Anda di halaman 1dari 2

Penentuan jumlah cairan Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan tiga sampai empat kali jumlah

defisit intravaskuler. 1L cairan kristaloid akan meningkatkan volume intravaskuler 300ml. Kristaloid hanya sedikit meningkatkan cardiac outout dan memperbaiki transpor oksigen.6 Penatalaksanaan dalam 24 jam pertama Resusitasi syok menggunakan Ringer laktat atau Ringer asetat, menggunakan beberapa jalur intravena. Pemberian cairan pada syok atau kasus luka bakar >25-30% atau dijumpai keterlambatan >2jam. Dalam <4 jam pertama diberikan cairan kristaloid sebanyak 3[25%(70%x BBkg)] ml. 70% adalah volume total cairan tubuh, sedangkan 25% dari jumlah minimal kehilangan cairan tubuh yang dapat menimbulkan gejala klinik sindrom syok.3 Pada resusitasi cairan tanpa adanya syok atau kasus luka bakar luas <25-30%, tanpa atau dijumpai keterlambatan <2jam. Kebutuhan dihitung berdasarkan rumus Baxter: 3-4 ml/kgBB/ % luas LB.3 Metode Parkland merupakan metode resusitasi yang paling umum digunakan pada kasus luka bakar, menggunakan cairan kristaloid. Metode ini mengacu pada waktu iskemik sel tubulus ginjal < 8 jam sehingga lebih tepat diterapkan pada kasus luka bakar yang tidak terlalu luas dan tanpa keterlambatan.2,3,4

Pemberian cairan menurut formula Parkland adalah sebagai berikut: Pada 24 jam pertama : separuh jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi, anak, dan orang tua, kebutuhan cairan adalah 4 ml. Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4ml ditambah 1% dari kebutuhan. Bila dijumpai hipertermia, kebutuhan cairan ditambah 1% dari kebutuhan. Penggunaan zat vasoaktif (Dopamin atau Dobutamin) dengan dosis 3 mg/kgBB dengan titrasi atau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5%, jumlah teteasan dibagi rata dalam 24 jam. Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena sentral (minimal 612cmH2O) dan sirkulasi perifer (sirkulasi renal). Jumlah produksi urin melalui kateter, saat resusitasi (0,5-1ml/kgBB/jam) dan hari1-2 (1-2 ml/kgBB/jam). Jika produksi urin <0,5ml/kgBB/jam maka jumlah cairan ditingkatkan 50% dari jam

sebelumnya. Jika produksi urin >1ml/kgBB/jam maka jumlah cairan dikurangi 25% dari jam sebelumnya. Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat jenis dan sedimen) Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan kuantitas cairan lembung melalui pipa nasogastrik. Jika <200ml tidak ada gangguan pasase lambung, 200-400ml ada gangguan ringan, >400ml gangguan berat.10 Penatalaksanaan 24 jam kedua Pemberian cairan yang mengandung glukosa dan dibagi rata dalam 24 jam. Jenis cairan yang dapat diberikan adalah Glukosa 5% atau 10% 1500-2000ml. Batasi Ringer laktat karena dapat memperberat edema interstisial. Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena pusat dan jumlah produksi urin (12ml.kgBB/jam). Jika jumlah cairan sudah mencukupi namun produksi urin <1-2ml/kgBB/jam, berikan vasoaktif sampai 5mg/kgBB. Pemantauan analisa gas darah, elektrolit.10

Penatalaksanaan setelah 48 jam Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintenance Pemantauan sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4ml/kgBB/jam), hemoglobin dan hematokrit.10