Anda di halaman 1dari 57

Bab I Pengertian dan Batasan Pengertian Konsumen Pendahuluan Dalam bab ini akan dijelaskan tentang pengertian konsumen,

yang dalam kehidupan sehari-hari konsumen senantiasa terkait dengan hampir semua kegiatan usaha, oleh karena itulah dalam bab ini pula akan dijelaskan tentang Hukum konsumen dan Hukum perlindungan konsumen. Setelah mahasiswa membaca dan mempelajari diharapkan mahasiswa mampu untuk menjelaskan dan membedakan antara pengertian hukum konsumen dengan hukum perlindungan konsumen, menjelaskan pengertian konsumen, dan pelaku usaha

Penyajian a. Pengertian tentang Konsumen Dalam ilmu perlindungan konsumen, terdapat setidak-tidaknya tiga pengertian tentang kmonsumen. Perundang-undangan umum yang ada tidak menggunakan arti yang sama dengan konsumen yang dimaksudkan, karena perlindungan konsumen ini menyesuaikan dengan kemajuan dan perkembangan jaman. Perkembangan sosial ekonomi dan tehnologi pun telah berubah jauh dari saat-saat perundang-undangan umum tersebut disusun, karena itulah perlindungan konsumen memang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat berbagai pengertian mengenai konsumen walaupun tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara satu pendapat dengan pendapat lainnya. Konsumen sebagai peng-Indonesia-an istilah asing (Inggris) yaitu consumer, secara harfiah dalam kamus-kamus diartikan sebagai "seseorang atau sesuatu perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu"; atau "sesuatu atau seseorang yang mengunakan suatu persediaan atau sejumlah barang". ada juga yang mengartikan " setiap orang yang menggunakan barang atau jasa". Dari pengertian diatas terlihat bahwa ada pembedaan antar konsumen sebagai orang alami atau pribadi kodrati dengan konsumen sebagai perusahan atau badan hukum pembedaan ini penting untuk membedakan apakah konsumen tersebut menggunakan

barang tersebut untuk dirinya sendiri atau untuk tujuan komersial (dijual, diproduksi lagi). Banyak negara secara tegas menetapkan siapa yang disebut sebagai konsumen dalam perundang-undangannya, konsumen dibatasi sebagai "setiap orang yang membeli barang yang disepakati, baik menyangkut harga dan cara-cara pembayarannya, tetapi tidak termasuk mereka yang mendapatkan barang untuk dijual kembali atau lain-lain keperluan komersial (Consumer protection Act No. 68 of 1986 Pasal 7 huruf C). Perancis mendefinisikan konsumen sebagai; "A privat person using goods and services for privat ends". Sementara Spanyol menganut definisi konsumen sebagai berikut: "Any individual or company who is the ultimate buyer or user of personal or real property , products , services, or activities, regardless of wheter the seller, supplier or producer is a public or private entity, acting alone or collectively". Selain itu dalam rancangan akademik Undang-undang tentang Konsumen oleh Tim Peneliti UI dalam Ketentuan Umum Pasal 1, dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : Konsumen adalah setiap orang atau keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan. Tim Peneliti UI tidak membatasi konsumen dalam hubungan dengan didapatkannya barang, yaitu dalam hal ini tidak perlu ada hubungan jual beli. Misalnya seorang kepala keluarga yang membeli barang untuk dinikmati oleh seluruh anggota keluarga, maka anggota keluarga yang memakai walau tidak membeli langsung juga merupakan kategori konsumen. Berdasarkan Undang-Undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang mulai berlaku satu bulan sejak pengundangannya, yaitu 20 April 1999. Pasal 1 butir 2 mendefinisikan konsumen sebagai "Setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingaan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan." Definisi ini sesuai dengan pengertian bahhwa konsumen adalah end user / pengguna terakhir, tanpa si konsumen merupakan pembeli dari barannng dan/atau jasatersebut. BPHN: Pemakai akhir dari barang, digunakan untuk keperluan diri sendiri atau orang

lain dan tidak diperjual belikan. Yang dimaksud dengan konsumen adalah end user atau pengguna terakhir. Siapa yang dimaksud dengan konsumen akhir ada beberapa batasan.

Batasan Konsumen Akhir menurut Perundang-Undangan Undang-Undang Perlindungan Konsumen India:

Konsumen adalah setiap orang pembeli barang yang disepakati, menyangkut harga dan cara pembayarannya, tetapi tidak termasuk mereka yang mendapatkan barang untuk dijual kembali atau lain-lain keperluan komersial Perundang-undangan Australia:

setiap orang yang mendapatkan barang tertentu dengan harga yang telah ditetapkan (setinggi-tingginya A $. 15,000, atau kalau harganya lebih , maka kegunaan barang tersebut umumnya untuk keperluan pribadi, domestik, atau rumah tangga (normally used for personal, family or household purposes) Undang-Undang Jaminan Produk (Amerika Serikat):

Setiap pembeli produk konsumen yang tidak untuk dijual kembali, dan pada umumnyadigunakan untuk keperluan pribadi, keluarga atau rumah tangga (personal, family or household ) v Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia: Pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, bagi keperluan diri sendiri atau keluarganya atau orang lain dan tidak untuk diperdagangkan kembali v Fakultas Hukum Universitas Indonesia Setiap orang atau keluarga yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan v Hornby: Konsumen (consumer) adalah seseorang yang membeli barang atau menggunakan jasa Seseorang atau suatu perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu Sesuatu atau Seseorang yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah barang Setiap orang yang menggunakan barang atau jasa

v Blacks Law Dictionary: One who consumers, individuals who purchase, use, maintain and dispose of product and services artinya: seseorang yang mengkonsumsi, individu yang membeli, menggunakan, memelihara dan menggunakan/ menghabis dari produk dan jasa

Bab II Hukum Konsumen dan Hukum Perlindungan Konsumen

Hukum konsumen belum dikenal sebagaimana kita mengenal cabang hukum pidana, hukum perdata, hukum adaministrasi, hukum internasional, hukum adat dan berbagai cabang hukum lainnya. Dalam hal ini juga belum ada kesepakatan hukum konsumen terletak dalam cabang hukum yang mana.. Hal ini dikarenakan kajian masalah hukum konsumen tersebar dalam berbagai lingkungan hukum antara lain perdata, pidana, administrasi, dan konvensi internasional. Prof. Mochtar Kusumaatmadja, memberikan batasan hukum konsumen yaitu: Keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas yang mengatur hubungan dan masalah anatara berbagai pihak berkaitan dengan dengan barang dan atau jasa konsumen satu sama lain, di dalam pergaulan hidup. Hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen dan menemukan kaidah hukum konsumen dalam berbagai peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia tidaklah mudah, hal ini dikarenakan tidak dipakainya istilah konsumen dalam peraturan perundan-undangangan tersebut walaupun ditemukan sebagian dari subyek-subyek hukum yang memenuhi kriteria konsumen.

Dalam ilmu perlindungan konsumen, terdapat setidak-tidaknya 3 (tiga) pengertian tentang konsumen. Perundang-undangan umum yang ada tidak menggunakan arti yang sama dengan konsumen yang dimaksudkan. 1. Konsumen dalam arti umum, yaitu pemakai, pengguna dan/atau pemanfaat barang/jasa untuk tujuan tertentu. 2 konsumen antara, yaitu pemakai, pengguna dan/atau pemanfaat barang dan/atau jasa untuk diproduksi (produsen) menjadi barang/jasa lain atau untuk memperdagangkannya ( distributor), dengan tujuan komersiil. Konsumen antara ini sama dengan pelaku usaha; dan

1. Konsumen akhir, yaitu pemakai, pengguna dan/atau pemanfaat barang dan/atau jasa konsumen untuk memnuhi kebutuhan diri sendiri, keluarga, atau rumah tangganya dan tidak untuk diperdagangkan. Konsumen akhir inilah yang dengan jelas diatur perlindungannya dalam UU Perlindungan Konsumen tersebut, yaitu UU No. 8 tahun 1999. Selanjutnya apabila digunakan istilah konsumen dalam UU tersebut adalah konsumen akhir. UU ini mendefinisikan konsumen (pasal 1 angka 2) sebagai berikut: Konsumen adalah setiap pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan Orang dimaksudakan dalam UU ini wajiblah merupakan orang alami dan bukan badan hukum. Sebab yang dapat memakai, menggunakan dan/atau memanfaatkan barang dan/atau jasa untuk memenuhi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lian maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan hanyalah orang alami, atau manusia. Bandingkan dengan kerajaan Belanda yang juga memberikan pengertian pada istilah (consument). Pengertian konsumen dalam perundang-undangan Belanda menegaskan een natuurlijk persoon die niet handelt in de uitoefening van zijn beroep of bedriif (orang alami yang bertindak tidak dalam profesi atau usahanya. Jenis Konsumen n Konsumen yang menggunakan barang/ jasa untuk keperluan komersial (intermediate consumer, intermediate buyer, derived buyer, consumer of industrial market) n Konsumen yang menggunakan barang/ jasa untuk keperluan diri sendiri/ keluarga/ non komersial ( Ultimate consumer, Ultimate buyer, end user, final consumer, consumer of the consumer market)

b. Pelaku Usaha Pelaku usaha adalah istilah yang digunakan pembuat undang-undang yang pada umumnya lebih dikenal dengan istilah pengusaha. Ikatan sarjana ekonomi pada (ISEI) menyebutkan kelompok besar kalangan pelaku ekonomi; tiga diantaranya termasuk

kelompok pengusaha, (pelaku usaha, baik privat maupun publik). Ketiga kelompok pelaku usaha tersebut terdiri dari; 1. Kalangan investor, yaitu pelaku usaha penyedia dana untuk membiayai berbagai kepentingan. Seperti Perbankan, usaha keasing, dan penyedia dana lainnya. 2. Produsen, yaitu pelaku usaha yang membuat, memproduksi barang dan/atau jasa dari barang-barang atau jasa-jasa lain (bahan baku, bahan tambahan/penolong dan bahan-bahan lainnya). Mereka dapat terdiri dari orang/atau badan usaha berkaitan dengan pangan, orang/atau badan yang memproduksi sandang, orang/usaha yang berkaitan dengan pembuatan perumahan, jasa angkutan, perasuransian, perbankan, kesehatan, obatobatan dsb. 3. distributor yaitu pelaku usaha yang mendistribusikan atau

memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut kepada masyarakat.

2. Perlindungan Konsumen Apakah yang dimaksud dengan perlindungan konsumen? Undamg-undang tentang perlindungan konsumen, UU No. 8 tahun 1999 menegaskan sebagai; segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen (pasal 1 butir 1).

Kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen tersebut antara lain adalah dengan meningkatkan harkat dan martabat konsumen serta membuka akses informasi tentang baran dan/atau jasa baginya, dan menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab (konsideran huruf d, UU). Tujuan yang ingin dicapai perlindungan konsumen (pasal 3) umumnya dapat dibagi dalam 3 (tiga) bagian utama yaitu: a. memberdayakan konsumen dalam memilih, menentukan barang dan /atau jasa kebutuhannya dan menuntut hak-haknya.

b.

Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang memuat unsusr-unsur kepastian hukum, keterbukaan informasi dan akses untuk mendapatkan informasi tersebut (pasal 3 huruf d).

c.

Menumbuhkan

kesadaran

pelaku

usaha

mengenai

pentingnya

perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap jujur dan bertanggung jawab (pasal 3 huruf e). Perlindungan konsumen yang dijamin oleh undang-undang ini adalah adanya kepastian hukum terhadap segala perolehan kebutuhan konsumen, yang bermula dari benih hidup dalam rahim ibu sampai dengan tempat pemakaman dan segala kebutuhan diantara keduanya. Kepastian hukum itu meliputi segala upaya berdasarkab atas hukum untuk memberdayakan konsumen memperoleh atau menentukan pilihannya atas barang dan/atau jasa kebutuhannya serta mempertahankan atau membela hak-haknya apabila dirugikan oleh perilaku pelaku usaha penyedia kebutuhan konsumen. Pemberdayaan konsumen ini adalah dengan meningkatkan kesadaran,

kemampuan, dan kemandiriannya melindungi diri sendiri sehingga mampu meningkatkan harkat dan martabat konsumen dengan menghindari berbagai ekses negaif pemakaian, penggunaan dan pemanfaatan barang dan/atau jasa kenutuhannya. Disamping itu juga kemudahan dalam proses menjalankan sengketa konsumen yang timbul karena kerugian harta bendanya, keselamatan dan kesehatan tubuhnya, penggunaan dan/atau pemanfaatan produk konsumen.

Istilah-istilah Pemakai, Pengguna atau Pemanfaat UU perlindungan Konsumen menggunakan istilah yang hampir bersamaan artinya. Pemakai, Pengguna atau Pemanfaat sering diartikan bersamaan dengan kaitan apapun. UU tidak menjelaskan arti masing-masing istilah tersebut. Dalam pembahasan penggunaan istilah-istilah ini pakar hukum perlindungan konsumen menyepakati penggunaan istilah-istilah untuk kegiatan secara tertentu. 1 istilah pemakai digunakan untuk pemakaian produk konsumen yang tidak mengandung listrik atau elektronik. (pemakaian bahan sandang, bahan pangan, perumahan dsb)

istilah pengguna ditujukan untuk penggunaan produk konsumen yang menggunakan arus listrik atau elektronik

istilah pemanfaatan ditujukan untuk pemanfaatan produk konsumen berbentuk jasa. (dokter, asuransi, transportasi dsb)

c. Produk konsumen Apakah yang dimaksud dengan produk konsumen. UU perlindungan konsumen tidak menegasklan pengertian tentang istilah produk konsumen. Dalam UU konsumen hanya disebut tentang barang dan/atau jasa ( lihat pasal 1 angka 4 dan 5 ). Untuk istilah ini AZ. Nasution berpendapat bahwa produk konsumen adalah barang dan/atau jasa yang umumnya digunakan konsumen untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan tidak untuk diperdagangkan. Hukum Konsumen dan Hukum Perlindungan Konsumen Dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua kegiatan usaha bersentuhan dengan konsumen. Karena itulah AZ. Nasution membedakan antra [engertian hukum konsumen dan hukum perlindungan konsumen. Hukum konsumen adalah keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan atau jasa konsumen di dalam pergaulan hidup. Dari pengertian tersebut disimpulkan bahwa segala kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup manusia sehari-hari, yang diatur dalam suatu UU disebut hukum konsumen, dengan demikian maka hukum konsumen terdiri dari beberapa peraturan peruindang-undangan yang bersentuhan dengan kebutuhan konsumen. Berikut ini adalah beberapa hukum konsumen yang juga merupakan sumeber hukum bagi hukum perlindungan konsumen 3. UU NO.8/99 Ttg Perlindungan Konsumen 4. UU NO.2/81 Ttg Metrologi Legal 5. UU NO.2/66 Ttg Hygiene 6. UU NO.23/92 Ttg Kesehatan 7. UU NO.5/84 Ttg. Perindustrian

8. UU NO.7/96 Ttg. Pangan 9. UU NO.3/82 Ttg Wajab Daftar Perusahaan 10. UU NO.9/95 Ttg. Usaha Kecil 11. UU NO.69/99 Ttg. Label dan Iklan Pangan n Hukum Perlindungan Konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen. n Hukum perlindungan konsumen memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur dan juga mengandung sifat yang melindungi kepentingan konsumen Sehingga hukum perlindungan konsumen lebih spesifik dan khusus untuk memberikan perlindungan kepada konsumen. Arti penting perlindungan Konsumen Menurut A.Z Nasution yang dikutip oleh Lobby Loqman yang dikutip juga oleh Parulian Siagian bahwa mengapa konsumen perlu dilindungi, hal ini menyangkut dua kepentingan yaitu kepentingann fisik konsumen dan kepentingan sosial ekonomi.

Penutup Dengan membaca penyajian tersebut diharapkan mahasiswa dapat menjwab soal-soal dibawah ini 1. sebut dan jelaskan pengertian konsumen, dimana ada 3 (tiga) pengertian. Sebutkan. 2. apa perbedaan antara hukum konsumen dan hukum konsumen 3. sebut dan jelaskan pelaku usaha.

Bab III Sejarah Perlindungan Konsumen Pendahuluan Dalam bab II ini akan dijelaskan mengapa konsumen harus dilindungi? Untuk menjawab hal ini akan dijelaskan tentang sejarah Hukum perlindungan konsumen, dan perkembangan perlindungan konsumen. Setelah mempelajari materi ini diharapakan mahasiswa mampu untuk menjeaskan mengapa konsumen perlu dilindungi?

Penyajian Sebelum terjawab pertanyaan diatas mengapa konsumen perlu dilindungi? Kita akan mempelajari dulu sejarah perlindungan konsumen. Perkembangan pentingnya konsumen dilindungi, ini karena adanya perkembangan dunia perdagangan dan transaksi yang pesat hal ini dapat dilihat dari sejarah, - adanya revolusi industri, dimana pada masa ini banyak muncul industri-industri yang dikhwatirkan dalam menjalankan usahanya guna mendapatkan keuntungan para pengusaha ini akan menggunakan berbagai cara karena adanya persaingan antara pelaku usaha, meningat dunia industri dan perdagangan maju pesat. - adanya globalisasai atau dunia tanpa batas, dimana dunia perdagangan lebih mudah untuk memasuki negara tetangga atau suatu pruduk sangat mudah untuk memasuki dan dipasarkan diu negara lain diluar negara penghasil produk tersebut. - bergaining position konsumen lemah atau posisi tawar konsumen rendah. - karakteristik konsumen yang sangat kompleks, berbeda satu sama lain - status pendidikan dan statis ekonomi yang sangat beragam, hal ini oleh Hans W. Micklitz membedakan antara konsumen yang terinformasi dan konsumen yang tidak terinformasi. Adapun konsumen yang terinformasi adalah konsumen dengan karak teristik mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, status ekonomi

Lahirnya Undang-undang Perlindungan Konsumen Dari masa pembahasan RUU Perlindungan Konsumen di DPR terlihat seakanakan waktu yang digunakan untuk pengesahan RUU menjadi UU berkisar 3-4 bulan saja

(desember 1998-30 maret 1999). Padahal sesungguhnya berbagai usaha dengan memakan waktu, tenaga dan pikiran yang banyak telah dijalankan berbagai pihak yang berkaitan dengan pembentukan hukum dan perlindungan konsumen. Baik dari kalangan pemerintah, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, YKLI, bersama-sama dengan perguruan-perguruan tinggi, yang merasa terpanggil untuk mewujudkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen tersebut. Berbagai kegiatan tersebut berbentuk pembahasan ilmiah/non ilmiah, seminar-seminar, penyusunan naskag penelitian, pengkajian dan naskah akademik RUU (perlindungan konsumen). Sekedar untuk mengingat secara historis, beberapa diantara kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: a. Seminar Pusat Studi Hukum Dagang, Fakultas Hukum Universitas Indonesia tentang Desember 1975) b. Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman RI, Penelitian tentang Perlindungan Konsumen di Indonesia (proyek tahun 1979-1980). c. Yayasan Lembaga Konsummen Indonesia, perlindungan kosumen indonesia suatu sunbangan pemikiran tentang rancangan Undangundang Perlindungan konsumen (1981). d. Departemen perdagangan RI bekerjasama dengan fakultas hukum UI, RUU tentnang perlindungan konsumen (1997) e. DPR RI, usul inisiatif DPR tentang UU perlindungan Konsumen Desember 1998. Selain pembahasan-oembahasan diatas masih banyak lagi lokakarya-lokakarya, seminar-seminar, berkenaan dengan perlindungan konsumen atau tentang produk konsumen, dari berbagai aspeknya. Untuk hadirnya suatu UU tentang perlindungan konsumen yang terdiri dari 15 bab dan 65 pasal, ternyata dibutuhkan waktu tidak kurang dari 25 tahun sejak gagasan awal tentang UU ini dikumandangkan (1975-2000), meskipun masih ada kekurangan disana sini (selanjutnya menjadi tugas Badan Perlindungan Konsumen Nasional-BPKN). Sekalipun demikian ia merupakan suatu kebutuhan seluruh rakyat indonesia yang kesemuanay adalah konsumen pemakai, pengguna atau pemanfaat barang dan atau jasa masalah Perlindungan Konsumen (15-16

konsumen. Apalagi globalisasi sudah melanda dunia. Keterbukaan pasar saat ini dan kedudukan konsumen yang lemah dibandingkan pelaku usaha maka kebutuhan akan perlindungan konsumen tersebur merupakan suau conditio sine quanon. Prospek Gerakan Konsumen Perhatian terhadap gerakan perlindungan hak-hak konsumen mendapat dukungan dan pengakuan dari Dewan Ekonomi dan Sosial PBB dengan resolusinnya No. 2111 tahun 1978, kemudian pada 16 april 1985 dengan resolusimnya No. A/RES/39/248 juga disuarakan seruan penghormatan terhadap hak-hak konsumen. Gerakan konsumen international mempunyai wadah International Organization Consumers Unions (IOCU). Kemudian sejak 1995 berubah menjadi Consumers International (CI). Anggota CI mencapai 203 anggota yang terdiri dari 90 negara. Indonesia mempunyai 2 (dua) organisasi konsumen, YLKI (jakarta) dan LP2K (semarang) Konsumen Indonesia merupakan bagian konsumen global sehingga gerakan konsumen di dunia international mau tidak mau menembus batas-batas negara, dan mempengaruhi kesadaran konsumen, untuk berbuat hal yang sana, perjuangan akan hakhak konsumen, seiring dengan perkembangan pasar, globalisasi dunia tanpa batasperdagangan bebas.

Penutup Dengan mempelajari sejarah ini mahasiswa diharapkan dapat menjawab, 1. Mengapa atau apa yang menjadi alasan konsumen perlu di;lindungi. 2. menyebutkan sumber-sumber hukum perlindungan konsumen 3. menyebutkan sejarah perkembangan gerakan perlindungan

konsumen (konsumerisme)

Bab IV Hak-hak Konsumen Pendahuluan Dalam bab ini hendak dijelaskan apa yang dilindungi dalam Hukum Perlindungan Konsumen, atau bilamana konsumen tersebut dilindungi. Dengan mempelajari bab ini mahasiswa diharapkan dapat nenjelaskan apa yang menjadi hak-hak konsumen, hak-hak pelaku usaha, kewajiban konsumen dan apa kewajiban pelaku usaha. Penyajian Perlindungan konsumen dalam hal ini berkaitan dengan perlindungan yang diberikan oleh hukum. Oleh karena itu perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. Materi yang mendapatkan perlindungan tidak saja hanya fisik, namun juga hakhak yang bersifat abstrak. Dengan kata lain perlindungan konsumen ssesungguhnya identik dengan perlindungan yang diberikan hukum terhadap hak-hak konsumen. Secara umum dikenal ada 4 (empat) hak dasar konsumen (berdasarkan Consuners bill of, 1962. President Kennedys) yaitu : 1. Hak untuk mendapatkan keamanan (the right of safety). 2. Hak untuk mendapatkan informasi (the right to be informed) 3. Hak untuk memilih (the right to choose) 4. Hak untuk di dengar (the right to be heard) Empat hak dasar ini diakui secara international. Dalam perkembangannya organisasi konsumen yang tergabung dalam IOCU yang berubah menjadi CI, menambahkan lagi beberapa hak , YLKI misalnya menambahkan satu hak lagi yaitu han untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, yang kemudian dikenal dengan panca hak konsumen (Jakarta, YLKI, 1985) Dalam Undang-Undang Perlindungan Koinsumen UU No. 8 tahun 1999, tidak mengatur tentang hidup. Adapun hak-hak yang secara eksplisit diatur dalam pasal 4 UU Perlindungan Konsumen ini, sementara satu hak terakhit dirumuskan secara terbuka. hak kekayaan intelektual dan di bidang pengelolaan linngkungan

1.

hak atas kenyamanan, keamanan, keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.

2.

Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.

3.

Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.

4.

Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan.

5.

Hak

untuk

mendapatkan

advokasi,

perlindungan,

dan

upaya

penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut 6. 7. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif. 8. Hak untuk mendapatkan dispensasi, ganti rugi dan/atau penggantian jika barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. 9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan peruindang-undangan yang lain. Disamping hak-hak dalam pasal 4 juga terdapat hak-hak konsumen yang dirumuskan dalam pasal 7, yang menhatur tentang kewajiban pelaku usaha. kewajiban dan hak merupakan antinomi dalam hukum, sehingga kewajiban pelaku usaha merupakan hak konsumen. selain hak-hak yang disebutkan tersebut ada juga hak untuk dilindungi dari akibat negatif persaingan curang. Hal ini dilatarbelakangi oleh pertimbangan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan oleh pengusaha sering dilakukan secara tidak jujur yang dalam hukum dikenal dengan terminologi persaingan curang. Di Indonesia persaingan curang ini diatur dalam UU No. 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, juga dalam pasal 382 bis KUHP. Dengan demikian jelaslah bahwa konsumen dilindungi oleh hukum, hal ini terbukti telah diaturnya hak-hak konsumenyang merupakan kewajiban pelaku usaha dalam UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, termasuk didalamnya juga

diatur tentang segala sesuatu yang berkaitan apabila hak konsumen, misalnya siapa yang melindungi konsumen (bab VII), bagaimana konsumen memperjuangkan hak-haknya (bab IX, X, dan XI).

Penutup Dari pembahasan tersebut diharapkan mahasiswa mampu menjawab pertanyaan. 1. apa yang dilindungi dalam UU Perlindungan Konsumen 2. apa saja yang menjadi hak konsumen yang diatur dalam UU Nasional maupun International. 3. menyebutkan kewajiban pelaku usaha, dan juga lembaga perlindungan konsumen.

Bab V Pronsip-prinsip Perlindungan Konsumen Berbicara tentang prinsip-prinsip perlindungan konsumen ini, mahasiswa diharpakan setelah mempelajati prinsip perlindungan konsumen ini mampu untuk menyelesaikan dan menganalisa suautu sengketa konsumen. prinsip-prinsip ini meliputi, kedudukan konsumen, proses beracara, prinsip tanggung jawab dan product liability.

Penyajian a. Pengantar Menurut Prof. Hans W. Micklitz, dalam perlindungan konsumen secara garis besar dapat ditempuh dua model kebijakan. Pertama kebijakan yang bersifat komplementer yaitu kebijakan yang mewajibkan pelaku usaha memberikan informasi yang memadai kepada konsumen. (hak atas informasi). Kedua, kebijakan kompensatoris yaitu kebijakan yang berisikan perlindungan terhadap kepentingan ekonomi konsumen (hak atas kesehatan dan keamanan) Selain ditinjau dari bidang-bidang hukum yang mengatur perihal perlindungan konsumen dan dua macam kebijakan umum yang dapat ditempuh, juga terdapat prinsipprinsip pengaturan di bidang perlondungan konsumen. Dalam UUPK ada lima prinsip yang dikaitkan dengan asas pembangunan nasional, yaitu asas manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan serta kepastian hukum. b. Kedudukan Konsumen prinsip-prinsip yang muncul tentang kedudukan konsumen dalam hubungan dengan pelaku ysaha berangkat dari doktrin atau teori yang dikenal dalam perkembangan sejarah hukum perlindungan konsumen: 1. Let the buyer beware. Prinsip kehati-hatian ada pada konsumen. Hal ini dengan adanya asumsi bahwa kedudukan kinsumen dan pelaku usaha adalah seimbang, sehingga konsumen tiudak perlu ada proteksi. Prinsip ini mengandung kelemahan, bahwa dalam perkembangan konsumen tidak mendapat informasi yang memadai yang selanjutnuya mampu

untuk

menentukan pilihan terhadap produk konsumen baik barang

dan/atau jasa. 2. The due care theory, prinsip ini menyatkan bahwa pelaku usaha mempunyai kewajiban untuk berhati-hati dalam memasyarakatkan produk. Selkama berhati-hati dengan produknya ia tidak dapat dipersalahkan. Pada prinsip ini berlaku pembuktian siapa mendalilkan maka dialah yang membuktikan. Hal ini sesuai dengan jiwa pembuktian pada hokum privat di Indonesia yaitu pembuktian ada pada penggugat, pasal 1865 KUHPerdata, yang secara tegas menyatakan, barangsiapa yang mendalilkan mempunyai suatu hak atau untuk meneguhkan haknya atau membantah hak orang lain, atau menunjuk pada suatu peristiwa, maka is diwajibkan mebuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut. 3. The privity of contract, prinsip ini menyatakan pelaku usaha mempunyai kewajiban untuk melindungi konsumen, tetapi hal itu baru dapat dilakukan jika diantara mereka telah terjalin suatu hubungan kontraktual. Pelaku usaha tidak dapat disalahkan diluar hal-hal yang dperjanjikan. wanprestasi. Artinya konsumen dapat menggugat berdasarkan

C. Proses Beracara Sengketa konsumen akan terjadi apabila terjadinya pelanggaran hak-hak konsumen dan tidak terpenuhinya kewajiban pelaku usaha. Banyak cara dalam penyelesaian sengketa konsumen ini. Biasanya dalam kehidupan sehari-hari sengketa konsumen akan melibatkan pihak konsumen yang melibatkan banyak orang, karena sengketa ini muncul biasanya karena ketidaksesuaian produk baik barang maupun jasa, dimana produk ini akan dikonsumsi lebih dari satu orang, meski demikian tidak menutup kemungkinan sengketa ini hanya melibatkan perseorangan. Dalam bab ini akan dibahas cara yang dapat ditempuh dalam beracara sengketa konsumen.

1. Small Claim, adalah jenis gugatan yang dapat dilakukan oleh konsumen, sekalipun dilihat secara ekonomis nilai gugatannya sangat kecil. Ada tiga alas an mengapa small claim diijinkan dalam enyelesaoian sengketa konsumen, a. kepentingan dari pihak penggugat tidak dapat diukur semata karena nilai uang kerugiannya, b. keyakinan bahwa pintu keadilan terbuka bagi siapa saja, c. untuk menjaga integritas badan-badan peradilan. 2. Class Action, adalah gugatan konsumen dimana korbanya lebih dari satu orang atau gugatan yang dilakukan oleh sekelompok orang. Gugatann kelompok ini berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung No. 1 tahun 2002 dikenal dengan gugatan perwakilan kelompok. Dalam UU Perlindungan Konsumen gugatan kelompok ini diatur dalam pasal 46 ayat 1 (b). pertanyaan muncul apakah NGOs dapat menjadi wakil dari para konsumen, dapat asalkan saja NGOs tersebut juga berposisi sebagai korban. Apabila dia tidak sebagai korban maka berdasar pasal 46 ayat 1 (c) (legal standing). Dalam Class Action wajib memenuhi empat syarat yang ditetapkan dalam pasal 23 US Federal Of Civil Procedure a. Numerosity, jumlah penggugat harus cukup banyak b. Commonality, adanya kesamaan soal hukum dan fakta antara pihak yang diwakili dan pihak yang mewakili c. Typicality, adanya kesamaan jenius tuntutan hukum dan dasar pembelaan yang digunakan antara anggota yang diwakili dan yang mewakili d. Adequacy of Representation , adanya kemampuan klas yang mewakili dalam mewakili pihak yang diwakili

3. Legal Standing, adalah gugatan yang dilakukan sekelompok konsumen dengan menunjuk pihak NGOs atau LSM yang dalam kegiatannya berkonsentrasi pada kegiatan konsumen untuk mewakili kepentingan

konsumen atau dikenal dengan Hak Gugat LSM. LSM tersebut haruslah berbadan hukum atau yayasan.

D. Prinsip Tanggung Jawab Prinsip tentang tanggung jwab ini penting mengingat bahwa beberapa sumber hokum formal dan perjanjian standar di lapangan hokum keperdataan kerap memberikan batasan tanggung jawab pada pelaju pelanggaran hak konsumen. Untuk menentukan seberapa besar tanggungjawabnya, dan siapa yang wajib bertanggungjawab, berukut akan dijelaskan beberapa prinsip tanggung jawab. 1. Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Unsur Kesalahan (Fault Liability atau Liability Based on Fault). Prinsip ini menyatakan bahwa seseorang baru bias dimintakan pertanggungjawabannya secara hokum jika ada unsure kesalahan yang dilakukan. Dalam KUHPerdata pasal 1365, yang dikenal sebagai perbuatan melawan hokum, mensyaratkan terpenuhinya unsure pokok yaitu: (1) adanya perbuatan (2) adanya unsure kesalahan (3) adanya kerugian yan diderita (4) adanya hubungan sebab akibat antara kesalahan dan kerugian. 2. Prinsip Praduga Untuk Selalu Bertanggung jawab. Bahwa tergugat selalu dianggap bertanggung jawab, (presumption of liability), sampai dia dapat membuktikan sebaliknya. Jadi beban pembuktian ada pada tergugat. (omkering van bewijslast). Prinsip pembuktian ini dalam Hukun Pidana baru diterapkan pada Tindak Pidana Korupsi. Dan UUPK juga mengadopsi pembuktian terbalik ini hal ini dapat dilihat dalam pasal 19, 22, 23 UUPK. (lihat ketentuan pasal 28 UUPK) 3. Prinsip Praduga Untuk Selalu Tidak Bertanggung Jawab. Prinsip ini hanya dikenal dalam lingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas, missal hokum pengangkutan. 4. Prinsip Tanggung Jawab Mutlak (strict liability). Istilah strict liability ini sering diidentikan dengan tanggung jawab mutlak. Ada pakar yang membedakan antara srict liability dengan absolute liability. Pada strict liability adalah prinsip tanggungjawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai factor yang menentukan, namun ada pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab, missal force majeur. Sebaliknya absolute liability adalah prinsip tanggung jawab

tanpa kesalahan dan tidak ada pengecualiannya. Disamping itu pembedaan tanggung jawab tersebut juga dapat dilihat dari ada tidaknya hubungan kausalitas antara subyek yang bertanggungjawab dengan kesalahan. 5. Prinsip Tanggung Jawab dengan Pembatasan. Prinsip ini sangat

menguntungkan pelaku usaha karena dalam klausul perjanjian selalu mencantumkan pembatasan tanggung jawab yang dikenal dengan klausul eksonerasi atau lepas dari tanggung jawab, misalnya tiket penitipan kendaraan.

Bab VI Product Liability/ Tanggung Jawab Produk Pendahuluan Setelah mempelajari tanggung jawab produk ini mahasiswa diharapkan dapat menganalisa sengketa konsumen yang muncul di masyarakat. Mahasiswa mampu menjelaskan apa tanggung jawab produk tersebut, mengapa perlu diatur tentang tanggung jawab produk.

Penyajian Guidelines for Consumer Protection of 1985, yang dikeluarkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan: Konsumen dimanapun mereka berad, dari segala bangsa, mempunyai hak-hak dasar sosialnya. Yang dimaksud hak-hak dasar tersebut adalah hak untuk mendapatkan informasi yang jelas, benar, dan jujur; Hak untuk mendapatkan ganti rugi; hak unutk mendapatkan kebutuhan dasar manusia (cukup pangan dan papan); Hak untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan bersih serta kewajiban untuk menjaga lingkungan; dan hak untuk mendapatkan pendidikan dasar. PBB menghimbau seluruh anggotanya untuk memberlakukan hak-hak konsumen tersebut di negaranya masing-masing. Permasalahan yang dihadapi konsumen Indonesia, seperti juga yang dialami konsumen di negara-negara berkembang lainnya, tidak hanya sekadar bagaimana memilih barang, tetapi jauh lebih kompleks dari itu yaitu menyangkut pada penyadaran semua pihak, baik itu pengusaha, pemerintah maupun konsumen sendiri tentang pentingnya perlindungan konsumen. Pengusaha menyadari bahwa mereka harus menghargai hak-hak konsumen, memproduksi barang dan jasa yang berkualitas, aman dimakan/digunakan, mengikuti standar yang berlaku, dengan harga yang sesuai (reasonable). Pemerintah menyadari bahwa diperlukan Undang-Undang serta peraturan-peraturan disegala sektor yang berkaitan dengan berpindahnya barang

dan jasa dari pengusaha ke konsumen. Pemerintah juga bertugas unutk mengawasi berjalannya peraturan serta Undang-Undang tersebut dengan baik. Konsumen harus sadar akan hak-hak yang mereka punyai sebagai seorang konsumen sehingga dapat melakukan sosial kontrol terhadap perbuatan dan perilaku pengusaha dan pemerintah. Dengan lahirnya Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, maka diharapkan upaya perlindungan konsumen di Indonesia yang selama ini dianggap kurang diperhatikan, bisa menjadi lebih diperhatikan. Tujuan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan konsumen yang direncanakan adalah untuk meningkatkan martabat dan kesadaran konsumen dan secara tidak langsung mendorong pelaku usaha di dalam menyelenggarakan kegiatan usahanya dengan penuh rasa tanggung jawab. Pengaturan perlindungan konsumen dilakukan dengan; - Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung akses dan Informasi, serta menjamin kepastian hukum. - Melindungi kepentingan konsumen pada khususnya dan kepentingan seluruh Pelaku usaha; - Meningkatkan kualitas barang dan pelayanan jasa; - Memberikan perlindungan kepada konsumen dari praktek usaha yang menipu dan menyesatkan; - Memadukan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan konsumen dengan bidang-bidang perlindungan pada bidang-bidang lainnya.

Product Liability (Tanggung Jawab Produk) Menurut Natalie OConnor; Product Liability, These were designed to protect the consumer from faulty or defective goods by imposing strict liability upon manufacturers. Dari pedapat yang di kemukakan oleh Natalie diatas dapat kita lihat secara umum bahwa Tanggung Jawab Produk adalah suatu konsepsi hukum yang intinya dimaksudkan untuk memberikan perlindungan kepada konsumen. Tanggung jawab produk cacat berbeda dengan tanggung jawab terhadap hal-hal yang

sudah kita kenal selama ini. Tanggung jawab produk, barang dan jasa meletakkan beban tanggung jawab pembuktian produk itu kepada pelaku usaha pembuat produk (produsen) itu (Strict Liability). Hal ini dapat kita lihat dalam ketentuan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang mengatur bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam perkara ini, menjadi beban dan tanggung pelaku usaha. Kerugian yang diderita oleh seorang pemakai produk yang cacat atau membahayakan, bahkan juga pemakai yang turut menjadi korban, merupakan tanggung jawab mutlak pelaku usaha pembuat produk itu sebagaimana diatur dalam pasal 19 Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Dengan penerapan tanggung jawab mutlak produk ini, pelaku usaha pembuat produk atau yang dipersamakan dengannya, dianggap bersalah atas terjadinya kerugian pada konsumen pemakai produk, kecuali dia dapat membuktikan keadaan sebaliknya, bahwa kerugian yang terjadi tidak dapat di persalahkan kepadanya. Pada dasarnya konsepsi tanggung jawab produk ini, secara umum tidak jauh berbeda dengan konsepsi tanggung jawab sebagaiman diatur dalam ketentuan Pasal 1365 (dan 1865) KUHPerdata. Perbedaannya adalah bahwa tanggung jawab produsen untuk memberikan ganti rugi diperoleh, setelah pihak yang menderita kerugian dapat membuktikan bahwa cacatnya produk tersebut serta kerugian yang timbul merupakan akibat kesalahan yang dilakukan oleh produsen. Perbedaan lainnya adalah ketentuan ini tidak secara tegas mengatur pemberian ganti rugi atau beban pembuktian kepada konsumen, melainkan kepada pihak manapun yang mempunyai hubungan hukum dengan produsen, apakah sebagai konsumen, sesama produsen, penyalur, pedagang atau instansi lain. Apakah yang dimaksud dengan cacat produk? Di Indonesia cacat produk atau produk yang cacat di definisikan sebagai berikut: Setiap produk yang tidak dapat memenuhi tujuan pembuatannya baik karena kesengajaan atau kealpaan dalam proses maupun disebabkan hal-hal lain yang terjadi dalam peredaranya, atau tidak menyediakan syarat-syarat keamanan bagi manusia atau harta benda mereka dalam penggunaannya, sebagaimana diharapkan orang Dari batasan ini dapat dilihat bahwa pihak yang bertanggung jawab adalah pelaku

usaha pembuat produk tersebut. Perkembangan ini dipicu oleh tujuan yang ingin dicapai doktrin ini yaitu: a. b. Menekan lebih rendah tingkat kecelakaan karena produk cacat tersebut. Menyediakan sarana hukum ganti rugi bagi korban produk cacat yang tidak dapat di hindari. Sesuatu produk dapat disebut cacat (tidak dapat memenuhi tujuan pembuatannya) karena: 1. 2. 3. Cacat produk atau manufaktur; Cacat Desain; Cacat Peringatan atau cacat industri.

Cacat produk atau manufaktur adalah keadaan produk yang umumnya berada di bawah tingkat harapan konsumen. Atau dapat pula cacat itu demikian rupa sehingga dapat membahayakan harta benda, kesehatan tubuh atau jiwa konsumen. Cacat seperti tersebut diatas termasuk cacat desain, sebab kalau desain produk itu dipenuhi sebagaimana mestinya, tidaklah kejadian merugikan konsumen tersebut dapat terjadi. Cacat peringatan atau instruksi adalah cacat produk karena tidak dilengkapi dengan peringatan-peringatan tertentu atau instruksi penggunaan tertentu. Produk yang tidak memuat peringatan atau instruksi tertentu sebagaimana yang di utarakan diatas, termasuk produk cacat yang tanggung jawabnya secara tegas dibebankan pada produsen dari produk tersebut. Tetapi disamping produsen, dengan syarat-syarat tertentu, beban tanggung jawab itu dapat pula diletakkan di atas pundak pelaku usaha lainnya, seperi importir produk, distributor atau pedagang pengecernya. Jadi, tanggung jawab produk cacat ini berbeda dari tanggung jawab pelaku usaha produk pada umumnya. Tanggung jawab produk cacat terletak pada tanggung jawab cacatnya produk berakibat pada orang, orang lain atau barang lain, sedang tanggung jawab pelaku usaha, karena perbuatan melawan hukum adalah tanggung jawab atas rusaknya atau tidak berfungsinya produk itu sendiri. Hukum tentang tanggung jawab produk ini termasuk dalam perbuatan melanggar hukum tetapi diimbuhi dengan tanggung jawab mutlak (strict liability), tanpa melihat apakah ada unsur kesalahan pada pihak pelaku. Dalam konsdisi

demikian terlihat bahwa adagium caveat emptor (konsumen bertanggung jawab) telah ditinggalkan, dan kini berlaku caveat venditor (pelaku usaha bertanggung jawab) Ketentuan yang mengatur hal tersebut, yaitu perbuatan-perbuatan pelaku usaha yang berakibat menimbulkan kerugian dan atau membahayakan konsumen diatur dalam Pasal 4,5,7-17, 19-21 dan Pasal 24 sampai dengan Pasal 28 Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Definisi Istilah Product Liability (Tanggung Jawab Produk) baru dikenal sekitar 60 tahun yang lalu dalam dunia perasuransian di Amerika Serikat, sehubungan dengan dimulainya produksi bahan makanan secara besar-besaran. Baik kalangan produsen (Prducer and manufacture) maupun penjual (seller, distributor) mengasuransikan barang-barangnya terhadap kemungkinan adanya resiko akibat produk-produk yang cacat atau menimbulkan kerugian tehadap konsumen. Produk secara umum diartikan sebagai barang yang secara nyata dapat dilihat, dipegang (Tangible goods), baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Namun dalam kaitan dengan masalah tanggung jawab produsen (Product Liability) produk bukan hanya berupa tangible goods tapi juga termasuk yang bersifat intangible seperti listrik, produk alami (mis. Makanan binatang piaraan dengan jenis binatang lain), tulisan (mis. Peta penerbangan yang diproduksi secara masal), atau perlengkapan tetap pada rumah real estate (mis. Rumah). Selanjutnya, termasuk dalam pengertian produk tersebut tidak semata-mata suatu produk yang sudah jadi secara keseluruhan, tapi juga termasuk komponen suku cadang. Berkenaan dengan masalah cacat (defect) dalam pengertian produk yang cacat (defective product) yang menyebabkan produsen harus bertanggung jawab dikenal tiga macam defect: Production/manufacturing defects, design defects dan warning or instruction defects. Production/Manufacturing Defect, yaitu apabila suatu produk dibuat tidak sesuai dengan persyaratan sehingga akibatnya produk tersebut tidak aman bagi konsumen. Desaign Defect, yaitu apabila bahaya dari produk tersebut lebih besar daripada

manfaat yang diharapkan oleh konsumen biasa atau bila keuntungan dari disain produk tersebut lebih kecil dari risikonya. Warning/Instruction Defect yaitu apabila buku pedoman, buku panduan,

pengemasan, etiket (labels), atau plakat tidak cukup memberikan peringatan tentang bahaya yang mungkin timbul dari produk tersebut atau petunjuk tentang penggunaannya yang aman. Tentang pengertian product liability dapat dikemukakan definisi sebagai berikut: Menurut Hursh: product liability is the liability of manufacturer, processor or nonmanufacturing seller for injury to the person or property of a buyer or third party, caused by product which has been sold. Perkins Coie menyatakan: Product Liability:The liability of the manufacturer or others in the chain of distribution of a product to a person injured by the use of product. Sedangkan dalam convention on the Law Applicable to Products Liability (The Hague Convention), article 3 menyatakan: This convention shall applay to the liability of the following persons: 1. 2. 3. 4. manufacturers of a finished product or of a component part; producers of a natural product; suppliers of a product; other persons, including repairers, and warehousemen, in the commercial chain of preparation or distribution of a product. It shall also apply to the liability oh the agents or employees of the persons specified above. Dengan demikian, yang dimaksud dengan product Liability adalah suatu tanggung jawab secara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk (producer, manufacture) atau dari orang atau badan yang bergerak dalam suatu proses untuk menghasilkan suatu produk (processor, assembler) atau orang atau badan yang menjual atau mendistribusikan produk tersebut. Bahkan dilihat dari konvensi tentang product Liability di atas, berlakunya konvensi tersebut diperluas terhadap orang/badan yang terlibat dalam rangkaian komersial tentang persiapan atau penyebaran dari produk, termasuk para pengusaha bengkel dan pergudangan. Demikian juga dengan para agen dan pekerja dari badan-badan usaha di atas.

Tanggung jawab tersebut sehubungan dengan produk yang cacat sehingga menyebabkan atau turut menyebabkan kerugian bagi pihak lain (konsumen), baik kerugian badaniah, kematian maupun harta benda. Strict Liability Principle Seperti di kemukakan di atas, bahwa jika dilihat secara sepintas, nampak bahwa apa yang di atur dengan ketentuan product Liability telah diatur pula dalam KUHPerdata kita. Hanya saja jika kita menggunakan KUHPerdata, maka bila seorang konsumen menderita kerugian ingin menuntut pihak produsen (termasuk pedagang, grosir, distributor dan agen), maka pihak korban tersebut akan menghadapi beberapa kendala yang akan menyulitkannya untuk memperoleh ganti rugi. Kesulitan tersebut adalah pihak konsumen harus membuktikan ada unsur kesalahan yang dilakukan oleh pihak produsen. Jika konsumen tidak berhasil membuktikan kesalahan produsen, maka gugatan konsumen akan gagal. Oleh karena berbagai kesulitan yang dihadapi oleh konsumen tersebut, maka sejak tahun 1960-an, di Amerika Serikat di berlakukan prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability principle). Dengan diterapkannya prinsip tanggung jawab mutlak ini, maka setiap konsumen yang merasa dirugikan akibat produk atau barang yang cacat atau tidak aman dapat menuntut kompensasi tanpa harus

mempermasalahkan ada atau tidak adanya unsur kesalahan di pihak produsen. Alasan-alasan mengapa prinsip tanggung jawab mutlak (strtictliability) diterapkan dalam hukum tentang product liability adalah: a. Di antara korban/konsumen di satu pihak dan produsen di lain pihak, beban kerugian (resiko) seharusnya ditanggung oleh pihak ynag

memproduksi/mengeluarkan barang-barang cacat/berbahaya tersebut di pasaran; b. Dengan menempatkan/mengedarkan barang-barang di pasaran, berarti produsen menjamin bahwa barang barang tersebut aman dan pantas untuk dipergunakan, dan bilamana terbukti tidak demikian, dia harus bertanggung jawab; c. Sebenarnya tanpa menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak-pun produsen yang melakukan kesalahan tersebut dapat dituntut melalui proses penuntutan beruntun, yaitu konsumen kepada pedagang eceran, pengecer kepada grosir,

grosir kepada distributor, distributor kepada agen, dan agen kepada produsen. Penerapan strict liability dimaksudkan untuk menghilangkan proses yang panjang ini. Pertimbangan-pertimbangan Turidis yang Menyebabkan Urgenitas Penerapan

Instrumen Hukum Product Liability 1. Hak para konsumen Indonesia yang bagian terbesar adalah rakyat sederhana perlu ditegakkan sebagai konsekuensi penghormatan hak asasi manusia. 2. Agreement Establishing the World Trade Organization (WTO) yang telah diratifikasi Indonesia, pada prinsipnya menekankan adanya keterkaitan yang saling menguntungkan antara produsen dan konsumen. 3. Tata Hukum positif tradisional yang masih berlaku di Indonesia selama ini, tidak memberikan solusi terhadap kasus-kasus pelanggaran hak konsumen. Tata hokum positif nasional hanya menyediakan dua sarana penyelesaian kasus gugatan oleh konsumen yang mengalami kereugian yaitu instrummen hokum Wanprestasi pasal 1243 KUHPerdta instrument hokum perbutan melawa hokum pasal 1365 KUHPerdta

4. tanggung jawab produk ini memang riil dibutuhkan mengingat pada tanggung jawab produk ini tidak mengharuskan adanya hubungan kotraktuil antara produsen dan konsumen, disamping juga adanya pembuktian terbalik oleh pelaku usaha. 5. seturut dengan teori fungsional dari hukum adalah bahwa hukum merupakan instrumen pengatur masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu. Hukum haruslah menjadi sarana rekayasa sosial yang oleh Roscou Pound hukum adalah o tool of social engineering Selain hal tersebut diatas, ada alasan-alasan lain yang memperkuatpenerapan prinsip strict liability tersebut yang didasarkan pada prinsip Social Climate Theory 1. Manufacturer adalah pihak yang berada dalam posisi keuangan yang lebih baik untuk menanggung beban kerugian, dan pada setiap kasus yang

mengharuskannya mengganti kerugian dia akan meneruskan kerugian tersebut dan membagi resikonya kepada banyak pihak dengan cara menutup asuransi yang preminya dimasukkan ke dalam perhitungan harga dari barang hasil produksinya.

Hal ini dikenal dengan deep pockets theory. 2. Terdapatnya kesulitan dalam membuktikan adanya unsur kesalahan dalam suatu proses manufacturing yang demikian kompleks pada perusahaan besar (industri) bagi seorang konsumen/korban/penggugat secara individual.

Dalam hukum tentang product liability, pihak korban/konsumen yang akan menuntut kompensasi pada dasarnya hanya diharuskan menunjukkan tiga hal: pertama, bahwa produk tersebut telah cacat pada waktu diserahkan oleh produsen; kedua, bahwa cacat tersebut telah menyebabkan atau turut menyebabkan kerugian/kecelakaan; ketiga , adanya kerugian. Namun juga diakui secara umum bahwa pihak korban/konsumen harus menunjukkan bahwa pada waktu terjadinya kerugian, produk tersebut pada prinsipnya berada dalam keadaan seperti waktu diserahkan oleh produsen (artinya tidak ada modifikasi-modifikasi). Meskipun sistem tanggung jawab pada product liability berlaku prinsip strict liability, pihak produsen dapat membebaskan diri dari tanggung jawabnya, baik untuk seluruhnya atau untuk sebagian. Hal-hal yang dapat membebaskan tanggung jawab produsen tersebut adalah: a. Jika produsen tidak mendengarkan produknya (put into circulation); b. Cacat yang menyebabkan kerugian tersebut tidak ada pada saat produk diedarkan oleh produsen, atau terjadinya cacat tersebut baru timbul kemudian; c. Bahwa produk tersebut tidak dibuat oleh produsen baik untuk dijual atau diedarkan untuk tujuan ekonomis maupun dibuat atau diedarkan dalam rangka bisnis; d. Bahwa terjadinya cacat pada produk tersebut akibat keharusan memenuhi kewajiban yang ditentukan dalam peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah; e. Bahwa secara ilmiah dan teknis (state of scintific an technical knowledge, state or art defense) pada saat produk tersebut diedarkan tidak mungkin cacat; f. Dalam hal produsen dari suatu komponen, bahwa cacat tersebut disebabkan oleh desain dari produk itu sendiri dimana komponen telah dicocokkan atau disebabkan kesalahan pada petunjuk yang diberikan oleh pihak produsen tersebut;

g. Bila pihak yang menderita kerugian atau pihak ketiga turut menyebabkan terjadinya kerugian tersebut (contributory negligence); h. Kerugian yang terjadi diakibatkan oleh Acts of God atau force majeur. Dengan diberlakukannya prinsip strict liability diharapkan para produsen dan industriawan di Indonesia menyadari betapa pentingnya menjaga kualitas produkproduk yang dihasilkannya, sebab bila tidak selain akan merugikan konsumen jug akan sangat besar risiko yang harus ditanggungnya. Para produsen akan lebih berhatihati dalam meproduksi barangnya sebelum dilempar ke pasaran sehingga konsumen, baik dalam maupun luar negeri tidak akan ragu-ragu membeli produksi Indoensia. Namun demikian, dengan berlakunya prinsip strict liability dalam hukum tentang product liability tidak berarti pihak produsen tidak mendapat perlindungan. Pihak produsen juga dapat mengasuransikan tanggung jawabnya sehingga secara ekonomis dia tidak mengalami kerugian yang berarti. Pentingnya hukum tentang tanggung jawab produsen (product liability) yang menganut prinsip tanggung mutlak(stict liability) dalam mengantisipasi

kecenderungan dunia dewasa ini yang lebih menaruh perhatian pada perlindungan konsumen dari kerugian yang diderita akibat produk yang cacat. Hal ini disebabkan karena sistem hukum yang beralaku dewasa ini dipandang terlalu menguntungkan pihak produsen, sementara produsen memiliki posisi ekonomis yang lebih kuat.

Penutup Perlindungan Konsumen pada dasranya adalah perlindungan pada konsumen oleh hokum terhadap produk konsumen atau barang dan/atau jasa pelaku usaha atau produsen. Produsen atau pelaku usaha wajib bertanggung jawab terhadap produk yang dipasarkan di masyarakat. Dengan mempelajari tanggungjawab produk ini mahasiswa dapat menjelaskan 1. apa yang dimaksud dengan tanggung jawab produk 2. sebutkan macam-macam tanggung jawab 3. mengapa tanggung jawab produk ini penting untuk diatur dalam suatu aturan perundang-undangan,

Bab VII Aspek Hukum Perlindungan Konsumen Pendahuluan Hukum perlindungan konsumen adalah hukum yang memberikan perlindungan kepada konsumen terhadap barang kenutuhan yang dibutuhkan sehari-hari baik itu barang dan/atau jasa. Hampir semua aspek kehidupan bersentuhan dengan konsumen. karena itulah hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen. sebelum lahirnya UU Perlindungan Konsumen banyak peraturan perundang-undangan yang mengatur didalamnya tentang konsumen, misal kesehatan, keselamatan, dsb. Terlepas dari Undang-undang yang mengatur tentang konsumen tersebut, pengaturan tentang perlindungan konsumen mempunyai dua aspek yaitu : 1. Aspek hukum publik 2. Aspek hukum privat/perdata Ad.1. Aspek Hukum Publik Cabang-cabang hukum publik yang berkaitan dan berpengaruh atas hukum konsumen umumnya adalah hukum administrasi, hukum pidana dan hukum internasional terutama konvensi-konvensi internasional yang berkaitan dengan praktek bisnis, maupun Resolusi PBB tentang perlindungan konsumen sepanjang telah diratifikasi oleh Indonesia sebagai salah satu anggota. Diantara cabang hukum ini, tampaknya yang paling berpengaruh pada hubungan dan masalah yang termasuk hukum konsumen atau perlindungan konsumen adalah hukum pidana dan hukum administrasi negara sebagaimana diketahui bahwa hukum publik pada pokoknya mengatur hubungan hukum antara instansi-instansi pemerintah dengan masyarakat, selagi instansi tersebut bertindak selaku penguasa. Kewenangan mengawasi dan bertindak dalam penerapan hukum yang berlaku oleh aparat pemerintah yang diberikan wewenang untuk itu, sangat perlu bagi

perlindungan konsumen. Berbagai instansi berdasarkan peraturan perundang-undangan tertentu diberikan kewenangan untuk menyelidiki, menyidik, menuntut, dan mengadili setiap perbuatan pidana yang memenuhi unsur-unsur dari norma-norma hukum yang berkaitan. Penerapan norma-norma hukum pidana seperti yang termuat dalam KUHPidana atau diluar KUHPidana sepenuhnya diselenggarakan oleh alat-alat perlengkapan negara yang diberikan wewenang oleh Undang-undang untuk itu. KUHP No. 8 Tahun 1981 (LN 1981 No. 76) menetapkan setiap Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia berwenang untuk melakukan tindakan penyelidikan dan penyidikan atas suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana. Disamping polisi, pegawai negeri sipil tertentu juga diberi wewenang khusus untuk melakukan tindak penyelidikan. Penerapan KUHPidana dan peraturan perundang-undangan lain yang berkaitan dengan tindak pidana oleh badanbadan tata usaha negara memang menguntungkan bagi perlindungan konsumen. Oleh karena itu keseluruhan proses perkara menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah. Konsumen yang karena tindak pidana tersebut menderita kerugian, sangat terbantu dalam mengajukan gugatan perdata ganti ruginya. Berdasarkan hukum atau kenyataan beban pembuktian yang diatur dalam Pasal 1865 KUHPerdata sangat memberatkan konsumen. Oleh karena itu fungsi perlindungan sebagian kepentingan konsumen penerapannya perlu mengeluarkan tenaga dan biaya untuk pembuktian peristiwa atau perbuatan melanggar hukum pelaku tindak pidana. Beberapa perbuatan tertentu dan dinyatakan sebagai tindak pidana yang sangat berkaitan dengan kepentingan konsumen termuat dalam KUHPidana maupun yang terdapat diluar KUHPidana adalah : 1. Termuat dalam KUHPidana adalah : a. Pasal 204 dan 205 KUHPidana. Pasal 204 ayat (1) menyatakan : Barangsiapa menjual, menawarkan, menerimakan, atau membagi-bagikan barang, sedang diketahuinya bahwa barang itu berbahaya bagi jiwa atau keselamatan orang dan sifatnya yang

berbahaya itu didiamkannya dihukum pernjara selama-lamanya lima belas tahun. Ayat (2) dalam pasal ini menentukan : Kalau ada orang mati lantaran perbuatan itu si tersalah dihukum penjara seumur hidup atau penjara selama-lamanya dua puluh tahun. Pasal 205 ayat (1) KUHPidana menyatakan : Barangsiapa karena salahnya menyebabkan barang yang berbahaya bagi jiwa atau kesehatan orang, terjual, diterimakan atau dibagi-bagikan , sedang si pembeli atau yang memperolehnya tidak mengetahui akan sifatnya yang berbahaya itu, dihukum penjara selama-lamanya sembilan bulan atau kurungan selamalamanya enam bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,- (empat ribu lima ratus rupiah). Ayat (2) dari pasal ini menyatakan : Kalau ada orang mati lantaran itu, maka si tersalah dihukum penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau kurungan selama-lamanya satu tahun. Ayat (3) menyatakan : Barang-barang itu dapat dirampas. b. Pasal 382 bis dan 383, 386, 387, 390 KUHPidana Pasal 382 bis menyatakan : Barangsiapa melakukan perbuatan menipu untuk mengelirukan orang banyak atau seseorang yang tertentu dengan maksud akan mendirikan atau membesarkan hasil perdagangannya atau perusahaannya sendiri atau kepunyaan orang lain, dihukum, karena bersaing curang, dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.13.500,- (tiga belas ribu lima ratus rupiah) jika hal itu dapat menimbulkan sesuatu kerugian bagi saingannya sendiri atau saingan orang lain. Pasal 383 menyatakan : Dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan dihukum penjual yang menipu pembeli yaitu yang sengaja menyerahkan barang lain daripada yang telah ditunjuk oleh pembeli dan tentang keadaan, sifat atau banyaknya barang yang diserahkan itu dengan memakai alat dan tipu muslihat.

Pasal 386 ayat (1) menyatakan : Barangsiapa menjual, menawarkan atau menyerahkan barang makanan atau minuman atau obat, sedang diketahuinya bahwa barang itu dipalsukan dan kepalsuan itu

disembunyikan, dihukum penjara selama-lamanya empat tahun. Dan ayat (2) dari pasal ini menyebutkan : Barang makanan atau minuman atau obat itu dipandang palsu, kalau harganya atau gunanya menjadi kurang sebab sudah dicampuri dengan zat-zat lain. Pasal 387 ayat (1) menyatakan : Dengan hukuman penjara selamalamanya tujuh tahun dihukum seorang pemborong atau ahli bangunan dari suatu pekerjaan atau penjual bahan-bahan bangunan yang pada waktu menyerahkan bahan-bahan bangunan itu melakukan suatu alat tipu, yang dapat mendatangkan bahaya bagi keselamatan negara pada waktu ada perang. Kemudian ayat (2) dari pasal ini mengatur dengan hukuman itu juga dihukum : Barangsiapa diwajibkan mengawas-ngawasi pekerjaan atau penyerahan bahan-bahan bangunan itu dengan sengaja membiarkan akal tipu Pasal 390 menyatakan : Barangsiapa dengan tadi maksud hendak

menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, menurunkan atau menaikkan harga barang dagangan, fonds atau surat berharga uang dengan menyiarkan kabar bohong, dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan. Pasal 204 dan 205 KUHPidana dimaksudkan adalah jika pelaku usaha melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, sedang pelaku usaha itu mengetahui dan menyadari bahwa barang-barang itu berbahaya bagi jiwa atau kesehatan si pemakai barang dimana pihak pelaku usaha (produsen) tidak mengatakan atau menjelaskan tentang sifat bahaya dari barangbarang tersebut, tapi jika pelaku usaha yang akan menjual barang yang berbahaya bagi jiwa dan kesehatan, mengatakan terus terang kepada konsumen tentang sifat berbahaya itu maka tidak dikenakan pasal ini dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen hal ini tercantum dalam

pasal 18. Barang-barang yang termasuk dalam pasal 204 dan 205 KUHPidana tersebut misalnya makanan, minuman, alat-alat tulis, bedak, cat rambut, cat bibir dan sebagainya. Sedangkan dalam pasal 382 bis dan 383, 387, 390 KUHPidana dalam pasal 382 bis, yaitu adanya persaingan yang curang dimana pelaku usaha melakukan suatu perbuatan menipu konsumen baik konsumen itu terdiri dari publik atau seorang yang tertentu. Perbuatan itu dilakukan untuk menarik suatu keuntungan di dalam perdagangan yang dapat menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha lainnya. Pasal 383 adanya perbuatan penjual menipu pembeli misalnya saja kualitas/mutu suatu barang dimana penjual barangnya yang sudah lama/tua kepada pembeli dan mengatakannya pada pembeli bahwa barang tersebut adalah barang baru. Pasal 386 adanya perbuatan yang dilakukan oleh penjual dengan menjual barang palsu dan kepalsuan tersebut disembunyikan oleh pihak penjual. Misalnya penjual memalsukan barang makanan atau minuman dengan cara membuat barang lain yang hampir serupa, atau menyampurinya dengan bahan-bahan lain sehingga harga, kekuatan, guna atau

kemanjurannya dapat berkurang. Pasal 387 adanya perbuatan penipuan yang dilakukan pihak pemborong atau ahli bangunan yang dapat membahayakan jiwa orang lain, misalnya suatu gedung yang baru dibangun, roboh karena tidak kuatnya pondasi dari bangunan, hal ini bisa terjadi karena bahan-bahan yang digunakan tidak memadai hal tersebut terjadi karena adanya perbuatan penipuan dari seorang pemborong atau ahli bangunan, sehingga merugikan masyarakat. Pasal 390 adanya perbuatan yang dilakukan oleh pelaku usaha yaitu menyiarkan kabar bohong yaitu dengan cara mempromosikan atau mengiklankan harga atau tarif suatu barang/jasa, tanggung atau jaminan, hak ganti rugi atau suatu barang dan jasa, adanya penawaran potongan harga atau hadiah menarik. Penggunaan barang dan/atau jasa dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen, hal ini termuat dalam pasal 9

UUPK. Instrumen Hukum Pidana ini dapat dimanfaatkan dengan sangat berharga untuk melindungi kepentingan konsumen.

2. Termuat di luar KUHPidana antara lain : a. Undang-undang No. 4 Tahun 1982 tentang lingkungan hidup pada Pasal 82 ayat (3) menyatakan tindakan-tindakan tertentu tindak pidana kejahatan dan pelanggaran. b. Undang-undang No. 5 Tahun 1985 tentang perindustrian diatur pada Pasal 28 dari undang-undang ini. c. Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan diatur pada Pasal 80 dan Pasal 86 undang-undang ini. d. Undang-undang No. 14 Tahun 1992 tentang lalu lintas jalan dan angkutan jalan.

Ad.2. Aspek Hukum Privat/Perdata Dalam hukum perdata yang lebih banyak digunakan atau berkaitan dengan azasazas hukum mengenai hubungan/masalah konsumen adalah buku ketiga tentang perikatan dan buku keempat mengenai pembuktian dan daluarsa. Buku ketiga memuat berbagai hubungan hukum konsumen. Seperti perikatan, baik yang terjadi berdasarkan perjanjian saja maupun yang lahir berdasarkan Undang-undang. Hubungan hukum konsumen adalah untuk memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu (Pasal 1234 KUHPerdata). Hubungan konsumen ini juga dapat kita lihat pada ketentuan Pasal 1313 sampai Pasal 1351 KUHPerdata. Pasal 1313 mengatur hubungan hukum secara sukarela diantara konsumen dan produsen, dengan mengadakan suatu perjanjian tertentu. Hubungan hukum ini menimbulkan hak dan kewajiban pada masing-masing pihak. Perikatan karena Undang-undang atau akibat sesuatu perbuatan menimbulkan hak dan kewajiban tertentu bagi masing-masing pihak (ketentuan Pasal 1352 KUHPerdata). Selanjutnya diantara perikatan yang lahir karena Undang-undang yang terpenting adalah ikatan yang terjadi karena akibat sesuatu perbuatan yang disebut juga dengan perbuatan melawan hukum (ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata). Sedangkan pertanggung jawaban

perbuatan itu tidak saja merupakan perbuatan sendiri tetapi juga dari orang yang termasuk tanggung jawabnya seperti yang diatur pada Pasal 1367-1369 KUHPerdata. Pembahasan dalam tulisan ini dibatasi pada aspek hukum privat/perdata dalam usaha perlindungan hukum terhadap konsumen. Perbuatan melawan hukum (on rechtmatigedaad) diatur dalam buku ketiga titel 3 Pasal 1365 sampai 1380 KUHPerdata, dan merupakan perikatan yang timbul dari Undang-undang. Perikatan dimaksud dalam hal ini adalah terjadi hubungan hukum antara konsumen dan produsen dalam bentuk jual beli yang melahirkan hak dan tanggung jawab bagi masing-masing pihak dan apabila salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya akan menimbulkan permasalahan dalam hubungan hukumnya. Dalam bahasan lebih lanjut tulisan ini dibatasi pada hubungan hukum pada perjanjian jual beli. Perjanjian jual beli adalah satu perjanjian yang mengikat antara pihak penjual berjanji menyerahkan suatu barang/benda dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga (ketentuan pada Pasal 1457 KUHPerdata). Dari pengertian yang diberikan oleh Pasal 1457 KUHPerdata ini, persetujuan jual beli sekaligus membebankan dua kewajiban yaitu : 1. Kewajiban pihak penjual untuk menyerahkan barang yang akan dijual kepada pembeli. 2. Kewajiban pihak pembeli untuk membayar harga barang yang akan dibeli kepada penjual.

Tentang kewajiban penjual ini, pengaturannya dimulai dari Pasal 1472 KUHPerdata. Penjual wajib menegaskan dengan jelas untuk apa ia mengikat diri dalam persetujuan jual beli. Kemudian lebih lanjut pasal tersebut memberikan suatu interpretasi : segala sesuatu yang kurang jelas dalam persetujuan jual beli, atau yang mengandung pengertian kembar harus diartikan sebagai maksud yang merugikan bagi pihak penjual. Pada dasarnya kewajiban penjual menurut Pasal 1473 dan Pasal 1474 KUHPerdata terdiri dari dua : a. kewajiban penjual untuk menyerahkan barang yang dijual kepada pembeli. b. kewajiban penjual untuk memberi pertanggungan atau jaminan (vrijwaring), bahwa barang yang dijual tidak mempunyai sangkutan apapun, baik yang berupa tuntutan maupun pembebanan.

Pasal 1365 KUHPerdata merumuskan bahwa setiap orang bertanggung jawab tidak hanya untuk kerugian yang ditimbulkan oleh perbuatannya tapi juga disebabkan oleh kelalaiannya. Hal ini dilihat dari kejadian yang dialami konsumen dimana produsen tidak memenuhi ketentuan atau standarisasi suatu produk yang akhirnya merugikan konsumen bahkan sampai mengancam jiwa konsumen. Pasal 1366 KUHPerdata menyatakan bahwa pembuktian terhadap kesalahan yang dilakukan oleh produsen dibebankan kepada konsumen. Ketentuan ini sangat memberatkan pada konsumen oleh karena pengetahuan konsumen terhadap barang yang dikonsumsi kurang. Ketentuan ini juga sering membuat konsumen enggan untuk menuntut apa yang merupakan haknya. Salah satu kasus yang menjadi pengalaman bagi YLKI dalam memberikan perlindungan hukum terhadap konsumen yaitu : kasus perumahan Taman Naragong Indah Jakarta dimana 34 (tiga puluh empat) penghuni atau konsumen mengajukan gugatan ingkat janji terhadap PT. Kentanix Supra Internasional (developer) di PN Jakarta Timur. Konsumen mengajukan gugatan tersebut karena developer dianggap tidak memenuhi janjinya sebagaimana dimuat dalam brosur pemasaran perumahan tersebut yakni menyediakan fasilitas rekreasi pemancingan di dalam kompleks perumahan. Diatas lokasi yang ada kolamnya, ternyata kemudian developer membangun rumah lagi. Konsumen menggugat agar developer tetap menyediakan fasilitas yang dijanjikan dalam brosur developer bersangkutan. Developer menolak dan menggugat konsumen dengan membayar ganti rugi padanya karena konsumen dianggap mencemarkan nama baik perusahaan dengan menyiarkan berita-berita tentang sengketa konsumen dengan developer di media massa. PN menolak gugatan konsumen atas dasar konsumen tidak dapat membuktikan developer telah melakukan ingkar janji dan menghukum konsumen mengganti rugi pada developer karena telah terbukti telah menyiarkan berita yang mencemarkan nama baik developer. Sekalipun putusan ini belum mempunyai kekuatan hukum yang tetap, tetapi menjadi perhatian dan hal terpenting di dalam bahasan pokok perlindungan konsumen antara lain : a. tentang beban pembuktiann

b. kedudukan brosur pemasaran c. penerapan 1372 KUHPerdata

Buku keempat KUHPerdata tentang pembuktian dan kadaluarsa, terdapat ketentuan-ketentuan beban pembuktian alat-alat bukti (Pasal 1865-1866 KUHPerdata). Dari ketentuan hukum ini terlihat bahwa KUHPerdata mengandung

lebih banyak kemiskinan hukum daripada mengakomodasi perlindungan konsumen di bidang keperdataan. Oleh karena itu perkembangan ilmu hukum harus lebih memperhatikan masalah perlindungan konsumen ini dalam satu Undang-undang yang memberikan jaminan atau kepastian hukum bagi konsumen. A. KERUGIAN AKIBAT BARANG YANG CACAT DAN BERBAHAYA

Kerugian yang dialami oleh konsumen akibat barang yang cacat diatur dalam ketentuan Pasal 1367 KUHPerdata. Menurut pandangan para sarjana pertanggung jawaban untuk kerugian yang ditimbulkan oleh benda didasarkan pada ajaran resiko sedangkan yurisprudensi Belanda berpendapat bahwa tanggung jawab timbul apabila kerugian yang terjadi merupakan akibat dari kelalaian dalam mengawasi benda yang berada pada pengawasannya. Pada ayat (3) ini menunjukkan pada kerusakan akan sesuatu benda atau lukanya seseorang yang ditimbulkan dengan perantaraan sesuatu benda. Apabila seseorang menimbulkan kerugian tersebut mirip perbuatan melawan hukum dan kerugian itu ditimbulkan oleh benda tanpa perbuatan manusia maka pertanggung jawabannya terletak pada pihak yang mengawasi benda tersebut serta bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerugian yang terjadi. Dalam transaksi yang dilakukan konsumen, konsumen menghadapi permasalahan yang sulit diatasi oleh konsumen dengan sendiri. Perangkat peraturan perundangundangan yang pelaksanaan wewenang administratif aparat pemerintah masih belum mendukung dalam memenuhi kebutuhan hidup konsumen. Dalam kenyataan konsumen Indonesia masih sering mengalami kasus-kasus yang sangat merugikan dirinya baik secara materiel maupun immateriel. Seperti halnya yang dikemukakan oleh Badan Pembina Hukum Nasional Indonesia, dimana kekecewaan yang dinyatakan oleh konsumen karena kualitas produk yang tidak memenuhi standar.

Kecenderungan meningkatnya korban yang terjadi pada konsumen digambarkan oleh Biro Statistik Pusat Jakarta yaitu : tahun 1986 terjadi kasus 321 penderita akibat makanan yang beracun, tahun 1995 adanya kasus penipuan terhadap 123 orang konsumen perumahan di Riau. Selama 1997 peristiwa yang menempatkan konsumen sebagai korban dari ketidak adilan pihak produsen atau pemerintah silih berganti dari kecelakaan jasa transportasi (kereta api, pesawat udara dan bus). Kasus keracunan makanan, penjualan rumah fiktif, likuidasi 16 bank bermasalah, pemungutan dana stiker Sea Games, sampai pemadaman aliran listrik yang disuplay PT. PLN. Kesan yang ditangkap dari semua kejadian diatas adalah bahwa posisi konsumen di Indonesia lemah. Dari aspek hukum, lemahnya posisi konsumen terjadi tidak hanya dari aspek materi (substansi) hukum, tetapi juga dari sisi kelembagaan hukum dan budaya hukum. Untuk memperoleh gambaran yang lebih detail, tentang perlindungan konsumen, khususnya dari aspek hukum, akan dibahas satu kasus yang dimensi perlindungan konsumennya sangat lemah yaitu peristiwa pemadaman listrik total Jawa Bali Minggu 13 April 1997 ada tiga bagian dalam tulisan ini

Pertama, menguraikan soal pemadaman berikut akibat yang timbul dan diderita oleh konsumen jasa kelistrikan. Juga alasan yang dikemukakan PT. PLN selaku produsen yang menjelaskan mengapa terjadi pemadaman tersebut. Kedua, upaya advokasi yang dilakukan YLKI dalam memberdayakan konsumen jasa kelistrikan. Hambatan yang ditemui YLKI di lapangan termasuk antara lain kondisi hukum positif yang mengatur hak-hak konsumen jasa kelistrikan. Ketiga, agenda kedepan yang dapat dilakukan dalam rangka memperkuat posisi tawar konsumen jasa kelistrikan. Pada hari Minggu 13 Paril 1997 telah terjadi pemadaman aliran listrik disebagian besar wilayah Jawa dan Bali. Bagi kepentingan konsumen jasa kelistrikan, pemadaman tersebut mempunyai dua arti istimewa. Pertama, dari segi cakupan wilayah, pemadaman kali ini cukup luas dan berada dalam wilayah strategis pelayanan PT. PLN, yaitu Jawa

dan Bali. Kedua, dari segi waktu, lamanya pemadaman rata-rata 8 jam juga terbilang cukup lama untuk ukuran PT. PLN. Kerugian yang diderita konsumen akibat pemadaman tersebut cukup beragam. Tidak hanya konsumen langsung (pelanggan PT. PLN) yang dirugikan, masyarakat yang secara langsung tidak mempunyai hubungan hukum dengan PT. PLN pun juga dirugikan akibat tidak berfungsinya berbagai fasilitas umum yang powernya disuplay PT. PLN, seperti KRL Jabotabek, lampu pengatur lalu lintas, dan stasiun pompa bensin umum (SPBU). Nilai nominal yang diderita konsumen juga beragam, beragam apakah konsumen sebagai pelanggan rumah tangga atau pelanggan bisnis. Untuk pelanggan rumah tangga, bentuk kerugian mulai dari tidak bisa mandi karena pompa air tidak berfungsi, tidak bisa nonton TV sampai harus beli lilin sebagai ganti lampu penerangan. Alasan yang dikemukakan oleh PT. PLN atas peristiwa pemadaman tersebut adalah dikarenakan adanya gangguan teknik yang timbul diluar dugaan pada sistem relay pengaman tegangan (proteksi) 500 kv yang berbentuk kartu elektronik dengan sistem modul komputer di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) Gandul SawanganBogor. Kejadian dimaksudkan muncul secara mendadak dan tiba-tiba dimana peralatan proteksi tidak berfungsi sebagaimana mestinya yang terprogram secara komputer. Selanjutnya terhadap gangguan tersebut secepatnya diupayakan pemulihan suplay tenaga listrik dengan penanganan teknik secara optimal, sehingga suplay dengan sistem interkoneksi 500 kv Jawa Bali kembali normal. (Jawaban Tergugat PT. PLN dalam perkara perdata No.134/Pdt.G/1997/PN.Jaksel) Upaya advokasi yang dilakukan YLKI dalam merespon terjadinya pemadaman listrik total Jawa Bali, 13 April 1997 adalah melalui kuasa hukumnya LBH Jakarta yaitu dengan menempuh jalur hukum mengajukan gugatan ganti rugi kepada PT. PLN. Hal baru yang dilakukan YLKI dalam gugatan perdata ini adalah selain mewakili diriya sendiri selaku pelanggan PT. PLN, YLKI juga mewakili masyarakat konsumen PT. PLN. Angka-angka yang mengejutkan ini semakin bertambah tiap tahun akan tetapi sepertinya kurang nyata dalam masyarakat oleh karena banyak konsumen yang tidak menyuarakan hak dan kepentingannya.

Kerugian materi atau ancaman bahaya pada jiwa konsumen disebabkan oleh tidak sempurnanya produk. Banyak produsen yang kurang menyadari tanggung jawabnya untuk melindungi konsumen atau menjamin keselamatan dan keamanan dalam mengkonsumsi produk yang dihasilkannya. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut : 1. Rendahnya kesadaran hukum para pejabat pemerintah yang kurang hati-hati dalam melakukan pengawasan terhadap barang-barang konsumsi yang dihasilkan produsen. 2. Adanya kebijaksanaan resmi pemerintah tentang pemakaian barang berbahaya atau adanya barang yang mempunyai cacat, yang bertentangan dengan peraturan-peraturan yang berlaku yang menyangkut dengan keamanan dan keselamatan masyarakat. Misalnya dipakainya DOT untuk pemberantasan malaria melalui Depkes RI. 3. Masih rendahnya kesadaran masyarakat konsumen dan produsen lapisan bawah serta kurangnya penyuluhan hukum sehingga mereka tidak terjangkau oleh peraturan perundang-undangan yang ada. 4. Adanya kesengajaan dari produsen untuk mengedarkan barang yang cacat dan berbahaya, baik karena menyadari kelemahan konsumen, kelemahan pengawasan, ataupun demi mengejar keuntungan atau laba.

B. KRITERIA/UKURAN TERHADAP BARANG YANG DIKATAKAN CACAT DAN BERBAHAYA.

Produk disebut cacat bila produk itu tidak aman dalam penggunaannya, tidak memenuhi syarat-syarat keamanan tertentu sebagaimana yang diharapkan orang dengan mempertimbangkan berbagai keadaan, terutama tentang : a. penampilan produk b. kegunaan yang seharusnya diharapkan dari produk c. saat produk tersebut diedarkan

Produk tidak cacat apabila saat lain setelah produk tersebut beredar, dihasilkan pula produk (bersamaan) yang lebih baik. Tim Kerja Penyusun Naskah Akademis Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman RI merumuskan pengertian produk yang cacat sebagai berikut : Setiap produk yang tidak dapat memenuhi tujuan pembuatannya, baik karena kesengajaan, atau kealpaan dalam proses produksinya maupun disebabkan hal-hal lain yang terjadi dalam peredarannya, atau tidak menyediakan syarat-syarat keamanan bagi manusia atau harta benda mereka dalam penggunaannya, sebagai layaknya diharapkan orang. Pengertian cacat dalam KUHPerdata diartikan sebagai cacat yang sungguhsungguh bersifat sedemikian rupa yang menyebabkan barang itu tidak dapat digunakan dengan sempurna sesuai dengan keperluan yang semestinya dihayati oleh benda itu, atau cacat itu mengakibatkan berkurangnya manfaat benda tersebut dari tujuan yang semestinya. Dari pengertian ini maka ada satu tanggung jawab bagi produsen untuk mengutamakan kualitas barang yang diproduksi daripada mengejar kuantitas atau jumlah barang yang diproduksi.

C. TANGGUNG JAWAB PRODUSEN TERHADAP KERUGIAN YANG DIALAMI OLEH PRODUSEN

Tanggung jawab produk adalah istilah yang dialih bahasakan dari product liability, berbeda dengan ajaran pertanggung jawaban hukum pada umumnya dimana tanggung jawab produk disebabkan oleh keadaan tertentu produk (cacat atau membahayakan orang lain) adalah tanggung jawab mutlak produsen yang disebut dengan strict liability). Kerugian yang dialami oleh seseorang pemakai produk cacat atau berbahaya, bahkan pemakainya menjadi korban merupakan tanggung jawab mutlak produsen atau dipersamakan dengannya. Dalam hal ini produsen berarti : 1. Pembuat produk. 2. Produsen bahan-bahan mentah atau komponen dari produk.

3. Setiap orang yang memasang merek, nama, atau memberi tanda khusus untuk pembeda produknya dengan orang lain. 4. Tanpa mengurangi tanggung jawab pembuat produk, setiap pengimpor produk untuk dijual, disewakan, atau dipasarkan. 5. Setiap pemasuk produk, apabila produk tidak diketahui atau pembuat produk diketahui tetapi pengimpornya tidak diketahui.

Dengan diterapkannya tanggung jawab mutlak ini, produsen telah dianggap bersalah atas terjadinya kerugian kepada konsumen akibat produk cacat bersangkutan, kecuali apabila ia (produsen) dapat membuktikan sebaliknya bahwa kerugian itu bukan disebabkan oleh produsen. Pada umumnya ganti rugi karena adanya cacat barang itu sendiri adalah tanggung jawab penjual. Dengan adanya product liability maka terhadap kerugian pada barang yang dibeli, konsumen dapat mengajukan tuntutan berdasarkan adanya kewajiban produsen untuk menjamin kualitas suatu produk. Tuntutan ini dapat berupa pengembalian barang sambil menuntut kembali harga pembelian, atau penukaran barang yang baik mutunya. Tuntutan ganti rugi ini dapat ditujukan kepada produsen dan juga kepada penjual sebagai pihak yang menyediakan jasa untuk menyalurkan barang/produk dari produsen kepada pihak penjual (penyalur) berkewajiban menjamin kualitas produk yang mereka pasarkan. Yang dimaksud dengan jaminan atas kualitas produk ini adalah suatu jaminan atau garansi bahwa barang-barang yang dibeli akan sesuai dengan standar kualitas produk tertentu. Jika standar ini tidak terpenuhi maka pembeli atau konsumen dapat memperoleh ganti rugi dari pihak produsen/penjual. Pasal 1504 KUPerdata mewajibkan penjual untuk menjamin cacat yang tersembunyi yang terdapat pada barang yang dijualnya. Cacat itu mesti cacat yang sungguh-sungguh bersifat sedemikian rupa yang menyebabkan barang itu tidak dapat dipergunakan dengan sempurna, sesuai dengan keperluan yang semestinya dihayati oleh benda sendiri. Atau cacat itu mengakibatkan berkurangnya manfaat benda tersebut dari tujuan pemakaian yang semestinya.

Mengenai masalah apakah penjual mengetahui atau tidak akan adanya cacat tersebut tidak menjadi persoalan (Pasal 1506 KUHPerdata) baik dia mengetahui atau tidak penjual harus menjamin atas segala cacat yang tersembunyi pada barang yang dijualnya. Yang dimaksud dengan cacat tersembunyi adalah cacat yang mengakibatkan kegunaan barang tidak serasi lagi dengan tujuan yang semestinya. Menurut Prof. Subekti dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata : perkataan tersembunyi ini harus diartikan bahwa adanya cacat tersebut tidak mudah dilihat oleh seseorang pembeli yang terlampau teliti, sebab adalah mungkin sekali bahwa orang yang sangat teliti akan menemukan adanya cacat tersebut. Terhadap cacat yang mudah dilihat dan sepatutnya pembeli dapat melihat tanpa susah payah, maka terhadap cacat yang sedemikian penjual tidak bertanggung jawab. Karena terhadap cacat yang demikian harus menjadi tanggung jawab konsumen (pembeli). Disinilah berlaku prinsip bahwa pembeli bertanggung jawab sendiri atas cacat yang secara normal patut diketahui dan mudah dilihat. Dengan demikian suatu cacat yang objektif mudah dilihat secara normal tanpa memerlukan pemeriksaan yang seksama dari ahli, adalah cacat yang tersembunyi. Terhadap adanya cacat-cacat yang tersembunyi pada barang yang dibeli, pembeli (konsumen) dapat mengajukan tuntutan atau aksi pembatalan jual beli, dengan ketentuan tersebut dimajukan dalam waktu singkat, dengan perincian sebagaimana yang ditentukan Pasal 1508 KUHPerdata : 1. Kalau cacat tersebut dari semula diketahui oleh pihak penjual, maka penjual wajib mengembalikan harga penjualan kepada pembeli dan ditambah dengan pembayaran ganti rugi yang terdiri dari ongkos, kerugian dan bunga; 2. Kalau cacat ini benar-benar memang tidak diketahui oleh penjual, maka penjual hanya berkewajiban mengembalikan harga penjualan serta biaya-biaya (ongkos yang dikeluarkan pembeli waktu pembelian dan penyerahan barang); 3. Kalau barang yang dibeli musnah sebagai akibat yang ditimbulkan oleh cacat yang tersembunyi, maka penjual tetap wajib mengembalikan harga penjualan kepada pembeli.

Terkecuali apabila penjual telah meminta diperjanjikan tidak menanggung sesuatu apapun dalam hal adanya cacat tersembunyi pada barang yang dijualnya (Pasal 1506), maka hal itu berarti bahwa adanya cacat tersembunyi pada barang yang dibeli menjadi resiko pembeli sendiri. Misalnya pada penjualan barang-barang yang menurut sifatnya mudah rusak, seperti penjualan barang pecah belah (gelas, piring dan sebagainya), apabila penjualan tersebut dalam jumlah yang besar, maka apabila penjual telah meminta diperjanjikan tidak menanggung suatu apapun dalam hal adanya cacat tersembunyi pada barang yang dijualnya, dan pihak pembeli telah menyanggupinya, maka hal ini berarti bahwa adanya cacat tersembunyi pada barang yang dibeli menjadi resiko pembeli sendiri. Klausula itu memang diperbolehkan oleh ketentuan dalam Pasal 1493 KUHPerdata yang menyatakan : Kedua belah pihak diperbolehkan dengan persetujuan-persetujuan istimewa, memperluas atau mengurangi kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh undangundang ini; bahwa mereka diperbolehkan mengadakan persetujuan/perjanjian bahwa si penjual tidak akan diwajibkan menanggung sesuai apapun. Dalam hal adanya jaminan kecocokan atau kelayakan, maka biasanya dituntut agar barang itu : a. Sama dengan barang yang pada umumnya disebut sebagai barang itu (sama dengan barang-barang sejenisnya); b. Mempunyai kualitas biasa kecuali dinyatakan tidak; c. Layak dipakai untuk keperluan biasa; dan d. Harus dibungkus dan diberi lebel yang memadai. Barang itu harus sesuai dengan keterangan yang terdapat pada pembungkus atau lebelnya.

Namun seringkali konsumen terbentur pada adanya pembatasan atau pembebasan tanggung jawab pengusaha (produsen dan penjual) atas kerugian yang dideritanya, seperti termuat dalam clause yang terdapat dalam perjanjian-perjanjian baku yang dibuat oleh pengusaha.

Dalam praktek jual beli barang sehari-hari, seringkali kita dihadapkan pada bon pembayaran yang dibawahnya bertuliskan : Barang-barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan atau diturunkan Hal ini berarti apabila terdapat cacat tersembunyi pada barang yang dibeli, hal itu menjadi resiko pembeli sendiri. Barang-barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan atau ditukar, kecuali bila ada perjanjian sebelumnya. Hal ini berarti apabila ada cacat tersembunyi pada barang itu menjadi resiko pembeli sendiri, kecuali bila ada diperjanjikan sebelumnya. Yang menjadi masalah dalam hal ini adalah adanya clause seperti yang tertera pada bon pembayaran tersebut baru diketahui setelah barang diterima pembeli, oleh karena itu menurut Prof. Mariam Darus adanya clause (seperti yang terdapat pada bon pembayaran tersebut) tidak mencerminkan aspirasi kepentingan konsumen, tetapi hanya kepentingan pengusaha. Lebih lanjut beliau menekankan perlunya dibuat pembatasan-pembatasan mengenai hal ini, baik melalui yurisprudensi, maupun peraturan perundang-undangan lainnya dalam upaya melindungi kepentingan konsumen. Pertanggung jawaban yang ditentukan dalam Pasal 1367 ayat (1) ini mewajibkan produsen sebagai pihak yang menghasilkan produk untuk menanggung segala kerugian yang mungkin akan disebabkan oleh keadaan barang yang dihasilkan. Produsen menurut hukum bertanggung jawab dan berkewajiban mengadakan pengawasan terhadap produk yang dihasilkannya. Pengawasan ini harus selalu dilakukan secara teliti dan menurut keahlian. Kalau tidak selaku pihak yang menghasilkan produk dapat dianggap lalai, dan kelalaian ini kalau kemudian menyebabkan sakit, cidera atau mati/meninggalnya konsumen pemakai produk yang dihasilkannya, maka produsen harus mempertanggung jawabkannya. Sekiranya inilah yang dimaksud oleh Pasal 1367 ayat (1) KUHPerdata yang menyatakan, bahwa seseorang dapat dipertanggung jawabkan atas suatu kerugian yang disebabkan oleh barang-barang yang berada dibawah pengawasannya.

Oleh karena itu, konsumen selaku Penggugat harus dapat membuktikan bahwa produsen telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum dan itu atas dasar kesalahan produsen sebagai pihak yang menghasilkan produk tersebut. Dalam hal ini ditekankan adalah kesalahan produsen. Bahwa Pasal 1365 BW tidak membedakan hal kesengajaan dari hal kurang berhati-hati melainkan hanya mengatakan, bahwa harus ada kesalahan dipihak pembuat perbuatan melanggar hukum agar sipembuat itu dapat diwajibkan menanggung/membayar ganti kerugian. Menurut Prof. Wirjono dalam hukum Perdata BW tidak perlu dihiraukan apa ada kesengajaan atau kurang berhati-hati. Dalam hukum pembuktian dikenal suatu prinsip yang disebut prinsip bewijsleer atau ajaran pembuktian yang menyatakan bahwa barangsiapa yang mendalilkan itu kewajiban untuk membuktikan dalil dan peristiwa dimaksud. Terutama dalam kasus tentang barang yang diproduksi secara massal, maka konsumen selaku penggugat membuktikan bahwa produk yang dimaksud dibeli produsen tersebut, siapa yang bertanggung gugat atas tindakan yang lalai tersebut, serta tindakan itu merupakan tindakan yang melanggar hukum dan ada unsur kesalahan serta adanya hubungan sebab akibat yang menimbulkan kerugian dimaksud. Jadi terhadap kasus tanggung gugat produsen atas produk yang menyebabkan sakit, cidera atau mati/meninggalnya konsumen pemakai produk tersebut memerlukan adanya pembuktian yang dimaksud. Pekerjaan pembuktian ini bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, apalagi bagi seorang konsumen yang awam hukum. Membuktikan bahwa meninggalnya atau menjadi sakitnya seseorang karena suatu makanan misalnya, memerlukan

pemeriksaan laboratorium. Ini tentunya memakan biaya, waktu dan tenaga yang tidak sedikit, oleh karena itu pembuktian ini sama sekali tidak mudah atau sederhana. Makin meningkatnya teknologi masa kini, menyebabkan konsumen tidak mampu menentukan pilihan barang, barang-barang yang makin canggih, menyebabkan konsumen tidak mengenalnya. Beberapa diantara para konsumen yang misalnya radio, televisi, atau bahkan komputer. Oleh karena keadaan demikian, maka konsumen meletakkan kepercayaan sepenuhnya kepada penjual atau produsen.

Meletakkan kepercayaan seharusnya diimbangi dengan memikul tanggung jawab. Tanggung jawab itu tidak saja tanggung jawab teknis mengenai produk yang mereka hasilkan, juga seharusnya diimbangi tanggung jawab dalam proses hukum. Dengan itu maka beban pembuktian tentang tidak terdapatnya kesalahan pada pihaknya (produsen) seharusnya dialah yang memikul pembuktian dimaksud (pembuktian terbalik). Ketentuan tentang pembuktian terbalik ini juga diatur dalam KUHPerdata seperti yang terdapat pada Pasal 1244 BW. Dengan menerapkan dasar pemikiran praduga adanya kesalahan (persumption of fault) maka beban pembuktian adanya kesalahan menjadi terbalik. Tergugat/produsen diwajibkan untuk membuktikan tidak adanya kesalahan padanya. Jadi berdasarkan teori ini diterapkan beban pembuktian terbalik kepada produsen selaku tergugat, dalam pembuktian tidak adanya kesalahan padanya dan bilamana dia gagal, harus bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari produknya. Namun demikian, penggugat/konsumen dalam hal adanya perbuatan melanggar hukum ini tetap diwajibkan untuk membuktikan adanya : 1. Sifat melanggar hukum 2. Kerugian yang dideritanya 3. Kausalitas antara pengguna barang yang dikonsumsi itu dengan kerugian yang dideritanya. Dan tentunya pertangung jawaban produsen atas produk dimaksud dapat dilenyapkan atau dikurangi apabila penderitaan kerugian tersebut sama sekali atau sebagian disebabkan oleh faktor-faktor yang membebaskan produsen dari tanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh konsumen, meskipun hal tersebut timbul akibat cacat pada produk yaitu antara lain : 1. Produk tersebut sebenarnya tidak untuk diedarkan. 2. Kerugian disebabkan oleh kesalahan si penderita/konsumen. 3. Hal/cacat yang menimbulkan kerugian dimaksud timbul di kemudian hari. 4. Cacat timbul setelah produk diluar kontrol produsen. 5. Barang yang diproduksi secara individual tidak untuk keperluan industri. 6. Cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Dari uraian tersebut diatas pada umumnya kita mengenal pertanggung jawaban seseorang atas segala perbuatan, akibat-akibat dari perbuatannya, tidak berbuat, kelalaian atau kekurang hati-hatiannya pada orang atau pihak lain. Tanggung jawab itu tergantung pada apakah peristiwa itu (yang menimbulkan kerugian pada orang lain itu) terdapat kesalahan orang tersebut sehingga ia harus membayar ganti rugi berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata. Jadi pertanggung jawaban penjual adalah menyangkut tanggung jawab karena tidak berfungsinya barang/jasa yang diperjual belikan itu sendiri (cacat tersembunyi). Sedangkan tanggung jawab produsen adalah menyangkut tanggung jawab atas kerugian lain (harta, kesehatan tubuh atau jiwa pengguna barang/jasa) yang terjadi akibat penggunaan produk tersebut. Sesuai dengan judul perlindungan konsumen, maka yang berhak mengajukan tuntutan ganti rugi adalah konsumen.

Telah diuraikan, konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan secara sah dan menggunakan barang/jasa untuk suatu kegunaan tertentu. Yang dimaksud dengan setiap orang dalam batasan diatas dimaksudkan orang alamiah dan orang yang diciptakan oleh hukum (badan hukum). Unsur menggunakan digunakan dalam batasan ini, karena perolehan barang atau

jasa oleh konsumen tidak saja berdasarkan suatu hubungan hukum (perjanjian jual beli, sewa menyewa, pinjam pakai, dan sebagainya), tetapi juga mungkin karena pemberian sumbangan hadiah atau sejenisnya yang berkaitan dengan suatu hubungan komersil

(hadiah undian pemasaran, promosi barang) maupun dalam hubungan lainnya/non komersil. Meliputi hal-hal apa saja dapat dilakukan tuntutan dapat penulis kemukakan yaitu meliputi aspek hukum administrasi negara berupa pencabutan izin produknya, aspek hukum pidana dalam hal terbukti unsur penipuan dan pemalsuan. Sedangkan khusus aspek keperdataannya sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHPerdata adalah ganti rugi berupa biaya, kerugian dan bunga yang diderita konsumen. Banyak contoh yang dapat dikemukakan, misalnya orang yang terluka dalam angkutan bus yang mengalami kecelakaa lalu lintas, termakan makanan dan minuman yang mengandung bahan-bahan yang beracun atau peristiwa-peristiwa lain yang sejalan

yang menyebabkan ia dirugikan secara materiil, terganggu kesehatannya atau keamanan jiwanya, mereka ini berhak mengajukan tuntutan ganti rugi. Dengan perbuatan dimaksud, setiap perbuatan termasuk perbuatan lalai atau kurang hati-hati, sedang unsur kesalahan itu tidak saja diukur dari perbuatan atau kelalaian atau bertentangan dengan undang-undang, melainkan juga bertentangan dengan kesusilaan dan kepatutan yang harus diindahkan dalam masyarakat.

Kesimpulan Penegakan perlindungan hukum terhadap konsumen perlu diterapkan, hal ini ditunjang dengan dibuatnya suatu undang-undang tentang perlindungan konsumen yang merupakan pengejawantahan dari perintah UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum didalam setiap kepentingan masyarakat, ketidakpastian akan perlindungan hukum terhadap konsumen merupakan hambatan pada upaya perlindungan konsumen. Pada kenyataannya telah terbentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membawa konsumen dalam mempertahankan haknya sebagai konsumen yaitu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, akan tetapi para konsumen tetap masih enggan menempuh melalui lembaga peradilan bagi dirinya sehingga lebih bersifat pasrah terhadap apa yang dialaminya. Produk yang cacat bila produk tidak aman dalam penggunaannya tidak memenuhi syarat-syarat keamanan tertentu sebagaimana diharapkan dengan pertimbangan berbagai keamanan terutama tentang : - penampilan produk - penggunaan yang sepatutnya diharapkan dari produk. - saat produk tersebut diedarkan

Selanjutnya pasal 1367 KUHPerdata sangat tepat sebab tanggung jawab mutlak terhadap produsen untuk memberikan ganti rugi kepada konsumen akibat dari kerugian yang dialami konsumen yang disebabkan oleh barang yang cacat dan berbahaya.

Bab VIII Penyelesaian Sengketa Konsumen Pendahuluan Pada bagian akan dijekaskan penyelesaian sengketa dan lembaga perlindunngan konsumen. Mahsiswa diharapkan setelah mempelajari materi ini dapat menjelaskan lembaga perlindungan konsumen dan penyelesaian sengketa.

Penyaji Sengketa konsumen adalah sengketa berkenaan dengan pelanggaran hak-hak konsumen. lingkupnya mencakup semua segi hukum, baik keperdataan, pidana maupun tata usaha negara. Proses beracara dalam penyelesaian sengketa konsumen itu diatur dalam UU Perlindungan Konsumen a. Penyelesaian Peadilan Umum Pasal 45 (1) UU Perlindungan Konsumen menyatakan setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada dilingkungan peradilan umum. Penyelesaian sengketa ini merupakan pilihan dari para pihak apakah diselesaikan melalui peradilan umum ataukah diluar peradilan atau damai. Hal ini dapat dilihat dalam penjelasan pasal 45 ayat (2) UUPK Kemudian pasal 45 ayat (3) UUPK, menyebutkan penyelesaian sengketa diluar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak menghilangkan tanggunng jawab pidana, sebagaimana diatur dalam Undanng-Undang. Dalam kasus perdata di Pengadilan Negeri, pihak konsumen yang diberi hak mengajukan gugatan menurut pasal 46 UU Perlindungan Konsumen adalah a. Seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan b. Sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama c. Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat yaitu berbentuk badan hukum atau yayasan yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi itu adalah untuk kepentingan perlindungan konsumen.

d. Pemerintah dan/atau instansi terkait jika barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau dimanfaatkan mengakibatkan kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak seduikit.

b. Penyelesaian di Luar Pengadilan Undang-undang Perlindungan Konsumen disamping mengatur

penyelesaian sengkete di peradilan umum juga mengatur penyelesaian sengketa alternatif yang dilakukan diluar pengadilan. Pasal 45 ayat (4) UUPK menyebutkan: jika telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh jika upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh para pihak yang bersengketa;. Penyelesaian sengketa diluar pengadilan ini diatur dalam pasal 47 UUPK. Lalu pertanyaannya adalah apakah penyelesaian sengketa diluar pengadilan ini apakah termasuk penyelesaian sengketa yang dilakukan oleh Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen.

Lembaga perlindungan Konsumen Undang-undang Perlindungan Konsumen mengatur tentang lembaga perlindungan konsumen, yaitu BPKN yang didirikan oleh pemetintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat. Hal ini dapat dilihat dalam ketentuan pasal bab VIII pasal 31-43 UUPK dan bab IX pasal 44 UU Perlindungan Konsumen.

Penutup Setelah mempelajari materi ini mahasiswa dapat menjawab 1. menyebutkan penyelesaian sengketa dapat ditempuh 2. menyebutkan lembaga perlindungan konsumen

Daftar Kepustakaan 1. A.Z. Nasution, SH, Hukum dan Konsumen Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti Cetakan Pertama, 1994. 2. A.Z. Nasution, SH, Sekilas Hukum Perlindungan Konsumen, Hukum dan Pembangunan No. 4 Tahun XVI Desember 1986. 3. Ari Purwadi, SH, Aspek Hukum Perdata pada perlindungan Konsumen, Juridika No. 1 dan 9 Tahun VII Januari 1992. 4. Warta Konsumen, Januari 1988 No. 234 Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Jakarta. 5. Utrecht/Moh. Saleh Djindang, SH, Pengatur dalam hukum Indonesia, Jakarta, 1983. 6. Sudariyatno, SH, Masalah Perlindungan Konsumen di Indonesia, PT. Citra Aditya, Bandung, 1996. 7. R. Susilo, Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Politeia Bogor. 8. Prof.R.Soebakti, SH, KUH Perdata, Paramitha, Jakarta. 9. M. Yahya Harahap, SH, Segi-segi Hukum Perjanjian, PT. Alumni

10. Tini Hadad, Dalam AZ. Nasution , Hukum Perlindungan Konsumen Suatu Pengantar , (Yogyakarta: Diadit Media, 2001). Cet. II . hlm. Vii. 11. Nurmadjito. Kesiapan Perangkat Peraturan Perundang-undangan tentang Perlindungan Konsumen dalam menghadapi Era Perdagangan Bebas. Di dalam Husni Syawali (Ed.), Hukum Perlindungan Konsumen (Bandung: Mandar Maju, 2000) hlm. 7. 12. Natalie OConnor. Consumer Protection Under The Trade Practices Act: A Time For Change, di dalam Inosentius Samsul (Ed.), Hukum Perlindungan Konsumen I (Jakarta: Pascsarjana FH-UI, 2001), hlm. 94. 13. Saefullah, Tanggung Jawab Produsen terhadap akibat hukum yang ditimbulkan dari produk pada Era Pasar Bebas. Di dalam Husni Syawali (Ed.), Hukum Perlindungan Konsumen. (Bandung: Mandar Maju, 2000) hlm. 44 14. Sabarudin Juni, SH, Universitas Sumatra Utara, Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen dilihat dari Segi Kerugian Akibat Barang Cacat dan Berbahaya. 15. Perlindungan Konsumen dan Product Liability, Universitas Sumatra Utara. 16. Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Grasindo, 2004. 17. Wiwik Sri Widiarti, SH.MH, Negara Hukum dan Perlindungan Konsumen, Pelanngi Cendekia, jakarta, 2007