Anda di halaman 1dari 25

TUGAS PJBL II PROGRAM IMUNISASI PADA PENYAKIT YANG BISA DICEGAH DENGAN IMUNISASI Disusun untuk memenuhi tugas

Primary Health Care

Oleh: DINA MUKMILAH MAHARIKA 115070201131024

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013/2014

STUDENT LEARNING OBJECTIVES (SLO) Adapun sasaran belajar yang diharapkan mampu dicapai oleh mahasiswa setelah kegiatan Project Based Learning (PJBL) II ini adalah sebagai berikut: a. Pengertian, tujuan dan sasaran imunisasi. b. Jenis penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi c. Strategi pemberian imunisasi d. Sistem pelaporan program imunisasi

ANALISIS A. PENGERTIAN, TUJUAN DAN SASARAN IMUNISASI PENGERTIAN Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan. (Depkes RI, 2005). Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh manusia, untuk mencegah penyakit (Depkes-Kessos RI, 2000). Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal pada bayi yang baru lahir sampai usia satu tahun untuk mencapai kadar kekebalan diatas ambang perlindungan (Depkes RI, 2005). Program imunisasi merupakan sub sistem dari pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih menekankan pada upaya promotif dan preventif, selain itu imunisasi merupakan upaya yang sangat penting dalam mencegah penyakit serta merupakan public good (barang publik) karena manfaatnya dapat dirasakan oleh orang banyak. Pelaksanaan program imunisasi secara nyata dilaksanakan di Puskesmas sebagai ujung tombak pelaksanaan kesehatan. SEJARAH Kegiatan imunisasi di Indonesia di mulai di Pulau Jawa dengan vaksin cacar pada tahun 1956. Pada tahun 1972, Indonesia telah berhasil membasmi penyakit cacar. Pada tahun 1974, Indonesia resmi dinyatakan bebas cacar oleh WHO, yang selanjutnya dikembangkan vaksinasi lainnya. Pada tahun 1972 juga dilakukan studi pencegahan terhadap Tetanus Neonatorum dengan memberikan suntikan Tetanus Toxoid (TT) pada wanita dewasa di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga pada tahun 1975 vaksinasi TT sudah dapat dilaksanakan di seluruh Indonesia (Depkes RI, 2005). TUJUAN Pemerintah Indonesia sangat mendorong pelaksanaan program imunisasi sebagai cara untuk menurunkan angka kesakitan, kematian pada bayi, balita/ anak-anak pra sekolah. Adapun tujuan program imunisasi dimaksud bertujuan sebagai berikut : 1. Tujuan Umum yakni untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Penyakit dimaksud antara lain, Difteri, Tetanus, Pertusis (batuk rejam), Measles (campak), Polio dan Tuberculosis. 2. Tujuan Khusus, antara lain : a. Tercapainya target Universal Child Immunization (UCI), yaitu cakupan imunisasi lengkap minimal 80% secara merata pada bayi di 100% desa Kelurahan pada tahun 2010.

b. Tercapainya ERAPO (Eradiksi Polio), yaitu tidak adanya virus polio liar di Indonesia yang dibuktikan dengan tidak ditemukannya virus polio liar pada tahun 2008. c. Tercapainya ETN (Eliminasi Tetanus Neonatorum), artinya menurunkan kasus TN sampai tingkat 1 per 1000 kelahiran hidup dalam 1 tahun pada tahun 2008. d. Tercapainya RECAM (Reduksi Campak), artinya angka kesakitan campak turun pada tahun 2006. MANFAAT Pemberian imunisasi memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Untuk anak, bermanfaat mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit menular yang sering berjangkit; 2. Untuk keluarga, bermanfaat menghilangkan kecemasan serta biaya pengobatan jika anak sakit; 3. Untuk negara, bermanfaat memperbaiki derajat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara. Selain itu, imunisasi dapat menghemat biaya kesehatan. Dengan menurunkan angka kejadian penyakit, biaya kesehatan yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut pun akan berkurang (Depkes RI, 2001). SASARAN Sasaran program imunisasi yang meliputi sebagai berikut : 1. Mencakup bayi usia 0-1 tahun untuk mendapatkan vaksinasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis-B. 2. Mencakup ibu hamil dan wanita usia subur dan calon pengantin (catin) untuk mendapatkan imunisasi TT. 3. Mencakup anak-anak SD (Sekolah Dasar) kelas 1, untuk mendapatkan imunisasi DPT. 4. Mencakup anak-anak SD (Sekolah Dasar) kelas II s/d kelas VI untuk mendapatkan imunisasi TT (dimulai tahun 2001 s/d tahun 2003), anak-anak SD kelas II dan kelas III mendapatkan vaksinasi TT (Depkes RI, 2005).

B. JENIS PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI YANG TERMASUK IMUNISASI DASAR Imunisasi Polio Penyakit polio atau poliomielitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Penyakit ini menyerang susunan saraf pusat dan dapat menyebabkan kelumpuhan.21,22 Masa inkubasi virus biasanya 8-12 hari, tetapi dapat juga berkisar dari 5-35 hari. Sekitar 90-95% kasus infeksi polio tidak menimbulkan gejala ataupun kelainan. Saat ini terdapat 2 jenis vaksin polio yaitu oral polio vaccine (OPV) dan inactivated polio vaccine (IPV). Vaksin polio oral (OPV) berisi virus polio hidup tipe 1, 2, dan 3 yang dilemahkan (attenuated). Vaksin ini merupakan jenis vaksin polio yang digunakan secara rutin. Virus dalam vaksin akan masuk ke saluran pencernaan, kemudian ke darah.18 Virus akan memicu pembentukan antibodi sirkulasi maupun antibodi lokal di epitel usus. Vaksin polio inaktif (IPV) berisi virus polio tipe 1, 2, dan 3 yang diinaktivasi dengan formaldehid. Dalam vaksin ini juga terdapat neomisin, streptomisin, dan polimiksin B. Vaksin diberikan dengan cara suntikan subkutan. Vaksin akan memberikan imunitas jangka panjang (mukosa maupun humoral) terhadap 3 tipe virus polio, namun imunitas mukosa yang ditimbulkan lebih rendah dari vaksin polio oral. Di Indonesia, vaksin polio yang digunakan adalah vaksin polio oral (OPV). Menurut rekomendasi IDAI, vaksin polio diberikan sebanyak 6 kali: saat bayi dipulangkan dari rumah sakit atau pada kunjungan pertama (polio-0), pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 18 bulan, 5 tahun dan 12 tahun. Efek samping dari vaksin atau yang biasa dikenal dengan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) polio antara lain pusing, diare ringan, dan nyeri otot. Efek samping yang paling ditakutkan ialah vaccine associated polio paralytic (VAPP). VAPP terjadi pada kira-kira 1 kasus per 1 juta dosis pertama penggunaan OPV dan setiap 2,5 juta dosis OPV lengkap yang diberikan. Pada pemberian OPV, virus akan bereplikasi pada usus manusia. Pada saat replikasi tersebut, dapat terjadi mutasi sehingga virus yang sudah dilemahkan kembali menjadi neurovirulen dan dapat menyebabkan lumpuh layu akut. Indikasi kontra pemberian vaksin polio antara lain anak dalam keadaan penyakit akut, demam (> 38oC), muntah atau diare berat, sedang dalam pengobatan imunosupresi oral maupun suntikan termasuk pengobatan radiasi umum, memiliki keganasan yang berhubungan dengan

retikuloendotelial dan yang mekanisme imunologisnya terganggu, infeksi HIV, dan hipersensitif terhadap antibiotik dalam vaksin. Anak yang kontak dengan saudara atau anggota keluarga dengan imunosupresi juga tidak boleh diberikan vaksinasi polio.

Imunisasi Hepatitis B Hepatitis merupakan penyakit peradangan pada hati. Penyebabnya bermacam-macam, salah satunya adalah virus hepatitis B yang menyebabkan penyakit hepatitis B. Hepatitis B umumnya asimptomatik, namun seringkali menjadi kronis.25 Infeksi hepatitis B juga dapat menimbulkan kanker serta sirosis hati. Penyakit ini ditularkan melalui darah ( blood-borne transmission), misalnya akibat pemakaian jarum suntik yang bergantian, mendapatkan transfusi darah dari penderita hepatitis B, atau melalui mikrolesi pada saat hubungan seksual. Selain itu, ibu yang menderita hepatitis B dapat menularkan infeksi kepada bayinya pada saat proses persalinan. Untuk itu, perlu diberikan vaksin hepatitis B dalam waktu kurang dari 24 jam sejak lahir. Sekitar 30% populasi dunia secara serologis menunjukkan positif gejala hepatitis B. Dari jumlah tersebut diperkirakan 350 juta orang mengalami hepatitis B kronik, 500 750 ribu akan meninggal karena sirosis hati dan atau berkembang menjadi kanker hati.26 Sampai saat ini terapi untuk hepatitis B masih kurang memuaskan sehingga upaya pencegahan, terutama melalui imunisasi, sangat diperlukan. Vaksin hepatitis B telah dikenal sejak tahun 1982. Vaksin ini mengandung 30 HBsAg (antigen virus hepatitis B).23 Imunisasi hepatitis B untuk balita diberikan sebanyak 3 kali, yaitu segera setelah lahir, usia 1 bulan, dan diantara usia 3-6 bulan. Pemerintah Indonesia menyediakan vaksin hepatitis B secara gratis bagi bayi yang baru lahir. Oleh sebab itu, bayi yang lahir di rumah harus memberitahu fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar secepatnya mendapatkan vaksin hepatitis B. Imunisasi hepatitis B dilakukan dengan menyuntikkan vaksin di paha secara intramuskular dalam. Kejadian ikutan pasca imunisasi hepatitis B (efek samping) biasanya berupa reaksi lokal yang ringan dan segera menghilang. Kadang-kadang dapat timbul demam ringan untuk 1-2 hari.22 Vaksin hepatitis B dikenal aman dan efektif. Efektivitas vaksin mencapai 90-95% dalam mencegah timbulnya penyakit hepatitis B. Pertahanan akan bertahan sampai minimal 12 tahun setelah imunisasi. Sampai saat ini tidak ada indikasi kontra absolut pemberian vaksin hepatitis B. Kehamilan dan laktasi bukan indikasi kontra imunisasi hepatitis B. Imunisasi BCG Tuberkulosis merupakan penyakit yang sudah muncul sejak bertahun-tahun yang lalu. Penyebabnya adalah Mycobacterium tuberculosis.27 Pemberian BCG merupakan salah satu upaya pencegahan terhadap penyakit ini. Bacille Calmette-Guerin (BCG) adalah vaksin galur Mycobacterium bovis yang dilemahkan, sehingga didapat basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas. Vaksin BCG pertama kali digunakan pada tahun 1921 dan merupakan salah satu vaksin yang penggunaannya paling luas. Rata-rata sekitar 80% bayi dan anak-anak di negara yang

menggalakkan imunisasi akan mendapatkan vaksin ini. Selain sebagai upaya pencegahan infeksi primer penyakit tuberkulosis, vaksin BCG ini sebenarnya diberikan untuk menurunkan resiko tuberkulosis berat seperti tuberkulosis meningitis dan tuberkulosis milier. Vaksin BCG biasa diberikan pada umur 2 bulan. Namun, dapat juga diberikan pada umur 012 bulan untuk mendapat cakupan imunisasi yang lebih luas. Vaksin BCG sebaiknya diberikan pada anak dengan tes mantoux negatif. Vaksin ini diberikan pada daerah deltoid kanan sehingga apabila terjadi limfadenitis (aksila) mudah terdeteksi. Untuk menjaga kualitasnya, vaksin ini harus disimpan pada suhu 2-8 derajat celcius dan tidak boleh terkena matahari. Efek proteksi dari BCG timbul 8-12 minggu setelah penyuntikan dengan presentasi proteksi bervariasi. BCG ulangan tidak dianjurkan oleh karena manfaatnya diragukan mengingat efektivitas perlindungan hanya 40%, 70% kasus TB berat ternyata mempunyai parut BCG, kasus dewasa dengan BTA+ di Indonesia cukup tinggi walaupun sudah mendapat pada masa anak-anak. Efek samping penyuntikan BCG secara intradermal akan menimbulkan ulkus lokal yang superfisial 3 minggu setelah penyuntikan. Ulkus yang pada akhirnya akan meninggalkan parut dengan diameter 4-8mm akan sembuh dalam waktu 2-3 bulan. Ukuran ulkus yang terbentuk tergantung pada dosis yang diberikan. Komplikasi yang sering terjadi antara lain eritema nodosum, iritis, lupus vulgaris, dan osteomielitis. Indikasi kontra pemberian vaksin BCG antara lain reaksi uji tuberkulin >5mm, sedang menderita infeksi HIV atau dengan resiko tinggi infeksi HIV, imunokompromais akibat kortikostroid, gizi buruk, sedang menderita demam tinggi, menderita infeksi kulit yang luas, pernah sakit TB, dan kehamilan. Imunisasi DTP Vaksin DTP mengandung toksoid difteri, toksoid tetanus dan vaksin pertusis. Dengan demikian vaksin ini memberi perlindungan terhadap 3 penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertusis, dan tetanus. Penyakit difteri dan tetanus disebabkan oleh toksin dari bakteri. Oleh karena itu, dalam upaya pencegahannya (imunisasi) hanya diberikan toksoid yaitu toksin bakteri yang dimodifikasi sehingga tidak bersifat toksik namun dapat menstimulasi pembentukan anti-toksin. Sementara penyakit pertusis, walaupun juga melibatkan toksin dalam patogenesisnya, memiliki antigen-antigen lain yang berperan dalam timbulnya gejala penyakit, sehingga upaya pencegahannya diberikan dalam bentuk vaksin.

Difteri merupakan suatu penyakit akut yang disebabkan oleh toksin dari kuman Corynebacterium diphteriae. Anak dapat terinfeksi kuman difteria pada nasofaringnya. Gejala yang timbul antara lain sakit tenggorokan dan demam.Kemudian akan timbul kelemahan dan sesak napas akibat obstruksi pada saluran napas, sehingga perlu dilakukan intubasi atau trakeotomi.31 Dapat pula timbul komplikasi berupa miokarditis, neuritis, trombositopenia, dan proteinuria. Pertusis atau batuk rejan (batuk seratus hari) disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Sebelum ditemukannya vaksin pertusis, penyakit ini merupakan penyakit tersering yang menyerang anak-anak dan merupakan penyebab utama kematian. Kuman Bordetella pertussis akan menghasilkan beberapa antigen, yaitu toksin pertusis, filamen hemaglutinin, aglutinogen fimbriae, adenil siklase, endotoksin, dan sitotoksin trakea. Gejala utama pada pertusis yaitu terjadinya batuk paroksismal tanpa inspirasi yang diakhiri dengan bunyi whoop. Serangan batuk sedemikian berat sehingga dapat menyebabkan pasien muntah, sianosis, lemas, dan kejang. Tetanus merupakan penyakit akut yang disebabkan toksin dari bakteri Clostridium tetani. Seseorang dapat terinfeksi tetanus apabila terdapat luka yang memungkinkan bakteri ini hidup di sekitar luka tersebut dan memproduksi toksinnya. Toksin tersebut selanjutnya akan menempel pada saraf di sekitar daerah luka dan mempengaruhi pelepasan neurotransmitter inhibitor yang berakibat kontraksi serta spastisitas otot yang tidak terkontrol, kejang-kejang, dan gangguan saraf otonom.25 Kematian dapat terjadi akibat gangguan pada mekanisme pernapasan. Vaksin DTP dibedakan menjadi 2, yaitu DTwP dan DtaP berdasarkan perbedaan pada vaksin tetanus. DTwP (Difteri Tetanus whole cell Pertusis) mengandung suspensi kuman B. pertussis yang telah mati, sedangkan DtaP (Difteri Tetanus acellular Pertusis) tidak mengandung seluruh komponen kuman B. Pertussis, melainkan hanya beberapa komponen yang berguna dalam patogenesis dan memicu pembentukan antibodi. Vaksin DTaP mempunyai efek samping yang lebih ringan dibandingkan vaksin DTwP. Vaksin DTP diberikan saat anak berumur 2, 4, dan 6 bulan. Setelah itu, dapat dilanjutkan dengan pemberian vaksin kembali saat anak berumur 18 bulan, 5 tahun dan 12 tahun.21 Dua hal yang diyakini sebagai indikasi kontra mutlak pemberian vaksin pertusis, baik whole-cell maupun aseluler, adalah riwayat anafilaksis pada pemberian vaksin sebelumnya dan ensefalopati sesudah pemberian vaksin pertusis sebelumnya. Kejadian ikutan pasca imunisasi DTP dapat berupa reaksi lokal kemerahan, bengkak, nyeri pada tempat injeksi, ataupun demam. Kejadian ikutan yang paling serius adalah terjadinya ensefalopati akut atau reaksi anafilaksis dan terbukti disebabkan oleh pemberian vaksin pertusis.

Campak Campak merupakan penyakit menular dan bersifat akut yang disebabkan oleh virus campak.33 Penyakit ini menular lewat udara melalui sistem pernafasan dan biasanya virus tersebut akan berkembang biak pada sel-sel di bagian belakang kerongkongan maupun pada sel di paru-paru dan menyebabkan gejala-gejala seperti demam, malaise, kemerahan pada mata, radang saluran nafas bagian atas, serta timbul bintik kemerahan yang dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian berangsur-angsur menyebar di daerah wajah, leher, tangan, dan seluruh badan.34,35 Cara penularan penyakit ini dapat melalui droplet penderita campak pada stadium awal yang mengandung paramyxovirus dan kontak langsung denganpenderita maupun benda-benda yang terkontaminasi paramyxovirus. Untuk mencegah tertular penyakit campak, seseorang perlu diberikan vaksin campak, yang sebenarnya adalah strain dari virus campak yang telah dilemahkan. Vaksin campak mulai digunakan pada tahun 1963 dan dikembangkan lagi pada tahun 1968. Kombinasi vaksin campak-gondonganrubella (measles-mumps-rubella, MMR) mulai diterapkan pada tahun 1971, dan pada tahun 2005 telah dikembangkan lagi kombinasi vaksin campak-gondongan-rubella-varicella (MMRV). Pemberian vaksin campak dianjurkan 2 kali untuk mengurangi kemungkinan terkena campak, pemberian pertama memberikan 95-98% imunitas terhadap campak dan diberikan pada umur 12-15 bulan. Pemberian kedua memberikan 99% imunitas terhadap campak, dan dapat diberikan kapan saja asalkan berjarak lebih dari 4 minggu dari pemberian pertama. Pada anak-anak biasanya diberikan saat anak berumur 4-6 tahun. Imunisasi campak dilakukan dengan menggunakan alat suntik sekali pakai untuk menghindari penularan penyakit seperti HIV/AIDS dan Hepatitis B, dengan cara disuntikkan secara subkutan maupun intramuskular. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) yang dapat terjadi setelah pemberian vaksin campak antara lain demam >39,5oC, ruam, ensefalitis, dan ensefalopati pasca imunisasi. Reaksi KIPI ini telah menurun sejak digunakannya vaksin campak yang dilemahkan. Vaksin campak tidak boleh diberikan pada orang yang sedang mengalami demam tinggi, dalam pengobatan imunosupresi, hamil, memiliki riwayat alergi, sedang dalam pengobatan dengan imunoglobulin atau bahan-bahan komponen darah.

PEDOMAN PEMBERIAN IMUNISASI Umur yang tepat untuk mendapatkan imunisasi adalah sebelum bayi mendapat infeksi dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, berilah imunisasi sedini mungkin segera setelah bayi lahir dan usahakan melengkapi imunisasi sebelum bayi berumur 1 tahun. Khusus untuk campak, dimulai segera setelah anak berumur 9 bulan. Pada umur kurang dari 9 bulan, kemungkinan besar pembentukan zat kekebalan tubuh anak dihambat karena masih adanya zat kekebalan yang berasal dari darah ibu (Satgas IDAI, 2008). Urutan pemberian jenis imunisasi, berapa kali harus diberikan serta jumlah dosis yang dipakai juga sudah ditentukan sesuai dengan kebutuhan tubuh bayi. Untuk jenis imunisasi yang harus diberikan lebih dari sekali juga harus diperhatikan rentang waktu antara satu pemberian dengan pemberian berikutnya. TABEL JADWAL PEMBERIAN IMUNISASI

YANG TERMASUK IMUNISASI REKOMENDASI HIB (H.INFLUIENZAE TIPE B) Vaksin conjugate H.influenzae tipe b yang beredar pertama, PRP-T (polyribosyribitoltetanus) yaitu Act Hib (Aventis Pasteur). Kedua, PRP-OMPC (PRPouter membrane protein complex) yaitu Pedvax Hib (MSD). Imunisasi dasar untuk Act Hib diberikan pada umur 2,4, dan 6 bulan; sedangkan Pedvax Hib diberikan pada umru 2 dan 4 bulan, dosis ketiga (6 bulan) tidak diperlukan. Ulangan vaksin Hib diberikan pada umur 18 bulan. Apabila anak datang pada umur 1-5 tahun, vaksin Hib hanya diberikan 1 kali. Satu dosis vaksin Hib berisi 0,5 ml, diberikan secara intramuskular.

HEPATITIS A Imunisasi pasif dilakukan dengan memberikan imunoglobulin (human normal

imunoglobulin). Diberikan sebagai pencegahan segera setelah kontak atau pencegahan sebelum kontak, bagi mereka yang akakn berpergian ke daerah endemis. Dosis yang dianjurkan 0,02 ml/kgBB, diberikan dalam kurun waktu tidak lebih dari satu minggu setelah kontak. Bagi calon pengunjung daerah endemis, dianjurkan: Dosis: 0,02 ml/kgBB, pda kunjungan singkat kurang dari 2 bulan. Dosis: 0,08 ml/kgBB, pada kunjungan lebih dari 4 bulan. VARISELA Data prevalensi kasus varisela di negara tropis berbeda denga sub tropis. Dampak penyakit pada orang dewasa lebih berat daripada anak, apabila terjadi pada masa kehamilan dapat mengakibatkan bayi menderita sindrom varisela kongenital dengan kecacatan dan kematian yang tinggi. Apabila dinilai efektivitas vaksin varisella tidak diragukan lagi, namun sampai saat ini cakupan imunisasi belum luas oleh karena harganya yang masih mahal. Penelitian mengenai lama perlindungan vaksin varisela baru 10 tahun sehingga belum diketahui apakah suntikan satu kali dapat melindungi kehamilan di masa dewasa. Berdasarkan peretimbangan tersebut maka IDAI merekomendasikan agar imunisasi varisela diberikan pada anak umur 10-12 tahun yang belum terpajan. Vaksin yang telah beredar adalah Vaarilrix (Glaxo Smith Kline), dosis 0,5 ml, subkutan, satu kali pemberian. Namun apabila dikehendaki oleh orang tua, vaksin dapat diberikan setelah umur >1 tahun dan diulang 10 tahun kemudian untuk melindungi varisela dewasa. Apabila diberikan pada umur >13 tahun maka imunisasi diberikan 2 kali dengan jarak 4-8 minggu. TT PADA IBU HAMIL Pelaksanaan kegiatan imunisasi TT ibu hamil terdiri dari kegiatan imunisasi rutin dan kegiatan tambahan. Kegiatan imunisasi rutin adalah kegiatan imunisasi yang secara rutin dan terusmenerus harus dilaksanakan pada periode waktu yang telah ditetapkan, yang pelaksanaannya dilakukan di dalam gedung (komponen statis) seperti puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit, rumah bersalin dan di luar gedung seperti posyandu atau melalui kunjungan rumah. Kegiatan imunisasi tambahan adalah kegiatan imunisasi yang dilakukan atas dasar ditemukannya masalah dari hasil pemantauan atau evaluasi.

Jadwal imunisasi ibu hamil: 1. Bila ibu hamil sewaktu caten (calon penganten) sudah mendapat TT sebanyak 2 kali, maka kehamilan pertama cukup mendapat TT 1 kali, dicatat sebagai TT ulang dan pada kehamilan berikutnya cukup mendapat TT 1 kali saja yang dicatat sebagai TT ulang juga. 2. Bila ibu hamil sewaktu caten (calon penganten) atau hamil sebelumnya baru mendapat TT 1 kali, maka perlu diberi TT 2 kali selama kehamilan ini dan kehamilan berikutnya cukup diberikan TT 1 kali sebagai TT ulang. 3. Bila ibu hamil sudah pernah mendapat TT 2 kali pada kehamilan sebelumnya, cukup mendapat TT 1 kali dan dicatat sebagai TT ulang.

SYARAT IMUNISASI Ada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya bagi anak, yang pencegahannya dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi dalam bentuk vaksin. Dapat dipahami bahwa imunisasi hanya dilakukan pada tubuh yang sehat. Berikut ini keadaaan yang tidak boleh memperoleh imunisasi yaitu : anak sakit keras, keadaan fisik lemah, dalam rasa tunas suatu penyakit, sedang mendapat pengobatan dengan sediaan kortikosteroid atau obat immunosupresif lainnya (terutama vaksin hidup) karena tubuh mempu membentuk zat anti yang cukup banyak. Menurut Depkes RI (2005), dalam pemberian imunisasi ada syarat yang harus diperhatikan yaitu : diberikan pada bayi atau anak yang sehat, vaksin yang diberikan harus baik, disimpan di lemari es dan belum lewat masa berlakunya, pemberian imunisasi dengan teknik yang tepat, mengetahui jadwal imunisasi dengan melihat umur dan jenis imunisasi yang telah diterima, meneliti jenis vaksin yang diberikan, memberikan dosis yang akan diberikan, mencatat nomor batch pada buku anak atau kartu imunisasi serta memberikan informed concent kepada orang tua atau keluarga sebelum melakukan tindakan imunisasi yang sebelumnya telah dijelaskan kepada orang tuanya tentang manfaat dan efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang dapat timbul setelah pemberian imunisasi.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELENGKAPAN IMUNISASI Banyak faktor yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi, antara lain: a. Motivasi Motivasi adalah suatu tenaga atau faktor yang terdapat di dalam diri manusia, yang menimbulkan, menggerakkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya. Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan secara sadar dan tidak sadar membuat orang berperilaku untuk mencapai tujuan yang sesuai kebutuhannya. Diharapkan dengan motivasi yang besar untuk melengkapi imunisasi

dasar bagi bayinya, segala penyakit dapat dicegah sedini mungkin dan kesehatan bayi dapat terpenuhi. b. Letak geografis Daerah yang tersedia sarana transportasi berbeda dengan mereka yang hidup terpencil. Kemudahan tempat yang strategis dan sarana transportasi yang lengkap akan mempercepat pelayanan kesehatan. C. Lingkungan Lingkungan adalah segala objek baik berupa benda hidup atau tidak hidup yang ada di sekitar dimana orang berada. Dalam hal ini lingkungan sangat berperan dalam kepatuhan untuk melengkapi imunisai dimana apabila lingkungan mendukung secara otomatis ibu akan patuh untuk melengkapi imunisasi pada anaknya. d. Sosial ekonomi Sosial ekonomi merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. Keadaan ekonomi keluarga yang baik diharapkan mampu mencukupi dan menyediakan fasilitas serta kebutuhan untuk keluarga, sehingga seseorang dengan tingkat sosial ekonomi tinggi akan berbeda dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Keluarga dengan tingkat sosial ekonomi tinggi akan mengusahakan terpenuhinya imunisasi yang lengkap pada bayi. e. Pengalaman Stress adalah salah satu bentuk trauma, merupakan penyebab kerentanan seseorang terhadap suatu penyakit infeksi tertentu. Pengalaman merupakan salah satu faktor dari dalam diri manusia yang sangat menentukan terhadap penerimaan rangsang pada proses persepsi berlangsung. Orang yang mempunyai pengalaman akan selalu lebih pandai dalam menyikapi segala hal dari pada mereka yang sama sekali tidak mempunyai pengalaman. f. Fasilitas kesehatan Fasilitas kesehatan merupakan suatu prasarana dalam hal pelayanan kesehatan. Apabila fasilitas baik akan mempengaruhi tingkat kesehatan yang ada, ini terbukti seseorang yang memanfaatkan fasilitas kesehatan secara baik maka akan mempunyai taraf kesehatan yang tinggi. g. Pengetahuan Pengetahuan merupakan seluruh kemampuan individu untuk berfikir secara terarah dan efektif, sehingga orang yang mempunyai pengetahuan tinggi akan mudah menyerap informasi, saran dan nasihat. h. Pendidikan Pendidikan merupakan proses kegiatan pada dasarnya melibatkan tingkah laku individu maupun kelompok. Inti kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar

mengajar adalah terbentuknya seperangkat tingkah laku, kegiatan dan aktivitas. Dengan belajar baik secara formal maupun informal, manusia akan mempunyai pengetahuan, dengan pengetahuan yang diperoleh seseorang akan mengetahui manfaat dari saran atau nasihat sehingga akan termotivasi untuk meningkatkan status kesehatan. Pendidikan yang tinggi terutama ibu akan memberikan gambaran akan pentingnya menjaga kesehatan terutama bagi bayinya.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PROGRAM IMUNISASI Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program imunisasi adalah sebagai berikut: 1. Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan Hidup sehat adalah hak asasi rakyat sehingga dalam pemenuhan hak asasi rakyat sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan sarana kesehatan. Saat ini, rumah sakit pemerintah maupun swasta di provinsi dan kabupaten telah banyak dibangun. Puskesmas, sebagai unit pelayanan kesehatan terdepan, sudah didirikan dan terus dikembangkan sampai suatu saat nanti terpenuhi rasio ideal puskesmas melayani 25.000 penduduk. Pemerintah juga bertanggung jawab untuk menyediakan tenaga kesehatan yang andal dan cukup, alat yang cukup dan sesuai dengan standar teknis, serta vaksin yang cukup. Selain itu masalah dana untuk menjamin keberlangsungan program-program kesehatan juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Pelayanan imunisasi, khususnya imunisasi dasar, dapat diperoleh di beberapa tempat, yaitu pusat pelayanan yang dimiliki oleh pemerintah, seperti puskesmas, posyandu, puskesmas pembantu, rumah sakit atau rumah bersalin. Pelayanan di luar gedung yang diselenggarakan oleh pemerintah misalnya pada saat diselenggarakan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah, Pekan Imunisasi Nasional (PIN), atau melalui kunjungan dari rumah ke rumah. 2. Daya jangkau program Program kesehatan harus terjangkau oleh masyarakat, baik dari segi dana yang murah, bahkan kalau bisa gratis, tempat yang mudah dijangkau, dan informasi mengenai program tersebut sampai kepada masyarakat. Tempat tinggal penduduk yang tidak berkumpul dalam suatu daerah yang sama, atau bisa dikatakan tersebar dalam wilayah yang luas, menyebabkan timbulnya kesulitan untuk tercapainya cakupan progam imunisasi secara penuh.

3. Pengetahuan masyarakat tentang imunisasi Tidak dapat dipungkiri pengetahuan masyarakat berpengaruh terhadap keberhasilan program imunisasi. Pengetahuan yang minim membuat kesadaran masyarakat untuk ikut serta dalam program imunisasi juga minim. Oleh karena itu, diperlukan penyuluhan dan promosi kesehatan yang cukup. 4. Pendidikan Tingkat pendidikan masyarakat Indonesia saat ini semakin membaik, sehingga masyarakat Indonesia sudah mampu menyaring dan menyerap informasi yang diberikan dengan baik. Masyarakat juga menjadi lebih mengerti maksud, tujuan, dan manfaat program-program kesehatan, khususnya imunisasi, sehingga mereka akan lebih terdorong untuk turut memberikan imunisasi pada anaknya. 5. Penerimaan masyarakat terhadap program kesehatan ( acceptability) Ada sebagian masyarakat yang secara etis, budaya, dan agama masih belum menerima suatu program termasuk imunisasi. Oleh sebab itu, usaha yang lebih giat perlu dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi persepsi tersebut, mengingat imunisasi sangat bermanfaat sebagai upaya perlindungan. Kesalahpahaman atau miskonsepsi mengenai imunisasi juga berpengaruh terhadap penerimaan masyarakat terhadap program imunisasi. Kesalahpahaman yang terutama menyebabkan masayarakat tidak berani mengimunisasi anaknya adalah anggapan bahwa imunisasi memiliki efek samping yang justru berbahaya bagi anak, bahkan dapat menyebabkan kematian pada anak. Akhirakhir ini beredar isu bahwa imunisasi dapat menyebabkan autisme pada anak. Dan dalam hal ini dibutuhkan informasi yang benar dan jelas mengenai setiap isu yang timbul di masyarakat, sehingga masyarakat dapat menerima program imunisasi dengan baik. 6. Mutu Program kesehatan yang diberikan kepada masyarakat luas, selayaknya sudah melalui uji coba, serta memenuhi persyaratan ilmiah dan medis. Penyimpanan dan distribusi vaksin butuh dikontrol secara serius untuk menghindari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Panjangnya rantai distribusi dan kualitas tempat penyimpanan berpeluang untuk merusak vaksin, yang pada akhirnya akan menurunkan mutu vaksin tersebut. 7. Perencanaan berbasis fakta (planning by evidence) Hal penting yang diperlukan untuk perencanaan kesehatan adalah data yang tersedia secara akurat dan up-to-date, baik menyangkut demografi (penduduk sasaran), perilaku masyarakat, lingkungan, dan keturunan (genetik).

Data kependudukan penting tersedia karena menyangkut penentuan sasaran pelayanan kesehatan seperti jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, vital statistic (kelahiran, kematian sekaligus penyebabnya). Idealnya data-data tersebut seharusnya tersedia jika peran/fungsi aparat desa/kelurahan/RT/RW dioptimalkan dalam registrasi kependudukan. Data lain yang terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan (perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, keturunan) berguna untuk menghitung indikator-indikator kesehatan, terutama indikator kinerja, yaitu standar pelayanan minimal. 8. Teknologi dan informasi Teknologi yang saat ini sudah berkembang pesat sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak. Media informasi, baik elektronik maupun cetak, memberikan secara luas dan rinci penemuan dan kemajuan dalam bidang kesehatan. Informasi yang diterima masyarakat akan menentukan kepercayaan masyarakat terhadap program-program kesehatan, termasuk imunisasi. 9. Sosial Pada daerah yang terisolir, peranan tokoh masyarakat seperti pemuka agama dan kepala desa mungkin dapat mempengaruhi tinggi rendahnya partisipasi masyarakat dalam mengikuti program-program kesehatan pemerintah seperti imunisasi. KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi. Tidak semua kejadian KIPI yang diduga itu benar. Sebagian besar ternyata tidak ada hubungannya dengan imunisasi. Oleh karena itu untuk menentukan KIPI diperlukan keterangan mengenai berapa besar frekuensi kejadian KIPI pada pemberian vaksin tertentu; bagaimana sifat kelainan tersebut, lokal atau sistemik; bagaimana derajat kesakitan resipien, apakah memerlukan perawatan, apakah menyebabkan cacat, atau menyebabkan kematian; apakah penyebab dapat dipastikan, diduga, atau tidak terbukti; dan akhirnya apakah dapat disimpulkan bahwa KIPI berhubungan dengan vaksin, kesalahan produksi, atau kesalahan pemberian.

Berdasarkan data yang diperoleh, maka KIPI dapat diklasifikasikan dalam: 1. Induksi vaksin (vaccine induced). Terjadinya KIPI disebabkan oleh karena faktor intrinsik vaksin terhadap individual resipien. Misalnya, seorang anak menderita poliomielitis setelah mendapat vaksin polio oral. 2. Provokasi vaksin (vaccine potentiated). Gejala klinis yang timbul dapat terjadi kapan saja, saat ini terjadi oleh karena provokasi vaksin. Contoh: Kejang demam pasca imunisasi yang terjadi pada anak yang mempunyai predisposisi kejang. 3. Kesalahan (pelaksanaan) program (programmatic errors). Gejala KIPI timbul sebagai akibat kesalahan pada teknik pembuatan dan pengadaan vaksin atau teknik cara pemberian. Contoh: terjadi indurasi pada bekas suntikan disebabkan vaksin yang seharusnya diberikan secara intramuskular diberikan secara subkutan. 4. Koinsidensi (coincidental). KIPI terjadi bersamaan dengan gejala penyakit lain yang sedang diderita. Contoh: Bayi yang menderita penyakit jantung bawaan mendadak sianosis setelah diimunisasi. WHO pada tahun 1991, melalui Expanded Programme of Immunisation (EPI) telah menganjurkan pelaporan KIPI oleh tiap negara. Untuk negara berkembang yang paling penting adalah bagaimana mengkontrol vaksin dan mengurangi programmatic errors, termasuk cara penggunaan alat suntik dengan baik, alat sekali pakai atau alat suntik auto-distruct, dan cara penyuntikan yang benar sehingga transmisi patogen melalui darah dapat dihindarkan. Ditekankan pula bahwa untuk memperkecil terjadinya KIPI, harus senantiasa diupayakan peningkatan ketelitian, pada pemberian imunisasi selama program imunisasi dilaksanakan.

Pada anak, KIPI yang paling serius adalah reaksi anafilaksis. Angka kejadian reaksi anafilaktoid diperkirakan 1 dalam 50.000 dosis DPT (whole cell pertussis), tetapi yang benar-benar anafilaksis hanya 1-3 kasus di antara 1 juta dosis. Anak besar dan dewasa lebih banyak mengalami sinkope, segera atau lambat. Episod hipotonik hiporesponsif juga tidak jarang terjadi, secara umum dapat terjadi 4-24 jam setelah imunisasi.

kasus tergolong berat, penderita harus segera dirawat untuk pemeriksaan lebih lanjut dan diberikan pengobatan segera. Evaluasi akan dilakukan oleh Pokja KIPI setelah menerima laporan. Pada kasus ringan tatalaksana dapat diselesaikan oleh Puskesmas dan Pokja KIPI hanya perlu diberikan laporan. Untuk kasus berat yang masih dirawat, sembuh dengan gejala sisa, atau kasus meninggal, diperlukan evaluasi ketat dan apabila diperlukan Pokja KIPI segera dilibatkan. Evaluasi akhir dan kesimpulan disampaikan kepada Kepala Puskesmas untuk perbaikan program yang akan datang.

Untuk mengurangi risiko timbulnya KIPI, harus diperhatikan apakah resipien termasuk dalam kelompok berisiko, yaitu: 1. Anak yang pernah mendapat reaksi vaksinasi yang tidak diinginkan harus segera dilaporkan kepada Pokja KIPI daerah untuk penanganan segera dan Pokja KIPI pusat dengan mempergunakan formulir pelaporan yang telah tersedia. 2. Bayi berat lahir rendah. Pada dasarnya jadwal imunisasi bayi kurang bulan sama dengan bayi cukup bulan. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada bayi kurang bulan adalah (1) titer imunitas pasif melalui transmisi maternal lebih rendah daripada bayi cukup bulan, (2) apabila berat badan bayi sangat kecil (<1000 gram), imunisasi ditunda dan diberikan apabila bayi telah mencapai berat 2000 gram atau bayi berumur 2 bulan, (3) imunisasi hepatitis B diberikan pada umur 2 bulan atau lebih, kecuali apabila diketahui ibu mengandung HbsAg, dan (4) apabila bayi masih dirawat setelah umur 2 bulan, maka vaksin polio diberikan secara suntikan (IPV) sehingga tidak menyebabkan penyebaran virus polio melalui tinja. 3. Pasien imunokompromais. Keadaan imunokompromais dapat terjadi sebagai akibat penyakit dasar atau sebagai akibat pengobatan (pengobatan kemoterapi, kortikosteroid jangka panjang). Vaksinasi dengan mempergunakan vaksin hidup merupakan indikasi kontra pada pasien imunokompromais. Imunisasi tetap diberikan pada pengobatan kortikosteroid dosis kecil dan dalam waktu pendek. Pada anak dengan pengobatan kortikosteroid sistemik dosis 2mg/kg berat badan/hari atau prednison 20 mg/hari selama 14 hari, maka imunisasi ditunda. Imunisasi dapat diberikan setelah 1 bulan pengobatan kortikosteroid dihentikan, atau 3 bulan setelah kemoterapi selesai. 4. Pada resipien yang mendapatkan human immunoglobulin, imunisasi virus hidup diberikan setelah 3 bulan pengobatan untuk menghindarkan hambatan pembentukan respons imun. C. STRATEGI PEMBERIAN IMUNISASI Untuk mencapai tujuan program imunisasi untuk bayi, maka disusunlah strategi untuk mencapai UCI (Universal Child Imunization) yang secara operasional dijabarkan sebagai terciptanya cakupan imunisasi lengkap untuk bayi minimal 80% diseluruh wilayah. Imunisasi yang dijadikan patokan adalah imunisasi BCG, DPT, Campak. dan Polio. PEKAN IMUNISASI NASIONAL Pekan Imunisasi Nasional (PIN) adalah Pekan dimana setiap balita termasuk bayi baru lahir yang bertempat tinggal di Indonesia diimunisasi dengan vaksin polio, tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi dilakukan 2 kali masing-masing 2 tetes dengan selang waktu satu bulan.

Pemberian imunisasi polio secara serentak terhadap semua sasaran akan mempercepat pemutusan siklus kehidupan virus polio liar. Tujuan Pekan Imunisasi Nasional ( PIN ) 2005 adalah : a. Memutus mata rantai penularan virus polio liar di seluruh wilayah Indonesia. b. Meningkatkan kekebalan anak balita di seluruh wilayah Indonesia terhadap virus polio liar. Sasaran: Semua Balita termasuk bayi baru lahir yang bertempat tinggal di seluruh wilayah Indonesia mendapat 2 tetes vaksin polio, secara serentak pada akhir bulan Agustus dan September 2005. Kebijakan Pekan Imunisasi Nasional: a. PIN merupakan Gerakan Nasional, dilaksanakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus polio liar di seluruh wilayah Indonesia tahun 2005. b. PIN merupakan tanggung jawab bersama masyarakat dan pemerintah c. Dalam pelaksanaan PIN pemerintah bekerja sama dengan swasta nasional, badan-badan internasional seperti WHO dan UNICEF dan lain-lain. Strategi Pekan Imunisasi Nasional : Dalam pelaksanaan PIN diupayakan adanya : a. Dukungan politis dari pemerintah pusat dan daerah. Peranan kabupaten/kota sangat menentukan keberhasilan PIN. b. Peran aktif sektor terkait termasuk swasta, LSM, masyarakat dalam persiapan, pelaksanaan , pemantauan dan evaluasi PIN. c. Pemasaran sosial yang efektif dalam rangka penyebarluasan informasi serta penggerakan masyarakat. d. Penggerakan sasaran oleh sektor-sektor terkait,PKK, tokoh masyarakat serta Lembaga Swadaya Masyarakat. e. Dukungan sumber daya dan teknologi dalam pelayanan imunisasi.

D. SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PROGRAM IMUNISASI Pencatatan dan pelaporan imunisasi adalah pencatatan dan pelaporan data program imunisasi, meliputi hasil cakupan imunisasi, data logistik, data inventaris peralatan imunisasi dan kasus diduga KIPI atau KIPI. Pencatatan dan pelaporan dalam manajemen program imunisasi memegang peranan penting dan sangat menentukan. Selain menunjang pelayanan imunisasi juga menjadi dasar untuk membuat perencanaan maupun evaluasi. Manfaat pencatatan dan pelaporan hasil imunisasi: a. Memantau hasil kegiatan dan mengambil tindakan koreksi secara cepat, terutama untuk tingkat puskesmas dan kabupaten/kota. b. Memantau distribusi serta efisiensi penggunaan logistik. c. Membuat analisis untuk perbaikan program dan perencanaan. d. Sebagai pertanggungjawaban akuntabilitas program. PENCATATAN Untuk masing-masing tingkat administrasi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Pelayanan Luar Gedung (Tingkat Desa) 1) Data Cakupan Imunisasi (a) Pelayanan imunisasi di luar gedung meliputi pelayanan imunisasi di rumah sakit, rumah bersalin, praktek dokter/bidan swasta, puskesmas pembantu, poskesdes, dan posyandu. (b) Petugas mengkompilasikan data sasaran ke dalam buku pencatatan hasil imunisasi bayi dan ibu. (c) Pencatatan hasil imunisasi untuk bayi (BCG, DPT-HB, Polio, Campak, Hepatitis B Uniject) dicatat oleh petugas imunisasi di buku kuning. Satu buku biasanya untuk 1 desa. Untuk masing-masing bayi, imunisasi yang diberikan pada hari itu dicatat juga di KMS bayi. (d) Pencatatan hasil imunisasi TT untuk WUS termasuk ibu hamil dan calon pengantin dicatat buku catatan imunisasi WUS. Untuk masing-masing ibu hamil dicatat di buku KIA/buku kohort ibu/KMS ibu hamil. (e) Untuk anak sekolah, imunisasi DT, campak atau TT yang diberikan, dicatat pada buku catatan khusus, 1 kopi diberikan kepada sekolah. Untuk masing-masing anak sekolah, diberikan kartu TT seumur hidup yang berisi catatan pemberian tetanus toxoid. Bila saat bayi terbukti pernah mendapat DPT, maka dimulai dari DPT2 dapat dicatat sebagai TT1 dan DPT3 sebagai TT2 pada kartu TT seumur hidup, sehingga pemberian DT/TT di sekolah dicatat sebagai TT3. Bila tidak terbukti pernah mendapat suntikan DPT maka DT dicatat sebagai TT1.

b. Pelayanan Dalam Gedung (Tingkat Puskesmas) 1) Data Cakupan Imunisasi (a) Di dalam gedung (di puskesmas), dilakukan pelayanan imunisasi untuk bayi dan WUS. Hasil kegiatan imunisasi di puskesmas dicatat di buku merah. (b) Untuk masing-masing bayi, imunisasi yang diberikan pada hari itu dicatat juga di KMS bayi. (c) Untuk WUS yang diimunisasi pada hari itu dicatat juga di kartu TT dan/atau KMS ibu hamil. (d) pada akhir bulan, hasil pelayanan imunisai di puskesmas direkapitulasi di Buku Rekapitulasi Hasil Imunisasi Rutin Puskesmas (buku biru). (e) Hasil imunisasi harus dipisahkan terhadap kelompok di luar umur sasaran dan sasaran dari luar wilayah. Pemisahan ini sebenarnya sudah dilakukan mulai saat pencatatan, supaya tidak mengacaukan perhitungan presentase cakupan. 2) Data Rekapitulasi Pelayanan Imunisai Dari Luar Gedung (a) Hasil imunisasi anak sekolah direkapitulasi di buku rekapitulasi hasil imunisasi anak sekolah. (b) Laporan hasil imunisasi dari rumah sakit, rumah bersalin, praktek dokter/bidan swasta, puskesmas pembantu, poskesdes, dan posyandu juga direkapitulasi di buku biru pada bulan yang sesuai. Pada akhir bulan, setelah hasil pelayanan imunisasi di luar dan di dalam gedung direkap menjadi satu di buku biru, setiap catatan dari buku biru ini dibuat rangkap dua. Lembar pertama dibawa/dikirim sebagai laporan ke kabupaten sewaktu mengambil vaksin/konsultasi sedangkan lembar kedua/kopi disimpan di puskesmas. Selanjutnya hasil cakupan imunisasi dianalisis dalam bentuk grafik pemantauan wilayah setempat (PWS). 3) Data Vaksin dan Logistik Lainnya (a) Masing-masing jenis vaksin dan logistik lainnya mempunyai buku stok tersendiri. Keluar masuknya vaksin dan logistik harus dicatat di dalam buku stok vaksin dan logistik. Sisa atau stok vaksin dan logistik lainnya harus selalu dihitung setiap kali penerimaan dan pengeluaran. Pencatatan di buku stok vaksin dan logistik harus terperinci seperti: jumlah, nomor batch dan Vaccine Vial Monitor (VVM) (vaksin), nomor lot (ADS), tanggal kadaluarsa. Setiap tiga bulan dilakukan pemeriksaan stok fisik dari vaksin dan logistik, kemudian dicatat hasil tersebut pada kolom penyesuaian di buku stok vaksin dan logistik. Surat Bukti Barang Keluar (SBBK) dibuat oleh kabupaten untuk mengeluarkan barang, puskesmas yang menerima barang harus mengarsipkannya. Vaccine Arrival Report (VAR) diisi oleh puskesmas saat vaksin tiba di puskesmas, dikirim kembali ke kabupaten, serta diarsipkan oleh puskesmas. (b) Untuk sarana cold chain (lemari es, freezer, vaccine carrier, cold box, dll) dicatat dalam

buku inventaris meliputi: jumlah, type, merk, kondisi dan nomor seri. Untuk peralatan habis pakai seperti ADS, safety box,dan spare part cukup dicatat jumlah dan jenisnya. 4) Data Suhu Lemari Es Temperatur lemari es, harus dicatat pada kartu pencatatan suhu lemari es, dua kali sehari yaitu pagi dan sore. Kartu suhu diletakkan di tempat yang mudah dilihat dekat lemari. PELAPORAN Pelaporan dilakukan oleh setiap unit yang melakukan kegiatan imunisasi, mulai dari posyandu, poskesdes, puskesmas pembantu, puskesmas, rumah sakit, unit pelayanan swasta (bidan/dokter praktek, rumah bersalin) kepada puskesmas. Pelaporan hasil imunisasi harus lengkap dan tepat waktu (lihat skema pelaporan di bawah ini). Pelaporan hasil imunisasi unit pelayanan swasta dan RS menggunakan format laporan hasil imunisasi rutin unit pelayanan yang berisi kolom asal desa sasaran dan format ini harus dilaporkan ke puskesmas di wilayah RS/RB tersebut setiap bulan.

Yang dilaporkan adalah: a. Cakupan imunisasi rutin dilaporkan setiap bulan dari puskesmas ke kabupaten/kota paling lambat tanggal 5, dari kabupaten ke provinsi paling lambat tanggal 10 dan dari provinsi ke subdit imunisasi (pusat) paling lambat tanggal 15. b. UCI desa dilaporkan dalam periode satu tahun (januari-desember). Pengiriman dari puskesmas ke kabupaten/kota pada mingggu I, dari kabupaten/kota ke provinsi pada minggu II dan dari provinsi

ke pusat (subdit imunisasi) minggu III bulan januari tahun berikutnya. c. Cakupan imunisasi dan pemakaian vaksin dan logistik kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dilaporkan pada minggu I dari puskesmas dari kabupaten/kota, minggu II dari kabupaten/kota ke provinsi dan minggu III dari provinsi ke pusat (subdit imunisasi) setelah bulan pelaksanaan. d. Laporan pemakaian vaksin dan logistik Pemakaian vaksin dan logistik dilaporkan setiap bulan bersama-sama dengan laporan cakupan imunisasi. e. Laporan keadaan rantai vaksin (lemari es, freezer, vacine carrier, cold box,dll) meliputi: jumlah, type, merek, kondisi dan nomor seri dilaporkan setiap tahun secara berjenjang. f. Kasus KIPI atau diduga KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Laporan kasus KIPI menggunakan format pelaporan KIPI. Bila dilakukan pelacakan dilengkapi dengan kronologis kejadian serta data yang lengkap seperti: riwayat perawatan (jalan/inap), prosedur pelaksanaan imunisasi, penanganan vaksin dan rantai vaksin, data vaksin, dan lain-lain. Laporan harus dibuat secepatnya, sehingga keputusan dapat segera diambil untuk melakukan tindakan atau pelacakan. Pada keadaan tertentu, laporan satu kasus KIPI dapat dilaporkan beberapa kali sampai ada kesimpulan akhir dari kasus.

DAFTAR PUSTAKA 1. Notoatmodjo, S. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Andi Offset. Yogyakarta, 1993. 2. Ranuh, I.G.N. Dasar-Dasar Imunisasi dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi pertama. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2001. 3. Rahajoe, N.N. et al. Tuberkulosis (Vaksin BCG) dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2005. 4. Hidayat, B. et Pujiarto, P.S. Hepatitis B dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2005. 5. Tumbelaka, A.R. et Hadinegoro, S.R.S. Difteria, Pertusis, Tetanus dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2005. 6. Suyitno, H. Poliomielitis dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2005. 7. Soegijanto, S. Campak dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2005. 8. Pasaribu, S. Campak, Gondongan, Rubela (MMR) dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta,2005. 9. Pusponegoro, H.D. Haemophilus influenza tipe b dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2005. 10. Rampengan, T.H. Demam Tifoid dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2005. 11. Hidajat, B. et Pujiarto, P.S. Hepatitis A dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2005. 12. Kartasasmita, C. Influenza dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2005. 13. Satari, H.I. Varisela dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2005. 14. Departemen Kesehatan R.I. Pedoman Kerja Puskesmas. Jilid 3. Departemen Kesehatan. Jakarta, 1992.