Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK


Mata Acara Praktikum:

ALKOHOL

Disusun oleh:
ISMAIL MAQBUL
NPM 230210120053
KELOMPOK 7
SHIFT 2

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JATINANGOR

2013

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur marilah kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena
atas ridho dan karuniaNya lah saya dapat menyelesaikan laporan praktikum
Alkohol. Dalam penyusunan laporan akhir ini mungkin saya mengalami kesulitan
dan kendala yang disebabkan oleh keterbatasan kemampuan, pengetahuan, dan
wawasan serta pola pikir saya. Namun berkat keyakinan, keinginan, dan usaha
akhirnya hambatan itu dapat diatasi.
Saya menyadari sedalam-dalamnya bahwa saya sebagai manusia tidaklah
sempurna dalam pembuatan laporan ini. Dengan demikian saya berharap dengan
dibuatnya laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan khususnya
bagi saya pribadi. Laporan ini ditujukan untuk memenuhi persyaratan dalam
matakuliah Kimia Organik.

Bandung, November 2013

Ismail Maqbul

ii

DAFTAR ISI

BAB

Halaman
DAFTAR TABEL .............................................................................. v
DAFTAR GAMBAR ......................................................................... v

I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ............................................................................1
1.2. Tujuan Praktikum ........................................................................2
1.3. Prinsip Praktikum ........................................................................2

II.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Umum Alkohol ............................................................ 3
2.1.1. Alkohol Primer ......................................................................... 3
2.1.2. Alkohol Sekunder .................................................................... 3
2.1.3. Alkohol Tersier ........................................................................4
2.2. Tinjauan Umum Uji Kualitatif Alkohol ...................................... 4
2.2.1. Metode Ritter ........................................................................... 4
2.2.2. Metode Iodoform ..................................................................... 5
2.3. Tinjauan Umum Sampel ............................................................. 5
2.3.1. Metanol .................................................................................... 5
2.3.2. Alil Alkohol ............................................................................. 6
2.3.3. Isopropil Alkohol...................................................................... 6
2.4. Tinjuan Umum Pereaksi .............................................................7
2.4.1. Asam Asetat ............................................................................. 7
2.4.2. Kalium Permanganat ................................................................ 8
2.4.3. Natrium Hidroksida .................................................................8
2.4.4. Iodine (I2 dalam KI) .................................................................9

III. METODE PRAKTIKUM


3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum ...............................
3.2. Alat dan Bahan ............................................................................
3.2.1. Alat-alat ...................................................................................
3.2.2. Bahan-bahan ............................................................................
3.3. Prosedur Kerja ............................................................................
3.3.1. Uji Kualitatif Alkohol Metode Ritter .......................................
3.3.2. Uji Kualitatif Alkohol Metode Iodoform .................................

10
10
10
10
11
11
11

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil ............................................................................................ 13

iii

iv

4.1.1. Pengamatan Pengujian Metode Ritter .....................................


4.1.2. Pengamatan Pengujian Metode Iodoform ................................
4.2. Pembahasan ................................................................................
4.2.1. Uji Kualitatif Alkohol Metode Ritter .......................................
4.2.2. Uji Kualitatif Alkohol Metode Iodoform .................................
V.

12
12
13
13
15

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan ................................................................................. 18
5.2. Saran ........................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA......................................................................... 19
LAMPIRAN........................................................................................ 20

DAFTAR TABEL
No

Judul

Halaman

Alat Praktikum.............................................................................

10

Bahan praktikum.........................................................................

10

Hasil Pengamatan Metode Ritter.................................................

12

Hasil Pengamatan Metode Iodoform...........................................

12

DAFTAR GAMBAR
No

Judul

Halaman

Struktur Metanol..........................................................................

Struktur Alil Alkohol...................................................................

Struktur Isopropil Alkohol..........................................................

Struktur Asam Asetat..................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, alkohol banyak terdapat disekeliling kita.

Alkohol tidak hanya bersifat merugikan tetapi juga dapat bermanfaat bagi kita.
Alkohol merupakan suatu senyawa yang memiliki gugus oksigen dan hidrogen.
Alkohol juga sering disebut dengan alkanol. Alkohol jika dikonsumsi dapat
menyebabkan kantuk dan bersifat memabukkan walaupun tidak bersifat racun yang
terdapat pada etanol. Contoh alkohol yang lain yaitu metanol yang diproduksi
sebagian besar dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan formaldehit. Pada
umumnya dalam kehidupan sehari-hari seperti yang kita ketahui bahwa terdapat
beberapa fungsi alkohol diantaranya yaitu sebagai bahan dasar sintesis senyawa
organik, sebagai pelarut, sebagai bahan dasar pembuatan deterjen sintetik misalnya
lauril alkohol, sebagai bahan pembersih kaca, dan campuran metanol dan etanol
sering dicampurkan dengan bensin sebagai bahan bakar.
Untuk itu praktikum kimia organik yang berjudulkan alkohol kali ini dilakukan
agar kita dapat mengidentifikasi atau mengetahui apakah suatu senyawa tertentu
tergolong alkohol atau bukan alkohol dengan menggunakan metode Ritter serta dapat
mengidentifikasi atau mengetahui apakah suatu senyawa tertentu dapat tergolong
alkohol sekunder atau bukan dengan menggunakan metode Iodoform melihat alkohol
yang memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari serta dapat juga merugikan bagi
kita sehingga kita dapat memilah dan memilih mana alkohol yang dapat digunakan
maupun yang tidak dapat digunakan sehingga adanya alkohol dapat bermanfaat dan
aman serta tidak disalahgunakan bagi kehidupan sehari-hari.

1.2

Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum kimia organik yang berjudulkan alkohol kali ini yaitu

untuk mengidentifikasi alkohol atau bukan alkohol pada suatu senyawa dengan
menggunakan metode Ritter dan untuk mengidentifikasi alkohol sekunder pada suatu
senyawa dengan menggunakan metode Iodoform.
1.3

Prinsip Praktikum
Adapun prinsip praktikum kimia organik yang berjudulkan alkohol kali ini

yaitu reaksi oksidasi alkohol primer dan sekunder oleh larutan kalium permanganat
dalam asam asetat dengan metode Ritter dan reaksi oksidasi alkohol (R-CHOH-CH3)
menjadi keton (R-CO-CH3), menghasilkan proses iodinasi, dan pemutusan gugus Cl3dengan menghasilkan endapan iodoform kuning terang dengan metode Iodoform.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tinjauan Umum Alkohol


Alkohol adalah senyawa-senyawa dimana satu atau lebih atom hidrogen

dalam sebuah alkana digantikan oleh sebuah gugus -OH. Alkohol dapat dibagi
kedalam beberapa kelompok tergantung pada bagaimana posisi gugus -OH dalam
rantai atom-atom karbonnya. Masing-masing kelompok alkohol ini juga memiliki
beberapa perbedaan kimiawi (Jim Clark, 2007).
2.1.1 Alkohol Primer
Pada alkohol primer (1), atom karbon yang membawa gugus -OH hanya
terikat pada satu gugus alkil. Beberapa contoh alkohol primer antara lain:

Perhatikan gambar diatas dapat diketahui bahwa tidak terjadi masalah


seberapa kompleks gugus alkil yang terikat. Pada masing-masing contoh di atas,
hanya ada satu ikatan antara gugus CH2 yang mengikat gugus -OH dengan sebuah
gugus alkil. Ada pengecualian untuk metanol, CH3OH, dimana metanol ini dianggap
sebagai sebuah alkohol primer meskipun tidak ada gugus alkil yang terikat pada atom
karbon yang membawa gugus OH (Jim Clark, 2007).

2.1.2 Alkohol Sekunder


Pada alkohol sekunder (2), atom karbon yang mengikat gugus -OH berikatan
langsung dengan dua gugus alkil, kedua gugus alkil ini bisa sama atau berbeda (Jim
Clark, 2007).

Contoh:

2.1.3 Alkohol Tersier


Pada alkohol tersier (3), atom karbon yang mengikat gugus -OH berikatan
langsung dengan tiga gugus alkil, yang bisa merupakan kombinasi dari alkil yang
sama atau berbeda (Jim Clark, 2007).
Contoh:

2.2

Tinjauan Umum Uji Kualitatif Alkohol

2.2.1 Metode Ritter


Reaksi Ritter adalah reaksi kimia yang mengubah sebuah Nitrile menjadi Nalkil amida menggunakan reagen berbagai alkylating, misalnya, asam kuat dan
isobutylene.

Mekanisme reaksinya yaitu setiap substrat mampu menghasilkan sebuah ion


carbenium stabil merupakan bahan awal yang cocok, alkohol primer tidak bereaksi
dalam kondisi seperti ini, dengan pengecualian dari alkohol benzilik:

Ion carbenium menambah nitrogen Nitrile untuk memberikan ion nitrilium


perantara, yang mengalami hidrolisis ke amida bersangkutan berdasarkan air kerja-up

2.2.2 Metode Iodoform


Iodoform adalah senyawa yang dibentuk dari reaksi antara iodin dengan
etanol / aseton dan asetaldehida dalam suasana basa. Reaksi Iodoform adalah reaksi
haloform dimana dalam reaksi tersebut digunakan iodida dari larutan alkali
hidroksida (NaOH dan KOH) sehingga menghasilkan Iodoform (Azis, 2013).
2.3

Tinjauan Umum Sample

2.3.1 Metanol
Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus,
adalah senyawa

kimia dengan rumus

kimia CH3OH.

Ia

merupakan

bentuk alkohol paling sederhana. Pada "keadaan atmosfer" ia berbentuk cairan yang
ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau
yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). metanol digunakan sebagai bahan

pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi etanol
industri.

Gambar 1. Struktur methanol (Wikipedia)


2.3.2 Alil Alkohol
Alil alkohol (nama IUPAC: 2-propenol) merupakan senyawa organik dengan
rumus struktur CH2 = CHCH2OH. Seperti banyak alcohol, alil alcohol adalah cairan
tidak berwarna, larut dalam air tetapi lebih beracun dari alkohol. Alil alkohol
digunakan sebagai bahan baku untuk produksi gliserol tetapi juga digunakan sebagai
prekursor untuk banyak senyawa khusus. Alil alkohol adalah wakil terkecil dari

alkohol allylic.
Gambar 2. Struktur alil alcohol (Wikipedia)

2.3.3 Isopropil Alkohol

Isopropil alkohol adalah nama populer dari senyawa kimia dengan rumus
molekul C3H8O atau C3H7OH. Senyawa ini merupakan senyawa tak berwarna, mudah

terbakar dengan bau menyengat. Senyawa ini merupakan alkohol sekunder yang
paling Sederhana, dimana atom karbon yang mengikat gugus alkohol juga mengikat 2
atom karbon lain (CH3)2CHOH. Merupakan isomer struktur dari 1-propanol.
Gambar 3. Struktur isopropyl alcohol (Wikipedia)
2.4

Tinjauan Umum Pereaksi

2.4.1 Asam Asetat


Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam
organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam
cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk
CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat
glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah
asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya
hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan
pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam
produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat,
maupun berbagai macam serat dan kain.

gambar 4. Struktur asam asetat (www.mpbio.com)


2.4.2 Kalium Permanganat
Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang bersifat
asam lemah , netral dan basa lemah. Dalam larutan yang bersifat basa kuat, ion
permanganat dapat tereduksi menjadi ion manganat yang berwarna hijau.
Kalium permanganat distandarisasikan dengan menggunakan natrium oksalat atau
sebagai arsen(III) oksida standar-standar primer. kalium permanganat merupakan zat
pangoksida kuat yang berlainan menurut pH medium, kalium permanganat
merupakan zat padat coklat tua yang menghasilkan larutan ungu bila dilarutkan dalam
air, yang merupakan ciri khas untuk ion permanganat.
2.4.3 Natrium Hidroksida
Natrium

hidroksida (NaOH),

dikenal

sebagai soda

kaustik atau sodium

hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk


dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida
membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di
berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses
produksi bubur

kayu dan kertas, tekstil, air

minum, sabun dan deterjen.

Natrium

hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia.
Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk
pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembap cair dan secara
spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan
akan melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol,
walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada
kelarutan KOH.

2.4.4 Iodine (I2 dalam KI)


I2 termasuk zat padat yang sukar larut dalam air, di mana kelarutannya sebesar
0,0013 mol/ L pada suhu 25o C, tetapi sangat mudah larut dalam larutan KI karena
membentuk ion I3- sebagai berikut :
I2 + I- I3Oleh karena itu untuk melarutkan I2 digunakan KI sebagai pelarut. Larutan
I2 ini tidak stabil sehingga perlu dilakukan proses pembakuan berulang kali.

10

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1

Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum


Praktikum kimia organic yang berjudul Alkohol dilaksanakan pada hari Rabu

tanggal 20 November 2013 Pukul 10.00 WIB di Laboratorium Bioteknolgi Kelautan


Gedung 4 lantai 3 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran.
3.2

Alat dan Bahan

3.2.1 Alat-alat
Tabel 1. Alat praktikum
No
1

Alat
Kawat Kasa

Fungsi
Alas penyebaran panas

Pemanas air

Untuk memanaskan air

Penjepit

Pipet

Rak Tabung

Spatula

Tabung Reaksi

Timbangan

Untuk menjepit tabung reaksi


Mengambil larutan dan mentransfer larutan
Tempat penyimapanan tabung reaksi
Untuk mengaduk
Untuk mereaksikan larutan
Untuk Menimbang

3.2.2 Bahan-bahan
Tabel 2. Bahan praktikum
No

Bahan

11

Alil alcohol

Aquades

Asam asetat galsial

I2

Isopropyl alkohol

KI

KMnO4 1%

8
9

Metanol
NaOH 10%

3.3

Prosedur Kerja

3.3.1 Uji Kualitatif Alkohol Metode Ritter


Prosedur pada uji kualitatif alcohol dengan metode ritter pertama tama
dimasukan sebanyak 3 ml asam asetat glasial ke dalam tabung reaksi, lalu
ditambahkan 2 tetes suatu cairan sampel (metanol), selanjutnya campuran tersebut di
aduk. Setelah itu diteteskan kalium permanganat (1- 3 tetes) dengan perlahan sambil
dikocok tabung reaksinya dengan perlahan. Terakhir diamati perubahan warna dari
reaksi di tabung reaksi itu.
3.3.2 Uji Kualitatif Alkohol Metode Iodoform
Prosedur pada uji kualitatif alcohol dengang metode iodoform pertama - tama
diteteskan sebanyak 3 tetes sampel (metanol) cairan yang dicampur dengan 2 ml air,
dan 2 ml NaOH 10% di dalam tabung reaksi bebas aseton. Lalu diteteskan 10% I 2
dalam KI sambil diaduk sampai diperoleh warna cokelat tetap (Menunjukan Iodin
berlebih). Setelah itu tabung reaksi di panaskan dengan air yang dipanaskan dalam
temperatur 60oC . Dari beberapa sampel endapan akan langsung terbentuk dalam
kondisi dingin. Jika endapan belum muncul dalam waktu 5 menit, larutan
dihangatkan sampai 60oC dalam pemanas air. Jika warna cokelat berubah, tambahkan

12

lebih banyak larutan iodin sampai warna iodin stabil untuk 2 menit. Kemudian
ditambahkan beberapa tetes larutan NaOH untuk menghilangkan kelebihan larutan
iodina, lalu diencerkan dengan 5 ml air, dan dibiarkan selama 5 menit pada
temperatur kamar.

13

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil

4.1.1 Pengamatan Pengujian Metode Ritter


Tabel 3. Hasil Pengamatan Metode Ritter
Sampel

Metode Ritter

Isopropil Alkohol

Positif, warna menjadi coklat

Metanol

Positif warna menjadi coklat

Alil Alkohol

Positif, warna berubah menjadi coklat

4.1.2 Pengamatan Pengujian Metode Iodoform


Tabel 4. Data Pengamatan Metode Iodoform
Sampel

Metode Iodoform

Isopropil Alkohol

Positif, Warna menjadi kuning pucat dan terdapat


endapan berwarna kuning tanpa perlu dipanaskan

Metanol

Negatif, tidak terdapat endapan setelah dipanaskan

Alil Alkohol

Positif, terdapat endapan berwarna kuning pucat setelah


dipanaskan

4.2

Pembahasan

4.2.1 Uji Kualitatif Alkohol Metode Ritter


Praktikum kimia organik dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 20 November
2013 Pukul 10.00 WIB di Laboratorium Bioteknolgi Kelautan Gedung 4 lantai 3
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran. Dilakukan uji kualitatif
alcohol dengan metode ritter dan iodoform. Pada uji kualitatif dengan metode ritter
ini digunakan tiga sample yaitu methanol, alil alcohol, dan isopropyl alcohol.
Prinsipnya yaitu reaksi oksidasi alcohol primer dan sekunder pada pereaksi kalium
permanganate.
14

Perlakukan pertama memasukan asam asetat glasial pada tabung reaksi.


Asam asetat ini berfungsi sebagai pengatur keasaman larutan. Asam asetat, asam
etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai
pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam asetat merupakan salah satu
asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam
air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion
H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri
yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena
tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan
kain.
Kemudian dimasukan sampel, sampel pertama adalah isopropyl alcohol.
Senyawa ini merupakan senyawa tak berwarna, mudah terbakar dengan bau
menyengat. Senyawa ini merupakan alkohol sekunder yang paling sederhana, dimana
atom karbon yang mengikat gugus alkohol juga mengikat 2 atom karbon lain
(CH3)2CHOH. Merupakan isomer struktur dari 1-propanol. Sampel yang kedua
adalah methanol, adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Ia merupakan
bentuk alkohol paling sederhana. Pada "keadaan atmosfer" ia berbentuk cairan yang
ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau
yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). metanol digunakan sebagai bahan
pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi etanol
industri. Dan ketiga adalah alil alcohol, merupakan senyawa organik dengan rumus
struktur CH2 = CHCH2OH. Seperti banyak alcohol, alil alcohol adalah cairan tidak
berwarna, larut dalam air tetapi lebih beracun dari alkohol. Alil alkohol digunakan
sebagai bahan baku untuk produksi gliserol tetapi juga digunakan sebagai prekursor
untuk banyak senyawa khusus. Alil alkohol adalah wakil terkecil dari alkohol allylic.
Setelah asam asetat glasial bercampur dengan sampel maka tahap selanjutnya
adalah memasukan pereaksi KMnO4. Kalium permanganat merupakan oksidator kuat
dalam larutan yang bersifat asam lemah , netral dan basa lemah. Dalam larutan yang
bersifat basa kuat, ion permanganat dapat tereduksi menjadi ion manganat yang
15

berwarna hijau. Kalium permanganat distandarisasikan dengan menggunakan natrium


oksalat atau sebagai arsen(III) oksida standar-standar primer. kalium permanganat
merupakan zat pangoksida kuat yang berlainan menurut pH medium, kalium
permanganat merupakan zat padat coklat tua yang menghasilkan larutan ungu bila
dilarutkan dalam air, yang merupakan ciri khas untuk ion permanganat.
Semua bahan telah dicampur dalam 1 tabung reaksi maka diperoleh hasil yang
sama. Semua menunjukan hasil yang positif, dalam arti bahwa semua sampel yang
diuji dengan metode ritter termasuk kedalam golongan alcohol, dengan indicator
bahwa semua larutan telah berubah menjadi warna cokelat. Methanol merupakan
alcohol yang termasuk kedalam jenis alcohol primer. Pada reaksi ritter ini perubahan
warna dari ungu menjadi sokelat terjadi cukup lama, hal ini dikarenakan metanol
mengalami dua kali oksidasi, yaitu pertama teroksidasi menjadi adehid dan kemudian
karena aldehidnya berlebih berubah menjadi asam karboksilat. Sedangkan untuk
isopropyl alcohol dan alil alcohol keduanya merupakan jenis alcohol sekunder, oleh
karena itu perubahan warna yang terjadi cukup cepat karena hanya mengalami satu
kali oksidasi yaitu menjadi keton.
Reaksi alkohol pada metode Ritter yang dioksidasi oleh kalium permanganat
(KMnO4) yaitu ;
RCH2OH

RCOH + H2O + MnO2(s)

[Alkohol primer]

R2CHOH

RCOR + H2O + MnO2(s)

[Alkohol sekunder]

R3COH

tidak bereaksi

[Alkohol tersier]

4.2.2 Uji Kualitatif Alkohol Metode Iodoform


Sama halnya dengan uji kualitatif alcohol metode ritter, pada uji kualitatif
alcohol metode iodoform pun menggunakan 3 sampel yaitu methanol, isopropyl
alcohol, dan alil alcohol. Dengan pereksi natrium hidroksida dan iodine. Natrium
hidroksida (NaOH), dikenal sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida, adalah
sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium

16

Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang
kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di berbagai macam bidang industri,
kebanyakan

digunakan

sebagai

basa

dalam

proses

produksi bubur

kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida adalah
basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia. Natrium hidroksida
murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran
ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembap cair dan secara spontan
menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan
melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol,
walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada
kelarutan KOH. Sedangkan pereaksi iodine merupakan zat padat yang sukar larut
dalam air, di mana kelarutannya sebesar 0,0013 mol/ L pada suhu 25o C, tetapi sangat
mudah larut dalam larutan KI karena membentuk ion I3-.
Perlakuan pertama adalah memasukan sampel ke dalam tabung reaksi, lalu
ditambahkan aquades untuk mengencerkan sampel. Aquades adalah air hasil destilasi/
penyulingan sama dengan air murni atau H2O, kerena H2O hampir tidak mengandung
mineral. Setelah itu dimasukan NaOH, NaOH ini digunakan sebagai pengatur basa di
reaksi iodoform ini. Lalu ditambahkan reagen iodin. Iodin adalah sebuah polimer
larut air yang mengandung sekitar 10% iodin aktif. Lalu ditambahkan reagen iodin.
Iodin adalah sebuah polimer larut air yang mengandung sekitar 10% iodin aktif.
Kemudian dilihat perubahan yang terjadi, karena ketiga sampel tidak menunjukan
adanya endapan. Kemudian larutan tersebut dimasukan kedalam air yang mendidih
selama 5 menit untuk melihat adanya proses pengendapan. Setalah itu berikan
beberapa tetes pereaksi, penambahan pereaksi tergantung pada kondisi yang terjadi.
Jika larutan berubah menjadi putih maka larutan ditambah I2 dan jika larutan terdapat
endapan maka larutan ditambahkan NaOH agar terlihat lebih jelas endapannya.
Kemudian didiamkan pada suhu kamar.
Hasil positif menunjukan bahwa isopropyl alcohol dan alil alcohol merupakan
alcohol sekunder. Dan methanol bukan termasuk alcohol sekender. Sesuai deng
17

prinsipnya bahwa metode iodoform merupakan reaksi oksidasi alcohol sekunder


menjadi keton dengan adanya iodinisasi dan pemutusan gugus CI3- . dan hasil yang
diperoleh bahwa alil alcohol dan ispropil alcohol mengalami pemutusan gugus CI 3dengan terlihat adanya endapan.

18

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa dengan menggunakan metode ritter
semua sampel positif merupakan golongan alcohol, karena pada dasarnya metode ini
untuk mengetahui golongan alcohol primer atau sekender. Sedangkan dengan
menggunakan metode iodoform, yang merupakan metode untuk mengetahui
golongan alcohol sekunder maka didapat hasil bahwa hanya isopropil alcohol dan alil
alkhol yang termasuk kedalam alcohol sekunder.

5.2 Saran
Disiplin kerja, hati-hati, dan ikuti prosedur yang ada.

19

Daftar Pustaka

Anonym. 2013. Acetic acid glasial. http://www.mpbio.com/product.php?


pid=02300000&country=100 diakses 25 november 2013 pukul 9.23 WIB
Alvintar, Exact. 2012. Oksidasi Alkohol. http://alvintar.blogspot.com/2012/02/
oksidasi-alkohol.html. [diakses pada 25 November 2013 pukul 06.10 WIB]
Azis. 2013. Sintesis Iodoform.http://kimia-analisi.blogspot.com/2013/05/sintesisiodoform.html diakses 25 november 2013 pukul 8.48 WIB
Clark, Jim. 2007. Reaksi Triiodometana (Iodoform) dengan Alkohol. http://www
.chem-is-try.org/materi_kimia/sifat_senyawa_organik/alkohol1/ reaksi_triiodo
metana_iodoform_dengan_alkohol/. [diakses pada 25 November 2013 pukul
06.20 WIB]
Clark, Jim. 2007. Pengantar Alkohol. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia
/sifat_senyawa_organik/alkohol1/pengantar_alkohol/. [diakses pada 25
November 2013 pukul 06.30 WIB]
Clark, Jim. 2007. Oksidasi pada Alkohol. http://www.chem-is-try.org/materi
_kimia/sifat_senyawa_organik/alkohol1/oksidasi_alkohol/. [diakses pada 25
November 2013 pukul 06.50 WIB]
Farx. 2011. Larutan I2. http://artikelteknikkimia.blogspot.com/2011/12/larutan-i2larutan-iodium.html diakses 25 november 2013 pukul 9.52 WIB
Megha.

2013. Cuka. http://indonesiaindonesia.com/f/89641-larutan-kimia-cuka/


diakses 25 november 2013 pukul 9.18 WIB

Putri, Sylvia. 2007. Metanol Dulu dan Sekarang. http://syelviapoe3.wordpress


.com/2007/04/10/metanol-dulu-dan-sekarang/. [diakses pada 25 November
2013 pukul 06.40 WIB]
Ririn.

2010.
Standarisasi
larutan
baku
KMnO4.
http://yi2ncokiyute.blogspot.com/2010/07/standarisasi-larutan-bakukmno4.html diakses 25 november 2013 pukul 9.28 WIB

20

Wikipedia. 2012. Metanol. http://id.wikipedia.org/wiki/Metanol diakses 25 november


2013 pukul 9.00 WIB
Wikipedia. 2013. Allyl Alcohol. http://en.wikipedia.org/wiki/Allyl_alcohol diakses 25
november 2013 pukul 9.06 WIB
Wikipedia. 2013. Isopropyl Alkohol. http://id.wikipedia.org/wiki/Isopropil_alkohol
diakses 25 november 2013 pukul 9.12 WIB
Wikipedia.
2013.
Natrium
Hidroksida.
http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium_hidroksida diakses 25 november 2013
pukul 9.36 WIB

21

Lampiran 1. Dokumentasi
No
1

Gambar

Keterangan

Memasukan asam asetat kedalam tabung reaksi

Memasukan sampel metanol ke tabung reaksi

3
Memasukan KMnO4 ke tabung reaksi

4
Memasukan aquades ke dalam tabung reaksi

5
Memasukan larutan NaOH ke tabung reaksi

22

6
Menaambahkan reagen iodin

7
Memanaskan larutan

8
Menambahkan larutan iodin setalah dipanaskan

Hasil metode iodoform

23

Anda mungkin juga menyukai