Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH EKONOMI Pengeluaran Pemerintah dan Aspek Positif Negatif Perilaku Konsumtif

MAKALAH EKONOMI
Pengeluaran Pemerintah dan Aspek Positif Negatif Perilaku Konsumtif

Di Susun oleh : Fauzia Tripurnamawati Maulina Putri Maharani Widdy Maulida Aziz Aldi Fahruraji Daffio Ardibudiman Puji Nugraha

Pendahuluan
Dengan menghaturkan puji dan syukur atas kehadirat Tuhan yang maha Esa, kelompok kami yaitu kelompok 3 akan mempersembahkan Makalah Ekonomi yang berjudul tentang PENGELUARAN PEMERINTAH DAN ASPEK POSITIF PERILAKU KONSUMTIF. Makalah ini berisi tentang pengertian pengeluaran rutin dan tidak rutin, contoh-contoh pengeluaran pemerintah dan menjelaskan aspek positif dan negatif perilaku konsumtif. Diharapkan makalah yang sudah kami buat semaksimal mungkin ini dapat berguna bagi siapa saja. Dan semoga makalah kami dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi orang luas.

A. Pengeluaran Rutin Pemerintah

1) 2) 3) 4) 5) 6)

Pengeluaran rutin adalah segala bentuk pengeluaran pemerintah untuk membayar kebutuhan sehari-hari pemerintah. Pengeluaran rutin dimaksudkan sebagai pengeluaranpengeluaran pemerintah yang dialokasikan untuk membiayai kegiatan rutin pemerintahan. Tujuan pengeluaran rutin agar pemerintah dapat menjalankan misinya dalam rangka menjaga kelancaran penyelenggaraan pemerintah, kegiatan operasional dan pemeliharaan asset negara, pemenuhan kewajiban pemerintah kepada pihak ketiga, perlindungan kepada masyarakat miskin dan kurang mampu, serta menjaga stabilitas perekonomian. Besarnya pengeluaran rutin dipengaruhi oleh berbagai langkah kebijakanyang ditempuh pemerintah dalam rangka pengelolaan keuangan negara dan stabilitas perekonomian, seperti perbaikan pendapatan aparatur pemerintah,penghematan pembayaran bunga utang, dan pengalihan subsidi agar lebih tepat sasaran. Contoh pengeluaran rutin pemerintah sebagai berikut : Belanja pegawai, termasuk gaji pegawai negri dan TNI Belanja barang, seperti perlengkapan dan peralatan kantor Cicilan hutang, baik hutang luar dan dalam negri Subsidi daerah otonom Pengeluaran rutin lainnya adalah subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) Anggaran untuk pendidikan, kesehatan, dan pertahanan keamanan.

B. Pengeluaran Tidak Rutin Pemerintah


Pengeluaran pembangunan (pengeluaran tidak rutin) yaitu pengeluaran yang bersifat modal masyarakat dalam bentuk pembangunan fisik dan non fisik. Pos pengeluaran pembangunan diantaranya untuk bantuan rupiah, seperti sumbangan bagi korban bencana alam dan bantuan biaya proyek untuk pembangunan sarana fasilitas umum. Besar kecilnya anggaran pengeluaran atau konsumsi pemerintah akan sangat bergantung pada sikap dan keputusankeputusan politik.

C. Aspek Positif dan Negatif Perilaku Konsumtif


Pada hakikatnya, tujuan konsumen melakukan kegiatan konsumsi, yaitu memenuhi segala kebutuhannya sehingga memperoleh kepuasan maksimal. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut manusia dihadapkan pada keterbatasan tertentu sehinggga diperlukan tindakan atau perilaku konsumsi yang lebih baik,yaitu dengan menggunakan tindakan konsumsi yang berprinsip ekonomi. Kegiatan mengkonsumsi yang berlebihan dapat menimbulkan perilaku konsumtif masyarakat. Perilaku konsumtif adalah perilaku manusia yang melakukan kegiatan konsumsi yang berlebihan. Semua tindakan konsumsi didasarkan pada prinsip dan tindakan ekonomi. Artinya seorang konsumen dalam melakukan tindakan konsumsinya harus selalu bertindak rasional dan ekonomis, selalu membeli atau mengonsumsi barang yang benar-benar di butuhkan, membeli dan mengonsumsi barang dengan tujuan ideal, serta setiap tindakan konsumsinya selalu berdasarkan skala prioritas. Perilaku konsumtif ini bila dilihat dari sisi positif akan memberikan dampak: 1. Membuka dan menambah lapangan pekerjaan, karena akan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak untuk memproduksi barang dalam jumlah besar.

2. Meningkatkan motivasi konsumen untuk menambah jumlah penghasilan, karena konsumen akan berusaha menambah penghasilan agar bisa membeli barang yang diinginkan dalam jumlah dan jenis yang beraneka ragam. 3. Menciptakan pasar bagi produsen, karena bertambahnya jumlah barang yang dikonsumsi masyarakat maka produsen akan membuka pasar-pasar baru guna mempermudah memberikan pelayanan kepada masyarakat. 4. Mendorong produsen untuk memproduksi barang dengan harga dan kualitas yang lebih baik Bila dilihat dari sisi negatifnya, maka perilaku konsumtif akan menimbulkan dampak: 1. Pola hidup yang boros dan akan menimbulkan kecemburuan sosial, karena orang akan membeli semua barang yang diinginkan tanpa memikirkan harga barang tersebut murah atau mahal, barang tersebut diperlukan atau tidak, sehingga bagi orang yang tidak mampu mereka tidak akan sanggup untuk mengikuti pola kehidupan yang seperti itu. 2. Mengurangi kesempatan untuk menabung, karena orang akan lebih banyak membelanjakan uangnya dibandingkan menyisihkan untuk ditabung. 3. Cenderung tidak memikirkan kebutuhan yang akan datang, orang akan mengkonsumsi lebih banyak barang pada saat sekarang tanpa berpikir kebutuhannya di masa datang. 4. Mendorong konsumen melakukan pengeluaran di luar batas kemampuannya sehingga akan melakukan pinjaman yang pada akhirnya akan terjebak hutang.

Penutup
Kesimpulan daripada makalah kami ini adalah sebagai berikut : Pengeluaran rutin dan tidak rutin pemerintah bertujuan untuk dapat menjalankan misinya dalam rangka menjaga kelancaran penyelenggaraan pemerintah, kegiatan operasional dan pemeliharaan asset negara, pemenuhan kewajiban pemerintah kepada pihak ketiga, perlindungan kepada masyarakat miskin dan kurang mampu, serta menjaga stabilitas perekonomian. Tetapi, Besar kecilnya anggaran pengeluaran atau konsumsi pemerintah akan sangat bergantung pada sikap dan keputusan-keputusan politik. Tujuan konsumen melakukan kegiatan konsumsi, yaitu untuk memenuhi kebutuhannya hingga memperoleh kepuasan maksimal. Tetapi untuk tujuan tersebut konsumen dihadapkan pada keterbatasan tertentu sehingga diperlukan tindakan konsumsi yang berprinsip ekonomi. Jika konsumtif membeli (mengkonsumsi) barang dengan berlebihan maka menimbulkan 2 aspek yaitu aspek negatif dan positif dan juga menimbulkan kerugian dan keutungan. Jadi, dalam mengkonsumsi barang seorang konsumen harus bisa bertindak secara rasional, ekonomis, memilih barang yang benar-benar dibutuhkan dengan tujuan ideal dan tak lupa setiap tindakan konsumsi harus sesuai dengan skala prioritas.

Tentang Pengeluaran Pemerintah


By globalmanagement on February 21, 2009

Oleh : Syeh Assery Apakah yang dimaksud pengeluaran pemerintah? Bagaimanakah pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap output nasional di beberapa negara? Bagaimanakah teori mengenai pengeluaran pemerintah dari beberapa ekonom ataupun pemikir sosial lainnya? Tulisan ini membahas kajian dari Arthur Gold Smith (2008) tentang pemahaman pengeluaran pemerintah, penelitian Erdal Karago and Kerim Ozdemir (2006) tentang pengeluaran pemerintah di Turki, dan penelitian Sajkumar Tulsidharan (2006) tentang pengeluaran pemerintah di India. Beikutnya juga dibahas sekilas penjelasan berbagai penelitian tentang pengeluaran pemerintah yang dikutip Tulsidharan seperti penelitian Landau (1986), Barro (1989,1990) Kormendi dan Meguire (1985), Ram (1986), Ashauer (1989), Cashin (1995), Rubinson (1977) Levine dan Renelt (1992). Pembahasan lainnya adalah teori Musgrave dan Rostow, Wagner, Peacock dan Wiseman terkait dengan kebijakan pemerintah mengenai pengeluaran pemerintah dan pertumbuhan ekonomi juga tentang kaitan antara pengeluaran pemerintah dan crowding out. Bab II Pembahasan diakhiri dengan dua subbab yaitu tentang peranan pengeluaran pemerintah dalam ekonomi Islam dan pengeluaran pemerintah menurut ekonomi Pancasila. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengantar 1.2 Latar Belakang Masalah 1.3 Perumusan Masalah 1.4 Tujuan dan Manfaat Penulisan 1.5 Metode Penulisan 1.6 Sistematika BAB II. PEMBAHASAN 2.1 Pengantar 2.2 Arthur Goldsmith (2008) 2.3 Penelitian Erdal Karago and Kerim Ozdemir (2006) 2.4 Penelitian Sajkumar Tulsidharan (2006) 2.5 Penelitian Lainnya 2.6 Teori Pengeluaran Negara 2.7 Pengeluaran Pemerintah dan Crowding Out 2.8 Peranan Anggaran dalam Ekonomi Islam 2.9 Peranan Anggaran dalam Ekonomi Pancasila BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan 3.2 Saran Referensi BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Pengantar Bab I Pendahuluan menjelaskan berisi pengantar, latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika pembahasan. 1.2 Latar Belakang Masalah Kewajiban negara dalam rangka menjaga kelangsungan kedaulatan negara (pemerintah) dan meningkatkan kemakmuran masyarakat, mencakup: mempersiapkan, memelihara, dan melaksanakan keamanan negara, menyediakan dan memelihara fasilitas untuk kesejahteraan sosial dan perlindungan sosial, termasuk fakir miskin, jompo, yatim piatu, masyarakat miskin, pengangguran, menyediakan dan memelihara fasilitas kesehatan, menyediakan dan memelihara fasilitas pendidikan. Sebagai konsekuensi pelaksanaan kewajibannya, pemerintah perlu dana yang memadai, dianggarkan melalui APBN/APBD, dan pada saatnya harus dikeluarkan melalui Kas Negara/Kas Daerah. Dalam APBN, pengeluaran Pemerintah Pusat dibedakan menjadi Pengeluaran untuk Belanja dan Pengeluaran untuk Pembiayaan. Pengeluaran untuk belanja terdiri dari: Belanja Pemerintah Pusat seperti Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal, Pembayaran Bunga Utang, Subsidi, Belanja Hibah, Bantuan Sosial, Belanja Lain-lain, dan Dana yang dialokasikan ke Daerah seperti Dana Perimbangan, Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian. Sedangkan Pengeluaran untu Pembiayaan tediri dari Pengeluaran untuk Obligasi Pemerintah, Pembayaran Pokok Pinjaman Luar Negeri, dan Pembiayaan lain-lain. Adapun jenis-jenis Pengeluaran Negara menurut sifatnya terdiri dari Pengeluaran Investasi, Pengeluaran Penciptaan Lapangan Kerja, Pengeluaran Kesejahteraan, Pengeluaran untuk Penghematan Masa Depan, dan Pengularan Lainnya. Pengeluaran Investasi merupakan pengeluaran yang ditujukan untuk menambah kekuatan dan ketahanan ekonomi di masa datang, misalnya, pengeluaran untuk pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, satelit, peningkatan kapasitas SDM, dll. Pengeluaran Penciptaan Lapangan Kerja merupakan pengeluaran untuk menciptakan lapangan kerja, serta memicu peningkatan kegiatan perekonomian masyarakat. Pengeluaran Kesejahteraan Rakyat merupakan pengeluaran yang mempunyai pengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, atau pengeluaran yang dan membuat masyarakat menjadi bergembira, misalnya pengeluaran untuk pembangunan tempat rekreasi, subsidi, bantuan langsung tunai, bantuan korban bencana. Sedangkan Pengeluaran Untuk Masa Depan merupakan pengeluaran yang tidak memberikan manfaat langsung bagi negara, namun bila dikeluarkan saat ini akan mengurangi pengeluaran pemerintah yang lebih besar di masa yang akan datang, pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan masyarakat, dan pengeluaran untuk anak-anak yatim. Sedangkan Pengeluaran Lain-lain merupakan pengeluaran tidak produktif yang tidak memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat, namun diperlukan oleh pemerintah, misalnya pengeluaran untuk biaya perang. 1.3 Perumusan Masalah Apakah yang dimaksud pengeluaran pemerintah? Bagaimanakah pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap output nasional di beberapa negara? Bagaimanakah teori mengenai pengeluaran pemerintah dari beberapa ekonom ataupun pemikir sosial lainnya? 1.4 Tujuan dan Manfaat Penulisan Tujuan penulisan ini untuk melakukan eksplorasi atau memahami ebih lanjut tentang

pengeluran pemerinntah. Manfaat penulisan ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengeluaran pemerintah 1.5 Metode Penulisan Metode penulisan ini menggunakan kajian kepustakaan dengan bahan-bahan pustaka jurnaljurnal yang diberikan selama perkuliahan, buku-buu referensi, dan pemikiran penulis. 1.6 Sistematika Sistematika penulisan ini terdiri dari tiga bab yaitu pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Di setiap bab dibagi lagi ke dalam sub bab yang dijelaskan dalam setiap pengantar bab. BAB II. PEMBAHASAN 2.1 Pengantar Bab II Pembahasan terdiri dari pengantar, pembahasan dari Arthur Gold Smith (2008) tentang pemahaman pengeluaran pemerintah, penelitian Erdal Karago and Kerim Ozdemir (2006) tentang pengeluaran pemerintah di Turki, penelitian Sajkumar Tulsidharan (2006) tentang pengeluaran pemerintah di India. Beikutnya dibahas sekilas penjelasan berbagai penelitian tentang pengeluaran pemerintah yang dikutip Tulsidharan seperti penelitian Landau (1986), Barro (1989,1990) Kormendi dan Meguire (1985), Ram (1986), Ashauer (1989), Cashin (1995), Rubinson (1977) Levine dan Renelt (1992). Pembahasan lainnya adalah teori Musgrave dan Rostow, Wagner, Peacock dan Wiseman terkait dengan kebijakan pemerintah mengenai pengeluaran pemerintah dan pertumbuhan ekonomi juga tentang kaitan antara pengeluaran pemerintah dan crowding out. Bab II Pembahasan diakhiri dengan dua subbab yaitu tentang peranan pengeluaran pemerintah dalam ekonomi Islam dan pengeluaran pemerintah menurut ekonomi Pancasila. 2.2 Penelitian Arthur Goldsmith (2008) Arthur Goldsmith. (2008), menyatakan bahwa peningkatan belanja pemerintah dapat memperluas permintaan agregat dalam jangka pendek tetapi juga dapat meningkatkan tingkat suku bunga sehingga akan menurunkan investasi swasta dalam jangka panjang. Belanja pemerintah dibagi menjadi dua komponen: konsumsi masyarakat dan investasi publik. Efek jangka pendek dari peningkatan belanja pemerintah adalah sama untuk kedua komponen tetapi berbeda untuk efek jangka panjang. Belanja sektor publik dapat diklasifikasikan berdasar produktivitas. Membedakan antara pengeluaran pemerintah yang mempengaruhi produktivitas dan untuk konsumsi penting untuk dipahami sebagai konsekuensi intervensi fiskal melalui perubahan dalam pengeluaran pemerintah. Dampak pengeluaran pemerintah dalam jangka panjang terhadap kinerja agregat ekonomi tergantung pada kinerja pemerintah. Dalam jangka pendek belanja pemerintah akan memperluas permintaan agregat tetapi peningkatan belanja pemerintah atas biaya dana pinjaman, akan menyempitkan beberapa investasi swasta dan menghambat pertumbuhan permintaan agregat. Crowding Out akhirnya dapat menurunkan stok modal swasta, dan pada gilirannya, dalam jangka panjang akan menurunkan produktivitas sehingga akan mengurangi output dan kapasitas produksi. Oleh karena itu diperlukan treatment ketidakseimbangan kebijakan fiskal dalam bentuk pengeluaran pemerintah yang memisahkan kedalam pengeluaran untuk konsumsi dan investasi. Pemerintah dapat meningkatkan pertumbuhan dengan mengubah komposisi pengeluaran kedalam kegiatan berbasis produktivitas, tanpa mengubah tingkat pengeluaran atau pajak penghasilan. Pendekatan pasar modal dan obligasi digunakan untuk menggambarkan pengeluaran pemerintah (kebijakan moneter), selain dengan kebijakan fiskal (pada pasar

barang). Di pasar modal, terdapat orang yang memiliki dana dan orang meminjam untuk investasi. Ekspektasi keuntungan (e) akan meningkatkan investasi sektor swasta (IP). Produktivitas tergantung pada modal swasta (KP) dan modal publik atau pemerintah (KG). Tabungan oleh rumah tangga dan perusahaan (SP), tabungan oleh pemerintah (SG) sehingga S = SP + SG, SG = T G, dengan T = Pendapatan pajak dan G = belanja pemerintah. Model penawaran dan permintaan Agregat digunakan untuk menentukan output riil (Y) dan harga (P). Dengan memahami AD = AD(C,IP, GC, GI), tingkat permintaan agregat ditentukan oleh belanja konsumsi rumah tangga (C), belanja investasi sektor swasta (IP), dan belanja pemerintah (G) yang dipisah menjadi belanja konsumsi (GC) dan belanja investasi (GI). Kurva penawaran barang agregat jangka panjang (AS) menunjukkan hubungan antara tingkat harga agregat dan output agregat yang didukung oleh semua faktor (KP) dan (KG). Pengeluaran investasi pemerintah untuk modal publik juga akan meningkatkan penawaran agregat, dengan dengan kata lain; IGKGeIPKPAS dan AS = AS(KP, KG, dimana KP = KP (IP), dan IP = IP[e(KG)], serta KG= KG(GI). Pertumbuhan produktivitas merupakan kunci penentu peningkatan standar hidup. Jika pengambil kebijakan ingin mendorong pertumbuhan standar hidup, maka harus bertujuan meningkatkan kemampuan produksi nasional dengan mendorong lebih cepat akumulasi faktor produksi. Dalam jangka panjang, implikasi belanja publik sebagai salah satu bentuk kebijakan fiskal dapat mempengaruhi kinerja perekonomian jangka panjang (dikutip dari Arthur Goldsmith, Rethinking The Relation Between Government Spending and Economic Growth : A Composition Approach to Fiscal Policy instruction for Principle Students. Journal of Economics Education, Spring 2008) 2.3 Penelitian Erdal Karago and Kerim Ozdemir (2006) Erdal Karago and Kerim Ozdemir (2006) menyatakan bahwa banyak investigasi dan penelitian tentang hubungan pengeluaran pemerintah dan investasi swasta telah dilakukan dan di publikasikan. Ada beberapa hasil penelitian yang dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama yang menyatakan bahwa tingginya pengeluaran pemerintah akan menyingkirkan investasi swasta (efek dari crowding out). Kedua menjelaskan hubungan antara ukuran disaggregate pengeluaran pemerintah dan investasi swasta menggunakan analisis disagregate. Ketiga menyatakan peningkatan pengeluaran pemerintah akan menarik keluar investasi swasta. Erdal Karago and Kerim Ozdemir (2006) menggunakan metode estimasi maksimum (Johansen & Juselius, 1990) untuk menguji cointegration. Mempertimbangkan VAR dan corresponding VECM, Dimana X = investasi swasta (PI), GE = pengeluaran pemerintah, dan Y = GDP Riil. Berdasarkan data di Turki periode 1967-2001, semua variabel ditransformasi ke log seperti LPI< LGE dan LY. Data GDP diperoleh dari State Planning Organisation, Economic and Social Indicators: 1950-2000. Deflator GNP (1987=100%) digunakan untuk mendeflasi variabel. Impulse response analysis juga digunakan untuk menguji interrelationship antar variabel dan menilai penyesuaian keseimbangan jangka panjang. Fungsi ini menunjukkan efek dinamis dari government expenditure shock terhadap variabel lain. Hasil penelitian mengindikasikan: Ada satu persamaan cointegrasi LPI = -22,444 -0,212LGE +2,306LY. Disamping itu juga ditemukan ada hubungan negatif jangka panjang antara pengeluaran pemerintah dan investasi swasta di Turki. iperkirakan pengeluaran pemerintah men-Crowding-out investasi swasta. Pengeluaran pemerintah adalah suatu faktor pembatas terhadap investasi swasta di Turkey. Kejutan (shock) dari pengeluaran pemerintah akan

mempunyai efek negatif pada investasi swasta. Pengeluaran pemerintah memiliki efek negatif pada investor swasta dan pengembangan ekonomi Turkey. Fungsi impulse respon, menunjukkan respon negatif pada investasi swasta untuk one standard deviation shock pengeluaran pemerintah. Pengeluaran pemerintah merupakan substitusi investasi swasta. .(Dikutip dari Erdal Karago and Kerim Ozdemir, Government Expenditures and Private Invetment: Evidence from Turkey. The Middle East Business and Economic Review, Volume 18, No. 2, December 2006, Page 33) 2.4 Penelitian Sajkumar Tulsidharan (2006) Sajkumar Tulsidharan (2006) menyatakan bahwa pada ekonomi transisi terdapat perdebatan yang muncul mengenai keunggulan privatisasi dibanding perusahaan milik pemerintah. Pemerintah menyediakan barang-barang keperluan publik di mana tidak ada kompetisi dari sektor swasta agar dapat dengan pasti mengarah kepada pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Tetapi proses regulasi, subsidi dan pajak, keterlambatan di dalam menerapkan proyek, biaya yang tinggi adalah suatu faktor penghambat dalam pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini menguji data tahunan pada Government Final Consumption Expenditure (termasuk kompensasi bagi buruh, pembelian bersih barang dan jasa dan konsumsi dari modal tetap dalam administrasi pemerintah diukur dari ukuran pemerintah, dan GNP pada harga pasar nominal dan riil (tahun dasari 1993/94=100) di India periode 1960/61 sampai 1999/00. data ini dilaporkan di National Income Statistics (CMIE) Januari 2003. Penelitian ini menguji data tahunan di Government Final Consumption Expenditure dan Produk Nasional Bruto pada harga pasar nominal dan riil di India untuk periode 1960-1961 sampai 1999-2000. Hubungan antara variabel diteliti, dengan menggunakan uji integrasi, cointegrasi, dan error correction mechanism. Hasil utama dari studi ini adalah bahwa pada harga nominal, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi pasti akan diikuti kenaikan government final consumption expenditure. Dalam ekonomi di masa transisi ada suatu perdebatan yang muncul berpihak pada ekonomi berbasis pasar dibanding pemerintah yang mengelola dan mengendalikan perusahaan. Impresi tentang kata reformasi ekonomi di India menyatakan bahwa ada kepentingan di dalam penurunan besar besaran pengendalian yang dilakukan oleh pemerintah. Di India, Pemerintah, baik Central maupun State, telah memainkan satu peran yang penting di dalam pembangunan ekonomi melalui secara langsung menyertakan diri mereka ke dalam memproduksi aktivitas melalui regulasi. Kekuatan keterlibatan langsung di dalam aktivitas penyediaan produk dan jasa dapat dibuktikan dari sumbangan sektor publik ke GDP. Yaitu sekitar 33% di tahun 1990-91 dan menurun menjadi 28,7% di tahun 1997-98. Pada awal 1970s, sumbangan itu sekitar 14%. Di beberapa negara barat yang maju, pengeluaran publik menyebabkan kenaikan GDP secara proporsional. Karenanya rasio pengeluaran publik kepada GDP bisa tidak stabil. Di India, perluasan intensive dan ekstensif aktivitas pemerintah selama periode perencanaan sudah menunjukkan kenaikan yang spektakuler di dalam pengeluaran publik. yaitu naik dari Rs 2,631 crore pada 1960-61 menjadi Rs. 4,36,122 crore pada 1997-98. Pada harga yang tetap, peningkatan pengeluaran pemerintah sekitar dua puluh empat kali lebih pada empat puluh enam tahun terakhir. Masyarakat di negara maju memiliki pendapatan per kapita yang tinggi sehingga dapat dengan mudah mencukupi kebutuhan individu mereka. Masyarakat India dengan persentasi populasi yang besar hidup di bawah garis kemiskinan, banyak orang tidak mampu memenuhi keperluan-keperluan dasar minimal. Kebanyakan dari pengeluaran yang tidak untuk pengembangan yaitu pembayaran bunga, pertahanan, subsidi, polisi, administrasi dan pendidikan umum, manfaat jarang menyaring

kepada bagian masyarakat yang miskin. Manfaat dari pengeluaran pengembangan telah dipakai sebagian besar oleh yang kelompok urban dan elit pedesaan. Peran pengeluaran publik negara maju akan lebih besar untuk stabilisasi ekonomi, simulasi aktivitas investasi dan lain lain. Di negara berkembang, pengeluaran publik mempunyai peran untuk mengurangi disparitas regional, pengembangan biaya sosial, pembuatan infrastruktur pertumbuhan ekonomi dalam bentuk fasilitas transportasi dan komunikasi, pendidikan dan pelatihan, pertumbuhan industri barang modal, industri dasar dan kunci, penelitian dan pengembangan, stimulasi tabungan, pembentukan modal dan lain lain. Secara teoritis dipercaya bahwa pemerintah adalah kurang efisien dibanding sektor swasta dan karenanya peran yang lebih besar dari pemerintah akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, pemerintah menyediakan barang-barang publik yang tidak ada kompetisi dari sektor swasta dapat dengan pasti mempercepat laju pertumbuhan ekonomi (Ram, 1986; Carr, 1989). Law of increasing state activities dari Wagner mendasarkan pada pengalaman-pengalaman historis mengemukakan bahwa ekonomi di negara industri mengembangkan sektor publik mereka berkembang dalam relatif signifikan. Wagner menunjukkan tiga faktor yang akan menyebabkan sektor publik tumbuh proporsional lebih cepat dari tingkat pembangunan ekonomi. Pertama, pada ekonomi negara maju, maka peran pemerintah dalam bidang administratif dan protective bertambah. Kedua, dengan ekspansi ekonomi, pengeluaran pemerintah di bidang budaya dan kesejahteraan akan naik, khususnya, pendidikan dan kesehatan. Ketiga, kemajuan teknologi dari negara industri memerlukan pemerintah untuk melakukan jasa ekonomi tertentu ketika dana dari sektor swasta tidak diperoleh. yang negatif signifikan antara pengeluaran pemerintah dalam GDP dan tingkat pertumbuhan perkapita GDP. (Dikutip dari Sajkumar Tulsidharan. Government Expenditure and Economic Growth in India (1960-2000). Finance India Vol. XX No.1 March 2006, Page 169) 2.5 Penelitian Lainnya Landau (1986) mengklasifikasikan pengeluaran pemerintah dalam 5 jenis: pengeluaran konsumsi, pengeluaran pendidikan, pengeluaran pengembangan modal, pengeluaran militer, dan pengeluaran transfer, dan menemukan bahwa seluruh pengeluaran tersebut berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Barro (1989,1990) menggunakan pertumbuhan per kapita GDP sebagai ukuran dari pertumbuhan ekonomi, dan menemukan bahwa ukuran pemerintah mempunyai pengaruh negatif signifikan dengan pertumbuhan ekonomi. Kormendi dan Meguire (1985) dan Ram (1986), menggunakan laju pertumbuhan dari GDP riil dan memperoleh hasil yang berlawanan bahwa pengeluaran pemerintah mempunyai pengaruh yang tidak signifikan dan berpengaruh signifikan positif terhadap pertumbuhan riil GDP. Ashauer (1989) menguji demand side hipotesis bahwa tingginya marginal productivity of government spending akan menghasilkan multiple ekspansion. Pengaruh pendapatan yang timbul dari pengeluaran pemerintah dalam Hukum Wagner ditujukan kepada elastisitas pendapatan dari barang publik. Studi empirisnya di US mengenai investasi pemerintah di dalam infrastruktur inti menyebabkan produktivitas tetapi berlawanan dengan hipotesis Wagner. Cashin (1995) menemukan bahwa pajak distortionary menghambat pertumbuhan ketika transfer publik dan pengeluaran modal (input pelengkap pada fungsi produksi swasta) adalah memacu pertumbuhan. Rubinson (1977) menunjukkan bahwa pengaruh positif dari ukuran pemerintah lebih sering terbukti di negara berkembang yang lebih miskin. Levine dan Renelt (1992) menggunakan suatu analisis sensitivitas regresi pertumbuhan antar negara dan menyimpulkan bahwa beberapa penemuan bersifat tidak konsisten di dalam daftar variabel eksplanatory.

2.6 Teori Pengeluaran Negara Musgrave dan Rostow menyatakan perkembangan pengeluaran negara sejalan dengan tahap perkembangan ekonomi dari suatu negara. Pada tahap awal perkembangan ekonomi diperlukan pengeluaran negara yang besar untuk investasi pemerintah, utamanya untuk menyediakan infrastruktur seperti sarana jalan, kesehatan, pendidikan, dll. Pada tahap menengah pembangunan ekonomi, investasi tetap diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi, namun diharapkan investasi sektor swasta sudah mulai berkembang. Pada tahap lanjut pembangunan ekonomi, pengeluaran pemerintah tetap diperlukan, utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, misalnya peningkatan pendidikan, kesehatan, jaminan sosial dsb. Wagner menyatakan berdasarkan pengamatan dari negara-negara maju, disimpulkan bahwa dalam perekonomian suatu negara, pengeluaran pemerintah akan meningkat sejalan dengan peningkatan pendapatan perkapita negara tersebut. Di negara-negara maju, kegagalan pasar bisa saja terjadi, menimpa industri-industri tertentu dari negara tersebut. Kegagalan dari suatu industri dapat saja merembet ke industri lain yang saling terkait. Di sini diperlukan peran pemerintah untuk mengatur hubungan antara masyarakat, industri, hukum, pendidikan, dll Peacock dan Wiseman menyatakan bahwa kebijakan pemerintah untuk menaikkan pengeluaran negara tidak disukai oleh masyarakat, karena hal itu berarti masyarakat harus membayar pajak lebih besar. Masyarakat mempunyai sikap toleran untuk membayar pajak sampai pada suatu tingkat tertentu. Apabila pemerintah menetapkan jumlah pajak di atas batas toleransi masyarakat, ada kecenderungan masyarakat untuk menghindar dari kewajiban membayar pajak. Sikap ini mengakibatkan pemerintah tidak bisa semena-mena menaikkan pajak yang harus dibayar masyarakat. Dalam kondisi normal, dengan berkembangnya perekonomian suatu negara akan semakin berkembang pula penerimaan negara tersebut, walaupun pemerintah tidak menaikkan tarif pajak. Peningkatan penerimaan negara akan memicu peningkatan pengeluaran dari negara tersebut. 2.7 Pengeluaran Pemerintah dan Crowding Out Beberapa teori ekonomi menyatakan pengeluaran pemerintah dapat mempengaruhi tingkat output nasional. Pengeluaran pemerintah yang lebih tinggi akan meningkatkan ouput agregat (Dornbusch, 2001) Defisit anggaran pemerintah merupakan hal yang normal. Yang penting adalah sebarapa lama angaran pemerintah akan menjadi surplus kembali. Secara umum sedikit surplus akan dicapai pada tahun-tahun boom dan sedikit defisit dapat terjadi pada tahun-tahun resesi. Ketika perekonomian mengalami resesi atau tumbuh lambat, mungkin pajak dapat dikurangi dan pengeluaran pemerintah ditambah agar dapat meningktkan output. (Dornbusch et al, 2001). Namun di sisi lain, kenaikan pengeluaran pemerintah dapat menghambat laju invetasi. Crowding Out terjadi ketika kebijakan fiskal ekspansioner menyebabkan suku bunga naik sehingga mengurangi pengeluaran swasta terutama investasi swasta (Dornbusch et al, 2001).. Seberapa serius kita menghadapi crowding out? Dornbush, et al, (2001) mengajukan tiga point penting dalam menghadapi crowding out ini. Pertama, pada kondisi ekspansi fiskal yang meningkatkan permintaan, maka perusahaan dapat diminta merekrut lebih banyak pekerja untuk meningkatkan output mereka. Kedua kenaikan permintaan aggregate akan menaikkan pendapatan dan selanjutnya dapat meningkatkan tabungan. Ekspansi tabungan ini dapat membiayai defisit anggaran tanpa menyentuh pengeluaran swasta. Ketiga selama ekspansi fiskal, penawaran uang dinaikkan oleh otoritas moneter (monnetary acomodation) agar mencegah kenaikan suku bunga. 2.8 Peranan Anggaran dalam Ekonomi Islam Karim (2008) menyatakan bahwa peran pemerintah sebagai pembeli besar dalam khazanah

Islam klasik selama ini tampaknya kurang mendapat perhatian. Namun berkaitan dengan dunia modern sekarang ini maka diskusi pembelanjaan pemerintah secara islami telah banyak dibahas. Umer Chapra (2000) dalam The Future of Economics: An Islamic Perspective, terbitan The Islamic Foundation Press mengemukakan ada 6 prinsip umum yang dapat membantu memberikan dasar yang rasional dan konsistem dalam belanja pemerintah: 1.kesejahteraan masyarakat menjadi kriteria utama untuk semua alokasi pengeluaran; 2.pengeluaran untuk penghapusan kesulitan hidup dan penderitaan lebih diutamakan daripada pengeluaran untuk kenyamanan; 3.kepentingan mayoritas harus lebih diutamakan daripada kepentingan minoritas; 4. pengorbanan dan kerugian individu dapat dilakukan untuk menyelamatkan pengorbanan dan kerugian publik, atau penghindaran pengorbanan dan kerugian besar; 5.siapapun yang menerima manfaat harus menanggung biayanya, dan 6.mengutamakan pengadaan sesuatu yang dibutuhkan dalam hal umat membutuhkan sesuatu tersebut sebagai syarat melaksanakan kewajiban seperti dikutip dalam Karim, 2008). Demikian pula Ibnu Khaldun (1404M), sosiolog islam mengajukan konsep untuk resesi berupa mengecilkan pajak dan meningkatkan pengeluaran pemerintah. Pemerintah adalah pasar terbesar, ibu dari semua pasar, dalam hal besarnya penerimaan dan pengeluaran (Buku Muqoddimah 1404M, seperti dikutip dalam Karim, 2008). Abu Yusuf (798M), ekonom islam menyatakan bahwa menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Abu Yusuf sangat menentang adanya pajak atas tanah pertanian dan menyarankan diganti dengan zakat pertanian yang dikaitkan dengan jumlah hasil panennya. Abu yusuf juga membuat rincian bagaimana kewajiban pemerintah dalam membiayai pembangunan infrastruktur seperti jembatan, bendungan, dan irigasi (Al Kharaj, 798M, seperti dikutip dalam Karim, 2008). Pada masa Imam dan Khalifah Islam dalam suratnya kepada Malik bin Harits Al-Asytar, pada saat mengangkatnya sebagai Wali Negeri Mesir memberikan tugas berupa (1) mengumpulkan pendapatan negara, (2) memerangi musuh, (3) mengurus kepentingan penduduk, dan (4) membangun daerahnya (seperti dikutip dari buku Nahjul Balaghah, kumpulan ucapan, pidato, dan surat-surat Amir Al-Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib, diedit oleh Syaikh Muhammad Abduh, terbitan Mathbaah Al Istiqomah, tanpa tahun, dan edisi terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan tahun 1991 oleh Penerbit Mizan Bandung, penterjemah Muhammad Al Baqir). Bahkan di zaman itu sisi penerimaan dan pengeluaran negara terdiri dari pajak tanah (Kharaj), pajak seperlima (Khums), pajak atas orang dan badan usaha non muslim (jizyah) , penerimaan lain-lain seperti denda (kaffarah). Adapun di sisi pengeluaran terdiri dari pengeluran dakwah, pendidikan dan kebudayaan, iptek, hankam, kesejahteraan sosial, dan belanja pegawai (Karim, 2008). Pada masa Khalifah Islam terdapat beberapa pengeluaran pemerintah yang tergolong primer antara lain: biaya pertahanan seperti biaya pesenjataan, transportasi, dan logistic untuk pertahanan negara, penyaluran zakat kepada yang berhak menerima menurut ketentuan syariat, pembayaran gaji untuk dai, muadzin, imam masjid, juga kepada para pejabat negara (eksekutif), hakim (yudikatif), dan imam atau wali (legislatif), pembayaran upah kepada para sukarelawan negara, pembayaran utang Negara, dan bantuan untuk musafir (Karim, 2008). Adapun pengeluaran sekunder terdiri dari bantuan untuk orang yang belajar agama, hiburan untuk para delegasi keagamaan, hiburan untuk para utusan suku dan negara serta biaya perjalanan mereka, hadiah untuk pemerintahan negara lain, pembayaran untuk pembebasan kaum muslim yang menjadi budak, pembayaran denda atas mereka yang terbunuh secara tidak sengaja oleh pasukan kaum muslimin, pembayaran utang orang yang meinggal dalam keadaan miskin, pembayaran tunjangan untuk orang miskin, tunjangan untuk kerabat Rasulullah, cadangan pengeluaran untuk keadaan darurat (Karim, 2008).

2.9 Peranan Anggaran dalam Ekonomi Pancasila Pasal 33 UUD 1945 merupakan pasal yang paling penting dalam bagi pengaturan perekonomian nasional. Dari pasal ini kita melihat pentingnya peranan negara dalam pengaturan perekonomian Indonesia. Pasal ini mencerminkan sikap tegas para pendiri negara untuk menganut sebuah sistem yang menjamin kesejahteraan sosial. Pasal 27 UUD 1945 juga menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Dan untuk mereka yang kurang beruntung karena miskin ataupun telantar termasuk anak-anak dipelihara oleh negara. Dalam kaitan ini, negara juga memerlukan pengaturan keuangan negara untuk menjalankan fungsinya, sehingga anggaran negara ditetapkan melalui Undang-Undang. Pasal 23 ayat 1 UUD 1945 menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ditetapkan tiap-tiap tahun dengan Undang-undang. Apabila DPR tidak menyetujui anggaran yang diusulkan, pemerintah menjalankan anggaran yang lalu. BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Berdasarkan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut. Pengeluaran pemerintah memiliki pengaruh terhadap output nasional di beberapa negara, namun terdapat perbedaan hasil penelitian yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori: Pertama yang menyatakan bahwa tingginya pengeluaran pemerintah akan menyingkirkan investasi swasta (efek dari crowding out). Kedua menjelaskan hubungan antara ukuran disaggregate pengeluaran pemerintah dan investasi swasta menggunakan analisis disagregate. Ketiga menyatakan peningkatan pengeluaran pemerintah akan menarik keluar investasi swasta. 3.2 Keterbatasan dan Saran Penulisan ini dibatasi dengan merujuk ke beberapa penelitian tentang pengeluaran pemerintah di dua negara saja yaitu Turki dan India. Juga dibatasi hanya kaitan antara pengeluaran pemerintah dengan peningkatan ouput nasional. Penulisan ini bersifat pendalaman materi perkuliahan dan diskusi untuk memahami lebih jauh peranan pengeluaran pemerintah dan pengaruhnya terhadap output nasional. Untuk yang akan datang, disarankan dapat dilakukan penelitian yang lebih mendalam tentang pengeluaran pemerintah dengan kasus di Indonesia. Referensi: 1. Rudiger Dornbusch, Stanley Fischer, and Richard Startz. Macroeconomics, 8th Edition. Mc Graw-Hill, 2001. 2. Brian Snowdon dan Howard R Vane. Modern Macroeconomics (softcopy), Edward Elagar Publishing, 2005. 3. Ekonomi Makro Islami. Adimarwan A Karim, Edisi Kedua, Penerbit Raja Grafindo Persada, 2008. 4. Prtahama Rahardja dan Mandala Manurung. Pengantar Ilmu Ekonomi. Edisi Ketiga. LP FEUI. 2008. 5. Arthur Goldsmith. Rethinking The Relation Between Government Spending and Economic Growth : A Composition Approach to Fiscal Policy instruction for Principle Students. Journal of Economics Education, Spring 2008. 6. Erdal Karago and Kerim Ozdemir. Government Expenditures and Private Invetment: Evidence from Turkey. The Middle East Business and Economic Review, Volume 18, No. 2, December 2006, Page 33. 7. Sajkumar Tulsidharan. Government Expenditure and Economic Growth in India (19602000). Finance India Vol. XX No.1 March 2006, Page 169.

8. Pablo E Guidotti. Global Finance, Macroeconomic Performance, And Policy Response in Latin America: Lessons From The 1990s. Journal of Applied Economics, Vol 10 No. 2, November 2007. Page 279. 9. Donald Coletti, Rene Lalonde, dan Dirk Muir. Inflation Targeting and Price-Level-Path Targeting in The Global Economy Model: Some Open Economy Considerations. IMF Staff Papers, Vol. 55 No.2 , 2008. Page 326. 10. Seo Byeonseon and Kim Sokwon. Rational Expectation, Long-run Taylor Rule, and Forecasting Inflation. Seoul Journal of Economics. Vol 20. No.2 Summer 2007. Page 239. (Paper ini disampaikan sebagai tugas mata kuliah teori ekonomi makro lanjutan pada program S3 Ilmu Ekonomi Undip.) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengeluaran pemerintah atau belanja pemerintah meliputi semua konsumsi pemerintah, investasi dan pembayaran transfer yang dibuat oleh negara. Barang dan jasa untuk digunakan saat ini untuk secara langsung memenuhi kebutuhan individu atau kolektif anggota masyarakat digolongkan sebagai pengeluaran akhir konsumsi pemerintah. Pemahaman masyarakat terhadap pengeluaran pemerintah belum begitu banyak, masyarakat umumnya hanya meyakini bahwa dana pemerintah dihamburkan kemana-mana. Oleh sebab itu perlu adanya pengetahuan dari masyarakat tentang masalah pengeluaran pemerintah. Setelah memahami pemerintah dapat ikut mengawasi. Dalam hal ini mahasiswa yang kritis dan demokratis memiliki peran besar untuk ikut mengawasi hal ini. Tentunnya kita harus mengerti maksud dari pengeluaran pemerintah, macam-macam pengeluaran pemerintah, bentuk dari rancangan APBN dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk pengeluaran negara baik pengeluaran pusat, provinsi maupun kabupaten/ kota. Dengan demikian tentu kita dapat melihat dan ikut mengawasi sehingga semua kecurigaan kita selama ini tidak lagi menjadi permasalahan. 1.2 Tujuan Adapun tujuan pembuatan makalah ini antara lain: 1. Memberi pengetahuan tentang Pengeluaran Pemerintah 2. Dapat membedakan antara pengeluaran pemerintah pusat, provinsi atau kabupaten/ kota 3. Memahami macam-macam pengeluaran pemerintah 4. Memahami pengaruh pengeluaran pemerintah terhadap perekonomian

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Pengeluaran pemerintah Pengeluaran pemerintah atau belanja pemerintah meliputi semua konsumsi pemerintah, investasi dan pembayaran transfer yang dibuat oleh negara. Barang dan jasa untuk digunakan saat ini untuk secara langsung memenuhi kebutuhan individu atau kolektif anggota masyarakat digolongkan sebagai pengeluaran akhir konsumsi pemerintah. Barang dan jasa dimaksudkan untuk menciptakan manfaat masa depan, seperti investasi infrastruktur atau belanja penelitian, digolongkan sebagai investasi pemerintah (pembentukan modal tetap bruto), yang biasanya merupakan bagian terbesar dari pemerintah pembentukan modal bruto. Barang dan jasa dilakukan melalui produksi sendiri oleh pemerintah (menggunakan tenaga

kerja pemerintah, aset tetap dan barang yang dibeli dan jasa untuk konsumsi intermediate) atau melalui pembelian barang dan jasa dari produsen pasar.. John Maynard Keynes adalah salah satu yang ekonom pertama untuk mendukung pemerintah pengeluaran defisit sebagai bagian dari kebijakan fiskal respon terhadap kontraksi ekonomi. Dalam ekonomi Keynesian, pengeluaran pemerintah yang meningkat diperkirakan meningkatkan permintaan agregat dan meningkatkan konsumsi, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan produksi. Ekonom Keynesian berpendapat bahwa Great Depression berakhir dengan program-program pengeluaran pemerintah seperti New Deal dan pengeluaran militer selama Perang Dunia II. Menurut pandangan Keynesian, resesi berat atau depresi mungkin tidak akan pernah berakhir jika pemerintah tidak campur tangan. Ekonom klasik dan ekonom Austria, di sisi lain percaya bahwa pengeluaran pemerintah meningkat memperburuk suatu kontraksi ekonomi dengan menggeser sumber daya dari sektor swasta, yang mereka anggap produktif, sektor publik, yang mereka anggap tidak produktif. Menurut ekonom Austria, alasan Depresi Besar berlangsung asalkan itu karena pengeluaran pemerintah signifikan dan peraturan pemerintah ekonomi.

2.2 Macam-macam Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah mempunyai beberapa jenis antara lain: a. Jenis-jenis Pengeluaran Pemerintah Menurut Organisasi 1. Pengeluaran Pemerintah Pusat Dalam APBN, pengeluaran Pemerintah Pusat dibedakan menjadi: a. Pengeluaran untuk Belanja Belanja Pemerintah Pusat Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal Pembayaran Bunga Utang Subsidi Belanja Hibah Bantuan Sosial Belanja Lain-lain b. Dana yang dialokasikan ke Daerah Dana Pengembangan Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian c. Pengeluaran untuk Pembiayaan Pengeluaran untuk Obligasi Pemerintah Pembayaran Pokok Pinjaman Luar Negeri Pembiayaan lain-lain 2. Pengeluaran Pemerintah Provinsi Dalam APBD Propinsi, pengeluaran negara dibedakan menjadi: a. Pengeluaran untuk Belanja Belanja Operasi, yang terdiri dari: 1. Belanja Pegawai 2. Belanja Barang dan jasa 3. Belanja Pemeliharaan 4. Belanja perjalanan Dinas

5. Belanja Pinjaman 6. Belanja Subsidi 7. Belanja Hibah 8. Belanja Bantuan Sosial 9. Belanja Operasi Lainnya Belanja Modal, terdiri dari: 1. Belanja Aset Tetap 2. Belanja aset lain-lain 3. Belanja tak tersangka b. Bagi hasil pendapatan ke kabupaten/ kota/ desa, terdiri dari: Bagi hasil pajak ke Kabupaten/Kota Bagi hasil retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi hasil pendapatan lainnya ke Kabupaten/ Kota c. Pengeluaran untuk Pembiayaan, terdiri dari: Pembayaran Pokok Pinjaman Penyertaan modal pemerintah Belanja investasi Permanen Pemberian pinjaman jangka panjang 3. Pengeluaran Pemerintah Kabupaten/Kota Dalam APBD Kabupaten/Kota, pengeluaran negara dibedakan menjadi: a. Pengeluaran untuk Belanja Belanja Operasi, yang terdiri dari 1. Belanja Pegawai 2. Belanja Barang dan jasa 3. Belanja Pemeliharaan 4. Belanja perjalanan Dinas 5. Belanja Pinjaman 6. Belanja Subsidi 7. Belanja Hibah 8. Belanja Bantuan Sosial 9. Belanja Operasi Lainnya Belanja Modal, terdiri dari: 1. Belanja Aset Tetap 2. Belanja aset lain-lain Belanja tak tersangka b. Bagi hasil pendapatan ke desa/ kelurahan, terdiri dari Bagi hasil pajak ke Desa/ Kelurahan Bagi hasil retribusi ke Desa/ Kelurahan Bagi hasil pendapatan lainnya ke Desa/ Kelurahan c. Pengeluaran untuk Pembiayaan, terdiri dari Pembayaran Pokok Pinjaman Penyertaan modal pemerintah Pemberian pinjaman kepada BUMD/ BUMN/ Pemerintah Pusat/ Kepala Daerah otonom Lainnya b. Jenis-jenis Pengeluaran Pemerintah Menurut Sifatnya 1. Pengeluaran Investasi

Pengeluaran yang ditujukan untuk menambah kekuatan dan ketahanan ekonomi di masa datang. Misalnya, pengeluaran untuk pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, satelit, peningkatan kapasitas SDM, dll 2. Pengeluaran Penciptaan Lapangan Kerja Pengeluaran untuk menciptakan lapangan kerja, serta memicu peningkatan kegiatan perekonomian masyarakat 3. Pengeluaran Kesejahteraan Rakyat Pengeluaran yang mempunyai pengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, atau pengeluaran yang dan membuat masyarakat menjadi bergembira. Misalnya pengeluaran untuk pembangunan tempat rekreasi, subsidi, bantuan langsung tunai, bantuan korban bencana, dll 4. Pengeluaran Penghematan Masa Depan Pengeluaran yang tidak memberikan manfaat langsung bagi negara, namun bila dikeluarkan saat ini akan mengurangi pengeluaran pemerintah yang lebih besar di masa yang akan datang. Misalnya pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan masyarakat, pengeluaran untuk anakanak yatim, dll 5. Pengeluaran Yang Tidak Produktif Pengeluaran yang tidak memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat, namun diperlukan oleh pemerintah. Misalnya pengeluaran untuk biaya perang 2.3 Pengeluaran Pemerintah Dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Ada beberapa sektor perekonomian yang umumnya terpengaruh oleh besar atau kecilnya pengeluaran negara, antara lain: a. Pengaruh Pengeluaran Negara Terhadap Sektor Produksi 1. Pengeluaran negara secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap sektor produksi barang dan jasa. 2. Dilihat secara agregat pengeluaran negara merupakan faktor produksi (money), melengkapi faktor-faktor produksi yang lain (man, machine, material, method, management). 3. Pengeluaran pemerintah untuk pengadaan barang dan jasa akan berpengaruh secara langsung terhadap produksi barang dan jasa yang dibutuhkan pemerintah. 4. Pengeluaran pemerintah untuk sektor pendidikan akan berpengaruh secara tidak langsung terhadap perekonomian, karena pendidikan akan menghasilkan SDM yang lebih berkualitas. Dengan SDM yang berkualitas produksi akan meningkat. b. Pengaruh Pengeluaran Negara Terhadap Sektor Distribusi Pengeluaran negara secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap sektor distribusi barang dan jasa. Misalnya, subsidi yang diberikan oleh masyarakat menyebabkan masyarakat yang kurang mampu dapat menikmati barang/jasa yang dibutuhkan, misalnya subsidi listrik, pupuk, BBM, dll. Pengeluaran pemerintah untuk biaya pendidikan SD-SLTA membuat masyarakat kurang mampu dapat menikmati pendidikan yang lebih baik (paling tidak sampai tingkat SLTA). Dengan pendidikan yang lebih baik, diharapkan masyarakat tersebut dapat meningkatkan taraf hidupnya di masa yang akan datang.

Apabila pemerintah tidak mengeluarkan dana untuk keperluan tersebut, maka distribusi pendapatan, barang, dan jasa akan berbeda. Hanya masyarakat mampu saja yang akan menikmati tingkat kehidupan yang lebih baik, sementara masyarakat kurang mampu tidak memperoleh kesempatan untuk meningkatkan tara hidupnya. c. Pengaruh Pengeluaran Negara Terhadap Sektor Konsumsi Masyarakat Pengeluaran negara secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap sektor konsumsi masyarakat atas barang dan jasa. Dengan adanya pengeluaran pemerintah untuk subsidi, tidak hanya menyebabkan masyarakat yang kurang mampu dapat menikmati suatu barang/ jasa, namun juga menyebabkan masyarakat yang sudah mampu akan mengkonsumsi produk/ jasa lebih banyak lagi. Kebijakan pengurangan subsidi, misalnya BBM, akan menyebabkan harga BBM naik, dan kenaikan harga BBM akan menyebabkan konsumsi masyarakat terhadap BBM turun. d. Pengaruh Pengeluaran Negara Terhadap Sektor Keseimbangan Perekonomian. Untuk mencapai target-target peningkatan PDB, pemerintah dapat mengatur alokasi dan tingkat pengeluaran negara. Misalnya dengan mengatur tingkat pengeluaran negara yang tinggi (untuk sektor-sektor tertentu), pemerintah dapat mengatur tingkat employment (menuju full employment). Apabila target penerimaan tidak memadai untuk membiayai pengeluaran tersebut, pemerintah dapat membiayainya dengan pola defisit anggaran 2.4 Contoh RAPBN Tabel 6.2. memperlihatkan struktur pengeluaran rutin dan pembangunan untuk tahun anggaran 19 79/80. Pengeluaran rutin terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, subsidi daerah otonom, bunga dan cicilan hutang, dan lain- lain. Pengeluaran untuk belanja pegawai sudah jelas. Yang dimaksud dengan belanja barang adalah pembelian alat- alat kantor, biaya perjalanan dinas, biaya pemeliharaan, baik untuk barang-barang yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Subsidi daerah otonom adalah subsidi pada Dati I untuk berbagai maksud seperti penggajian guru-guru SD dan pembayaran gaji tenaga medis Puskesmas. Yang dimaksud dengan hutang dalam pembayaran bunga dan cicilan adalah hutang negara kepada luar negeri yang beraneka ragam dan juga hutang di dalam negeri kepada masyarakat. Akhirnya pengeluaran rutin lain-lain termasuk pengeluaran untuk surat menyurat, giro pos, pemilu, subsidi impor pangan, subsidi pada Pertamina, subsidi bahan bakar minyak, dan lain-lain.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Pengeluaran pemerintah atau belanja pemerintah meliputi semua konsumsi pemerintah, investasi dan pembayaran transfer yang dibuat oleh negara. Barang dan jasa untuk digunakan saat ini untuk secara langsung memenuhi kebutuhan individu atau kolektif anggota masyarakat digolongkan sebagai pengeluaran akhir konsumsi pemerintah. Jenis pengeluaran Pemerintah menurut Organisasi antara lain, Pengeluaran Pemerintah pusat, Provinsi, Kabupaten/ kota. Jenis pengeluaran Pemerintah menurut sifatnya antara lain: Pengeluaran investasi, penciptaan lapangan kerja, kesejahteraan masyarakat, penghematan masa depan, danpengeluaran yang tidak produktif.

Pengeluaran pemerintah Dan pengaruhnya terhadap perekonomian antara lain: pengaruh pengeluaran negara Terhadap Sektor produksi, Sektor distribusi, Sektor konsumsi masyarakat, Sektor keseimbangan perekonomian.

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat allah SWT atas segala Rahmat, Hikmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah dasar pemasaran. Adapun tema dari makalah ini adalah Perekonomian Indonesia, penulisan makalah ini dibuat untuk memenuhi kelengkapan tugas softskill perekonomian Indonesia. Makalah yang disusun untuk mempelajari lebih detail mengenai masalah dalam perekonomian Indonesia yang khususnya mengenai inflasi. Penulis berharap Makalah ini dapat membantu rekan-rekan dalam menambah wawasan ilmu pengetahuan mengenai peluang bisnis, untuk itu kritik dan saran sangat diharapkan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di masa depan. Depok,08 Juni 2013 Penulis DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Perumusan Masalah 1.3 Tujuan Pembahasan BAB II. PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Inflasi 2.2 Macam-Macam Inflasi 2.3 Pembagian Tipe Golongan dalam Inflasi 2.4 Efek yang di Timbulkan Inflasi 2.5 Efek Inflasi dalam Perkembangan Ekonomi dan Kemakmuran Indonesia BAB III. PENUTUP 3.1 Kesimpulan

3.2 Saran DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pemerintah adalah sebagai kepala suatu perekonomian yang mengatur dan menjalankan perekonomian di Indonesia. Tentu saja dalam mengaturnya pemerintah mengalami kesulitan dimana untuk mencapai tujuan yang memuaskan. Salah satu kesulitan yang terus menerus mendapat perhatian pemerintah adalah masalah inflasi. Tujuan jangka panjang pemerintah adalah menjaga agar tingkat inflasi yang berlaku berada pada tingkat yang sangat rendah. Tingkat inflasi nol persen bukanlah tujuan utama kebijakan pemerintah karena ia adalah sukar untuk dicapai. Yang paling penting untuk diusahakan adalah menjaga agar tingkat inflasi tetap rendah. Adakalanya tingkat inflasi meningkat dengan tiba-tiba atau wujud sebagai akibat suatu peristiwa tertentu yang berlaku di luar ekspektasi pemerintah yang sangat besar atau ketidakstabilan politik. Menghadapi masalah inflasi yang bertambah cepat ini pemerintah akan menyusun langkah-langkah yang bertujuan agar kestabilan harga-harga dapat diwujudkan kembali. 1.2 Perumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan inflasi ? 2. Apa macam-macam inflasi ? 3. Apa golongan-golongan dalam inflasi ? 4. Apa efek yang timbulkan dari inflasi ? 5. Apa dampak inflasi dalam perekonomian Indonesia dan kemakmuran masyarakat ? 1.3 Tujuan Pembahasan 1. Agar mengetahui pengertian dari inflasi. 2. Agar mengetahui macam-macam dari inflasi. 3. Agar mengetahui pembagian golongan-golongan dalam inflasi. 4. Agar mengetahui efek yang ditimbulkan dari inflasi. 5. Agar mengetahui efek inflasi dalam perkembangan ekonomi dan kemakmuran Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Inflasi Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor yaitu, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihannya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara terus-menerus. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menurus dan saling mempengaruhi. 2.2 Macam-Macam Inflasi 2.2.1 Inflasi Tarikan Permintaan Inflasi ini biasanya terjadi pada masa perekonomian berkembang dengan pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi mengeluarkan barang dan jasa. Pengeluaran yang melebihi ini akan menimbulkan inflasi. Disamping dalam masa perekonomian berkembang pesat, inflasi tarikan permintaan juga dapat berlaku pada masa perang atau ketidakstabilan politik terus-menerus. Dalam masa seperti ini pemerintah berbelanja jauh melebihi pajak yang dipungutnya. Untuk membiayai kelebihan pengeluaran tersebut pemerintah terpaksa mencetak uang atau meminjam dari bank sentral. Pengeluaran pemerintah yang berlebihan tersebut menyebabkan permintaan agregat akan melebihi kemampuan ekonomi tersebut menyediakan barang dan jasa. Maka keadaan ini akan mewujudkan inflasi. 2.2.2 Inflasi Desakan Biaya Inflasi ini berlaku dalam masa perekonomian berkembang dengan pesat ketika tingkat pengangguran adalah sangat rendah. Apabila perusahaan-perusahaan masih menghadapi permintaan yang bertambah, mereka akan berusaha menaikkan produksi dengan cara memberikan gaji dan upah yang lebih tinggi kepada pekerjanya dan mencari pekerja baru dengan tawaran pembayaran yang lebih tinggi ini. Langkah ini mengakibatkan biaya produksi meningkat, yang akhirnya akan menyebabkan kenaikan harga-harga berbagai barang. 2.2.3 Inflasi Diimpor Inflasi dapat juga bersumber dari kenaikan harga-harga barang yang diimpor. Inflasi ini akan wujud apabila barang-barang impor yang mengalami kenaikan harga mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan pengeluaran perusahaan-perusahaan. Satu contoh yang nyata dalam hal ini adalah efek kenaikan harga minyak dalam tahun 1970-an kepada perekonomian

negara-negara barat dan negara-negara pengimpor minyak lainnya. Minyak penting artinya dalam proses produksi barang-barang industri. Maka kenaikan harga minyak tersebut menaikkan biaya produksi, dan kenaikan biaya produksi mengakibatkan kenaikan hargaharga. Kenaikan harga minyak yang tinggi pada tahun 1970-an ( yaitu dari US$3.00 pada tahun 1973 menjadi US$12.00 pada tahun 1974 dan menjadi US$30.00 pada tahun 1979) menyebabkan masalah stagflasi yaitu inflasi ketika pengangguran adalah tinggi, di berbagai negara. Dengan demikian stagflasi menggambarkan keadaan di mana kegiatan ekonomi semakin menurun, pengangguran semakin tinggi dan pada waktu yang sama proses kenaikan hargaharga semakin bertambah cepat. 2.3 Pembagian Tipe Golongan dalam Inflasi Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang. Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi). Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan : 1. 2. 3. 4. Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun) Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun) Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun) Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

2.4 Efek yang di Timbulkan Inflasi Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan

kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu. Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi. Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat. Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya,kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan temenyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil). Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. 2.5 Efek Inflasi dalam Perkembangan Ekonomi dan Kemakmuran Indonesia Inflasi yang tinggi tingkatnya tidak akan menggalakkan perkembangan ekonomi. Biaya yang terus menerus meningkat menyebabkan kegiatan produktif sangat tidak menguntungkan. Maka pemilik modal biasanya lebih suka menggunakan uangnya untuk tujuan spekulasi. Antara lain tujuan ini dicapai dengan membeli harta-harta tetap seperti tanah, rumah dan bangunan. Oleh karena pengusaha lebih suka menjalankan kegiatan investasi yang bersifat seperti ini, investasi produktif akan berkurang dan tingkat kegiatan ekonomi menurun. Sebagai akibatnya lebih banyak pengangguran akan terwujud. Kenaikan harga-harga menimbulkan efek yang buruk pula ke atas perdagangan. Kenaikan harga menyebabkan barang-barang negara itu tidak dapat bersaing di pasaran internasional. Maka ekspor akan menurun. Sebaliknya, harga-harga produksi dalam negeri yang semakin tinggi sebagai akibat inflasi menyebabkan barang-barang impor menjadi lebih murah. Maka

lebih banyak impor akan dilakukan. Ekspor yang menurun dan diikuti pula oleh impor yang bertambah menyebabkan ketidakseimbangan dalam aliran mata uang asing. Kedudukan neraca pembayaran akan memburuk. Disamping menimbulkan efek buruk atas kegiatan ekonomi negara, inflasi juga akan menimbulkan efek-efek terhadap individu dan masyarakat yaitu : - Inflasi akan menurunkan pendapat riil orang-orang yang berpendapatan tetap. Pada umumnya kenaikan upah tidaklah secepat kenaikan harga-harga. Maka inflasi akan menurunkan upah riil individu-individu yang berpendapatan tetap. - Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang. Sebagian kekayaan masyarakat disimpan dalam bentuk uang. Simpanan di bank, simpanan tunai, dan simpanan dalm institusi-institusi keuangan lain merupakan simpanan keuangan. Nilai riilnya akan menurun apabila inflasi berlaku. - Memperburuk pembagian kekayaan. Telah ditunjukkan bahwa penerima pendapatan tetap akan menghadapi kemerosotan dalam nilai riil pendapatannya, dan pemilik kekayaan bersifat keuangan mengalami penurunan dalam nilai riil kekayaannya. Akan tetapi pemilik hartaharta tetap (tanah, bangunan, dan rumah) dapat mempertahankan atau menambah nilai riil kekayaannya. Juga sebagian penjual/ pedagang dapat mempertahankan nilai riil pendapatannya. Dengan demikian inflasi menyebabkan pembagian pendapatan di antara golongan berpendapatan tetap dengan pemilik-pemilik harta tetap dan penjual/ pedagang akan menjadi semakin merata. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Inflasi adalah sebuah masalah yang menjadi salah satu sorotan pemerintah , inflasi ini menjadi suatu kesulitan dalam memajukan perekonomian Indonesia. Inflasi ini diartikan sebagai suatu proses dari suatu peristiwa meningkatnya harga-harga secara umum secara terus-menerus. Inflasi ini berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya konsumsi masyarakat Indonesia yang selalu meningkat, berlebihannya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi suatu barang. Dengan kata lain inflasi ini juga merupakan proses menurunnya nilai suatu mata uang secara terus-menerus. Dan juga inflasi ini adalah sebuah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling mempengaruhi. 3.2 Saran Untuk mengatasi Inflasi, pemerintah harus mempunyai sebuah kebijakan-kebijakan yang mempunyai strategi bagus untuk mengurangi ataupun menanggulangi masalah inflasi ini. Kebijakan tersebut bisa saja dalam kebijkan moneter ataupun kebijkan fiskal. Dan adapun cara untuk mengatasi inflasi ini yaitu pemerintah menaikkan suku bunga yang ada di Bank,

lalu menjual surat-surat berharga BI, serta melakukan kebijakan-kebijakan mengenai hargaharga yang ada di pasaran. Beberapa cara tersebut dibuat untuk membuat masyarakat Indonesia rajin untuk menabung uang mereka ke Bank dan juga dapat menekan peredaran uang yang ada. Jadi dengan cara seperti tersebut dapat mengurangi ataupun mengatasi inflasi. DAFTAR PUSTAKA Sukirno, Sadono.2011.Makroekonomi Teori Pengantar edisi ketiga .Jakarta: PT RajaGrafindo Persada http://id.m.wikipedia.org/wiki/Inflasi http://rizkyamandaekonomi.blogspot.com/2011/03/makalah-perekonomianindonesia_27.html