Anda di halaman 1dari 5

Reformasi Pangan Indonesia : Upaya Pemberlakuan Diversifikasi Pangan dan Peningkatan Kesejahteraan Petani melalui Pengembangan Komoditas Strategis

Badan Urusan Logistik Demi Masa Depan Bangsa yang Sejahtera Ditulis oleh : Daneta Fildza Adany

Pangan merupakan hal yang sangat krusial terhadap kesejahteraan suatu bangsa, karena pangan adalah hal dasar dalam pemenuhan kebutuhan individu. Maka dapat dikatakan bahwa negara yang sejahtera adalah negara yang memiliki kedaulatan atas pangannya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kedaulatan berarti bahagia. Dimana kebahagiaan atas pangan dapat diterjemahkan menjadi suatu keadaan ketika negara tidak bergantung kepada siapapun, atau merdeka atas kebutuhan pangan bangsanya. Terdapat tujuh indikator untuk melihat apakah sebuah negara telah berdaulat. Indikator tersebut antara lain adalah: (1) Pembaruan Agraria; (2) Adanya hak akses rakyat terhadap pangan; (3) Penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan; (4) Pangan untuk pangan dan tidak sekadar komoditas yang diperdagangkan; (5) Pembatasan penguasaan pangan oleh korporasi; (6) Melarang penggunaan pangan sebagai senjata; (7) Pemberian akses ke petani kecil untuk perumusan kebijakan pertanian. Namun sayangnya, masalah pangan data ini hanya dianggap sebagai masalah perdagangan semata. Ketika negara ini diberkahi dengan kekayaan sumberdaya alam yang apabila dikelola dengan tepat dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan pangan rakyatnya, Kekurangan supply dipasaran justru ditanggapi pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan impor. Dalam perbandingan impor tahun 2010-2011 dengan impor tahun 2009-2010, terdapat peningkatan impor dalam kuantitas yang sangat memprihatinkan. Impor beras meningkat 141 persen, jagung 89 persen, dan kedelai 19 persen (USDA, Desember 2011). Impor gandum yang tahun sebelumnya sudah menembus angka di atas 5 juta ton, pada periode sekarang masih meningkat lagi dan mencapai 6,6 juta ton atau peningkatan sebesar 23 persen. Total impor biji-bijian,

termasuk tepung, untuk periode 2010/2011 mencapai 17,2 juta ton. Bukan hanya bahan pangan pokok yang mengalami peningkatan impor. Rak-rak supermarket di Indonesia 60-80 persen diisi buah-buahan impor. Impor apel, anggur, pir, dan jeruk pada 2010/2011 meningkat masing-masing sebesar 37, 39, 44, dan 19 persen dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. Ironisnya, kenaikan impor ini tidak dibarengi dengan pembenahan sarana dan prasarana agraria. Dalam hal pengelolaan pengairan misalnya, hanya 10 persen air irigasi yang bisa dikendalikan, 50 persen jaringan irigasi strategis nasional di Pulau Jawa rusak, dan 27 persen seluruh jaringan irigasi nasional perlu rehabilitasi ringan hingga berat (DA Santosa, Waspadai Pangan 2012, Kompas, 11 November 2011). Lahan pertanian merupakan persoalan besar lainnya. Dengan luas lahan pertanian pangan yang hanya 358 meter persegi per kapita untuk sawah atau 451 meter persegi jika digabungkan juga dengan lahan kering, upaya dan terobosan apa pun untuk peningkatan produksi akan mengalami jalan buntu. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya konversi lahan pertanian ke non-pertanian. Angkanya 100.000 hingga 110.000 per hektar per tahun. Padahal, lahan-lahan pertanian itu sebetulnya sudah dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Maka sebelum kondisi pangan bangsa semakin memburuk, diperlukan adanya reformasi pangan sebagai salah satu upaya pengembalian kedaulatan bangsa ini atas pangannya. Reformasi pangan akan dijabarkan melalui dua aksi, yang pertama adalah pemberlakuan diverifikasi pangan dan peningkatan kesejahteraan petani melalui pengembangan komoditas strategis kekuasaan BULOG. Diharapkan kedua hal ini dapat meningkatkan kedaulatan pangan sebagai suatu perwujudan untuk menciptakan Indonesia yang sejahtera.

Pemberlakuan Diverifikasi Pangan untuk Mengurangi Kebutuhan Impor Indonesia Salah satu penyebab banyaknya impor Indonesia adalah karena kurangnya diverifikasi pangan bangsa. Beberapa tahun silam anggapan ini hanya ada pada pulau jawa yang memang tanahnya merupakan penghasil beras, sementara masyarakat Indonesia timur yang tipografi tanahnya lebih cocok ditanami jagung dan sagu hidup dengan makanan pokok kedua jenis pangan tersebut. Namun seiring dengan sosialisasi pemerintah pada masa Orde Baru terkait dengan swasembada pangan yang berkomoditas utama beras, masyarakat Indonesia Timur ikut serta mengalihkan pangan pokok mereka menjadi beras. Maka terjadi peningkatan konsumsi beras secara nasional. Peningkatan konsumsi beras tersebut dibarengi dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia. Sebagaimana dijabarkan menurut teori dari Thomas Malthus mengenai diminishing returns, pola pertambahan penduduk mengikuti deret ukur sementara pola pertambahan pangan mengikuti deret hitung. Teori tersebut menunjukkan bahwa ada kecenderungan percepatan pertambahan penduduk mengalahkan percepatan pertambahan pangan, sehingga kebutuhan pangan akan menjadi lebih banyak dari supply pangan pada suatu periode tertentu. Namun bukan berarti kondisi tersebut adalah mutlak. Asumsi Thomas Malthus tersebut dapat ditiadakan dengan memasukkan faktor perkembangan sosial yang terjadi di masyarakat. Faktor perkembangan tersebut mencakup teknologi dan pembaharuan pola sosial. Maka kemerataan pangan dapat diberlakukan dengan adanya perubahan pola sosial dimasyarakat. Perubahan pola sosial yang dimaksud tentunya berkaitan dengan perubahan pola konsumsi pangan masyarakat. Pola yang semula terpusat pada beras perlu dipecah dengan barang substitusi beras, misalya kentang, ketela, sagu, jagung. Dimana barang substitusi tersebut sebenarnya tidak kalah bergizi, dan justru menurut uji laboratori lebih bergizi dan mengenyangkan ketika dibandingkan dengan beras.

Dukungan

Terhadap

Diverifikasi

Pangan

dan

Upaya

Peningkatan

Kesejathteraan Petani Melalui Pengembangan Komoditas Strategis Badan Urusan Logistik Pertanyaannya adalah, bagaimana diversifikasi ini dapat dijalankan ketika kewenangan Badan Urusan Logistik hanyalah pada komoditas beras semata. Badan Urusan Logistik, atau BULOG saat ini hanya dapat melakukan pengontrolan atas tata niaga beras saja. Dimana pengontrolan tersebut termasuk penjaminan kesejahteraan petani beras melalui pemberlakuan harga dasar pembelian gabah ketika keseimbangan pasar yang ada menjatuhkan harga beras sehingga merugikan petani beras. Adanya BULOG juga menghindarkan pemberlakuan tidak adil dari tengkulak beras, serta turut membantu usaha logistik/pergudangan, survei dan pemberantasan hama, penyediaan karung plastik, usaha angkutan, perdagangan komoditi pangan, usaha eceran dan keberadaan stok pangan. Diluar komoditas beras, tidak ada jaminan terhadap para petani terkait dengan komoditas yang mereka tanam. Ada kecenderungan komoditas diluar beras dipermainkan oleh kartel. Perkiraan kebutuhan konsumsi nasional dengan nilai potensi kartel bisa diperkirakan, kebutuhan daging sapi yang mencapai 340 ribu ton nilai kartelnya diperkirakan Rp340 milar, daging ayam 1,4 juta ton mencapai Rp1,4 triliun, gula 4,6 juta ton sebesar Rp4,6 triliun, kedelai 1,6 juta ton mencapai Rp1,6 triliun, dan jagung 2,2 juta ton mencapai Rp2,2 triliun (SINDO, September 2013)
.

Hali ini jelas merugikan bangsa, baik bagi

konsumen maupun bagi produsen. Utamanya bagi produsen, tidak adanya jaminan terhadap petani non-beras membuat mereka enggan untuk terus hidup dari bercocok tanam. Jumlah petani yang beralih profesi mencapai 1,75 persen pertahun, atau dalam sepuluh tahun terdapat penurunan sebesar 5,04 juta petani. Sebagian besar petani beralih profesi menjadi buruh dan mengkonversi lahan mereka menjadi lahan non pertanian (BPS, 2013). Untuk itu perlu adanya pengembangan kekuasaan BULOG atas komoditas pangan strategis bangsa dalam menyokong kedaulatan pangan. Pemerintah sendiri agaknya sudah menyadari hal ini, sehingga pada 2012 lalu ada wacana pengembangan komoditas strategis BULOG menjadi lima yaitu beras,

kedelai, jagung, daging sapi dan minyak goreng. Dalam pengembangan komoditas strategis ini diperlukan adanya revitalisasi dan pembaruan struktur BULOG dalam menjalankan tugas barunya. Sayangnya, wacana ini masih berhenti dalam batas ini. Menurut pengakuan Kepala Bulog Jawa Timur ketika bertemu dengan penulis dalam suatu kesempatan, upaya revitalisasi dan pembenahan struktur BULOG sampai saat ini belum dilakukan. Hal ini juga tercermin pada website resmi bulog dimana seluruh peraturan dan kebijakan masih berfokus pada beras semata. Sebab, wacana pemerintah belum menghasilkan suatu keputusan yang jelas. Untuk itu diperlukan adanya desakan kepada pemerintah untuk segera memutuskan pengembangan komoditas strategis BULOG tersebut. Pengembangan komoditas strategi BULOG tersebut setidaknya akan menyokong Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan menjadi negara yang sejahtera. Setidaknya pengembangan strategis BULOG dapat membantu upaya penurunan impor melalui diversifikasi pangan dimana BULOG dapat menjamin kehidupan petani non beras dalam persaingan harga produksi, serta distribusi, pergudangan, dan bantuan produksi berupa pemberantasan hama dan bantuan pupuk. Disisi lain hal ini juga dapat membantu mengurangi jumlah petani yang beralih profesi dan mengkonversi lahan menjadi lahan non pertanian. Meskipun tentunya pengembangan komoditas BULOG ini perlu dibarengi dengan dukungan masyarakat untuk mengurangi konsumsi impor, serta dukungan pemerintah dalam penegakkan hukum dan perbaikan sarana prasarana pertanian. Jangan sampai pengembangan baru dilakukan ketika terjadi kelangkaan maupun kenaikan komoditas pangan yang membawa negara dalam kondisi genting yang pada akhirnya menimbulkan banyak kerugian.