ketebalan kulit jadi sehingga dapat mengurangi hilangnya kulit karena splitting dan shavingL meminimalisir limbah trimmingL menghindari kerusakan mesin yang dapat menjadikan kulit bolong atau sobek. 7aksimal kerusakan kulit pada proses produksi adalah /2. !ulit mentah dibeli se ara keseluruhan#borongan, sehingga dapat berpengaruh apabila kualitas kulit jadinya banyak yang low gradeapalagi kalau sampai banyak yang re(ect. !ulit mentah yang low gradeapabila ingin dinaikan grade"nya dibutuhkan biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan kulit yang bahan bakunya memang sudah baik, oleh karena itu apabila akan membeli bahan baku harus dilakukan sortir ( quality control) sebaik"baiknya. Bahan pembantu (@at kimia) termasuk @at kimia untuk soaking, liming, tanning, peminyakan, pewarnaan, *inishing dan lain"lain. Bahan kimia untuk proses basah ( beam house) biasanya dihitung berdasarkan berat menga u pada berat kulit mentah, proses tanning didasarkan pada berat bloten, proses drying didasarkan pada berat shaving, dan bahan kimia yang digunakan pada proses *inishing dihitung se ara keseluruhan tidak hanya @at kimia yang menempel pada kulit tetapi dihitung se ara keseluruhan termasuk dengan @at kimia yang terbuang (over spray, kelebihan men ampur dan lainnya). ,enaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang langsung berhubungan dengan proses produksi kulit seperti tenaga kerja pada bagian beam houseL proses tanningL proses drying, shaving, dan splittingL proses persiapan untuk finishingL dan proses finishing. Apabila seluruh biaya tenaga kerja langsung kita hitung maka komposisinya adalah sebagai berikut+ beam house .12L proses tanning ..2L proses drying, shaving, dan splitting 1/2L persiapan untuk finishing 142L dan proses finishing 1?2. Pada umumnya kulit yang dapat dihasilkan per jam kerja tenaga kerja langsung adalah sebagai berikut+ .sF *t per jam untuk kulit besar, .4 sF *t per jam untuk kulit sedang, dan .% sF *t per jam untuk kulit ke il. )tility, termasuk didalamnya adalah air, energi (listrik, panas, dan lampu),

penanganan limbah, maintenan e mesin. Besarnya biaya untuk utility tergantung dari kulit yang diproses, skala pabrik, lokasi, dan *asilitas yang ada. Biaya tidak langsung (overhead cost) &verhead cost adalah biaya yang tidak langsung dipengaruhi oleh banyaknya (unit) barang yang diproduksi biaya ini dikenal juga dengan istilah biaya tetap (fi*ed cost), untuk memperkirakan biaya tidak langsung biasanya didasarkan pada data historis perusahaan atau menga u pada data perusahaan lain yang sejenis dengan skala usaha yang sama. &alam situasi era perdagangan bebas, produksi dapat sangat ber*luktuasi tidak hanya jumlahnya tetapi juga jenis produk yang diproduksi, hal ini tergantung pada ketersediaan produk dan permintaan pasar karena beberapa produk kulit bersi*at seasonal. 6alaupun produksi ber*luktuasi tetapi biaya tetap pada umumnya relatiHe tidak ber*luktuasi. Biaya tidak langsung pada industri penyamakan kulit berkisar antara .%2 C 1%2 dari total penjualan. !e epatan waktu roduksi dipengaruhi oleh ke epatan proses dari bahan baku sampai menjadi kulit jadi (leather) dan akan berpengaruh terhadap ke epatan penjualan pula. !e epatan waktu produksi ini berpengaruh terhadap perputaran modal ( capital turnover), semakin epat produksi semakin epat dijual sehingga semakin epat pula menerima pembayaran. Semakin pendek waktu mengeluarkan uang untuk proses produksi dengan penerimaan uang dari konsumen maka biaya modal menjadi lebih sedikit. !e epatan waktu produksi juga berpengaruh terhadap kuantitas produksi dan kuantitas penjualan sehingga total biaya produksi menjadi lebih e*isien. Peningkatan e*isiensi produksi dapat dilakukan dengan menggunakan pabrik, tenaga kerja, dan lain"lain se ara maksimum. 7elakukan pengiriman sesuai dengan jadwal tanpa ada penundaan jadwal pengiriman, mengidenti*ikasi dan memperbaiki bottlene k di pabrik, waktu terbuang bagi tenaga kerja karena proses yang sebenarnya tidak memerlukan tenaga kerja (misalnya saat menunggu putaran drum). Aarga jual, pen arian harga jual yang termahal dengan pembayaran yang epat masih menjadi strategi berbagai perusahaan pengolahan kulit. Pada jaman dulu pengurangan harga dibandingkan harga produsen lain menjadi yang paling umum dilakukan agar perusahaan dapat lebih kompetiti*, tetapi mulai sekarang strategi

penjualan seperti itu tidak dapat dilakukan se ara langsung. 7inimum harga jual yang diajukan seharusnya dapat menutup biaya produksi ditambah dengan keuntungan yang pantas. Aarga Pokok Produksi Aarga pokok produksi merupakan kumpulan biaya"biaya yang melekat pada suatu produk yang diproduksi oleh suatu perusahan. Ada tiga elemen pokok biaya dalam suatu perusahaan manu*aktur, yaitu+ biaya bahan baku (material cost), biaya tenaga kerja (labor cost), dan biaya produksi (indirect manufacturing e*penses). Biaya bahan baku terdiri dari direct material costdan indirect material cost. Direct material cost adalah biaya semua bahan yang se ara *isik dapat diidenti*ikasi sebagai bagian dari produk jadi dan biasanya merupakan bagian terbesar dari material pembentuk harga pokok produksi. Biaya tenaga kerja dibagi menjadi direct labor cost dan indirect labor cost. Direct labor cost adalah semua biaya yang menyangkut gaji dan upah seluruh pekerja yang se ara praktis dapat diidenti*ikasi dengan kegiatan dari pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. +ndirect manufacturing e*penses meliputi semua biaya produksi selain ongkos utama (direct material cost dan direct labor cost) yang bersi*at menunjang atau memperlan ar proses produksi dan dibebankan terhadap pabrik Sebagai ontoh harga pokok produksi pada industri penyamakan kulit se ara tidak langsung adalah menghitung total biaya langsung seperti+ Biaya bahan baku (harga kulit mentah) + 0p. ./.%%%#kg Biaya tenaga kerja langsung + 0p. $.4%%#jam Biaya @at kimia (keseluruhan) + 0p. 1.%%%#sF. *t Biaya utility (peralatan, dll) + 0p. /%%#sF. *t. <atatan+ " !ulit besar lebih dari 1% kg dapat menghasilkan .,/ sF *t#kg kulit jadi. Jadi, biaya bahan baku per sF *t adalah ./.%%%#.,/ 8 0p. .%.%%%#sF.*t. " ,ingkat penyusutan kulit mentah adalah .%2, dan kerusakan produksi sebanyak

/2. Jadi, biaya bahan baku total adalah .%.%%% G (./2 I .%.%%%) 8 0p. .../%%#sF.*t. " ,enaga kerja dapat menghasilkan .- sF *t#jam. Jadi biaya tenaga kerjanya adalah $.4%%#.- 8 0p. 1%%#sF *t. Jadi, Aarga Pokok Produksi !ulit tersebut adalah+ APP 8 Biaya bahan baku G Biaya @at kimia G Biaya tenaga kerja langsung G Biaya utility APP 8 0p..../%% G 0p.1.%%% G 0p.1%% G 0p./%% 8 0p..4.1%% # sF *t =aba 'saha =aba usaha dikenal pula dengan marjin usaha, dikenal menjadi dua jenis yaitu marjin kontribusi (contribution margin) atau marjin bruto (gross margin). 7arjin kontribusi adalah kelebihan dari penjualan atas seluruh biaya Hariabel. 7arjin kontribusi dapat dinyatakan sebagai suatu angka yang menunjukkan total, sebagai suatu angka perunit, sebagai rasio, dan sebagai persentase. 7arjin bruto adalah suatu pengertian yang digunakan se ara luas, khususnya di dalam industri e eran. 7arjin bruto dirumuskan sebagai kelebihan penjualan atas harga pokok penjualan (yaitu harga pokok barang dagangan yang dibuat atau dibeli dan dijual kembali). Perbedaan antara marjin kontribusi dengan marjin bruto yaitu+ kalau marjin kontribusi memusatkan perhatian pada penjualan dalam kaitannya dengan seluruh perilaku biaya Hariabel, sedangkan marjin bruto memusatkan perhatian pada penjualan dalam kaitannya dengan satu hal saja yaitu biaya perolehan barang dagangan yang telah dijual. Sebagai ontoh, harga jual kulit sapi atasan saat ini adalah 0p. .3.%%%#sF *t, oleh karena itu marjin#laba bruto penjualan kulit sapi tersebut adalah =aba Bruto 8 Penjualan C harga pokok produksi =aba Bruto 8 0p. .3.%%% C 0p. .4.1%% 8 0p. 4.?%% Break ;Hent Point (B;P) Break event point atau titik pulang pokok adalah suatu studi mengenai kaitan antara biaya, Holume, dan laba dimana kondisi perusahaan memperoleh laba bersih sama

dengan nol. Biaya terdiri dari biaya langsung (variable cost) yaitu biaya per unit barang dikalikan dengan Holume produksi, biaya tidak langsung (overhead cost , fi*ed cost) yaitu biaya tetap yang dikeluarkan pada periode tertentu. =aba bersih adalah kelebihan dari penjualan atas seluruh variable cost dan fi*ed cost. Penjualan merupakan harga jual per unit barang dikalikan dengan Holume barang terjual. =aba bersih 8 Penjualan C variable cost C fi*ed cost B;P adalah pada kondisi =aba bersih 8 %. Sehingga, Penjualan 8 'ariable cost G %i*ed cost (M N P) 8 (M N <) G D &imana, M 8 jumlah P 8 harga jual per sF.*t. < 8 harga pokok produksi per sF.*t D 8 total biaya tetap per periode <ontoh+ 7enga u pada ontoh sebelumnya dan apabila biaya tetap perusahaan sebesar 0p. /%.%%%.%%%," per bulan maka agar perusahaan tidak mengalami kerugian (B;P) maka jumlah minimal kulit yag harus diproduksi adalah+ B;P M N P 8 M N < G D M (P"<) 8 D M (.3.%%%" .4.1%%) 8 /%.%%%.%%% M 8 /%.%%%.%%%#4.?%% M 8 ..%4.,5- sF *t Sumber + http+##adi*irman.wordpress. om#1%..#%4#1/#analisis"ekonomi"usaha" penyamakan"kulit#(oleh+ Jajang Gumilar, SPt.,77, Dakultas Peternakan 'npad, 1%.%) &. =imbah !ulit Samak .. Sumber dan !arakteristik =imbah air. 7enurut &aHid 6inter .3?4, penggunaan air untuk proses penyamakan kulit dari tahun ke tahun ada ke enderungan semakin menurun. &ijelaskan pada tahun .351 pemakaian air .%$ l# kg tahun .3-/ sebanyak -. l#kg tahun .3-- turun menjadi 4% l#kg kulit yang diproses. &aHid 6inter .3?4 dan <lonHero .3?- enderung memilih penggunaan air untuk proses ini sebanyak 4/ l#kg kulit yang diproses.

&i Indonesia sampai saat ini belum ada penelitian khusus tentang penggunaan air untuk tiap 1/ kg kulit namun berdasarkan pengamatan pemakaian air berukuran antara $%"-% l#kg kulit mentah. ,abel 1. !isaran Pemakaian Air pada Proses Penyamakan !ulit 7a am Proses !ulit besar (hide) samak krom. !ulit besar (hide) samak nabati. !ulitke il (skin) !ulit ke il (skin) berbulu tersamak Sumber data+ <lan*ero .33$ &ilihat dari asal bahan pen emar, maka sumber dan si*at air limbah industri penyamakan kulit dapat dibedakan pertahapan proses sbb+
1

Pemakaian air l#kg kulit mentah $%" /% 1%" 4% $%" 5% /%" .%%

Perendaman (Soaking) Air limbah soaking mengandung sisa daging, darah, bulu, garam, mineral, debu, dan kotoran lain atau bahkan bakteri antraI. Pada proses perendaman air limbah airnya berbau busuk, kotor, dengan kandungan suspended solid %,%/" %,. 2. 7enurut ;S<AP .3?1, Holume limbah soaking berkisar antara 1,/" 4 l#kg kulit, pA -,/" ?. ,otal Solid ?.%%%" 1?.%%% mg#l. Suspended Solid 1./%%" 4.%% mg#l. Selain itu '>;P .33. menambahkan bahwa air limbah soaking juga mengandung garam dan bahan organi BB&,<B&,SS. lain yang akan mempengaruhi

b. Buang bulu dan pengapuran ()nhairing dan -iming). Air pada proses ini berwarna putih kehijauan dan kotor, berbau menyengat, pA air limbah pada proses ini berkisar antara 3".%, mengandung kalsium , natrium, sul*ide, albunin, bulu sisa daging, dan lemak. Suspended solid $52. 7enurut <,,; .3-3, ;S<AP .3?1, bahwa air limbah pada proses unhairing mengandung total solid .5.%%%"4/.%%% mg#l, suspended solid 4./%%"

5./%% mg#l. BB& ...%%"1./%% mg#l, pA berkisar .%".1./. &ampak yang ditimbulkan akibat buangan dalam proses tersebut adalah bahwa air limbah berpengaruh tehadap air, tanah, dan udara. Pengaruh terhadap air terutama pada BB&, <B&,SS, alkalinitas, sulphida, >"Brganik, >" ammonia. Adanya gas A1S pada pen emaran ini menyebabkan terjadinya pen emaran udara. . Air limbah buanagan kapur (Deliming) Air limbah pada proses deliming mempunyai beban polutan yang lebih ke il dibanding dengan unhairing dan liming. 7enurut <,,; .3-3,;S<AP .3?1, air limbah pada proses tersebut mempunyai pA $"3, total solid ..1%%" .1.%%% mg#l, suspended solid 1%%" ..1%% mg#l dan BB& ..%%%" 1.%%% mg#l. '>;P menambahkan bahwa air limbah tersebut akan menyebabkan pen emaran air berupa BB&,<B&, &S, dan >" ammonia. !emudian adanya ammonia akan menimbulkan pen emaran udara. d. Air limbah pengikisan Protein (Degreasing) Pada proses ini air limbah yang dihasilkan pen emaran air yang ditunjukkan dengan tingginya nilai <B&,BB&,&S dan lemak. ('>;P .33.). e. Air limbah Pikel ( ickling) dan !rom (!anning) Air limbah dari proses ini akan mengandung bahan protein, sisa garam, sejumlah ke il mineral dan rome Helensi $ yang apabila ter ampur dengan alkali akan terbentuk hrome hidroksida, pA berkisar antara $,/"4, suspendid solid %,%." %,%1 2 ( !o@iowroski dan !u harski .3-1). Sedangkan <,,; .3-3, ;S<AP .3?1, membedakan antara air limbah partikel dengan penyamakan sebagai berikut+ .). Air limbah pikel Holume 1"$ l#kg kulit, pA 1,3"4, total solid ..5%%%" 4/.%%% mg#l, suspended solid .5.%%%" 4/.%%% mg#l, dan BB& ?%%" 1.1%%% mg#l. 1). Air lmbah samak hrome, Holume 4"/ l#kg, pA 1,5"$,1, total solid 1.4%%" .1.%%% mg#l, suspended solid $%%"..%%% mg# l dan BB& ?%%" ..1%% mg#l. $). Selain yang tersebut diatas '>;P menambahkan bahwa air limbah pikel dan horome

krom akan menimbulkan pen emaran air berupa BB&, <B&, SS, &S, asam garam krom, dan sisa samak nabati. *. Air limbah Gabungan ,ermasuk Pen u ian. Pada buangan air limbah gabungan ini ;S<AP menjelaskan untuk Holume air $%"$/ l#kg, pA berkisar antara -./".%, total solid .%" 1/ mg#l, suspended solid ..1/%" 5.%%% mg#l dan BB& 1.%%%" $.%%% mg#l. 'ntuk lebih jelasnya beban pen emaran air limbah penyamatan kulit dari beberapa tahapan proses dapat dilihat pada table berikut ini. ,abel $. Beban Pen emaran Air =imbah Penyamakan !ulit dari Beberapa ,ahapan Proses. Parameter. Jenis =imbah Soaking Pengapuran Buang bulu Pikel Samak !rom Sunaryo,dkk .33$. 1. Sumber dan !arateristik =imbah Padat &idalam proses penyamakan disamping limbah airjuga menghasilkan limbah padat sebagai hasil samping. &ikatakan hasil samping karena diman*aatkan untuk berbagai keperluan, misalnya sebagai bahan makanan,obat"obatan, kosmetik, pupuk, kerajinan, dan bahan bangunan lainnya. Bahan padat yang dimaksud antara lain bulu, sisa trimming, fleshing, sisa split, shaving, buffing, dan lumpur. $. Proses Pengolahan =imbah Penyamakan !ulit. =imbah air industri penyamakan kulit nampak paling menonjol dibandingkan limbah padat maupun gasnya karena Holumenya yang ukup banyak yaitu $%"-% l # kg bahan baku yang diolah dari awal. &isamping Holume yang banyak, @at" @at <B& air (mg#l) 4%./-5,4? .%.354.54 .?.///.$5 -.4/4,3 BB& (mg#l) S (mg#l) <0 (mg#l) % % % 5.1/4 >.>A $ =ema k ,SS (mg#l) $..1%4 .1 4../4 .1 pA

.-.%%% 33.... $./%% /.?%% 1.4%% 44? ?5.-/ .4-.1

(mg#l) (mg#l) 1%-.5? 344 .5.$/ /-.5? 5$1

.1./4- 1-.%?/ /

1.-.1? .%..1% .-.%?4 4

pen emaran yang terkandung dapat menimbulkan dampak negati* terhadap lingkungan dan dampak yang paling epat berpengaruh adalah berbau busuk dan kadang" kadang se ara Hisual nampak berbuih banyak. Se ara umum air limbah penyamakan kulit mengandung bagian" bagian dari kulit seperti bulu, sisa daging, potongan kulit dan bahan kimia sisa dari yang ditambahkan dalam proses penyamakan kulit. Seperti yang terjadi pada pada kasus pen emaran =imbah Industri !ulit Sungkareng , !abupaten Garut Jawa Barat., yang men emari lingkungan sejak tahun .31%. Selain tantangan untuk meningkatkan kualitas, kuantitas, dan membuka pasar, ada satu hal lagi yang juga menjadi tantangan sejak tiga dekade terakhir yaitu, limbah. Persoalan limbah sering kali menjadi isu penting. Sejak digunakannya bahan kimia untuk penyamakan kulit, pada saat itu pula persoalan limbah mun ul. Bahan chroom yang digunakan untuk menyamak kulit ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama sekali pada kulit manusia. &ampak dari limbah Sukaregang sangat dirasakan oleh masyarakat di daerah hilir sungai <iwalen, yang notabene bukan kalangan penggiat bisnis kulit. Protes pun mulai bermun ulan karena banyaknya warga di daerah hilir yang mengalami gangguan kesehatan kulit. 'ntuk mengantisipasi peningkatan jumlah limbah yang dibuang ke sungai, pada awal .3?%"an, saat Garut dipimpin oleh Bupati ,au*ik Aidayat, ada ren ana untuk merelokasi sentra industri kulit Sukaregang, namun tidak terealisasi. Bleh penerusnya, Bupati ,oharudin Gani ren ana tersebut kembali di oba diwujudkan namun tak juga berhasil. !arena berbagai hambatan tersebut, akhirnya yang dapat dilaksanakan adalah reHitalisasi. Artinya, lokasi Sukaregang akan ditata sedemikian rupa, termasuk ditetapkannya @ona"@ona industri serta pembatasan jumlah industri dengan dilengkapi instalasi pengelolaan air limbah (IPA=). 'ntuk reHitalisasi ini pemerintah pusat memberi bantuan untuk membangun dua buah instalasi pengelolaan air limbah (IPA=) pada .331 agar air dari Sukaregang dapat kembali bersih saat dialirkan ke sungai. IPA= tersebut baru dapat beroperasi pada .334, namun persoalan limbah tidak selesai karena jumlah IPA= yang ada tidak sesuai dengan jumlah limbah yang

dihasilkan industri kulit Sukaregang. !esadaran masyarakat pengusaha akan persoalan limbah ini juga kurang mendukung. Aingga kini hanya beberapa yang mau membangun IPA= sendiri. Padahal, untuk menangani masalah limbah idealnya setiap perusahaan memiliki satu mesin recovery sendiri. (http+##www.pikiran" rakyat. om# etak#%.%4#.$#%?%5.htm) &alam proses produksi Industri penyamakan kulit ada beberapa tahapan proses pengolahan yaitu+ a. Pemisahan padatan kasar

b. Segresi . ;kualisasi

d. !oagulasi e. Proses pengolahan limbah air. Agar supaya setiap tahapan pengolahan dapat berlangsung se ara e*ekti* maka sebaiknya aliran yang khas dan pekat dipisahkan untuk melewati tahap pengolahan terlebih dahulu, yaitu penghilangan sul*ida, penghilangan krom kemudian dijadikan satu dalam bak ekualisasi, aliran limbah ( efluent) dengan kandungan maupun aliran keluar untuk tahahp primer. &ari bak ekualisasi air limbah tersebut diatur pA kemudian ditambahkan larutan penggumpal dan pengendap yang selanjutnya endapan dapat dilakukan penanganan lumpur (primer). Penanganan lumpur harus hati" hati agar tidak terlarut pada proses selanjutnya. a. Pemisahan padatan kasar Sebelum diolah air limbah perlu disaring terlebih dahulu untuk menghilangkan padatan kasar yang dapat menutup pipa, pompa"pompa dan saluran" saluran. Pada proses ini lebih dari $%2 padatan tersuspensi total dalam airan air limbah dapat dihilangkan dengan saringan. b. Segresi Pada tahap ini dilakukan pemisahan airan" airan limbah yang

mempunyai si*at khas dan memerlukan perlakuan tertentu untuk menangani @at pen emar agar nanti setelah di ampur dengan airan limbah yang lain tidak menimbulkan kontradiksi yang merugikan. Adapun airan" airan limbah dari proses penyamakan kulit yang perlu dipisahkan adalah+ <airan limbah pengapuran (buang bulu). <airan limbah ini banyak mengandung Sul*ida dari >a1S atau >aAS sisa dari proses buang bulu sebagai agensia perontok bulu# rambut. Sebelum proses pengolahan segresi air limbah pada proses buang bulu berwarna putih kehijauan dan kotor, dengan konsntrasi pA .%".1,/ dengan total solid .5.%%%" 4/.%%% mg#l. >amun setelah proses pengolahan dapat menetralisir asam, serta kandungan sl*ida yang terkandung didalamnya dapat teratasi. Aal ini dapat dilakukan dengan dua ara+ Bksidasi !atalitik Sul*ida, yaitu dengan aerasi dan pemberian mangan sebagai katalisator. Seharusnya hal ini dilakukan setiap hari untuk menghindari bau busuk (A1S) dari air limbah tampungan. Aerasi dapat dilakukan pada tang ki yang memanjang keatas (tinggi) dan udara dihembuskan dari bagian dasar melalaui di*usir atau dapat juga memakai aerator. Pengendapan =angsung. Dero sul*at dan *eri klorida dapat digunakan untuk menghilangkan sul*ida dari larutan denganpengendapan. Pengolahan ini akan menurunkan pA karena hidroksidanya mengendap. <airan limbah !rom. Pengendapan krom relati* mudah dilakukan, pengendapan limbah krom dapat mempengaruhi biaya produksi# pengolahan limbahnya. Pada pengolahan ini menghasilkan airan supernatan yang hampir bebas krom dan juga dapat menurunkan BB&. . ;kualisasi

Proses pengolahan pada bak ekualisasi bertujuan untuk penghilangan sul*ida dan krom agar dapat menghemat air yang dapat mengen erkan limbah kapran dan airan limbah krom sebelum diolah lebih lanjut. Pada tahapan ini juga meningkatkan e*isiensi pengolahan dan untuk menghindari ran angan baik yang diantisipasi untuk aliran pun ak ( peak Dlow) maka dilakukan sistem pengaturan laju aliran dan pen ampuran seluruh air limbah. Praktek pen ampuran ini meberi kesempatan terjadinya proses netralisasi dan pengendapan. Bleh karena itu sebaiknya air limbah di ampur dengan baik dan intensi*, misalnya dengan miIer atau blower mengingat dalam bak ini padatan tersuspensinya dijaga jangan samapai mengendap dan kondisi air limbahnya harus aerobik, hal ini dapat di apai dengan menghembuskan udara dari dasar bak melaluai beberapa di*user untuk memasok B1 yang intensi*. ,enaga yang diperlukana untuk mengaduk kira" kira $% watt#m1 air limbah. Jika dilakukan injeksi udara pada bak sedalam 1"4 m, aliran udara optimalnya $"4 m$#jam per m1 permukaan bak. &alam bak ekualisasi dapat dilakukan pergantian garam" garam aluminium maka penghilangan >itrogen melalui proses nitri*ikasi# denitri*ikasi perlu dilakukan.Pada tahapan ini untuk meningkatkan e*isiensi pengolahan dan untuk menghindari ran angan baik yang diantisipasi untuk aliran pun ak (peakflow) maka dilakukan sistem pengaturan laju aliran dan pen ampuran seluruh air limbah. d. !oagulasi Pada tahapan ini dilakukan perlakuan *isiko kimiawi untuk menghilangkan BB& dan padatan. &engan perlakuan *isiko kimiawi yang relati* mudah dan sederhana dapat menghilangkan : 3/ 2 padatan tersuspensi dan BB& sekitar -%2. 'ntuk menghilangkan BB& sepenuhnya dapat dilakukan dalam pengolahan proses biologis selanjutnya. Perlakuan *isiko kimia terhadap air limbah penyamakan kulit terdiri dari perlakuan awal dengan pemberian penggumpal yang dilanjutkan dengan pemberian pengendap sampai dengan pemisahan lumpurannya untuk dibuang.

;*esiensi penggumpalan dapat diperoleh dengan penambahan larutan pengendap yang berupa larutan polyelektrolit anionik rantai panjang dengan konsentrasi .".% mg#l. e. Pengolahan limbah air dengan proses biologis &alam persyaratan baku mutu air limbah, maka perlu adanya pegolahan sekunder. Pilihan ara pengolahan sekunder untuk air limbah penyamakan kulit sbb+ Dilter biologis Dilter biologis dalam pengolahan limbah penyamakan kulit sering tidak dipertimbangkan. =umpur akti* (kolam oksidasi) Pengolahan lumpur akti* pada prinsipnya adalah mempertemukan antara air limbah yang mengandung bahan pengen er organik dengan sejumlah besar bakteri aerob dan mokroorganisme lain yang terkandung dalam lumpur biologis (lumpur akti*). Pengolahan dengan lumpur akti* berbeban ringan sangat sesuai untuk air limbah penyamakan kulit. <ara ini dikenal deng oksidasi kolam PASO;;0. =umpur akti* konHensional Jika dibandingkan dengan ara konHensional yang berbeban berat, maka waktu yang diperlukan adalah 1"4 hari dan beban organik yang ringan lebih mudah menahan Hariasi keadaan air limbah dan beban mendadak yang menjadi proses penyamakan kulit, dengan demikian lumpur yang dihasilkan berkurang. !olam oksidasi PASO;;0 relati* lebih murah, dan pemeliharaannya mudah, juka dioprasikan sebagaimana mestinya dapat menghasilkan air limbah terolah dengan BB& , 1% mg#l. Pengolah dengan lumpur akti* konHensional ( bebn berat) dapat dipilih dengan ara pegolahan sekundernya jika lahan yang ada sangat tebatas. Bksidasi berlangsung terus menerus dalam bk aerasi karena itu kebutuhan

aerasinya juga agak intensi* ( sampai kra" kira . !w# kg BB&). 6aktu tingga l yang diperlukan hanya 5".1 jam sudah ukup. =agun (kolam) Ada pendekatan lain bagi daerah pedesaan atau yang memiliki lahan luas, yaitu kolam dapat dibuat dengan biaya rendah dan perawatan pengolahan juga sangat mudah. Ada beberapa pilihannya + v !olam aerob &apat mengurangi sampai : ?/ 2 BB& dalam waktu .% hari, namun biasanya kolam tersebut mengeluarkan pen emaran udara dan memungkinkan terbentuknya kembali sul*ida bersamaan dengan terlepasnya gas A1S. Aal ini sesuai bila hanya untukpeman*aatan ruang# ahan dan biaya kolam"kolam tersebut rendah, sedangkan yang diperlukan hanya membuat kedalaman $ meter. v !olam *akultati* &engan 1 lapisan (@one) pengolahan yaitu lapisan aerob (yang ada di atas, berhubungan dengan udara) dal lapisan anaerob (@one di bawahnya). Biasanya berukuran lebih besar dari an aerob dan kurang e*ekti*.!olam ini lebih mengandalkan kekuatn *otosintetik dengan demikian tergantung pada perubahan musim dan tidak dapat diperiksa# dipantau dengan baik. v !olam aerasi !olam ini sudah banyak dioperasikan di banyak perusahaan dan membutuhkan tenaga .% C $% w#m$ yang biasanya digunakan adalah aerator permukaan mekanik. 4. &ampak Industri Penyamakan !ulit terhadap !esehatan 7anusia &idalam Industri Penyamakan kulit menggunakan bahan" bahan pembantu yang tersusun dari senyawa" senyawa kimia. Ada yang berwujud bubuk, kristal, maupun air, semi liguid yang berbahaya terhadap kesehatan manusia. Bahan" bahan

kimia tersebut akan kontak dengan pekerja Industri Penyamakan !ulit dengan berbagai ma am ara, yaitu melalui kontak dengan kulit atau dengan ara penghirupan dalam bentuk gas atau uap.. Bahan C bahan yang bersi*at korosi* dapat menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh yang terkena tumpahan ke kulit, mata atau juga bisa terminum, tertelan, maupun terhirup ke paru" paru. &ibawah ini akan dijelaskan akibat yang ditimbulkan apabila kontak dengan bahan" bahan yang bersi*at korosi* atau bera un, yaitu + o >atrium Sul*ida (>a1S), ber*ungsi pada buangan bulu pada industri penyamakan kulit. Berupa kristal putih atau kekuningan. Bereaksi dengan karbon. Bersi*at tidak stabil, sehingga dalam proses penyimpanannya harus dijaga agar terhindar dari pemanasan karena dapat meledak. o Asam Sul*ida (A1SB4), bersi*at korosi* dan bersi*at ra un terhadap jaringn kulit. !ontak dengan kulit menyebabkan terbakar, sehingga merusak jaringan. Penghisapan kabut# uap asam sul*at dapat menyebabkan in*lamasi pada tenggorokan bagian atas sehingga menyebabkan bronkitis, dan bila kontak dengan konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kolaps. o Asam !lorida (A<=), bahan ini merupakan bahan pengoksidasi yang sangat kuat.Berbahaya jika terkena panas. Pengaruhnya terhadap kesehatan manusia yang akan menghasilkan methemoglobin dalam darah serta akan merusak butir" butir darah merah pada akhirnya akan merusak buah ginjal juga otot" otot hati. o Asam Dormat ( A<<BA), bahan mudah terbakar dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, membran mukosa. o Amonium Aidroksida (>A4BA), suatu bahan apbila dipanaskan akan mengeluarkan ra un yang berbahaya bagi kesehata, uapnya bersi*at ra un. o >atrium Aidroksida (>aBA), berbentuk padat atau larutan bersi*at korosi* pada kulit manusia apabila kontak terlalu lama, dapat menyebabkan kerusakan jaringan tubuh manusia. Penghisapan pada hidung dapat menyebabkan iritasi pada

membran mukosa. o Senyawa Ben@idin (>A1 <5 A4 >A1), apabila kontak dengan kulit dapat menyebabkan iritasi, dapat menyebabkan kerusakan pada darah (hemolisis), apabila terhisap menyebabkan mual, muntah"muntah dan pada akhirnya diikuti dengan kerusakan hati. o !alium Permanganat (!7>B4), sangat iritasi*, debu !7>B4 sangat bera un, dapat terhisap melalui pori"pori, dapat menyebabkan kerusakan pada paru"paru, perna*asan pada bagian atas . o Dormalin (A<AB)., iritasi pada kulit mata membran mukosa apabila tertelan dapat menyebabkan muntah, diare, kolaps. Bersi*at karsinogenik terhadap paru"paru. o Arsen (AS), arsen bila tdapat terhisap melaluerhisap maka dapat menimbulkan menyebabkan muntah, mual dapat terhisap melalui maka dapat menimbulkan menyebabkan muntah, mual, diare. !erusakan arsen menyebabkan kelainan sistem syara* , kerusakan hati, gangguan sistem pembuluh darah, pigmentasi kulit serta dapat menyebabkan kanker. o >a*tol (<.%ABA), apabila terhisap dapat menyebabkan mual, muntah, diare, bahkan anemia. >a*tol dapat diserap oleh kulit. o Phenol (<5A$BA), penyerapan larutan phenol pada kulit terjadi dengan epat. !ontak dengan larutan phenol selama $% menit sampai beberapa jam dapat menyebabkan kematian, untuk kontak dengan kulit seluas 54 in hi. Gejala yang timbul apabila seseorang kera unan phenol yaitu pusing, otot lemah, pandangan kabur, telinga berdengung, napas terengah"engah. o !rom (<r), yang bersi*at asam sangat bersi*at korosi* pada kulit serta membran mukasid (selaput lendir). !ontak dengan <r se ara langsung dan terus menerus bagi kulit yang sensiti* akan menyebabkan koreng (ul er) selebar ujung pensil di sekitar kuku maupun punggung tangan. /. ,eknik Pengendalian =imbah Penyamakan !ulit a. Penerapan "leaner roduction

Produksi bersih adalah strategi pengelolaan lingkungan yang bersi*at pereHenti* dan terpadu yang perlu dilaksanakan se ara terus menerus pada proses produksi sehingga mengurangi risiko negatiHe terhadap manusia dan lingkungan. Produksi bersih pada proses produksi berarti meningkatkan e*isiensi dan e*ekti*itas pengguanaan bahan baku, energi, dan sumber daya lainnya, serta mengganti atau mengurangi jumlah dan toksitas seluruh emisi dan limbah sebelum keluar dari proses. Pen egahan, pengurangan, dan penghilangan limbah atau bahan pen emaran pada sumbernya merupakan elemen utama di produksi bersih. !egiatan yang merupakan produksi bersih adalah+ Penghematan pemakaian air pen u ian atau pembilasan. Penghematan penggunaan @at kimia misalnya penyamakan dengan menggunakan garam krom dengan kadar larutan uku dengan ?2 tidak perlu dipakai .12. 7odi*ikasi proses, seperti pada proses pengapuran menggunakan drum dengan jumlah bahan"bahan yang dipakai dapat dikurang ( air, kapur, sul*ida) atau dengan pemisahan pengpuran. Pemakaian tekhnologi dan peralatan yang tepat. b. Pemisahan !rom !rom dapat dipisahkan dari airan buangan dengan jalan penyaringan yang kemudian di daur ulang dengan ara sbb + Air buangan dari penyamakan kromdan air pen u ian (sebanyak 1 I .%% 2 air) yang sudah bebas dari padatan diberi larutan magnesium hidroksida, dan diendapkan kira"kira .% jam, yang kemudian airan dipindahkan ke bak lain (dengan pipa penyedot, tetapi jangan sampai endapannya ikut tersedot). <airan tersebut bila benar"benar bebas dari endapan akan mengandung krom kurang dari 1 ppm sehingga bias langsung dibuang atau dipakai untuk daur ulang. ;ndapan yang terjadi kemudian ditambah asam sulphat yang sesuai, airan pada proses buang bulu dan

endapan tersebut akan larut dalam waktu sekitar ./ menit dan akan memberikan suatu larutan krom sebesar /% gram krom oksida#liter. Pada daur ulang proses selanjutnya masih membutuhkan penambahan krom kira"kira sejumlah $% 2.

;.

Pemasaran .. Permintaan 7ulai tahun 1%%. sampai saat ini dan seiring dengan kondisi perekonomian yang membaik, pasar produk dari kulit khususnya tas kulit mulai kembali membaik. Pengusaha ke il industri kulit dapat kembali pada produksi tas kulit asli. >amun karena tas kulit imitasi juga telah memiliki pangsa pasar sendiri, sebagian produsen tas kulit tetap memproduksi tas dari kulit imitasi. ,antangan selanjutnya yang dihadapi industri tas kulit dalam negeri adalah persaingan di pasar luar negeri yaitu produk tas kulit dari <ina. &i pasaran internasional, tas kulit dari <hina dipasarkan dengan harga relati* lebih murah. Sedangkan produk tas kulit Indonesia yang beredar di pasar luar negeri harganya lebih mahal. Aal ini disebabkan belum adanya akses langsung ke pasar luar negeri. Permintaan pasar tas kulit relati* bagus karena produk dengan bahan baku khusus ini memiliki pangsa pasar tersendiri. &ata mengenai besarnya permintaan pasar produk tas kulit di Indonesia, baik permintaan dalam maupun luar negeri, masih ukup sulit. Salah satu pengusaha pengrajin tas kulit di ,anggulangin, diperoleh in*ormasi bahwa mereka biasa memasarkan produknya di dalam negeri, baik melalui agen yang menjadi relasi pengusaha pengrajin yang berada di beberapa kota seperti Jakarta dan Bali, maupun pesanan baik dari peorangan atau institusi, serta melayani pesanan dari luar negeri. ,erdapat beberapa merk tas asing yang melakukan pesanan langsung ke ,anggulangin dengan memberikan spesi*ikasi atau model yang khusus dan kemudian memberikan logo sesuai dengan brand pemesan. 1. Penawaran !erajinan tas kulit memerlukan keterampilan tangan dan keuletan. Salah satu daerah pengusaha pengrajin tas kulit di ,anggulangin mengungkapkan bahwa tidak ada

yang tidak bisa dibuat oleh pengrajin ,anggulangin. Aal ini dikarenakan kemampuan pengrajin ,anggulangin dalam membuat produk tas kulit tidak diragukan. Para pengrajin ini seringkali mengoleksi majalah"majalah mode dunia untuk melihat trend tas kulit yang berkembang. &ari melihat gambar tersebut mereka mampu memproduksinya dengan hasil yang persis dengan aslinya. !onsumen yang menginginkan model tas yang berbeda, dapat membuat desain sendiri atau memberikan ontoh produk yang ia punya dan para pengrajin ini akan membuatnya sesuai selera pemesan. Pemesan juga dapat melihat ontoh produk yang ada pada koleksi pengrajin kemudian meminta pengrajin untuk membuat produk modi*ikasinya. Pengusaha bahkan telah terbiasa memproduksi tas dalam jumlah ribuan dalam waktu satu minggu. Jumlah minimal produk pesanan tidak dibatasi. Aal ini dikarenakan karakteristik biaya produksi yang sebagian besar adalah biaya Hariabel. Apabila pesanan dalam jumlah sedikit, maka harga per item produk menjadi sedikit lebih mahal. $. Impor Impor kulit samak termasuk kulit domba dan kambing menunjukkan kenaikan pada tahun .33- 1%%.. Pada tahun .33- produksi kulit sebesar .-,$ ribu ton dan pada tahun 1%%. menjadi 1/,. ribu ton (kenaikan 4/,.2). !ebutuhan kulit dunia ukup tinggi, hal ini merupakan peluang dan prospek yang ukup besar bagi pengembangan industri penyamakan kulit (baik kulit sapi maupun domba dan kambing). 4. ;kspor Peman*aatan kulit ternak atau hewan untuk kepentingan manusia itu berjalan searah dengan perkembangan peradaban manusia. &ari keseluruhan produk sampingan hasil pemotongan ternak, maka kulit merupakan produk yang memiliki nilai ekonomis yang paling tinggi. Berat kulit pada sapi, kambing dan kerbau memikiki kisaran -".%2 dari berat tubuh. Se ara ekonomis kulit memiliki harga berkisar .%"./2 dari harga ternak. Sebelum era krisis moneter, pihak pemerintah dengan syarat tertentu masih mengi@inkan industri"industri penyamakan kulit untuk mengimpor kulit mentah dan

awetan dari luar negeri, dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kulit dalam negeri yang sepenuhnya belum men ukupi. >amun demikian sejak mulainya krisis moneter, pemerintah akhirnya mengeluarkan suatu kebijakan untuk melarang impor kulit mentah maupun kulit setengah jadi dari luar negeri dengan alasan tingginya harga dasar barang (naik kurang lebih $%%"4%%2) dan pajak impor yang harus ditanggung oelh importir akibat *luktuasi rupiah oleh mata uang asing. &engan langkah kebijakan tersebut para pengusaha dalam negeri tentunya harus menyediakan bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. 7asalah yang timbul, apakah mutu kulit mentah maupun kuliut awetan yang dihasilakan oleh masyarakat yang di dalam negeri sudah memenuhi standar yang sesuai atau paling tidak telah mendekati standar kualitas yang telah ditetapkanP Sebuah atatan penting yang patut diingat bahwa kejayaan pesat, ekspor kulit samak merupakan sumber deHisa negara non migas selain kayu, tekstil dan elektronik. Berdasarkan gambaran tersebut, tentunya bahanyak hal yang harus dikaji dan terpulang kepada bagaimana perkembangan ilmu dan terknologi khususnya ilmu dan teknologi pengolahan kulit ke depan serta kualitas S&7 peternakan yang dimiliki. /. Peluang Pasar Potensi ketersediaan kulit khususnya di Sulawesi Selatan sendiri ukup besar. Bila dilihat dari perolehan angka statistik di Sulawesi Selatan untuk tahun 1%%4, jumlah pemotongan yang ter atat di 0PA dan luar 0PA khususnya ternak besar seperti sapi yang men apai 51.%1% ekor, kerbau .-.13/ ekor, kuda 1.$-5 ekor dan ternak ke il seperti kambing .3./1/ ekor serta domba 1%$ ekor. ,otal untuk ternak besar dan ke il se ara keseluruhan men apai .%..4.3 ekor. Berdasarkan data tersebut diasumsikan bahwa terdapat kurang lebih .%..4.3 lembar kulit yang dapat dioleh menajdi produk lembaran kulit jadi sebagai bahan baku untuk membuat produk barang kulit seperti jaket, sepatu, tas, assesoris, jok mobil dan sadel motor, pelapis kursi dan sebagainya. &ata diatas merupakan data pemotongan ternak yang ter atat, namun bila dijumlahkan dengan data pemotongan yang tidak ter atat (gelap) potensi kulit dapat men apai ./5.3-5 lembar. (Anonim. 1%%/. Statistika Peternakan ,ahun 1%%/. Pemerintah ProHinsi Sulawesi Selatan. &inas Peternakan, 7akassar.)

5. Prospek Se ara rin i perhitungan nilai inHestasi untuk produk olahan komoditas sapi potong yang berpotensi dan prospekti* dikembangkan pada masa yang akan datang adalah jenis usaha kulit sapi samak. Berdasarkan data statistik tahun 1%%$, bahan baku yang tersedia untuk mendukung industri kulit sapi samak menunjukkan jumlah yang men ukupi untuk berkembangnya jenis usaha"usaha tersebut (skala '!7). !eseluruhan kebutuhan dana inHestasi bagi skala '!7 serta lokasi dan jumlahnya di Indonesia disajikan pada ,abel 4. Penentuan lokasi didirikannya '!7 antara lain berdasarkan pertimbangan ketersediaan bahan baku, strategis, serta merupakan daerah atau pusat wisata Indonesia yang memungkinkan berkembangnya produk kerajinan dari kulit samak. ,abel 4. Perkiraan >ilai InHestasi dan !euntungan, serta Jumlah '!7 dan =okasiPengembangan 'saha Pengolahan !ulit Sapi Samak >o . Jenis 'saha !ulit sapi samak >ilai InHestasi 0p. 41%.%%%.%%% 7eliputi tanah, bangunan, perlengkapan kantor, dan alsin. Biaya pengeluaran tahun 0p. /-/.-$%.%%% !euntungan Bersih 0p. /15.1$3..%% dengan harga jual minimal per produk 0p. -?.%5/#unit B;P 5.?,34 unit#tahun

1 #lokasi '!7

/ (Sumbar, Jabar, Sulsel)

,otal inHestasi Q 0p. 41%.%%%.%%%

Jumlah Jateng,

!altim, 0p. 1..%%.%%%. %%%

II.

P;7BAAASA>

A.

Bahan Baku
&i Indonesia ukup banyak terdapat industri penyamakan kulit , salah satunya yaitu di wilayah Sukaregang, Garut yang merupakan sentra produksi penyamakan kulit di Pulau Jawa. &i wilyah tersebut setidaknya terdapat $$% industri penyamakan kulit yang memproduksi bahan baku kulit samak untuk industry sepatu dan industri garmen. &ari tahun ke tahun industri di kawasan ini berkembang begitu pesat sehingga pendapatan masyarakat di daeah tersebut meningkat serta ekspor ke luar negeri pun mengalami peningkatan . ,ingkat produksi kulit samak pada tahun ini mengalami penurunan karena pemasokan bahan baku bekurang ,penyamakan kulit di Indonesia kekurangan sekitar -% persen bahan baku, hal inilah yang mema u para pengusaha kulit sapi samak gulung tikar. !urangnya perhatian pemerintah terhadap masalah ini merupakan salah satu *aktor terjadinya penurunan produkti*itas di industry ini. Selain itu, adanya ekspor yang berlebih terhadap kulit sapi mentah menyebabkan para pengusaha penyamakan kulit kekurangan bahan baku, padahal jika kita mengolah sendiri kulit mentah tersebut kita dapat meningkatkan nilai tambah terhadap komoditi sehingga penghasilan masyarakat dapat meningkat. Aal inilah yang harus diperbaiki demi ter iptanya lapangan kerja bagi masyarakat dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat. !ulit sapi yang akan diolah# disamak harus memenuhi standar tertentu , ketentuan C

ketentuan tersebut sudah diatur di dalam S>I ( Standar >asional Indonesia ) mengenai standar kulit sapi mentah basah yang meliputi standar untuk bau, warna dan kebersihan, bulu, ukuran kulit, berat

kulit, elastisitas, kandungan air, a at ( mekanis, termis, parasit ). Standar C standar tersebut harus dipenuhi agar menghasilkan kulit sapi samak yang berkualitas tinggi. &i industry penyamakan kulit standar tersebut dipakai untuk memastikan bahwa kulit sapi yang akan disamak mememang layak untuk diolah agar produk yang dihasilkan memiliki mutu yang tinggi.

B.

Produk !ulit sapi samak banyak diman*aatkan untuk pembuatan produk fashion, furniture , dan pembuatan kerajinan dari kulit seperti jaket, sepatu, tas, dan lainnya. Selain itu, dikenal pula istilah kulit sol, istilah ini digunakan untuk kulit yang diperoleh dari penyamakan kulit sapi dengan menggunakan bahan penyamak nabati. Penyamakan dengan bahan penyamakan nabati berasal dari tumbuhan yang mengandung bahan penyamak misalnya kulit akasia, sagawe , tengguli, mahoni, dan kayu Fuebra ho, eiken, gambir, teh, buah pinang, manggis, dll. Pada proses penyamakan, semua bagian kulit mentah yang bukan olagen saja yang dapat mengadakan reaksi dengan @at penyamak. !ulit jadi sangat berbeda dengan kulit mentah dalam si*at organoleptis, *isis, maupun kimiawi. !ulit jadi yang dihasilkan misalnya kulit tas koper, kulit sol, kulit pelana kuda, kulit ban mesin, kulit sabuk dll. !ulit sol banyak digunakan sebagai lapisan bawah pada sepatu . 'ntuk mengetahui kualitas dari kulit saol tersebut digunakan pengujian se ara organoleptis, *isis dan kimiawi.
7utu produk kulit samak harus memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan pada S>I ( Standar >asional Indonesia ) agar produk tersebut dapat memilki kualitas yang baik sehingga dapat mempunyai daya jual yang tinggi. Standar tersebut meliputi !imiawi ( kadar air , kadar minyak#lemak, kadar @at larut dalam air, kadar abu, kadar krom oksida, derajat penyamakan, pA ), Disis ( tebal, kekuatan Ewik, kekuatan tarik, kemuluran pada waktu putus, penyerapan air ), dan Brganoleptis. Standar yang telah ditentukan harus dipenuhi karena apabila salah satu dari ketentuan tersebut tidak dipenuhi maka kualitas dari produk kulit sapi samak kurang baik.

<.

,eknologi Proses Industri penyamakan kulit adalah industri yang mengolah kulit mentah (hides atau skins) menjadi kulit jadi atau kulit tersamak (leather) dengan menggunakan bahan penyamak. ,eknologi proses dalam industri penyamakan kulit terdiri dari tiga pokok

tahapan yaitu proses pengerjaan basah (beam house), proses penyamakan (tanning) dan penyelesaian (finishing). 7asing" masing tahapan ini terdiri dari beberapa ma am proses. Setiap proses memerlukan tambahan bahan kimia dan pada umumnya memerlukan banyak air, tergantung jenis kulit mentah yang digunakan serta jenis kulit jadi yang dikehendaki. Penambahan bahan kimia ini tentu menyebabkan pen emaran yang ukup besar dari industri ini. Bahan"bahan kimia ini dapat men emari air sisa pengolahan kulit samak berupa air limbah. Air limbah ini memerlukan perlakuan"perlakuan tersendiri agar dapat dibuang ke lingkungan dan tidak merusak lingkungan. Perlakuan yang dilakukan tergantung jenis limbah dan jenis bahan kumia yang men emari air. Jenis bahan kimia yang men emari dapat dilihat dari proses"proses yang dilakukan dalam penyamakan kulit. ,ahapan proses pengerjaan basah (beam house) diantaranya perendaman (soaking) untuk mengembalikan si*at" si*at kulit mentah menjadi seperti semula, lemas, lunak dan sebagainya. Pada proses perendaman ini, penyebab pen emarannya ialah sisa desin*ektan dan kotoran" kotoran yang berasal dari kulit. Selanjutnya pengapuran (liming) untuk menghilangkan epidermis dan bulu, menghilangkan kelenjar keringat dan kelenjar lemak serta menghilangkan semua @at"@at yang bukan collagen yang akti* menghadapi @at"@at penyamak. &alam proses pengapuran ini mengakibatkan pen emaran yaitu sisa" sisa <a (BA)1, >a1S, @at"@at kulit yang larut, dan bulu yang terlepas. ,ahap selanjutnya yaitu pembelahan (splitting) untuk mendaptkan ukuran dan ketebalan kulit yang diinginkan. Setelah didaptkan ukuran yang diinginkan kemudian dilakukan pembuangan kapur (delimming). Pembuangan kapur akan mempergunakan asam atau garam asam, misalnya A1SB4, A<BBA, (>A4)1SB4, &ekaltal dan lain"lain. Selanjutnya proses pengikisan protein (bating). Proses ini menggunakan en@im protese untuk melanjutkan pembuangan semua @at" @at bukan collagen yang belum terhilangkan dalam proses pengapuran. ,ahap terakhir yaitu pengasaman ( pckling).Proses ini dikerjakan untuk kulit samak dan krom atau kulit samak sintetis dan tidak dikerjakan untuk kulit samak nabati atau kulit samak minyak. ,ahapan proses penyamakan (tanning), proses penyamakan dimulai dari kulit

pikel untuk kulit yang akan disamak krom dan sintan, sedangkan untuk kulit yang akan disamak nabati dan disamak minyak tidak melalui proses pickling (pengasaman). ,ahapan proses ini terdiri dari penyamakan, pengetaman (shaHing), pemu atan (bleaching), penetralan (neutrali$ing), penge etan (dyeing), peminyakan (fat liguoring), pelumasan (oiling), pengeringan, kelembaban serta peregangan dan pementangan ,ahapn yang terakhir yaitu tahapan penyelesaian akhir (finishing). Penyelesaian akhir bertujuan untuk memperindah penampilan kulit jadinya, memperkuat warna dasar kulit, mengkilapkan, menghaluskan penampakan rajah kulit serta menutup a at" a at atau warna at dasar yang tidak rata. &. Prakiraan Biaya Produksi 'ariable cost adalah biaya yang langsung dipengaruhi oleh banyaknya (unit) barang yang diproduksi. 'ariable cost terdiri dari biaya bahan baku, biaya bahan pembantu (@at kimia), biaya tenaga kerja, biaya penanganan limbah dan biaya pemeliharaan. Biaya bahan baku dipengaruh oleh rendemen kulit mentah untuk menhasilkan kulit jadi diantaranya sebagai berikut + " !ulit garaman dengan berat lebih dari 1% kg menghasilkan kulit jadi dengan luas . C 1 sF *t#kg, dengan rataan .,/ sF. *t.#kg " !ulit garaman dengan berat antara .% C 1% kg menghasilkan kulit jadi dengan luas 1,% C 1,/ sF *t#kg " !ulit ke il (skin) dengan berat kulit garaman dibawah 4 kg menghasilkan kulit jadi dengan luas antara $,% C 4,% sF.*t#kg. " !ulit mentah mengalami penyusutan sampai dengan .%2 dari rasio tersebut, tergantung pada sumber kulit mentahnya. Biaya kulit mentah dapat men apai /%2 atau lebih dari total biaya kulit jadi, sehingga biaya kulit mentah menjadi *aktor utama yang diperhatikan oleh perusahaan pengolahan kulit. 'ntuk biaya bahan pembantu yaitu bahan kimia dipengaruhi oleh kebutuhan bahan kimia dari tiap proses penyamakan kulit yang dilakukan. Jumlahnya bergantung dengan jumlah kulit mentah yang diolah. Selanjutnya biaya tenaga kerja langsung.

Apabila seluruh biaya tenaga kerja langsung kita hitung maka komposisinya adalah sebagai berikut+ beam house .12L proses tanning ..2L proses drying, shaving, dan splitting 1/2L persiapan untuk finishing 142L dan proses finishing 1?2. Pada umumnya kulit yang dapat dihasilkan per jam kerja tenaga kerja langsung adalah sebagai berikut+ .sF *t per jam untuk kulit besar, .4 sF *t per jam untuk kulit sedang, dan .% sF *t per jam untuk kulit ke il. )tility, termasuk didalamnya adalah air, energi (listrik, panas, dan lampu), penanganan limbah, maintenan e mesin. Besarnya biaya untuk utility tergantung dari kulit yang diproses, skala pabrik, lokasi, dan *asilitas yang ada. &verhead cost adalah biaya yang tidak langsung dipengaruhi oleh banyaknya (unit) barang yang diproduksi biaya ini dikenal juga dengan istilah biaya tetap (fi*ed cost), untuk memperkirakan biaya tidak langsung biasanya didasarkan pada data historis perusahaan atau menga u pada data perusahaan lain yang sejenis dengan skala usaha yang sama. Biaya tidak langsung pada industri penyamakan kulit berkisar antara .%2 C 1%2 dari total penjualan. Sebagai ontoh harga pokok produksi pada industri penyamakan kulit se ara tidak langsung adalah menghitung total biaya langsung seperti+ Biaya bahan baku (harga kulit mentah) + 0p. ./.%%%#kg Biaya tenaga kerja langsung + 0p. $.4%%#jam Biaya @at kimia (keseluruhan) + 0p. 1.%%%#sF. *t Biaya utility (peralatan, dll) + 0p. /%%#sF. *t. <atatan+ " !ulit besar lebih dari 1% kg dapat menghasilkan .,/ sF *t#kg kulit jadi. Jadi, biaya bahan baku per sF *t adalah ./.%%%#.,/ 8 0p. .%.%%%#sF.*t. " ,ingkat penyusutan kulit mentah adalah .%2, dan kerusakan produksi sebanyak /2. Jadi, biaya bahan baku total adalah .%.%%% G (./2 I .%.%%%) 8 0p. .../%%#sF.*t. " ,enaga kerja dapat menghasilkan .- sF *t#jam. Jadi biaya tenaga kerjanya adalah $.4%%#.- 8 0p. 1%%#sF *t.

Jadi, Aarga Pokok Produksi !ulit tersebut adalah+ APP 8 Biaya bahan baku G Biaya @at kimia G Biaya tenaga kerja langsung G Biaya utility APP 8 0p..../%% G 0p.1.%%% G 0p.1%% G 0p./%% 8 0p..4.1%% # sF *t =aba usaha dikenal pula dengan marjin usaha, dikenal menjadi dua jenis yaitu marjin kontribusi (contribution margin) atau marjin bruto (gross margin). Sebagai ontoh, harga jual kulit sapi atasan saat ini adalah 0p. .3.%%%#sF *t, oleh karena itu marjin#laba bruto penjualan kulit sapi tersebut adalah =aba Bruto 8 Penjualan C harga pokok produksi =aba Bruto 8 0p. .3.%%% C 0p. .4.1%% 8 0p. 4.?%% =aba bersih 8 Penjualan C variable cost C fi*ed cost B;P adalah pada kondisi =aba bersih 8 %. Sehingga, Penjualan 8 'ariable cost G %i*ed cost (M N P) 8 (M N <) G D &imana, M 8 jumlah P 8 harga jual per sF.*t. < 8 harga pokok produksi per sF.*t D 8 total biaya tetap per periode <ontoh+ 7enga u pada ontoh sebelumnya dan apabila biaya tetap perusahaan sebesar 0p. /%.%%%.%%%," per bulan maka agar perusahaan tidak mengalami kerugian (B;P) maka jumlah minimal kulit yag harus diproduksi adalah+ B;P M N P 8 M N < G D M (P"<) 8 D M (.3.%%%" .4.1%%) 8 /%.%%%.%%% M 8 /%.%%%.%%%#4.?%% M 8 ..%4.,5- sF *t ;. =imbah Industri Samak .. =imbah air pabrik penyamaan berasal dari larutan yang digunakan unit pemprosesan itu sendiri yaitu perendaman air, penghilangan bulu, pemberian bubur kapur, perendaman ammonia, pengasaman, penyamaan, pemu atan, pembarian warna oklat,

dan pewarnaan dan dari bekas u i , tetesan serta tumpahan. Penghilangan bulu dengan kapur dan sul*ida biasanya merupakan penyumbang utama beban pen emaran dalam pabrik penyamaan. =imbah dengan BB& dan P,, tinggi berasal dari airan bekas perendaman, airan kapur bekas dan airan penyamaan nabati. <iran samak krom mengandung krom"triHalen kadar tinggi. Perendaman ammonia meninggalkan banyak ampuran nitrogen"amonia dan sedikit bahan organi . =imbah air dari operasi penghilangan bulu mengandung bulu dan sul*ida.

,abel /. !arakteristik =imbah pada ,iap Proses > Proses o . . Perendaman . 1 Pengapuran Air, Air !apur Air, Sodium Aipoklorida Bahan !arakteristik =imbah <air 7engandung Sodium Aipoklorida (!alsium Bersi*at basa Bersi*at Sul*ida Bersi*at limbah Air Air, Asam Sul*ur, amonia Bersi*at basa Sodium Bersi*at asam asam alkalin,

. Aidroksida) $ Pembuangan bulu Air, Sodium Sul*ida . dan bekas daging ;n@im, Garam Amonium

limbah Aidrogen basa, gas

4 Penghilangan . kapur

/ Pen u ian . 5 Pengasaman . - Proses !rom . ? Pemutihan .

!lorida !rom dioksida, Sodium !lorida, Bersi*at Sodium Bikarbonat mengandung

!rom ,riHalen Air, >atrium !arbonat, Asam Bersi*at asam Sul*at

3 Pen u ian . . Dat =iFuoring % . . Pemu atan . .

Air

Bersi*at

asam,

mengandung 7inyak !rom 7engandung minyak Bahan pemu at 7engandung pemu at @at

1.

=imbah padat &idalam proses penyamakan disamping limbah air juga menghasilkan limbah padat sebagai hasil samping. &ikatakan hasil samping karena diman*aatkan untuk berbagai keperluan, misalnya sebagai bahan makanan,obat"obatan, kosmetik, pupuk, kerajinan, dan bahan bangunan lainnya. Bahan padat yang dimaksud antara lain bulu, sisa trimming, fleshing,sisasplit, shaving, buffing

$.

=imbah gas Bau yang dikeluarkan limbah proses penghilangan pengapuran =imbah air industri penyamakan kulit nampak paling menonjol dibandingkan limbah padat maupun gasnya karena Holumenya yang ukup banyak yaitu $%"-% l # kg bahan baku yang diolah dari awal. &isamping Holume yang banyak, @at" @at pen emaran yang terkandung dapat menimbulkan dampak negati* terhadap lingkungan dan dampak yang paling epat berpengaruh adalah berbau busuk dan kadang" kadang se ara Hisual nampak berbuih banyak. Se ara umum air limbah penyamakan kulit mengandung bagian" bagian dari kulit seperti bulu, sisa daging, potongan kulit dan bahan kimia sisa dari yang ditambahkan dalam proses penyamakan kulit. &alam proses produksi Industri penyamakan kulit ada beberapa tahapan bulu, dan air industri penyamakan kulit berasal dari amonia yang dilepaskan pada proses pembusukan material organik berupa Aidrogen sul*ida yang dilepaskan selama

proses pengolahan yaitu+ *. Pemisahan padatan kasar

g. Segresi h. ;kualisasi i. j. D. Pemasaran Permintaan pasar tas kulit relati* bagus karena produk dengan bahan baku khusus ini memiliki pangsa pasar tersendiri. &ata mengenai besarnya permintaan pasar produk tas kulit di Indonesia, baik permintaan dalam maupun luar negeri, masih ukup sulit. !erajinan tas kulit memerlukan keterampilan tangan dan keuletan Impor kulit samak termasuk kulit domba dan kambing menunjukkan kenaikan pada tahun .33- 1%%.. Pada tahun .33- produksi kulit sebesar .-,$ ribu ton dan pada tahun 1%%. menjadi 1/,. ribu ton (kenaikan 4/,.2). !ebutuhan kulit dunia ukup tinggi, hal ini merupakan peluang dan prospek yang ukup besar bagi pengembangan industri penyamakan kulit (baik kulit sapi maupun domba dan kambing). Sejak mulainya krisis moneter, pemerintah akhirnya mengeluarkan suatu kebijakan untuk melarang impor kulit mentah maupun kulit setengah jadi dari luar negeri dengan alasan tingginya harga dasar barang (naik kurang lebih $%%"4%%2) dan pajak impor yang harus ditanggung oleh importir akibat *luktuasi rupiah oleh mata uang asing. !oagulasi Proses pengolahan limbah air.

III. P;>','P

A.

!esimpulan Industri penyamakan kulit adalah industri yang mengolah kulit mentah (hides atau skins) menjadi kulit jadi atau kulit tersamak (leather) dengan menggunakan bahan penyamak. ,eknologi proses dalam industri penyamakan kulit terdiri dari tiga pokok tahapan yaitu proses pengerjaan basah (beam house), proses penyamakan (tanning) dan penyelesaian (finishing). Industri penyamakan kulit dari kulit sapi sudah banyak berkembang di Indonesia. Produk"produk olahan yang dihasilkan juga sudah ukup banyak. Setiap proses memerlukan tambahan bahan kimia dan pada umumnya

memerlukan banyak air, tergantung jenis kulit mentah yang digunakan serta jenis kulit jadi yang dikehendaki. Penambahan bahan kimia ini tentu menyebabkan pen emaran yang ukup besar dari industri ini. Bahan"bahan kimia ini dapat men emari air sisa pengolahan kulit samak berupa air limbah. Air limbah ini memerlukan perlakuan" perlakuan tersendiri agar dapat dibuang ke lingkungan dan tidak merusak lingkungan. =imbah air industri penyamakan kulit nampak paling menonjol dibandingkan limbah padat maupun gasnya karena Holumenya yang ukup banyak. &isamping Holume yang banyak, @at" @at pen emaran yang terkandung dapat menimbulkan dampak negati* terhadap lingkungan dan dampak yang paling epat berpengaruh adalah berbau busuk dan kadang" kadang se ara Hisual nampak berbuih banyak. Se ara umum air limbah penyamakan kulit mengandung bagian" bagian dari kulit seperti bulu, sisa daging, potongan kulit dan bahan kimia sisa dari yang ditambahkan dalam proses penyamakan kulit. Permintaan pasar tas kulit relati* bagus karena produk dengan bahan baku khusus ini memiliki pangsa pasar tersendiri. !ualitas produk dari kulit samak dari Indonesia ukup baik sehingga tidak jarang diekspor hingga ke man anegara. 'ntuk menjaga harga produk, dilakukan proteksi terhadap impor bahan baku kulit mentah maupun bahan setengah jadi ke Indonesia