Anda di halaman 1dari 27

BAB II

LANDASAN TEORI

A. LIFE SATISFACTION

1. Definisi Life Satisfaction

Life satisfaction (kepuasan hidup) merupakan komponen kognitif dalam

subjective well being (Andrew & Withey dalam Diener, 2009). Subjective well

being

mengacu

pada

kepercayaan

atau

perasaan

subjektif

individu

bahwa

kehidupannya berjalan dengan baik (Lucas & Diener dalam Diener, 2009).

Andrews

dan

Withey

(dalam

Diener

et

al.,

1985)

mengidentifikasi

komponen subjective well being menjadi positive affect dan negative affect

(sebagai komponen afektif dari subjective well being) serta life satisfaction

(sebagai komponen kognitif).

Komponen afektif mengacu pada evaluasi langsung individu terhadap

peristiwa

yang

terjadi

dalam

kehidupannya,

meliputi

perasaan

yang

menyenangkan dan tidak menyenangkan yang dialami individu dalam hidupnya.

Sementara komponen kognitif mengacu pada evaluasi kognitif terhadap hidup

individu secara keseluruhan dan atas area-area penting dari kehidupan individu

(Diener, Suh, Lucas & Smith, 1999).

Kepuasan

hidup

itu

sendiri

merupakan

kemampuan

seseorang

untuk

menikmati pengalaman-pengalamannya yang disertai dengan tingkat kegembiraan

(Alston & Dudley dalam Hurlock, 1980). Selain itu, tingkat keberhasilan individu

Universitas Sumatera Utara

ketika memecahkan masalah penting dalam kehidupannya juga mempengaruhi

kebahagiaan dan menentukan kepuasan hidup individu tersebut (Hurlock, 1980).

Lebih lanjut, Diener dan Biswas-Diener (2008) mengatakan bahwa life

satisfaction merupakan penilaian secara kognitif mengenai seberapa baik dan

memuaskan hal-hal yang sudah dilakukan individu dalam kehidupannya secara

menyeluruh dan atas area-area utama dalam hidup yang mereka anggap penting

(domain

satisfaction)

seperti

hubungan

interpersonal,

kesehatan,

pekerjaan,

pendapatan, spiritualitas dan aktivitas di waktu luang.

Life

satisfaction

dan

domain

satisfaction

tersebut

berpatokan

pada

kepercayaan atau sikap individu dalam menilai kehidupannya (Schimmack dalam

Eid & Larsen, 2008). Dalam hal ini, individu menilai apakah situasi dan kondisi

dalam kehidupannya positif dan memuaskan (Pavot dalam Eid & Larsen, 2008).

Shin dan Johnson (dalam Diener et al., 1985) juga menambahkan bahwa penilaian

tersebut dilakukan berdasarkan standar kriteria individu yang bersangkutan.

Secara konsep, domain satisfaction merupakan bagian dari life satisfaction

(Pavot

dalam

Eid

&

Larsen,

2008).

Diener

(dalam

Eid

&

Larsen,

2008)

menjelaskan hubungan antara life satisfaction dan domain satisfaction tersebut

dengan 2 pendekatan teori subjective well being yaitu bottom up theories dan top

down theories.

Bottom up theories mengasumsikan bahwa penilaian life satisfaction

dilakukan berdasarkan pengukuran satisfaction pada sejumlah domain kehidupan.

Hubungan life satisfaction dan domain satisfaction menggambarkan pengaruh

sebab akibat domain satisfaction terhadap life satisfaction. Sebagai

contoh,

Universitas Sumatera Utara

individu yang memiliki marital satisfaction (domain satisfaction) tinggi juga

memiliki life satisfaction tinggi karena marital satisfaction merupakan aspek

penting dari life satisfaction. Menurut teori ini, perubahan yang terjadi pada

domain satisfaction juga akan mengakibatkan perubahan pada life satisfaction.

Sementara itu, top down theories menjelaskan kebalikan dari asumsi

bottom up theories. Seorang individu yang puas atas hidupnya secara keseluruhan

juga akan menilai area (domain) penting dalam kehidupannya secara lebih positif,

meskipun kepuasan hidup tidak berdasar pada kepuasan atas area penting tersebut.

Menurut teori ini, perubahan yang terjadi pada domain satisfaction tidak akan

mengakibatkan terjadinya perubahan pada life satisfaction.

Schimmack (dalam Eid & Larsen, 2008) juga menjelaskan hubungan

antara life satisfaction dan domain satisfaction dengan mengatakan bahwa apabila

life

satisfaction

semakin

meningkat,

maka

domain

satisfaction

mungkin

meningkat tanpa adanya perubahan objektif pada domain tersebut.

Jadi, berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa life satisfaction

merupakan penilaian secara kognitif mengenai seberapa baik dan memuaskan hal-

hal yang sudah dilakukan individu dalam kehidupannya secara menyeluruh dan

atas

area-area

utama

yang

mereka

anggap

penting

dalam

hidup

(domain

satisfaction) berdasarkan suatu standar atau patokan yang dibuat oleh individu itu

sendiri.

Universitas Sumatera Utara

2.

Aspek Life satisfaction

Diener dan Biswas-Diener (2008) serta pembahasan lebih lanjut dalam

jurnal beliau yang berjudul Subjective Well Being: Three Decades of Progress

(1999) mengatakan bahwa dalam komponen life satisfaction ini terdapat:

1. Keinginan untuk mengubah kehidupan,

2. Kepuasaan terhadap hidup saat ini,

3. Kepuasan hidup di masa lalu,

4. Kepuasan terhadap kehidupan di masa depan,

5. Penilaian orang lain terhadap kehidupan seseorang.

Kelima

aspek

diatas

terangkum

dalam

5

item

pernyataan

dalam

satisfaction with life scale oleh Diener et al. (1985), antara lain:

1. In most ways my life is close to my ideal.

2. The conditions of my life are excellent.

3. I am satisfied with my life.

4. So far I have gotten the important things I want inlife.

5. If I could live my life over, I would change almost nothing

Sementara itu, dalam domain satisfaction terdapat beberapa area seperti

work, family, leisure, health, finances, self dan one’s group (Diener, 1999).

3. Karakteristik Individu yang Memiliki Life Satisfaction Tinggi

Karakteristik individu yang memiliki life satisfaction yang tinggi antara

lain memiliki keluarga dan teman dekat yang supportif, memiliki pasangan yang

romantis, memiliki aktivitas pekerjaan dan aktivitas pensiun yang berharga,

Universitas Sumatera Utara

menikmati waktu santai mereka dan mempunyai kesehatan yang baik. Individu

dengan life satisfaction tinggi dikatakan juga tidak memiliki masalah dengan

kecanduan alkohol, obat-obatan atau judi (Diener et al., 2008).

Diener

(2009)

juga

mengatakan

bahwa

individu

yang

memiliki

life

satisfaction yang tinggi adalah individu yang memiliki tujuan penting dalam

hidupnya dan berhasil untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi, individu yang life

satisfaction-nya tinggi merasa bahwa hidup mereka bermakna dan mempunyai

tujuan dan nilai yang penting bagi mereka.

Selain itu, Diener et al., (1985) mengatakan bahwa individu yang puas

akan kehidupannya adalah individu yang menilai bahwa kehidupannya memang

tidak sempurna tetapi segala sesuatu berjalan dengan baik, selalu mempunyai

keinginan untuk berkembang dan menyukai tantangan.

Sementara

itu,

Wilson

(dalam

Seligman,

2002)

mengatakan

bahwa

individu yang bahagia adalah individu yang berusia muda, sehat, berpendidikan

yang baik, berpenghasilan baik, beragama, menikah, mempunyai semangat kerja

tanpa memandang jenis kelamin dan tingkat kecerdasan individu.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Life Satisfaction

Komponen afektif dan kognitif dari subjective well being dipengaruhi oleh

faktor penyebab yang berbeda. Prediktor perubahan pada komponen kognitif lebih

kepada perubahan

yang terjadi pada domain penting dalam hidup individu

(Headey et al. dalam Eid & Larsen, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya kebahagiaan secara umum

dan khususnya life satisfaction pada seorang individu antara lain:

1. Kesehatan

Diener (dalam Carr, 2004) mengatakan bahwa hal yang berkaitan dengan

kebahagiaan adalah penilaian subjektif individu mengenai kesehatannya dan

bukan atas penilaian objektif yang didasarkan pada analisa medis. Kesehatan

yang baik memungkinkan orang pada usia berapa pun dapat melakukan

aktivitas. Sedangkan kesehatan yang buruk atau ketidakmampuan fisik dapat

menjadi penghalang untuk mencapai kepuasan bagi keinginan dan kebutuhan

individu, sehingga menimbulkan rasa tidak bahagia (Hurlock, 1980).

Diener dan Biswas-Diener (2008) juga mengatakan bahwa individu yang

bahagia lebih jarang mengalami sakit daripada individu yang tidak bahagia.

Hal ini dikarenakan kebahagiaan dapat menangkis infeksi penyakit, pertahanan

melawan gaya hidup yang dapat menimbulkan penyakit dan melindungi dari

penyakit jantung. Sementara itu, ketidakbahagiaan dan depresi dikatakan dapat

membahayakan kesehatan individu.

Olahraga juga dikatakan mempunyai dampak jangka pendek dan jangka

panjang terhadap kesehatan dan kebahagiaan individu. Hal ini dikemukakan

oleh Argyle dan Serafino (dalam Carr, 2004) yang menyatakan bahwa dampak

jangka pendek dari olahraga adalah dapat menimbulkan emosi positif yaitu

dengan adanya pengeluaran endorphin diotak. Lebih lanjut, dampak jangka

panjangnya

adalah

mengurangi

depresi

dan

kecemasan,

meningkatkan

kecepatan dan ketepatan kerja, memperbaiki konsep diri dan meningkatkan

Universitas Sumatera Utara

kebugaran tubuh dan fungsi kardiovaskuler yang baik serta mengurangi resiko

timbulnya penyakit sehingga pada akhirnya mengarah pada kebahagiaan.

2. Status Kerja

Argyle (dalam Carr, 2004) mengatakan bahwa individu dengan status

bekerja lebih bahagia daripada individu yang tidak bekerja dan begitu juga

dengan individu yang profesional dan terampil tampak lebih bahagia daripada

individu yang tidak terampil. Wright (dalam Diener, 2009) juga mengatakan

bahwa individu yang bekerja dengan menerima upah lebih bahagia daripada

individu bekerja yang tidak menerima upah.

Diener et al. (2008) juga mengatakan bahwa ketika individu menikmati

pekerjaannya dan merasa pekerjaan tersebut adalah hal yang penting dan

bermakna maka individu akan puas terhadap kehidupannya. Sebaliknya, ketika

individu merasa pekerjaannya buruk oleh karena lingkungan pekerjaan yang

buruk dan kurang sesuai dengan diri individu tersebut maka individu akan

merasa tidak puas pada kehidupannya.

Lebih lanjut, Hurlock (1980) mengatakan bahwa semakin rutin sifat

pekerjaan dan semakin sedikit kesempatan untuk mempunyai otonomi dalam

pekerjaan, maka kepuasan akan semakin berkurang. Hal ini dapat dilihat pada

tugas sehari-hari yang diberikan kepada anak-anak dan juga pekerjaan orang-

orang dewasa.

3. Penghasilan/Pendapatan

Penghasilan berkaitan dengan kepuasan finansial dan kepuasan finansial

berkaitan dengan life satisfaction (Diener & Oishi dalam Eid & Larsen, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Diener dan Seligman (dalam Weiten & Llyod, 2006) juga mengatakan bahwa

penghasilan mempunyai hubungan yang lemah dengan kebahagiaan. Dalam hal

ini, kemiskinan dilaporkan dapat menyebabkan individu tidak bahagia, namun

kekayaan juga dikatakan tidak selamanya menyebabkan individu bahagia.

4. Realisme dari Konsep-Konsep Peran

Masa dewasa dini merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola

kehidupan

baru

dan

harapan-harapan

sosial

baru.

Orang

dewasa

muda

diharapkan memainkan peran baru, seperti peran suami/istri, orang tua dan

pencari nafkah dan mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan-keinginan dan

nilai-nilai baru sesuai dengan tugas-tugas baru ini. Semakin berhasil seseorang

melaksanakan tugas tersebut semakin hal itu dihubungkan dengan prestise,

maka semakin besar kepuasan yang ditimbulkan (Hurlock, 1980).

Myers (dalam Carr, 2004) juga mengatakan bahwa individu baik pria

maupun wanita yang telah menikah lebih bahagia daripada individu yang tidak

menikah, baik yang bercerai, berpisah maupun tidak pernah menikah sama

sekali. Hal tersebut dikarenakan pernikahan menyediakan intimasi psikologis

dan fisik, yang meliputi memilki anak dan membangun rumah, peran sosial

sebagai orangtua dan pasangan, dan menegaskan identitas dan menciptakan

keturunan.

5. Pernikahan

Meskipun hubungan romantis dapat menimbulkan keadaan stres, namun

hubungan romantis juga adalah sumber kebahagiaan (Weiten & Llyod, 2006).

Penelitian

menunjukkan

bahwa

individu

yang

telah

menikah

memiliki

Universitas Sumatera Utara

subjective well being yang lebih tinggi daripada kelompok individu yang tidak

menikah (Diener, 2009). Glenn (dalam Diener, 2009) juga mengatakan bahwa

meskipun wanita yang menikah mungkin dilaporkan mengalami gejala stres

yang lebih besar daripada wanita yang tidak menikah, mereka juga dilaporkan

memiliki life satisfaction yang lebih tinggi. Lebih lanjut, Glenn dan Weaver

(dalam Diener, 2009) juga mengatakan bahwa pernikahan merupakan prediktor

utama dari subjective well being ketika faktor pendidikan, pendapatan, dan

status pekerjaan dikontrol.

Lebih

lanjut,

Harvey,

Pauwels

dan

Zickmund

(Carr,

menambahkan

bahwa pernikahan

yang

memiliki

komunikasi

2004)

juga

yang saling

menghargai

dan

jelas

serta

saling

memaafkan

kesalahan

masing-masing

berkaitan

dengan

tingkat

kepuasan

yang

tinggi

sehingga

mengakibatkan

kebahagiaan yang lebih tinggi.

6. Usia

Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Bradburn dan Caplovitz

(dalam Diener, 2009) menemukan bahwa individu usia muda lebih bahagia

daripada

individu

yang

berusia

lanjut.

Akan

tetapi,

sejumlah

tokoh

mengadakan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan penelitian tersebut dan

hasilnya menunjukkan dua hal, ada penelitian yang menunjukkan tidak ada

efek usia terhadap kebahagiaan tetapi ada juga penelitian yang menemukan

adanya hubungan yang positif antara usia dengan life satisfaction (Diener,

2009).

Universitas Sumatera Utara

7.

Pendidikan

Pendidikan tidak mempunyai dampak yang signifikan terhadap subjective

well being (Palmore; Palmore & Luikart, dalam Diener, 2009) dan memiliki

interaksi dengan variabel lain yaitu pendapatan (Bradburn & Caplovitz dalam

Diener,

2009).

Namun,

beberapa

penelitian

juga

menemukan

bahwa

pendidikan

mempunyai

dampak

positif

terhadap

kebahagiaan

wanita

(Freudiger; Glenn & Weaver; dan Mitchell dalam Diener, 2009).

8. Agama/Kepercayaan)

Myers (dalam Weiten & Llyod, 2006) mengatakan bahwa agama dapat

memberikan

tujuan

dan

makna

hidup,

membantu

individu

mensyukuri

kegagalannya,

memberikan

individu

komunitas

yang

supportif,

dan

memberikan pemahaman mengenai kematian secara benar.

Agama

menyediakan

manfaat

bagi

kehidupan

sosial

individu

sehingga

akhirnya

meningkatkan

life

satisfaction.

dan

psikologis

Agama

dapat

menyediakan perasaan bermakna dalam kehidupan setiap hari terutama saat

masa krisis. Selain itu, juga menyediakan identitas kolektif dan jaringan sosial

dari sekumpulan individu yang memiliki kesamaan sikap dan nilai. (Diener et

al., 2009).

9. Hubungan sosial

Hubungan

sosial

memiliki

dampak

yang

signifikan

terhadap

life

satisfaction. Individu yang memiliki kedekatan dengan orang lain, memiliki

teman dan keluarga yang supportif cenderung puas akan seluruh kehidupannya.

Sebaliknya, kehilangan orang yang disayangi akan menyebabkan individu

Universitas Sumatera Utara

menjadi tidak puas akan hidupnya dan individu tersebut memerlukan waktu

untuk kembali menilai kehidupannya secara positif (Diener et al., 2009).

B. KONFLIK PERAN GANDA

1. Definisi Konflik Peran Ganda

Sejak dilahirkan, setiap individu memiliki dan memainkan beberapa peran

dalam kehidupannya. Henslin (2005) mengatakan bahwa peran (roles) adalah

perilaku, kewajiban, dan hak yang melekat pada suatu status. Misalnya, menjadi

seorang anak adalah status, dan peran seorang anak adalah menghormati orangtua

dan mendapat perawatan dan perlindungan dari orangtuanya.

Adanya peran tersebut memberikan individu sejumlah kebebasan namun

memiliki

batasan

atau

pagar,

dalam

hal

ini

adalah

pandangan

masyarakat

mengenai perilaku yang tepat atau sesuai (Henslin, 2005). Hal ini sesuai dengan

pengertian peran menurut Myers dan Myers (1992) yang mengatakan bahwa

peran adalah pola perilaku yang menentukan perilaku yang tepat dalam suatu

situasi yang spesifik.

Setiap hari, individu laki-laki dan perempuan memainkan beberapa peran

sekaligus (Henslin, 2005). Sebagai contoh, seorang perempuan dewasa dini

memainkan peran-peran seperti peran pekerja, istri dan ibu dalam waktu yang

bersamaan.

Pada umumnya tuntutan atau harapan berbagai peran yang dimainkan

individu tersebut muncul dan terpenuhi secara terpisah-pisah. Namun, terkadang

apa yang diharapkan oleh peran yang satu tidak sesuai dengan harapan peran yang

Universitas Sumatera Utara

lain. Hal inilah yang akhirnya menimbulkan konflik peran (Henslin, 2005).

Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang bekerja sambil kuliah dituntut untuk

mengikuti

jadwal

kuliah

ganti

sementara

peran

sebagai

pekerja

menuntut

mahasiswa tersebut untuk hadir dalam rapat bulanan.

Lewin (dalam Shaw & Costanzo, 1982) mengambarkan konflik sebagai

suatu

situasi

dimana

gaya

dalam

diri

individu

bergerak

dalam

arah

yang

bertentangan namun dengan kekuatan yang seimbang.

Konflik terjadi ketika forces atau vector (arah dan kekuatan dorongan

untuk berubah) dan resultant force (kombinasi sejumlah forces) mengarahkan

individu untuk bergerak (secara fisik dan psikologis) dalam satu atau lebih arah

dalam area-area khusus dalam life space (area kehidupan) sesuai dengan valence

(nilai) yang dibuat individu dari adanya kebutuhan (Lewin, dalam Lindzey &

Hall, 1985).

Atau dengan kata lain, konflik terjadi ketika individu merasakan adanya

dua atau lebih kebutuhan yang sama-sama penting dan mendesak namun usaha

untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dapat dilakukan secara

bersamaan

dalam

suatu

situasi

sehingga

menyebabkan

individu

merasakan

ketegangan.

Konflik

dapat

mengarah

pada hasil

yang bersifat

konstruktif karena

konflik

dan

ketegangan

dapat

memberikan

energi

atau

motivasi

sehingga

membuat seorang individu menjadi kreatif, inovatif, dan perubahan ke arah yang

lebih baik. Akan tetapi, jika konflik tidak diatasi dengan baik, konflik juga dapat

Universitas Sumatera Utara

bersifat destruktif yang merugikan individu itu sendiri dan orang lain (Myers &

Myers, 1992).

Sementara itu, konflik peran ganda adalah suatu situasi yang dihadapi

individu ketika harus memenuhi tuntutan atau harapan dua peran sosial yang

saling bertentangan muncul secara bersamaan (Schaefer, 2007 dan Newman &

Newman, 2006). Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang bekerja sambil kuliah

dituntut untuk mengikuti jadwal kuliah ganti sementara peran sebagai pekerja

menuntut mahasiswa tersebut untuk hadir dalam rapat bulanan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konflik peran ganda

adalah situasi ketegangan atau kesulitan yang dirasakan individu saat beberapa

peran yang dimainkan memiliki tuntutan yang saling bertentangan dan muncul

secara bersamaan dalam hal cara pemenuhannya.

2. Dimensi Konflik Peran Ganda

Greenhaus dan Beutell (dalam Schabracq et al., 2003) serta pembahasan

lebih lanjut dalam jurnal beliau yang berjudul Sources of Conflict Between Work

and Family Roles (1985) terdapat tiga dimensi dalam konflik peran ganda, yaitu:

1. Time-Based Conflict, mengacu pada kesulitan dalam pembagian waktu, energi

dan kesempatan antara peran pekerjaan dan rumah tangga. Time based conflict

terjadi dalam dua bentuk yaitu (1) tuntutan waktu dari satu peran menyebabkan

tuntutan dari peran lain tidak mungkin terpenuhi (secara fisik) dan (2) individu

sangat menikmati satu peran dibanding peran yang lain (secara mental). Waktu

Universitas Sumatera Utara

yang dihabiskan untuk melaksanakan satu peran akan menyisakan sedikit

waktu untuk menjalankan peran yang lain.

2. Strain Based Conflict, mengacu pada ketegangan atau keadaan emosional

(misalnya kelelahan, kecemasan, depresi, mudah marah) yang dihasilkan oleh

satu peran menyulitkan pemenuhan tuntutan peran yang lain atau menghambat

performansi peran lain tersebut.

3. Behavior Based Conflict, mengacu pada pola perilaku spesifik dari satu peran

yang tidak sesuai dengan harapan perilaku peran yang lain. Ketidaksesuaian

seperangkat perilaku individu ketika di tempat kerja dan ketika di rumah

menyebabkan individu sulit menukar antara peran yang satu dengan yang lain.

3. Strategi Mengatasi Konflik

Ada berbagai strategi yang dilakukan individu ketika mengalami konflik,

antara lain (Myers & Myers, 1992):

1)

Avoidance

Banyak

manusia

yang

merasakan

ketidaknyaman

seperti

merasa

terancam dan khawatir tidak mampu menghadapi konflik. Ketidaknyamanan

ini mengakibatkan individu menghindari konflik atau pemicu konflik dan

biasanya individu mempercayai adanya keajaiban dalam penyelesaian konflik

tersebut. Teknik yang biasanya digunakan dalam mengatasi konflik meliputi

denial, withdrawal dan suppression.

 

2)

Defusion

Universitas Sumatera Utara

Defusion strategy digunakan ketika individu membuat alasan atau dalih

atas konflik

yang dialami sampai individu merasa tenang kembali atau

mendapat informasi lebih mengenai sumber konflik. Langkah yang dilakukan

oleh individu dapat berupa menghindari masalah yang besar atau hanya

berfokus pada masalah kecil, mengalihkan perhatian pada hal lain.

3)

Confrontation

Dalam

strategi

ini,

individu

menghadapi

konflik

secara

langsung

dengan tiga strategi yaitu win-lose strategy, lose-lose or concession strategy

dan win-win or integration strategy.

 

4.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konflik Peran Ganda

 

Stoner

dan

Charles

(1990)

menguraikan

beberapa

faktor

yang

mempengaruhi terjadinya konflik peran ganda dalam diri individu, antara lain:

a. Time pressure

Semakin banyak waktu yang digunakan wanita karir untuk bekerja maka

semakin sedikit waktu untuk keluarga dan hal ini menyebabkan timbulnya

konflik dalam hal waktu.

b. Family size and support

Semakin banyak anggota keluarga maka semakin banyak konflik dan semakin

banyak dukungan keluarga maka semakin sedikit konflik.

c. Work satisfaction.

Semakin tinggi kepuasan kerja maka konflik yang dirasakan semakin sedikit.

d. Marital and life satisfaction

Universitas Sumatera Utara

Ada asumsi bahwa wanita bekerja memiliki konsekuensi yang negatif terhadap

pernikahannya.

e. Size of firm

Banyaknya pekerja dalam perusahaan mungkin saja mempengaruhi konflik

peran ganda seseorang.

C. WANITA BEKERJA

1. Definisi Wanita Bekerja

Dalam

kehidupan,

manusia

selalu

mengadakan

bermacam-macam

aktivitas. Salah satu aktivitas itu diwujudkan dalam gerakan yang disebut dengan

kerja. As’ad (1998) mengatakan bahwa bekerja adalah aktivitas manusia baik fisik

maupun mental yang pada dasarnya adalah bawaan dan mempunyai tujuan yaitu

mendapatkan kepuasan. Weiten dan Llyod (2006) mengatakan bahwa kerja adalah

suatu aktivitas yang menghasilkan sesuatu yang berharga bagi orang lain.

Konsep kerja juga dinyatakan oleh Thomason (dalam Ndraha, 1999)

sebagai

aktivitas

yang

menuntut

pengeluaran

energi

atau

usaha

untuk

menciptakan produk dan jasa yang bernilai bagi manusia dari bahan/material

mentah.

Brown (dalam Anoraga, 2006) mengatakan bahwa kerja sesungguhnya

merupakan bagian penting dari kehidupan manusia karena memberikan status

dalam masyarakat dan dalam keadaan biasa, seseorang baik pria maupun wanita

sejak dahulu kala memang menyukai pekerjaan.

Universitas Sumatera Utara

Setiap orang baik laki-laki maupun perempuan yang melakukan aktivitas

bekerja disebut dengan pekerja/buruh. Hal ini dijelaskan dalam Undang Undang

Ketenagakerjaan No. 13 tahun 2003 yang menyatakan bahwa pekerja/buruh

adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam

bentuk lain.

Perempuan bekerja (employed women) adalah perempuan yang bekerja

untuk mendapatkan upah (Matlin, 2004). Sementara itu, menurut Anoraga (2006)

wanita karir adalah wanita yang memperoleh/mengalami perkembangan dan

kemajuan dalam bidang pekerjaan. Anoraga menyebutkan wanita yang bekerja

untuk menggantikan istilah wanita karir. Beliau juga menegaskan kembali bahwa

yang dimaksud dengan karir adalah bekerja apa saja asal mendatangkan suatu

kemajuan dalam kehidupannya.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa wanita bekerja

adalah

wanita

yang

melakukan

aktivitas

pengeluaran

energi/usaha

dalam

menghasilkan produk atau jasa dan bertujuan untuk mempertahankan hidup,

mendapatkan kepuasan/kesenangan dan meningkatkan taraf kehidupan.

2. Faktor yang Mendorong Wanita Bekerja

Anoraga

(2006)

mengatakan

ada

berbagai

seseorang untuk bekerja, antara lain:

1. Memenuhi

kebutuhan

fisiologis

dasar

yaitu

alasan

yang

mendorong

mencari

nafkah

untuk

mempertahankan hidup seperti makan, minum, tempat tinggal dan kebutuhan

lainnya.

Universitas Sumatera Utara

2. Memenuhi kebutuhan egoistik misalnya kesenangan (hobi) atau merupakan

pilihan-pilihan untuk memenuhi kepuasan terhadap prestasi yang diperoleh,

adanya

kebebasan/otonomi

pengetahuan akan sesuatu.

dalam

hal

kreativitas

dan

keinginan

akan

3. Memenuhi kebutuhan sosial seperti mendapatkan imbalan sosial seperti respek

atau

pengagum

dari

rekan-rekan

sekerja,

memperoleh

kekuasaan

dan

menggunakannya kepada orang lain, memperoleh rasa identifikasi dan rasa

memiliki serta persahabatan.

Anoraga

(2006)

secara

khusus

juga mengatakan

ada

3

alasan

yang

menyebabkan seorang wanita untuk bekerja yaitu memenuhi kebutuhan keluarga,

untuk menghilangkan rasa sepi atau membuka lapangan kerja bagi wanita pencari

kerja.

DeGenova (2008) juga mengatakan bahwa seorang wanita memasuki

dunia kerja untuk alasan ekonomi yaitu kebutuhan finansial dan alasan non

ekonomi seperti pemenuhan diri.

3. Manfaat Bekerja Bagi Wanita

Pada

umumnya,

perempuan

yang

bekerja

dilaporkan

memiliki

rasa

kompetensi dan prestasi yang lebih besar daripada perempuan yang tidak bekerja

(Cleveland et al.; Hoffman & Hale-Benson dalam Matlin, 2004). Hal ini semakin

diperjelas oleh Agronick dan Duncan (dalam Matlin, 2004) yang mengatakan

bahwa perempuan paruh baya yang bekerja di luar rumah dilaporkan merasa lebih

powerful dan percaya diri.

Universitas Sumatera Utara

Selain

itu,

perempuan

yang

memiliki

pekerjaan

yang

bagus

dan

pendapatan keluarga yang tinggi juga dilaporkan mempunyai kesehatan fisik dan

psikologis yang baik (DeGenova, 2008)

Peran pekerja juga memberikan keuntungan bagi wanita seperti adanya

status sosial, dukungan sosial atau sumber finansial (Newman & Newman, 2006).

Bekerja juga memberikan individu baik pria maupun wanita sebuah status sosial

yang juga terdapat peran didalamnya (Anoraga, 2006).

D. PERAN GANDA WANITA BEKERJA

1. Definisi Peran Ganda Wanita Bekerja

Individu laki-laki dan perempuan memainkan peran yang berbeda dalam

kehidupannya. Setiap peran yang dimainkan individu tersebut tidak terlepas dari

adanya harapan-harapan atau tuntutan (Newman & Newman, 2006). Harapan atau

tuntutan peran bagi seorang perempuan adalah munculnya perilaku dan sikap

yang feminin seperti lemah lembut, terikat pada orang lain, patuh, sensitif dan lain

sebagainya (DeGenova, 2008).

Hal ini juga didukung oleh adanya Panca Dharma Wanita Indonesia yang

menuntut seorang wanita dapat melakukan lima tugas di dalam hidupnya yaitu

sebagai istri/pendamping suami, sebagai pengelola rumah tangga, sebagai penerus

keturunan, sebagai ibu dari anak-anak, dan sebagai warga Negara (Anoraga,

2006).

Menurut Weiten dan Llyod (2006) peran ganda seorang wanita terdiri dari

Universitas Sumatera Utara

1.

Mandat dalam pernikahan, wanita memiliki tanggung jawab untuk memasak,

mencuci dan pekerjaan rumah tangga lainnya

2. Mandat sebagai ibu, wanita diharapkan untuk memiliki anak. Arandell (dalam

Weiten & Llyod, 2006) mengatakan bahwa saat ini ibu diharapkan menjadi

seorang ibu yang intensif, berpusat pada anak, dan mengorbankan kebutuhan

dan minatnya.

3. Wanita pekerja di luar rumah. Sebagian besar wanita muda, berpendidikan

tinggi bekerja diluar rumah dan ingin memuaskan kehidupan keluarganya.

Sementara itu, menurut Gunarsa dan Gunarsa (2000) peran ganda wanita

terdiri dari:

1. Wanita sebagai anggota keluarga.

Wanita memberikan inspirasi tentang gambaran arti hidup dan peranannya

sebagai wanita dan anggota keluarga.

2. Wanita sebagai istri.

Wanita membantu suami dalam menentukan nilai-nilai yang akan menjadi

tujuan hidup yang mewarnai hidup sehari-hari dan keluarga:

a. menjadi kekasih suami,

b. menjadi pengabdi dalam membantu meringankan beban suami,

c. menjadi

pendamping

suami,

bila

perlu

membina

relasi-relasi

dalam

pelaksanaan tanggung jawab sosial, menghadapi, mengatasi masalah baik

diatasi sendiri atau bersama-sama,

d. menjadi manajer keuangan yang dilimpahkan oleh suami.

3. Wanita sebagai pencari nafkah.

Universitas Sumatera Utara

Wanita untuk kepuasan diri bisa menunjukkan kemampuan dengan bekerja.

Wanita yang berambisi tinggi, sesudah menikah bisa juga ingin tetap mengejar

karir. Dalam kenyataannya, ada wanita yang perlu bekerja diluar atau didalam

rumah

untuk

meringankan

beban

suami

atau

untuk

mengamalkan

kemampuannya setelah mempelajari sesuatu yang member kepuasan tersendiri,

sambil menambah penghasilan keluarga.

4. Wanita sebagai ibu rumah tangga.

Wanita mengatur seluruh kehidupan dan kelancaran rumah tangga. Selain itu,

wanita mengatur dan mengusahakan suasana rumah yang nyaman.

5. Wanita sebagai ibu dari anak.

a. wanita menjadi model tingkah laku anak yang mudah diamati dan ditiru,

b. menjadi pendidik: memberi pengarahan, dorongan dan pertimbangan bagi

perbuatan-perbuatan anak untuk membentuk perilaku,

c. menjadi

konsultan:

member

nasehat,

pertimbangan,

pengarahan

dan

bimbingan,

 

d. menjadi

sumber

informasi:

memberikan

pengetahuan,

pengertian

dan

penerangan.

6. Wanita sebagai wanita karir yang berkeluarga, menjadi istri dan ibu.

Wanita perlu memiliki perangkat urutan peran dalam kemajemukan perannya

agar dapat mengatasi konflik, yang mungkin akan dihadapinya bila pada saat

yang

sama

mengemban

dituntut

untuk

melaksanakan

beberapa

peran.

tanggung

jawab

sebagai

anggota

masyarakat

Wanita

dalam

dan

anggota

Universitas Sumatera Utara

keluarga, turut berperan membentuk hari depan dengan kesadaran penuh akan

kemanusiaan dan sifat hakikinya.

2. Tingkat Konflik Peran Ganda pada Wanita Bekerja

DeGenova (2008) mengatakan bahwa tren ibu bekerja hanya menambah

penderitaan wanita. Wanita dituntut untuk bekerja penuh waktu di luar rumah,

tuntutan pengasuhan/perawatan keluarga dan tuntutan pekerjaan rumah tangga

secara sekaligus. Meskipun wanita bekerja semakin meningkat jumlahnya dan

melakukan

aktivitas

kerja

sebanyak

jam

kerja

pasangannya,

wanita

tetap

memegang tanggung jawab utama terhadap pemeliharaan rumah dan anak-anak

bahkan wanita bekerja melakukan tugas domestik dua sampai tiga kali lebih

banyak daripada pria (Bianchi, Milkie, Sayer & Robinson dalam DeGenova,

2008).

Dalam

keluarga

berpenghasilan

ganda,

wanita

dilaporkan

memikul

tanggung jawab yang lebih besar dalam perawatan anak dan pekerjaan rumah

tangga (Bond et al. dalam Weiten & Llyod, 2006). Wanita dikatakan lebih

mengalami konflik peran ganda daripada pria (Glenn dalam Weiten & Llyod,

2006).

Lewis dan White et al. (dalam Schabracq et al., 2003) juga mengatakan

bahwa keletihan dalam gaya hidup keluarga dengan penghasilan ganda paling

banyak menimpa wanita. Wanita yang mengalami tekanan pribadi, sosial dan

masyarakat yang lebih besar untuk mendahulukan keluarga dan tugas rumah

tangga

dikatakan

juga

mengalami

ketegangan

yang

semakin

besar

dalam

Universitas Sumatera Utara

menyelesaikan tuntutan pekerjaan dan keluarga (Barnett & Baruch; Beutell &

Greenhaus dalam Schabracq et al., 2003).

E. DINAMIKA HUBUNGAN KONFLIK PERAN GANDA DENGAN LIFE

SATISFACTION PADA WANITA BEKERJA.

Meltzer dan Ludwig (dalam Hurlock, 1980) mengatakan bahwa faktor

penentu kebahagiaan seorang individu dalam berbagai periode dewasa dini, antara

lain

menyangkut

kehidupan

keluarga,

pekerjaan,

kesehatan

yang

baik

dan

prestasi-prestasi

dalam

pencapaian

tujuan.

Secara

khusus,

Hurlock

(1980)

menyatakan bahwa tingkat keberhasilan individu dalam memecahkan masalah

penting di masa dewasanya menyangkut kehidupan pekerjaan dan keluarga akan

menentukan kepuasannya dan mempengaruhi kebahagiaannya.

Life satisfaction merupakan penilaian secara kognitif mengenai seberapa

baik dan memuaskan hal-hal yang sudah dilakukan individu dalam kehidupannya

secara menyeluruh dan atas area-area utama dalam hidup yang mereka anggap

penting

(domain

satisfaction)

seperti

hubungan

interpersonal,

kesehatan,

pekerjaan, pendapatan, spiritualitas dan aktivitas di waktu luang (Diener &

Biswas-Diener, 2008).

Sebagai komponen kognitif dari subjective well being, life satisfaction dan

domain satisfaction berpatokan pada kepercayaan atau sikap individu dalam

menilai kehidupannya (Schimmack, dalam Eid & Larsen, 2008).

Dua area (domain) yang utama dalam kehidupan individu dewasa adalah

domain pekerjaan dan keluarga (Newman & Newman, 2006). Bekerja merupakan

Universitas Sumatera Utara

area penting dalam penentuan life satisfaction individu (Diener et al., 2008).

Bekerja itu sendiri merupakan aktivitas manusia baik fisik maupun mental yang

pada dasarnya merupakan bawaan dan mempunyai tujuan yaitu mendapatkan

kepuasan (As’ad, 1998).

Fenomena yang sedang berkembang sebagai akibat dari pelaksanaan

pembangunan nasional adalah semakin besarnya jumlah wanita yang bekerja dan

semakin banyaknya wanita yang berhasil memasuki jenis-jenis pekerjaan yang

selama ini jarang bahkan ada yang sama sekali belum pernah dimasuki oleh kaum

hawa seperti penerbang, manajer, direktur eksekutif, berbagai sektor industri dan

sektor usaha bahkan profesi yang tergolong keras (Anoraga, 2006).

Bekerja memberikan dampak yang menguntungkan bagi well being wanita

dewasa dini. Wanita bekerja tampak lebih bahagia dan lebih puas, mempunyai

kesehatan fisik dan mental yang lebih baik, kompetensi dan rasa percaya diri yang

lebih besar dan kemandirian finansial bila dibandingkan dengan wanita yang tidak

bekerja (Matlin, 2004; Rini, 2002).

Selain bekerja, perempuan dewasa dini menurut tugas perkembangannya

juga dituntut untuk menikah dan membentuk sebuah keluarga (Hurlock, 1980).

Pernikahan biasanya digambarkan sebagai bersatunya dua individu (Santrock,

2002).

Pernikahan mempunyai efek positif terhadap well being individu (Lee,

Seccombe dan Shehan, dalam DeGenova, 2008). Wanita bekerja yang menikah

dikatakan lebih bahagia karena pernikahan menyediakan intimasi, dukungan

sosial, komitmen, persahabatan, kasih sayang, pemuasan seksual, pendampingan

Universitas Sumatera Utara

dan peluang bagi pertumbuhan emosional, sumber identitas dan kepercayaan diri

yang baru serta adanya penghasilan ganda (Carr, 2004; Papalia et al., 2008).

Masa dewasa dini juga merupakan periode khusus dan sulit dalam rentang

kehidupan manusia. Individu dewasa dini diharapkan memainkan peran baru,

seperti peran pencari nafkah, peran suami/istri, dan peran orangtua (Hurlock,

1980).

Peran (role) adalah pola perilaku yang menentukan perilaku yang tepat

pada suatu situasi yang spesifik (Myers & Myers, 1992) sesuai dengan pandangan

masyarakat

(Henslin,

2005).

Setiap

hari,

individu

laki-laki

dan

perempuan

memainkan

beberapa

peran

sekaligus

(Henslin,

2005).

Setiap

peran

yang

dimainkan individu tidak terlepas dari adanya harapan-harapan atau tuntutan

(Newman & Newman, 2006).

Sebagai contoh, wanita dewasa dini memainkan peran sebagai pekerja,

istri dan ibu secara bersamaan. Status sebagai pekerja juga menuntut wanita untuk

bekerja dalam sejumlah waktu tertentu dalam seminggu atau menyelesaikan

pekerjaan sesuai standar kualitas. Di sisi lain, status sebagai istri dan ibu menuntut

wanita untuk

mengerjakan

pekerjaan

keluarga (Matlin, 2004).

rumah

tangga dan

perawatan

anggota

Pada umumnya, tuntutan atau harapan berbagai peran yang dimainkan

individu muncul dan terpenuhi secara terpisah-pisah. Namun, terkadang apa yang

diharapkan oleh peran yang satu tidak sesuai dengan harapan peran yang lain. Hal

inilah yang menyebabkan individu mengalami konflik peran (Henslin, 2005).

Universitas Sumatera Utara

Konflik peran terjadi ketika tuntutan atau harapan berbagai peran saling

bertentangan

dan

muncul

secara

bersamaan

(Newman

&

Newman,

2006).

Friedman dan Greenhaus (dalam Schabracq et al., 2003) mengatakan bahwa

wanita bekerja mengalami konflik peran ganda sebagai bentuk ketegangan antara

tekanan/tanggung jawab dari peran pekerjaan dan peran di keluarga yang saling

bertentangan.

Konflik peran ganda yang dialami wanita bekerja menyangkut kehidupan

pekerjaan dan keluarga tersebut meliputi time based conflict, strain based conflict,

dan behavior based conflict (Beutell dan Greenhaus dan Gutek et al. dalam

Schabracq, et al., 2003).

Wanita

merasakan

tekanan

personal

yang

membuat

mereka

merasa

bersalah dan cemas ketika mereka tidak mampu memenuhi seluruh tanggung

jawabnya (Pines & Aronson dalam Schabracq et al., 2003). Dalam situs e-

psikologi.com, Rini (2002) mengatakan bahwa wanita bekerja yang mengalami

peran

ganda

ingin

dapat

memainkan

peran

mereka

sebaik

mungkin

secara

proporsional dan seimbang.

 
 

Konflik

antara

peran

pekerjaan

dan

keluarga

memiliki

efek

negatif

terhadap well being individu (Burke & Greenhaus dalam Schabracq et al., 2003).

Konflik

peran

ganda

ini

dapat

mengarah

pada

ketidakpuasan

dan

ketidaknyamanan (distress) dalam area pekerjaan dan keluarga serta mempunyai

dampak negatif terhadap pola pengasuhan (Schabracq et al., 2003). Wanita

dilaporkan mengalami kesulitan ketika harus mengkombinasikan peran ganda

Universitas Sumatera Utara

dengan baik sementara mereka juga harus tetap memperhatikan diri mereka

(DeGenova, 2008).

Hal tersebut bertentangan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

McMunn et al. (2005) yang menyimpulkan bahwa perempuan yang menjalankan

satu peran utama saja dalam kehidupannya misalnya hanya menjadi ibu rumah

tangga, janda atau perempuan lajang yang bekerja secara signifikan mengalami

kondisi kesehatan yang buruk dibandingkan perempuan yang menjalankan banyak

peran utama. Hal ini juga didukung oleh Mark dan Sieber (dalam Schabracq et al.,

2003) yang mengatakan bahwa semakin banyak peran yang dilakukan oleh wanita

maka semakin besar potensi untuk mengakses sumberdaya (harga diri, status

sosial

dan

keuntungan

financial)

dan

semakin

besar

juga

kemampuan

mendelegasikan kewajiban dari peran-peran yang berbeda.

F. HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian

ini adalah: “ada hubungan yang berbanding terbalik antara konflik peran ganda

dengan life satisfaction pada wanita bekerja”. Semakin tinggi tingkat konflik

peran ganda yang dialami wanita bekerja maka tingkat life satisfaction wanita

bekerja tersebut menjadi semakin rendah. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat life

satisfaction wanita bekerja, tingkat konflik peran ganda yang dialami semakin

rendah.

Universitas Sumatera Utara