Anda di halaman 1dari 5

1.

Penatalaksanaan Medikamentosa
Karena sebagian besar sinusitis disebabkan oleh organisme gram-positif, sebagian

besar Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, Streptokokus (group A, B, dan D), dan Haemophillus influenzae (gram- negatif) disertai hospes organisme anaerob, maka terapi terpilihnya penisilin-G. Penisilin-G juga merupakan pilihan yang terbaik sebagai terapi awal dan definitif untuk kokus gram-negatif, basil gram-positif dan gram-negatif. Ini kunci utama penatalaksanaan medis pada sinusitis akut. Untuk Haemophillus influenzae, diindikasikan pemberian ampisilin. Untuk mengetahui antibiotika yang digunakan, dapat dilihat pada Tabel 2.1. 3 Terapi antibiotika harus diteruskan minimal 1 minggu setelah gejala terkontrol. Lama terapi rata-rata 10 hari. Dalam terapi perlu mempertahankan kadar antibiotika yang adekuat; bila tidak, mungkin terjadi sinusitis kronis. Disamping mengacu pada organisme yang terlibat, penting mempermudah drainase dan mengurangi edema sekitar ostium. Dekongestan per oral dan obat semprot dan/atau obat tetes dekongestan nasal topikal sangat penting untuk mempermudah drainase. Analgetika penting untuk mengontrol nyeri, dan pelembapan dapat bermanfaat di waktu tidur. Bagian penatalaksanaan medis lainnya yang bermanfaat adalah mendiskusikan kelainan tersebut dan rencana penatalaksanaannya dengan pasien. Pasien memahami bahwa penatalaksanaan medikamentosa hanya merupakan bagian penatalaksanaan dan bahwa tidakan bedah mungkin diperlukan nantinya di ruang praktek maupun di ruang operasi. Pasien harus pula diberitahu bahwa perlu usaha ini untuk menentukan faktor-faktor etiologi predisposisi; dan faktor-faktor tersebut harus dikontrol, mungkin diperlukan pembedahan. 3

Tabel 2.1. Dosis Antibiotika 3


ANTIBIOTIKA Kristal penisilin G Prokain penisilin G Fenoksimetil penisilin V Benzatin penisilin Metisilin Ampisilin Amoksisilin Eritromisin Klindamisin Vankomisin Streptomisin Kanamisin Gentamisin Tetrasiklin Kloramfenikol Amfoterisin B DOSIS INTRAMUSKULAR ---------------0,3 - 1,2 juta satuan q 6 - 12 jam ----------------

INTRAVENA 1 - 5 juta satuan q 4 - 6 jam ----------------------------------------------

ORAL ------------------------------0,25 - 1 gr q 6 jam

---------------12 juta satuan q 2 - 4 mgg ---------------1 - 2 gr q 4 - 6 jam 1 - 2 gr q 4 6 jam 0,5 - 2 gr q 4 - 6 jam 0,5 - 2 gr q 6 jam 0,25 - 1 gr q 6 jam ------------------------------0,25 - 1 gr q 8 jam 0,5 - 1 gr q 6 jam 0,2 gr q 4 - 6 jam 0,25 - 1 gr q 6 jam 0,6 - 2,7 gr/hari dlm 150 - 300 mg q 6 300 mg q 6 - 8 jam 2 - 4 dosis jam ---------------0,5 gr q 6 jam ---------------------------------------------0,5 - 1 gr q 12 jam ---------------15 mg/kg/hari dlm 2 15 mg/kg/hari dlm 2 dosis dosis ---------------1 - 2 mg/kg q 8 jam 1 - 2 mg/kg q 8 jam 0,25 gr q 6 jam ---------------0,25 - 1 gr q 6 jam 0,5 - 1 g q 6 jam ---------------0,25 - 1 gr q 6 jam ------------------------------0,25 - 1 mg/kg/hai dlm 1 dosis

1.2

Penatalaksanaan Bedah
Harus dipertimbangkan penatalaksanaan bedah untuk mempermudah drainase sinus

yang terkena serta mengeluarkan mukosa yang sakit. Hal ini diperlukan (1) bila terancam komplikasi, (2) untuk menghilangkan nyeri hebat, dan (3) bila pasien tidak berespon terhadap terapi medikamentosa. 3,4 1.2.1 Tindakan Bedah Minor Irigasi Sinus. Indikasi utama irigasi (lavase) sinus maksilaris adalah adanya materi mukopurulen pada sinusitis subakut atau kronis, seperti yang digambarkan oleh anamnesa dan foto rontgen abnormal karena adanya batas cairan atau adanya sinus yang opak. Irigasi

sinus maksilaris terutama bertujuan mengeluarkan materi mukopurulen dari sinus yang terlibat. 3 Sekret hasil levase harus dikirim untuk pemeriksaan sitologi bagi penyingkiran keganasan. Bila pemeriksaan tersebut negatif dan diduga ada keganasan, diindikasikan eksplorasi bedah atas sinus tersebut. Jadi, bilas sinus bisa juga membantu diagnosis. 3 Sebelum memulai lavase, pasien disuruh duduk tegak di kursi. Peralatan lavase meliputi kain alas atau apron plastik untuk pasien, kaleng pengumpul, trokar, anestesi lokal dan topikal serta semprot 100 ml dengan larutan salin normal yang hangat. 3 Lavase sinus maksilaris terbaik dilakukan melalui regio fossa kanina. Setelah dioleskan anestesi ke mukosa, disuntikan 2 3 ml lidokain 1% melalui jarum gigi 3,75 cm ukuran 27 ke lipatan bukogingival 1 cm di atas gigi premolar kedua di fossa kanina. Kemudian dipasang trokar ke dalam dinding anterior sinus maksilaris, 1 cm di atas gigi premolar kedua. Foto rontgen sinus penting dibuat sebelum punksi dan lavase dikerjakan. Beberapa tusukan dangkaldengan palu sudah mencukupi untuk memasang trokar ke dalam sinus maksilaris. Dengan pelan-pelan dimasukan sedikit solusio saline hangat (50 ml) ke dalam sinus (beberapa kali) dan akan keluar kembali bila pasien membungkuk ke depan. Apapun material yang mengalir ke dalam kaleng pengumpul steril tersebut, harus dikirim untuk kultur bagi bakteri umu, basil tahan asam, jamur anaerob bila diindikasikan. 3 Irigasi sinus maksilaris melalui ostium. Hal ini dilaksanakan melalui ostium antrum yang normal dengan mempergunakan kanula antrum dari Pierce. 4 Irigasi sinus maksilaris dengan fungsi melalui meatus inferior. Jika irigasi melalui ostium asli sulit atau ada iritasi jaringan yang berlebihan, dapat dibuat jalan lain. Paling mudah melalui meatus inferior. Digunakan trokar lurus atau bengkok. 4 Irigasi sinus maksilaris melalui prosesus alveolar. Metode ini dikemukakan hanya untuk dikecam, kecuali jika lubang alveolar dapat ditutup sebelum terjadi epitelialisasi

kedalamnya, kalau tidak maka akan terjadi fistel kronis dengan reinfeksi antrum yang menetap. Metode ini dapat digunakan pada kasus infeksi antrum yang terjadi akibat infeksi akar gigi dan mengakibatkan abses yang telah menyebabkan fistulasi melalui dasar antrum.4 Tampon Argyrol. Tampon argyrol dapat dimasukan ke dalam sinus setelah didekongesti dengan fenilefrin 1%. Argyrol suatu astrigent yang meningkatkan drainase sinus. Tampon dapat dimasukan setelah pasien duduk di kursi dan ditutupi dengan plastik penutup atau kain duk yang sesuai. Kemudian pasien membungkukan badannya ke depan sambil memegang kaleng penampung atau panci yang terbuat dari logam. 3 Setelah tampon dipasang di regio meatus medius mengelilingi sisi hidung atau di sisi sinus yang terlibat, pasien harus menunggu sekitar 20 menit. Setelah tampon argyrol dilepaskan, dapat dilakukan pemberian tekanan negatif intermiten secara hati-hati dengan menggunakan aspirator berujung bola. Kemudian pasien disuruh mengucapkan, kitty, kitty, kitty. Ini akan membuka dan menutup nasofaring, sehingga tekanan negatif dapat mencapai sinus dan memudahkan pengeluaran sekresi mukopurulen apapun tanpa membutuhkan tusukan ke dalam sinus yang terkena. 3 1.2.2 Tindakan Bedah Mayor Tujuan dan prinsip utama bedah sinus adalah mengeluarkan mukosa yang sakit dan menjamin drainase ke dalam hidung (tanpa merusak fisiologi intranasal). Hal ini dicapai dengan menghilangkan obstruksi dan menciptakan hubungan kontinu dari sinus yang terlibat ke dalam ruang intranasal. 3,4 Jendela Nasoantral. Tindakan membuat jendela nasoantral biasanya diindikasikan untuk penderita rinosinusitis berulang dan sinusitis kronis atau persisten dengan atau tanpa perubahan polipoid atau hipertrofi. Jendela ini dibuat di dalam hidung di bawah konka nasalis inferior di meatus inferior. Jendela nasoantral juga memberikan jalan pada waktu pembedahan untuk mengangkat mukosa sinus yang sakit. 3

Caldwel-luc. Yaitu sinusotomi maksila yang dilakukan melalui irisan pada daerah fosa kanina tulang dinding anterior sinus maksilaris direseksi melalui mulut untuk mencapai sinus guna mengeluarkan mukosa yang terinfeksi, kista, serta debris efitel. Pembedahan ini tidak boleh dilakukan pada anak karena dapat merusak gigi primordial. 6 Pembedahan Tidak Radikal. Akhir-akhir ini dikembangkan metoda operasi sinus paranasal dengan menggunakan endoskop yang disebut Bedah sinus endoskopik fungsional (BSEF). Prinsipnya ialah membuka dan membersihkan daerah kompleks ostio-meatal yang menjadi sumber penyumbatan & infeksi, sehingga ventilasi dan drainage sinus lancar kembali melalui ostium alami. Dengan demikian mukosa sinus akan kembali normal. 1