Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN ANALISA MUTU PANGAN DAN HASIL PERTANIAN

NAMA NIM KELAS KELOMPOK/SHIFT ACARA TGL PRAKTIKUM TGL LAPORAN

: SIGIT SATRIA PUTRA : 121710101111 : THP - C : 2/C2 : Pengolahan Lateks : 26 oktober 2013 : 3 Desember 2013

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2013

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Karet alam merupakan salah satu komoditi pertanian yang sangat baik untuk lingkup internasional dan terutama di Indonesia. Di Indonesia karet merupakan salah satu hasil pertanian terkemuka karena banyak menunjang perekonomian negara. Produktivitas lahan karet di Indonesia rata-rata rendah dan mutu karet yang dihasilkan kurang memuaskan. Hal tersebut disebabkan teknologi pengolahan karet yang masih seadanya. Lateks adalah cairan koloid yang berwarna putih susu yang diperoleh dari pohon karet (Havea Brasiliensis) dengan partikel-partikel karet terdispersi air. Lateks mengandung protein (zat putih telur) yang dapat terurai akibat aktivitas bakteri. Karet alam dihasilkan dari perkebunan besar dan perkebunan rakyat. Umumnya karet rakyat bermutu rendah karena alat dan cara pengolahannya yang masih sangat sederhana. Karet alam menunjukkan harga yang tidak stabil karena makin meningkat produksi karet sintetis misal butyl tubber (BR) dan lain-lain. Dalam teknologi pengolahannya lateks dapat dijadikan berbagai macam produk yang sangat berguna diantaranya karet sheet, crepe, dan lateks pekat. Dimana dalam pengolahannya terdapat langkah yang berbeda- beda untuk setiap produk karet tersebut. Dalam praktikum ini akan dilakukan beberapa kegiatan terkait dengan teknologi pengolahan karet, faktor faktor yang mempengaruhi untuk

mengendalikan mutu dari karet.

1.2. Tujuan Praktikum 1.1.1 Umum Memahami proses pengolahan lateks, faktor-faktor proses, pengendalian proses dan mutu yang dihasilkan. 1.1.2 Khusus 1. Menjelaskan pengaruh kualitas bahan dasar terhadap kualitas karet yang dihasilkan 2. Menjelaskan beberapa macam proses pengolahan karet alam, yaitu karet sheet, crepe, lateks dan crumb rubber 3. Menjelaskan cara-cara pengawasan mutu pada karet sheet, crep, lateks pekat dan crumb rubber

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanaman Karet dan Klasifikasinya Karet adalah tanaman perkebunan tahunan berupa pohon batang lurus. Pohon karet pertama kali hanya tumbuh di Brasil, Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini tanaman ini banyak dikembangkan sehingga sampai sekarang Asia merupakan sumber karet alami. Di Indonesia, Malaysia dan Singapura tanaman karet mulai dicoba dibudidayakan pada tahun 1876. Tanaman karet pertama di Indonesia ditanam di Kebun Raya Bogor. Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia, namun saat ini posisi Indonesia didesak oleh dua negara tetangga Malaysia dan Thailand. Lebih dari setengah karet yang digunakan sekarang ini adalah sintetik, tetapi beberapa juta ton karet alami masih diproduksi setiap tahun, dan masih merupakan bahan penting bagi beberapa industri termasuk otomotif dan militer. Klasifikasi botani tanaman karet adalah sebagai berikut: Divisi Sub divisi Kelas Keluarga Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledonae : Euphorbiaceae : Hevea : Hevea brasiliensis Tanaman karet merupakan tanaman perkebunan yang tumbuh di berbagai wilayah di Indonesia. Karet merupakan produk dari proses penggumpalan getah tanaman karet (lateks). Pohon karet normal disadap pada tahun ke-5. Produk dari penggumpalan lateks selanjutnya diolah untuk menghasilkan lembaran karet (sheet), bongkahan (kotak), atau karet remah (crumb rubber) yang merupakan bahan baku industri karet. Ekspor karet dari Indonesia dalam berbagai bentuk, yaitu dalam bentuk

bahan baku industri (sheet, crumb rubber, SIR) dan produk turunannya seperti ban, komponen, dan sebagainya ( Habibi, 2009 ).

2.2. Pengertian Lateks Segar dan Lateks Pekat 2.2.1 Lateks Segar Lateks karet alam secara umum didefinisikan sebagai cairan yang keluar dari pembuluh lateks bila dilukai. Lateks itu sendiri adalah suatu sel raksasa yang mempunyai banyak inti sel (multinukleotida). Oleh sebab itu lateks sebenarnya adalah protoplasma. Lateks sewaktu keluar dari pembuluh lateks adalah dalam keadaan steril, tetapi kemudian tercemar oleh mikroorganisme dari lingkungannya ( Djumarti, 2010 ). Lateks merupakan suatu larutan koloid dengan partikel karet dan bukan karet yang tersuspensi di dalam suatu media yang banyak mengandung bermacam-macam zat. Warna lateks adalah putih susu sampai kuning. Lateks sendiri sebenarnya adalah semacam getah yang dihasilkan oleh tanaman karet (Hevea brasiliensis). Karet mempunyai sifat kenyal (elastis), sifat kenyal tersebut berhubungan dengan viskositas atau plastisitas karet. Lateks sendiri membeku pada suhu 32oF karena terjadi koagulasi ( Goutara, 1985 ).

2.1.2 Lateks Pekat Lateks pekat merupakan produk olahan lateks alam yang dibuat dengan proses tertentu. Pemekatan lateks alam dilakukan dengan menggunakan empat cara yaitu: sentrifugasi, pendadihan, penguapan, dan elektrodekantasi. Diantara keempat cara tersebut sentrifugasi dan pendadihan merupakan cara yang telah dikembangkan secara komersial sejak lama. Pemekatan lateks dengan cara sentrifugasi dilakukan menggunakan sentrifuge berkecepatan 6000-7000 rpm. Lateks yang dimasukkan kedalam alat sentrifugasi (separator) akan mengalami pemutaran yaitu gaya sentripetal dan gaya

sentrifugal. Gaya sentrifugal tersebut jauh lebih besar daripada percepatan gaya berat dan gerak brown sehingga akan terjadi pemisahan partikel karet dengan serum. Bagian serum yang mempunyai rapat jenis besar akan terlempar ke bagian luar (lateks skim) dan partikel karet akan terkumpul pada bagian pusat alat sentrifugasi. Lateks pekat ini mengandung karet kering 60%, sedangkan lateks skimnya masih mengandung karet kering antara 3-8% dengan rapat jenis sekitar 1,02 g/cm3. Pemekatan lateks dengan cara pendadihan memerlukan bahan pendadih seperti Natrium atau amonium alginat, gum tragacant, methyl cellulosa, carboxy methylcellulosa dan tepung iles-iles. Adanya bahan pendadih menyebabkan partikelpartikel karet akan membentuk rantai-rantai menjadi butiran yang garis tengahnya lebih besar. Perbedaan rapat jenis antara butir karet dan serum menyebabkan partikel karet yang mempunyai rapat jenis lebih kecil dari serum akan bergerak keatas untuk membentuk lapisan, sedang yang dibawah adalah serum.

2.3 Sifat Fisik dan kimia Lateks


Karet alam mengandung seratus persen cis,-1,4-poliisoprena,yang terdiri dari rantai polimer lurus dan panjang dengan gugus isoprenik yang berulang, seperti yang diilustrasikan oleh tabel berikut. Komposisi lateks segar dari kebun dan karet kering disajikan pada tabel berikut,

Sumber : Dipetik dan dikompilasi dari Morton,M.Rubber technology. Edisi ke3. NewYork Van Nostrand Reinhold,1987.

Tabel tersebut secara singkat menjelaskan mengenai sifat-sifat dari karet alam dan menunjukkkan komposisi lateks segar.(Surya,2006) Semua jenis karet adalah polimer tinggi dan mempunyai susunan kimia yang berbeda dan memungkinkan untuk diubah menjadi bahan-bahan yang bersifat

elastis(rubberines). Namun bahan-bahan itu berbeda sifat dasarnya misalnya kekuatan tensil,daya ulur maksimusm, daya lentur(resilience) dan terutama pada proses pengolahannya serta prestasinya sebagai barang jadi. Karet alam merupakan suatu komoditi homogen yang cukup baik. Kualitas dan produksi karet alam sangat terkenal dan merupakan dasar perbandingan yang baik untuk karet-karet benang, adapun sifat-sifatnya adalah: -Karet alam mempunyai daya lentur yang tinggi, kekuatan tensil -Dapat dibentuk dengan panas yang rendah -Daya tahan karet terhadap benturan, goresan, dan koyakan sangat baik seperti oksidasi Dan ozon -Karet alam juga mempunyai daya tahan yang rendah terhadap bahan-bahan kimia seperti Bensin, minyak tanah, bensol, pelarut lemak, pelumat sintetis dan cairan hidrolik -Daya tahan sangat tinggi.(Spillane,1989) Lateks pekat merupakan jenis karet yang berbentuk cairan pekat, tidak berbentuk lembaran atau padatan lainnya. Lateks pekat yang dijual dipasaran ada yang dibuat melalui proses pendadihan atau creamed lateks dan melalui proses pemusingan atau centrifuged lateks. Biasanya lateks pekat banyak digunakan untuk pembuatan bahanbahan karet yang tipis dan bermutu tinggi (Suharto.1978).

Standar mutu lateks pekat

2.4 Manfaat Lateks Karet alam banyak digunakan dalam berbagai industri. Umumnya alat-alat yang dibuat dari karet alam sangat berguna bagi kehidupan sehari-sehari maupun dalam usaha industri mesin-mesin penggerak. Barang yang dapat dibuat dari karet alam antara lain aneka ban kendaraan, sepatu karet, sabun penggerakmesin besar dan mesin kecil, pipa karet, kabel, isolator dan bahan-bahan pembungkus logam. Bahan baku karet banyak digunakan untuk membuat perlengkapan seperti sekat atau tahanan alat-alat penghubung dan penahan getaran. Umumnya alat-alat yang dibuat dari karet alam sangat berguna bagi kehidupan sehari-sehari maupun dalam usaha industri mesin-mesin penggerak. Barang yang dapat dibuat dari karet alam antara lain aneka ban kendaraan, sepatu karet, sabun penggerakmesin besar dan mesin kecil, pipa karet, kabel, isolator dan bahan-bahan pembungkus logam. Karet juga bisa

dipakai untuk tahanan dudukan mesin serta dipasang pada pintu, kaca pintu, kaca mobil, dan pada alat-alat lainnya (Nopianto,2009). Dalam aplikasinya bahan karet yang diperbuat dengan benang-benang sehingga cukup kuat, elastis, dan tidak menimbulkan suara yang berisik dapat dipakai sebagai tali kipas mesin. Sambungan pipa minyak,pipa air, pipa udara banyak juga yang menggunakan bahan baku karet, walaupun kiniada yang menggunakan bahan plastik.

BAB 3. METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat - Pipet ukur - Beaker glass - Spatula - Saringan - Botol plastik tempat lateks segar - Penangas / hot plate - Neraca analitik

3.1.2 Bahan - Lateks segar - Asam format 1% - Asam asetat 1% - CMC 1% - Air

3.2 Skema Kerja

3.2.1

Perhitungan KKK Lateks Segar


@100 ml lateks segar

Timbang dalam beaker glass (a gram)

+ asam format 1% (10ml)

+ asam asetat 1% (10ml)

Pemanasan dan pengadukan (hingga menggumpal)

Pengepresan

Keringkan permukaan karet

Timbang sebagai b gram (Hitung Fp dan KKK

3.2.2

Pengenceran Lateks pada Pembuatan Karet Sheet

100 ml lateks segar

Penyaringan Penentuan KK dan KE Penambahan air sesuai Perhitungan

3.2.3 Pengaruh Penambahan Bahan Pendadih dan Lama Pemisahan Terhadap Sifatsifat Lateks Pekat
@100 ml lateks segar

Penyaringan @ + amoniak 0,5 ml

+ 5 ml CMC 1%

+ 6 ml CMC 1%

+ 7 ml CMC 1%

Pengadukan dan Biarkan 4,5,6 hari Amati tekstur, KKK, aroma dan warna

BAB 4. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN 4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Perhitungan KKK Lateks Segar Perlakuan Berat BG (gr) Berat BG + lateks segar (gr) Penambahan Asam Format Penambahan Asam Asetat 205,5 300 94,5 33,5 201,5 299 97,5 37,72 Berat a (gr) Berat b (gr)

4.1.2

Pengenceran Lateks pada Pembuatan Karet Sheet Bahan Lateks A Lateks B KKK 37,72 33,501 KE 15 15 N 100 100

4.1.3 Pengaruh Penambahan Bahan Pendadih dan Lama Pemisahan Terhadap Sifatsifat Lateks Pekat a) Shift C1 Perlakuan CMC 5 ml CMC 6 ml CMC 7 ml Warna ++++ ++ +++ Aroma +++++ +++ ++++

Keterangan : Warna semakin + maka semakin gelap Aroma semakin + maka semakin menyengat

Perlakuan CMC 5 ml CMC 6 ml CMC 7 ml

a gram 97,72 98,31 98,53

b gram 30,01 29,22 28,19

b) Shift C2 Perlakuan CMC 5 ml CMC 6 ml CMC 7 ml Warna ++++ +++ ++ Aroma +++ ++++ ++

Keterangan : Warna semakin + maka semakin gelap Aroma semakin + maka semakin menyengat Perlakuan CMC 5 ml CMC 6 ml CMC 7 ml a gram 98,82 97,07 98,65 b gram 28,73 27,31 26,97

4.2 4.2.1

Hasil Perhitungan Perhitungan KKK Lateks Segar Perlakuan Penambahan Asam Format FP (%) 70,4 KKK (%) 28,79

Penambahan Asam Asetat

69,3

29,29

4.2.2 Pengenceran Lateks pada Pembuatan Karet Sheet Bahan Lateks A Lateks B KKK 28,79 29,29 KE 15 15 N 100 100 AT 91,93 ml 95,27 ml

4.2.3 Pengaruh Penambahan Bahan Pendadih dan Lama Pemisahan Terhadap Sifatsifat Lateks Pekat a) Shift C1 Perlakuan CMC 5 ml CMC 6 ml CMC 7 ml a gram 97,72 98,31 98,53 b gram 30,01 29,22 28,19 FP 69,28% 70,27% 71,38% KKK 30,001% 29,198% 28,180%

b) Shift C2 Perlakuan CMC 5 ml CMC 6 ml CMC 7 ml a gram 98,82 97,07 98,65 b gram 28,73 27,31 26,97 FP 70,9% 71,86% 72,66% KKK 28,76% 25,34% 26,97%

BAB 5. PEMBAHASAN

5.1 Mekanisme Penambahan Asam Format, Asam Asetat, dan CMC 5.1.1 Penambahan Asam Format dan Asam Asetat Penggunaan asam didasarkan pada kemampuannya yang cukup baik dalam menurunkan pH lateks serta harga yang cukup terjangkau bagi kebun dan petani karet dibandingkan bahan koagulan lainnya. Tujuan dari penambahan asam adalah untuk menurunkan pH lateks pada titik isoelektriknya sehingga lateks akan membeku atau berkoagulasi, yaitu pada pH antara 4.5-4.7. Asam dalam hal ini ion H+ akan bereaksi dengan ion OH- pada protein dan senyawa lainnya untuk menetralkan muatan listrik sehingga terjadi koagulasi pada lateks. Penambahan larutan asam diikuti dengan pengadukan agar tercampur ke dalam lateks secara merata serta membantu mempercepat proses pembekuan. Pengadukan dilakukan dengan 6-10 kali maju dan mundur secara perlahan untuk mencegah terbentuknya gelembung udara yang dapat mempegaruhi mutu sit yang dihasilkan. Kecepatan penggumpalan dapat diatur dengan mengubah perbandingan lateks, air dan asam sehingga diperoleh hasil bekuan atau disebut juga koagulum yang bersih dan kuat ( Zuhra, 2006 ).

5.1.2 Penambahan CMC Penambahan CMC menyebabkan sistem koloid lateks menjadi sangat labil. Oleh karena itu, sistem segera memberikan reaksi untuk mencapai kestabilan yang baru. Tingkat kestabilan yang lebih baik berangsur-angsur dicapai sistem dalam periode waktu satu malam. Satu bagian atom hidrogen pada gugus hidroksi dalam CMC diganti dengan gugus natriumkarboksimetil (-CH2COONa). Kelarutan CMC dipengaruhi oleh derajat substitusinya (DS). Karboksimetilselulosa dengan DS lebih kurang atau sama dengan 0,3 larut dalam alkali, sedangkan pada DS lebih besar dari 0,4 Na-CMC bersifat larut dalam air. Secara teoritis CMC memiliki DS maksimal

tiga karena gugus anhidro glukosa memiliki tiga buah gugus hidroksil yang dapat digantikan dengan gugus natriumkarboksimetil (Loo, 1973).

5.2 Fungsi Perlakuan Dari praktikum yang telah dilakukan, dimana untuk penentuan kadar karet kering (KKK) dan pengenceran lateks dan pengaruh penambahan bahan dadih. Dalam perhitungan KKK, digunakan 100 ml lateks segar dalam beaker glass dan ditambah masing masing dengan asam asetat 1 % sebanyak 10 ml dan asam format 1 % sebanyak 10 ml tujuannya untuk menggumpalkan lateks. Lalu lateks tersebut dipanaskan hingga menggumpal, tujuan dari pemanasan yaitu untuk mempercepat proses penggumpalan karena pada proses ini kandungan air juga akan menguap. Setelah itu dilakukan penggilingan untuk memperbesar luas permukaan agar mudah dikeringkan, setelah itu dikeringanginkan. Selanjutnya ditimbang berat basahnya sebagai a gram, kemudian di oven pada suhu 50oC selama 1 hari tujuannya untuk menghilangkan air pada lembaran lateks tersebut agar diperoleh lateks yang benar benar kering. Setelah itu ditimbang berat keringnya sebagai b gram. Kemudian dihitung faktor pengeringnya dan KKK-nya serta diamati pula aroma, tekstur, dan warnanya. Perhitungan untuk penentuan KKK didapatkan untuk presentase faktor pengeringan dan persentase KKK berbanding terbalik. Semakin besar pengeringan maka semakin kecil nilai KKK. Sedangkan dalam pengenceran lateks, pertama tama yang dilakukan adalah 200 ml lateks segar disaring tujuannya untuk memperoleh filtrat yang murni dari lateks tanpa ada campuran dari komponen komponen lain. sebelum di encerkan ditentukan terlebih dahulu KK dan KE ( kadar karet yang diinginkan ) sesuai dengan acara 1, selanjutnya tambahkan air ke dalam lateks segar tersebut sesuai hasil perhitungan rumus pengenceran yaitu : faktor

Sedangkan

untuk

percobaan

pengaruh

penambahan

bahan

dadih,

perlakuannya pertama tama 300 ml lateks disaring untuk memperoleh filtrat lateks yang benar benar murni, kemudian lateks tersebut ditambahkan larutan CMC 1% sebagai bahan penstabil sebanyak 7 ml lalu diaduk tujuannya untuk memperoleh lateks pekat. Kemudian lateks tersebut didiamkan selama 4, 7, dan 8 hari tujuannya untuk mengetahui pengaruh lama waktu penyimpanan terhadap nilai KKK lateks dan sifat organoleptik lainnya.

5.3 Analisa Data 5.4.1 Perhitungan KKK Lateks Segar Dari hasil pengamatan dan perhitungan didapatkan nilai KKK pada perlakuan penambahan asam format 1%, sebesar 37,72% dengan FP 61,313%. Sedangkan pada penambahan asam asetat 1% didapatkan nilai KKK sebesar 33,501% dengan FP 64,550%. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa nilai KKK pada penambahan asam format lebih besar dari pada penambahan asam asetat, hal ini berarti mekanisme asam format dalam mengkoagulasi lateks itu lebih baik dibandingkan asam asetat. Pengepresan dengan tekanan dan waktu pengepresan pada praktikum ini tidak ditentukan sehingga kadar air yang terkandung dari karet hasil pengeringan tidak sama satu dengan yang lain, sehingga berat basahnya berbeda. Perbedaan berat basah tersebut menghasilkan nilai KKK yang berbeda. Selain itu semakin kecil FP maka KKK akan semakin besar.

5.3.2 Pengenceran Lateks pada Pembuatan Karet Sheet Dari hasil pengamatan dan perhitungan pada acara pengenceran lateks A(penambahan asam format)diketahui nilai KKK sebesar 37,72 dan nilai KE 15% dan jumlah liter lateks segar(N) sebesar 100 sedangkan pengenceran lateks B(penambahan asam asetat)diketahui nilai KKK sebesar 33,501 dan nilai KE 15% dan jumlah liter lateks segar(N) sebesar 100.

5.3.3 Pengaruh Penambahan Bahan Pendadih dan Lama Pemisahan terhadap Sifatsifat Lateks Segar Dari hasil pengamatan terhadap penambahan CMC 5 diketahui bahwa pada viskositas hari ke-4 sebesar 30, hari ke-5 sebesar 14, dan hari ke-6 sebesar 11. Untuk penambahan CMC 6 ml didapatkan nilai viskositas pada hari ke-4 sebesar 60, hari ke5 sebesar 34, dan hari ke-6 sebesar 12. Sedangkan untuk penambahan CMC 7 ml didapatkan hasil viskositas pada hari ke-4 sebesar 9, hari ke-5 sebesar 10, dan hari ke6 sebesar 5. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa semakin lama waktu penyimpanan ( pendiaman ) semakin besar pula nilai KKK-nya. Hal ini sudah benar karena semakin lama penyimpanan, air yang menguap dari lateks itu juga semakin banyak sehingga diperoleh kadar karet kering yang semakin besar pula. Untuk pengamatan sifat organoleptiknya, untuk warna semakin lama waktu penyimpanan warnanya semakin gelap hal ini disebabkan karena selama penyimpanan terjadi reaksi maillard. Untuk aroma, semakin lama waktu penyimpanan aromanya semakin menyengat karena komponen senyawa volatilnya banyak yang menguap. Untuk tekstur, semakin lama waktu penyimpanan teksturnya semakin kenyal karena larutan CMC yang digunakan juga semakin menstabilkan lateks tersebut sehingga keelastisannya terjaga.

Dari pengamatan terhadap pengaruh penambahan cmc terhadap warna didapatkan hasil pada penambahan CMC 5 ml pada hari ke-4, ke-5, dan ke-6 secara berturut-turut +1, +2, dan +3. Pada penambahan CMC 6 ml didapatkan hasil pada hari ke-4, ke-5, dan ke-6 secara berturut-turut +3, +3, dan +4. Sedangkan pada penambahan CMC 7 ml didapatkan hasil pada hari ke-4, ke-5, dan ke-6 secara berturut-turut +2, +4, dan +5. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa semakin lama waktu penyimpanan maka warna yang dihasilkan semakin gelap, hal ini disebabkan karena saat penyimpanan dimungkinkan terjadi kontak dengan udara pada senyawa yang terdapat pada lateks sehingga terjadi proses oksidasi dan menyebabkan warna

lateks menjadi coklat atau warnanya menjadi lebih gelap. Selain itu banyaknya komponen pada karet yang rusak karena terhentinya proses enzimatis pada karet juga dapat menyebabkan perubahan warna pada karet. Dari pengamatan terhadap aroma untuk penambahan CMC 5 ml didiketahui pada hari ke-4, ke-5, dan ke-6 secara berturut-turut +2, +3, dan +4, untuk penambahan CMC 6 ml didapatkan pada hari ke-4, ke-5, dan ke-6 secara berturutturut +3, +4, dan +5, dan untuk penambahan CMC 7 ml didapatkan pada hari ke-4, ke-5, dan ke-6 secara berturut-turut +1, +5, dan +6. Dari data tersebut didaptkan bahwa semakin lama penyimpanan maka aroma lateks menjadi semakin menyengat. Hal ini dikarenakan serum C yang mengandung zat yang terlarut yaitu asam amino, karbohidrat, inositol dan asam organik misalnya asam nukleat pirofosfat dan askorbat terpisah dan saling bereaksi sehingga menimbulkan aroma (bau) yang menyengat.

BAB 6. PENUTUP

6.1 Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan hasil pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: Lateks adalah cairan koloid yang berwarna putih susu yang diperoleh dari pohon karet (Havea Brasiliensis) dengan partikel-partikel karet terdispersi air. Tahapan pengolahan karet secara umum : penerimaan lateks kebun, pengenceran, pengenceran, penggilingan, pengasapan, dan sortasi. Penentuan nilai KKK dilakukan dengan tujuan antara lain: untuk penentuan upah penyadapan lateks, untuk menentukan jumlah air pada waktu pengenceran lateks, penyadap lateks tidak mungkin mencampuri lateks dengan air. Sedangkan tujuan dari pengenceran lateks antaralain: penyeragaman kadar karet kering (KKK) sehingga cara pengolahan dan mutunya tetap, mempermudah meratanya koagulans yang dibutuhkan untuk proses koagulasi, memudahkan pemisahan lateks dengan kotoran atau penyaringan. Mekanisme koagulasi lateks dengan penambahan asam adalah ion H+ akan bereaksi dengan ion OH pada protein dan senyawa lainnya untuk

menetralkan muatan listrik sehingga terjadi koagulasi pada lateks. Pada perhitungan KKK dari penambahan asam format dan asam asetat secara berturut-turut adalah 37,72% dan 33,501%. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan asam format sebagai bahan penggumpal lebih baik daripada penambahan asam asetat karena KKKnya lebih besar.Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa nilai KKK pada penambahan asam format lebih besar dari pada penambahan asam asetat, hal ini berarti mekanisme asam format dalam mengkoagulasi lateks itu lebih baik dibandingkan asam asetat.

Untuk pengenceran lateks, Pengenceran lateks bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak air yang dibutuhkan berdasarkan jumlah lateks yang akan diencerkan. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai AT 25.046,66 ml untuk penambahan asam format.

KKK tertinggi yaitu pada penyimpanan 5 hari dengan KKK sebesar 30,001%. Ini berarti bahwa semakin lama penyimpanan nilai KKK akan semakin besar dan mutu karet akan semakin baik.

6.2 Saran 1.Sebaiknya waktu dan proses praktikum sebaiknya lebih dioptimalkan. 2.Penyampaian metode dan skema kerja sebaiknya lebih dioptimalkan. 3.Terimakasih untuk kakak-kakak asisten().

DAFTAR PUSTAKA

Djumarti. 2010. Teknologi Pengolahan Lateks. Handout. Jember : FTP Unej

Goutara. 1985. Dasar Pengolahan Karet. Bogor : Fatemeta-IPB

Loo, T.G. 1973. Penuntun Praktis untuk Pembuatan Karet. Jakarta : PT. Kinta.

Morton, M. 1987.Rubber Reinhold, New. York.

Technology. 3 rd

Edition. Van

Nostrand

Nopianto Eko. 2009 . Penuntun Analisis Lateks. Bogor : Balai Penelitian Perkebunan Bogor.

Spillane, James J. 1989. : Komoditi karet : peranannya dalam perekonomian Indonesia / James J. Spillane.Yogyakarta : Kanisius

Suharto.1978. Karet. Medan: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan AlamUniversitas Sumatera Utara.

Zuhra. 2006. Karet. Karya Tulis Ilmiah. Medan : Universitas Sumatera Utara

Lampiran a. Perhitungan KKK Lateks Segar Penambahan asam format Fp x 100% x 100% = 61,313 %

KKK = a-(fp x a)/100% = 97,5-( 61,313 x 97,5)/100% = 37,72%

Penambahan asam asetat Fp x 100% x 100% = 64,550 %

KKK = a-(fp x a)/100% = 94,5( 64,550 x 94,5)/100%

= 33,501

b. Pengenceran lateks Pada pembuatan karet Sheet Lateks a dengan penambahan asam format AT = xN x 100

= 25.046,66 Lateks B dengan penambahan asam asetat AT = = 22,234 xN x 100

c. Pengaruh penambahan bahan pendadih dan lama pemisahan terhadap sifatsifat lateks pekat Shift 1 CMC 5 ml fp = = 69,28% x 100% x 100%

KKK = a-(fp x a)/100% = 97,72( 69,28 x 97,72)/100% = 30,001 CMC 6ml fp x 100%

= = 70,27%

x 100%

KKK = a-(fp x a)/100% = 98,31( 70,27 x 98,31)/100% = 29,198

CMC 7ml fp = = 71,38% x 100% x 100%

KKK = a-(fp x a)/100% = 98,53( 71,38 x 98,53)/100% = 28,180%

Shift 2 CMC 5 ml fp = = 70,9% x 100% x 100%

KKK = a-(fp x a)/100% = 98,82( 70,9 x 98,82)/100% = 28,76% CMC 6ml

fp =

x 100% x 100%

= 71,86%

KKK = a-(fp x a)/100% = 97,07( 71,86 x 97,07)/100% = 25,34% CMC 7ml fp = = 72,66% x 100% x 100%

KKK = a-(fp x a)/100% = 98,65( 72,66 x 98,65)/100% = 26,97%