Anda di halaman 1dari 10

Makalah Bakteriologi III

Infeksi Saraf Pusat

Tingkat / Semester : 2 / IV Kelompok 4 : Efa Tresna Dewi Irpan Awaludin Tirzah Finoza R

PRODI D III ANALIS KESEHATAN

STIKes MUHAMMADIYAH CIAMIS


Jl. K.H Achmad Dahlan No. 20 Telp/Fax. (0265) 773052 Ciamis

BAB I PENDAHULUAN

Sistem saraf adalah sistem koordinasi (pengaturan tubuh) berupa penghantaran impul saraf ke susunan saraf pusat, pemrosesan impul saraf dan perintah untuk memberi tanggapan rangsangan. Unit terkecil pelaksanaan kerja sistem saraf adalah sel saraf atau neuron. Sistem saraf sangat berperan dalam iritabilitas tubuh. Iritabilitas memungkinkan makhluk hidup dapat menyesuaikan diri dan menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi di

lingkungannya. Jadi, iritabilitas adalah kemampuan menanggapi rangsangan. Infeksi pada sistem syaraf pusat dan pada jaringan disekitarnya merupakan kondisi yang mengancam jiwa. Prognosis tergantung pada identifikasi tempat dan jenis pathogen yang menyebabkan terjadinya inflamasi sehingga bisa diberikan pengobatan anti biotic yang efektif secepat mungkin. Olehkarena analisis LCS, biopsy, dan analisis laboratorium merupakan Gold standard untuk mengidentifikasi pathogen penyebab meningitis, neuroimaging merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk menggambarkan letak lesi pada otak dan medulla spinalis. Gambaran pola lesi menentukan diagnosis yang tepat dan menentukan tatalaksana terapi selanjutnya. Makalah ini membahas infeksi system saraf pusat seperti meningoensefalitis bacterial.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian sistem saraf pusat Sistem saraf pusat adalah bagian yang terpenting dari seluruh sistem saraf dalam tubuh. Sistem saraf pusat adalah bagian yang anatomi tubuh yang sangat lunak, Sehingga secara evolusi, bagian ini dilindungi oleh tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang. Sistem saraf pusat, dibagi menjadi dua bagian yaitu otak/cerebrum (ensenphalon) dan sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Karena bagian-bagian dari sistem saraf pusat ini adalah bagian yang sangat, maka selain dilindungi oleh tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, juga dilapisan tiga lapisan membran, yang disebut dengan membrane meninges. Jika membaran ini mengalami infeksi, maka akan mengalami radang yang disebut dengan radang meningitis (radang otak). Penyakit berupa infeksi sistem saraf pusat , dimana penderita mengalami kondisi seperti meningitis, meningoencephalitis, encephalitis, abses otak, meningeal, dan shunt infection. 2.2 Cara masuknya infeksi itu :

Hematogen (via pembuluh darah), Prekontinuitatum (melalui organ terdekat : sinus, mata, telinga, gigi) Inokulasi (karena adanya trauma) Saraf (herpes simpleks virus, variella zoster virus, rabies)

2.3 Contoh penyakit pada sistem saraf pusat akibat infeksi bakteri antara lain sebagai berikut : a. Meningitis Meningitis adalah radang pada meninges. Meningitis terutama disebabkan oleh infeksi, walaupun ada penyebab lainnya. Meningitis akut pyogenik adalah meningitis akut yang disebabkan oleh bakteri.

Meningitis, terlihat eksudat pada Leptomeninges Terlihat eksudat pada Leptomeninges. Cairan serebrospinal terlihat purulen atau berkabut. Bakteri yang menyebabkan meningitis antara lain L. Monocygenes, H. Influenza, N. meningitidis. Meningitis dapat menyebabkan banyak gangguan di sistem saraf pusat, beberapa cara meningitis menyebabkan gangguan adalah : Efek terhadap membran eneuron, terjadi gangguan impuls Edema ; dapat dibagi menjadi vasogenik ( akibat peningkatan permeabilitas vascular ) cytotoxic / toxigenik ( akibat reaksi sel terjadi peningkatan cairan intraseluler ) Efek terhadap pembuluh darah kecil, perubahan sirkulasi yang dapat menyebabkan anoxia atau necrosis Faktor imunopatologis Toksin Abses

Infeksi menyebabkan kerusakan meninges, yang selanjutnya yang menyebabkan trombosis dan peningkatan permeabilitas BBB. Inflamasi menghambat aliran CSF, yang selanjutnya menyebabkan edema intersisial. Akhir dari pathogenesis meningitis adalah ensepalopati.
GEJALA Mudah menyalahartikan tanda dan gejala meningitis sebagai flu. Tanda dan gejala meningitis dapat terjadi dalam beberapa jam atau bahkan lebih dari satu atau dua hari. Pada mereka yang berusia 2

tahun keatas tanda dan gejala antara lain: Demam tinggi Sakit kepala parah Kaku pada leher Muntah atau mual dengan sakit kepala Kebingungan atau sulit berkonsentrasi pada mereka yang masih muda dapat terlihat dengan ketidakmampuan mengatur kontak mata Kejang Mengantuk atau sulit bangun Sensitif terhadap cahaya Kurang nafsu makan atau minum Ruam kulit pada beberapa kasus, seperti viral atau meningococcal meningitis Tanda dan gejala pada bayi yang baru lahir antara lain: Demam tinggi Terus menerus menangis Terlalu banyak tidur atau mudah marah Tidak aktif Tidak nafsu makan Tonjolan pada bagian lunak di atas kepala bayi Kaki pada tubuh dan leher bayi Kejang
Beberapa cara di bawah ini dapat membantu menghindarkan dari infeksi : 1. Cuci tangan dengan baik dan sering, terutama mereka yang merawat atau berada berdekatan dengan pasien meningitis 2. Bersihkan permukaan-permukaan yang bisa terkontaminasi (misalnya handel pintu, remote TV, etc) dengan sabun dan air kemudian bilas dengan desinfektan atau cairan pemutih yang mengandung chlorine utk mencegah penyebaran virus 3. Tutupi mulut saat batuk, dengan tissue atau tangan. Jika menggunakan tissue, buang tisue ke tempat sampah, Jika menggunakan tangan, segera cuci tangan. 4. Hindarkan mencium pasien, atau berbagi gelas minuman, atau hal-hal yang mungkin menyebabkan penyebaran virus 5. Lakukan vaksinasi, ada beberapa vaksinasi yang tersedia yaitu: Haemophilus influenzae type b (Hib),

Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7), Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV), dan Meningococcal conjugate vaccine (MCV4)

b. Abses Otak Abses otak adalah suatu area inflamasi supuratik di cerebrum. Area inflamasi berisis nekrosis likuefaktif dan netrofil yang dikelilingijaringan fibrogliotik. Abses otak dapat disebabkan oleh beragam mikroorganisme.

Penampakan Makroskopik Abses Otak

2.4 Bakteri penyebab infeksi pada sistem saraf pusat diantaranya a. Haemophillus influenza H. influenza merupakan bakteri gram negatif yang dapat ditemukan di membran mukosa saluran nafas atau manusia. Berbentuk batang pendek. H. influenzabiasanya masuk melalui saluran nafas . di saluran nafas dapat terjadi infeksi dan menyebar secara hematogen ke otak meningitis. Gejala meningitis akibat H. Influenza hampir mirip meningitis pada umumnya. Untuk menegakkan diagnosis meningitis akibat H. Influenza dapat dilakukan dengan deteksi antigen atau pewarnaan gram . spesimen yang digunakan adalah swab nassofaring, push darah , dan CSF. b. L. Monocytogenes

L. Monocytogenes adalah bakteri batang pendek , gram positif dan tidak membentuk spora. L. Monocytogenes masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran cerna.

Mikroorganisme ini menginternallin yang dapat mengikat e-cadherin, sehingga dapat difagositosis ke sel epitel. Listerolisin O melisiskan fagolisosom , sehingga dilepaskan ke sitoplasma epitel, lalu berfoliferasi. Imunitas yang berperan melawan . L. Monocytogenes adalah imunitas seluler. Infeksi dilakukan dengan isolasi mikroorganisme dari darah atau CSf. c. N. meningitidis N. meningitidis adalah bakteri diplokokus gram negatif , memiliki kapsul polisakarida. Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat. Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas. Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri. Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK. Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus.

2.4 Gejala Infeksi Sistem Saraf Pusat Demam Leher atau punggung yang kaku Gejala seizure (kejang) Defisit neorologis focal (stroke) Hidrosefalus

2.5 Diagnosis Infeksi Sistem Saraf Pusat Diagnosis terhadap penyakit ini dilakukan dengan pemeriksaan fisik untuk melihat gejala yang dialami oleh penderita. Atau secara medis,diagnosis dibuat berdasarkan pemeriksan cairan serebrospinal yang diambil segera setelah pasien dicurigai terkena penyakit ini .

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan Infeksi sistem saraf manusia memang harus diwaspadai. Infeksi ini menyerang bagian penting dalam tubuh manusia yang bisa berakibat fatal karena akan mengacaukan sistem komando dalam tubuh manusia. Untuk menghindari dan tindakan pencegahan penyakit infeksi sistem saraf pusat yaitu meningitis harus menjaga benar-benar kebersihan diri. Sebaiknya tidak menggunakan barangbarang secara bersama-sama, meningkatkan kebiasaan mencuci tangan, enjaga stamina tubuh, dan peberian vaksinasi bagi mereka yang berada di wilayah rentan terhadap penyakit meningitis.

DAFTAR PUSTAKA

Infeksi Susunan Saraf Pusat. Diposkan oleh Fathelvi, 30 Desember 2011 Di download : 18 Mei 2013 Sistem Saraf Pusat. Diposkan oleh Aulia Firdauzi, 22 Desember 2012. Di download :18 Mei 2013.