Anda di halaman 1dari 26

BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFERAT DESEMBER 2013

OTITIS MEDIA PADA PENYAKIT IMUNODEFISIENSI

OLEH : Rismayanti. H Eka Utami Makmur C 111 08253 C111 09 291

PEMBIMBING : dr. Fatmawati Arsyad Said


BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

PENDAHULUAN
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid Pada imunodefisiensi dapat ditemukan adanya infeksi berulang terutama yang bersifat piogenik (Fried dan Bonilla, 2009). Keterlambatan diagnosis dan penanganan yang kurang tepat, dapat menyebabkan seriusnya morbiditas serius dan mempercepat mortalitas.

Adanya defisiensi imun harus dicurigai bila ditemukan adanya tanda-tanda peningkatan kerentanan terhadap infeksi rekuren, kronis, oportunistik dan respon buruk terhadap terapi dengan antibiotik. Otitis media dapat ditemukan baik pada imunodefisiensi primer maupun sekunder. Pada pasien dengan HIV infeksi pada telinga atau otitis dapat berupa otitis media serosa akut dan otitis media akut rekuren.

ANATOMI TELINGA
Telinga Luar

Telinga Tengah

Telinga Dalam

ANATOMI

ANATOMI TELINGA TENGAH

MEMBRAN TIMPANI

TUBA EUSTHACHIUS

FISIOLOGI PENDENGARAN
suara MAE
Membran timpani Tulang pendengaran

Membran Basal

Membran Reissner

Skala Vestibuli

Foramen Oval

Skala Timpani

Foramen Rotundum

Skala Media

FISIOLOGI PENDENGARAN

ETIOLOGI
Disfungsi Tuba Eusthacius

Immunodefisiensi

Otitis media

Infeksi Bakteri dan : S. Pneumoniae

H Influenzae S. Aureus, S. Pyogenes, B. catarrhalis

PATOFISIOLOGI
DEFISIENSI SEL IMUN Sel B PENYAKIT YANG MENYERTAI Infeksi bakteri rekuren seperti OTITIS MEDIA, Pneumonia Rekuren

Sel T

Kerentanan meningkat virus, jamur, dan protozoa

terhadap

Fagosit

Infeksi Sistemik oleh bakteri yang dalam keadaaan rendah, Infeksi bakteri piogenik Infeksi bakteri, autoimunitas

Komplemen

Imunodefisiensi

Disfungsi Tuba Eusthachius


Sekunder (Defisiensi Sel T)

Primer (Defisiensi Sel B)

X- Liinked Hypogamaglobuli nemia

HIV

-Hiperpasia Nasopharygeal Lymphoid -Sinusitis -Neoplasma Nasophayngeal -Alergi yang berhubungan dengan prubahan mukosa

OTITIS MEDIA

Proses Pembentukan sel plasma untuk memproduksi antibodi

Proses Antibodi bekerja untuk melawann antigen

GAMBARAN KLINIS

Otitis media supuratif akut


Anak:

Nyeri dalam telinga Suhu tinggi Riwayat batuk pilek Dewasa: Nyeri telinga Gangguan pendengaran Rasa penuh dalam telinga

Stadium OMSA
OKLUSI - Membran timpani normal / keruh / pucat - Efusi mungkin terjadi HIPEREMIS - tampak pembuluh darah melebar di membran timpani (hiperemis/udem) - Sekret eksudat

SUPURASI - Udem hebat pada mukosa telinga - Eksudat purulen di kavum timpani (bulging) - nyeri, nadi/suhu naik

PERFORASI - Ruptur pada membran timpani Keluar nanah dan mengalir ke liang telinga luar

RESOLUSI -Gejala mereda - tinitus, ggn pendengaran - membran timpani bisa normal / msh ada perforasi -Sekret (-)

Otitis media serosa


Penurunan

pendengaran Rasa tersumbat pada telinga Dispalcusis binauralis Tinitus Vertigo

Diagnosis
Gejala Klinis Pemeriksaan Otoskopi Tes Garpu Tala PTA mengetahui jenis dan derajat gangguan pendengaran Speeh audiometry BERA (untuk anak-anak) Pemeriksaan Darah dan pengukuran kuantitatif dari konsentrasi Ig serum Foto mastoid Kultur dan resistensi kuman

Penatalaksanaan
Immunodefisiensi Ig replacement Otitis Media Tergantung stadium stadium oklusi obat tetes hidung. HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik (anak < 12 tahun) atau HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk yang berumur diatas 12 tahun dan pada orang dewasa.

stadium presupurasi iantibiotika, obat tetes hidung dan analgetika.


antibiotik dianjurkan minimal selama 7 hari. Anak ampisilin 50-100 mg/kgbb per hari, dibagi dalam 4 dosis atau eritromisin 40 mg/kgbb/hari.

stadium supurasi selain diberikan antibiotik, idealnya harus disertai dengan miringotomi, bila membran timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala-gejala klinis lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari

stadium perforasi obat cuci telinga H2O2 3% selama 3 sampai 5 hari serta antibiotik yang adekuat. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.

Komplikasi
Komplikasi Otitis Media

Intratemporal

Ekstratemporal

Intrakranial

Ekstrakranial

Intratempora l Mastoiditis Gradenigos Syndrome Labirintitis


Paralisis Facialis

Abses Subperiosteal Abses


Ekstrakranial Abses Bezolds

Komplikasi Ekstratemporal

Meningitis

Abses Otak

Intrakranial

Abses Epidural

Trombosis Sinus

Otitis Hydrochepalus