Anda di halaman 1dari 10

Nama Kelas/No

: Akmal Dzulfikar R. : XII IPA 3/26

Teks 1: Arti Persahabatan


Suasana pagi cerah di SMPN Pelita Harapan Jakarta mengiringi sebuah kisah keempat sekawan dengan karakter yang berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut tidak menjadikan mereka berempat berselisih, tetapi menjadikan mereka mascot dalam persahabatan yang sejati. KARA, MIMI, IGO, dan AFIKA, itulah nama mereka. Mereka selalu kompak dan tampak ceria setiap hari. Jadi tidak heran jika mereka memiliki ribuan teman. Ke epat sekawan tersebut berbincang-bincang sambil berjalan di koridor sekolah. IGO : Hey sob, sebentar lagi kita UAN nich, pastinya waktu untuk kumpul-kumpul kita akan tersita buat belajar. Gimana nich? MIMI : Iya bener juga Zha, jadwal kita bakalan jungkir balik gara-gara persiapan UAN. Jadwal shopping, ke salon, creambath, manypadhy, dan pastinya jadwal kencan bareng bakalan ancur. Aduch, bisa-bisa rambut aku rontok nich. KARA : Gak segitunya kalik, tergantung kita juga. Jika kita rajin menabung ilmu, maka kita tidak akan sibuk belajar. MIMI : Ah kamu ini Cha, mentang-mentang anak pintar jadinya sok ceramah. Huh nyebelin. IGO : Sudah-sudah jangan berdebat, apa yang di omongin KARA itu ada benarnya juga. Coba dech kalian bayangin, jika kita rajin belajar kita tidak perlu sibuk-sibuk mikirin UAN, itung-itung siap senjata dulu sebelum perang. Enjoy aja lagi, bener gak? MIMI : Iya-iya Bu guru. Belum masuk kelas aja sudah dapat ceramah dari Ibu KARA dan Ibu IGO, capek dech. AFIKA : HahahaMIMI MIMI dari dulu penyakit marah kamu gak sembuh-sembuh yach. (Dengan nada ngeledek) KARA : Maklumlah dia itukan The Queen of Angry in the World. IGO : KARA ini sukanya kok ngledekin aku terus. Kalau ngefans sama aku bilang aja dech.

KARA : Ih, gak banget dech. Bel masuk kelas berbunyi, merekapun masuk kelas untuk mengikuti pelajaran. Waktu cepat berlalu, tak terasa sudah saatnya pulang sekolah. MIMI : Guys, mau ke mana nich? Kalian mau langsung pulang atau mau shopping dulu? AFIKA : Maybe, I go home now because Im tired. Seharian ulangan terus. KARA : Iya sama. Aku juga mau langsung pulang banyak tugas yang harus di kerjakan plus jadwal les aku yang numpuk banget. Maklumlah, aku itukan orang sibuk. (Seraya tertawa) IGO : Aduch, jadi anak kelas tiga capek banget ya. Dikit-dikit tugas, dikit-dikit ulangan pusing. KARA : Namanya juga sekolah. Hari demi hari berganti, namun ada keganjilan dari sikap KARA, sehingga terjadi perselisihan di antara mereka. MIMI : Cha, akhir-akhir ini kamu kok sibuk banget yach? Sampai-sampai sahabat sendiri di lupain. KARA : Sorry dech. Akhir-akhir ini aku sibuk ngerjain tugas, les, and belajar buat persiapan UAN nanti. : Yakin kamu nggak bohong sama kita?

IGO

KARA : Emh, beneran kok. Masak sich kalian nggak percaya sama sahabat sendiri. MIMI : Bukan gitu, akhir-akhir ini kita liat kamu pulang lebih awal, kalau kita ajak kumpul-kumpul, kamu ada aja alasan inilah, itulah, HP kamu juga tidak pernah aktif. AFIKA : Iya, juju raja lagi. KARA : Nggak ada apa-apa kok guys. Sudah jangan di bahas. Nggak ada topik lain yach? (Mulai menitikan air mata) IGO : Kamu kenapa sich Cha? Cerita dong sama kita.

MIMI : Ayo dong Cha cerita sama kita.

KARA : Aku nggak kenapa-kenapa kok guys. Kenapa sich kalian nggak percaya? AFIKA : Ugh tau wes. Kamu sudah nggak nganggep kita sahabat lagi. KARA : Iya dech aku cerita. AFIKA : Nah gitu dong. Dari tadi kenapa ceritanya. Ternyata KARA ada masalah dengan orang tuanya, dan masalah itu membuat KARA tidak semangat untuk belajar. Saat pulang sekolah IGO, MIMI, dan AFIKA berkumpul di rumah AFIKA. MIMI : Guys aku kasian nich sama KARA, dia les uterus. (Dengan wajah memelas) AFIKA : Emang kamu punya rasa kasian? (Dengan nada meledek) IGO : Sudahlah nggak usah berantem terus. Tau nggak, kalian itu seperti kucing dan tikus, rebut melulu. AFIKA : Iya aku tau, sorry dech. IGO : Gimana kalau kita tanya ke orang tuanya KARA aja? Jadi kita tau apa yang sebenarnya terjadi antara KARA dengan orang tuanya. Akhirnya mereka bertiga datang ke rumah KARA, dan kebetulan pada saat mereka ke rumah KARA, dia sedang les. Setelah mereka dipersilahkan masuk, mereka berbincang-bincang dengan Ibu KARA. Mereka bertiga menanyakan apa yang terjadi antara KARA dengan orang tuanya. Setelah bercerita panjang lebar, dan mereka telah mengetahui apa penyebabnya, mereka mohon undur diri kepada Ibu KARA. Keesokan harinya MIMI, IGO, dan AFIKA menghampiri KARA yang sedang duduk termenung di dalam kelas. AFIKA : Woi. (Seraya mengagetkan KARA) KARA : Apa-apaan kalian ini, bikin aku kaget aja! IGO : Kok kamu jadi nyalahin kita Cha? Kamu sich pagi-pagi sudah ngelamun, kena

setan sekolah baru tau rasa kamu. (KARA, MIMI, AFIKA, dan IGO tertawa bersama) AFIKA : Cha, kita sudah tau kenapa akhir-akhir ini sikap kamu jadi aneh. KARA : Kalian bicara apa sich, aku nggak ngerti? MIMI : Ampun dech KARAku sayangku cintaku sahabatku jangan tulalit donk. Sudah jelas kita ini lagi bahas sikap kamu yang berubah 180o. IGO : Bener Cha, kita udah tau semuanya.

KARA : Kalian ini ada-ada aja, aku biasa aja kalian malah bilang aku berubah segala. Emang apa yang berubah? Aku tetap KARA yang dulu. AFIKA : Nggak Cha, kaum berubah semenjak kamu punya masalah dengan orang tua kamu. KARA : Emang kalian tau apa tentang masalah aku ini? Kalian itu nggak tau apa-apa! (Dengan nada membentak) AFIKA : Kamu salah Cha, kita tau semuanya. KARA : Maksudnya kalian tau masalhku dengan orang tuaku? (Dengan nada terbata-bata) MIMI : Yups betul betul betul. KARA : Tapi gimana kalian bisa? AFIKA : Iya kita tau dong. Kemarin kita bertiga sengaja ke rumah kamu buat tanya masalah ini ke ibu kamu, dan ibu kamu cerita semuanya ke kita. KARA : Napa sich kalian ngelakuin hal ini? Lagian kalian bisa langsung tanya sama aku. AFIKA : Kita ngelakuin hal ini karena kita kasian liat kamu kayak gini Cha? IGO : Kita sudah tanya sama kamu tentang hal ini, tapi kamu cuma bilang ada masalah sama orang tua kamu. Kamu nggak jelasin apa masalah yang sebenarnya. Ya udah kita cari tau aja sendiri. MIMI : Terus kita tanya ke ibu kamu dan kita tau kamu kayak gini karena HP sama fasilitas yang kamu punya di tarik sama ibu kamu kan?

KARA : Iya, HP sama fasilitas yang ada buat aku ditarik sama orang tua aku. Karena itu aku nggak semangat belajar, lagian tanpa itu semua rasanya hampa. Untung I-pod aku nggak ikut di sandra. (Sambil mengeluarkan I-pod miliknya) MIMI : What, I-pod baru Cha! Pinjem dong? KARA : Dasar kamu nggak bisa liat barang bagus sedikit. MIMI : Aduch, please dech Cha, tinggal pinjemin aja apa susahnya sich? KARA : Iya ini aku pinjemin, tapi jangan sampai rusak ya? MIMI : Gitu dong, dri tadi napa? Masak pakai ceramah dulu? KARA : Anak ini udah di pinjemin masih aja nyebelin, dasar Miss Lebay. IGO : Kalian ini kok malah rebut soal I-pod sich? Kalian nggak inget kita seKARAng lagi bahas tentang apa? AFIKA : Lebih baik seKARAng kita kembali ke permaslahan awal. Oke? KARA, MIMI, IGO : Oke dech. AFIKA : Menurut aku sikap orang tua kamu ada benarnya juga Cha. Jadi, kamu nggak perlu jadi pendiam kayak gini. Bawa Enjoy aja Cha. KARA : Emang bener. Tapi, tanpa semua itu aku jadi tambah malas belajar karena bosen nggak ada hiburan. Aku sudah cukup tertekan harus belajar terus menerus. Orang tua aku nggak peduli sama aku lagi, mereka selalu nuntut ini, itu tapi mereka nggak mikir gimana perasaanku. Merek hanya tau keinginan mereka harus terpenuhi, tanpa berfikir kemampuan aku. Mereka egois! (Sambil menangis) IGO : Sudah hapus aia mata kamu. Lebih baik seKARAng kita cari jalan keluarnya.

MIMI : Aha, aku punya ide, aku punya ide, ide ini bagus, ide ini untuk kita. KARA, MIMI, AFIKA : Apa? Dasar Miss Lebay. MIMI : Emh, bagaimana kalau kita batasi pemakaian fasilitas yang ada. Selama inikan setiap hari,

setiap jam, setiap menit and setiap detik kita selalu tergantung sama fasilitas yang ada. KARA : Bener juga kamu Ra. Aku jadi sadar, kalau kita selalu tergantung sama fasilitas yang kita punya, kita bakalan jadi anak manja dan selalu tergantung sama apa yang ada. Emang susah buat kita merubah kebiasaan yang sudah mengakar di dalam diri kita. Tapi, apa kalian bisa ninggalin itu semua? Biar aku aja yang menjalankan ini semua. Aku punya sahabat seperti kalian juga sudah cukup buat aku. tapi aku masih butuh paling tidak HP sich. (Mereka tertawa bersama) MIMI : Emh, gimana ya? AFIKA : Aku bisa kok. Ra, inikan ide kamu, kok malah kamu yang jadi ragu sich? MIMI : Uh, tadi aku nggak usul enak yach. Tapi, aku bisa kok. Demi sahabat aku tersayang. Tapi sesekali nggak apakan? AFIKA : Ya nggak apalah. Namanya juga masih proses. Tpi jangan terlalu sering yach? IGO : Intinya kita setuju sama usul MIMI tadi. Lagian selayaknya sahabat sejati itu selalu ada buat sahabatnya yang lagi butuh bantuan. Kamu sedih, kita juga ikut sedih Cha. Karena kita merasa ada yang hilang. Kita juga ngerasa nggak enak kalau kita having fun, tapi kamunya malah sedih, susah, campur aduk dech. Lagian kita juga harus konsentrasi sama UAN. Bener nggak? KARA : Bener, kalau gitu terima kasih ya guys. MIMI, AFIKA, IGO : Sama-sama. Kita sayang kamu Cha. (Sambil berpelukan) Akhirnya mereka berempat menyepakati perjanjian yang tadi diusulkan MIMI. Mereka berharap hal ini dapat memberikan hasil yang baik pada UAN nanti. Hari demi hari mereka lalui penuh suka cita, dan tidak terasa waktu UAN telah tiba. Pada waktu pengumuman hasil UAN, mereka lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan mereka di terima di SMA yang mereka inginkan selama ini. Sampai SMApun mereka tetap bersama.

Teks 2 : Nilai Kejujuran


Sejumlah siswa keluar dari ruang kelas untuk pulang. Jony dan Johan lantas pulang kerumah masing-masing dimana meraka adalah tetangga. hafis tidak kuat untuk menahan rasa ingin buang air kecil lantas dia buang air kecil dihalaman sekolah dimana disitu ada sebuah pohon besar. Johan : Jon aku buang air dulu ok, sudah kebelet banget nih! Jony : Ya udah. Cepetan buruan. Nanti bisa telat nyampe rumah! Johan : Ok, nggak lama kok. Kemduian Jony melihat sesuatu dibawah pohon besar didekat halaman. Jony : Apa sih itu? Kayaknya bukan barang berharga?!

Tidak lama kemudian Johan menyusul Jony!

Johan : Apa itu? Dompet. Dompet siapaemang? Dimana kamu jumpa? Kapan kamu jumpa? Jangan-jangan kamu nggak bener nih?! Jony : Ngaco ah kamu. Nanya yang bener dong. Aku nemu dompet ini, nggak tau siap pemiliknya orang belum ku buka. Johan : Ya udah cepetan dibuka! Jony : Ya deh! Jony dan Johan : Wow.. Banyak amat duitnya! Jony : Ada kartu identitasnya! Johan : Bener, sepertinya KTP pemilik nih dompet. Jony : Rumah nih orang deket kok, balikin yuk! Johan : Ngapain juga mesti dibalikin orang kita nemu. Udah deh, mending kita bagi aja tuh uang. Jony : Nggak mau ah, dosa tau. Johan : Ya siapa suruh dia jatuhin tuh dompet Jony : Kalo kamu maksa, ya udah yuk kita bagi dua.

Lalu mereka berdua pulang. Selang 2 jam kemudian Johan main kerumah Jony guna mengajak Jony bermain. Johan : Jony, Jony yuk pergi main! Nia : Eh kami Johan! Silahkan masuk! Jony lagi disuruh mamanya ngerjain pr dulu baru boleh main! Johan : Ok kak, Makasih. Nia : Johan mau minum apa? Kakak buatkan! Johan : Nggak perlu kak, nggak usah. Nia : Nggak boleh gitu dong Han. Ayo mau minum apa? Johan : Seadanya aja lah kak! Nia : Tunggu sebentar ya

Lantas munculah mama Jony.

Wati : Eh nak Johan, udah lama? Johan : baru aja tante. Tante apa kabar? Wati : Baik. Mau ngajak Jony bermain ya? Johan : Iya tan. Tante Johan boleh nanya nggak? Wati : Tentu. Mau nanya apaan? Johan : Kok Jony ngerjain pr nya sekarang sih tante. Kan nanti malam juga bisa! Wati : Kalau nanti malam biasanya Jony cepetan boboknya Johan : Gitu ya tante. Ya udah deh Johan tungguin aja Wati : Iya, ditunggu aja, bentar lagi juga udah selesai kok. Nia : Ini minumnya Han. Lekas diminum. Johan : Iya kak, makasih. Nia : Mam, kan sekarang ada jadwal arisan?

Wati : Ye elah, mama lupa. Ya udah deh lekas berangkat. Jon, mama pergi dulu ya. Jony : Ya mam Tidak ama kemudian Johan : Jony kok lama amat ya, padahal kalau akau cepet banget ngerjain pr gituan doang Jony : Sorry Han, lama nunggu ya? Johan : Iya, udah lama nih, dari tadi nungguin kamu. Mereke berdua lantas duduk didepan rumah dan sedang membagi-bagikan uang hasil penemuan dompet dihalam sekolah tadi siang. Johan : Cepat, kok lama banget! Jony : Duitnya ada 200 ribu. Kamu 100 ribu, aku 100 ribu. Tidak lama berselang Lukman datang kerumah Jony. (teman dekat kakaknya Jony) Lukman : Hi Jony/Johan. Lagi pada ngapain? Biasanya kalian main diluar, tumben pada nongol disini. Han/Jon apa itu? Uang siapa kok banyak? Johan : Ya uang kita dong kak, masa uang orang kita bawa. Lukman : Ah, nggak mungkin. Kalian kan masih kanak-kanak, masak punya uang sebanyak itu. Aku tanta kak Nia Ya. Jony : Sebenarnya ini bukan duit kita Mas, kita nemu dijalan. Lukman : Kok nggak dibalikin? Jony : Aku udah mikir gitu Mas, tapi Johan yang ngotot ngajak ngebagi uang ini. Lukman : Coba Mas liat alamat pemiliknya Jony : Tadi maksud Jony mau balikin ke pemiliknya mas. Tapi Johan melarang. Lukman : Nggak boleh gitu dong dik, itu namnya merampas hak orang lain sekalipun kalian nemu, karena yang bersangkutan kan membutuhkannya. Jony : Aku udah bilang ke Johan, tapi dianya masih ngotot Lukman : Ya udah deh, mendingan kalian balikin sekarang ke pemiliknya. Johan : maaf mas, aku emang salah. Jony : Ayo kita balikik dompet ini!

Mereka berdua lantas pergi kerumah pemilik dompet tersebut dengan maksud untuk mengembalikannya. Johan : Selamat sore.. Rony : Sore.. Siapa? Johan : Maaf, ini betul rumahnya Rony? Rony : Betul, ada yang bisa dibantu? Kalian siapa ya? Jony : Kami berdua datang kesini dengan tujuan untuk mengembalikan dompet yang tadi siang kami temukan dihalaman sekolah. Rony : Nemu dompet? Sebentar ya, saya lihat dulu. Silahkan masuk! Rony masuk ke kamar dan mengecek dompet tesebut, sementara Jony dan Johan masih berada diruang tamu. Rony : Benar, ini memang dompet saya. Terimakasih banyak ya sudah mau mengembalikan dompet saya yang kalian temuakan. Kalian baik sekali Johan : Itu memang sudah menjadi kewajiban kami untuk mengembalikan sesuatu yang menjadi hak orang lain. Jony : Benar Rony : Duuh.. terimakasih banyak ya Jony dan Johan : Sama-sama!