Anda di halaman 1dari 17

LESSON STUDY SEBAGAI MODEL PEMBINAAN GURU

Oleh Muhammad Siddik Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Medan e-mail: msiddik468@gmail.com

ABSTRAK Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Lesson Study bukan suatu metode pembelajaran atau suatu strategi pembelajaran, tetapi dalam kegiatan Lesson Study dapat memilih dan menerapkan berbagai metode/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi pendidik. Lesson study dapat merupakan suatu kegiatan pembelajaran dari sejumlah guru dan pakar pembelajaran yang mencakup 3 (tiga) tahap kegiatan, yaitu perencanaan (planning), implementasi (action) pembelajaran dan observasi serta refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. PLAN (merencanakan) DO (melaksanakan) SEE (merefleksi). Materi ini berjudul Lesson Study Sebagai Model Pembinaan Guru bertujuan untuk membantu guru dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelajaran, meliputi: Urgensi Lesson study, Model Pembinaaan Guru, Tahapan Lesson study, Implementasi Lesson stud dan Merencanakan Tahap Selanjutnya. Kata Kunci: Lesson Study Sebagai Model Pembinaan Guru

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah banyak faktor yang harus diperhatikan seperti: pendidik (guru), siswa, sarana dan prasarana, laboratorium dan kelengkapannya, lingkungan, dan manajemennya. Namun pada kesempatan ini hanya akan dilihat dari segi pendidik (guru) dan siswa yang merupakan dua komponen terpenting, yang berperan dalam peningkatan kualitas pembelajaran, dengan tidak mengesampingkan komponen atau faktor-faktor lainnya. Dalam era sentralisasi pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran dari segi pendidik (guru) biasanya dilakukan dengan kegiatan inservice teacher training yang berupa penyetaraan, pelatihan, penataran, seminar atau lokakarya, atau kegiatan-kegiatan lain yang sejenis. Setelah mengikuti kegiatan tersebut, diharapkan guru dapat menerapkan hasil training tersebut dalam pembelajaran di kelas. Kegiatan-kegiatan tersebut telah banyak dilaksanakan dengan biaya yang tidak kecil yang dikeluarkan oleh pemerintah, baik yang berasal dari rupiah murni maupun dari dana pinjaman luar negeri.Banyak atau sedikit, pasti ada sumbangan kegiatan tersebut dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Tetapi, kebanyakan setelah kegiatan inservice teacher training, hasil monitoring yang mempersoalkan apakah ada peningkatan mutu pembelajaran yang dilakukan oleh para peserta tidak tampak nyata hasilnya. Padahal pada dasarnya, hakikat pelaksanaan kegiatan inservice teacher training selain meningkatkan kualitas guru, yang lebih penting adalah guru peserta inservice teacher training mampu menerapkan hasil training dalam proses pembelajaran di kelasnya dan mengimbaskan kepada rekan-rekan guru di sekolahnya atau di kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). 2. Urgensi Lesson study Lesson study dipilih dan dimplementasikan karena beberapa alasan. Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini

karena (1) pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil sharing pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, (2) penekanan mendasar pada pelaksanaan suatu lesson study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, (3) kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas, (4) berdasarkan pengalaman real di kelas, lesson study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan (5) lesson study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran (Lewis, 2002). Kedua, lesson study yang didisain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para guru dapat (1) me-nentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif; (2) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa; (3) memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru; (4) menentukan standar kompetensi yang akan dicapai para siswa; (5) merencanakan pelajaran secara kolaboratif; (6) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa; (7) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan (8) melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya (Lewis, 2002) Wang-Iverson dan Yoshida (2005) mengatakan bahwa lesson study memiliki beberapa manfaat sebagai berikut. 1) Mengurangi keterasingan guru (dari komunitasnya) 2) Membantu guru untuk mengobservasi dan mengkritisi pembelajarannya 3) Memperdalam pemahaman guru tentang materi pelajaran, cakupan dan urutan materi dalam kurikulum. 4) Membantu guru memfokuskan bantuannya pada seluruh aktivitas belajar siswa. 5) Menciptakan terjadinya pertukaran pengetahuan tentang pemahaman berpikir dan belajar siswa 6) Meningkatkan kolaborasi pada sesama guru.

B. PEMBAHASAN 1. Model Pembinaaan Guru Lesson Study merupakan kerja kolektif sekelompok guru (atau anggota MGMP), bisa dengan mahasiswa dan dosen. Pembuatan rencana pembelajaran (planning) dapat dikerjakan secara bersama-sama,

diimplementasikan dengan menunjuk salah satu anggota sebagai guru model, guru lain dan pakar bertindak sebagai observer, kemudian dari hasil observasi tersebut dianalisis (melalui tahapan reflecting) secara bersama-sama. Lesson study mempunyai pengertian belajar pada suatu pembelajaran. Seseorang (guru atau calon guru) bisa belajar tentang bagaimana melakukan pembelajaran pada mata pelajaran tertentu melalui tampilan pembelajaran yang ada (live/real atau rekaman video). Guru bisa mengadopsi metode, teknik, ataupun strategi pembelajaran, penggunaan media, dan sebagainya yang diangkat oleh guru penampil untuk ditiru atau dikembangkan di kelasnya masing-masing. Guru lain/pengamat perlu melakukan analisis untuk menemukan positif-negatifnya kelas pembelajaran tersebut dari menit ke menit. Hasil analisis ini sangat diperlukan sebagai bahan masukan bagi guru penampil untuk perbaikan atau lewat profil pembelajaran tersebut, guru/pengamat bisa belajar atas inovasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru lain. Lesson study dapat dipandang sebagai model pembinaan guru dalam meningkatkan profesionalitasnya. Mengapa demikian? Pada tahap

penyusunan perencanaan (planning), sekelompok guru dan seorang pakar berdiskusi tentang : a. Kondisi dan lingkungan siswa serta fasilitas yang tersedia. b. Rumusan kompetensi apa yang harus dimiliki siswa serta merumuskan indikator-indikator pencapaiannya c. Penentuan materi pelajaran yang berkenaan, antara lain : 1) pokok-pokok materi dan uraian masing-masing pokok materi, 2) urutan sajian materi pelajaran,

3) sajian materi yang disesuaikan dengan lingkungan siswa atau materi lokal atau yang berkaitan dengan life skill atau yang berkaitan dengan keimanan/agama, 4) pemilihan/penyusunan soal-soal latihan, soal-soal yang berkaitan dengan problem-solving dalam rangka penyusunan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan soal-soal untuk tes formatif. 5) Pemilihan metode/strategi pembelajaran inovatif yang menyenangkan dan memotivasi belajar siswa. 6) Pemilihan media/alat peraga pembelajaran dan pengadaannya. 7) Petunjuk guru dalam praktek pembelajarannya (teaching guide). 8) Penentuan indikator-indikator proses pembelajaran yang dikatakan berhasil. 9) Model Rencana Pembelajaran (RP) atau Satuan Acara Pembelajaran (SAP). Ada banyak model/format RP/SAP, mana yang perlu dipilih? Hal-hal apakah yang penting dan merupakan prinsip-prinsip dalam penyusunan RP/SAP, sehingga seorang guru dapat memahami dan menerapkannya dalam pembelajaran. Materi-materi diskusi tersebut dapat diangkat sebagai materi pelatihan yang senantiasa aktual, mengingat kompleksnya perkembangan pengetahuan dalam dunia yang senantiasa berkembang. Sehingga dalam suatu kelompok guru yang merasa tertantang dengan suatu permasalahan pembelajaran dapat mengundang pakar yang dipandang dapat memberi pemecahan permasalahan tersebut. Selanjutnya, pada tahap implementasi dapat langsung diamati oleh observer, yang selanjutnya pada tahap refleksi dapat didiskusikan, apakah yang telah direncanakan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, atau ada hal-hal dalam perencanaan tersebut yang perlu diperbaiki, atau hal-hal lainnya tentang pembelajaran yang telah dilakukan, baik dari segi siswa maupun guru. Keberhasilan lesson study dapat dilihat pada dua aspek pokok, yaitu: perbaikan pada praktek pembelajaran oleh guru, dan meningkatkn kolaborasi antar guru.

Pertama, lesson study memberikan banyak hal yang menurut para peneliti dianggap efektif dalam merubah praktek pembelajaran, seperti : a. penggunaan materi pembelajaran yang konkret untuk memfokuskan pada permasalahan yang lebih bermakna, b. mengambil konteks pembelajaran dan pengalaman guru secara eksplisit, dan c. memberikan dukungan pada kesejawatan guru. Dengan kata lain, lesson study memberikan banyak kesempatan kepada para guru untuk membuat bermakna ide-ide pendidikan dalam praktik mengajar mereka, untuk merubah perspektif mereka tentang pembelajaran, dan untuk belajar melihat praktek mengajar mereka dari perspektif siswa. Dalam lesson study, kita melihat apa yang terjadi dalam pembelajaran lebih objektif dan itu membantu kita memahami ide-ide penting dalam memperbaiki proses pembelajaran. Kedua, lesson study juga mempromosikan dan mengelola kerja kolaboratif antar guru dengan memberi dukungan dan intervensi sistematik. Selama lesson study, para guru berkolaborasi untuk: a. merumuskan kompetensi yang harus dimiliki siswa sebagai dasar untuk pengembangan belajar siswa; b. merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang berdasar pada hasil penelitian dan observasi, agar siswa memiliki kompetensi yang telah dirumuskan. c. mengobservasi secara hati-hati tingkat belajar siswa, keterlibatan mereka, dan perilaku mereka selama pembelajaran; d. melaksanakan diskusi setelah pembelajaran bersama dalam kelompok kolaboratif mereka untuk mendiskusikan dan merevisi rencana

pembelajaran. Lesson study sebagai suatu strategi dalam meningkatkan

keprofesionalan guru oleh para guru, yang sudah tentu merupakan gerakan dari para guru untuk mewujudkannya. Oleh karena itu, perlu komitmen dari

para guru yang didukung oleh kebijakan para pengambil keputusan, agar gerakan itu terwujud.

2. Tahapan Lesson study Ada berbagai variasi tahapan atau langkah pelaksanaan lesson study dalam perkembangan implementasinya. Lewis (2002) menyarankan ada enam tahapan dalam awal mengimplementasikan lesson study di sekolah, yakni :. 1) Membentuk kelompok lesson study. 2) Memfokuskan lesson study. 3) Menyusun rencana pembelajaran. 4) Melaksanakan pembelajaran di kelas dan mengamatinya (observasi). 5) Refleksi dan menganalisis pembelajaran yang telah dilaksanakan. 6) Merencanakan pembelajaran tahap selanjutnya. Sementara itu, Richardson (2006) menuliskan ada 7 tahap atau langkah yang termasuk dalam lesson study, yang masih mirip deng Lewis, yakni: 1) Membentuk tim lesson study. 2) Memfokuskan lesson study 3) Merencanakan pembelajaran. 4) Persiapan untuk observasi. 5) Melaksanakan pembelajaran dan observasinya. 6) Melaksanakan diskusi pembelajaran yang telah dilaksanakan (refleksi). 7) Merencanakan pembelajaran untuk tahap selanjutnya.

Di tempat lain, dalam rangkaian adaptasi dan implementasi lesson study, Robinson (2006) mengusulkan ada delapan tahap berdasarkan pada banyaknya kegiatan yang diperlukan dalam pelaksanaan lesson study, yakni: 1) Pemilihan topik lesson study 2) Melakukan reviu silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan

pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku pelajaran. Selajutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran.

3) Setiap tim yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya, sementara kelompok lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik. 4) Guru yang ditunjuk oleh kelompok menggunakan masukan-masukan tersebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran. 5) Guru yang ditunjuk tersebut mempresentasikan rencana pembelajarannya di depan semua anggota kelompok lesson study untuk mendapatkan balikan. 6) Guru yang ditunjuk tersebut memperbaiki kembali secara lebih detail rencana pembelajaran dan mengirimkan pada semua guru anggota kelompok, agar mereka tahu bagaimana pembelajaran akan dilaksanakan di kelas. 7) Para guru dapat mempelajari kembali tentang rencana pembelajaran tersebut dan mempertimbangkannya dari berbagai aspek pengalaman pembelajaran yang mereka miliki, khususnya difokuskan pada hal-hal yang penting seperti : hal-hal yang akan dilakukan guru, pemahaman siswa, proses pemecahan oleh murid, dan kemungkinan yang akan terjadi dalam implementasi pembelajarannya. 8) Guru yang ditunjuk tersebut melaksanakan rencana pembelajaran di kelas, sementara guru yang lain bersama dosen/pakar mengamati sesuai dengan tugas masing-masing untuk memberi masukan pada guru. Pertemuan refleksi segera dilakukan secepatnya kegiatan pelaksanaan pembelajaran, untuk memperoleh masukan dari guru observer, dan akhirnya komentar dari dosen atau pakar luar tentang keseluruhan proses serta saran sebagai peningkatan pembelajaran, jika mereka mengulang di kelas masingmasing atau untuk topik yang berbeda. Dari delapan tahapan di atas tampak adanya upaya penyusunan dan perbaikan rencana pembelajaran yang berulang-ulang untuk memperoleh rencana pembelajaran yang terbaik.

Dalam implementasi lesson study yang dilakukan oleh IMSTEP-JICA di Indonesia, Saito, dkk (2005) mengenalkan lesson study yang berorientasi pada praktik. Lesson study yang dilaksanakan tersebut terdiri atas 3 tahap pokok, yakni: 1) Merencanakan pembelajaran dengan penggalian akademis pada topik dan alat-alat pembelajaran yang digunakan, yang selanjutnya disebut tahap Plan. 2) Melaksanakan pembelajaran yang mengacu pada rencana pembelajaran dan alat-alat yang disediakan, serta mengundang rekan-rekan sejawat untuk mengamati. Kegiatan ini disebut tahap Do. 3) Melaksanakan refleksi melalui berbagai pendapat/tanggapan dan diskusi bersama pengamat/observer. Kegiatan ini disebut tahap See.

3. Implementasi Lesson study a. Membentuk Kelompok Lesson study Setidak-tidaknya ada empat kegiatan yang perlu dilakukan dalam membentuk kelompok lesson study. Keempat kegiatan tersebut adalah (1) merekrut anggota kelompok, (2) menyusun komitmen tentang tugas-tugas yang harus dilakukan, (3) menyusun jadwal pertemuan, dan (4) membuat aturan-aturan kelompok. Anggota kelompok lesson study pada dasarnya dapat direkrut dari guru, dosen, supervisor akademik, pejabat pendidikan, dan/atau pemerhati pendidikan. Yang sangat penting adalah mereka mempunyai komitmen, minat, dan kemauan untuk melakukan inovasi dan memperbaiki kualitas pendidikan. Setiap anggota kelompok lesson study harus memiliki komitmen, agar dia menyiapkan waktu khusus untuk mewujudkan atau mengimplementasikan lesson study. Para anggota kelompok ini biasanya menyelenggarakan pertemuan-pertemuan rutin baik mingguan, bulanan, semesteran, maupun tahunan dalam satu tahun ajaran tertentu. Di samping itu, mereka juga bisa bertindak sebagai guru untuk melakukan suatu research lesson.

Seperti dikemukakan di atas, pertemuan-pertemuan anggota kelompok diperlukan adanya jadwal yang harus ditaati oleh setiap anggota kelompok. Jadwal itu mengatur semua tugas yang terkait dengan kegiatan anggota kelompok, termasuk tugas mengajar rutin. Anggota kelompok yang bertugas sebagai guru tentu saja tidak boleh meninggalkan kelas mengajarnya, sehingga kegiatan lesson study tidak mengganggu tugas pokok mengajar. Oleh karena itu, dalam menyusun jadwal pertemuan hharus mempertimbangkan tugas pokok mengajarnya, agar tugas pokok tersebut tidak ditinggalkan. b. Memfokuskan Lesson study Pada langkah ini ada tiga kegiatan yang dapat dilakukan, yaitu menyepakati tema permasalahan, fokus permasalahan, atau tujuan utama pemecahan masalah, memilih subbidang studi, serta memilih topik dan unit pelajaran. Terkait dengan penentuan tema permasalahan suatu lesson study, kita perlu memperhatikan tiga hal. Pertama, bagaimana kualitas aktual para siswa saat sekarang? Kedua, bagaimana kualitas ideal para siswa yang diinginkan di masa mendatang? Ketiga, adakah kesenjangan antara kualitas ideal dan kualitas actual para siswa yang menjadi sasaran lesson study? Kesenjangan inilah yang dapat diangkat menjadi bahan tema permasalahan. Mata pelajaran yang digunakan untuk lesson study ditentukan oleh anggota kelompok lesson study. Anggota kelompok bisa memilih, misalnya mata Fiqih, Aqidah Akhlak dan sebagainya sesuai dengan minat para anggota. Sebagai panduan untuk memilih mata pelajaran, kita dapat menggunakan tiga pertanyaan berikut. Pertama, mata pelajaran apa yang paling sulit bagi siswa?. Kedua, mata pelajaran apa yang paling sulit diajarkan oleh guru?. Ketiga, mata pelajaran apa yang ada pada kurikulum baru yang ingin dikuasai dan dipahami oleh guru?. Setelah menentukan mata pelajaran, langkah berikutnya adalah memilih topik dan pembelajaran. Topik yang dipilih sebaiknya adalah topik yang menjadi dasar bagi topik-topik berikutnya, topik yang selalu

10

sulit bagi siswa atau tidak disukai siswa, topik yang sulit diajarkan atau tidak disukai oleh guru, atau topik yang baru dalam kurikulum. Topik dipilih harus sesuai dengan kompetensi dasar yang perlu dimiliki oleh siswa. Berdasarkan kompetensi dasar ini kita menyusun pembelajaran yang akan menunjang tercapainya kompetensi tersebut.

c. Merencanakan Pembelajaran Di dalam merencanakan pembelajaran (instructional

improvement), di samping mengkaji pembelajaran-pembelajaran yang sedang berlangsung, kita perlu mengembangkan suatu rencana untuk memandu belajar (plan to guide learning). Rencana itu akan memandu proses pembelajaran, pengamatan, dan diskusi tentang pembelajaran serta mengungkap temuan yang akan muncul selama lesson study berlangsung. Rencana untuk memandu belajar itu merupakan suatu hal yang kompleks. Suatu rencana pembelajaran diharapkan akan menjawab pertanyaan yang sangat penting, yaitu perubahan-perubahan apa yang akan terjadi pada siswa selama pelajaran berlangsung dan apa yang akan memotivasi mereka. Daftar pertanyaan berikut mungkin dapat membantu untuk memandu perencanaan pembelajaran (Lewis, 2002). 1) Apa yang saat ini dipahami oleh siswa tentang topik ini? 2) Apa yang kita inginkan dari siswa untuk dipahami pada akhir pembelajaran? 3) Rentetan pertanyaan dan pengalaman apa yang akan mendorong para siswa untuk berpindah dari pemahaman awal menuju pemahaman yang diinginkan? 4) Bagaimana para siswa akan menjawab pertanyaan dan aktivitas apa yang dilakukan siswa pada pembelajaran tersebut? Apakah terdapat masalah dan miskonsepsi yang akan muncul? Bagaimana guru akan menggunakan idea dan miskonsepsi untuk meningkatkan pembelajaran tersebut?

11

5) Apa yang akan membuat pembelajaran ini mampu memotivasi dan bermakna bagi siswa? 6) Apakah diperlukan bukti tentang belajar siswa, motivasi siswa, perilaku siswa yang perlu dikumpulkan, yang nantinya dapat didiskusikan dalam kegiatan refleksi? Bagaimanakah format

pengumpulan data yang diperlukan? Penyusunan lembar observasi untuk pengumpulan data ini merupakan suatu elemen penting yang didasarkan pada rencana pembelajaran yang telah disusun. Lembar observasi ini memandu pengamat untuk memperhatikan aspek-aspek khusus dari pelaksanaan pembelajaran. Anggota kelompok lesson study dan guru-guru biasanya diberikan tugas dan format pengumpulan data untuk membantu mereka dalam mengumpulkan data. Pengumpulan data itu biasanya dikaitkan dengan denah tempat duduk siswa, daftar anggota setiap kelompok siswa, catatan tentang pemikiran awal siswa, daftar cek untuk mencatat hal-hal penting tentang karya siswa, catatan tentang partisipasi setiap siswa dari suatu kelompok kecil, atau data lainnya yang diperlukan/mendukung. Data yang dikumpulkan selama lesson study biasanya memuat bukti tentang aktivitas belajar, motivasi, dan iklim sosial. Walaupun pengumpulan data lebih difokuskan pada siswa, namun juga bisa dilakukan untuk mencatat ucapan, gerakan guru, dan waktu yang digunakan guru pada setiap elemen pembelajaran. Satu bagian penting lagi dan yang patut dipertimbangkan dalam merencanakan lesson study adalah kehadiran ahli/pakar dari luar. Mereka bisa berasal dari guru senior atau dosen yang memiliki pengetahuan tentang bidang studi yang dipelajari dan/atau bagaimana mengajar bidang studi tersebut. Keterlibatan ahli/pakar dari luar ini akan lebih efektif jika berlangsung sejak awal. Dengan cara ini, ahli/pakar tersebut mempunyai kesempatan dalam membantu merancang pembelajaran, memberi saran tentang sumber-sumber kurikulum, dan bertindak sebagai komentator dan motivator terhadap pelaksanaan lesson study.

12

d. Praktik Pembelajaran dan Observasi Rencana pembelajaran yang telah disusun bersama

diimplementasikan oleh seorang guru yang ditunjuk (disepakati) oleh kelompok dan diamati oleh guru lain dan pakar/ahli dari luar. Pengamat akan mengumpulkan data yang diperlukan selama pelajaran berlangsung. Untuk mendokumentasikan proses pelaksanaan pembelajaran biasanya dapat dilakukan dengan menggunakan audiotape, videotape, handycam, kamera, karya siswa, dan catatan observasi naratif. Peranan pengamat selama lesson study adalah mengumpulkan data dan bukan membantu apalagi mengganggu siswa. Para siswa harus diberitahu lebih dahulu bahwa pengamat atau guru lain di kelas mereka itu hanya bertugas untuk mempelajari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk membantu ataupun menilai mereka. Selanjutnya, setiap anggota kelompok lesson study sebaiknya diberi tugas dengan tanggung jawab tertentu. Untuk ini setiap anggota kelompok memahami isi dari semua perangkat pembelajaran yang digunakan guru, seperti rencana pembelajaran, lembar kerja siswa (LKS), teaching guide, dan lembar observasi, sehingga mereka akan lebih cermat dalam mengamatinya.

e. Refleksi dan Alisis Pembelajaran Rencana pembelajaran yang sudah diimplementasikan perlu dilakukan refleksi dan dianalisis. Hal ini perlu dilakukan, karena hasil refleksi dan analisis tersebut dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk perbaikan atau revisi rencana pembelajaran. Dengan demikian

pembelajaran berikutnya diharapkan akan menjadi lebih sempurna, efektif dan efisien. Refleksi tentang pelaksanaan pembelajaran sebaiknya memuat butir-butir:

13

1) refleksi dari guru pelaksana pembelajaran, 2) tanggapan umum dari observer/pengamat, 3) presentasi dan diskusi tentang hasil pengolahan data dari pengamat, 4) tanggapan dan saran dari ahli/pakar. Beberapa bagian penting yang berguna sebagai panduan refleksi pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut. 1) guru yang melakukan pembelajaran diberi kesempatan menjadi pembicara pertama untuk mengemukakan semua kesulitan dalam pembelajarannya, kesalahan yang diperbuatnya selama pembelajaran, atau hal-hal lain yang terjadi dalam pembelajaran dan perlu dikemukakan dalam refleksi. 2) pembelajaran yang disampaikan merupakan milik semua anggota kelompok lesson study. Ini adalah pembelajaran kita, bukan pembelajaran saya ataupun pembelajaran Anda, sehingga hal ini direfleksikan pada setiap anggota kelompok. Anggota kelompok bertanggung jawab untuk menjelaskan pemikiran dan perencanaan yang telah disusun bersama tersebut 3) para guru yang merencanakan pembelajaran itu sebaiknya menceritakan mengapa mereka merencanakan itu, perbedaan antara apa yang mereka rencanakan dan apa yang sesungguhnya terjadi dalam pelaksanaan, serta aspek-aspek pelajaran yang mereka inginkan agar para pengamat mengevaluasinya. 4) diskusi yang berfokus pada data yang dikumpulkan oleh para pengamat. Para pengamat membicarakan secara spesifik tentang kegiatan siswa dan karya siswa yang mereka catat. Pengamat tidak membicarakan tentang kualitas pelajaran berdasarkan kesan mereka, tetapi mereka membicarakan atas dasar fakta yang ditemukan. 5) waktu refleksi bebas terbatas, oleh sebab itu hanya terdapat kesempatan yang terbatas (Lewis, 2002). Refleksi dari pelaksanaan pembelajaran ini dilaksanakan segera, pada hari yang sama, setelah rencana pembelajaran diimplementasikan.

14

Hal ini seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa hasil diskusi dan analisis ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk merevisi materi pelajaran, pendekatan pembelajaran, dan media yang digunakan.

4. Merencanakan Tahap Selanjutnya Dalam merefleksikan lesson study, hal yang perlu dilakukan adalah memikirkan tentang apa-apa yang sudah berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana dan apa-apa yang masih perlu diperbaiki. Sekarang tiba saatnya untuk berpikir tentang apa yang harus dikerjakan selanjutnya oleh kelompok lesson study. Apakah anggota kelompok berkeinginan untuk membuat peningkatan agar pembelajaran ini menjadi lebih baik? Apakah anggota-anggota yang lain dari kelompok lesson study ini berkeinginan untuk mengujicobakan pembelajaran ini pada kelas mereka sendiri? Apakah anggota kelompok lesson study puas dengan pelaksanaan lesson study dan operasional kelompok? (Lewis, 2002). Pertanyaan-pertanyaan berikut juga dapat membantu dalam melakukan refleksi terhadap siklus lesson study maupun memikirkan langkah yang akan dila-kukan berikutnya. Pertanyaan tersebut (menurut Lewis,2002), antara lain : a. Apa yang berguna atau nilai tambah apa tentang pelaksanaan lesson study yang telah dikerjakan bersama? b. Apakah lesson study membimbing kita untuk berpikir dengan cara baru tentang praktek pembelajaran sehari-hari? c. Apakah lesson study membantu mengembangkan pengetahuan kita tentang materi pelajaran serta pengetahuan tentang pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan siswa? d. Apakah pelaksanaan lesson study menarik bagi kita dalam

meningkatkan keprofesionalan kita? e. Apakah pelaksanaan lesson study yang dilakukan secara

kolaboratif/bersama-sama merupakan suatu kerja yang produktif dan suportif?

15

f. Sudahkah kita membuat kemajuan pembelajaran secara menyeluruh melalui pelaksanaan lesson study? g. Apakah semua anggota kelompok kita merasa terlibat dan berguna? h. Apakah pihak yang bukan peserta kelompok memperoleh informasi atau manfaat dari hasil pelaksanaan kegiatan lesson study kita? C. PENUTUP Lesson study dipilih dan dimplementasikan karena beberapa alasan. Pertama, lesson study merupakan suatu cara efektif yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilakukan guru dan aktivitas belajar siswa. Hal ini karena (1) pengembangan lesson study dilakukan dan didasarkan pada hasil sharing pengetahuan profesional yang berlandaskan pada praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan para guru, (2) penekanan mendasar pada pelaksanaan suatu lesson study adalah agar para siswa memiliki kualitas belajar, (3) kompetensi yang diharapkan dimiliki siswa, dijadikan fokus dan titik perhatian utama dalam pembelajaran di kelas, (4) berdasarkan pengalaman real di kelas, lesson study mampu menjadi landasan bagi pengembangan pembelajaran, dan (5) lesson study akan menempatkan peran para guru sebagai peneliti pembelajaran (Lewis, 2002). Kedua, lesson study yang didisain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para guru dapat (1) me-nentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif; (2) mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa; (3) memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru; (4) menentukan standar kompetensi yang akan dicapai para siswa; (5) merencanakan pelajaran secara kolaboratif; (6) mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa; (7) mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan; dan (8) melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya.

16

Referensi Fernandez, Clea and Yoshida, Makoto. (2004). Lesson Study : A Japanese Approach to Improving Mathematics Teaching and Learning. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers. Garfield, J. (2006). Exploring the Impact of Lesson Study on Developing Effective Statistics Curriculum. (Online): diambil tanggal 19-6-2006 dari: www.stat.auckland.ac.nz/-iase/publication/-11/Garfield.doc. Lewis, Catherine C. (2002). Lesson study: A Handbook of Teacher-Led Instructional Change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools, Inc. Morgan, Shawn. 2001. Teaching Math the Japanese Way (Online), Diambil tanggal 16 Mei 2005 dari: http:// www.as1.org/alted/

lessonstudy.htm,. Saito, E., Imansyah, H. dan Ibrohim. 2005. Penerapan Studi Pembelajaran di Indonesia: Studi Kasus dari IMSTEP. Jurnal Pendidikan Mimbar Pendidikan, No.3. Th. XXIV: 24-32. Tim Piloting. (2002). Laporan Kegiatan Piloting. Yogyakarta: IMSTEP-JICA FMIPA UNY.

17